The Real Story About Marriage

0
kyuhyun ff nc
Author : Vinnkyu
Title : The Real Story About Marriage
Cast : Cho Kyuhyun (SJ)- Shin Nara (OC)
Rate : NC17 , Sad , Married Life
Length : One Shot
Seoul University
Shin Nara adalah seorang gadis belia yang tengah mengenyam pendidikan di kota besar. Gadis cerdas dengan pembawaan yang diam dan terkesan sombong ini adalah mahasiswa fakultas hukum univesitas Seoul.

Ia masih menjalani semester 5. Masih baru setengah jalan menjadi mahasiswa. Bagi Nara tidak ada yang menarik di kota ini, tentu saja tidak ada jika bukan karena kampusnya dan seseorang yang ingin sekali ia temui, atau bahkan ingin ia miliki.
Choi Siwon. Pria yang mencuri hatinya sejak sangat lama, sejak ia masih duduk di bangku SMA. Dan kabar baiknya, Seoul adalah kota asal namja berkharisma itu.
Dengan segenap kekuatannya Nara berhasil sampai di kota ini. Diawali tujuan yang indah, yaitu bersekolah dan di sisi lain mencari cara agar bisa dekat kembali dengan namja itu walau tak tahu dimana pastinya ia berada.
Mungkin dia memang orang Seoul, tapi apakah Seoul sesempit daun kelor ??
~~
Seongnam – Gyeongjo
“Naraa… bangunlah, jangan mentang-mentang libur kau bisa tidur sampai begini siang…” suara Ibu Nara membahana dirumah itu.
“Aaiissshhh…. Apa gunanya aku libur dan pulang kalau tak bisa bersantai..,” decak gadis itu kemudian berjalan gontai ke kamar mandi.
Hufhhh… melelahkan. Hampir tiga tahun merantau di Seoul dan hanya punya kontak Line milik pria itu saja. Bahkan saat Nara mengajaknya mengobrol disana pun ia sudah tidak ingat siapa Nara lagi.
Padahal dulu mereka sempat dekat, walau tak bisa saling memiliki. Karena nyatanya Choi Siwon sudah punya kekasih dan lebih memilih mempermainkan Nara yang menyukainya.
Ahhh wae ? Kenapa ia tak suka padaku ? Kenapa ia tak memilihku ? Kenapa ia membuatku gila hanya dengan memikirkannya saja ? Wae ??
Dan bahkan ia tak mengenali wajahku lagi, gumam Nara sedih dalam hatinya.
Story Chat Line
Nara
Hai… Kau masih ingat padaku ?
Choi Siwon
Ani, kau pakai foto yang bahkan wajahnya saja tidak jelas. Apa kau sangat jelek ? Kenapa pakai foto seperti itu ?
Hanya jawaban menyebalkan yang Nara dapat saat memberanikan diri dan membulatkan tekad untuk menghubungi namja tengil sialan itu.
Kenapa sih ? Foto Nara sudah sangat jelas. Bahkan satu frame Display Picture itu diisi penuh oleh wajahnya. Apa namja itu buta ??
Sedang mempermainkannya ? Atau pura-pura lupa ?
Haruskah serumit ini untuk dapat berkomunikasi ?
Nara tinggal dengan Ibu dan seorang adik perempuan di seongnam. Ibunya adalah seorang istri muda yang tidak dikawin resmi dan belum dapat pengakuan khalayak ramai soal pernikahannya.
Entahlah, Nara juga tidak mengerti. Kabarnya dulu Ibu Nara seorang pegawai kedutaan di China. Dan jatuh cinta pada Duta Besar Korea yang waktu itu sama-sama bekerja disana.
Tuan Park Joongso. Sekian lama mereka menjalin hubungan gelap, akhirnya mereka memiliki seorang anak, Shin Nara yang lahir di Wuhan-China 22 tahun yang lalu. Kemudian dua tahun berikutnya putri kedua mereka lahir, bernama Shin Haerin.
Setelah kelahiran putri kedua itulah Ibu Nara dikembalikan ke Korea. Diberi rumah indah dan fasilitas mewah sehingga tidak perlu lagi susah payah untuk bekerja.
Bahkan kabarnya Ayah dan Ibu Nara menikah. Walaupun tidak ada surat resmi dari pemerintah, semua orang tahu jika Ayah dan Ibunya adalah sepasang suami istri.
Ibu mereka tinggal di Seongnam, dan Ayah yang berkelana keliling dunia. Ditugaskan kesana kemari oleh negara. Sehingga waktu bertemu Nara dengan Ayahnya sangatlah kurang. Begitu juga dengan sang adik,Haerin. Yang kelihatan lebih membenci Ayah mereka ketimbang merindukannya.
Nara sedang berlibur di kampung halamannya untuk segera memasuki semester enam. Sebenarnya ia lebih betah di seoul dari pada kota tempat tinggalnya, namun demi menghemat pengeluaran Ibunya Nara pulang untuk dua minggu berada dirumah.
Angi sepoi memasuki liang jendela kamarnya yang dihiasi pohon mawar putih raksasa diluar sana. Angin yang dibawa masuk begitu wangi berkat tanaman itu. Benar-benar menyenangkan, tidak perlu mahal-mahal membeli lilin aromatherapy untuk relaksasi.
Sesaat kemudian…
Cklek..
Haerin sang adik memasuki kamarnya.
“Eonni….” sapanya dengan penuh hati-hati.
“Eum ? Ada apa ?”
“Apa Eonni sudah tahu ?”
“Apa sayang ?”
“Appa akan menikah lagi…”
Deg !!
Jantung Nara bagai berhenti berdetak saat itu juga. Ia begitu sibuk diluar kota sampai tidak tahu kabar sepenting ini.
Air matanya tak dapat lagi terbendung dan ia menangis, mengisak pilu disisi adiknya yang hanya diam membisu, tak mampu berbuat apa-apa lagi.
“Aku fikir itu hanya kabar bohong yang disebarkan tetangga….” suara Nara tersesak dibalik tangisnya.
“Kenapa Eonni menangis ? Toh dia tidak menikah lagi pun, ia tak pernah ada disini. Kita tetap hanya bertiga…”
“Tapi pasti ada yang berubah nantinya.. Aku tak mau..”
“Segala sesuatu berubah setiap harinya, tak perduli kau suka atau tidak mereka akan berubah seiring waktu yang berlalu…”
“Tapi kenapa ?”
“Karena itulah hidup…”
Entah kenapa pernyataan sang adik membuat Nara tertegun. Apa benar maksud gadis ini ? Memangnya semua hal akan berubah ?
Haerin tumbuh menjadi sosok gadis yang tangguh dan jarang menangis. Jika Nara kelihatan angkuh dan dingin diluar maka Haerin adalah kelipatannya.
Mungkin Nara terkadang menunjukkan sisi lemahnya seperti saat ini, tapi tidak dengan adiknya. Gadis itu sangat kuat bahkan ketika harusnya ia menangis bersama sang kakak.
Entah hatinya terbuat dari apa sehingga membuat Haerin bersikap biasa saja menanggapi kenyataan ini. Bahkan Nara yang kuat sekalipun menangis mendengarnya.
“Eonni… Aku keluar dulu..” ujarnya datar seraya meninggalakan kamar kakaknya.
Nara menangis, semakin kencang. Apa artinya ia pulang kerumah jika dapat kabar seperti ini. Bahkan sudah berbulan-bulan Ayahnya tidak menyambangi rumah ini dan kali ini kenyataan benar-benar menamparnya karena untuk selamanya sang Ayah tak akan pernah datang lagi.
Nara semakin terpukul. Disaat seperti ini bahkan ia tak punya seorang teman untuk diajak berbagi. Sahabatnya, yang sudah menjadi belahan jiwanya, pergi jauh dari kota ini. Dia juga merantau dan melanjutkan hidupnya sendiri di kota lain. Yang sangat jauh jika harus disambangi sekarang.
Kenapa semuanya semakin buruk ? Pria, keluarga, sahabat ? Jangankan sempurna, bahkan dekatpun tidak.
~~~
Malam ini Nara terakhir berada dirumah. Sikapnya yang pendiam dan tertutup seperti itu membuatnya tak pernah bertanya apa-apa pada sang Ibu.
Sekalipun mereka tinggal serumah dan sama-sama perempuan, tapi sepertinya putri-putri Nyonya Shin tidak ingin dekat Ibunya yang tengah berduka lara.
Ia akan diceraikan. Karena suami tidak sah nya itu akan menikah lagi dengan perempuan lain yang jauh lebih muda.
Sekalipun pernikahan mereka bukan pernikahan umum seperti orang lain, namun Tuan Park hanya memiliki wanita ini sebagai satu-satunya istri yang ia punya. Dan memiliki dua orang putri cantik dengan Shin Nara sebagai putri sulungnya. Pernikahan Tuan Park dengan istri tuanya tidak menghasilkan seorang keturunan.
Dan mulai saat ini mereka tak akan lagi bersama. Bukan main sedihnya hati wanita setengah baya ini. Walaupun pria itu jarang sekali ada dirumah, tapi hatinya masih ada hasrat memiliki sebagai seorang istri. Namun sekarang apa ? Ia harus memulai semuanya sendiri.
Berhenti mengharapkan uang kiriman untuk hidupnya setiap bulan, dan mulai memutar otak untuk menghidupi diri dan kedua putrinya.
Mungkin pria itu masih sudi membiayai Kuliah Nara dan Haerin, tapi bagaimana dengan makan mereka sehari-hari ? Nyonya Shin mungkin tinggal dirumah yang besar dan mewah, tapi ia tidak punya usaha apapun sama sekali untuk menghidupi kebutuhannya nanti.
Semua berawal sejak dua minggu lalu. Saat itu Nara belum pulang kerumah untuk liburannya, dan pria itu datang tengah malam buta.
Membawa kabar mengejutkan jika ia akan menikah lagi, dengan seorang wanita muda yang ia hamili. Miris sekali. Nyonya Shin marah bukan kepalang bahkan tangannya dengan ganas merusak mobil mewah suaminya itu.
Melempar kaca dan menusuk ban belakangnya dengan pisau daging. Agar pria itu tak bisa lari kemanapun lagi.
Tapi toh nyatanya sikap Nyonya Shin yang anarkis malah membuat pria itu berpikir untuk menceraikannya. Hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Ia pulang hanya untuk menyambangi istri dan anaknya, sekaligus meminta restu untuk menikah lagi.
Wanita mana yang sudi ? Lebih baik menjanda kalau begitu !! Pikiran itu sebelumnya sudah terlintas dipikiran Nyonya Shin. Tapi setelah itu tentunya ia sadar jika ia masih membutuhkan pria itu, walaupun hasrat membutuhkan uang lebih dominan tentunya.
Nyonya Shin menangis, bukan, ia tidak menangisi perceraiannya. Ia sudah cukup kuat tinggal dirumah mewah tanpa suami. Ia menangis karena beban yang harus ia tanggung sendiri.
Baginya, walaupun Nara dan Haerin adalah darah daging Tuan Park, tapi ia tak akan mengemis pada pria itu untuk biaya hidup kedua putri cantiknya.
“Eommaa….” suara Nara menginterupsi isak tangisnya yang sejak tadi membahana tak kunjung berhenti.
“Uljimaa.. Kita akan baik-baik saja Eomma.. Aku akan bekerja agar tak menyusahkanmu..” ujar Nara sambil mengelus punggung Ibunya untuk menenangkan.
“Aniyo.. Bukan itu yang Eomma tangisi. Hanya saja, Ya Tuhan… Ini sudah 24 tahun aku seperti ini, dan jujur saja rasanya lega lepas dari penjara tak terlihat itu…” jawab Nyonya Shin dengan kalimat yang tabu.
Nara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ibunya.
“Kalau kau menikah nanti, berjanjilah agar terus bertahan dengan suamimu eoh ? Jangan jadi janda seperti Eomma…”
Nara hanya bisa diam. Mulutnya terkunci rapat, entah kenapa, baginya pernikahan benar-benar sangat menyeramkan. Hatinya mencelos mengetahui hal macam begini.
Sang Ayah, orang yang begitu ia cintai, yang dianggapnya sebagai pahlawan, seperti tangan kanannya Tuhan, tega berbuat seperti ini pada keluarga kecil mereka. Mengambil keputusan semena-mena dan membuat hati Ibunya terluka.
“Uljimma Eomma… Gwenchana…”
Haerin menatap Ibu dan Kakaknya dari balik pintu kamar. Hatinya pun sama, sakit dan nyaris hancur tak berbentuk. Ia begitu merindukan Ayahnya hingga rasa rindu itu menumpuk dan berbau aroma benci.
Apalagi saat pulang dua minggu yang lalu Ayahnya hanya membawa kabar buruk dan petaka belaka. Sungguh menyedihkan, dan orang seperti itu tidak perlu ditangisi lagi.
~~
Shin Nara kembali ke Seoul dan meneruskan kegiatan kuliahnya. Dengar-dengar Ayah dan Ibunya sudah resmi bercerai dengan cara adat karena mereka memang tak pernah masuk catatan sipil, jadi tak ada sidang.
Hatinya amat sangat sakit. Rasanya kehidupan yang semakin sempit itu lebih jelas terasa. Sejak itu sang Ayah memang mulai mengacuhkannya.
Mengirimkan uang jajan yang sangat sedikit setiap bulan dan kemungkinan untuk membayar uang kuliah semester depanpun tidak ada.
Bayang-bayang mengerikan terus berputar dalam kepala Nara. Bagaimana nanti jika ia berhenti kuliah ? Menyedihkan sekali punya otak yang pintar dan Ayah yang kaya tapi harus berhenti kuliah. Ternyata memang benar, kehadiran wanita baru dalam hidup sang Ayah membuat dirinya berubah.
Nara harus mulai bekerja dengan situasi sulit seperti ini. Mungkin bekerja paruh waktu di salah satu minimarket 24 jam tak ada salahnya. Toh kuliah tidak makan banyak waktu seharian, ia bisa bekerja sampai tengah malam.
Benar ya, roda itu berputar. Hahaha Rasanya lucu sekali ketika dulu Shin Nara adalah gadis yang kaya dan banyak uang, namun sekarang ??
Dulu ia bahkan sering membuang uang kecil yang tidak seberapa ke sembarang tempat. Bahkan teledor sekali menyimpan barang-barang berharganya.
Sekarang ? Bisa kalian tebak jika Nara hanya mendapat 200ribu Won perbulan untuk biaya makan dan segalanya. Bagaimana jumlah itu bisa cukup ? Sedangkan biaya hidup dikota ini sangat tinggi.
Untuk beberapa lama Nara masih bertahan dan tinggal di Seoul. Kuliah di siang hari dan bekerja pada malam harinya.
Sampai suatu sore saat ia hendak ke tempat bekerja, ia melihat sosok namja yang familiar dimatanya.
“Shin Nara ??” tegur namja itu sopan sambil tersenyum ramah.
“Sunbae-nim.. Anyeonghaseoyo..”.jawab Nara sopan.
“Ne, aku senang bertemu denganmu, dan kau makin cantik…” ujar namja itu lagi, dengan senyuman indah merekah dibibirnya yang merah.
Nara tersipu malu dibuatnya. Namja ini adalah seniornya dulu yang sekarang sudah lulus duluan. Dan sepertinya mereka sama-sama tertarik, hanya enggan mengakuinya.
Siapa yang tidak tertarik pada namja tampan berambut coklat itu ? Matanya yang tajam dan hidungnya yang mancung membuat kadar ketampanannya diatas rata-rata.
Bahkan wajah pria ini masih lebih tampan dari personel Boy band terkenal di korea. Ia selalu tampil sederhana namun dapat memukau siapapun yang melihatnya.
Dan bagi Nara sendiri, Kyuhyun merupakan hiburan yang sangat membantu dari kegalauannya terhadap Choi Siwon, pria yang entah ada dimana itu.
Namanya Cho Kyuhyun. Ya, nama namja tampan dihadapannya adalah Cho Kyuhyun.
“Hei… Kenapa melamun ??” tanyanya mengejutkan Nara yang masih betah terpesona pada kharisma yang ia pancarkan.
“Ah.. Ani sunbae-nim. Aku harus segera pergi. Aku bekerja paruh waktu setelah ini.. Anyeonghigaseoyo..” jawab Nara lalu membungkuk dan pergi.
Kyuhyun tersenyum memandangi kepergian gadis cantik itu dihadapannya, selain makin cantik gadis itu lebih mandiri sekarang. Rasanya benar-benar luar biasa. Dulu Shin Nara hanyalah gadis manja yang bergelimangan uang dan barang-barang mahal.
Tapi sekarang ?? Hahaha siapa yang sangka kan jika pepatah roda sedang berputar itu benar adanya ??
~~~
Sore itu Nara baru saja pulang dari kampusnya dan berencana untuk bolos bekerja hari ini. Besok ia ada ujian dan tidak mau melewatkan kesempatannya untuk belajar.
Namun tanpa ia duga, pria yang tak sengaja ditemuinya beberapa hari yang lalu tengah berdiri dibawah halte bis seperti sedang menunggunya. Entah iya atau tidak, namun Nara merasa begitu adanya.
“Lama sekali, aku sudah menunggu lama…” ujarnya ketus saat Nara sama-sama berdiri di halte itu.
Nara hanya menatapnya heran tanpa mengatakan apa-apa. Matanya memandang namja itu sebentar kemudian melihat lurus lagi kedepan.
Ya Tuhan, Shin Nara belum benar-benar berubah. Disaat ia jadi yeoja biasapun gaya arogan dan angkuhnya masih sangat dominan.
“Shin Nara, tidakkah seharusnya kau basa basi padaku ?” tegur Kyuhyun lagi pada gadis disebelahnya.
“Ne ??” tanya Nara dengan tampang bodohnya.
“Aku menunggumu sejak lama!!” ujarnya lagi sambil berdecak sebal. Matanya mulai menyipit untuk melihat respon gadis sombong disebelahnya kini.
“U…untuk apa Sunbae ?” tanya Nara polos
“Aaaiissshhh…..” Kyuhyun kembali mendengus kesal sambil menjambak rambutnya yang tak berdosa.
“Baiklah, karena berbicara denganmu membutuhkan banyak waktu, jadi aku langsung saja. Shin Nara, aku menyukaimu ! Sejak kau pertama kali datang kekampus dan aku jadi seniormu. Aku sudah menyukaimu..”
“Lalu ??” tanya Nara dengan bodohnya.
“Lalu ? Apa? Ya Tuhan !! Baiklah, aku tak perlu basa basi lagi sepertinya. Jadilah pacarku !! Jadi pacarku…” ujar Kyuhyun lagi, tak terbantahkan.
Nara hanya menatapnya takjub. Apa barusan namja ini menyatakan cinta ??
Sesaat kemudian bus yang mereka tunggu sudah datang lalu Kyuhyun menarik tangan Nara dan membawanya masuk kedalam.
Mereka duduk dalam diam selama perjalanan. Rasanya masih sangat canggung dan gugup.
Nara masih sangat terkjut dengan keadaan yang diterimanya dan Kyuhyun masih merasa malu dengan apa yang ia katakan barusan.
Mereka turun dari bis dengan Nara yang berjalan didepan menuju rumah sewa tempat tinggalnya. Kyuhyun mengikuti langkah gadis itu dengan tenang, dan tentu saja sangat bergaya.
“Sunbae apa yang kau lakukan ?” tanya Nara pada Kyuhyun yang masih betah menjadi stalker dibelakangnya.
“Mencari tahu rumah pacarku pastinya..” jawabnya santai.
Seakan barusan tadi tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka, dan Kyuhyun sama sekali tidak sadar dengan debaran jantung Nara.
Ya Tuhaann… tak bisakah namja ini memberikanku waktu barang sebentar saja ? gumam Nara dalam hatinya.
“Itu rumahku. Kau melihatnya?” ujar Nara sambil menunjuk rumah mirip apartemen mini dengan warna abu-abu berlantai tiga.
“Bolehkah aku main kesana nanti ? Kita bisa makan dan minum sesuatu sambil mengobrol mungkin..”
Nara hanya mengangguk setuju. Terserahlah, yang penting saat ini namja itu pergi dan memberi Nara waktu untuk berpikir. Ayolaahh… ini terjadi sangat cepat dan buru-buru.
“Aku masuk dulu sunbae..” ujar Nara akhirnya.
“Eoh.. titipkan salamku pada Ibu asramamu eoh ? Ahh.. jangkamman, aku harus tahu nomor ponselmu…”
Dengan cepat Kyuhyun mengambil ponsel yang sejak tadi digenggam Nara dan mengotak-atik ponsel itu.
Hingga suara deringan ponsel disakunya berbunyi dan ia pun tersenyum senang.
“Itu nomor ponselku. Cahh, masuklah kesana. Oh iya, kau sekarang adalah pacarku. Jangan lupa itu..”
Kyuhyun tersenyum manis sebelum akhirnya melambai pergi meninggalkan Nara yang masih bengong dengan kejadian barusan.
Apa ini mimpi ?
Bahkan jika seluruh isi langit dan bumi memuja Choi Siwon sebagai namja terkeren dijagat raya ini, bagi Shin Nara pria itu bukanlah apa-apa lagi jika dibanding dengan Cho Kyuhyun.
Pria yang dengan gentle mengajaknya berkomitmen dan menghargainya. Sedangkan Siwon ? Cih mimpi saja.
Namja itu memang mempesona dan berkarisma, tapi kelakuannya itu membuat Nara lelah dan harus memutar otak jika ingin dekat dengan dia. Seakan Siwon selalu mengatakan “Jangan jadi gadis yang bodoh jika ingin dekat denganku”
Dan Nara lelah menjadi pintar untuk membalas semua ocehan sombongnya. Bahkan dulu ia pernah berkata.
“Shin Nara, kau sekarang pacarku, tapi aku bukan pacarmu. Jadi aku bisa melakukan apapun padamu sementara kau tak punya hak apapun padaku. Kau mengerti ?”
Dan Nara hanya mengangguk. Karena apa ? Saking sukanya pada namja itu !! Lalu setelah kencan singkat, Siwon meninggalkannya. Tahu kenapa ?
Itu karena Nara mendadak jadi bodoh saat menyetujui hal itu. Dan Siwon benci gadis yang bodoh ataupun gampang dibodohi.
Lalu Nara bagaimana ? Tentu saja kembali ke tempat semula. Menjadi pengagum sekaligus stalkernya saja.
Hingga waktu kelulusan tiba dan setahun kemudian mereka tidak pernah bertemu lagi, bahkan sampai hari ini. Berarti sudah tiga tahun. Dan rasa itu belum hilang sama sekali.
Wae ?
Hentikan cinta bodohmu itu Shin Nara !!
Karena ada Kyuhyun disini, mulai saat ini. Ada Kyuhyun yang akan menjadi pengganti Siwon dalam hatinya sehari-hari.
~~~
Hampir tiga bulan Nara dan Kyuhyun berkencan.
Mereka menjalin hubungan yang santai namun serius dan menyenangkan.
Kyuhyun selalu tahu bagaimana caranya memperlakukan Nara dengan baik, menghormatinya dan menyentuhnya sesuai batas.
Benar-benar namja yang baik, dan membuat hidup Nara seperti dijungkir balikkan lalu jatuh hati pada namja itu dan semua pikiran tentang Choi Siwon lenyap begitu saja.
Walaupun hidup Nara tak seindah dulu karena masalah keuangan, tapi keberadaan Kyuhyun disisinya sungguh sangat membantu Nara. Meringankan beban yang ada dipundaknya, saling berbagi senyum dan tawa.
Cinta benar-benar indah. Apalagi Nara mencintai namja setampan ini. Hatinya sungguh puas luar biasa.
Nara yang pendiam berubah menjadi hangat dan manja pada Kyuhyun. Bahkan mereka tak segan lagi berbagi pelukan karena Nara sangat suka dipeluk jika sedang kesepian dan sendirian.
“Oppa…”
“Euhmm ??”
“Benarkah akan kembali ?”
“Tentu saja. Hanya sebulan berada di ulsan. Wae ?”
“Aku akan kesepian Oppa..” rengek Nara manja saat Kyuhyun datang untuk berpamitan keluar kota. Ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan disana.
Kyuhyun mengelus rambutnya pelan, merasakan kelembutan rambut Nara dan menghirup aroma samponya berkali-kali. Wangi sekali dan Kyuhyun suka itu.
“Kalau Oppa sempat, Oppa akan menyelinap di akhir minggu dan menjengukmu kemari..” ujar Kyuhyun sambil tersenyum penuh arti.
~~~
Sudah dua minggu Kyuhyun pergi. Dan Nara benar-benar merindukannya. Sepertinya Kyuhyun memang sangat sibuk dengan pekerjaannya itu.
Dia bekerja untuk perusahaan kapal tanker pengangkut minyak dan tambang di area laut lepas. Sehingga tak jarang Kyuhyun harus pulang pergi ke Seoul-Busan ataupun Seoul-Ulsan.
Ini baru minggu kedua, berarti masih ada dua minggu lagi dan Nara harus bersabar lebih lama lagi untuk bertemu sang kekasih.
Biasanya Kyuhyun akan datang hampir setiap hari. Mengikuti kemanapun Nara pergi dan menjemputnya tengah malam buta saat Nara pulang bekerja.
Tapi sekarang namja itu hilang sudah dua minggu lamanya. Membuat Nara bosan dan kesepian.
Namun tanpa Nara sangka, malam minggu seperti ini Kyuhyun datang. Yaa.. Kyuhyunnya datang.
Sepertinya memang ia sudah berencana untuk kabur sejenak dari kota pelabuhan itu, karena Kyuhyun datang bersama empat atau lima teman kantornya dalam satu mobil yang sama.
Mungkin untuk melakukan kencan bersama dan melewati malam yang indah. Barbeque mungkin menjadi pilihan yang paling baik.
~~
Kyuhyun menyanyikan sebuah lagu dengan gitar ditangannya. Benar-benar malam yang indah. Yang terindah bagi Nara.
Hatinya menghangat dan jantungnya berdebar kencang mendengar suara indah Kyuhyun mengalun lembut menembus dinginnya angin malam. Bahkan air mata Nara hampir saja jatuh karenanya. Padahal ini bukanlah lagu sedih. Kyuhyun sedang menyanyikan lagu romantis untuknya.
Cause all of me…
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfection
Give your all to me
I’ll give my all to you
You my End and my beginning
Even when I lose im winning
Cause I give you all of me..
And you give me all of you…
Suaranya benar-benar membuat Nara terhipnotis. Ditambah lagi lirik lagunya yang menyentuh dan menggoda Nara untuk melakukan semuanya. Memberikan semuanya untuk namja ini.
Seperti yang ia minta lewat lagu itu. Dan akhirnya malam itu berakhir indah bersamaan dengan Nara yang diantar pulang oleh Kyuhyun.
~~~
“Ahh…. Oppa,, jeballlhhh… sakittthhhh….” suara Nara mendominasi permainan dua sejoli yang tengah sibuk mencari kenikmatan lewat tubuh pasangan masing-masing.
“Asshhh… tahan sebentar, ini tak akan lama… aaaaarrgghhhh kenapa susah sekali….” sahut namja yang masih susah payah menyodok vagina gadisnya.
Mereka melakukan ini ditempat tinggal Nara. Diawali dengan ciuman ringan yang ternyata menggoda iman mereka untuk berbuat lebih jauh. Dan bahkan bagi Nara sendiri ia baru tahu jika nafsu itu seperti itu.
Sangat nikmat jika dituruti. Hingga ia tak lagi sadar kalau roknya sudah tersingkap keatas dan memamerkan paha mulusnya. Sedangkan celana dalamnya entah sudah berada dimana akibat ulah namja yang tengah berjuang keras diatas tubuhnya kini.
“Aiisshhhh… apa mungkin ini ada lubangnyaa ?? Rasanya milikku hampir patah mendorong terus seperti ini tanpa hasil yang berarti…” racau sang pria sambil masih terus berusaha menindih gadisnya yang kesakitan.
Ia sendiri sangat lelah dan sakit. Bercinta dengan perawan ternyata serepot ini.
Tangan Kyuhyun membuka kaki Nara lebih lebar dan menusukkan lebih keras kejantanannya kedalam milik gadis itu. Sedangkan bibirnya menghisap lidah Nara untuk melampiaskan rasa sakit dan nikmatnya sekaligus.
“Aahhh Oppaaaahhh…..” suara desahan Nara yang panjang mengakhiri perjuangan mereka.
Peluh dan nafas yang memburu menandakan betapa kerasnya perjuangan mereka tadi.
Sedetik kemudian Kyuhyun merasakan cairan hangat merembes lewat sisi celah-celah kemaluan mereka. Nara berdarah, tentu saja karena ia masih perawan.
Senyum miringnya keluar diiringi dengan nikmatnya rasa hangat yang ia dapat ketika merasakan kehangatan sekaligus lembab yang mendominasi penisnya didalam. sana.
Kyuhyun menggoyang perlahan pinggulnya dan menciumi Nara dengan serampangan. Rasanya benar-benar nikmat. Kemaluan Nara menjepit milik Kyuhyun kuat disertai denyutan pijitan dari dinding vagina Nara yang merespon kenikmatan itu.
“Aahh… kau sangat indah sayang….” ujar Kyuhyun disela kegiatannya yang sangat nikat itu.
Rasanya berteriakpun tak sanggup menggambarkan rasa nikmatnya pada tubuh Nara malam ini. Kyuhyun kembali berulah dengan membuka kancing baju Nara dan mengeluarkan benda bulat didada gadisnya itu dengan cepat.
Kemudian sebelah tangannya meremas buah dada Nara yang sintal, besar dan bulat. Membuat rasa nikmatnya bertambah berkali-kali lipat.
“Aaahh Oppaaahhh….” desahan Nara menggema seiring dengan kelakuan Kyuhyun padanya.
“Apa ini nikmat sayangghh..?”
“Eunghhhh… “
“Sayangghhhh… Sebut namaku…”
“Aniihhhh…”
“Asshhhhhh…..” Kyuhyun menggoyang pinggulnya lebih kencang, hingga suara tubuh mereka yang bersentuhan bercampur keringat terdengar jelas dikamar itu.
Dan sadar atau tidak suara-suara seperti itu membuat si empunya kerja menjadi lebih ganas. Kyuhyun bahkan akan mendapat klimaksnya sebentar lagi.
Ia menggoyang pinggulnya sangat kencang. Nafasnya memburu disertai desahan nikmat yang membahana.
“Aarrgghh…..” Kyuhyun akhirnya mendapat pelepasannya yang pertama.
Dan tak lama setelah merasakan hal itu ia kembali menggoyang tubuh pacarnya, untuk mencari kenikmatan yang berikutnya.
~~~
Kyuhyun sudah kembali ke Ulsan untuk mengerjakan perkerjaannya yang masih menumpuk disana.
Sementara Nara tinggal di seoul dengan sejuta kekhawatiran. Ia takut hamil. Tentu saja. Karena malam itu mereka bercinta tanpa menggunakan pengaman. Dan parahnya Kyuhyun menembakkan spermanya didalam rahim Nara.
Nara begitu stres jika memikirkan hal itu. Rasanya ia takut setengah mati. Kalau Eomma dan Appanya tahu, matilah habis sudah Nara digantung ditiang jemuran.
Ia pun mulai enggan menghubungi Kyuhyun sejak hari itu. Pikiran-pikiran negatif selalu menghampirinya jika ia mengingat Kyuhyun ataupun sekedar berhubungan dengannya lewat telepon saja.
Ia sangat takut jika mengulangi hal yang sama kalau Kyuhyun datang lagi. Karena kegiatan itu memang luar biasa nikmat dan membuat ketagihan.
Tapi Nara tak akan mau melakukannya lagi sebelum menikah.
Sehingga alasannya untuk menghindari Kyuhyun sangat kuat. Ia jadi jarang menghubungi Kyuhyun dalam bentuk apapun. Baginya hidup Nara sudah cukup sulit sekarang, dan ia tak mau membuat masa depannya semakin suram karena hal itu.
Walaupun hatinya masih diliputi rasa gelisah dan takut, takut telat datang bulan atau hal semacam itu. Dirinya sudah begitu kotor dan keji.
Agak berlebihan memang. Tapi memang itulah yang dirasakan Nara. Gelisah dan menyesal.
Kyuhyun memang jarang menghubunginya karena dia sendiri sedang sibuk. Dan itu sebuah keuntungan bagi Nara. Ia sekarang memang tak ingin dekat-dekat dengan namja itu.
Nara sibuk dengan kegiatan sehari-harinya dan sesekali mengacuhkan telepon dan sms masuk dari Kyuhyun yang masuk ke ponselnya.
Ia sama sekali tidak bermasalah akan hal itu. Rasanya dekat-dekat dengan Kyuhyun seperti akan alergi setahun, jadi lebih baik seperti ini.
Gadis bodoh. Setelah memberikan tubuhnya pada seorang pria, lalu ia pergi begitu saja ? Bahkan seorang pelacur saja dibayar untuk itu, sementara Nara ?
Bayangkan jika Ibunya tahu akan hal ini. Aaarrgghhhh… Memuakkan !!
~~
“Kau menghindariku, wae ?” tanya namja itu tiba-tiba sudah ada dihadapan Nara.
“Ani.. Aku sibuk..” jawab Nara singkat.
“Apa karena malam itu ?”
“Ne ?”
“Karena malam itu. Sejak saat itu kau mulai menjauh dariku. Wae ? Kau takut padaku ?”
“Aku takut hamil…”
“Aku akan bertanggung jawab bila kau hamil..”
Nara hanya menatapnya sekilas dan pergi meninggalkan namja itu. Rasanya mendengar Kyuhyun berkata seperti itu malah membuat dirinya merasa semakin rendah.
Walaupun saat itu mereka melakukannya dalam keadaan sadar, atas dasar suka sama suka. Tapi mendengar pernyataan Kyuhyun barusan, yang mungkin menurutnya adalah kata-kata berani seorang pria yang bertanggung jawab, namun dalam pikiran Nara itu hanyalah kalimat yang akan makin merendahkan dirinya.
Itu artinya Kyuhyun menginginkan hal itu berlangsung berulang kali tanpa khawatir jika Nara akan hamil mendengar pengakuannya barusan.
Tanggung jawab ?
Dalam bentuk apa ?
Menikah ?
Di usia semuda ini ?
Mimpi saja !!
~~°°~~
Berminggu-minggu Nara dan Kyuhyun semakin merenggang. Rasanya ia membenci Kyuhyun lebih dari apapun setelah perkataan Kyuhyun waktu itu.
Dan benar saja, hal ini malah membuat semua orang berpikir bahwa Nara adalah gadis yang bodoh.
Kenapa meninggalkan namja yang begitu baik seperti Kyuhyun ?
Perhatian sepertinya. Tampan dan berani bertanggung jawab.
Dan apakah itu benar ?
“Aku harus bagaimana Yonhe-ya ??” tanya Nara saat tengah bertelepon dengan sahabat jauhnya.
“Kalau sudah seperti ini kau minta dinikahi saja. Bukankah kau bilang hidupmu cukup sulit ? Lalu membiarkanmu berhubungan dengannya juga tidak akan baik, kalian pasti akan melakukannya lagi. Dan kau akan semakin tersiksa, apa dia bilang dia mau bertanggung jawab ?”
“Ya. Tapi ketika aku hamil saja..”
“Kau tak perlu menunggu hamil, saat ini dia bahkan sudah merebut harta yang harusnya jadi suamimu kelak…”
“Jadi sekarangpun aku berhak minta tanggung jawabnya ?”
“Tentu saja..”
“A… Aku akan memikirkannya…”
“Ya…”
Nara mulai memutar otak untuk mengambil keputusan atas hal ini. Ia sangat menyayangi Kyuhyun namun takut terjebak dalam hubungan yang kotor. Sering-sering melakukan hubungan intim diluar nikah bukanlah hal yang baik.
Dan sesungguhnya Nara tidak lagi percaya pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu lagi jika ia putus dengan Kyuhyun dan mencari namja lain.
Ia hanya akan semakin kotor. Kenapa tidak sekalian saja menjadi pelacur kalau begitu ?
Dan buat Ayahnya yang terhormat malu besar atas kelakuannya.
Aku harus cari cara, Yah.. Aku akan lihat kesungguhan Kyuhyun padaku.
°°°~~~°°°
Hampir sebulan lebih dijauhi Nara membuat Kyuhyun hampir gila. Bahkan ia tak semangat lagi memulai hidupnya esok pagi.
Hanya membuat ia makin tersiksa. Sesungguhnya ia masih belum mengerti yang dirasakan Nara itu sebenarnya apa ?
Dia hanya menjauh tanpa mengatakan apa-apa.
Jika ia hamil, toh Kyuhyun sudah bilang akan bertanggung jawab. Tapi kenapa ia malah lari ??
Kyuhyun mengambil ponselnya dan menghubungi gadis itu.
“Yeobseoyoo…,”
“Ne Oppaa…”
“Masih marah padaku ?”
“Ani…”
“Kau hamil ya ? Apa kau hamil ? Kau menghindariku karena kau hamil ?”
“Ani..”
“Lalu ?”
“Aku hanya tidak ingin melakukannya lagi sebelum aku menikah. Makanya aku menjauhimu. Karena aku yakin, jika kita dekat, kau pasti akan melakukannya lagi…”
“Ne ???”
“Ya.. itu yang aku rasakan..”
“Lalu maumu apa ? Menjauh dariku ? Berpisah denganku ? Apa kau gadis bodoh ?”
“Ya. Lebih baik aku menjauhimu dari pada terjebak dalam hubungan kotor seperti itu…”
“Kau sudah terlanjur kotor Shin Nara !! Kenapa kau tidak sekalian saja menjerumuskan dirimu dan hamil anakku ? Dengan begitu kita akan menikah dan terhindar dari hubungan kotor seperti katamu barusan !! Saat ini kau hanya menjadi sosok wanita bodoh karena kau meninggalkan pria yang sudah meniduri selama satu malam. Dan bahkan kau tak dapat apapun setelah itu..!!”
“Aku dapat pelajaran berharga.. Terima kasih sudah mau menjelaskan betapa rendahnya aku..”
“Apa kau fikir suamimu kelak akan menerimamu ? Kau seorang gadis hanya lewat statusmu !!”
“Apa itu begitu penting ?”
“Semua pria menganggap itu penting Shin Nara !”
“Berarti kau juga begitu ?”
“Setidaknya aku tahu siapa yang mengambil kesucianmu !!”
“Lupakan…!”
Tut..
Sambungan telepon diputus begitu saja. Kenapa sih yeoja ini ? Pikirannya terlalu sempit dan pendek.
Bagaimana hal seperti itu bisa jadi masalah besar baginya ? Banyak orang yang melakukan hal itu dengan banyak pria sebelum mereka menikah.
Lalu Shin Nara ? Bahkan bercinta dengan pacarnya pun membuat dia seperti akan mati besok saja.
Dan kelakuannya barusan membuat Kyuhyun semakin gila ! Andai saja Kyuhyun tidak terlanjur menyayanginya lebih baik ia pergi saja. Meninggalkan si gadis bodoh berotak udang itu sendirian.
Tapi Kyuhyun tidak bisa. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak dapat menjauh dari Shin Nara.
Akhirnya Kyuhyun nekat, mendatangi kediaman gadis itu yang dua minggu sudah tidak disambanginya. Sementara minggu-minggu yang lalu saat ia kesana Nara bersembunyi entah dimana, sungguh merepotkan gadisnya ini.
°°°~~°°°
Kyuhyun melihat daerah sekitar apartemen mungil tempat tinggal Nara kosong melompong. Ia tak tahu jika Nara sudah kembali ke kampung halamannya dia Seongnam sana.
Nara bahkan tidak memberikan keterangan apa-apa terkait kepindahannya ini. Dan tentu saja ini membuat Kyuhyun makin uring-uringan.
Bagaimanapun caranya, aku harus temukan dia, gumam Kyuhyun dalam hatinya.
.
Seorang gadis cantik tengah duduk molek didepan televisi sambil memegang dua batang coklat ditangannya. Ia merasa jika dirinya memang tengah sendiri dan mengacuhkan dua penghuni lain yang tengah sibuk wara wiri dirumah itu.
“Kyaa… Shin Haerin ! Bantulah Eomma dan Kakakmu ini. Apa kau tak punya perasaan melihat kami kerepotan seperti ini ??” tukas Nara marah pada sang adik yang dengan santainya menonton TV sementara ia dan sang Ibu sibuk mengangkat cucian kesana kemari.
Nara berhenti kuliah. Gagal sudah cita-citanya yang ingin jadi seorang diplomat.
Saat ini Nara hanya kembali pulang ke kampung halamannya dan membantu sang Ibu bekerja.
Ibu Nara membuka usaha Laundry kiloan dan laundry baju pengantin serta gaun-gaun mahal.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia sudah cukup berumur untuk melamar pekerjaan diluar sana. Dan membuka usaha adalah salah satu alternatif yang bagus untuk menghasilkan uang.
Namun membuka usaha tentu saja harus punya modal yang besar. Maka dari itu Nyonya Shin membuka usaha laundry saja.
Hanya butuh mesin cuci dan beberapa detergen serta tenaga bak super ranger untuk mengerjakan semuanya.
Tak jarang Nyonya Shin menggosok cucian dengan tangannya sendiri demi mencapai hasil yang maksimal.
Beginilah keadaan mereka. Tak ada uang kiriman lagi, tak ada acara duduk bersantai ataupun kuliah lagi.
Hanya Haerin yang masih diperjuangkan agar tetap meneruskan pendidikannya. Biarlah Nara mengalah demi adiknya.
Ia sendiri pulang karena memang sudah tidak ada harapan lagi tinggal di Seoul, uangnya semakin menipis dan biaya kuliah tengah menunggu didepan mata. Akhirnya ia memilih berhenti dan pulang kerumah.
Sementara gadis bernama Shin Haerin yang tengah diteriaki Kakaknya itu mendengus sebal lalu pada akhirnya membantu mereka.
“Eomma.. Kenapa kita harus bekerja seperti ini ??” serunya marah.
Seumur hidup, Nara maupun Haerin tidak pernah bekerja seperti ini. Bahkan mencuci baju mereka sendiri saja tidak pernah, bagaimana sekarang kedua anak ini mendadak jadi cinderella ?
Mengangkat puluhan kilo pakaian kotor orang lain dan mencucinya.
Mungkin tidak sulit, tapi tetap saja ini melelahkan.
“Eomma janji, setelah keadaan kita lebih baik. Eomma akan hentikan usaha ini. Eomma hanya akan mengambil cucian untuk baju yang bagus dan tak perlu dicuci dengan keras seperti ini…” ujar Nyonya Shin sambil memandang kedua putrinya.
Hati Nara amat perih. Kemana Ayahnya ? Apa benar ia sudah lupa ? Tak lagi perduli ?
Jika hanya Nara yang bekerja, tak jadi masalah. Tapi melihat Ibunya membanting tulang seperti ini, ditambah lagi adik kecilnya yang manja juga ikut bekerja membuat hatinya makin sakit.
Tak ada cara lain. Kedua wanita ini tak akan mampu mengatakan apapun pada Ayahnya, hanya Nara, hanya Nara harapan satu-satunya.
°°~~~°
Nyonya Shin berlari tergopoh ke pintu utama mendengar suara bel berbunyi berkali-kali.
Tumben sekali ada tamu seperti ini. Biasanya rumah mereka hanya sepi dan dingin saja.
Dengan cepat Nyonya Shin membuka pintu dan melihat sosok pria muda dengan pakaian casual didepan pintunya.
Pria itu nampak tersenyum, dan demi apapun pria ini sangat tampan dan mempesona.
“Maaf, anda mencari siapa yah ?” tanya Nyonya Shin pada namja itu.
“Eoh… Maaf Nyonya, saya mencari Shin Nara, benarkah ini rumahnya ??”
“Ya. Dan aku Ibunya, siapa namamu ? Dan dari mana kau ini ?” tanya Nyonya Shin penuh selidik.
“Saya Cho Kyuhyun, teman Nara dari Seoul..”
Nyonya Shin lalu mempersilahkan pria muda itu masuk dan duduk diruang tamu rumahnya.
Sementara ia sendiri memanggil Nara yang ada dikamarnya. Tumben sekali putri sulungnya ini dicari oleh seorang pria, tampan pula.
“Nara-ya… ada seseorang mencarimu…”
“Nugu ??”
“Cho Kyuhyun, dari seoul…”
“Ne ??!!”
“Cukup terkejutnya, sekarang cepat temui dia…”
Tanpa banyak bicara Nara menghampiri namja itu diruang tamu rumahnya.
Namja tampan yang ia rindukan, sekaligus ia hindari. Hatinya sendiri sakit jika mengingat perasaannya yang terpendam pada namja ini setelah memutuskan untuk menjauh.
Ada rasa benci dan rindu dalam relung hatinya. Namun Nara tidak lagi percaya diri jika harus terus bersama Kyuhyun, ia takut melakukan hal itu lagi dan lagi.
Ia takut menjadi candu dan terjerumus kemudian memperburam masa depannya. Siapa tahu Kyuhyun bukan jodohnya kan ?
Nanti Nara bilang apa pada suaminya jika sekarang keadaannya seperti ini ?
Pasti akan sangat memalukan.
Kyuhyun terkejut luar biasa melihat Nara yang berdiri mematung disebelahnya.
Wajah Nara pucat, tubuhnya kurus dan matanya cekung.
“Apa kau sakit ..?” sapa Kyuhyun sebagai salam perjumpaan setelah lama berpisah.
“Ani.. wae ? Ada apa Oppa kesini ?” tanya Nara ketus.
“Aku rindu kau. Kenapa kau pergi ? Bahkan kau tak bilang apapun padaku…”
“Aku ingin kita berakhir. Jadi rasanya memberitahumu bukanlah hal yang penting lagi…”
“Wae ?? Apa kau hamil ? Jujur padaku !”
“Ani. Aku hanya ingin menjauh darimu. Kumohon, kita berpisah saja….”
“Tapi kenapa ? Tolong jelaskan padaku, apa karena malam itu ? Karena hal itu ?”
“Ne. Bukankah sudah aku jelaskan sebelumnya ? Aku tak mau melakukannya lagi sebelum menikah. Jadi lebih baik kita berpisah saja. Jangan ikuti lagi kemanapun aku pergi..”
“Aku janji aku tak akan melakukannya lagi..”
“Aku tak bisa janji pada diriku sendiri kalau aku tak akan melakukannya lagi…”
Kyuhyun tertegun mendengar jawaban Nara. Benar, gadis itu benar. Mereka tak akan mungkin dapat menahan diri satu sama lain jika sudah dalam posisi terjepit apalagi berduaan seperti kemarin.
Dan Kyuhyun tahu jika gadis sepintar Nara tak mungkin gegabah menarik kesimpulan. Ia hanya mencari yang terbaik untuk masa depan mereka.
Memperbaiki sedikit demi sedikit, menghindari kehancuran yang lebih parah.
“Tapi setidaknya kau dan aku bisa berteman. Kau sudah ceritakan semuanya padaku, tidakkah kau merasa aku ini teman yang baik ?”
“Mungkin nanti, kita bisa berteman..”
°°°~~~°°°
Kyuhyun pulang ke Seoul dengan kegundahan luar biasa dihatinya.
Rasanya seperti ini ya remaja yang patah hati. Benar-benar menyakitkan.
Mungkin Shin Nara adalah gadis teraneh yang pernah ia kenal, tapi nanti siapa tahu kan ? Nara terlalu pintar, itu yang Kyuhyun belum tahu.
°°°~~~°°°
PLAK !!! PLAK !! PLAK !!!
Suara tamparan berkali-kali terdengar dirumah megah itu. Seorang wanita setengah baya sedang memukuli anak gadisnya entah kenapa.
Ia kelihatan begitu marah namun air matanya meleleh karena sedih. Hatinya perih dan sakit mendengar kenyataan barusan.
Benarkah ? Benarkah putrinya yang cantik dan baik ini melakukan hal begitu kotor diluar sana ?
Benarkah gadis ini sudah pernah tidur dengan laki-laki kemudian mereka berpisah ? Gadis bodoh !!
“Apa kau tahu kau ini siapa hah ? Kau anak keluarga terhormat, terpandang !! Bagaimana bisa kau berbuat seperti itu ? Kau bahkan tahu jika Ayahmu yang bertugas mencarikanmu jodoh. Dan kau sudah menodai dirimu sendiri ? Apa yang kami lakukan nanti ? Kau sengaja mau mempermalukan keluarga kita ? Kau gadis bodoh ! Kau membiarkannya pergi ? Kenapa kau seperti ini ? Kenapa kau seperti aku ? Shin Nara kumohonn, jangan seperti aku…” Nyonya Shin mengakhiri kemarahannya dengan terduduk lemas, merosot kelantai.
Hatinya amat sakit. Dulu hal seperti ini pernah ia alami juga. Sampai ia punya dua orang anak dan hidup menua, tapi pria itu tak pernah menikahinya, memberi status yang sah padanya.
Lalu sekarang Nara apa ? Tak bisa diharapkan lagi, perjodohan dengan pria kaya dan terhormat akan sirna sudah setelah kabar ini.
Nara tak boleh seperti ini. Nara harus segera memperjelas statusnya setelah kehilangan mahkota yang begitu ia banggakan itu. Nara harus menikah, entah siapapun Cho Kyuhyun itu, mereka harus tetap menikah.
°°~~~°°°
“Aku ingin menikah Appa…” suara Nara tersendat-sendat dikerongkongannya.
Ia tahu, diseberang sana Ayahnya pasti tengah menggeram menahan marah. Dan Ayahnya pasti berpikir jika Nara tengah hamil diluar nikah.
Pasti.
Walaupun ia sendiri belum mengerti dengan apa yang ia inginkan, Nara berusaha menyampaikan hal ini pada Ayahnya, atas perintah Ibunya.
Bahkan sahabatnya sendiri menginginkan agar Nara menikah dengan Kyuhyun saja. Entah apa mau mereka.
Semua orang begitu mengkhawatirkan Nara.
“Tunggu Appa dirumah, Appa akan pulang …”
Hati Nara menghangat, rasanya nadinya kembali berdenyut lagi. Ayahnya akan pulang. Setelah hampir satu tahun tidak berjumpa, dan setelah enam bulan perpisahan sang Ayah dengan Ibunya, akhirnya pria itu akan pulang.
Meskipun tidak akan lama, Nara tetap senang. Ia rela jika Ayahnya datang hanya untuk memukuli dan menghajar dirinya seperti sang Ibu barusan, yang penting ia bertemu dengan Ayahnya. Karena ia sangat rindu sosok itu.
Kemudian pembicaraan dilanjutkan oleh Ibu Nara yang langsung membawa ponsel itu ke kamarnya.
Darah Nara dan Haerin terkesiap, ketika melihat wajah sang Ibu merona dan tampak bahagia mendengar suara mantan suaminya itu ditelepon.
Pasti Ibu mereka sangat merindukan pria itu. Pasti ia tersiksa dan menangis setiap malam karena hal itu.
Haerin beringsut mendekati kakaknya yang sudah babak belur karena tamparan Ibunya barusan.
Ia mengobati luka Nara dengan mengompreskan air hangat. Nara meringis, rasanya masih ngilu dan perih.
Namun ia diam saja. Melihat mata Haerin yang selalu datar tanpa perasaan.
“Terima kasih dongsaeng…” ujar Nara pelan.
“Aku membencimu Eonni…” jawabnya sambil meninggalkan sang kakak sendirian.
Ahhh… Ini semua tidaklah mudah.
°°~~°°
Dua hari berikutnya ketika Nara sedang termenung sendiri di beranda kamar, sosok pria tinggi dan gagah menghampirinya.
Wajahnya sangat tampan dan berwibawa, seperti itulah lukisan yang ia turunkan pada gambaran wajah kedua putrinya.
Dan ia sangat bangga pada mereka, namun tidak hari ini. Bagaimana bisa putrinya yang cantik dan pintar terjebak dalam keadaan ini ? Rasanya mustahil.
“Apa kau hamil ?” suara pria itu menghentikan lamunan Nara seketika.
“Tidak Appa..” jawabnya singkat.
“Lalu, ada angin apa kau mendadak ingin menikah seperti ini ?”
“Bukankah Appa sudah dengar dari Eomma semuanya ?”
“Aku ingin langsung dengar darimu. Dan kenapa kau tidak kuliah lagi ?”
Nara tersenyum kecut. Mungkin yang lain memang kesalahannya, tapi soal kuliah ? Ia berhenti karena Ayahnya juga berhenti membiayainya.
Mungkinkah lupa ? Atau uang itu diberikan semua pada istri mudanya ? Bisa jadi.
“Aku hanya ingin melindungi harga diri Appa. Karena pria yang dijodohkan denganku nanti pasti akan kecewa. Bukankah nanti Appa akan malu karena itu ? Aku juga tidak ingin terjerumus ke lubang zinah dan seks bebas, aku memutuskan untuk menikah saja..”
Pria itu tertawa. Sungguh respon yang sangat tidak diduga ataupun diinginkan. Kenapa ia tertawa ?
“Kau sudah dewasa. Dan kau persis seperti aku yang sangat menjunjung harga dirimu..” ujarnya kemudian.
Ya, karena Appa sangat menjunjung harga diri maka Ibuku tak pernah dapat pengakuan apa-apa darimu. Aku tidak bangga menjadi sepertimu Appa, aku hanya mengambil langkah atas kesalahan yang telah aku perbuat.
Nara hanya tersenyum kecut begitu pria itu pergi meninggalkan kamarnya.
Hilang sudah rasa rindunya.
.
Berhari-hari kemudian, Nara diam dirumah dengan segala aturan. Karena seluruh keluarga tengah sibuk melancarkan rencana untuk bertemu dengan keluarga Kyuhyun.
Dan tebak saja, tentu namja itu tidak tahu soal ini.
Nara dan Haerin memang bukan kakak beradik yang dekat, mereka bahkan sering bertengkar. Namun mulai beberapa hari ini, Haerin memandangnya dengan sinis.
Ia tak segan menunjukkan rasa bencinya. Dan ini membuat Nara semakin merasa sendirian. Kesakitan. Nara pikir Haerin akan simpati padanya, namun kenyataan ?
Jangan harap adik cantiknya itu memanggilnya Kakak lagi. Satu-satunya teman yang bisa Nara ajak bicara adalah sahabat jauhnya di Osaka sana, Kim Yoon Hee.
Mereka hanya sekedar berbagi cerita lewat dunia maya namun hal itu mampu membuat Nara semakin kuat menghadapi ini.
Ia tahu Kyuhyun pasti marah. Ia mengerti jika Kyuhyun pasti akan membencinya.
Karena Nara tak pernah berdiskusi soal ini sebelumnya.
Dan hari ini kabarnya pengacara keluarga Nara tengah menyambangi rumah Kyuhyun di Seoul sana.
Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tentu saja kalian bisa menebak apa yang akan terjadi.
Keluarga Kyuhyun marah bukan kepalang. Bukan hanya marah pada pihak Nara yang datang, tapi juga pada putra mereka sendiri, Cho Kyuhyun.
Kenapa Kyuhyun sampai melakukan hal sebodoh ini ? Mungkin mereka memang hanya pernah tidur dan bercinta satu malam, tapi dampaknya ?
Bisa seumur hidup ! Bahkan bukan sekedar isapan jempol belaka jika hukuman berat tengah menanti mereka di akhirat sana. Dan ini memang harus dipertanggungjawabkan.
Walaupun kecewa, namun orang tua Kyuhyun cukup mengerti dengan apa yang dirasakan pihak keluarga Nara.
Dan mungkin, minggu depan mereka akan segera menikah.
.
“Kenapa kau tega lakukan ini padaku Nara ? Kau tahu, orang tuaku sangat sedih, mereka begitu kecewa padaku. Dan apa ini ? Kenapa harus menikah ? Kau bahkan tidak hamil, kenapa aku harus bertanggung jawab ??” suara Kyuhyun terdengar parau ditelepon malam itu.
Sebenarnya ia memang menangis. Kenapa Shin Nara bisa setega ini padanya ? Setelah dijauhi dan dicampakkan, kenapa sekarang pengacara keluarga datang dan menuntut Kyuhyun untuk bertanggung jawab.
“Maafkan aku, tapi Eomma mendengar pembicaraan kita malam itu. Makanya jadi seperti ini. Maafkan aku…” suara Nara lemah menjawab segala kekecewaan dan kekesalan Kyuhyun.
Hatinya juga sakit. Ia sendiri tak mau sampai seperti ini meskipun cintanya pada Kyuhyun sangat besar.
Ia sedih mendengar Kyuhyun kecewa karena akan menikah dengan dirinya. Kelihatan sekali bahwa Kyuhyun tidak senang, dan memang belum siap menikah dengannya.
Tapi Nara bisa apa ? Jika orangtuanya sudah angkat bicara dan ikut campur seperti ini, maka yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan menerima.
Nara hanya seorang anak. Dan ia tak punya daya untuk melawan.
°°~~~°°
Suara Nyonya Shin menggema diruang tamu rumahnya.
Nyonya Shin memang terkenal keras mendidik anak-anaknya, namun ia tak pernah semarah ini, Sebuas ini dan sekejam ini.
Ia bahkan sudah menampar Nara berkali-kali dihadapan ‘calon suaminya’ yang datang kerumah pagi-pagi begini.
Bagaimana Nyonya Shin tak marah, jika namja itu datang dan terang-terangan mengatakan kalau dirinya belum siap menikahi Nara.
Ia dengan berani dan percaya diri mengatakan hal itu pada Ibu wanita yang dinodainya.
Mungkin awalnya Kyuhyun memang terdengar sangat berani dan gagah akan bertanggung jawab, tapi begitu ia dihujani kalimat-kalimat kecewa dari orangtuanya semua mental itu menghilang.
Ia tak mau menikah seperti ini. Ia ingin menikah disaat yang tepat nanti.
“Apa kau bilang ?? Jadi karena putriku tidak hamil makanya kau tak akan menikahinya ? Lalu mau kau kemanakan tanggung jawabmu atas rasa nikmat yang sudah kau dapat saat mengambil kesucian putriku ? Kau tak akan bisa bayar dengan apapun !!” Teriak Nyonya Shin marah.
“Tapi memang tak ada alasan bagiku untuk menikahinya secepat ini. Beri aku waktu. Aku masih sangat muda dan belum mengerti hal ini. Aku mohon, aku akan ganti kerugian yang anda alami…”
BUGH !!!
Bantal sofa sukses mendarat diwajah Kyuhyun setelah mengatakan hal barusan. Dan Shin Nara yang duduk disampingnya sedang menangis sesenggukan.
Ternyata hanya sebatas inilah kesungguhan Kyuhyun padanya.
“Beraninya kau !! Kau fikir anakku apa ? Ganti rugi ? Keluarga kami punya banyak uang !! Jika saja kau bukan orang yang sudah mengambil kesucian anakku, aku tak pernah sudi mengangkatmu jadi calon menantu…!!”
Kyuhyun terdiam. Entahlah. Hatinya begitu buta untuk sekedar merasakan kepedihan Nara sekarang.
Ia tak mau menghancurkan hidupnya sendiri. Mengecewakan orang tuanya. Mengekang kebebasannya. Pasti sangat menyiksa.
Kyuhyun hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Kau Shin Nara !! Coba lihat baik-baik pria macam apa yang kau jadikan temanmu ? Aku benar-benar muak padamu ! Andai kau bukan putriku……”
Kata-kata Nyonya Shin terpotong oleh isakan tangisnya sendiri. Lalu ia berlalu pergi.
Rasanya benar-benar kacau dan frustasi. Pernikahan yang berawal seperti ini, bagaimana akhirnya nanti ?
Sungguh, Nyonya Shin tak ingin Nara menjadi seperti dirinya.
“Kau puas ? Setelah kau menyiksaku sekarang kau memaksaku menikahimu. Dan kau membuat banyak orang membenciku. Kau puas Shin Nara ??” ujar Kyuhyun disertai deraian air matanya lalu beranjak dari sana.
Nara bodoh. Memang ini semua adalah salahnya, kekonyolannya. Semua orang ribut dan marah gara-gara dirinya.
Dasar Shin Nara bodoh !!
°°°~~~°°°°
Waktunya menikah. Bukanlah pernikahan yang diharapkan karena memang minim sekali persiapan.
Hanya beberapa teman dekat yang diundang dan itu pun tidak membuat acara ini tampak ramai.
Hanya seperti perkumpulan kecil beberapa keluarga. Dan sisanya para tetangga usil yang menggunjing pernikahan mereka.
Nara sendiri langsung masuk ke kamar begitu acara selesai. Ia tak mau ditemui banyak orang atau berbicara dengan siapapun. Saat ini, ia hanya butuh Yoonhe, sahabat jauhnya yang tak bisa hadir ke pernikahan.
“Aku sudah menikah Yoonhe..”
“Benarkah ?” jawabnya tak percaya.
“Ya…”
“Lalu ?”
“Surat nikahnya ada ditanganku sekarang…”
“Oh yaa.. baguslah, kau… ehmm kenapa kau tidak bahagia dihari pernikahanmu ?”
“Entahlah. Aku sedih. Karena seperti ada sesuatu yang ganjil disini, bahkan Kyuhyun tak menatapku sejak tadi..”
“Jinjha ? Brengsek sekali namja itu. Kau tak boleh sedih, kau harus bahagia. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, walaupun berawal seperti ini harus berkakhir dengan bahagia kan ?”
“Bagaimana jika akhirnya tidak bahagia ?”
“Jika tidak berakhir bahagia, maka itu bukan akhir namanya,,,”
“Ohhh… Begitukah ?”
“Ya. Oh iya, kirimkan fotomu, aku ingin lihat kau dalam balutan gaun pengantin. Aku rindu kau…”
“Tidak. Aku sudah menghapus dandananku. Aku tak mau difoto dengan keadaan begini…”
“Ohh.. baiklah. Selamat untuk pernikahanmu, semoga kau bahagia…”
Doa Yonhee terdengar tulus diiringi dengan berakhirnya telepon itu.
Benarkah Nara akan bahagia ? Kenapa rasanya pesimis sekali ?
.
Malam pengantin Nara dan Kyuhyun berlalu tanpa hubungan intim seperti sebelumnya.
Mereka melakukan oral seks karena Nara sedang datang bulan.
Dan percaya atau tidak, Cho Kyuhyun kembali pada dirinya yang dulu. Yang manis dan penurut. Ia tak marah lagi dan mulai membicarakan masa depannya dengan Nara setelah menikah itu.
“Oppa tak mau kita punya anak dulu, bagaimana ? Oppa ingin kau selesaikan kuliahmu, lalu nanti kita bekerja bersama untuk membuka usaha…”
“Ne Oppa, aku setuju…”
Nara tersenyum lebar melihat Kyuhyun yang kembali lembut dan baik padanya. Dan bukan hal aneh lagi jika namja itu terus menyerangnya selama ia berada dirumah dan berduaan di kamar.
Mereka bisa melakukannya berkali-kali dalam semalam.
“Aahhhhhhh…. Oppaaaahhhh ssssshhhh….” Suara Nara mendesah kencang saat Kyuhyun melakukan kegiatan favoritnya itu untuk ronde pertama malam ini.
Kyuhyun menusuk-nusuk keras dan tegas liang vagina istrinya yang sudah bagaikan candu untuk kejantanannya itu.
“Aarrgghhhhh..,,” suara desahan Kyuhyun mulai mendominasi ketika ia mulai merasakan desakan dari dalam tubuhnya.
Nara sendiri merasa benda tumpul itu mulai bergerak serampangan dan menusuknya tak karuan, hingga lubang vaginanya berdenyut dan sebentar lagi akan merasakan pelepasan.
“Aaaassshhhhhhh Oppaaahh… diluaarrrhh saajaaa…” suara Nara terdengar serak dan seksi memberi perintah pada suaminya untuk melakukan pelepasan diluar rahim.
“Aaaaarrggghhh.. Sebentar lagihh….”
Dan…
“aaaaahhhhhhhhhhhhh…..”
Desahan panjang mereka mengakhiri pergumulannya hari ini. Dengan penis Kyuhyun yang sudah berada diatas perut Nara dan menyemprotkan spermanya disana.
“Aaahhh… ini tidak nikmmatt.. sangat tidak enaakk…..” rengek Kyuhyun manja.
“Jebal.. aku ingin sekali lagi, aku mohonn….”
“Tapi aku lelah Oppa….”
“Tapi ini tidak enak…”
“Baiklah…” jawab Nara pasrah dan kembali mengangkang untuk disodok Kyuhyun di ronde kedua.
°°°~~~°°°
Hari-hari yang Nara lalui sangat sibuk. Setelah menikah ia memilih bekerja di salah satu supermarket besar dengan modal ijazah SMA nya.
Nara sudah bertekad untuk tidak menyusahkan orang tuanya lagi. Sementara Kyuhyun hanya bekerja paruh waktu di salah satu pabrik di ujung kota seongnam.
Jarak yang lumayan jauh dari rumah Nara. Dan itu agaknya yang membuat Kyuhyun akhir-akhir ini sering marah dan galak padanya.
“Aku lelah jika setiap hari harus bekerja seperti ini, jaraknya kerumahmu sangat jauh !” bentaknya marah saat pulang kerja malam itu.
Gaji yang ia terima pun sangat kecil dibanding dulu ia bekerja di Seoul dan Ulsan. Namun Nara tidak mengijinkan Kyuhyun untuk pergi kesana lagi, takut Kyuhyun pergi mungkin.
Akhirnya malam itu mereka tidur dengan saling membelakangi. Dan hati Nara sakit bukan main karena itu. Ia lelah bekerja seharian dan pulangnya langsung memasak, namun suaminya malah bertingkah seperti ini.
Harus bagaimana aku ? gumam Nara dalam hati.
.
Pagi-pagi sekali Kyuhyun sudah bangun dan Nara tidak menyadarinya. Begitu Kyuhyun keluar dari kamar mandi, ia cepat berlari menyiapkan pakaian kerjanya dan langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan Kyuhyun.
Karena ini sudah sangat terlambat, maka Nara hanya membuatkan mie instan dengan telur rebus diatasnya. Ia sangat berharap Kyuhyun masih sempat makan.
Namun ketika Nara menuju kamar dengan nampan berisi makanan itu, Kyuhyun sudah akan berangkat kerja dan memakai sepatunya.
“Oppa.. sarapan dulu..” ujar Nara pelan.
“Tak perlu, aku sudah terlambat..” jawabnya singkat lalu bergegas pergi dengan sepeda motornya.
Nara hanya mematung didepan pintu. Menatap kepergian Kyuhyun dengan sejuta perih dihatinya. Matanya mulai buram dan berkaca-kaca.
Namun saat itu Haerin lewat ke hadapannya dan menatap Nara datar. Ia terlihat lebih membenci Nara dari sebelumnya. Kalau pada Kyuhyun, jangan ditanya lagi.
Bahkan sampai saat ini Kyuhyun dan Haerin tak pernah bertegur sapa.
Untuk apa memaksa orang yang ingin pergi untuk tinggal bersamamu ? Bukankah lebih baik dia pergi ? Seperti ini hanya membuat dirimu terluka dan dia tersiksa, gumam Haerin dalam hatinya.
“Aku tak ingin menjadi janda Haerin…” ujar Nara seolah bisa membaca pikiran adiknya.
“Tidak ada yang menyuruhmu bercerai Eonni, kau bisa mengambil pilihan lain..” jawabnya singkat lalu beranjak pergi.
Haerin masih kuliah, dan siangnya ia bekerja di sebuah Coffe shop sebagai waitress cantik. Tentu saja Haerin mengerti keadaan mereka sekarang, ia harus pandai-pandai mencari uang agar punya jajan lebih.
Ia tak boleh bergantung pada Ibu dan kakaknya terus.
.
Sudah dua minggu, Nara akhirnya membiarkan Kyuhyun tinggal ditempat yang ia inginkan. Dekat dengan tempat kerjanya.
Namun Nara harus menelan kepahitan lagi, karena nyatanya Kyuhyun kembali ke Seoul dan bekerja disana.
Bisa dibayangkan seberapa jauh Kyuhyun dengan Nara sekarang. Mereka bahkan tinggal di provinsi yang berbeda.
Nara tersenyum kecut. Semakin hari Kyuhyun semakin jauh dan membencinya.
Tak pernah lagi ada kata-kata mesra dan perhatian seperti dulu. Bahkan saat Nara mengirim pesanpun Kyuhyun hanya membalas dengan singkat dan ketus.
Apa Oppa sehat ? Oppa makan dengan baik ?
Ya.
Hanya jawaban seperti itu yang ia dapatkan. Sementara Nara sekarang sibuk bekerja. Memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan tak jarang Kyuhyun juga meminta uang padanya.
Nara begitu tertekan dan sedih. Ia pun jarang berbicara pada Ibunya sendiri, sedangkan Haerin ? Jangan ditanya lagi. Anak itu mungkin bisa membunuh Nara dan Kyuhyun sekarang jika ia mau.
Hanya Yonhe harapan Nara satu-satunya. Namun kelihatannya yeoja itupun sedang sibuk dan jarang bisa untuk dihubungi.
Pada siapa Nara harus mengadukan hal ini ?
Nara sangat sedih dan kesepian.
°°°~~°°°
Kyuhyun pulang dengan menekuk wajahnya. Ia benar-benar tidak suka harus kembali kerumah istrinya lagi.
Kembali pada gadis menyebalkan yang membuat hidupnya kacau seperti ini.
Kembali menjadi Kyuhyun yang banyak diatur dan dikekang oleh gadis ini.
Tapi ini sudah minggu ketiga ia tidak pulang. Banyak orang yang mengingatkan Kyuhyun untuk kembali kepada istrinya, setidaknya mengingatkan ia bahwa kini Kyuhyun tidak sendiri lagi.
Nara menyambut Kyuhyun dengan senang hati. Walaupun sepertinya Kyuhyun tidak senang sama sekali tapi Nara tetap berbaik budi kepada suaminya.
Ia tetap menjadi istri yang baik. Menyiapkan kebutuhan Kyuhyun selama dirumah dan mengurusinya. Bagi Nara hal kecil ini benar-benar sangat berharga. Mengingat kebersamaannya dengan Kyuhyun sangat sedikit.
“Oppa akan berapa lama dirumah ?” tanya Nara pada Kyuhyun yang asyik dengan tablet ditangannya.
“Euhmm.. Dua atau tiga hari..” jawabnya singkat sambil menatap terus layar monitor benda ditangannya itu.
Nara melengos kecewa. Kyuhyun benar-benar sudah berubah, dan kenyataan ini membuatnya semakin sakit.
Bahkan Kyuhyun tidak keliahatan tertarik untuk menyentuhnya. Padahal tujuan Nara menikah adalah membiarkan Kyuhyun sebebas-bebasnya bercinta dengan Nara.
.
Malam itu Nara dengan sengaja memakai lingerie mahal hadiah dari Ibunya saat menikah.
Pakaian kurang bahan yang belum pernah ia pakai sekalipun.
Tapi demi Kyuhyun, ia rela melakukannya. Ia akan memakai benda itu malam ini agar Kyuhyun tertatik padanya.
Perlahan Nara keluar dari kamar mandi dengan sejuta malu dalam hatinya. Ia bergerak perlahan membuka pintu kamar mandi kemudian berdiri mematung disana.
Menatap intens suaminya yang masih betah bermain ponsel. Lama menunggu, akhirnya Kyuhyun menatap Nara yang masih berdiri dengan pose menyandar ke sisi pintu, seolah menggoda suaminya.
Namun tanpa disangka, Kyuhyun malah tertawa, terbahak-bahak. Ia menunjuk Nara sambil memegangi perutnya.
“Yaaa Apa yang kau lakukan dengan pakaian itu ? Dan kenapa berdiri terus disitu ? Ayo kemari, kakimu tidak pegal ??” ujar Kyuhyun disela tawanya.
Dan itu hanya membuat Nara semakin malu. Perjuangan Nara yang mati-matian menahan gengsinya demi Kyuhyun malah dianggap lelucon yang lucu. Seolah tubuh Nara ini tak ada apa-apanya.
Namun ia senang, setidaknya Kyuhyun tertawa. Dan itu membuat suasana kamar mereka berwarna lagi..Karena sejak tadi Kyuhyun tampak murung dan lesu. Nara senang bisa membuatnya tertawa.
Nara mendekat dan duduk disamping Kyuhyun, kemudian namja itu menciumnya dengan lembut.
“Tak perlu seperti ini untuk merayuku memasukimu, aku juga rindu padamu…” bisik Kyuhyun ditelinga Nara setelah ciuman hangatnya tadi.
Nara sangat bahagia. Seakan ia hampir terbang dan melompat tinggi ke bulan.
Suaminya kembali. Ya,, suaminya kembali.
.
Walaupun sudah ada kesepakatan antara Kyuhyun dan Nara, agar Nara tidak hamil dulu. Namun nyatanya gadis itu sangat berharap untuk hamil.
Saat ini memang ia sudah menikah, tapi rasanya ia malah lebih kesepian dibanding seorang jomblo sekalipun.
Nara ingin punya anak, ia ingin ada teman selama Kyuhyun pergi meninggalkannya. Tentu saja hal ini tanpa sepengetahuan Kyuhyun. Jika namja itu tahu, habislah ia.
Malam nanti Kyuhyun pulang. Seperti janjinya kemarin. Kyuhyun akan pulang seminggu sekali dari seoul dan menginap dirumah.
Rasanya sangat menyiksa. Pengantin baru yang harus terpisah jauh seperti ini. Dan keinginan Nara untuk ikut ke Seoul sangat besar, walau ditantang Kyuhyun habis-habisan.
Aneh ya, seorang suami yang tidak mau didampingi istrinya. Bahkan ketika si istri rela tinggal dirumah kontrakan dan ikut bekerja mencari uang.
Tentu saja sebenarnya Kyuhyun tinggal bersama orang tuanya di seoul, kadang ditempat kakaknya. Namun ia enggan memberitahu Nara, karena nanti gadis itu akan semakin berhasrat membuntutinya.
Seperti biasa, saat pertama datang Kyuhyun akan sangat dingin dan muram. Ini hal yang biasa bagi Nara.
Karena menjelang malam Kyuhyun akan sangat baik lalu menidurinya. Dan setelah itu ia akan cari gara-gara lagi untuk berkelahi dengan Nara, tidak, lebih tepatnya hanya mencari-cari kesalahan Nara.
Entah apa sebabnya, Kyuhyun bersikap seperti ini. Dia akan sangat mudah naik turun menjadi orang yang berbeda. Seperti sebuah kesalahan jika ia telah selesai melakukan hubungan intim dengan Nara, karena setelahnya ia akan marah dan melampiaskan kemarahan itu pada apa saja yang dilakukan Nara untuknya.
Kadang Nara takut jika Kyuhyun berubah menjadi baik lalu mendekatinya, karena itu berarti sebentar lagi mereka akan bertengkar.
Malam ini Kyuhyun tidak berkata apa-apa dan langsung tidur memunggunginya. Nara lega, itu artinya mereka tidak akan bertengkar lagi.
Tapi disisi lain ia rindu sentuhan Kyuhyun pada tubuhnya, ia rindu saat Kyuhyun bersikap lembut dan merayunya lalu memasuki tubuh Nara.
Apadaya lah, sudah nasib Nara seperti ini. Punya suami yang arogan dan kekanakan. Nara tahu Kyuhyun hanya belum bisa menerima takdir soal pernikahan mereka yang mendadak.
°°°~~°°°
“Aku pinjam uang Shin Nara…” ujar Kyuhyun pagi itu sebelum akan berangkat ke Seoul lagi.
Padahal gaji Nara tidak seberapa. Dan lagi, Kyuhyun juga seorang pegawai. Lalu kemana semua gajinya ?
Bahkan selama menikah, Kyuhyun belum pernah memberikan Nara sepeserpun uang untuk biaya makan. Dan uang dari hasil keringat Nara tak jarang lagi ia ikut makan.
Entah untuk rokoklah, biaya transportlah, dan semacamnya. Hingga bulan kemarin Nara kehabisan uang dan harus ikut menumpang makan pada Ibunya.
“Oppa.. tapi ini tidak akan cukup sampai akhir bulan..” ujar Nara memberitahu.
Ia tak ingin seperti bulan kemarin yang sampai harus meminta makan pada Ibunya. Walau tinggal serumah, Nara adalah anak yang mandiri. Ia selalu memberi Ibunya uang belanja setelah gajian, hitung-hitung bayar sewa kamar dan listrik.
Karena Nara tahu Ibunya juga tak kalah sulit dengan dirinya. Meskipun sekarang usaha laundry tidak jalan lagi, tapi Nyonya Shin bekerja di butik salah satu sahabatnya sebagai penjahit. Nyonya Shin pandai menjahit. Dan gaji disana tidak seberapa.
Hanya cukup untuk makan dan uang jajan Haerin ke kampus setiap hari.
“Kau tidak mau berbakti pada suamimu Shin Nara ? Sudahlah, lupakan. Aku bisa pergi tanpa uangmu itu..” jawab Kyuhyun marah.
Dan kalau sudah begini Nara hanya bisa diam, menangis dikamarnya.
Ya Tuhan, apa di masa lalu aku ini seorang penyihir ? Penjahat ? Pembunuh ?
Kenapa Kau begitu tega menghukumku seperti ini ? Memberikan seorang suami yang luar biasa brengsek dan bukan main bajingannya. Aku salah apa ??
Gumam Nara dalam isakan tangisnya.
°°°~~°°°
Seminggu kemudian Kyuhyun datang lagi. Pulang kerumah istrinya.
Kali ini wajahnya seribu kali lebih suram dan ia menekuk wajahnya itu dalam-dalam.
Bukan hal aneh lagi jika keadaan Kyuhyun pulang seperti itu, namun kali ini sepertinya ia sedang dirundung duka dan masalah.
Meskipun pada kenyataannya Kyuhyun tak pernah mau disapa ataupun diganggu saat ia baru saja sampai, namun kali ini Nara memberanikan diri untuk mengusiknya. Bertanya sesuatu pada suaminya.
“Oppa, wae ?? Ada masalah apa ??” tanya Nara dengan hati-hati.
Ia sendiri takut sambil memicingkan sebelah matanya menunggu jawaban Kyuhyun, takut-takut namja itu malah akan menyemprotnya dan membentaknya habis-habisan seperti yang sering ia lakukan.
“Aku dipecat…” jawabnya lemah.
Nara tertegun melihatnya. Ia pikir respon Kyuhyun akan seperti perkiraannya. Namun nyatanya namja itu malah semakin diam dan lesu setelah ditanya, seolah ia memang butuh dukungan dan kawan bicara.
“Benarkah ?? Wae ? Apa kau melakukan kesalahan ?”
“Aniyo.. memang sedang ada pemangkasan tenaga kerja dikantor sana. Dan posisiku cukup buruk untuk dipertahankan. Jadi aku diberhentikan…” jawabnya lagi.
“Ahh… Gwenchana.. Oppa akan dapat pekerjaan baru sebentar lagi. Jangan khawatir..”
“Tapi bagaimana dengan hidup kita selama aku belum dapat pekerjaan lagi ? Dari mana biaya hidup kita ??” erangnya frustasi.
Seolah memang itu adalah masalah yang paling besar dan berat yang akan ia alami.
Dan seharusnya kata “kita” itu diganti menjadi “aku” karena sampai detik ini Cho Kyuhyun sialan itu belum pernah sekalipun memberikan nafkah lahir yang sudah jadi kewajibannya sejak menikah.
Kata-kata Kyuhyun barusan tentu saja bagaikan sebuah candaan bagi Nara. Kau bekerja atau tidakpun toh tetap seperti ini hidup kita. Aku harus bekerja membanting tulang setiap hari karena tak pernah ada uang belanja. Ujar Nara lirih dalam hatinya.
“Sudahlah, tak apa Oppa. Aku masih bekerja kan ? Tak perlu khawatir…”
.
Hari-hari berikutnya, bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Bukan rahasia lagi jika sikap Kyuhyun semakin brengsek setelah ia berhenti bekerja.
Kerjaannya hanya meminta uang pada Nara dan marah-marah.
Hingga Haerin tak sanggup lagi menutup telinga mendengar pertengkaran Kyuhyun dengan Kakaknya.
Selama ini ia banyak diam dan pura-pura tidak tahu. Dan Nyonya Shin sedang bekerja saat putrinya ini tengah bertengkar dengan suaminya.
Haerin sangat marah saat kakaknya dibentak dan dimarahi oleh suaminya. Ini bukan yang pertama kali baginya mendengar hal seperti itu. Hatinya sakit melihat sang kakak terjebak dalam situasi seperti ini dan hidup menderita.
“Hentikan ocehanmu itu Cho Kyuhyun !! Kau benar-benar tidak sopan pada Kakakku ! Kau harusnya malu, kau ini siapa ? Kau hidup dan menumpang disini sebagai parasit, lalu kau perlakukan kakakku seperti ini !! Bajingan kau !!” teriak Haerin saat Kyuhyun tengah memarahi Nara entah karena apa.
Kupingnya sudah gerah mendengar Kyuhyun berbicara ketus dan sinis pada kakaknya. Ia tak mau tahu apa masalah mereka yang pasti, saat ini ia hanya mengatakan unek-unek dalam hatinya.
“Kau dengar ? Kau dengarkan Shin Nara ? Adikmu sendiri bertingkah sangat tidak sopan. Bahkan dia terang-terangan mengusirku dari rumah ini. Geure.. Aku dengan senang hati meninggalkan tempat ini. Dan akan kupastikan segera kapan waktunya kita benar-benar berpisah …!” jawab Kyuhyun marah, melampiaskan kekesalannya pada sang istri.
Ini hanya masalah uang. Kyuhyun marah karena uang. Uang yang ia minta dan Nara tidak memberikannya. Karena memang mereka tidak punya apa-apa lagi sampai waktunya Nara gajian nanti.
“Sialan kau !! Bicara padaku !! Jangan terus-terusan salahkan kakakku !! Namja bodoh, idiot kau Cho Kyuhyun !!” teriak Haerin lagi semakin marah.
Matanya sudah berkaca-kaca. Ia begitu lelah, menahan semua kesedihannya selama ini sendirian. Ditambah lagi dengan penderitaan sang Kakak yang ia saksikan setiap hari didepan matanya.
Haerin yang kuat dan tegar menangis melihat Nara diperlakukan kasar oleh suaminya. Tentu saja Nara terenyuh melihatnya, adiknya itu jarang sekali menangis. Apalagi untuk hal macam begini yang bahkan bukanlah urusannya.
“Bagus. Simpan semua kata-katamu nanti karena kita akan segera bertemu di pengadilan !” ujar Kyuhyun lalu beranjak pergi. Meninggalkan sepasang adik kakak yang kini tengah sama-sama menangis karena ulahnya.
Nara berlari mendekat dan memeluk Haerin. Rasanya tubuh Haerin hangat sehangat hatinya sekarang, dan itu membuat Nara lebih baik. Walaupun ia bermaksud menenangkan adiknya, tapi malah ia sendiri yang tenang saat memeluk gadis itu.
Haerin menangis. Pertahanannya selama ini roboh begitu saja. Hatinya benar-benar hancur karena ulah Kyuhyun yang sama bajingan dengan Ayah kandungnya.
“Gwenchana.. jangan menangis lagi…” ujar Nara sambil memeluk Haerin dalam dekapannya. Membiarkan Haerin tenggelam dalam dadanya dan menangis disana.
“Aku…. Aku… tak bermaksud membuat dia menceraikan Eonni…. Aku… membencimu….hikssss…. Kenapa kau harus menderita.. ? Waee ?? Aku tak sanggup lagi…” isaknya dalam dekapan Nara.
Nara juga sama. Hatinya sakit. Haerin hanya membelanya namun Kyuhyun menanggapi itu secara berlebihan. Bahkan sangat keterlaluan.
“Eonni… Aku sangat ingin kau berpisah dengannya… Tapi… Aku ingat kata-kata Eomma.. Kau jangan seperti Eomma… Jangan menjadi jandaa….” lanjut Haerin lagi dan hanya dibalas anggukan oleh Nara.
Nara mengerti perasaan adiknya, karena sesungguhnya ia juga merasakan hal yang sama.
Seandainya tidak ada orang itu, orang yang memberi Nara semangat. Orang yang membuat ia berkali-kali berpikir untuk tidak bercerai, orang yang dengan terang-terangan mengatakan jika ia mencintai Nara, pasti pernikahan ini sudah berakhir sejak lama.
Jika bukan karena dia, karena Ibu Nara, dan karena Haerin yang tersedu-sedu dihadapannya sekarang,.Nara pasti sudah pergi ke pengadilan negara.
°°°~~~°°°
Dan memang Tuhan tengah menguji kesabaran Shin Nara. Tuhan tengah memberikan hukuman atas kelalaian Nara di masa lalunya.
Karena beberapa hari setelah Kyuhyun pergi meninggalkan rumah, dirinya pun dipecat dari tempat bekerja.
Nara sering kelihatan sakit dan lesu. Ia tak semangat pergi bekerja dan semua pekerjaannya berantakan. Sehingga mengacaukan jadwal pekerjaan dikantornya.
Maka Nara dipecat. Nara dipecat dengan uang pesangon yang amat sedikit di amplopnya. Dalam hati ia menangis, sekaligus menjerit.
Kenapa semua ini terjadi begitu cepat ?
Kenapa ?
Dan jangan bilang kalau setelah ini Nara sedang hamil walaupun ia sangat menginginkannya.
.
“Mwo ??!! Kau dipecat juga ??! Waee ?? Kau mengacaukan semuanya !! Lalu bagaimana kita sekarang ??!” ocehan Kyuhyun terdengar sangat frontal karena kegusarannya pada berita yang Nara sampaikan.
“Mianhae Oppa… Aku sering membolos, karena aku sakit dan lelah. Jadi mereka memecatku, mungkin aku hamil Oppa..” jawab Nara dengan air mata dipipinya.
“Mwo ??!!! Hamil ??? Bagaimana bisa ? Andwe, kau tak boleh hamil disaat seperti ini, Cepat cari pekerjaan baru. Kau harus penuhi kebutuhan hidupmu sendiri !!” jawab Kyuhyun marah.
Sungguh Nara tak pernah menyangka jika Kyuhyun akan setega itu padanya. Hatinya sangat perih dan sakit. Ia menutup telepon Kyuhyun tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Baginya hanya air mata yang mampu menjelaskan semua ini pada suaminya. Walaupun pada kenyataannya namja itu tak kunjung mengerti juga.
Haerin kembali menyaksikan pemandangan itu dari balik pintu kamar kakaknya yang tidak tertutup rapat. Matanya sudah basah, hatinya bagai ditohok besi panas. Karena samar-samar, ia mendengar apa yang baru saja Kyuhyun katakan.
.
Sudah dua minggu, dan Kyuhyun serius dengan ucapannya. Ia berkali-kali menghubungi Nara terkait perceraian mereka.
Namun Nara belum siap mental dan mengacuhkan semua panggilan dan telepon suaminya itu.
Ia teringat kata-kata Henry beberapa waktu lalu, namja yang pernah ia ungkit sebelumnya, yang membuat ia bertahan sampai sekarang dengan pernikahannya.
“Pernikahan itu ikatan suci yang patut dipertahankan. Mungkin seperti katamu, Kyuhyun masih terkejut dan belum menerima sepenuhnya status kalian. Tapi, dia juga seorang manusia. Suatu hari mungkin malaikat akan datang dan memberikan wahyu kepadanya “Hai Cho Kyuhyun, berhentilah bermain-main dan jadilah seorang suami yang baik” …. Mungkin dia akan berubah. Karena tidak semua kisah cinta dan pernikahan itu diawali dengan indah. Tapi harus berakhir bahagia, apalagi kalau nanti kalian punya seorang anak…”
“Anak ??”
“Ya, seorang anak adalah mukjizat dalam pernikahan..”
Nara mulai berpikir jika hamil memang jalan terbaik sekarang. Tapi bukannya hamil seperti yang ia harapkan, Nara malah datang bulan.
Habis sudah. Berakhir sudah harapannya untuk bersama Kyuhyun sekarang.
Yang tersisa hanya kenyataan pahit tentang perceraian didepan mata. Perceraian yang selalu Kyuhyun harapkan.
.
“Apa ? Jadi si brengsek itu sekarang meninggalkanmu ?” tanya Yonhe ditelepon malam itu.
“Ya. Dan ini sudah minggu kedua. Kami akan bercerai,,,” ujar Nara pasrah.
“Sialan namja brengsek itu. Harus ku apakan dia yah ? Aaarhhgggg maafkan aku Nara-ya, tapi entah kenapa aku sudah membencinya sejak awal…” jawab Yonhe menggebu-gebu.
Mungkin saat ini berbicara dengan Yonhe adalah pilihan yang buruk. Karena gadis itu tidak memperbaiki suasana hatinya.
Sebenarnya Nara tahu satu orang yang bisa membantunya keluar dari masalah ini. Tapi, apakah ia memang harus menghubungi orang itu ?
°°°~~°°°
“Oppa aku punya kabar baik..” ujar Nara saat menelepon Kyuhyun hari itu.
“Wae ?”
“Appa bilang ia akan membantu kita. Appa akan berikan kita modal untuk buka usaha sendiri, 100juta won..” ujar Nara kegirangan.
“Mwo ?? Se..seratus juta?”
“Ne.. Tapi untuk itu Oppa harus kembali kerumah, apa Oppa bersedia ?” bujuk Nara pada suaminya.
“Eoh. Akan aku pikirkan..” jawab Kyuhyun.
Nara tahu ada nada senang dari perkataan Kyuhyun barusan, dan ia berharap agar namja itu mau kembali lagi.
Sesaat yang lalu memang Nara menghubungi Ayahnya, meminta bantuan untuk masalah keuangan rumah tangganya ini.
Dan bagi Ayah Nara yang memang kaya raya, uang sebesar itu bukanlah hal yang sulit, dengan syarat…
“Kau harus mempertahankan pernikahanmu selama satu tahun untuk mendapatkan uang itu. Setidaknya Appa percaya seperti apa itu Cho Kyuhyun dimatamu setelah kalian tinggal bersama…”
“Ne Appa, baiklah. Kamsahamnidaa….”
“Ne. Dan ingat satu hal, kau harus kuliah lagi, mengerti ??”
“Ne Appa…”
Percakapan itu adalah hal paling membahagiakan dalam hidup Nara belakangan ini.
Ia lega. Ia lega dan yakin jika Kyuhyun akan terbujuk dengan hal ini. Walaupun tadi Ayah Nara bilang mereka harus menunggu satu tahun, namun Nara tak khawatir.
Pernikahannya dengan Kyuhyun berjalan hampir 7 bulan. Memang masih ada waktu 5 bulan lagi. Tapi setidaknya ia punya harapan untuk membuat Kyuhyun kembali kesisinya. Dan berharap mendapat keajaiban.
Mendapat seorang anak yang akan jadi mukjizat dalam rumah tangganya yang berantakan.
.
Sementara di Seoul, Kyuhyun baru saja akan berkemas meninggalkan rumah orang tuanya.
Setelah sebelumnya membicarakan soal uang tadi pada mereka. Dan ternyata semua orang setuju agar Kyuhyun kembali kerumah Nara.
Hidup lagi bersama istrinya dan menjadi seorang pengusaha.
Padahal sebelumnya, mereka juga yang membuat Kyuhyun mendaftarkan perceraian ke pengadilan.
Benar-benar keluarga ini, hanya uang yang ada dalam otaknya.
°°~~°°°
One Month Later
Nara berjalan kearah gedung yang baginya adalah gedung paling mengerikan yang pernah ia datangi.
Sidang itu, sidang cerai itu akhirnya dilaksanakan juga. Setelah berusaha lebih dari setengah tahun, akhirnya hal ini juga yang akan menjadi pencarian terakhir kisah cinta semu miliknya dan Cho Kyuhyun.
Sebulan lalu, saat Kyuhyun kembali kerumahnya karena iming-iming uang itu, bukan membuat Kyuhyun baik kepadanya.
Namja itu malah semakin buas dan menyeramkan. Ia bertingkah seperti penagih hutang yang kejam pada istrinya sendiri.
Dan hal ini tentu saja membuat Nara ketakutan. Kyuhyun hampir setiap hari menanyakan uang yang dijanjikan Ayah Nara waktu itu.
Dan lama-kelamaan sikapnya sungguh keterlaluan sampai Nara muak sendiri melihatnya.
Nara dipaksa menelepon sang Ayah sesering mungkin sampai ia sangat malu, lebih buruk dari seorang pengemis. Dan bahkan Kyuhyun sendiri pernah berbicara langsung pada Ayah Nara terkait uang itu.
Tanpa ada lagi rasa tahu malu dan meninggalkan sopan santunnya.
“Bagaiamana ? Apakah Tuan jadi memberikan kami uang seratus juta itu ? Kapan ?” tanyanya tanpa basa basi pada Ayah Nara.
“Sabar Nak, semua ada waktunya. Kalau sudah tiba waktunya nanti, uang itu akan ku berikan…” jawab Ayah Nara bijak.
“Iya tapi kapan. ..?!” suara Kyuhyun meninggi dan ponsel itupun segera dirampas oleh Nara.
“Appa, maafkan aku…” ujarnya terbata.
“Kau tidak salah Nak. Suamimu, anak itu, Ya Tuhan.. Bagaimana kau bisa hidup dengan orang seperti itu ? Dia tidak punya sopan santun…”
“Ne Appa, maafkan kami..Aku baik-baik saja…”
Setelah telepon itu Nara dan Kyuhyun semakin bersitegang.
Niat Nara yang awalnya ingin membantu malah jadi bumerang baginya sendiri.
Ia seperti dikejar oleh penagih utang yang lebih agresif dari kolektor manapun, ia dicerca dan disindir habis-habisan oleh suaminya sendiri karena uang itu.
Sungguh, Nara sangat sesak dan malu. Rasanya bernafas pun sangat sulit ditengah situasi seperti ini.
Mungkin kesabaran Nara memang tengah benar-benar diuji. Dan keputusan untuk bertahan sangat harus dipertimbangkan.
Nara memeras otaknya dengan keras. Menimbang segalanya dengan semua kemungkinan. Dan rasanya sakit hatinya meledak kala Kyuhyun mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan untuknya.
“Dasar keluarga penipu. Tukang bohong. Bukan anak dan Ibunya saja, bahkan Ayahnya lebih mahir jadi tukang tipu. Berlagak sok kaya dan berkuasa, nyatanya hanya omong besar saja. Hah, sialan kalian semua !!”
Kira-kira seperti itulah kata-kata Kyuhyun untuk melampiaskan kekesalannya pada Nara. Ia marah karena uang yang sangat ia harapkan belum juga didapatnya.
Nara begitu terluka. Rasanya ini sudah cukup, cinta yang membuatnya buta harus ia akhiri segera. Kyuhyun sudah lebih dari keterlaluan. Dan lagi, tak akan ada jaminan jika Kyuhyun akan berubah setelah mendapat uang itu.
Anak ?
Benarkah orang seperti itu akan luluh setelah punya anak ? Rasanya mustahil. Bahkan malaikat sekalipun akan terlempar jauh saat mendekati tubuh namja yang penuh dengan nista itu.
Nara tersenyum miring dalam lamunannya. Ia lebih dari gadis bodoh, ia adalah seorang idiot !! Bahkan orang idiot sekalipun melawan jika terus disakiti, lalu Nara orang seperti apa ?
Autis ? Idiot seratus kuadrat ?
Entahlah. Yang jelas ia sendiri yang akan mengakhirinya.
Aku ingin kita berpisah saja Oppa..
Ujar Nara malam itu dan segera membantu Kyuhyun mengemas semua pakaian Kyuhyun yang tertinggal.
Cukup. Ini sudah cukup.
Raut terkejut dan menyesal nampak dari wajah tampan Kyuhyun malam itu. Tentu saja ia tahu jika Shin Nara bukan orang yang bermain-main dengan kata itu.
Dan sesungguhnya ia begitu menyesal karena perkataannya barusan. Kyuhyun masih sangat mengharapkan uang itu.
Ia berkata seperti itu agar Nara membujuk Ayahnya untuk segera mengirimkan uang itu, namun kenyataannya sangat berbeda. Gadis itu marah besar dan kini tengah mengusirnya dari rumah.
“Geure.. Aku juga sudah lama menginginkan hal itu.. Dasar keluarga penipu dan kalian…..”
“Aku sudah tahu soal itu. Kalau ada hal lain yang ingin kau katakan, kita bicara di pengadilan…” potong Nara, cepat dan tegas. Tanpa air mata.
Air mata itu sudah habis dikuras Kyuhyun beberapa bulan belakangan ini. Dan dengan cepat Nara mengantar kepergian Kyuhyun sampai kedepan pintu rumah, untuk terakhir kali, sebagai seorang istri.
.
Dan begitulah kenyataan. Saat ini Nara sedang duduk di kursi pesakitan. Di sidang perceraiannya sendiri. Tanpa Kyuhyun hadir disana.
Sungguh miris, di usia yang masih begini muda Nara harus menjanda. Ia mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar.
Toh berpisah dengan Kyuhyun sudah biasa baginya, namun tetap saja mendengar hakim memutuskan hal itu dengan lugas agaknya membuat Nara merinding juga. Air mata menetes di sela matanya yang lelah.
Entah itu air mata apa. Entah sedih ataupun lega.
.
Nara terisak diberanda kamarnya. Kenyataan pahit yang harus ia terima. Ia sudah resmi menjanda, dan kini memang ia hanya tinggal menunggu surat janda turun ke tangan.
Rasanya benar-benar menyedihkan. Rasa haus akan kehormatan dan harga diri dimasa depan yang ia perjuangkan berakhir seperti ini.
Bahkan lebih mengerikan dari yang sebelumnya.
“Tidak semua pilihan untuk berpisah itu buruk Nak…” ujar Nyonya Shin disamping putrinya.
Ia tahu ini sangat berat bagi Nara. Ia tahu Nara mempertahankan rumah tangganya mati-matian. Dengan berbagai alasan Kyuhyun yang menyakitinya tapi Nara tak pernah gentar.
Dan untuk yang satu ini, entah apa yang membuat Nara berani mengambil langkah seperti ini.
“Maafkan aku Eomma.. Aku tak bisa menepati janjiku dulu…”
“Janji yang mana ?”
“Untuk tidak jadi seorang janda..”
“Bagiku Eonni lebih baik menjadi janda dari pada bersama bajingan sialan itu…” imbuh Haerin tiba-tiba.
“Wae ? Kau senang melihat Eonni mu menjadi janda ?”
“Tidak senang. Tapi aku puas karena pada akhirnya Eonni menggugat namja itu ketika ia tengah berharap besar padamu….”
“Berharap apa ?”
“Uang itu..”
“Uang?”
“Ya. Aku tahu soal itu, dan sangat kentara sekali jika Cho Kyuhyun masih menginginkan uang itu…”
“Hahahhaa anak pintar…” jawab Nara sambil tertawa.
“Ingatlah, menjadi janda jangan membuatmu rendah diri. Kau harus lebih baik dan menjaga dirimu. Terserah orang mau berkata apa, hanya kau sendiri yang tahu siapa dirimu sebenarnya. Mungkin dia bukan jodohmu yang sebenarnya, mungkin kau bukan tulang rusuknya yang hilang itu….” ujar Nyonya Shin sambil mengelus kepala putri cantiknya.
Sudah lama sekali, ia tidak sedekat ini dengan putrinya. Sejak menikah Nara memang menjaga dirinya dan melindungi privasi pernikahan mereka.
Sehingga Nyonya Shin jarang sekali masuk ke kamar Nara, ia hanya memperhatikan putrinya dari jauh. Walaupun Nara tak pernah bicara apa-apa, ia tahu putrinya tidak bahagia. Dan percayalah, seorang Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya.
.
“Kau membuat Appa kecewa Shin Nara…”
“Maafkan aku Appa….”
“Kuatkan dirimu, setidaknya kau punya status jika seorang pria di masa depan menanyakan mahkotamu yang hilang itu…”
“Ne Appa….”
Kata-kata Ayahnya bagai oase ditengah kekeringan. Nara tahu, mungkin ia memang bukanlah tulang rusuk Kyuhyun yang hilang.
Mungkin memang jodohnya bukan Kyuhyun. Namja itu hanya numpang lewat saja, mungkin.
Toh jadi janda lebih lega, ia bisa jujur pada suaminya kelak jika dirinya memang bukan lagi perawan ting ting.
Nara mulai menata hidupnya kembali, ia ikut kursus menjahit dan bekerja dengan Ibunya.
Bahkan Nyonya Shin sudah akan buka butik sendiri sekarang. Dan uang modal untuk Kyuhyun waktu itu sepenuhnya jatuh ke tangan Nara.
Nara bisa memulai hidupnya lagi. Mungkin ia akan kuliah lagi. Dan tentu saja membantu ibunya membuka usaha.
Sepertinya membeli mesin jahit baru dan bahan-bahan pakaian adalah hal paling menyenangkan sekarang.
Beruntungnya Nara saat ini Yonhe tidak lagi sesibuk dulu, bahkan gadis itu menemaninya lewat chat room setiap hari.
Kadang ia dengan percaya diri menyanyikan lagu untuk Nara yang sedang sedih, dengan suara cemprengnya yang memekakkan dan membuat Nara sakit kepala.
Tapi itu lumayan menghibur. Bercerita pada Yonhe tentang apa saja tak pernah ada batas. Walaupun saat ini yeoja itu jauh di Osaka sana.
Hari ini saja dia sudah bernyanyi puluhan kali lewat voice massage dengan maksud menghibur Nara yang berduka lara.
Karena barusan tadi Nara melihat Kyuhyun lewat dengan seorang gadis memeluknya mesra disepeda motornya.
Nara merasa sangat bodoh. Kenapa masih saja memikirkan namja itu ? Dasar brengsek. Bahkan ini belum sebulan sejak perceraian mereka.
Nara pikir Kyuhyun sudah kembali ke Seoul, ternyata ia masih di kota ini.
°°°°~~~~°°°°°
Nara kembali berpuas diri dan memotret hasil jahitannya lalu mengirimkan gambar itu pada Yonhe, sahabatnya.
Mereka selalu seperti itu. Berbagi kebahagiaan. Walau hal-hal sepele macam begini, entah kenapa Yonhe selalu bisa membuatnya tertawa bahagia. Membuat ia merasa lebih dihargai dalam melakukan sesuatu, menambah semangatnya menjadi menggebu-gebu.
Walau ada saatnya dimana gadis itu tak cocok diajak bicara dan malah membuat Nara semakin pusin, tapi over all Yonhe adalah sahabat terbaik yang ia miliki.
“Berdandanlah yang cantik, siapa tahu Siwon melirikmu kali ini..” candanya waktu itu.
Ahhh Siwon. Mimpi saja. Dulu saat Nara masih percaya diri saja ia tak melirik Nara sedikitpun. Apalagi sekarang ? Ia tidak punya muka berhadapan dengan namja anti bakteri itu.
Biarlah Siwon menjadi salah satu kisah cintanya yang indah, dibanding kisahnya dengan Kyuhyun yang baru saja berakhir.
Dan Henry ? Kemana namja itu ? Dia adalah pembangkit semangat Nara. Seperti orang ketiga yang membuat Nara kuat menjalani biduk rumah tangganya yang suram.
Nara tahu Henry menyukainya, perempuan selalu tahu jika seseorang punya perasaan lebih terhadapnya. Entah itu dilihat dari cara menatap ataupun bicara yang sangat pengertian.
Tapi Henry menghilang. Setelah Nara bercerai ia pergi entah kemana. Padahal Nara belum mengucapkan terima kasih padanya.
Aahh… Henry, semoga kau mendengar ini, semoga angin membawa suaraku ke telingamu. Terima kasih Henry, aku menyayangimu….
“Hai apa kabar ? Apa kau sehat ? Bagaimana ? Apa kau sudah bekerja kembali ? Oppa sekarang sudah membuka usaha sendiri. Cita-cita Oppa sejak lama, dan cita-citamu juga kan ? Rasanya menjadi pengusaha sangat mulia karena bisa memberikan lapangan kerja pada orang lain. Bukankah begitu pendapatmu dulu ? Oppa harap kau jadi orang yang hebat, kau gadis cerdas dan baik hati. Oppa percaya kau akan berhasil..”
Nara memandang lagi isi pesan itu lekat-lekat. Ini sudah dua bulan, dan ia menjanda selama itu.
Nara tersenyum kecut melihat pesan yang tertera diponselnya itu. Bahkan tak ada kata-kata maaf dari namja itu.
Dan ia mengirim pesan dengan gaya yang santai. Bagaimana bisa ? Bagaimana caranya ? Nara juga ingin seperti itu.
Ingin sekali bersikap biasa saja seperti itu. Tapi ia tidak bisa. Kenyataannya ia masih menangis tiap kali melihat pesan itu berkali-kali.
Walaupun Yonhe sudah bilang Nara tak perlu menanggapi pesan tak bermoral dari namja itu lagi, tapi entah kenapa Nara malah merasa salah jika ia menghindarinya.
Ia takut Kyuhyun berpikir jika ia masih menyukainya. Yonhe meminta Nara agar mempercayai dan menjadi diri sendiri dalam menghadapinya. Menjadi diri Nara yang kuat seperti biasanya.
Namun kenyataannya menjadi diri sendiri adalah menjadi Nara yang lemah dan hanya bisa menangis.
Ia rindu Kyuhyun dan ingin namja itu ada disampingnya. Tapi kenyataannya jika Nara bertemu Kyuhyun ia hanya merasa sakit dan benci. Semua lukanya seakan terkuak kembali.
Akhirnya Nara memutuskan untuk membalas pesan itu. Meskipun Yonhe marah besar atas keputusannya.
Pesan itu untuk mengirim pesan, bukan untuk memberi tahu perasaan Nara. Baginya, selama Kyuhyun tidak muncul didepan matanya, Nara sanggup bertahan.
Ada wktu dimana Nara harus berani menyakiti diri sendiri untuk menjadi lebih baik, mungkin ini wktunya Nara untuk belajar dari Kyuhyun agar bisa melupakan tanpa harus menghindar dan membenci.
Dunia memang luas tapi takdir akan selalu ada.
Pasti ada saat dimana takdir menentukn Nara bertemu kembali dengan Kyuhyun, tapi bukan untuk kembali melainkan belajar untuk melupakan masalalu.
Sulit sekali, itu yg bisa aku katakan, tapi seperti yg Yonhe katakan sebelumnya Nara yg lemah itu bukan Nara yang ia kenal.
Suatu saat nanti perjalanan menuju sesuatu yg lebih berharga dari seblumnya akan datang, dan entah kenapa Nara yakin dirinya bisa walaupun ia tak yakin untuk tidak menangis menghadapi rintangan itu.
 Author : Vinnkyu
Title : The Real Story About Marriage
Cast : Cho Kyuhyun (SJ)- Shin Nara (OC)
Rate : NC17 , Sad , Married Life
Length : One Shot
Terima kasih buat Admin yang sudah mau publish FF aku ini.
Ini kisah yang aku dapat dari sahabatku. Kisah nyata pernikahannya yang akan aku tulis kembali, dengan sedikit modifikasi tentunya. Dan ada beberapa adegan fiksi untuk membumbui cerita ini.
Sebenarnya hanya pengalaman hidup yang diceritakan lewat obrolan ringan dan ditulis kembali olehku yang kehabisan akal buat ide cerita. Hehehe
Awlanya aku menulis ff untuk sahabatku ini, dia benar-benar butuh teman dan aku harap ceritaku jadi teman yang pas dikala waktu luangnya.
Oke.. the story begin…
Semoga dapat ambil pelajaran dari kisah ini.
~~~
Seoul University
Shin Nara adalah seorang gadis belia yang tengah mengenyam pendidikan di kota besar. Gadis cerdas dengan pembawaan yang diam dan terkesan sombong ini adalah mahasiswa fakultas hukum univesitas Seoul.
Ia masih menjalani semester 5. Masih baru setengah jalan menjadi mahasiswa. Bagi Nara tidak ada yang menarik di kota ini, tentu saja tidak ada jika bukan karena kampusnya dan seseorang yang ingin sekali ia temui, atau bahkan ingin ia miliki.
Choi Siwon. Pria yang mencuri hatinya sejak sangat lama, sejak ia masih duduk di bangku SMA. Dan kabar baiknya, Seoul adalah kota asal namja berkharisma itu.
Dengan segenap kekuatannya Nara berhasil sampai di kota ini. Diawali tujuan yang indah, yaitu bersekolah dan di sisi lain mencari cara agar bisa dekat kembali dengan namja itu walau tak tahu dimana pastinya ia berada.
Mungkin dia memang orang Seoul, tapi apakah Seoul sesempit daun kelor ??
~~
Seongnam – Gyeongjo
“Naraa… bangunlah, jangan mentang-mentang libur kau bisa tidur sampai begini siang…” suara Ibu Nara membahana dirumah itu.
“Aaiissshhh…. Apa gunanya aku libur dan pulang kalau tak bisa bersantai..,” decak gadis itu kemudian berjalan gontai ke kamar mandi.
Hufhhh… melelahkan. Hampir tiga tahun merantau di Seoul dan hanya punya kontak Line milik pria itu saja. Bahkan saat Nara mengajaknya mengobrol disana pun ia sudah tidak ingat siapa Nara lagi.
Padahal dulu mereka sempat dekat, walau tak bisa saling memiliki. Karena nyatanya Choi Siwon sudah punya kekasih dan lebih memilih mempermainkan Nara yang menyukainya.
Ahhh wae ? Kenapa ia tak suka padaku ? Kenapa ia tak memilihku ? Kenapa ia membuatku gila hanya dengan memikirkannya saja ? Wae ??
Dan bahkan ia tak mengenali wajahku lagi, gumam Nara sedih dalam hatinya.
Story Chat Line
Nara
Hai… Kau masih ingat padaku ?
Choi Siwon
Ani, kau pakai foto yang bahkan wajahnya saja tidak jelas. Apa kau sangat jelek ? Kenapa pakai foto seperti itu ?
Hanya jawaban menyebalkan yang Nara dapat saat memberanikan diri dan membulatkan tekad untuk menghubungi namja tengil sialan itu.
Kenapa sih ? Foto Nara sudah sangat jelas. Bahkan satu frame Display Picture itu diisi penuh oleh wajahnya. Apa namja itu buta ??
Sedang mempermainkannya ? Atau pura-pura lupa ?
Haruskah serumit ini untuk dapat berkomunikasi ?
Nara tinggal dengan Ibu dan seorang adik perempuan di seongnam. Ibunya adalah seorang istri muda yang tidak dikawin resmi dan belum dapat pengakuan khalayak ramai soal pernikahannya.
Entahlah, Nara juga tidak mengerti. Kabarnya dulu Ibu Nara seorang pegawai kedutaan di China. Dan jatuh cinta pada Duta Besar Korea yang waktu itu sama-sama bekerja disana.
Tuan Park Joongso. Sekian lama mereka menjalin hubungan gelap, akhirnya mereka memiliki seorang anak, Shin Nara yang lahir di Wuhan-China 22 tahun yang lalu. Kemudian dua tahun berikutnya putri kedua mereka lahir, bernama Shin Haerin.
Setelah kelahiran putri kedua itulah Ibu Nara dikembalikan ke Korea. Diberi rumah indah dan fasilitas mewah sehingga tidak perlu lagi susah payah untuk bekerja.
Bahkan kabarnya Ayah dan Ibu Nara menikah. Walaupun tidak ada surat resmi dari pemerintah, semua orang tahu jika Ayah dan Ibunya adalah sepasang suami istri.
Ibu mereka tinggal di Seongnam, dan Ayah yang berkelana keliling dunia. Ditugaskan kesana kemari oleh negara. Sehingga waktu bertemu Nara dengan Ayahnya sangatlah kurang. Begitu juga dengan sang adik,Haerin. Yang kelihatan lebih membenci Ayah mereka ketimbang merindukannya.
Nara sedang berlibur di kampung halamannya untuk segera memasuki semester enam. Sebenarnya ia lebih betah di seoul dari pada kota tempat tinggalnya, namun demi menghemat pengeluaran Ibunya Nara pulang untuk dua minggu berada dirumah.
Angi sepoi memasuki liang jendela kamarnya yang dihiasi pohon mawar putih raksasa diluar sana. Angin yang dibawa masuk begitu wangi berkat tanaman itu. Benar-benar menyenangkan, tidak perlu mahal-mahal membeli lilin aromatherapy untuk relaksasi.
Sesaat kemudian…
Cklek..
Haerin sang adik memasuki kamarnya.
“Eonni….” sapanya dengan penuh hati-hati.
“Eum ? Ada apa ?”
“Apa Eonni sudah tahu ?”
“Apa sayang ?”
“Appa akan menikah lagi…”
Deg !!
Jantung Nara bagai berhenti berdetak saat itu juga. Ia begitu sibuk diluar kota sampai tidak tahu kabar sepenting ini.
Air matanya tak dapat lagi terbendung dan ia menangis, mengisak pilu disisi adiknya yang hanya diam membisu, tak mampu berbuat apa-apa lagi.
“Aku fikir itu hanya kabar bohong yang disebarkan tetangga….” suara Nara tersesak dibalik tangisnya.
“Kenapa Eonni menangis ? Toh dia tidak menikah lagi pun, ia tak pernah ada disini. Kita tetap hanya bertiga…”
“Tapi pasti ada yang berubah nantinya.. Aku tak mau..”
“Segala sesuatu berubah setiap harinya, tak perduli kau suka atau tidak mereka akan berubah seiring waktu yang berlalu…”
“Tapi kenapa ?”
“Karena itulah hidup…”
Entah kenapa pernyataan sang adik membuat Nara tertegun. Apa benar maksud gadis ini ? Memangnya semua hal akan berubah ?
Haerin tumbuh menjadi sosok gadis yang tangguh dan jarang menangis. Jika Nara kelihatan angkuh dan dingin diluar maka Haerin adalah kelipatannya.
Mungkin Nara terkadang menunjukkan sisi lemahnya seperti saat ini, tapi tidak dengan adiknya. Gadis itu sangat kuat bahkan ketika harusnya ia menangis bersama sang kakak.
Entah hatinya terbuat dari apa sehingga membuat Haerin bersikap biasa saja menanggapi kenyataan ini. Bahkan Nara yang kuat sekalipun menangis mendengarnya.
“Eonni… Aku keluar dulu..” ujarnya datar seraya meninggalakan kamar kakaknya.
Nara menangis, semakin kencang. Apa artinya ia pulang kerumah jika dapat kabar seperti ini. Bahkan sudah berbulan-bulan Ayahnya tidak menyambangi rumah ini dan kali ini kenyataan benar-benar menamparnya karena untuk selamanya sang Ayah tak akan pernah datang lagi.
Nara semakin terpukul. Disaat seperti ini bahkan ia tak punya seorang teman untuk diajak berbagi. Sahabatnya, yang sudah menjadi belahan jiwanya, pergi jauh dari kota ini. Dia juga merantau dan melanjutkan hidupnya sendiri di kota lain. Yang sangat jauh jika harus disambangi sekarang.
Kenapa semuanya semakin buruk ? Pria, keluarga, sahabat ? Jangankan sempurna, bahkan dekatpun tidak.
~~~
Malam ini Nara terakhir berada dirumah. Sikapnya yang pendiam dan tertutup seperti itu membuatnya tak pernah bertanya apa-apa pada sang Ibu.
Sekalipun mereka tinggal serumah dan sama-sama perempuan, tapi sepertinya putri-putri Nyonya Shin tidak ingin dekat Ibunya yang tengah berduka lara.
Ia akan diceraikan. Karena suami tidak sah nya itu akan menikah lagi dengan perempuan lain yang jauh lebih muda.
Sekalipun pernikahan mereka bukan pernikahan umum seperti orang lain, namun Tuan Park hanya memiliki wanita ini sebagai satu-satunya istri yang ia punya. Dan memiliki dua orang putri cantik dengan Shin Nara sebagai putri sulungnya. Pernikahan Tuan Park dengan istri tuanya tidak menghasilkan seorang keturunan.
Dan mulai saat ini mereka tak akan lagi bersama. Bukan main sedihnya hati wanita setengah baya ini. Walaupun pria itu jarang sekali ada dirumah, tapi hatinya masih ada hasrat memiliki sebagai seorang istri. Namun sekarang apa ? Ia harus memulai semuanya sendiri.
Berhenti mengharapkan uang kiriman untuk hidupnya setiap bulan, dan mulai memutar otak untuk menghidupi diri dan kedua putrinya.
Mungkin pria itu masih sudi membiayai Kuliah Nara dan Haerin, tapi bagaimana dengan makan mereka sehari-hari ? Nyonya Shin mungkin tinggal dirumah yang besar dan mewah, tapi ia tidak punya usaha apapun sama sekali untuk menghidupi kebutuhannya nanti.
Semua berawal sejak dua minggu lalu. Saat itu Nara belum pulang kerumah untuk liburannya, dan pria itu datang tengah malam buta.
Membawa kabar mengejutkan jika ia akan menikah lagi, dengan seorang wanita muda yang ia hamili. Miris sekali. Nyonya Shin marah bukan kepalang bahkan tangannya dengan ganas merusak mobil mewah suaminya itu.
Melempar kaca dan menusuk ban belakangnya dengan pisau daging. Agar pria itu tak bisa lari kemanapun lagi.
Tapi toh nyatanya sikap Nyonya Shin yang anarkis malah membuat pria itu berpikir untuk menceraikannya. Hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Ia pulang hanya untuk menyambangi istri dan anaknya, sekaligus meminta restu untuk menikah lagi.
Wanita mana yang sudi ? Lebih baik menjanda kalau begitu !! Pikiran itu sebelumnya sudah terlintas dipikiran Nyonya Shin. Tapi setelah itu tentunya ia sadar jika ia masih membutuhkan pria itu, walaupun hasrat membutuhkan uang lebih dominan tentunya.
Nyonya Shin menangis, bukan, ia tidak menangisi perceraiannya. Ia sudah cukup kuat tinggal dirumah mewah tanpa suami. Ia menangis karena beban yang harus ia tanggung sendiri.
Baginya, walaupun Nara dan Haerin adalah darah daging Tuan Park, tapi ia tak akan mengemis pada pria itu untuk biaya hidup kedua putri cantiknya.
“Eommaa….” suara Nara menginterupsi isak tangisnya yang sejak tadi membahana tak kunjung berhenti.
“Uljimaa.. Kita akan baik-baik saja Eomma.. Aku akan bekerja agar tak menyusahkanmu..” ujar Nara sambil mengelus punggung Ibunya untuk menenangkan.
“Aniyo.. Bukan itu yang Eomma tangisi. Hanya saja, Ya Tuhan… Ini sudah 24 tahun aku seperti ini, dan jujur saja rasanya lega lepas dari penjara tak terlihat itu…” jawab Nyonya Shin dengan kalimat yang tabu.
Nara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ibunya.
“Kalau kau menikah nanti, berjanjilah agar terus bertahan dengan suamimu eoh ? Jangan jadi janda seperti Eomma…”
Nara hanya bisa diam. Mulutnya terkunci rapat, entah kenapa, baginya pernikahan benar-benar sangat menyeramkan. Hatinya mencelos mengetahui hal macam begini.
Sang Ayah, orang yang begitu ia cintai, yang dianggapnya sebagai pahlawan, seperti tangan kanannya Tuhan, tega berbuat seperti ini pada keluarga kecil mereka. Mengambil keputusan semena-mena dan membuat hati Ibunya terluka.
“Uljimma Eomma… Gwenchana…”
Haerin menatap Ibu dan Kakaknya dari balik pintu kamar. Hatinya pun sama, sakit dan nyaris hancur tak berbentuk. Ia begitu merindukan Ayahnya hingga rasa rindu itu menumpuk dan berbau aroma benci.
Apalagi saat pulang dua minggu yang lalu Ayahnya hanya membawa kabar buruk dan petaka belaka. Sungguh menyedihkan, dan orang seperti itu tidak perlu ditangisi lagi.
~~
Shin Nara kembali ke Seoul dan meneruskan kegiatan kuliahnya. Dengar-dengar Ayah dan Ibunya sudah resmi bercerai dengan cara adat karena mereka memang tak pernah masuk catatan sipil, jadi tak ada sidang.
Hatinya amat sangat sakit. Rasanya kehidupan yang semakin sempit itu lebih jelas terasa. Sejak itu sang Ayah memang mulai mengacuhkannya.
Mengirimkan uang jajan yang sangat sedikit setiap bulan dan kemungkinan untuk membayar uang kuliah semester depanpun tidak ada.
Bayang-bayang mengerikan terus berputar dalam kepala Nara. Bagaimana nanti jika ia berhenti kuliah ? Menyedihkan sekali punya otak yang pintar dan Ayah yang kaya tapi harus berhenti kuliah. Ternyata memang benar, kehadiran wanita baru dalam hidup sang Ayah membuat dirinya berubah.
Nara harus mulai bekerja dengan situasi sulit seperti ini. Mungkin bekerja paruh waktu di salah satu minimarket 24 jam tak ada salahnya. Toh kuliah tidak makan banyak waktu seharian, ia bisa bekerja sampai tengah malam.
Benar ya, roda itu berputar. Hahaha Rasanya lucu sekali ketika dulu Shin Nara adalah gadis yang kaya dan banyak uang, namun sekarang ??
Dulu ia bahkan sering membuang uang kecil yang tidak seberapa ke sembarang tempat. Bahkan teledor sekali menyimpan barang-barang berharganya.
Sekarang ? Bisa kalian tebak jika Nara hanya mendapat 200ribu Won perbulan untuk biaya makan dan segalanya. Bagaimana jumlah itu bisa cukup ? Sedangkan biaya hidup dikota ini sangat tinggi.
Untuk beberapa lama Nara masih bertahan dan tinggal di Seoul. Kuliah di siang hari dan bekerja pada malam harinya.
Sampai suatu sore saat ia hendak ke tempat bekerja, ia melihat sosok namja yang familiar dimatanya.
“Shin Nara ??” tegur namja itu sopan sambil tersenyum ramah.
“Sunbae-nim.. Anyeonghaseoyo..”.jawab Nara sopan.
“Ne, aku senang bertemu denganmu, dan kau makin cantik…” ujar namja itu lagi, dengan senyuman indah merekah dibibirnya yang merah.
Nara tersipu malu dibuatnya. Namja ini adalah seniornya dulu yang sekarang sudah lulus duluan. Dan sepertinya mereka sama-sama tertarik, hanya enggan mengakuinya.
Siapa yang tidak tertarik pada namja tampan berambut coklat itu ? Matanya yang tajam dan hidungnya yang mancung membuat kadar ketampanannya diatas rata-rata.
Bahkan wajah pria ini masih lebih tampan dari personel Boy band terkenal di korea. Ia selalu tampil sederhana namun dapat memukau siapapun yang melihatnya.
Dan bagi Nara sendiri, Kyuhyun merupakan hiburan yang sangat membantu dari kegalauannya terhadap Choi Siwon, pria yang entah ada dimana itu.
Namanya Cho Kyuhyun. Ya, nama namja tampan dihadapannya adalah Cho Kyuhyun.
“Hei… Kenapa melamun ??” tanyanya mengejutkan Nara yang masih betah terpesona pada kharisma yang ia pancarkan.
“Ah.. Ani sunbae-nim. Aku harus segera pergi. Aku bekerja paruh waktu setelah ini.. Anyeonghigaseoyo..” jawab Nara lalu membungkuk dan pergi.
Kyuhyun tersenyum memandangi kepergian gadis cantik itu dihadapannya, selain makin cantik gadis itu lebih mandiri sekarang. Rasanya benar-benar luar biasa. Dulu Shin Nara hanyalah gadis manja yang bergelimangan uang dan barang-barang mahal.
Tapi sekarang ?? Hahaha siapa yang sangka kan jika pepatah roda sedang berputar itu benar adanya ??
~~~
Sore itu Nara baru saja pulang dari kampusnya dan berencana untuk bolos bekerja hari ini. Besok ia ada ujian dan tidak mau melewatkan kesempatannya untuk belajar.
Namun tanpa ia duga, pria yang tak sengaja ditemuinya beberapa hari yang lalu tengah berdiri dibawah halte bis seperti sedang menunggunya. Entah iya atau tidak, namun Nara merasa begitu adanya.
“Lama sekali, aku sudah menunggu lama…” ujarnya ketus saat Nara sama-sama berdiri di halte itu.
Nara hanya menatapnya heran tanpa mengatakan apa-apa. Matanya memandang namja itu sebentar kemudian melihat lurus lagi kedepan.
Ya Tuhan, Shin Nara belum benar-benar berubah. Disaat ia jadi yeoja biasapun gaya arogan dan angkuhnya masih sangat dominan.
“Shin Nara, tidakkah seharusnya kau basa basi padaku ?” tegur Kyuhyun lagi pada gadis disebelahnya.
“Ne ??” tanya Nara dengan tampang bodohnya.
“Aku menunggumu sejak lama!!” ujarnya lagi sambil berdecak sebal. Matanya mulai menyipit untuk melihat respon gadis sombong disebelahnya kini.
“U…untuk apa Sunbae ?” tanya Nara polos
“Aaaiissshhh…..” Kyuhyun kembali mendengus kesal sambil menjambak rambutnya yang tak berdosa.
“Baiklah, karena berbicara denganmu membutuhkan banyak waktu, jadi aku langsung saja. Shin Nara, aku menyukaimu ! Sejak kau pertama kali datang kekampus dan aku jadi seniormu. Aku sudah menyukaimu..”
“Lalu ??” tanya Nara dengan bodohnya.
“Lalu ? Apa? Ya Tuhan !! Baiklah, aku tak perlu basa basi lagi sepertinya. Jadilah pacarku !! Jadi pacarku…” ujar Kyuhyun lagi, tak terbantahkan.
Nara hanya menatapnya takjub. Apa barusan namja ini menyatakan cinta ??
Sesaat kemudian bus yang mereka tunggu sudah datang lalu Kyuhyun menarik tangan Nara dan membawanya masuk kedalam.
Mereka duduk dalam diam selama perjalanan. Rasanya masih sangat canggung dan gugup.
Nara masih sangat terkjut dengan keadaan yang diterimanya dan Kyuhyun masih merasa malu dengan apa yang ia katakan barusan.
Mereka turun dari bis dengan Nara yang berjalan didepan menuju rumah sewa tempat tinggalnya. Kyuhyun mengikuti langkah gadis itu dengan tenang, dan tentu saja sangat bergaya.
“Sunbae apa yang kau lakukan ?” tanya Nara pada Kyuhyun yang masih betah menjadi stalker dibelakangnya.
“Mencari tahu rumah pacarku pastinya..” jawabnya santai.
Seakan barusan tadi tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka, dan Kyuhyun sama sekali tidak sadar dengan debaran jantung Nara.
Ya Tuhaann… tak bisakah namja ini memberikanku waktu barang sebentar saja ? gumam Nara dalam hatinya.
“Itu rumahku. Kau melihatnya?” ujar Nara sambil menunjuk rumah mirip apartemen mini dengan warna abu-abu berlantai tiga.
“Bolehkah aku main kesana nanti ? Kita bisa makan dan minum sesuatu sambil mengobrol mungkin..”
Nara hanya mengangguk setuju. Terserahlah, yang penting saat ini namja itu pergi dan memberi Nara waktu untuk berpikir. Ayolaahh… ini terjadi sangat cepat dan buru-buru.
“Aku masuk dulu sunbae..” ujar Nara akhirnya.
“Eoh.. titipkan salamku pada Ibu asramamu eoh ? Ahh.. jangkamman, aku harus tahu nomor ponselmu…”
Dengan cepat Kyuhyun mengambil ponsel yang sejak tadi digenggam Nara dan mengotak-atik ponsel itu.
Hingga suara deringan ponsel disakunya berbunyi dan ia pun tersenyum senang.
“Itu nomor ponselku. Cahh, masuklah kesana. Oh iya, kau sekarang adalah pacarku. Jangan lupa itu..”
Kyuhyun tersenyum manis sebelum akhirnya melambai pergi meninggalkan Nara yang masih bengong dengan kejadian barusan.
Apa ini mimpi ?
Bahkan jika seluruh isi langit dan bumi memuja Choi Siwon sebagai namja terkeren dijagat raya ini, bagi Shin Nara pria itu bukanlah apa-apa lagi jika dibanding dengan Cho Kyuhyun.
Pria yang dengan gentle mengajaknya berkomitmen dan menghargainya. Sedangkan Siwon ? Cih mimpi saja.
Namja itu memang mempesona dan berkarisma, tapi kelakuannya itu membuat Nara lelah dan harus memutar otak jika ingin dekat dengan dia. Seakan Siwon selalu mengatakan “Jangan jadi gadis yang bodoh jika ingin dekat denganku”
Dan Nara lelah menjadi pintar untuk membalas semua ocehan sombongnya. Bahkan dulu ia pernah berkata.
“Shin Nara, kau sekarang pacarku, tapi aku bukan pacarmu. Jadi aku bisa melakukan apapun padamu sementara kau tak punya hak apapun padaku. Kau mengerti ?”
Dan Nara hanya mengangguk. Karena apa ? Saking sukanya pada namja itu !! Lalu setelah kencan singkat, Siwon meninggalkannya. Tahu kenapa ?
Itu karena Nara mendadak jadi bodoh saat menyetujui hal itu. Dan Siwon benci gadis yang bodoh ataupun gampang dibodohi.
Lalu Nara bagaimana ? Tentu saja kembali ke tempat semula. Menjadi pengagum sekaligus stalkernya saja.
Hingga waktu kelulusan tiba dan setahun kemudian mereka tidak pernah bertemu lagi, bahkan sampai hari ini. Berarti sudah tiga tahun. Dan rasa itu belum hilang sama sekali.
Wae ?
Hentikan cinta bodohmu itu Shin Nara !!
Karena ada Kyuhyun disini, mulai saat ini. Ada Kyuhyun yang akan menjadi pengganti Siwon dalam hatinya sehari-hari.
~~~
Hampir tiga bulan Nara dan Kyuhyun berkencan.
Mereka menjalin hubungan yang santai namun serius dan menyenangkan.
Kyuhyun selalu tahu bagaimana caranya memperlakukan Nara dengan baik, menghormatinya dan menyentuhnya sesuai batas.
Benar-benar namja yang baik, dan membuat hidup Nara seperti dijungkir balikkan lalu jatuh hati pada namja itu dan semua pikiran tentang Choi Siwon lenyap begitu saja.
Walaupun hidup Nara tak seindah dulu karena masalah keuangan, tapi keberadaan Kyuhyun disisinya sungguh sangat membantu Nara. Meringankan beban yang ada dipundaknya, saling berbagi senyum dan tawa.
Cinta benar-benar indah. Apalagi Nara mencintai namja setampan ini. Hatinya sungguh puas luar biasa.
Nara yang pendiam berubah menjadi hangat dan manja pada Kyuhyun. Bahkan mereka tak segan lagi berbagi pelukan karena Nara sangat suka dipeluk jika sedang kesepian dan sendirian.
“Oppa…”
“Euhmm ??”
“Benarkah akan kembali ?”
“Tentu saja. Hanya sebulan berada di ulsan. Wae ?”
“Aku akan kesepian Oppa..” rengek Nara manja saat Kyuhyun datang untuk berpamitan keluar kota. Ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan disana.
Kyuhyun mengelus rambutnya pelan, merasakan kelembutan rambut Nara dan menghirup aroma samponya berkali-kali. Wangi sekali dan Kyuhyun suka itu.
“Kalau Oppa sempat, Oppa akan menyelinap di akhir minggu dan menjengukmu kemari..” ujar Kyuhyun sambil tersenyum penuh arti.
~~~
Sudah dua minggu Kyuhyun pergi. Dan Nara benar-benar merindukannya. Sepertinya Kyuhyun memang sangat sibuk dengan pekerjaannya itu.
Dia bekerja untuk perusahaan kapal tanker pengangkut minyak dan tambang di area laut lepas. Sehingga tak jarang Kyuhyun harus pulang pergi ke Seoul-Busan ataupun Seoul-Ulsan.
Ini baru minggu kedua, berarti masih ada dua minggu lagi dan Nara harus bersabar lebih lama lagi untuk bertemu sang kekasih.
Biasanya Kyuhyun akan datang hampir setiap hari. Mengikuti kemanapun Nara pergi dan menjemputnya tengah malam buta saat Nara pulang bekerja.
Tapi sekarang namja itu hilang sudah dua minggu lamanya. Membuat Nara bosan dan kesepian.
Namun tanpa Nara sangka, malam minggu seperti ini Kyuhyun datang. Yaa.. Kyuhyunnya datang.
Sepertinya memang ia sudah berencana untuk kabur sejenak dari kota pelabuhan itu, karena Kyuhyun datang bersama empat atau lima teman kantornya dalam satu mobil yang sama.
Mungkin untuk melakukan kencan bersama dan melewati malam yang indah. Barbeque mungkin menjadi pilihan yang paling baik.
~~
Kyuhyun menyanyikan sebuah lagu dengan gitar ditangannya. Benar-benar malam yang indah. Yang terindah bagi Nara.
Hatinya menghangat dan jantungnya berdebar kencang mendengar suara indah Kyuhyun mengalun lembut menembus dinginnya angin malam. Bahkan air mata Nara hampir saja jatuh karenanya. Padahal ini bukanlah lagu sedih. Kyuhyun sedang menyanyikan lagu romantis untuknya.
Cause all of me…
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfection
Give your all to me
I’ll give my all to you
You my End and my beginning
Even when I lose im winning
Cause I give you all of me..
And you give me all of you…
Suaranya benar-benar membuat Nara terhipnotis. Ditambah lagi lirik lagunya yang menyentuh dan menggoda Nara untuk melakukan semuanya. Memberikan semuanya untuk namja ini.
Seperti yang ia minta lewat lagu itu. Dan akhirnya malam itu berakhir indah bersamaan dengan Nara yang diantar pulang oleh Kyuhyun.
~~~
“Ahh…. Oppa,, jeballlhhh… sakittthhhh….” suara Nara mendominasi permainan dua sejoli yang tengah sibuk mencari kenikmatan lewat tubuh pasangan masing-masing.
“Asshhh… tahan sebentar, ini tak akan lama… aaaaarrgghhhh kenapa susah sekali….” sahut namja yang masih susah payah menyodok vagina gadisnya.
Mereka melakukan ini ditempat tinggal Nara. Diawali dengan ciuman ringan yang ternyata menggoda iman mereka untuk berbuat lebih jauh. Dan bahkan bagi Nara sendiri ia baru tahu jika nafsu itu seperti itu.
Sangat nikmat jika dituruti. Hingga ia tak lagi sadar kalau roknya sudah tersingkap keatas dan memamerkan paha mulusnya. Sedangkan celana dalamnya entah sudah berada dimana akibat ulah namja yang tengah berjuang keras diatas tubuhnya kini.
“Aiisshhhh… apa mungkin ini ada lubangnyaa ?? Rasanya milikku hampir patah mendorong terus seperti ini tanpa hasil yang berarti…” racau sang pria sambil masih terus berusaha menindih gadisnya yang kesakitan.
Ia sendiri sangat lelah dan sakit. Bercinta dengan perawan ternyata serepot ini.
Tangan Kyuhyun membuka kaki Nara lebih lebar dan menusukkan lebih keras kejantanannya kedalam milik gadis itu. Sedangkan bibirnya menghisap lidah Nara untuk melampiaskan rasa sakit dan nikmatnya sekaligus.
“Aahhh Oppaaaahhh…..” suara desahan Nara yang panjang mengakhiri perjuangan mereka.
Peluh dan nafas yang memburu menandakan betapa kerasnya perjuangan mereka tadi.
Sedetik kemudian Kyuhyun merasakan cairan hangat merembes lewat sisi celah-celah kemaluan mereka. Nara berdarah, tentu saja karena ia masih perawan.
Senyum miringnya keluar diiringi dengan nikmatnya rasa hangat yang ia dapat ketika merasakan kehangatan sekaligus lembab yang mendominasi penisnya didalam. sana.
Kyuhyun menggoyang perlahan pinggulnya dan menciumi Nara dengan serampangan. Rasanya benar-benar nikmat. Kemaluan Nara menjepit milik Kyuhyun kuat disertai denyutan pijitan dari dinding vagina Nara yang merespon kenikmatan itu.
“Aahh… kau sangat indah sayang….” ujar Kyuhyun disela kegiatannya yang sangat nikat itu.
Rasanya berteriakpun tak sanggup menggambarkan rasa nikmatnya pada tubuh Nara malam ini. Kyuhyun kembali berulah dengan membuka kancing baju Nara dan mengeluarkan benda bulat didada gadisnya itu dengan cepat.
Kemudian sebelah tangannya meremas buah dada Nara yang sintal, besar dan bulat. Membuat rasa nikmatnya bertambah berkali-kali lipat.
“Aaahh Oppaaahhh….” desahan Nara menggema seiring dengan kelakuan Kyuhyun padanya.
“Apa ini nikmat sayangghh..?”
“Eunghhhh… “
“Sayangghhhh… Sebut namaku…”
“Aniihhhh…”
“Asshhhhhh…..” Kyuhyun menggoyang pinggulnya lebih kencang, hingga suara tubuh mereka yang bersentuhan bercampur keringat terdengar jelas dikamar itu.
Dan sadar atau tidak suara-suara seperti itu membuat si empunya kerja menjadi lebih ganas. Kyuhyun bahkan akan mendapat klimaksnya sebentar lagi.
Ia menggoyang pinggulnya sangat kencang. Nafasnya memburu disertai desahan nikmat yang membahana.
“Aarrgghh…..” Kyuhyun akhirnya mendapat pelepasannya yang pertama.
Dan tak lama setelah merasakan hal itu ia kembali menggoyang tubuh pacarnya, untuk mencari kenikmatan yang berikutnya.
~~~
Kyuhyun sudah kembali ke Ulsan untuk mengerjakan perkerjaannya yang masih menumpuk disana.
Sementara Nara tinggal di seoul dengan sejuta kekhawatiran. Ia takut hamil. Tentu saja. Karena malam itu mereka bercinta tanpa menggunakan pengaman. Dan parahnya Kyuhyun menembakkan spermanya didalam rahim Nara.
Nara begitu stres jika memikirkan hal itu. Rasanya ia takut setengah mati. Kalau Eomma dan Appanya tahu, matilah habis sudah Nara digantung ditiang jemuran.
Ia pun mulai enggan menghubungi Kyuhyun sejak hari itu. Pikiran-pikiran negatif selalu menghampirinya jika ia mengingat Kyuhyun ataupun sekedar berhubungan dengannya lewat telepon saja.
Ia sangat takut jika mengulangi hal yang sama kalau Kyuhyun datang lagi. Karena kegiatan itu memang luar biasa nikmat dan membuat ketagihan.
Tapi Nara tak akan mau melakukannya lagi sebelum menikah.
Sehingga alasannya untuk menghindari Kyuhyun sangat kuat. Ia jadi jarang menghubungi Kyuhyun dalam bentuk apapun. Baginya hidup Nara sudah cukup sulit sekarang, dan ia tak mau membuat masa depannya semakin suram karena hal itu.
Walaupun hatinya masih diliputi rasa gelisah dan takut, takut telat datang bulan atau hal semacam itu. Dirinya sudah begitu kotor dan keji.
Agak berlebihan memang. Tapi memang itulah yang dirasakan Nara. Gelisah dan menyesal.
Kyuhyun memang jarang menghubunginya karena dia sendiri sedang sibuk. Dan itu sebuah keuntungan bagi Nara. Ia sekarang memang tak ingin dekat-dekat dengan namja itu.
Nara sibuk dengan kegiatan sehari-harinya dan sesekali mengacuhkan telepon dan sms masuk dari Kyuhyun yang masuk ke ponselnya.
Ia sama sekali tidak bermasalah akan hal itu. Rasanya dekat-dekat dengan Kyuhyun seperti akan alergi setahun, jadi lebih baik seperti ini.
Gadis bodoh. Setelah memberikan tubuhnya pada seorang pria, lalu ia pergi begitu saja ? Bahkan seorang pelacur saja dibayar untuk itu, sementara Nara ?
Bayangkan jika Ibunya tahu akan hal ini. Aaarrgghhhh… Memuakkan !!
~~
“Kau menghindariku, wae ?” tanya namja itu tiba-tiba sudah ada dihadapan Nara.
“Ani.. Aku sibuk..” jawab Nara singkat.
“Apa karena malam itu ?”
“Ne ?”
“Karena malam itu. Sejak saat itu kau mulai menjauh dariku. Wae ? Kau takut padaku ?”
“Aku takut hamil…”
“Aku akan bertanggung jawab bila kau hamil..”
Nara hanya menatapnya sekilas dan pergi meninggalkan namja itu. Rasanya mendengar Kyuhyun berkata seperti itu malah membuat dirinya merasa semakin rendah.
Walaupun saat itu mereka melakukannya dalam keadaan sadar, atas dasar suka sama suka. Tapi mendengar pernyataan Kyuhyun barusan, yang mungkin menurutnya adalah kata-kata berani seorang pria yang bertanggung jawab, namun dalam pikiran Nara itu hanyalah kalimat yang akan makin merendahkan dirinya.
Itu artinya Kyuhyun menginginkan hal itu berlangsung berulang kali tanpa khawatir jika Nara akan hamil mendengar pengakuannya barusan.
Tanggung jawab ?
Dalam bentuk apa ?
Menikah ?
Di usia semuda ini ?
Mimpi saja !!
~~°°~~
Berminggu-minggu Nara dan Kyuhyun semakin merenggang. Rasanya ia membenci Kyuhyun lebih dari apapun setelah perkataan Kyuhyun waktu itu.
Dan benar saja, hal ini malah membuat semua orang berpikir bahwa Nara adalah gadis yang bodoh.
Kenapa meninggalkan namja yang begitu baik seperti Kyuhyun ?
Perhatian sepertinya. Tampan dan berani bertanggung jawab.
Dan apakah itu benar ?
“Aku harus bagaimana Yonhe-ya ??” tanya Nara saat tengah bertelepon dengan sahabat jauhnya.
“Kalau sudah seperti ini kau minta dinikahi saja. Bukankah kau bilang hidupmu cukup sulit ? Lalu membiarkanmu berhubungan dengannya juga tidak akan baik, kalian pasti akan melakukannya lagi. Dan kau akan semakin tersiksa, apa dia bilang dia mau bertanggung jawab ?”
“Ya. Tapi ketika aku hamil saja..”
“Kau tak perlu menunggu hamil, saat ini dia bahkan sudah merebut harta yang harusnya jadi suamimu kelak…”
“Jadi sekarangpun aku berhak minta tanggung jawabnya ?”
“Tentu saja..”
“A… Aku akan memikirkannya…”
“Ya…”
Nara mulai memutar otak untuk mengambil keputusan atas hal ini. Ia sangat menyayangi Kyuhyun namun takut terjebak dalam hubungan yang kotor. Sering-sering melakukan hubungan intim diluar nikah bukanlah hal yang baik.
Dan sesungguhnya Nara tidak lagi percaya pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu lagi jika ia putus dengan Kyuhyun dan mencari namja lain.
Ia hanya akan semakin kotor. Kenapa tidak sekalian saja menjadi pelacur kalau begitu ?
Dan buat Ayahnya yang terhormat malu besar atas kelakuannya.
Aku harus cari cara, Yah.. Aku akan lihat kesungguhan Kyuhyun padaku.
°°°~~~°°°
Hampir sebulan lebih dijauhi Nara membuat Kyuhyun hampir gila. Bahkan ia tak semangat lagi memulai hidupnya esok pagi.
Hanya membuat ia makin tersiksa. Sesungguhnya ia masih belum mengerti yang dirasakan Nara itu sebenarnya apa ?
Dia hanya menjauh tanpa mengatakan apa-apa.
Jika ia hamil, toh Kyuhyun sudah bilang akan bertanggung jawab. Tapi kenapa ia malah lari ??
Kyuhyun mengambil ponselnya dan menghubungi gadis itu.
“Yeobseoyoo…,”
“Ne Oppaa…”
“Masih marah padaku ?”
“Ani…”
“Kau hamil ya ? Apa kau hamil ? Kau menghindariku karena kau hamil ?”
“Ani..”
“Lalu ?”
“Aku hanya tidak ingin melakukannya lagi sebelum aku menikah. Makanya aku menjauhimu. Karena aku yakin, jika kita dekat, kau pasti akan melakukannya lagi…”
“Ne ???”
“Ya.. itu yang aku rasakan..”
“Lalu maumu apa ? Menjauh dariku ? Berpisah denganku ? Apa kau gadis bodoh ?”
“Ya. Lebih baik aku menjauhimu dari pada terjebak dalam hubungan kotor seperti itu…”
“Kau sudah terlanjur kotor Shin Nara !! Kenapa kau tidak sekalian saja menjerumuskan dirimu dan hamil anakku ? Dengan begitu kita akan menikah dan terhindar dari hubungan kotor seperti katamu barusan !! Saat ini kau hanya menjadi sosok wanita bodoh karena kau meninggalkan pria yang sudah meniduri selama satu malam. Dan bahkan kau tak dapat apapun setelah itu..!!”
“Aku dapat pelajaran berharga.. Terima kasih sudah mau menjelaskan betapa rendahnya aku..”
“Apa kau fikir suamimu kelak akan menerimamu ? Kau seorang gadis hanya lewat statusmu !!”
“Apa itu begitu penting ?”
“Semua pria menganggap itu penting Shin Nara !”
“Berarti kau juga begitu ?”
“Setidaknya aku tahu siapa yang mengambil kesucianmu !!”
“Lupakan…!”
Tut..
Sambungan telepon diputus begitu saja. Kenapa sih yeoja ini ? Pikirannya terlalu sempit dan pendek.
Bagaimana hal seperti itu bisa jadi masalah besar baginya ? Banyak orang yang melakukan hal itu dengan banyak pria sebelum mereka menikah.
Lalu Shin Nara ? Bahkan bercinta dengan pacarnya pun membuat dia seperti akan mati besok saja.
Dan kelakuannya barusan membuat Kyuhyun semakin gila ! Andai saja Kyuhyun tidak terlanjur menyayanginya lebih baik ia pergi saja. Meninggalkan si gadis bodoh berotak udang itu sendirian.
Tapi Kyuhyun tidak bisa. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak dapat menjauh dari Shin Nara.
Akhirnya Kyuhyun nekat, mendatangi kediaman gadis itu yang dua minggu sudah tidak disambanginya. Sementara minggu-minggu yang lalu saat ia kesana Nara bersembunyi entah dimana, sungguh merepotkan gadisnya ini.
°°°~~°°°
Kyuhyun melihat daerah sekitar apartemen mungil tempat tinggal Nara kosong melompong. Ia tak tahu jika Nara sudah kembali ke kampung halamannya dia Seongnam sana.
Nara bahkan tidak memberikan keterangan apa-apa terkait kepindahannya ini. Dan tentu saja ini membuat Kyuhyun makin uring-uringan.
Bagaimanapun caranya, aku harus temukan dia, gumam Kyuhyun dalam hatinya.
.
Seorang gadis cantik tengah duduk molek didepan televisi sambil memegang dua batang coklat ditangannya. Ia merasa jika dirinya memang tengah sendiri dan mengacuhkan dua penghuni lain yang tengah sibuk wara wiri dirumah itu.
“Kyaa… Shin Haerin ! Bantulah Eomma dan Kakakmu ini. Apa kau tak punya perasaan melihat kami kerepotan seperti ini ??” tukas Nara marah pada sang adik yang dengan santainya menonton TV sementara ia dan sang Ibu sibuk mengangkat cucian kesana kemari.
Nara berhenti kuliah. Gagal sudah cita-citanya yang ingin jadi seorang diplomat.
Saat ini Nara hanya kembali pulang ke kampung halamannya dan membantu sang Ibu bekerja.
Ibu Nara membuka usaha Laundry kiloan dan laundry baju pengantin serta gaun-gaun mahal.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia sudah cukup berumur untuk melamar pekerjaan diluar sana. Dan membuka usaha adalah salah satu alternatif yang bagus untuk menghasilkan uang.
Namun membuka usaha tentu saja harus punya modal yang besar. Maka dari itu Nyonya Shin membuka usaha laundry saja.
Hanya butuh mesin cuci dan beberapa detergen serta tenaga bak super ranger untuk mengerjakan semuanya.
Tak jarang Nyonya Shin menggosok cucian dengan tangannya sendiri demi mencapai hasil yang maksimal.
Beginilah keadaan mereka. Tak ada uang kiriman lagi, tak ada acara duduk bersantai ataupun kuliah lagi.
Hanya Haerin yang masih diperjuangkan agar tetap meneruskan pendidikannya. Biarlah Nara mengalah demi adiknya.
Ia sendiri pulang karena memang sudah tidak ada harapan lagi tinggal di Seoul, uangnya semakin menipis dan biaya kuliah tengah menunggu didepan mata. Akhirnya ia memilih berhenti dan pulang kerumah.
Sementara gadis bernama Shin Haerin yang tengah diteriaki Kakaknya itu mendengus sebal lalu pada akhirnya membantu mereka.
“Eomma.. Kenapa kita harus bekerja seperti ini ??” serunya marah.
Seumur hidup, Nara maupun Haerin tidak pernah bekerja seperti ini. Bahkan mencuci baju mereka sendiri saja tidak pernah, bagaimana sekarang kedua anak ini mendadak jadi cinderella ?
Mengangkat puluhan kilo pakaian kotor orang lain dan mencucinya.
Mungkin tidak sulit, tapi tetap saja ini melelahkan.
“Eomma janji, setelah keadaan kita lebih baik. Eomma akan hentikan usaha ini. Eomma hanya akan mengambil cucian untuk baju yang bagus dan tak perlu dicuci dengan keras seperti ini…” ujar Nyonya Shin sambil memandang kedua putrinya.
Hati Nara amat perih. Kemana Ayahnya ? Apa benar ia sudah lupa ? Tak lagi perduli ?
Jika hanya Nara yang bekerja, tak jadi masalah. Tapi melihat Ibunya membanting tulang seperti ini, ditambah lagi adik kecilnya yang manja juga ikut bekerja membuat hatinya makin sakit.
Tak ada cara lain. Kedua wanita ini tak akan mampu mengatakan apapun pada Ayahnya, hanya Nara, hanya Nara harapan satu-satunya.
°°~~~°
Nyonya Shin berlari tergopoh ke pintu utama mendengar suara bel berbunyi berkali-kali.
Tumben sekali ada tamu seperti ini. Biasanya rumah mereka hanya sepi dan dingin saja.
Dengan cepat Nyonya Shin membuka pintu dan melihat sosok pria muda dengan pakaian casual didepan pintunya.
Pria itu nampak tersenyum, dan demi apapun pria ini sangat tampan dan mempesona.
“Maaf, anda mencari siapa yah ?” tanya Nyonya Shin pada namja itu.
“Eoh… Maaf Nyonya, saya mencari Shin Nara, benarkah ini rumahnya ??”
“Ya. Dan aku Ibunya, siapa namamu ? Dan dari mana kau ini ?” tanya Nyonya Shin penuh selidik.
“Saya Cho Kyuhyun, teman Nara dari Seoul..”
Nyonya Shin lalu mempersilahkan pria muda itu masuk dan duduk diruang tamu rumahnya.
Sementara ia sendiri memanggil Nara yang ada dikamarnya. Tumben sekali putri sulungnya ini dicari oleh seorang pria, tampan pula.
“Nara-ya… ada seseorang mencarimu…”
“Nugu ??”
“Cho Kyuhyun, dari seoul…”
“Ne ??!!”
“Cukup terkejutnya, sekarang cepat temui dia…”
Tanpa banyak bicara Nara menghampiri namja itu diruang tamu rumahnya.
Namja tampan yang ia rindukan, sekaligus ia hindari. Hatinya sendiri sakit jika mengingat perasaannya yang terpendam pada namja ini setelah memutuskan untuk menjauh.
Ada rasa benci dan rindu dalam relung hatinya. Namun Nara tidak lagi percaya diri jika harus terus bersama Kyuhyun, ia takut melakukan hal itu lagi dan lagi.
Ia takut menjadi candu dan terjerumus kemudian memperburam masa depannya. Siapa tahu Kyuhyun bukan jodohnya kan ?
Nanti Nara bilang apa pada suaminya jika sekarang keadaannya seperti ini ?
Pasti akan sangat memalukan.
Kyuhyun terkejut luar biasa melihat Nara yang berdiri mematung disebelahnya.
Wajah Nara pucat, tubuhnya kurus dan matanya cekung.
“Apa kau sakit ..?” sapa Kyuhyun sebagai salam perjumpaan setelah lama berpisah.
“Ani.. wae ? Ada apa Oppa kesini ?” tanya Nara ketus.
“Aku rindu kau. Kenapa kau pergi ? Bahkan kau tak bilang apapun padaku…”
“Aku ingin kita berakhir. Jadi rasanya memberitahumu bukanlah hal yang penting lagi…”
“Wae ?? Apa kau hamil ? Jujur padaku !”
“Ani. Aku hanya ingin menjauh darimu. Kumohon, kita berpisah saja….”
“Tapi kenapa ? Tolong jelaskan padaku, apa karena malam itu ? Karena hal itu ?”
“Ne. Bukankah sudah aku jelaskan sebelumnya ? Aku tak mau melakukannya lagi sebelum menikah. Jadi lebih baik kita berpisah saja. Jangan ikuti lagi kemanapun aku pergi..”
“Aku janji aku tak akan melakukannya lagi..”
“Aku tak bisa janji pada diriku sendiri kalau aku tak akan melakukannya lagi…”
Kyuhyun tertegun mendengar jawaban Nara. Benar, gadis itu benar. Mereka tak akan mungkin dapat menahan diri satu sama lain jika sudah dalam posisi terjepit apalagi berduaan seperti kemarin.
Dan Kyuhyun tahu jika gadis sepintar Nara tak mungkin gegabah menarik kesimpulan. Ia hanya mencari yang terbaik untuk masa depan mereka.
Memperbaiki sedikit demi sedikit, menghindari kehancuran yang lebih parah.
“Tapi setidaknya kau dan aku bisa berteman. Kau sudah ceritakan semuanya padaku, tidakkah kau merasa aku ini teman yang baik ?”
“Mungkin nanti, kita bisa berteman..”
°°°~~~°°°
Kyuhyun pulang ke Seoul dengan kegundahan luar biasa dihatinya.
Rasanya seperti ini ya remaja yang patah hati. Benar-benar menyakitkan.
Mungkin Shin Nara adalah gadis teraneh yang pernah ia kenal, tapi nanti siapa tahu kan ? Nara terlalu pintar, itu yang Kyuhyun belum tahu.
°°°~~~°°°
PLAK !!! PLAK !! PLAK !!!
Suara tamparan berkali-kali terdengar dirumah megah itu. Seorang wanita setengah baya sedang memukuli anak gadisnya entah kenapa.
Ia kelihatan begitu marah namun air matanya meleleh karena sedih. Hatinya perih dan sakit mendengar kenyataan barusan.
Benarkah ? Benarkah putrinya yang cantik dan baik ini melakukan hal begitu kotor diluar sana ?
Benarkah gadis ini sudah pernah tidur dengan laki-laki kemudian mereka berpisah ? Gadis bodoh !!
“Apa kau tahu kau ini siapa hah ? Kau anak keluarga terhormat, terpandang !! Bagaimana bisa kau berbuat seperti itu ? Kau bahkan tahu jika Ayahmu yang bertugas mencarikanmu jodoh. Dan kau sudah menodai dirimu sendiri ? Apa yang kami lakukan nanti ? Kau sengaja mau mempermalukan keluarga kita ? Kau gadis bodoh ! Kau membiarkannya pergi ? Kenapa kau seperti ini ? Kenapa kau seperti aku ? Shin Nara kumohonn, jangan seperti aku…” Nyonya Shin mengakhiri kemarahannya dengan terduduk lemas, merosot kelantai.
Hatinya amat sakit. Dulu hal seperti ini pernah ia alami juga. Sampai ia punya dua orang anak dan hidup menua, tapi pria itu tak pernah menikahinya, memberi status yang sah padanya.
Lalu sekarang Nara apa ? Tak bisa diharapkan lagi, perjodohan dengan pria kaya dan terhormat akan sirna sudah setelah kabar ini.
Nara tak boleh seperti ini. Nara harus segera memperjelas statusnya setelah kehilangan mahkota yang begitu ia banggakan itu. Nara harus menikah, entah siapapun Cho Kyuhyun itu, mereka harus tetap menikah.
°°~~~°°°
“Aku ingin menikah Appa…” suara Nara tersendat-sendat dikerongkongannya.
Ia tahu, diseberang sana Ayahnya pasti tengah menggeram menahan marah. Dan Ayahnya pasti berpikir jika Nara tengah hamil diluar nikah.
Pasti.
Walaupun ia sendiri belum mengerti dengan apa yang ia inginkan, Nara berusaha menyampaikan hal ini pada Ayahnya, atas perintah Ibunya.
Bahkan sahabatnya sendiri menginginkan agar Nara menikah dengan Kyuhyun saja. Entah apa mau mereka.
Semua orang begitu mengkhawatirkan Nara.
“Tunggu Appa dirumah, Appa akan pulang …”
Hati Nara menghangat, rasanya nadinya kembali berdenyut lagi. Ayahnya akan pulang. Setelah hampir satu tahun tidak berjumpa, dan setelah enam bulan perpisahan sang Ayah dengan Ibunya, akhirnya pria itu akan pulang.
Meskipun tidak akan lama, Nara tetap senang. Ia rela jika Ayahnya datang hanya untuk memukuli dan menghajar dirinya seperti sang Ibu barusan, yang penting ia bertemu dengan Ayahnya. Karena ia sangat rindu sosok itu.
Kemudian pembicaraan dilanjutkan oleh Ibu Nara yang langsung membawa ponsel itu ke kamarnya.
Darah Nara dan Haerin terkesiap, ketika melihat wajah sang Ibu merona dan tampak bahagia mendengar suara mantan suaminya itu ditelepon.
Pasti Ibu mereka sangat merindukan pria itu. Pasti ia tersiksa dan menangis setiap malam karena hal itu.
Haerin beringsut mendekati kakaknya yang sudah babak belur karena tamparan Ibunya barusan.
Ia mengobati luka Nara dengan mengompreskan air hangat. Nara meringis, rasanya masih ngilu dan perih.
Namun ia diam saja. Melihat mata Haerin yang selalu datar tanpa perasaan.
“Terima kasih dongsaeng…” ujar Nara pelan.
“Aku membencimu Eonni…” jawabnya sambil meninggalkan sang kakak sendirian.
Ahhh… Ini semua tidaklah mudah.
°°~~°°
Dua hari berikutnya ketika Nara sedang termenung sendiri di beranda kamar, sosok pria tinggi dan gagah menghampirinya.
Wajahnya sangat tampan dan berwibawa, seperti itulah lukisan yang ia turunkan pada gambaran wajah kedua putrinya.
Dan ia sangat bangga pada mereka, namun tidak hari ini. Bagaimana bisa putrinya yang cantik dan pintar terjebak dalam keadaan ini ? Rasanya mustahil.
“Apa kau hamil ?” suara pria itu menghentikan lamunan Nara seketika.
“Tidak Appa..” jawabnya singkat.
“Lalu, ada angin apa kau mendadak ingin menikah seperti ini ?”
“Bukankah Appa sudah dengar dari Eomma semuanya ?”
“Aku ingin langsung dengar darimu. Dan kenapa kau tidak kuliah lagi ?”
Nara tersenyum kecut. Mungkin yang lain memang kesalahannya, tapi soal kuliah ? Ia berhenti karena Ayahnya juga berhenti membiayainya.
Mungkinkah lupa ? Atau uang itu diberikan semua pada istri mudanya ? Bisa jadi.
“Aku hanya ingin melindungi harga diri Appa. Karena pria yang dijodohkan denganku nanti pasti akan kecewa. Bukankah nanti Appa akan malu karena itu ? Aku juga tidak ingin terjerumus ke lubang zinah dan seks bebas, aku memutuskan untuk menikah saja..”
Pria itu tertawa. Sungguh respon yang sangat tidak diduga ataupun diinginkan. Kenapa ia tertawa ?
“Kau sudah dewasa. Dan kau persis seperti aku yang sangat menjunjung harga dirimu..” ujarnya kemudian.
Ya, karena Appa sangat menjunjung harga diri maka Ibuku tak pernah dapat pengakuan apa-apa darimu. Aku tidak bangga menjadi sepertimu Appa, aku hanya mengambil langkah atas kesalahan yang telah aku perbuat.
Nara hanya tersenyum kecut begitu pria itu pergi meninggalkan kamarnya.
Hilang sudah rasa rindunya.
.
Berhari-hari kemudian, Nara diam dirumah dengan segala aturan. Karena seluruh keluarga tengah sibuk melancarkan rencana untuk bertemu dengan keluarga Kyuhyun.
Dan tebak saja, tentu namja itu tidak tahu soal ini.
Nara dan Haerin memang bukan kakak beradik yang dekat, mereka bahkan sering bertengkar. Namun mulai beberapa hari ini, Haerin memandangnya dengan sinis.
Ia tak segan menunjukkan rasa bencinya. Dan ini membuat Nara semakin merasa sendirian. Kesakitan. Nara pikir Haerin akan simpati padanya, namun kenyataan ?
Jangan harap adik cantiknya itu memanggilnya Kakak lagi. Satu-satunya teman yang bisa Nara ajak bicara adalah sahabat jauhnya di Osaka sana, Kim Yoon Hee.
Mereka hanya sekedar berbagi cerita lewat dunia maya namun hal itu mampu membuat Nara semakin kuat menghadapi ini.
Ia tahu Kyuhyun pasti marah. Ia mengerti jika Kyuhyun pasti akan membencinya.
Karena Nara tak pernah berdiskusi soal ini sebelumnya.
Dan hari ini kabarnya pengacara keluarga Nara tengah menyambangi rumah Kyuhyun di Seoul sana.
Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tentu saja kalian bisa menebak apa yang akan terjadi.
Keluarga Kyuhyun marah bukan kepalang. Bukan hanya marah pada pihak Nara yang datang, tapi juga pada putra mereka sendiri, Cho Kyuhyun.
Kenapa Kyuhyun sampai melakukan hal sebodoh ini ? Mungkin mereka memang hanya pernah tidur dan bercinta satu malam, tapi dampaknya ?
Bisa seumur hidup ! Bahkan bukan sekedar isapan jempol belaka jika hukuman berat tengah menanti mereka di akhirat sana. Dan ini memang harus dipertanggungjawabkan.
Walaupun kecewa, namun orang tua Kyuhyun cukup mengerti dengan apa yang dirasakan pihak keluarga Nara.
Dan mungkin, minggu depan mereka akan segera menikah.
.
“Kenapa kau tega lakukan ini padaku Nara ? Kau tahu, orang tuaku sangat sedih, mereka begitu kecewa padaku. Dan apa ini ? Kenapa harus menikah ? Kau bahkan tidak hamil, kenapa aku harus bertanggung jawab ??” suara Kyuhyun terdengar parau ditelepon malam itu.
Sebenarnya ia memang menangis. Kenapa Shin Nara bisa setega ini padanya ? Setelah dijauhi dan dicampakkan, kenapa sekarang pengacara keluarga datang dan menuntut Kyuhyun untuk bertanggung jawab.
“Maafkan aku, tapi Eomma mendengar pembicaraan kita malam itu. Makanya jadi seperti ini. Maafkan aku…” suara Nara lemah menjawab segala kekecewaan dan kekesalan Kyuhyun.
Hatinya juga sakit. Ia sendiri tak mau sampai seperti ini meskipun cintanya pada Kyuhyun sangat besar.
Ia sedih mendengar Kyuhyun kecewa karena akan menikah dengan dirinya. Kelihatan sekali bahwa Kyuhyun tidak senang, dan memang belum siap menikah dengannya.
Tapi Nara bisa apa ? Jika orangtuanya sudah angkat bicara dan ikut campur seperti ini, maka yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan menerima.
Nara hanya seorang anak. Dan ia tak punya daya untuk melawan.
°°~~~°°
Suara Nyonya Shin menggema diruang tamu rumahnya.
Nyonya Shin memang terkenal keras mendidik anak-anaknya, namun ia tak pernah semarah ini, Sebuas ini dan sekejam ini.
Ia bahkan sudah menampar Nara berkali-kali dihadapan ‘calon suaminya’ yang datang kerumah pagi-pagi begini.
Bagaimana Nyonya Shin tak marah, jika namja itu datang dan terang-terangan mengatakan kalau dirinya belum siap menikahi Nara.
Ia dengan berani dan percaya diri mengatakan hal itu pada Ibu wanita yang dinodainya.
Mungkin awalnya Kyuhyun memang terdengar sangat berani dan gagah akan bertanggung jawab, tapi begitu ia dihujani kalimat-kalimat kecewa dari orangtuanya semua mental itu menghilang.
Ia tak mau menikah seperti ini. Ia ingin menikah disaat yang tepat nanti.
“Apa kau bilang ?? Jadi karena putriku tidak hamil makanya kau tak akan menikahinya ? Lalu mau kau kemanakan tanggung jawabmu atas rasa nikmat yang sudah kau dapat saat mengambil kesucian putriku ? Kau tak akan bisa bayar dengan apapun !!” Teriak Nyonya Shin marah.
“Tapi memang tak ada alasan bagiku untuk menikahinya secepat ini. Beri aku waktu. Aku masih sangat muda dan belum mengerti hal ini. Aku mohon, aku akan ganti kerugian yang anda alami…”
BUGH !!!
Bantal sofa sukses mendarat diwajah Kyuhyun setelah mengatakan hal barusan. Dan Shin Nara yang duduk disampingnya sedang menangis sesenggukan.
Ternyata hanya sebatas inilah kesungguhan Kyuhyun padanya.
“Beraninya kau !! Kau fikir anakku apa ? Ganti rugi ? Keluarga kami punya banyak uang !! Jika saja kau bukan orang yang sudah mengambil kesucian anakku, aku tak pernah sudi mengangkatmu jadi calon menantu…!!”
Kyuhyun terdiam. Entahlah. Hatinya begitu buta untuk sekedar merasakan kepedihan Nara sekarang.
Ia tak mau menghancurkan hidupnya sendiri. Mengecewakan orang tuanya. Mengekang kebebasannya. Pasti sangat menyiksa.
Kyuhyun hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Kau Shin Nara !! Coba lihat baik-baik pria macam apa yang kau jadikan temanmu ? Aku benar-benar muak padamu ! Andai kau bukan putriku……”
Kata-kata Nyonya Shin terpotong oleh isakan tangisnya sendiri. Lalu ia berlalu pergi.
Rasanya benar-benar kacau dan frustasi. Pernikahan yang berawal seperti ini, bagaimana akhirnya nanti ?
Sungguh, Nyonya Shin tak ingin Nara menjadi seperti dirinya.
“Kau puas ? Setelah kau menyiksaku sekarang kau memaksaku menikahimu. Dan kau membuat banyak orang membenciku. Kau puas Shin Nara ??” ujar Kyuhyun disertai deraian air matanya lalu beranjak dari sana.
Nara bodoh. Memang ini semua adalah salahnya, kekonyolannya. Semua orang ribut dan marah gara-gara dirinya.
Dasar Shin Nara bodoh !!
°°°~~~°°°°
Waktunya menikah. Bukanlah pernikahan yang diharapkan karena memang minim sekali persiapan.
Hanya beberapa teman dekat yang diundang dan itu pun tidak membuat acara ini tampak ramai.
Hanya seperti perkumpulan kecil beberapa keluarga. Dan sisanya para tetangga usil yang menggunjing pernikahan mereka.
Nara sendiri langsung masuk ke kamar begitu acara selesai. Ia tak mau ditemui banyak orang atau berbicara dengan siapapun. Saat ini, ia hanya butuh Yoonhe, sahabat jauhnya yang tak bisa hadir ke pernikahan.
“Aku sudah menikah Yoonhe..”
“Benarkah ?” jawabnya tak percaya.
“Ya…”
“Lalu ?”
“Surat nikahnya ada ditanganku sekarang…”
“Oh yaa.. baguslah, kau… ehmm kenapa kau tidak bahagia dihari pernikahanmu ?”
“Entahlah. Aku sedih. Karena seperti ada sesuatu yang ganjil disini, bahkan Kyuhyun tak menatapku sejak tadi..”
“Jinjha ? Brengsek sekali namja itu. Kau tak boleh sedih, kau harus bahagia. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, walaupun berawal seperti ini harus berkakhir dengan bahagia kan ?”
“Bagaimana jika akhirnya tidak bahagia ?”
“Jika tidak berakhir bahagia, maka itu bukan akhir namanya,,,”
“Ohhh… Begitukah ?”
“Ya. Oh iya, kirimkan fotomu, aku ingin lihat kau dalam balutan gaun pengantin. Aku rindu kau…”
“Tidak. Aku sudah menghapus dandananku. Aku tak mau difoto dengan keadaan begini…”
“Ohh.. baiklah. Selamat untuk pernikahanmu, semoga kau bahagia…”
Doa Yonhee terdengar tulus diiringi dengan berakhirnya telepon itu.
Benarkah Nara akan bahagia ? Kenapa rasanya pesimis sekali ?
.
Malam pengantin Nara dan Kyuhyun berlalu tanpa hubungan intim seperti sebelumnya.
Mereka melakukan oral seks karena Nara sedang datang bulan.
Dan percaya atau tidak, Cho Kyuhyun kembali pada dirinya yang dulu. Yang manis dan penurut. Ia tak marah lagi dan mulai membicarakan masa depannya dengan Nara setelah menikah itu.
“Oppa tak mau kita punya anak dulu, bagaimana ? Oppa ingin kau selesaikan kuliahmu, lalu nanti kita bekerja bersama untuk membuka usaha…”
“Ne Oppa, aku setuju…”
Nara tersenyum lebar melihat Kyuhyun yang kembali lembut dan baik padanya. Dan bukan hal aneh lagi jika namja itu terus menyerangnya selama ia berada dirumah dan berduaan di kamar.
Mereka bisa melakukannya berkali-kali dalam semalam.
“Aahhhhhhh…. Oppaaaahhhh ssssshhhh….” Suara Nara mendesah kencang saat Kyuhyun melakukan kegiatan favoritnya itu untuk ronde pertama malam ini.
Kyuhyun menusuk-nusuk keras dan tegas liang vagina istrinya yang sudah bagaikan candu untuk kejantanannya itu.
“Aarrgghhhhh..,,” suara desahan Kyuhyun mulai mendominasi ketika ia mulai merasakan desakan dari dalam tubuhnya.
Nara sendiri merasa benda tumpul itu mulai bergerak serampangan dan menusuknya tak karuan, hingga lubang vaginanya berdenyut dan sebentar lagi akan merasakan pelepasan.
“Aaaassshhhhhhh Oppaaahh… diluaarrrhh saajaaa…” suara Nara terdengar serak dan seksi memberi perintah pada suaminya untuk melakukan pelepasan diluar rahim.
“Aaaaarrggghhh.. Sebentar lagihh….”
Dan…
“aaaaahhhhhhhhhhhhh…..”
Desahan panjang mereka mengakhiri pergumulannya hari ini. Dengan penis Kyuhyun yang sudah berada diatas perut Nara dan menyemprotkan spermanya disana.
“Aaahhh… ini tidak nikmmatt.. sangat tidak enaakk…..” rengek Kyuhyun manja.
“Jebal.. aku ingin sekali lagi, aku mohonn….”
“Tapi aku lelah Oppa….”
“Tapi ini tidak enak…”
“Baiklah…” jawab Nara pasrah dan kembali mengangkang untuk disodok Kyuhyun di ronde kedua.
°°°~~~°°°
Hari-hari yang Nara lalui sangat sibuk. Setelah menikah ia memilih bekerja di salah satu supermarket besar dengan modal ijazah SMA nya.
Nara sudah bertekad untuk tidak menyusahkan orang tuanya lagi. Sementara Kyuhyun hanya bekerja paruh waktu di salah satu pabrik di ujung kota seongnam.
Jarak yang lumayan jauh dari rumah Nara. Dan itu agaknya yang membuat Kyuhyun akhir-akhir ini sering marah dan galak padanya.
“Aku lelah jika setiap hari harus bekerja seperti ini, jaraknya kerumahmu sangat jauh !” bentaknya marah saat pulang kerja malam itu.
Gaji yang ia terima pun sangat kecil dibanding dulu ia bekerja di Seoul dan Ulsan. Namun Nara tidak mengijinkan Kyuhyun untuk pergi kesana lagi, takut Kyuhyun pergi mungkin.
Akhirnya malam itu mereka tidur dengan saling membelakangi. Dan hati Nara sakit bukan main karena itu. Ia lelah bekerja seharian dan pulangnya langsung memasak, namun suaminya malah bertingkah seperti ini.
Harus bagaimana aku ? gumam Nara dalam hati.
.
Pagi-pagi sekali Kyuhyun sudah bangun dan Nara tidak menyadarinya. Begitu Kyuhyun keluar dari kamar mandi, ia cepat berlari menyiapkan pakaian kerjanya dan langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan Kyuhyun.
Karena ini sudah sangat terlambat, maka Nara hanya membuatkan mie instan dengan telur rebus diatasnya. Ia sangat berharap Kyuhyun masih sempat makan.
Namun ketika Nara menuju kamar dengan nampan berisi makanan itu, Kyuhyun sudah akan berangkat kerja dan memakai sepatunya.
“Oppa.. sarapan dulu..” ujar Nara pelan.
“Tak perlu, aku sudah terlambat..” jawabnya singkat lalu bergegas pergi dengan sepeda motornya.
Nara hanya mematung didepan pintu. Menatap kepergian Kyuhyun dengan sejuta perih dihatinya. Matanya mulai buram dan berkaca-kaca.
Namun saat itu Haerin lewat ke hadapannya dan menatap Nara datar. Ia terlihat lebih membenci Nara dari sebelumnya. Kalau pada Kyuhyun, jangan ditanya lagi.
Bahkan sampai saat ini Kyuhyun dan Haerin tak pernah bertegur sapa.
Untuk apa memaksa orang yang ingin pergi untuk tinggal bersamamu ? Bukankah lebih baik dia pergi ? Seperti ini hanya membuat dirimu terluka dan dia tersiksa, gumam Haerin dalam hatinya.
“Aku tak ingin menjadi janda Haerin…” ujar Nara seolah bisa membaca pikiran adiknya.
“Tidak ada yang menyuruhmu bercerai Eonni, kau bisa mengambil pilihan lain..” jawabnya singkat lalu beranjak pergi.
Haerin masih kuliah, dan siangnya ia bekerja di sebuah Coffe shop sebagai waitress cantik. Tentu saja Haerin mengerti keadaan mereka sekarang, ia harus pandai-pandai mencari uang agar punya jajan lebih.
Ia tak boleh bergantung pada Ibu dan kakaknya terus.
.
Sudah dua minggu, Nara akhirnya membiarkan Kyuhyun tinggal ditempat yang ia inginkan. Dekat dengan tempat kerjanya.
Namun Nara harus menelan kepahitan lagi, karena nyatanya Kyuhyun kembali ke Seoul dan bekerja disana.
Bisa dibayangkan seberapa jauh Kyuhyun dengan Nara sekarang. Mereka bahkan tinggal di provinsi yang berbeda.
Nara tersenyum kecut. Semakin hari Kyuhyun semakin jauh dan membencinya.
Tak pernah lagi ada kata-kata mesra dan perhatian seperti dulu. Bahkan saat Nara mengirim pesanpun Kyuhyun hanya membalas dengan singkat dan ketus.
Apa Oppa sehat ? Oppa makan dengan baik ?
Ya.
Hanya jawaban seperti itu yang ia dapatkan. Sementara Nara sekarang sibuk bekerja. Memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan tak jarang Kyuhyun juga meminta uang padanya.
Nara begitu tertekan dan sedih. Ia pun jarang berbicara pada Ibunya sendiri, sedangkan Haerin ? Jangan ditanya lagi. Anak itu mungkin bisa membunuh Nara dan Kyuhyun sekarang jika ia mau.
Hanya Yonhe harapan Nara satu-satunya. Namun kelihatannya yeoja itupun sedang sibuk dan jarang bisa untuk dihubungi.
Pada siapa Nara harus mengadukan hal ini ?
Nara sangat sedih dan kesepian.
°°°~~°°°
Kyuhyun pulang dengan menekuk wajahnya. Ia benar-benar tidak suka harus kembali kerumah istrinya lagi.
Kembali pada gadis menyebalkan yang membuat hidupnya kacau seperti ini.
Kembali menjadi Kyuhyun yang banyak diatur dan dikekang oleh gadis ini.
Tapi ini sudah minggu ketiga ia tidak pulang. Banyak orang yang mengingatkan Kyuhyun untuk kembali kepada istrinya, setidaknya mengingatkan ia bahwa kini Kyuhyun tidak sendiri lagi.
Nara menyambut Kyuhyun dengan senang hati. Walaupun sepertinya Kyuhyun tidak senang sama sekali tapi Nara tetap berbaik budi kepada suaminya.
Ia tetap menjadi istri yang baik. Menyiapkan kebutuhan Kyuhyun selama dirumah dan mengurusinya. Bagi Nara hal kecil ini benar-benar sangat berharga. Mengingat kebersamaannya dengan Kyuhyun sangat sedikit.
“Oppa akan berapa lama dirumah ?” tanya Nara pada Kyuhyun yang asyik dengan tablet ditangannya.
“Euhmm.. Dua atau tiga hari..” jawabnya singkat sambil menatap terus layar monitor benda ditangannya itu.
Nara melengos kecewa. Kyuhyun benar-benar sudah berubah, dan kenyataan ini membuatnya semakin sakit.
Bahkan Kyuhyun tidak keliahatan tertarik untuk menyentuhnya. Padahal tujuan Nara menikah adalah membiarkan Kyuhyun sebebas-bebasnya bercinta dengan Nara.
.
Malam itu Nara dengan sengaja memakai lingerie mahal hadiah dari Ibunya saat menikah.
Pakaian kurang bahan yang belum pernah ia pakai sekalipun.
Tapi demi Kyuhyun, ia rela melakukannya. Ia akan memakai benda itu malam ini agar Kyuhyun tertatik padanya.
Perlahan Nara keluar dari kamar mandi dengan sejuta malu dalam hatinya. Ia bergerak perlahan membuka pintu kamar mandi kemudian berdiri mematung disana.
Menatap intens suaminya yang masih betah bermain ponsel. Lama menunggu, akhirnya Kyuhyun menatap Nara yang masih berdiri dengan pose menyandar ke sisi pintu, seolah menggoda suaminya.
Namun tanpa disangka, Kyuhyun malah tertawa, terbahak-bahak. Ia menunjuk Nara sambil memegangi perutnya.
“Yaaa Apa yang kau lakukan dengan pakaian itu ? Dan kenapa berdiri terus disitu ? Ayo kemari, kakimu tidak pegal ??” ujar Kyuhyun disela tawanya.
Dan itu hanya membuat Nara semakin malu. Perjuangan Nara yang mati-matian menahan gengsinya demi Kyuhyun malah dianggap lelucon yang lucu. Seolah tubuh Nara ini tak ada apa-apanya.
Namun ia senang, setidaknya Kyuhyun tertawa. Dan itu membuat suasana kamar mereka berwarna lagi..Karena sejak tadi Kyuhyun tampak murung dan lesu. Nara senang bisa membuatnya tertawa.
Nara mendekat dan duduk disamping Kyuhyun, kemudian namja itu menciumnya dengan lembut.
“Tak perlu seperti ini untuk merayuku memasukimu, aku juga rindu padamu…” bisik Kyuhyun ditelinga Nara setelah ciuman hangatnya tadi.
Nara sangat bahagia. Seakan ia hampir terbang dan melompat tinggi ke bulan.
Suaminya kembali. Ya,, suaminya kembali.
.
Walaupun sudah ada kesepakatan antara Kyuhyun dan Nara, agar Nara tidak hamil dulu. Namun nyatanya gadis itu sangat berharap untuk hamil.
Saat ini memang ia sudah menikah, tapi rasanya ia malah lebih kesepian dibanding seorang jomblo sekalipun.
Nara ingin punya anak, ia ingin ada teman selama Kyuhyun pergi meninggalkannya. Tentu saja hal ini tanpa sepengetahuan Kyuhyun. Jika namja itu tahu, habislah ia.
Malam nanti Kyuhyun pulang. Seperti janjinya kemarin. Kyuhyun akan pulang seminggu sekali dari seoul dan menginap dirumah.
Rasanya sangat menyiksa. Pengantin baru yang harus terpisah jauh seperti ini. Dan keinginan Nara untuk ikut ke Seoul sangat besar, walau ditantang Kyuhyun habis-habisan.
Aneh ya, seorang suami yang tidak mau didampingi istrinya. Bahkan ketika si istri rela tinggal dirumah kontrakan dan ikut bekerja mencari uang.
Tentu saja sebenarnya Kyuhyun tinggal bersama orang tuanya di seoul, kadang ditempat kakaknya. Namun ia enggan memberitahu Nara, karena nanti gadis itu akan semakin berhasrat membuntutinya.
Seperti biasa, saat pertama datang Kyuhyun akan sangat dingin dan muram. Ini hal yang biasa bagi Nara.
Karena menjelang malam Kyuhyun akan sangat baik lalu menidurinya. Dan setelah itu ia akan cari gara-gara lagi untuk berkelahi dengan Nara, tidak, lebih tepatnya hanya mencari-cari kesalahan Nara.
Entah apa sebabnya, Kyuhyun bersikap seperti ini. Dia akan sangat mudah naik turun menjadi orang yang berbeda. Seperti sebuah kesalahan jika ia telah selesai melakukan hubungan intim dengan Nara, karena setelahnya ia akan marah dan melampiaskan kemarahan itu pada apa saja yang dilakukan Nara untuknya.
Kadang Nara takut jika Kyuhyun berubah menjadi baik lalu mendekatinya, karena itu berarti sebentar lagi mereka akan bertengkar.
Malam ini Kyuhyun tidak berkata apa-apa dan langsung tidur memunggunginya. Nara lega, itu artinya mereka tidak akan bertengkar lagi.
Tapi disisi lain ia rindu sentuhan Kyuhyun pada tubuhnya, ia rindu saat Kyuhyun bersikap lembut dan merayunya lalu memasuki tubuh Nara.
Apadaya lah, sudah nasib Nara seperti ini. Punya suami yang arogan dan kekanakan. Nara tahu Kyuhyun hanya belum bisa menerima takdir soal pernikahan mereka yang mendadak.
°°°~~°°°
“Aku pinjam uang Shin Nara…” ujar Kyuhyun pagi itu sebelum akan berangkat ke Seoul lagi.
Padahal gaji Nara tidak seberapa. Dan lagi, Kyuhyun juga seorang pegawai. Lalu kemana semua gajinya ?
Bahkan selama menikah, Kyuhyun belum pernah memberikan Nara sepeserpun uang untuk biaya makan. Dan uang dari hasil keringat Nara tak jarang lagi ia ikut makan.
Entah untuk rokoklah, biaya transportlah, dan semacamnya. Hingga bulan kemarin Nara kehabisan uang dan harus ikut menumpang makan pada Ibunya.
“Oppa.. tapi ini tidak akan cukup sampai akhir bulan..” ujar Nara memberitahu.
Ia tak ingin seperti bulan kemarin yang sampai harus meminta makan pada Ibunya. Walau tinggal serumah, Nara adalah anak yang mandiri. Ia selalu memberi Ibunya uang belanja setelah gajian, hitung-hitung bayar sewa kamar dan listrik.
Karena Nara tahu Ibunya juga tak kalah sulit dengan dirinya. Meskipun sekarang usaha laundry tidak jalan lagi, tapi Nyonya Shin bekerja di butik salah satu sahabatnya sebagai penjahit. Nyonya Shin pandai menjahit. Dan gaji disana tidak seberapa.
Hanya cukup untuk makan dan uang jajan Haerin ke kampus setiap hari.
“Kau tidak mau berbakti pada suamimu Shin Nara ? Sudahlah, lupakan. Aku bisa pergi tanpa uangmu itu..” jawab Kyuhyun marah.
Dan kalau sudah begini Nara hanya bisa diam, menangis dikamarnya.
Ya Tuhan, apa di masa lalu aku ini seorang penyihir ? Penjahat ? Pembunuh ?
Kenapa Kau begitu tega menghukumku seperti ini ? Memberikan seorang suami yang luar biasa brengsek dan bukan main bajingannya. Aku salah apa ??
Gumam Nara dalam isakan tangisnya.
°°°~~°°°
Seminggu kemudian Kyuhyun datang lagi. Pulang kerumah istrinya.
Kali ini wajahnya seribu kali lebih suram dan ia menekuk wajahnya itu dalam-dalam.
Bukan hal aneh lagi jika keadaan Kyuhyun pulang seperti itu, namun kali ini sepertinya ia sedang dirundung duka dan masalah.
Meskipun pada kenyataannya Kyuhyun tak pernah mau disapa ataupun diganggu saat ia baru saja sampai, namun kali ini Nara memberanikan diri untuk mengusiknya. Bertanya sesuatu pada suaminya.
“Oppa, wae ?? Ada masalah apa ??” tanya Nara dengan hati-hati.
Ia sendiri takut sambil memicingkan sebelah matanya menunggu jawaban Kyuhyun, takut-takut namja itu malah akan menyemprotnya dan membentaknya habis-habisan seperti yang sering ia lakukan.
“Aku dipecat…” jawabnya lemah.
Nara tertegun melihatnya. Ia pikir respon Kyuhyun akan seperti perkiraannya. Namun nyatanya namja itu malah semakin diam dan lesu setelah ditanya, seolah ia memang butuh dukungan dan kawan bicara.
“Benarkah ?? Wae ? Apa kau melakukan kesalahan ?”
“Aniyo.. memang sedang ada pemangkasan tenaga kerja dikantor sana. Dan posisiku cukup buruk untuk dipertahankan. Jadi aku diberhentikan…” jawabnya lagi.
“Ahh… Gwenchana.. Oppa akan dapat pekerjaan baru sebentar lagi. Jangan khawatir..”
“Tapi bagaimana dengan hidup kita selama aku belum dapat pekerjaan lagi ? Dari mana biaya hidup kita ??” erangnya frustasi.
Seolah memang itu adalah masalah yang paling besar dan berat yang akan ia alami.
Dan seharusnya kata “kita” itu diganti menjadi “aku” karena sampai detik ini Cho Kyuhyun sialan itu belum pernah sekalipun memberikan nafkah lahir yang sudah jadi kewajibannya sejak menikah.
Kata-kata Kyuhyun barusan tentu saja bagaikan sebuah candaan bagi Nara. Kau bekerja atau tidakpun toh tetap seperti ini hidup kita. Aku harus bekerja membanting tulang setiap hari karena tak pernah ada uang belanja. Ujar Nara lirih dalam hatinya.
“Sudahlah, tak apa Oppa. Aku masih bekerja kan ? Tak perlu khawatir…”
.
Hari-hari berikutnya, bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Bukan rahasia lagi jika sikap Kyuhyun semakin brengsek setelah ia berhenti bekerja.
Kerjaannya hanya meminta uang pada Nara dan marah-marah.
Hingga Haerin tak sanggup lagi menutup telinga mendengar pertengkaran Kyuhyun dengan Kakaknya.
Selama ini ia banyak diam dan pura-pura tidak tahu. Dan Nyonya Shin sedang bekerja saat putrinya ini tengah bertengkar dengan suaminya.
Haerin sangat marah saat kakaknya dibentak dan dimarahi oleh suaminya. Ini bukan yang pertama kali baginya mendengar hal seperti itu. Hatinya sakit melihat sang kakak terjebak dalam situasi seperti ini dan hidup menderita.
“Hentikan ocehanmu itu Cho Kyuhyun !! Kau benar-benar tidak sopan pada Kakakku ! Kau harusnya malu, kau ini siapa ? Kau hidup dan menumpang disini sebagai parasit, lalu kau perlakukan kakakku seperti ini !! Bajingan kau !!” teriak Haerin saat Kyuhyun tengah memarahi Nara entah karena apa.
Kupingnya sudah gerah mendengar Kyuhyun berbicara ketus dan sinis pada kakaknya. Ia tak mau tahu apa masalah mereka yang pasti, saat ini ia hanya mengatakan unek-unek dalam hatinya.
“Kau dengar ? Kau dengarkan Shin Nara ? Adikmu sendiri bertingkah sangat tidak sopan. Bahkan dia terang-terangan mengusirku dari rumah ini. Geure.. Aku dengan senang hati meninggalkan tempat ini. Dan akan kupastikan segera kapan waktunya kita benar-benar berpisah …!” jawab Kyuhyun marah, melampiaskan kekesalannya pada sang istri.
Ini hanya masalah uang. Kyuhyun marah karena uang. Uang yang ia minta dan Nara tidak memberikannya. Karena memang mereka tidak punya apa-apa lagi sampai waktunya Nara gajian nanti.
“Sialan kau !! Bicara padaku !! Jangan terus-terusan salahkan kakakku !! Namja bodoh, idiot kau Cho Kyuhyun !!” teriak Haerin lagi semakin marah.
Matanya sudah berkaca-kaca. Ia begitu lelah, menahan semua kesedihannya selama ini sendirian. Ditambah lagi dengan penderitaan sang Kakak yang ia saksikan setiap hari didepan matanya.
Haerin yang kuat dan tegar menangis melihat Nara diperlakukan kasar oleh suaminya. Tentu saja Nara terenyuh melihatnya, adiknya itu jarang sekali menangis. Apalagi untuk hal macam begini yang bahkan bukanlah urusannya.
“Bagus. Simpan semua kata-katamu nanti karena kita akan segera bertemu di pengadilan !” ujar Kyuhyun lalu beranjak pergi. Meninggalkan sepasang adik kakak yang kini tengah sama-sama menangis karena ulahnya.
Nara berlari mendekat dan memeluk Haerin. Rasanya tubuh Haerin hangat sehangat hatinya sekarang, dan itu membuat Nara lebih baik. Walaupun ia bermaksud menenangkan adiknya, tapi malah ia sendiri yang tenang saat memeluk gadis itu.
Haerin menangis. Pertahanannya selama ini roboh begitu saja. Hatinya benar-benar hancur karena ulah Kyuhyun yang sama bajingan dengan Ayah kandungnya.
“Gwenchana.. jangan menangis lagi…” ujar Nara sambil memeluk Haerin dalam dekapannya. Membiarkan Haerin tenggelam dalam dadanya dan menangis disana.
“Aku…. Aku… tak bermaksud membuat dia menceraikan Eonni…. Aku… membencimu….hikssss…. Kenapa kau harus menderita.. ? Waee ?? Aku tak sanggup lagi…” isaknya dalam dekapan Nara.
Nara juga sama. Hatinya sakit. Haerin hanya membelanya namun Kyuhyun menanggapi itu secara berlebihan. Bahkan sangat keterlaluan.
“Eonni… Aku sangat ingin kau berpisah dengannya… Tapi… Aku ingat kata-kata Eomma.. Kau jangan seperti Eomma… Jangan menjadi jandaa….” lanjut Haerin lagi dan hanya dibalas anggukan oleh Nara.
Nara mengerti perasaan adiknya, karena sesungguhnya ia juga merasakan hal yang sama.
Seandainya tidak ada orang itu, orang yang memberi Nara semangat. Orang yang membuat ia berkali-kali berpikir untuk tidak bercerai, orang yang dengan terang-terangan mengatakan jika ia mencintai Nara, pasti pernikahan ini sudah berakhir sejak lama.
Jika bukan karena dia, karena Ibu Nara, dan karena Haerin yang tersedu-sedu dihadapannya sekarang,.Nara pasti sudah pergi ke pengadilan negara.
°°°~~~°°°
Dan memang Tuhan tengah menguji kesabaran Shin Nara. Tuhan tengah memberikan hukuman atas kelalaian Nara di masa lalunya.
Karena beberapa hari setelah Kyuhyun pergi meninggalkan rumah, dirinya pun dipecat dari tempat bekerja.
Nara sering kelihatan sakit dan lesu. Ia tak semangat pergi bekerja dan semua pekerjaannya berantakan. Sehingga mengacaukan jadwal pekerjaan dikantornya.
Maka Nara dipecat. Nara dipecat dengan uang pesangon yang amat sedikit di amplopnya. Dalam hati ia menangis, sekaligus menjerit.
Kenapa semua ini terjadi begitu cepat ?
Kenapa ?
Dan jangan bilang kalau setelah ini Nara sedang hamil walaupun ia sangat menginginkannya.
.
“Mwo ??!! Kau dipecat juga ??! Waee ?? Kau mengacaukan semuanya !! Lalu bagaimana kita sekarang ??!” ocehan Kyuhyun terdengar sangat frontal karena kegusarannya pada berita yang Nara sampaikan.
“Mianhae Oppa… Aku sering membolos, karena aku sakit dan lelah. Jadi mereka memecatku, mungkin aku hamil Oppa..” jawab Nara dengan air mata dipipinya.
“Mwo ??!!! Hamil ??? Bagaimana bisa ? Andwe, kau tak boleh hamil disaat seperti ini, Cepat cari pekerjaan baru. Kau harus penuhi kebutuhan hidupmu sendiri !!” jawab Kyuhyun marah.
Sungguh Nara tak pernah menyangka jika Kyuhyun akan setega itu padanya. Hatinya sangat perih dan sakit. Ia menutup telepon Kyuhyun tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Baginya hanya air mata yang mampu menjelaskan semua ini pada suaminya. Walaupun pada kenyataannya namja itu tak kunjung mengerti juga.
Haerin kembali menyaksikan pemandangan itu dari balik pintu kamar kakaknya yang tidak tertutup rapat. Matanya sudah basah, hatinya bagai ditohok besi panas. Karena samar-samar, ia mendengar apa yang baru saja Kyuhyun katakan.
.
Sudah dua minggu, dan Kyuhyun serius dengan ucapannya. Ia berkali-kali menghubungi Nara terkait perceraian mereka.
Namun Nara belum siap mental dan mengacuhkan semua panggilan dan telepon suaminya itu.
Ia teringat kata-kata Henry beberapa waktu lalu, namja yang pernah ia ungkit sebelumnya, yang membuat ia bertahan sampai sekarang dengan pernikahannya.
“Pernikahan itu ikatan suci yang patut dipertahankan. Mungkin seperti katamu, Kyuhyun masih terkejut dan belum menerima sepenuhnya status kalian. Tapi, dia juga seorang manusia. Suatu hari mungkin malaikat akan datang dan memberikan wahyu kepadanya “Hai Cho Kyuhyun, berhentilah bermain-main dan jadilah seorang suami yang baik” …. Mungkin dia akan berubah. Karena tidak semua kisah cinta dan pernikahan itu diawali dengan indah. Tapi harus berakhir bahagia, apalagi kalau nanti kalian punya seorang anak…”
“Anak ??”
“Ya, seorang anak adalah mukjizat dalam pernikahan..”
Nara mulai berpikir jika hamil memang jalan terbaik sekarang. Tapi bukannya hamil seperti yang ia harapkan, Nara malah datang bulan.
Habis sudah. Berakhir sudah harapannya untuk bersama Kyuhyun sekarang.
Yang tersisa hanya kenyataan pahit tentang perceraian didepan mata. Perceraian yang selalu Kyuhyun harapkan.
.
“Apa ? Jadi si brengsek itu sekarang meninggalkanmu ?” tanya Yonhe ditelepon malam itu.
“Ya. Dan ini sudah minggu kedua. Kami akan bercerai,,,” ujar Nara pasrah.
“Sialan namja brengsek itu. Harus ku apakan dia yah ? Aaarhhgggg maafkan aku Nara-ya, tapi entah kenapa aku sudah membencinya sejak awal…” jawab Yonhe menggebu-gebu.
Mungkin saat ini berbicara dengan Yonhe adalah pilihan yang buruk. Karena gadis itu tidak memperbaiki suasana hatinya.
Sebenarnya Nara tahu satu orang yang bisa membantunya keluar dari masalah ini. Tapi, apakah ia memang harus menghubungi orang itu ?
°°°~~°°°
“Oppa aku punya kabar baik..” ujar Nara saat menelepon Kyuhyun hari itu.
“Wae ?”
“Appa bilang ia akan membantu kita. Appa akan berikan kita modal untuk buka usaha sendiri, 100juta won..” ujar Nara kegirangan.
“Mwo ?? Se..seratus juta?”
“Ne.. Tapi untuk itu Oppa harus kembali kerumah, apa Oppa bersedia ?” bujuk Nara pada suaminya.
“Eoh. Akan aku pikirkan..” jawab Kyuhyun.
Nara tahu ada nada senang dari perkataan Kyuhyun barusan, dan ia berharap agar namja itu mau kembali lagi.
Sesaat yang lalu memang Nara menghubungi Ayahnya, meminta bantuan untuk masalah keuangan rumah tangganya ini.
Dan bagi Ayah Nara yang memang kaya raya, uang sebesar itu bukanlah hal yang sulit, dengan syarat…
“Kau harus mempertahankan pernikahanmu selama satu tahun untuk mendapatkan uang itu. Setidaknya Appa percaya seperti apa itu Cho Kyuhyun dimatamu setelah kalian tinggal bersama…”
“Ne Appa, baiklah. Kamsahamnidaa….”
“Ne. Dan ingat satu hal, kau harus kuliah lagi, mengerti ??”
“Ne Appa…”
Percakapan itu adalah hal paling membahagiakan dalam hidup Nara belakangan ini.
Ia lega. Ia lega dan yakin jika Kyuhyun akan terbujuk dengan hal ini. Walaupun tadi Ayah Nara bilang mereka harus menunggu satu tahun, namun Nara tak khawatir.
Pernikahannya dengan Kyuhyun berjalan hampir 7 bulan. Memang masih ada waktu 5 bulan lagi. Tapi setidaknya ia punya harapan untuk membuat Kyuhyun kembali kesisinya. Dan berharap mendapat keajaiban.
Mendapat seorang anak yang akan jadi mukjizat dalam rumah tangganya yang berantakan.
.
Sementara di Seoul, Kyuhyun baru saja akan berkemas meninggalkan rumah orang tuanya.
Setelah sebelumnya membicarakan soal uang tadi pada mereka. Dan ternyata semua orang setuju agar Kyuhyun kembali kerumah Nara.
Hidup lagi bersama istrinya dan menjadi seorang pengusaha.
Padahal sebelumnya, mereka juga yang membuat Kyuhyun mendaftarkan perceraian ke pengadilan.
Benar-benar keluarga ini, hanya uang yang ada dalam otaknya.
°°~~°°°
One Month Later
Nara berjalan kearah gedung yang baginya adalah gedung paling mengerikan yang pernah ia datangi.
Sidang itu, sidang cerai itu akhirnya dilaksanakan juga. Setelah berusaha lebih dari setengah tahun, akhirnya hal ini juga yang akan menjadi pencarian terakhir kisah cinta semu miliknya dan Cho Kyuhyun.
Sebulan lalu, saat Kyuhyun kembali kerumahnya karena iming-iming uang itu, bukan membuat Kyuhyun baik kepadanya.
Namja itu malah semakin buas dan menyeramkan. Ia bertingkah seperti penagih hutang yang kejam pada istrinya sendiri.
Dan hal ini tentu saja membuat Nara ketakutan. Kyuhyun hampir setiap hari menanyakan uang yang dijanjikan Ayah Nara waktu itu.
Dan lama-kelamaan sikapnya sungguh keterlaluan sampai Nara muak sendiri melihatnya.
Nara dipaksa menelepon sang Ayah sesering mungkin sampai ia sangat malu, lebih buruk dari seorang pengemis. Dan bahkan Kyuhyun sendiri pernah berbicara langsung pada Ayah Nara terkait uang itu.
Tanpa ada lagi rasa tahu malu dan meninggalkan sopan santunnya.
“Bagaiamana ? Apakah Tuan jadi memberikan kami uang seratus juta itu ? Kapan ?” tanyanya tanpa basa basi pada Ayah Nara.
“Sabar Nak, semua ada waktunya. Kalau sudah tiba waktunya nanti, uang itu akan ku berikan…” jawab Ayah Nara bijak.
“Iya tapi kapan. ..?!” suara Kyuhyun meninggi dan ponsel itupun segera dirampas oleh Nara.
“Appa, maafkan aku…” ujarnya terbata.
“Kau tidak salah Nak. Suamimu, anak itu, Ya Tuhan.. Bagaimana kau bisa hidup dengan orang seperti itu ? Dia tidak punya sopan santun…”
“Ne Appa, maafkan kami..Aku baik-baik saja…”
Setelah telepon itu Nara dan Kyuhyun semakin bersitegang.
Niat Nara yang awalnya ingin membantu malah jadi bumerang baginya sendiri.
Ia seperti dikejar oleh penagih utang yang lebih agresif dari kolektor manapun, ia dicerca dan disindir habis-habisan oleh suaminya sendiri karena uang itu.
Sungguh, Nara sangat sesak dan malu. Rasanya bernafas pun sangat sulit ditengah situasi seperti ini.
Mungkin kesabaran Nara memang tengah benar-benar diuji. Dan keputusan untuk bertahan sangat harus dipertimbangkan.
Nara memeras otaknya dengan keras. Menimbang segalanya dengan semua kemungkinan. Dan rasanya sakit hatinya meledak kala Kyuhyun mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan untuknya.
“Dasar keluarga penipu. Tukang bohong. Bukan anak dan Ibunya saja, bahkan Ayahnya lebih mahir jadi tukang tipu. Berlagak sok kaya dan berkuasa, nyatanya hanya omong besar saja. Hah, sialan kalian semua !!”
Kira-kira seperti itulah kata-kata Kyuhyun untuk melampiaskan kekesalannya pada Nara. Ia marah karena uang yang sangat ia harapkan belum juga didapatnya.
Nara begitu terluka. Rasanya ini sudah cukup, cinta yang membuatnya buta harus ia akhiri segera. Kyuhyun sudah lebih dari keterlaluan. Dan lagi, tak akan ada jaminan jika Kyuhyun akan berubah setelah mendapat uang itu.
Anak ?
Benarkah orang seperti itu akan luluh setelah punya anak ? Rasanya mustahil. Bahkan malaikat sekalipun akan terlempar jauh saat mendekati tubuh namja yang penuh dengan nista itu.
Nara tersenyum miring dalam lamunannya. Ia lebih dari gadis bodoh, ia adalah seorang idiot !! Bahkan orang idiot sekalipun melawan jika terus disakiti, lalu Nara orang seperti apa ?
Autis ? Idiot seratus kuadrat ?
Entahlah. Yang jelas ia sendiri yang akan mengakhirinya.
Aku ingin kita berpisah saja Oppa..
Ujar Nara malam itu dan segera membantu Kyuhyun mengemas semua pakaian Kyuhyun yang tertinggal.
Cukup. Ini sudah cukup.
Raut terkejut dan menyesal nampak dari wajah tampan Kyuhyun malam itu. Tentu saja ia tahu jika Shin Nara bukan orang yang bermain-main dengan kata itu.
Dan sesungguhnya ia begitu menyesal karena perkataannya barusan. Kyuhyun masih sangat mengharapkan uang itu.
Ia berkata seperti itu agar Nara membujuk Ayahnya untuk segera mengirimkan uang itu, namun kenyataannya sangat berbeda. Gadis itu marah besar dan kini tengah mengusirnya dari rumah.
“Geure.. Aku juga sudah lama menginginkan hal itu.. Dasar keluarga penipu dan kalian…..”
“Aku sudah tahu soal itu. Kalau ada hal lain yang ingin kau katakan, kita bicara di pengadilan…” potong Nara, cepat dan tegas. Tanpa air mata.
Air mata itu sudah habis dikuras Kyuhyun beberapa bulan belakangan ini. Dan dengan cepat Nara mengantar kepergian Kyuhyun sampai kedepan pintu rumah, untuk terakhir kali, sebagai seorang istri.
.
Dan begitulah kenyataan. Saat ini Nara sedang duduk di kursi pesakitan. Di sidang perceraiannya sendiri. Tanpa Kyuhyun hadir disana.
Sungguh miris, di usia yang masih begini muda Nara harus menjanda. Ia mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar.
Toh berpisah dengan Kyuhyun sudah biasa baginya, namun tetap saja mendengar hakim memutuskan hal itu dengan lugas agaknya membuat Nara merinding juga. Air mata menetes di sela matanya yang lelah.
Entah itu air mata apa. Entah sedih ataupun lega.
.
Nara terisak diberanda kamarnya. Kenyataan pahit yang harus ia terima. Ia sudah resmi menjanda, dan kini memang ia hanya tinggal menunggu surat janda turun ke tangan.
Rasanya benar-benar menyedihkan. Rasa haus akan kehormatan dan harga diri dimasa depan yang ia perjuangkan berakhir seperti ini.
Bahkan lebih mengerikan dari yang sebelumnya.
“Tidak semua pilihan untuk berpisah itu buruk Nak…” ujar Nyonya Shin disamping putrinya.
Ia tahu ini sangat berat bagi Nara. Ia tahu Nara mempertahankan rumah tangganya mati-matian. Dengan berbagai alasan Kyuhyun yang menyakitinya tapi Nara tak pernah gentar.
Dan untuk yang satu ini, entah apa yang membuat Nara berani mengambil langkah seperti ini.
“Maafkan aku Eomma.. Aku tak bisa menepati janjiku dulu…”
“Janji yang mana ?”
“Untuk tidak jadi seorang janda..”
“Bagiku Eonni lebih baik menjadi janda dari pada bersama bajingan sialan itu…” imbuh Haerin tiba-tiba.
“Wae ? Kau senang melihat Eonni mu menjadi janda ?”
“Tidak senang. Tapi aku puas karena pada akhirnya Eonni menggugat namja itu ketika ia tengah berharap besar padamu….”
“Berharap apa ?”
“Uang itu..”
“Uang?”
“Ya. Aku tahu soal itu, dan sangat kentara sekali jika Cho Kyuhyun masih menginginkan uang itu…”
“Hahahhaa anak pintar…” jawab Nara sambil tertawa.
“Ingatlah, menjadi janda jangan membuatmu rendah diri. Kau harus lebih baik dan menjaga dirimu. Terserah orang mau berkata apa, hanya kau sendiri yang tahu siapa dirimu sebenarnya. Mungkin dia bukan jodohmu yang sebenarnya, mungkin kau bukan tulang rusuknya yang hilang itu….” ujar Nyonya Shin sambil mengelus kepala putri cantiknya.
Sudah lama sekali, ia tidak sedekat ini dengan putrinya. Sejak menikah Nara memang menjaga dirinya dan melindungi privasi pernikahan mereka.
Sehingga Nyonya Shin jarang sekali masuk ke kamar Nara, ia hanya memperhatikan putrinya dari jauh. Walaupun Nara tak pernah bicara apa-apa, ia tahu putrinya tidak bahagia. Dan percayalah, seorang Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya.
.
“Kau membuat Appa kecewa Shin Nara…”
“Maafkan aku Appa….”
“Kuatkan dirimu, setidaknya kau punya status jika seorang pria di masa depan menanyakan mahkotamu yang hilang itu…”
“Ne Appa….”
Kata-kata Ayahnya bagai oase ditengah kekeringan. Nara tahu, mungkin ia memang bukanlah tulang rusuk Kyuhyun yang hilang.
Mungkin memang jodohnya bukan Kyuhyun. Namja itu hanya numpang lewat saja, mungkin.
Toh jadi janda lebih lega, ia bisa jujur pada suaminya kelak jika dirinya memang bukan lagi perawan ting ting.
Nara mulai menata hidupnya kembali, ia ikut kursus menjahit dan bekerja dengan Ibunya.
Bahkan Nyonya Shin sudah akan buka butik sendiri sekarang. Dan uang modal untuk Kyuhyun waktu itu sepenuhnya jatuh ke tangan Nara.
Nara bisa memulai hidupnya lagi. Mungkin ia akan kuliah lagi. Dan tentu saja membantu ibunya membuka usaha.
Sepertinya membeli mesin jahit baru dan bahan-bahan pakaian adalah hal paling menyenangkan sekarang.
Beruntungnya Nara saat ini Yonhe tidak lagi sesibuk dulu, bahkan gadis itu menemaninya lewat chat room setiap hari.
Kadang ia dengan percaya diri menyanyikan lagu untuk Nara yang sedang sedih, dengan suara cemprengnya yang memekakkan dan membuat Nara sakit kepala.
Tapi itu lumayan menghibur. Bercerita pada Yonhe tentang apa saja tak pernah ada batas. Walaupun saat ini yeoja itu jauh di Osaka sana.
Hari ini saja dia sudah bernyanyi puluhan kali lewat voice massage dengan maksud menghibur Nara yang berduka lara.
Karena barusan tadi Nara melihat Kyuhyun lewat dengan seorang gadis memeluknya mesra disepeda motornya.
Nara merasa sangat bodoh. Kenapa masih saja memikirkan namja itu ? Dasar brengsek. Bahkan ini belum sebulan sejak perceraian mereka.
Nara pikir Kyuhyun sudah kembali ke Seoul, ternyata ia masih di kota ini.
°°°°~~~~°°°°°
Nara kembali berpuas diri dan memotret hasil jahitannya lalu mengirimkan gambar itu pada Yonhe, sahabatnya.
Mereka selalu seperti itu. Berbagi kebahagiaan. Walau hal-hal sepele macam begini, entah kenapa Yonhe selalu bisa membuatnya tertawa bahagia. Membuat ia merasa lebih dihargai dalam melakukan sesuatu, menambah semangatnya menjadi menggebu-gebu.
Walau ada saatnya dimana gadis itu tak cocok diajak bicara dan malah membuat Nara semakin pusin, tapi over all Yonhe adalah sahabat terbaik yang ia miliki.
“Berdandanlah yang cantik, siapa tahu Siwon melirikmu kali ini..” candanya waktu itu.
Ahhh Siwon. Mimpi saja. Dulu saat Nara masih percaya diri saja ia tak melirik Nara sedikitpun. Apalagi sekarang ? Ia tidak punya muka berhadapan dengan namja anti bakteri itu.
Biarlah Siwon menjadi salah satu kisah cintanya yang indah, dibanding kisahnya dengan Kyuhyun yang baru saja berakhir.
Dan Henry ? Kemana namja itu ? Dia adalah pembangkit semangat Nara. Seperti orang ketiga yang membuat Nara kuat menjalani biduk rumah tangganya yang suram.
Nara tahu Henry menyukainya, perempuan selalu tahu jika seseorang punya perasaan lebih terhadapnya. Entah itu dilihat dari cara menatap ataupun bicara yang sangat pengertian.
Tapi Henry menghilang. Setelah Nara bercerai ia pergi entah kemana. Padahal Nara belum mengucapkan terima kasih padanya.
Aahh… Henry, semoga kau mendengar ini, semoga angin membawa suaraku ke telingamu. Terima kasih Henry, aku menyayangimu….
“Hai apa kabar ? Apa kau sehat ? Bagaimana ? Apa kau sudah bekerja kembali ? Oppa sekarang sudah membuka usaha sendiri. Cita-cita Oppa sejak lama, dan cita-citamu juga kan ? Rasanya menjadi pengusaha sangat mulia karena bisa memberikan lapangan kerja pada orang lain. Bukankah begitu pendapatmu dulu ? Oppa harap kau jadi orang yang hebat, kau gadis cerdas dan baik hati. Oppa percaya kau akan berhasil..”
Nara memandang lagi isi pesan itu lekat-lekat. Ini sudah dua bulan, dan ia menjanda selama itu.
Nara tersenyum kecut melihat pesan yang tertera diponselnya itu. Bahkan tak ada kata-kata maaf dari namja itu.
Dan ia mengirim pesan dengan gaya yang santai. Bagaimana bisa ? Bagaimana caranya ? Nara juga ingin seperti itu.
Ingin sekali bersikap biasa saja seperti itu. Tapi ia tidak bisa. Kenyataannya ia masih menangis tiap kali melihat pesan itu berkali-kali.
Walaupun Yonhe sudah bilang Nara tak perlu menanggapi pesan tak bermoral dari namja itu lagi, tapi entah kenapa Nara malah merasa salah jika ia menghindarinya.
Ia takut Kyuhyun berpikir jika ia masih menyukainya. Yonhe meminta Nara agar mempercayai dan menjadi diri sendiri dalam menghadapinya. Menjadi diri Nara yang kuat seperti biasanya.
Namun kenyataannya menjadi diri sendiri adalah menjadi Nara yang lemah dan hanya bisa menangis.
Ia rindu Kyuhyun dan ingin namja itu ada disampingnya. Tapi kenyataannya jika Nara bertemu Kyuhyun ia hanya merasa sakit dan benci. Semua lukanya seakan terkuak kembali.
Akhirnya Nara memutuskan untuk membalas pesan itu. Meskipun Yonhe marah besar atas keputusannya.
Pesan itu untuk mengirim pesan, bukan untuk memberi tahu perasaan Nara. Baginya, selama Kyuhyun tidak muncul didepan matanya, Nara sanggup bertahan.
Ada wktu dimana Nara harus berani menyakiti diri sendiri untuk menjadi lebih baik, mungkin ini wktunya Nara untuk belajar dari Kyuhyun agar bisa melupakan tanpa harus menghindar dan membenci.
Dunia memang luas tapi takdir akan selalu ada.
Pasti ada saat dimana takdir menentukn Nara bertemu kembali dengan Kyuhyun, tapi bukan untuk kembali melainkan belajar untuk melupakan masalalu.
Sulit sekali, itu yg bisa aku katakan, tapi seperti yg Yonhe katakan sebelumnya Nara yg lemah itu bukan Nara yang ia kenal.
Suatu saat nanti perjalanan menuju sesuatu yg lebih berharga dari seblumnya akan datang, dan entah kenapa Nara yakin dirinya bisa walaupun ia tak yakin untuk tidak menangis menghadapi rintangan itu.
Nara berharap agar Yonhe bisa benar-benar mengerti perasaan Nara,.. semuanya akan ia awali dari hal terkecil sekarang, seperti menjahit misalnya.
Dan mungkin Nara akan berusaha bertman dengan Kyuhyun kembali.
Jodoh ditangan Tuhan bukan ? Pernikahan singkatnya adalah sebuah pelajaran, semoga kalian dapat ambil suatu hikmah dari cerita ini.
Tidak, belum. Ini belum berakhir. Akhir adalah kebahagiaan, tapi jika belum berbahagia itu artinya bukan akhir. Jalani saja lagi…
END
Nara berharap agar Yonhe bisa benar-benar mengerti perasaan Nara,.. semuanya akan ia awali dari hal terkecil sekarang, seperti menjahit misalnya.
Dan mungkin Nara akan berusaha bertman dengan Kyuhyun kembali.
Jodoh ditangan Tuhan bukan ? Pernikahan singkatnya adalah sebuah pelajaran, semoga kalian dapat ambil suatu hikmah dari cerita ini.
Tidak, belum. Ini belum berakhir. Akhir adalah kebahagiaan, tapi jika belum berbahagia itu artinya bukan akhir. Jalani saja lagi…
END

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: