My Neighbour Part 1

0
baekhyun kyungsoo exo ff nc
Story By: Soo’s Baby
Main Cast:
•Byun Baekhyun (Male)
•Do Kyungsoo (Female)
Genre: Romance, crossgender, & yadong
Length: Twoshot
Rating: NC 21
Cover by: Yeonhan Art @RCFF (Gomawo kiki emotikon )
Requester: Meila Maya Ramadhan (Terimakasih sudah merequest kiss emotikon )
Warning: Typo adalah keindahan yang merusak mata. Waspadalah! Waspadalah!
Happy reading kiss emotikon

Eunsoo melirik jam tangannya. Perutnya yang sudah mengeluarkan bunyi aneh semakin meminta padanya agar segera diisi. Masih dengan acara TV kesukaanya, gadis itu memekik layaknya seorang putri.
“Kyungsoo, apa spaghetinya sudah siap?”
Gadis yang biasa dipanggil Kyungsoo menyahut, “Sebentar lagi, Eonni.” lalu kembali melanjutkan aktivasnya.
Eunsoo dan Kyungsoo. Umur mereka hanya terpaut 2 tahun. Sama-sama memiliki mata bulat dan bibir berbentuk hati. Hanya saja Kyungsoo lebih pendek dari kakaknya, tetapi dia memiliki segudang bakat yang tidak dimiliki Eunsoo.
Hanya dentuman peralatan masak yang terdengar di dapur kecil itu. Kyungsoo masih sibuk dengan masakannya. Gadis itu memang sudah biasa melakukannya. Jika ibu mereka tidak ada di rumah, maka Kyungsoolah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tidak seperti kakaknya, Eunsoo yang hanya bermalas-malasan saja. Tapi meskipun begitu, Kyungsoo tetap merasa bahagia.
Sementara itu, berkali-kali Eunsoo mengganti channel televisinya. Gadis itu sudah bosan karena acara TV kesukaanya baru saja selesai ditayangkan. Jadi dia hanya bisa duduk di sofa seraya bermain dengan remote TVnya.
“Gomawo, ahjussi.”
Samar-samar Eunsoo mendengar suara asing dari luar. Dia tidak pernah mendengar suara tadi sebelumnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung beranjak dari tempat duduknya lalu mencoba melihat keluar.
“Siapa dia?” tanya Eunsoo pada dirinya sendiri.
Eunsoo masih saja bergulat dengan rasa penasarannya hingga dia sendiri tidak menyadari jika Kyungsoo berkali-kali memanggil namanya. Perlahan tangan gadis itu mulai membuka tirai jendela, dan ekor matanya bergerak mencari sosok tersebut.
“Dia tetangga baru yang eomma ceritakan. Omo! Dia juga sangat tampan,” ujar Eunsoo setelah menemukan sosok itu.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Eunsoo dari belakang. Sontak gadis itu berlari hingga menabrak Kyungsoo yang berada di belakangnya. Otomatis spagheti yang Kyungsoo bawa pun tumpah.
“Eonni, spagheti kita,” kata Kyungsoo seraya meratapi spaghetinya.
“Kau juga salah. Siapa yang menyuruhmu mengejutkanku, ha?” cecar Eunsoo tak mau kalah.
“Aku sudah memanggil eonni tapi eonni diam saja. Lagipula, kenapa Eonni berdiri di dekat jendela? Bukankah sudah diperbaiki kerusakannya?” selidik Kyungsoo.
“Kau ingin tahu jawabannya? Lihatlah!”
Eunsoo pun menyuruh adiknya untuk melihat keluar. Kyungsoo yang tidak tahu maksud kakaknya hanya mengikutinya saja. Pupil mata Kyungsoo melebar saat matanya menangkap sosok yang baru dilihatnya.
“Maksud eonni orang itu?” tanya Kyungsoo berbisik sembari menunjuk seseorang.
Eunsoo melipat tangannya kemudian berkata, “Ya, itulah yang membuatku tidak menyadari kehadiranmu. Bukankah dia sangat tampan?”
“Ah, aku tidak percaya. Aku akan melihatnya lebih jelas,” tutur Kyungsoo lalu membuka pintu dan pergi meninggalkan Eunsoo.
Brrkkk
“Hey, kau akan pergi ke mana?” teriak Eunsoo dari dalam.
“Kubilang aku akan melihatnya lebih jelas,” balas Kyungsoo tak kalah nyaring.
“Tapi bagaimana dengan spaghetinya?”
Eunsoo pun merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak memberitahukan hal ini pada Kyungsoo, karena ia takut tetangga barunya akan tertarik pada adiknya.
“Aish… bodohnya diriku. Kenapa anak itu selalu mendahuluiku?” rutuk Eunsoo seraya menginjak-injak lantai kesal.
Gadis itu akhirnya berinisiatif untuk melihat apa yang akan dilakukan Kyungsoo saja. Dia mengintip gerak-gerik adiknya sembari berdoa agar Kyungsoo menanyakan nama tetangga baru mereka.
Tap… tap… tap…
Kyungsoo berjalan dengan tenang. Tetangga baru mereka sudah masuk ke dalam tempat tinggal barunya yang hanya berjarak satu apartemen dengan apartemen Kyungsoo.
Kini Kyungsoo sudah berada di depan pintu apartemen tetangga barunya. Dia mengurungkan niatnya mengetuk pintu karena ia sedang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.
‘Apa dia ada di sana?’
‘Tapi kenapa apartemen ini sangat gelap? Seharusnya orang yang baru saja menempati tempat tinggal barunya tidak membiarkan tempat tinggalnya tampak tak berpenghuni. Tapi ini aneh sekali.’
Kyungsoo masih saja bergulat dengan pertanyaan-pertanyaannya. Eunsoo yang melihatnya dibuat gemas dengan kelakuan adiknya.
“Apa sebaiknya aku? Aha…”
Eunsoo bernapas lega saat adiknya mulai bertindak. Dilihatnya Kyungsoo yang tengah melihat keadaan dari dalam melalui jendela apartemennya.
“Tidak ada orang,” simpul Kyungsoo.
Sekelebat pikiran-pikiran aneh kembali muncul di otak Kyungsoo. ‘Apa jangan-jangan yang tadi kulihat bersama Eunsoo Eonni itu hantu? Kira-kira hantu apa yang ada di sana? Apa hantu itu suka meminum darah gadis sepertiku? Jika memang benar, apa yang harus kulakukan?’
Kyungsoo bergidik ngeri membayangkannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ah, tidak mungkin. Mana ada hantu di jaman seperti ini? Gadis itu memang mempunyai daya imajinasi yang tinggi. Pantas saja dia sering menang mengikuti perlombaan menulis.
Kyungsoo pun maju beberapa langkah mendekati pintu apartemen tetangga barunya. Dia menyelipkan rambutnya ke daun telinga. Setelah berpikir panjang, dia menarik napas panjang lalu menempelkan telinga kanannya ke pintu tersebut.
‘Tidak terdengar apa-apa.’
Kyungsoo mengganti telinga kanannya dengan telinga kirinya, berharap mendengar suara di dalam sana. Gadis itu berdecak kesal ketika respon yang ia dapatkan sama seperti sebelumnya. Sunyi senyap di dalam apartemen itu.
‘Apa hantu-hantu itu benar-benar ada? Omo! Apa yang harus kulakukan? Kalau sekarang aku berlari secepatnya, hantu itu mengejarku. Bagaimana ini?’
Tiba-tiba knop pintu itu berputar. Sedetik kemudian pintu itu terbuka dengan cepat hingga membuat Kyungsoo terjatuh ke depan. Saat jatuh kepalanya terantuk lantai yang dingin, membuatnya meringis kesakitan.
“Aaw… appo,” erang Kyungsoo seraya mengusap-usap kepalanya. Dia terus saja mengerang sampai tidak menyadari sekelilingnya.
Beberapa sekon kemudian Kyungsoo baru tersadar lalu mendongak ke atas. Matanya membulat sempurna melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya. Sosok yang tak terlalu tinggi itu terlihat menyeramkan bagi Kyungsoo. Rambutnya acak-acakkan, kain panjang yang menutupinya, suasana apartemen itu, ditambah lagi sosok tersebut yang tiba-tiba menanyakan keadaan Kyungsoo, sehingga membuat gadis itu memekik ketakutan.
“Ottokhae?” tanya sosok itu sembari mengulurkan tangannya.
“Kyaaaa…”
“Gyaaa..”
Sosok itu ikut memekik ketika mendengar teriakan Kyungsoo. Berniat menolong Kyungsoo tapi malah membuat tetangga lainnya terbangun dari tidurnya. Eunsoo yang melihat tindakan bodoh adiknya, hanya bisa menepuk keningnya sendiri.
“Ada apa?”
“Apa yang terjadi?”
“Kenapa ribut-ribut?”
Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut para tetangga. Kyungsoo dan pria itu hanya membalasnya dengan permintaan maaf. Setelah urusan tersebut selesai, barulah Kyungsoo meminta maaf pada orang yang berada di sampingnya.
“Mianhae, aku sudah menganggumu,” ucap Kyungsoo seraya membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.
Pria itu hanya tersenyum simpul kemudian berkata, “Ah, ani. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku sudah membuatmu terjatuh. Apa kau baik-baik saja?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja,”
Sementara itu, Eunsoo masih terus memata-matai adiknya. Tapi ia tidak mendengar semuanya.
“Nnnggg… bisakah kau melepaskan selimutmu?” tanya Kyungsoo tanpa sadar.
“Eoh, rupanya ini yang membuatmu terkejut. Hahaha… Mianhae, nde,” ujar pria itu seraya tertawa renyah lalu melepaskan selimutnya.
“Ahahaha… tidak juga.”
Kyungsoo ikut tertawa bersama orang yang baru dikenalnya dan tanpa sadar kakinya menyenggol sebuah koper. Pria yang masih tertawa di ambang pintu apartemennya merutuki kebodohannya sendiri.
“Hahaha… Ini koperku. Sebenarnya aku berniat mengambilnya tadi karena aku lupa,” katanya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu. Selamat malam dan selamat menempati apartemen barumu,” ucap Kyungsoo lalu menarik kedua sudut bibirnya, memamerkan senyum manisnya.
“Selamat malam juga. Hati-hati..” balas pria itu tanpa melepaskan senyumnya.
Setelah Kyungsoo masuk ke dalam apartemennya, barulah pria itu ikut masuk ke dalam apartemen barunya. Tiba di apartemen, gadis itu dikejutkan kakaknya yang sedari tadi menguping pembicaraannya dengan tetangga baru mereka.
“Kyungsoo,” panggil Eunsoo.
“Nde, ada apa?”
Eunsoo berjalan ke arah adiknya. Dia menggigit bibir bawahnya kemudian menggamit lengan Kyungsoo. Matanya yang bulat dan bening berbinar saat ini.
“Apa kau tahu siapa namanya?” tanya Eunsoo berharap.
“Aku tidak tahu namanya,” jawab Kyungsoo kemudian berlalu meninggalkan kakaknya.
Eunsoo yang tidak ingin menyerah langsung menghentikan langkah adiknya.
“Kau ini pelit sekali. Cuma nama saja kau merahasiakannya. Adik macam apa kau ini?”
“Sungguh, aku tidak tahu namanya. Kalau Eonni ingin tahu siapa namanya, tanyakan saja padanya. Sudahlah, aku sangat lelah.”
Kyungsoo pun berjalan ke arah kamarnya, berniat merebahkan tubuhnya di sana.
“Jadi kau tidak bertanya siapa namanya?” tanya Eunsoo lagi.
“Iya. Apa itu penting?”
Rasanya Eunsoo ingin sekali mencubit pipi adiknya. Namun sekarang Kyungsoo tengah tengah asik dengan kasur empuknya. Jadi Eunsoo hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya kesal.
“Aish… bodoh sekali kau,” ucap Eunsoo kesal.
“Kita lanjutkan saja nanti. Apa Eonni lupa kalau besok eomma pulang? Nanti kita tanyakan saja padanya. Sekarang bisakah Eonni pergi dari kamarku?
Eunsoo menghela napas berat. Mungkin benar apa kata adiknya. Ia bisa menanyakan semua tentang tetangga baru mereka pada ibunya. Tapi, apa ibunya tidak curiga kalau anak gadisnya bertingkah aneh seperti itu? Entahlah.
‡‡‡‡
Pagi ini, Kyungsoo kembali disibukkan dengan aktivitasnya. Kini dia tengah membantu ibunya yang sedang memasak di dapur. Ya, pagi-pagi buta Ny. Do tiba di apartemennya, selepas pulang dari Incheon. Dia langsung membuat kue beras ketika mendengar tetangga baru mereka sudah menempati apartemennya. Ketika ditanya kenapa dia tidak istirahat dulu, wanita berkepala empat itu berkata bahwa dia sudah istirahat sewaktu di perjalanan.
“Kyungsoo, setelah selesai memotong, taburi dengan bubuk wijen,” tutur Ny. Do pada Kyungsoo.
“Baik, eomma.”
Kyungsoo pun mengikuti perintah ibunya. Ia memang sudah pernah memasak kue beras, tetapi untuk injeolmi gadis itu baru pertama kali memasaknya. Jadi wajar saja jika dia berubah menjadi seorang wartawan.
“Eomma, apa hanya bubuk wijen saja yang bisa digunakan untuk menaburi kue ini?”
Ny. Do yang tak kalah sibuk dengan anaknya pun dengan senang hati menjawab, “Tidak. Kita bisa menggunakan kacang merah atau pun kenari. Tergantung selera kita.”
Wanita itu sering menjadi guru masak bagi anaknya. Keahlian memasaknya memang tidak diragukan lagi. Dulu saat mereka masih tinggal di Busan, Ny. Do mendapat uang tambahan dari hasil membuka restoran kecilnya. Tapi karena perusahaan Do bangkrut, mereka terpaksa melelang restoran tersebut. Sementara itu, Tn. Do meninggal karena serangan jantung beberapa hari setelah menerima kenyataan itu.
“Oh… omong-omong, kenapa Eomma memilih injeolmi untuk diberikan pada tetangga baru kita?”
“Kue injeolmi melambangkan ikatan yang erat. Seperti teksturnya, diharapkan hubungan orang yang memakan bisa selengket Injeolmi,” jelas Ny. Do.
Kyungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Gadis itu merasa senang karena pagi ini seperti biasanya, ia mendapat pelajaran baru tentang makanan.
“Selesai,” kata Kyungsoo setelah membungkus kuenya.
“Setelah merapihkan semuanya, tolong antarkan kue itu ke tetangga baru kita. Sebentar lagi dia akan datang kemari.”
Eunsoo yang sibuk bermain dengan tablet barunya seketika langsung berlari ke dapur. Tiba di sana, tangannya otomatis mengambil bingkisan kue yang berada di tangan Kyungsoo.
“Hehehe… biar aku saja yang mengantar kue ini pada tetangga baru kita. Kyungsoo pasti sangat lelah. Benarkan?”
Mulut Kyungsoo menganga lebar.
“Jadi kau juga yang akan merapihkan semua ini?” tanya Ny. Do.
Eunsoo dengan cepat menggeleng sambil berkata, “Oh.. tidak, tidak, tidak. Aku hanya mengantar kue saja. Bagian merapihkan dapur, serahkan pada Kyungsoo,” lalu meninggalkan ibu dan adiknya yang berada di dapur.
Eunsoo tersenyum seraya membayangkan tetangga barunya. Langkah kecil kakinya diiringi dengan bersenandung ria. Ny. Do dan Kyungsoo sendiri bingung dengan kelakuan Eunsoo.
“Ada apa dengan kakakmu? Aneh sekali,” seledik Ny. Do pada Kyungsoo.
Kyungsoo yang baru tersadar segera menjawab, ” Sepertinya Eunsoo Eonni menyukai tetangga baru kita,”
“Mwo? Jinjja? Kakakmu tidak tahu tetangga seperti apa yang akan dia temui. Hahaha…”
Kyungsoo mengerutkan keningnya ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Ny. Do. Ia tidak tahu maksud kalimat itu. Tetangga seperti apa? Apa maksudnya? Beberapa detik kemudian, Eunsoo memekik nyaring.
Sesaat sebelum Eunsoo berteriak..
‘Astaga. Pagi ini aku akan menemuinya. Hmm… betapa bahagianya diriku. Ya Tuhan, aku sudah tidak sabar. Apa yang pertama kali kuucapkan? Saranghae? Ah, terlalu cepat. Tapi aku memang menyukainya. Annyeonghaseyo? Sedikit berbasa-basi tapi mungkin itu yang terbaik.’
Eunsoo masih saja memikirkan tetangga barunya. Wajah pria itu masih tersimpan baik di otak Eunsoo. Meskipun ia melihat pria itu tadi malam, tapi Eunsoo yakin wajah pria itu lebih tampan dari yang kemarin malam.
“Nanana…”
Tok.. tok.. tok..
Gadis itu bersenandung riang. Mendengar ketukan pintu, ia segera mempercepat langkahnya.
“Iya, sebentar.”
Eunsoo kini tengah menahan rasa gugupnya. Setelah menarik napas kemudian membuangnya perlahan, ia lalu membuka pintunya seraya terseyum ramah pada tetangga barunya.
“Annyeongha~ Kyaaaaaa!”
Gadis itu berteriak ketika melihat seseorang yang tengah berdiri ambang pintu. Pria bertubuh gempal dan berhidung bulat itu tersenyum lebar ke Eunsoo. Eunsoo sendiri tak habis pikir kenapa ada kudanil yang datang ke rumahnya.
“Eomma, Kyungsoo!”
Eunsoo lari terbirit-birit ke dapur. Ny. Do dan Kyungsoo yang melihatnya, dibuat tertawa sampai mengeluarkan air mata. Eunsoo pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
“Eomma, siapa dia?” tanya Eunsoo.
“Diakan tetanggamu. Hahaha… Kau kira dia siapa?”
“Berhentilah tertawa! Katakan yang sebenarnya, Eomma. Jebbal…” Eunsoo terduduk lemas menerima kenyataan. Air mata mulai membasahi pipinya karena malu.
Ny. Do yang tak ingin melihat anaknya menangis akhirnya berkata, “Tetangga baru kita memang banyak. Ini kan masa penerimaan mahasiswa baru. Jadi banyak yang memilih untuk tinggal di apartemen sekitar sini karena jaraknya tidak terlalu jauh dengan universitas mereka. Apa kau tahu?” Eunsoo menggeleng pelan.
Setelah itu, Ny. Do pergi menemui tetangga baru mereka. Kyungsoo tersenyum jahil ke kakaknya dengan tatapan ‘Makanya, jangan terburu-buru.’ Sontak Eunsoo melempar sandalnya ke arah Kyungsoo.
‡‡‡‡
Jam menunjukkan pukul 20.00 KST. Sudah malam, tetapi Kyungsoo masih berada di luar. Seusai membeli bahan makanan, ia pulang dengan langkah tergesa-gesa. Gadis itu takut jika nanti terjadi apa-apa padanya. Sebenarnya Kyungsoo bisa saja pulang lebih awal. Tapi karena bus yang ia naiki mendadak mogok, ia jadi pulang terlambat. Entah dari mana ia harus menceritakan pada ibunya.
Drap… drap… drap…
Samar-samar terdengar langkah seseorang dari belakang. Kyungsoo menengokkan kepalanya pelan. Dilihatnya seorang pria yang berjalan dengan membawa botol. Selain itu dia memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya. Samar namun gadis itu bisa melihatnya.
“Hey,” panggil pria itu pada Kyungsoo.
Kyungsoo meneguk salivanya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Jika seperti ini, maka pikiran-pikiran negatif Kyungsoo muncul begitu saja.
‘Siapa dia? Apa yang akan dilakukannya padaku? Apa dia seorang pencopet? Atau perampok? Bagaimana jika dia merampokku? Dia mengambil barang-barangku dan membunuhku, lalu membuang jasadku di sungai. Omo, bagaimana ini?’
Kyungsoo mempercepat langkahnya. Barang belanjaan yang ia bawa menambah beban untuk gadis itu. Pria yang sedari tadi di belakang Kyungsoo juga mengikuti tindakannya. Kyungsoo kalang kabut. Imajinasi liarnya semakin menjadi-jadi.
‘Tapi tunggu. Dia membawa botol dan itu artinya dia sedang mabuk. Jangan-jangan dia akan memperkosaku? Setelah memperkosaku, lalu dia membunuhku. Untuk menghilangkan jejak kejahatannya, tubuhku dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Ah, tidak. Aku tidak akan membiarkannya.’
Kyungsoo pun berlari sekuat tenaga. Pria itu juga berlari mengikutinya. Padahal jalan setapak ini adalah jalan adalah jalan yang biasa dilewati Kyingsoo menuju rumahnya. Tapi dia sendiri takut melewatinya.
“Hosh… hosh… hosh…”
Masih dengan napas yang tak beraturan, Kyungsoo mencoba memastikan keberadaan orang itu. Dia kembali menengok ke belakamg tanpa memperlambat laju larinya hingga Kyungsoo terjerembab ke depan karena tidak menyadari ada tong sampah di hadapannya.
“Aduh, aduh, aduh,” ringis Kyungsoo.
“Ottokhae?”
Tiba-tiba pria itu sudah berdiri di samping Kyungsoo. Kyungsoo yang terkejut sontak memukuli pria itu dengan barang belanjaannya tanpa melihat siapa yang ia pukuli.
“Aw, aw, aw.. berhenti. Aw, ini sakit,” erang pria itu.
Kyungsoo berhenti memukuli pria tersebut. Ia tengah meneliti setiap getaran yang diterima telinganya. Suara itu, seperti pernah ia dengar. Tapi siapa?
“Apa kau baik-baik saja?”
Pria itu mencoba menghentikan lamunan Kyungsoo, tetapi tidak berhasil. Dia pun membantu Kyungsoo berdiri. Tak lama, ia akhirnya teringat sesuatu.
Dia membuka maskernya lalu berkata, “Hai… Apa kau mengenaliku?” seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kyungsoo.
Kyungsoo baru tersadar. Gadis itu terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang yang ia kira penjahat itu ternyata tetangga barunya. Betapa bodohnya Do Kyungsoo.
Gadis itu hanya tersenyum pada orang yang berdiri di hadapannya. Antara lega, malu, dan kesal bercampur menjadi satu.
“Mianhae. Lenganmu?” tanya Kyungsoo sembari mengecek keadaan pria itu.
“Tidak apa-apa. Maafkan aku juga. Setiap kali bertemu denganku, kau pasti terkena sial,” balas tetangga baru Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum manis seraya berucap, “Eoh, ani. Sepertinya akulah yang membuatmu tak nyaman. Aku tetangga yang buruk,” lalu menundukkan kepalanya.
Untuk beberapa detik mereka hanya terdiam. Rasa canggung menyelumuti dua orang itu. Kini mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tapi tak lama tangan pria itu bergerak ke atas. Dengan hati-hati dia menaikkan topi rajutan yang Kyungsoo kenakan. Pria itu mengelus dahi Kyungsoo, membuat pemiliknya tersentak.
“Nnnggg… Dahimu masih terasa sakit?” tanya pria itu lembut.
Kyungsoo menggeleng dengan cepat. Sontak hal itu membuat pria yang berdiri di hadapan Kyungsoo berhenti mengelus dahinya.
“Dahiku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir,” ucap Kyungsoo.
“Ma maaf. Aku tidak bermaksud~”
Ucapan pria itu terpotong ketika Kyungsoo berujar, “Ah, lupakan saja. Kau mau pulang, kan? Kajja kita pulang! Ini sudah larut malam.”
Kyungsoo berjalan mendahului tetangga barunya. Sekarang ini dia tengah mengatur dentak jantungnya. Gadis itu tidak tahu mengapa dia begitu menikmati sentuhan pria yang berjalan di belakangnya. Apalagi ketika napas pria itu berhembus ke wajah Kyungsoo, hal itu membuat darahnya berdesir seketika.
“Omong-omong, setelah kita dua kali bertemu, kita belum berkenalan. Siapa namamu?” tanya tetangga baru Kyungsoo tiba-tiba.
Kyungsoo pun berhenti sejenak kemudian mengulurkan tangannya pada pria itu. “Hahaha… Iya, kita belum berkenalan. Perkenalkan, Do Kyungsoo imnida. Panggil saja Kyungsoo. Senang berkenalan dengan anda,” seraya tersenyum manis.
“Byun Baekhyun imnida. Kau bisa memanggilku Baekhyun. Senang berkenalan denganmu,” kata pria itu sembari menjabat tangan Kyungsoo dan tersenyum simpul pada gadis itu.
Lalu mereka berdua berjalan beriringan. Sesekali Baekhyun dan Kyungsoo saling mencuri pandang. Ketika manik mata mereka bertemu, Baekhyun dan Kyungsoo hanya tertawa bersama.
Baekhyun membuka percakapan, “Darimana?”
“Aku baru pulang dari toko. Membeli bahan makanan. Kau sendiri?” kata Kyungsoo sambil menunjukkan barang-barangnya.
“Baru saja pulang dari tempat kerja, lalu mampir ke toko.”
Melihat gadis yang berjalan di sampingnya membawa barang-barang yang terlalu banyak, Baekhyun berinisiatif untuk membantunya.
“Kyungsoo, sepertinya gadis sepertimu tidak cocok membawa barang-barang sebanyak itu. Bolehkah aku membantumu?”
Kyungsoo tertawa renyah seraya berujar, “Hahaha…Tidak cocok? Tapi, tunggu. Jinjja? Apakah kau benar-benar mau membantu membawakan barangku? Ingat, jarak ke apartemen kita masih terlalu jauh. Dan kau juga membawa barang-barang yang cukup banyak. Aku takut itu akan merepotkanmu.”
Baekhyun tertawa agar Kyungsoo tidak meremahkan kekuatannya.
“Hahaha… Iya, aku ingin membantumu. Tidak penting jaraknya jauh atau pun dekat. Sekarang, mana barang-barang yang menurutmu berat?”
Kyungsoo pun menuruti keinginan Baekhyun. Dalam hati ia sangat bersyukur karena bisa mempunyai tetangga sebaik Baekhyun meskipun baru sehari mengenalnya.
Kini Kyungsoo merasa lega. Tapi, tunggu. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
“Baekhyun-ssi, botol apa yang kaubawa?”
Baekhyun yang tengah membawa sebagian barang-barang Kyungsoo menjawab, “Ini botol saus. Apa kau tidak tahu?”
Kyungsoo memastikan jawaban Baekhyun. Ah, rupanya benar. Gadis itu baru tahu jika ada saus bermerek seperti yang dibawa tetangganya.
“Dan Kyungsoo, jangan panggil aku Baekhyun-ssi. Panggil aku Baekhyun saja, nde?” lanjut Baekhyun yang dibalas anggukan Kyungsoo.
Percakapan akhirnya mengalir begitu. Baekhyun dengan Kyungsoo saling bertukar cerita dan pengalaman. Baekhyun berkata bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang juga bekerja sebagai penyanyi cafe. Kyungsoo hampir tak percaya jika tetangganya ini mempunyai suara yang merdu. Jadi dia menantang Baekhyun untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Setalah menyanyikan lagu…
“Kyaaaa… Suaramu memang sangat merdu, Baekhyun,” kata Kyungsoo tak berhenti memberi tepuk tangan pada orang yang berjalan di sampingnya.
Baekhyun tersenyum simpul. Entah kenapa ia ikut bahagia ketika gadis yang baru dikenalnya itu merasa bahagia. Saat pertama kali Baekhyun melihat Kyungsoo, pria itu menyimpulkan bahwa Kyungsoo itu gadis yang manis, dan lucu. Terbukti dari tingkah lakunya yang masih kekanak-kanakkan, dan Baekhyun menyukai itu.
“Sekarang, ceritakan tentang dirimu,” ujar Baekhyun.
“Hmm… aku? Tidak ada yang spesial dariku. Aku tinggal bersama eomma dan kakakku. Bersekolah di SMA yang sebentar lagi akan lulus. Hey, tunggu. Bukankah kau bilang kau duduk di bangku kuliah semester 4? Berarti kau seumuran dengan kakakku. Ah, iya. Aku belum menceritakan tentang kakakku. Namanya Do Eunsoo. Wajahnya hampir mirip denganku atau aku yang mirip dengannya? Hahaha… Entahlah.. Orangnya menyebalkan, tapi sebenarnya dia baik dan perhatian padaku. Satu lagi, dia pandai bersolek. Dia mempunyai bla bla bla…”
Baekhyun menghela napasnya. Yang dia ingin tahu adalah tentang Kyungsoo, bukan kakak Kyungsoo yang Baekhyun sendiri belum pernah melihatnya.
Sebelum Kyungsoo semakin menjauh dari topik pembicaraan, Baekhyun pun memotong ucapan gadis itu.
“Ekhem… Aku tahu kau pasti mempunyai banyak keahlian.”
Kyungsoo baru tersadar. “Oh, iya. Maaf, kenapa aku malah membahas kakakku?” lalu menepuk kepalanya pelan. Setelah itu, ia melanjutkan perkataanya yang sempat tertunda.
“Aku tidak punya keahlian. Tapi setidaknya aku mempunyai hobi memasak, sedikit menyanyi, dan menulis cerita.”
Baekhyun tertawa kecil lalu berucap, ” Pantas saja kau mengiraku sebagai penjahat. Rupanya daya imajinasimu sangat tinggi. Hahaha…” Kemudian melanjutkan tawanya.
Kyungsoo menundukkan kepala. Ia sedang menyembunyikan semburat merah muda yang ada di kedua pipinya. Gadis itu tak tahu kenapa ia merona karena Baekhyun. Tetangga barunya itu memang membuat setiap orang selalu bahagia.
‡‡‡‡
Sampai di apartemen, Baekhyun terus terbayang wajah Kyungsoo. Aneh sekali. Apa ia menyukainya? Tapi jika Baekhyun menyukai seseorang, itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Tak mudah menyukai seseorang begitu cepat. Mungkin inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?
Baekhyun menggeleng, menghilangkan semua perasaan anehnya. Seusai melakukan hal yang biasa dilakukan orang sebelum tidur dan berniat untuk tidur, kepalanya terasa begitu berat.
“Aish, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing?”
Baekhyun pun beranjak dari tempat tidurnya. Ia langsung mencari obat sakit kepala di kotak obatnya yang berada di ruang tamu.
“Di mana obat itu?”
Berkali-kali Baekhyun mengacak-acak isi kotak obatnya, namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Ia berdecak kesal dan menyimpulkan bahwa obat sakit kepalanya sudah habis.
Sekarang dia harus membeli obat ke apotek, pikir Baekhyun. Setelah menata kembali obatnya, dia pun mengambil kunci apartemen dan jaketnya.
Brrrk…
Baekhyun mengunci apartemennya. Sebelum pria itu pergi, ia sempat melihat ke sekeliling lalu menaruh kunci apartemen miliknya di bawah kesed. Dirasa aman, Baekhyun pun meninggalkan apartemennya.
Sudah tak terhitung berapa kali Baekhyun menguap. Sebenarnya ia sangat malas jika harus pergi ke apotek malam-malam begini. Tapi kalau ia tidak meminum obat, maka ia tidak bisa tidur semalaman. Pilihan yang berat bagi Byun Baekhyun.
“Huuuft…”
Sesekali dia menarik lalu menghembuskan napasnya. Uap air muncul begitu saja. Tangannya ia masukkan ke dalam kantong jaket. Hitung-hitung untuk mengurangi hawa dingin di kota Seoul saat malam.
Tak terasa, Baekhyun sudah tiba di depan apotek yang ia tuju. Kantuknya seketika menghilang melihat betapa ramainya apotek tersebut. Dia pun langsung berlari masuk ke dalamnya, mengantri bersama yang lain.
Setelah lama mengantri…
“Tn. Byun Baekhyun.”
Petugas apotek memanggil nama Baekhyun. Baekhyun beranjak dari tempat duduknya. Ia yang ingin cepat sampai di rumah langsung mengambil plastik putih yang berada di atas meja lalu membayar tanpa melihat isi plastik tersebut. Benar saja, obat Baekhyun tertukar dengan obat milik pria kekar yang sedang sibuk menggeledah isi dompetnya.
“Tn. Baekhyun, tunggu!”
Baru saja petugas akan mencegahnya pergi karena ada sesuatu yang salah, Baekhyun sudah keluar dari apotek. Petugas itu pun tidak dapat mengejarnya karena ia sendiri harus mengurus pembeli yang lain.
Sampai di apartemen…
Baekhyun membuka plastik putih yang ia bawa. Diambilnya sebuah kotak kecil berwarna kuning. Pria itu mengernyitkan dahinya. Ada yang aneh. Tapi Baekhyun tak mempermasalahkannya. Ia langsung membuka bungkusan yang ada di kotak tersebut kemudian meminum isinya.
Tok… tok… tok…
Di saat yang bersamaan rupanya ada seseorang yang mengetuk pintu apartemennya.
“Silahkan masuk.”
Pintu itu terbuka. Menampakkan sosok yang Baekhyun pikirkan akhir-akhir ini. Gadis itu tersenyum manis. Tangannya membawa sebuah bingkisan kue.
‡‡‡‡
Sesaat sebelumnya…
Kyungsoo masuk ke dalam apartemennya tanpa melepaskan senyumnya. Melihat gelagat adiknya, Eunsoo yang tengah membaca majalah di ruang tamu menjadi bingung.
‘Aneh sekali anak itu. Hmm… sepertinya ada sesuatu yang membuatnya seperti orang gila.’
“Kyungsoo, dari mana saja kau?” tanya Eunsoo.
Kyungsoo menghentikan langkahnya lalu berkata, “Aku habis dari toko, membeli bahan makanan. Ada apa?”
Tak mendapat jawaban yang memuaskan, Eunsoo pun langsung ke pokok permasalahan.
“Kenapa kau tiba-tiba tersenyum seperti itu?”
Kyungsoo menaikkan kedua alisnya sembari berujar, “Aku? Tersenyum? Tidak,” lalu kembali melangkah, meninggalkan kakaknya yang sedang naik darah.
Eunsoo mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya ia mempunyai adik seperti Kyungsoo. Hanya ingin tahu sebabnya tersenyum saja tidak boleh, begitulah batin Eunsoo. Namun baru beberapa langkah, Kyungsoo berbalik badan dan berjalan ke arahnya.
“Eonni, apa kau ingin tahu siapa nama tetangga kita yang kemarin malam kita intip?” tanya Kyungsoo yang membuat amarah kakaknya mereda.
Wajah Eunsoo terlihat sumringah mendengar perkataan adiknya. Secepat kilat dia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya, ya, ya. Siapa namanya?”
Kyungsoo menarik kedua sudut bibirnya. Ini kesempatan baginya. Gadis itu akan memberi tawaran pada Eunsoo, menukar sebuah informasi kepada kakaknya dengan sebuah barang kesukaannya.
“Aku akan memberitahukan pada Eonni jika Eonni mau membelikan spatula baru padaku.”
Mulut Eunsoo menganga lebar. Adiknya ini memang pandai sekali mencari kesempatan dalam kesempitan. Padahal akhir-akhir ini ia tidak mempunyai uang. Apakah ia harus meminta uang pada ibunya lagi? Sepertinya Eunsoo tidak tega melihat ibunya kesusahan.
Setelah membulatkan tekad, Eunsoo pun memutuskan, “Arasseo, arasseo, arasseo. Sekarang, beritahu siapa namanya?”
Kyungsoo tersenyum puas. Spatula baru kini sudah terbayang di benaknya.
“Namanya… Byun Baekhyun.” tutur Kyungsoo.
“Byun Baekhyun, Byun Baekhyun, oh… Namanya Byun Baekhyun.”
Berkali-kali Eunsoo mengulang nama itu. Nama yang begitu indah, seindah wajahnya. Gadis itu yakin jika Baekhyun juga memiliki berjuta kelebihan. Kini dia tersenyum sendiri membayangkan Baekhyun.
“Eonni, Eunsoo Eonni, ottokhae?” tanya Kyungsoo seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Eunsoo, tapi kakaknya masih tersenyum sendiri.
‘Aneh sekali. Ah, lebih baik aku tinggalkan saja.’
Baru maju selangkah, Eunsoo menghentikannya.
“Omong-omong, dia masih sekolah atau sudah bekerja? Apa hobinya? Dan berapa nomor hand phonenya?” tanya Eunsoo lagi.
Kyungsoo terdiam, kemudian dengan sekali napas dia berbicara, “Baekhyun masih kuliah, saat ini masuk ke semestar 4, sama seperti Eonni. Tapi dia juga bekerja untuk membiyai kuliahnya. Hebat bukan? Tidak seperti kita yang selalu merepotkan Eomma. Dia bekerja sebagai penyanyi. Tentu Eonni tahu, kan apa hobinya? Untuk nomor hand phone, aku tidak tahu.”
“Kyaaaaa… Byun Baekhyun.”
Eunsoo kembali seperti semula. Kini imajinasi liarnya hampir menyamakan imajinasi Kyungsoo. Entah apa yang kakaknya pikirkan, Kyungsok tidak peduli. Biarkanlah dia bersenang-senang sendiri, batin Kyungsoo.
Kyungsoo pun melangkah ke dapur, berniat untuk menaruh barang-barang yang ia bawa. Dilihatnya sebuah bingkisan kue di atas meja seperti tadi pagi. Kyungsoo berpikir, apa ini untuk Baekhyun?
“Kyungsoo, kau sudah pulang bukan? Tolong antarkan bingkisan kue itu pada apartemen nomor 89.”
“Apa Eomma tidak menyuruh Eunsoo Eonni? Bukankah jika hal mengantar kue pada tetangga baru dia pasti sangat bersemangat?”
Bukan, bukan berarti Kyungsoo menolak perintah ibunya. Tapi ia sendiri bingung kenapa Eunsoo tidak seperti tadi pagi?
“Eomma sudah menyuruhnya. Dia tidak mau. Mungkin Eonnimu trauma.”
Kyungsoo tertawa kecil. Setelah itu ia membawa bingkisan itu keluar rumah. Sebelum Kyungsoo pergi, ia sempat menengok kakaknya yang masih dalam keadaan seperti tadi. Ia hanya tertawa dalam hati. Kemudian gadis itu beralih ke masalah lain. Jika nomor apartemennya 87, maka apartemen 89 adalah… Yup, benar. Apartemen milik Byun Baekhyun.
Kyungsoo pun berjalan ke apartemen Baekhyun. Dia memegang dadanya sendiri, gemuruh di dalam hatinya itu tiba-tiba datang begitu saja. Apa karena ia akan menemui Baekhyun?
Sampai di sana, Kyungsoo langsung mengetuk pintu apartemen bernomor 89 itu. Tak lama, suara seseorang mempersilahkannya masuk ke dalam.
“Silahkan masuk.”
Kyungsoo mengikuti suara tersebut. Dibukanya pintu itu perlahan, hingga tampaklah seseorang yang Kyungsoo kenal, Baekhyun. Pria itu terlihat habis meminum obat.
“Annyeonghaseyo…” sapa Kyungsoo.
Malam ini Kyungsoo memakai kaos tipis putih, membuat bra hitam yang menutupi payudaranya tampak kelihatan. Sementara itu, untuk bagian bawahnya, dia memakai celana panjang. Baekhyun yang melihat pemandangan itu seketika menganga lebar.
“Nado annyeong… Duduklah! Maaf aku belum sempat menata apartemen ini. Jadi kuharap kau bersedia duduk di lantai. Maafkan aku,” balas Baekhyun tanpa mengalihkan pandangannya.
Kyungsoo yang baru saja melihat Baekhyun selesai meminum obat berujar, “Ah, tidak apa-apa kok. Tapi sepertinya kau kurang baik. Ada apa?”
Baekhyun menghentikan lamunannya. Ada apa dengan pria ini? Hanya melihat payudara Kyungsoo yang tertutupi bra saja membuatnya berpikiran macam-macam.
“Aku hanya sakit kepala saja. Dan obat inilah yang membantuku,” ujar Baekhyun sambil menunjuk obatnya.
Kyungsoo terkejut. Lensa matanya melebar alami saat ia meneliti benda itu dari jauh. Ada yang aneh.
‘Aku baru tahu jika ada obat sakit kepala yang dikemas mirip dengan obat penambah stamina,’ batin Kyungsoo.
Gadis itu heran. Kenapa ada gambar seorang pria kekar yang sedang memamerkan ototnya di kemasan obat itu? Apa Baekhyun tidak menyadarinya? Dan sebenarnya Baekhyun tidak menyadari gambar itu. Kyungsoo pun tak mempermasalahkannya. Toh, tujuannya kemari hanya ingin mengantar kue tersebut.
“Baekhyun, ini untukmu,” ucap Kyungsoo seraya menyodorkan bingkisan kuenya pada Baekhyun.
“Untukku? Tidak usah repot-repot,” balas Baekhyun kemudian mendorong bingkisan itu.
“Terimalah, kumohon. Sebagai tetangga baru sudah sepatutnya saling berbagi, kan?”
“Jinjja? Gomawo. Geunde, apa isinya?” tanya Baekhyun sambil meneliti bingkisan itu.
“Buka saja. Nanti kau tahu.”
Tanpa Kyungsoo suruh pun, Baekhyun pasti membukanya. Saat ini ia tengah sibuk membuka ikatan-ikatan talinya. Setelah selesai, pria itu segera membuka bingkisan tersebut.
“Waaaaah… Kue beras.”
Tangan Baekhyun langsung mengambil salah satu kue yang ada di dalam sana lalu memasukkanya ke mulut. Kemudian, pria itu mengungunyahnya.
Mulut Baekhyun yang penuh dengan kue berbicara, “Mmm… Ini sangat enak. Gomawo, Kyungsoo-ya,” lalu dibalas dengan senyuman Kyungsoo.
“Omong-omong, siapa yang membuatnya?” lanjut Baekhyun.
“Kalau kue injeolmi ini eommaku yang membuat, sedangkan kue gyeongdan akulah yang membuatnya. Coba saja!”
Baekhyun mengikuti perkataan Kyungsoo. Dimakannya kue tersebut. Tak lama, wajah Baekhyun terlihat sumringah lagi.
“Ini enak sekali. Rasa manisnya sangat pas. Kau pandai sekali membuatnya,” puji Baekhyun membuat Kyungsoo malu.
“Terimakasih, Baekhyun.”
“Hey, bagaimana jika kita memakannya bersama? Aku tidak yakin bisa menghabiskannya sendiri.”
Kyungsoo pun menerima ajakan Baekhyun. Mereka berdua memakan kue itu bersama-sama. Sesekali Baekhyun menceritakan lelucon yang membuat Kyungsoo tersedak karena tak bisa menahan tawa. Setelah dirasa cukup, Kyungsoo pun berinisiatif untuk pulang.
“Baekhyun, sudah larut malam. Sebaiknya aku pulang. Gomawo atas semuanya.”
Kyungsoo beranjak dari tempat duduknya. Baru satu meter melangkah, ada yang menarik tangannya. Spontan ia menengok ke pemilik tangan itu.
“Baekhyun, lepaskan!”
“Kyungsoo, jangan pergi! Temani aku di sini, nde? Apa kau tega meninggalkanku? Bagaimana jika terjadi apa-apa padaku?”
Kyungsoo berusaha melepaskan tangan Baekhyun. Namun ia tidak bisa, dan bahkan cengkraman Baekhyun semakin kuat.
“Baekhyun, lepaskan. Kumohon! Aku ingin pulang!” pinta Kyungsoo.
Baekhyun tetap menarik tangan Kyungsoo. Ia mencoba membawa masuk gadis itu ke dalam apartemennya lagi. Karena Kyungsoo tidak mau, ia mulai bertindak kasar.
“Aw, Baekhyun, sakit. Berhenti! Lepaskan aku sekarang!” erang Kyungsoo.
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menemaniku.”
Ingin rasanya Kyungsoo menampar pria itu. Baekhyun yang ia kira adalah pria baik-baik, rupanya adalah seorang yang kurang ajar.
“Ayolah, Do Kyungsoo. Aku yakin kalau kau sudah biasa melakukannya.”
Hati Kyungsoo bagai ditusuk paku berkarat saat mendengar perkataan Baekhyun. Jikalau Baekhyun tidak mencengkram kuat tangannya, ia ingin sekali merobek-robek mulut pria itu. Wanita mana yang tidak marah jika ada seseorang yang berbicara lancang seperti itu padanya?
Tiba-tiba Baekhyun menutup pintu apartemennya. Dihimpitkannya tubuh mungil Kyungsoo ke pintu dengan tubuhnya.
TBC
%d blogger menyukai ini: