Destiny Part 2

1
destiny kyuhyun ff nc
Author : queencyblooms
Title : DESTINY
Category : NC-21, Yadong, Romance (maybe) , Chapter
Cast : Cho Kyuhyun / Han Yoora
Part duanya sudah hadir~! Oke langsung aja ya, Happy Reading~! 😀
=====
Setelah kabar pernikahan Kyuhyun dan Yoora diketahui oleh Yoojin tadi pagi, kini tentu saja seluruh anggota keluarga Han menjadi heboh. Pernikahan ini adalah hal yang menghebohkan bagi mereka karena melihat siapa pria yang akan menikahi Yoora nanti. Cho Kyuhyun memang cukup popular di Korea, apalagi bagi keluarga pebisnis seperti keluarga Han.

Ponsel Yoora seperti meledak karena Appa dan Eommanya terus saja menghubungi seakan tak kenal waktu. Seperti malam ini, saat Yoora baru saja mencoba menutup matanya, tiba-tiba ponselnya berdering keras seperti tak berperikemanusiaan. Yoora yang geram mulanya mengira yang menghubunginya adalah Kyuhyun, namun saat kedua matanya menatap layar ponselnya yang lebar, Yoora mencibir dirinya sendiri.
“Percaya diri sekali kau, Han Yoora.”
Benda ditangannya itu masih belum berhenti berdering, mata Yoora pun masih lekat memandangi nama disana. Appa. Yoora menimbang-nimbang sebelum menjawabnya, ia hanya tidak ingin teriakan menggema dari Yoojin membuat telinganya menjadi tuli saat ia menjawab telepon itu nanti. Karena tak pernah sekalipun Yoora mengacuhkan panggilan dari anggota keluarganya hari ini. Selain karena ia malas, pikirannya pun sedang terus dicekoki oleh kalimat-kalimat vulgar Kyuhyun tadi sore, kalimat-kalimat yang masih ia ingat per-kata-nya dengan jelas.
“Terserahlah.” Yoora mengedikkan bahu, lalu dengan sedikit ragu menggeser icon telepon hijau ke tengah layar, menjawab panggilan dari Yoojin.
“Eo?”
“Kemana saja kau?” seru Yoojin, sangat jelas dari suaranya jika pria itu sedang menahan emosi. Tapi Yoora mengabaikannya.
“Ah~ aku pergi bersama Kyuhyun. Waeyo?” jawab Yoora sedikit berdusta.
“Benarkah?” Nada bicara Yoojin berubah drastis. “Jadi kapan kalian akan menikah? Kami sudah tidak sabar, nak.”
Yoora mengernyitkan dahi. “Kami?”
“Ya, keluarga kita. Setelah Appa beritahu mereka tentang ini, mereka semua sangat ingin bertemu denganmu dan mengucap selamat. Jadi kapan pernikahannya akan dilaksanakan? Kami siap membantu kalian.”
Kali ini Yoora mengernyitkan dahinya lebih lama lagi. Apa yang baru saja ia dengar tidak salah? Anggota keluarganya kenapa tiba-tiba bisa peduli sekali, bahkan ingin membantu. Yoora tertawa sinis, ia bangkit hingga kini dalam posisi duduk, lalu memokuskan diri pada ponselnya lagi.
“Ada apa dengan kalian?”
“Maksudmu?”
“Come on, Appa~ Aku sudah lebih dari dua puluh tahun menjadi anggota keluarga Han dan aku sangat hafal sifat anggota keluarga kita satu persatu. Oke jika yang peduli pada pernikahanku adalah Appa dan Eomma tentu aku tak akan terkejut, tapi mereka? Mungkin nanti Appa harus memeriksakan kepala mereka ke rumah sakit, mungkin saja mereka terbentur sesuatu.”
Yoojin mendecak. “Bisakah kau tidak selalu berpikiran negatif pada semua orang?”
“Tidak bisa.” Jawab Yoora cepat. “Jika Appa ingin ada anggota keluarga yang ikut membantu dan hadir di upacara pernikahanku, maka orang itu hanya Appa dan Eomma karena aku masih menghormati kalian sebagai orangtuaku. Terima kasih.”
“Yoora…”
“Aku lelah, Appa. Aku ingin tidur. Selamat malam.”
Yoora menjauhkan ponsel dari telinganya lalu melemparnya sembarang tanpa memutus panggilan yang masih tersambung. Menggelengkan kepalanya beberapa kali ia lalu kembali berbaring. Cukup lucu mengingat kata-kata Yoojin mengenai keluarganya. Dan saat ini Yoora tak begitu peduli. Ia sudah sangat mengantuk. Akhirnya perempuan itu memejamkan mata tanpa memikirkan apapun lagi. Terbang kealam mimpi kemudian.
═===═
Paginya sekitar pukul delapan, Yoora terbangun sendiri tanpa dipaksa oleh alarm seperti biasa. Pikirannya yang terasa penuh memaksanya untuk bangun sendiri dan sedikit lebih cepat dari hari lain. Saat ia menatap pantulan wajahnya dicermin, ia baru ingat akan janji Kyuhyun hari ini yang ingin mengajaknya pindah rumah. Juga, Yoora menjadi teringat dengan ciuman mereka kemarin. Ciuman panas yang membuat kepalanya berdenyut.
“Ah otak sialan.” Buru-buru Yoora keluar dari kamarnya untuk menuju kamar mandi. Namun tubuh seseorang yang berdiri di ruang utama apartemennya membuat Yoora melonjak.
“Ya!” Yoora berseru hingga orang itu menoleh. Benar saja dugaannya, orang itu adalah Cho Kyuhyun. Bagaimana makhluk itu bisa masuk kesini?
“Aku sudah menunggumu hampir satu jam, Nona.”
Mengusap matanya beberapa kali, Yoora kemudian menggeretakkan gigi. “Darimana kau bisa masuk hah?”
Pertanyaan itu membuat Kyuhyun tertawa. “Tentu saja dari pintu depan, Yoo. Kau lupa kemarin kau memasukkan kode apartemenmu ini didepan mataku? Kau sengaja mengundangku untuk masuk tengah malam kesini dan melanjutkan kegiatan kita yang tertunda huh?”
Yoora mengerjap. Sialan. Padahal ia sama sekali tak bermaksud membocorkan kode apartemennya pada Kyuhyun. Itu berarti Kyuhyun mengintip? Duda satu ini benar-benar tidak sopan.
Baru saja Yoora ingin bersuara untuk menghardiknya, Kyuhyun terlebih dulu bersuara. “Mandi dan berkemaslah. Aku akan mengajakmu melihat rumah kita hari ini.”
“Kau tak bekerja?” tanya Yoora sambil mengerutkan dahi. Baru ia sadari Kyuhyun tidak mengenakan jas dan celana kainnya yang licin seperti biasa. Pria itu tampil santai pagi ini dengan sweater abu-abu dan jeans hitam. Penampilan yang menurut Yoora lebih baik dari yang selama ini ia lihat dari seorang Kyuhyun.
“Aku ambil cuti dua bulan untuk pernikahan kita. Itu wajar ‘kan? Lagipula aku…”
“Ya ya kau CEO, kau yang berkuasa.” Yoora memotong dengan nada malas. “Tunggu aku setengah jam lagi.”
“Baiklah, itu tidak lama. Dan pastikan pakai bramu, Nona.”
Baru saja Yoora melangkah menuju kamar mandi, langkahnya terhenti kembali. Bra? Ia menelan ludah seraya menyentuh pundaknya.
‘Sial.’
Yoora sungguh merasa ingin mengutuk Kyuhyun sekarang juga. Sempat-sempatnya pria itu mencuri pandang ke dadanya yang –sialnya hanya ditutupi oleh kaos putih kebesaran. Jika bukan karena ia membutuhkan Kyuhyun, mungkin saat ini juga dahi pria itu sudah bertubrukan dengan tembok.
“Jaga matamu.” Seru Yoora ketus, ia pun melanjutkan langkahnya kembali.
Sedangkan Kyuhyun tertawa, sangat keras, seolah-olah lupa diri. Entahlah, Kyuhyun sangat menyukai sikap Yoora yang seperti itu. Kyuhyun tercenung kemudian, mencoba menelaah perasannya sendiri. Semudah inikah ia melupakan Lana?
═===═
Ketika Yoora masuk kesana, pandangan matanya memutar untuk memerhatikan sekeliling. Belum, ia dan Kyuhyun belum tiba dirumah baru seperti yang pria itu janjikan. Saat ini mereka di apartemen milik Kyuhyun yang tentu saja sangat highclass. Yoora mengangguk-angguk, pantas saja Kyuhyun seperti merasa aneh saat masuk ke apartemen miliknya yang sederhana. Pria itu pasti tak menyangka, anak dari seorang Han Yoojin memilih tinggal disana.
“Kau mau minum apa?”
Suara Kyuhyun menginterupsi konsentrasi Yoora yang sibuk memerhatikan berbagai furniture disana. Perempuan itu menjawab ‘nanti saja’ tanpa menoleh pada Kyuhyun yang justru sedang menatapnya dengan intens. Kyuhyun tersenyum lalu berjalan sendiri ke dalam kamarnya. Yoora hanya melihatnya sekilas, lalu kembali sibuk pada apa yang ia lihat. Ia merasa tertarik untuk mengitari seluruh ruang di apartemen ini. Hampir seluruh warna dindingnya berwarna putih dan tampak sangat bersih, baik itu ruang utama, ruang tengah atau dapur yang masih dapat pandangannya jangkau dari sini. Untuk seorang pria, Yoora menilai kerapian Kyuhyun terlalu berlebihan. Bahkan dirinya yang seorang perempuan tidak serapi itu.
Yoora melangkah pelan menuju areal ruang tengah. Dan sampainya disana, ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Beberapa foto Kyuhyun tersusun rapi diatas meja, entah itu foto Kyuhyun dengan jas licinnya, pakaian casual, maupun foto saat pria itu masuk sebuah majalah bisnis. Tapi hanya satu yang membuat Yoora sangat tertarik, yaitu sebuah bingkai foto yang sepertinya adalah foto pernikahan Kyuhyun.
Sempat Yoora tertawa melihat ekspresi Kyuhyun yang menurutnya mengerikan, tapi tawa itu memudar saat ia melihat sosok disebelahnya. Tak perlu dijelaskan lagi, tentu saja itu mendiang istri Kyuhyun yang namanya bahkan belum Yoora ketahui. Perempuan itu cantik dan berwajah lembut. Dan jika melihat ekspresi Kyuhyun yang tersenyum lebar, Yoora tahu pasti bahwa pria itu sangat mencintai mendiang istrinya tersebut. Senyum Yoora kemudian tampak tidak nyaman. Ia jadi memikirkan pernikahannya dan Kyuhyun nanti yang bahkan tidak didasari cinta. Apa Kyuhyun juga akan tersenyum selebar itu pada hari pernikahan mereka? Buru-buru Yoora menggeleng. Bercanda! Serunya pada diri sendiri. Bahkan pertanyaan yang seharusnya ia ucapkan adalah; apakah akan ada sesi foto pada pernikahannya nanti?
Yoora mengedikkan bahu. Biarkan Tuhan yang mengatur semuanya akan berlangsung seperti apa.
“Namanya Lana Nomura.”
Suara berat itu membuat Yoora terkejut dan refleks menoleh ke belakang. Kyuhyun sudah berdiri disana dengan tatapan yang tidak dapat ia jelaskan. Namun sepertinya pria itu tampak sedih karena mendapat dorongan untuk kembali mengenang masa lalunya yang menyakitkan.
“Mwo? Aku tak mendengarmu.” Yoora berdusta, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ah, dimana rumah yang akan kita tempati? Kenapa kita belum kesa…”
“Kau mendengarku.” Potong Kyuhyun.
Yoora menelan ludah, ia menggigit bibir dengan ekspresi keraguan penuh terpampang di wajahnya. “Kau… tidak apa menceritakan ini semua?” tanyanya hati-hati.
“Tidak.” Jawab Kyuhyun yakin. “Apa gunanya aku mengalihkan diri selama ini? Apa gunanya Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu? Jadi aku rasa aku baik-baik saja, Yoora. Yah, walau memang…” Kyuhyun mengusap bagian atas figura foto pernikahannya. “…aku belum sepenuhnya dapat melupakan Lana.”
Yoora memasang tampang datar walau dalam hatinya ia ikut sedih dengan apa yang dialami Kyuhyun, tujuh bulan adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah pernikahan. Ia tahu apa yang Kyuhyun rasakan walau ia sendiri tidak tahu pasti apa dirinya sungguh dapat mengerti perasaan temannya satu ini mengingat ia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Lalu mata Yoora tertuju kembali pada figura coklat yang masih Kyuhyun pegang. Ya, mungkin ia memang harus tahu beberapa hal tentang kehidupan Kyuhyun, bagaimanapun juga mereka akan menikah, bukan sekedar berpacaran seperti anak remaja.
“Namanya cantik.” Ucap Yoora pelan untuk membuka obrolan. “Dia dari Jepang?”
Kyuhyun menganggukkan kepalanya lalu menatap wajah Yoora yang juga tengah menatapnya. “Lana Nomura. Namanya sangat cantik bukan? Dan begitu pula wajahnya yang lembut dan beberapa orang berkata kami sangat mirip.” Sejenak Kyuhyun tertawa. “Seperti yang pernah kukatakan padamu, Lana adalah sekretarisku di kantor dulu. Aku mencintainya semenjak pertama kami bertemu pandang, yah seperti drama percintaan kebanyakan. Dan aku sangat bersyukur ternyata kelembutan wajahnya juga sama dengan kelembutan hatinya, dia sangat baik. Kami pun menjadi sangat dekat lebih dari sekedar hubungan pekerjaan dan akhirnya menikah walau tidak berakhir bahagia.”
Cerita panjang Kyuhyun direspon Yoora dengan wajah sedih dan tangannya yang refleks menyentuh pundak pria itu, untuk menenangkannya.
“Dan disaat dia meninggalkanmu kau sedang mengidam-idamkan hadirnya bayi di kehidupan kalian. Aku mengerti kesedihanmu, Cho Kyuhyun.”
“Ya, dan dalam hal ini aku sangat membutuhkanmu untuk mewujudkan anganku yang satu itu.”
“Apa kau masih mencintai Lana?”
Kyuhyun tercenung, pertanyaan Yoora dirasanya begitu menusuk. Mencintai Lana? Secara logika maupun perasaan, jika seseorang ditinggal dalam jangka waktu hanya lima bulan seperti dirinya tentu saja perasaan cinta itu masih ada. Kyuhyun tidak ingin munafik, namun tidak juga ingin membuat Yoora merasa sakit walau ia tahu perempuan itu tidak mencintainya.
“Aku sedang dalam proses pengalihan diri dari masa lalu. Tapi satu yang pasti, aku tidak akan pernah melupakannya, kecuali jika Tuhan repot-repot ingin membuatku hilang ingatan untuk selamanya.”
Dalam posisi seperti ini, Yoora harusnya merasa miris pada kenyataan dimana Kyuhyun hanya membutuhkannya sebagai objek untuk berhubungan badan lalu melahirkan bayi yang ia inginkan. Namun pikiran Yoora belum sampai sejauh itu. Saat ini dirinya masih memikirkan hal-hal yang akan terjadi dalam waktu dekat, bukan jangka panjang. Ucapan Kyuhyun pun hanya ditanggapinya datar-datar saja.
Tetapi, satu pertanyaan tergores di otaknya.
“Kenapa kau memilihku, Kyuhyun?”
Kyuhyun terdiam. Tangannya terlepas dari meja hingga membuat posisi berdirinya tidak imbang selama beberapa detik. Yoora yang melihatnya mengernyitkan dahi. Respon dari Kyuhyun dinilainya sedikit aneh.
“Kenapa kau menanyakan itu?” tanya Kyuhyun datar.
Yoora tertawa. “Sebagai seorang perempuan yang tidak cantik, tidak berkelas, tidak sopan, dan tidak  hidup di dunia yang sama dengan duniamu haruskah aku diam saja saat seorang Cho Kyuhyun memilihku sebagai istrinya? Ya, aku tahu aku dulu yang menceritakan perihal masalahku padamu, tapi penawaranmu untuk mengajakku menikah tentu saja sangat mengejutkan. Kita hanya teman di sekolah dulu, bukan sepasang kekasih yang kembali bertemu setelah hubungannya berakhir setelah sekian lama, Tuan. Tidak mungkin kau tidak punya pilihan lain. Jika kau mengadakan sayembara aku berani bertaruh ribuan perempuan di Korea akan datang kekantormu dan mengemis untuk menikah denganmu.”
Kyuhyun menatap lama Yoora, lalu mendecih. “Kau terlalu banyak bicara.”
“Ya!” Yoora menggeram. “Oh well, terserah padamu.”
“Simbiosis mutualisme. Apa itu tidak cukup jelas?”
Bola mata Yoora berputar malas. “Hanya itu?”
“Sudahlah, jadi kau kesini ingin membantuku atau mengajakku berdebat?”
“Jika aku bilang aku ingin pulang?” seru Yoora dengan nada menantang.
“Mwo?” Kilat elang di kedua mata Kyuhyun tampak menyeramkan. “Oh baiklah, kau bisa pulang tapi setelah aku memasuki tubuhmu berpuluh-puluh ronde.”
Kyuhyun pergi menuju kamarnya setelah mengucap kalimat yang sukses membuat Yoora bungkam. Seketika tubuh perempuan itu merinding seluruhnya. Dalam hatinya ia mengumpat, kenapa ia bisa berhadapan dengan seorang pria yang sangat mesum seperti Kyuhyun? Yoora meringis ngeri membayangkan pernikahan mereka yang bisa saja hanya akan dipenuhi sex setiap harinya.
‘Oh sial, apa yang kau pikirkan Yoora-ya?’
“Han Yoora~~”
“Arrasseo! Aish cerewet sekali.”
═===═
Desahan nafas keduanya terdengar menderu dan bersahutan. Baru saja mereka menyandarkan punggung pada permukaan tempat tidur setelah hampir dua jam melakukan hal yang melelahkan dan membuat peluh membasahi hampir seluruh tubuh. Yoora pun sibuk mengusap dahinya yang berkeringat semenjak tadi, ia lalu tersenyum dan bangkit dari posisi tidurnya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar setengah jadi yang menurut Kyuhyun akan menjadi kamar mereka nantinya, hanya ada satu buah tempat tidur king size dan dua buah kursi disini. Jika ia berbicara keras suaranya pasti akan menggema. Ya, mereka berada di rumah baru yang sudah Kyuhyun janjikan.
“Masih berantakan disini. Kita harus membersihkan kamar ini juga, Kyuhyun.”
“No.” Kyuhyun menarik lengan Yoora yang baru saja ingin berdiri. “Apa kau tak lelah setelah berjam-jam kita membersihkan ruang tamu huh? Aku lelah, Yoo.”
Yoora menggelengkan kepalanya lalu kembali berbaring disebelah Kyuhyun. “Salahmu sendiri kenapa tidak menyuruh orang untuk mengurus rumah barumu ini? Rumah ini juga terlalu besar, Cho Kyuhyun. Kita hanya akan tinggal berdua.”
“Berdua?” Kyuhyun terkekeh. “Tidak setelah kita akan memproduksi anak yang sangat banyak.”
Yoora menutup dahi. “Kau menikahi manusia, bung. Bukan seekor kucing.”
Sebuah pernyataan yang membuat Kyuhyun tertawa keras, sementara Yoora hanya mendengus menyadari Kyuhyun menertawainya. Saat ia ingin bangkit jelas-jelas ia merasakan kalau pinggangnya tengah direngkuh. Yoora terdiam, tak bergerak sedikitpun. Baru ia sadari suasana saat ini dapat dikatakan intim, dan juga Kyuhyun pasti masih sangat ingat dengan ucapannya sendiri.
“Aku tak akan melupakan apa yang kukatakan kemarin, Yoo.” Gumam Kyuhyun, terdengar bagai paksaan.
“Kenapa kau senang sekali memanggilku ‘Yoo’? Kurasa kau orang pertama yang sering memanggilku seperti itu.”
Kyuhyun mengerutkan dahi. “Mungkin karena terdengar lebih…sexy?”
Tawa Yoora berderai selama beberapa detik, hingga ia sadar rengkuhan tangan Kyuhyun di pinggangnya semakin erat, bahkan pria itu mendekapnya terlalu kuat.
“Kyuhyun, lepas.”
“Kenapa menolakku?”
Dengan lembut Kyuhyun menarik tubuh Yoora hingga kembali berbaring. Dalam gerakan cepat, kini tubuhnya sudah berada diatas Yoora dengan satu tangannya yang menopang tubuh kekarnya. Kyuhyun tersenyum aneh.
Yoora menahan nafas saat Kyuhyun meletakkan satu tangan ke atas payudaranya , lalu meremasnya lembut.
“Kecil sekali.”
“Ya!”
Wajah masam Yoora membuat Kyuhyun tertawa. “Tak apa, aku menyukainya.”
Yoora menatap wajah Kyuhyun, jelas ada nafsu disana. Kali ini perempuan itu tidak menolak saat Kyuhyun menarik kaosnya keatas hingga menampilkan perut dan payudaranya yang masih tertutup bra. Yoora pun sudah merinding semenjak tadi, tidak ada gunanya melawan pria yang sudah jelas akan menjadi suaminya sendiri. Ringisannya terdengar saat Kyuhyun membuka bra-nya, membuat udara dingin menerpa pucuk payudaranya.
Kyuhyun mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada tubuh Yoora, lalu menyapu lembut puting yang setengah menegak itu dengan lidah panjangnya. Bagai seorang ahli, lidahnya bergerak memutar dengan cepat melingkari warna kecoklatan di payudara Yoora. Tubuh Yoora bergetar hebat dibuatnya, sentuhan lidah Kyuhyun disana membuat daerah kewanitaannya berdenyut seakan iri ingin diperlakukan sama.
“Kau mulai menikmatinya.” Bisik Kyuhyun, terdengar sangat sensual. “Kalau begitu aku tak perlu meminta izin untuk melakukan lebih jauh bukan, Nona Han?”
Kyuhyun membuka pakaiannya yang saat ini kebetulan hanya kaos abu-abu berbahan tipis. Tubuh putih pucat yang berlekuk ditempat yang tepat itu membuat Yoora kembali menahan nafas. Lihatlah tubuh itu, warna putihnya menyilaukan. Sangat sempurna dengan kedua puting yang warnanya hampir mendekati merah muda.
“Jadi,” Kyuhyun berdeham, matanya menatap Yoora dengan menggoda. “Yang ini sudah keberapa kalinya untukmu?”
Yoora terdiam sesaat untuk mencerna maksud Kyuhyun, hingga ia mengerti lalu menorehkan sebuah seringai. “Nanti kau akan tahu sendiri.”
“Oh,” Seringai Kyuhyun muncul lagi. “Kau sungguh sudah siap ternyata.”
Setelahnya, Kyuhyun meremas payudara Yoora lagi. Kali ini dengan gerakan yang sangat membuat Yoora tergila-gila. Pria itu memijat payudaranya hingga hanya rasa nikmat yang ia rasakan. Kepala Yoora menengadah, suara desahannya mulai terdengar karena perlakuan ini. Gairahnya yang sudah berkobar semakin tersulut. Cho Kyuhyun memang sangat pandai mempermainkannya. Sialan!
Pandangan Kyuhyun menggelap, ia menikmati wajah Yoora yang seperti itu. Tangannya yang tadi bermain di area dada kini perlahan turun ke titik utama permainan ini. Titik itu sudah basah saat Kyuhyun merogoh isi celana Yoora dan menyentuhnya, membuat seringai Kyuhyun semakin lebar.
“Ahh Kyuhyun!!”
Jeritan Yoora menggema di ruangan itu. Kyuhyun mengusap kewanitaannya dengan jari panjang dan kuku yang cukup tajam. Tapi sepertinya jeritan itu semakin menambah nafsu Kyuhyun untuk melakukan lebih. Usapan jarinya bertambah kuat dan cepat, seolah tak peduli pada perempuan dibawahnya yang meronta karena rasa perih yang ia rasakan.
“Sebentar.” Bisik Kyuhyun parau.
Sementara Yoora mengerang, kewanitaannya berdenyut parah karena Kyuhyun belum juga berhenti. Yoora terkesiap, ia hampir mencapai puncaknya.
“Oh..oh..disitu.” Yoora menggigit bibir saat orgasmenya sudah diujung.
Kyuhyun menyadarinya dan melepas jemarinya dari sana. Kemudian dengan gerakan cepat ia membuka celana Yoora yang masih melekat, lalu melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Yoora sedikit mengangkat kepalanya, dan ia tercekat melihat milik Kyuhyun yang sudah mengeras.
“Bersiaplah, Nona.”
Kyuhyun merangkak kembali keatas tubuh Yoora lalu melesakkan miliknya kedalam organ milik Yoora yang sudah sangat basah. Yoora menggigit bibir sambil terus meronta saat Kyuhyun melakukannya. Kepalanya seperti berputar. Benda itu masuk terlalu sadis dan dalam. Yoora mendesah keras, ini sangat sakit!
“Sial~ kau masih perawan?” seru Kyuhyun sambil menggeretakkan gigi.
Ia meringis saat menunduk untuk melihatnya sendiri. Cairan kental yang mengalir saat ia menusukkan kejantanannya itu memanglah darah.
“Sekarang kau sudah tahu.” Yoora berkata dengan nafas tersengal karena Kyuhyun masih menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang belum berkurang.
“Maaf karena telah…”
“Sial, lanjutkanlah Cho Kyuhyun!” Yoora berseru keras karena orgasmenya sudah benar-benar diujung tanduk. Pinggulnya bergerak putus asa mencoba melawan arah dari gerakan Kyuhyun. Tangannya yang menganggur ia coba berguna dengan mengaitkannya di leher Kyuhyun, menariknya hingga pria itu mendekat, lalu menciumi bibir Kyuhyun secara brutal.
Kyuhyun tersenyum didalam ciumannya. Perempuan yang sedang bernafsu itu ternyata lebih menyeramkan daripada apapun.
Yoora melepas ciumannya, lalu meronta panjang karena ia sudah sampai. Tubuhnya lemas kemudian. Tapi Kyuhyun yang sama sekali belum menyentuh akhir kepuasannya, menarik punggung Yoora untuk duduk. Kini tubuh mereka berhadapan dengan kontak yang masih menyatu.
“Hanya sampai aku keluar.” Bisik Kyuhyun lembut.
Bagai banteng dipecut bokongnya, Yoora menurut saja saat Kyuhyun menarik tubuhnya lebih dekat untuk duduk dipangkuannya.  Tubuh mereka bergerak lagi secara perlahan. Kyuhyun ingin memperlakukan Yoora dengan lembut mengingat tubuh perempuan itu masih lemas setelah pelepasannya yang pertama. Tangan Kyuhyun turun kebawah, meremas bokong Yoora yang cukup berisi, kadang menamparnya pelan sebagai bentuk frustasi akan kenikmatan yang ia rasakan.
Yoora merintih nikmat. Ia rasa ia akan mencapai pelepasannya yang kedua. Tubuh Kyuhyun pun bergetar merasakan sesak yang akan membuncah dari kejantanannya. Sampai akhirnya mereka berpelukan lalu sama-sama mendesah keras saat sudah mencapai klimaksnya.
═===═
“Tidak ada perjanjian tertulis?” seru Yoora terkejut.
Kyuhyun mengangkat alis untuk merespon pertanyaan perempuan itu. Dengan gaya khas bak seorang pangeran, Kyuhyun meletakkan cangkir teh yang tadi ia pegang keatas meja, lalu menatap dalam pada mata Yoora yang duduk didepannya.
“Kita menikah sungguhan, bukan pernikahan kontrak. Kenapa aku harus membuat perjanjian tertulis?”
Yoora mengernyitkan dahi cukup lama. Apa pria didepannya ini bercanda? Bukannya dari awal mereka menikah hanya karena kesepakatan? Lalu apa maksudnya menikah sungguhan? Yoora mendecak. Kyuhyun memang membingungkan.
“Bingung, Nona?” tanya Kyuhyun, meledek. Yoora hanya mengangguk sebagai jawabannya, ia memang sedang bingung.
Kyuhyun terkekeh. Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan mendekati tepi balkon, membelakangi Yoora yang termangu menatapnya dari sini. Sejenak Kyuhyun menarik nafas panjang untuk menghirup udara segar. Senyumnya tertoreh saat melihat kebawah. Pemandangan halaman rumahnya tampak menarik dari atas sini. Saat ini dirinya dan Yoora berada di balkon lantai dua rumah yang sudah resmi menjadi milik mereka berdua.
Rumah yang sangat luas ini sudah layak dihuni karena semua isinya sudah rapih, tertata seperti seharusnya. Butuh waktu tiga hari bagi Kyuhyun untuk menata semuanya, itupun bukan dia yang melakukannya, tentu saja. Ada sekitar dua puluh orang suruhannya yang datang dan membereskan semuanya. Sempat membuat Yoora menggeleng karena suasana ramai dan heboh yang terjadi.
“Cho Kyuhyun?”
Kyuhyun tersenyum ketika Yoora menyerukan namanya cukup lembut.
“Han Yoora, sepertinya kau memang belum mengenalku lebih dalam eo?”
“Well, itu memang kenyataannya. Kita baru bertemu bukan? Bagaimana mungkin aku dapat mengenal seseorang dalam jangka waktu singkat.”
Kekehan Kyuhyun terdengar bersahutan dengan deru angin. “Asal kau tahu, aku bukanlah pria yang sembarang dalam memilih wanita yang akan kujadikan pasangan hidup. Aku memilih Lana karena dia perempuan yang sangat baik, mengerti diriku luar dalam, juga karena aku memang sangat tertarik padanya hingga kami memutuskan menikah.”
Lagi-lagi, Yoora mengernyitkan dahi. Semua yang Kyuhyun sebutkan sama sekali tidak ada dalam dirinya. Yoora sadar, ia adalah wanita yang sembarangan karena hidupnya terlampau bebas, ia tidak baik, apalagi mengerti Kyuhyun luar dan dalam. Ucapan Kyuhyun sungguh tidak ia mengerti.
“Jangan berpikiran buruk tentang dirimu.” Ucap Kyuhyun lagi. Dengan santai ia mengucapkannya seolah ia tahu apa yang baru saja Yoora pikirkan. “Kau perempuan yang apa adanya, tidak menutup diri, santai, dan yah~ memang jika kutelisik tidak ada satupun dari dirimu yang mirip dengan Lana.”
Yoora mendecak. Ia tidak suka dibanding-bandingkan. Baru saja ia ingin berseru untuk menghardik Kyuhyun, tapi Kyuhyun yang lebih dulu bersuara membuat suaranya hanya sampai di tenggorokan.
“Tapi, ada satu hal yang sama.”
“Mwohae?” sahut Yoora ketus.
Kyuhyun kembali terkekeh. “Aku tertarik pada Lana sejak pertama melihatnya, dan… begitu pula denganmu.”
Itu sukses membuat Yoora terperangah. Ia mengerjapkan mata seraya mencerna maksud ucapan Kyuhyun. Dan, bibirnya terkatup dengan cepat. Sialan. Apa pria didepannya ini sedang membual?
“Kau bercanda.” Ucap Yoora datar.
“Tidak, Han Yoora. Itulah kenyataannya. Ini takdir kita, Yoora. Takdir kita.”
==TBC==

Fc Populer:

  • im new reader thor~ srlsy im sp excited with this ff. omg keep writing thor

%d blogger menyukai ini: