It’s You Part 1 of 2

0
it's you ff nc 17
Author : baozi
Tittle : It’s You Part 1
Category : Sad, Romance, Yadong, Twoshoot
Rating : NC 17
Cast : Cho Kyu Hyun
Hyun Je Mi
Kim Hyun Soe
Hyun Jae Hyun
And other cast~
Legth : Twoshoot
Happy Reading~
Terlalu banyak kata yang ingin aku katakan
Tapi aku tidak bisa mengatakan semua itu
Kita mengatakan semua baik baik saja,
Menghibur hati masing – masing yang sebenarnya terluka
Ketika aku mengingat masa lalu,
Dimana kita begitu bahagia,
Terlintas dalam benak, seharusnya kita tidak berpisah~
*Flasback On
“Kita berakhir saja Je Mi-aa.”
Hyun Je Mi, mendongkak menatap kekasihnya. Ia tersenyum miring, meremehkan ucapan kekasihnya yang ia kira sebuah candaan. Gadis itu tersenyum, menatap wajah tampan pria yang sudah 3 tahun ini mengisi hatinya. “Kau jangan bercanda.” Ucap gadis itu meremehkan. Ia menatap wajah sendu pria itu.
Cho Kyu Hyun, menghela nafasnya. Ia menatap sesaat kembali wajah kekasihnya. “Apa aku terlihat seperti itu.” Je Mi menautkan alisnya, tak mengerti.
“Kita akhiri saja hubungan ini. Aku serius.”
“Tapi kenapa? Apa salah ku? Kita baik-baik saja bukan..” lirih gadis itu. Ia menghembuskan nafasnya, matanya memanas tak habis pikir dengan apa yang namja itu sampaikan. Mengakhiri hubungan yang sudah sejauh ini. “Aku tetap ingin berakhir.” Tegas namja itu.
“Cho Kyu Hyun.” Pekik nya keras, nafasnya memburu ia memejamkan matanya saat tak mampu lagi membendung air matanya. “Beri aku alasan.” Je Mi terdiam. Tak sanggup melanjutkannya, hatinya terasa teriris saat pria yang sangat ia cintai tiba-tiba meminta menghakhiri hubungan mereka. Hatinya terasa sesak.
“Setidaknya beri aku alasan, kita bersama sudah tidak hanya dalam hitungan hari Oppa..” lirih gadis itu serak, ia menghapus air matanya dengan kasar. Menarik nafas panjang. Cho Kyu Hyun  memejamkan matanya. melihat tangisannya itu, sama seperti siksaan untuknya. “Kita akhiri saja.” Tegasnya kembali. Je Mi menatap sedih namja yang berdiri dihadapannya. Niatnya memenuhi janji sore ini untuk bertemu dengan namja itu, nyatanya berakhir dengan permintaan menyakitkan dari namja itu. “Tidak. Tidak. Setidaknya beri aku alasan. Aku mencintai mu…”
Namja itu memalingkan wajahnya. Ia menarik nafas panjang. Berjalan mendekati gadis yang tiga tahun terakhir ini mengisi hatinya. Ia memegang bahu gadis itu.“Maafkan aku, aku sudah tidak mencintai mu lagi Je Mi-aa”
“Kyu Hyun.. kau..” lirih gadis itu menangis, matanya mengabaur. Aku sudah tidak mencintai mu lagi. Bahkan kata-kata Kyu Hyun terus terngiang dibenaknya.
*Flashback Off
Keringat mengucur deras didahi gadis itu. Hyun Je Mi, menghela nafasnya saat lagi-lagi kilasan menyakitkan itu menjadi mimpi buruk baginya. Mimpi buruk karna itu semua memang bagaikan mimpi. Mimpi yang hingga kini belum bisa ia terima. Kenyataan bahwa hubungannya dengan lelaki yang sangat ia cintai. Berakhir mengenaskan. “Aku benar-benar bodoh, berharap bahwa itu hanya mimpi…” Hyun Je Mi mengusap wajahnya kasar, terbangun ditengah malam karna mimpi buruk itu memang bukan hal asing. Gadis itu bahkan selalu mengingat kilasan menyakitkan itu, sulit untuk melupakannya. Karna bahkan itu juga menjadi, bunga tidur untuk nya disetiap malam.
Hidupnya terlalu hampa, saat tak lagi melihat senyuman itu. Gadis itu kesulitan bernafas, saat lagi-lagi hanya wajah Kyu Hyun yang memenuhi kepalanya. Lalu air matanya, takkan henti menetes saat hatinya mulai nyeri karna rasa rindu yang sudah teramat dalam untuk Kyu Hyun.
..
“Aku akan cemas jika kau sakit, seperti ini sayang..”
Kyu Hyun dengan lembut mengusap puncak kepala kekasihnya. Tersenyum menatap wajah pucat gadis yang ia cintai. Je Mi tersenyum kecil, ia menyampirkan rambutnya lalu menatap kehadiran pria dihadapannya pagi ini. Tersenyum, Kyu Hyun adalah orang pertama yang akan memiliki rasa khawatir berlebih jika ia di dera sakit. “Aku sudah tidak apa-apa.” Jawabnya lemah.
“Ayo kau harus menghabiskan makanan mu, setelah itu kau minum obat.”
Hyun Je Mi, tersenyum miris saat bayangan menyakitkan itu memenuhi pikirannya. Ia terus menjerit, mengapa sesulit ini menerima bahwa hubungan mereka sudah berakhri. Mengapa sesulit ini melupakan, namja itu. Setiap hari, rasa rindunya untuk pria itu semakin menumpuk. Sulit sekali menerima kenyataan tersebut. Je Mi selalu berharap, bahwa Kyu Hyun datang menemuinya dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Terlalu sulit menjalani hidup tanpa, pria itu.
TEETT TEETT!!
Je Mi mengdongkak, telinganya menangkap jika bel rumahnya berbunyi. Harapan akan kedatangan seseorang yang ia rindukan memenuhi benaknya. Ia segera berlari dengan cepat. Nafasnya memburu, jantungnya berdebar dengan pelan ia menarik knop pintu melihat sosok yang berdiri didepan pintu rumahnya.
“Jae Hyun Oppa?” Hyun Jae Hyun, membalikkan tubuhnya. Memberi senyuman sambutan untuk adik tercintanya. Namja berlesung pipi itu membelai rambut adiknya. Hyun Je Mi menghela nafasnya. Kenyataan lain yang membuatnya, semakin sakit adalah harapan kosong seperti saat ini. Harapan kedatangan namja itu, yang selalu berakhir mengecewakan. “Bukan diaaa?” gumamnya pelan.
Jae Hyun, melonggarkan pelukannya menatap adiknya. “Kau sedang menunggu seseorang?” Hyun Je Mi terkesiap, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Je Mi mencoba tersenyum menyambut kedatangan, kakaknya. “Ada apa pagi-pagi berkunjung?” tanya gadis itu. Jae Hyun tersenyum, pasalnya Jae Hyun yang kini sudah berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis jarang sekali mengunjungi adiknya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya, untuk bekerja. Meski begitu mengingat, mereka yang sudah tidak memiliki orang tua tetap membuat namja itu merasa khawatir terhadap adik semata wayangnya tersebut. Mereka yang hanya terpaut, usia lima tahun memang sejak kecil memiliki kedekatan yang cukup erat. “Hari ini Oppa sedang libur, jadi berkunjung kemari.”
Je Mi, ia dengan malas ikut mendudukan bokongnya disamping Jae Hyun.  “Ada apa?” tanya namja itu, ia sedikit heran tidak biasanya ia disambut dengan wajah murung seperti ini. “Tidak apa-apa.” jawab gadis itu berbohong. Hyun Jae Hyun menatapi wajah murung adiknya. Terlalu mudah untuk namja itu mengetahui, apa saja yang tengah gadis itu alami. Jae Hyun tentu mengerti, Je Mi terlihat memendam kesedihan.
“Ada masalah? Katakan dan ceritakan pada Oppa, hmm…?” Hyun Je Mi, mendongkak hatinya menjerit ragu sejak kecil ia selalu berbagi banyak hal pada Jae Hyun. Tapi apa kali ini ia, juga harus menceritakannya.
“Aku hanya merindukan Appa dan Eomma.” Kilah gadis itu. Jae Hyun menatap sendu adiknya, ia menarik gadis itu kedalam dekapannya. Jika sudah menyangkut mendiang kedua orang tua mereka, namja itu selalu tak mampu berkata apapun. Karna sesungguhnya, ia juga merasakan apa yang Je Mi rasakan.
“Baiklah, hari ini kita mengunjungi Appa dan Eomma bagaimana?” Je Mi mengangguk dengan cepat, meski ia membohongi Jae Hyun ia juga tidak mampu menolak usulan kakaknya. Karna sesungguhnya, ia memang merindukan mendiang orangtuanya. “Aku ingin membawakan bunga kesukaan Eomma. Oppa juga harus membelikan, wine kesukaan Appa.”
..
*Flashback On
Hyun Je Mi membelai rambut hitam namja yang menenpatkan kepalanya dipangkuannya. Ia tersenyum, memandang wajah Kyu Hyun yang terlelap dipangkuannya. Je Mi menatap, mata namja itu yang terpejam. Senyum kecil, tertarik dari sudut bibirnya Kyu Hyun sudah layaknya seperti seorang bayi jika sedang terlelap seperti ini. Terlihat tampan, dan membuat damai bagi siapapun yang memandangnya.
“Hari ini melelahkan sekali.” Desah namja itu, Je Mi menghentikan kegiatannya mengelus rambut Kyu Hyun saat namja itu membuka matanya. Siang ini, Kyu Hyun berkeluh banyak hal padanya terutama mengenai pekerjaannya. Pasalnya ini adalah pekan pertama, ia menyandang jabatan Direktur di Perusahaan Ayahnya.
“Kau terlalu banyak mengeluh.” Canda gadis itu. Kyu Hyun mendecak kesal, menatap kekasihnya. “Kau saja yang tidak tau sebarapa banyak pekerjaan yang dihadapan padaku setiap harinya. Itu sangat banyak, sayang.” seru Kyu Hyun. Je Mi hanya tersenyum kecil, mendengar keluhan kekasihnya.
“Aku ingin mengambil cuti saja.”
“Eyy mana bisa begitu, kau baru bekerja satu minggu.”
“Aku tidak peduli. Toh aku kan Presdirnya..”
“Jangan temui aku jika, kau melakukan itu.”ancam gadis itu.
“Kau mengancam ku, Hyun Je Mi. Kau harus tau jika, ia sangat berat untuk ku.” Keluh Cho Kyu Hyun lagi.
Je Mi menatap tajam Cho Kyu Hyun. Tentu ia tidak akan setuju, menurutnya Kyu Hyun saat ini masih dalam tahap menyesuaikan diri ia juga menyadari jika memimpin sebuah Perusahaan bukanlah hal yang mudah. “Kau harus bersabar. Kau pasti bisa, Oppa..” seru gadis itu dengan lembut. Ia tersenyum mencoba memberi keyakinan untuk kekasihnya. Kyu Hyun menghembuskan nafasnya.
“Oppa, Aboeji akan kecewa pada mu. Kau ingat bagaimana ia mempercayakan Perusahaan untuk menjadi, tanggung jawab mu? Ingat, kalau bukan kau siapa lagi? Kau hanya perlu bersabar, nanti juga terbiasa. Aboeji kan orang yang, hebat. Aku yakin kau pasti akan sehebat Aboeji. Jadi kau harus semangat, arrasseo?”
Cho Kyu Hyun, menatap lembut gadis dihadapannya. Je Mi memang sangat berpengaruh untuk semua hal yang ia rasakan, gadis itu akan dengan mudah mengembalikan semangat nya dan tidak pernah lelah menasehati nya. Dan Kyu Hyun selalu berterimakasih, akan hal itu. “Arrasoe. Sebagai gantinya aku ingin, kau membuatkan menu makan siang untuk ku setiap harinya. Dan mengantarnya, ke kantor otthe?”
“Aku harus memasaknya sendiri?” Kyu Hyun dengan cepat menganggukan kepalanya. Je Mi tersenyum, senyum yang semakin menambah kecantikannya. Sebenarnya bukan hal yang sulit jika hanya memasak, ia sudah terbiasa akan hal itu jadi permintaan Kyu Hyun tentu tidak masalah baginya.
“Arrasseo. Kau juga harus lebih semangat dan bekerja keras yaa?
“Ya aku berjanji.”
*Flashback off
Pikirannya terlalu kalut, dan dengan bodohnya kini Je Mi mematung tidak menyadari jika kakinya membawanya ke sebuah bangunan bertingkat yang dipenuhi berbagai kesibukkan. Je Mi menggelengkan kepalanya. “Bagaimana bisa aku disini?” batin gadis itu.
Hyun Je Mi memejamkan matanya, ia tidak mengira ingatan akan Cho Kyu Hyun membawa dirinya ketempat namja itu bekerja. CHO Corp. kakinya sedikit sulit ia gerakkan, saat Je Mi bersihkeras hendak pergi meninggalkan tempat itu. Namun semua nya berbanding terbalik, hatinya berkeinginan untuk tetap ditempat itu. Dengan sedikit harapan dapat melihat Kyu Hyun. “Aku tidak peduli. Setidaknya melihatnya sebentar, lalu pergi ya benar Hyun Je Mi setelah melihatnya kau bisa langsung pergi..”
Hyun Je Mi melangkahkan kakinya, dengan pelan, ingatannya masih jelas betul akan arah mana yang harus ia pilih yang bisa membawanya menemui Cho Kyu Hyun. Ia masih cukup pintar untuk tidak mengahapus semuanya, ingatan saat dimana setiap hari ia mengunjungi tempat itu.
Hyun Je Mi semakin mempercepat langkahnya, saat melihat beberapa orang silih bergantian meninggalkan ruangan yang gadis itu yakini sebagai ruangan Kyu Hyun. Hatinya cukup resah, membayangkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi. “Nona maaf apa yang terjadi?” Je Mi menghentikkan seorang wanita berseragamm formal, yang baru saja keluar dari ruangan yang bertuliskan CEO. “Presdir. Cho pingsan. Ku lihat sepertinya dia sakit, saat memimpin rapat tadi.”
Hyun Je Mi cukup bodoh untuk sekedar mengucapkan terimakasih, namun semuanya ia lupakan saat kakinya membawanya segera berlari menuju ruangan itu. Hatinya cukup berdenyut, mendengar kenyataan tadi. Apa yang terjadi? Jerit gadis itu selalu.
Je Mi mengatur nafasnya, saat beberapa orang mulai meninggalkan ruangan itu. Menyisakan seorang namja dan seorang wanita cantik disampingnya. Je Mi melangkah dengan takut-takut. Air matanya sulit ia tahan, saat melihat wajah pucat dan sendu Kyu Hyun. “Oppaa…” lirih Hyun Je Mi.
Cho Kyu Hyun mengalihkan tatapannya, saat mendengar suara yang begitu ia rindukan. Ia menarik nafasnya, saat melihat Je Mi berdiri dihadapannya. Ia tidak cukup bodoh untuk menyembunyikan rasa terkejutnya. Kyu Hyun menatap dingin, sosok Je Mi.
“Apa yang membawa mu kemari, Hyun Je Mi?” Hyun Je Mi mengahapus air matanya, saat mendengar nada dingin dari ucapan Kyu Hyun. Gadis itu memejamkan matanya, menguatkan perasaannya. Selama ini, Je Mi tidak pernah bermimpi Kyu Hyun akan bersikap sedingin ini padanya.
“Oppa kau sakit? Kau baik-baik sajakan, wajah mu benar-benar pucat..” Cho Kyu Hyun menepis dengan halus tangan gadis itu. “Jangan sentuh aku.” Desis namja itu pelan.
“Apa ini mengapa kau sedingin ini? Aku tidak berharap akan seperti ini meski memang hubungan kita berakhir Oppa, kau tau aku masih mencintai mu…”
“Aku mencemaskan mu. Bahkan aku sangat merindukan mu.” Hyun Je Mi mengahapus kembali air matanya. Hatinya teralu pedih, menerima semua sikap Kyu Hyun yang teramat dingin dan tak ingin ia sentuh sama sekali.
“Oppa akuu…”
“Jangan sentuh aku dan pergilah Hyun Je Mi…” desis namja itu dengan tegas. Ia mengepalkan tangannya, saat sekali lagi melirik wajah kesakitan dari gadis itu. Hatinya ikut perih, mengapa ia mengambil pilihan dengan bersikap demikian pada gadis itu.
Je Mi menagis dengan pilu, apa salah dirinya? Gadis itu melirik seorang wanita berseragam putih, yang duduk disamping Kyu Hyun. Wanita itu, menampakkan wajah heran dan bingung. Berbeda hal nya dengan Je Mi, hatinya kembali teriris saat melihat dengan jelas Kyu Hyun mengenggam dengan erat jemari wanita itu.
“Ku rasa kalian, perlu berbicara berdua..”
“Tidak. Tidak. Kumohon tetaplah, disini Hyun Soe-yaa..”
Hyun Je Mi, mencibir dengan menyedihkan saat melihat tatapan lembut yang Kyu Hyun pancarkan pada wanita itu. Hatinya menjerit sakit. Ia terlalu mencintai pria itu. Dan semuanya benar-benar terasa sakit, saat otaknya mulai menjawab siapa wanita itu.
“Jadi dia yang sudah membuatmu, tidak mencintai ku lagi Cho Kyuhyun…” batin Hyun Je Mi.
“Apa ini. Katakan apa wanita ini yang membuat mu, mengakhiri hubungan kita?” Hyun Je Mi memejamkan matanya, saat melihat pria itu memilih diam dan enggan menatapnya sama sekali. Kenyataan lain yang begitu menyakitkan, ia rasakan hari ini. Dan ini lebih menyakitkan, dibanding hatinya yang tidak rela akan berakhirnya hubungan mereka.
“Pergilah. Kurasa semuanya, sudah jelas kita sudah berakhir dan jangan mengganggu ku lagi Hyun Je Mi..”
“Kyu Hyun Oppa..” lirih gadis itu dengan pilu.
“Jadi benar kau yang sudah membuat ku, kehilangan Kyu Hyun Oppaa… Apa yang sudah kau lakukan pada kekasih ku huh?” teriak Je Mi dengan air mata yang mengalir, ini lebih menyakitkan menerima bahwa ada wanita lain yang membuat hubungan mereka berakhir.
“Jangan berteriak pada wanitaku, Hyun Je Mi.”
Tubuh nya merosot dengan menyedihkan saat kata-kata manis yang bagai pedang itu, menusuk telinganya. Hyun Je Mi menahan sakit, saat lagi-lagi ucapan namja itu membawa kesadaran bahwa ia tak lagi berarti untuknya. “Kau benar-benar jahat..” lirihnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan, membekap tangisannya. Saat melihat langkah Cho Kyu Hyun dan wanita itu yang meninggalkan Je Mi seorang diri.
Hyun Je Mi menangis dengan nyaring, dadanya benar-benar terasa sesak. Ia terlalu sulit menerima kenyataan pahit ini. Kenyataan bahwa ia dicampakkan. Ia dicampakkan karna wanita lain.
“Kau benar-benar jahat, Oppaa…”
..
“Yeoboseyo, Oppaa..”
“Bagaimana kabar mu?”
“Aku baik, bagaimana dengan Oppa?”
“Ya aku juga baik. Je Mi-aa sebentar lagi malam natal, Oppa ingin kau menginap di Apartemen Oppa arrassoe?”
Je Mi membeku. Malam natal. Hatinya bergemuruh, jika mengingat mengenai malam natal. Rasanya, ia tidak ingin merayakannya. Karna itu hanya akan mengingatkannya pada Cho Kyu Hyun.
“Kita rayakan bersama, Oppa juga ingin mengenalkan seseorang yang special padamu.”
“Jinja Oppa apa dia kekasih mu?”
“Kau akan tau nanti,”
“Eyy jawab saja, jangan membuat ku penasaran?”
“Kau akan tau nanti. Sudah ya, Oppa tutup samapai jumpaa…”
“Yak! Oppa…”
               
“Malam natal….?” Batin Hyesun. Ia tersenyum kecut, malam natal kini menjadi bagian yang cukup pahit untuk nya karna itu mengingatkannya akan Cho Kyu Hyun.
“Seberapa sakit pun itu. Aku bahkan masih sangat mencintai mu..”
Ketika air mata ini mengalir
Semua kenangan kembali teringat
Dan aku tidak tahu harus melakukan apa
Semua terlalu menyakitkan,
Karen kita berjanji untuk saling melepas pergi
Tapi ketika hati ini kembali tidak yakin
Setidaknya izinkan aku mendengar hembusan nafasmu
*MALAM NATAL
Je Mi menatap langit yang dipenuhi bintang malam ini, terlihat indah dengan hembusan angin yang menusuk kulit. Setelah tidak ingin, mengecewakan Jae Hyun. Je Mi kini tengah menikmati udara malam natal, di Apartemen milik Hyun Jae Hyun. Mereka akan merayakan malam natal bersama. Kini ia tengah, menunggu seseorang yang dimaksudkan Jae Hyun sebagai orang special.
“Kenapa lama sekali?” decaknya kesal. Je Mi segera melangkah, saat mendengar suara Jae Hyun dan seorang wanita. Ah itu pasti, kekasih Oppa.. batinnya.
“Oppa kenapaaa……?” Je Mi diam membeku, menatap siluet wanita cantik yang berdiri disamping Jae Hyun. Gadis itu Kim Hyun Soe, wanita yang sama yang ia ketahui sebagai wanita yang membuat Kyu Hyun mencampakkannya.
Hyun Je Mi menautkan alisnya. “Kau bukankah?”
“Kau sudah mengenal Hyun Soe, Je Mi-aa?”
Semua terlalu mengejutkan,
Sampai tidak ada satu katapun yang ku ucap
Hanya terdiam, dengan menggenggam hati yang berdebar ini
Sebelum semua itu terucap, air mata terlebih dulu mengalir
“Kau pasti mengalami banyak kesulitan?”
“Kau dimana sekarang Cho Kyu Hyun?”
“Lebih cepat lagi Pak, ku mohon..” intrupsi Je Mi pada seseorang yang tengah mengemudi didepannya itu. Air matanya tak henti-hentinya mengalir saat setelah mengetahui kenyataan yang lebih menyakitkan dari pada menahan rindu yang begitu besar untuk Cho Kyu Hyun.
Kim Hyun Soe. Wanita itu menjelaskan semuanya, padanya. Apa yang terjadi pada Cho Kyu Hyun.
“Aku bukan kekasih nya. Dia sengaja membohongi mu, aku adalah Dokter yang menanganinya. Kau harus tau, bahwa Kyu Hyun sangat mencintai mu Je Mi. Dia tidak benar-benar ingin, mengakhiri hubungan kalian. Dia Cho Kyu Hyun, terdiagnosa gagal jantung. Ya belum lama ini, ia berjuang untuk terus bertahan dengan jantung nya yang lemah dan mengalami masalah. Ia hanya tidak, ingin membuat mu semakin hancur saat jika Kyu Hyun sudah tidak mampu lagi bertahan untuk hidupnya. Ia ingin kau membencinya, agar kau tidak merasa sedih saat ia pergi. Tapi ketahuilah, kau adalah alasan Kyu Hyun bertahan sejauh ini Je Mi”
Ucapan Hyun Soe terus terngiang, dibenaknya. Hyun Je Mi mengumpat berulang kali. “Dasar pria bodoh.” Umpatnya dalam hati.
Kini yang Je Mi inginkan, adalah bertemu dengan pria itu. Mengapa Kyu Hyun begitu, bodoh. Je Mi juga terus merasa menyesal kenapa, tidak merasa curiga sejak awal. Je Mi menatap cemas rumah megah dihadapannya. Yang ia takutkan, hanya satu bagaimana jika Kyu Hyun tidak ada. Je Mi menatap cemas, pintu yang tak kunjung terbuka. Jantungnnya berdebar dengan keras, namun itu juga tak mampu membuat air matanya berhenti mengalir.
CKLEKKK
“Cho Kyu Hyun..”
..
Mereka terdiam menatap satu sama lain. Hyun Je Mi menatap sendu Kyu Hyun yang berbaring disampingnya. Tangan itu sesaat tergerak membelai rambut Je Mi, Kyu Hyun tersenyum. Lalu bergumam, “Aku merindukan mu Hyun Je Mi.”
“Apa rasanya sakit? Kau baik-baik saja kan, Oppa? Bagaimana cara mengobatinya? Apa dengan operasi? Bagaimana dengan Jerman, atau Singapura, disana kau pasti bisa sembuh.”
Cho Kyu Hyun tersenyum tipis, tangannya masih setia memberi belaian pada rambut Je Mi. Mendengar rentetan pertanyaan itu, bahkan dadanya terasa sesak. Ia sudah berusaha semampu mungkin. Dan akhirnya ia hanya akan membuat, gadis itu bersedih. Itu yang Kyu Hyun benci.
“Rasanya sangat sakit, sayang..” lirih namja itu. Hyun Je Mi memejamkan matanya, lalu tetesan air mata mengalir dengan pilu dipipinya.
“Bagaimana cara membuat mu sembuh, Oppa? Katakan, aku …” Hyun Je Mi membekap mulutnya, saat air mata kesedihan semakin menguasai perasaannya. Ia tidak mampu berkata apapun lagi.
“Jangan khawatir…” pinta Kyu Hyun dengan suara serak, ia terus menatap Je Mi yang terisak menangis. Kyu Hyun menahan nafasnya saat gadis itu, benar-benar menangisi keadaannya saat ini. “Aku harus bagaimana Oppa. Katakan, tapi ku mohon jangan meminta ku menjauh dari mu akk akuu ….”
Kyu Hyun dengan cepat menarik tubuh itu dalam pelukannya. Kyu Hyun memeluk erat tubuh Je Mi yang bergetar. Kyu Hyun tak mampu berkata ia juga tak sanggup melihat air mata, dari wanita yang ia cintai. Terlebih air mata itu untuk dirinya. Je Mi menangis pelan, ia memegang erat baju bagian depan Kyu Hyun.
“Aku tidak bisa. Biarkan aku tetap disisi mu, aku ingin bersamamu..” isak Je Mi dengan pelan. Gadis itu kembali menangis, rasanya yang ia inginkan saat ini hanya menangis dan memeluk Kyu Hyun untuk waktu yang lama.
“Berhenti menangis. Kau malah semakin membuat ku merasa tidak berguna. Ini bahkan tidak lebih sakit, dari saat aku menahan rindu ku padamu. Aku bertahan untuk mu. Sejauh ini, ….”
Kyu Hyun mengecup pelipis Je Mi, menaruh dagunya dikepala gadis itu. Lalu menempatkan satu tangan Je Mi, tepat di dadanya. Je Mi mendongkak, menatap Kyu Hyun saat ikut merasakan detak jantung Kyu Hyun yang terdengar sangat pelan.
“Kau yang membuat ini, bertahan sampai sejauh ini. Aku merasa tidak berarti saat mengetahui kenyataan, saat tau jika aku akan membuat mu hancur dan sedih. Membuat mu menangis. Aku tidak ingin Je Mi. Tapi aku tidak sadar jika aku bertahan sejauh ini, karena mu. Maka dari itu, maafkan aku. Aku tidak benar-benar tidak mencintai mu lagi. Aku sangat mencintai mu.” Jelas namja itu dengan pelan,
“Katakan kau akan sembuh kan? Kau harus sembuh, kau tidak akan meninggalkan aku kan? Katakan Oppaa..”
“Aku tidak tau.”
“Apa maksud mu?” Je Mi mengguncang tubuh Kyu Hyun, kembali terisak karna tidak mampu berkata-kata lagi.
Kyu Hyun menarik nafas panjang. Matanya memerah, dengan tangan bergetar ia menangkup wajah Je Mi. Menghapus jejak air mata dipipi gadis itu. Mengecup kening Je Mi, cukup lama. “Apapun yang terjadi besok atau nanti. Jika kau sudah tak menemukan ku, disamping mu. Ku mohon jangan menangis, dan menjadi hancur karena aku. Kau harus tetap menjalani hidup mu dengan baik. Berjanjilah.” Tutur namja itu dengan pilu, Je Mi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Menahan tangisan yang semakin terasa menyesakkan dada.
One Years Latter
Je Mi POV
“Nafas ini, membuka mata ini setiap hari
Sulit untuk sekedar melewati hari demi hari
Aku bahkan tidak bisa mengatakan padamu
Melewati semua ini lebih menyakitkan dari semua rasa sakit
Mengingat kau hanya akan khawatir,
Seperti orang bodoh, kubiarkan nafas berat ini mewakili”
“Aku bahkan tidak siap tetapi air mata membasahiku
Tidak peduli betapa aku inginkan dan ingin kau
Satu-satunya hal yang tidak bisa kumiliki saat ini adalah kau
Mengapa harus Kau?”
Hatiku berontak untuk menemukanmu kembali. Mengapa semua ini tidak cepat berlalu? Sulit menjalani hidup ini tanpa kehadiranmu. Aku tidak pernah tau  bahwa ini akan sesulit ini. Bahkan hanya untuk sekedar menjalani hidup. Semuanya begitu sulit. Malam itu menjadi saat terakhir untuk aku mendengar hembusan nafasnya. Merasakan pelukannya. Ia menghilang saat pagi, aku membuka mata. Dan ia tidak pernah muncul lagi. Aku bahkan benci mengingat jika ini sudah genap satu tahun aku menjalani hidup, tanpanya. Aku tidak tau, apa yang terjadi.
Dia menghilang seolah mengatakan pada semua orang, bahwa ia sudah pergi untuk selamanya. Tapi tidak untukku. Dia tidak benar-benar pergi. Dia bahkan selalu bersama ku. Entahlah, bahkan aku merasa gila saat ia tak kunjung kembali tapi aku merasa semakin mencintainya. Ia tidak ada. Tapi perasaan ini, tetap hadir. Aku gila. Aku gila karna aku semakin mencintai Cho Kyu Hyun.
Hari ini hujan di Bulan Desember untuk kesekian kalinya. Hari Natal semakin dekat. Tapi aku bahkan tak berniat beranjak sedikit pun untuk menyambut dengan antusias untuk merayakannya. Setahun ini aku kehilangan sesuatu yang menjadi alasan ku, bernafas. Aku merasa gila saat terus berharap bahwa Kyu Hyun tidak benar-benar sudah pergi. Aku selalu berharap ia akan kembali, dan muncul dihadapan ku.
“Je Mi Oppa membawakan sesuatu untuk mu. Makanlah.” Aku mendongkak saat melihat Jae Hyun Oppa menyiapkan sesuatu yang ia bawa untuk ku siang ini.
“Hmmm”
“Ayo kau harus makan.”
Jae Hyun Oppa menarik kursi disamping ku, duduk menatap ku yang terus mengabaikan perintahnya. Setelah Jae Hyun menikah, ya mereka kini sudah menikah. Maksud ku, Jae Hyun Oppa dan Hyun Soe Eonni. Hyun Soe Eonni bercerita banyak hal padaku. Dan aku merasa semakin bodoh mengapa aku tidak pernah menyadari kesakitan yang Kyu Hyun alami sejak dulu, mungkin jika begitu aku tidak akan terlambat. Aku sulit kembali menata hatiku. Yang ia tinggalkan begitu, saja. Seolah tau bahwa aku akan terus mencintainya, dia bahkan selalu hadir dalam mimpi ku. Aku harus bagaimana Cho Kyu Hyun?
“Pergilah berlibur. Kau butuh hiburan sepertinya.”
Aku melirik Jae Hyun Oppa yang tersenyum, membelai rambut ku. “Jangan khawatirkan aku. Kenapa Oppa kemari? Eonni pasti membutuhkan mu.”
“Ini Hyun Soe meminta ku, memberikan ini untuk mu. Katanya kau harus datang.”
Aku menautkan alis saat Jae Hyun Oppa, menyodorkan sebuah undangan padaku. Aku mengambilnya, bahkan aku tidak mengenal siapa yang mengadakan pesta itu. Tapi mengapa Hyun Soe Eonni meminta ku datang?
Aku merasa berdebar saat kembali mengingat jika aku datang ketempat, pertama kali Tuhan mempertemukan ku dengannya. Ada apa ini? aku bahkan datang dengan terpakssa untuk menghadiri pesta, yang Hyun Soe berikan padaku. Dan ya dengan aneh pula, mereka Hyun Soe Eonni dan Jae Hyun Oppa mendadani ku hingga sedemikan rupa. Dress sepanjang lutut berwarna peace, dengan sepatu dengan tinggi 5 cm, serta tas tangan yang cantik. Aku muak dengan ini semua, aku sudah katakan aku tidak ingin merayakan malam Natal tapi bahkan mereka dengan tega mengirim ku ke tempat ini. ah kencan buta? Tidak aku tidak ingin, kencan buta. Ya mungkin mereka yang mengatur semua ini, merencanakan malam ini yang sudah layaknya seperti kencan buta. Aku bahkan semakin yakin saat melihat sekeliling bahwa tempat ini sangat sepi? Ini pesta? Tapi mengapa ini sepi sekali? Aku menghembuskan nafas ku, menatap sekeliling. Malam sudah cukup larut, udara juga terasa sangat menusuk kulit. Dan mereka dengan tega membiarkan aku sendiri ditempat sepi ini dengan keadaan kedinginan. Aku akan membalasnya lihat saja.
“Seharusnya aku pergi, kenapa berdiam diri di sini…” gerutu ku kesal. Aku menatap sekeliling, tempat ini membuat ingatan itu begitu menusuk hati. Aku benci dengan semua ini. Benci jika aku harus kembali, menyadari betapa aku merindukan pria itu. Tuhan seharusnya membantu aku melupakan dia. Tapi bahkan Tuhan membuat ku semakin mencintai pria itu. Aku menarik nafas panjang. Memutuskan pergi dari tempat, itu.
Drrt Drrt Drrt
Aku menautkan alis menatap layar ponsel ku, melihat nomer asing yang menghubungi ku.
“Yeoboseyo..”
“Ini aku, sudah lama bukan”
Jantung ku berdebar dengan keras. Suara itu. Aku bahkan sangat ingat, siapa pemilik suara itu. Aku memejamkan mataku, saat tetesan air mata mengalir dari sudut mataku. Dia kembali.
“Aku merindukan mu Je Mi-aa”
TBC…
#panjang yaa semoga pada suka dengan ff ku ini. jadi ditunggu RCL nyaaaaaaa..

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: