SSST!! WE’RE MARRIED CHAP 1

1
we're married shinee
Tittle          : We’re Married (Chapter 1)
Author       : @mskim22
Length       : Chaptered
Genre        : Marriage life, School life, Comedy (a little)
Rating        : PG-15
Main cast :
–          Kim Jongin (EXO)
–          Kim (Jung) Jinni (OC/You)
–         Jung Hoseok (BTS)
Additional Cast:
–         Kim Jonghyun (SHINee)
–         Kim Kibum (SHINee)
–         Song Eunra (OC)
Disclaimer: cerita ini murni bikinanku sendiri, cast diambil dari beberapa tokoh yang udah di sesuaikan 😉 harap jangan copas, karena bikin cerita itu butuh banyak jeri payah untuk merangkainya. Hargailah orang lain kalau kau mau dihargai 😉
Selamat membaca!! 😉
Edisi sebelumnya: Prolog,
~”~”~”~
Kita hanya dua orang bocah yang tidak tahu soal pernikahan!
~”~”~”~
Aku terduduk di sisi ranjang dengan pandangan kosong. Makhluk yang juga bernafas sepertiku ikut terduduk di sisi ranjang yang sama. Tak tahu apa yang harus kami lakukan. Ah ayolah, kami baru 17 tahun. Berpikir untuk berpacaran saja kadang ada kadang tidak. Lah ini?
Pesta yang tadi kami hadiri sudah berakhir. Appa sudah pergi check in dengan 7 kopernya yang dibiarkan kosong sejam yang lalu. Dan itu tandanya aku sudah di serahkan seutuhnya pada keluarga ini. Belum sempurna adaptasiku dengan keluarga baruku bersama Appa, aku sudah harus beradaptasi lagi di rumah ketua kelasku. Sebenarnya itu bukan masalah, yang jadi masalah adalah besok kami harus sekolah, tapi kedua orang tua Jongin malah mengunci kami berdua di kamar Jongin yang tak bisa ditempati untuk dua orang. Ranjangnya saja ukuran single. Lalu bagaimana aku bisa tidur?
“Ahh…” Jongin mendesah sambil menutup wajahnya.
Seketika aku terlonjak hampir masuk kamar mandi. Aku merinding. Kau tahu apa yang kupikirkan saat ini? Kukira ia akan melakukan sesuatu. Buru-buru aku meliriknya dan aku langsung bernafas lega melihat lelah menggelayut di kedua pundaknya seperti mumi yang ada di iklan salep pijat. Matanya berkantung, ahh aku sangat bahagia melihatnya mengantuk! Setidaknya dia tidak akan melakukan apapun padaku ‘kan malam ini? Hehehe…
“Aku tidak percaya aku melakukannya…” ucapnya sambil menjatuhkan kedua tangannya lemas. Persis seperti orang frustasi.
Alisku berkerut. Melakukan apa coba? “Ehm?” gumamku. Kalau aku punya telinga kucing, mungkin telingaku sudah melipat sebelah seperti di anime-anime. Kawaii.
“Satu hal yang paling kutakuti selama aku jadi ketua kelas?” ia menatapku. Dengan jarak yang dekat karena ranjangnya terlalu kecil untuk memberi jarak diantara kami.
Deg-deg-deg
Aigoo… apa itu? Ia punya jerawat di alis? Eh fokus!!
Aku menaikkan alisku menagih jawabannya.
“Melanggar peraturan. Dan kau tahu apa yang akan terjadi kalau sampai kita ketahuan?” tanyanya lagi. Ini persis seperti kuis cerdas cermat dengan pertanyaan bertingkat.
Aku memutar bola mataku. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu. Karena aku tidak pernah bermasalah di sekolah, jadi aku tidak pernah menyentuh buku peraturan.
Menyerah, akhirnya aku menggeleng.
“Dikeluarkan…”
~”~”~”~
Mwoya? Apa yang dikatakan Jongin benar terjadi…
Seketika tanganku gemetaran. Jantungku berdegup keras. Rasanya seperti menghadapi pilihan antara hidup dan mati. Kenapa aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya? Pernikahan memang sebuah hubungan yang baik dan membahagiakan. Semua orang menginginkan itu sebagai permintaan terakhir mereka. Tapi… aku bahkan tidak pernah berpikir apa aku sudah siap menjalaninya atau belum. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kupertanggung-jawabkan. E-eottokhaji?
Aku kembali menatap mereka yang masih menampakkan wajah iba. Saling tertunduk sedih. Bagaimana ini? Mungkin sebentar lagi tatapan akan ditujukan padaku. “J-jeongmalyo? N-nugu?” tanyaku gugup sendiri. Suaraku menipis sampai hampir terdengar berbisik.
Semua kembali menatapku dengan mata bulat mereka. Wajah yang semula tampak iba, tiba-tiba saja berubah jadi menatapku curiga. Entah mengapa aku merasa tubuhku menciut, menciut, menciut dan tubuh mereka membesar, membesar, membesar, terus menyudutkanku sampai aku habis tergencet badan mereka. Mwoya? Kenapa suasananya jadi menyeramkan begini?
“JANUARI MOP!!” teriak mereka serempak.
Mwo? Apa tadi mereka bilang? J-januari mop?
“Kau ini polos sekali Jung Jinni hahaha” ledek Yein sambil menepuk pundakku.
“Omo! Omo! Lihat wajahnya!” Sunny menunjuk wajahku yang kurasa sudah pucat pasi. “Yaa! Kenapa kau yang tegang eoh? Memangnya kau sudah menikah? Hahaha”
Sial! Kalau saja aku bisa mengatakan ‘Eoh! Kau tidak lihat aku pakai cincin yang sama dengan liontin Jongin huh?!’. Mungkin mereka sudah mati membatu mendengarnya.
“Bisakah kalian tenang?!” bentak suara berat di depan sana yang langsung membuat ke empat gadis di depanku terdiam. Rasakan!
Kukira berita pernikahanku sudah bocor. Ternyata hanya akal-akalan mereka untuk mengerjaiku. Sialaan!! Kenapa sih aku harus dianugrahi kepolosan ini? Lebih banyak ruginya ketimbang untungnya. Pikiranku sudah melayang kemana-mana sampai aku harus menatapnya, menatap lelaki yang sekarang sudah berdiri di depan kelas sambil memegang secarik kertas. Kukira tadi dia juga memikirkan hal yang sama denganku. Ternyata tidak. Sial! Kenapa juga lelucon mereka bisa pas sekali dengan situasiku sekarang?! Sialaaaan!!
“Ada beberapa pengumuman untuk hari ini. Guru fisika tidak bisa datang hari ini…”
“YEEEEEYYY!!” sorak seisi kelas termasuk aku, memotong pembicaraan Jongin yang langsung membuat lelaki itu menatap marah ke arah lautan manusia di depannya.
Gludug-gludug
Petir menyambar-nyambar. Aura hitam menyerbak dari tubuhnya membuat kami mau tidak mau menutup mulut dan diam menatapnya sebelum terjadi sesuatu. Galak sekali sih! Rasanya kelas ini jadi gelap padahal diluar langitnya sedang cerah.
Ia berdehem lalu kembali mengangkat kertas di tangannya, kembali melanjutkan. Tapi belum sempat aku berkonsentrasi mendengarnya, gumaman dari gadis disebelahku mengalihkan perhatianku.
“Omo… lihatlah cara dia marah… sexy sekali…” dia, Eunkyung sudah menjadi pengagum rahasia Jongin sejak pertama kali kami dipertemukan menjadi teman sekelas. Dia selalu seperti itu. Memuji-muji apapun yang Jongin lakukan. Padahal aku tidak merasakan apapun saat melihat Jongin. Malah menyebalkan. Apa-apaan dia?! Mentang-mentang ketua kelas, jadi dia bisa seenaknya marah-marah.
“Kim Jinni!”
“Eh… y-ye?” refleks aku menyahut mendengar bentakan yang entah datang darimana. Eh? Sejak kapan Jongin memanggilku? Aigoo, ini semua gara-gara Eunkyung!
“Kau tunggu apalagi?” tanyanya dengan tatapan sebal.
Memangnya aku disuruh apa tadi? Ahhh jinjja! Mana semua orang melihat kearahku lagi! Aku ‘kan jadi terlihat bodoh. Eh… chamkanman! Sepertinya ada hal lain yang membuat perhatian mereka jatuh padaku… sejak kapan Jongin merubah margaku?! Jongin sialan!!
~”~”~”~
“Kenapa kau menyuruhku untuk membantumu? Biasanya juga kau minta Hyekyo atau Hyojin.” gerutuku ketika kami sampai di ruang guru.
Disini sepi karena semua guru sedang mengajar dan guru fisika sekaligus wali kelas kami yang tidak hadir, menitipkan pesan pada Jongin untuk mengerjakan tugas yang ia simpan diatas meja. Kukira soalnya hanya berupa tumpukan kertas. Ternyata berbuku-buku. Bukunya tebal pula mirip modul. Pantas Jongin minta dibantu. Bagaimana bisa mengerjakan soal sebanyak ini? Fisika pula. Mungkin akhir semester aku sudah jadi Einstein.
“Tanyakan pada Appamu yang menyuruhku untuk terus dekat denganmu.” jawabnya tanpa menoleh padaku. Terlalu sibuk menyusun modul itu di depan dadanya.
Eh tunggu! Apa tadi dia bilang? Appaku? Appa menyuruhnya untuk dekat denganku? Untuk apa? Yang benar saja!
“Kau bercanda? Appa saja tidak pernah menghubungiku sejak sampai di Paris, bagaimana mungkin Appa menghubungimu?!” protesku tidak terima. Sebenarnya yang anak Appa itu siapa? Aku atau Jongin?
Hup!
Hampir aku menjatuhkan ponsel pintar Jongin kalau saraf refleksku tidak segera bereaksi menangkap lemparannya. Apa ini? Apa ia ingin menunjukkan pesan dari Appa?
Kutekan tombol kunci dibagian atas ponselnya. Eh pakai sandi… bagaimana aku bisa membukanya?!
“Sandinya tanggal pernikahan kita” jawabnya sebelum aku bertanya.
Eh? Tanggal pernikahan kita? Benarkah? Kenapa ia harus memakai sandi itu? Apa pernikahan itu penting sekali buatnya?
Kumasukkan tanggal pernikahan kami dan terbukalah ponselnya. Dengan cepat aku membuka kotak masuknya. Tidak banyak percakapan disana, hanya dari beberapa teman sekelas dan… ah ini dia!
Abeonim          : Jongin-ah! >.<
Jongin              : Ye Abeonim?
Abeonim          : Aku tahu pernikahan ini mendadak, tapi aku yakin kalian pasti akan mensyukurinya nanti. Aku juga tahu kalian tidak dekat sebelumnya. Mianhae membuat kejutan yang mendadak begini hehe. Tapi bisakah kau berjanji satu hal?
Jongin              : Apa itu Abeonim?
Abeonim          : Kau anak yang baik. Bisakah kau menjaganya selagi aku tidak ada? Jinni memang tidak mudah bersahabat, tapi kalau kau sering berada di dekatnya, lama-lama ia pasti akan terbuka. Maukah kau melakukannya untukku?
Jongin              : Tentu saja Abeonim : )
Abeonim          : Ah terima kasih Jongin-ah! Kau memang menantu jjang! >.<
Aahh memalukan! Aaaah memalukan!! Apa harus sampai dipuji begitu? Itu ‘kan berlebihan. Menjijikan pula. Masa Bapak-bapak pakai emot imut begitu?! Ah Appaaaa…
“I-igeo…” aku menyodorkan ponsel itu kearah Jongin tanpa menatapnya. Tidak berani. Wajahku pasti sudah merah sekarang. Pigmen wajahku ‘kan agak gangguan. Gampang berubah. Hah… Appa kenapa harus melakukan hal itu sih? Bisa-bisanya berpesan seperti itu pada Jongin. Aku ‘kan bukan anak kecil. Bahkan dari lahir aku sudah hidup sendiri di panti asuhan. Appa ini!!
Eh? Kenapa Jongin tidak juga mengambilnya?
Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Ia malah menatapku diam. Ada apa? Apa aku aneh? Apa kali ini yang berubah bukan hanya pigmen wajahku? Apa wajahku ikut berubah?
Eng?
Jongin meraih puncak kepalaku dan mengusap-usapnya lembut. Ia tersenyum singkat, lalu segera mengambil ponselnya dan kembali bekerja. Seolah tidak ada yang terjadi.
Mwoya? Apa-apaan dia tadi? Kenapa dia melakukan hal itu? Kenapa ia tiba-tiba tersenyum? Apa aku lucu?
“Kau bawa yang itu, aku bawa yang ini.” jelasnya sebelum lagi-lagi berjalan pergi meninggalkanku lebih dulu.
Hah… kenapa ia selalu berjalan lebih dulu? Menyebalkan! Aku tidak pernah lambat, tapi ketika bersamanya aku selalu terlihat paling lambat.
Dengan kesal aku mengambil tumpukan buku itu lalu menggotongnya. Mengejar langkah Jongin yang jauh lebih besar dariku. Aku berharap suatu hari di Korea tidak hanya ada operasi plastik, tapi juga operasi perpanjangan kaki.
Deg-deg-deg
Eh tunggu! Ada apa denganku? Mwoya? Apalagi ini? Kenapa jantungku berdetak dengan ritme yang tidak wajar? Apa karena buku-buku ini sangat berat? Ah… perasaan ini… kenapa tiba-tiba aku merasa hangat ketika melihat punggung Jongin yang menjauh? Sepertinya otakku mulai konslet lagi.
“Jongin-ah!” panggilku yang langsung membuatnya berhenti lalu menatapku.
Aku setengah berlari mengejarnya. Ingin memastikan sesuatu. Dan ketika aku sudah berada di dekatnya, perasaan hangat itu justru berubah jadi panas. Ah, mungkin karena aura Jongin yang buruk. Lebih baik aku jalan duluan ke kelas ah! Ha!
Buru-buru aku berlari ke arah kelas kami, meninggalkan Jongin yang hanya menatapku bingung di belakang. Entahlah, tadinya aku tidak mau mengerjainya. Tapi mengerjainya tidak buruk juga hehehe…
Omo! Kelas sudah hancur berantakkan saat aku sampai. Bukan karena ada yang tawuran, tapi sepertinya tadi ada pesta mendadak dan sialnya aku tidak ikut gara-gara Jongin. Lihat saja dandanan Eunkyung dan Sunny sudah seperti mau ke diskotik saja.
Semua orang tidak langsung duduk saat aku datang, mereka masih berlarian sana-sini. Tapi ketika makhluk yang tadi kutinggal memasuki ruangan, suasana seketika langsung berubah. Semua duduk rapi seperti sedang menyambut Pak Lee sang kepala sekolah. Wah, aku salut pada karisma Jongin yang membahana.
Aku meletakkan tumpukkan buku itu ke meja lalu beranjak menuju kursiku. Rasanya mau berkeluh kesah saja pada Eunkyung soal Jongin tadi. Siapa tahu membantu.
“Jinni-ya?” tahan Hyojin ketika aku melewati mejanya.
Eh? Refleks aku berhenti sejenak dan menatapnya bingung. Tidak biasanya ia menahanku begini. “Wae?” tanyaku penasaran.
“Apa kau membawa tumpukan yang lebih sedikit?” tanya Hyojin sambil menunjuk tumpukan buku yang tadi kubawa.
Aku menoleh kearah yang ditunjuknya sekilas lalu mengangguk. “Iya, kenapa?”
Ia terdiam. Tangannya yang semula menggenggam pergelangan tanganku, tiba-tiba dilepasnya. Untuk pertama kalinya aku melihat air wajah Hyojin berubah masam. Ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan? Kok perasaanku jadi tidak enak?
“Biasanya ia membagi buku itu sama rata ketika bersamaku…” ucapnya sambil tertunduk. Ada nada marah yang terdengar dari kalimatnya meskipun samar.
Ia meluruskan duduknya masih dengan kepala tertunduk seolah mempersilakan aku pergi. Mwoya? Ada apa dengannya? Apa maksudnya? Apa hormonnya sedang tidak stabil?
Aku kembali berjalan ke kursiku masih dengan perasaan bingung. Aku bahkan tidak memperhatikan soal skala pembagian Jongin. Kenapa Hyojin begitu memperhatikannya? Dia juga kelihatannya tidak suka, padahal seumur-umur aku hidup dengannya, tidak pernah sekalipun dia menunjukkan ekspresi itu padaku. Hoksi… apa dia juga suka pada Jongin?
“Yaa! Ada apa denganmu? Apa kau baru saja melakukan pelanggaran? Kenapa uri Jongin tiba-tiba memanggilmu? Ah iya, darimana dia tahu kalau margamu sudah berubah? Apa kau sudah merubahnya ke bagian administrasi?” Eunkyung menghantamku dengan pertanyaan bertubi-tubi. Itu tandanya ia penasaran tingkat tinggi.
Yang mana yang harus kujawab duluan? Mungkin aku harus ikut kelas rap supaya bisa mengimbanginya yang suka menanyakan banyak pertanyaan. “Aku tidak melakukan pelanggaran apapun, aku tidak tahu kenapa ia… memanggilku…” eh iya! Aku ‘kan tahu alasannya. Karena disuruh Appa. “Dan soal marga…” aku harus jawab apa? Sebenarnya Appa memberiku pilihan untuk mengikuti marganya atau tidak, tapi Jongin malah dengan seenaknya merubah margaku dengan marga yang aku tahu bukan ia ambil dari Appaku, tapi darinya. Sialan! “Aku sudah merubahnya” jawabku bohong. Aku memaksa kedua sudut bibirku untuk tersenyum agar tidak membuatnya curiga.
Eunkyung melongo sekitar 1 menit. Mungkin ia sedang mencerna jawabanku. Jadi aku harus menahan senyuman terpaksaku selama semenit. Setelahnya ia mengangguk-angguk dan kembali meluruskan duduknya menghadap ke depan. Ah, syukurlah dia percaya. Sepertinya kemampuan aktingku sudah lebih baik. Mungkin aku tidak perlu masuk kelas akting lagi mulai sekarang.
~”~”~”~
Di tengah pelajaran sastra aku merasa bosan. Kenapa hari pertama masuk sekolah sudah harus belajar sastra coba?! Merusak mood saja.
Aku melirik anak kelas sebelah yang sedang berolahraga di lapangan sana. Eh itu ‘kan kelas Hoseok! Omo… seperti yang diharapkan. Tahun baru adalah saat-saat paling bersemangatnya. Wajah Hoseok terlihat lebih segar saat mengejar bola. Memang liburan adalah yang terbaik untuk lelaki pekerja keras sepertinya. Dia terlalu memaksakan diri.
Drrt-drrrt
Ponselku bergerat di dalam saku. Segera kurogoh benda tipis itu lalu membacanya. Ada pesan dari nomor asing. Kodenya bukan kode Korea. Pasti ini Appa. Ahh akhirnya Appa menghubungiku juga.
Hy baby! Bagaimana kabarmu? Maaf Appa baru sempat menghubungimu sekarang. Bagaimana semalam? Apa terjadi sesuatu? O.o Jonghyun bilang kalian sudah semakin dekat >.<
Tentu saja. Appa dengan segala sifat berlebihannya. Tapi bukankah Appa menyenangkan? Appa bukan orang yang kaku seperti Appanya Eunkyung dan Yein. Sangat friendly dan tentunya… gaul.
Tidak terjadi apa-apa Appa. Bagaimana keadaan Appa disana? Apa Appa kesepian? Kekeke
Balasku lalu memasukkan kembali benda putih itu ke dalam saku jasku. Ah… Appa membuat moodku jadi baik lagi. Aku merindukannya. Kau tahu? Semenjak aku bertemu Appa aku merasa bersyukur. Kalau saja aku tidak berasal dari panti asuhan, mungkin aku tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk memiliki Appa sepertinya. Appa choego!!
Sreet-sreet
Aku melirik gadis di sebelahku. Seperti biasa, ketika ia lelah ia pasti akan mengisi halaman belakang buku tulisnya dengan gambaran-gambaran khayalannya. Kali ini gambar seorang lelaki dan seorang wanita dengan baju pernikahan.
“Nuguya?” tanyaku mengusiknya.
Ia menatapku sekilas sambil tersenyum lebar. “Jongin… dan istrinya…” jawabnya sambil nyengir-nyengir. Tangannya menggaris bentuk wajah Jongin lebih halus. Membuat gambaran karikatur itu menjadi lebih sempurna. Aku dan dia sama-sama yang terbaik kelas seni rupa, tapi ia jauh lebih pintar menggambar karikatur daripada aku.
“Istrinya? Kau?”
“Anni!” Eh? Kok? “Jongin pasti akan menikah dengan wanita yang dicintainya. Kalau hanya aku yang mencintainya, tentu dia tidak akan bahagia…”
Deg!
Kenapa jawaban Eunkyung tiba-tiba membuatku tersentuh? Entahlah, ada sesuatu dalam dadaku yang terasa tersentak. Aku bahkan tidak pernah memikirkan tentang itu…
“Kau tahu ‘kan menikah adalah hubungan yang abadi. Jadi aku selalu berdoa agar Jongin bisa mendapatkan kebahagiaan abadinya ketika ia menikah nanti…” Eunkyung menatap punggung Jongin dengan penuh perasaan.
Aku mengikuti arah pandangannya. Dan perasaan itu datang lagi. Perasaan hangat setiap kali aku melihat punggungnya. Disatu sisi aku bingung dengan perasaanku sendiri karena aku baru dipertemukannya secara dekat baru beberapa hari. Disatu sisi lain aku merasa aku butuh memberinya kebahagiaan. Aku merasa mengkhianati orang-orang yang menyukai Jongin.
“Eunkyung-ah… menurutmu… kalau aku menikah dengan Jongin… bagaimana?” tanyaku hati-hati. Memilih kalimat yang pas sebagai perandaian agar ia tidak curiga padaku. Bagaimanapun aku ingin berbagi soal ini padanya. Pada siapa lagi aku bisa berbagi kalau bukan dengannya.
Eunkyung langsung menatapku. Alisnya berkerut dan wajahnya terlihat khawatir. “Kau tidak sakit ‘kan?”
~”~”~”~
Seoul Art High School memang memiliki sistem pelajaran yang berbeda. Karena ini adalah sekolah seni. Setengah hari muridnya diwajibkan mengikuti pelajaran eksak, yakni pelajaran dasar yang sama seperti di sekolah pada umumnya. Setengah hari lagi kelas seni. Ada seni rupa, seni musik, vokal, tari, dan akting. Sebenarnya kalau boleh dibilang Seoul Art High School ini seperti adiknya Sopa. Hanya saja tidak banyak artis yang bersekolah disini. Mereka lebih berminat ke Sopa yang lebih terkenal dan bergengsi. Tapi bagiku, bisa masuk sekolah ini saja sudah bersyukur. Ibu panti ‘kan menganjurkan kami untuk memilih karier yang pasti-pasti saja. Kalau aku tidak lulus tes masuk sekolah ini, mungkin impianku jadi pelukis tidak akan tercapai.
Hari ini adalah jadwalnya kelas dance. Ah aku paling benci kelas dance. Aku tidak pandai menari dan mengekspresikan perasaan dengan gerakan adalah hal yang tersulit. Bagiku meliuk-liukkan badan agak sedikit lebih vulgar. Tapi ada satu hal yang paling kusukai dari kelas dance. Persatuan antara semua kelas. Ruang latihan dance sangat besar, jadi semua murid bisa menempatinya. Hanya dikelas ini juga aku bisa bertemu Hoseok. Selain keempat sahabatku, Hoseok adalah murid yang berharga buatku.
“Hoseok-ah!” sapaku pada seorang lelaki yang sudah mengecat rambutnya kembali menjadi hitam. Dia terlihat tampan dengan rambut berwarna gelap.
“Eoh! Jinni-ya…” sahutnya dengan suara cempreng dan logat khas Gwangju. Memalukan. Sudah tahu ruangan ini banyak ruang hampanya, suara dia ‘kan jadi menggema kemana-mana. Semua orang jadi melihat ke arah kami. Tapi aku sudah biasa seperti ini. Hoseok ‘kan memang seperti itu.
“Kau terlihat lebih baik setelah liburan eoh?!” aku membuka percakapan.
Ia tersenyum tulus seolah mengucapkan terima kasih padaku. Matanya yang kecil menampakkan binar-binar cantik. Aku suka melihat matanya. Matanya lebih indah dari SNSD Tiffany!
“Eomma membawakanku banyak makanan, apa kau mau ke apartemenku pulang nanti?” tawar Hoseok yang langsung membuat seluruh tubuhku bergejolak girang.
Eh… tapi… aku ‘kan sudah menikah. Pulang sekolah aku tidak akan bisa kemana-mana. Appa dan Eomma pasti akan mencariku. Eottokhaji? Padahal tahun baru adalah momen yang paling kutunggu-tunggu. Sudah sejak lama aku tak menghabiskan waktu dengannya. Dulu saja aku diam-diam keluar dari panti hanya untuk menghabiskan waktu dengannya. Hah… sepertinya kami tidak akan bisa bersama lagi…
“Bisakah kau membawakan makanan itu untuk makan siang besok? Kau tahu ‘kan aku sudah diadopsi, aku tidak bisa seliar dulu…” tolakku halus. Aku berusaha tersenyum semanis mungkin tapi sepertinya itu tidak berhasil. Kedua alisnya malah bertaut dan ada banyak rasa khawatir di wajahnya.
Ia menatapku lama, mungkin berpikir cara apa yang tepat untuk menghiburku. Ahh padahal aku tidak sedang dalam masalah. Aku baik-baik saja.
Tiba-tiba ia menggulung rasa khawatirnya lalu tersenyum. Tangannya meraih leherku lalu menariknya hingga pipiku terhantup ke dadanya. Sebelah tangannya menjitak puncak kepalaku pelan. “Arraseo. Aku akan membawakannya besok. Tapi awas kalau kau tidak makan!” ucapnya membuatku tertawa.
Lima belas menit kemudian kami sudah duduk serius dihadapan seorang lelaki yang biasanya memberi kami arahan menari. Diawal tahun pelajaran biasanya kami akan diberi misi besar untuk ujian akhir nanti. Tahun lalu kami diharuskan menari berdua. Aku kebagian menari bersama Hoseok dan mulai saat itulah kami dekat.
“Seperti biasa, akan ada misi besar untuk semester ini. Misi kali ini ada hubungannya dengan misi tahun lalu. Konsepnya adalah double duo…”
Wahh parah. Jadi dua kelompok akan dipasangkan menjadi satu grup. Sudah seperti girlband dan boyband saja. Eh, tapi itu tandanya aku akan punya banyak waktu bersama Hoseok! Assa!!
“Kelompoknya akan diundi, tapi sebelum diundi, apa ada yang ingin mencalonkan diri?”
Hup!
Seseorang yang duduk di sayap kanan sana mengangkat tangannya buru-buru. Aku tak bisa melihatnya, terlalu banyak orang yang menghalangi. “Nuguya?” tanyaku pada Hoseok yang juga celingak-celinguk mencari siapa orangnya.
“Ya, Jongin?” sahut Sonsaengnim pada orang itu.
Eh tunggu! Jongin??
“Kau ingin dipasangkan dengan kelompok mana?” tanya Sonsaengnim.
Duh! Jangan bilang dia mau dipasangkan denganku?!
“Dengan Kim Jinni…”
Yaa… wae geurae? Kenapa dia tiba-tiba selalu membawaku ke dalam setiap situasi? Itu bisa mengundang orang lain untuk mencurigai kita! Kenapa dia jadi begini? Eoh?
~”~”~”~
“Kami pulang!” ucapku berbarengan dengan Jongin. Seperti apa yang dipesankan Appa dan Eomma, kami harus pulang bersama.
Kami berjalan beriringan menuju ke dalam. Eomma menyambut kami dari arah dapur. “Eoh, kalian sudah pulang? Kalian mandilah, sebentar lagi makan malam siap.” pesannya masih lengkap memakai celemek.
“Ne” sahutku sopan. Jongin tak menjawab, dia hanya berjalan terus ke arah tangga menuju kamarnya.
Apa seperti ini rasanya memiliki keluarga lengkap? Disambut ketika pulang pulang sekolah. Hah… rasanya hangat sekali. Ketika aku bersama Appa, Appa tidak menyambutku karena masih bekerja di perusahaannya. Jadi aku tidak pernah merasakan kehangatan ini.
Eh iya, bukannya ada yang harus kubicarakan antara aku dan Jongin? Tentang di sekolah. Ia membuat banyak masalah dihari pertama kita sekolah! Aku harus mengurusnya!!
Ketika aku masuk, Jongin sedang membuka jas sekolahnya. Meninggalkan baju seragamnya yang lusuh karena dipakai menari tadi. Duh! Kenapa dia melepas bajunya di situ? Biasa juga di kamar mandi. Terus aku bagaimana? Ih, aku ‘kan tidak pernah melihat lelaki buka baju! Aigoo… e-eottokhaji?
“Kenapa kau diam disana? Masuklah. Tidak ada ruangan lain untukmu selain ruangan ini!” tegurnya menyadarkanku yang terlalu lama berdiri di pintu. Babo! Aku malah melamun. Melamunnya yang tidak-tidak lagi! Issh!!
Aku melangkah masuk lalu menutup pintu kamar Jongin. Jongin kembali melepas seragamnya. Membuat pikiranku semakin memburuk. Aku mau keluar, tapi ‘kan aneh kalau tiba-tiba Eomma menemukanku dan bertanya ‘kenapa kau disini? Bukannya ganti baju?!’ kan malu. Hah… kenapa kamar ini jadi panas? Apa aku perlu menyalakan AC? Remotenya mana remote?? Palli!!
“Kau cari apa?” Jongin menegurku lagi.
Ia membalik tubuhnya. Kancing setengah kemejanya sudah terbuka. Aigoo… Appa… aku gugup. Aku tidak siap! Aku belum siap!
“A-anni…” jawabku gugup sambil terduduk di pinggir tempat tidur. Wajahku memanas. Aku menunduk menyembunyikan wajahku sebisa mungkin agar tidak terlihat olehnya.
Sialnya Jongin malah berjongkok membuat ia bisa melihat seluruh wajahku. E-eottokhaji? Jaraknya dekat sekali lagi! Ujung tangannya meraih daguku. Aku semakin berpikir yang tidak-tidak jadinya.
Wajahnya mendekat ke arah wajahku. Ia memiringkan kepalanya dan matanya menatap lurus kearah bibirku. Omo! Apa ia mau menciumku? Apa ini tidak terlalu cepat? Ia mau menciumku?
Deg-deg-deg
Wajahnya semakin mendekat sampai membuat wajahku beruap. Ini lebih panas dibanding saat aku tidak sengaja makan wasabi. Apa ia mau melakukannya sekarang? Kita ‘kan masih sekolah. Masih memakai seragam pula. Eottokhaji??
“Bisakah kau berhenti melakukan skinship dengan lelaki lain di depan suamimu? Kau bukan wanita single lagi agashi!”
KRETEKK
Ne?? Apa yang tadi dia katakan? S-skinship??
“Se… skinship??” tanyaku meminta ia mengulangnya.
“Ya, kau pikir aku tidak melihat bagaimana lelaki Gwangju itu memelukmu di depan banyak orang?!” jelasnya dengan nada datar. Kedua matanya menatapku lembut. Entahlah, apa ia sedang beraegyo? Kaku sekali.
Eh lelaki Gwangju? Hoseok maksudnya? Jongin melihatku memeluknya? Kapan? Rasanya aku tidak ada memeluk dia hari ini. “Eonje?” tanyaku polos.
“Kau tak ingat?” tanyanya mulai terlihat kesal.
Aissh! Bukannya tidak ingat, tapi aku tidak melakukannya! Bagaimana aku harus menjawabnya?
Jongin menarik tangannya dari daguku lalu duduk di sampingku. “Apa aku harus melakukannya padamu agar kau ingat?” tanyanya membuatku merinding. Aku merasa tidak enak. Apa yang mau ia lakukan padaku?? “Begini…”
“Heh? Auww… ya!!”
Sial! Jongin menarik leherku, membenturkan pipiku ke dadanya lalu menjitak kepalaku keras. Aku berusaha melepas tangannya tapi ia terlalu kuat.
Ia melepasku lagi. Kukira ini sudah berakhir, ternyata belum. Ia menarik tubuhku mendekat ke tubuhnya. Menyisakan jarak yang hanya beberapa senti dari hidungku ke hidungnya.
“Apa kau ingat sekarang?” tanya Jongin membuatku merinding.
I-iya sih aku ingat. Tapi… tidak harus begini juga ‘kan mengingatkannya… “Y-ye… m-mianhae…” ucapku gugup sendiri. Oh ayolah lepaskan aku… pikiranku buruk setiap kali dekat dengannya.
Tok-tok-tok
Suara ketukan dipintu seketika membebaskanku dari cengkramannya. Jongin berjalan kearah pintu. Akhirnya aku bisa bernafas lega… hah… sial! Padahal ‘kan harusnya dia yang jadi bulan-bulananku, kenapa malah jadi aku yang diadili?
Begitu pintu terbuka, tampaklah dua orang tua yang tersenyum cerah dengan beberapa lelaki asing dibelakangnya. Aku dan Jongin saling melempar tatapan bingung.
“Taraa~ tempat tidur baru~”
Eh?
GUBRAKK!!
–To be continued-
Hay… mian lama banget apdetnya >.<
Terlalu bersemangat bikin ini jadi bingung scene mana dulu yang dimunculin. Di chapter satu ini masih pengenalan karakter kekeke
Dan ga sengaja ya ampun semua biasku muncul di sini… >.<
Makasih ya buat yang udah respon prolognya kemaren, terharu :”)
Chapter 1 ini masih pengenalan karakter, maaf ya kalo feelnya kurang : (
Udah lama ga buat ff, jadi kaku : ((

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: