Aberration (Old Home) Part 2/2 End

0
aberration kyuhyun
Author: Psychofloat
Title: Aberration [Old Home] #2 Final Part
Category: Rating NC21, Type Yadong, Genre Romance, Married Life, Suspense & Kekerasan,
Length Twoshot.
Cast: Cho Kyuhyun (조규현), Cha Songjun (차송준)
Other Cast: Lee Donghae, Yesung, Kim Heechul, Lee Sungmin, Choi Siwon, etc.
New Cast: Shim Dira

Note:

Ini mungkin ff terakhir aku. Yeah, ff aku nggak begitu rame, jadi males juga diriku bikin banyak-banyak. Kasian readers yang udah muntah. Haha. Aku mau lanjut naskah dua aja. Tuh naskah udah ngebangke saking bawelnya naskah satu minta direvisi. Hehe. Aku cuma minta doanya… semoga aku dan Kak Dira nggak jadi saingan. Bwahahahaha!

Maaf kalau aku cerewet. Aku emang gini. Untuk Readers, setel semua lagu yang bikin kalian nangis eyaaa, biar feel-nya kerasa, okeh?
Oh ya… KAK DIRA, NAMANYA DIPINJEM EYAAA???
Gaya bahasa ©Psychofloat, Author sadis yang pikasebeuleun!
***
Sebuah surat yang tak pernah tersampaikan…
???-2
From: Ripper Man’s Brother
To: Everybody around me
Halo, dan sampai jumpa.
Aku benar-benar merasa bersalah melakukan semua ini. Sungguh! Ini bukan salahku! Aku hanya harus melakukannya agar tak ada korban lebih banyak lagi. Aku hanya mengais sisa hasil kerjaannya, dan itu pun bukan untukku!
Ia memang memiliki kelainan. Dia selalu haus akan darah, membunuh tanpa alasan, dan hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Aku hanya ingin melukai mereka. Aku menyukainya,” saat aku bertanya motif ia melakukan pembantai-bantaian ini.
Dan kali ini, rasanya aku ingin menangis melihat korbannya yang selanjutnya. Aku benar-benar merasa bersalah. Rasanya ingin mendatangi Paus dan meminta pengampunan dosa dan kembali menjadi suci seperti saat ditebus oleh Tuhan, tapi aku tahu aku tak bisa.
Kalau aku melawan, aku harus menghadapi orang-orang tangguh yang tak kenal maaf apalagi ampun. Sungguh aku tak sanggup melawan mereka! Makan, hanya inilah pilihannya: aku harus melakukannya. Aku benar-benar terpaksa!
Pesanku, jangan pernah datangi kami. Karena kami tidak mencari… kami menunggu korban.
***
Old Home #2: Tangis yang tak pernah terdengar
Cho Kyuhyun
Hanya salah paham.
Donghae sengaja membuka pintu itu dan menyalakan lampunya agar bisa dipantau. Dia menjelaskannya setelah aku menduga seseorang menyusup rumahku.
“Untuk sekarang lebih baik kau menjaga Songjun dulu,” ucap Donghae sambil menepuk pundakku. “Berat baginya jika harus kehilangan bayi yang begitu dia idam-idamkan.”
“Sebetulnya kami sudah menduga hal ini akan terjadi.” Aku menunduk, merasa bersalah. “Songjun memiliki fisik yang amat payah. Ia punya asma yang cukup parah. Saat mengetahui dia hamil, kami tahu bahwa suatu hari pasti akan ada hal genting yang terjadi pada kandungannya. Hanya saja kami tidak tahu bahwa hilangnya akan seperti ini.”
“Aku turut berduka.” Raut wajah Donghae terlihat sedih. “Dulu aku punya kakak dan dia sekarang menjadi dokter. Dia dulu cerita bahwa ia pernah menemukan kasus sama seperti Songjun. Dan yang mengenaskan, wanita itu menjadi gila dan bunuh diri.”
“GYAAAAAAAA!!!”
Aku langsung menatap jendela kamarku. Di sana terlihat siluet seseorang menggenggam pisau dan berjalan mendekati ranjang. Ranjangku dan Songjun. Songjun tadi berteriak.
Sial!
Aku dan Donghae berlari secepat kilat menuju rumahku. Aku membuka pintu kamar, tapi tak ada Songjun di sana.
“Kita berpencar,” kataku panik. “Kau geledah bagian depan dan tengah rumah, aku sisanya.”
Donghae mengangguk. Kami langsung berpencar dan mencari Songjun di setiap sudut ruangan. Tak ada sahutan dari Songjun saat kami berdua berteriak memanggil-manggil namanya.
Saat aku mencari di dapur, jendela kecil di daun pintu menuju halaman belakang menampakkan sebuah bayangan yang berjalan melintasi halaman belakangku. Serta-merta aku membuka pintu dengan pisau dapur sebagai senjata.
Hujan rintik langsung menyembur kulitku saat pintu terbuka. Keadaan taman basah dengan rumput-rumput yang masih berdiri tegak. Ini artinya tak ada yang berjalan melewati taman ini.
Langit sore terlihat tak begitu cerah. Sebentar lagi jam 6 sore. Biasanya langit akan memberikan jingga terbaiknya pada jam segini. Tapi tidak dengan sore ini. Kali ini langit begitu mendung.
Aku melihat seseorang bersembunyi di belakang pohon di halaman belakangku. Kutatap pagar kayu yang membatasi halamanku dan halaman Heechul. Tak ada tanda-tanda seseorang menaiki atau melewati pagar itu. Dan yang ada di samping kananku hanya tembok besar yang menandakan batas perumahan setinggi 8 meter.
Tiba-tiba kulihat sebuah handuk terjatuh di dekat pohon itu. Handuk yang selalu kupakai pada malam hari, ketika aku dan Songjun selesai bercinta untuk mengelap tubuh kami.
Ah, ternyata Songjun mempermainkanku!
“Hei, Songjun-ah, kau benar-benar!” Aku terkekeh sambil mendekati pohon itu. Tawaku meledak memikirkan betapa paniknya aku tadi.
Saat aku tinggal tiga langkah lagi menghampiri pohon, Donghae berteriak dari arah dalam rumah.
“Kyuhyun, aku sudah menemukan Songjun! Ia pingsan di kamar mandi!”
Aku berbalik, menatap bayangan Donghae yang menggendong istriku menuju ruang tengah.
Jika yang Donghae temukan adalah Songjun… siapa yang ada di belakang pohon ini?
Aku berjalan perlahan ke arah belakang pohon. Kuposisikan pisau yang kupegang agar siap menusuk siapa pun yang nanti menyerangku. Dan saat aku melihat orang yang ada di belakang pohon itu, aku shock berat.
Dia adalah Ryeowook.
Tubuhnya dipaku ke pohon yang ada di belakangnya. Kedua matanya ditusuk dengan ranting, membuat kelopaknya tak bisa jatuh dan terlihat seperti orang sipit. Kakinya dipotong hingga badannya hanya setinggi dadaku. Rambut pendeknya diberi wig sepanjang dada. Dan mulutnya disumpal dengan kain hingga pipinya terlihat bundar. Melihat keadaannya, seketika mukaku memucat.
Seseorang mengincar Songjun.
***
Polisi menghampiriku.
Jadi, yang terjadi adalah begini. Songjun merasa ada orang berjalan melintasi ruang tengah. Saat ia berjalan keluar kamar, seseorang keluar dari lemari pakaianku dan Songjun. Istriku langsung berteriak kaget, sedangkan orang itu membuat seolah-olah ia akan menusuk guling di ranjang.
Persis setelah berteriak, pundak Songjun dipukul hingga ia tak sadarkan diri. Dan tahu-tahu ia sudah bangun dan mendapati aku dan Donghae dengan mayat di halaman belakang rumah kami.
Aku berkali-kali menyangkal bahwa aku yang membunuhnya, tapi beberapa orang dari polisi itu menuduhku. Terlebih pisau yang ada di tanganku dan jejak sandal yang berada di taman membuat tuduhan mereka seperti beralibi.
“Kalian tidak bisa menuduh tanpa bukti yang signifikan!” salakku kencang.
“Tapi hanya ada jejakmu, dan kau membawa pisau!” gertak oknum polisi di depanku.
Saat kami sedang panas-panasnya, seorang inspektur menghampiri. “Ada apa ini?”
“Dia tertuduh, Inspektur!” tunjuk seorang polisi padaku. “Dia berada di dekat korban, dan dia membawa pisau!”
Inspektur itu menatapku sebentar. Ia lalu menatap pisau yang sudah masuk ke dalam kantung plastik. Dan tiba-tiba ia menjitak kepala anak buahnya itu. “Kau ini bodoh atau apa? Itu bentuk pertahanan diri, bukan untuk menyerang!”
Inspektur itu kembali memukul kepala bawahannya. “Dan seenaknya saja kau menuduhnya! Kau sudah mendengar pembelaannya?”
Polisi tadi menggeleng, membuat inspektur itu kembali menjitaknya. “Ah, kau benar-benar bodoh!”
Inspektur itu menatapku. Ia menghela napas panjang. “Istrimu baik-baik saja?”
“Dia hanya shock ringan. Selebihnya, ia baik-baik saja,” jawabku. “Apa aku harus memberikan keterangan di kantor polisi?”
“Hanya sebagai saksi.” Inspektur itu menepuk pelan lengan atasku. “Sayangnya istrimu tidak bisa ikut. Tapi yang akan menjadi TKP hanya halaman belakang rumahmu saja. Istrimu bisa beristirahat di rumah.”
Aku mengangguk. Kulirik Donghae yang ada di sampingku. “Aku bisa menitipkan Songjun padamu?”
Donghae mengangguk. “Tapi sepertinya kau harus membuat dia tenang dulu.”
Aku menatap pintu rumahku yang terbuka. Di dalam terlihat Songjun yang duduk dengan pandangan kosong yang amat kentara. Dari pintu samping keluar kantung mayat yang lagi-lagi terdapat bercak darah.
Aku masuk ke dalam dan berdiri di depan Songjun. Seorang petugas kepolisian melirik ke arahku dan kembali menatap Songjun. “Istrimu sepertinya terguncang hebat.”
“Aku tahu itu.” Aku menatap polisi itu, mengisyaratkan padanya untuk pergi meninggalkan kami berdua. Ia sepertinya mengerti karena tahu-tahu saja ia bangkit dan akhirnya meninggalkan aku dan Songjun berdua.
“Polisi itu bilang semua ini akan baik-baik saja,” ucap Songjun masih dengan mata yang menatap ke depan. “Tapi aku tahu bahwa itu hanya bullshit.”
Aku berlutut di depannya. Seketika mata sayu Songjun menatapku. “Ceritakan apa yang kau pikirkan, Cho Kyuhyun.”
Aku paling benci jika Songjun mulai memanggilku dengan nama lengkapku. Itu selalu berarti bahwa Songjun ingin aku serius. Tak ada lagi Songjun yang akan bersembunyi saat malu jika sudah begini.
“Aku merasa sesuatu mengancammu,” ucapku jujur. “Setelah bayi kita hilang, aku tak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku merasa seperti orang tolol. Aku merasa menjadi orang yang amat goblok yang tak becus mengurusmu. Dan saat aku yakin aku benar-benar tidak menjagamu, aku sadar bahwa sesuatu mengincarmu.”
Songjun menatapku lama. “Dan apa yang sekarang akan kau lakukan?”
“Aku tidak tahu,” ujarku jujur sambil menunduk malu. Aku merasa benar-benar gagal sebagai suami dan ayah. Yeah, belum menjadi ayah pun aku sudah gagal.
“Dan kau akan meninggalkan istrimu sendirian?”
Aku mendongak, dan terlihatlah wajah Songjun yang memerah dengan air mata yang sudah mengalir. Tangannya memukul bahuku cukup kencang. “Setelah kau tahu bahwa istrimu ini dalam bahaya, kau akan pergi meninggalkannya, hah??? Aku… pokoknya sebal!!!”
Aku bangkit, membuat pukulan Songjun mengarah pada dadaku. Aku langsung memeluknya, dan ia sekoyong-koyong memelukku dan menangis di bahuku. “Aku takut, Kyu!! Jangan tinggalkan aku….”
Aku mengusap punggungnya dalam diam. Hanya isak Songjun dan air matanya yang membasahi kausku yang menjadi pemandangan kali ini. Aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir tanpa permisi. Aku juga takut harus meninggalkan Songjun.
Tapi ini masalah genting.
Aku melepaskan pelukanku. Kucium bibirnya dan perlahan membuat posisi kami tertidur di sofa dengan aku yang berada di atas tubuhnya. Kini mata kami saling menatap. Kuhapus air mata Songjun sambil tersenyum. “Ini bukan akhir, Songjun-ah.”
Songjun mengangguk, mencoba percaya kata-kataku yang bahkan terdengar bullshit di telingaku sendiri.
Aku kembali menciumnya, melumat lembut bibirnya sambil menyelipkan lidahku di mulutnya. Songjun lagi-lagi hanya terisak. Tapi kali ini tangannya ia kalungkan di leherku.
Aku mengangkat kaus longgar yang dikenakannya tanpa membukanya. Hanya sebatas leher. Pokoknya hingga branya terlihat olehku. Setelah itu, perlahan kubuka kait di belakang tubuhnya dan hanya mengangkatnya tanpa melepasnya.
Tanganku meremas dadanya, membuatnya mendesah tertahan di mulutku. Kulepas ciumanku dan menatap dadanya yang naik turun dengan cepat karena ciuman tadi.
Mulutku berpindah pada dadanya. Kukecup dan kulumat habis benda kenyal itu dan membiarkan Songjun meremas rambutku sambil mendesah dengan sendu. Rasanya tak senikmat biasanya.
Tak ingin berlama-lama, tanganku turun ke arah vaginanya. Kugesek selangkangannya dari luar sambil terus menggerayangi dadanya. Songjun lagi-lagi mendesah sendu.
Tak lama kemudian area yang kusentuh itu basah. Kuangkat wajahku dan mengecup keningnya lama. Songjun memejamkan matanya, mencoba meresapi apa yang terjadi sekarang.
Kini kuturunkan celana pendekku dan mengeluarkan juniorku. Kukocok sejenak hingga ‘bangun’, dan langsung kutusukkan pada milik Songjun yang masih tertutup. Terus kutusuk-tusuk hingga juniorku sudah mencapai ukuran maksimalnya.
“Kyu…” Lagi-lagi Songjun menatapku dengan matanya yang berair dan merah. “Jangan katakan ini yang terakhir.”
“Ini bukan yang terakhir,” kutekankan kata-kataku. Kutatap mata Songjun yang menatapku ragu. “Ini bukan yang terakhir!”
“Akan kucoba untuk percaya.” Songjun meremas lengan atasku tegang. Ia tahu aku pun ragu, dan ia tahu bahwa kata-kataku benar-benar terdengar penuh dusta.
Tanpa menghiraukan tatapan ragunya, aku menurukan celana pendeknya juga bersama dengan dalamannya. Serta-merta kutusukkan pada lubang lengket itu.
“Ooooh, Kyu….” Songjun mendesah. “Eeeenggg….”
“Ooouuuh, Songjun-aaaah,” kini aku yang meracau tak jelas. “Saranghae—ooouuuh!!!”
Aku terus menyodok mulut rahimnya. Kuhujam berkali-kali juniorku hingga kurasakan dindingnya meremasku kuat. Dan tak berapa lama, aku dan dia sampai pada klimaks.
Segera kubenarkan pakaian Songjun dan pakaianku sendiri. Setelah itu kuusap keringat di keningnya dan mengecup lama area itu. “I love you.”
“Love you too.” Songjun mencoba tersenyum. Ia mengecup bibirku.
“Tunggu aku di rumah. Secepatnya aku akan kemari.”
“Aku menunggu.”
Kini aku berjalan menjauhinya, melambaikan tanganku dan berkata sampai jumpa.
Dan aku tahu bahwa ucapanku benar-benar bullshit.
***
Cha Songjun
Kini aku hanya berdua dengan Donghae.
Malam makin larut, dan kini pintu belakang adalah hal yang paling kami berdua takuti. Pintu depan kami kunci, dan segala kegiatan dilakukan di ruang tengah—dan lagi-lagi kami ketakutan.
“Kyuhyun pernah cerita, katanya kau pernah mengecek pintu itu dan menyalakan lampu. Saat kau kembali lagi, pintu itu sudah tertutup dengan keadaan lampu yang mati?” tanya Donghae sambil menatap satu-satunya pintu yang terlihat suram pada dinding di belakang kami.
“Begitulah,” ucapku tetap fokus pada laptopku. “Tapi aku tidak terlalu memandang hal itu sebagai sesuatu yang menyeramkan.”
“Sungguh? Karena kurasa itu awal dari sesuatu.”
Mendengar Donghae berkata begitu, aku mengangkat wajahku dari laptopku. Kami sama-sama menegang saat melihat bayangan melewati halaman belakangku. Bahkan dari jendela di pintu dapur menuju pintu belakang pun aku bisa melihat sesuatu membuat police line bergerak.
“Seseorang di luar sana,” cetus Donghae. Ia meraih tongkat golf milik Kyuhyun yang telah disiapkannya dan berjalan mendekati pintu itu.
“Tidak perlu ancang-ancang alay juga keleus,” ejekku sambil menoyor tongkat di tangan Donghae. “Iya kalau tuh orang masuk lalu nyerang kita,” kataku sambil berjalan di belakangnya. “Nyatanya juga pintu dikunci. Dia tidak mungkin…”
Ucapanku terhenti saat pintu belakang itu terbuka. Sebuah tangan memegang kenop pintu dan membukanya perlahan…
… dan muncullah Yesung dengan wajah polos yang menyebalkan.
“Kau mengagetkan kami saja, Yesung-ah!” Donghae membanting tongkat golf kesayangan Kyuhyun. “Aku benci!”
Harusnya aku tahu bahwa Donghae tak boleh melemparkan tongkat golf dari tangannya. Karena setelah Yesung melangkah masuk, ia langsung menutup pintu belakang dan menguncinya.
“Kenapa kau menguncinya?” tanya Donghae. Ia terdiam sejenak. Dan saat ia menatap ke arahku, ia membelalak hebat dan langsung menarikku.
Bunyi guci pecah langsung menggelegar di rumahku yang hening. Dan saat kutengok ke belakang, terlihatlah Heechul yang berdiri dengan tatapan tajam. “Hai,” sapanya.
“Apa yang kalian mau?” tanya Donghae sambil mendekapku posesif.
“Bermain, barang kali,” ucapnya ringan.
Tahu-tahu saja tangan Heechul merogoh saku belakangnya. Melihat gagang yang kutahu sebagai pistol, kami buru-buru lari. Dan saat aku mengingat tidak ada ruangan lagi untuk kami berlari, aku mendobrak pintu basement dengan Donghae yang ada di belakangku.
Tiba-tiba bunyi tembakkan terdengar disusul tubuh Donghae yang jatuh di belakangku. Aku tak sempat berteriak dan langsung masuk ke dalam pintu basement.
Bayangan-bayang terlihat dari bawah celah pintu. Tubuh Donghae yang menghalangi pintu tadi diangkat dan dipindahkan. Dan seseorang berdiri tepat di depanku—meski terhalang oleh pintu.
Aku benar-benar ketakutan. Otakku rasanya sudah tak keruan. Di depanku adalah seorang pembunuh, dan tak ada jalan keluar dari sini. Kecuali, jika aku mengecek ruangan di bawah tanah.
Yap, aku harus ke sana.
Aku menuruni anak tangga sambil sesekali mengecek bayangan yang berada di depan pintu. Yap, mereka tidak mencoba mengejarku. Aku bersyukur…
… atau aku harus curiga?
Masa bodoh! Anggap saja mereka tak tertarik padaku.
Aku menatap pintu bobrok di depanku. Meski lapuk, tapi pintu ini amat rapat. Bahkan tak ada celah di bawah pintu. Tak ada udara yang bisa keluar dari pintu ini.
Kucoba membuka pintu ini secara manusiawi—membuka kenop pintu. Tak bisa. Cara barbar—mendobrak pintu. Kembali tak bisa. Hingga kucoba cara terakhir, yakni cara cewek-putus-asa-hilang-akal—tendang-tendang pintu. Berhasil!
Cewek putus asa mengalahkan cara barbar. Yeah!—ala suamiku.
Pintu itu terbuka sedikit, dan tiba-tiba bau menyengat yang tak begitu asing bagiku terhirup. Kututup hidungku dan membuka pintu di depanku.
Dan sebuah pemandangan menyeramkan langsung menyambutku.
Ruangan ini terang-benderang, membuat segala yang ada di depanku terlihat begitu jelas. Sekarang aku tahu dari mana bau menyengat itu berasal. Semua telah dicabik.
Oke, kalau aku bilang dicabik, yang ada di pikiran kalian pastilah kain-kain yang berserakan dan benda-benda yang robek. Tapi ini tidak. Ini benar-benar menyeramkan.
Semua tercabik—korden, kain, pakaian. Semua tercabik—hidung, wajah, kulit, tubuh. Semua tercabik—jantung, hati, usus, ginjal, paru-paru. Semua tercabik—rasa belas kasihan dan hati nurani.
Aku hanya bisa menatap tak percaya pada bagian-bagian tubuh manusia yang lebih dari delapan lusin ini dengan mulut menganga. Air mataku mengucur begitu saja. Kyuhyun benar, aku tidak aman!
Aku berada dalam kandang psikopat.
Bayangan lain terlihat mendekati pintu di atas undakan tangga. Dan bayangan ini berusaha membuka pintu. Dengan ketakutan, kututup pintu lapuk ini dan hanya bisa menangis saat kaki telanjangku mengenai danur—air yang keluar dari mayat yang sudah membusuk—yang berada di bawahku. Kucoba untuk tidak menghiraukan bau-bau yang berada di sekelilingku dan berjalan menuju sebuah pintu yang berada di ujung ruangan ini. Dan untuk mencapai pintu itu, aku harus menginjak cabikan-cabikan tubuh ini.
Lagi-lagi aku hanya bisa menangis saat genangan danur tak sengaja terinjak olehku. Serpihan-serpihan kulit dan otot mereka menempel di kakiku, mengesankan bahwa akulah yang membuat mereka begini.
Aku meraih kenop pintu yang kutuju, tapi sepertinya seseorang berhasil mendobrak pintu dan menuruni anak tangga menuju basement. Secepat kilat aku membuka pintu di depanku.
Ruangan di depan ini hanya berisikan tangga berkelok yang menuju sebuah tingkap. Aku buru-buru menutup pintu dan menaiki tangga itu. Dari bawah, aku mulai mendengar suara seseorang yang berjalan dengan tenang di atas genangan. Mengingat genangan apa yang ada di sana membuatku ingin muntah sekarang.
Kini tingkap itu sudah terbuka, memperlihatkan halaman belakang yang amat sangat tidak familier di mataku. Dan meski aku belum pernah kemari, aku tahu siapa pemilik halaman ini.
Kim Heechul.
Halaman belakang ini berisikan tanaman-tanaman layu—beberapa bahkan ada yang sudah membusuk. Hewan pengerat seperti tikus dan hamster dia gantung di atas pohon meski masih hidup. Dalam hati aku ingin menyelamatkan mereka. Tapi aku bukan malaikat. Aku sedang dikejar pembunuh, dan kurasa itu prioritas terbesarku.
Aku menatap halaman ini. Aku bisa melihat seseorang menunggu di depan pintu dapur menuju halaman belakang ini. Dia memunggungiku. Badannya—demi Tuhan!—luar biasa besar. Mungkin suamiku hanya sampai sebahunya saja. Tubuhnya gemuk dengan tangan yang menyaingi guling di kamarku.
Aku tahu kalau mereka sudah tahu arah pikiranku. Dan aku menolak untuk mudah ditebak. Maka dari itu, aku menutup tingkap dengan batu besar yang kutemukan di sekitar sini. Meski tak begitu berat, tapi lumayan untuk menghalau. Aku juga mengambil beberapa batu dan naik ke atas pohon.
Mungkin ada tiga step yang mereka pikir akan aku ambil: 1) melewati halaman Heehul meski risikonya besar, 2) menyelinap ke pekarangan Kangin yang ada di samping rumah Heechul yang risikonya tak begitu besar, atau 3) kembali ke halaman rumahku yang jelas-jelas memiliki risiko paling besar jika aku tak hati-hati dan tak tahu kondisi.
Dan pilihan terakhir adalah yang aku mau.
Semakin berisiko, semakin orang-orang itu lengah. Mereka pasti mengira aku akan menyelinap ke rumah Kangin. Oke, akan kubuatkan skenarionya!
Setelah sampai di dahan pohon yang kuat dan rimbun dengan daun, aku menatap halaman belakang rumah Kangin yang begitu berantakan. Dan jika aku ke sana, kemungkinan yang akan kuinjak adalah seng yang berserakan di dekat pagar penghalang antara rumah Heechul dan Kangin.
Aku melempar 3 batu, membuat bunyi yang tak begitu nyaring sebetulnya, tapi terdengar dalam dunia sesunyi ini. Kulihat si gendut sudah tak di depan pintu. Dan beberapa menit kemudian, ia sudah berada di halaman belakang Kangin.
Aku menuju ujung dahan yang dekat dengan pagar rumahku. Perlahan aku melompat menuju halaman belakang dan mendapati rumahku sepertinya kosong. Pintu belakang masih di kunci.
Aku berlari menuju sepeda listrikku. Kuncinya masih menggantung di sana. Mungkin dalam keadaan biasa aku akan merutuki Kyuhyun—dia yang terakhir pakai untuk jalan-jalan—yang selalu lupa mencabut kunci. Tapi rasanya suamiku itu patut diberi ciuman barang satu-dua kali sebagai hadiah keteledorannya.
Aku membuka pintu samping perlahan. Dengan amat perlahan, aku menjalankan motor listrikku. Sepintas, aku menatap jendela Sungmin. Cowok itu ternyata menatapku. Berbeda dengan biasanya, kini ia tersenyum sambil melambaikan tangan.
Berhati-hatilah…
Kira-kira itulah yang ia sampaikan dari tatapannya. Tatapannya begitu tulus, membuatku ikut tersenyum dan mengangguk.
Aku menjalankan sepeda listrikku begitu kencang. Digas dan dikayuh. Yesung yang baru akan masuk ke rumah Kangin langsung menatapku. Tapi ia tidak mengejarku. Entah kenapa.
Aku terus mengayuh dan menggas sepedaku. Sepanjang jalan, aku hanya menatap rumah-rumah kosong yang gelap. Mungkin dulu aku menganggap rumah-rumah ini keren jadi latar foto, tapi setelah pengalaman ini, aku yakin aku akan trauma.
Hampir setengah jam aku mengayuh, hingga sebuah gereja tua terlihat mataku. Yap, mungkin mereka punya air. Aku ingin membersihkan diri dulu.
Aku memarkirkan sepedaku dan menguncinya. Kubuka perlahan pintu megah ini, dan mendapati seorang wanita muda cantik yang tengah duduk di kursi jemaat.
Mendengar langkah kaki, ia menoleh. Tatapan kami bertemu, dan seketika aku tahu bahwa ia adalah orang yang baik.
Ia berdiri, berjalan menghampiriku, dan menatapku khawatir. “Anda kenapa?”
Aku menggeleng. “Ceritanya panjang.”
Ia menatapku iba, namun akhirnya menuntunku menuju kamar mandi di belakang gereja. Di sana aku membersihkan kakiku dan membasuh mukaku.
“Jadi, apa yang membuatmu datang dalam keadaan seperti ini?” tanya Dira.
Nama wanita itu adalah Dira. Shim Dira. Ia duduk di depanku dan terus menelusuri tubuhku yang mengeluarkan bau yang tentu tak sedap.
“Rumahku ternyata bertetangga dengan psikopat,” lirihku. “Dan lebih parah lagi, basement di rumahku ternyata berisikan serpihan-serpihan tubuh yang sudah dicabik.”
Dira membelalak, tapi ekspresi kekagetannya bukan karena ceritaku, melainkan karena sepertinya cerita yang kuungkapkan pernah di dengannya. “Kau tinggal di rumah bernomor 474?”
Aku mengangguk. Dan tiba-tiba aku menatapnya kaget. “Bagaimana…?”
Dira menghela napas. “Rumah itu memang berisikan mayat, dan memiliki dua tetangga paling aneh.”
“Dua? Jadi Sungmin juga tetangga yang mencurigakan?”
“Sungmin? Dia justru korban Heechul-Jongjin.”
Jongjin??? Adik Yesung ikut berperan dalam masalah ini?
Akhirnya Dira bercerita. Ia adalah salah satu korban juga. Dulu ia tinggal di sana. Kakaknya adalah seorang psikolog dan orangtuanya bekerja di sebuah perusahaan perabotan rumah tangga. Mereka pindah karena ingin hidup tenang.
Dan dulu, ternyata Heechul adalah pasien yang ada di rumah sakit kakaknya.
Flashback (Author’s point of view)
“Halo, Heechul-ya?”
            Seorang psikolog menyapa Heechul ramah. Ia mencoba mempelajari kepribadian Heechul setelah melihat arsip tentang anak itu.
            Usia 3 tahun, ia mencongkel mata adiknya yang baru saja lahir. Dua tahun kemudian, ia ditemukan sedang memegang pisau di sebelah jasad ayahnya yang mati tertusuk. Dua tahun kemudian lagi, dia ditemukan tengah makan daging asap dengan garpu berdarah di depan jasad ibunya yang mati karena tusukan di lehernya. Lagi-lagi dua tahun kemudian, ia bersekolah di sekolahan formal. Satu tahun kemudian, ia kedapatan membuat keributan di sekolahnya. Maka dari itu dia di sini.
            Heechul mengangkat wajahnya. Ia menatap psikolog di depannya dalam diam. Ia tersenyum begitu licik, seakan mengatai bodoh orang-orang yang ia tatap. Termasuk si psikolog.
            “Wah, sepertinya kau senang bermain dengan teman-teman, ya?” tanya psikolog itu ceria. “Sampai-sampai ekspresi senangnya masih terpancar dari matamu yang indah itu.”
            Heechul lagi-lagi hanya diam. Psikolog itu pun langsung bertanya to the point, “Jadi, kenapa kau mencolok mata teman-teman?”
            Heechul tersenyum kecil. “Mata mereka menarik. Tapi aku tidak memilikinya.”
            “Oh, kau ingin mata seperti mereka?”
            “Tidak,” jawabnya mantap. “Aku hanya ingin mereka merasakan bagaimana rasanya tak punya mata seindah mereka. Mereka bilang, mataku keruh.”
            Ya, mata kecil itu sudah keruh karena kebohongan dan tipu daya. Anak ini bukan hasil dari lingkungan atau latar belakang yang buruk. Dari lahir ia sudah menjadi seperti ini.
            “Lalu,” lanjut psikolog itu. “Kenapa kau menembaki teman-temanmu? Kau tidak takut sendirian?”
            Anak itu mengangkat bahunya ringan dan berkata begitu enteng. “Aku tak punya alasan untuk itu. Aku hanya suka melihat mereka ketakutan dan mati berdarah-darah. Hanya itu.”
… …
“Anak umur 10 tahun bicara seperti itu?”
Aku menatap tak percaya pada Dira, namun wanita itu mengangguk, menegaskan bahwa kata-katanya bukanlah dusta. “Dia menembaki lebih dari 200 orang di sekolahnya. Ia mendapatkan senjata dari mencuri sebuah toko senjata. Korban tewas saat itu hampir 100 orang, termasuk kepala sekolah, guru-guru, dan penjaga sekolah. Dia berhasil kabur dari rumah sakit jiwa setelah dua tahun mempelajari bangunan itu. Dan kami baru sadar bahwa tetangga kami adalah Heechul saat ia sendiri yang bercerita.”
Aku menghela napas tak tenang. Mataku bergerak ke kanan dan kiri begitu cepat. Benarkah ada orang seperti itu dalam bumi ini? Oke, mungkin banyak. Dan bahkan ada yang lebih parah.
“Selain itu, Yesung juga berperan sebagai asisten,” sambung Dira. “Dia menceritakan ini semua saat aku sudah akan keluar dari rumah. Adiknya memiliki kelainan yang membuatnya tak tenang jika tidak mencabik tubuh seseorang. Yesung selalu mencekoki adiknya dengan cokelat, bermaksud untuk membuat adiknya tenang dan melupakan kecanduannya. Tapi tetap saja begitu. Adiknya mulai berprilaku seperti itu saat Yesung membelikan anjing untuknya 12 tahun lalu. Dan anjing itu adalah korban pertama adiknya.
“Yesung pindah ke perumahan itu dan tinggal di depan rumah Heechul. Dari hari ke hari ia melihat gelagat aneh Heechul. Heechul sering tak ada di rumah, dan rumah kosong di samping rumah Heechul tak pernah terlihat kosong. Ya, seseorang pasti ke sana. Dan Yesung mencoba memastikan.
“Tak tahunya, adik Sungmin-lah yang sedang menjadi korban untuk memuaskan hasrat mengerikan Heechul. Saat Heechul mendapati Yesung, ia hendak menyerang, namun tiba-tiba adik Yesung muncul dan menghampiri adik Sungmin. Bocah itu langsung dicabiknya hingga tak berbentuk. Sejak saat itulah mereka bekerja sama.
“Sungmin yang memang cerdik dan paranoid parah membuat rumahnya begitu rumit. Banyak pintu dalam rumah kecil itu, membuatnya seakan tak terjamah oleh siapa pun. Ia bahka menyiapkan jebakan di balik pintu-pintu itu. Dan Heechul pernah merasakannya—ia terkurung dua hari di dalam ruang jebakan Sungmin dan berhasil keluar karena menangis. Ya, mereka memang pengecut kelas berat.”
“Aku tidak tahu kalau masalahnya serumit itu,” sahutku iba. “Untung saja kalian selamat.”
“Ya, berkat Sungmin yang memberikan jalan menuju gerbang kompleks lewat jalur tikus pada aku dan keluargaku.”
“Tapi, kenapa tidak lapor polisi?”
“Semua orang pasti berpikir begitu,” ucap Dira dengan nada sedih. “Aku sudah menghubungi mereka, tapi ternyata mereka adalah antek-antek Heechul. Mereka yang memalsukan data tentang pembunuhan keji Heechul. Ya, mereka yang melindungi bajingan itu.”
“POLISI?” Aku membelalakkan mataku. “Polisi bekerja sama dengan Heechul???”
“Ada apa, Songjun-ssi?” Ia lagi-lagi menatapku khawatir.
Aku menatapnya dengan raut ketakutan. “Suamiku sedang di kantor polisi, dan aku berjanji akan menunggunya di rumah!”
***
Cho Kyuhyun
Aku tidak mengerti.
Semua polisi yang ada di sini hanya diam tanpa melakukan apa pun. Aku mulai merasa aneh. Bukankah aku kemari untuk diinterogasi?
Tak ada yang menyahutku. Polisi-polisi ini membiarkanku duduk di kursi di sudut ruangan. Mereka sibuk dengan tugas mereka. Aneh.
Hingga seorang polisi datang menghampiriku. Ia menyuruhku masuk ke ruangannya dan menutup pintu itu rapat.
Awalnya kukira akan terjadi interogasi menyeramkan seperti di dalam film-film, tapi yang ada ternyata… lebih menyeramkan.
“Sial kau sudah beristri,” lirih inspektur itu sambil berjalan mendekatiku. Perlahan ia membuka pakaiannya. Seketika mataku membelalak.
“Aku dendam sekali padanya, bisa mendapatkan dirimu yang begitu sempurna. Padahal, dia hanya… sampah pesek yang pendek dan dekil. Mirip gembel.”
Demi Tuhan, aku marah besar! Oke, Songjun memang kurang secara fisik. Bahkan kurang banget. Ada beribu wanita cantik yang putih, tinggi, mancung, langsing, dan tidak gembel. Tapi, tidak dari manusia-manusia yang berfisik seperti itu yang bisa menerima kekuranganku: kekanakan dan anak mami.
Lagi pula, itu sudah pemberian Tuhan. Songjun tidak jelek-jelek amat, kok. Dia cantik. Kulitnya memang perpaduan kulit tropis-subtropis yang membuat kulitnya putih kekuningan. Hidungnya pesek, tapi rata-rata orang Asia memang tidak terlalu mancung. Matanya sipit, seperti bocah baru bangun tidur. Dan dia pendek, tapi membuatku senang memeluknya lama-lama. Dia juga sedikit berisi, membuatku tak perlu hati-hati ketika menggendongnya—setidaknya kemungkinan tulangnya patah sedikit.
Pokoknya, sekurang-kurangnya Songjun, dia tetap sempurna bagiku yang juga memiliki kekurangan.
Dan si keparat homo ini mengatai istriku gembel??? Enak saja! Dia tuh yang gembel! Gerepe-gerepe suami orang…
Eh, dia ngegerepe aku!!!
“Eh!” Aku menyentak tangannya yang mengelus-elus dadaku. “Tubuhku ini milik istriku. Dan ini sah secara hukum dan agama!” bentakku pada bajingan hombreng ini.
Ia tersenyum. “Heechul bilang kau mudah dibelai.” Heechul? Apa hubungannya ia dengan ini? “Dan dia bilang padaku akan membereskan istrimu dan membiarkan makhluk tampan ini—alias kau, bodoh!—bersamaku.”
Rasanya aku ingin muntah. Oke, aku sendiri jijik melihatku muntah. Lebih baik aku buang ludah. Eh, itu illegal. Oke, aku pura-pura buang ludah.
“Cih,” kubuat seolah-olah diriku membuang ludah. “Tak ada yang boleh menyentuh istriku! Bahkan aromanya yang harum pun tak pantas dihirup oleh bajingan macam kalian!”
“Sialnya, meski tak boleh, tapi kami bisa.”
Sial, dia benar! Aku bisa melarang, tapi aku tak bisa menghentikan. Aku harus keluar dari sini!
Kutendang selangkangan makhluk maho ini. Ia mengerang, dan saat itulah kuambil kesempatan menjedotkan kepalaku pada kepalanya. Ia lalu terhuyung dan pingsan dengan hidung berdarah, sedangkan aku hampir pingsan dengan dahi benjol.
Aku segera berlari menuju pintu. Saat aku keluar, polisi-polisi itu menahanku di depan pintu. Oke, aku sudah tahu kedok mereka. Mereka bekerja sama dengan Heechul—dan fakta yang baru kuketahui, Songjun memang sudah diincar.
Berhubung sepertinya mereka belum tahu bahwa aku sudah tahu, lebih baik aku bermain sebentar dengan manusia-manusia ini.
“Huh,” desahku sambil menutup pintu di belakangku sepelan mungkin, “rasanya seperti diinterogasi Raja Neraka sebelum waktunya.”
Mereka menatapku aneh. Aku buru-buru berdeham dan menyakukan tanganku. “Aku sudah mendapatkan izin untuk ke kamar mandi sebentar sebelum melakukan….”
Aku sengaja menggantungkan ucapanku. Dan gebleknya, mereka mengerti (apa mereka tahu bahwa mereka juga bisa jadi korban inspektur homo di dalam?). Aku membungkuk, berjalan menuju toilet yang kebetulan sekali searah dengan pintu keluar.
Aku buru-buru berlari melintasi jalanan kota kecil ini. Malam sudah datang, dan semoga saja Songjun masih di rumah.
Tunggu aku, Songjun. Tunggu suamimu ini. Aku akan ke sana, memelukmu, menenangkanmu, dan akan melakukan apa pun yang kau minta asal jangan membuatku berpisah denganmu.
Aku belum siap kehilanganmu, istriku.
Aku menatap langit. Air mataku mengalir melihat betapa mendung malam ini. Yeah, aku takut Songjun kenapa-napa. Dia hanya berdua dengan Donghae—semoga saja Donghae bukan komplotan mereka!—dan tentu saja tak begitu nyaman untuk melakukan apa-apa.
Dalam hati, aku berdoa.
Tuhan, jika memang ini waktuku, jangan biarkan Songjun sendiri. Jangan biarkan ia menangis, Tuhan. Aku rela jika bayiku tidak bisa melihat bumi. Tapi jadikan ia malaikat pelindung untuk istriku yang rapuh.
Rasanya kakiku seperti agar-agar yang terkena guncangan. Dadaku serasa sesak. Sesuatu membuatku tak nyaman. Songjun, kau baik-baik saja kan, sayang?
Aku sampai pada gang rumahku. Rumahku terlihat cukup terang dan tampak biasa. Tapi… bukankah ini aneh? Setelah pembunuhan di rumah belakang…?
Ah, shit! Dari awal ini memang mencurigakan! Bagaimana rumah yang menjadi lokasi pembunuhan boleh ditempati? Yeah, mereka memang ingin menjebak Songjun dalam rumah itu.
Aku buru-buru menghampiri rumahku. Sadar bahwa tempat ini berbahaya, aku berjalan menyelinap dengan berjalan perlahan di pekarangan-pekarangan tetanggaku. Dan setelah sampai di depan rumahku, aku mengendap-endap dan mengintip ke dalam. Di dalam, aku melihat sesuatu yang terkapar…
Tidak, itu bukan sesuatu, tapi seseorang.
Dan orang itu adalah Donghae, dengan darah yang menggenang di sekitar tubuhnya.
Tapi di mana Songjunku?
Seketika datang Heechul yang menghampiri tubuh itu. Yesung mengekori—ternyata dia juga termasuk keparat-keparat itu!—dan seorang bertubuh tambun yang seperti kingkong kehilangan jati diri langsung menerjang tubuh Donghae…
Dan mencabik-cabik semua yang bisa ia cabik.
Wajahnya yang tadi begitu menyeramkan dan penuh napsu perlahan mulai pudar bersamaan makin kecilnya bagian-bagian tubuh Donghae. Setelah benar-benar hancur—secara harfiah, ya—kingkong itu menghela napas dan terlihat tenang. Ia memunguti semua serpihan hasil perbuatannya dan membuangnya pada pintu di dekatnya.
Pintu basement yang membuat aku dan Songjung kehilangan calon anak kami.
Aku benar-benar stres menatap pemandangan tadi. Kalau Donghae yang hanya korban cedera saja dicabik, bagaimana dengan Songjun yang jelas-jelas menjadi tujuan mereka?
Aku harus membunuh mereka!
Aku mendobrak pintu—dan aku baru menyadari tindakan yang kulakukan ini amat sangat bodoh. Heechul dan Yesung menatapku kaget. Namun, sejurus kemudian raut kaget itu berubah licik dari mata Heechul.
Yang aneh, Yesung justru tetap kaget dan tampak khawatir. Ia seakan mengisyaratkanku pergi, tapi aku malah menatap mereka tajam. Dari situ aku tahu: Yesung terpaksa melakukan ini semua.
Sial tak dapat dihindar, aku bisa merasakan seseorang di belakangku. Tubuhnya besar, menyeramkan, dan mirip kingkong keseringan ngupil (soalnya lubang hidungnya kelewat besar, men!).
“Tenyata kau,” ucap Heechul dengan senyum yang begitu menyeramkan. “Sebetulnya yang kuincar adalah istrimu yang mungil menyebalkan itu. Dia yang terlalu cepat menyadari bahwa aku adalah seorang psikopat.”
“Yeah, istriku memang pintar,” sahutku. “Dia memang wanita yang spesial.”
“Banyak mulut, khas orang-orang tak berotak,” maki Heechul dengan mata yang nyalang menatapku. Ia menegakkan tubuhnya dan memandang seseorang di belakangku. “Jongjin,” titah Heechul bagaikan raja—Raja Neraka, tentunya. “Tangkap keparat ini!”
Aku buru-buru berlari menuju pintu kamarku dan menutupnya. Aku tahu tindakanku ini pengecut banget, tapi inilah yang akan kalian lakukan jika pembunuh sadis sedang mengincar nyawa kalian. Percayalah, logika akan mengalahkan segala eksyen liar yang ada dalam khayal.
Aku meringkuk di pojok kamar. Pintu terus digedor oleh Jongjin yang berbadan besar itu. Aku menoleh menatap jendela kamarku yang terbuka. Di sana, tampaklah Yesung yang hanya berdiri. Hanya berdiri. Diam.
Bunyi gaduh dari pintu kamarku berhenti. Kini kulihat dua bayangan berdiri di depan kamarku. Hanya berdiri. Lagi-lagi…
Aku menghela napas sejenak. Kutatap Yesung yang kini mengangkat tangannya, mengacungkan pistolnya padaku. Hanya mengacungkan.
Dan sepuluh menit kemudian, mereka tetap dalam keadaannya, sedangkan aku uring-uringan tak keruan.
Ditembak sampai mati rasanya lebih melegakan daripada ini. Aku merasa seperti tikus dalam kurungan. Aku hanya bisa diam. Yesung mengacungkan pistolnya, seakan sewaktu-waktu ia bisa menembakku ketika aku bergerak. Dua orang yang berdiri di depan pintu kamarku hanya diam tanpa mendobrak apalagi bicara. Mereka seakan menginginkanku mati kelaparan. Dan semua ini benar-benar menyiksaku!
“Kenapa kalian tidak langsung tembak diriku saja???” pekikku keras. “Kalian mampu melakukan itu! Kalian bisa!”
“Lebih asyik seperti ini,” sahut Heechul tenang. “Depresi membuat seseorang tampak begitu mengenaskan. Dan cara asyik membuat orang depresi adalah dengan menunjukkn bahwa ia akan mati, hanya saja waktunya tak bisa dia tentukan. Begitulah manusia. Ketika kematian mendekat, mereka berlari. Ketika kematian itu sudah di depan mata—dan hanya di depan mata—mereka gelisah dan hanya bisa diam tanpa menemukan jalan keluar.”
Benar-benar psikopat!
Kukira ia akan membiarkanku mati di sini, tapi sepertinya tidak, karena tahu-tahu saja Jongjin mendobrak pintu di depanku, menerjangku, dan mencoba mencabik tanganku.
Inikah ajalku?
***
Cha Songjun
“Aku harus menolongnya.”
Aku berlari keluar gereja. Namun, tanganku ditahan oleh Dira. “Ada apa?”
Dira menggeleng. “Terlalu berbahaya, Songjun-ssi.”
“Tapi suamiku dalam bahaya!”
Dira terdiam sejenak. Ia akhirnya bangkit. “Kita harus meminta bantuan Sungmin. Kita bisa meminjam jalan pintas miliknya dan menyelamatkan suamimu.”
Aku dan Dira berlari ke luar gereja. Melihat sepeda listrik yang terparkir, Dira buru-buru menaiki sepeda itu dan menepuk-nepuk jok belakangnya. “Cepat naik, dan berikan kuncinya.”
Aku memberikan kuncinya dan diboceng menuju sebuah gang sempit yang agak-agak creepy. Di samping kanan dan kiri hanya ada pohon besar yang begitu menjulang dan bangunan tua yang sepertinya tak berpenghuni.
“Kita akan ke mana?”
Seakan menjawab pertanyaanku, kami sampai di sebuah tanah kosong yang penuh sampah dan hanya dipagari dengan pagar kayu lapuk. Dira turun dari sepeda dan membuka salah satu pagar kayu itu. Taraaa!!! Tanah kumuh dengan benda-benda bekas berserakan itu langsung terlihat.
“Kita lewat sini.” Dira masuk lebih dulu. Badannya yang tinggi—tidak sepertiku yang sering dihina cebol oleh suamiku sendiri—membuatnya harus menunduk.
Kami berjalan mendekati sebuah ban bekas yang sudah raput namun tetap berat. Bagaimana aku tahu benda kolot itu berat? Yap, jalan tikus itu ada di bawah ban ini.
“Kau ini payah sekali,” ejek Dira sambil menyingkirkan ban itu.
Yap, baru bertemu pun orang sudah jengkel denganku. Makanya, aku heran kenapa ada cowok idiot (re: Kyuhyun) yang berniat menikahiku.
Sebuah tingkap terlihat di bawahku. Kubuka tingkap itu, dan seekor kecoak langsung menyerang wajahku yang sudah buruk rupa. Aku hanya mengibas-ngibaskan tanganku untuk menyingkirkan kecoak itu.
“Itu hanya satu dari dua puluh spesies yang akan kita temui di jalan yang hampir setengah decade ditinggal ini.” Dira mengeluarkan senter kecil dari blazer yang dikenakannya. bergidik seram. “Aku tak pernah melupakan bagaimana aku kabur lewat sini.”
Oke, Dira sedikit hiperbolis di sini. Tidak ada dua puluh spesies. Yang ada hanya satu kodi tikus, dua lusin kecoak, setengah lusin ular, delapan gros semut, dan setengah gros cacing tanah. Dan sialnya, kami harus merangkak melewati lubang pengap ini. Mungkin hewan-hewan itu tak bermasalah. Yang bermasalah adalah Dira yang sedikit mengkeret di sampingku.
“Dira-ssi?” lirihku.
“’Ada apa?” tanyanya penasaran. “Kau sakit?”
“Kau menekan tubuhku.”
“Oh, maaf.” Dira menjauh sedikit dari tubuhku.
Kami terus merangkak hingga kepalaku menabrak tingkap di depan.
“Aku tahu cahaya senter miniku tidak begitu terang, tapi aku bahkan bisa melihat jelas tingkap itu.” Dira mendorong tingkap yang langsung mengarah pada ruangan kosong di depan.
Oke, setelah ia mengataiku payah, dia mengataiku rabun? Oh, beginilah nasib menjadi orang paling sial plus menyebalkan dot com.
Dira membantuku keluar dari jalan cacing itu. Setelah kakiku menginjak lantai di ruang kosong yang remang-remang ini, sebuah pintu di sampingku terbuka. Terlihatlah Sungmin dengan wajah kaget yang langsung berubah bersahabat. Bisa kulihat sebuah kapak tajam di tangannya dan kuda-kudanya yang siap menyerang jika ia tidak mengenal kami. “Dira-ssi, Songjun-ssi. Kukira bukan kalian.”
“Yap, kalau aku jadi kau, aku pasti langsung meleparkan minyak panas saat membuka pintu tadi,” ucapku asal.
“Kalau hal itu benar, kau mungkin tidak akan terluka oleh si psikopat dan rekan kejahatannya yang hanya ingin adiknya tenang.”
Ouch, kata-kata Sungmin menusuk hatiku. Yap, aku memang tak mungkin membanjur orang dengan minyak panas. Sepertinya jadi psikopat lumayan asyik.
“Aku sudah mengingatkan kalian bahwa kalian akan mati, tapi kalian tidak menggubris peringatanku. Aku bahkan merasa sia-sia mengirim email padamu,” keluh Sungmin padaku.
Aku meringis malu. “Aku kan tidak tahu maksudmu.”
“Iya juga sih.” Sungmin mengangguk. Ia mengisyaratkan kami untuk masuk dengan dagunya. “Kita bicarakan di dalam.”
Kami berjalan melewati pintu tadi. Sepanjang lorong menuju ruang tengah rumahnya, Sungmin terus-terusan mencuri pandang padaku. Beberapa kali aku menangkap basah dirinya yang sedang memperhatikanku. Namun, dengan cepat ia membuang muka saat mata kami bertemu. Aneh.
Di dalam rumah Sungmin yang begitu sederhana dan terkesan agak seram, aku bercerita soal awal mula pindah dan gelagat tetangga-tetangga. Sungmin mengangguk. Dan matanya melotot saat aku bicara soal Kyuhyun yang sepertinya kembali ke rumah itu.
“Aku tidak tahu kalau ada orang lain ke rumah itu,” ujar Sungmin. “Aku tadi mengecek beberapa jebakan setelah kau pergi. Soalnya, mungkin saja mereka mengira kau pergi kemari.”
“Kita harus cepat-cepat menyelamatkan suami Songjun—eh, siapa namanya? Byuhyeon?” Dira menatapku. “Atau Kyumyeon?”
“Kyuhyun,” jawabku singkat.
“Oke, Kyubyeon.”
Terserah kau saja, Dira-ssi.
Sungmin menuntunku dan Dira menuju sebuah pintu. Saat pintu itu terbuka, sebuah tangga menuju atas langsung menyambut.
“Kukira pintu depannya ada di situ.” Aku menunjuk pintu depan dengan jendela yang menampakkan rumahku.
“Itu hanya kamuflase,” sahut Sungmin sambil naik ke atas tangga. “Kita sedang ada di lantai dua bawah tanah rumahku.”
Satu lagi orang yang sakit jiwa. Yang sebelah rumah psikopat, yang depan rumah paranoid parah. Cih.
Setelah menaiki tangga, kami muncul dari lantai kayu. Dari sini aku bisa melihat pintu rumah Sungmin yang sepertinya asli. Saat aku hendak berjalan, Dira menarikku. “Ada apa?” tanyaku.
“Itu pintu yang asli.” Dira menunjuk sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat pintu keluar dengan pemandangan rumahku. Ah, rumah macam apa ini?
Berhubung aku memang agak kepo (Oke, aku kepo banget!) aku bertanya pada Sungmin. “Memangnya apa yang ada di balik pintu depan rumah palsumu itu?”
“Minimal ruangan kosong, paling parah ruangan dengan lantai pecahan beling tajam dan ruangan penuh asap arang,” jawab Sungmin enteng.
SHIT!!! Orang ini benar-benar parno tingkat ulangan kenaikan kelas menuju UN.
Kami membuka pintu rumah. Sungmin merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan pisau lipat yang begitu tajam. Dira mengeluarkan sebuah jarum yang sepertinya berisikan sebuah cairan. Sedangkan aku… aku mengeluarkan tiga keping uang koin. Entah untuk apa. (Hanya ini yang kutemukan di kantung celanaku.)
Kami berjalan mendekati rumahku. Dan saat berjalan, tiba-tiba sesuatu datang dari arah halaman rumah Heechul. Ah, itu Yesung!
“Biar aku saja,” ucap Dira sambil berjalan mendekati Yesung.
“Percayalah, aku tidak akan menyakiti kalian,” lirih Yesung sambil mengangkat tangannya.
“Omong. Kosong,” tekan Dira sambil mengarahkan jarum sekecil upil itu ke arah Yesung. “Kau berniat menjebak kami!”
Yesung menatap Dira dengan tatapan memelas. “Kau bahkan tahu aku orang baik.”
Dira seakan tersadar. Ia menurunkan tangannya. “Kau sungguh-sungguh?”
“Oh, tentu…,” jawab Yesung. Ia diam. Lalu kakinya menendang perut Dira. “… tentu tidak, maksudku!”
Dira terdorong ke belakang, namun ia buru-buru menegakkan tubuhnya. “Kalian masuklah,” kata Dira sambil memunggungi kami dan terus menatap Yesung. “Keributan ini pasti membuat orang-orang itu waspada. Jangan buat mereka berpikir membuat ide gila lainnya!”
Aku dan Sungmin mengangguk meski tahu Dira tak melihatnya. Kami masuk ke dalam rumah itu, dan seketika mataku membelalak lebar.
Kyuhyun berada dalam cekikan lengan Heechul… dengan keadaan lengan bawah kanan dan kiri yang sudah terputus dari lengan atasnya.
“Oh, Sayangku Songjun rupanya,” bisik Kyuhyun dengan napas yang terengah-engah. “Aku tak ingin istriku kemari, tapi aku juga ingin melihat wanita yang kunikahi.”
Aku terdiam melihat keadaan suamiku. Matanya merah, wajahnya basah karena keringat, dan bajunya sudah compang-camping. Dia benar-benar seperti gembel.
Satu-satunya gembel yang begitu rela dan tulus menikahi pemulung seperti diriku.
Dan kini, satu-satunya manusia yang masih bisa memujiku di atas semua kekuranganku sedang menahan sakit dengan pisau yang senekan dadanya. Kapan pun ia bisa mati. Dan aku, orang yang begitu dia harapakan, hanya bisa diam sambil menatapnya.
Tiba-tiba Jongjin muncul dari sisi kananku. Aku hendak berlari, namun Sungmin langsung menerjang Jongjin dan menusukkan pisau di perut babon itu. Pergumulan mereka terlalu heboh hingga tahu-tahu mereka hilang di balik pintu gudang.
Dan sekarang tinggal aku yang berhadapan dengan Heechul yang masih menahan suamiku.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Nada Heechul yang menantang seakan menciutkan nyaliku. Ia seolah-olah berkata, “Kau tidak bisa apa-apa sekarang!”
Namun, Tuhan seakan memberikanku sedikit pencerahan. Dengan tiba-tiba kulempar tiga koin yang ada di tanganku. Dan kerennya, satu koin mengenai mata Heechul. Saat ia meringis, aku buru-buru memungut pistol yang berada di dekat kakiku. (Aku baru sadar ada pistol di sini.)
Kuacungkan benda itu ke arah kepala Heechul. Pria itu ternyata sudah kembali ke posisi awalnya: mendekap Kyuhyun dengan lengannya dan menekan pisau di dada suamiku.
“Tembak saja aku,” pekiknya. “Aku yakin kau tak akan sanggup melakukan hal itu.”
“Tidak sanggup katamu?” sahutku pelan dan terdengar begitu percaya diri. “Kau pikir aku tak bisa? Aku tak segan-segan memecahkan kepalamu—”
“Jangan, Songjun-ah!” sela Kyuhyun sambil terengah-engah. “Istriku tak boleh menjadi pembunuh.”
“Kau masih memikirkan hal itu setelah keadaanmu seperti ini? Kau pikir aku tega melihatmu begini?!” salakku.
“Kau pikir aku tega membuat istriku menjadi pembunuh? Lebih baik aku mati daripada melihatmu berubah!”
“Kau pikir aku tega melihatmu begini?” Kini air mata jatuh dari pipiku. “Aku lebih baik menjadi pembunuh daripada melihat suamiku, orang yang kucintai, orang yang menghargaiku mati!”
“Cih, adegan picisan.” Heechul membuang ludahnya ke samping. Kini ia menatapku tajam. “Dan omong-omong, aku suka ucapanmu. Jadilah pembunuh, Songjun!”
Dan waktu seakan berhenti.
Kini, bagaikan gerakan slow motion, aku melihat Heechul menusukkan pisaunya ke jantung Kyuhyun. Suamiku membuka mulutnya, memuncratkan darah yang tak sedikit, dan akhirnya tergeletak.
Dan tanpa basa-basi lagi, aku menembak kepala Heechul berkali-kali hingga pecah.
***
Impian yang tak pernah terwujud…
“Kau mau anak perempuan?”
Kyuhyun menggeleng. Ia menatapku lekat sambil tersenyum. “Aku tidak bisa melihat kau ada dua. Aku bisa jatuh cinta pada anakku nanti.”
“Itu menjijikkan, Kyu!” Aku memukul dadanya, sedangkan ia hanya tertawa.
Musim semi di tahun 2014. Aku dan Kyuhyun sedang duduk di sofa rumah orangtua Kyuhyun dengan diriku yang berada di pangkuannya.
Mulut Kyuhyun menghampiri pipiku. Awalnya ia mengecup pipiku. Tapi lama-lama, ia menggigiti pipiku. “Hmmm, istriku ini tembam, ya?”
“Oke, aku akan diet—”
“Jangan!” potong Kyuhyun cepat. “Aku suka, kok! Aku jadi hangat saat memelukmu! Dan karena kau cebol, aku tidak keberatan kau duduk di jok depan motor.”
“Kau menyebalkan sekali!” gerutuku.
Kyuhyun memeluk pinggangku. Kini dagunya ia tumpukan di bahuku. “Aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dan dirimu. Kau begitu dewasa dengan segala kelebihanmu. Kau mandiri, pengertian, dan tak suka membebankan orang lain dengan masalahmu. Dan aku bahagia menjadi satu-satunya tempatmu menceritakan semua masalahmu.”
Aku terdiam. Aku tidak tahu kalau Kyuhyun sebegitu tahunya tentang diriku.
“Dan asal kau tahu, ya.” Kyuhyun mencium pipiku berkali-kali. “Harapanku adalah hidup denganmu, memiliki anak-anak yang sehat, tinggal di rumah kecil yang hangat, dan tua dengan menggenggam tanganmu. Kita bisa pergi ke gereja bersama anak-anak kita, menyaksikan mereka dibaptis, wisuda, hingga menikah dengan pasangannya. Itulah harapanku.”
***
Kini, pria yang itu terbujur kaku.
Aku berlutut di sampingnya, menangis karena reflekku yang lambat, menyesal telah membuatnya mati, dan marah karena ia yang meninggalkanku.
“Kyu….” Kuusap pipinya. Seketika air mataku mengalir. Pipi ini pernah menjadi tujuan bibirku mendarat. Pipi ini pernah kuhina karena teksturnya yang mirip bulan. Dan pipi itu yang pernah membuatku tergila-gila padanya.
Aku menatap potongan tangannya yang berada tak jauh dari tempatku berlutut. Tangan itu pernah menggendongku, membelaiku, dan mengusap perut berisikan calon anak kami. Dan kini… tangan itu hanya bisa terdiam dan saling menjauhi.
Aku menangis meraung-raung. Kuguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun. Aku benar-benar memalukan sekarang, tapi aku tidak peduli. Aku kehilangan suamiku.
Suami yang begitu tulus mencintaiku.
Dira sudah kembali dengan keadaan babak belur dan darah di seluruh pakaiannya, sedangkan Sungmin datang dengan tangan yang menjinjing kepala Jongjin. Mereka menghampiriku dan mencoba menenangkanku.
Tapi aku kehilangan orang yang amat kucinta. Dia yang pertama bilang bahwa aku memiliki kelebihan.
Dan kini mulut itu mulai membiru dan hanya bisa diam.
Kini semua kenangan seakan hadir dan menamparku.
Aku ingat saat pertama kali dia ingin berkenalan denganku. Ia dengan malu-malu bilang bahwa ia ingin mengantarku pulang. Dan dengan ditemani temanku yang jago taekwondo, ia akhirnya mengantarku ke rumah dengan selamat.
Aku juga ingat saat ia menembakku di taman dekat sekolah setelah dua minggu dia menjadi supirku. Aku begitu bahagia dan langsung memeluknya.
Kenangan yang menerpaku selanjutnya adalah ketika Kyuhyun berlutut di depan orangtuaku, mengatakan bahwa anak mereka, yaitu aku, telah membuatnya berkomitmen untuk menjagaku seumur hidupnya.
Dan yang terakhir adalah saat kami menikah. Bagaimana dia bilang pada teman-temannya, “Hei, aku sudah menikah, lho! Istriku cantik, kan? Dia pintar membuat cerpen dan cerita misteri! Kalian harus ngobrol dengannya setelah ini!”, bagaimana ia mengajakku berdansa meski tinggiku hanya selehernya padahal high–heels yang kukenakan sudah tinggi, dan bagaimana ia membuatku begitu nyaman dalam keluarganya.
Kyuhyun, satu-satunya manusia yang mengerti diriku sudah pergi.
Tangisanku memelan, mataku mengabur, dan akhirnya semua gelap.
***
Sebuah lorong menuju pintu
Bukan pintu ruangan seperti biasa
Ini hanya seperti fatamorgana
Di mana seakan pintu itu berisi segala cita…
            Aku berjalan di atas karpet
Panjang membentang menutupi ubin
Ubin dingin kaku seperti deretan nisan
Bertuliskan nama-nama orang…
            Jurang terjal malam sunyi
Bunyi gema langkah kaki
Desah napas yang tercekat menemani…
            Karpet itu telah berakhir
Berhenti di depan pintu
Pintu yang membuatku jatuh…
Dalam jurang…
Lagu itu adalah lagu yang terakhir Kyuhyun nyanyikan untukku. Dan kini, lagu itu sudah menjadi sebuah soundtrack drama thriller yang diambil dari cerpen buatanku.
Dira sebagai tokoh utamanya. Ternyata ia berbakat sebagai aktris. Ia cantik, putih, tinggi, dan langsing. Yap, tentu ia amat sangat cocok sebagai pemeran utama yang karakternya lemah lembut dan manis serta populer.
Aku menatap teve di depanku. Kini tak hanya frame berisikan foto-fotoku dan Kyuhyun. Di sana banyak hiasan yang begitu indah, yang selalu mengingatkanku terhadap mendingan suamiku dan si sialan Heechul itu.
Kap lampu, taplak meja, dan sarung bantal yang ada di pangkuanku terbuat dari kulit bajingan itu, sementara serpihan tangan Kyuhyun kini menjadi semacam hiasan dalam toples berisikan pengawet.
Aku masih tinggal di rumah yang kami berdua beli. Dengan Sungmin yang duduk di sampingku, dan kepala Jongjin yang ada di atas meja.
“Aku ngantuk, Sayang,” kata Sungmin sambil menguap. “Aku tidur duluan, ya!”
Aku mengangguk dan membiarkannya mencium bibirku.
Mungkin ini terlihat gila, tapi aku memang gila. Ditinggal Kyuhyun membuatku harus tinggal kurang lebih setahun di rumah sakit jiwa. Dan di sana hanya Sungmin dan Dira yang menjengukku. Keluargaku membuangku, dan keluarga Kyuhyun menganggapku wanita yang menjijikkan.
Dan mereka, orang-orang yang menghinaku itu, kini telah berubah menjadi hiasan di rumahku.
Keren, bukan?
Suara mobil terdengar dari luar. Kuintip mereka dari jendela. Ternyata orang-orang itu adalah tetangga baruku yang pindah di malam buta seperti ini.
Sungmin berdiri di belakangku. Sepertinya ia tidak jadi tidur setelah mendengar suara mobil ini. “Mereka tetangga baru kita?”
“Sepertinya,” jawabku.
“Bisa jadi dia Heechul kedua.” Sungmin mengeluarkan pisau yang selalu dibawanya. “Aku tidak bisa membiarkan orang menyakitimu, Songjun-ah.”
Aku juga tidak sabar untuk membunuh lagi.
The End
Oke, endingnya emang geje. Intinya, Songjun jadi psikopat karena pembunuhan yang ia liat dan stres mendalam ditinggal Kyuhyun, sedangkan Sungmin yang paranoid berat jatuh cinta pada Songjun dan terlalu posesif terhadap cewek itu hingga apa pun dia lakukan—termasuk membunuh siapa pun yang ia anggap atau Songjun anggap mengganggu dan mengancam. Tinggal tanpa hubungan yang jelas dan mengambil alih polisi yang berada di bawah pimpinan Heechul dulu. Tamat!
Seperti biasa… ada yang bisa nebak siapa “???” pertama dan kedua?
Bye, readers! Doakan aku sukses yeee… (meski kemampuanku cuma seujung kuku)
%d blogger menyukai ini: