Need a Baby? (Chapter 1)

3
sehun ff yadong
Tittle: Need a Baby? (Chapter 1)
Cast: Oh Sehun, Kwon Nara, And other cast
Category: Chapter, Romance, yadong
Author: Mylittlechick

~happy reading~
DICARI
SEORANG WANITA SEHAT YANG BERSEDIA MELAHIRKAN ANAK
DENGAN BAYARAN TINGGI SERTA FASILITAS YANG MEMADAI SELAMA MENGANDUNG
USIA BERAPA SAJA

HUBUNGI. 010-XXXX-XXXX

Nara membaca sayembara yang terpampang ditiang lampu lalu lintas ketika dia sedang menunggu lampu untuk menyebrang berubah menjadi hijau. Matanya melebar ketika selesai membaca sayembara tersebut, orang seperti apa yang memasang pengumuman seperti ini?, pikirnya. Dan juga, orang seperti apa yang bersedia melakukan hal konyol dengan mengandung anak hanya untuk bayaran yang sangat tinggi. Dunia memang sungguh sangat kejam, hanya orang-orang yang sudah putus asa dan tidak memiliki hati yang pasti dengan suka rela melakukan hal seperti itu demi uang.
Nara tersenyum kecut, melihat dari kondisinya yang serba kekurangan Nara mungkin menjadi salah satu kandidat dari orang-orang tersebut. Tapi tidak, Nara tidak akan melakukan hal serendah itu, ia masih punya harga diri untuk bertahan hidup. Ia tidak akan menjual tubuhnya apa lagi mengandung anak seseorang demi uang yang besar.
Lampu tanda boleh menyebrangi jalan telah berubah hijau, nara berlari-lari kecil menyebrangi jalanan menuju tempat kerjanya, meninggalkan sayembara aneh itu jauh dibelakangnya.
.
.
.
“yaa.. Kwon Nara, apa yang kau lakukan? Palli kajja” suara EunHae memanggilnya dari balik pintu ruang ganti, sahabat sekaligus partner kerjanya itu tadinya sudah berangkat terlebih dahulu ketempat berkumpulnya para pekerja hotel ternama milik OH Group.
Nara merapikan scraf berwarna merah dilehernya lalu menyelipkan anak rambutnya yang keluar dari ikatan kebelakang telinganya terburu-buru, ia pasti akan dimarahi oleh Kang sajangnim jika terlambar sedikit lagi. “tunggu aku”. Setelah merasa rapi, iapun berlari menyusul EunHae ketempat berkumpulnya para karyawan hotel untuk melakukan apel pagi.
“eheem..” manager bagian HRD itu berdeham tidak suka melihat keterlambatan Nara yang sering kali terjadi ini. Ia menyukai Nara, tapi ketidak disiplinan Nara membuatnya harus mengerutkan alisnya terus menerus. “kau terlambat lagi Kwon Nara?”
“maafkan aku sajangnim.. aku harus memastikan nenekku berada dalam kondisi yang nyaman sebelum aku meninggalkannya sendirian” sesal Nara. Semua tahu bahwa Nara hidup hanya berdua saja dengan neneknya yang sudah sakit-sakitan.
Manager Kang hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ia adalah pria yang juga menyayangi keluarga sendiri, karena itu ia akan memaklumi apapun jika itu menyangkut masalah keluarga. “sudahlah, masuk kebarisan”.
Nara tersenyum mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya masuk kedalam barisan dan menerima jadwal pagi ini yang harus ia lakukan.
Kwon Nara, adalah gadis muda berusia 23 tahun penuh energik dan sangat suka tersenyum. Hal itulah yang membuatnya mudah bergaul dan disenangi oleh siapa saja. Namun, tidak ada yang pernah tahu untuk apa senyum itu ada.
Nara selalu berusaha tersenyum untuk membuatnya bisa menikmati hidupnya yang cukup memprihatinkan. Kedua orang tuanya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil ketika ia masih keil, tidak ada harta benda yang bisa orang tuanya tinggalkan padanya, hanya sebuah rumah kecil yang saat ini Nara tinggali berdua bersama neneknya. Satu-satunya nenek yang ia miliki.
Hidup dengan keuangan yang pas-pasan Nara harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan neneknya, karena itu setelah lulus dari sekolah Nara memutuskan untuk bekerja, tidak seperti teman-temannya yang lain yang lebih beruntung bisa melanjutkan studinya di perkuliahan.
“Nara-ya.. kau tahu, hari ini direktur Oh akan berkunjung kesini” Nara sedang merapikan meja resepsionis ketika EunHae lagi-lagi memanggilnya dan mulai mengajaknya mengobrol, kebiasaan yang selalu EunHae lakukan sebelum tamu berdatangan.
“pemilik Hotel ini?”
“pemilik hotel ini dan banyak hotel lainnya lagi. aah.. aku benar-benar penasaran dengan wajahnya, banyak yang bilang tuan Oh sangat tampan dan mempesona, tapi itu sebelum dia memasang topeng dingin di wajahnya. Kau tahu,itu karena dia ditinggal pergi oleh orang yang sangat ia cintai”
Nara menarik nafasnya tertahan. “wanita itu meninggal?”
“tidak, dia menikahi laki-laki lain”
“ya Tuhan”
“benar.., ya Tuhan, karena itu aku penasaran, seperti apa wajah namja yang ditinggalkan tersebut”
“apa kita bisa melihatnya hari ini?” tanya Nara bersemangat.
“tentu saja, kita kan menjaga bagian penting di hotel ini” jawab EunHae penuh yakin.
“EunHae-yaa.. menjaga meja resepsionis bukanlah bagian penting” kekeh Nara.
“yaa.. selain kita bekerja menjaga meja dan mendata tamu-tamu harus mengambil kamar yang mana kita juga mendapatkan pekerjaan lain dengan mengawasi para tamu yang datang” jawab EunHae.
“tidakkah itu menyenangkan, kita bahkan tahu pejabat mana yang sedang mengunjungi selingkuhannya di hotel ini”
“ssstt.. EunHae-ya” Nara menyuruh EunHae diam ketika tamu pria dan wanita menghampiri meja resepsionis. Nara tersenyum menyambut kedua orang itu, yang menurut Nara kemungkinan adalah pasangan suami istri.
“selamat pagi” sapa Nara ramah.
“nee.. kami ingin check out pagi ini” laki-laki itu menyerahkan kuncinya kepada Nara.
“oo nee..” Nara pun bergegas mengambil data dari si penghuni kamar lalu menyerahkan tagihan kamar kepada laki-laki itu. Matanya melirik EunHae yang saat ini sedang asik memandangi si wanita dan pria. Nara mendelikkan matanya kepada EunHae agar berhenti menatap tidak sopan tamu mereka. EunHae menaikkan bahunya lalu melengos pergi meletakkan kunci di tempat kunci-kunci kamar berada.
“EunHae-yaa.. kau tidak sopan menatapi tamu seperti itu, Kang sajangnim sudah sering kali menegurmu”
“mereka tidak terlihat seperti sepasang suami istri” EunHae menghiraukan teguran dari Nara.
“kau lihat gelagatnya?”
“ya Tuhan, jangan lagi” Nara menutup kedua telinganya karena sudah sangat hapal kebisaan EunHae yang akan berbicara panjang lebar, mendeskripsikan seperti apa yang terlihat dimatanya.
Nara menurunkan telinganya lalu tersenyum, pagi yang biasa. Nara bersyukur pagi ini ia bisa bekerja seperti biasa bersama EunHae dan teman-teman yang lain. Di tahun pertama ia bekerja di hotel ini Nara bekerja sebagai Room servise, yang membersikan kamar-kamar tamu setelah ditinggalkan. Lalu tiba-tiba manager Kang memberikannya kesempatan bekerja dibelakang meja ini.
“wajahmu terlalu sayang untuk diletakkan dibagian belakang” begitulah yang manager Kang katakan padanya ketika ia menaikkan jabatan Nara.
Nara menyambut gembira berita itu, bersama-sama dengan EunHae, mereka mulai bekerja dibalik meja resepsionis. Yang Nara yakini, EunHae sangat-sangat menikmati pekerjaan ini. Begitu juga dengan Nara, bagaimana tidak? Gaji mereka naik dan mereka tidak harus bekerja membersihkan toilet lagi. Nara benar-benar bersyukur dengan keadaan ini. Setiap malam diam-diam Data selalu berdoa agar ia bisa selamanya bekerja di Hotel ini.
.
.
.
“neee..? kau ingin aku memberhentikan beberapa pegawai kita?” Manager Kang melebarkan matanya terkejut mendengar berita yang baru saja diuacapkan oleh manager yang jabatannya lebih tinggi darinya itu.
“kita harus mengurangi beberapa orang yang bekerja tidak efisien”
“tapi kenapa? Bukankah pengunjung hotel ini banyak, kita bahkan kekurangan orang, tapi anda malah ingin memberhentikan beberapa orang?”
“ini perintah langsung dari tuan Oh. Kita akan menyaring beberapa pekerja baru yang lebih berkualitas dan terpelajar. Tuan Oh benar-benar keras dan ingin semuanya sempurna. Semua pekerja diharuskan memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari SMA”
Manager Kang terdiam, itu artinya.. “kau ingin aku memberhentikan siapa saja?”
“kita liat dibagian depan, ada Kim Yoomi, Han Saera, Kim EunHae dan Kwon Nara. kau tahu siapa yang harus diberhentikan bukan? Diantara keempatnya yang paling buruk adalah Kim EunHae, yang selalu bergosip selagi bekerja, para tamu sering protes tentang hal itu, tapi nilai plusnya adalah selagi bekerja dia juga sedang meneruskan kuliahnya. Tetapi Kwon Nara..”
“dia tidak kuliah” jawab manager Kang.
“nee.. kau mengerti kan?” manager Kang menganggukkan kepalanya. Lalu ia meneruskan menyeleksi orang-orang yang akan ia berhentikan dibagian room servise, dimana orang-orang yang lebih tua tidak diperbolehkan lagi bekerja karena kerja mereka telah melambat.
Manager Kang hanya bisa diam dan patuh mendengarkan, ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa tentang pemberhentian beberapa orang ini. ia tahu, mereka yang diberhentikan adalah tulang punggung keluarga, mereka pekerja keras dan sudah bekerja bertahun-tahun di Hotel ini, manager Kang yakin mereka tidak akan terima diberhentikan begitu saja. Entah kenapa tuan muda Oh menerapkan peraturan baru yang menurut manager Kang adalah peraturan bodoh dan tidak berperasaan.
.
.
.
“neee..? manager Kang.. apa-apaan ini, kenapa kami tiba-tiba dipecat?” seruan kekagetan dan protes dari orang-orang yang sengaja ia kumpulkan itu membuatnya semakin merasa bersalah.
“maafkan aku, ini perintah langsung dari atasan” manager Kang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia akan menanggung semua kemarahan mereka sebagai ganti para petinggi diatasnya. Sebagian dari mereka menangis dan marah, merasakan adanya ketidak adilan dari pemilik hotel itu. Manager Kang melirik Nara dengan pandangan meminta maaf.
Nara terdiam selama memandangi manager Kang, hati-hati ia mendekati manager itu. “sajangnim, apa aku tidak bisa dipindahkan ke bagian lain saja? aku bersedia kembali ke pekerjaan lamaku, sebagai pelayan room servise”.
Manager Kang menggelengkan kepalanya. “Maafkan aku, kau selalu terlambat datang ketempat kerja itu juga menjadi salah satu pertimbangan”
“aku bisa mengubahnya, aku akan datang lebih pagi”
“maafkan aku Nara-yaa.” Sekali lagi manager Kang menggelengkan kepalanya.
“aku akan membuat riwayat kerjamu agar kau bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan baru. Maafkan aku”
.
.
.
.
Nara berjalan dengan kepala tertunduk menuju meja resepsionis, pagi ini ia merasa bersyukur karena ia bisa bekerja seperti biasa tetapi siangnya ia harus menerima tamparan keras karena ia dipecat dengan alasan yang tidak masuk akal. Memang dirinya adalah gadis yang tidak berpendidikan tinggi, tapi pekerjaanya bagus, lebih bagus dari EunHae.
“haaah..” Nara mengembuskan nafasnya sedih. Ia duduk dibelakang meja menatap kosong layar komputer dihadapannya.
“Nara-yaa. Kau lama sekali… tuan Oh baru saja melewati lobi kita. Ya Tuhan, pemilik hotel ini benar-benar tampan. Dia tinggi, dengan wajah yang sangat mempesona dan terlebih lagi pembawaanya sangat berkelas, aku yakin dia adalah namja yang keras, dingin, mematikan dan tidak kenal ampun, tapi sisi positifnya adalah berdasarkan gosip yang beredar aku tahu bahwa laki-laki itu bisa menjadi laki-laki paling romantis untuk kekasih yang sangat dia cintai, haaah.. aku penasaran siapakah wanita yang beruntung itu” EunHae menoleh kearah Nara yang sama sekali tidak menyahutinya.
“ada yang salah?” EunHae mendekati Nara. “kenapa manager Kang memanggilmu? Nara-yaa..?” tanya EunHae lagi, wajah Nara benar-benar terlihat kosong dan sedih saat ini, membuatnya khawatir detik itu juga
“aku.. dipecat…”
“mwooo…?”
.
.
.
“ini gila.. kau tidak mungkin memecat orang seenaknya begitu saja”
“aku sudah melakukan semampuku EunHae-yaa”
“kau tidak melakukan apapun, teganya kau memecat hampir semua orang-orang yang lebih membutuhkan pekerjaan ini dari pada kita”
“bukan aku.. ini perintah langsung dari tuan Oh. Pemilik Hotel ini” Managar Kang menajamkan tatapanya kepada EunHae. Setelah EunHae tahu Nara dipecat gadis itu langsung mendatangi manager Kang dan memarahinya habis-habisan tidak perduli bahwa namja itu adalah atasannya sekalipun.
“sudahlah EunHae-yaa.. aku akan mencari pekerjaan yang lain” Nara menarik tangan eunhae agar menjauh dari ruangan kerja manager Kang.
“kau sudah bekerja dan mengabdikan dirimu disini selama 5 tahun, setelah kau lulus sekolah, tapi apa yang kau dapatkan dari itu semua?. Pemecatan? Ini tidak adil”
“lalu aku harus apa?. kita hanya rakyat kecil yang bekerja pada satu tempat, apa yang bisa kulakukan jika aku tidak diinginkan lagi?. sudah menjadi haknya untuk memberhentikan aku jika aku tidak memenuhi keinginan pemilik tempat ini bukan?. Sudahlah eunhae-yaa, aku tidak mau kau mendapatkan masalah dari ini”
“aku tidak peduli”
“setidaknya pikirkan adik-adikmu. Aku tidak ingin kau ikut dipecat karena membela diriku”
Eunhae terdiam, ia menatap nanar nara lalu menatap ke manager Kang berang serta menatap sedih pegawai yang lain yang sengaja ia bawa untuk mengajukan protes, eunhae pun mendesah pasrah. 
“aku tadinya merasa simpati dengan tuan Oh, tapi setelah hari ini..” eunhae menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“semoga saja ada seseorang yang bisa mengubah kepribadiannya yang tidak manusiawi itu”
.
.
.
Di sisi lain didalam Hotel itu. Oh Sehun sedang menatap keluar jendela, setelah memastikan managernya bekerja dengan baik, memecat beberapa orang yang kurang berkualitas sehun berdiam diri diruangan kerja manager Kim. Ia menyadari kurang stabil dan kurang bagusnya Hotel ini, ia harus membuat hotel ini menjadi terdepan dengan pegawai yang berkualitas. Dengan kerja yang berkualitas akan menghasilkan hasil yang memuaskan.
Ddrrtt..ddrrttt.. Sehun meraih ponsel dari sakunya dan menempelkannya ditelinganya. “oo eomma?”
“kau sudah ke hotel itu?. bagaimana?”
“oo.. ada banyak yangg harus dibenahi, aku sudah membuang beberapa yang menurutku tidak menguntungkan”
“mwoo.. apa maksudmu?”
“maksudku, aku sudah memecat orang-orang yang kurang kompeten”
“yaak.. Hun-aa.. bagaiamana mungkin kau memecat orang-orang itu? mungkin saja ada dari mereka yang merupakan kepala keluarga, hidup keluarga mereka bergantung pada mereka”
“mereka bisa menemukan pekerjaan lain diluar” jawab Sehun dingin.
“Hun-aaa…”
“jika eomma ingin aku menangani hotel ini, maka ini yang harus terjadi” sehun memotong ibunya cepat sebelum protes ibunya keluar lagi.
Terdengar desaran nafas ibunya sebelum menjawab.
“baiklah nak, terserah kau saja. yang penting hotel itu tidak terabaikan”
.
.
.
Kwon nara berjalan dengan perasaan hancur dan sedih, meskipun ia mendapatkan pesangon yang besar ia tetap menghawatirkan kelangsungan hidunya kelak. Bagaimana jadinya nanti jika ia tidak kunjung mendapatkan pekerjaan?. Pesangonnya tidak akan cukup menutupi semua biaya hidupnya dan neneknya, neneknya harus terus ke rumah sakit untuk mengecek kondirinya, dan biayanya tidaklah murah. Nara harus secepatnya mendapatkan pekerjaan lain.
Dalam diam, nara menunggu dihalte bis. Matanya menatap kosong ketembok yang ditembeli banyak sayembara, sekali lagi ia melihat sayembara itu. yang pagi tadi dilihatnya, pengumuman terkonyol yang pernah ia baca. Nara terdiam lama menatap pengumuman itu, berapa kira-kira bayaran yang akan ia dapatkan?. Pertanyaan itu terlintas dibenaknya saat itu juga. Nara menggelengkan kepalanya cepat.
“anniyaa.. aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu, melakukannya sama saja dengan menjual diri” bisik nara. ia masih sehat dan masih bisa menemukan pekerjaan yang lain.
“aku pulang” nara memasuki rumahnya dengan senyum terkembang diwajahnya, dia tidak akan memasang wajah sedih ataupun memperlihatkan tanda-tanda ada yang tidak beres padanya sedikitpun. “halmoni?” panggil nara.
“oo.. Nara-yaa.. kau sudah pulang?, apa itu?” neneknya keluar dari dapur terkejut melihat kotak besar yang dibawa oleh nara.
Nara melirik kotak yang berisikan barang-barangnya yang berada didalam lokernya di hotel itu tadi kemudian meletakkanya diatas meja.
“bukan apa-apa, hanya beberapa barang yang ingin kubawa pulang. Halmoni sedang apa?” nara mengenduskan hidungnya mencium aroma masakan dari dapur.
“memasak untukmu”
“oo..? bukankah Halmoni sedang tidak enak badan? Kenapa memasak?” Neneknya tersenyum menenangkan.
“setelah lelah bekerja, kau pasti ingin makan makanan yang enak bukan? Caa.. mandilah lalu aku akan siapkan nasi untuk kita berdua”
Meninggalkan neneknya bekerja didapur, nara pun mulai memasuki kamarnya dengan membawa serta kotak yang ia bawa tadi. Ia duduk ditempat tidur dengan nafas yang mendesah panjang, ia harus secepat mungkin menemukan pekerjaan baru.
.
.
.
.
SRAAAKKK…
Nara membolak-balikkan koran yang ia beli keesokan paginya, duduk dihalaman rumahnya yang kecil sambil melingkari beberapa kolom lowongan pekerjaan. Rata-rata dari lowongan pekerjaan itu membutuhkan orang yang berpendidikan minimal S1. Selain itu hanya ada pekerjaan paruh waktu menjaga toko atau pekerjaan buruh untuknya, Nara menggelengkan kepalanya menjadi buruh gajinya tidak akan sebesar gadinya sebelum ini tapi setidaknya ia memiliki pekerjaan dan menghasilkan uang untuk dirinya dan juga neneknya.
Nara menoleh kearah rumahnya dengan perasaan sedih, seandainya orang tuanya masih hidup mungkin hidupnya tidak akan serumit ini.
“aaah.. dasar tuan Oh menyebalkan” Nara membaringkan dirinya di teras rumahnya, memandangi langit biru yang tepat berada diatasnya.
“siapa itu tuan Oh?” suara neneknya menyahut dari dalam rumah.
Nara mendudukkan dirinya cepat lalu berbalik menghadap kearah dalam rumah. “bukan siapa-siapa”.
“kenapa kau tidak bekerja hari ini?” tanya neneknya tiba-tiba.
Nara memalingkan wajahnya kedepan lagi sambil mengerutkan hidungnya. “aku masuk jam sore”.
“aa.. kau jarang mengambil jam sore”
“nee.. eehhmm.. ada temanku yang tidak bisa mengambil jam sore, jadi ia memintaku bertukar jam denganya”
“aa.., nara-yaa, kita kehabisan garam, bisakah kau membelinya untukku?”
“oo nee.. Halmoni” nara bangkit, memakai sepatunya lalu bergegas keluar rumahnya menuju minimarket yang ada didekat rumahnya. Dalam perjalanannya menuju ke mini market sekali lagi nara melihat pengumuman konyol itu, nara mengerutkan alisnya setiap melihat pengumuman itu, kenapa ada dimana-mana? Terlebih lagi, kenapa orang itu begitu gencar menginginkan seorang wanita mengandung anaknya?. Tiba-tiba saja terbersit rasa penasaran dibenak nara untuk mengetahui seperti apa orang yang memasang pengumuman seperti ini?.
Setelah membeli garam dari minimarket nara kembali dan membelikan beberapa kue panggang untuk neneknya, nara bersenandung ringan sembari melangkah pulang. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain menerima apa yang sudah ditakdirkan untuknya, karena itu nara akan selalu tersenyum menghadapi semuanya.
“halmoni.. ini garamnya” nara masuk kedalam rumah dengan tangan menjinjing kantong belanjaannya. “Halmoni..?”, menyadari tidak adanya sahutan nara pun memanggil sekali lagi neneknya. Dengan alis yang berkerut nara berjalan menuju dapur. Matanya melebar terkejut melihat neneknya tergeletak dilantai dapur. “HALMONI…?”
Nara berlari cepat menghampiri neneknya, memutar tubuh neneknya cepat lalu mencari tanda-tanda kehidupan ditubuh neneknya, nafasnya berhembus pelan karena neneknya masih hidup, nara melirik ke kompor yang masih menyala, memasak sesuatu yang berada didalam panci itu kemudian meraih ponselnya menelpon ambulan.
.
.
Dirumah sakit, nara menunggu diruang tunggu dengan perasaan yang campur aduk. Berharap dokter akan keluar secepatnya dan memawa berita baik untuknya. “please, semoga halmoni hanya pingsan saja.. please..” nara tidak bisa berdoa yang lebih dari ini lagi, ia tahu neneknya sering sekali sakit-sakitan dan pingsan karena penyakit kanker yang dideritanya.
“nara-ssi” nara berdiri dari bangku yang didudukinya menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang periksa.
“bagaimana dok?”
“sama seperti yang aku katakan padamu oprasi atau kita hanya tinggal menunggu waktu”
“tapi…”
“kanker yang nenekmu derita menyebar sangat cepat, jika tidak segera dioperasi maka aku tidak bisa lagi menolongnya, maafkan aku”
“aku.. aku butuh waktu lagi untuk mengumpulkan uangnya dok, tidak bisakah menunggu?”
“tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi pada nenekmu selagi kita menunggu”
Nara menghembuskan nafasnya sambil menganggukkan kepalanya mengerti, jadi beginilah keadanya, ia dipecat dan tabungannya belum cukup untuk membayar biaya operasi neneknya. Meskipun ditambahi dengan uang pesangon sekalipun uangnya masih belum cukup. Bahkan masih banyak yang kurang. “ottoke?”
Nara pulang kerumah mengambil semua uang yang dimilikinya lalu menghitungnya cepat, ia sudah memberitahukan keadaan ini kepada eunhae untuk meminta sedikit bantuan yang ia yakini belum cukup untuk menutupi kekurangan biaya operasi ini. Nara harus berfikir cepat, dimana ia bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang besar dengan waktu yang singkat. Jika ia meminjam uang di bank akan butuh waktu lama untuk memprosesnya. Dimana..? dimanaa.. ia bisa mendapatkan uang dengan cepat?.
.
.
.
Tap..tap..tap.. suara langkah kaki seseorang dikoridor rumah sakit membuat semua orang menoleh pada si pemilik kaki, begitu juga nara yang sedang duduk bersandar dikursi ruang tunggu sambil memegang handphone ditangannya. Ia melihat eunhae berlari sambil menghembuskan nafasnya tersengal-sengal kearahnya.
“aku sudah mengumpulkan uang dari teman-teman dikantor, manager Kang juga menyumbang dengan jumlah yang besar. Ini..” eunhae mengulurkan amplop yang berisi uang kepada Nara “apa cukup?”
Nara mengambil uang itu lalu menghitungnya cepat, kepalanya menggeleng lemah. “aku masih butuh banyak lagi”
“ya Tuhan, aku.. aku akan mencoba meminjam ditempat lain eoh? kau jangan bersedih”
Nara mengambil uang itu lalu menghitungnya cepat, kepalanya menggeleng lemah. “aku masih butuh banyak lagi”
“ya Tuhan, aku.. aku akan mencoba meminjam ditempat lain eoh? kau jangan bersedih”
“eunhae-yaa..” nara menghentikan eunhae yang sudah hendak pergi meninggalkannya. “aku.. punya alternatif lain”. Nara mengulurkan tangannya yang memegang selembar kertas yang sedikit robek karena ia cabut paksa dari tiang lampu lalu lintas.
Eunhae mengambil ragu-ragu kertas itu dan membacanya dengan hati-hati. Matanya melebar terkejut, ia juga sering melihat pengumuman ini dijalanan. Pikirannya pun sama seperti nara yang menganggap konyol pengumuman itu. “kau gila, aku tidak akan mengizinkanmu melakukan ini semua”
“tapi itu satu-satunya cara untuk mendapatkan uang dengan cepat”
“yaak.. Kwon nara, ini sama saja dengan menjual dirimu untuk melahirkan seorang anak, sama saja dengan kau menjual bayi pada seseorang”
“aku tahu, tapi tidak ada salahnya mencoba bukan?”
Eunhae duduk dihadapan nara sambil menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. “kau sedang kalut, pikiranmu tidak bekerja dengan logis. Tarik nafas panjang lalu hembuskan secara perlahan, nah begitu.. sekali lagi” nara mengusap tangan nara. “masih banyak cara lain, kita pinjam uang ke Bank”.
“butuh waktu untuk memprosesnya”
“baiklah, kita pinjam uang ke manager Kim”
“kau tahu dia tidak akan memberikannya”
“sial, kau benar.. lalu kita pinjam uang ke..”
“eunhae-yaa..” potong nara. “kau tahu tidak ada cara lain lagi”
Airmata jatuh diwajah eunhae, ia tahu. Tapi ia tidak bisa mengizinkan nara melakukan tindakan konyol seperti ini.
“kau akan menyesal nantinya” bisiknya pelan.
“aku akan lebih menyesal jika aku tidak bisa menolong halmoni, satu-satunya keluarga yang kumiliki” nara berujar pelan, matanya menatap tidak fokus ke tangannya yang digenggam oleh eunhae.
“aku tidak bisa kehilangan halmoni”.
Eunhae mengusap airmata dipipinya mencengkeram kuat tangan nara, ia tidak berkata-kata lagi, tidak melarang ataupun mengizinkan.
Yang bisa dilakukanya saat ini adalah mendukung nara. “kau sudah menghubungi nomornya?”
Nara menganggukkan kepalanya. “aku akan bertemu dengan orangnya nanti malam. Bisakah kau menolongku menjaga halmoni malam ini?”
“tentu saja aku bisa”.
.
.
.
.
Malamnya..
Seorang pria tua dengan rambut yang sudah mulai memutih dan kerutan diwajahnya memasuki ruang tamu dengan langkah yang santai dan berwibawa, pria itu menatap nara yang berdiri ditengah-tengah ruangan dengan mata yang meneliti tajam. Gadis itu masih muda, bahkan terlalu muda pikirnya.
“anda Kwon Nara?” tanya pria tua itu.
“nee.. Kwon Nara imnida” nara membungkukkan badannya memberi hormat kepada pria tua itu.
“kita sempat berbicara ditelepon tadi, kupikir kau sedikit lebih tua dari suaramu, berapa usiamu?”
“nee..? 23 tahun tuan”
Pria tua itu berjalan memutari nara, matanya menatap dari atas sampai kebawah pakaian nara. Wanita ini sepertinya wanita baik-baik, sederhana dan wajahnya cukup cantik, pikirnya. “boleh aku tahu alasanmu untuk menerima tawaran ini?”
Nara menelan salivanya ngeri karena tatapan meneliti pria tua itu, apakah pria ini yang memasang pengumuman itu?. “aku.. aku membutuhkan uang tuan”
“uang? Untuk apa?” pria itu menaikkan alisnya.
“untuk biaya operasi nenekku”
“nenekmu sakit..?”
“ya tuan.. Kanker”
“aa.. jadi karena untuk membiayai operasi nenekmu kau bersedia hamil selama sembilan bulan untuk seseorang?”
Nara menelan salivanya, membasahi tenggorokannya yang kering dan memejamkan matanya yang terasa perih, “yaa..” jawabnya serak.
Pria tua itu sekali lagi menaikkan alisnya. sungguh menarik, pikirnya.
CEKLEEEEEKKK.. seseorang menginterupsi kejadian diruang tamu itu. Pria tua itu menoleh kearah pintu yang baru saja terbuka lalu tersenyum. “tuan muda, aku baru saja akan menelponmu”.
Nara menolehkan kepalanya ke seseorang yang pria tua itu panggil tuan muda, matanya melebar menatap wajah tampan namja yang baru saja masuk dengan pakaian olahraga Baseball, serta tongkat baseball tergantung dipunggungnya. Nara yakin pria itu baru saja selesai bermain baseball. Tapi bukan itu yang membuatnya mematung, jantungnya berdegup sangat kencang hanya dengan memandangi wajahnya. Tubuhnya tinggi, rambutnya sedikit basah karena peluh dan tubuhnya terlihat sangat kekar. Membuat sesuatu didalam diri nara bergetar detik itu juga.
Namja itu melirik kearah nara kemudian melihat kearah pria tua itu. “ada apa?”
“aku menemukan calon yang kau inginkan?”
Alis namja itu terangkat sebelah, iapun menoleh pada nara dengan pandangan yang meneliti, menatap nara dari kepala hingga kaki. Nara memakai pakaian yang sangat biasa dengan celana jeans dan kaos bergambar minni mouse dibalik jaket birunya. Gadis ini masih sangat muda pikirnya, biasanya yang akan datang kesini untuk menerima tawaran itu adalah seorang wanita yang sudah lanjut usia, seorang pelacur ataupun seorang pecandu narkoba. Dan Namja itu tidak melihat ketiga kriteria itu dari dalam diri nara.
“berapa usiamu?”
“23” jawab nara serak.
“pekerjaan?”
“tidak ada”
Namja itu menganggukkan kepalanya, orang miskin. Pikirnya. “kau seorang pelacur?”
Wajah nara memerah seketika, “bukan”
“pecandu narkoba?”
“bukan”
“kau masih perawan?”
Nara melebarkan matanya terkejut, wajahnya yang memerah semakin merah. Pertanyaan namja ini lebih mengejutkan dari pada pertanyaan yang diucapkan oleh pria tua itu pikirnya.
“kenapa tidak menjawabku?” nara tersentak mendengar suara namja itu. apa yang harus ia jawab, jika ia mengatakan ia masih perawan apakah mereka akan menerimanya?.
“tidak” jawab nara, memutuskan untuk berbohong.
“kau berhubungan seks dengan berapa orang namja sebelum ini?” tanya namja itu, semakin menyelidiki, semakin tidak sopan.
“saa.. satu..” jawan nara tergagap. Ia harus berbohong lagi.
“kau punya penyakit bawaan atau semacamnya?”
“tidak”
“kau gadis yang sehat?”
“sangat sehat”
“berapa ukuran panggulmu?”
“nee..?”
Nara mengerjabkan matanya bingung, apa maksud dari pertanyaan itu, nara sedang berfikir bingung ketika tiba-tiba lengan kekar namja itu melingkar dipinggangnya. Tubuhnya tiba-tiba saja menempel didada namja itu, membuat nara bisa melihat dengan jelas peluh yang membasahi leher namja itu, menelan salivanya pelan nara pun meletakkan kedua tangannya didada namja itu, menjaga jarak diantara mereka.
Namja itu mengusap pinggangnya lalu turun ke pantantatnya dan naik lagi mengusap tulang panggulnya. Nara diam dalam usapan itu, sesuatu mengalir dari sentuhan itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia belum pernah dipeluk bahkan disentuh seperti ini. Matanya naik menoleh kewajah namja itu, nara terdiam karena namja itu sedang memandanginya. Nafas nara tertahan karena interaksi dari tatapan itu. ia tidak bisa tidak terpesona oleh mata yang menyorot tajam itu.
Nara kembali bisa bernafas lega ketika dilepaskan dari pelukan namja itu, tubuhnya sedikit linglung karena dekapan yang tiba-tiba terlepas.
“kau harus mematuhi semua pertauran yang ada. Kau dilarang untuk membuka mulut sedikitpun, tidak ada yang boleh tahu kau mengandung, dan untuk siapa kau mengandung, tidak ada yang boleh tahu juga keberadaanmu selama mengandung. Kau akan tinggal disalah satu rumahku selama sembilan bulan, diberi makan dan fasilitas yang mewah. Kau boleh pergi setelah kau melahirkan secepat yang kau bisa. Tidak boleh ada kasih sayang untuk anak itu atau pun cinta. Anak itu milikku dan bukan milikmu. Kau mengerti?”
Nara terdiam sejenak, lalu ia pun menganggukkan kepalanya.
“bagus, secepatnya pindah kesini..”
“anuu..” nara memotong. “bayarannya?”
“kau akan dibayar 100juta won”
Nara melongo takjub mendengar harga yang diucapkan oleh namja itu. itu harga yang sangat fantastis, nara bahkan bisa membeli sebuah rumah dan mobil mewah dengan uang itu. “akan ada surat kontrak untuk ini, jika kau membuka mulutmu, menceritakan ini semua kepada orang lain kau akan dituntut. Jika kau sudah mengerti kau bisa pulang dan kemasi barangmu”
“anuu.. Nara memotong Namja itu lagi. “apa aku bisa mendapatkan setengah dari bayaranku sekarang?, aku membutuhkannya”.
Namja itu menaikkan alisnya bingung. “neneknya butuh biaya untuk operasi” pria tua itu menjawab pertanyaan diwajah namja itu.
“berikan setengah dari biaya itu, jika dia kabur dengan uang itu. Tuntut dia” namja itupun pergi setelah memberi perintah pada pria tua itu.
“baik tuan muda, kemarilah nara-ssi”
“aku diterima? Begitu saja?” tanya nara kaget. Mengikuti pria tua itu yang berjalan kesalah satu ruangan.
Pria tua itu tersenyum. “ada banyak yang mencalonkan diri tetapi kebanyakan dari mereka adalah sampah, kau adalah gadis normal pertama yang datang, yaah.. tapi tidak terlalu normal karena kau mau melakukan hal konyol ini bukan?”
“aku butuh uang” jawab nara. “tapi, aku terkejut karena aku langsung diterima”.
“tuan muda oh tidak ingin membuang kesempatan langka, sudah lama dia menunggu orang yang pas untuk mengandung anaknya”
“tuan muda oh?” nara membeo. “apa maksudmu dia pemilik dari lima hotel berbintang di Seoul?” pria tua itu mengangguk. “apa maksudmu dia adalah oh sehun?”
“tepat sekali nara-ssi. dan seperti peraturan yang berlaku. Kau dilarang menyebarkan berita ini pada siapapun” pria tua itu masuk kedalam sebuah ruangan dan berjalan menuju meja besar yang bisa diasumsikan sebagai meja kerja. Pria tua itu mengambil selembar cek lalu menuliskan angka dikertas tersebut.
Nara masih terdiam membisu, luar biasa pikirnya. Oh sehun, orang yang membuatnya dipecat adalah orang yang akan memberikannya uang lima puluh juta won untuk operasi neneknya.
“ini uangmu” pria tua itu memberikan cek itu kepada nara.
“oo.. terima kasih tuan…” nara ragu untuk memanggil nama pria tua itu.
“Kim Jeewoo” jawab pria tua itu. “pelayan sekaligus pengurus rumah ini, kita akan sering bertemu” pria itupun tersenyum kepada nara.
Nara mau tidak mau membalas senyum pria itu. Pelan-pelan ia menatap angka di cek itu, jadi beginilah akhirnya, ia akan hamil selama sembilan bulan lalu pergi begitu saja setelah ia melahirkan. Yang membuat nara terpana adalah, ia akan mengandung anak dari oh sehun.
.
.
.
Sehun sedang berdiri dibalik jendela kamarnya menatap sosok kecil wanita yang baru saja keluar dari rumahnya. Awalnya ia hampir saja menyerah menemukan wanita yang bersedia mengandung anaknya tapi ketika melihat gadis itu hatinya ditumbuhi oleh harapan, akhirnya ia akan memiliki seorang anak.
Ini adalah ambisi teraneh yang akan dilakukan oleh orang, tapi tidak bagi sehun. Karena ia tahu ia tidak akan pernah lagi mencintai seorang wanita selain Park jiseok. Ia menghabiskan seluruh cintanya untuk gadis itu sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk wanita lain. Melihatnya menikah dengan namja lain membuat hati sehun hancur, tapi tidak membuat cintanya pada wanita itu memudar.
Keinginan untuk memiliki anak ini tidak muncul tanpa alasan, ini semua bermula ketika ia tahu jiseok melahirkan bayi perempuan. Membayangkan ada seorang anak yang mirip dengan jiseok membuat sehun juga menginginkannya, menginginkan seseorang yang bisa membuatnya membagi cintanya, seseorang yang polos dan lugu seperti bayi. Lalu munculah ide itu, memiliki anaknya sendiri, sehun menyingkirkan ide untuk mengadopsi anak, ia menginginkan anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri.
Harapan itu sempat hilang karena berbagai macam orang yang mencalonkan diri. Tidak ada seorang pun yang memenuhi kriterianya sampai gadis itu datang. Kwon nara, sehun terkejut melihat gadis itu berdiri diruang tamunya tadi, wajahnya mengingatkannya pada satu-satunya cintanya. Kwon nara memiliki wajah yang mirip dengan jiseok, selain itu rasa dan bentuk tubuhnya pun mirip dengan jiseok.
Sehun memejamkan matanya, tanpa memikirkan apapun lagi, ia langsung menerima gadis itu. Gadis yang berwajah mirip dengan jiseok. Sehun tersenyum membayangkan ia akan memiliki seorang anak perempuan yang berwajah mirip seperti jiseok.
.
.
.
“kau benar-benar diterima?” eunhae menggelengkan kepalanya, sahabatnya benar-benar telah melakukannya. “dan kau benar-benar akan melakukan hal gila ini?”
“apa lagi yang bisa kulakukan?” nara menatap sendu pintu operasi yang saat ini sedang dihuni oleh neneknya. Sudah hampir satu jam pintu itu tertutup.
Eunhae menghembuskan nafasnya pasrah, tidak ada lagi yang bisa ia katakan untuk nara. “semoga kau tidak terluka karena ini. Bukan hanya tubuhmu yang akan kau korbankan, tapi perasaanmu. Apa kau sanggup meninggalkan anak itu nantinya?. Aku benar-benar menghawatirkanmu”
“entahlah eunhae-yaa. Aku tidak tahu”
“haah.. sudahlah, lalu apa yang akan terjadi? Bagaimana cara kerjanya?”
“aku tidak tahu, dia bilang aku harus bersembunyi selama sembilan bulan, dan eunhae.. aku ingin kau merahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk dari nenekku. Begitulah perjanjiannya, tidak boleh ada yang tahu”
“okee.. lalu siapa yang akan memiliki bayi itu? apa sepasang suami istri yang ingin memiliki anak?. Bayi tabung?” eunhae mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya penasaran.
Nara tidak terpikir akan hal itu sebelumnya, apa oh sehun memiliki istri? Eunhae pernah bilang, namja itu patah hati karena wanita yang ia cintai menikahi namja lain, apakah itu artinya oh sehun tidak menikah?. lalu, bagaimana caranya dia bisa hamil nantinya? Bayi tabung?. Tapi, kenapa oh sehun mempertanyakan keperawanannya?. “aku tidak tahu, dan aku dilarang untuk memberitahumu, atau siapapun”
“ck..” eunhae berdecak pelan. “jadi kau akan menghilang selama sembilan bulan?”
“mungkin lebih, aku kan tidak tahu kapan hamilnya”
“aah.. kau benar” eunhae menganggukkan kepalanya. “lalu apa yang akan kau katakan pada nenekmu?”
“aku akan bilang aku mendapatkan pekerjaan yang mengharuskanku keluar kota selama beberapa bulan. Karena itu akan membutuhkan bantuanmu lagi eunhae-yaa..”
“aku akan membantumu” jawab eunhae cepat.
Nara tertawa pelan. “aku belum mengatakan apa yang kuminta”
“tidak perlu, aku sudah tahu. Kau ingin aku menjada nenekmu kan?”
“nee..” jawab nara, matanya menerawang jauh. Sedih membayangkan harus terpisah jauh dari neneknya.
“kau tidak dilarang untuk menelpon kami kan?” eunhae memeluk nara tiba-tiba.
“tidak, aku akan sering menelpon kalian” jawab nara, membalas pelukan eunhae. “gomawo eunhae-yaa.. kau sahabat terbaikku”.
.
.
.
.
TBC….

Fc Populer:

  • Anonim

    Aaaa, kepo banget sama kelanjutan nya, aliur ceritanya susah ditebak, lanjutkan thor, jangan lama lama ><

  • lanjutan nyaaa

  • Anonim

    Lanjut thor, keren idenya, kok bisa sih kepikiran cerita kaya gini >< cerita langka nih ^^ pasti imajinasinya author tinggi nihh, lanjutkan thor jangan lama lama ^^

  • ceritanya keren beda dari ff kebtanyakan
    dilanjut ya author jngan lama-lama

  • thor, aku tadi baca ff thor.
    bagus kok.. memag benar alur dari ff ini beda dari yang lain.. dan aku suka bgt apalagi ini cast nya oh sehun..
    thor,, sebagai pencinta ff… aku mohon lanjutin ya thor, 🙂
    makasih

%d blogger menyukai ini: