Because Of You

0
ff nc because of you kyuhyun
Author : Angel_Cho
Tittle : Because Of  You
Category : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot
Cast : Cho Kyuhyun, Lee Jiyoon
Other Casts : Find By Yourself

Lenguhan dan desahan kedua anak adam yang tengah menyatukan tubuhnya menggema diseluruh kamar yang berukuran luas itu. Entah sudah berapa lama mereka terjebak dalam kenikmatan yang tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Indahnya gerhana bulan di malam ini adalah saksi bisu bagaimana nikmatnya percintaan mereka yang begitu panas.

“Kyuuuuhh—.” Erang sang empunya yang tengah berada di bawah kuasa pria bermata elang ini tak tertahankan saat kewanitaannya semakin tegang terus bekedut, dan artinya ia akan sampai. Oh tidak! Ia akan segera orgasme untuk yang kelima kalinya. Tapi dia—pria yang tengah menghujaminya dengan kenikmatan ini justru belum sekalipun mencapai puncaknya. Ini gila. Sangat gila. Jika sudah begini, pasti dirinya yang akan terkuras habis karena percintaan yang sudah menjadi kebiasaan kedua pasangan muda ini.
“Enggghh—.” Lenguhan yang berasal dari mulut pria yang bermarga Cho ini lolos, dirinya tak kuasa menahan erangan akibat miliknya semakin menegang hebat. Tak ayal jika ia terus menambah kecepatan gerakan erotisnya. Dan sang wanita dibawah kuasanya semakin tak terkendali, kepalanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan. Sakit, panas dan nikmat secara bersamaan yang sekarang ia alami saat sang pria terus menghujaminya dengan gerakan yang semakin cepat.
Lelah. Sungguh ia lelah dengan kegiatannya sekarang. Tapi ia harus bagaimana jika prianya terus menyiksa dirinya seperti ini. Dan melakukan hal macam ini adalah kegiatan rutin mereka. Bisa dibayangkan bukan bagaimana rasanya menjadi wanita ini?
Menikmati? Tentu saja ia menikmati. Karena ia melakukannya bersama pria yang sangat ia cintai. Bahkan melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Namun, disisi lain ia juga lelah. Karena prianya—Cho Kyuhyun selalu menginginkan hal ini disetiap harinya.
“Ahhhh—.” Tuntas sudah, desahan panjang yang keluar dari mulut Kyuhyun dan itu menandakan bahwa pria ini mencapai klimaksnya. Tubuh Kyuhyun ambruk menindih tubuh sang wanitanya. Nafasnya tersengal begitupun sang wanita. Dadanya naik turun. Karena keduanya sudah mencapai puncak masing-masing. Ada perasaan lega di wanita ini, karena begitu Kyuhyun mencapai puncaknya, maka tidak ada kegiatan lagi selain tidur.
Kyuhyun menggulingkan tubuhnya dan menarik selimut, menutupi tubuh polosnya dan wanita di sampingnya. “Tidurlah Lee Jiyoon.” Pintanya lalu memejamkan mata. Sedangkan gadis yang bernama Lee Jiyoon itu hanya memandangi punggung Kyuhyun yang tidur memunggunginya. Ia mendengus kesal, selalu saja seperti ini. Bercinta dan tidur, tanpa ucapan manis selamat tidur ataupun sebuah pelukan. Miris memang, tapi itulah kenyataan yang Jiyoon terima dari kekasihnya itu.
.~o♥♥♥o~.
Matahari masih berada di persembunyiannya. Belum menampakkan cayahanya pagi ini, sebab waktu masih menunjukan pukul lima pagi. Namun gadis berperawakan mungil itu sudah sibuk dengan wajan dan spatulanya. Menyiapkan sarapan untuk kekasihnya yang amat ia cintai itu. Ini adalah hal rutin yang ia lakukan sebelum pergi dari apartement mewah ini dan kembali ke rumah mungilnya.
Jika ada yang berpikir kenapa Jiyoon harus pergi dari apartement Kyuhyun? Jawabannya karena mereka tidak selamanya tinggal bersama. Melainkan hanya untuk menghabiskan malam panjang mereka saja. Menggelikan? Yahh… memang. Dan setelah itu Jiyoon akan pergi dari kediaman Kyuhyun, setelah ia menyiapkan segala sesuatu keperluan Kyuhyun di pagi hari. Seperti menyiapkan air hangat, pakaian kerja dan sarapan paginya.
“Selesai.” Gumamnya seraya melepas celemek dan kembeli ke kamar Kyuhyun mengambil barang miliknya. Tas beserta tetek bengek pekerjaan kantornya yang ia kerjaan disitu. “Selamat pagi tuan Cho.” Bisik Jiyoon di telinga Kyuhyun, kemudian pergi berlalu meninggalkan apartement itu.
.~o♥♥♥o~.
Lee Jiyoon, gadis cantik bertubuh ramping nan mungil itu tampak mengulum senyumnya saat seorang laki-laki bertubuh tegap, tinggi, berkulit putih pucat, berhidung mancung, bermata elang  dan merupakan anak tunggal dari pemilik Cho Corp, sebuah perusahaan besar dan berpengaruh di Korea selatan ini, yang tak lain adalah perusahaan tempat ia bekerja, lagi-lagi kembali menolak ajakan makan siangnya.
“Sudah berapa kali aku bilang padamu,  jangan mengajakku makan siang bersama saat sedang dikantor, aku banyak pekerjaan. Apa kau tidak mengerti juga?” gadis mungil itu kembali tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya dan mengangguk kecil saat mata elang milik Kyuhyun menatapnya dengan tatapan tidak suka.
“Arraseo.” Jiyoon tersenyum dan mencoba setegar mungkin dihadapan Kyuhyun, ia tak mau terlihat lemah. “Aku akan kembali ke mejaku.” Lanjutnya lagi.
“Bagus.” Ucapan dingin sudah jelas bahwa Kyuhyun tidak mau melihanya lagi. Jiyoon memejamkan matanya seraya pergi dari ruangan Kyuhyun—kekasihnya.
“Kau anggap aku ini apa? Apa aku bukan kekasihmu?” Gerutunya dalam hati sesaat setelah ia menutup pintu ruangan Kyuhyun, pria yang sudah di cintainya sejak dua tahun lalu. Pria yang tiba-tiba saja memintanya untuk menjadi kekasih. Dan pria yang merupakan CEO di perusahaan tempat ia mencari pundi-pundi untuk kebutuhan hidupnya.
.~o♥♥♥o~.
Senyum Jiyoon terbit saat sebuah minuman beserta makanan kesukaannya tertata rapih di meja nomor dua puluh. Moccacino dan kue coklat, kedua makanan yang menjadi langganan setiap kali datang ke kafe yang bergaya klasik ini. Tidak ada teman atau siapapun yang menemaninya, ia selalu sendiri, dan sendiri adalah kenyamanan tersendiri baginya.
Ia mengunyah makanannya dan sesekali menyesap moccacino hangatnya. Hazel matanya menelisik keseluruh ruangan kafe ini, sedikit sepi. Pantas jika sekarang sepi, karena jarum pendek pada jam dinding sudah berada di angka sepuluh. Hanya orang-orang seperti Jiyoonlah yang masih bertahan dijam-jam seperti ini.
Jiyoon mengambil sesuatu dari tas kerjanya. Sebuah benda tipis yang selalu ia bawa kemana-kemana—laptop. Dibukanya laptop berukuran sepuluh inci itu dan menekan tombol on.
Menyesap kembali moccacino sambil menunggu sang laptop menampakkan tampilannya. Ia tersenyum saat benda berlayar itu kini menampakkan gambar seorang pria tampan sebagai wallpapernya. Ia terkekeh melihat sang pria dilayar laptopnya, Cho Kyuhyun. Pria yang diam-diam sudah mencuri hatinya. Oh.. ayolah siapa yang tidak terpesona dengan paras Kyuhyun yang hampir sempurna dan tanpa celah. Bahkan dirinya kini sudah terjebak dalam pesona dari Cho Kyuhyun, yang tak lain dan tak bukan adalah CEO di kantornya.
“Cho Kyuhyun.” Gumam Jiyoon. Wajahnya bertumpuh pada kedua tangan. Ia tersenyum melihat betapa tampannya wajah bosnya ini. Namun sayang, sepertinya Jiyoon hanya bisa mengagumi pria ini dari kejauhan. Ya.. karena memang seperti itulah kenyataannya. Atasan dan bawahan. Tidak mungkin menjadi satu. Pikirnya.
Dulu, saat pertama kali ia diterima  di Cho Corp—perusahaan milik Kyuhyun, ia sering sekali mendengar desas-desus dari para pegawai lainnya, bahwa sang CEO sangatlah tampan dan sangat perfect. Pria itu selalu di agung-agungkan ketampanannya oleh para pegawai wanita. Kontan saja hal itu membuat Jiyoon penasaraan dengan sosok  sang CEO. Seperti apa gerangan CEO-nya itu? Apa memang tampan seperti yang sering dibicarakan? Atau memang hanya dibuat-buat saja oleh para penggosip di kantor?
Hingga pada akhirnya ia seketika terpaku saat matanya benar-benar melihat sosok yang bernama Cho Kyuhyun. Pria itu lewat di depan matanya dengan dikawal dua orang asisten di belakang. Benar, benar sekali. Cho Kyuhyun memang benar-benar tampan. Setelan jas berwarna hitamnya sangat cocok dengan posture tingginya. Astaga.. Jiyoon mampir pingsan detik itu juga.
Dan seketika itu pula Jiyoon benar-benar jatuh cinta pada Kyuhyun. Kedengarannya memang klise, namun itu kenyataan yang Jiyoon alami. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Oh My.. sungguh sulit dipercaya. Bahkan sebelumnya Jiyoon tidak pernah merasakan hal semacam ini. Dadanya berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Dan semua itu hanya karena melihat wajah tampan Kyuhyun.
Jiyoon kembali tersenyum dan mengunyah kue coklatnya saat mengingat betapa bodohnya ia jatuh cinta pada atasannya sendiri.
Tangan mungilnya menggeser kursor pada kumpulan file-nya. Ia meng-klik file berjudul ‘My Bos’. Dibukanya filenya itu, dan jari-jarinya mulai mengetik apapun yang ada di fikirannya sekarang. Dan file ini merupakan tulisan Jiyoon yang ingin sekali ia jadikan sebuah novel. Hobinya menulis dan sering membuat cerita yang ia posting lewat blog pribadinya. Membuat Jiyoon seketika mendapat ide untuk menceritakan kisah cintanya yang ia tuangkan dalam tulisan-tulisan. Dan yang kini menjadi tokoh utamanya adalah Kyuhyun, pria yang ia kagumi dan ia cintai.
Saat jarinya lincah mengetik pada keyboard laptopnya, sebuah suara bass yang sangat jarang ia dengarkan ini menguar dikedua telinga.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini nona Lee?”
Deg…
Jantung Jiyoon mendadak memompa lebih cepat, ia tahu siapa si pemilik suara itu walau ia jarang mendengarkannya. Ia mendongakkan kepalanya dan didetik itu juga mata Jiyoon melotot dan mulutnya sedikit terbuka.
“S—sajangmin.” Ujar Jiyoon gugup. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan orang yang baru saja menjadi topik utama di pikirannya.
Kyuhyun menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Jiyoon. “Kau tidak menjawab pertanyaanku nona Lee.”
Jiyoon terkesiap lalu mengerjap sadar dari keterkejutannya. “A—aku hanya menikmati malam saja sajangnim.” Sahutnya masih dengan terbatah. “Lalu anda sendiri?” Sambung Jiyoon bertanya. Hanya mencoba menetralkan rasa kegugupannya saat ini.
“Menikmati malam.” Kyuhyun menjawab dengan santainya. Jiyoon hanya mengangguk menanggapi jawaban Kyuhyun. “Lalu apa yang kau lakukan dengan laptopmu itu?”
Seketika Jiyoon tersadar dengan laptopnya. Oh Tidak!! Laptopnya berisi tentang pria yang di hadapannya kini. Dengan segera Jiyoon menutup laptopnya asal. “Animida sajangmin, bukan apa-apa.” kilahnya.
Kyuhyun sempat heran dengan tingkah bawahan di kantornya ini. Namun itu hanya berlaku beberapa menit, karena dua detik kemudian wajah Kyuhyun kembali normal. “Nona Lee Jiyoon.” Panggil Kyuhyun dengan raut wajah serius.
“Ya sajangnim.” Sahutnya lalu menatap manik Kyuhyun. Menunggu ucapan Kyuhyun selanjutnya.
“Jadilah kekasihku,” Ini pernyataan bukan pertanyaan yang terlontar dari mulut Kyuhyun. Kontan saja membuat Jiyoon terpaku dengan mata melebar sempurna. Apa ini mimpi? Kalau Kyuhyun baru saja memintanya menjadi seorang kekasih. Jika ini mimpi, tolong segera bangunkan dirinya Tuhan. Namun semuanya terasa nyata dan bukanlah sebuah mimpi.
Jiyoon mencubit tangannya sendiri, membuktikan bahwa ini ucapan Kyuhyun adalah kenyataan. “Aw!” Seru Jiyoon sedikit meringis. Sedangkan Kyuhyun hanya mengernyitkan dahinya dengan apa yang Jiyoon lakukan barusan.
“S—sajangmin, a—apa yang anda katakan?” Jiyoon semakin gugup dibuatnya. Ia masih bingung dengan ucapan Kyuhyun. Apa maksudnya dengan ia dijadikan seorang kekasih? Bertemu saja mereka hanyalah karena berpapasan di kantor. Bicara, bahkan baru kali ini Jiyoon bisa bicara dengan Kyuhyun secara langsung. Sisanya Jiyoon hanya memandang Kyuhyun dari kejauhan, itu pun kalau Kyuhyun tengah berada ruangan di divisinya.
“Sekarang kau menjadi kekasihku.” Kyuhyun menyahut dengan santai tanpa peduli bagaimana keadaan Jiyoon saat ini yang begitu terkejut dengan ucapannya.
“Hah?” Jiyoon kini lebih terlihat bagai keledai dungu. Sangat konyol. Lebih konyol dari apapun. Ia sungguh-sungguh tidak menyangka jika hari ini menjadi hari yang aneh sekaligus membahagiakannya. Bagaimana tidak, orang yang selama ini  ia kagumi kini meminta  dirinya menjadi seorang kekasih. Aneh, tapi nyata.
Deringan ponsel di sampingnya sontak membuat Jiyoon tersadar dari lamunannya mengenang waktu pertama kali Kyuhyun memintanya menjadi kekasihnya. Begitu klise, dan tidak terduga.
“Yeobseyo.” Sahut Jiyoon saat ponsel berlayar sentuh itu menempel di telinganya.
“Cepat keruanganku.” Jiyoon hanya mengerutkan dahinya mendengar suara titahan yang jelas tidak menerima penolakan.
“Eoh.” Dan setelah mengucapkan itu, sambungan telefon terputus begitu saja.
Jiyoon hanya memandangai ponselnya dengan heran. Tidak biasanya Kyuhyun menyuruhnya untuk datang keruangan yang jarang sekali Jiyoon masuki. Walau mereka sudah hampir satu tahun menjalin hubungan. Karena Kyuhyun selalu melarang Jiyoon untuk kesana jika tidak tidak ada yang penting untuk di bicarakan, kecuali urusan pekerjaan.
Jiyoon melirik jam tangannya, sudah pukul enam sore dan itu artinya ia sudah termenung dimejanya selama satu jam. Bodoh, melakukan hal yang tidak berguna saja kau Lee Jiyoon. Makinya dalam hati. Lalu membereskan barangnya dan bergeras menuju ruangan kekasihnya.
.~o♥♥♥o~.
“Lama sekali kau.” Ucapan dingin itu terdengar saat Jiyoon baru saja masuk keruangan Kyuhyun.
“Maaf.” Jiyoon tak kalah dinginnya dengan Kyuhyun. “Ada apa kau memanggilku, tidak biasanya.?” Tanya Jiyoon yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya saat ini.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin pulang bersamamu” Ucap Kyuhyun tanpa menatap Jiyoon, pria itu tengah sibuk dengan kertas di mejanya.
Jiyoon membulatkan matanya seketika, membuat gadis itu terdiam untuk beberapa saat. Jiyoon tidak menyangka kalau hari ini Kyuhyun akan mengantarnya pulang. Karena selama menjalin hubungan dengannya, tidak pernah sekalipun Kyuhyun untuk mengantar ataupun menjemputnya dirumah. Oh.. yaa tentu saja itu semua karena selama ini Jiyoon selalu datang ke apartement Kyuhyun untuk membereskan setiap ruangannya, membuatkan makanan dan menghabiskan malam bersama.
Malam bersama. Kalimat itu agak membuat Jiyoon bak wanita murahan. Dia dan Kyuhyun hanyalah sepasang kekasih, namun tindakan mereka sudah melewati batas dari kewajaran. Tidur dan menghabiskan malam bersama. Bahkan sudah tidak terhitung berapa kali mereka melakukannya. Karena semenjak pertama kali Kyuhyun menjadikannya kekasih,  dan di hari itulah Jiyoon merelakan mahkotanya untuk Kyuhyun. Murahan? Ya, mungkin itu pantas untuk Jiyoon. Tapi itu semua karena Jiyoon sangatlah mencintai Kyuhyun.
Sejujurnya terkadang Jiyoon bertanya pada dirinya sendiri tentang semua sikap Kyuhyun padanya. Pria ini selalu bersikap dingin, acuh dan datar. Namun terkadang pula Kyuhyun seperti membutuhkannya. Entah itu karena memang benar-benar membutuhkan Jiyoon, atau hanya  karena membutuhkan tubuhnya.
“Wae? Kenapa diam saja, ayo kita pulang!” Ajak Kyuhyun mulai melangkah mendahului Jiyoon. Jiyoon hanya tersenyum dan bergegas menyusul langkah Kyuhyun. Mungkin ini pertanda baik, batin Jiyoon menerka. Mengingat biasanya Kyuhyun hanya menunggu kedatangnnya di apartement, tapi kini akan mengantarkannya pulang.
Saat Kyuhyun dan Jiyoon tiba di parkiran dan hendak masuk kedalam mobil, seseorang memukul pundak Kyuhyun. “Mau apa kau Hyukjae?” tanya Kyuhyun tanpa minat yang di balas dengan cengiran lebar oleh Hyukjae. Benar-benar menyebalkan.
“Malam ini Sungmin mengadakan party di rumahnya.” ucap Hyukjae sambil memandang Jiyoon. “Jiyoon-ah bolehkan jika aku meminjam kekasihmu ini sebentar,” lanjut Hyukjae sambil merangkul bahu Kyuhyun, Jiyoon hanya tersenyum saat Kyuhyun menatapnya dingin. Seolah meminta ijin namun Jiyoon harus memperbolehkannya. Lagi-lagi menatapnya seperti itu.
“Terserah Kyuhyun saja, aku bisa pulang dengan taxi” Jiyoon kembali tersenyum saat Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan detik berikutnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kyuhyun sudah masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Hyukjae.
Jiyoon mendesah kecewa, baru saja ia berharap ini adalah pertanda baik untuk hubungannya dengan Kyuhyun, tapi semuanya pupus saat sahabat karib Kyuhyun muncul dan meninggalkan dirinya seperti ini.
“Kenapa hingga detik ini, kau tidak pernah melihatku Kyu? Sampai kapan kau seperti ini? Dan sampai kapan kita akan tetap begini.?” Gumam Jiyoon pelan.
Merasa lelah. Mungkin itu yang Jiyoon alami saat ini. Selama ini Jiyoon selalu berusaha untuk selalu menjadi kekasih yang baik. Dengan selalu menuruti permintaanya dan tidak pernah membantah. Tapi apa yang selama ini ia dapatkan, hanya keacuhan dan kedataran. Lalu jika hanya untuk terus dicauhkan, untuk apa setahun yang lalu Kyuhyun memintanya untuk menjadi kekasih?
Jangankan perhatian, menganggapnya ada saja Kyuhyun tidak pernah. Kecuali jika mereka bercinta. Maka dengan sekejap Kyuhyun akan berubah menjadi pria yang sungguh membutuhkannya. Mungkin lebih tepatnya membutuhkan tubuhnya.
.~o♥♥♥o~.
Jiyoon merebahkan tubuhnya di ranjang yang hanya cukup untuk tubuh mungilnya ini. Pikirannya kembali menerawang dan terarah pada Kyuhyun. Entah apa lagi yang harus ia lakukan untuk membuat Kyuhyun melihatnya. Bukan menganggapkan sebagai barang yang tidak mempunyai nilai dimata Kyuhyun.

Malam ini Jiyoon memilih berdiam dirumah kecilnya. Karena percuma jika ia datang ke apartemen Kyuhyun. Kekasihnya itu pasti tidak akan pulang, dan itu menjadi kebiasaan Kyuhyun jika sudah bersama teman-temanya.

Jiyoon bangun dari posisinya, ia duduk dan menoleh pada figura kecil di nakas samping ranjang. “Eomma… Appa… aku sungguh merindukan kalian.” Ujar Jiyoon bersamaan dengan butiran mening membasahi pipi tirusnya. “Kalian meninggalkanku. Hiks—.” Jiyoon terisak.

Figura kecil itu adalah mendiang dari kedua orang Jiyoon. Mereka meninggal karena sebuah kecelakaan pesawat saat akan mendarat di bandara Inceon Airpot. Saat itu kedua orang tua Jiyoon ingin menjemput Jiyoon untuk kembali ke negara kelahirannya—Jepang. Namun na’as pesawat yang mereka tumpangi saat itu mengalami ketidakseimbangan saat akan mendarat, hingga pesawat itu tergelincir hingga menimbukan kebakaran di bagian belakang. Dan pesawat itu meledak, menewaskan ratusan orang didalamnya, termasuk kedua orang tua Jiyoon.

Jelas saat itu Jiyoon sangat terpukul, ia memang sangat enggan untuk kembali ke negara asal ibunya dan lebih senang untuk tinggal di Korea, negara kelahiran ayahnya. Walaupun begitu, memang pada saat itu Jiyoon akan kembali ke Jepang setelah menuntaskan studynya di Kyunghee University. Tapi sebuah kejadian menimpa kedua orang tuanya, lantas Jiyoon memutuskan untuk mencoba hidup mandiri dengan bekerja seperti sekarang ini. Karena orang tua Jiyoon tidak meninggalkan apa-apa untuknya. Perusahaan serta kekayaan yang dimiliki kedua orang tua Jiyoon disita, karena faktanya ayah Jiyoon terlibat hutang perusahaan. Dan untungnya Jiyoon tidak terkena imbasnya, sebab kakak dari ibu Jiyoonlah yang melunasi semua hutang tersebut.
.~o♥♥♥o~.
“Jiyoon-ah apa pekerjaanmu sudah selesai.” Tanya Hyera dari seberang meja. Sedangkan Jiyoon masih sibuk dengan beberapa pekerjaan di layar komputernya.

“Sebentar lagi. Waeyo?.” Jawab Jiyoon masih berkutik dengan layar komputernya.

“Aku lapar. Ayo kita makan.” Ajak Hyera dan mendekat pada Jiyoon.

Jiyoon menoleh sesaat pada Hyera lalu tersenyum. “Baiklah aku juga lapar. Laporan ini nanti saja aku kerjakan.” Ujarnya lalu sedikit merapika mejanya yang sedikit berantakan dan bergeras pergi dari ruangan yang menyebalkan, karena pekerjaan hari sungguh membuat tulang rusuknya sakit. Duduk diam dan menatap komputer dalam berjam-jam. Menyebalkan bukan?

.

.

Jiyoon dan Hyera kini tengah berada di kafe yang menyediakan makanan Jepang. Kerena baik Jiyoon maupun Hyera, keduanya sangat menyukai makan khas negara yang terkenal dengan fujinya itu. Alasan Jiyoon menyukai makanan ini adalah tentu saja karena Jiyoon berasal dari negara itu.

“Ini pesanan anda.” Ucap seorang pelayan dengan sopan seraya menata meja Jiyoon dan Hyera dengan berbagai makanan.

“Wuaahh…ini pasti enak.” Seru Jiyoon senang lalu  setelah mengatakan itu Jiyoon langsung menyantap dengan lahap begitupun dengan Hyera.

Namun saat Jiyoon tengah asik dengan makananya, pandangan Jiyoon tertuju pada sosok yang baru saja masuk kedalam kafe ini, ia datang bersama seorang gadis cantik.

Cho Kyuhyun.

Mata Jiyoon tak pernah lepas dari Kyuhyun yang tengah asik bercengkrama gadis yang bersamanya. Entah siapa gadis yang tampil sangat elegan bersama kekasihnya. Kyuhyun nampak sangat bahagia dengan gadis itu, sesekali melempar senyuman satu sama lain. Senyuman yang tak pernah Kyuhyun berikan kepadanya. Sedangkan dirinya, hanya sikap acuh, dingin dan datarlah yang ia dapat dari Kyuhyun selama ini.

“Jiyoon-ah, kau kenapa eoh?” Hyera bertanya saat Jiyoon diam dan tak lagi berselera dengan makanannya.

“Aku tidak apa-apa.” Jiyoon hanya tersenyum kaku. Namun Hyera bukan orang bodoh yang tidak tahu dengan gelagat aneh sahabatnya.

Lantas dengan serta-merta Hyera menelisik matanya keseluruh penjuru ruangan kafe ini, dan benar saja ia mendapati Kyuhyun bersama gadis lain. Hyera menggeram. Pria arogan itu lagi-lagi menyakiti Jiyoon. Sudah berapa kali kejadian ini terulang. Kejadian saat Kyuhyun bermesraan dengan seorang gadis yang tengah bersamanya.

“Jiyoon-ah ayo kita kembali kekantor.” Hyera langsung menarik Jiyoon yang masih berdiam diri untuk keluar menjauhi kafe itu.

Dalam perjalanan menuju kantor, Jiyoon hanya diam tak mengeluarkan suara apapun, serta ekspresinya yang sulit diartikan. Yang pasti rasa kecewalah yang mendominasi untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Sejujurnya Jiyoon lelah dengan Kyuhyun. Hubungannya selama ini tidak tahu dengan jelas arahnya akan kemana. Pikiran Jiyoon berkecamuk memikirkan Kyuhyun yang amat ia cintai. Haruskah ia pergi dari Kyuhyun? Tapi apa ia bisa? Ia sudah sangat mencintai pria ini. Bahkan melebihi cintanya pada diri sendiri. Bahkan ia sudah memberikan segalanya.

“Hyera-ya, turunkan aku disini saja.” Pinta Jiyoon datar. Tatapan kosong tak terarah.

“Tapi Jiyoon-ah kita harus ke kantor, jika tid—” Ucapan Yoonhee terhenti saat Hyura menyelanya.

“Aku tidak peduli. Aku mohon turunkan aku disini saja.” Perkataan Jiyoon yang begitu dingin bahkan lebih dingin dari es dikutub utara itu kontan membuat Hyera menyerah. Ia memilih mengalah, ia mengerti suasana hati Jiyoon sedang tidak baik. Dan itu semua gara-gara kekasih sialannya—Cho Kyuhyun.

Hyera mendesah pasrah, “Baiklah.” ia menepikan mobilnya. Dengan segera Jiyoon turun dan meninggalkan Hyera tanpa mengatakan apapun. Hatinya terlalu sakit seperti dicabik-cabik oleh pisau yang amat tajam. Dan Hyera tahu itu.

Jiyoon berjalan disekitar taman untuk menenangkan pikirannya. Ia tidak peduli dengan apa yang terjadi karena meninggalkan pekerjaannya di kantor. Dipecat,  itu tidak masalah. Karena mungkin itu yang terbaik untuk pergi dari hidup Kyuhyun.

“Lee Jiyoon!” Jiyoon menghentikan langkahnya dan sedikit terkejut saat tahu siapa yang memanggilnya.

“Yuri-ssi,” Gadis bertubuh tinggi dan terlihat selalu cantik itu tersenyum ramah lalu mulai berjalan mendekat ke arah Jiyoon yang terlihat masih terkejut, karena ini untuk pertama kalinya Jiyoon berbicara secara langsung dengan Yuri, gadis yang selama ini mengejar-ngejar kekasihnya—Cho Kyuhyun dari dulu.

Yuri adalah anak dari salah satu dari kolega yang bekerja sama dengan Cho Corp. Maka dari itu meski Yuri tidak bekerja di Cho Corp, Yuri sering sekali ke kantor Kyuhyun, hanya untuk mengajak makan siang. Jiyoon tahu, semua yang dilakukannya hanyalah untuk menarik perhatian Kyuhyun semata. Dan bodohnya Kyuhyun tidak pernah menolaknya.

“Besok aku mengundang Kyuhyun oppa untuk merayakan ulang tahunku, dan dia sangat senang dengan ajakanku,” Yuri terlihat kembali tersenyum lebar, membuat Jiyoon sedikit mengalihkan pandangannya. Sedikit sesak mendengarkannya. Dan sangat memuakkan. Muak dengan panggilan Yuri yang memanggil Kyuhyun dengan ‘oppa’ dia saja tidak pernah, lalu Yuri seenaknya saja memanggil Kyuhyun seperti itu, memangnya siapa dia??

“Sebenarnya aku juga ingin mengundangmu Jiyoon-ssi, tapi Kyuhyun oppa  menolaknya, dia bilang kau tidak perlu ikut dengannya,” Kini Yuri terlihat tersenyum mengejek. “Sebenarnya hubungan kalian itu seperti apa? Menurutku kalian tidak terlihat seperti sepasang kekasih, jarang terlihat bersama. Bahkan Kyuhyun sering meluangkan waktunya untukku.” kali ini Yuri sudah tertawa penuh kemenangan.

Jiyoon menggeram tertahan, ia sudah emosi. “Hubungan kami baik-baik saja, Yuri-ssi.” Ucap Jiyoon setengan kesal.

“Oh yaa..? Aku pikir tidak seperti itu, yang aku lihat Kyuhyun oppa  tidak peduli denganmu, dia lebih peduli denganku, lihat saja dia sangat senang saat aku undang diacara ulang tahunku. Dan aku pikir kau tidak pantas dengan Kyuhyun oppa, kau hanya gadis biasa dan Kyuhyun sangatlah kaya dan dia anak dari keluarga yang terpandang, tidak seperti kau! Jadi lebih baik kau pergi dari kehidupan Kyuhyun oppa  karena dia lebih pantas dengaku!” Ucap Yuri panjang lebar. Dan sontak ucapan Yuri membuat Jiyoon semakin emosi yang kini sudah diubun-ubun.

“Sudah selesai bicaranya Yuri-ssi?” Tanya Jiyoon tenang, tanganya kini mengepal erat dengan amarah yang telah mencapai puncaknya. Jiyoon tidak tahan lagi!

“Dengar Yuri-ssi, aku memang gadis biasa dan bukan anak dari keluarga orang kaya, tapi aku masih punya harga diri, bukan aku yang meminta Kyuhyun untuk menjadi kekasihnya tapi Kyuhyun-lah yang memintanya, aku tidak sepertimu yang sudah jelas di tolak oleh Kyuhyun tapi masih saja mengharapkan dan mengejar-ngejarnya! Cih, memalukan!” Tegas Jiyoon dan berlalu dari hadapan Yuri. Ia puas, sungguh puas mengucapkan itu semua pada gadis yang tidak tahu malu itu. Dengan perlahan butiran bening membasahi pipinya yang menganak sungai.

Jiyoon menghentikan langkah kakinya saat dirinya sudah berada jauh dari Yuri, gadis itu terlihat duduk dibangku halte untuk menunggu bus. Pulang. Itu yang saat ini ada pikiran Jiyoon. Lebih baik ia pulang dan menenangkan dirinya.

“Apa benar kau sudah tidak menginginkanku lagi, Kyu. Apa aku tak pantas untukmu?” Jiyoon bergumam pelan, dan gadis itu terlihat tersenyum putus asa saat sadar jika yang dikatakan Yuri memang benar adanya, sejak dari awal Kyuhyun tidak pernah sekali pun menunjukkan sikap jika dia menginginkannya. Kyuhyun hanya meminta menjadi kekasih dan bodohnya Jiyoon hanya diam menerima permintaan Kyuhyun. Tanpa tahu dengan jelas apa alasan yang mendasari Kyuhyun melakukan itu padanya?

Mungkin memang Kyuhyun hanyalah tertarik dengan tubuhnya , bukan dengan hatinya. Karena jelas Kyuhyun selalu bersikap dingin dan acuh padanya. Jika sudah begini apa yang  harus di pertahankan lagi dari hubungannya dengan Kyuhyun.

Cintanya??

Biarlah cinta itu terus berada di tempatnya. Tempat dimana hanya ada nama Kyuhyun didalamnya. Tanpa harus berusaha untuk menghapusnya. Karena jika berusaha untuk menghapus atau melupakannya, maka itu akan semakin sulit dan semakin dalam pula rasa cinta yang kita punya pada orang itu. Jadi biarlah cintanya pada Kyuhyun akan tetap bersemayam dihatinya. Cukup mengikuti air yang mengalir, mengikuti kemanapun mereka akan terus berjalan menelusuri anak sungai hingga ia akan sampai ditempat yang seharusnya, yaitu lautan.
.~o♥♥♥o~.
Hari ini Jiyoon memaksakan dirinya untuk berangkat ke kantor. Sejujurnya ia tak yakin dengan penampilannya sekarang ini. Raut wajah yang asam dan lingkar mata yang hitam menandakan bahwa gadis ini tidak tidur semalaman. Sungguh mengerikan. Dan semua itu gara-gara Cho Kyuhyun. Jiyoon menghabiskan malamnya hanya untuk berpikir dan berpikir tentang hubungannya dengan Kyuhyun.

“Jiyoon-ah kau dipanggil Jungsoo.” Jiyoon baru saja duduk di kursi panasnya, namun Hyera mengintrupsi untuk pergi keruangan Jungsoo atasan di divisinya.

“Iya aku tahu.” Ucap Jiyoon seraya menuju keruangan Jungsoo, ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan Jungsoo padanya. Antara dua pilihan dipecat atau surat peringatan. Karena kemarin iya meninggalkan pekerjaaannya bagitu banyak. Dan juga ia memang sering melakukan hal ini.

Dan benar saja saat sampai di dalam ruangan Jungsoo raut wajah pria itu sudah tidak bersahabat. Tanpa mengatakan apapun Jungsoo langsung melempar kertas pada Jiyoon. Jiyoon hanya tersenyum saat membaca isi dari atasanya itu. Dipecat. Yaa.. Jiyoon dipecat dari pekerjaanya yang sudah ia geluti 2 tahun yang lalu.

“Gamhasamnida atas pemecatanku ini.” Jiyoon menundukan kepala dan Jiyoon langsung pergi dari ruangan Jungsoo ia tak mau mendengar amukan pria berusia sekitar tiga puluh tahun itu.

Mungkin inilah petunjuk Jiyoon untuk pergi dari Kyuhyun. Pergi mengejar kebahagiannya. Walaupun Kyuhyun adalah kebahagian Jiyoon, tapi faktanya ia selalu merasa sakit selama menjalani hubungan dengan Kyuhyun. Jadi inilah keputusannya. Pergi.
.~o♥♥♥o~.
Jiyoon kembali ke mejanya dengan raut wajah yang lesu, ia bersiap-siap untuk membereskan barang-barangnya karena kenyataanya ia bukan lagi pegawai di Cho Corp.

“Jiyoon-ah.” Jiyoon memutar bola matanya saat tiba-tiba Hyera menatapnya tajam. “Gwenchanayo?” tanya Hyera dengan sedikt khawatir, membuat Jiyoon memaksakan untuk tersenyum manis.

“Eoh, gwenchana.” Jawab Jiyoon santai.

“Kau dan Kyuhyun—.” Hyera mengantungkan kalimatnya, terlihat sedikit ragu. Jiyoon kira Hyera akan menanyakan soal kepergiannya keruangan Jungoo, tapi sepertianya bukan itu maksud Hyera, melainkan tentang hal lain. “Kalian baik-baik saja kan?” Jiyoon mengerutkan dahinya, merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari sahabatnya itu.

“Apa maksudmu?” Jiyoon balik bertanya.

“Tadi aku melihat Kyuhyun bersama Yuri di lobi” Ucap Hyera pelan, membuat Jiyoon tersenyum. “Aku tahu, hari ini Kyuhyun diundang oleh Yuri untuk merayakan ulang tahunnya kan? Seluruh orang di Cho Corp tahu itu Jiyoon-ah.” Jiyoon tak menjawab. Ia lebih fokus memandangi ponselnya ditangan.

“Jiyoon-ah,” Panggil Hyera lagi, Jiyoon menoleh dan kembali memaksakan sebuah senyuman. “Apa kau tidak lelah? Sejak kalian berpacaran aku tidak pernah melihat kalian berkencan, pulang bersama pun sangat jarang.”  Jiyoon kembali tersenyum untuk kesekian kalinya mencoba menyembunyikan perasaan gusarnya yang kembali muncul.

“Aku bahkan tidak pernah melihat Kyuhyun menggandeng tanganmu.” Hyera menatap sahabatnya itu dengan iba, dia tahu betul jika saat ini Jiyoon sedang memaksakan hubungan yang tidak mungkin dengan Kyuhyun.

“Aku menyayangimu Jiyoon-ah, kau tahu itu kan? Aku tidak ingin sahabat terbaikku tersakiti lebih dalam lagi.” Hyera mengusap bahu Jiyoon dengan lembut. “Berhentilah sebelum kau semakin terluka lebih dalam Jiyoon-ah.”

Setetes air mata jatuh di pipi mulus Jiyoon sesaat setelah Hyera mengatakan tentang keadaannya. Memang benar apa yang dikatakan Hyera. Jiyoon memang tengah memaksakan hubungannya itu.  Gadis itu meremas tangannya dengan kuat, menahan semua perasaan yang berkecamuk di dadanya. Benar, Jiyoon memang harus meninggalkan Kyuhyun. Pria itu tidak menyukainya ataupun menginginkannya.

“Kau tahu Hyera-ya hari ini aku dipecat oleh Jungsoo.” Jiyoon mengusap air matanya.

“MWO??!!” Hyera terkejut bukan main. Jiyoon di pecat. Lantas bagimana Jiyoon menghidupi dirinya sendiri. Karena sahabatnya ini hanya tinggal sendiri, tanpa ada orang ataupun kerabatnya.

“Ya, sekarang aku dipecat. Maka dari itu aku akan pergi dari perusahaan ini. Kau sudah tahu dengan jelas bagaimana perasaanku. Kau memang benar Hyera-ya, aku memang tengah memaksakan diriku untuk bertahan dengan Kyuhyun. Namun aku sadar, aku tidak mungkin untuk seperti ini terus. Aku tidak mau sakit hanya karena dia. Aku akan melepaskan Kyuhyun. Dan pergi dari kehidupannya. Mungkin hari ini adalah pertemuan kita yang terakhir Hyera-ah aku akan kembali ke Jepang bersama paman dan bibiku disana.”  Jiyoon terisak saat mengatakan itu semua pada Hyera.

“Kau yakin Jiyoon-ah?”

Jiyoon mengangguk mantap. “Aku sangat yakin. Aku akan memberimu kabar jika aku sudah disana nanti.” Hyera tersenyum lega. Mungkin ini lah yang terbaik untuk Jiyoon sahabatnya.

“Baiklah jika ini memang maumu.” Jiyoon memeluk Hyera dengan erat. Jiyoon kembali meneskan air matanya. Ia harus kuat. Harus bisa menjalani takdir Tuhan yang agaknya sedikt kejam. Ia harus menerima dan ikhlas.

.~o♥♥♥o~.

Jiyoon tengah mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa ke Jepang. Pakaian dan barang-barang pentingnya. Dan rumah ini, mungkin akan ia jual. Walaupun kecil, tapi rumahnya ini adalah rumah dari hasil jerih payahnya selama ini. Jadi jelas Jiyoon agak ragu untuk menjual rumah ini, tapi harus bagaimana lagi, ia susah memantabkan diri untuk menetap  di negara kelahirannya, Jepang.

Drrtt…Drtt..

Kegiatan Jiyoon terhenti saat ponselnya bergetar. Siapa malam-malam begini yang menelfonnya. Bahkan sekarang sudah pukul 11 malam?.

Diraihnya benda mungil itu. “Yeobseyo.. iya benar ini dengan  Lee Jiyoon. Mwo!??! Baik, aku akan segera kesana.”

Jiyoon langsung melesat dari tempatnya, ia pergi menuju rumah sakit. Karena baru saja ia mendapat kabar bahwa Kyuhyun kecelakaan. Oh tidak. Semoga tidak ada yang serius dengan Kyuhyun. Walaupun Kyuhyun selalu menyakitinya, tapi rasa peduli untuk pria itu selalu ada dari Jiyoon. Karena Jiyoon sangat mencintai Cho Kyuhyun.

.~o♥♥♥o~.

Jiyoon berlari menelusuri koridor rumah sakit menuju ruang Kyuhyun berada. Terdengar desas-desus para suster yang membicarakan kecelakaan Kyuhyun saat ini. Dan semoga saja keadaan Kyuhyun tidak seperti yang baru saja ia dengar. Kyuhyun pasti akan baik-baik saja.

“Permisi dimana ruangan Cho Kyuhyun?” Tanya Jiyoon pada salah satu suster rumah sakit yang berpapasan dengannya.

“Itu disana.” Tunjuk sang suster.

“Terimakasih.” Jiyoon langsung menuju ruangan yang suster tunjuk tadi.

Jiyoon menatap Kyuhyun yang terbaring dari luar jendela, karena saat ini dokter tengah menanganinya didalam. Tapi tunggu dulu, kenapa orangtua Kyuhyun tidak ada disini? Astaga.. Jiyoon melupakan sebuah fakta, bahwa orang tuanya selalu sibuk dengan perusaahan yang berada di di Kanada. Pantas jika sekarang tidak ada siapapun yang dayang kecuali dirinya.

“Permisi dokter, bagaimana keadaan Kyuhyun.” Tanya Hyura penuh kekhawatiran pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Kyuhyun.

“Pasien membutuhkan darah B, karena pasien terlalu banyak mengeluarkan darah. Sedangkan rumah sakit ini sedang kehabisan stok golongan darah B.” Jawab sang dokter yang bernama Kim Jongwoon. Jiyoon bisa tahu dari name tagnya.

“Golongan darahku B, Dok. Aku sehat. Anda bisa mengambilnya dariku.” Usul Jiyoon cepat membuat Dokter dan Suster terlihat lega.

“Syukulah. Suster tolong urus nona ini.” Titah dokter bermarga Kim itu.

“Baik. Silahkan nona ikut aku.” Jiyoon hanya mengangguk seraya mengikuti suster dari belakang.

.~o♥♥♥o~.

Jiyoon melihat kantung darah dan selangnya kini tengah mengalir kedalam tubuh Kyuhyun. Setidaknya hanya ini yang bisa Jiyoon lakukan untuk yang terakhir kali pada kekasihnya. Ahh.. tidak, lebih tepatnya mantan kekasih.

“Nona permisi, anda harus mengisi data sebagai pendonor darah.” Kata  seorang suster menyerahkan kertas putih itu. Namun Jiyoon menolak. Ia tidak ingin Kyuhyun tahu jika dirinya lah yang mendonorkan darah.

“Bisakah anda merahasiakannya saja suster? Tolong jangan bilang jika akulah yang mendonorkan darah itu.” Jiyoon memohon.

Sang suster bisa mengerti, ia mengangguk. “Baiklah nona.” Ucap suster itu dan berlalu dari hadapan Jiyoon.

Jiyoon masih memandangi Kyuhyun yang masih tertidur dengan damainya. Sungguh pria ini sangat tampan. Wajah, hidung, dan matanya pasti itu yang nanti Jiyoon rindukan. Pasti.

“Semoga kau hidup dengan bahagia Kyu. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman. Aku pergi.” Jiyoon mengecup puncak kepala Kyuhyun untuk yang terakhirnya. Jiyoon menarik dirinya dari Kyuhyun. Sesaat ia memandang wajah Kyuhyun. Hingga akhirnya ia melangkah meninggalkan Kyuhyun untuk selamanya.

.~o♥♥♥o~.

Setelah lima hari Kyuhyun dirawat dirumah sakit, akhirnya Kyuhyun diperbolehkan untuk pulang dan kembali menjalani kegiatan seperti biasanya di kantor. Karena kecelakaan yang menimpa Kyuhyun tidaklah serius, hanya karena terlalu banyak mengeluarkan darah dibagian tangannya. Seluruh pegawai menyambut kedatangan Kyuhyun dengan senyuman. Mereka senang karena CEO-nya itu kembali bekerja lagi.

Kyuhyun berjalan menuju ruangannya dan melintas melewati meja milik Jiyoon yang sangat rapih. Kyuhyun mengerutkan dahinya heran. Kemana gadis itu? Bahkan ia tidak telihat saat acara penyambutan tadi. Tidak biasanya. Jiyoon—Gadisnya bahkan akan dengan senang hati walau hanya untuk bertemu dengannya. Tapi saat ini, dia dimana? Dan saa ia dirawat dirumah sakitpun Jiyoon tak datang untuk menjenguknya. Aneh sekali.

.~o♥♥♥o~.

Dua minggu sudah gadis itu, Lee Jiyoon tidak  menampakkan diri di kantornya. Bahkan tidak pernah datang ke apartmentnya.  Sebenarnya kemana Jiyoon?? Apa ia harus menghubungi Jiyoon?? Pikir Kyuhyun

Tanpa pikir panjang lagi,  Kyuhyun langsung mencoba menghubungi ponsel Jiyoon. Namun sial. Hanya suara operator yang terdengar. Kemana sebenarnya Jiyoon berada. Kyuhyun mulai khawatir. Tidak ada pesan, tidak ada tanda-tanda keberadaan gadisnya.

Sejatinya, Kyuhyun memang peduli pada Jiyoon, hanya saja sikap acuh dan dinginnyalah yang membuat Kyuhyun tidak bisa mengekspresikan bagaimana cara menunjukan perasaannya pada Jiyoon.

Jiyoon, menurut Kyuhyun adalah gadis sederhana dan sangat baik. Buktinya dulu Jiyoon dengan senang hati selalu datang ke apartmentnya untuk membersihkan setiap ruangan dan membuatkan makan untukknya. Bahkan dengan serta merta gadisnya itu merelakan kesuciannya dengan ikhlas untuk pria macam dirinya. Sungguh gadis yang begitu tulus. Tulus mencintainya dan Kyuhyun tahu itu.

Namun dimana sosok berparas cantik itu saat ini? Ia merindukan gadisnya, gadis yang selalu menemaninya walaupun dulu sering ia acuhkan kehadirannya. Bukan mengacuhkan sebenarnya, hanya saja ia salah dengan perlakuannya pada Jiyoon. Dan bisa disimpulkan bukan, bahwa selama ini dirinya yang telah melakukan kesalahan fatal pada Jiyoon. Kesalahan yang harus ia perbaiki dengan segera.

Suara ketukan pintu yang tiba-tiba kontan membuat Kyuhyun mengerjap dari lamunannya.

“Permisi sajangnim. Hari ini jadwal pemeriksaan rutin anda kerumah sakit.” Kata sekretaris Kyuhyun yang bernama Oh Sojin.

“Baik aku akan kesana.” Sahut Kyuhyun singkat.

Walaupun Kyuhyun sudah sembuh, namun ia diwajibkan untuk mengontrol tangan dan juga kesehatannya paska kecelakaan. Dan ini adalah kegiatan rutinnya.

.~o♥♥♥o~.

“Bagimana kabar anda tuan Cho?” Tanya dokter pada Kyuhyun saat baru saja sampai diruangannya.

“Sangat baik.” Kyuhyun tersenyum ramah. Lalu duduk berhadapan dengan sang dokter. “Apa aku benar-benar sudah pulih Dok?”

“Anda sudah pulih tuan Cho. Anda sangat beruntung saat itu ada sorang gadis yang mendonorkan darahnya untuknya anda. Saat itu stok golongan darah anda benar-benar habis, untung saja gadis itu tanpa pikir panjang langsung mendonorkan darahnya untuk anda.” Kyuhyun mengerutkan dahinya. Siapa yang telah menolongnya itu.

“Seorang gadis? Siapa dia Dok?”

“Aku tidak tahu, dia tidak mau memberitahukan siapa dirinya. Tapi suster bilang, dia datang saat salah satu suster menghubungi nomornya dari ponsel anda.”

Deg!!

Kyuhyun diam, otaknya berpikir dengan keras akan hal yang baru dokter itu lontarkan. Pikiran Kyuhyun tertuju pada Jiyoon. Karena saat itu, pesan masuk terakhir adalah dari Jiyoon. Pasti itu Jiyoon, Kyuhyun tidak mungkin salah.

Setelah Kyuhyun selesai dengan beberapa pemeriksaan ringan pada tubuhnya, ia memutuskan untuk segera pergi untuk mencari gadis itu—Jiyoon. Kyuhyun ingin mengucapkan tarimakasih dan sangat ingin bertemu dengannya.

“Terima kasih, Dok. Aku harus pergi.” Ucap Kyuhyun.

Dokter itu tersenyum dan mengangguk singkat. “Silahkan tuan Cho.”

.~o♥♥♥o~.

Kyuhyun langsung melesat mencari keberadaan Jiyoon, ia terus mencoba menghubunginya, namun ponsel Jiyoon benar-benar tidak bisa di hubungi. Ia harus mencari Jiyoon dimana?? Dirumahnya?? Astaga… bahkan Kyuhyun tidak tahu dimana rumah gadisnya. Karena selama ini Jiyoon selalu berada di apartementnya. Dan dengan tololnya Kyuhyun tidak pernah berniat untuk tahu rumah Jiyoon. Kekasih macam apa dirinya ini? Brengsek sekali kau Cho Kyuhyun.

“Kau dimana Jiyoon-ah?” Kyuhyun bertanya dalam gumamannya disela pikirannya kacau memikirkan keberadaan gadisnya saat ini.

Kyuhyun memijat pelipisnya pelan, merasa pusing dan penat secara bersamaan. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat sadar ada orang yang pasti tahu dimana Jiyoon berada. Jung Hyera. Ya.. pasti Hyera tahu keberadaan Jiyoon, karena Hyera adalah teman dekat Jiyoon.

“Ahjussi, cepat kembali ke kantor.” Tintah Kyuhyun pada supirnya.

.~o♥♥♥o~.

Hyera sedikit merasa ada yang salah saat sekretaris CEO-nya memanggil untuk segera datang keruangan yang sangat jarang sekali ia datangi. Mungkin masalah pekerjaan. Pikir Hyera. Tidak mungkinkan pria ini membahas sahabatnya—Jiyoon.

Dan disinilah Hyera berada, dia duduk berhadapan langsung dengan Kyuhyun. Namun yang Hyera tangkap bukanlah Cho Kyuhyun tegas dari pancaran wajah tampannya, melainkan raut yang sedikit frustasi, dan itu terlihat jelas dari air muka Kyuhyun.

“Sajangnim, anda ingin membicarakan apa denganku?” Akhirnya Hyera berani mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat Kyuhyun hanya diam. Dan ini tentu saja membuat Hyera merasa heran. Ada yang janggal dengan CEO-nya ini.

Kyuhyun mendesahkan nafas beratnya. “Apa kau tahu dimana  Lee Jiyoon saat ini? Sudah dua minggu lebih aku tidak melihatnya. Bahkan ponselnya pun selalu mati.”

Alis Hyera hampir menyatu, merasa heran pada bos-nya yang tiba-tiba saja menanyakan sahabatnya. Ia pikir akan Kyuhyun akan membahas soal tentang laporannya bulan ini. Namun ternyata diluar dugaan. Tapi apa benar Kyuhyun tidak tahu, bukankah Jiyoon sudah dipecat. Mustahil bukan jika sang pemilik perusaahan tidak tahu kalau salah satu pegawainya sudah tidak dipekerjaan disini lagi.

Hyera diam. Ia bingung harus menjawab apa pada Kyuhyun. “Maaf sajangnim, tapi Jiyoon sudah dipecat dari perusahaan ini?”

“APA! Dipecat?”

Hyera mengangguk. “Ne sajangnim, sudah hampir tiga minggu Jiyoon tidak bekerja disini lagi.”

Kyuhyun tercengang mendengar penuturan Hyera. Jiyoon di pecat. Dan ia tidak tahu akan hal itu. Kurang ajar sekali orang yang memecat Jiyoon itu. Terlebih lagi tidak ada laporan sama sekali tentang pemecatan Jiyoon padanya.

“Lalu dimana Jiyoon sekarang?” Terdengar nada khawatir pada suara Kyuhyun, dan tentu saja membuat Hyera semakin heran dengan Kyuhyun. Sebenarnya ada apa dengan Kyuhyun? Bukankah pria itu tidak peduli dengan Jiyoon? Tapi sekarang, sangat jelas sekali kalau Kyuhyun sangat khawatir dengan mantan kekasihnya itu.

“Maaf sajangmin, aku tidak tahu dimana Jiyoon berada.” Hyera sebenarnya tidak enak dengan Kyuhyun, karena ia sedikit berbohong.

“Kumohon Hyera-ssi, tolong beritahu aku dimana Jiyoon? Kau pasti tahukan?” Desak Kyuhyun. Ia tidak begitu saja percaya dengan ucapan Hyera karena ia tahu Hyera sudah pasti mengetahui keberadaan sahabatnya. “Aku ingin meminta maaf padanya.” Imbuh Kyuhyun.

Mengepalkan tangan, Hyera sedikit geram. Setelah apa yang telah dia lakukan pada Jiyoon sekarang dia ingin meminta maaf atas perlakuannya itu. Dan sayang, itu sudah terlambatkan? Jiyoon tidak lagi berada di negara ini.

“Aku tidak tahu sajangnim. Bukankah anda kekasihnya, kenapa anda tidak tahu dimana Jiyoon berada?”

Hati Kyuhyun seketika mencelos. Itulah kebodohan yang ia lakukan pada Jiyoon. “Itu kesalahanku Hyera-ssi, selama ini aku bukan kekasih yang baik untuknya. Maka dari itu, aku ingin meminta maaf pada Jiyoon.” Kyuhyun menunduk frustasi. Ia ingat betul bagaimana perlakuannya pada Jiyoon selama ini.

“Aku mencintainya, Hyera-ssi.”

Hyera seketika terdiam. Ia terlalu terkejut dengan ucapan Kyuhyun yang pernah ia duga, bahwa Kyuhyun mencintai Jiyoon. Astaga.. tiba-tiba kepalanya menjadi pusing.

“S—sajangnim, k—kau mencintai Jiyoon?” Entah kenapa mulut Hyera menjadi kaku hingga ucapannya terbata seperti itu.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Iya, aku mencintai  Lee Jiyoon.”

“Astaga sajangnim, kenapa kau tidak penah mengatakannya pada Jiyoon? Kau membuat Jiyoon bingung dan tersiksa. Hingga ia berpikiran kalau kau hanya mempermainkan hatinya saja.”

Kyuhyun menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia frustasi. “Itulah kesalahanku Hyera-ssi. Aku ingin memperbaikinya. Jadi tolong katakan dimana Jiyoon?”

“Sungguh sajangnim aku tidak tahu.” Hyera memang benar-benar tidak tahu dimana Jiyoon berada, karena sampai detik ini Jiyoon belum juga menghubunginya semenjak kepergiannya waktu itu. Jiyoon hanya akan kembali kenegara kelahirannya.

Kyuhyun semakin frustasi dibuatnya. Apa yang harus ia lakukan lagi. Ia ingin sekali bertemu dengan Jiyoon. Ia ingin meminta maaf dan ingin mengatakan bahwa ia mencintainya.

“Tapi sajangnim, sebelum Jiyoon pergi, dia hanya mengatakan kalau ia akan kembali kerumah paman dan bibinya.”

“Dimana itu?” Sergah Kyuhyun cepat.

“Jepang. Tapi di kota mananya aku tidak tahu sajangnim, karena sampai saat ini Jiyoon tidak menghubungiku lagi.”

Kyuhyun mendesah lega. Ucapan Hyera bagai pencerahan yang sedikit menenangkan. Setidaknya ia tahu dinegara mana Jiyoon berada. “Terima kasih, Hyera-ssi.”

Hyera hanya tersenyum senang, ia bisa melihat kesungguhan hati Kyuhyun yang sangat ingin bertemu dengan Jiyoon. Dan semoga saja mereka dipertemukan kembali oleh Tuhan. Ya.. semoga saja.

.~o♥♥♥o~.

Awalnya Kyuhyun sangat bahagia saat tahu dimana Jiyoon tinggal. Namun seiring berjalannya waktu ia menjadi semakin frustasi. Karena hingga detik ini, Jiyoon tidak berhasil ia temukan. Walau ia sudah mencoba menyuruh orang untuk menyelidiki Jiyoon di Jepang, namun sayang hasilnya nihil hingga saat ini. Bahkan ini sudah memasuki bulan ke tujuh Jiyoon tidak berhasil ditemukan.

Ia sudah beberapa kali mencari Jiyoon dengan datang langsung ke negara itu, tapi tetap tidak membuahkan hasil apa-apa. Ia selalu kembali dengan hampa. Jiyoon bagai ditelan bumi. Tidak bisa ia temukan di mana-mana.

“Kau dimana Jiyoon-ah?” Kyuhyun bergumam dengan frustasi. Hingga pekerjaan beberapa bulan belakangan ini menjadi sedikit berantakan karena pikirannya hanya terfokus pada Jiyoon.

Pintu ruangan terbuka, kontan Kyuhyun mendongakkan kepalanya melihat siapa yang masuk keruangan tanpa permisi. Dan ternyata Yuri. Kyuhyun hanya mendesah kesal. Gadis ini sungguh membuat Kyuhyun muak. Dari dulu hingga sekarang ia selalu berusaha menarik hatinya. Tapi sayang, hati Kyuhyun sudah terpatri oleh nama  Lee Jiyoon. Dan tidak ada cela lagi untuk siapapun yang berusaha masuk kedalamnya.

Jika saja Yuri bukan anak dari kolega yang tengah menjalin hubungan kerja sama dengan proyek yang ada di pulau Jeju, sungguh Kyuhyun tidak ingin sedikitpun untuk meladeni keinginan Yuri. Memuakkan bukan?

“Oppa, kau sudah makan siang?” Tanya Yuri seraya duduk disofa dan mengambil sebuah buku di tasnya. Dan lekas membaca buku tersebut.

Sedangkan Kyuhyun hanya memperhatikan gerak-gerak Yuri dengan malas. “Ya, aku sudah makan.” Sahutnya bohong. Karena sejujurnya tidak satu makananpun yang masuk pada tubuhnya dari pagi hari.

Yuri hanya mengangguk dan kembali fokus pada buku yang tengah ia baca. Sedangkan Kyuhyun tidak ingin ambil pusing, ia lebih memilih fokus dengan kertas-kerta di mejanya, dari pada mendengar celotehan Yuri yang membuat telinganya panas.

“Oppa, kau tau novel ini sangat bagus?” Yuri berceloteh namun matanya fokus pada tulisan novel itu.

“Ouh yaa?” Sahut Kyuhyuh seadanya.

“Iya oppa, disini aku suka karakter si gadis yang begitu mencintai kekasihnya. Tapi aku membenci kekasihnya karena begitu jahat. Ia tidak terlalu peduli dengan gadisnya sendiri. Hingga gadis itu memilih untuk pergi, oppa.”

Kyuhyun langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar cerita singkat dari novel yang Yuri baca. Sungguh, cerita itu begitu mirip dengan dirinya dan Jiyoon. Ia memang jahat, bahkan sangat jahat pada Jiyoon. Terlalu arogan dan tidak terlalu peka akan gadisnya.

Mata Kyuhyun memicingkan matanya pada novel Yuri. “Siapa pengarang novel itu?” Kyuhyun penasaran dengan ia yang mengarang cerita yang begitu mirip dengan kisahnya.

“Eum…” Yuri bergumam lalu membalikan bukunya melihat siapa pengarah buku sebagus ini. “Namanya Sakura. Buku ini terjemahan Jepang oppa. ” Ujarnya dan kembali dengan aktifitas membacanya.

Sakura? Terjemahan Jepang?

Entah kenapa kata-kata ada yang mengganjal di hatinya. Sakura? Bukankah itu bunga kesukaan Jiyoon? Lalu buku itu? Entah apa yang membuat Kyuhyun sedikit penasaran dengan buku itu.

“Apa yang kau lakukan?” Kyuhyun bertanya pada gadisnya yang tengah asik dengan benda berlayar sepuluh inci itu. Ia langsung mendekat dan duduk disamping Jiyoon. Melihat kegiatannya.

“Aku hanya melihat blog pribadiku.” Jiyoon menjawab dengan tersenyum.

Kyuhyun hanya mengernyitkan dahinya saat tahu apa yang Jiyoon lalukan. Gadisnya selalu membuat cerita-cerita cinta yang aneh didalam blognya. Menggelikan. Dan lebih aneh lagi karena begitu banyak pengunjung bahkan yang merespon disetiap postingannya.

“Kenapa backgroundnya harus bergambar sakura? Kenapa tidak gambar anime jepang yang kau gilai saja.”

Jiyoon kerkekeh pelan. “Karena aku suka bunga sakura Kyu.”

Kyuhyun hanya mencibir dan masuk kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya setelah seharian ia bekerja.

Kyuhyun tersadar dari potongan kenangan kecil bersama Jiyoon saat mereka masih bersama, saat Yuri yang berada di hadapannya menyadarkan dirinya dengan menepuk bahu kirinya.

“Oppa, temani aku makan, aku lapar.” Pinta Yuri dengan merajuk. Ekspresi yang Kyuhyun paling tidak suka, ketika Yuri sudah begini.

“Kau makan sendiri saja aku harus pergi.”

Yuri tercengang melihat Kyuhyun yang pergi begitu saja. Tidak biasanya Kyuhyun menolak ajakannya. Sungguh, ada yang tidak beres yang pria yang ia kejar setengah mati itu.

.~o♥♥♥o~.

Sebuah senyuman manis terukir dengan indahnya pada bibir yang berwarna cerry muda itu. Ia bahagia karena musim semi telah tiba, dan itu artinya bunga sakura yang ia gilai akan mermekaran. Sungguh menyenangkan.

Ia merentangkan tangannya menikmati semilir angin yang menerpa wajah mungilnya, hingga rambut panjangnya menari-nari mengikuti gerak angin kesana kemari. Tidak ada yang membuatnya bahagia selain dengan kegiatannya saat ini. Karena sebelumnya ia selalu menyibukkan diri dengan membantu pekerjaan bibinya dan juga hobinya yang sampai saat ini ia geluti—menulis. Semua itu ia lakukan hanya untuk melupakan seseorang, namun justru orang itu tidak pernah berhasil sedetikpun untuk dilupakannya. Dia selalu ada dalam benak dan fikirannya. Dia yang menjadi sumber inspirasinya untuk menghasilkan karya-karya tulisannya selama ini. Dia—Cho Kyuhyun. Orang yang selalu dihatinya, kini dan selamanya.

“Masih tidak ingin bicara tentang orang itu Sakura-san?” Ia menoleh saat sebuah suara memanggilnya.

“Eoh.. Oji(paman)” Ujarnya lalu menggeleng. Tidak. Ia tidak ingin membicarakan orang itu. ia belum siap.

“Kenapa Sakura-san? Aku ingin tahu siapa dia?” Pria paruh bayah ini sudah kehabisan akal membujuk keponakan satu-satunya untuk membuka mulutnya tentang pria yang harus bertanggung jawab atas apa yang pria itu perbuat hingga membuat keponakan cantiknya menjadi seperti ini.

“Kumohon oji, aku tidak ingin berhubungan atau pun tahu tentang orang itu. Jadi kumohon berhentilah untuk ingin tahu siapa dia!”

Pria yang di panggil oji (paman) oleh gadis itu hanya mendesah. “Astaga Lee Jiyoon. Mau sampai kapan kau seperti itu terus? Dia harus tahu!” Kali ini ia meninggikan suaranya dua oktaf. Terlalu jengah dengan Jiyoon yang kini memakai nama Sakura selama ia tinggal di Jepang. Selalu saja membungkam mulutnya untuk tidak mengakui siapa pria itu.

“Terserah kau saja Sakura-san. Asal kau tidak menyesal jika nanti bayimu lahir tanpa seorang ayah!” Setelah mengucapkan itu ia pergi meninggalkan Jiyoon yang kini perlahan mendudukan tubuhnya lalu menangis sejadi-jadinya.

Sungguh ia tidak ingin membahas pria yang sudah membuatnya begini, tapi ia juga tidak bisa dengan serta merta untuk melupakannya. Hanya saja Jiyoon tidak ingin lagi berhubungan dengan Kyuhyun. Cukuplah dia seperti ini, toh itu semua juga karena keputusannya untuk bersama Kyuhyun dulu. Ia rela memberikan cinta dan dirinya untuk Kyuhyun, hingga kini ia tengah mengandung buah cintanya bersama pria itu.

.~o♥♥♥o~.

Jiyoon menutup kembali pintu tempat mantan pria terbaring lemah setelah beberapa jam yang lalu mengalami kecelakaan. Ia sudah menegaskan hatinya untuk pergi dari pria yang sangat ia cintai. Tidak apa-apa jika memang Kyuhyun bukanlah seoulmate yang Tuhan takdirkan. Barangkali memang inilah takdrinya. Takdir bersama orang yang di cintainya—Cho Kyuhyun.

“Nona.” Jiyoon menoleh kebelakang karena sepertinya suara itu ditunjukkan pada dirinya.

“Anda memanggil saya sus?”

Suster itu mengangguk tersenyum lalu menyerahkan amplop berwarna coklat pada Jiyoon. “Ini adalah hasil pemeriksaan sebelum anda mendonorkan darah untuk tuan Cho Kyuhyun.”

Jiyoon mengambil amplop itu, “Gamsahamnida.” Ucapnya lalu memandangi amplop itu. Ia mengendikkan bahunya, mungkin hasilnya ia memang sehat, karena ia selalu menjaga kesehatannya. Lantas Jiyoon memasukkan benda itu kedalam tasnya dan bergegas kembali ke rumahnya kembali berkemas barang-barang untuk segera terbang ke negara yang sangat ia rindukan suasananya—Jepang.

.

.

Jiyoon mendesah lega saat ia baru saja duduk di pesawat yang akan mengantarkannya kerumah paman dan bibi yang sudah lama ia rindukan.

Saat ia akan mencari ponsel ditasnya, bermaksud untuk mematikan benda berlayar sentuh itu, tiba-tiba tangannya mendapati sebuah kertas. Diambilnya kertas itu dan ternyata sebuah amplop. Jiyoon menepuk dahinya, ia lupa ini adalah laporan kesehatannya yang diberikan oleh seorang suster padanya saat ia keluar dari kamar Kyuhyun.

Dengan santainya Jiyoon menbuka lipatan kertas dan membacanya. Seketika matanya melebar dengan apa yang baru saja ia baca. Ia membengkap mulutnya sendiri dengan tangan, sedangkan tangan yang satunya bergetar memegang kertas itu.

Hamil.

Astaga dirinya hamil. Entah ia harus sedih atau bahagia karena tengah mengandung anak dari pria yang baru saja ia tinggalkan. Tapi bagaimana bisa ia hamil? Bukankah selama ia berhubungan dengan Kyuhyun, pria itu selalu menggunakan pengaman, lalu kenapa ini terjadi pada dirinya? Sungguh sulit dipercaya. Jelas-jelas ia ingat dengan betul setiap ia akan bercinta Kyuhyun pasti menggunakan terlebih dahulu. Jadi ini apa???

Haruskan ia mengatakan pada Kyuhyun? Tapi itu mungkin, karena ia sudah terlanjur melangkah jauh. Tidak mungkin ia kembali ke Korea hanya untuk mengatakan ini?

Jadi ia harus bagaimana?

.~o♥♥♥o~.

Jiyoon mengusap perutnya yang semakin membesar karena satu tendangan dari bayi yang ia kandung sekarang. Ia sedikit meringis karena semakin sering bayinya lincah menendang di dalam sana. “Ya! My baby. Stop, kau membuat eomma sakit nak.” Jiyoon bergumam berbicara dengan bayinya yang sudah pasti tidak akan merespon ucapnnya.

Jiyoon kembali memfokuskan matanya mata layar komputer didepannya setelah tendangan diperutnya mereda. Dilihatnya ada sebuah pesan e-mail yang masuk. Dan ternyata pesan dari penerbit novel yang telah menerima naskah tulisannya dan mereka berkata bahwa naskanya kali ini juga akan segera di terbitkan.

Senyuman Jiyoon terbit. Lagi-lagi novelnya akan segera diterbitkan. Walaupun Jiyoon rasa novel kali ini tidak cukup bagus untuk dipasarkan, tapi pihak penerbit menerimanya. Syukurlah, ini sangat membantunya untuk biaya persalinan nanti.

“Haiss… kenapa aku harus kesana. Menyusahkan saja.” Ia menggerutu karena pihak penerbit memintanya untuk datang langsung ke perusahaan disana. Dan itu sangat jauh dari rumah Jiyoon. Jarak Tokyo dan Shizouka sungguh jauh. Dengan keadaaanya yang seperti ini, haruskan ia kesana.

“Sakura, waktunya minum susu.” Jiyoon menoleh dan tersenyum saat bibinya membawa segelas susu.

“Arigato oba (terimakasih bibi).” Jiyoon mengambil susu yang diberikan bibinya dan langsung meminumnya.

“Kau menulis lagi? Sudah aku peringatkan, berhenti menulis, duduk terlalu lama tidak baik untuk kandunganmu.”

Jiyoon menggeleng cepat. “Aku tidak menulis oba (bibi), aku hanya melihat pesan dari penerbit, mereka memintaku kesana karena naskah yang terakhir aku kirim akan di jadian sebuah novel dan akan segera di terbitkan.” Ujar Jiyoon bangga bercampur senang.

Tak kalah dengan Jiyoon, bibinya pun ikut senang. Karena keponakannya ini sungguh luar biasa dalam hal tulis-menulis. Dan terbukti sudah beberapa tulisannya yang kini sudah menjadi novel yang laris-manis di pasaran.

“Tapi bagaimana dengan keadaanmu? Kandunganmu sudah sangat besar Sakura-san. Dan Tokyo itu jauh dari sini.”

“Aku tahu oba, aku tidak apa-apa, aku akan tetap kesana. Dan aku janji akan berhati-hati.”

Wanita paruh baya itu hanya mendesah berat, jika Jiyoon sudah berkata sepeti itu, berarti Jiyoon akan tetap kesana. Walau ia sudah di larang keras sekalipun. “Baiklah. Ingat harus behati-hati.”

Jiyoon tersenyum dan mengangguk paham.

.~o♥♥♥o~.

Kyuhyun langsung memasukan beberapa potong baju kedalam ranselnya, untuk segera terbang ke Jepang. Setelah ia berhasil mencari sedikit info tentang penulis buku yang Yuri baca tempo hari. Yang Kyuhyun tahu adalah tempat penerbit buku itu. Dan mungkin saja Kyuhyun bisa tahu siapa si penulis itu.

Aneh memang karena Kyuhyun langsung ingin tahu sosok si penulis buku, bukan karena tertarik dengan si penulis, hanya saja cerita dalam buku dan sang penulis membuat Kyuhyun penasaran. Dan ia sedikit yakin, jika Jiyoon ada hubungannya dengan semua itu. Entah hanya sebuah feeling atau memang karena Kyuhyun sangat merindukan gadisnya selama ini. Semua itu hanya Tuhan yang tahu.

Kyuhyun menyambar tiket penerbangannya dan memasukkan kedalam ransel. Dengan segera ia langsung pergi menuju bandara Incheon. Tidak peduli dengan pekerjaannya saat ini, karena yang ada di dalam pikirannya adalah hanya Jiyoon. Ia ingin sekali bertemu dengan Jiyoon. Meminta maaf dan menjelaskan semuanya secara detail pada gadisnya.

“Aku akan menemukanmu Jiyoon-ah.” Ujarnya bersungguh-sungguh.

.~o♥♥♥o~.

Sepanjang perjalanannya menuju Tokyo, Jiyoon terus bermain pada benda berlayar sentuh yang berukuran tujuh inci. Sesekali ia melihat isi blognya yang belakangan ini tidak ia urus. Karena terlalu fokus dengan pekerjaan barunya sebagai penulis novel sungguhan.

Ia tersenyum saat melihat komentar-komentar para pembaca yang merindukan tulisan-tulisannya. Jiyoon menghembuskn nafas, ia mencoba mengalihkan perhatiannya pada sekumpulan file di I-Phonenya yang merupakan hasil jepretannya secara diam-diam pada seorang pria. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.

Jiyoon menyentuh layarnya yang terpampang gambar seorang pria yang tidur dengan damainya. Sungguh lucu wajahnya jika tertidur. Seperti anak bayi pikirnya. “Bogoshiposo Kyu-ya.” Ia bergumam sedih. Merindukan pria ini bagai menahan beban yang selama ini ia pikul. Sangat berat tentu saja. Karena orang itu jauh dari jarak pandangnya.

Merasakan kereta yang ditumpanginya berhenti, akhirnya Jiyoon beranjak dari tempatnya. Karena memang kini ia sudah sampai di Tokyo, setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam.

.~o♥♥♥o~.

Jiyoon terus melangkah menelusuri jalanan kota Tokyo yang ramai lancar dengan pejalan kaki sama seperti dirinya. Matanya kini tertuju pada toko yang mejajakan segala macam peralatan untuk bayinya.

Ia mengelus perutnya dan bergumam, “Oke, nanti eomma akan membelikannya untukmu nak, tapi setelah urusan eomma selesai. Arraseo.” Jiyoon sering melakukan ini, berkomunikasi dengan bayinya.

Kembali Jiyoon menelusuri jalanan kota Tokyo menuju perusahaan pernerbit novelnya. Dan sangat menguntungkan bagi Jiyoon, sebab perusahaan itu tidak jauh dari stasiun kereta yang ia tumpangi tadi. Hal tentu saja tidak membuat Jiyoon harus menaiki kendaraan lagi. Dan harus mengeluarkan uang lagi. Karena mulai sekarang Jiyoon harus mulai berhemat, mengingat bayinya yang dua bulan lagi akan lahir. Jadi Jiyoon sungguh sangat membutuhkan uang, untuk mempersiapkan segala kebutuhannya. Jiyoon tidak ingin menyusahkan paman dan bibinya, jadi cukup ia harus berusaha sendiri untuk membiayai kebutuhan calon anaknya nanti.

Senyuman terbit pada bibir Jiyoon saat perusahaan penerbit novelnya sudah didepan mata. Ia langsung masuk untuk memenuhi panggilan pihak perusahaan ini. Dan ia segera kembali sebelum hari mulai gelap.

.~o♥♥♥o~.

Kyuhyun terpaku ditempat saat matanya menangkap sosok yang sangat ia rindukan selama ini. Niat diri masuk kedalam perusahaan ini adalah untuk mencoba bertanya soal siapa pengarang novel yang mengatas namakan dirinya sebagai Sakura. Namun niatannya sirna saat sosok bertubuh mungil memasuki area perusahaan dengan wajah yang berbinar. Dan lebih yang membuat shock adalah keadaan tubuhnya yang menonjol di bagian perut. Gadis itu tengah hamil.

“Jiyoon-ah.” Gumam Kyuhyun pelan. Lantas dengan sigap ia langsung mengikuti langkah kaki Jiyoon dari belakang. Ingin sekali ia memeluk gadisnya itu. Tapi keadaan seperti ini tidak tepat untuk melakukan hal itu. Maka dari itu ia memilih diam dan mengekorinya dari belakang.

Kyuhyun memilih duduk di depan ruangan yang tak jauh dari ruangan Jiyoon masuki tadi. Menunggu gadis itu keluar dan mencoba mengajaknya bicara. Dan semoga saja ia berhasil.

Setengah jam berlalu, namun Jiyoon tak kunjung keluar. Kyuhyun gusar, ia tidak sabar bertemu gadis itu lagi, setelah sekian lama mereka berpisah dengan karena kesalahpahaman yang telah ia perbuat padanya. Kyuhyun beranjak dari tempatnya dan mengarahkan kakinya pada resepsionis. Mencoba mencari tahu tentang rasa penasaran pada sosok si penulis buku. Apa memang Jiyoon? Tapi kenapa ia memakai nama Sakura?

“Permisi, saya ingin bertanya.” Tanya Kyuhyun dengan berbahasa jepang.

“Iya tuan.” Sahut si wanita resepsionis dengan sopan.

“Apa anda tahu siapa penulis buku ini?” Kyuhyun menujukan novel yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Korea.

“Ah.. Dia nona Sakura-san.”

“Apa dia adalah orang ini?” Kembali Kyuhyun menujukan sesuatu, namun kali ini ia menunjukan foto Jiyoon yang ada di dalam ponselnya.

Wanita hanya mengangguk. “Iya tuan. Dia nona Sakura.”

Tuntas sudah rasa penasarannya. Jadi memang Jiyoonlah yang menulis novel ini. Dan sekarang ia bisa tahu bagaimana perasaan Jiyoon saat itu. Merasakan sakit hati atas semua perlakuannya selama ini. Astagaaa….

“Arigatogozaimas.” Ucap Kyuhyun lalu kembali ke tempatnya semula, menunggu Jiyoon.

Namun langkahnya terhenti karena Jiyoon baru saja keluar dari ruangan itu. Kyuhyun ingin bersembunyi, tapi sepertinya terlambat, karena Jiyoon sudah mengarah kepadanya, lebih tepatnya kearah pintu keluar.

Dari radius sepuluh meter, Kyuhyun bisa melihat Jiyoon hanya berdiam diri ditempatnya saat pandangan mata mereka bertemu. Entah apa yang tengah dipikirkan gadis itu hingga tiba-tiba saja pergi melewati Kyuhyun begitu.

“Jiyoon-ah.”

.~o♥♥♥o~.

Jiyoon menutup pintu ruang redaksi yang tadi sedikit berbincang mengenai novelnya. Dan akhirnya kesepakatan dibuat. Jiyoon menerima karena sekitar satu minggu lagi novelnya ini akan segera di terbitkan. Dan bayarannya sangat memuaskan. Cukup untuk persalinanya nanti.

Tepat saat ia akan keluar dari lobi menuju pintu keluarnya, hazel matanya menangkap sosok tegap yang berdiri tepat di hadapannya dengan jarang agak jauh. Ia hanya diam, terlalu syok dengan keadaan ini. Pria itu kenapa tiba-tiba saja berada di hadapannya? Ini Jepang bukan Korea, lalu apa yang pria itu cari disini? Mungkin urusan bisnis. Yaa.. hanya urusan bisnis. Oke Jiyoon menganggap ia tidak pernah bertemu pria itu, lantas ia memutuskan untuk kembali melangkah tanpa menoleh lagi pada si pria.

“Jiyoon-ah.” Panggilan itu kontan membuat Jiyoon menghentikan langkahnya. Ia diam tak bergeming

Dalam hati Jiyoon bertanya, kenapa ia harus bertemu pria ini lagi. Tidakkah Tuhan kejam padanya. Ia sudah sangat berusaha melupakan ayah dari bayi yang di kandungnya. Tapi kenapa justru Tuhan mempertemukan mereka lagi?

“Ada apa Cho Kyuhyun-ssi?” Cecar Jiyoon datar tanpa menoleh pada Kyuhyun. Mencoba bersikap biasa walau dalam hati jatung berdetak sangat cepat.

“Aku ingin bicara denganmu.”

Jiyoon mengepalkan tangannya. Tidak. Ia tidak ingin bicara lagi dengan Kyuhyun. Ia tidak kuat, jika nanti mereka bicara, maka Jiyoon akan menjadi lemah dan sulit untuk melupakannya.

“Maaf Kyuhyun-ssi, aku harus pulang.”

Jiyoon baru saja akan kembali melangkahkan kakinya, tapi tangannya di cekal oleh Kyuhyun. “Kita harus bicara.” Jiyoon mulai meronta.

“Lepaskan aku Kyuhyun-ssi.” Teriakan Jiyoon tidak Kyuhyun hiraukan sama sekali. Karena Kyuhyun justru semakin mencengkram tangannya kuat-kuat.

“Tidak, sebelum kita bicara.”

“Lepaskan aku, kau menyakiti tanganku!”

Seketika Kyuhyun langsung melepas cekalannya. Ia sadar jika terlalu kuat hingga Jiyoon merasa kesakitan. “Maaf.”

Jiyoon tidak ingin mendengar ocehan Kyuhyun, sesaat setelah Kyuhyun melepaskan tangannya, Jiyoon langsung memanfaatkan  situasi untuk segera kabur dari pria ini. Ia harus segera pergi. Jiyoon dengan sedikit berlari dengan memegangi perutnya yang membuncit.

“Jiyoon-ah!” Kyuhyun berteriak karena Jiyoon tiba-tiba saja pergi. Ini tidak bisa dibiarkan, ia harus segera menyusul Jiyoon.

Jiyoon tidak peduli dengan panggilan Kyuhyun yang terus menyerukan namanya. Yang ada dalam pikirannya adalah pergi menjauh dari Kyuhyun. Ia segera menuju stasiun kereta, ia ingin pulang.

Tepat saat akan berbelok kearah kanan, tiba-tiba saja badan Jiyoon di tabrak oleh seseorang, hingga tubuhnya terhuyung dan hampir saja terjatuh jika saja Kyuhyun tidak dengan sigap menangkapnya. Tubuh Jiyoon kini berada dalam pelukan Kyuhyun. Jiyoon hanya memejamkan matanya dan memeluk tubuh Kyuhyun dengan erat, ia tercengang, takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.

“Jiyoon-ah, gwecahana?” Kyuhyun menepuk-nepuk pipi Jiyoon mencoba menyadarkan Jiyoon yang terus memejamkan matanya dengan ketakutan.

Perlahan Jiyoon membuka matanya, dan padangan langsung disungguhkan dengan wajah tampan Kyuhyun yang tidak berubah, tetap tampan. Astaga.. sungguh ia sangat merindukan pria ini Tuhan.

“Jiyoon-ah.” Kembali Kyuhyun memanggil Jiyoon. Gadis ini terus menatapnya dengan tatapan yang sulit ia baca. “Hey… kau baik-baik saja?”

Kyuhyun mengerutkan dahinya, karena Jiyoon tiba-tiba saja menangis tak bersuara. “Cho Kyuhyun.” Ucap Jiyoon pelan di sela isakannya.

“Iya ini aku. Cho Kyuhyun.” Kyuhyun membalas ucapan Jiyoon dengan tatapan penuh perasaan. Rasa rindu dan bahagia kini bercampur menjadi satu.

“Gomawo.”

Kyuhyun tidak mengerti dengan ucapan Jiyoon yang tiba-tiba saja berterima kasih padanya. “Gomawo untuk apa eoh?”

“Karena telah menyelamatkan anakmu.” Setelah mengucapkan itu Jiyoon menutup matanya. Kesadarannya hilang. Ia pingsan.

Kyuhyun tercengang masih mencernah ucapan Jiyoon tadi. Anakmu. Apa maksud Jiyoon? Jadi bayi yang ada di dalam kandungan Jiyoon adalah anaknya?? Astaga.. benarkah itu??

Sedetik kemudian Kyuhyun tersadar karena Jiyoon kini pingsan. “Ya! Jiyoon-ah, irona.” Kyuhyun mengguncang-guncangkan tubuh Jiyoon, tapi sepertinya Jiyoon benar-benar kehilangan kesadarannya.

Dengan sigap Kyuhyun langsung mengangkat tubuh Jiyoon dan menggendongnya, menuju rumah sakit terdekat.

.~o♥♥♥o~.

Kyuhyun mendesah lega setelah mendengar penjelasan tentang keadaan Jiyoon yang kini tengah terbaring di ranjang serba putih. Ternyata Jiyoon hanya syock karena kejadian tadi saat ia akan terjatuh. Dan untungnya semuanya baik-baik saja. Jiyoon dan bayi dalam kandungannya tetap dalam keadaan baik dan sehat.

Ia terus menatap dalam-dalam wajah Jiyoon yang sudah beberapa bulan ini ia rindukan setengah mati. Tidak ada yang berubah dari gadisnya. Jiyoon tetap cantik walau kini tubuhnya sedikit berisi karena efek kehamilannya.

Mata Kyuhyun kini turun pada perut Jiyoon, ia mengelus pelan perut berisi bayi itu. Benarkah ini adalah bayinya, hasil perbuatannya dengan Jiyoon? Benarkah ia akan menjadi seorang ayah? Semua pertanyaan seperti itu terus berputar dipikiran Kyuhyun. Ia harus memastikan kembali dan mendengarnya langsung dari mulut Jiyoon sendiri.

Kyuhyun merasakan pergerakan tangan Jiyoon. Ia menatap lekat wajah Jiyoon. Pelahan mata Jiyoon mulai membuka dan melihat kepadanya. Kyuhyun menggenggam erat tangan Kyuhyun, seorang benda yang sangat berarti baginya.

“Cho Kyuhyun…” Jiyoon berucap dengan nada yang sangat pelan.

Kyuhyun tersenyum manis. “Iya, aku disini Yoonie.”

Jiyoon diam. Ia terus memandangi wajah Kyuhyun dalam-dalam. Wajah yang selama ini ia rindukan. Wajah yang selalu dia bayangkan. Dan wajah yang selalu datang dalam mimpinya.

“Bagaimana keadaanmu?” Kyuhyun mencoba bertanya pada Jiyoon. Karena gadis ini terus saja diam.

“Baik.” Ucapnya dan langsung meraba perutnya. Ia mendesah lega ternyata bayinya masih utuh dalam kandungannya saat ini.

“Dia baik-baik saja.” Kyuhyun lantas ikut mengusap perutnya. Kontan membuat Jiyoon sedikit kaget. Ini adalah pertama kalinya Kyuhyun mengelus perutnya bahkan dengan penuh perasaan. Benarkah ini Cho Kyuhyun? Kenapa pria ini menjadi manis sekali. Berbeda dengan Kyuhyun yang ia temui beberapa bulan yang lalu.

“Apa ini benar anakku?”

Entah kenapa Jiyoon menjadi ingin menangis mendengar pertanyaan Kyuhyun. Jiyoon hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Kyuhyun.

Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya saat ini juga. Ia akan menjadi ayah. Sungguh luar biasa bahagianya. Terlebih, ibu dari calon anaknya adalah orang sangat ia cintai. Kyuhyun langsung memeluk Jiyoon dengan erat. Sedangkan Jiyoon hanya diam mendapat pelukan hangat ini.

“Terima kasih. Terima kasih Yoonie , karena sudah mengandung anakku.” Jiyoon kembali terperangah karena panggilan Kyuhyun yang sedikit asing ditelinganya. ‘Yoonie’. Sebenarnya ada apa dengan Kyuhyun? Tingkah laku pria ini sedikit aneh. Menjadi sangat manis.

“Pulanglah ke rumahku, aku sudah sudah sangat merindukanmu, kumohon.”

.~o♥♥♥o~.

Musim dingin adalah musim yang begitu menyenangkan bagi siapa saja yang menantikan musim yang menurunkan ribuan butir salju yang memenuhi permukaan tanah hingga menjadi timbunan-timbunan berwarna putih dimana-dimana. Sama seperti dua anak adam yang tengah berpelukan itu depan balkon kamar mereka itu. Menatap langit malam yang tengah bertaburan bintang dan menikmati suasana indahnya romansa yang hangat malam ini.

“Aku tidak pernah menyangka bisa seperti ini denganmu.” Jiyoon bersuara.

Kyuhyun bergumam. “Maksudmu?”

“Berpelukan dengamu, menikmati setiap malam denganmu. Aku tidak ingin yang lain lagi selain kau selalu bersamaku Kyu.”

Kyuhyun tekekeh mendengar ujaran Jiyoon yang selalu saja mengatakan hal itu. “Itu berarti kau sangat mencintaiku kan?”

Jiyoon memutar bola matanya saat Kyuhyun berucap dengan rasa yang penuh percaya diri. “Ck! Memang nya kau tidak mencintaiku juga Kyu?”

“Heum.. bagaimana yaa?” Kyuhyun memasang ekspresi yang seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Sudahlah, aku tahu kau tidak pernah mencintaiku.” Mempoutkan bibirnya. Dan kesal karena Kyuhyun sampai saat ini tidak pernah mengatakan cinta padanya, walau kini memang mereka sudah bersama lagi.
“Menikahlah denganku Lee Jiyoon.”
Jiyoon menjadi diam. Ia sedikit terkejut dengan ucapan Kyuhyun. Namun itu hanya berlaku beberapa saat, karena kini wajah Jiyoon normal kembali. “Aku tidak mau.”
Kening Kyuhyun mengerut lalu melepas pelukannya, menatap Jiyoon lekat. “Kenapa kau tidak mau eoh?”
“Karena kau tidak mencintaiku. Untuk apa aku menikah, jika orang itu tidak mencintaiku eoh?” Celetuk Jiyoon membuat Kyuhyun mendesahkan nafasnya.
“Maka dari itu menikahlah denganku, dengan begitu kau akan mendengarkan kata cinta dariku setiap hari.”
“Aku tidak mau. Tidak mau. Tidak mau.”
Suara tangisan bayi sontak membuat kedua sejoli ini tersadar dari perdebatan mereka. Mereka sadar tengah ada satu malaikat kecil di dalam sana. Jiyoon langsung masuk kedalam kamar dan melihat kearah box bayi. Malaiakat kecilnya tengah menangis. Diambilnya bayi laki-lakinya lalu duduk di sofa untuk menenangkan bayi berusia lima bulan ini.
“Kau terbangun sayang.” Jiyoon berbicara pada bayinya lalu menepuk-nepuk punggungnya hingga putranya yang satu ini menjadi diam dan tersenyum kembali.
“Biar aku yang menggendongnya.” Kyuhyun datang dan mengambil alih Cho Hyunjae—putranya dari Jiyoon. “Jagoan appa, kenapa menangis? Ingin minum susu? Bilang sana eomma.”
Pletak..
Satu jitakan mengenai kepala Kyuhyun dari tangan Jiyoon. “Kau jangan bodoh Cho Kyuhyun. Anakmu masih berusia lima bulan. Mana bisa ia berbicara. Ck! Ayah yang aneh.”
Kyuhyun mendengus lalu menyerah kan Hyunjae kembali pada ibunya. “Kau juga ibu yang aneh.”
“Aku aneh? Aneh kenapa?” Cecar Jiyoon tidak terima. Mengatai dirinya aneh. Enak saja. Bukankah dia yang aneh. Menyuruh anaknya berbicara padahal dia tahu putranya masih berusia lima bulan. Dan melamarnya tanpa pernah mengatakan cinta. Jadi siapa yang aneh??
“Kau aneh karena tidak menerima lamaran dari pria paling tampan ini.”
Jiyoon kembali memutar bola matanya. Semakin lama Jiyoon semakin tahu jika Kyuhyun mempunyai penyakit percaya diri yang tinggi. “Itu karena kau tidak mencintaiku bodoh.”
Kyuhyun tersenyum samar dan mendekat wajahnya pada wajah Jiyoon, mencium bibir Jiyoon singkat yang disaksikan oleh putra mereka yang hanya diam melihat apa yang orang tuanya lakukan.
“Ya… walaupun kau aneh, tapi aku sangat mencintai orang aneh sepertimu Lee Jiyoon.”
FIN

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: