Christmas Again!

0
kyuhyun ff nc terbaru christmas again
Tittle               : Christmas Again!
Author           : Angel_Cho
Main Cast     : Cho Kyuhyun, Lee Jiyoon
Genre            : Romance, NC21
Rate/ Lenght  : Oneshoot
Disclaimer      : Holaa~ ^^ Fanfic ini sebelumnya sudah pernah saya posting diwp pribadi saya. Satu lagi, ff ini sangat monoton dan tidak memilik puncak masalahnya, jadi mohon maaf jika ceritanya sangat membosankan -___-“

 Oke guys, Happy Reading and Sorry For Typos!
“Wellcome back Lee Jiyoon.”
Gadis itu merentangkan tangannya dengan riang saat ia baru saja menginjakkan kakinya di bandara Inceon seorang diri. Setelah sekian lama ia meninggalkan negara kelahirannya selama tiga tahun, kini ia kembali dengan seorang Lee Jiyoon yang berbeda.
Bukan lagi Lee Jiyoon yang mudah dibodohi dan bukan lagi Lee Jiyoon yang mudah termakan oleh kata-kata cinta. Ia bahkan sudah mengubur dalam-dalam cinta yang pernah tumbuh di hatinya selama tiga tahun ini. Tampaknya memang berhasil. Cinta itu tak pernah lagi ada di hati dan perasaanya. Semua sudah mati bersama terkuburnya angan-angan tentang halayan manis tentang cintanya dulu. Dan semua itu karena seorang pria brengsek yang sudah membuatnya hampir gila.
Demi Tuhan, ia tidak akan pernah melupakan perlakuan pria itu. Pria yang sudah membodohinya dengan rayuan kata dan bualan tak bermutunya. Ia membenci pria itu, kini dan sampai kapanpun. Bahkan untuk melihat wajahnya saja Jiyoon tidak sudi. Terlalu sakit jika mengingat bagaimana pria itu memperkalukan dirinya dengan tidak berperasaan. Dia pantas untuk dibenci setengah mati olehnya.
Deringan ponselnya sontak saja membuat gadis ini tersadar dari lamunannya. Diambilnya benda berlayar sentuh itu, dan nama Lee Hyukjae yang tertera disana.
“Yeobseyo oppa.”
“KAU DIMANA?!!”
Jiyoon meringis lalu menjauh ponselnya dari telinga karena bentakan suara dari seberang sana. Ia mendengus kesal. Karena Lee Hyukjae yang tak lain adalah kakaknya tanpa permisi bertanya yang seperti orang memakai pengeras suara saja. Benar-benar dasyat suara pria berumur tiga puluh dua tahun itu.
“Aku di depan bandara!” Sahutnya kesal. “Kau tidak perlu membentakku bodoh!”
“Tunggu, sebentar lagi aku sampai. Dan apa yang kau bilang tadi? Bodoh? Benar-benar adik yang tidak sopan.”
“Aku tidak peduli.”
Jiyoon kembali mendengus begitu sambungan teleponnya terputus begitu saja. Lagi-lagi pria itu telat menjemputnya, dan sudah sering sekali ini terjadi. Jika saja ia membawa beberapa lembar won, mungkin lebih baik naik dengan taxi, dari pada harus menunggu lama seperti ini. Menyebalkan!
.~o♥♥♥o~.
Lama Jiyoon menunggu kakaknya seperti kambing dungu di bandara Inceon sendirian. Bahkan ini sudah lewat dari setengah jam. Namun Hyukjae—si pria bodoh menurut Jiyoon ini tidak kunjung menampakkan batang hidung juga. Benar-benar membuat orang naik darah rupanya. Tidak tahukah jika ia tidak suka menunggu?
“Ck! Sungguh keterlaluan.” Gerutunya, lalu dengan kesal ia menyeret satu koper besarnya menuju kafe yang ada di sekitar bandara Internasional ini. Mungkin satu moccacino akan menenangkan kejengkelannya saat ini.
Ia terdiam saat ia baru saja berhasil masuk kedalam kafe itu. Matanya menelisik keseluruh sudut ruangan, mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman untuk di singgahi. Mulutnya melengkung membentuk senyuman ketika hazel mata menemukan meja kosong yang berada di sudut kafe ini.
Dengan rasa senang, Jiyoon melangkahkan kakinya menuju meja bernomor 26 itu.
Melirik kambali jam dipergelangan tangannya dan ia mulai tidak tahan menunggu kakak pertamanya itu. Oke, lebih baik ia mengirim pesan agar kakanya tidak mencarinya kemana-kemana.
‘Aku di kafe yang dekat dengan bandara’
Memasukkan ponselnya lalu memulai membuka buku menu dengan seksama. Well, sepertinya ia juga perlu makan, karena perutnya belum terisi semenjak ia terbang dari Amerika.
“Apa disini ada wine?” Jiyoon melirik pada sang pelayang yang berada di sampingnya.
“Iya nona, disini tersedia wine.” Sahut pelayan itu dengan sopan.
“Satu wine dan kue coklat.”
Pelayan wanita itu hanya mengangguk dan mengambil buku menu dari meja Jiyoon lalu pergi meninggalkan gadis itu kembali.
Jiyoon terkekeh sendiri saat sadar ia pesan makan yang sangat tidak sesuai dengan minumannya. Bayangkan saja, wine dan kue cokelat. Apakah itu perpaduan makanan yang sangat baik? Apa sangat aneh? Dan Jiyoon memilih pertanyaan opsi kedua, yaitu aneh. Karena itu memang faktanya.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya makanan yang Jiyoon pesan datang. Ia melirik satu botol wine dengan senyuman merekah. Minuman favoritnya. Tidak ada minuman yang seenak dan senikmat wine. Hanya wine yang selalu ia bawa kemana-kemana. Kecuali hari ini. Ia tidak membawa sebotol pun di dalam kopernya, karena setok wine dirumahnya memang telah habis. Sial!
Jiyoon mulai menuangkan winenya bersamaan dengan satu suap kue coklat masuk kedalam mulut mungilnya.
“Eumm…” Ia bergumam sebagai apresiasi atas kenikmatan kue coklat yang ia makan. Benar-benar nikmat ternyata. Dan setelah itu satu gelas wine kini masuk sempurna kedalam tubuhnya. Tidak peduli jika nanti ia mabuk atau tidak sadarkan diri. Lagi pula kakak yang menyebalkan itu akan menjemputnya ‘kan?
Okee, untuk gelas ketiganya Jiyoon mulai mengernyit, merasakan pusing yang mendadak merambah pada bagian kepalanya. Sial!! Jiyoon mengutuk botol cantik itu setelah membaca kadar alkohol didalamnya. Ia tidak tahu jika wine yang ia minum saat ini mempunyai kadar 70%.
Brengsek! Umpatnya dalam hati, saat ia sudah benar-benar mabuk. Kepalanya mulai hilang keseimbangan, hingga kini kepala berambut cokelat itu sudah terkulai di badan meja.
“Ya Tuhan Lee Jiyoon, kau mabuk?”
Jiyoon berusaha mendongkkan kepala yang terasa amat beratnya saat suara yang sangat ia kenal berdengung di telinganya. “Ouh.. oppa, wasseyo?”
Dia—Lee Hyukjae hanya meringis melihat adiknya perempuannya seperti ini. Ck! Ternyata benar-benar kelewat batas tingkah lalu adiknya. Apa seperti inikah tingkahnya selama di Amerika? Lalu Donghae—adik pertamanya ini mengajari Jiyoon seperti apa? Apa pria itu mengajari Jiyoon untuk minum-minuman? Yang benar saja.
“Kau ini benar-benar!” Ia menghembuskan nafasnya, lalu dengan perlahan Hyukjae mengangkat tubuh kecilnya. Dan meminta bantuan pelayan yang ada di kafe itu untuk membawakan koper Jiyoon. Ia juga tak lupa untuk membayar pesanan Jiyoon yang ternyata menghabiskan sedikit dompetnya. Astgaa….
.~o♥♥♥o~.
“Dia sudah kembali.”
Matanya melirik sedikit pada pria yang baru saja berujar, lalu smirk dimulutnya tersungging dengan penuh kemenangan. Gadis itu telah kembali. Gadis yang dulu selalu bersamanya.
“Aku tahu.” Sahutnya tanp menoleh ataupun melirik, ia lebih fokus dengan beberapa kertas di meja itu.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Aku sudah mempunyai rencana sendiri hyung.”
“Mendekatinya lagi?”
“Itu pasti akan sulit. Kau tahu sendiri bagaimana kali terakhir aku bertemu denganya?”
Pria yang duduk dengan menyesap kopinya itu hanya mengangguk paham. Sebab ia memang tahu bagaimana saudaranya ini bertatap muka dengan gadisnya. Ah.. tidak, mungkin lebih tepatnya mantan gadisnya.
“Kenapa kau tertawa?” Ia menghentikan kegiataannya saat kekehan dari pria yang berbeda empat tahun itu keluar dari mulutnya.
“Aku merasa lucu denganmu dan dia. Kisah manis yang berujung tragis.”
Dengusan kontan mencuat dari pria yang berprofesi sebagai CEO muda itu. Bercakap dengan hyung-nya memang tidak ada gunanya, jika pada akhirya kisah tragis hanya menjadi bahan ejekan saja.
“Tidak ada yang lucu hyung. Dia yang salah, bukan aku.”
“Tapi kau juga salah, tuan muda. Kau tidak memberikan penjelasan saat itu.”
“Aku tidak punya waktu.” Membuang nafasnya, lalu ia memilih melirik bingkai foto yang ada di meja kebesarannya itu. Foto yang ia ambil bersama gadisnya, tiga tahun lalu. “Sudahlah hyung, tidak ada guna berbicara denganmu.” Tambahnya lagi.
.~o♥♥♥o~.
“Ya!! Lee Donghae!!!” Hyukjae seketika menyembur bentakan pada adik lelakinya saat pria itu baru saja mengangkat telefonnya.
“Wae hyung? Kenapa kau berteriak padaku?”
“Apa yang lakukan pada Jiyoon hah? Apa selama ini kau mengajari adikmu dengan tidak benar hah?”
Hyukjae bisa mendengar dengusan Donghae dibalik suara telefonnya. “Memangnya apa yang dia lakukan?”
“Dia mabuk!”
“Ck! Kau meneriakiku hanya karena Jiyoon mabuk?” Hyukjae mengangguk mantap. “Dengarkan aku hyung, aku minta maaf sebelumnya karena aku tidak memberitahumu tentang kebiasaan dia selama dia disini. Jiyoon memang selalu fokus dengan study-nya, hanya saja dia selalu seperti itu, dia dalam keadaan pusing ataupun bosan. Demi Tuhan aku tidak pernah mengajari Jiyoon untuk mabuk. Tapi dia sendiri yang melakukan hal itu. Aku sudah ratusan kali menyuruhnya untuk berhenti minum. Namun dia tidak pernah mengindahkan ucapanku.”
Lee Hyukjae hanya diam mendengar ucapan demi ucapan yang Donghae jelaskan padanya. Ia tidak menyangka jika adiknya berubah seratus delapan puluh derajat setelah ia tinggal di negara yang notabene-nya adalah negara bebes. Astaga…
“Aku tutup telfonnya. Aku ingin istirahat. Dan jika hyung tidak percaya, kau tanya saja pada istriku nanti.”
Dan setelah ucapan Donghae yang terakhir, sambungan telefon itu benar-benar terputus, dan menyisahkan Hyukjae yang menatap tidak percaya pada gadis yang tengah tertidur pulas di kamar tamu itu.
“Ya Tuhan… adikku yang dulu lemah, kini berubah menjadi gadis yang menyukai hal ekstrim rupanya.” Ia bergumam bersamaan dengan sebuah gelengan di kepalanya.
.~o♥♥♥o~.
Ia menggeliat dalam tidurnya saat bau sedap menyeruak tanpa permisi pada hidungnya. Dengan malas, ia mulai membuka matanya. Mengerjap, lalu matanya menilik keseluruh isi ruangan ini. Dua detik kemudian ia sadar, jika ia ada rumah kakaknya. Sangat gampang untuk mengenali ruangan macam ini, karena ia dan kakaknya tidak jauh berbeda tentang masalah selera. Simpel dan rapih.
“Ahjumma.”
Jiyoon memicingkan matanya saat seorang anak lelaki masuk dan langsung duduk si sampingnya. Ia mendengus saat ingat, ternyata anak lelaki ini adalah anak kakaknya—Lee Jaewo.
Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia tidak menyangka sama sekali jika anak lelaki ini tubuh dengan sangat tampan, mirip sekali dengan ayahnya.
Dulu, saat ia meninggalkan negara ini, Jaewo masih berumur dua tahun, masih sangat kecil. Maka tak ayal jika sekarang Jiyoon sedikit terkejut dengan anak ini. Ya.. walaupun ia memang sering melihat Jaewo lewat media sosial, namun tetap saja, ada sensasi berbeda saat bertemu langsung dengannya.
“Kau sangat tampan.”
“Tentu saja ahjumma.”
Jiyoon memberengut, saat mulut bocah lelaki ini mengucapkan panggilan yang tidak enak untuk di dengar baginya. Ia tidak suka dengan panggilan macam Jaewo lontarkan.
“Jangan memanggiku seperti itu.”
“Lalu aku harus memanggil seperti apa?”
“Euumm… Auntie. Arraseo?”
“Aniyo, aku lebih suka denga panggilan ahjumma.” Jaewo membuang wajahnya, menantang Jiyoon dengan santai.
“Geurae, jika tetap memanggiku seperti itu, natal kali ini aku tidak akan membelikanmu hadiah.” Jiyoon terkikik melihat raut wajah Jaewo yang sangat lucu karena ancamannya.
Boca lelaki itu menggeleng keras. Menolak dengan tegas. “Tidak. Aku ingin mendapat hadiah.”
“Baiklah. Dan bagaimana panggilanmu padaku eoh?”
“Auntie.” Jaewo mau tak mau harus menuruti keinginan bibinya yang satu ini. Dari pada ia tidak mendapat hadiah, lebih baik ia mengalah.
“Anak baik.” Jiyoon mengelus rambut Jaewo dengan penuh kemenangan.
“Ahjum—… Auntie, kau harus turun, karena masakan eomma sudah siap.”
“Aku akan turun kesana. Sekarang cepar keluar dari kamarku.”
Jaewo berdengus kesal mendengar usiran bibinya yang sangat terang-terangan. Kemudian dengan segera kaki mungil Jaewo menjauh dari tempat bibinya berada.
.~o♥♥♥o~.
“Mau sampai kapan kau tinggal disini?”
Jiyoon menghentikan kunyahan baconnya saat Hyukjae bertanya, sekaligus sebuah pengusiran halus padanya. Gadis beramput cokelat sepungguh itu melirik lalu berkata, “Kau tenang saja oppa. Aku akan segera pindah, dan mencari apartment. Dasar pelit!.”
“Ya! Ya! Ya! Kau bilang apa? Pelit? Kau pikir siapa yang membiayai study S2-mu selama ini eoh?” Pria bergigi rata itu tidak terima mendengar ucapan Jiyoon yang mengatainya pelit. Ck! Benar-benar adik durhaka.
“Arraseo oppa. Tapi kau bilang begitu sama saja dengan mengusirku.”
“Hais… jinjja! Kau—”
“Ya!! Kalian geumanhae!” Sohee berteriak memotong niatan Hyukjae yang akan melontarkan sumpah serapahnya. “Kalian ini seperti anak kecil saja. Apa kalian ingin disamakan dengan Jaewo eoh?”
“Aniya eonni, tapi suamimu ini yang keterlaluan padaku.” Jiyoon merajuk pada Sohee. Wanita yang ditakuti oleh Hyukjae. Tentu saja, karena kakak laki-lakinya ini sangat mencintai wanita yang sudah memberikan satu jagoan untuknya.
“Tidak sayang, aku tidak seperti itu ‘kan?”
Sohee meringis jijik melihat tingkah suaminya yang seperti Jaewo anaknya. “Kalian sama saja. Jika kalian masih seperti itu, maka makanan yang ada di piring kalian akan aku buang!”
“Andwe!!!” Seru Hyukjae dan Jiyoon bersamaan.
Sementara itu Jaewo yang melihat tingkah orang dewasa itu hanya memperhatikannya dengan melempar tatapan tidak percaya, jika ayah dan bibinya kelewat lucu untuk ukuran orang dewasa seperti mereka.
.~o♥♥♥o~.
Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman, saat ia berhasil mendapatkan tiga buah eskrim yang ia bawa di sebuah nampan.
Hari ini adalah hari libur, mengingat lusa adalah hari natal. Jadi Sohee memutuskan untuk mengajak anak adik suaminya—Jiyoon untuk berjalan-jalan di Mall. Mengingat natal, Sohee jadi teringat tentang gadis muda yang tengah duduk bersama itu. Dia mempuyai kenangan buruk. Hingga gadis itu hampir tidak pernah merayakan natal, seperti yang di katakan Donghae. Namun sepertinya tahun ini berbeda untuk Jiyoon, karena mau tak mau ia harus merayakan bersama keluarganya.
“Ini dia eskrim-mu tuan muda tampan.” Sohee meletakan satu cup eskrim yang berukuran lumayan besar padanya dan juga untuk Jiyoon.
“Gomawo eomma.”
“Gomawo eonni.”
Wanita berambut sebahu itu hanya mengangguk mendengar ucapan yang terlontar secara bersamaan itu. “Makanlah.”
Beberapa detik mereka diliputi oleh keheningan. Hingga akhirnya Sohee mengeluarkan suaranya. “Yoon-ah, kau tidak pernah bertemu dengannya lagi?”
Jiyoon menghentikan sesuap sedoknya saat akan masuk kedalam mulut. Lalu setelah dua detik diam, lantas Jiyoon kembali memasukkan sendok yang membawa eskrim itu. Ia tahu benar maksud dengan ucapan wanita itu. Siapa lagi jika bukan pria brengsek yang sudah mempermainkan hatinya dengan keterlaluan.
“Tidak eonni. Aku bahkan tidak tahu apa dia masih hidup atau tidak. Aku tidak mau berurusan dengannya lagi.”
Sohee bisa melihat guratan kesal dengan wajahnya saat ia mengucapan kalimat penuh ketidaksukaan itu. Sepertinya tingkat kebencian Jiyoon terhadap pria kaya itu sudah tidak terselamatkan lagi. Hingga Jiyoon memutuskan untuk pergi menjauh dari pria itu, tiga tahun yang lalu.
“Kau tahu Yoon, kalau Kyu—.”
“Eonni kumohon jangan pernah sebuah namanya lagi didepanku. Aku tidak mau mendengar nama itu.” Jiyoon memotong ucapan Sohee dengan cepat. Demi Tuhan, ia tidak ingin mendengar lafalan nama pria yang sudah menyakitinya lagi.
“Kau masih mencintainya.”
Air muka Jiyoon sontak tegang begitu pernyataan itu keluar dari mulut Sohee. Tidak. Ia tidak mencintai pria brengsek itu. Ia sudah melupakan kenangannya selama dua tahun bersama pria bermarga Cho itu.
“Aku sudah tidak mencintainya lagi eonni.” Ujarnya dengan malas.
“Kalau kau tidak mencintainya, kau tidak akan marah ataupun tersinggung jika mendengar namanya.”
Benarkah?
Benarkah seperti itu? Tapi rasanya itu tidak mungkin. Jiyoon sangat yakin jika sudah tidak mempunyai perasaan lagi untuk pria yang sudah hampir kepala tiga itu. Ia sudah menguburnya dalam-dalam. Tidak ingin lagi berusaha untuk kembali membuat perasaan itu timbul di hatinya.
“Aku hanya tidak ingin mendengar namanya saja. Terlalu muak.”
Sohee hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan pemikiran Jiyoon selama ini. Dia terlalu menutup diri hanya untuk sekedar mendengar nama pria itu—Cho Kyuhyun namanya.
“Cepat selesaikan makananya, karena kita harus melihat apartement yang akan kau beli ‘kan?”
Anggukan dari kepala Jiyoon adalah jawaban darinya. Iya, memang benar, hari ini Jiyoon akan melihat apartement yang dekat dengan Kyunghee University—tempat ia mengajar. Kendati umur Jiyoon masih sangat muda, tapi gadis ini sudah menjadi seorang dosen dibidang bisnis. Dan ia sudah diterima sebagai dosen di Universitasnya dulu, saat mengambil S1. Untunglah kakaknya keduanya—Lee Donghae pintar untuk memasukkannya di universitas itu, hingga ia tidak bersusah payah untuk mencari pekerjaan di dalam bidangnya.
Mengingat pekerjaan, Jiyoon sebenarnya tidak pernah telintas sekali pun untuk menjadi seorang pengajar, ia bahkan sangat jijik, dan selalu menganggap remeh profesi itu. Tapi nyatanya, kini ia justru menjadi seorang dosen. Dan itu semua karena dorongan Donghae yang memintnya untuk melanjutkan S2 dan menjadi pendidik.
Dulu, saat Jiyoon mulai menjalankan study S2-nya, gadis ini selalu mengeluh, dan tidak sanggup. Namun berkat Donghae membuat panas dengan mengatakan; ‘Kau harus bisa menunjukan pada pada pria brengsek itu, jika kau adalah gadis tangguh dan bisa menjadi lebih baik darinya’. Kata-kata itulah yang menjadi vitamin penyemangat Jiyoon. Ia harus bisa. Itulah kegigihan dan keyakinannya selama ini.
.~o♥♥♥o~.
“Lee Jiyoon.”
Jiyoon, Sohee dan Jaewo menghentikan langkah kakinya saat akan keluar kafe eskrim itu karena sebuah suara bas mengguar, memanggil nama Jiyoon dengan semangat.
“Kibum-ah.” Seru Jiyoon ketika melihat siapa yang memangil namanya. Dan ternyata seorang pria. Dia temannya saat masih duduk di bangku kulia dulu.
“Annyeong noona dan itu pasti Jaewo-kan?” Sedikit menundukkan kepalanya, memberi hormat pada wanita yang menggandeng anaknya itu.
“Annyeng Kibum-ah.” Sohee tersenyum manis.
“Hey gadis nakal, kau tidak menyapa-ku?” Kibum menyenggol bahu Jiyoon dengan sengaja.
“Tidak tuan Kim.” Kekehan mengejek Jiyoon tentu saja mengundang Kibum untuk terkekeh karenanya. “Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku ingin membeli eskrim untuk anakku.”
“Anak?” Gadis itu menyipitkan matanya. Merasa aneh dengan ujaran Kibum.
“Iya, aku sudah menikah Yoon-ah.” Kibum menjawab dengan senyuman. Lantas ia juga memaklumi jika Jiyoon kanget dengan ucapannya. Karena selama ini tidak ada yang tahu jika ia sudah menikah dan mempunyai seorang putri.
“Jinjja? Kapan kau menikah? Lalu dimana istrimu?”
“Mian, aku tidak memberitahumu saat aku menikah. Saat itu kau sudah di Amerika, dan Donghae bilang kau sedang sibuk dengan study-mu. Jadi aku tidak mengundangmu.” Pria berwajah tampan itu menghela nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Istriku meninggal saat ia melahirkan anak kami.”
Baik Jiyoon maupun Sohee terperanjat mendengar ucapan Kibum. Astaga.. pria ini ditinggal istrinya. Itu pasti sangat menyakitkan. Jiyoon bisa merasakannya. Karena ia pun begitu saat kedua orang tuanya meninggal.
“Maaf Kibum-ah, aku tidak tahu.”
“Aku tidak apa-apa Yoon-ah.” Pria itu mencoba tersenyum, namun yang ditunjukkan hanya senyuman. “Besok kau sibuk? Aku ingin mengajakmu minun kopi.”
“Tentu saja tidak. Kau bisa menjemputku besok.”
“Oke.”
.~o♥♥♥o~.
Jiyoon tersenyum puas melihat apartement bernomor 1204 itu. Ia sangat senang dengan isi dan suasana apartement ini. Sangat simpel dan rapih. Seperti keingiannanya. Apa lagi jaraknya dengan Kyunghee tidaklah jauh, cukup berjalan kaki atau bisa dengan sepeda. Sangat menghemat biaya.
“Bagaimana nona? Apa anda suka?” Manajer pemasaran apartement itu berujar, terlihat sekali dia mengharapkan; jika gadis di hadapannya ini sudi untuk menyewa satu ruangan dari bangunan besar ini.
Jiyoon melirik Sohee, meminta pendapat. Dan wanita itu hanya mengangguk setuju. “Aku sangat suka tuan Kim. Aku akan mengambil ini.” Katanya mantap. Lalu menghampiri Sohee dan Jaewo yang tengah melihat kamar yang hanya ada satu di apartement ini. Ck!
“Baik nona. Mari ikut saya, anda harus mengisi prosedur untuk tempat ini.”
Jiyoon mengikuti pria setengah bayah itu dan diekori pula oleh Sohee beserta anaknya. Gadis berumur dua puluh delapan tahun itu senang. Karena ia akan hidup sendirian. Tanpa ada gangguan dari kakaknya yang tadi pagi sudah menyuruhnya pergi dari rumahnya. Ck! Kakaknya itu benar-benar jahat.
.~o♥♥♥o~.
Mata elangnya menatap gerak-gerik pada seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah taxi di balik mobil yang terparkir jauh dari rumah yang bergaya minimalis itu. Ia menghembuskan nafas leganya, karena gadis itu pulang dengan selamat. Kendati ia tidak bisa mendekatinya secara langsung, tapi melihat gadis itu tersenyum, sungguh hatinya kontan menjadi damai. Sudah lama sekali ia tidak melihat wajah cantik itu, wajah yang sangat ia rindukan selama ini.
Andai saja kejadian tiga tahun yang lalu tidak pernah terjadi, mungkin ia tidak akan sejauh ini dengan gadis itu. Andai saja ia bisa menjelaskan saat itu, mungkin dia tidak akan merasakan serindu ini dengan gadis yang sangat menyukai film drama itu. Dan andai saja ia tidak menuruti keinginan kakak gadis itu, mungkin dia tidak akan seperti ini. Menunggu dan menanti.
Membuah nafasnya ketika matanya melihat sulit tubuh mungil itu sudah mengghilang di balik pintu. Lalu dengan malas, ia menyalakan mesin mobilnya. Meninggalkan rumah gadis-nya dengan sangat enggan.
“Aku harus bicara dengannya.”
.~o♥♥♥o~.
Dengan langkah gontai, pria besetelan kemeja biru itu masuk kedalam ruangannya. Sejatinya ia sedang tidak ingin masuk kedalam kantornya ini, namun ia juga tidak bisa lari begitu saja dari tanggung jawabnya. Ia harus bisa menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk dimejanya, dan disanalah yang akan tercipta pundi-pundi yang selalu masuk kedalam rekeningnya dengan tanpa henti.
“Sajangnim, tuan besar meminta anda untuk datang keruangannya.”
Langkahnya terhenti saat suara sebuah suara pengintrupsi niatan awalnya. Alis pria itu naik, merasa heran karena sang ayah ada di kantornya, didalam ruangannya pula. Tanpa membalas ucapan sekretarisnya, ia langsung pergi menuju ruangan ayahnya yang ada di lantai 30.
Jujunya ia sangat heran karena tidak biasanya pria yang menjadi orang tuanya itu datang. Biasanya, jika ada sesuatu yang di bicaran, pasti ia dan ayahnya akan berbicara dirumah, bukan di area kantor seperti ini. Dan ia pikir mungkin ada hal penting yang harus di bicaran dengannya.
Dengan perlahan, ia memutar knop pintu itu. Dan ya, sang ayah ada disana. Duduk manis dengan di temanis secangkir teh.
“Ada apa ayah kesini?” Katanya seraya duduk di samping ayahnya.
“Ayah hanya ingin berkunjung saja. Ayah bosan dirumah terus-menerus. Dan juga…” Matanya pria itu menyipit karena ayahnya mengantungkan penuturannya. “Ayah ingin membahas tentang hubunganmu dengan anak tuan Jung.”
Menghembuskan nafasnya seraya memutar kedua bola matanya, lagi-lagi pria tua ini membahas soal itu. Sudah berapa kali ia bilang; jika ia tidak mau dijodohkan dengan gadis yang sudah merusak hubungannya dengan Jiyoon.
“Aku tidak ada apa-apa dengan anak tuan Jung ayah.” Katanya malas dengan wajah yang sangat masam
“Sudah waktunya kau menikah anakku, dan anak tuan Jung sepertinya menyukai dirimu.”
“Tapi aku tidak menyukai dirinya ayah. Aku bahkan membenci dirinya, karena sudah membuah kekasih menjauh dariku.”
Pria paruh bayah itu menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah habis pikir, jika anaknya ini masih menganggap gadis itu sebagai kekasihnya. Karena ia tahu dengan jelas, gadis itu pergi, setelah dia melihat anaknya tengah bersama anak tuan Jung. Jung Hyera namanya.
“Dia sudah meninggalkanmu Kyu, jadi untuk apa kau masih menganggap gadis itu sebagai kekasihmu?”
“Karena sampai kapanpun kekasihku hanya satu ayah, hanya Lee Jiyoon. Bukan yang lain.”
“Lalu sampai kapan kau akan melajang seperti ini? Kau harus menikah, karena ayah ingin mempunyai cucu darimu.”
Senyum miring tersungging pada mulut pria yang bernama lengkap Cho Kyuhyun itu. “Ayah tenang saja, aku akan segera menikah. Tapi bukan dengan anak tuan Jung. Melainkan dengan kekasihku, Lee Jiyoon.”
“Gadis itu tidak ada disini.”
“Dia sudah pulang ayah. Dan tolong jauhkan aku dari Jung Hyera itu, karena aku tidak mau dia merusak hubunganku lagi.”
“Oke, ayah tidak akan menghalangimu lagi.” Ayah Kyuhyun mengangkat kedua tanganya ke udara, sebagai tanya menyerah.
Dan sepertinya ia memang harus mengalah kali ini dengan anaknya. Ia tidak mau jika anak satu-satunya ini akan terus melanjang seumur hidup. Ia ingin sekali mempunyai seorang cucu. Tidak peduli siapa gadis yang akan menikah dengan anaknya nanti. Karena sampai kapan pun anaknya itu tetap memilih Jiyoon sebagai gadis pendamping hidupnya di masa depan.
Oke, ia akan belajar dan tidak akan memaksa Kyuhyun untuk menikah lagi dengan anak rekan bisnisnya dulu. Karena lelakinya ini tetap gigih dengan pilihan satu-satunya—mempertahankan rasa cintanya.
.~o♥♥♥o~.
Pagi-pagi buta seperti ini Jiyoon sudah sangat rapih, baju resmi dan riasan menyesuaikan dengan tampilannya pagi ini. Maka tak ayal jika Sohee dan Hyukjae melogo melihat gadis itu keluar dari kamarnya. Sangat berbeda sekali dengan Jiyoon yang biasanya.
“Mau pergi kemana kau?” Hyukjae tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya pada Jiyoon.
“Aku harus ke Kyunghee University, karena aku harus mengurusi beberapa prosedur yang harus aku penuhi sebelum aku mulai mengajar di awal semester nanti.” Jiyoon duduk dan mengambil selempar roti tanpa selai. “Oya oppa, hari ini aku akan pindah ke apartementku.”
Kakak Jiyoon itu langsung melempar tatapan heran pada adiknya. “Secapat itu?”
Mengangguk mantap. “Iya oppa.”
“Kau tidak merayakan natal disini.”
Hembusan nafas panjang Jiyoon keluar saat sang kakak menyinggung soal moment yang tidak bisa ia lupakan, karena sampai saat ini masih sakit untuk mengenangnya. Apa lagi jika bukan karena seorang pria. Tepatnya pria brengsek!
“Tidak oppa, tapi aku sudah janjii akan memberikan hadia natal untuk Jaewo.”
“Ya, terserah kau saja. Tapi apa kau masih tidak ingin untuk sekedar merayakan natal bersama kita.” Sohee yang sedari tadi diam, kini turut bersuara. Ia merasa iba pada Jiyoon. Karena masih saja menghindar dihari penuh kebahagian itu.
“Tidak eonni.” Kata Jiyoon tanpa minat sama sekali. “Aku harus berangkat, Kibum sudah menjemputku.”
Sohee dan Hyukjae saling melempar tatapan penuh tanya satu sama lain. Mereka merasa heran saja, karena Jiyoon sudah mulai bergaul seperti dulu. Tidak lagi tertutup seperti yang di katakan Donghae selama Jiyoon di Amerika.
Sejujurnya Sohee merasa sangat kasian pada Jiyoon, sebab gadis itu harus mengalami masa sulit yang disebabkan oleh sebuah kesalah pahaman. Namun ia juga merasa senang, karena dengan kehancurannya saat itu, Jiyoon justru lebih fokus dengan program S2-nya, tanpa bergaul dengan orang-orang sana. Dia cenderung lebih pendiam dan penutup diri.
.~o♥♥♥o~.
Kibum melambaikan tangannya di dalam mobil saat gadis berperawakan mungil nan cantik itu keluar dan menghampiri dirinya. Sungguh sangat cantik gadis ini, tapi tetap saja mendiang istrinya tetaplah yang tercantik menurutnya. Dan siapapun yang mendapatkan Jiyoon, Kibum yakin pria itu adalah pria yang beruntung.
Gadis itu nyaris sempurna. Cantik, pintar, tinggi badannya semampai dan mandiri. Apa lagi kurang? Kibum rasa yang kurang hanyalah pasangan. Karena sampai saat ini Jiyoon tidak menjalin hubungan lagi setelah perpisahannya dengan Cho Kyuhyun.
“Kau menunggu lama?” Jiyoon bertanya saat dirinya sudah di dalam mobil.
“Tidak. Ngomong-ngomong, kau terlihat seperti Dosen sungguhan.” Pria itu mengejek sesaat setelah ia memperhatikan Jiyoon dari atas hingga bawah.
“Aku memang dosen tuan Kim. Jadi bisakah kita berangkat sekarang, agar cepat selesai dan aku ingin melihat anakmu.”
“Baiklah nona cantik.”
Jiyoon terkekeh karena godaan dari Kibum. Ck! Pria ini sungguh sangat baik, dia bersedia untuk mengantarnya ke Kyunghee. Selain ia memang akan ke Kyunghee, Jiyoon juga ingin melihat rupa anak sahabatnya ini. Jadi Jiyoon sedikit merepotkan Kibum untuk mengatarnya sebentar, lalu segera menemui putri cantik Kibum nanti.
Andai saja dulu ia tidak pernah dihianati, mungkin ia juga sudah memiliki anak bersama pria itu. Tapi nyatannya Tuhan bekehendak lain, hingga ia dan pria itu terpisah jauh. Dan itu adalah keputusan bijaknya.
Kendati ia memang merasakan sakit, dan selalu berusaha untuk melupakannya, namun tetap saja, banyangan pria itu selalu saja mengintai dirinya tanpa permisi. Menyebalkan sekali bukan?
.~o♥♥♥o~.
Kyuhyun mengeraskan rahangnya saat melihat Jiyoon baru saja keluar dari mobil hitam, bahkan gadis itu tersenyum manis sebelum mobil itu kembali melesatkan kebadan jalan. Dan Kyuhyun tahu siapa pemilik mobil itu, Kim Kibum namanya. Teman Jiyoon saat masih di bangku kulia. Sial! Apa yang mereka lakukan hingga Jiyoon terlihat begitu senang saat bersama pria yang sudah mempunyai anak itu.
Dengan segara, Kyuhyun keluar dari mobilnya, mengejar gadis itu sebelum masuk kedalam rumahnya. Ia harus biacara dengan Jiyoon. Harus. Ia tidak mau jika nanti Jiyoon justru di ambil oleh sahabatnya itu. Mengingat pria itu sudah ditinggalkan oleh istrinya. Jadi mungkin sajakan jika Kibum berusaha mendapatkan Jiyoon.
Dan apa Kyuhyun akan diam saja?
Jawabnnya tentu saja tidak! Ia tidak mau melihat Jiyoon bersama pria lain selain dirinya. Dan tidak akan membiarkan siapapun merebut Jiyoon darinya. Ia sudah nyaris kehilangan Jiyoon, dan sekarang waktunya untuk mendapatkan gadis itu kembali.
“Lee Jiyoon.”
.~o♥♥♥o~.
Kibum tersenyum saat Jiyoon melambaikan tangannya dan membalas senyumannya. Ia cukup senang dengan hari ini, karena Jiyoon benar-benar membuatnya bahagia bersama anaknya. Gadis itu sudah sangat pantas menjadi seorang ibu, mengingat bagaimana perlakuan Jiyoon terhadap putrinya. Benar-benar sangat lembut.
“Berhati-hatilah di jalan.” Kata Jiyoon sebelum mobil Kibum meninggalkan area rumahnya.
Kakinya melangkah, hendak masuk kedalam rumah saat mobil Kibum benar-benar tidak terlihat lagi dari pandangannya. Namun niatanya terhenti saat sebuah suara memanggilnya.
“Lee Jiyoon.”
Jiyoon membeku tanpa berbalik ditempatnya. Ia tahu dengan benar milik siapa suara khas macam itu. Walaupun sudah lama sekali ia tidak mendengarnya, namun tetap saja suara itu sangat tidak asing baginya. Demi Tuhan, kenapa pria itu datang kesini, dan menampakkan wajahnya di depannya lagi. Tidakkah cukup dulu dia sudah menyakiti hatinya dengan begitu dalam?
Tidak. Tidak. Tidak. Ia tidak ingin melihat wajahnya. Ia tidak mau luluh karena paras rupanya. Maka dengan cepat Jiyoon kembali melangkahkan kaki untuk segera masuk kedalam rumah.
Baru dua langkah kaki Jiyoon bergerak, namun sebuag tangan kekar dengan sigap mencekalnya sangat kuat. Sial! Umpat Jiyoon dalam hatinya.
“Kumohon, tolong biarkan aku bicara denganmu Jiyoon-ah.”
Memejamkan matanya, merasa tidak kuat dengan ucapan Kyuhyun yang penuh dengan harap. Ia sadar jika Kyuhyun sudah seperti ini, artinya pria itu benar-benar memohon padanya.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.” Sahutnya tanpa menoleh sedikitpun pada Kyuhyun.
“Perlu Yoon-ah. Kita sangat perlu untuk bicara.”
Jiyoon membuah nafasnya, lalu dengan berani ia menatap Kyuhyun dengan sorot penuh kebencian. “Dengar Cho Kyuhyun-ssi, tidak ada yang harus kita biacarakan lagi. Semuanya sudah selesai.” Seru Jiyoon dengan penuh penekanan di setiap katanya. “Dan satu lagi, tolong jangan pernah muncuk di hadapanku lagi. Aku akan segera menikah.”
“Apa?” Mata Kyuhyun membulat sesaat setelah mendengar penuturan Jiyoon padanya. Demi apapun, sungguh ia tidak ingin mendengar ucapan Jiyoon yang tidak bisa ia terima sampai kapan pun. Gadis itu akan menikah. Yang benar saja? Siapa yang berani merebut Jiyoon darinya? Sialan sekali pria itu! Sampai kapan pun ia tidak akan bisa menerima kenyataan kalau Jiyoon akan segera menikah. Tidak akan pernah!
“Iya, aku akan segera menikah. Jadi jangan pernah ganggu aku lagi.” Jiyoon berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Kyuhyun, namun sepertinya hanya sia-sia belaka, karena pria ini tidak mau melepaskannya sedikit pun.
“Siapa dia? Siapa pria yang akan menikahimu?”
“Kim Kibum.”
Kali ini Kyuhyun memejamkan matanya, tidak menyangka jika pria yang sudah mempunyai anak itu justru akan menikahi Jiyoon. Ck! Apa Jiyoon gila menikah dengan pria macam Kibum?
“Kau jangan gila. Dia sudah mempunyai anak Yoon-ah.”
“Aku tidak peduli. Aku sangat menyayangi anaknya dan Kibum menyayangiku. Ia bahkan menjagaku, bukan menghianatiku!” Jiyoon menekan keras kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Ia bahkan sengaja melontarkan itu didepan Kyuhyun. Satu yang pasti, ia ingin Kyuhyun sadar; jika ia bisa bahagia tanpa dirinya.
“Itu tidak mungkin.”
“Namun sayangnya itulah fakta yang ada Cho Kyuhyun-ssi. Aku-akan-menikah-dengan-Kim Kibum!” Dengan sengaja Jiyoon sangat menekan ucapannya. “Dan aku harap kau bisa datang di acaraku nanti. Selamat sore.” Dan setelah itu Jiyoon langsung menghempaskan tangannya agar bisa lepas dari Kyuhyun. Well, Jiyoon bisa melihat dengan jelas, jika saat ini Kyuhyun tengah tercengang hebat, hingga tangannya kini terlempas. Lalu dengan cepat Jiyoon meninggal Kyuhyun sendirian disana.
Sedangkan Kyuhyun, pria membatu di tempatnya. Terlalu syock dengan kejutan yang Jiyoon berikan sore ini. Ada kejutan yang lagi mengerjutkan ‘kah di sore Natal ini? Benar-benar diluar dugaanya, jika akan seperti ini. Menggelikan sekali bukan?
.~o♥♥♥o~.
“Ya! Waegeurae?” Hyukjae langsung bertanya begitu adiknya masuk dengan air muka yang sangat masam. Padahal hari ini dia pergi bersama sahabatnya sendiri. Apa mereka bertengkar? Pikirnya. Lalu tanpa mau ambil pusing lagi, pria yang tengah memakai celemek doraemon itu melanjutkan kegiatan—memasak untuk makan keluarganya nanti.
Jangan heran kenapa Lee Hyukjae melakukan hal yang harusnya di lakukan oleh wanita, karena ini adalah kebiasaanya jika Natal tiba. Dia akan memasak untuk anak dan istrinya.
“Ada apa dengan adikmu oppa? Wajahnya sangat dingin. Dia bahkan tidak mengucapkan apapun saat berpapasan denganku.” Sohee merasa heran dengan Jiyoon saat tadi mereka bertemu, sebelum gadis itu masuk kedalam kamarnya. Entah apa yang terjadi dengan Jiyoon hari ini, hingga dia seperti itu.
“Aku tidak tahu sayang, saat masuk juga dia sudah seperti itu. Mungkin terjadi sesuatu.”
Sohee menggelengkan kepala melihat suaminya yang acuh tak acuh terhadap adiknya sendiri. Adik-kakak yang aneh. Ya, setidaknya Lee Donghae lebih baik dari pada suaminya. Kendati selama ini biaya Jiyoon ditanggunh oleh suaminya, namun tetap saja Donghae jauh lebih peduli dengan Jiyoon. Ah.. sudahlah, memikirnya keluar suaminya itu cukup membuatnya pusing. Ck!
.~o♥♥♥o~.
Ia langsung mengambil langka seribu saat ia baru saja keluar dari mobilnya, menuju rumah yang bergaya gotick nan minimalis itu. Tanpa babibu lagi, dengan tanpa rasa yang dipenuhi amarah, ia menggedor pintu besar dengan kesar yang berkali-kali.
“Ya! Kim Kibum keluar kau?”
Lagi, Kyuhyun terus menggedor pintu itu sampai sang pemilik rumah menampakkan batang hitungnya. “Keluar kau brengsek!”
Sementara Kyuhyun yang tengah marah berapi-api, justru sang pemilik rumah membuka pintunya dengan angkuh bsrcampur malas. “Ada apa kau berteriak-teriak seperti orang gila Kyuhyun-ssi.”
“Beraninya kau mengambil Jiyoon-ku!”
Kibum menaikan satu alisnya. Ia sedikit terkejut dengan ucapan marah Kyuhyun padanya. “Jiyoon?”
“Iya Jiyoon. Kenapa kau akan menikahinya. Kau tahu dengan benar bagaimana hubunganku dengannya, lalu seenaknya kau rebutnya dariku.”
Senyum smirk muncul di bibir Kibum, ia baru paham maksud daru ucapan Kyuhyun. Pria ini marah karena dia dan Jiyoon akan menikah. Ck! Ada-ada saja.
“Hubunganmu dengan Jiyoon sudah berakhir lama sekali. Dan aku rasa tidak ada yang salah bukan jika aku menikahinya?”
Kyuhyun semakin mengeraskan rahangnya. “Brengsek kau! Kau tidak pantas dengannya. Hanya aku. Hanya aku yang pantas. Sadarlah, dirimu sudah mempunyai anak Kibum-ssi.”
“Aku sadar. Bahakan sangat sadar. Tapi nyatanya Jiyoon menerima dan menyukai anakku. Jadi tidak ada yang salah bukan?” Kibum ingin sekali tertawa didetik ini juga saat melihat wajah Kyuhyun yang marah, dan ia pikir ini sangat lucu. Sangat jarang melihat wajah Kyuhyun yang seperti itu. “Jika tidak ada yang di bicarakan lagi, silahkan kau pergi. Selamat sore.”
Kyuhyun menganga hebat ketika Kibum menutup pintunya begitu saja. Sial! Secara tidak langsung Kibum sudah mengursinya. Keterlaluan sekali!!
“Ya! Awas kau jika berani menikahi Jiyoon-ku brengsek!!”
.~o♥♥♥o~.
“Akhirnya, selesai sudah semuanya.” Jiyoon menyekah keringatnya dengan punggung tangan, setelah kurang lebih dua jam ia kerkutat untuk membersikan dan menempatkan barang-barangnya di apartement yang baru saja ia beli. Senang sekali rasanya bisa hidup sendiri seperti ini, tidak ada yang protes atau pun mengganggu tidurnya di pagi hari. Semuanya benar-benar ia lakukan dengan sendiri.
Mata melirik jam yang menempel di dinding, dan ternyata sudah pukul satu dini hari, yang artinya kini Natal sudah tiba. Namun bagi Jiyoon, sespesial apapun Natal bagi semua orang, tetap saja baginya biasa saja. Tidak ada istimewanya sama sekali.
Sudah tahun ketiga Jiyoon tidak pernah lagi merayakan malam Natal dengan suka cita. Jangan kan merayakan, menghias rumahnya dengan pohon Natal serta pernak-pernik pun tidak. Semua kehamapaan di hari Natal itu muncul saat untuk pertama kalinya ia merasa di hianati oleh seorang pria, tetap di siang Natal.
Dengan langkah riang, kaki mungilnya memasuki sebuah gedung pencakar langit dengan membawa satu kotak yang lumayan besar di tangannya. Sebuah hadiah untuk kekasihnya di hari Natal ini.
“Apa kekasihku ada didalam?” Tanyanya pada sekretaris, saat sudah di depan ruangan kekasihnya.
“Sajangnim ada di dalam, tapi—.”
“Gomawo sekretaris Kim.” Jiyoon langsung memotong ucapan wanita itu dan melempar senyuman pada gadis yang bermarga Kim. Ia tahu kekasihnya pasti ada di dalam untuk menunggu kedatangannya.
Pelan ia membuka pintu berwarna cokelat itu, lalu saat pintu itu terbuka, matanya membulat sempurna melihat pemandangan yang sangat menyesakkan hatinya. Astaga… apa yang ia lihat sekarang ini? Tolong siapapun itu, beritahu aku jika itu hanyalah ilusi belaka. Gumamnya dalam hati yang terasa nyeri. Namun ini semua terasa sangat nyata. Bukan ilusi ataupun mimpi.
Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya dia memutuskan untuk pergi sebelum orang yang ada di ruangan itu sadar akan kehadirannya. Demi Tuhan, ia tidak pernah membayangkan jika kekasihnya bercumbu dengan gadis lain. Ah.. tidak! Bukan gadis lain, tapi gadis yang sangat di inginkah oleh ayah pria itu untuk menjadi istrinya. Berbeda sekali dengan dirinya, walaupun ia sudah menjalin hubungan hampir dua tahun lamanya, namun tetap saja, ayah—calon mertuanya itu selalu dingin dan tidak suka padanya.
“Brengsek kau Cho Kyuhyun!”
Dan semenjak kejadian itu, Jiyoon benar-benar marah. Ia merasa dihianati oleh kekasihnya sendiri. Brengsek! Padahal selama ini ia selalu menuruti semua keinginannya, tapi apa yang ia dapat? Ia justru dihianati. Yang membuatnya lebih marah adalah; karena pria itu—Kyuhyun selalu mengatakan jika dia tidak pernah tertarik sama sekali dengan gadis manja itu, nyata sekarang Kyuhyun tengah asik dengan dia—Jung Hyera namanya.
Niat hati merayakan hari Natal dengan suka cita, tapi yang ada ia mendapat penghianatan yang sangat menyakitkan dari kekasih yang sudah dipacarinya selama dua tahun itu. Ck! Demi apapun ia menyesal karena percaya dengan semua ucapan dan rayuan manis dari mulut pria itu. Sangat menjijikan!
Semenjak itu pula Jiyoon memutuskan untuk tidak ingin berhubungan lagi dengan Cho Kyuhyun. Ia bahkan tidak pernah menerima panggilan atau pun bertemu dengan pria itu. Dan beruntung, saat itu kakak Jiyoon—Lee Donghae menyuruhnya untuk tinggal disana untuk meneruskan study-nya. Karena kejadian dimana Jiyoon melihat Kyuhyun tengah bermesraan, Jiyoon bagaikan mayat hidup. Ia mengurung diri didalam kamarnya selama beberapa hari. Dan Lee Hyukjae juga sangat jengah melihat adiknya yang seperti itu. Maka dengan berat hati, Hyukjae mengirim Jiyoon ke Amerika.
Sungguh sangat melegakan, sebab selama Jiyoon disana, gadis itu kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa. Bahkan jauh lebih baik disana. Karena Jiyoon justru menjadi lebih semangat untuk menjalankan study-nya dengan tenang. Tanpa ada pikiran maupun gangguan dari Kyuhyun lagi. Syukurlah…
.~o♥♥♥o~.
Jiyoon menghela nafasnya saat tubuhnya terbaring sempurna diranjang barunya. Sebenarnya Jiyoon sedikit tidak nyaman dengan kamarnya ini, mungkin karena baru pertama kali ditinggalinya, hingga ia merasa demikian. Tapi tak apalah, ia harus membiasakan dengan kamar barunya ini. Dan ia juga harus membiasakan diri untuk hidup mandiri mulai hari esok. Dihari Natal yang katanya penuh kebahagia. Namun bagi Jiyoon, tidak ada yang ada rasa bahagia atau apapun. Semuanya sama saja.
Saat matanya mulai terpejam, karena kantuk sudah mulai menyelimuti dirinya, namun deringan ponsel yang lumayan kencang, kontan membuat matanya kembali terbuka sempurnya. Sial! Siapa yang malam-malam begini menganggu dirinya!
“Ya! Yeobseyo.” Sahutnya kesal.
“Ini dengan nona Lee Jiyoon?”
Alis Jiyoon sedikit terangkat saat suara pria bertanya seperti itu. Ia sedikit terheran-heran, karena nomer ponselnya ini termasuk nomer baru, itu pun baru sehari yang lalu ia memakainya.
“Iya benar, aku Lee Jiyoon. Ini siapa?” Sambar Jiyoon masih dengan rasa kesalnya.
“Kekasih anda mabuk berat dan ia sudah tidak sadarkan diri. Namun sebelum itu, tadi ia menyebutkan nama anda untuk segera datang kesini.”
Mulut Jiyoon menganga, mendengar pria itu menyebutkan; bahwa dirinya mempunyai seorang kekasih. Yang benar saja. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan pria atau pun mempunyai kekasih. Jadi siapa pula orang yang menganggap dirinya adalah seorang kekasih dari pria gila yang tengah tak sadarkan diri itu?
“Maaf tuan, tapi saya tidak mempunyai kekasih!” Serunya tidak suka.
“Cho Kyuhyun nama pria ini.”
Jika tadi Jiyoon menganga, maka kali ini Jiyoon membulatkan matanya, karena pria itu menyebutkan nama yang selama ini ia hindari. Sialan! Dasar Cho Kyuhyun brengsek! Gerutunya dalam hati. Benar-benar pria gila, seenaknya saja dia menganggap dirinya sebagai kekasih. Tidak kah pria itu sadar, jika hibungan mereka sudah berakhir lama sekali?
“Maaf tuan aku tidak akan kesana.” Setelah mengucapkan itu, Jiyoon menutup sambungan telefonnya begitu saja. Ia muak dan tidak ingin melihat wajah pria sialan itu. Tidak sama sekali. Terlalu sakit hanya untuk melihat wajahnya.
.~o♥♥♥o~.
“Sungguh merepotkan!” Jiyoon menggerutu untuk kesekian kalinya saat kaki kecil melangkah memasuki club yang biasa pria itu singgahi jika pikirannya sedang tidak waras, seperti hari ini.
Awalnya Jiyoon memang tidak akan datang ketempat ini setelah tadi seorang pria menelfonnya, namun hati kecilnya ini selalu membujuknya untuk menolong pria gila nan malang itu. Ck! Jiyoon sendiri tidak tahu, kenapa ia bisa-bisanya melakukan hal demikian. Oke, Jiyoon anggap ini adalah sebagai pertolongan sesama manusia, bukan pria atau pun mantan kekasihnya.
Jiyoon meringis bersamaan dengan sebuah gelengan di kepalanya saat matanya menemukan objek sesosok pria yang terkulai tak sadarkan diri disalah satu meja yang ada disudut ruangan ini. Ck! Sangat mengenaskan. Dewi batin Jiyoon mengiba pada pria yang tak lain adalah Cho Kyuhyun.
“Chogi, bisakah anda membawa pria ini kedalam mobilnya?” Katanya pada sang bartender disana.
“Tentu saja nona. Keundae, tuan Cho belum membayar minumannya.”
Jiyoon mendengus. Ya ampun… tidak bisakah pria ini jangan terlalu meropotkan dirinya? Bagaimana pula seorang Cho Kyuhyun belum membayar minumannya? Karena yang ia tahu, dulu, jika Kyuhyun ditempat seperti ini, Kyuhyun sudah pasti membayarnya terlebih dahulu. Sebab pria itu sadar, jika ia minum, sudah pasti akan tertidur yang dengan nama lain tak sadarkan diri. Astaga…
Dengan kesal Jiyoon mulai merabah saku Kyuhyun, mencari dompet si brengsek itu. Dan lagi-lagi Jiyoon harus berakhir dengan dengusan saat ia menemukan dompet pria itu. Sialan! Dompetnya kosong. Tidak ada card maupun selembar won. Benar-benar menyusahkan. Sebenarnya ada apa sih dengan pria sinting ini? Tidak membawa uang. Yang benar saja. Seorang CEO macam Cho Kyuhyun, tidak membawa apapun didalam dompetnya. Kecuali sebuah foto yang terpajang disana. Foto sepasang anak manusia yang tersenyum bahagia dengan tangan keduanya yang membentuk huruf ‘V’ disisi kanan dan kiri. Dan sialnya, itu adalah foto dirinya dan Kyuhyun saat perayaan ulang tahunnya. Well, untuk yang satu itu Jiyoon benar-benar tertegun melihatnya, karena nyatanya pria ini masih menyimpan foto yang sudah lama sekali kejadiannya. Sedangkan dirinya, tidak ada satu foto pun yang tersisa. Semuanya sudah ia bakar dan ia buang begitu saja.
“Berapa tagihannya?” Akhirnya Jiyoon menyerah dan sedikit merelakan isi dompetnya untuk membayar semua minuman Kyuhyun. Sial!
“Ini nona.”
Jiyoon membulatkan matanya dengan sempurna ketika melihat sederet nominal yang ada pada tagihan Kyuhyun. Ya Tuhan… jumlahnya sama saja dengan gajinya selama satu bulan mengajar saat ia menjadi guru private di Amerika.
“S—sebanyak ini?” Sial! Jiyoon menerutuki dirinya karena ucapannya tergagap di depan bertender itu.
“Iya nona.”
Jiyoon melempar tatapan tajam pada Kyuhyun yang tengah terlelap. “Dasar pria gila!” Katanya seraya merogoh dompetnya, lalu menyerahkan kartu kreditnya dengan sedikit tidak rela.
“Tunggu sebentar nona.”
Gadis yang bersetelan mantel itu hanya mengangguk dan kembali menatap pada Kyuhyun dengan kesal. “Kau ini sungguh merepotkan diriku tuan Gila. Apa kau juga tidak tahu aturan eoh? Ini adalah malam Natal, dan kau mabuk seperti itu? Ck! Benar-benar!”
“Ini kartu anda nona. Dan mari saya bantu tuan Cho untuk masuk kedalam mobilnya.”
Jiyoon hanya menuruti bartender itu menuju mobil Kyuhyun. Ia sudah tidak ingin mengambil pusing apapun lagi. Masalah uang, mungkin akan ia tagih suatu saat nanti.
.~o♥♥♥o~.
Matanya mulai bergerak-gerik mengerjap saat sinar matahari tanpa permisi masuk kedalam rentinanya. Mulutnya berguman tidak jelas, merasa tidurnya terganggu. Baru kali ini ia merasakan silaunya cahaya matahari yang menusuk dimatanya. Karena selama ini, ia biasa bangun dengan suasana yang gelap gulita. Bukan terang benderang seperti ini.
Mulutanya menguap bersamaan dengan mata yang perlahan mulai terbuka. Ia langsung menelisik semua sudut kamar itu. Sedetik kemudian ia tersadar jika ia tidak ada di kamarnya. Melainkan kamar asing. Ia tersekiap saat melihat tubuhnya yang tanpa busana di bagian atasnya, setelah toples. Hanya memakai boxer pendek. Sial! Ada apa dengan dirinya?
Dengan malas, ia berusaha keluar dari kamar itu. Mencari pakaiannya, dan sial! Tidak ada satupun pakaiannya disini. Well, sepertinya ia memang harus begini untuk mencari tahu; dimana ia berada sekarang?
Memegangi kepalanya yang terasa pusing ketika ia keluar dari kamar itu. Seketika langkahnya terhenti saat suara tawa yang sangat ia rindukan masuk kedalam telinganya. Lalu dengan sigap, ia langsung mencari sumber suara itu.
Mematung dan membeku ditempatnya ketika ia menemukan sang pemilik suara. Ya ampun, gadis itu. Bagaimana bisa dia ada disini?
“Jiyoon.” Gumamnya tanpa sadar.
Sementara Jiyoon yang tengah asik tertawa dengan kartunnya itu sontak terhenti karena suara bas itu memanggil namanya. “Oh.. kau sudah bangun.” Ujarnya singkat lalu kembali melihat layar LCD didepannya.
“Iya, aku sudah bangun.” Katanya yang persis seperti keledai dungu ditengah-tengah lapangan. Hanya mematung sendirian. “Apa yang kau lakukan disini?” Imbuhnya lagi.
“Ini rumahku bodoh!” Seru Jiyoon tanpa menoleh pada Kyuhyun.
“Ini rumahmu?”
“Iya.”
“Kenapa aku bisa ada disini? Dan kemana bajuku?”
Jiyoon membuah nafas kesalnya lalu mendelik tajam pada pria itu. “Dengarkan aku baik-baik tuan Cho Kyuhyun. Pertama-tama aku ingin mengucapka terimah kasih karena kau sudah menyusahkan aku habis-habisan tadi malam.” Jiyoon berhenti sejak untuk melihat raut wajah dungu Kyuhyun. “Kedua, kau disini karena seseorang menelfonku dengan paska untuk membawa dirimu enyah dari sana. Lalu yang ketiga, bajumu belum selesai dilondrykan, karena kau muntah diseluruh pakaianmu. Ck! Benar-benar menjijikan.” Jiyoon melempar tatapan jijik pada Kyuhyun. “Jadi bisa dibayangkan bukan, bagaimana susahnya aku karena dirimu!” Setelah mengucapkan unek-uneknya, Jiyoon kembali dengan menatap layar datar yang menampilkan acara kartun itu.
Sedangkan Kyuhyun yang baru saja tersadar setelah ia mencerna ucapan Jiyoon, ia berdecak kesal karena perlakuannya yang ia buat sendiri. Ya ampun…
“Kau yang membuka semua pakaianku?”
“Tentu saja. Memangnya siapa yang ada disini selain diriku?” Kembali, Jiyoon menjwab menoleh pada Kyuhyun. Hingga gadis itu tidak tahu dengan smirk yang mucul di mulut Kyuhyun.
“Ck! Nona Lee, ternyata kau ini masih sama seperti dulu. Pintar membuat tubuhku menjadi polos.” Goda Kyuhyun.
Seketika sembuat merah mucul dikedua pipi berisi Jiyoon saat sadar dengan ucapan Kyuhyun yang menyiratkan penuh makna. Sial! Pria ini mencoba menggodanya.
“Tuan Cho Kyuhyun yang sangat menyusahkan, aku melakukan itu karena dirimu itu sangat jorok! Muntah diseluruh pakaianmu dan mengotori tempat tidurku. Ouh… itu tidak akan kubiarkan. Jadi jangan berbicara omong kosong seperti itu!”
“Jangan berbohong nona Lee. Kenyataan kalau dulu kau sangat lihat untuk melucuti pakaianku.” Kyuhyun mendekat dan duduk di samping Jiyoon. Sontak matanya sedikit melebar saat melihat tubuh Jiyoon yang hanya berbalut celana pendek dan hanya menutupi bagian pribadinya saja. Dan parahnya Jiyoon memakai baju tanpa lengan yang sangat seksi ditubuhnya. Lebih parah lagi, gadis itu tidak memakai bra dan membuat kedua puncaknya menyembul. Sial! Gadis ini ternyata masih sama dengan kebiasanya dulu. Selalu berpakaian dengan tanpa menggunakan bra, dan otomatis dia juga tidak memakai dalamannya.
Kyuhyun sedikit berdehem saat merasakan miliknya mulai berekasi didalam boxer pendeknya. Sial! Sial! Sial! Kenapa ia harus seperti ini hanya karena melihat tubuh Jiyoon yang sangat ia rindukan itu.
“Sebaikanya kau cepat pulang. Aku tidak mau melihat dirimu lagi.”
Kyuhyun menarik nafasnya lalu membuangnya begitu saja. Gadis ini ternyata masih marah dengannya. Tks! Apa yang harus ia lakukan agar gadis ini memaafkan dirinya? Ia tidak ingin seperti ini seterusnya. Apa lagi mendengar Jiyoon akan menikah. Rasanya Kyuhyun ditusuk oleh sebilah belati yang amat tajam. Sangat sakit.
“Aku minta maaf, karena sudah menyusahkanmu Yoon-ah.” Ucapan Kyuhyun melembut, ia sungguh menyesal karena hal itu. “Sejujurnya aku marah karena mendengar dirimu yang akan menikah dengan Kibum. Maka dari itu aku pergi ke club untuk menenangkan diriku. Demi Tuhan, aku tidak rela melihatmu bersama pria lain.”
Jiyoon meremas tangannya saat kata demi kata melucur dari mulut Kyuhyun. Ia akui, jika dirinya memang tersentuh karena ucapan Kyuhyun yang lembut. Tapi bagaimana pun mau luluh dengan pria ini lagi. Ia sudah sangat sakit dan tidak ingin berhungan dalam bentuk apapun.
“Keluarlah dari rumahku Cho Kyuhyun. Kumohoh. Kau bisa memakai pakaian Donghae oppa yang ada dilemariku.”
Hati Kyuhyun seketika mecelos mendengar permohoan Jiyoon yang terasa sangat menyayatkan hatinya. “Kau masih marah padaku?”
Jiyoon memejamkan matanya saat air matanya mulai mendesak untuk keluar. “Kumohon pergilah.” Jiyoon gagal untuk menyembukan suara isaknya, karena nyatanya justru suara itu keluar dari mulutnya.
“Aku akan pergi setelah aku menjelaskan semuanya padamu.”
Jiyoon menggeleng keras. Ia tidak mau mendengar apapun lagi dari Kyuhyun. “Kuhomon.”
“Dengarkan aku Yoon-ah. Aku tidak menghianatimu sekali pun. Aku—.”
“Cukup Cho Kyuhyun. Jangan bicara lagi. Kau sudah menyakitiku. Kau menghianatiku. Aku membencimu!” Ucap Jiyoon bersamaan dengan mengalirnya buliran bening dari matanya.
“Aku tidak menghianatimu Yoon-ah. Kau salah paham.”
“Tidak ada yang salah paham. Jadi pergilah!” Jiyoon beranjak dari tempatnya untuk menjauh dari Kyuhyun, namun dengan sigap Kyuhyun mencengkram tangan gadis itu, lalu menariknya hingga jatuh kembali pada sofa yang pada akhirnya Kyuhyun menindih tubuh kecil itu.
“Cukup sudah kesabaranku selama tiga tahun ini Jiyoon-ah.” Kyuhyun menatap Jiyoon dengan tajam. “Dengar, demi Tuhan aku tidak pernah menghianatimu. Apalagi mempermainkan perasaanmu. Harus berapa kali aku menyakinkan dirimu, kalau aku hanya mencintaimu.”
“Tapi kau menghiantaiku Cho Kyuhyun.” Perkataan Jiyoon melemah, gadis itu kembali kedalam keterpurukanan yang masuk pada jurang yang dalam.
“Tidak Yoon-ah.”
“Hari itu aku melihatmu dengan mataku sendiri, kau tengah bemesraan dengan Hyera di dalam kantormu.”
“Itu tidak benar, kau salah paham. Aku sama sekali tidak bermesraan dengannya. Saat itu aku hanya meniup matanya yang kemasukan debu. Hanya itu tidak lebih. Sungguh Yoon-ah.”
“Kau bohong Cho Kyuhyun.”
“Aku tidak berbohong sedikitpun Yoon-ah. Kumohon percayalah. Aku bahkan tidak pernah mengecup ataupin mencium selain bibirmu. Aku tidak pernah bermesraan dengan siapapun selain denganmu. Hati dan tubuhku hanya untuk bersamamu Yoon-ah.” Kyuhyun mencoba menjelaskan pada gadis yang dicintainya ini agar dia percaya, jika yang dikatakannya memang benar adanya. “Semuanya itu karena aku hanya mencintaimu. Hanya kau yang aku inginkan sebagai ibu dari anak-anakku.”
Tangisan Jiyoon pencah karena ucapan Kyuhyun terlihat sangat tulus. Sangat jelas dimatanya, jika dia tidak memang tidaklah berbohong.
“Lalu jika benar kau seperti itu, kenapa kau tidak menjelaskan padaku dari awal?” Nah ini yang menjadi pertanyaan terheran Jiyoon. Memang benar ‘kan? Jika Kyuhyun tidak menghianatinya, kenapa pria ini tidak menjelaskan semuanya dari awal.
Kyuhyun tersenyum seyara menghapus air matanya Jiyoon dikedua sisinya. “Maafkan aku, karena aku tidak menjelaskan saat itu. Bukan aku tidak ingin, tapi kakakmu ‘lah yang melarangnya. Hyukjae hyung meminta padaku untuk membiakan dirimu seperti itu saat aku akan menjelskannya padamu. Dia bilang, dia ingin kau hanya fokus dengan study-mu setelah kau merasakan masa sulit karena kesalah pahaman kita saat itu. Dan juga dia bilang, dia ingin melihat kesungguhan dariku, jika aku ini benar-benar mencintaimu dengan menunggu kepergian dirimu selama tiga tahun. Sejujurkan aku tidak ingin, hanya saja ucapan kakakmu memang ada benarnya. Aku juga ingin kau hanya fokus dengan program S2-mu untuk menggapai cita-citamu selama ini. dan juga aku ingin kakakmu percaya, jika aku benar-benar mencintaimu dan sungguh-sungguh denganmu. Maafkan aku. Aku melakukan itu demi dirimu dan kita.”
“Kau jahat Cho Kyuhyun. Kau tidak peduli dengan hati dan perasaanku.”
“Aku tahu aku jahat. Maafkan aku. Asal kau tahu, bukan hanya kau yang tersiksa, tapi juga sangat tersiksa. Tidak bisa mendengar suaramu, melihatmu dan menyentuhmu. Karena kau sangat jauh. Jadi tolong percayalah padaku.” Kyuhyun menarik Jiyoon dalam pelukannya. Mencoba yakinkan gadis ini.
Sejujurnya Jiyoon sangat lega mendengar penjelasan dari Kyuhyun yang sangat menyejukkan hatinya. Namun tetep saja Kyuhyun terlalu jahat, membiarkan dirinya yang diselimuti oleh kemarahan, kebencian dan kesakitan selama ini. Hingga semejak hari itu, Jiyoon tidak pernah merayakan hari Natal. Karena menurutnya, Natal hanya menyesakkan hatinya.
“Aku mencintaimu Lee Jiyoon.”
Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jiyoon dalam-dalam. Demi apapun ia sangat senang, karena ia bisa melihat gadis ini dengan jarak yang sangat dekat. Terpisah selama tiga tahun, agaknya menjadi cobaan terbesar Kyuhyun untuk selalu menjaga hatinya selama ini. Dan ternyata ia berhasil. Ia hanya mencintai Jiyoon tanpa melihat dengan gadis-gadis yang setia menunggu kedatangannya.
“Aku merindukanmu.”
Dan setelah itu, Kyuhyun langsung menempelkan mulut pada mulut gadis itu. Dengan ritme yang perlahan, Kyuhyun mulai bergerak untuk melumat dan mengulum bibir Jiyoon secara bergantian. Mencecapinya dengan penuh perasaan, rasa rindu bercampur kasih sayang. Kyuhyun mengerang, saat Jiyoon yang memulai mengajaknya untuk bertarung lidah disana. Sial! Awalnya ia hanya ingin mencium bibirnya, namun saat Jiyoon yang memulai, justru kini ia ingin lebih. Ia menginginkan Jiyoon sekarang juga.
“Engeehh…” Desahan Jiyoon lolos saat bibir Kyuhyun mulai turun di area leher putihnya. Mencecapi setiap inci kulitnya tanpa henti. Pria ini jelas sudah sangat bergairah. Dan Jiyoon tahu itu. Karena dirinya pun demikian. Ia menginginkan milik Kyuhyun didalam dirinya.
“Kyuhhyunn… eunggeeh…” Jiyoon semakin tidak kuasa menahan ranjuan dari mulutnya. Apa lagi Kyuhyun mulai merabahi kedua pahanya. Sial!
“Aku menginginkanmu Yoon-ah.”
.~o♥♥♥o~.
Jiyoon mencengkram rambut Kyuhyun dan menekan kepalanya agar lebih dalam lagi saat mulut pria itu dengan lincah bermain dikewanitaanya. Ingin Jiyoon mengherakkan kakinya dengan bebas untuk melampiasakan rasa kenikmataannya saat ini. Namun ia tidak bisa, karena tangan Kyuhyun mencengkarm dengan kuat pada kedua pahanya, agar kegiatanya mulus tanpa pergerakkan apapun.
“Ouhh… Kyuhh aaahhh.. akuhh akan sampai.” Jiyoon berkata dengan susah payah saat ia merasakan Jiyoon gelombang didalam tubuhnya akan segera keluar. Matanya meremang, mulai pusing karena tidak kuat untuk menahan desakan gelombang itu.
“Aaaaahhhh…” desahan yang cukup panjang menandakan kalau Jiyoon sudah mencapai kelimaksnya yang kedua kali.
Sementara Kyuhyun, pria itu justru belum sekali pun mengeluarkan kepuaskannya. Dia hanya asik menjajahi seluruh tubuhnya.
“Kumohon Kyu cukup.” Katanya saat Kyuhyun kembali mendekatkan wajahnya dan memberinya ciuman yang lumayan panas seperti biasanya.
Kyuhyun menarik diri dan menatap wajah cantik Jiyoon yang seperti saat ini, polos. “Baiklah. Tapi aku ingin kau manjakan milikku. Dia sudah sangat merindukanmu untuk didalam mulutmu, sayang.”
Jiyoon tersenyum lalu mencium bibir Kyuhyun singkat. Dengan sigap Jiyoon membalikan posisinya—berada di atas Kyuhyun.
“Baiklah tuan Cho. Rasakan ini.” Setelah mengucapkan itu, sedetik kemudian Jiyoon mulia bermain dengan milik Kyuhyun. Pertama, gadis itu memulainya dengan mengecup ujung kepala milik Kyuhyun yang dirasa semakin besar saja. Sangat berbeda dengan tiga tahun yang lalu. Dirinya yang sudah lama tidak berhubungan dengan Kyuhyun atau hanya opininya saja yang mengatakan demikian.
“Aaaahhh… ssshhhh” Kyuhyun mulai merancau tidak jelas, saat mulut Jiyoon begitu lihai bermain dengan miliknya. Sungguh sangat nikmat. Entah ini efek karena tidak merasakan hal ini, atau memang Jiyoon-nya ini semakin pintar membuat miliknya puas saat berada di dalam mulutnya?
“Terus sayang, lebih cepat aaahh…” Kyuhyun semakin menekan kepala Jiyoon akan semakin dalam miliknya tertanam didalam mulut mungilnya. Terkadang Kyuhyun merasa heran dengan Jiyoon, mulut Jiyoon sangat kecil, berbeda sekali dengan miliknya yang lumayan besar. Namun gadis itu tidak pernah merasa kesulitan saat bermain dengan miliknya. Selalu lincah dan membuat puas.
“Cukup sayang, cukup. Aku tidak mau meledak di dalam mulut manismu itu.” Kyuhyun menarik kelapa Jiyoon, dan memerintah untuk gadis itu segera merangkak keatas tubuhnya. “Itu sangat hebat kau tahu?”
“Aku tahu tuan Cho.”
“Bersiaplah sayang.”
“Selalu.”
Kyuhyun tersenyum senang karena Jiyoon selalu siap untuk dirinya masuk kedalam sana. Lalu kemudian Kyuhyun kembali membalikkan posisi mereka, hingga ia kembali berada di atas. Pemimpin permainan pertama mereka setelah lama mereka tidak bertemu.
“Ya! Cho Kyu—aaahhhh…” Jiyoon mengeram bercampur nikmati ketika milik Kyuhyun bergesekkan dengan miliknya. Astaga… sial! Apa pria tampan ini ingin membuatnya kembali berorgasme hanya karena pergesekan seperti ini?? “Kumohon jangan seperti ini. Cepatlah!”
Ia kerkekeh melihat wajah kesal dan terangsang Jiyoon yang seperti ini. Terlihat lucu dan sexy disaat yang bersamaan. Benar-benar cantik gadisnya ini. Beruntung sekali ia bisa mendapatkan cintanya yang tak terkira banyaknya. Ia bahkan tidak pernah menyesal sekalipun karena ia sempat berpisah dengan Jiyoon. Karena pada akhirnya, dia tetap menjadi miliknya. Hati dan tubuhnya.
Jiyoon mencengkram seprei berwarna merah marun itu dengan kuat saat milik Kyuhyun mulai mendesak masuk pada miliknya. Ah.. sial! Kenapa begitu sakit, padahal bukan kali pertamanya. Dulu, bahkan ia dan Kyuhyun sudah sangat sering melakukan ini. Tapi kenapa rasanya sakitnya sekali. Jiyoon terus menggeram karena milik Kyuhyun, belum juga masuk sepenuhnya. Dan ini sangat sakit sekali.
“Yoon-ah, kenapa kau begitu sempit eoh?” Ucapan Kyuhyun sedikit tersendat karena ia masih berusaha menanamkan miliknya.
“Akhh.. aku tidak tahu Kyu. Akhh…”
Kyuhyun terus mendesak miliknya agar cepat masuk, karena ia tidak tega melihat wajah kesakitan Jiyoon dibawahnya. “Tahan sayang.”
Dengan hentakan kuat, akhirnya milik Kyuhyun berhasil masuk sepenuhnya didalam Jiyoon. “Aaaaahhhhh…” Desah mereka secara bersamaan. Saat tubuh mereka benar-benar menyatu satu sama lain. Mereka tidak menyangkan jika akan sesulit ini. Karena dulu, mereka tidak pernah seperti ini. Semuanya mulus, tanpa ada hambatan yang berarti.
“Maaf Yoon-ah, ini pasti sangat menyakitkan.” Sesal Kyuhyun dengan menatap senduh gadisnya.
“Kau tidak menyakitiku Kyu, mungkin karena sudah terlalu kita tidak bermain seperti ini.”
Kyuhyun tersenyum dan mengangguk, membenarkan ucapan Jiyoon. “Kupikir juga begitu.”
“Aaahhh… aahhh… aahhh…” Jiyoon mendesah saat Kyuhyun mulai bergerak dengan ritme pelan. Kyuhyun tidak ingin menyakiti Jiyoon, maka dari itu, ia sangat hati-hati dengan pergerakkannya.
Jiyoon melingkarkan kakinya dipungguh Kyuhyun. Memberi akses pria ini agar lebih mudah dengan kegiatan mereka. Tanganya juga semakin kuat merengkuh leher Kyuhyun, saat prianya ini semakin mempercepat tempo gerakan tubuhnya disana. Sial! Jiyoon mulai meremang, ia tahu betul dengan gelombang didalam miliknya akan segera keluar. Namun ia sedikit menahannya, karena Kyuhyun tidak ada tanda-tanda kepuasanya itu akan keluar.
“Lebih cepat Kyuhhh… ouhh…”
Kyuhyun mengabulkan permintaan Jiyoon. Dia semakin sempercepat aksinya, karena ia tahu, Jiyoon akan sampai. “Kau sungguh nikmat sayang.” Kali ini Kyuhyun yang merancau. Pria itu mempercepat gerakan pingguhnya, karena agaknya dia mulai merasakan jika sebenar lagi dia akan mencapai kelimaksnya.
Jiyoon sudah tidak kuat lagi, ia semakin mencengkaram tubuh Kyuhyun dengan kuat, karena gelombangnya sudah di ujung tanduk. Sama seperti Kyuhyun, ia tahu jika Kyuhyun juga demikian. Karena ia bisa merasakannya. Milik Kyuhyun semakin membesar didalam sana. Dan…
“Aaahhhhhh…” Desahan mereka keluar bersamaan saat mereka sama-sama mencapai dititik kepuasannya masing-masing.
Mereka tidak menyangka jika percintaan kali ini sungguh sangat hebat. Apa lagi mereka sama-sama merasakan jika hari ini adalah hari yang paling bahagia. Setidaknya tiga tahun belakangan ini.
“Kau luar biasa sayang.”
“Kau juga tuan Cho. Sangat luar biasa.”
“Aku tahu.”
Mereka sama-sama tersenyum tanpa melepas kontak tubuh masing-masing. Namun senyum Jiyoon sirna saat ia sadar akan sesuatu.
“Kyu, kau tidak memakai pengaman?” Jiyoon bertanya dengan raut wajah yang sedikit ketakutan.
“Tidak. Aku tidak memakainya. Apa kau lihat aku memakai benda itu? Dan kau juga merasakan milikku ‘kan? Apa dia berasa manis atau sejenisnya saat dimulutmu?”
Matanya Jiyoon membuat, karena sadar, Kyuhyun tidak memakai pengaman sama sekali. Sedangkan hari ini adalah masa suburnya. Ouh.. tidak! Ini gawat.
“Ya! Cho Kyuhyun, kau tahu kau tidak memakainya, kenapa kau mengeluarkan didalam eoh?”
Seharusnya Kyuhyun marah karena benakan Jiyoon, namun yang ada justru pria itu terkekeh senang bukan main. “Aku memang sengaja.”
“A—apa? Sengaja?”
“Ia aku sengaja. Agar di perutmu ini tumbuh buah cinta kita sayang.” Kyuhyun mengelus perut Jiyoon dengan penuh harap. Berharap kali ini ia akan membuahkan hasil, yaitu kehamilan Jiyoon. Dengan begitu, Jiyoon tidak akan kemana-kemana. Hanya bersamanya, sampai kapanpun.
Sementara Kyuhyun tengah bersuka cita, namun Jiyoon justru meraskan takut yang luar biasa. Ya Tuhan, Cho Kyuhyun gila. Apa dia tidak sadar jika perbuatannya ini akan menimbulkan permasalahan. Apa lagi dengan ayah Kyuhyun. Pria berusia lanjut sangat tidak menyukia dirinya. Lalu bagaimana jika hari ini Kyuhyun berhasil membuatnya hamil? Damn! Kau dalam masalah Lee Jiyoon.
“Hey.” Kyuhyun mengelus pipih Jiyoon lembut. “Jangan khawatirkan apa-apa lagi. Semuanya akan baik-baik saja sayang. Hanya perlu berharap agar kau cepat hamil. Dengan begitu aku akan segera menikahimu di hari itu juga.”
Mulut Jiyoon menganga hebat mendengar ucapan Kyuhyun yang penuh harap. Pria ini sungguh sangat menginginkan kehamilan dan pernikahnnya. “Apa kah kau sedang melamarku Kyu?”
“Tidak. Aku tidak melamarmu. Aku sedangkan memaksamu.”
“Dasar gila kau Cho Kyuhyun.”
“Itu memang diriku sayang.” Kyuhyun menyeringai puas melihat Jiyoon yang kesal setengah mati karenanya. “Aku ini gila, maka dari itu, ayo kita lanjutan kegilaanku.” Smirk licik terukir di bibir pria itu
“Apa maksudmu?” Cecar Jiyoon cepat.
“Ronde kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ”
“Ya! Cho Kyuhyun. Dasar mesum!” Jiyoon mulai meronta, namun Kyuhyun lebih dulu mencekal kedua sisi tangan Jiyoon. Ia tidak akan melepaskannya sampai ia benar-benar puas! Bayangkan, tiga tahun tanpa menyentuh tubuh mungil ini? Ouh.. itu sungguh sangat sulit sekali untuk di laluinya. Dan ini saatnya untuk menuntaskan segela kebutuhan biologisnya selama ini.
“Aku tahu, aku ini mesum sayang. Tapi itulah diriku.” Kyuhyun mengecup puncak kepala Jiyoon lama. Menghantarkan kehatangan diantara mereka. “Merry christmas honey.”
“Merry christmas too my Cho. I love you.”
“I love you more, more and more.”
Keduanya tersenyum bahagia karena bisa merasakan kehangatan yang ternilai harganya. Kyuhyun sangat bersyukur, karena ia bisa bersama Jiyoon lagi. Dan ia bersumpah, tidakkan pernah melepakannya sampai kapanpun. Karena ia sangat mencintai gadis ini dengan apa adanya. Sikapnya, tingkahnya, dan semua yang ada di dalam diri Jiyoon, Kyuhyun akan selalu menyukainya. Karena memang seperti itulah yang namanya cinta. Cinta tidak akan memandang bagaimana orang itu dan alasan apa yang mendasarinya. Semuanya akan datang dengan tiba-tiba. Dan kita manusia, hanya bisa mengikuti layaknya air yang mengalir. Dimana, kapan dan bagaimana kehidupan itu akan terjadi, hanya tuhan yang akan mengaturkan.
Seperti kedua anak adam itu, mereka pada awalnya tidak saling mengenal. Bahkan untuk membayangkan cinta saja mereka tidak pernah terlintas sekalipun. Namun Tuhan bekehendak, yang pada akhirnya mereka bersatu seperti saat ini. Dan Jiyoon sangat mensyukuri hal itu. Karena ia bisa bersama pria ini, pria yan sangat ia cintainya dan mencintainya. Sekali lagi, Jiyoon sangat bersyukur karena untuk pertama kalinya, Jiyoon bisa merasakan kebahagian di hari Natal ini. Bahagia bersama prianya—Cho Kyuhyun.
‘Merry christmas’
FIN

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: