Who Is The Real Devil

0
kyuhyun super junior ff nc 21
Title : Who Is The Real Devil
Author : queencyblooms
Cast:
-Lee Donghae
-Cho Kyuhyun
-Jung Sera
-Other casts
Genre: Kekerasan, NC, Angst
Length : Oneshoot,
“Bisakah kau tolong aku, Kyu?” ucapnya dengan nada memohon pada pria didepannya. Tangan gadis ini bergetar. Airmata akhirnya jatuh setelah sekian lama ia tahan. Terlebih saat orang yang sangat ia harapkan pertolongannya malah berkata ‘tidak’. Sakit rasanya demi tuhan!

“Maaf Sera-ssi,sepertinya kau ikut saja dengan mereka.”
“M-mwo?” Sera menganga tak percaya. Kemana perginya rasa iba dan nurani pria ini? Sekedar menjelaskan kejadian yang sebenarnya pun dia enggan.
“Ayo agasshi!”
Sera menunduk dan akhirnya memilih pasrah saat lengannya dicengkram lalu tubuhnya diseret oleh pria bertubuh tinggi berbaju biru yang sedari tadi memeganginya agar tidak lari. Sera berniat untuk lari pun sebenarnya tidak. Kakinya terlalu lemas bahkan sekedar untuk berjalan.
“Sera~”
Langkah keduanya terhenti. Sera mendengar namun tak menoleh.
“Kau tenang saja,aku akan berusaha untuk menjengukmu tiap hari disana.” Pria itu berdeham. “Di penjara.”
Ruangan ini gelap. Tak sepenuhnya. Ada penerangan disini, walaupun hanya sebuah lampu berwatt rendah yang tergantung diatas. Setidaknya tubuh seorang gadis yang duduk terikat disebuah kursi kayu itu terlihat cukup jelas.
“Jung Sera..”
Sera mendongak mendengar namanya disebut. Seorang pria dengan garis wajah yang cukup tegas duduk didepannya. Meja kayu berukuran sedang memisahkan jarak antara Sera dan pria itu. Pria yang merupakan polisi itu berdeham lalu sambil matanya menatap tajam kearah Sera.
“Apa motifmu membunuh Jung Seri?” tanyanya, dingin. “Apa kau tak punya hati? Membunuh saudara kandungmu sendiri? Jika aku jadi kau, aku tidak akan menampakkan wajahku lagi dimanapun, Nona Jung.”
Sera menggeleng lemah dan memilih diam. Sudah satu minggu dia disini, diinterogasi 3 kali sehari dan pertanyaan yang diajukan selalu sama. Sera sudah lelah berontak dan membantah. Suaranya seakan habis karena terus saja meneriaki siapapun yang melakukan interogasi konyol ini.
“Jung Sera! Jawab!” bentak pria itu sambil memukul meja. Sera mendelik, melihat tag name yang tergantung didada pria itu lalu kembali melihat wajahnya.
“Tuan Park Jung Soo..” ucap sera parau, suaranya serak. “Aku tak mungkin membunuh saudara kembarku. Jangan bodoh. Apa kau dan rekanmu tak bosan terus menerus menanyakan hal ini?”
Tuan Park tertawa lebar. Kedua tangannya bergerak mendorong tubuhnya dan kursi beroda yang ia duduki. Kursi itu berputar hingga posisinya membelakangi Sera kini.
“Kau tau apa nona Jung? Kau dan semua tahanan disini semuanya sama. Bersalah dan munafik.”
Giliran Sera yang tertawa kali ini.
Tuan Park menoleh, “Apa yang lucu Nona Jung?” Ia berdiri lalu berjalan mendekati Sera yang menatapnya tajam.
“Anda tahu Tuan Park? Sebagai seorang polisi, anda tidak pantas mengatakan hal itu. Anda dan rekan Anda semuanya sama. Egois dan sok tahu!”
Brak! Tuan Park kembali memukul meja. Kata-kata Sera barusan sangat membuatnya tersinggung. Matanya melotot pada Sera yang justru kembali tertawa karena telah berhasil membuat pria didepannya ini tersulut emosi.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Nona Jung! Cepat katakan apa motifmu!”
Sera mendengus. Ini sungguh menyebalkan.
“Bukan aku pembunuhnya! Aku sudah mengatakan hal itu ratusan kali pada kalian! Bukan aku, arrasseo?”
“Lalu? Bisa kau jelaskan kenapa hanya ada sidik jarimu di pisau yang tertancap di tubuh Jung Seri?!”
“Molla mollayo!!”
“Cih! Dasar keras kepala.”
Tuan Park melirik pintu sesaat. Sambil matanya tetap mengawasi Sera yang diam menunduk, ia berjalan keluar, menemui rekannya yang sudah menunggu dan berulang kali memberikan kode.
“Oh Nona Lee, ada apa?”
“Bagaimana? Apa dia mau bicara?”
Tuan Park menggeleng.
“Ini. Kau bisa baca ini dulu. Kami menemukan sesuatu.” Ucap Nona Lee. Sambil berjalan pelan, Tuan Park membaca berkas yang diberikan Nona Lee. Matanya mendelik sambil otaknya mencoba berpikir.
“Tuan dan Nyonya Jung juga meninggal karena pembunuhan?” Tuan Park menoleh pada Nona Lee yang ikut berjalan disampingnya.
Nona Lee mengangguk, “Sudah 7 tahun yang lalu. Kau bisa baca sendiri bagaimana kronologisnya. Berita itu kuambil dari sebuah majalah lama.”
Dahi Tuan Park kembali mengernyit. Tuan Jung (ayah Sera) memang keluarga terpandang. Perusahaan besarnya memiliki cabang di berbagai Negara. Dan semenjak Tuan dan Nyonya Jung meninggal dunia, seluruh perusahaan diserahkan kepada Jino –kakak Sera dan Seri- yang sekarang tinggal di Jepang serta beberapa saudara dekat mereka. Apa mungkin salah satu dari mereka adalah tersangka?
“Hmm?” Tuan Park menggumam sambil menggosok dagunya.
Mereka kembali berjalan, kali ini masuk ke sebuah ruangan. Ruangan kerja Tuan Park.
Tuan Park kini sudah duduk di kursi besarnya, sedang Nona Lee berdiri di seberang meja. Mata lelaki muda itu masih sibuk memerhatikan huruf yang terangkai diatas kertas yang berjejer diatas mejanya. Beberapa foto bahkan sempat membuatnya bergidik.
Tuan dan Nyonya Jung dihabisi nyawanya dengan cukup sadis. Bola mata keduanya tak lagi berada di tempat yang seharusnya. Benda lunak itu berpindah tempat ke tenggorokan mereka dengan sedikit luka sayatan di leher yang entah kenapa bisa begitu rapi.
“Ini mengerikan. Apa sebenarnya yang terjadi pada keluarga ini?” Tuan Park memakai kacamata hitamnya lalu menyesap sebatang rokok. Asap yang mengepul membuat Nona Lee risih.
“Kasus ini belum terpecahkan hingga sekarang. Jadi kurasa kasus yang menimpa Jung Sera sedikit banyak juga dapat menguak siapa dalang dibalik pembunuhan ini.”
Tuan Park berdeham, menaruh rokok coklatnya ditepi asbak lalu memandang serius ke rekan kerja yang sekaligus teman dekatnya itu.
“Jadi maksudmu Jung Sera tak bersalah?”
“Aku tak berkata begitu. Menurutku kasus Jung Sera dan kasus lama ini tak dapat disamakan walaupun mereka satu keluarga. Lokasi pembunuhan dan cara yang dilakukan jauh berbeda, Tuan Park. Kau bisa lihat, Tuan dan Nyonya Jung dibunuh di Italia. Aku yakin pembunuh bukan orang sembarangan karena bisa mengikuti mereka sampai kesana. Apalagi tak ada satupun dari barang keduanya yang hilang diambil oleh si pembunuh.” jelas Nona Lee sambil menunjuk beberapa berkas. Tuan Park menganggukkan kepalanya beberapa kali.
“Kau atasi Jung Sera. Ia masih belum mau bicara juga sampai sekarang. Biar aku yang memecahkan kasus Tuan Jung.”
“Ne, aku pamit dulu. Terima kasih.” Nona Lee mengangguk sopan lalu keluar dari ruangan.
Seorang pria berkulit putih pucat turun dari sebuah mobil hitam sambil tangan kirinya memegang handphone yang beberapa detik kemudian ia tempelkan di telinga kirinya.
“Aku sudah didepan kantor polisi.” Ucapnya pelan pada seseorang diujung telpon.
“….”
“Ya ya, aku akan menemuinya.” Lanjutnya lagi lalu berdeham sesaat. “Aku tutup dulu.”
Setelah memutus sambungan telepon, matanya mendelik ke bangunan cukup besar didepannya sekarang. Senyum yang terkesan misterius tertoreh di wajahnya. Perlahan ia melangkah masuk namun tentu saja tak semudah yang ia pikirkan. Dua orang polisi menahan langkahnya.
“Aku ingin menemui tahanan yang bernama Jung Sera. Sekarang masih jam besuk kan?”
Dua orang polisi itu bertatapan lalu mengangguk dan membiarkan pria ini melanjutkan tujuannya. Namun saat didalam ia kembali ditahan. Kali ini oleh polisi dengan kedudukan paling tinggi di tempat itu.
“Jung Sera.” ucapnya to the point.
“Dia? Anda siapa? Rekan atau keluarga?” Tanya polisi yang tak lain adalah Tuan Park Jung Soo.
“Aku Cho Kyuhyun. Kekasih ehem maksudku mantan kekasih Jung Seri, korban yang telah dihabisi nyawanya oleh Jung Sera.”
Tuan Park tampak kaget, ia lalu memerhatikan Cho Kyuhyun dengan serius. Matanya menatap tajam Kyuhyun dari atas hingga ke bawah. Kyuhyun berdeham pelan karena merasa tak nyaman diperhatikan seperti itu.
“Benarkah?” Tanya Tuan Park tak yakin.
Kyuhyun memutar bola matanya malas. Akhirnya ia mengeluarkan dompet dan menunjukkan sebuah foto dirinya dan seorang gadis.
“Ini aku dan Anda pasti tau itu siapa.”
Tuan Park tertawa kecil. “Ya ya~ tapi maaf. Jung Sera tak boleh dibesuk oleh siapapun, Tuan Cho. Pikiran wanita itu sedikit terganggu.”
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. “Maksud Anda? Sera gi-gila?”
“Mendekati.” Tuan Park bersandar di tembok coklat dibelakangnya. “Sudah satu bulan ia disini, dan kami tak mendapatkan informasi apapun. Ia hanya berteriak dan berteriak jika ia sama sekali tak bersalah.”
Kyuhyun nampak sedikit terkejut. “La-lalu?”
“Lalu? Kami akan terus menyelidiki. Karena Anda adalah kekasih korban, saya yakin Anda tidak berada di pihak Jung Sera bukan?”
Kyuhyun menggigit bibirnya sesaat, lalu mengangguk. Tuan Park memicingkan matanya melihat tingkah Kyuhyun yang tampak sedikit ragu. Kedua tangannya ia lipat didepan dada sambil kakinya mengetuk-ngetuk lantai.
“Apa saat korban terbunuh Anda ada di tempat, Tuan Cho?”
“Eh apa? Eh..tidak. Sehari sebelum kejadian, saya di Busan dan baru pulang besoknya. Ke-kenapa?”
Tuan Park menggeleng lalu tersenyum tipis. “Ada titipan untuk Nona Jung?”
“Tidak. Saya hanya ingin berbicara sedikit padanya. Tapi ya karna tidak diperbolehkan lebih baik saya pulang saja. Permisi.”
Dengan segera Kyuhyun membalikkan badan dan pergi dari tempat itu.
‘Sial!’ umpatnya dalam hati.
“Ada apa?”
“Oh kau Lee.. Hmm ada yang tidak beres dengan pria itu. Di situasi seperti ini, aku rasa tidak ada salahnya kita mencurigai semua orang yang dekat dengan keluarga Jung.”
“Kau tenang saja. Aku bisa membereskan semua itu.”
“Seri-ssi!! Andwae!!”
“AH!”
Tubuh Sera tersentak. Matanya melotot diikuti peluh yang mengalir deras dari dahiya. Mimpi itu lagi. Ah tidak, lebih tepatnya bayangan yang terus saja terngiang didalam otaknya.
Detik-detik kematian Seri.
Sera kembali menangis dalam diam. Betapa ia tak bisa melupakan bayangan tubuh Seri yang terjatuh dari balkon lantai 3 rumah mereka. Sera yang saat itu segera berlari turun sangat terkejut mendapati ada dua pisau yang menancap di dada dan leher Seri.
“Eo-eonni..” Sera meraung. Ini bodoh. Kenapa semua orang malah menuduh ia yang membunuh Seri? Seingat Sera memang tak ada siapa-siapa dirumah kecuali mereka di siang itu, namun Sera tentu saja tidak mungkin melakukan hal itu karena bagaimana ia sangat menyayangi Seri karna hanya Seri yang ia punya. Setidaknya sampai hari naas itu.
Sera mengerjap, airmatanya masih mengalir. Ruangan gelap ini hanya ia huni sendiri. Tubuhnya bebas –tidak terikat- kali ini namun ya tetap saja.. ini penjara. Siapapun tidak ingin masuk ke tempat terkutuk seperti ini.
Tiba-tiba ia teringat ucapan Cho Kyuhyun saat polisi mendatangi rumahnya.
“Seri…apa dia bunuh diri?”
“Tidak mungkin, Kyuhyun! Apa yang kau lakukan pada kakakku heh?”
“Kau bodoh, Sera! Aku tak melakukan apapun padanya. Aku hanya menduga. Kau mengerti?”
Setelah dialog pendeknya pada Kyuhyun tersebut, Sera lalu diberikan berbagai pertanyaan menyudutkan oleh beberapa orang polisi. Sera terbelalak saat ia dituduh membunuh Seri karena hanya sidik jari Sera yang ada ditubuh Seri. Dan tak ada siapapun disana.
Sera benar-benar tersudut. Dari hanya menjadi saksi, sejam kemudian ia sudah menjadi tersangka. Atas kasus pembunuhan pada kakaknya sendiri.
Sera memeluk lututnya, rambutnya ia acak gusar. Bunuh diri? Itu apa mungkin? Seri memang bukan orang yang aktif seperti Sera. Gadis ini lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya. Tapi..
“Tak mungkin..” ucap Sera lirih.
“Dan Kyuhyun..apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa kau berubah semenjak kematian eonni?”
Airmata Sera mengalir semakin deras.
“Kau akan membebaskannya?”
Mata Sera mendelik mendengar percakapan antara seorang polisi wanita dan juga seorang pria yang tak dikenalnya. Mereka membicarakan tentang Sera tentu saja. Kedua tangan Sera saling meremas mendengar pria muda itu berkata akan membebaskannya dengan cara memberi tebusan berapapun karna ia yakin Sera tak bersalah.
Polisi wanita yang adalah Nona Lee diam, mengambil handphonenya lalu tampak menghubungi seseorang. Samar namun Sera bisa mendengar apa yang Nona Lee ucapkan.
“Maaf Jung Soo. Kasus ini belum turun ke pengadilan. Yang kita lakukan selama ini sia-sia. Sera memang tak bersalah.”
“Apa? Baiklah. Aku juga lebih mencurigai lelaki yang mengaku kekasih Seri kemarin.”
“Ne, algasseumnida.”
Sera mengerjap, mencerna kembali maksud ucapan Nona Lee.
“Lelaki yang mengaku kekasih Seri kemarin? Kyuhyun? Dia datang kesini?” batin Sera berkecamuk. Matanya kembali memperhatikan pria yang duduk didepan Nona Lee. Sera yang duduk ‘sembunyi’ diantara jeruji besi tentu saja dapat melihat dengan jelas. Pria dengan kemeja putih dan kacamata hitam serta jeans hitam itu sekarang tampak bermain-main dengan handphone ditangan kirinya hingga sebuah suara dehaman dari Nona Lee menyadarkannya membuat ia menaruh benda itu disaku jeansnya dengan segera.
“Jwiseonghamnida~” ucapnya pelan.
“Gwaenchana Tuan Donghae Lee.”
‘Mwo? Donghae Lee? Siapa dia?’
Sera mengacak rambutnya. Ini aneh sungguh! Sejak kejadian itu otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih lagi, bahkan untuk mengingat orang-orang disekitarnya.
Wait.. Donghae memang bukan temannya. Ia tak pernah mengenal pria ini sama sekali. Lalu siapa dia?
“Kasus Nona Jung ini..” Nona Lee menggantungkan ucapannya sambil melirik beberapa map diatas meja. “…ehem..lupakan saja.”
Donghae mengernyitkan dahi, lalu berusaha mengabaikannya.
“Jadi..” lanjut Donghae “…apa aku bisa menebusnya?”
Nona Lee sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan. Menatap tajam pada mata Donghae yang terhalangi kacamata hitam.
“Anda benar teman Jung Jino?”
“Tentu. Tunggu sebentar.” Donghae merogoh kembali sakunya, kemudian menunjukkan foto dirinya dan Jino yang ia set menjadi wallpaper handphone. Difoto itu terlihat mereka yang sama-sama memejamkan mata diatas sebuah sofa. Tampak seperti tidur. Nona Lee bergidik.
‘Apa mereka Gay?’
“Aku dan Jino adalah teman baik. Jino sekarang di Jepang sibuk dengan segala urusannya yang tak bisa ia tinggalkan jadi ia memintaku untuk membebaskan adiknya. Sudah melihat fotonya?” Donghae tersenyum lalu kembali menaruh handphonenya ditempat yang sama.
“Baiklah.”
Sera termenung memperhatikan ruangan yang rapi dan bersih yang tak ada ubahnya layak kamar hotel berbintang 5 ini. Tidak. Sera ingat ia tidak sedang berada di hotel.
Pria disampingnya tersenyum sambil memeluk ringan pinggang Sera. Sera kaget diperlakukan seperti ini, apalagi oleh orang asing yang baru saja dilihat dan dikenalnya hari ini. Dengan sopan, Sera melepaskan lingkaran tangan kekar dipinggang kecilnya.
“Ah jwiseonghamnida..” pria itu berucap tak enak. Ia sedikit menjauh lalu duduk disebuah sofa yang berwarna merah marun disana.
“Jangan sungkan mulai sekarang. Anggap saja aku kakakmu.” Ucapnya ramah lalu tersenyum.
Sera melotot. “A-apa?”
“Astaga~ kita belum berkenalan secara resmi.” Pria itu tertawa ringan, lalu bangkit, membungkukkan badannya beberapa saat sambil mengucapkan namanya. “Lee Donghae.”
“A-aku Jung…”
“Jung Sera kkk~ Tentu saja aku tahu namamu, kau tak perlu menyebutkannya lagi. Aku ini teman kakakmu, Jino. Kini kau bisa tinggal disini dan melakukan apapun yang kau mau. Tentang kuliahmu yang tertunda aku bisa mengurusnya.” Ia kembali tersenyum.
Sera menggigit bibir bawahnya. Sungguh ia masih belum mengerti dengan semua ini. Pria yang bernama Donghae ini tiba-tiba saja datang dan membebaskannya dari penjara, menyediakannya tempat tinggal, dan juga akan mengurus tentang kuliahnya. Sedekat apa hubungan pria ini dengan Jino?
Donghae tertawa melihat ekspresi Sera yang kebingungan. Ia lalu menarik tangan Sera kedalam, membawanya ke dapur tepatnya ke meja makan. Sera menelan ludah melihat makanan yang tersaji diatas meja. Ia baru ingat sudah 2 hari ia tidak makan.
“Makanlah. Aku memang tak tau rasa makanan di tempat terkutuk itu, tapi aku yakin pasti rasanya tak ubahnya seperti makanan untuk hewan.”
Donghae menyiapkan piring, dan semuanya hingga kini Sera hanya tinggal melahap saja makanan didepannya.
“Aku boleh..?”
“Sera-ssi~ kan sudah kubilang anggap aku ini kakakmu. Jadi jangan sungkan di apartemen jelek ini eo? Kkk”
‘Dia bercanda. Ini bahkan 3 kali lebih bagus dari apartemen Jino.’
Donghae menjetikkan jari didepan wajah Sera. “Jangan termenung. Ayo dimakan. Sambil makan kau bisa menceritakan semua kejadian tentang Seri. Yah… kalau kau mau.” Donghae menenggak segelas kecil wine merah.
Sera mengangguk lalu mulai makan. Sesungguhnya semenjak mimpi yang kembali mengganggunya tadi, pikiran stress Sera tentang kematian Seri sudah sedikit berkurang. Ia merasa tak ada gunanya terus meratapi kepergian Seri yang mungkin saja sekarang sedang berkumpul dengan Appa dan Eommanya disisi Tuhan. Sera berpikir logis. Hidupnya harus dilanjutkan walaupun hanya sebatang kara di Korea. Dan nanti sedikit demi sedikit ia akan mengumpukan uang untuk menemui Jino di Jepang lalu tinggal bersamanya disana.
Hanya saja ia masih terpikir oleh Cho Kyuhyun. Pria itu menjadi aneh.
Sera sedikit mendongak, memperhatikan Donghae yang tampak sibuk memainkan handphonenya.
“Jeogi..”
“Hm? Wae?” Donghae menoleh.
“K-kau sudah lama mengenal Oppa?”
Donghae tersenyum. “Iya. Aku teman sekolahnya di sekolah menengah dulu. Kami kembali bertemu di Jepang 1 tahun lalu saat aku liburan kesana. Jino menceritakan semua tentang kehidupannya. Dia cukup stress sebenarnya karena pikirannya terbagi dua antara pekerjaan dan terus memikirkan kalian yang hanya hidup berdua saja di Seoul. Apalagi saat dia menerima kabar tentang Seri dan dirimu, aku yakin dia begitu terpukul. Tak aku sangka akulah orang pertama yang dia hubungi dan dia pun meminta bantuanku. Hhh aku sangat berbela sungkawa atas kematian kedua orangtuamu dan saudaramu, Sera-ssi. Kau gadis yang kuat, aku kagum padamu.”
Sera tersenyum menanggapinya.
“Lalu bagaimana dengan kasus eonni? Aku yakin ini belum selesai begitu saja.”
“Kau tenang saja. Kau tidak perlu memikirkannya. Kau bebas sekarang, tak berstatus tersangka atau apapun. Mereka para polisi itu punya otak juga ternyata, akhirnya mereka sadar kalau kau tidak mungkin melakukan semua itu.”
Sera tertawa kecil. “Apa Oppa akan menghubungiku? Aku ingin bicara banyak dengannya.”
“Maaf, Sera-ssi..tentang itu aku tak tahu. Kemarin dia hanya memintaku untuk membantumu dan sampai hari ini dia juga belum menghubungiku. Mungkin dia sedang sibuk dengan urusannya. Sebagai teman aku harus memaklumi dan tidak mengganggunya dulu. Kau paham kan?”
“Terima kasih Tuan Donghae Lee. Aku tak tau harus membalas dengan apa.”
Donghae mengernyitkan dahi. “Hey jangan panggil aku Tuan, yah walaupun aku memang tua ~ kkk.. Dan juga kau tak perlu membalas dengan apapun, Sera~ Aku tulus.”
Sera menunduk, menyeka airmatanya yang hampir jatuh lalu melanjutkan makan.
“NYALAKAN PELANTANG SUARANYA!” teriak Tuan Park pada Nona Lee. Wanita itu mengangguk lalu menurut. Ia menyalakan pelantang suara pada handphonenya.
“Tuan Park, Anda bisa mendengarku?” seru seseorang disebrang.
Nona Lee mengangkat suara. “Cepat katakan apa yang terjadi. Kami mendengarmu.”
Tuan Park menatap tajam pada jendela didepannya. Ia duduk membelakangi Nona Lee yang masih memegang handphonenya sambil berbicara pelan pada seseorang di telpon. Seorang polisi yang mereka utus untuk berangkat ke Jepang, bermaksud meminta informasi lebih jelas pada Jung Jino karena nomor telepon pria itu tak dapat dihubungi sama sekali.
Namun kembali ada berita mengejutkan yang mereka terima kali ini.
“Kasus ini semakin runyam.” Gumam Tuan Park. “Lalu apa maksudmu Jung Jino mati?”
Nona Lee menoleh pada Tuan Park yang masih menatap jendela sambil memainkan jari-jarinya. Ia menanyakan pertanyaan yang sama pada rekannya yang tak mendengar pertanyaan Tuan Park dengan jelas.
“Tuan Park, Jung Jino ditemukan terkubur dibawah lantai rumahnya. Ia sudah terbukti dibunuh. Kami sudah melakukan otopsi pada jasadnya dan beberapa penyelidikan dirumahnya.”
“Lalu?”
“Tak ada barang yang hilang ataupun pintu serta jendela yang rusak.”
“Teruskan..”
“Diduga peristiwa pembunuhan terjadi seminggu yang lalu. Beberapa tetangga yang kami mintai keterangan mengatakan sudah sekitar satu minggu Jino tak terlihat dan yang terakhir ia terlihat berbincang dengan seorang pria diluar rumah.”
“Pria?”
“Iya Tuan Park. Kami sedang menyelidikinya sekarang.”
“Kembali bekerja. Aku tunggu kabar selanjutnya.”
“Baik Tuan Park, Nona Lee. Selamat malam.”
Nona Lee memutus sambungan handphone lalu berdiri mendekati Tuan Park yang masih pada posisinya.
“Korban bertambah satu.” Ucap Nona Lee pelan.
“Jung Sera. Bagaimana gadis itu sekarang?”
Nona Lee menggeleng. “Setelah dibawa oleh pria yang bernama Lee Donghae itu kabarnya tak terdengar lagi. Kau tau apa, aku curiga pada Cho Kyuhyun. Sudah dua kali petugas didepan menahan ia yang ingin masuk menemui Jung Sera. Beruntung mereka tak memberitahu pada Cho Kyuhyun bahwa Jung Sera sudah ditebus oleh teman Jung Jino.”
“Cho Kyuhyun pasti adalah dalang dibalik semua ini. Mulai besok kita harus mencari informasi tentang pria itu.”
Sudah hampir sebulan Sera tinggal di apartemen milik Donghae yang mereka tinggali berdua, sebenarnya bertiga –hanya disiang hari– saat asisten rumah tangga Donghae datang.
Sera duduk disofa kamarnya sekarang. Matanya menatap lurus pada bayangannya di cermin. Kembali ia teringat Seri yang memang sangat mirip dengannya. Sera lalu menunduk. Kasus Seri masih ditangani oleh pihak berwajib dan Sera sendiri heran kenapa ini sungguh berlarut. Siapa sebenarnya yang menjadi dalang dari semua ini?
Helaan nafas berat Sera terdengar seperti seseorang yang sangat putus asa. Sera mengeluh kecil karna apa yang dikatakan Donghae hari itu tidak sesuai kenyataan pada hari ini. Sera hanya tinggal didalam apartemen ini selama satu bulan tanpa keluar sedikitpun. Kuliahnya yang dijanjikan oleh Donghae hanyalah janji. Donghae bahkan tak menyuruhnya keluar karna berkata ia khawatir jika pembunuh akan mengincar Sera kali ini.
Sera mengangguk-ngangguk sarkatis. Apa yang dikatakan Donghae benar juga sebenarnya. Lagipula disediakan tempat tinggal dan kebutuhan yang cukup seperti ini pun Sera seharusnya sudah sangat bersyukur.
Tapi Sera mulai khawatir akan satu hal. Donghae berubah…
“SERA-SSI!!!”
Sera tersentak kaget mendengar namanya dipanggil dengan cukup keras seperti itu. Segera ia berlari keluar dan kembali ia mendapati Donghae menatapnya dengan tatapan tajam.
Inilah yang Sera khawatirkan.
“A-ada apa Donghae-ssi?”
“Kau tadi tidur?” nada bicara Donghae menjadi sedikit pelan.
“Belum.” Sera menggeleng.
Donghae melirik jam dinding. “Ini sudah tengah malam. Apa yang kau lakukan?”
“Aku hanya tak bisa tidur. Maaf. Kalau begitu aku akan mencoba tidur sekarang.”
Donghae hanya mengangguk menanggapinya. Ia masuk kekamarnya lebih dulu dari Sera yang masih diam ditempat. Sera mulai takut. Donghae lama-lama pasti merasa terganggu oleh kehadirannya.
Sera menghela nafas berat, lalu masuk ke kamar. Ia sedikit lega hari ini Donghae tidak pulang dalam keadaan mabuk seperti biasanya. Sera memang sangat tidak suka pada namja yang gemar minum. Tapi ia tak punya hak melarang Donghae sedikitpun, jadi jika Donghae mabuk ia hanya berdiam diri di kamar, mengintip Donghae yang terbaring di sofa luar dengan racauannya yang tidak jelas. Sera hanya memastikan Donghae baik-baik saja hingga pria itu tertidur dengan sendirinya.
Donghae punya masalah hidupnya sendiri.
Sera menarik selimutnya sebatas leher. Matanya sungguh tak dapat diajak kompromi.
“Dasar kau bodoh!”
Sera mengernyit mendengar suara Donghae yang terdengar seperti menghardik seseorang. Pria itu belum tidur rupanya. Sera berjalan pelan menuju pintu, menempelkan daun telinganya didaun pintu.
“Bagaimana bisa kau dicurigai? Ah apa yang kau lakukan?” suara Donghae tertahan. Ia sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
Donghae berdiri didepan pintu kamarnya yang berjarak tak begitu jauh dari kamar Sera. Wajahnya nampak begitu kesal.
“Aku tak mau tahu..” lanjut Donghae. “Kau urus masalahmu sendiri. Dan jika kau bawa namaku atas kejadian itu, kupastikan kau tak akan bisa hidup tenang Cho Kyuhyun. Kau brengsek!”
Deg.
Sera melotot.
Cho Kyuhyun? Kyuhyun ini apa Kyuhyun yang ia kenal? Lalu apa hubungannya dengan Lee Donghae? Sera gelisah, tiba-tiba jantungnya berdetak sangat cepat. Perasaanya tak menentu. Bayangan kedua orangtuanya serta Seri kembali melintas di kepalanya. Apa sebenarnya yang terjadi?
Tap..tap..tap..
Sera melangkah mundur dan segera menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut, memejamkan mata serapat mungkin. Nafasnya tertahan saat mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Untuk pertama kalinya Donghae masuk ke kamar ini tanpa izin dari Sera.
‘Mau apa dia? Oh Tuhan.’
Donghae melangkahkan kakinya kearah tempat tidur, menatap gundukan selimut yang tampak sedikit ‘berguncang’. Donghae tersenyum misterius.
Donghae duduk disamping Sera yang memunggunginya.
Sera melotot ketika tangan Donghae menyentuh bahunya, mengelusnya perlahan, dan semakin turun mengikuti lekuk tubuh Sera. Tangan Donghae berhenti di pahanya. Sera semakin takut. Ia terus berharap jika pria ini sedang dibawah pengaruh alkohol dan segera mengakhiri aksinya lalu keluar dari kamar ini.
“Rasanya aku ingin bermain denganmu dulu sebelum semuanya terlambat untukmu, Sera-ssi.” Donghae menyeringai.
Sera kembali melotot. Apa maksud ucapan Donghae?
“Berbaliklah.” Donghae mengelus paha Sera. “Aku tahu kau belum tidur yeoja naïf.”
Tubuh Sera tetap beku. Wajah Donghae berubah marah. Dengan kasar ia membuka selimut dan membuat tubuh Sera menghadap kearahnya.
“D-donghae..” Sera menatap Donghae takut. Sementara Donghae kembali menyeringai, tubuhnya ia dekatkan pada tubuh Sera hingga kini menindihnya.
“Kenapa anak Appa dari wanita jalang itu semuanya cantik sepertimu hemm? Tidak adil.” Donghae mengelus bibir Sera dengan ibu jarinya. Detak jantung Sera sudah tak karuan sekarang.
“Appa? Wanita jalang? Maksudmu?”
“Diamlah.” Donghae mengecup bibir Sera sekilas membuat Sera kembali beku. Pria ini menciumnya. Ini bukan mimpi!
“Kau kaget, Sera-ssi? Oh harusnya hari itu aku dan Kyuhyun mengajakmu saat kami bersenang-senang dengan Seri.” Donghae mendekatkan bibirnya ke telinga Sera. “Kita bisa double war.”
“M-MWO??? MAKSUDMU APA? APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN EONNI?”
“Ssstt..kau tak perlu berteriak. Aku tak tuli.” Donghae menahan tangan Sera kuat. “Kau gadis yang sangat naïf Sera-ssi. Aku tak tahan berlama-lama dengan anggota keluarga Jung iblis sepertimu. Harusnya sudah lama kau kusingkirkan. Tapi sepertinya sebelum kau merasakan sakitnya di neraka kau harus menikmati surga dunia terlebih dahulu, sayang~” Donghae menjilat leher Sera.
Sera mengerang. Ia tak menyangka ternyata ini adalah Donghae yang sebenarnya. Semuanya selama ini adalah topeng. Sera menyesal mudah saja ia percaya pada orang asing.
“Kau teman Oppaku, kenapa kau lakukan ini?” Sera menggigit bibirnya saat Donghae menggigiti lehernya.
Donghae tertawa. “Teman oppamu? Kau benar-benar bodoh ternyata. Aku tak sudi berteman dengan anggota keluarga Jung KAU TAU!!!”
Air mata Sera menetes.
“Lalu semua cerita dan foto i-itu?”
Donghae bangkit, menduduki paha Sera. Tangannya masih mencengkram kuat pergelangan tangan Sera.
“Kau bahkan tak tahu jika Jung Jino sudah tak ada lagi didunia ini. Hahaha” Donghae bergerak mengambil handphonenya yang tadi ia taruh di meja lampu. “Dan foto ini? Jino sudah mati saat aku mengambil foto ini! Err..aku masih bisa mengingatnya saat Jino memohon padaku untuk jangan membunuhnya. Wajah memelas yang buruk~”
Sera tercekat. Pantas saja Donghae tak pernah menunjukkan padanya foto lain selain foto mereka yang duduk bersama dengan mata tertutup itu. Sera menangis keras.
“Kau kaget Nona Jung?” Donghae mencubit kuat paha Sera membuat yeoja itu mengerang kesakitan.
“He-hentikan Donghae..ahh..”
“Tak akan. Aku akan membuat seluruh anggota keluarga Jung menderita dan mati. Sebaiknya kau persiapkan dirimu.”
“A-apa salah kami ahh..” Sera meringis.
“Kau mau tahu? Aku akan menceritakannya nanti sayang~ Lebih baik kita bersenang-senang sekarang. Hanya kau dan aku.” Donghae mengedipkan sebelah matanya lalu mengecupi perut Sera yang masih tertutup kaos.
“Jangan Donghae.. Hhh kumohon maafkan aku, maafkan keluargaku. Aku mohon..”
Donghae tak menggubris. Nafsunya semakin liar saat mendengar rintihan Sera yang terdengar seperti desahan baginya. Donghae mengangkat kepalanya lalu mengikat kedua tangan Sera dengan bajunya yang baru saja ia buka.
Sementara Sera memohon Donghae untuk berhenti, Donghae kini menciumi leher Sera yang begitu menggoda untuknya.
Donghae sungguh terbawa suasana, ia memang lebih menikmati bercinta dengan ‘lawan main’ yang merasa tersakiti.
20 tahun…
Donghae tersenyum dengan satu ujung bibir naik keatas mengingatnya.
Sudah 20 tahun ia menaruh dendam pada keluarga Jung. Masih kuat betul di ingatan Donghae bagaimana Donghae kecil menyaksikan Eommanya dipukuli oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia cintai itu menangis pilu saat Appa Donghae pergi dan lebih memilih wanita yang merupakan Ibu dari gadis yang sedang dicumbuinya sekarang. Dan semenjak hari itu Donghae tidak lagi menggunakan marga Appa didepan namanya. Terlalu sakit dan menjijikkan untuknya.
Yah, Sera adalah saudara tiri Donghae.
Sera mengerang saat Donghae membuka habis pakaiannya dengan cara merobek kasar kain tipis itu. Donghae tak peduli pada airmata Sera yang mengalir tanpa henti karna rasa sakit yang ia terima. Donghae tetap memasukkan paksa miliknya lalu mendesah nikmat.
Sudah 2 bulan ia tak melakukan ini karena tak ada pelampiasan.
Sera menangis pasrah. Darah yang mengalir turun ke ranjang adalah saksi bisu keperawanannya telah direbut kini. Sera sudah tak suci lagi.
“Kau masih perawan rupanya.” Donghae melesakkan miliknya dalam sambil terus mengumpat saat kaki Sera menendang udara melakukan perlawanan yang sia-sia. Donghae menggigit kuat bahu Sera hingga terluka dan mengeluarkan darah.
Donghae terus memaju mundurkan pinggulnya dengan kecepatan yang semakin bertambah saat melihat Sera menggigit bibir bawahnya. Nafsu binatang Donghae makin memuncak.
“Ah..” Donghae mendesah lega dan berhenti saat ia dan Sera berorgasme untuk pertama kalinya. Ia lantas turun. Sera menoleh dan segera meraih selimut menggunakan kakinya dengan susah payah. Ia harap Donghae menyudahi semua ini.
Namun Sera salah.
Donghae kembali naik, kali ini dengan sebuah dildo dan pisau belati tebal di tangannya. Sera meringis, penderitaannya belum berakhir dan memang tak akan semudah itu.
Donghae memasukkan dildo yang bergetar ke kemaluan Sera dan memaju mundurkannya dengan cepat hingga Sera kembali merintih. Sementara lidah Donghae mendarat dibahu Sera yang berdarah, menjilatnya seduktif.
“Donghae, jebal. Ahh..”
“Aku bosan mengotori milikku dengan gadis murahan yang terlahir dari wanita murahan seperti Ibumu itu. Sangat menjijikkan.” Donghae tertawa saat wajah Sera memerah diiringi orgasmenya yang kesekian kali. Ini sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Donghae mengayunkan pisaunya didepan wajah Sera yang masih saja menatapnya ketakutan. Donghae menyeringai, ujung pisau belati mahalnya ia torehkan didada Sera yang menganggur. Mata Donghae menyala saat Sera bernafas cepat membuat dada indahnya naik turun. Darah yang mengalir semakin membuat dua gundukan itu terlihat sexy.
“Aaaangghh..” Sera menjerit. Donghae menjilat darah didadanya. Memutar lidahnya seduktif lalu mengulum putingnya sesaat.
“Apa yang kau pikirkan? Kenikmatan penuh saat sex Nona?” Donghae menggoreskan kembali pisaunya ke tubuh Sera. “Oh maaf, kenikmatan ini hanya milikku.”
“Ah Donghae tolong hentikan !” Sera kembali meraung namun terhenti saat Donghae membekap bibir Sera dengan bibirnya, melumatnya kasar, menggigiti bibir bawahnya hingga berdarah. Sera terus meronta sementara dildo yang menancap di kemaluannya semakin dalam. Donghae tertawa penuh kemenangan melihat Sera menangis tak berhenti.
‘Rasakan ini Appa~ aku yakin kau pasti melihat apa yang aku lakukan pada anak kesayanganmu’
“Sialan kau Donghae!” maki Kyuhyun sambil bergerak ingin memukul wajah Donghae namun buru-buru ditepis oleh pria itu. Donghae tersenyum sinis. Sedangkan Kyuhyun dengan nafas yang masih memburu dan tatapan mata yang menyala seakan ingin membunuh pria didepannya ini perlahan melepaskan genggaman tangannya pada kerah baju Donghae yang sudah tampak acak-acakan.
Mata Kyuhyun beralih pada tubuh Sera yang tergeletak lemah tak berdaya diatas tempat tidur dan telanjang. Belum. Yeoja itu belum mati. Donghae tak membiarkannya mati secepat itu. Rencana penyiksaan dan hal yang lebih menyakitkan lagi masih berputar diotak Donghae untuk membuat saudara tirinya itu menderita.
“Kenapa kau lakukan ini padanya? Hah??” bentak Kyuhyun pada Donghae yang sekarang sibuk dengan rokok ditangan kanannya dan botol alcohol ditangannya yang lain. Donghae belum menjawab. Disesapnya rokok berwarna coklat itu lalu memainkan asapnya didepan wajah Kyuhyun.
“Aku ingin.” Jawab Donghae kemudian. “Dia lebih mempesona dari mantan kekasihmu itu. Hahaha.”
“Kau gila.”
“Shit. Kau kira bagaimana denganmu? Memperkosa kekasihmu sendiri lalu membaginya bersamaku. Kau kira itu perbuatan macam apa? Hey dan kau ingat ya disini kau adalah anak buahku. Nyawa keluargamu ada ditanganku, Cho Kyuhyun. Kau ingin ibumu yang koma dirumah sakit itu mati lebih cepat? SIlahkan saja membantahku.”
Kyuhyun mengepalkan tangannya menahan geram dan amarahnya yang sebenarnya hampir meledak. Namun mengingat ibunya yang kini terbaring tak sadarkan diri dirumah sakit membuat Kyuhyun tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanyalah lelaki miskin yang sejak beberapa bulan lalu mengabdikan dirinya pada Lee Donghae. Semua itu ia lakukan untuk biaya pengobatan ibunya. Meski pada akhirnya ia harus mengorbankan kekasih yang sangat ia cintai, Jung Seri.
Kyuhyun menatap nanar tubuh Sera yang terdapat banyak luka sayatan dan kemaluannya yang memerah itu membuat Kyuhyun ingin muntah. Donghae sungguh tidak main-main. Kyuhyun sebenarnya tak tega tapi uang membuatnya tak mempunyai pilihan lain.
“Apa kau tertarik ingin menyentuh Sera huh? Sedari tadi kau hanya memperhatikan tubuhnya. Yah aku akui ia jauh lebih sexy daripada Seri. Kau bisa lihat dada besarnya itu~ Ssssh”
“Tidak. Terima kasih. Aku pergi sekarang.”
Kyuhyun berbalik lalu berjalan pergi.
“Cho Kyuhyun. Ini bayaranmu.” Seru Donghae sambil melempar sebuah amplop berisi lumayan tebal ke punggung Kyuhyun. Langkah Kyuhyun terhenti. Ia kembali berbalik lalu melihat sesaat pada Donghae yang masih memainkan asap rokoknya diudara. “20 juta won.”
Kyuhyun membungkuk lalu mengambil amplop tersebut. “Gamsahamnida.”
“Haha kau jadi sopan sekali saat menerima uang.”
“Terserah kau.”
Kyuhyun pun pergi meninggalkan Donghae yang masih mentertawakan dirinya.
Tangan Kyuhyun menggenggam tangan yang kini sudah mulai keriput dan semakin kurus. Air mata menetes dan menjadi semakin deras. Dia mulai merasa tidak berguna. Sudah 3 bulan wanita yang dipanggilnya Ibu ini terbaring koma diatas ranjang rumah sakit karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Jantungnya yang lemah, paru-paru yang tidak bisa berfungsi dengan baik, dan juga otaknya mengalami sedikit benturan saat terjatuh hingga membuatnya koma seperti ini.
Kyuhyun bergerak menciumi punggung tangan Ibunya.
“Maafkan Kyuhyun, Ibu~”
Isak tangisnya mulai terdengar.
“Dosa Kyuhyun sangat besar. Kyuhyun sudah membunuh calon menantu Ibu, calon Ibu dari anak-anak Kyuhyun nanti. Oh Tuhan..”
Suara deritan pintu mengagetkan Kyuhyun, membuatnya cepat-cepat menghapus airmata dan bersikap normal.
“Tuan Cho Kyuhyun?”
Kyuhyun menoleh pada lelaki berjas putih didepannya. “Aku sudah membayar administrasi pengobatan ibuku. 5 juta won kan? Apa masih kurang?”
Jujur saja Kyuhyun sudah sangat muak dengan semua dokter dan perawat dirumah sakit ini. Tidak begitu ada tindakan yang dilakukan mereka pada Ibunya karna Kyuhyun menunda biaya pengobatan. Jika bukan karena rumah sakit ini besar dan peralatannya lengkap, sudah lama Kyuhyun membawa Ibunya kerumah sakit lain.
“Maaf, bukan hal itu yang ingin saya bicarakan dengan anda, Tuan.”
Kyuhyun mengalihkan pandangan pada wajah Ibunya. “Lalu?”
“Ada yang mencari Anda.”
Kyuhyun menautkan alisnya. Orang yang mencarinya? Apa itu Donghae?
“Nugu?”
“Anda sebaiknya ikut saya. Biar perawat saja yang menjaga Nyonya Kim.”
Kyuhyun menghela nafas saat melihat 3 orang perawat masuk dan meminta Kyuhyun untuk keluar. Dengan berat hati Kyuhyun keluar dari ruangan, padahal ia masih ingin berlama-lama bersama Ibu, ingin mencurahkan semua beban yang sedang mengganjal dihatinya.
Kyuhyun bergerak malas saat Dokter disebelahnya ini terlihat mengikuti bahkan mengawasi gerakannya. Mata Kyuhyun menatap lurus ke koridor dan..
“Shit!”
Kyuhyun berlari memutar begitu menyadari siapa orang yang dimaksud oleh Dokter tadi.
“Hey jangan lari kau!”
“Ah siaaal!” Kyuhyun terus berlari berbelok di koridor yang menuju jalan keluar.
Kyuhyun mengumpat keras saat kakinya menabrak kursi roda hingga mengakibatkannya terjatuh.
“Berhenti Tuan Cho!”
“Shit!!” Dengan susah payah Kyuhyun bangkit dan terus berlari dengan keadaan kakinya yang hampir pincang.
Kerumunan yang mengejarnya pun semakin ramai saat Kyuhyun tiba di areal parkir namun Kyuhyun tidak peduli. Yang ia pikirkan saat ini adalah ia bisa terus berlari dan meminta bantuan pada Donghae yang menimpakan semua masalah ini padanya.
“Cho Kyuhyun, awas!”
BRUUUK!!
Beberapa pasang mata melotot kaget melihat tubuh itu terpental cukup jauh dan terguling dengan cepat diatas aspal.
“Menjauh semuanya!”
Seseorang berlari mendekati tubuh Kyuhyun yang tak ubahnya seperti mandi darah. “Astaga kenapa bisa begini? Cho Kyuhyun bangun!”
Kyuhyun bernafas lemah. Pandangannya mulai mengabur.
“Tuan Park? Ini benar kau kan?” ucapnya lemah.
“Ya ini aku Cho Kyuhyun. Kau harus dibawa secepatnya kedalam. Hey panggilkan Dokter unt…”
“Andwae.” Potong Kyuhyun. “Aku pantas mati, Tuan. Tolong… Ibuku sakit didalam. Tolong katakan pada mereka ambil apa saja yang ada didalam tubuhku dan berikan untuknya. Tolong..”
“Cho Kyuhyun tapi kasus ini..”
“Lee Donghae! Lee Donghae dalang dari semuanya. Aku hanya pesuruh. Maafkan aku, Tuan.. Selamatkan Jung Sera.”
“Apa??”
“Jung Sera sedang dalam bahaya, Tuan! Alamat Donghae di..dompetku..aaah Ibuuu maafkan Kyuhyun. Hhhh Ibu..”
“Ruangannya disebelah sini, Nona.”
“Ne~”
Perawat itu tersenyum lalu meninggalkannya yang sudah masuk kedalam ruangan bernomor 038 itu. Matanya seketika tertuju pada seorang wanita paruh baya yang kini sedang duduk dengan pandangan lurus dan kosong.
Tak tega sekali melihat wanita yang kini bernasib sama dengannya ini.
“Ahjumma?”
Wanita yang disebut ahjumma itu melotot kaget melihat siapa yang ada dihadapannya kini. Ia ingin turun dari ranjang namun buru-buru ditahan oleh perawat yang sedari tadi berusaha memintanya untuk makan.
“Nyonya Kim, anda tidak boleh banyak bergerak dulu.”
“Seri, dia seri.. Menantuku. Seri~”
Gadis ini menangis mendengar nama kakaknya disebut. Karena ia Sera, bukan Seri. Kakaknya sudah beberapa bulan yang lalu meninggalkannya, lalu disusul Jino, Kyuhyun, dan …… Donghae.
Kaki Sera bergetar mendekati wanita yang hampir menangis melihatnya itu. Begitupun dengan Sera.
“Ahjumma, aku Sera.” Ucap Sera lirih saat tubuhnya direngkuh dan dipeluk erat.
“Aniya, kau Seri, calon menantuku. Mana Kyuhyun? Kapan kalian akan menikah?”
Sera tak tahan lagi. Pertahanannya runtuh. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain menangis kini, suaranya tercekat dan sangat berat rasanya untuk menjelaskan semua yang telah terjadi.
Dimulai dari kabar kematian Kyuhyun, lalu usaha pelarian Donghae yang gagal saat ia memilih kabur keluar negeri. Donghae tertembak di dada oleh polisi saat sedang mencoba melarikan diri di bandara dan membuat nyawanya tak dapat tertolong walaupun ia sudah dibawa kerumah sakit. Bahkan Sera pun baru mengetahui jika Donghae juga lah otak dibalik pembunuhan kedua orangtuanya dahulu. Donghae yang saat itu telah kehilangan Ibunya dalam usia yang sangat muda akhirnya nekat dan membayar beberapa orang yang ‘ahli’ untuk mencari tahu keberadaan orangtua Sera kemudian membunuh mereka dengan kejam. Donghae terlalu marah dan dendam kepada Ayahnya sendiri karena telah meninggalkan ia dan Ibunya selama bertahun-tahun hingga akhirnya Ibu Donghae jatuh sakit lalu meninggal dunia.
Sera benar-benar tidak menyangka jika Donghae lah yang berada dibalik semua ini, namun setidaknya Sera sangat bersyukur karena dirinya dapat ditemukan selamat dan masih dalam kondisi hidup di apartemen Donghae walau dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Tubuh Sera lebam dan kemaluannya terluka parah. Sera bahkan tak bisa mengingat sudah berapa kali Donghae mencumbuinya. Namun itu sudah lewat. Sera sudah berangsur membaik kini, begitu juga dengan Ibu Kyuhyun yang sudah mendapat donor organ tubuh dari pihak rumah sakit dan juga Kyuhyun.
“Ahjumma, aku Sera. Aku saudara kembar Jung Seri..”
Ibu Kyuhyun tersentak lalu melepas pelukannya. Sera mengusap airmatanya lalu duduk ditepi ranjang, mengambil mangkok bubur yang diberikan oleh perawat yang kini memilih untuk keluar, menbiarkan Sera dan Ibu Kyuhyun berdua saja.
“Ahjumma makan dulu~” ucap Sera sambil mengayunkan sendok.
“Tapi kau mirip sekali dengan Seri..” ucap Ibu Kyuhyun. Tangannya mengusap mata dan hidung Sera dengan lembut.
Sera tersenyum. “Seri hidup dalam diriku. Kami saudara kembar, Ahjumma. Kami memiliki ikatan batin. Bahkan aku bisa merasakan Seri sekarang sedang bersedih melihat keadaan Ahjumma yang seperti ini.”
“Benarkah?”
Sera mengangguk pelan. Ia memang tak berbohong. Ada rasa sakit sekali didalam hatinya melihat wanita ini menangis padahal Sera tidak begitu mengenalnya.
“Kyuhyun kemana?”
Sera mendesah pelan. Tugasnya belum selesai. Bagaimana ia menjelaskan pada seorang Ibu jika anaknya sudah tidak ada lagi di dunia?
“Ahjumma, Kyuhyun ada disini.” Ucap Sera sambil memegang dada kiri Ibu Kyuhyun tempat jantungnya berdetak. Sera memang sedikit banyak sudah tahu apa yang terjadi dari polisi yang tempo hari menanganinya.
“Maksudmu?”
“Maafkan aku, Ahjumma. Aku tidak mengerti apapun, tapi Kyuhyun tidak bisa bersama kita lagi. Kyuhyun sudah….sudah disisi Tuhan bersama Seri, bersama kedua orangtuaku……..bersama Jino oppa.” Sera menunduk, matanya mengabur lagi oleh air.
Sera terisak mengingat keluarganya. Tak ada lagi yang tersisa. Semua pergi meninggalkannya seorang diri.
Sera sedikit kaget saat Ibu Kyuhyun membelai rambutnya. Sera lalu menatap wajahnya yang tampak tenang.
“Kyuhyun sudah meninggal?” Tanya Ibu Kyuhyun membuat Sera mengangguk dan semakin terisak.
Ibu Kyuhyun menghela nafas berat. “Ahjumma tidak apa-apa. Ahjumma senang kau mau jujur sekarang. Terima kasih Jung Sera.”
Pelukan hangat kembali diterima oleh Sera dari wanita ini. Sera lega kasus pembunuhan ini sudah selesai walau pada akhirnya ia akan tinggal seorang diri dirumahnya yang dulu. Tiba-tiba Sera tersenyum saat terpikirkan sesuatu.
“Ahjumma ingin tinggal bersamaku?”
END. Omo omo~ kekeke saya tunggu like and commentnya ya ><
Thankseu 😀

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: