You Are My Everything

0
cho kyuhyun ff nc 21
Author              : JH Mommy
Tittle                 : You Are My Everything
Category          : NC 21, Romance
Cast                  : Cho Kyuhyun, Shin Hye Hee
Other Cast      : Shim Changmin, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Choi Minho
Halo lama tak bersua ^^ It’s Me JH mommy 😀
Aku Cuma bawa ff oneshot yang garing dan ya mencoba kembali nulis cerita berbau dewasa. Jangan berharap lebih sama part NC nya karena aku gak terlalu pinter urusan begituan, maklumlah akukan masih polos. Hihihihi 😀

Oh iya aku saranin nih, sambil kalian baca ff ini akan lebih enak di temenin sama lagunya Davichi yang judulnya sama dengan FF ini. Soalnya aku terinspirasi dari lagu itu, makanya jadilah ff ini.
Oh iya hati-hati dengan flashback ya. kalau kalian bacanya teliti pasti ngerti kok. aku sengaja gak buat penjelasan tentang flashbacknya ^^
Well selamat membaca, komentar dan kritik selalu di tunggu ^^
Rasanya terlalu lelah melangkahkan kakinya, hingga Hye Hee menyeret langkahnya masuk ke dalam apartemennya, terus menyeret langkah diikuti dengan tas tangan yang juga ia seret di belakang kakinya, hingga ia masuk ke dalam kamarnya yang gelap.
Masih di gelapnya ruangan kamar, Hye Hee melepaskan tas tangan yang ia seret, lalu dengan dua langkah besar ia membuang tubuhnya ke atas tempat tidur yang mementalkan tubuhnya beberapa kali sebelum akhirnya ia bertelungkup di atas bantal besar.
Hye Hee berusaha menarik napasnya secara pelan-pelan. Ia sudah kesulitan bernapas sejak beberapa waktu terakhir. Sepertinya antara hidung dan paru-parunya tidak bisa bekerja sama untuk mendistribusikan oksigen ke dalam tubuhnya, hingga ia merasakan sesak yang begitu hebat.
“Huuufffttt…” Embusan napas besar Hye Hee keluarkan dari mulutnya, karena hidungnya tak mampu membantunya bernapas lagi. Hye Hee membalikkan badannya di atas tempat tidur, meletakkan lengan kanannya ke atas dahi dan menatap lurus langit-langit kamar yang gelap.
“Segelap hatiku saat ini,” Ia bergumam saat matanya fokus memerhatikan kamarnya yang gelap gulita. “Cho Kyuhyun kita benar-benar berakhir sekarang.” Satu tarikan napas panjang dan berat lagi, Hye Hee kembali pada ingatannya tentang pertengkaran mereka siang itu yang berakhir dengan putusnya hubungan mereka.
***
“Lima belas menit lagi aku datang, aku janji kali ini tidak akan terlambat lagi.” Panggilan itu di putuskan secara sepihak tanpa sempat ia membalas ucapan laki-laki itu.
Menarik ponsel dari telinganya, Hye Hee menatap layar persegi yang sudah berubah hitam.
Menunggu lagi
Sadar tidak ada yang bisa ia dapatkan dari menatapi layar ponselnya, ia memasukkan benda itu ke dalam tas hitam kecilnya, lalu berjalan tanpa arah menjauhi tempat awal ia menunggu Kyuhyun selama tiga puluh menit sebelum akhirnya laki-laki itu menelepon dan mengatakan akan datang lima belas menit lagi.
Setelah berjalan cukup jauh, Hye Hee menemukan sebuah bangku yang di huni beberapa orang namun masih ada ruang kosong untuk dirinya. Sebelum sampai pada bangku itu, ia menemukan pedagang es krim di dekat bangku tersebut. Setelah mengantri cukup lama, akhirnya ia mendapat es krimnya dan duduk di bangku tujuan awalnya.
Sambil menikmati es krimnya, ia melihat jam tangannya.  Lima belas menit yang di janjikan Kyuhyun sudah berlalu dua puluh menit yang lalu. Itu artinya sudah hampir satu jam dan pria itu belum juga datang. Hingga es krimnya habis Kyuhyun belum juga menunjukkan tanda-tanda kehadirannya.
“Noona, kau sedang apa?” Seorang bocah laki-laki berumur sekitar tujuh tahun bertanya pada Hye Hee.
Menoleh pada bocah laki-laki yang baru saja duduk di sebelahnya itu, Hye Hee menarik sudut bibirnya tersenyum. “Aku sedang menunggu seseorang.”
“Kau sedang menunggu pacarmu?” tebak anak itu secara langsung.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Hye Hee dengan senyuman penasaran.
“Aku sudah memerhatikanmu sejak tadi.” Telunjuk bocah itu teracung ke arah depan mereka. “Aku kemari bersama keluargaku.”
Kepala Hye Hee mengangguk, “Jadi sudah berapa lama kau memerhatikan aku?”
“Mungkin sejak kau membeli es krim, lalu duduk disini dan berulang kali melihat jam tanganmu.” Terang bocah itu dengan lancarnya.
Hye Hee tertawa malu karena aktifitasnya mendapatkan perhatian dari pengunjung taman yang lainnya. “Berarti aku sudah terlalu lama menunggu disini, sepertinya aku harus mencari tempat lain untuk menunggu.” Ujarnya sendu. Ini sudah tempat ketiga ia berpindah selama menunggu Kyuhyun, namun orang yang di tunggu belum juga datang.
“Kau akan  menunggu pacarmu dimana? Tempat ini bagian terbaik dari taman.”
Hye Hee menunduk dan merenung. Bocah laki-laki di sebelahnya ini benar, tempatnya saat ini menunggu adalah bagian terbaik dari taman, itu sebabnya bagian ini begitu ramai. Selain lebih rimbun di bandingkan bagian taman yang lainnya, di bagian taman yang ini juga terdapat danau buatan di tengahnya. Dan juga cahaya matahari yang mengarah ke daerah ini tidak terlalu terik.
“Mungkin aku akan menunggunya di pinggiran danau yang lebih luas di ujung sana,” Tangan Hye Hee menunjukka ke arah timur, ke arah tempat yang terlintas di kepalanya.
“Agar kau mudah memasukkannya ke dalam danau, begitu dia datang.” Lagi-lagi bocah itu bisa menebak isi pikiran Hye Hee.
Takjub dengan ucapan bocah itu yang menebak pikirannya dengan begitu tepat, Hye Hee tertawa senang dan bocah itu juga ikut tertawa.
“Baiklah adik kecil, terimakasih sudah menghiburku.” Hye Hee berdiri dari duduknya, menyampirkan tali panjang tasnya ke bahu. “Aku berutang hiburan darimu.”
“Aku senang bisa membantu noona.” Bocah itu berdiri di atas kursi agar bisa menyamai tinggi Hye Hee. “Kau noona yang cantik, pasti pacarmu beruntung mendapatkanmu.”
“Terimakasih juga untuk pujiannya.” Gemas dengan bocah di depannya, Hye Hee mengacak rambut anak laki-laki itu. “Sampai jumpa lain kali.” Lalu ia berjalan menjauhi bagian taman yang cukup ramai itu, mencari tempat yang lebih sepi untuk menunggu Kyuhyun.
Hye Hee berjalan sekitar sepuluh menit hingga ia sampai di pinggiran taman dan duduk kembali di kursi yang kosong. Tempat itu sepi tidak ada seorang pengunjung pun yang berada di sana, hanya Hye Hee saja. Setelah membersihkan kursi tersebut dari dedaunan yang jatuh ke atasnya, Hye Hee menyecahkan tubuhnya ke atas kursi tersebut.
“Lima belas menit.” Hye Hee tersenyum kecut saat menggumamkan kata itu. “Ini bahkan sudah lebih dari dua jam.” Tambahnya lagi.
Akhirnya penantian Hye Hee terbayar ketika Kyuhyun meneleponnya dan menanyakan keberadaanya saat ini, dan Kyuhyun muncul di depannya lima menit kemudian.
“Maafkan aku.” Kata Kyuhyun langsung menyerbu ke arah Hye Hee, memeluk gadis itu secara mendadak. “Aku sudah membuatmu menunggu lama.”
“Sangat lama.” Koreksi Hye Hee, sesak karena pelukan mendadak Kyuhyun.
Kyuhyun melepaskan pelukan mereka, “Ya sangat lama.” ujarnya membenarkan dengan wajah menyesal.
“Aku mengerti, kau pasti sibuk sekali hingga di hari libur seperti ini pun kau harus tetap bekerja.” Hye Hee tersenyum, namun senyuman menyindir pada Kyuhyun.
“Aku sedang dalam perjalanan kemari, tapi tiba-tiba saja Hyukjae menelepon dan meminta aku menjemputnya di rumah salah satu kekasihnya.”
Penjelasan Kyuhyun membuat Hye Hee diam, tidak merespons apapun. Beberapa jam yang lalu Kyuhyun mengatakan padanya bahwa laki-laki itu akan terlambat karena harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang ia dapat secara mendadak, namun saat ini penjelasan Kyuhyun berbeda. Kyuhyun membiarkannya menunggu selama hampir setengah hari demi menolong sahabatnya yang sedang terjebak dengan kekasih gelapnya. Apakah ia bisa mentolerir hal itu? Serendah itukah arti dirinya bagi Kyuhyun, hingga Kyuhyun tega membiarkan ia menunggu demi menolong sahabat laki-laki itu?
“Sayang,” Kyuhyun melambaikan telapak tangannya di wajah Hye Hee. “Kau mendengarkan aku, kan?”
Kerjapan matanya menandakan Hye Hee menyadari panggilan Kyuhyun padanya. “Bukankah kau bilang kau ada pekerjaan di kantor?”
“Ye?” Kyuhyun tercengang sebentar, lalu melanjutkan ucapannya. “Aku terpaksa berbohong padamu. Kalau aku mengatakan yang sebenarnya padamu, kau pasti akan marah.”
“Lalu apa menurutmu setelah kau mengatakan yang sebenarnya sekarang aku tidak akan marah?” Pengakuan Kyuhyun membuat jantung Hye Hee berdebar keras karena menahan emosi. Ia sudah menunggu hampir lima jam untuk laki-laki itu, tapi ternyata ia menunggu untuk sebuah kebohongan.
Hari ini ia dan Kyuhyun sudah berjanji akan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Karena aktifitas mereka yang sama-sama sibuk, mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Kyuhyun yang sibuk sebagai penerus di perusahaan  milik keluarganya, dan Hye Hee yang sibuk sebagai mahasiswa tahun terakhir membuat seluruh waktu mereka tersita dengan aktifitas mereka masing-masing.
Menghabiskan hari ini bersama sudah mereka rencanakan sejak awal minggu yang lalu, dan Kyuhyun dengan seenaknya membuat ia menghancurkan rencana itu dengan mengabaikan Hye Hee demi menolong temannya.
“Aku tahu kau akan marah, tapi setidaknya aku sudah berusaha jujur padamu.” Jawab Kyuhyun tenang, belum menyadari tanda-tanda kemarahan dari Hye Hee.
“Apa menurutmu kejujuranmu saat ini ada gunanya?” masih dengan suara yang tenang, Hye Hee menunggu jawaban Kyuhyun.
Detik itu Kyuhyun sadar Hye Hee sudah meradang marah, dan ia paham akan situasi mereka saat ini. “Aku hanya berusaha mengatakan yang sebenarnya padamu…”
“Tapi kau sudah bohong padaku.” Kata Hye Hee dengan keras hingga mampu menghentikan Kyuhyun. “Apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu? Aku sudah berulang kali berpindah tempat agar orang-orang tidak menertawakan aku karena rela menunggui kekasihnya selama ber jam-jam.”
“Aku memang bohong padamu,” Kyuhyun tetap tenang. “Tapi bukankah sekarang aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu?”
“Tetap saja kau sudah membohongiku.” Bantah Hye Hee keras. “Lima jam Cho Kyuhyun, lima jam aku menunggumu.”
Kyuhyun diam, menatap lurus pada Hye Hee yang menatap ia dengan tajam.
“Aku mencoba memahamimu. Saat kau mengatakan kau ada pekerjaan mendadak pagi ini di kantor, dan kau terpaksa terlambat datang, aku terima dan tetap menunggumu disini.” Suara Hye Hee pelan namun tetap penuh dengan ancaman. “Berulang kali kau mengulur kedatanganmu kemari, aku tetap diam dan hanya menerimanya. Aku terus menunggumu disini tanpa protes apapun, karena yang ada dalam pikiranku, kau akan segera selesai jika aku tidak mengganggumu dengan menanyakan kapan kau akan selesai dan segera datang kemari.”
“Sekarang aku sudah datang…”
“Ya kau datang setelah membuat aku menunggumu seperti kerbau dungu disini. Kerbau dungu yang sudah kau tipu demi menyelamatkan temanmu.” Ucap Hye Hee telak.
“Aku tidak mungkin membiarkan Hyukjae, sementara dia mengharapkan pertolonganku saat itu juga.”
Perkataan Kyuhyun semakin menambah panas dalam hati Hye Hee. “Berarti Hyukjae lebih penting di bandingkan aku?”
“Bu..bukan begitu… ak..a..”
“Kau tidak tega membiarkan Hyukjae, tapi kau tega membiarkan aku menunggumu?” Hye Hee tertawa dingin, menertawakan dirinya sendiri. “Benar-benar menyedihkan.”
“Aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Ya kau bermaksud seperti itu!” Hye Hee menjerit. Matanya mulai panas karena emosi. “Kau memang tidak pernah menghargai semua usahaku. Aku selalu nomor ke-sekian dalam hidupmu,”
Kyuhyun mendekatkan dirinya pada Hye Hee. “Itu tidak benar. Aku selalu menjadikan dirimu prioritasku.”
“Prioritas katamu?” Bibir Hye Hee mencibir geli tanpa humor. “Apakah dengan menjadikan aku tempat terakhir ketika kau lelah dengan semua urusanmu adalah prioritas bagimu?”
Kyuhyun diam tidak berani menjawab.
“Kau hanya ingat padaku, ketika tidak ada lagi orang yang bisa kau ajak untuk menghabiskan waktu.” Kembali nada suara Hye Hee meningkat. “Di mulai dari awal minggu kau akan sibuk dengan pekerjaanmu, lalu klub mobilmu, belum lagi waktu pertemuanmu dengan para pengusaha-pengusaha muda sepertimu, dan waktu bermainmu dengan teman-teman dekatmu. Lalu kapan kau menjadikan aku prioritasmu?”
Hye Hee menanti Kyuhyun memberikan penjelasan yang tak kunjung di ucapkan oleh laki-laki itu.
“Selama ini aku berusaha memahami, Kyuhyun-ah.” Ucap Hye Hee pelan nyaris berbisik. “Tapi hari ini aku rasa aku tidak bisa lagi memahamimu.”
“Jangan seperti itu,” Kesabaran Kyuhyun mulai tergerus. “Aku terpaksa berbohong agar kau tidak membatalkan pertemuan kita hari ini, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Hyukjae di pukuli oleh suami kekasihnya.”
“Bagaimana kalau sekarang aku tetap ingin membatalkan pertemuan kita?”
“Shin Hye Hee!” Kyuhyun  menaikkan intonasi suaranya. “Dengarkan dulu penjelasanku.” Napas Kyuhyun memburu karena marah. “Aku berada di situasi yang terjepit. Ketika Hyukjae meminta bantuanku, aku sudah berusaha menolaknya, dan meminta ia mencari bantuan dari yang lainnya. Tapi tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya selain aku saat itu.” Meskipun marah Kyuhyun tetap berusaha tenang menjelaskan pada Hye Hee. “Sebelum aku sampai untuk menolongnya, Hyukjae sudah di bawa ke kantor polisi oleh suami kekasihnya, aku terpaksa memutar mobilku ke kantor polisi untuk mengeluarkannya, dan kau tahu bukan perkara mudah mengeluarkan bajingan seperti Hyukjae dari kantor polisi.”
“Sudah selesai?” Tanya Hye Hee tidak tertarik dengan penjelasan Kyuhyun. Ia sudah lelah menjadi orang terakhir yang di ingat Kyuhyun. Hye Hee merasa tidak ada gunanya ia mendengarkan apapun penjelasan Kyuhyun.
“Aku tahu kau tidak ingin mendengarkan apapun penjelasanku.” Kyuhyun membuang napasnya, lelah dengan pertengkaran mereka. Baru saja bertemu, bukannya saling melepaskan rindu, mereka malah bertengkar. “Tapi aku sudah berusaha mengatakan sejujurnya padamu.”
“Kejujuran yang terlambat, Cho Kyuhyun.” Tatapan Hye Hee melembut, namun tetap tidak bersahabat. “Aku sudah tidak membutuhkannya.” Hye Hee membenarkan letak tali tasnya, lalu bangkit meninggalkan Kyuhyun.
“Kau tidak bisa pergi begitu saja.” Kyuhyun menangkap tangan Hye He ketika gadis itu akan berbalik.
“Aku bisa melakukan apapun sesukaku, dan kau tidak bisa mencegahku.” Tukas Hye Hee sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun.
Kyuhyun berdiri masih dengan menahan lengan Hye Hee. “Ya aku bisa mencegahmu.” Genggaman Kyuhyun mengencang. “Kau tidak akan bisa pergi tanpa izinku.”
“Kau bukan siapa-siapa, jadi kau tidak bisa menahanku untuk pergi.” Kembali Hye Hee menggoyangkan lengannya kuat agar terlepas dari genggaman Kyuhyun.
“Aku masih kekasihmu, Shin Hye Hee-ssi.” Ucap Kyuhyun jelas di depan wajah Hye Hee. bibir pria itu menipis marah. “Aku mohon jangan seperti ini.”
Wajah memohon Kyuhyun membuat sedikit kemarahan Hye Hee luruh, namun hal itu tidak berlangsung lama. Baru saja ketegangan di antara mereka sedikit mereda, ponsel Kyuhyun berdering. Kyuhyun memutar wajahnya mengangkat panggilan tersebut tanpa melepaskan genggamannya pada Hye Hee.
“Changmin-ah.” Jawab Kyuhyun pada si pemanggil. Ia diam menyimak ucapan Changmin padanya di telepon. “Apa tidak bisa kau saja yang menyelesaikannya? aku benar-benar tidak bisa. Kau bisa meminta Donghae atau Minho untuk datang membantumu meyakinkan para polisi itu bahwa Hyukjae tidak akan melakukan hal yang sama lagi.”
Mendengarkan obrolan sepihak Kyuhyun di telepon, Hye Hee tahu pria itu akan kembali meninggalkannya dan kembali pada teman-temannya. Kegetiran kembali melanda Hye Hee. sekarang ia tahu, bahwa ia dan Kyuhyun benar-benar tidak akan pernah sejalan. Hal ini sudah terlalu sering terjadi, dan ia tidak akan bisa lagi menerimanya. Ia lelah dengan hubungan mereka yang selalu saja seperti ini.
Ketika Kyuhyun selesai dengan Changmin di telepon dan  berbalik menatap Hye Hee, gadis itu sudah tersenyum padanya. Namun bukan senyuman hangat yang di tunjukkan Hye Hee, melainkan senyuman perih yang membuat ia lemas saat itu juga.
“Sebaiknya kau urus saja teman-temanmu.” Hye Hee menarik tangannya dengan mudah dari genggaman Kyuhyun. “Kita selesai Cho Kyuhyun, selamat tinggal.”
“Hye Hee-ya….” Kyuhyun berusaha mengejar Hye Hee, menahan gadis itu untuk tidak meninggalkannya.
Hye Hee berhenti dan berbalik ke arah Kyuhyun. Segaris cairan bening membayang di pipinya, dan gadis itu tersenyum lebar. Senyum perpisahan. “Kali ini kita benar-benar berakhir.” Ucapnya, mengangguk pada Kyuhyun, lalu berbalik kembali untuk meneruskan langkahnya menjauh dari Kyuhyun.
Sementara Kyuhyun ia hanya bisa berdiri mematung di tempatnya, menatap Hye Hee yang terus menjauh dari pandangannya.
***
“Cho Kyuhyun, bangun.” Changmin menepuk-nepuk pipi Kyuhyun, membangunkan pria itu dari tidurnya setelah mabuk sepanjang malam. “Ya… bangun. Sekarang sudah hampir tengah hari, apa kau tidak akan ke kantor?”
“Kau ini sebenarnya kenapa?” Changmin menggosok hidungnya, merasa terganggu dengan bau alkohol di ruangan televisi apartemen Kyuhyun. “Sudah tiga hari kau terus mabuk-mabukan seperti ini.” Changmin menarik Kyuhyun untuk duduk, namun begitu ia melepaskan pegangannya, Kyuhyun kembali tertidur di atas sofa empuknya.
“Cho Kyuhyun.” Teriak Changmin frustasi karena Kyuhyun tidak juga merespons ucapannya.
“Shim Changmin kau berisik sekali.” Kyuhyun mendengus tanpa membuka matanya. “Pergilah, aku masih mengantuk.” Kyuhyun menggerakkan tangannya agar Changmin meninggalkannya.
Changmin mengambil gelas kosong bekas minuman Kyuhyun, dan mengernyitkan hidungnya karena bau alkohol yang begitu menusuk. “Aku akan pergi kalau kau sudah bangun dan bersiap menghadiri rapat peluncuran produk baru kita bodoh.”
“Aku tidak akan pergi kemanapun.” Tukas Kyuhyun dalam geraman pelan.
“Lalu kau akan membiarkan perusahaanmu bangkrut?”
“Pergilah.” Kyuhyun menggerakkan tangannya kuat untuk mengusir Changmin, lalu memutar tubuhnya untuk membelakangi Changmin.
“Sudah kubilang aku tidak akan pergi sampai kau bangun,” Changmin berkeras. “Ya bangun.” Takut dengan serangan Kyuhyun Changmin menendang kaki Kyuhyun dengan kaki panjangnya. “Apa aku perlu menelepon Hye Hee untuk membangunkanmu?” Tanya Changmin namun Kyuhyun tidak terpengaruh sama sekali. Biasanya setiap kali ia mengancam dengan menyebut nama Hye Hee Kyuhyun akan segera bereaksi. “Baiklah aku akan menelepon Hye Hee. “ Changmin mengeluarkan ponselnya, dan langsung menelepon Hye Hee.
“Hye Hee-ya.”
Refleks Kyuhyun bekerja begitu Changmin menyebut nama Hye Hee dengan riangnya. Ia bangun merebut ponsel Changmin lalu memutuskan panggilan tersebut sebelum Changmin berbicara panjang lebar pada Hye Hee tentang dirinya.
“Apa yang kau lakukan?” Kata Kyuhyun marah, tangannya menggenggam ponsel Changmin erat.
“Apa yang kulakukan?” Changmin bertanya tanpa rasa bersalah. “Aku baru saja menelepon kekasihmu, memintanya untuk membangunkanmu.”
Kyuhyun tidak tahu kenapa ia marah ketika Changmin menelepon Hye Hee, tapi perasaan itu begitu saja menguasainya. “Kau  tidak perlu menghubunginya lagi.” Ujarnya lalu mencampakkan ponsel Changmin yang dengan sigap di tangkap oleh laki-laki itu sebelum ponselnya menghantam lantai.
“Kenapa?”
Kyuhyun bangun seperti keinginan Changmin, tanpa perlu repot-repot menjawab pertanyaan laki-laki itu ia berjalan ke arah kamarnya. Sebelum benar-benar jauh dari Changmin Kyuhyun berhenti untuk menjawab pertanyaan Changmin. “Karena kami sudah berakhir.” Ujarnya pelan namun masih mampu di dengar oleh Changmin.
***
Hidup akan terus berjalan meskipun beberapa hal penting dalam hidup harus di lepaskan. Itulah yang saat ini tengah Hye Hee lakoni. Meskipun hubungannya dengan Kyuhyun sudah kandas sejak tiga hari yang lalu, ia tetap menjalankan hidupnya seperti yang biasa ia lakukan.
Tidak ada waktu untuknya meratapi nasib percintaannya yang kandas setelah menjalani kebersaamaan selama tiga tahun. Ia dan Kyuhyun bertemu di tahun kedua Hye Hee sebagai mahasiswi bisnis di Kyunghee University. Saat itu Kyuhyun sudah berada di tahun terakhir di jurusan yang sama. Setelah pendekatan yang tidak lama mereka berpacaran.
Setelah lulus Kyuhyun langsung di percayakan oleh ayahnya untuk memimpin perusahaan keluarga mereka. Percintaan antara pengusaha muda yang sibuk dan pelajar bukanlah sesuatu yang mudah untuk mereka jalani. Namun mereka sukses menjalaninya hingga jalinan kasih mereka bisa bertahan selama tiga tahun.
Namun selama tiga tahun itu, tidak terhitung berapa banyak pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Setiap bertengkar maka kata putus akan terlontar dari salah satu mereka, tapi hal itu tidak akan berlangsung lama. Dalam hitungan jam mereka akan kembali bersama, dan melupakan pertengkaran sebelumnya.
Tapi kali ini Hye Hee sudah bertekad bahwa ia akan benar-benar lepas dari seorang Cho Kyuhyun. Ia tidak mau lagi memperbaiki hubungan mereka. Ia lelah terus menerus mengalah pada perasaanya.
Tidak terpengaruh dengan perasaannya yang masih terombang-ambing pada keputusannya, Hye Hee tetap mengerjakan tugas akhirnya dengan serius. Sore ini ia duduk di perpustakaan seorang diri untuk menyelesaikan tugas akhirnya.
“Jangan terlalu serius.” Seorang gadis datang menghampiri Hye Hee, meletakkan gelas transparan yang berisi cairan berwarna merah di samping tangan kanan Hye Hee.
Kepala Hye Hee mendongak menatap gadis yang baru saja datang itu. “Jung Eun-Ah.”
“Itu pesananmu.” Jung Eun menunjuk minuman itu dengan wajahnya.
“Thankyou.” Ucap Hye Hee lalu menyeruput minumannya dengan semangat dan kembali fokus pada layar laptopnya.
“Sudah berapa lama kau disini?” Jung Eun memerhatikan sekitar perpustakaan yang sepi, dan ia baru menyadari bahwa sejak tadi Hye Hee seorang diri sebelum ia datang.
“Entahlah, mungkin sejak tadi pagi.”Jawab Hye Hee asal, matanya menatap dengan teliti deretan angka dan huruf di layar laptopnya.
“Aku rasa sebaiknya kau pulang sekarang.” Jung Eun memberitahukan. “Kau tidak sadar hanya kau sendiri yang disini.”
Hye Hee melihat pada Jung Eun sekilas, dan melayangkan sebentar bola matanya pada ruangan perpustakaan yang kosong. “Masih ada kau dan penjaga perpustakaan.” Jawabnya dan kembali pada layar laptopnya.
“Aku yakin pengurus perpustakaan itu juga sudah ingin pulang.” Jung Eun berbisik pada Hye Hee, agar pengurus perpustakaan tidak mendengar ucapannya.
Hye Hee berdecak karena merasa terganggu. “Sekarang belum waktunya dia pulang.” Hye Hee menunjuk jam di layar laptonya. “Lihat sekarang masih jam lima sore, perpustakaan baru akan tutup jam enam sore nanti.”
“Jadi kau berencana akan pulang saat perpustakaan ini akan di tutup?”
Hye Hee menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Jung Eun. “Sekarang diamlah, waktuku hanya tinggal satu jam lagi.”
“Kau bisa melanjutkannya di rumah.” Jung Eun tidak putus asa membujuk Hye Hee untuk segera pulang. “Kau tidak kasihan pada matamu, kau sudah memaksa matamu bekerja berlebihan dengan menatap layar komputer sehari penuh.”
“Kalau aku tidak memaksa mataku bekerja keras, aku tidak akan bisa menyelesaikan tugas akhirku. Dan kalau tugas akhirku tidak selesai, maka aku tidak akan bisa lulus….” Hye Hee menarik napas dalam. “Lagi.” Ujarnya melengkapi kalimatnya. “Ini sudah tahun kelimaku Kang Jung Eun, kau sendiri sudah lulus sejak setahun yang lalu.”
“Baiklah aku mengalah.” Jung Eun mengangkat tangannya menyerah. “Lanjutkan pekerjaanmu.”
“Terimakasih atas pengertianmu.” Hye Hee tersenyum masam pada Jung Eun, karena gadis itu sudah membuang lima menitnya yang berharga. Hye Hee sudah bertekad untuk menyelesaikan pendidikannya tahun ini juga. Ia tidak mau lagi menunda seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ia bisa saja lulus di tahun ketiganya, karena Hye Hee sama sekali tidak menemukan kesulitan selama ia menjalani pendidikannya. Alasan kenapa ia bisa sampai di tahun kelima adalah, karena ia menyia-nyiakan dua tahun hanya untuk bersenang-senang bersama Kyuhyun.
Hye Hee selalu ikut kemanapun Kyuhyun pergi. Setiap kali Kyuhyun melakukan perjalanan bisnis keluar kota ataupun keluar negeri ia selalu mendampingi laki-laki itu, seperti yang selalu di minta Kyuhyun. Tentu saja hal itu mengganggu kuliahnya, dan hal itu yang membuat ia bisa sampai pada tahun kelima kuliah, hingga ia harus merelakan teman-temannya lulus lebih dulu di bandingkan dirinya.
“Biasanya kau bersama Kyuhyun.” Jung Eun kembali bersuara, membuat Hye Hee tersentak kaget. “Apa hari ini Kyuhyun sedang sibuk? Atau dia sedang rapat keluar kota?”
Jemari Hye Hee berhenti bergerak di atas keyboard laptopnya. Jung Eun membuat ia kembali memikirkan Kyuhyun. Semenjak Hye Hee memutuskan untuk kembali serius menekuni kuliah dan menyelesaikan tugas akhirnya, Kyuhyun selalu ada membantunya. Jika ia harus menghabiskan waktu sampai sore di perpustakaan hari ini, Kyuhyun akan menyempatkan waktu untuk menemaninya, tapi kali ini tidak ada Kyuhyun disini untuk membantu dan menemaninya.
“Kyuhyun….” Hye Hee berat saat mengucapkan nama itu. “Dia sedang sibuk.”
“Ohh, pantas saja.” Jung Eun menerima jawaban Hye Hee begitu saja dan diam kembali.
Pikiran Hye Hee menjadi terbelah. Ia tidak bisa lagi kembali untuk melanjutkan tugasnya. Bayangan Kyuhyun yang menemani dan  membantunya kembali menyambangi inderanya. Hye Hee menyimpan datanya, lalu mematikan komputer lipatnya dan membereskan buku-bukunya. “Jung Eun-ah, ayo kita pulang.”
“Bukankah kau bilang akan pulang setelah perpustakaanya di tutup?” Tanya Jung Eun tidak mengerti dengan Hye Hee yang tiba-tiba saja mengajaknya pulang.
“Aku berubah pikiran.” Jawab Hye Hee dan pergi dengan segera dari perpustakaan meninggalkan Jung Eun yang belum sadar dengan tindakannya yang sangat mendadak.
***
Laki-Laki itu tersenyum begitu kedua indera penglihatannya menangkap gambaran kekasihnya yang tengah mematung di depan layar yang menyala. Kyuhyun melangkah ringan mendekati gadis itu, lalu menopangkan kedua tangannya di depan kekasih yang tidak menyadari kedatangannya membuat gadis itu bergerak mundur karena terkejut.
“Apa yang sedang kau lamunkan?” Tanyanya, menyungingkan senyuman panjang yang manis.
“Kau membuatku terkejut.” Hye Hee mengembus napasnya, sambil mengelus dadanya.
“Kau saja yang terlalu serius melamun.” Kyuhyun menarik tangannya dari atas meja, berjalan mengitari meja lalu duduk di sebelah Hye Hee. “Ada masalah?”
Leher Hye Hee bergerak menganggukkan kepalanya. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang salah dengan hasil penelitianku. Hasil yang aku dapatkan dari lapangan tidak sesuai dengan jumlah yang aku buat disini.” Hye Hee menunjuk layar laptonya. “Aku sudah berulang kali mencobanya tetap saja tidak sesuai.” Wajah Hye Hee kusut benar-benar menggambarkan pikirannya saat ini.
“Coba kulihat.” Kyuhyun tersenyum, terhibur dengan wajah kusut Hye Hee. “Dan kau nona manis perhatikan apa yang aku lakukan untuk membantumu.” Kyuhyun menjawil ujung hidung Hye Hee, lalu mengacak rambut gadis itu.
Hye Hee menjatuhkan kepalanya ke bahu Kyuhyun, sementara laki-laki itu mengambil alih komputernya dan mengerjakan laporan tugas akhirnya yang tidak bisa ia selesaikan. Lima menit kemudian Kyuhyun tersenyum puas.
“Lihat aku bisa mengatasinya.” Kepala Kyuhyun menoleh pada Hye Hee yang masih bersandar manja di bahunya. “Hasil yang ada di sini sudah sama dengan hasil penelitianmu.”
“Benarkah?” Tanya Hye Hee tanpa minat. Ia terus bersandar di bahu Kyuhyun, dan melihat layar laptopnya tidak tertarik.
Kyuhyun menarik tubuhnya menjauh hingga kepala Hye Hee terjatuh dari bahunya. “Ya aku sudah membantumu, tapi kau sepertinya tidak senang.”
“Aku senang.” Jawab Hye Hee sekadarnya. Hye Hee menyanggah kepalanya dengan tangan yang ia topangkan ke atas meja menatap ke arah Kyuhyun. “Apa kau tidak bisa melihat wajah bahagiaku?” ujarnya tersenyum misterius.
“Tidak.” Jawab Kyuhyun datar. “Dan kenapa kau tersenyum?”
“Aku tersenyum karena aku senang.”
“Tapi itu bukan jenis senyuman seseorang yang sedang senang.” Kepala Kyuhyun bergeser sedikit ke arah samping, ia mulai mencurigai sesuatu.
Hye Hee menarik kepalanya, lalu mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun masih dengan senyuman misteriusnya. “Masih belum terlihat senang?”
Lama Kyuhyun menyadari arti tatapan gadis itu, dan akhirnya ia menyadarinya. “Jadi kau menipuku nona.” Bisiknya di depan bibir Hye Hee. “Kau sengaja membuatku mengerjakan data itu, padahal kau sendiri tahu bagaimana cara mengerjakannya.”
Hye Hee mengangguk, wajahnya puas karena Kyuhyun bisa menangkap maksud tersembunyi dari senyumannya. “Aku butuh kepintaranmu.” Saat Kyuhyun datang dan mengejutkannya, Hye Hee sudah menemukan kesalahan yang ia buat pada datanya. Namun karena Kyuhyun datang dan membuatnya terkejut ia bermaksud membalas laki-laki itu.
“Dalam hal?” Pancing Kyuhyun, salah satu alisnya terangkat menantang.
“Apapun.” Ucap Hye Hee sudut bibir Kyuhyun.
“Kalau begitu akan aku tunjukkan salah satunya.” Menggerakkan wajahnya sedikit saja, Kyuhyun melumat bibir Hye Hee yang sudah berada di depan bibirnya. Kyuhyun menangkup wajah Hye Hee, menekankan bibir gadis  itu ke bibirnya dan melumatnya dalam kelembutan yang lambat dan hangat.
“Apa yang ini sudah cukup?” Tanya Kyuhyun setelah melepaskan ciumannya. “Atau kau ingin yang lainnya?” tatapan Kyuhyun penuh dengan kemenangan.
“Aku butuh yang lainnya.” Ujar Hye Hee semakin menantang. Kedua mata itu beradu saling menyalurkan keinginan mereka.
“Kalau begitu kita butuh tempat yang lebih privasi.” Kedipan mata Kyuhyun menjelaskan bahwa Hye Hee akan segera mendapatkan apapun yang menjadi keinginan gadis itu.
***
Kyuhyun memaksakan paru-parunya untuk mengembang agar ia bisa menarik udara lebih banyak lagi. Bayang-bayang hari bahagianya dengan Hye Hee kembali mengisi kepalanya. Ia tidak bisa melepaskan kenangan indah itu begitu saja, karena kenangan itu terlalu manis baginya untuk di lepaskan begitu saja.
“Kalian tidak benar-benar berpisah ‘kan?”
Kyuhyun menoleh pada salah satu dari empat laki-laki yang duduk di sofa ruangan kantornya.
“Aku yakin sebentar lagi kalian akan berbaikan, dan bertingkah seperti tidak pernah terjadi apapun di antara kalian.”
Kalimat Hyukjae membuat Kyuhyun melihat lebih jelas ke arah laki-laki itu. Seandainya laki-laki ini tahu bahwa salah satu penyebab hancurnya hubungannya dengan Hye Hee karena ulahnya, apakah Hyukjae masih berani menampakkan wujudnya di sini, ucap Kyuhyun di dalam hatinya.
Kyuhyun berdeham pelan sebelum berujar. “Kali ini kami tidak akan kembali lagi.”
“Kau serius?” Timpal Donghae dari sebelah Changmin.
“Ini sudah hari ke empat kami berpisah.” Kata Kyuhyun. Sebenarnya ia tidak berminat membahas masalahnya lagi dengan Hye Hee, hanya menimbulkan luka baginya. “Sebelumnya kami tidak pernah bertengkar selama ini.”
“Apa kau sudah mencoba untuk menelepon atau mengirimi Hye Hee pesan?” Minho menyalurkan pemikirannya.
“Tidak ada gunanya, dia tidak akan mau.” Kyuhyun segera mengangkat telapak tangannya, mencegah siapapun untuk berbicara. “Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi.” Tutupnya. “Lebih baik kalau kita pergi dari sini dan menghabiskan malam di club.” Kyuhyun berdiri lebih dulu untuk memimpin teman-temannya pergi ke tempat yang ia katakan.
***
“Sayang ayolah aku hanya bercanda.” Kyuhyun terus berusaha meredakan kemarahan Hye Hee padanya.
“Dan bercandamu tidak lucu.” Balas Hye Hee ketus, lalu membuang wajahnya ke kaca mobil. Ia tidak ingin melihat wajah Kyuhyun yang saat ini sangat menyebalkan menurutnya.
“Aku hanya ingin melihat reaksimu.” Kyuhyun mencoba menarik tangan Hye Hee agar gadis itu  mau melihat kepadanya, namun Hye Hee berkeras tidak ingin menoleh padanya. “Aku penasaran bagaimana reaksimu kalau aku mendapatkan musibah di depanmu.”
“Tapi tidak dengan cara berpura-pura tertabrak di depan teman-temanku!” Akhirnya Hye Hee menoleh untuk menghardik Kyuhyun. “Kau tidak melihat mereka menertawakan aku, karena aku berlari dari tangga kampus sampai ke parkiran untuk melihat kondisimu. Aku pikir kau benar-benar tertabrak saat menungguku.”
Bukannya menyesal Kyuhyun malah tertawa yang menyebabkan Hye Hee semakin berang padanya. “Ide itu terlintas begitu saja di kepalaku, dan kebetulan ada temanmu yang mau di ajak bekerjasama.” Katanya sambil terkekeh.
“Terus saja tertawakan aku.” Tukas Hye Hee benar-benar marah, membuang wajahnya kembali menatap kaca mobil.
“Aku minta maaf.” Kyuhyun menghentikan tawanya, namun tidak bisa benar-benar berhenti, sudut bibirnya tetap tertarik untuk tertawa namun ia tahan. “Aku hanya merasa senang begitu melihat reaksimu. Itu artinya kau benar-benar peduli padaku.”
“Jadi menurutmu selama ini aku tidak peduli padamu?” Menoleh lagi Hye Hee mendapati wajah Kyuhyun yang menahan tawa, mengesalkan sekali.
“Tentu saja kau peduli, tapi tidak ada salahnya mencoba hal yang baru untuk membuktikan kepedulianmu.” Kyuhyun menutup mulutnya karena tidak bisa menahan tawanya. Wajah kesal Hye Hee, dan kejadian di kampus tadi tidak bisa membuat ia berhenti tertawa.
“Terserah apa katamu.” Kali ini Hye Hee benar-benar tidak mau lagi menolehkan wajahnya untuk melihat Kyuhyun yang masih terus menertawakannya. Kyuhyun benar-benar menguji mental dan kesabarannya hari ini.
Ia tahu kalau Kyuhyun akan menjemputnya hari ini di kampus. Tapi ia benar-benar tidak tahu dengan rencana nakal yang di susun oleh laki-laki itu. Ia baru saja keluar dari depan ruangan kelasnya dan berjalan ke arah keluar gedung kampus, saat tiba-tiba seorang juniornya mendatanginya dengan napas tersengal-tersengal dan mengatakan padanya bahwa Kyuhyun tertabrak mobil lain saat menunggunya.
Kontan hal itu membuat jantung Hye Hee seperti meluncur dari rongga dadanya. Seperti kehilangan kendali dirinya, Hye Hee berlari menuju parkiran sambil menjeritkan nama Kyuhyun. Dan begitu ia sampai diparkiran kampus, yang di dapatinya berbeda dengan yang ada di dalam bayangannya.
Bayangannya Kyuhyun tergeletak tak sadarkan diri dan bersimbah darah, namun saat  sampai di parkiran ia mendapati Kyuhyun berdiri setengah bersandar di body mobilnya, dengan kedua tangan terentang menantinya. Lalu setelah itu seluruh orang yang ada disana bertepuk tangan karena ke suksesan Kyuhyun yang berhasil mengerjai dirinya dan juga menertawakan dirinya yang sudah masuk dalam perangkap Kyuhyun.
“Hye Hee-ya…” Kyuhyun memanggil nama Hye Hee lembut namun tidak di gubris oleh gadis itu. “Jangan cemberut terus.” Kyuhyun menggoda Hye Hee dengan menarik-narik lengan gadis itu namun tidak berhasil.
Jalanan di depan mereka padat di karenakan lampu jalanan sedang berwarna merah yang mengharuskan setiap pengendara harus berhenti.
“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Karena kelihatannya Hye Hee benar-benar marah padanya, Kyuhyun akhirnya bisa berhenti tertawa.
“Aku tidak peduli.”
“Sayang…” Bujuk Kyuhyun dengan nada andalannya ketika meredakan kemarahan Hye Hee, namun tidak berhasil. Untuk memancing perhatian Hye Hee, Kyuhyun menyalakan musik dengan volume penuh, hingga mobil mereka bergetar saking kencangnya suara musik tersebut.
Tapi sepertinya Hye Hee tidak terpengaruh dengan hal itu.
Kyuhyun menemukan kacamata hitam miliknya di dalam dashboard dan langsung memakainya. “Bagaimana, apa aku terlihat tampan saat memakai ini?” Tanyanya dengan meletakkan wajahnya di hadapan Hye Hee yang masih saja melihat pada kaca mobil. Hal itu membuat Hye Hee menjauhkan wajahnya dari laki-laki itu.
Kyuhyun mendesah kecewa karena usahanya tidak berhasil menarik perhatian Hye Hee. Jalanan di depannya masih padat karena lampu lalu lintas belum berubah warna. Kyuhyun memerhatikan seluruh kendaraan di dekatnya. Ada mobil, sepeda motor bahkan ada pejalan kaki.
Entah karena hal apa, tiba-tiba saja Kyuhyun menemukan hal konyol di dalam kepalanya. Ia kembali mengenakan kacamata hitam yang tadi sudah ia lepaskan. Kyuhyun menukar-nukar saluran radio hingga ia menemukan saluran radio yang sedang memutar lagu tradisonal, dan setelah itu menurunkan kaca mobil di sisi Hye Hee.
Kesal karena kacanya di turunkan, Hye Hee menoleh dengan wajah berkerut pada Kyuhyun. Dan begitu gadis itu menoleh padanya, Kyuhyun mengencangkan volume lagu tradisional yang sedang diputar di radio, lalu pria itu menggoyangkan badan dan kedua tangan dengan ibu jari yang mengarah ke atas. Kyuhyun bergoyang-goyang dan bernyanyi tidak  memedulikan orang di luar melihat ke dalam mobil mereka dari kaca mobil Hye Hee yang diturunkan.
Kyuhyun hanya menggerakkan dahinya ketika Hye Hee akan memprotes tindakannya.
“Haraboji aku sedang merayu kekasihku yang sedang marah padaku.” Kyuhyun berteriak pada seorang kakek yang tertawa lucu melihat tingkah konyol Kyuhyun. “Aku tidak akan berhenti sebelum dia tidak marah lagi padaku.” Kyuhyun terus bergoyang, dan tersenyum konyol dengan kacamata hitamnya.
Gigihnya usaha Kyuhyun dan konyolnya tingkah laki-laki itu akhirnya mampu memancing Hye Hee untuk tersenyum dan akhirnya tertawa kencang. “Ya hentikan.” Katanya menahan malu karena saat ini perhatian pengguna jalan terfokus kepada mereka.
“Aku akan berhenti  kalau kau tidak marah lagi.” Kata Kyuhyun tidak mau berhenti bergoyang dan lanjut bernyanyi.
“Aku sudah tidak marah.” Kali ini Hye Hee yang tidak bisa berhenti tertawa. Selain malu ia juga tidak tahan melihat aksi konyol Kyuhyun.
“Kau yakin?”
“Iya aku sudah tidak marah.” Hye Hee memastikan. “Sekarang naikkan kaca mobilnya dan hentikan aksi bodohmu ini.”
Percaya dengan ucapan Hye Hee, Kyuhyun berteriak lagi pada kakek yang masih terus melihat kepada mereka dengan tertawa. “Haraboji aku berhasil, kekasihku sudah tidak marah lagi.” Teriaknya penuh kemenangan, lalu Kyuhyun menaikkan kaca mobil di sisi Hye Hee, mematikan siaran radio dan melepaskan kacamatanya. “Kau benar-benar sudah tidak marah ‘kan?”
Hye Hee mengangguk. “Tapi aku tidak mau kau mengulangi kejadian seperti di kampus tadi.”
“Tidak akan, aku janji.” Kyuhyun menaikkan dua jarinya bersumpah lalu mengecup bibir Hye Hee cepat dan ciuman itu berakhir karena suara kelakson mobil di belakang mereka.
 ***
Tiiinnnnnnn
Jeritan suara kelakson mobil di belakang mobilnya membuat Hye Hee tertarik secara paksa dari salah satu kenangan manisnya dengan Kyuhyun.
“Shit!” Umpatnya setelah menyadari lampu lalu lintas yang sudah berubah warna entah sejak kapan. Hye Hee menjalankan mobilnya karena para pengemudi di belakangnya terus mendesaknya dengan suara kelakson yang keras.
“Kenapa aku harus mengingatnya lagi?” sambil menggerutu Hye Hee menjalankan mobilnya dan meninggalkan ingatannya tentang Kyuhyun yang selalu punya ide untuk membujuknya tapi sepertinya kali ini laki-laki itu tidak lagi ingin  melakukan hal seperti itu padanya.
***
Hye Hee bersandar pada kusen jendela, menatap langit sore Verona melalui jendela hotelnya menginap saat ini. Gaun merah cerahnya masih membalut tubuh langsingnya, karena ia baru saja selesai menemani Kyuhyun menghadiri pertemuan para pengusaha yang sedang mengumpulkan dana untuk misi kemanusiaan. Acara amal tahunan yang selalu di lakukan di
Negara yang berbeda tiap tahunnya. Dan tahun ini Verona salah satu kota di Itali yang  menjadi tuan rumah untuk acara amal tersebut.
Semakin lama bias-bias cahaya matahari semakin menghilang, karena matahari semakin tenggelam ke balik awan, menyisakan warna jingga yang sebentar lagi juga akan hilang dan berganti menjadi hitam.
Kehadiran Kyuhyun di dalam kamar membuat Hye Hee tersenyum tanpa menoleh pada laki-laki itu. ia memang lebih dulu masuk ke dalam kamar hotel mereka meninggalkan Kyuhyun yang masih sibuk berbicara dengan rekan bisnisnya.
“Cantik.” Bisik Kyuhyun begitu ia memeluk punggung terbuka Hye Hee.
“Benar-benar langit  kota yang cantik.” Hye Hee menimpali dengan desahan lembut. Hye Hee menjauhkan jangkauan pandangannya pada bukit-bukit yang juga tampak kuning jingga karena pendaran matahari sore.
Kyuhyun menciumi punggung mulus Hye Hee, “Langitnya memang cantik, tapi kau jauh lebih cantik.”
“Benarkah? Aku benar-benar menyukai kota ini.” Mengeliat Hye Hee berusaha menjauhkan Kyuhyun dari bahunya yang terus saja jadi sasaran ciuman pria itu. “Kota yang indah dan tidak terlalu ramai.”
“Kita akan disini selama yang kau mau.” Gumam Kyuhyun terus menciumi punggung Hye Hee meskipun gadis itu sudah memberikan tanda untuk berhenti.
“Apa kau tahu kalau kisah Romeo dan Juliet di mulai di kota ini?”
Kyuhyun berhenti minciumi punggung Hye Hee. Menaikkan wajahnya ke atas, Kyuhyun menarik Hye Hee agar menempel ke dadanya. “Tentu saja aku tahu. Itulah sebabnya aku memilih kota ini untuk acara amal tahun ini.”
Kepala Hye Hee berputar dan mendongak untuk melihat Kyuhyun. “Kau yang memilihnya?”
“Apa kau tidak pernah menyadarinya?” Kyuhyun tersenyum. “Semenjak kita bersama aku selalu berusaha mewujudkan semua impianmu satu persatu.”
Dahi Hye Hee berkerut penuh tanya.
“Setiap kata yang kau ucapkan, setiap keinginan yang kau impikan, menjadi keinginan dan mimpiku juga.” Wajah Kyuhyun berputar ke samping untuk menghindari tatapan Hye Hee. tiba-tiba saja merasa gugup. “Beberapa bulan yang lalu kau pernah mengatakan kalau kau ingin pergi ke Itali, lebih tepatnya ke kota ini.”
Hye Hee melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun agar ia bisa berputar menghadap pada laki-laki itu. “Aku mengatakan hal itu karena aku baru saja menonton kisah romeo dan juliet.”
“Bukankah sudah kukatakan, setiap ucapanmu akan menjadi perhatian khusus untukku.” Ibu jari Kyuhyun menyusuri sudur bibir Hye Hee dengan lembut. Tatapannya sudah kembali pada wajah cantik kekasihnya. “Aku tidak peduli apa yang membuatmu ingin datang kemari, selama hal itu terucap dari bibirmu aku akan berusaha memenuhinya.”
“Salah satunya dengan acara amal ini?” wajah Hye Hee mendongak melihat pada mata Kyuhyun yang menatapnya hangat.
“Tadinya aku ingin mengajakmu hari itu juga untuk terbang kemari, tapi aku teringat bahwa acara amal tahunan akan segera di adakan. Dan saat mereka melakukan rapat pemilihan Negara, aku langsung memutuskan Itali dan  menjadikan kota ini sebagai tuan rumah.”
“Tolong katakan kalau kau sedang bercanda denganku.” Hye Hee berbisik tidak yakin. Ini benar-benar terlalu berlebihan. Kyuhyun memperlakukan ia dengan sangat istimewa.
“Aku tidak pernah bercanda tentangmu sayang.” Tangan kiri Kyuhyun memeluk pinggang Hye Hee. “Apapun akan aku lakukakan untukmu, asal kau bahagia bersamaku.”
“Aku bahagia, tentu saja.” Kata Hye Hee, tenggorokannya penuh dengan kebahagiaan hingga ia susah untuk berkata-kata. “Kau memberikan aku banyak hal yang sama sekali tidak pernah aku duga.” Jemari Hye Hee menari di atas permukaan wajah Kyuhyun. Membelai lembut wajah pria itu, mengagumi sosok laki-laki itu.
“Karena aku mencintaimu.” Ucap Kyuhyun pelan, namun penuh dengan ketegasan. “Dan aku bahagia dengan itu.”
Karena Kyuhyun lebih tinggi dari dirinya, Hye Hee menjinjitkan kakinya untuk menangkap bibir pria itu dan menciumnya dengan perasaan cinta yang membuncah. Kyuhyun membalas ciuman Hye Hee, mengalungkan kedua lengannya di pinggang gadis itu dan mengangkat Hye Hee ke atas agar gadis itu tidak kesulitan.
Ciuman itu berlanjut tanpa ada salah satu yang ingin menghentikannya. Pelukan Kyuhyun beranjak dari pinggang Hye Hee menuju punggung mulus gadis itu yang tidak tertutupi oleh gaun. Kyuhyun membelainya lembut, mendesakan ciuman mereka lebih dalam lagi.
Sementara kedua lengan Hye Hee sudah melingkari leher Kyuhyun, memainkan helaian halus rambut Kyuhyun. Menggoda pria itu dengan sentuhannya agar berlaku lebih pada dirinya.
Perlahan Kyuhyun membawa tubuh mereka berdua meninggalkan jendela tempat Hye Hee berdiri tadi. Sambil berciuman, Kyuhyun memutar tubuh mereka mendekati ranjang besar yang sudah siap menanti.
Sambil mendekati ranjang, jari panjang Kyuhyun menarik pita pengikat gaun yang di ada di leher Hye Hee hingga gaun gadis itu jatuh begitu saja ke atas dadanya dan tidak jatuh ke atas lantai karena posisi mereka yang masih berpelukan.
Hye Hee membiarkan Kyuhyun menurunkannya ke atas ranjang dan melepaskan ciuman mereka. Lalu pria itu melepasi sendiri pakaiannya dan setelah itu kembali ke atas tubuh Hye Hee menarik lepas gaun gadis itu lalu meraup dada gadis itu dengan mulutnya.
Rasa bibir Kyuhyun di dadanya membuat Hye Hee bergetar menahan nikmat. Kyuhyun melumat dadanya dengan kelembutan, mempermainkan dada yang lainnya dengan kemahiran jemarinya. Membelainya dengan lembut lalu meremasnya.
“Ugh…” Mata Hye Hee terpejam menikmati permainan Kyuhyun di dadanya. Ini bukan yang pertama bagi mereka, namun setiap sentuhan Kyuhyun di kulitnya akan selalu seperti pertama kali.
Hye Hee melarikan kedua tangannya di atas kepala Kyuhyun. Mengacak sutra halus Kyuhyun, dan menekan kepala pria itu lebih dalam lagi ke dadanya.
Puas mempermainkan dada Hye Hee hingga wanita itu mengerang nikmat tanpa henti, mulut Kyuhyun bergerak ke atas dada, menyapa kulit dada gadis itu dengan lidahnya, terus hingga ke leher putih Hye Hee hingga ia mendapatkan bibir Hye Hee kembali dan melumatnya dalam.
Kaki Hye Hee bergerak gelisah di sisi kaki Kyuhyun. Dengan perlahan ia memainkan ibu jari kedua kakinya di kedua kaki Kyuhyun.
“Mau menggodaku, huh?” seringai Kyuhyun. Ia tidak bisa menampik bahwa tubuhnya terangsang dengan godaan ibu jari Hye Hee di kedua kakinya.
Kaki Hye Hee terangkat naik turun di sepanjang tungkai Kyuhyun, mengakibatkan pusat tubuh mereka saling bergesekan, membuat ia dan Kyuhyun mendesah bersamaan dalam ciuman mereka.
Tidak tahan dengan godaan yang di berikan Hye Hee, Kyuhyun menahan tungkai Hye Hee. “Masih terlalu cepat untuk permainan inti sayang.” Bisiknya.
“Tapi aku sudah tidak tahan.” Hye Hee memprotes. Ia ingin segera merasakan Kyuhyun memenuhi dirinya, namun sepertinya laki-laki itu masih ingin bermain-main.
“Kau akan mendapatkannya,” Kyuhyun terkekeh, melumat bibir Hye Hee gemas. “tapi setelah aku puas bermain.” Ucapnya lalu melanjutkan ciuman mereka.
Kyuhyun kembali memijat dada Hye Hee, agar gadis itu teransang dan membalas ciumannya dan ia berhasil memancing gairah gadis itu lagi. Hye Hee sudah melingkarkan lagi tangannya di leher Kyuhyun, mencium pria itu dengan rakus. Memeluk Kyuhyun dengan kedua tangan kurusnya, membelai bebas bahu luas Kyuhyun yang penuh dengan keringat.
Meninggalkan dada Hye Hee, tangan Kyuhyun ke atas perut Hye Hee. dengan telapak tangannya yang lebar Kyuhyun membelai perut rata gadis itu hingga kulit halus bokong gadis itu, lalu kulit bagian luar tungkai atas Hye Hee, dan dengan pelan ia memindahkan usapannya ke bagian dalam tungkai Hye Hee.
“Mau sampai kapan kau mempermainkan aku?” Hye Hee mengerang tidak sabar. Ia begitu mendamba, namun Kyuhyun tak kunjung memenuhinya.
“Sampai aku yakin kalau kau akan puas dengan permainanku.” Kyuhyun berhenti membelai bagian dalam tungkai Hye Hee. Wajah Kyuhyun turun ke bawah, ke tempat di mana kepuasan akan segera memenuhi mereka. Jemari Kyuhyun melesak membelah Hye Hee, bergerak perlahan agar gadis itu bisa menikmati sensasi yang ia berikan. Bibir Kyuhyun menciumi daging tebal di pusat tubuh gadis itu, membasahinya dengan lidah dan saliva.
Hye Hee tidak kuat menerima kenikmatan itu, kepalanya pening dengan setiap sensasi yang ia rasakan akibat sentuhan lidah dan jemari Kyuhyun padanya. “Kyu… aku mohon.”
Kyuhyun tersenyum puas karena berhasil membujuk Hye Hee memohon padanya. Gadis itu menyerah pada kenikmatan yang ia berikan. Kyuhyun melepaskan jemarinya dan kembali ke atas, mencium Hye Hee cepat, menarik kedua tungkai gadis itu agar terlipat ke atas.
Sambil terus mencium Hye Hee, Kyuhyun menyatukan pusat tubuh mereka. Dan desah puas lolos dari sela bibir Hye Hee. Kyuhyun menangkup kedua dada Hye Hee, bergerak pelan memancing agar Hye Hee menggerakan penyatuan tubuh mereka.
Hye Hee bergerak memuaskan dirinya yang begitu frustasi oleh permainan Kyuhyun, hingga akhirnya Kyuhyun mengimbangi pergerakannya. Kyuhyun menahan pinggul Hye Hee, meminta gadis itu berhenti bergerak hingga ia bisa bergerak memuaskan Hye Hee.
Setiap gerakan menghasilkan seribu tusukan kenikmatan bagi Hye Hee. gadis itu mengerang, meraung penuh nikmat.
Kepala Kyuhyun menyuruk kembali ke atas dada Hye Hee. Meraup kedua dada mungil gadis itu bergantian, menyapa puncak mendamba itu dengan lidah basahnya. Melumatnya dengan penuh-penuh ke dalam mulut. Kyuhyun mengerang merasakan kenikmatan yang ia ciptakan. Ia terus bergerak, memenuhi kebutuhan mereka, mengejar kenikmatan yang hanya bisa mereka rasakan.
Erang kenikmatan tidak bisa Kyuhyun tahan. Hye Hee begitu nikmat di di tubuhnya. Pusat tubuh mereka saling memenuhi dan melengkapi seperti hati mereka.
“Errgghh…” erang Kyuhyun masih dengan mulut yang penuh dengan dada Hye Hee. Kyuhyun menambah tekanannya di pusat tubuh mereka dengan mempercepat pergerakannya.
Baik Hye Hee dan Kyuhyun sudah basa oleh keringat mereka, namun Hye Hee tidak merasa ragu untuk menjilat keringat yang mengucur wajah Kyuhyun yang sudah kembali menciumnya lagi.
Tubuh basah itu terus bergerak menyatu. Berbagi rasa nikmat hingga meninggalkan dunia di belakang mereka. Hanya erangan dan desahan mereka yang menandakan bahwa saat ini mereka masih berada di dunia yang penuh dengan kenikmatan surgawi.
Kyuhyun sampai di batas gairahnya. Dengan gerakan penuh ia menekan pusat Hye Hee, dan mereka berdua mengerang karena pelepasan yang begitu dahsyat itu.
***
Dengan napas tersengal-sengal Kyuhyun bangun dari mimpi indahnya bersama Hye Hee. Ia kembali memimpikan malam-malam percintaan yang pernah mereka lalui. Kyuhyun menyampirkan selimutnya dan melihat ke bawah di mana celananya sudah basah oleh gairahnya sendiri.
Mimpi erotis seperti ini bukan yang pertama kali baginya. Namun kali ini akan berbeda karena ia tidak akan mendapatkan pelampiasan seperti biasanya. Tidak ada lagi Hye Hee yang akan memberikan ia kenikmatan seperti itu.
Setelah mengacak rambutnya, Kyuhyun bangun lalu berbegas mandi membersihkan dirinya.
Hari minggu sudah kembali lagi dan hari ini ia benar-benar tidak memiliki sesuatu untuk di kerjakan. Jika ia masih bersama Hye Hee, mereka pasti akan berkencan pada hari senggang seperti saat ini.
Kyuhyun memandangi ponselnya, ingin menghubungi Hye Hee namun penuh dengan kebimbangan. Berulang kali ia menekan tombol panggil, lalu segera memutuskannya sebelum panggilannya dengan Hye Hee tersambung.
Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk menghabiskan siangnya hari ini di restoran kimbab tempat ia dan Hye Hee sering makan dan menghabiskan waktu.
Ahjumma pemilik restoran tersenyum senang melihat kedatangan Kyuhyun. Tanpa menunggu Kyuhyun memesan ia segera menyiapkan makanan yang akan di makan oleh Kyuhyun. Ia sudah hapal pada makanan kesukaan Kyuhyun. “Kenapa sendiri saja? Kau tidak bersama Hye Hee?” Tanya Ahjumma pemilik restoran pada Kyuhyun.
Kyuhyun menerima makanannya dengan senang, namun wajahnya sedikit berubah ketika ahjumma itu menyinggung Hye Hee. “Dia sedang keluar bersama teman-temannya.” Alasan Kyuhyun.
“Ya sekali-sekali dia perlu menghabiskan waktunya dengan gadis-gadis se-usianya.” Ujar Ahjumma itu tergelak. “Aku tahu kalian bertengkar, tidak perlu berbohong padaku.”
Kyuhyun tercengang dengan ucapan terus terang wanita tua tersebut.
“Aku sudah mengenal kalian selama kalian berpacaran, jadi aku tahu apa yang di tunjukkan oleh wajah ini.” Wanita itu menarik pipi Kyuhyun pelan. “Jangan terlalu lama bertengkarnya, segera selesaikan apapun masalah kalian.” Ujar Ahjumma itu menasihati lalu kembali ke dapur restorannya.
Ucapan ahjumma pemiliki restoran itu membuat Kyuhyun makan tidak tenang. Ia tentu ingin memperbaiki hubungan mereka, karena ia masih sangat mencintai Hye Hee. tapi apakah Hye Hee mau kembali kepadanya.
Kyuhyun sadar ia telah mengesampingkan Hye Hee, namun ia tidak pernah mau melakukan hal seperti itu. Hanya saja keadaan mereka saat ini yang membuat hal seperti itu terjadi. Ia sibuk dengan pekerjaannya dan Hye Hee sibuk dengan pendidikannya.
Seandainya gadis itu tahu bahwa ia sudah berusaha keras untuk tetap menjadikan Hye Hee prioritas dalam hidupnya, Hye Hee pasti tidak akan memperlakukan ia seperti ini. Mengakhiri hubungan mereka secara sepihak, tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
Tapi ia tidak bisa menyalahkan Hye Hee, karena bagaimanapun ini semua adalah salahnya. Kalau saja hari itu dia langsung menghubungi Changmin atau Donghae untuk menolong Hyukjae, mungkin mereka masih baik-baik saja saat ini.
Kyuhyun meninggalkan makanan yang belum ada separuh ia sentuh, membayar makanannya lalu pergi meninggalkan restoran kimbab tersebut.
***
“Ahjumma… aku mau kimbab seperti biasa.” Teriak Hye Hee dari mejanya. Ia baru sampai di restoran kimbab langganannya dan Kyuhyun, dan langsung mengambil meja yang juga biasa ia dan Kyuhyun tempati.
Wanita paruh baya pemilik restoran itu datang membawakan pesanan Hye Hee. “Kau datang sendiri, dimana Kyuhyun?” pertanyaan yang sama dengan yang ia tanyakan pada Kyuhyun.
“Heh? Kyuhyun…” Hye Hee memikirkan sejenak jawabannya. “Dia sedang pergi dengan teman-temannya.” Jawab Hye Hee lalu tertawa kering.
“Jawaban yang sama.” Ahjumma tersebut tersenyum geli. “Kau dan Kyuhyun memiliki jawaban yang sama. Kyuhyun baru saja pergi dari sini, dan saat kutanya kenapa dia tidak datang bersamamu, Kyuhyun menjawab kau pergi bersama teman-temanmu.” Terang ahjumma itu menjawab kebingungan di wajah Hye Hee.
“Kyuhyun baru dari sini?” Hye Hee bergumam tanpa sadar.
“Ya dia kemari dan duduk di bangku yang sama denganmu.” Ahjumma itu meletakkan pesanan Hye Hee ke atas meja. “Jangan ikutkan emosimu sayang, kalian berdua akan menyesal nantinya.” Seperti pada Kyuhyun, wanita paruh baya itu juga memberikan nasehat pada Hye Hee.
Baru saja ahjumma itu akan kembali ke dapurnya, Hye Hee memanggilnya lagi. “Ahjumma tolong simpankan makananku. Aku akan kembali lagi nanti.” Lalu ia keluar dengan terburu-buru dari restoran kimbab tersebut.
“Datanglah bersama Kyuhyun.” Seru ahjumma itu tapi tidak di dengar lagi oleh Hye Hee.
***
Hye Hee tidak tahu kenapa ia kembali ke taman di mana ia dan Kyuhyun berpisah satu minggu yang lalu. Ia baru menyadarinya ketika mobilnya berhenti di pelataran taman tersebut.
Karena sudah sampai, mau tidak mau ia turun dari dalam mobilnya dan berjalan menyusuri taman sambil merenungkan perpisahannya dengan Kyuhyun selama satu minggu ini. Banyak hal yang berubah semenjak mereka berpisah. Tidak ada lagi panggilan, pesan ataupun pertemuan singkat.
Setiap hari yang di lalui rasanya semakin hambar. Karena tidak ada lagi canda, tawa dan pertengkaran mereka. Hye Hee sadar ia terlalu berlebihan saat itu pada Kyuhyun. Tapi hal itu terjadi karena ia sedang emosi karena menunggu Kyuhyun dan semakin kesal karena Kyuhyun membohonginya.
Aku selalu menjadikan dirimu prioritasku.
Teringat kembali kata-kata Kyuhyun, dan Hye Hee tahu bahwa hal itu benar. Kyuhyun memang selalu menjadikan ia prioritas. Selama mereka berpacaran Kyuhyun selalu membahagiakannya, memberikan apapun yang ia inginkan, memenuhi kebutuhannya dengan cinta, kasih sayang dan perhatian.
Sesibuk apapun Kyuhyun, laki-laki itu tidak pernah lupa menghubunginya atau menemuinya meskipun hanya beberapa menit.
Tidak pernah ia merasa sedih atau tertekan selama mereka bersama. Hanya beberapa bulan terakhir ini ia merasa tertekan karena kesibukannya dan Kyuhyun. Yang biasanya ia selalu bersama Kyuhyun, beberapa bulan terakhir ini ia tidak bisa melakukannya, karena ia harus fokus pada kuliahnya dan Kyuhyun terus mengembangkan bisnisnya.
Hye Hee sadar ia terlalu kekanakan karena meminta terlalu banyak pada Kyuhyun, tidak sebanding dengan apa yang ia berikan pada laki-laki itu. Ia tahu Kyuhyun begitu mencintainya sama seperti ia yang begitu mencintai laki-laki itu, hingga ia tersiksa dengan kesibukan mereka.
Hye Hee berjalan memutari taman itu berulang kali, sambil merenungkan langkah yang akan ia ambil. Haruskah ia menelepon Kyuhyun dan menarik kata-katanya. Bahwa ia masih ingin bersama laki-laki itu dan ia sudah salah karena bertingkah kekanakan?
Masih sambil berpikir Hye Hee terus berjalan di taman itu. Membiarkan langkah kakinya berjalan tanpa ia kendalikan.
Sementara itu di taman yang sama Kyuhyun duduk termenung di bangku yang sama saat ia dan Hye Hee bertengkar satu minggu yang lalu. Ia yakin bahwa ia masih sangat membutuhkan gadis itu di hidupnya. Ia tidak akan bisa merasa puas dengan gadis lain selain Hye Hee. hanya gadis itu yang bisa membuat ia sempurna.
Dan semua kenangan manis yang telah mereka ukir selama tiga tahun kebersamaan mereka takkan pernah bisa hilang begitu saja dari benaknya. Meskipun terkadang Hye Hee kekanakan, ia tetap tidak bisa kehilangan gadis itu. Ia harus kembali pada Hye Hee, ia harus meminta gadis itu untuk memperbaiki semuanya. Tawa, senyuman dan tangis gadis itu sudah menjadi bagian dari dirinya.
Kyuhyun berdiri dengan sigap, ia sudah memantapkan hatinya. Bahwa kembali pada Hye Hee adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Satu minggu berpisah merupakan cobaan terberat baginya. Dan ia yakin kalau gadis itu juga menderita sama sepertinya, hanya saja ego Hye Hee lebih besar.
Baru saja akan melangkah Kyuhyun mendapati siluet mungil Hye Hee berjalan sambil tertunduk ke arahnya. Gadis itu berjalan tidak teratur, tertunduk dan menendang batu-batu kecil di depannya.
Jantung Kyuhyun berdebar keras, Hye Hee di hadapannya. Gadis yang sejak tadi memenuhi kepalanya hingga ingin meledak ada di depannya. Kaki Kyuhyun bergerak di luar kendalinya, pelan ia menghampiri Hye Hee. Hingga beberapa langkah lagi, ia berhenti menunggu gadis itu menyadari keberadaannya.
Sepasang sepatu familiar membuat Hye Hee berhenti berjalan. Perlahan tatapannya bergerak ke atas, pada jeans berwarna abu-abu lalu kaus rajut berwarna krim lalu berakhir pada sepasang mata cokelat gelap yang hangat.
Hye Hee tahu saat matanya dan Kyuhyun bertemu, saat itu juga keadaan di antara mereka membaik. Karena mata Kyuhyun masih sama, masih penuh dengan cinta dan kehangatan. Jantungnya tidak bisa berbohong, bahwa organ itu bisa berdetak dengan begitu hebatnya hanya dengan melihat mata Kyuhyun.
Dan Kyuhyun juga tahu bahwa ia dan Hye Hee baik-baik saja. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi perpisahan. Hanya masa depan bahagia bersama-sama, itu yang ia lihat di mata Hye Hee.
Gadis itu berdiri di hadapan Kyuhyun, menanti dirinya datang menjemput cinta gadis itu. Angin menerbangkan anak rambut Hye Hee dan rok selutut gadis itu.
Kyuhyun mendekati Hye Hee dan mulai tersenyum, menularkan senyumannya pada Hye Hee. Gadis itu juga tersenyum padanya.  Kyuhyun menarik tangan Hye Hee yang dengan suka rela di berikan gadis itu, lalu mereka berdua saling mengenggam.
“Mau makan kimbab bersama?” Tanya Kyuhyun. Senyumnya semakin memanjang hingga ke kedua matanya. Dan satu anggukan kecil dari Hye Hee memastikan bahwa semuanya sudah selesai, bahwa gadis itu sudah menjadi miliknya lagi.
***FIN***

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: