Eager Desire

0
kyuhyun ff nc eager desire
Author : Kim Aera & Ladistique
Title : Eager Desire
Category : NC21, Yadong, Romance, Oneshot
Cast :
Cho Kyuhyun
Kim Aera
Other Cast :
Lee Hyukjae, Kim Ra-ya, Victoria, Lee Donghae
Author’s note :
HAAAI. Kenalin nama aku disti, ini ff nc ke sekian kalinya tapi aku baru pertama kali kirim kesini. FF ini 7/8 idenya Kim Aera, setengahnya yang nulis disti, setengahnya lagi Aera. Lagu yang jadi main idea dari ff ini lagunya Samsons – Kau. Silahkan cek sendiri, lagunya enak banget. Semoga pada suka ff beralur lambat dan menye-menye ini hihihi xD

*
Kau bangkitkan, kau hidupkan
Auraku
*
“Apa kau siap, Aera?” Pria jangkung ini kini berada diatasku. Dua kakinya menjepit seluruh tubuhku. Wajahku memerah karena malu, mungkin juga karena ragu. Orgasme ketiga yang aku dapatkan sudah cukup membuat pahaku lemas dan bergetar. Ditambah sprei kamarku yang berwarna putih, kusut dan tak terbentuk. Aku yakin warnanya akan berubah sesegera mungkin.
Aku mengangguk. Rasa yakin hinggap memenuhiku. Maksudku, dengan keadaan yang sudah hampir telanjang didepannya, berbaring dibawahnya, dan keinginanku memiliki ereksinya sudah tidak bisa goyah lagi.
“Aku tanya sekali lagi, Aera.” Rambutnya sangat kusut. Wajahnya berkali-kali menahan nafsu, karena aku tahu ini bukan karena keinginannya. Ini karena aku yang ingin dia masuki.
“Kita bisa berhenti dan kembali. Aku akan pergi menjauh.” Katanya dengan pakaian yang masih lengkap. Hanya dua kancingnya yang terbuka, juga ikat pinggang yang sengaja dilonggarkan. Aku begitu pasif sedari tadi. Aku tidak tahu caranya memuaskan pria. Rasa percayaku pada pria ini begitu dalam sehingga aku membiarkan lidahnya menggodaku, membasahi seluruh sisi tubuhku. Aku baru pertama kali merasakan payudaraku panas hingga mencuat begitu keras.
Tapi aku tidak mau dia pergi, atau berhenti. Aku sudah memikirkan ini sejak lama. “Lakukanlah, Kyuhyun. Lakukan sesukamu.” Aku pasrah dengan senyum. Tapi Kyuhyun masih diam. Aku melihat jakunnya bergerak berkali-kali, ereksinya semakin menekan pahaku.
“Kau bukan jalang, Aera—“
“Aku memang bukan. Aku tidak mau dibayar. Aku menyerahkannya untukmu, Kyuhyun.” Aku mencegahnya menolakku. Frustasinya dia membuatku sedih juga. Aku sudah tidak mau memikirkan nantinya bagaimana. Aku hanya mau sekarang dengan Kyuhyun.
Air mataku mengalir sampai terisak, memperhatikan Kyuhyun yang duduk lemah. Aku mengangguk memahami tatapannya, hingga dia mendekat kearahku. hidungnya hampir bersentuhan dengan hidungku. Aku masih bisa mendengarnya memanggilku, sebelum rok hitam yang tersisa—tentunya celana dalamku sudah tanggal duluan saat Kyuhyun menjilat vaginaku berkali-kali—dia turunkan.
“Aku mencintaimu, Aera…”
Panas. Sakit.
Dia memasukiku begitu lembut tapi aku meringis karena tidak kuasa. Ada yang menabrakku. Ada yang pecah. Dan rasa panas itu sampai ke ubun-ubun. Aku menutup mata saat Kyuhyun mendorongku lagi dan lagi menuju kenikmatan yang tiada akhir. Aku mendesah. Dia lebih banyak mendesah karena harus melepaskan keras ereksinya didalam tubuhku. Suaranya berdecak. Sakit. Perih, tapi juga menggairahkan.
Salah satu tangannya meremas payudaraku sampai aku mendongakkan wajah keatas. Menggodaku begitu sialan. Bibirnya menciumku, membawa lidahku menari didalamnya. Beberapa detik setelahnya, ada gelombang panas yang membawaku ingin keluar dari ngilu ini. Kyuhyun mendorong semakin cepat, semakin dalam dan bertempo keras. Tangan besarnya yang lain memegang daguku, membawa wajahku memandangnya manis. Ya Tuhan, dari gelap ini pun dia masih terlihat sangat menawan. Dari napas kami yang saling bersahutan, dia membawaku ke surga tingkat tinggi.
Kyuhyun melemah diatasku, saat kejantanannya melemah didalamku. Ikut berbaur dengan cairan merah dan lengket. Bibirnya kembali mencium leherku. Ini tidak akan terjadi satu kali, pasti berkali-kali sampai Kyuhyun tak bisa lagi ereksi malam ini. Aku tahu Kyuhyun, dengan segala nafsu dan hasrat birahinya. Aku mau memberikan segalanya, membuka pintu vaginaku besar-besar, untuk Kyuhyun semata.
Tapi aku sempat mengintip perak yang melingkar dijari manisku.
Aku tahu ini tidak akan berlangsung lama.
*
Kau adalah pengisi dalam ruang hidupku
Disaat aku inginkan rasa indah
*
Dari: Lee Hyukjae
Hal: Re: Kangen Sekali
Tanggal: 20 Februari 2014 18:00
Kepada: Kim Aera
Maaf baru balas email-mu, aku akan segera pulang dari Prancis. Nomorku benar-benar mati disini. Sialnya, aku lupa memberitahumu kalau tanah bekas perumahanmu dulu akan dibangun Mall oleh Donghae, aku bertemu dengannya di seminar Prancis. Dia jadi sangat tampan. Kalau aku wanita, aku akan menikahinya. Dia kaya, tentu saja.
Aku menawarkan diri jadi asisten desain interiornya. Sebelum tanahnya diratakan, akan ada acara peresmian jam 11 siang. Kau mau datang? Mengenang rumah lama, mungkin? hihihi
Aku akan pulang dua hari lagi. Salam untuk Ra-ya yang cantik. Sampai ketemu di peresmian!
Lee Hyukjae
Design Interior Expert, Dynamic 88 Company
Hyukjae—aku lebih biasa panggil dia Eunhyuk. Bersama dengan sahabatnya yang kaya setengah mati, Lee Donghae, mereka bergelut dibidang yang hampir mirip. Eunhyuk adalah tetanggaku di New York, sebelum kita akhirnya berpisah karena karirnya yang melejit dibagian desain pergedungan. Hampir mirip arsitek, tapi bukan arsitek. Aku masih tidak mengerti apa bedanya.
Yang jelas aku begitu senang saat pesan elektronikku dibalas. Sebelumnya aku hanya menanyakan kabar, karena aku merasa kesepian saat tengah malam, ditambah jika aku merasa writer block. Aku tidak tahu kalau kemudian dia tengah ada di negara Eropa favoritnya itu. Pantas saja nomornya tidak bisa dihubungi sama sekali.
Tapi rasa senang itu tidak sebanding dengan perasaan tak menentu. Perumahan disisi timur Seoul, perumahan kecil yang dipenuhi dengan beberapa rumah setipe, dan ada banyak taman disana. Aku pindah rumah dari sana, tentu karena banyak hal. Tapi disana, rumahku—ah—tepatnya kamar putih gadingku yang terletak dilantai dua, begitu membawaku pada memori dulu, di tujuh tahun yang lalu.
Aku tidak pernah lupa tentang kejadian itu. Saat seorang pria membawaku menuju perasaan cinta yang aku yakini tak pernah berakhir. Tapi ekspektasi hanyalah ekspektasi. Aku hanya bisa memberikan hadiah terbesarku, satu hari sebelum aku pergi dari rumah itu.
Aku menutup layar e-mailku. Wajahku memerah mengingat itu, sampai aku harus membuka draft cerita yang aku buat dan ku kirimkan setiap malam jika aku bosan. Aku membacanya berkali-kali. Bukan, ini bukan pekerjaanku. Aku bekerja disalah satu stasiun tv sebagai penulis naskah. Dan hobiku yang satu ini tidak sama sekali membuahkan uang, sebelum salah seorang sahabat membeli ceritaku dan menjadikannya sebuah buku. Tentu bukan nama asliku yang menjadi penulisnya.
Karya pertamaku laris, dan aku begitu bahagia, walaupun bukan namaku didepan covernya. Cerita dewasa mengenai hidupku. Kisah pertama ketika aku memberikan keperawananku pada seorang pria yang ku cintai hingga detik ini.
Sialan, aku membaca lagi tulisanku. Aku benar-benar tidak bisa lupa soal itu, rasanya, pengalamanku, panas dan ketatnya saat jantannya dia menusukku berkali-kali. Aku ingat, empat ronde saat itu, dan satu ronde tambahan dipagi hari. Sekali lagi di kamar mandi. Terakhir diruang tamu, sebelum dia keluar dari pintu rumahku.
Selalu begini. Setiap aku ingat dia. Aku akan masturbasi. Jari tengahku sudah membelai celana dalamku yang basah. Hyukjae—kenapa kau harus cerita tentang perumahan!
Lagi. Aku menusuk diri sendiri. Dua jari. Lalu tiga. Sampai aku harus pindah ke ruangan lain karena tidak ingin mengganggu. Vibrator ditanganku, dan aku memasukkannya sampai pas. Bergetar medium, tanganku ada diatas payudara. Hangatnya mirip tangan milik dia.
Aku tidak akan pernah lupa dan melupakannya. Aku akan meneriakkan namanya kalau aku orgasme.
Aku akan sangat menunggu peresmian itu. Mungkin disana, aku bisa dapat ide untuk meneruskan ceritaku yang selanjutnya. Beberapa review pembaca dari buku karanganku—atau bisa disebut buku bayangan yang aku tulis tapi bukan aku yang tulis—menginginkan lanjutan ceritanya yang menggantung. Atau mungkin aku bisa mengumpulkan lagi kenangan dia yang aku lupakan.
*
Kan ku hidupkan
Sebuah terang dalam hatimu
*
Aku membawa mobil silverku ke daerah yang aku kenal sejak kecil. Jalanannya sudah berubah, lebih lancar dan tidak lagi berbatu. Banyak coffee shop di bagian sisi, juga banyak pepohonan. Sekarang solokannya ditutup dengan besi, sehingga tidak lagi banyak pelajar yang jatuh terperosok seperti jamanku.
Setelah melakukan rutinitasku setiap hari kerja, aku meninggalkan kantor pagi-pagi sekali karena ingin segera menghadiri peresmian yang dimaksud Eunhyuk. Tapi sampai sekarang, aku belum dapat kabar kalau dia sudah di Seoul atau belum.
Di sepanjang jalan, begitu banyak mobil mewah yang berjajar. Aku memarkirkan mobil didepan sebuah café, karena tempat parkirnya penuh. Begitu keluar, angin sepoi-sepoi dan wangi rumput menerpaku. Lahan didepanku begitu kosong dan besar. Hampir setengahnya sudah diratakan.
Aku ingat, rumahku empat blok dari pintu masuk. Aku berdiri memandang mobil-mobil raksasa menghancurkan bangunan yang berdiri. Ada banyak pria dan wanita dengan pakaian resmi disana. Banyak bunga-bunga juga. Mungkin tadi ada acara pemotongan tali.
Air mataku mengalir melihat lahannya kini rata. Bukan sedih karena rumah masa kecilku hancur. Kenanganku bersama kedua orangtuaku yang sudah di surga juga rata bersama bangunan-bangunan itu. Tapi disana, aku meninggalkan Kyuhyun. Kyuhyun meninggalkanku.
Aku meremas dua tanganku, membasuh pipi yang basah.
Aku tidak tahu sampai kapan rasa rindu ini membalut hidupku. Aku tidak tahu dia dimana. Dan aku tak tahu mengapa jadi sering galau begini, ditambah sejak buku bayangan itu terbit dan ceritanya diagung-agungkan para pembaca. Padahal disana, aku menuliskan Kyuhyun yang membawaku ke dunia fantasi seks yang dia sukai. Nafsu birahi yang tak pernah aku rasakan, dia berikan padaku.
Aku menunduk menatap sepatuku dengan hak setinggi 10 senti. Aku bisa kram jika aku berjalan menuju tengah, karena banyak tumpukan bangunan yang hancur. Ponselku bergetar dan ketika aku membaca isinya, Eunhyuk memberitahuku bahwa dia tidak jadi pulang hari ini karena pesawatnya delay.
Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan disini. Aku akan pergi saja. Sepertinya memang sudah pertanda, aku tidak boleh mengingatnya—
“Kim Aera.” Namaku dipanggil begitu keras, dari depan setelah aku membalikkan badan. Suara yang berat dan tegas. Suara yang mirip—
—Kyuhyun.
Kyuhyun.
Cho Kyuhyun.
Sepuluh meter didepanku, pria dengan rambut coklat tua dan setelan formal hitam hingga ujung kaki. Aku lupa menelan ludah. Napasku sesak, membuat bibirku terbuka sedikit untuk mencari oksigen.
Tidak.
Disana ada Cho Kyuhyun.
Fantasi setiap malamku. Nama yang kuteriakkan ketika vaginaku basah. Pria yang merubah hidupku hanya dalam satu malam.
Pria yang aku cintai hingga saat ini.
*
Kau
Seluruh kepingan hidupku yang tlah hilang
*
“Americano satu. Less sugar.” Begitu ucap Kyuhyun ketika pelayan wanita datangi meja kami. Kyuhyun membawaku minum kopi, di sebuah café tempat mobilku parkir. Aku tahu kalau pelayan ini sudah sedari tadi senyum malu-malu karena Kyuhyun. Aku? Lebih parah.
Kaki kananku ditimpa kaki kiri. Gelenyar panas memenuhi pahaku. Sialan. Bertahun-tahun aku memimpikannya sampai gila, kini dia ada didepanku. Memutar balikkan harapan untuk melupakan segalanya. Aku melihatnya sambil gugup, tapi tubuh tegapnya hanya naik turun untuk bernapas. Aku tahu telingaku pasti sudah merah seperti kepiting rebus.
“Nona?”
Ah?
Aku melirik pelayan itu, oh…ya, pesan minuman. “Samakan saja.” Kataku saking gugupnya. Aku lupa kalau aku tidak suka kopi pahit. Ditambah Kyuhyun minta gula sedikit.
Kyuhyun menatapku dalam seperti kaget. Setelah pelayan itu menjauh, kami hanya diam bertatap mata. Aku benar-benar tidak bisa menahan rasa gugupku. Bodoh sekali, aku ini pakai rindu sama dia.
“Jadi…” Dia mulai bicara, menaruh dia sikutnya diatas meja. Aku bersandar dan mundur, sedikit takut karena malu dan….entahlah. Dia mendekat, dan aku hampir membanjiri celana dalamku sendiri. Aku begitu ingat saat menulis cerita di buku berjudul Eager Desire, mengenai dirinya yang dipenuhi nafsu sehingga membuatku ikut merasakan hasrat birahinya yang begitu banyak. “Kau bekerja?”
Aku menelan ludahku, “Ya.” Lalu mengganti posisi kaki, “Penulis naskah stasiun televisi swasta.” Matanya menelisik, mata rubah coklatnya sangat menusuk. Aku tertekan. Nada suaranya penuh nada introgasi. “Kau?”
Aku bingung, jadi aku memutuskan untuk bertanya juga. “Hanya direktur pemasaran.” Hanya? Dia bilang HANYA?!—Cho Kyuhyun dengan segala mimpinya yang pernah dia ceritakan padaku, akhirnya terwujud dan aku bangga karena itu. Aku tersenyum, pasti istrinya punya banyak tas Chanel. “Aku dihubungi Donghae untuk membantu finansial pembangunan mallnya. Ditambah karena lokasinya yang sangat strategis, aku membantu cukup banyak.”
Ah, karena itu dia ada disini… Lokasinya memang strategis, banyak perumahan tapi tidak banyak lokasi berjualan. Mall yang akan dibangun pasti akan banyak dipenuhi pengunjung. Dua amerikano datang di meja kami. Aku mulai pusing melihat cairan hitam itu. Sialan, aku bahkan tidak bisa minum kopi!
Kyuhyun mengambil salah satu gelas. Dan aku tidak bisa pura-pura minum, aktingku buruk. Kalau aku memaksa minum, aku akan merusak lambungku.
“Suamimu?” Ya Tuhan, Kyuhyun terlihat santai dalam menanyakan hal paling tabu padaku. Aku menelan ludah lagi, gugup. Aku menaruh tasku diatas paha, takut terlihat kalau aku sedang menahan orgasme hanya karena melihat pria yang selama ini ada dalam buku.
Aku tahu pasti istrinya sangatlah cantik. Makanya dia tak sedikit pun terlihat gugup. “Dokter.” Kataku. Dia mengangguk sedikit-sedikit.
“Seperti keinginanmu.” Kyuhyun mengingatnya, keinginanku memiliki seorang suami dokter karena kedua orang tuaku yang sakit-sakitan. “Anak?”
Tidak, kalau begini terus, aku tidak akan tahan lagi. Wajahku mungkin sudah merah sempurna. Aku malu—didepan dia. Aku harus bisa…akting…harus…
“Apa kau sedang melakukan sensus?” tanyaku sinis, merubah wajahku menjadi lebih sangar sebisa mungkin. Kyuhyun mengerutkan dahinya, dan aku melihat arah jarum jam di pergelangan tanganku. Tidak, lima belas menit lagi waktuku habis.
Aku berdiri, mengangkat tas ditanganku lalu meraih minuman yang ada diatas meja. Lagi—aku lupa kalau ini amerikano. Aku hampir menyemburkannya, tapi cairan itu sudah masuk lewat kerongkonganku. Kyuhyun juga berdiri.
“Kau mau ke—“
“Aku ada keperluan.” Kataku, benci karena harus bicara dengan lidah mati rasa. “Terima kasih kopinya.” Tapi tanganku dicekal, lalu dia memanggil pelayan dan menaruh uang di saku depannya. Bilang kalau kembaliannya ambil saja.
“Aku akan mengantarmu.” Aku sempat menolak tangannya. “Tidak Kyuhyun-ssi.”
Sial, aku benci panggilan –ssi tadi. Terlihat bohong sekali kalau aku menolaknya.
“Aku akan mengantarmu. Kemana pun.” Aku menunduk, “aku bawa mobil sendiri.” Tegasku.
“Aku bawa sopir. Aku akan pakai mobilmu.”
Napasku mulai tersengal. Aku tidak boleh lagi ingat Kyuhyun, tidak lagi. Aku ingin melupakan segalanya tapi sulit sekali. “Tidak Kyuhyun, jangan—“
“Ayo. Kemana?”
Beginilah Kyuhyun. Sekali permintaannya tidak terpenuhi, dia akan sebisa mungkin mendapatkan keinginannya. Salah satu penganut pemikiran filosofi Machiavelli dalam The Prince*, buku favorit Kyuhyun sepanjang masa. Percuma aku menolak, karena kini aku sudah didepan pintu mobil dan menyerahkan kunci mobilku ke tangannya.
Ketika dia bertanya kemana aku akan pergi, aku hanya menunjukkan jalannya.
Lalu kami diam tanpa kata. Karena Kyuhyun memandang lewat kaca spion atas, melihat sebuah jok tambahan berwarna ungu muda—milik Ra-ya.
*
Kami berhenti di sudut jalan dan perutku mulai mual karena amerikano sialan. Kyuhyun akhirnya tahu kalau aku ingin pergi menuju taman kanak-kanak. Ini sudah cukup siang dan aku tidak ingin Ra-ya menunggu terlalu lama. Aku turun dari mobil, bersamaan dengan Kyuhyun yang juga turun dan bersandar di pintu mobil. Ketika aku meninggalkan Kyuhyun sendirian diluar, aku tahu kalau Kyuhyun benci anak-anak. Anak-anak baginya, hanya objek yang mudah dibodohi. Seperti ketika ia dibodohi orang tuanya, yang katanya pergi sehari ternyata pergi untuk selamanya. Ketika dia menandatangani surat wasiat milik ayahnya sehingga semuanya berpindah ke tangan bibinya yang jahat. Ketika dia habis-habisan belajar untuk mendapat beasiswa dan akhirnya bisa satu kampus denganku. Kyuhyun yang suka majalah dewasa. Kyuhyun yang jatuh cinta padaku dan menyuruhku pergi saja dari hidupnya.
Kyuhyun menceritakan segalanya, saat kami bersama selama hidupku. Dia yang menolongku jatuh, dia yang menemaniku pergi kemana pun, dia yang pertama kali membawaku membeli pakaian dalam sendiri, dia bahkan tahu ukuran bra-ku, dia yang membelikanku pembalut sepulang sekolah, dia yang menjauhiku dari anak-anak yang nakal, dia yang mengerjakan pekerjaan rumahku, dia yang membereskan kamarku—
—dia yang memperkenalkanku pada kehidupannya yang menakutkan, sendirian dengan rumah bobrok—
—dia yang menceritakan padaku bahwa aku harus menjauh karena dia jatuh cinta padaku dan bisa merusakku suatu hari—
—dan dia juga yang mendapatkan keperawananku.
Ra-ya keluar dari kelasnya, berlari memelukku dan diam saja. “Kenapa sayang, kenapa?” aku memeluknya erat, menggendong tubuhnya yang semakin berat saja. Dia terisak pelan, masuk ke ceruk leherku. Aku mengelus beberapa kali rambutnya. Akhir-akhir ini, Ra-ya seringkali terusik tidurnya—tentu bukan karena aku yang harus memuaskan diri. Mimpi buruk. Lalu menangis setiap keluar dari sekolahnya, hingga aku berpikiran untuk memindahkannya saja ke tempat lain.
Tapi sifatnya begitu sama seperti ayahnya. Diam dan sulit untuk ditebak. Dia hanya bercerita ketika sudah diujung kesal. Aku bertanya pada gurunya pun percuma.
“Eomma—“ suaranya begitu hangat, dia memandangku, “—Baro bilang Ra-ya tidak punya Appa… Appanya Ra-ya mana, eomma?” dia menangis lagi.
Dan aku juga hampir menangis karena mendengarnya bertanya begitu. Sedangkan saat aku berbalik, Kyuhyun tengah mengangkat telepon dan memberi isyarat harus pergi.
Aku membiarkannya pergi, lagi.
Memang harusnya seperti itu kan? Melupakannya?
Lalu aku hidup bersama Ra-ya?
Tiba-tiba air mataku mengalir, menangis didepan putriku adalah hal yang salah. Tapi Kyuhyun pergi didepanku, dan aku tidak mau lagi ditinggal sendirian.
*
Kau sematkan
Kau lekatkan
Seluruh bayangmu
*
Bunyi tombol kunci didepan pintu terdengar sangat jelas. Diluar sedang ada orang yang tengah membuka pintu apartemenku. Tidak ada yang bisa masuk ke sini kecuali dia…
Victoria.
Tempat ini hanyalah tempat persembunyianku. Aku meminta sopir Hong meninggalkanku jauh-jauh, sendirian, ditempat ini, untuk yang ke sekian kali. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang isi apartemen ini. Hanya aku, dan wanita ini.
Aku menghubunginya untuk yang pertama kali di bulan ini. Aku juga yang memintanya untuk tidak menggunakan rok mini dan stoking warna mencolok seperti biasanya. Gadis ini hanya wanita bayaran langgananku. Dia yang memuaskanku ketika aku tidak lagi punya arah kemana aku harus melepaskan nafsu birahiku selain pada Aera, wanita yang menawan dan indah yang aku temui secara tidak sengaja hari ini dengan seorang gadis kecil berwajah sama indahnya.
Victoria menggunakan kaos berwana biru tua menggantung, sehingga ketika tangannya terangkat, pusarnya terpampang. Celana hitam kulitnya ketat. Dia langsung duduk didepanku yang telanjang dada, hanya berbalutkan selimut tebal menutupi setengah tubuhku.
“Kau terlihat frustasi.” Komentarnya pedas, “pesanmu sangat menunjukkan bahwa aku harus segera datang kesini dan memuaskanmu.” Lanjutnya.
Tapi setelah aku menyuruhnya datang ke sini untuk yang ke sekian kali, aku lebih memilih memuaskan diri sendiri dibawah guyuran air dingin dan meneriakkan namanya. Nama Aera.
Aku memandang lemah pada gelas wine yang ada diatas meja kecil samping tempat tidur. Aku tidak tahu harus bicara apa. Gadis itu benar-benar merubah segalanya. Aku pikir, tahun-tahun kemarin sudah cukup membuatku gila karena Aera yang menyerahkan segalanya padaku hanya dalam semalam. Aera yang tahu bahwa aku punya hormon dopamin** yang sangat banyak sehingga ketika aku berada didekatnya, aku bisa saja ereksi mendadak. Aera yang cantik. Aera yang dikagumi banyak pria. Aera yang ku lindungi lalu harus pergi karena seorang pria yang mapan dibawah tangan ayahnya, sehingga gadis itu harus menangis seharian karena dilamar secara paksa.
Kemudian Aera menyerahkan segalanya pada pria bobrok tak bermoral sepertiku.
“Kalau kau tidak butuh jasaku, aku tidak akan menerima uang yang sudah masuk ke rekeningku sepuluh menit yang lalu. Ini gaji buta namanya.” Ucap Victoria sinis. Wanita ini sudah enam tahun berada dibawahku, wanita bayaran yang mengabdi, dan berkata bahwa ia tidak akan menikahi siapapun, juga berjanji untuk tidak menyukaiku. Dia hanya suka uang. Itu sudah cukup membuatku percaya bahwa semua hal tentangku tidak akan dia bocorkan kepada siapapun.
Tapi ketika melihat Victoria hari ini, aku merasa bersalah dan stress. Aku membiarkannya membawaku kepada kesenangan semalam karena dia membiarkanku berfantasi dengan Aera. Aku menggunakannya karena aku rindu dia. Aera yang sekarang adalah Aera yang benar-benar aku butuhkan. Bukan sekedar nafsu belaka, tapi ini benar-benar rasa cinta.
“Kyuhyun?” Aku menatapnya lagi saat Vic memanggilku.
Ini mungkin sudah waktunya. Aku tidak tahu harus cerita pada siapa. Wanita ini lebih tua dariku dan dia mengerti mengapa aku hanya menggunakannya walau aku tak pernah bicara alasannya. “Aku ingin menjawab pertanyaanmu selama ini, Noona.”
Wajah Victoria berubah, dia mendekatkan diri padaku. Duduk diatas ranjang yang sama, namun diujung yang berbeda. Dia bersila dan terlihat siap mendengarkanku. “Aku anggap menjadi pendengar adalah pekerjaan baruku sehingga uang yang kau kirimkan barusan bukan gaji buta.”
Aku mendesah sedih. Victoria sungguh menarik dengan segala sifat dewasanya. “Alasan mengapa aku memintamu untuk memuaskanku selama ini, hanya dengan cara bermain dengan kejantananku tanpa menyentuh tubuhku sama sekali, dan aku tidak ingin kau membuka pakaianmu dihadapanku, apalagi menyuruhku untuk meraba tubuhmu adalah…” Aku tahu kata-kataku sangat vulgar, tapi dia benar-benar harus tahu soal ini. Victoria selalu merasa sedih karena aku menggunakannya untuk memblow job saja. Tanpa membuka pakaian. Tanpa rabaan.
Ditambah mengapa dia kesal, karena aku selalu meneriakkan nama Aera di setiap pelepasanku bersamanya.
“…aku pernah melakukan semua itu dengan Aera. Dia yang pasif dibawahku dan mencoba merabaku dipermainan kami malam itu. Aku menikmatinya sampai gila. Malam itu, dia membawaku ke satu titik dimana seorang pria merasa bangga karena sudah berhasil menerobos dinding perawan seorang gadis. Itu membuatku ketagihan. Tapi jika bukan dia yang melakukannya, aku tidak bisa menerimanya. Makanya aku hanya memintamu melakukan hal yang tidak ia lakukan. Aku tidak ingin Aera merasa jijik.”
“Aera memberikan segalanya padaku di malam itu. Dia tahu kalau aku mencintainya dan aku pernah menyuruhnya menjauh. Aku sangat….sangat tertarik padanya. Aku berkali-kali pernah mencium bibirnya dan hampir saja merusaknya. Padahal aku tahu kalau aku adalah pemuda yang tidak memiliki apapun untuk bisa memilikinya. Tapi dia tidak ingin pergi dariku.”
“Sampai akhirnya dia memintaku datang ke rumahnya, lalu dia bercerita bahwa seorang pria melamarnya karena sang ayah tidak lagi punya pegangan untuk mempertahankan perusahaannya. Kedua orang tuanya jatuh sakit. Dia dijual paksa, hanya untuk seharga perusahaan kecil yang kini bisa aku beli. Dia akan pergi jauh ke negara antah berantah dibawa oleh seorang pria yang aku bahkan tidak tahu siapa.”
“Tapi aku dulu…aku tidak bisa membantunya. Aku pecundang. Tidak bisa membuatnya lari jauh dari ikatan paksa itu. Sehingga dia bilang bahwa dia hanya ingin denganku. Dan hanya aku yang boleh memilikinya. Sehingga dengan kalutnya, dia memberikan segalanya padaku yang tidak punya apa-apa. Hanya berbekal nilai tinggi dengan status mahasiswa tahun ketiga.”
“Malam itu aku memilikinya. Berkali-kali memasukinya. Aku ingat kalau kita tak menyiapkan pengaman. Aku mengingat rasanya, hangatnya dan teriakannya yang tidak bisa hilang dari kepalaku hingga sekarang.”
Wajah Victoria memerah karena malu, tapi dia bisa mengerti dengan mengangguk selagi aku mengingat malam itu. “Aku hanya ingat dimana dia membuatku terbang hanya dengan satu malam yang singkat. Dia membawaku lemas berkali-kali. Dan aku hanya mengingat wajahnya saat kau memuaskanku.” Kataku, “aku harap kau bisa mengerti, Noona.”
Victoria awalnya diam saja, tapi dia tersenyum lega. “Well, setidaknya aku sudah tahu kenapa kau melakukan ini padaku. Dan sebenarnya, sudah tugasku memuaskanmu, Kyuhyun. Yah, mungkin berbeda dari pria-pria diluar sana karena kau membayarku sangat mahal untuk menelan spermamu.”
Aku tertawa mendengar candaannya—aku anggap itu candaan walau sebenarnya tidak.
“Tapi kenapa kau memberitahukannya padaku? Setelah sekian lama ini?” Victoria bertanya padaku, dan kepalaku kembali mengingat kejadian tadi siang. Kulitnya yang putih dan bibir merah mudanya kembali bisa ku lihat. Aku bahkan tidak bisa menahan ereksiku saat dia ada didepanku, menelan ludahnya dengan telinga yang memerah. Aku kaget ketika dia memesan amerikano. Aku lebih kaget ketika ada jok ungu muda didalam mobilnya. Anak kecil tadi adalah buah hatinya bersama seorang pria asing. Anaknya yang manis. Aku sampai berjanji dalam hati tidak akan pernah membenci seorang anak jika itu adalah anak Kim Aera.
“Aku menemukannya, Noona. Hari ini.” Mulut Victoria membulat, lalu dia tersenyum. Aku tahu dia merasa senang karena akhirnya aku menemukan tujuan hidupku. Tapi itu tidak benar-benar melegakanku, karena mungkin hidupnya sudah bahagia ditangan dokter itu, dengan anaknya yang manis sekali. Rambutnya bergelombang lucu, warna kecoklatan diujung-ujungnya, seperti milik ibunya.
Aku bahkan menyuruh Changmin untuk mengikuti kemana pergi mobilnya untuk mendapatkan alamat rumah Aera. Bahkan jika aku tidak bisa memilikinya lagi, setidaknya aku tahu kalau dia hidup bahagia.
“Tunggu dulu.” Aku mengalihkan pandanganku pada Vic, “Apa sehari setelah malam kau bergelut dengan Aeramu itu, keluarganya menghilang?”
Dahiku mengerut kaget. Dari mana dia tahu? “Dari mana kau tahu?”
Aku melihat Victoria mengacak-acak isi tasnya, membuatku mundur karena harus meluruskan punggungku. Dia mengeluarkan sebuah buku. Warna covernya hijau tua dengan gambar sedikit erotis didepannya. Eager Desire. Penulisnya semut merah. Well, siapa di dunia ini yang memberikan nama pada anaknya dengan nama Semut Merah?
“Aku diberi oleh seorang junior yang baru saja menjadi perempuan bayaran sepertiku. Dia tergila-gila dengan isi ceritanya sehingga aku pinjam bukunya. Setelah mendengar ceritamu, aku ingat isi cerita buku ini. Sama persis.” Aku menggenggam buku yang diberikannya, “Aku tidak tahu apa ini kebetulan atau tidak tapi, aku harap kau punya waktu untuk membacanya.”
Aku memandang bukunya sekali lagi, melihat tulisan dibelakangnya. Satu paragraf yang membuatku memutuskan untuk menghabiskan buku ini dalam semalam.
Malam itu, ketika aku memintamu datang dan menerimaku, aku menangis karena harus meninggalkanmu. Gelenyar panas ditubuhku tidak pernah hilang. Aku mengingat seluruh jengkal tubuhmu yang membuatku melayang. Setiap malam aku meneriakkan namamu. Aku tidak pernah berhenti untuk membayangkanmu sampai gila. Aku menyesal karena tidak membiarkanmu tahu bahwa semua ini bukan nafsu.
Malam itu, kamu memilikiku. Aku harap itu berlaku seumur hidup. Kalau kau mau tahu.
Malam itu pun, aku tahu tentang segalanya. Kehidupan setelah dia pergi meninggalkan hidupku. Orang tuanya meninggal. Perusahaannya dibawa lari. Dia ditinggal di kota keras New York tanpa seorang teman karena pada akhirnya, pria itu tak jadi menikahinya.
Lalu…
Dia membesarkan buah hatinya. Sendirian
Sekeras itukah hidupmu, Sayang?
*
Kau himpunkan
Kau rangkaikan
*
Aku berada didepan pintu rumahnya. Cukup minimalis dengan taman kecil dan bunga anggrek yang tumbuh di dinding. Ada kuda-kudaan dari plastik warna ungu muda. Ada kolam pasir kecil dan ember juga sekopnya. Benar-benar rumah yang sempit dan berbau rumput.
Tanganku memencet bel rumahnya hingga terdengar bunyi nyaring. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan pada pemilik rumah ini, terutama mengenai isi dari novel hijau tua yang membuat malamku dipenuhi rasa panas dan tidak nyaman karena mengingat malam kami yang menggairahkan. Tujuh tahun yang lalu, kami bergelut semalaman, melupakan apa yang namanya sehelai kain.
Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan tapi, aku masih memikirkannya.
Sebelum pintu terbuka, aku melihat sepatu berukuran besar berwarna merah mengkilat. Aku tidak yakin kalau ini punya Aera, makanya aku memperhatikannya. Kemudian pintu terbuka dan seorang pria—aku yakin dia pria karena dadanya lurus—dengan rambut blonde kebiruan, juga pakaiannya yang cukup nyentrik berbalut celana gantung selutut. “Selamat siang.. Anda siapa, ya?”
Aku menahan resah, berharap Changmin tidak salah rumah, “Aku mencari Kim Aera.”
“Oh sebentar, masuk saja. Silahkan gunakan slipper di rak sebelah kanan.” Pria ini mempersilahkanku masuk. Aku melihat isi rumahnya yang minimalis. Ada banyak coretan pastel warna-warni di dinding. Gadis kecil yang kemarin aku lihat kini duduk nyaman diatas sofa, dengan buku gambar dan krayon di tangannya. Dilihat dari dekat, gayanya mirip sekali dengan Aera kecil. Wajahnya hampir sama. Bibirnya kecil, matanya bulat.
“Aku harap kau tidak masalah dengan teh dingin di siang hari. Pemilik rumah sedang mandi.” Pria itu duduk di sofa seberang, membawakan beberapa cemilan dan segelas teh hijau. Aku mengangguk berterima kasih. Sangat tidak sabar bertemu Aera, aku berharap bisa bertemu dengan wanita itu sekarang, tidak masalah kalau pun sedang mandi. Tujuh tahun aku menunggu takdir dan aku hampir saja pasrah dengan menikahi wanita lain.
“Apa kau teman kencan Aera?” Mulut pria ini sangat telaten sepertinya. Gayanya mirip perempuan. “Aku pernah melihatmu. Apa kau Tuan Cho?”
Mataku membulat, “Ya. Darimana kau tahu?” Dia menepuk tangannya senang.
“Mungkin kau tidak memperhatikanku tapi aku benar-benar terpukau dengan speechmu di Paris kemarin. Investor pembangunan mall Donghae. Aku salah satu interioristnya. Lee Hyukjae. Panggil aku Eunhyuk.” Oh—pria dengan topi hitam itu. Dia yang kemarin duduk dengan gadgetnya. Aku menerima jabatan tangannya, “Panggil Kyuhyun.”
“Jadi apa benar kau teman kencan Aera?” Tanyanya kukuh, “Karena kalau iya, aku akan merestui kalian. Kau orang baik, Tuan. Kau mapan, kau juga cukup tampan dan tinggi. Hidup Aera sudah sangat menyedihkan. Jadi aku harap ada pria baik yang bisa meluluhkan hati kerasnya itu.”
“Bisa dibilang mantan teman kencan.”
Eunhyuk tertawa kecil, “Lucu sekali. Mantan-teman-kencan.” Selain mulutnya yang telaten, dia berbakat juga dalam menyindir. “Aku bahkan tidak tahu siapa yang Aera tunggu dari dulu sampai dia tidak mau mencari pasangan hidup.” Tapi aku harus memuji mulutnya yang tukang gosip ini. Karena dari sini, aku punya kesempatan—bisakah aku percaya diri kalau pria yang ditunggunya adalah… aku?
“Aku bisa meramal. Sorot matamu selalu berubah setiap aku menyebutkan nama sahabatku. Kalian pasti punya kenangan yang indah. Makanya aku percaya kalau kau bisa mengencani Aera.” Ah, pantas saja pria ini pintar bicara. Eunhyuk mendekatiku, lalu berbisik, “—Aku akan membantumu. Sesegera mungkin—“
“Hyuk, ada siapa? Oh!” Aku akhirnya mendengar suaranya yang indah dan merdu. Aku berdiri menyambutnya, dia diujung anak tangga. Kaos hitam dan celana training rumahan, rambutnya basah dibalut handuk putih tebal. Kini aku mulai membenci dopaminku yang berlebihan. Bisakah kalian tidak membuatku panas hanya karena bertemu gadis ini?!
Aku meneguk ludahku, bernapas sedikit lebih tenang sebelum dia tahu kalau aku sedang gugup karena sosoknya terlalu indah di mataku.
“Kyuhyun.” Caranya memanggil namaku dan datang mendekatiku adalah hal yang aku suka hari ini. Ini lebih dari laporan profit perusahaan yang baru di upgrade. “Darimana kau tahu alamat rumahku?”
Apa aku harus memberitahunya kalau aku menyuruh orang untuk mengikutinya minggu lalu? Apa aku perlu memberitahunya tentang seminggu ini aku membaca novelnya lebih dari delapan kali?
Itu bukan hal yang penting—“Aku kesini mau minta maaf karena minggu lalu meninggalkanmu.” Kataku, dia meraba lehernya yang lembap dan aku tahu celanaku menyempit, “di taman kanak-kanak.”
Wajahnya terlihat lebih cerah, dia tersenyum lebih banyak dibandingkan ketika kami bertemu pertama kali seminggu lalu. Perawakannya tenang, walau mata dan telinganya tidak bisa bohong kalau dia tengah menahan sesuatu. Apa dia merasakan hal yang sama? Panas? Dipertengahan paha?
“Aku akan mengenalkanmu pada seseorang.” Aera berdiri dan datang lagi dengan seorang gadis kecil yang aku lihat tadi. Tangannya warna-warni, banyak warna ungu dan merah di kertas yang dipegangnya. “Ayo kenalan dengan Kyuhyun Ahjussi.”
Ya Tuhan, cantik sekali. Putih pipinya. Rambutnya yang digerai. Tangan kecilnya maju, “Siapa namamu, cantik?” Tiba-tiba tumbuh rasa khawatir didalam kepalaku. Buah hati Aera tidak boleh merasakan kerasnya hidup sendirian sepertiku dulu. Dia harus dipenuhi kasih sayang. Gadis kecil ini serapuh ibunya.
“Ra-ya.” katanya singkat dan malu-malu.
Aku berjongkok menyamakan tinggiku dengan Ra-ya. Mengeluarkan sapu tanganku dan mulai membersihkan dahinya yang kotor juga tangannya yang warna-warni. Ra-ya tersenyum cekikikan ketika aku mencubit pipinya, “cantik sekali.”
Aku melihat Aera ke atas. Wajahnya terlihat sumringah setelah melihat putrinya yang manis. Ya Tuhan, kalian berdua sangat ingin aku miliki. Sekarang. Detik ini juga.
“Maaf kalau aku mengganggu kalian, tapi aku punya janji dengan Ra-ya.” Eunhyuk keluar dari satu ruangan dan sudah mengenakan kacamata hitam dan tas selempangnya. Ra-ya meloncat-loncat kegirangan saat meraih tangan Eunhyuk. Apa ini…salah satu rencanamu?
Aera kebingungan, “bukankah kau kesini untuk makan siang bersamaku?”
Eunhyuk menggeleng, “Aku harus kencan dengan tuan putri ini. Kita harus makan siang yang enak dan belanja pakaian yang baru. Oke kan, Ra-ya?” Oke, persekongkolan yang bagus, Eunhyuk-ssi! “Aku tidak akan membuat satu goresan pun di tubuh keponakanku yang cantik ini. Aku akan menghubungimu nanti. Bye!”
Eunhyuk membisikkan sesuatu pada Aera tapi pasti hal itu cukup mengagetkannya, karena Aera terlihat berwajah masam dan merah setelahnya.
Aera terkejut saat buah hatinya kini dibawa pergi tapi Ra-ya dan pria itu sudah ada diujung pintu. “Dadah eomma, dadah ahjussi!” dia melambaikan tangannya yang mungil, dan aku membalas ucapan selamat tinggalnya. Dan setelah pintu tertutup….
…apa yang harus kita lakukan?
Seorang pria dan wanita dalam rumah yang kosong?
Kegugupanku dan dia hinggap lagi. Aku memperhatikan tubuhnya yang tidak bisa diam. Sedangkan aku berdiri sangat tidak nyaman. Aku dilanda resah, ingin memilikinya sekarang, dengan kondisi rambutnya yang basah. Sialan. Ereksi sialan. Kalian tidak boleh datang sekarang!
Aera berjalan kea rah dapur, mungkin untuk menutupi ketakutannya. “Apa kau lapar?”
Ya. Aku lapar, sayang. Ingin memakanmu!
“Ya.” aku duduk di kursi meja makan. Sedikit terlihat tidak sopan, tapi aku pun menyukai punggung kecilnya yang tegap. Dia mulai menyiapkan beberapa perlengkapan masaknya. “Aku harap kau suka daging teriyaki.” Katanya setelah mengeluarkan satu pak daging dari dalam kulkas.
“Silahkan. Aku berusaha untuk makan apa saja selama ini.” Jelasku, membuatnya sempat berhenti bergerak. Aku ingat kata-katanya untuk mencoba makan daging sapi yang mahal—karena aku hanya pria miskin yang mengambil bahan masakan dari toko sayur, itu pun kalau sayurnya sudah kurang segar. Tapi untuk pertama kalinya dia membelikanku daging teriyaki saat itu, agar pigmen kulitku tidak pucat, dan tidak terlalu kerempeng karena kekurangan lemak. Dan daging teriyaki menjadi makanan favoritku setiap saat.
“Kau masih suka pedas?” katanya mengangkat beberapa cabai di tangan, dan aku mengangguk. Tapi aku ingat sesuatu, “Tapi kau tidak bisa makan pedas, Aera. Jangan kalau begitu.”
Dia menoleh ke arahku, wajah polosnya dengan tangannya yang telaten memegang pisau, dia tersenyum. Senyuman yang selalu hadir dalam mimpi basahku, dan hadir saat Victoria memuaskanku sampai aku merasa bersalah. “Tidak masalah. Aku hanya bermasalah dengan kafein.”
Oh ya, kafein. Musuh dari lambung Aera yang sangat manja.
Aku jadi ingat rangkaian kata-katanya di novel hijau tua. Aku bahkan membawanya di dashboard mobilku. Dia menceritakan segalanya, melepaskan segala penatnya. Ketakutannya di negeri orang. Rasa sedihnya ditinggal orang-orang yang mencintainya, juga rasa luka ketika harus membiarkanku pergi dari pintu rumahnya. Karena setelah itu, Aera menjadi menderita. Dan aku sama sekali tidak bisa melindunginya seperti biasa.
Tapi aku suka caranya mendeskripsikan malam-malamnya yang penuh mimpi. Penuh roman erotika, karena dia menjadikanku satu-satunya fantasi. Dia bilang dia merindukanku. Dia juga bilang kalau ingin semua ini terjadi untuk selamanya. Aku ingin Aera, aku ingin semua keinginanmu terwujud. Aku—
“—Ah!” Aku terkejut dan berlari mendekatinya. Matanya tertutup rapat, “Ada apa, Aera?”
“Mataku kemasukan saat aku memotong cabai. Per—ih.” Aku melepaskan tangannya yang mencoba mengusap matanya. Lalu membuka kelopak matanya dengan dua jariku. Meniupnya perlahan, sekali, dua kali. “Masih?” tanyaku, dan dia mengangguk. Lalu aku melakukannya lagi, lebih dekat.
Tapi setelahnya, aku hanya bisa diam, karena kami berjarak kurang dari semeter. Aku sadar…. Sebelah tangannya tengah memegang pergelangan tanganku.
Aera.
Aeraku sayang.
Aku—mencintaimu.
“Persetan!” Aku mendorongnya pelan, kearah dinding. Menciumnya lembut. Mendorong bibirnya, membelai rambutnya sayang. Aku tidak ingin merusaknya seperti dulu, seperti pecundang. Aku memberikan kasih sayang, karena ini benar-benar bukan soal nafsu.
Bibirnya yang kecil terbuka sendiri, matanya menutup rapat dan aku mulai menggoda bibirnya. Memasuki bibirnya dengan lidahku. Sebelah tangannya ragu, tapi kini ada dipunggungku. Aku membelai pipinya cantik. Dan lidahnya mulai bergelut dengan lidahku.
Sial. Tujuh tahun tanpa dirimu, aku tidak pernah bercinta dengan siapapun. Hanya denganmu. Aku hanya ingin memberikannya untukmu, Sayang.
“Ehmmh…” Aera mendesah didepanku, lemas. Aku memeluknya agar tidak jatuh. Aku masih ingin menikmati bibirnya. Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Aku berjanji untuk melindunginya setelah ini. Tidak lagi mendapatinya kedinginan ditengah badai salju. Tidak lagi menangis karena miskin. Ciuman yang luar biasa. Aku mendapati bibirnya terbuka sempurna, saliva sedikit keluar dari sarangnya. Dia cantik sekali, bergairah, memandangku terluka.
“Aera sayang…” Aku berbisik, menciumnya lagi di kelopak mata, hati-hati, lalu ke pipi dan menggigit telinganya. “Aku mencintaimu, Aera.” Kataku lagi perlahan, lalu datang ke lehernya yang putih bersih. Melumat lehernya, menjilatinya sampai puas. Bahkan di lidahku, dia terasa sangat manis.
Tubuhku maju, ereksiku sudah diujung tanduk. Panas, menekan, bertemu dengan paha Aera yang panas. Terasa lembap, bahkan kami masih menggunakan pakaian!
“Sayangku…” kataku lagi, aku mengelus rambutnya. “Kau kemana saja, Kyuhyun…” Dia membawaku kedalam kelam matanya. Matanya yang terluka karena rindu dan berair. Aku mencium lagi bibirnya.
“Aku tidak akan pergi lagi, Aera. Tidak akan pernah.”
*
Kau cairkan
Seluruh kebekuan hatiku
Yang lampau
*
Kyuhyun membawa Aera dengan langkah yang panjang, tapi tidak terburu-buru. Mengangkat tubuh Aera yang ringan, mengangkat pantatnya hingga kedua kakinya melingkar dipusat tubuh Kyuhyun yang sudah tidak lagi sabar.
Tempat tidur menjadi tempat singgah mereka. Aera sudah melemah dibawah kungkungan Kyuhyun yang terlalu menggoda. Bibirnya terbuka. Aera mengerang kesakitan, tidak sabar. Mereka sama-sama bergairah. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengumpulkan seluruh fantasi yang tidak bisa tersalurkan. Kini ada Kyuhyun dihadapannya. Dan dia ingin membalas semua mimpi erotisnya yang segera jadi nyata.
Kyuhyun membuka kaos Aera, menggulungnya keatas sampai terlepas. Jemari kyuhyun begitu hangat menari di tubuhnya. Ciumannya bertubi-tubi. Semakin banyak. Semakin tercipta di berbagai tempat. “Hhh…. Kyuhh—hyun…” Aera mendesah. Melihat Kyuhyun saja dia sudah bisa basah apalagi sekarang pangkal paha Kyuhyun menekannya.
Kyuhyun mencium lagi bibir Aera. Seakan Aera adalah patung pahatan yang baru saja dibuat. Menggigit bibir bawahnya seksi, menghirup oksigen diatas hidung Aera.
Lalu bibir Kyuhyun membelai leher Aera lagi, menggigitnya pelan hingga Aera kembali menggelinjang. “Kyuh—hyun—ah! Aaaah….”
“Aku bisa merasakanmu Aera. Aku menikmatimu…” Kyuhyun menatap Aera dengan rambutnya yang sudah kusut dimana-mana. Ada dua tanda merah di leher Aera. Besok-besok ia akan menambahnya lagi. Bibirnya turun kearah bahu. Tepat di perpotongan leher juga tulangnya. Kulitnya putih bersih. Kyuhyun bisa menemui tanda lahir Aera tepat diatas payudara. Dua kali dia menemui tanda ini. Ketika dirinya tidak sengaja melihat Aera melucuti baju olahraga, serta malam itu.
Kyuhyun mengingat malam itu. Indah.
Ini lebih indah lagi. Karena pergelutannya kini dipenuhi dengan rasa rindu.
Aera panas dibawahnya. Tangan Aera membelai pula tubuh hangat yang menindihnya, membawa jari-jarinya kearah otot-ototnya yang sempurna. Tubuh Kyuhyun pucat namun halus dan licin menggoda. Keras dan erotis.
“Hhh….Kyuhyun—aku—aaah—Kyuh….” Aera kembali merasakan cairan mengalir di pahanya, tepat ketika satu tangan Kyuhyun meremas salah satu dadanya setelah penutupnya terangkat dan dilempar entah kemana. Bibir Kyuhyun melumat payudaranya seperti bayi. Aerola merah muda yang pernah juga Kyuhyun nikmati dulu.
Membuat Aera terengah-engah. Napas keduanya panas berpadu, sesak, lidah Kyuhyun sangatlah terlatih.
“Kau harus tahu, aku memimpikan ini setiap malam, sayang…” Kyuhyun bicara dengan nada terendahnya, saking frustasinya. Aera membelai pipi Kyuhyun sayang. “Apa kabarmu—hhh, Kyuhyun—hhh?”
Kyuhyun tersenyum, “Selalu indah saat bersamamu. Kim Aera..” Bibir Kyuhyun menggoda dada satunya, mencicipinya, menyesap wangi Aera yang harum.
Aera sampai gila, dia tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya. Kedua tangannya bergerak melepaskan kancing-kancing kemeja Kyuhyun. Dulu, dia tidak bisa aktif karena hanya ingin Kyuhyun yang menikmatinya. Membawanya ke awan. Tapi dalam mimpi erotisnya, dalam malam ketika ia membaca isi bukunya, Aera benar-benar ingin melucuti Kyuhyun dengan tangannya sendiri. Kyuhyun tersenyum melihat Aera tersenyum, membukakan kemeja Kyuhyun hingga jatuh ke bawah.
Dada Kyuhyun yang keras. Masih ada garis melintang di pinggangnya. Aera mengelusnya takut. Lalu sedih karena Kyuhyun harus bekerja sendirian, mengalami segalanya sendirian. “Apa masih sering sakit, Kyuhyun?”
Kyuhyun menggeleng, “Tim dokter terbaik memberikanku satu ginjal lagi untuk menemani ginjalku yang kesepian.” Kata Kyuhyun. Aera lega mendengarnya. Ia tahu bahwa Kyuhyun pernah menjual satu ginjalnya untuk membayar seluruh hutang keluarganya di umurnya yang masih muda. Kyuhyun yang malang kini sudah menjadi pria yang sempurna.
Aera menikmati rambut dada Kyuhyun yang tipis, lalu rambut pubis Kyuhyun dibawah pusar. Daerah rambutnya pasti berlanjut kebawah, ke arah—oh. Memikirkannya saja Aera sudah memerah. Kyuhyun tertawa.
“Apa kau akan membiarkanku? Tidak menahanku?” tanya Kyuhyun konfirmasi.
“Sesukamu Kyuhyun.” Aera yakin, “Aku hanya memberikannya padamu. Tidak pada siapapun.”
Kyuhyun semakin semangat mendengar Aera. Aera menggeram ketika Kyuhyun menggoda dadanya lagi, seluruh kulitnya diraba oleh Kyuhyun. Tanpa kecuali. Kyuhyun tidak menghentikan sedikitpun cumbuannya. Dimana-mana. Aera terlihat menghirup napas dalam. Matanya sayu dan terengah-engah. Ia kesulitan bicara. Aera sangat seksi dimata Kyuhyun.
Dua tangan Kyuhyun sudah ada di karet celana training Aera. Dia menurunkannya pelan, Aera mengerang lagi.
“Nnghh—Kyuhyun—Kau… Kau hhh…” Aera menjambak rambut Kyuhyun pelan. Tubuhnya terasa semakin panas walau kini seluruh tubuhnya tidak tertutupi apapun. Kyuhyun mundur untuk mencium jari-jari kakinya. Seksi, pelan, Kyuhyun bahkan melumat kelingking kaki Aera sampai Aera menggeram. Dua tangannay meremas sprei. Sprei warna putih. Sama seperti ketika itu. Ingatannya berlalu, dia menemukan spreinya berubah warna merah, tepat setelah Kyuhyun pergi dari pintu rumahnya. Mengucapkan selamat tinggal.
Aera menangis menjadi-jadi dulu. Tapi kini Kyuhyunnya kembali. Mencium setiap jengkal kaki dan pahanya. Pahanya yang bergetar dan lengket. Lembap dan panas.
“Kau wangi, sayang…” Hidung Kyuhyun di depan pintu masuk Aera yang terbuka lebar. Ini berbeda dari vibrator mediumnya. Ini sangat berbeda dari malam-malam erotisnya. Kyuhyunnyalah yang tengah menggodanya. Menelan seluruh cairan lengketnya. Menjilat pintu masuknya dengan sedikit rambut-rambut tipis.
“Kyuhyunnn—hh…. Aaah…” Aera mendesah tak tertahan saat jari-jari Kyuhyun menyentuh pusatnya. Ditambah ketika lidah Kyuhyun telatin membersihkan vaginanya. Lagi. Hangat. Basah. Sentuhan Kyuhyun memberinya kenikmatan yang luar biasa. Aera sudah merasa kejang di perutnya, dingin karena udara, panas karena Kyuhyun.
Matanya menggelap saat jari Kyuhyun bertambah. Jarinya panjang dan dalam. Aera menarik kepala Kyuhyun mendekat, menyadari keinginan wanitanya, Kyuhyun menambahkan lagi jarinya. Keluar masuk menggoda. Aera kembali tak bisa menahan diri hingga basahnya mengalir di jari Kyuhyun.
Aera sudah benar-benar melumpuhkan syaraf Kyuhyun. Hingga Aera tersenyum manis sekali saat Kyuhyun tengah sibuk membuka ikat pinggangnya. Membebaskan kejantanannya yang siap perang. Aera melihatnya lagi, akhirnya, secara nyata. Pipinya merah sempurna malu. Tapi Kyuhyun tertawa senang. Senang bisa mendapati Aera berada dibawahnya, miliknya. Dia jadi satu-satunya pria yang merasakan ketatnya Aera.
Masuk, hangat, dan sempit. Kyuhyun merasakan otot Aera bergerak meremas miliknya. Kyuhyun memekik tertahan “Ini gila, sayang.”
Kyuhyun memaju mundurkan miliknya perlahan. Sedangkan respon Aera begitu indah dibawahnya. Mulutnya terbuka menikmati. Senang. Romantis. Kyuhyun menambah temponya hinga ia bisa mendengar Aera mendesah keenakan.
“Euh…Eugh—Kyuhyun. Lagi—lagg—iiihh..” Aera mencium bibir Kyuhyun panas, selagi pinggul Kyuhyun maju mundur.
“Oh—sialan….Aera….Khaaaauuu—hh…Eungh—“
Kyuhyun mencium lagi payudara Aera, mencubitnya, menggigitnya. Lalu Aera menggelinjang keenakan, karena Kyuhyun menaik-turunkan tempo permainannya. “Mmmmh….Kyuhy—mmmmh..” Bibir Aera ditawan terus, lembut dan dominan. Tangan Kyuhyun menelusup kebelakang. Punggung Aera yang sensitif, ia belai dengan sayang.
Kyuhyun bahkan mengelus pantat bulat Aera dengan sentuhan seringan bulu. Kyuhyun menekan lagi kejantananya masuk dan keluar, hingga Aera merasakan cairan lengketnya semakin banyak dan semakin mempermudah pemainan Kyuhyun yang keras.
“Sebentar lagi—hh…Sedi—hhhkhit…” Kyuhyun dan Aera sama-sama sesaknya. Kyuhyun meluncurkan kejantanannya yang semakin besar, menegang keras dan panas didalam Aera. Berkali-kali memasuki sampai Aera berteriak hebat.
“Kyuhh—“ Nikmat yang luar biasa. Nikmat yang dirindukannya. Kaki Aera sudah lemas tak berdaya, hampir turun dari pinggang Kyuhyun, namun kedua tangan Kyuhyun menahan paha Aera supaya tetap disampingnya. “Che—path..Lagi…Kyu—hyun..”
“Ahhh…Argh—ah…Aeraaaaa—rgh.”
Sampai mereka berada di puncaknya. Matanya berkunang-kunang, cairannya keluar, tersumbat karena ada Kyuhyun yang masih menggodanya. Sampai Kyuhyun akhirnya membiarkan spermanya membanjiri Aera.
Kyuhyun berbaring di samping Aera lemas. Kejantanannya yang keras kini melemah, masih bersarang didalam Aera. Mereka tertawa, hampir saja menangis bahagia. Kyuhyun membawa wanitanya berbaring diatas lengannya. Tapi saat Aera bergerak, kejantanan Kyuhyun bangun lagi dan kembali menusuknya. Kyuhyun tidak ingin mengeluarkannya. Sampai Kyuhyun menarik Aera keatas, membiarkan telinga Aera mendengar detak jantung Kyuhyun yang berdetak begitu cepat.
“Kau cantik, Aera. Tidak ada yang lebih cantik darimu.”
Aera membelai rambut Kyuhyun, duduk diatas Kyuhyun, menerima jantannya Kyuhyun yang masih setia memenuhinya, “Aku merasa di surga.” Suara Aera serak sekali.
“Iya.” Balas Kyuhyun, “Aku sudah memendam segalanya Aera, selama ini.” Ucapnya lagi, “Bolehkah aku menebus semuanya?”
Diciumnya Aera lagi, kemudian gairah Aera muncul lagi. Mereka melakukannya. Sampai semua luka dan rindu luntur sendirinya.
*
Kau luluhkan
*
Pusing mendera kepalaku luar biasa. Saat aku mengerjapkan mata, aku tahu bahwa aku sendirian. Semuanya nyata, bukanlah mimpi erotis lagi. Kyuhyun datang dan bercinta, memberikan lagi segalanya yang ia punya. Si romantis yang panas, begitulah Kyuhyun. Tiba-tiba aku merasa ingin berterima kasih pada Eunhyuk yang sudah membawa Ra-ya menginap di rumahnya.
Aku ingat, tiga—oh. Empat kali, satu kali lagi Kyuhyun memandikanku hingga aku harus tidur panjang. Kyuhyun kembali pergi ke kantor. Kami seperti sedang, bulan madu…
Aku ingat juga apa yang Kyuhyun katakan saat percintaan kita terakhir semalam, bahwa Kyuhyun akan memperbaiki hidupku. Kyuhyun akan kembali dengan sempurna, membawa hidupku sempurna.
Aku tidak tahu maksudnya apa, karena ketika itu, aku terlalu fokus pada tusukan Kyuhyun yang panas. Tapi aku mengerti pada akhirnya, setelah mendapati dua kotak kecil—satu kotak yang sudah hampir rusak, dan satu kotak yang lain berwarna ungu—dan sebuah kertas dibawahnya. Tulisan khas Kyuhyun, menggunakan pena yang tebal. Awalnya aku kaget, tapi pada akhirnya, Kyuhyun membaca novelku. Kisah hidupku.
Eager Desire, bukan sekedar nafsu birahi. Tapi dengan cinta yang matang dan rindu yang abadi. Aku sudah tahu segalanya. Tentang dokter bajingan yang tidak pernah menikahimu. Aku sedih membacanya, aku khawatir kau merasakan hidup yang penuh luka seperti yang pernah aku rasakan. Aku akan melindungimu. Terima kasih untuk isi bukunya. Aku senang kau mengingatku setiap malam. Aku pun begitu, kalau kau mau tahu.
Aku harus pergi ke Jepang beberapa hari. Aku membawa novelmu, dan akan aku baca sepanjang jalan dan disetiap waktu senggang. Aku juga akan merindukanmu. Bolehkah aku memberikanmu royalti karena sudah menggunakanku dalam novel hijau tuamu?
Aku mencintaimu. Aku akan mencintai Ra-ya, siapapun ayahnya.
Dengan cinta, Kyuhyun
Aku melipat suratnya. Itu surat cinta pertama yang pernah aku dapatkan selama hidupku. Tanganku mengambil dua kotak yang ada diatas nakas. Didalamnya ada sebuah kalung, aku yakin ini kalung emas putih. Dengan liontin unicorn kecil, dan berlian keunguan menghiasinya. Lingkar lehernya kecil. Kyuhyun pasti bermaksud untuk memberikannya pada Ra-ya. Oh gadis kecilku.
Aku ingat pertemuan mereka dirumah kemarin. Ra-ya terlihat senang bertemu Kyuhyun. Apa karena ada ikatan batin diantara mereka? Apa karena Ra-ya menemukan yang dia cari?
Aku hanya bisa tersenyum mengingatnya. Ku buka satu kotak lagi, sebuah cincin dengan tali emas untuk menggantungnya. Cincin yang harusnya dipakai di jari, secara tidak langsung dia meminta untuk menggunakan cincin ini dileherku. Tapi aku melihat secarik kertas lusuh dari dalam kotaknya. Satu kalimat yang mengingatkanku pada kerja kerasnya dulu, pemuda bobrok yang bersemangat, pria yang menyenangkan dan tak tahu putus asa.
Aku menabungnya untuk membelikan ini untukmu, Aera.
Lalu ada tanggal didalam cincinnya, hari dimana aku memberikan semuanya pada Kyuhyun, tujuh tahun lalu.
*
Kau adalah pengisi dalam ruang hidupku
Di saat aku inginkan rasa indah
Sejuta bungapun bersemi melukiskan isi hatiku
Kan ku hidupkan sebuah terang dalam hatimu
Kau himpunkan kau rangkaikan
Seluruh kepingan hidupku yang tlah hilang
Kau sematkan, kau lekatkan seluruh bayangmu
Kau luluhkan, kau cairkan sluruh kebekuan hatiku yang lampau
*
Hari yang sibuk, dan aku merindukan Kyuhyun. Bodohnya, kami tidak saling bertukar kontak masing-masing sehingga aku benar-benar merasa terbebani karena rindu dia yang entah masih di Jepang atau malah pergi ke negara lain. Aku sangat bahagia mendengar dirinya mencintaiku, sekian lama, seperti yang aku rasakan pada Kyuhyun.
Kembali pada rutinitas pekerjaan, aku mengawalinya dengan rasa senang karena bisa kembali bertemu pria yang aku cari selama hidupku. Dan di siang hari, aku membawa kendaraanku ke sekolah Ra-ya. aku akan menjemputnya dan membawanya makan siang diluar. Ra-ya begitu senang saat aku memberikan kalung pemberian Kyuhyun, dimana ada kuda poni favoritnya yang jadi pemanis perhiasan dilehernya.
Sesaat setelah aku sampai ditempat Ra-ya, aku terkejut melihat Kyuhyun dengan sweater biru dongker dan celana jeans melingkari kakinya. Kyuhyun tengah menggendong Ra-ya kesana kemari. Aku juga melihat sahabatku, Bae Suzy, pemilik taman kanak-kanak ini. Aku memasukkan Ra-ya kesini karena aku menitipkan putriku pada Suzy. Selain karena Ra-ya tidak bisa masuk ke taman kanak-kanak mana pun, karena aku tidak punya sertifikat lahir Ra-ya.
Suzy mengacungkan jempolnya ke arahku, menilai Kyuhyun luar biasa tampan dan menarik. Aku malu, tentu saja. Karena Kyuhyun milikku, hanya milikku.
Ra-ya turun dari gendongan Kyuhyun, lalu berlari ke arahku. Memelukku sayang. “Kyuhyun ahjussi, jjang! Tadi Ra-ya belajar sama Kyuhyun ahjussi!” katanya riang. Sedangkan Kyuhyun berdiri tegap didepanku. Ya Tuhan, padahal baru beberapa hari kami bertemu, di pergumulan panas kemarin. Sial, aku mengingatnya lagi. Pahaku panas lagi. Aku memakai rok selutut tanpa celana tambahan. Sialan lagi, celana dalamku pasti ternodai.
“Hai.”
Kyuhyun menyapaku.
“Hai juga.”
Aku membalasnya.
Ra-ya berpindah ke gendongan Kyuhyun lagi, dan sebelah tanganku dipegang Kyuhyun. Apakah ini mimpiku yang terwujud jadi nyata? Memiliki keluarga yang sempurna? Memberikan Ra-ya ayah yang sehebat dan seramah Kyuhyun?
Kami berjalan kearah tempat parkir. Kami seperti sebuah keluarga kecil. Kyuhyun tulang punggung keluarga, dan aku penopangnya. Tiba-tiba Kyuhyun mencium dahiku, “Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
Aku belum menjawabnya kaget, tapi Ra-ya sudah sangat senang mendengar ajakan pria ini.
*
Kau bangkitkan
*
Aku tertidur sepanjang jalan. Bersama Ra-ya didalam pelukanku, kakinya melingkari pinggangku. Kami terlalu senang bernyanyi lagu anak-anak, sampai kelelahan dan aku tertidur. Tapi saat aku bangun, mobil sudah berhenti di satu tempat dimana—ah—pemandangan. Lautan yang indah. Pantai pasir putih. Tanpa pengunjung.
Ra-ya berpindah ke belakang jok, nyaman tertidur di kursi ungunya. Aku yakin Kyuhyun yang memindahkannya.
“Sudah bangun, sleeping beauty?” tanya Kyuhyun menggoda. Dia disampingku, diluar setelah membuka pintu mobil. Aku mengikuti tangannya untuk keluar. Kami meninggalkan Ra-ya tertidur didalam dengan kaca yang sengaja ku turunkan. Aku menikmati pasir putih dibawahku. Lalu ombak yang bersahut-sahutan. Dulu Kyuhyun pernah berkata bahwa dia belum pernah ke pantai sebelumnya. Selama hidupnya.
Tapi Kyuhyun yang sekarang adalah Kyuhyun yang punya segalanya. Pesona, perusahaan, gelar tinggi, dan tentu saja keperawananku. Kyuhyun punya semuanya. Kami duduk dipinggir pantai. Aku bersandar di bahunya sedangkan Kyuhyun menyandar pada tebing dibelakangnya.
“Apa yang kau rasakan sekarang, Aera?” tanya Kyuhyun sambil membelai jari-jariku. Aku tersenyum melihat Kyuhyun yang begitu hangat. Kyuhyun yang ramah seperti dulu, bukan pendendam, bukan Kyuhyun yang bicara dengan nada interogasi seperti saat kami bertemu waktu di café kemarin.
“Rindu.” Kataku, “Aku hanya merindukanmu setiap detik, Kyuhyun.” Ucapku jujur, “Kalau kau?”
Dia menggumam, “Merasa bersalah.” Aku mengerutkan dahi, “kenapa?”
Dia menoleh ke arahku, menyingkirkan anak rambut yang menutupi telinga, “Karena membiarkanmu pergi bersama bajingan dan aku tidak bisa meraihmu. Karena aku pasrah terlalu cepat. Juga karena tidak menemanimu saat orang tuamu meninggal. Aku sedih membaca novelmu. Walaupun tertulis anonim, aku merasakan kehidupanmu yang keras selama ini, Aera.”
Aku menitikkan air mata mendengarnya. Dia tiba-tiba menarikku, sehingga aku duduk dipangkuannya. Merasakan tonjolan kejantanannya yang sudah keras, menusuk-nusuk paha dalamku. Oh tidak, apa kita akan melakukannya?
“Aku mau bercinta denganmu, Aera…” Kyuhyun memohon. Kyuhyun yang menganut pemaparan Machiavelli akhirnya memohon padaku. Aku tidak bisa menolak walau merasa takut. Ini tempat umum! Bagaimana jika banyak orang yang lihat?! “Aku janji, tidak akan ada yang bisa melihat kita berdua, sayang.”
“Percaya diri sekali.” Kataku menyindir, bahkan saat dia sedang mencumbu leherku, dan membelai vaginaku dari luar yang sudah basah.
“Ini pantaiku. Pulau pribadiku.” Oh tidak, Kyuhyun bahkan punya pulau pribadi sekarang.
“Tidak lama.” Kata Kyuhyun lagi. “Aku tahu kalau Ra-ya pasti akan menangis kalau kita terlalu lama disini.” Ucapnya sambil menarik celana dalamku sampai lepas, lalu memasukkannya kedalam saku. Sialan, itu erotis sekaligus menjijikan sih.
Kejantanan Kyuhyun berdiri keras, aku hanya menurunkan celananya saja. Kyuhyun membawaku lagi, naik, hingga penuh dalam vaginaku. Aku mendesis senang, naik turun perlahan menggodanya.
“Aku ingin bertanya, Aera.” Kyuhyun benar-benar tidak tahu waktu. Aku tidak bisa fokus kalau sedang begini!—tapi aku mengangguk, karena tidak tahu harus berbuat apa. “Siapa ayahnya Ra-ya?”
Akhirnya, pertanyaan itu luncur juga dari bibirmu, Kyuhyun-ku. Aku mencium bibirnya berkali-kali, mendiamkan kejantanannya mengisiku penuh. “Kau.”
Wajahnya mengeras, aku tahu dia kaget. “ Saat meninggalkanmu, aku hanya hidup sendirian di New York, dibantu Eunhyuk tentunya. Aku pun sama kagetnya ketika merasakan mual yang tidak biasa. Kejadiannya tiga tahun setelah kita berpisah. Bukan karena lambungku yang manja. Akhirnya Eunhyuk mengantarku konsultasi ke dokter, hingga dokter bilang bahwa aku positif hamil.” Aku mengelus lagi pipi Kyuhyun, “Itu bisa terjadi, kata dokter. Pembuahannya terjadi sangat lama, Kyuhyun. Dan aku tidak pernah sekalipun melakukannya dengan orang lain. Hanya denganmu…”
Kyuhyun tersenyum, menampilkan giginya yang rata saat aku kembali menggodanya. Menaik turunkan tubuhku hingga dia mengeras didalamku. “Aku suka kalungmu.” Komentarnya.
Aku mengelus kalung yang ku gunakan. Dengan liontin cincin emas perak yang menggantung. Ini pemberian Kyuhyun, hasil kerja kerasnya dulu yang belum sempat sampai ke tanganku. “Aku berniat melamarmu, Aera. Dengan cincin itu. Seperti janjiku kemarin. Aku ingin memperbaiki hidupmu.”
Aku menaik turunkan tubuhku lebih cepat. Memandang Kyuhyun yang kesakitan karena menahan rasa sakit sesak tiada taranya, akhirnya aku kembali mempercepat permainan tubuhku. Badanku sudah lengket, tapi aku tak peduli. “Errrgh…..—Aera….” Kyuhyun menggeram, lalu membanjiriku, lagi. Lalu kembali betah didalamnya. Tidak berniat untuk melepaskannya.
“Aku mencintaimu…hhh—sayang…” Dia mencium kelopak mataku yang sayu karena lemas, “Ayo menikah denganku.”
Kyuhyun melepas kalungku, lalu mengeluarkan cincinnya untuk digunakan di jari manisku. Seketika air mataku jatuh karena tersipu, lalu bahagia. Pada akhirnya, Kyuhyunlah yang memilikiku.
“Cepat jawab aku, Aera sayang.” Ucapnya sarkatis. Oh ya, kembali si penganut filosofi Machiavelli.
Aku mencium bibirnya lagi, “Ada dua hal yang harus kau ketahui sebelum kau mendapatkan jawabannya, Kyuhyun.” Aku merekam wajahnya, dengan dua tanganku di kedua sisi pipinya, “Satu. Nama putriku bukan Ra-ya. Itu hanya nama panggilannya dari kecil. Karena dulu, ketika dia lahir dari tubuhku, aku menamainya…. Gyura.”
Gyura. Aku benar-benar menamainya Gyura. Aku mengingat percintaan kami dikamar mandi rumahku yang kini sudah rata dengan tanah, bahwa Kyuhyun menginginkan seorang putri yang mirip denganku. Lalu kami berbincang tentang nama yang tepat. Kyuhyun ingin menggunakan namanya, dan aku ingin menamainya dengan namaku.
Tiba-tiba terlintas dipikiranku untuk menamai putri cantikku dengan nama Gyura. Dulu, saat aku benar-benar rindu Kyuhyun.
“Cho Gyura. Cukup bagus…” komentarnya, “Cho Aera juga bagus.”
Ekspresi Kyuhyun terlihat senang, “…Satu lagi adalah…” Aku menutup kalimaku dengan ciuman manis yang panjang, juga dengan harapan jika ini adalah langkah terbaik untuk melanjutkan hidupku dan hidup Kyuhyun.
“…aku butuh kau untuk meneruskan ceritaku, Kyuhyun.”
*
Kau hidupkan auraku….
*
KKEUT
p.s.
(*) Buku yang ditulis oleh filosofis Machiavelli (salah satu tokoh international relations klasik) berjudul The Prince mengisahkan tentang kepribadian manusia yang dipenuhi sifat buruk, termasuk dalam mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, tidak peduli kalau harus mendapatkannya dengan cara licik atau jahat sekalipun. Jadi ga aneh kenapa Kyuhyun tuh keukeuh kalo keinginannya ga didapetin, gimana deh caranya mau licik, mau mohon-mohon, pokoknya begitu, biar dia dapet apa yang dipengenin.
(**) Hormon dopamin adalah hormone yang dikeluarkan pria saat orgasme, dimana hormone ini membuat pria ketagihan terhadap seks. Berbeda dengan wanita yang mengeluarkan hormone oksitosin yang bisa membuat wanita jatuh cinta pada lawan main seksnya. Makanya kenapa kalau pria suka porn things, kepengen-kepengen mulu, sedangkan wanita kebanyakan ngelakuinnya dengan orang yang dia cintai doang (walaupun globalisasi bikin seks bebas jadi maki

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: