Destiny Part 1

2
destiny kyuhyun
Author : queencyblooms
Title : DESTINY
Category : NC-21, Yadong, Romance (maybe) , Chapter
Cast : Cho Kyuhyun / Han Yoora
Hai readers flying nc! Saya kembali dengan membawa ff baru ^_^ Mungkin ide ceritanya mainstream alias umum, tapi saya usahakan jalan cerita berbeda dari ff lain. Ini ide langsung dari diri saya sendiri ya, tidak pernah ada unsur plagiat atau semacamnya. ^_^V

Happy Reading 😀
=====
Prolog:
“Jadi bagaimana? Kita saling menguntungkan bukan? Aku butuh anak, dan kau butuh suami.”
Perempuan itu mengerutkan dahi, memikirkan ucapan dari pria didepannya. Senyum dari pria itu pun tampak meyakinkan sekaligus mengerikan untuknya. Tawaran yang baru saja diajukan dari pria itu membuat dua jalan bercabang di pikirannya sebagai jawaban. Antara; iya, atau tidak.
“Kau yang bercerita lebih dahulu padaku, Nona. Aku hanya memberimu solusi. Kau tak perlu memandangku seperti itu. Menyeramkan sekali.”
Tawa pria itu terdengar kemudian. Kembali membuat perempuan didepannya mengernyitkan mata lalu mendecak pelan. Menikah dengan pria yang sudah lama menjadi temannya ini? Tidak ada di pikiran Yoora sama sekali. Perempuan yang berusia 24 tahun ini berniat menikah pun karena terpaksa. Dirinya masih ingin bersenang-senang dalam dunianya sendiri, tidak ingin terkekang oleh ikatan yang disebut pernikahan. Tapi kedua orangtuanya yang memaksa dirinya untuk menikah sesegera mungkin, karena jika tidak Yoora akan dikirim ke Jepang, pada halmeoninya dan menetap disana untuk selamanya. Yoora tentu saja tidak ingin. Tinggal bersama halmeoni berarti kehidupannya akan terenggut karena ia sangat hafal bagaimana sifat halmeoninya yang sangat kejam dan otoriter. Itu artinya ia tidak punya pilihan lain selain mencari pria untuk menikahinya.
Dan kini pria itu sedang berada didepan matanya, menerima cerita yang beberapa menit lalu selesai Yoora lontarkan dengan tawaran pernikahan. Harusnya Yoora bersyukur, tapi entahlah, baginya ini hanya sedikit aneh.
“Aku benar-benar butuh anak, Yoora.” Suara dan tatapan pria itu berubah menjadi lebih sendu. Seperti ada kesedihan dan kerinduan yang mendalam di nada bicaranya. Melihat itu Yoora tertawa pelan, berusaha mencairkan suasana.
“Memangnya pernikahanmu dulu tidak membuahkan hasil?”
Pertanyaan Yoora dijawabnya dengan gelengan. “Istriku meninggal saat sedang mengandung anak kami yang pertama. Aku sangat menyesal kenapa saat itu menurutinya untuk pergi naik kereta dalam kondisinya yang seperti itu. Aku sungguh…”
“Dasar bodoh. Itu salahmu sendiri.”
“Kau ini benar-benar. Jika kau bukan temanku, sudah kujahit mulut racunmu itu.”
Lagi-lagi, tawa terdengar di ruangan itu yang berasal dari bibir Yoora. Lalu hening beberapa saat kemudian. Kedua manusia yang berada disana terpekur dalam pikiran mereka masing-masing. Yoora kembali memikirkan tawaran temannya tersebut. Haruskah menikah dengannya? Apalagi pria itu sedang sangat membutuhkan dirinya untuk seorang anak yang sudah lama diidam-idamkan.
Dehaman Yoora memecah keheningan, lalu dengan suara pelan ia berkata, “Baiklah, Cho Kyuhyun. Nanti aku pikirkan lagi.”
═===═
Cho Kyuhyun; seorang CEO di salah satu perusahaan media dan periklanan digital nomor lima terbesar di Korea. Sebagai seorang pria berusia 27 tahun seperti dirinya, menjadi seorang CEO apalagi berwajah tampan, tentunya hidup seperti itu membuat banyak orang yang iri padanya. Belum lagi deretan gadis muda ataupun wanita berusia lebih tua yang sangat yang menyukai dirinya. Apalagi kini status Kyuhyun yang resmi menjadi seorang duda, setelah mendiang sang istri meninggal dunia pada kecelakaan kereta lima bulan lalu.
Han Yoora; seorang gadis yang hidup dengan gaya yang terlampau bebas. Hampir setiap malamnya gadis itu menyambangi klub hanya untuk meminum alkohol hingga mabuk. Han Yoora juga merupakan gadis dari orangtua yang terpandang. Ayahnya, Han Yoojin adalah pebisnis sukses yang sudah memiliki nama seantero Seoul. Dan itulah sebabnya mengapa keluarga besar Han selalu mendesak kedua orangtua Yoora untuk menikahkannya dengan pria pilihan mereka, namun tentu saja Yoora menolak mentah-mentah, hingga ada sedikit keringanan; Yoora boleh menikah dengan pria manapun yang menjadi pilihannya. Harapan kedua orangtua Yoora adalah, setidaknya dengan menikah anak mereka satu-satunya itu dapat mengubah sikap dan tidak lagi membuat seluruh keluarga malu karena tingkahnya yang kadang bisa sungguh keterlaluan.
═===═
Pukul 11 malam waktu setempat, jam dimana Yoora masih menganggapnya jam yang wajar bagi seorang perempuan untuk keluar. Awalnya tadi ia keluar dari apartemennya karena lapar, tapi tiba-tiba hasratnya untuk minum mengalahkan segalanya. Yoora yang baru saja keluar dari minimarket kini berbelok menuju klub yang menjadi langganannya selama ini.
Klub 88.
Tanpa canggung Yoora masuk kesana, mendekati meja bartender yang sudah hafal akan pesanannya. Setelah minumannya tersaji didepan mata, Yoora mengambil gelas minuman itu dan berjalan menuju sofa empuk di sudut ruangan yang menjadi spot favoritnya. Mengabaikan suasana hingar bingar dan tatapan lapar dari pria-pria yang tertarik padanya. Pikirannya sedikit kacau beberapa hari ini karena tawaran Kyuhyun tempo hari. Apa ia memang harus menikah dengan Kyuhyun yang adalah temannya di sekolah dulu itu? Memang, dirinya dan Kyuhyun tidak terlalu akrab seperti sahabat yang selalu berdua saja kemanapun. Yoora pun tidak tahu bahwa Kyuhyun sudah menikah setahun lalu karena mereka sempat lost contact. Tapi keduanya mengenal cukup baik. Dan Yoora merasa, sepertinya takdir kini tengah mempermainkan dirinya hingga dapat bertemu Kyuhyun dalam kondisi mereka yang saling membutuhkan satu sama lain.
“Sial.” Yoora mendesis setelah meneguk vodkanya. “Appa memang benar-benar kejam.”
“Appamu tidak kejam. Kaunya saja yang keras kepala.”
Suara berat itu memaksa Yoora untuk menoleh. Desisan serta umpatannya kemudian terdengar lagi tatkala ia melihat wajah pria yang baru saja mampir di pikirannya. Cho Kyuhyun.
“Tahu darimana kau aku disini?”
“Aku membuntutimu, bodoh.” Kyuhyun berjalan penuh wibawa mendekati sofa yang Yoora duduki, ia pun memposisikan diri untuk duduk didepan Yoora, menyilangkan kakinya kemudian.
Yoora yang melihat itu tertawa mengejek. Pakaian dan penampilan Kyuhyun sungguh membuatnya ingin tertawa sampai mati. Bisa-bisanya di tengah malam seperti ini Kyuhyun masih berpenampilan rapi layaknya penampilan biasa pria itu di pagi hari. Entah karena ia menyukai jas dan pakaian berbahan kain yang licin itu atau karena Kyuhyun tidak punya pakaian lain.
“Tidak sopan, bung.” Yoora kembali menyesap minumannya.
Kyuhyun yang melihat itu menggelengkan kepala. “Pulanglah, akan kuantar. Perempuan sepertimu tidak pantas keluar malam-malam begini, Han Yoora.”
“Sepertiku?” Dahi Yoora berkerut. “Maksudmu?”
“Kau adalah calon istriku.” Kyuhyun mengarahkan telunjuknya tepat ke hidung Yoora. “Kau adalah ibu dari calon anak-anakku, ingat? Jadi, ‘sepertimu’ yang kumaksud adalah, kau adalah calon istri dari seorang CEO terpandang di Korea. Paham?”
Tawa Yoora meledak dengan keras. Sungguh, ucapan Kyuhyun terdengar sangat konyol. Yoora yakin yang ia dengar tidak salah karena ia sedikitpun tidak merasa pusing apalagi mabuk. Sementara Kyuhyun hanya menggeleng dengan wajah datar bagaikan sedang menonton berita di televisi.
“Kau sangat lucu, bung. Sialan.” Yoora kembali tertawa.
“Ei, sudahlah. Ayo pulang.” Kyuhyun bangkit, sedikit membetulkan jas abu-abu yang melekat sempurna di tubuhnya, lalu menarik lengan Yoora untuk bangkit.
Mulanya Yoora menolak, tapi Kyuhyun yang tetap menggencarkan aksi menarik lengannya membuat Yoora mau tidak mau menurut. Daripada lengannya putus hari ini juga, bukan?
Kini keduanya sudah tiba didalam mobil Kyuhyun. Mobil jenis Porsche 911 berwarna silver, mobil yang Yoora yakin bukanlah satu-satunya mobil milik Kyuhyun. Pria dengan rambut hitam ini pasti memiliki beberapa mobil mahal lain yang terparkir manis di garasinya. Yah, setidaknya itu menurut Yoora sendiri.
Yoora bersandar sambil memegangi kepalanya yang sedikit terasa pusing, sepertinya efek alkohol yang ia teguk tadi sudah mulai bekerja.
“Kau tidak apa-apa, Yoora-ya? Sepertinya kau mulai mabuk.”
Yoora memejam. Benarkah suara itu terdengar seperti tengah khawatir? Yoora menggeleng, mungkin hanya perasaannya saja.
“Tidak.”
“Dasar keras kepala. Kau mabuk, dan mulutmu juga bau. Oh ya Tuhan, kau harus tahu baru kali ini aku membawa seorang gadis yang mabuk kedalam mobilku.”
Yoora mendecih. “Oh begitu?” Tangannya menggapai-gapai pegangan di pintu, mencoba membukanya. “Aku bisa pulang sendiri.”
“Hey, Han Yoora, tetap disini.” Kyuhyun menyentuh satu tangan Yoora yang bebas, menahannya hingga perempuan itu kembali menghadapnya kini. Suaranya pun terdengar dingin dan memaksa. “Aku sudah bilang akan mengantarmu.”
“Tapi dari kalimatmu sebelumnya kau seperti…”
Cup.
Yoora terdiam. Apa yang baru saja terjadi adalah sungguhan? Apa kulit tubuhnya memang sungguh merasakan bibir basah Kyuhyun baru saja mendarat di ujung hidungnya? Yoora mengedipkan mata berkali-kali. Sial. Mungkin dia sudah benar-benar mabuk.
“Tetap disini, okay?”
Kembali mengerjapkan mata, baru Yoora sadari wajah Kyuhyun kini memang berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
“Kau menciumku?”
Kyuhyun tersenyum mendengar itu. “Pejamkan matamu.”
“A-apa?”
“Lakukan saja.”
Yoora mengangguk ragu, namun akhirnya menurut. Ia memejamkan mata sesuai permintaan pria didepannya. Sedangkan Kyuhyun, pria itu kembali tersenyum sambil mengusap pipi Yoora dengan ibu jari tangan kanannya. Hingga semuanya terjadi begitu saja bagai air mengalir, Kyuhyun semakin menipiskan jarak diantara mereka, lalu mendaratkan bibirnya diatas bibir Yoora. Melumatnya lembut.
Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Yoora melotot. Dengan sigap ia mendorong tubuh Kyuhyun hingga pria itu terpental dengan punggung yang menabrak pintu mobil.
“Cho Kyuhyun!”
Kyuhyun tertawa pelan. “Aku baru ingat tadi aku makan eskrim, mungkin dengan menciummu seperti tadi bau alkohol dimulutmu itu akan hilang. Ingin mencobanya lagi?”
“What???”
Kekehan Kyuhyun masih terdengar, ia sepertinya tidak peduli pada wajah kesal dan dengusan perempuan disampingnya. Kini Kyuhyun sedang sibuk sendiri pada gerakannya memasang seatbelt.
“Pasang sabuk pengamanmu, kita pulang sekarang.”
Yoora mendecak, tanpa mengucap apapun ia memasang sabuk pengaman dengan kencang, kemudian ia memilih mengalihkan pandangan keluar jendela. Suasana tiba-tiba saja menjadi awkward karena ciuman tadi.
═===═
“Aku akan menjemputmu besok.”
Langkah Yoora yang baru saja ingin masuk ke gedung apartemennya terhenti mendengar kalimat itu. Otomatis tubuhnya berbalik, kembali menghadap Kyuhyun yang duduk didalam mobilnya.
“Eodiga?”
“Rumah sakit.”
Alis Yoora menyatu. “Kau sakit?”
Kyuhyun tertawa, lalu menggeleng. “Kita pergi kesana untuk memeriksa kesehatanmu, apa kau bisa mengandung anak atau tidak. Paham maksudku?”
“Sial.” Yoora mendesis keras. “Kau meragukan kesuburanku, eo?”
Kekehan Kyuhyun berganti menjadi tawa yang keras. Namun dengan cepat ia membungkam mulutnya sendiri saat sadar sudah pukul berapa dan dimana dirinya berada sekarang. Tidak lucu jika nanti penghuni apartemen akan terbangun dan keluar hanya karena tawanya yang terdengar tidak berperikemanusiaan.
“Hanya ingin memastikan, Nona. Aku harap kau tidak tersinggung.”
“Ya ya terserahlah. Aku ingin tidur. Bye Cho Kyuhyun.” Yoora kembali berbalik, dan berjalan masuk.
“Jam 10 pagi. Arrasseo?” seru Kyuhyun setengah berteriak.
Yoora mendengarnya, kemudian ia meresponnya hanya dengan mengangkat telunjuk dan ibu jari yang ia satukan membentuk huruf ‘O’ ke udara. Kyuhyun tersenyum melihat itu. Dan setelah bayangan tubuh Yoora tak terlihat lagi, barulah ia pergi dari sana.
═===═
Sepasang mata itu tampak tidak hidup, mungkin karena pengaruh alkohol yang entah sudah berapa banyak masuk ke tubuhnya selama beberapa tahun ini, ah atau karena tatapannya memang seperti itu jika ia tidak tertarik pada sesuatu. Karena yang sedang ia rasakan kini adalah satu kata; muak.
Sekarang dirinya sedang berada didepan rumahnya sendiri setelah beberapa saat lalu keluar dari mobil. Entahlah, rumah sendiri seharusnya selalu dianggap nyaman oleh penghuninya, tapi bagi Yoora rumah didepannya ini tak lebih seperti penjara, bahkan kadang ia menganggapnya bak neraka paling dasar. Ia lebih suka dan merasa lebih hidup jika tinggal di apartemen kecil dan tidak mewahnya yang sudah dua tahun ini ia tinggali.
Tatapan mata tak bersemangat yang tadinya memandang lurus ke pintu itu kini beralih pada sesosok tubuh yang baru saja keluar dari sana. Tubuh tinggi dan dapat dikatakan tambun yang berjalan menuruni puluhan anak tangga itu membuat Yoora menegakkan tubuhnya yang semula membungkuk seperti zombie.
“Ada apa Yoora-ya? Sudah menemukan calon suami?”
Yoora mendengus keras mendengar ucapan itu dari Yoojin –Appanya. Tapi karena ia sedang malas berdebat, ia hanya menoleh kebelakang, pada pria yang sepertinya baru saja selesai dengan telepon penting. Pria yang berdiri membelakanginya itu Cho Kyuhyun. Mereka berdua baru saja pulang dari rumah sakit dan segera menuju ke rumah keluarga Han karena Kyuhyun yang meminta. Mengenai pemeriksaan kesehatan tubuh Yoora, tentu saja semuanya baik-baik saja. Hal itulah yang Yoora dengar tadi sedang Kyuhyun bicarakan di telepon. Yoora mendengar dengan jelas Kyuhyun mengucap namanya dan ada kalimat yang Kyuhyun ucap bahwa pria itu ingin segera menikah. Dan anehnya Yoora menanggapi itu datar-datar saja. Ini sudah takdir hidupnya, mau bagaimana lagi?
“Cho Kyuhyun, sudah selesai dengan urusanmu?”
Kyuhyun berbalik mendengar seruan Yoora. Saat melihat tubuh Yoojin berdiri tak jauh darinya, dengan cepat Kyuhyun berjalan melewati bagian depan mobil, lalu berdiri disisi kiri tubuh Yoora.
“Annyeonghaseyo, Cho Kyuhyun imnida.” Dengan hormat Kyuhyun membungkukkan tubuhnya pada Yoojin.
Sementara Han Yoojin tampak terkejut. Tentu saja ia mengenal pria muda didepannya ini. Cho Kyuhyun, yang berstatus sebagai CEO muda yang banyak digandrungi dan dibicarakan. Yoojin ingat pernah beberapa kali bertemu Kyuhyun dalam suatu kesempatan. Yoojin hanya tidak menyangka pria itu akan datang kerumahnya bersama Yoora. Belum lagi, Yoora bertingkah dan memanggilnya secara informal.
“Kau sungguh Cho Kyuhyun?” tanya Yoojin sekali lagi untuk memastikan.
“Iya, Abeonim.” Kyuhyun menjawab, lalu tersenyum penuh wibawa.
“Abeonim? Cih.”
Suara Yoora yang terdengar menganggu itu membuat Yoojin mendecak. Dengan cukup tegas ia meminta Yoora untuk menjaga sikap, yang kemudian hanya ditanggapi oleh Yoora hanya dengan anggukan malas.
Setelahnya, Yoojin mengajak dua orang itu untuk masuk kerumahnya. Sejenak Yoora berdeham melihat suasana rumahnya yang tidak banyak berubah. Normalnya sebagai seorang anak Yoora harusnya merasa rindu dan bahagia dapat masuk kembali ke rumah ini. Namun karena perbedaan prinsip antar dirinya dan keluarga besar, Yoora membangun benteng didalam dirinya yang membuat ia sama sekali tidak merindukan suasana rumah.
“Dia temanku, Appa.” Ucap Yoora setelah mereka bertiga duduk di sofa besar ruang tengah. Kyuhyun dan Yoora duduk berdampingan sementara Yoojin duduk didepan mereka.
“Oh maaf Abeonim, sepertinya Han Yoora keliru. Saya calon suaminya.” Kyuhyun mengoreksi, membuat Yoora memutar bola mata.
“Calon suami?” Keterkejutan Yoojin bertambah berlipat-lipat.
Kyuhyun mengangguk sopan. “Ne, Abeonim.”
“Kalian tidak sedang bercanda, bukan?”
“Tidak, Abeonim. Saya dan Yoora memang sudah mengikat janji untuk melangsungkan pernikahan. Maka dari itu kedatangan saya kesini adalah untuk bertemu langsung dengan anda sebagai permohonan restu.”
Dahi Yoojin berlipat. Ini hanya membingungkan untuknya. Bukan meremehkan Yoora sebagai anaknya sendiri, hanya saja bukankah ini aneh? Seorang Cho Kyuhyun yang cerdas dan sukses ingin menikah dengan seorang Han Yoora yang hidupnya terlalu bebas? Tentu saja siapapun yang mengenal Kyuhyun akan merasa hal ini sangat rancu. Apalagi bagi Han Yoojin yang sangat mengenal Han Yoora sebagai anak kandungnya dan juga mengenal Kyuhyun walau hanya melalui informasi yang ia dapat dari beberapa majalah bisnis.
“Bagaimana kalian bisa saling mengenal?”
Kyuhyun berdeham. “Sebenarnya saya dan putri anda adalah teman lama yang ditakdirkan bertemu kembali, Tuan Han. Dulu kami satu sekolah di junior high dan senior high, tapi setelah lulus kami kehilangan kontak. Lalu kami kembali bertemu kurang lebih satu bulan lalu, saat saya melihat Yoora…” Kyuhyun melirik Yoora yang duduk bersandar dengan tangan bersilang dibawah dada. Tatapan mereka bertemu kemudian.
Yoora menyeringai. “Katakan saja, bung. Aku tidak keberatan.”
“Baiklah.” Kyuhyun berdeham lagi, kembali menatap lurus pada Yoojin yang menatap mereka berdua bingung. “Saya bertemu dengan Yoora saat ia mabuk didalam klub, Abeonim.”
“Oh,” Yoojin hanya mengangguk, tampak sangat malu dan Yoora menyadarinya. Toh Yoora tidak peduli, ia hanya tertawa tanpa suara melihat wajah Yoojin yang memerah.
“Dia pria baik, Appa. See? Dia menerima keadaanku yang suka mabuk-mabukan, tak seperti keluargaku sendiri.”
“Han Yoora, apa maksudmu?!”
Suara Yoojin meninggi, seketika membuat atmosfir ketegangan meningkat dan memenuhi ruangan ini. Sementara Kyuhyun mengusap pundak Yoora sambil menyuruhnya untuk tenang.
“Maafkan anakku, Cho Kyuhyun.”
Kyuhyun tersenyum. “Tidak apa-apa, Abeonim. Dan mengenai tanggal pernikahan, nanti akan saya rundingkan dengan Yoora terlebih dahulu, kemudian pada keluarga besar Abeonim tentu saja. Saya ingin semuanya terlibat dalam pernikahan ini, dan juga saya ingin semuanya dilaksanakan sesegera mungkin.”
Wajah tegang Yoojin memudar, berganti menjadi raut penuh minat.
“Apa kau benar-benar ingin menikahi anakku? Kau serius, Cho Kyuhyun?”
“Iya, Abeonim.” Jawab Kyuhyun mantap.
Yoora mulai bersuara, “Kurasa lebih baik kita merundingkan ini berdua saja, Kyuhyun. Aku tidak suka pernikahanku terlalu diatur keluarga.”
Yoojin menatap Yoora tajam. “Han Yoora, jaga bicaramu.”
“Come on, Appa~ Aku yang menikah, aku juga yang akan menjalani semuanya nanti. Yang pasti aku tidak ingin pernikahanku nanti terlalu heboh. Toh Appa dan Eomma sendiri yang bilang aku boleh memilih siapa calon suamiku dan bagaimana pernikahanku, bukan?” Yoora mengibas tangan tak acuh.
Yoojin mengurut dahi, sungguh kehabisan cara untuk menghilangkan sifat keras kepala anaknya yang seolah permanen dan akan terpatri seumur hidup di kepalanya. Sementara Kyuhyun bersusah payah menahan senyumnya. Perdebatan dua orang dihadapannya sungguh membuatnya ingin tertawa keras.
═===═
“Menyebalkan sekali.”
“Sudahlah.” Kyuhyun tertawa hingga memamerkan giginya.
Yoora yang melihat itu mendengus semakin parah. Sudah cukup ia dibuat kesal setengah mati oleh Appanya, kini Kyuhyun justru tertawa setelah mendengar celotehannya yang baru berakhir beberapa saat lalu.
Mendecak kesal, Yoora lalu turun dari mobil saat ia sadari benda roda empat itu sudah berhenti didepan gedung apartemennya.
“Hey tunggu.” Buru-buru Kyuhyun ikut turun dan mengejar Yoora yang berjalan semakin jauh. “Mianhae, aku tak bermaksud menertawakanmu.” Ucapnya pelan.
Mendengar nada penyesalan di ucapan Kyuhyun, Yoora menghentikan langkah. Senyumnya terbit untuk beberapa detik. Dengan ragu ia memutar kepalanya pada Kyuhyun yang masih berada dibelakang tubuhnya, lalu perempuan itu mengedikkan dagu keatas.
“Ingin mampir?”
Senyum Kyuhyun mengembang. “Ide bagus.”
═===═
“Apa yang membuatmu memilih tinggal disini?” Kyuhyun berkomentar satu menit setelah ia benar-benar masuk ke dalam apartemen Yoora. Dan menurut Yoora sebagai pemiliknya, ucapan Kyuhyun sungguh tidak sopan. Yah, Yoora tahu apartemen ini tidak mewah, tak seperti gedung apartemen yang keren dan mewah diluar sana, atau tak seperti rumahnya sendiri. Tetapi bagaimanapun juga ia merasa nyaman tinggal disini, dan tidak ada satupun yang boleh melarang atau mengomentarinya, termasuk Kyuhyun yang sudah resmi menjadi calon suaminya kini.
“Aku ingin.” jawab Yoora sekenanya.
Dan Kyuhyun tertawa. Hanya tertawa tanpa berkomentar apapun. Ia tahu dari nada bicara Yoora sepertinya perempuan itu sedang kesal.
“Tidak sebagus rumahmu? Maaf, jika kau tak suka kau boleh pergi sekarang.”
“Well, itu tidak sopan.”
“Sama saja denganmu, bung.”
Kyuhyun tertawa keras, hanya beberapa detik. “By the way, aku tidak tinggal di rumah. Aku tinggal di apartemen, yah hadiah dari seseorang.”
Yoora yang baru saja masuk ke areal dapur tampak tertarik mendengar itu. “Kau dan mendiang istrimu tinggal di apartemen hadiah dari seseorang itu? Wow, aku kira Cho Kyuhyun adalah seorang yang royal.”
“Ck!” Kyuhyun menggeleng. “Aku dan istriku tentu saja tinggal di rumah. Hanya saja…”
Ucapan Kyuhyun menggantung, membuat Yoora menaikkan satu alisnya.
“Hanya saja…?”
“Setelah dia meninggal, aku menjualnya dan memilih tinggal di apartemen.” Kyuhyun tampak murung, dan Yooora menjadi sedikit iba padanya. Hanya sedikit.
“I’m sorry.”
“Tidak apa.” Kyuhyun mengedikkan bahu, ia membuka jasnya lalu mulai menyibukkan diri pada kemejanya sendiri, menggulungnya hingga ke siku.
“By the way, sudah kubilang padamu jika aku subur, bukan? Harusnya kita tak perlu melakukan pemeriksaan konyol itu. Kau tahu, aku malu sekali.”
Gerakan Kyuhyun yang tengah menggulung kemeja bagian lengannya terhenti, ia menolehkan kepala pada Yoora yang sudah berada didapur. Perempuan itu tengah membuka lemari es, satu tangannya tampak masuk kedalam sana, lalu keluar lagi dengan satu buah apel hijau.
“Bila kuhitung dengan saat tadi kita pulang dari rumah sakit dan saat kita pulang dari rumah Appamu, ini adalah kali ketiga kau mengucapkannya.”
Yoora tersenyum miring, ia menggigit apelnya kemudian. “Hanya untuk meyakinkanmu, kalau aku perempuan normal dan subur, okay?”
“Oh, sepertinya ada yang tersinggung dengan ucapanku semalam.”
“Not me.” Seru Yoora seraya mengangkat kedua tangannya.
Kyuhyun hanya menyeringai, kemudian dengan langkah santainya ia berjalan mendekati Yoora yang sedang bersandar di meja makan sambil sibuk mengunyah apel.
“Haruskah kita memastikan kesuburanmu itu sekarang?”
Ucapan itu sukses membuat Yoora tersedak. Susah payah ia menelan apel yang tersangkut di tenggorokannya. Matanya menatap nyalang pada Kyuhyun yang boleh dibilang sedang berdiri sangat-dekat-dengannya.
“Duda satu ini sedang rindu belaian rupanya.” Cibir Yoora tanpa merasa takut sama sekali, walau ia sadar seperti apa tatapan Kyuhyun saat ini padanya. Tajam dan mengerikan.
“Kau memahamiku dengan baik.” Kyuhyun maju dua langkah, otomatis membuat Yoora memundurkan tubuh hingga pantatnya terasa sedikit nyeri karena menabrak sudut meja.
“Hentikan, Cho Kyuhyun.”
“Kau takut?”
“Tidak.” Yoora membantah keras. “Ah, sial sekali aku mengundangmu ke apartemenku.”
Kyuhyun tersenyum miring. “Ya, tanpa kau sadari kau sedang memberi umpan pada macan lapar.”
“Semua lelaki sama saja.” Yoora mendecak. “Kita sebentar lagi akan menikah, tuan kepala besar. Setelah itu kau bisa bebas melakukannya kapan saja kau ingin. Arasseo?”
“Yea~” Kyuhyun sedikit memiringkan lehernya. “Lalu apa bedanya jika kita melakukan itu sekarang?”
Seperti putus asa membantah ucapan pria didepannya, Yoora memilih bungkam, benar-benar bungkam. Cho Kyuhyun memang duda sialan! Yoora sendiri tak menampik, temannya satu ini memang menawan karena ketampanannya yang keterlaluan. Tapi jika boleh jujur, saat ini Yoora tidak merasakan apapun pada Kyuhyun, bahkan setelah ciuman singkat mereka di mobil kemarin. Yoora menganggap hal itu biasa, karena dalam pikirannya Kyuhyun memang tipe pria yang sedikit-kurang-ajar pada perempuan. Dan kini Kyuhyun sudah membuktikannya sendiri dengan sikapnya yang seperti ini.
Yoora berteriak dalam hati, kenapa ia setuju saja saat pria ini menawarkannya pernikahan? Seorang duda ‘kelaparan’ memang bukan pilihan yang baik.
“Ah!” Yoora memekik tertahan. Kyuhyun baru saja merengkuh pinggangnya dengan satu tangan. Bagian bawah tubuh mereka kini menyatu. Mata Yoora membesar, ia merasakan sesuatu yang menusuk daerah selangkangannya.
“Bisakah kau rasakan itu? I’m so hard right now.”
Mengatur nafasnya sesantai mungkin, Yoora kemudian tertawa mengejek. “Aku tidak telanjang didepanmu, Kyuhyun. Apa-apaan.”
“Ya aku tahu, tapi sepertinya milikku didalam sana dapat mendeteksi tubuh mana yang akan cocok untuk ia masuki nanti.”
Dahi Yoora berlipat sesaat. “Mendeteksi? That’s weird.”
Kyuhyun memajukan wajahnya. “I’m serious.”
Mata Yoora kini membulat sempurna. Deru nafas Kyuhyun yang menggebu membuat tubuhnya terasa tiba-tiba panas seluruhnya. Yoora mengutuk diri sendiri yang tak dapat menolak. Jika ia menolak dan membuat Kyuhyun tersinggung, maka sudah dapat dipastikan pernikahan mereka akan batal, dan itu artinya akan sesegera mungkin ia dikirim ke Jepang. Tapi demi Tuhan, ia bukanlah perempuan yang tergila-gila pada sex. Selama ini ia pergi ke klub pun hanya untuk minum, kemudian pulang kembali ke apartemennya dalam kondisi setengah sadar. Tak pernah sekalipun Yoora menanggapi pria disana yang bermaksud mendekati atau menggodanya.
“Yoora-ya~”
Seperti tercekat batu kerikil, susah payah Yoora menelan ludahnya. Saat ini Kyuhyun sedang mengecup telinganya, pinggul pria itu pun naik turun menggesek selangkangan mereka yang masih berdempet.
Bola mata Yoora bergerak cepat, memikirkan cara untuk menolak ini tanpa membuat Kyuhyun marah atau tersinggung. Karena Yoora sadar ia belum mengenal bagaimana kepribadian Kyuhyun yang sebenarnya. Mereka baru bertemu sebulan lalu, keadaan yang mendesaklah yang membuat keduanya menjadi dekat seperti sekarang.
“Cho Kyuhyun, dengar aku.”
“Waeyo?”
Yoora menahan nafas. Bahkan suara itu terdengar sangat berat.
“Sebenarnya tanggal berapa kita akan menikah?”
Kyuhyun terdiam. Perlahan ia menjauhkan kepalanya dari leher Yoora, lalu menatap intens pada mata perempuan itu.
“Secepatnya. Bukankah sudah kukatakan?”
“Ya, maksudku pastinya tanggal berapa eo? A-aku rasa aku ingin kita menikah secara sederhana saja, ah i mean, hanya kau aku dan pendeta.”
Kyuhyun tertawa sebentar. “Diterima.”
“Semudah itu?” Yoora berseru kaget.
“Iya, aku harus menuruti keinginan calon istriku, bukan? Dan kurasa kau juga harus menuruti keinginan calon suamimu ini, Han Yoora.”
Seringai itu muncul lagi. Yoora mengumpat karena caranya untuk mereda nafsu membara Kyuhyun justru berbanding sebaliknya. Kyuhyun kini semakin berani menggesekkan hidung dan bibirnya diatas kulit leher Yoora, membuat pemiliknya menggigit bibir untuk menahan desahannya agar tak keluar.
“Please, Yoo. Please.”
“Ohh Tuhan, aah!” Pekikan Yoora terdengar jelas karena Kyuhyun merogoh kausnya lalu mengusap perut yang merupakan titik sensitif bagi Yoora.
Yoora menggelinjang tak nyaman. “Kyuhyun, please…”
Kyuhyun tidak tahan lagi. Selama lima bulan hidup sendiri dengan status duda, baru kali ini ia kembali dekat dengan seorang perempuan. Dan sepertinya itu sudah membangkitkan hasrat terdalam Kyuhyun sebagai seorang pria yang membutuhkan kepuasan batin. Hingga kini dengan nekat ia menjelajah wajah Yoora dengan bibir dan lidahnya yang panas, menciumi setiap inci kulit Yoora yang mulus bak tanpa cela. Kyuhyun mendesah kuat, kejantanannya menegang tanpa mampu ditoleransi lagi.
Tangan kiri Kyuhyun dengan cepat membuka celana kainnya hingga melorot ke bawah, menampilkan benda kokoh yang seakan tersiksa karena terus terkurung dibalik celana. Sementara Yoora bergerak tak nyaman tanpa mampu menolak. Ia adalah perempuan dewasa yang tak dapat munafik -setidaknya untuk saat ini- saat Kyuhyun mempermainkannya seperti ini. Yoora akhirnya mendesah, sangat keras dan terdengar bernafsu, membuat Kyuhyun semakin menjadi-jadi.
“Please, aku menginginkanmu.” Lagi-lagi Kyuhyun berbisik.
Dan kali ini Yoora tak dapat berkilah lagi. Seperti dihipnotis, dirinya menurut saja ketika Kyuhyun menggendong tubuhnya untuk naik keatas meja, lalu menciumi bibirnya tanpa ampun. Mereka berpagutan dengan kedua tangan Yoora yang menggantung di pundak Kyuhyun. Suara decakan lidah yang menggema di dapur itu tak ubahnya bagai musik peningkat nafsu bagi mereka berdua. Kyuhyun menggeram sambil memijat penisnya sendiri yang semakin menggelap.
“Kyuhyun, ohh…”
Tubuh Yoora memanas semakin parah. Detak jantungnya pun sudah tak karuan. Semua ini membuat kepalanya pening, berkunang-kunang, walau tentu saja ia menikmati perlakuan Kyuhyun padanya. Apalagi ciuman pria itu yang sungguh memabukkan layaknya candu. Yoora sedikit menyesal telah mendorong Kyuhyun semalam.
Drrt.. Drrt..
Lalu semuanya seperti membeku. Kyuhyun berhenti bergerak, begitupun dengan Yoora. Hingga suara getaran yang kembali terdengar itu membuat Kyuhyun mengumpat. Sialan sekali orang yang menghubunginya disaat yang tidak tepat. Buru-buru Kyuhyun membetulkan posisi celananya lalu meraih ponselnya yang berada didalam saku.
Yoora mengusap bibirnya saat Kyuhyun masuk kekamar mandi untuk menerima telepon. Desah nafas leganya terdengar kemudian. Yoora merasa lega karena mereka tidak jadi melakukannya, walau ia akui bibir panas Kyuhyun membuatnya tergila-gila.
Yoora turun dari meja saat Kyuhyun sudah keluar. “Siapa?”
“Sekretarisku.”
Wajah Kyuhyun tampak masam. Yoora mengatur senyumnya, merasa geli dan juga kasihan melihat wajah Kyuhyun yang seperti itu.
“Kau tampak kesal.” Komentarnya sambil tersenyum geli.
“Tentu saja. Ah, sekretaris sialan.”
“Hey, kau bisa melakukannya pada sekretarismu, Cho Kyuhyun. Bukankah katamu mendiang istrimu adalah mantan sekretarismu dulu?”
Kyuhyun mendengus. “Mwoyaaa? Sekretarisku yang sekarang adalah seorang pria, lagipula aku hanya ingin melakukannya denganmu. Kalau aku bisa melakukannya dengan sembarang perempuan, aku tak akan menawarimu untuk menikah, Han Yoora, kau paham?”
“Oh,” Yoora hanya mengangguk-angguk, memilih untuk tak banyak berkomentar. Hanya ingin melakukannya denganmu? Kalimat itu membuatnya seketika merinding. “Pergilah, bos penting.”
Kyuhyun berjalan ke ruang utama, meraih jas hitamnya yang tadi ia letakkan di sandaran sofa, kemudian menggantungkannya di lengan tak berniat mengenakannya lagi. Tubuhnya masih terasa panas setelah apa yang tadi ia lakukan.
“Jaga dirimu.” Kembali Kyuhyun berjalan mendekati Yoora yang sudah berdiri di pintu pembatas dapur dan ruang utama.
Yoora meresponnya dengan senyum tipis dan anggukan. “Hati-hati.”
“Ah, kau ingat ini. Jangan kemanapun malam ini atau besok. Aku sudah membeli rumah dan besok kita pindah kesana.”
“Mwo?” Yoora melotot, terkejut tentu saja.
“Got it? Okay Nona, aku pergi dulu.” Kyuhyun tersenyum lalu mengecup dahi Yoora selama beberapa detik, membuat Yoora terdiam karenanya.
“Oh ya satu lagi, kita akan benar-benar melakukan ‘itu’ besok. Jadi siapkan dirimu.”
Itu kalimat terakhir yang Kyuhyun ucap sebelum akhirnya keluar dari sana. Sepeninggalnya Yoora mendesis kesal.
“Seenaknya saja mengaturku. Dasar duda mesum!”
“Aku mendengarmu, Han Yoora~”
“Ya!! Pergilah!!!”
==TBC==

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: