Beautiful Wedding

0
ff nc 21 kyuhyun hyo reen
Tittle                              : Beautiful Wedding
Author                         : Chiezchua
Main Cast                    : Cho Kyuhyun, Park Hyo Reen, etc.
Genre                           : Romance, Marriage Life
Rate/ Lenght                 : Oneshoot / NC 21+
Sorry for typo and Happy Reading!!
You mean so much to me, I want the world to see,
I love you best explains how I feel for you. ~ Because Of You ‘Keith Martin’
Kau sangat berarti bagiku, Kuingin seluruh dunia tahu .
Kalimat ‘aku mencintaimu’ sungguh mewakili perasaanku padamu.

11 Februari 2014
Hyo Reen Side
‘Menikah’. Satu kata familiar yang sudah pasti sangat didambakan oleh kebanyakan gadis di dunia ini. Tidak ada satupun diantara mereka yang dapat mengingkari perasaan bahagia ketika menyambut moment indah tersebut. Setidaknya itulah persepsi yang aku tahu dari sebagian besar orang yang pernah merasakannya.
Sebuah pertanyaan menjadi ganjalan dalam hatiku. Mungkinkah apa yang mereka rasakan sama dengan apa yang kurasakan saat ini?
Entahlah!, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku tidak bisa menggambarkan semuanya dengan cukup jelas, apa yang aku rasakan saat ini hanyalah perasaan ‘Takut’. Takut jika pilihanku ini adalah sebuah kesalahan, Takut dengan kenyataan yang akan kuhadapi di kemudian hari.
Sial! Mengapa tanganku tidak berhenti bergetar. Jemariku mencengkram kuat lipatan gaun yang berada di kedua sisi tubuhku, berusaha keras meredakan perasaan gugup yang kian mendera ini.
Tapi aku merasa sedikit bersyukur karena hanya aku sendiri di dalam kamar ini setelah beberapa orang penata rias yang membantuku sudah keluar sejak beberapa menit yang lalu.
Menghirup nafas dalam seraya memejamkan mata, mengisi penuh rongga dadaku yang terasa semakin menyempit akibat minimnya pasukan udara yang masuk, kemudian menghembuskanya secara perlahan. Menormalkan kembali detak jantungku yang hampir  mencapai taraf mengkhawatirkan akibat terlalu sering mendapatkan kejutan darinya. Bodoh!, kenapa bisa segugup ini?. Ya! Tuhan, Jangan biarkan aku mempermalukan diriku sendiri saat di depan altar nanti. Aku pensaran bagaimana sensasi ketika nanti jemari tanganku bertemu dan saling menggenggam dengan jemari miliknya?
“Tch!” Aku menggeleng perlahan. “Sangat lucu”. Seharusnya aku tidak perlu takut dengan hal-hal yang tidak layak untuk di takutkan. Mengingat sejauh ini, semuanya telah berjalan lancar tanpa perlu aku ikut campur di dalamnya.
Aku menghitung dalam hati. Tepat satu minggu lebih satu hari setelah kalimat ‘iya’ meluncur dari sela bibirku. Dan kini semuanya telah berada di depan mata.
Sebelumnya aku tidak tahu menahu sama sekali mengenai persiapan pernikahan kami, karena beberapa hari ini, aku disibukkan dengan pekerjaan baru sekaligus terakhirku.
Selama aku menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita dalam waktu seminggu ini, kau aku bebaskan untuk bekerja, tapi nanti setelah kita menikah., aku ingin kau hanya ada dirumah dan menungguku pulang. Arra!
Bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana mengerikannya hidupku kelak, Kyuhun dengan mudah mengatakan semua keinginanya tanpa bertanya lebih dulu apakah aku bersedia mengikuti keinginanya atau tidak. Sialnya, aku tak memiliki kuasa apapun untuk menolaknya, dan hal itulah yang membuatku semakin terjerat di dalam kuasanya. Pria ini sukses membuat hatiku terombang-ambing seolah memang tidak ada pilihan lain selain aku harus mengikutinya. Apapun yang Kyuhyun lakukan padaku, selalu berhasil membuatku terharu sekaligus geram. ‘Terharu’ dengan semua perhatian yang ia berikan. ‘Geram’ dengan kenyataan bahwa aku tidak mampu melakukan apapun untuk membalasnya.
Dalam rentan waktu sedemikian singkatnya, pria itu ternyata sanggup menyiapkan segalanya sendiri. Mulai dari gaun pengantin serta pesta pernikahan dengan segala kemewahannya, entah bagaimana cara ia melakukan itu semua, membayangkannya saja sudah membuat kepalaku pening, belum lagi jutaan dollar yang harus ia keluarkan untuk membiayai ini semua, membuatku semakin terlihat tidak berguna. Sungguh aku tidak pernah menyangka. Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah mengalaminya. Semua ini terjadi di luar ekspektasiku.
Aku mematut tubuhku di depan cermin besar, merasa asing dengan diriku sendiri. Seharusnya gadis biasa sepertiku tak sepantasnya memakai gaun seindah ini, gaun berwarna putih ini begitu elegan dan terlihat sangat pas membalut setiap lekukan tubuhku, bagian atasnya tanpa lengan dihiasi tiara yang dibentuk menyerupai kelopak bunga sedangkan bagian bawahnya menjuntai lebar kebawah sampai mata kaki, gaun ini semakin terlihat memukau dengan lapisan Lace yang dipenuhi Luxury Diamond pada permukaannya.
Aku malihat kalung berlian pemberian ibu Kyuhyun seminggu yang lalu, kini telah melingkar sempurna di leherku berhiaskan kilauan permatanya yang semakin membuatku tak mengenali diriku sendiri. Ya! Tuhan bagaimana pandangan orang-orang nanti saat melihatku?, fikiranku kembali melayang mengingat saat itu.
Kau adalah wanita pertama yang dibawa Kyuhyun kepada kami.
Dan kami percaya bahwa kau wanita yang baik dan bisa menjaga satu-satunya putra kami.
Berbahagialah dengannya. Terimalah kalung ini, karena kau sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga. Jagalah baik-baik karena benda itu adalah warisan turun-temurun dari keluarga kami.
Dan jangan lupa, secepatnya berikanlah kami cucu.
Kalimat-kalimat seperti itulah yang sering berputar-putar di dalam otakku sejak Kyuhyun mengajakku bertemu dengan kedua orang tuanya tepat satu hari setelah ia melamarku secara pribadi. Tentu saja pada saat itu aku menampakkan wajah paling bodohku dengan mulut ternganga takjub akibat ungkapan-ungkapan tak terduga yang kudengar langsung dari ibu Kyuhyun, aku tidak pernah menyangka, secepat itu mereka semua menerimaku dengan tangan terbuka, masuk ke dalam bagian keluarga mereka. Semua itu membuatku terharu dan tentu saja merasa sangat bahagia.
Satu hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya, bahwa pernikahan ini berlangsung di Busan, tempat dimana aku dulu tinggal. Hal ini tentu saja membuatku mengingat semua masa-masa kelam yang pernah kulalui, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Dan apa yang kualami saat ini semakin membuatku bersyukur karena aku tidak lagi mengalami masa-masa sulit itu.
Aku merasa seolah menjadi Cinderella yang bertemu dengan Pangerannya lalu hidup bahagia. Mungkin seperti itulah takdir hidup dalam sebuah dongeng. Namun aku tidak yakin dengan itu semua sebelum melewatinya lebih jauh. Karena takdir tidak selalu indah bukan, tapi bolehkan aku meminta agar Tuhan selalu memberikan takdir indahnya pada kehidupan kami kelak. Semoga saja.
Aku ingin menikahimu sekaligus meminta restu pada kedua orang tuamu dan keluargamu yang lainnya.
Itulah alasan Kyuhyun saat ia memberitahukan padaku dimana tempat pernikahan kami akan dilaksanakan. Tentu saja aku tidak akan bisa menolak keinginannya. Karena dia pula saudara ibu dan ayahku kembali menganggapku ada, mereka semua bersikap baik padaku, tidak seperti dulu.
Kemarin ia baru saja meminta restu pada kedua orang tuaku di depan pusara mereka. Membuatku semakin terharu karena belum pernah ada lelaki manapun yang menginginkanku sedalam ini. Sebenarnya apa yang ia lihat dariku?, selama ini aku merasa tidak pernah ada orang yang benar-benar perduli padaku kecuali sahabatku sendiri ‘Shin Rae In’. Sahabat yang selalu ada untukku dan aku sangat menyayanginya.
“Yak! Sampai kapan kau akan melamun Reen-ah?”
Aku menoleh kebelakang dan mendapati Rae In yang sedang melongokkan kepalanya di balik pintu. Sahabatku ini memang selalu muncul di saat aku membutuhkannya tanpa diminta sekalipun, dan tentu saja di hari spesial ini aku mengundangnya secara istimewa. Perlahan ia masuk dan berjalan mendekatiku. Aku terkikik geli mendapati wajah geramnya.
“Dalam pantulan cermin saja aku bisa melihat dengan jelas wajah murammu itu, sebenarnya apa yang sedang kau fikirkan eoh?, bukankah seharusnya kau bahagia bisa menikah dengan pria tampan sekaligus CEO kaya raya itu, Tch! Jujur saja kau sangat iri padamu, tapi aku akan ikut bahagia jika melihatmu bahagia. Jadi berhentilah menekuk wajah cantikmu itu. arrasso!. Ahhh satu lagi! Lain kali aku ingin kau merekomendasikanku agar bisa bergabung di perusahaannya, mungkin aku bisa menjadi sekretaris pribadinya.” Rae In tersenyum riang tanpa dosa. Sepertinya ia memang sengaja ingin menggodaku. Aku memutar bola mataku malas jika Rae In sudah membicarakan keinginan konyolnya itu, sudah berapa kali ia mengatakan hal itu padaku sejak pertemuan kami kemarin lusa. Mungkinkah pekerjaan sebagai editor naskah dari perusahaan penerbitan ternama belum cukup untuknya.
Baiklah, karena tidak ada pilihan lain, maka sekarang aku akan mengakui pada kalian fakta yang paling mengejutkan saat bertemu dengan keluarganya, fakta bahwa Cho Kyuhyun merupakan putra tunggal dari Cho Young Hwan, sekaligus pewaris utama CH Finacial Group. Saat ini ia telah berhasil menduduki kursi pimpinan tertinggi di perusahaan tersebut, serta berkat kerja kerasnya pula CH Financial Group berhasil menempati urutan ketiga perusahaan terbesar di Korea Selatan. Beroperasi secara internasional dalam bidang investasi dan perbankan dengan struktur manajemen modern dari beberapa variasi sektor seperti Real State, Perhotelan, serta Departemen Store, Asetnya berfaliasi dengan 90 perusahaan dibawahnya dengan nilai keseluruhan yang berkisar 85 milliar dollar. Kalian bayangkan sendiri batapa kayanya seorang Cho Kyuhyun, dan fakta mencengangkan inilah yang seketika mampu meruntuhkan kepercayaan diriku, membuat nyaliku semakin memudar dan tidak yakin dengan pernikahan ini.
Mengapa ia memilihku?, bukankah seharusnya ia berkencan dengan wanita-wanita terhormat dari kasta yang sama dengannya, karena tentu tidak ada satupun hal kecil yang bisa ia banggakan dari gadis biasa sepertiku. Pertanyaan-pertannyaan seperti itulah yang sering pula menghantui fikiranku. Sekaligus membuatku takut jika suatu saat nanti ia pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin merasakan betapa sakitnya ditinggal sendiri untuk yang kedua kalinya setelah kepergian kedua orang tuaku, Ya! Tuhan, sampai sejauh mana ia akan bertahan denganku?
‘Jangan bodoh Park Hyo Reen!’ Sisi lain diriku membuatku tersadar, tidak seharusnya aku berfikir sejauh itu, jika setiap hari aku memikirkan hal yang belum tentu benar adanya dapat dipastikan wajahku akan berkerut sekaligus cepat menua. Faktor pendukung paling utama yang mungkin saja membuat Kyuhyun semakin cepat pula berpaling dariku. ‘Secepat’ saat ia memintaku agar berada di sampingnya. Aku menggeleng kuat, tubuhku bergidik ngeri membayangkan kemungkinan buruk itu.
“Yak!, kau melamun lagi.” Rae In mendengus tidak suka seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Aku hanya merasa tidak yakin.” Jawabku kemudian, berusaha mendapatkan kembali perhatiannya.
“Kau tidak yakin membiarkan suamimu, ahh!, kalian belum resmi, maksudku calon suamimu memiliki sekretaris cantik sepertiku, apa kau cemburu?, apa kau takut ia akan berpaling darimu?.” Rae In terkekeh semakin lebar. Ia merasa telah sukses menggodaku, padahal tidak sama sekali.
“Bukan begitu, maksudku…. “ aku tidak tahu harus menjelaskan bagian mana lagi padanya. Karena hampir semuanya telah aku ceritakan saat kami bertemu di sebuah cafe dua hari yang lalu. Dan untuk keinginan konyolnya itu aku tidak menanggapinya serius, karena aku tahu ia hanya bercanda.
“Sebenarnya aku tahu, kau pasti sedang terkena Pra Wedding Syndrom.”
“Mwo?, Ahhh! Sudahlah, aku tidak mengerti dengan istilah seperti itu!”
“Tapi kau……..”
“Hyo Reen-ah”
Belum sempat Rae In meneruskan ucapannya, terdengar suara lain yang mengintrupsi perbincangan kami. Aku menoleh kesamping dan mendapati ayah mertuaku telah berdiri di depan pintu dengan gagahnya menggunakan setelan jas armani yang membuatnya terlihat lebih muda. “Ne aboenim.”
“Sebentar lagi prosesi pemberkatan akan segera dimulai, kita harus bersiap-siap”
***
Haeundae Beach, Busan.
Kyuhyun Side
Menjadikannya milikku mulai saat ini dan seterusnya tanpa mengenal batasan waktu. Itulah keyakinan kuat dalam diriku. Tidak ada lagi kata kemarin, besok, maupun lusa dalam fikiranku, yang ada hanyalah hari ini. Hari terpenting dalam hidupku, Hari dimana aku akan meresmikan Park Hyo Reen menjadi milikku sepenuhnya. Aku tidak ingin menundanya lebih lama lagi. Aku bukanlah tipe orang penyabar, kalian tahu sendiri akan hal itu bukan.
Heundae beach terlihat begitu mempesona dengan hamparan luas berwarna biru jernih dihiasi awan putih bersih yang menggantung di atasnya. Beberapa objek menawan itulah yang akan menjadi saksi bisu janji suci pernikahan yang akan kami ucapkan. Di iringi suara-suara merdu deburan ombak menghantam karang, yang nantinya akan menjadi melodi terindah saat Hyo Reen berjalan anggun menghampiriku di depan altar. Bagaimana nanti saat ia berdiri di sampingku?, saat aku menggenggam tangannya?, saat aku mengecup lembut bibir ranumnya di depan semua tamu undangan setelah pemberkatan selesai dilakukan? Ya! Tuhan! Hanya membayangkannya saja sudah membuatku tidak sabar ingin segera memilikinya saat ini juga.
Mungkin kalian ingin tahu alasan terpenting mengapa aku memilih tempat ini?
Sangat klise sebenarnya. Selain ingin lebih mengenal keluarganya dan meminta restu langsung kepada orang tuanya, alasan utamaku yakni ingin menegaskan fakta, bahwa ia tidak akan pernah merasa kesepian lagi di tempat yang sama, tempat dimana dulu ia pernah tinggal. Karena pada kenyataannya, mulai saat ini aku akan selalu bersama Hyo Reen, tidak perduli dimanapun dan kapanpun. Aku sudah berjanji akan membahagiakannya, kami akan menulis bersama-sama lembaran baru cerita kehidupan yang penuh warna sekaligus mengukir moment–moment terindah untuk kami berdua di setiap kesempatan. Aku yakin semua impian-impian indah tersebut akan segera terwujud dalam waktu dekat.
Aku melihat beberapa tamu undangan sudah hadir memenuhi deretan kursi putih berhiaskan pita berwarna pink yang berjejer rapi di depanku. Pesta ini memang tidak terlalu besar, karena aku tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkannya. Tidak ada media yang meliput acara ini. hanya pihak keluarga kami dan orang-orang terdekatku, serta beberapa perwakilan staf yang bekerja di perusahaanku. Begitu pula dengan Hyo Reen yang hanya mengundang beberapa teman dekatnya saja.
Kulirik Rolex berwarna perak yang melingkar sempurna di pergelangan tanganku, kudapati arah jarum menunjukkan pukul lima belas kurang sebelas menit. Sepuluh menit lagi acara ini akan segera dimulai, Shit! aku sudah tidak sabar ingin melihat Hyo Reen dengan balutan gaun pengantinnya.
.
.
.
.
.
Apa yang aku tunggu kini sudah di depan mata. Hyo Reen dengan balutan gaun pengantinnya terlihat begitu indah. Sial! pesonanya yang jauh diatas normal itu berimbas buruk pada lensa mataku yang tidak bisa melihat dengan benar pada objek lain selain dirinya. Mengapa hanya dia yang terlihat begitu jelas, sedangkan yang lainnya seolah buram akibat tersamarkan oleh pesona yang terpancar dari tubuhnya. Suara dentingan piano mengiringi langkahnya berjalan menuju altar tempat di mana aku menunggunya saat ini.
Ya! Tuhan, mengapa jarak yang terhitung beberapa meter saja terasa begitu lama bagiku. Hyo Reen memperlihatkan senyum memikatnya padaku saat jarak diantara kami semakin dekat.
Angin berhembus ringan menyebabkan helaian rambutku menari-nari tidak beraturan sekaligus sedikit menyamarkan butiran keringat dingin yang menghiasi pelipisku. Jika boleh memilih, aku ingin saat ini juga berjalan menghampirinya lebih dulu dan membawanya sendiri menuju altar tanpa perlu mematung disini layaknya orang bodoh dan merasa sangat gugup seperti sekarang.
Ayah tersenyum bahagia saat berdiri tepat di depanku seraya mengulurkan tangan Hyo Reen padaku. “Berbahagialah untuk kalian berdua.”
“Ne, Aboeji.” aku menyambutnya dengan senang hati. Menggenggam jemari Hyo Reen begitu erat, bersumpah di dalam hati tidak akan pernah melepaskan apa yang akan menjadi milikku sampai kapanpun. Kurasakan telapak tangannya begitu dingin dan berkeringat, Ya! Tuhan benarkah ia segugup ini?, ternyata apa yang ia rasakan tidak jauh berbeda denganku.
“Baiklah, kita mulai acara pemberkatan ini.” suara pendeta mengalihkan perhatiannku yang awalnya hanya terfokus pada Hyo Reen.
“Saudara Cho Kyuhyun, apa kau sungguh dengan ikhlas hati berkenan meresmikan perkawinan ini dengan Park Hyo Reen, bersedia mengasihi dan menghormatinya, menjadi pendamping hidupnya di saat susah maupun senang serta menjadi ayah yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kelak sampai maut memisahkan kalian berdua?”
“Ne, saya bersedia.” Terdengar jelas dan begitu mantab, tidak ada sedikitpun nada keruguan yang terselip di dalam kalimatku. Aku merasa bahagia tentu saja. Tidak ada satupun hal menarik lainnya yang mampu ditukar dengan kebahagiaanku saat ini.
“Saudari Park Hyo Reen, apa kau sungguh dengan ikhlas hati berkenan meresmikan perkawinan ini dengan Cho Kyuhyun, bersedia mengasihi dan menghormatinya, menjadi pendamping hidupnya di saat susah maupun senang serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya yang dipercayakan Tuhan kelak sampai maut memisahkan kalian berdua?”
“……”
Hening, tidak ada satupun kata yang terlontar dari bibir Hyo Reen, setelah pendeta menyelesaikan serangkaian kalimatnya. Ya! Tuhan ada apa ini, mengapa ia diam saja?, mungkinkah ia masih merasa ragu padaku?, aku meremas jemari Hyo Reen, semakin mengeratkan genggaman tanganku pada jemarinya, berusaha meyakinkannya bahwa ini semua bukanlah kesalahan yang patut ia takutkan, aku sudah berjanji akan selalu membahagiakannya. Sorot matanya menghujam penuh ke arahku seolah mencari keyakinan akupun membalasnya dengan anggukan ringan.
“Baiklah saya ulangi sekali lagi.”
“Saudari Park Hyo Reen……. “
“Ne, saya bersedia.” Potong Hyo Reen cepat sebelum pendeta menyelesaikan serangkaian kata yang sama dengan sebelumnya. Perasaan lega membuncah dalam hatiku, memberi kesejukan tersendiri di setiap sel-sel bagian tubuhku yang sempat menegang sebelumnya.
Akhirnya Hyo Reen telah resmi menjadi milikku. Aku tersenyum lebar mendapati pipi meronanya akibat ulahku sendiri yang tidak henti-hentinya menatap wajahnya. “Terimakasih.” Gumamku nyaris tak terdengar, tapi kurasa Hyo Reen masih mengerti dengan apa yang kumaksud, ia pun ikut tersenyum membalasnya.
“Baiklah dengan ini saya nyatakan kalian berdua telah sah sebagai suami istri dimata Tuhan, Hukum dan Negara. Dipersilahkan bagi kedua mempelai saling bertukar cincin dan mempelai pria diperbolehkan mencium istrinya.”
Sebelum prosesi ini berlanjut, aku ingin menegaskan kembali pada dunia, dan mengucapkan kembali janji suci pernikahan secara pribadi pada istriku di hadapan para undangan yang hadir. Aku menarik pinggang Hyo Reen, mengikis jarak diantara kami, membuat tubuhnya semakin menempel padaku. Kami menghadap para undangan yang terlihat begitu antusias melihat pasangan pengantin baru yang terlihat begitu mesra. Mungkin seperti itulah spekulasi sebagian besar diantara mereka.
“Hari ini, dan di tempat ini aku Cho Kyuhyun telah menjadikan Park Hyo Reen sebagai istriku, aku akan membuatmu menjadi wanita paling istimewa dalam hatiku, hanya kaulah yang akan menjadi prioritas dalam hidupku, mencurahkan segala waktu yang kumiliki hanya untukmu, merajut mimpi bersama menciptakan memori-memori indah disetiap perjalan hidup kita. Aku berjanji akan membuatmu bahagia bersamaku, membuatmu selalu tersenyum dan merasa nyaman berada di sampingku, aku akan memberikan semua yang terbaik untukmu, tidak perduli seberapa sulit jalan yang akan kita lalui bersama, aku berjanji akan selalu berada di sampingmu, aku akan tetap bertahan karena kaulah tempatku berkeluh kesah dan berbagi rasa suka maupun duka. Menghabiskan waktu bersama putra putri kita kelak, mengawasi perkembangan mereka hingga suatu saat nanti kau dan aku telah menua, tidak perduli setiap perubahan yang akan terlihat pada diri kita, dengan tubuh ringkih dan rambut memutih aku berjanji akan tetap menyayangimu dalam keadaan susah maupun senang hingga maut yang akan memisahkan.”
Selesai mengucapkan sumpah janji suci, aku meraih jemari Hyo Reen, kemudian memasangkan cincin bertahta berlian pada jari manisnya, sebagai lambang pengikat diantara kami. Aku melihatnya hampir menangis, tangis bahagia mungkin, bola matanya berkaca-berkaca. Aku menghapus jejak cairan bening yang hampir saja tumpah pada sudut –sudut matanya. “Sekarang giliranmu.”
“Aku Park Hyo Reen, hari ini telah menerima Cho Kyuhyun menjadi suamiku. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, membuatmu tidak pernah menyesal karena telah memilihku menjadi ibu dari anak-anakmu. Aku akan mengabdikan seluruh hidupku hanya untukmu, mencurahkan segala kasih sayang yang kumiliki seutuhnya. Aku berharap semua kebahagiaan ini tidak cepat berakhir dan mampu bertahan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Aku berjanji kan menjadi istri yang bisa kau banggakan untuk saat ini dan seterusnya hingga maut memisahkan kita.”
Rentetan kalimat-kalimat sederhana yang Hyo Reen ungkapkan sukses membuat hatiku berdebar, aku tidak menyangka semua itu berefek sangat buruk pada kesehatan tubuhku. Ya! Tuhan jika seperti ini aku akan semakin mencintainya. Kurasakan Hyo Reen meraih jemariku kemudian memasangkan cincin serupa pada jari manisku. Aku tersenyum bahagia mendapati benda sakral tersebut telah melingkar sempurna pada jemariku. Dan fakta bahwa Park Hyo Reen yang memasangkannya semakin membuatku bahagia.
Kami berdiri berhadapan, saling memandang satu sama lain. Melingkarkan lenganku pada pinggulnya, kembali merapatkan tubuhnya padaku. Jemariku yang lain berlarian mengusap permukaan pipinya yang terasa begitu halus ditelapak tanganku. Tatapan matanya terlihat begitu pasrah, mungkin ia terhipnotis dengan sorot mataku yang menghujam penuh padanya. Bulu mata lentik membingkai sempurna kelopak matanya. Bibir ranumnya sedikit terbuka seolah ingin menggodaku untuk segera merasakan bagaimana nikmatnya benda kenyal tersebut. Hanya melihat bibir sensualnya saja mengakibatkan gairahku naik hingga ubun-ubun, membuatku tidak sabar dan segera menempelkan bibirku pada bibirnya. Tidak ada waktu hanya untuk menempel saja, di detik berikutnya aku melumat bibir atasnya serta menggigit bibir bawahnya. Ia membalas ciumanku, menghisap pelan bibir atasku, kurasakan lengannya melingkar pada leherku. Otomatis membuatku semakin memperdalam ciuman kami. Sangat ‘manis’ membuatku merasa enggan untuk melepasnya. Melupakan fakta bahwa tidak hanya ada kami berdua di tempat ini.
Ya! Tuhan dia sudah menjadi milikku. Aku meyakinkan diriku sendiri, kami masih bisa melakukannya kapan saja tidak ada batasan waktu. Berusaha keras meraup segala kesadaranku, dengan perlahan mencoba melepas tautan kami. Aku melihat tatapan mata Hyo Reen sedikit kecewa karena aku yang melepasnya lebih dulu. Mungkinkah ia juga lupa bahwa ada banyak pasang mata yang sedang memperhatikan kegiatan kami saat ini.
“Cho Hyo Reen, aku tahu kau ingin melakukannya lebih lama lagi, tapi ingatlah semua orang sedang memandang kita saat ini, jadi kumohon bersabarlah hingga malam nanti.”
Baru saja menyelesaikan kalimatku, seketika itu juga aku mendapati rona merah di kedua pipi Hyo Reen, membuatku semakin gemas dan inngin segera memakannya saat ini juga. Gadisku ini benar-benar sukses membuat pertahananku runtuh seketika. Kurasakan sesuatu di bawah sana terasa semakin sesak, semoga saja ia dapat bertahan hingga nanti malam.
***
Hyo Reen Side
Mentari mulai tergelincir dari singgasananya, memancarkan bias berwarna oranye di ufuk barat. Di ikuti hamparan luas langit yang semula membiru kini hampir menggelap sepenuhnya. Malam mulai beranjak seiring dengan bermunculannya kilauan-kilauan kecil yang menggantung di atas sana, seolah mereka sedang ikut meramaikan suasana di pantai ini. Semilir angin di sore hari terasa seperti memberikan kesejukan dan kenyamanan tersendiri bagi siapapun yang merasakannya.
Setelah pemberkatan usai beberapa jam yang lalu, saat ini acara berlanjut pada pesta resepsi untuk menjamu para tamu undangan yang sudah hadir. Aku tidak menyangka bahwa Kyuhyun lebih memilih konsep Wedding Place Outdoor seperti ini, hampir keseluruhan properti didominasi warna putih dengan dihiasi lampion-lampion berwarna kekuningan yang menggantung di atas sebagai pencahayaannya, entah mengapa bagiku semua ini terlihat begitu elegan. Aku tidak pernah membayangkan pesta seindah ini terjadi saat pernikahanku.
Pada setiap meja sudah disiapkan berbagai macam hidangan lezat khas masakan pantai, yang bisa dinikmati kapan saja oleh tamu undangan sambil menikmati pemandangan laut di sore hari yang nampak memukau.
Hari yang cukup melelahkan membuat tubuhku serasa ingin limbung. Hampir saja aku menanggalkan high hels menyebalkan ini kalau saja tidak ada beberapa tamu penting Kyuhyun yang ternyata baru sempat memunculkan batang hidungnya di pesta pernikahan kami ini. menggumamkan kata ‘kami’ entah mengapa membuatku sangat bahagia, seperti ada sesuatu yang membuncah dalam hatiku namun tak bisa ku ungkapkan. Mungkin kenyataan bahwa aku sudah tidak sendirianlah yang membuat bibir ini tidak berhenti tersenyum apalagi disaat kedua orang tua Kyuhyun memberikan ucapan selamatnya yang tulus pada kadan juga para tamu undangan yang memberikan selamat serta do’a nya untuk kelangsungan pernikahan kami. Rasa bahagia itu benar-benarsudah tidak sanggup aku gambarkan lagi.
“Ya! Cho Kyuhyun.”
Terdengar suara dengan intonasi yang cukup tinggi menyebut nama Kyuhyun. Aku melihat seorang pria tampan sedang melambaikan tangannya dari jarak beberapa meter di depan kami. Ia berjalan dengan santai mendekati kami, mengabaikan tatapan kagum para wanita yang sedang duduk dengan mulut ternganga melihat pesonanya.
Aku masih bisa mendengar bisikan Kyuhyun sesaat sebelum pria itu berdiri tepat di hadapan kami. “Jangan pernah terpesona dengan pria amis itu.” Dan aku tidak mengerti apa yang ia maksud.
Pria itu melayangkan tinjunya pada bahu Kyuhyun, mungkin memang seperti itu cara mereka memberikan salam saat bertemu. “Kau benar-benar mengejutkanku, tapi tentu saja aku sangat bahagia mendengar berita pernikahanmu yang tidak biasa ini, kupikir kau tidak akan menikah selamanya” Ujarnya dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
“Sialan kau.” Umpat Kyuhyun tidak terima, benarkah apa yang aku dengar ini, bukankah itu menandakan bahwa selama ini belum ada satupun wanita yang pernah dekat dengan Kyuhun. Tch! Jangan berfikir terlalu jauh Park Hyo Reen.
Pria itu menguarkan senyumannya lebih lebar. “Berhentilah tersenyum, kau bisa membuat mereka semua pingsan akibat ulahmu.” Dengus Kyuhyun tidak suka tapi justru membuat pria itu semakin terkekeh, padahal Kyuhyun sama sekali tidak berniat untuk memujinya. Aku hanya bisa menatap keduanya dalam diam.
“Bagimana jika istrimu nanti yang pingsan saat melihat senyumanku.” Pria itu memamerkan senyum mempesonanya seraya mengulurkaan tangannya padaku. “Aku Lee Donghae, teman dekat suamimu, sekaligus menjabat sebagai General Manager di perusahaannya.”
Aku menyambut uluran tangan Lee Donghae dan membalas senyumannya. “Park Hyo Reen.” Aku bisa mendengar Kyuhyun mendengus di sampingku. “Cho Hyo Reen.” Ralat Kyuhyun cepat dan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku.
“Sudah cukup, jika terus menggodanya aku pastikan jabatanmu besok akan segera melayang.” Kyuhyun menarik tanganku kemudian melingkarkan pada pingangnya. Mencoba menegaskan bahwa aku hanyalah miliknya.
“Santai bung, aku tidak akan merebutnya, kcuali dia sendiri yang memilihku.” Kyuhyun semakin mendelik kearahnya. Membuatku terkikik geli mendapati suamiku yang sedang cemburu seperti ini, terlihat sangat berlebihan karena sudah jelas Donghae sengaja hanya ingin menggodanya. Membuatku mengingat Rae In saat ia menggodaku. Yach! Mereka terlihat mirip. Ngomong- ngomong dimana ia sekarang.
“Park Hyo Reen.”
Menolehkan kepalaku kesegala arah, mencari-cari sumber suara yang memanggil namaku. Dan see, aku mendapati Rae In dari arah samping sedang melangkahkan kakinya mendekat ke arah kami dengan tangan kanannya yang membawa sepiring penuh makanan. Ya! Tuhan hoby makan sahabatku ini benar-benar menghawatirkan, tapi anehnya berat tubuhnya tidak pernah bertambah, selalu proposional.
“Ingat nona Shin, temanmu ini sudah menjadi istriku sekarang, jadi kuharap kau bisa mengganti marganya.” Ujar Kyuhyun saat Rae In sudah berada di hadapan kami.
“Ahh! Ne, ma’af aku lupa jika ia sudah menjadi istrimu tuan Cho.” Senyum tanpa dosa itu kembali menghiasi bibir Rae In. Sebelah tangannya yang lain terulur menjabat tangan Kyuhyun sesaat.
“Dan kau Cho Hyo Reen.” Rae In sedikit meninggikan intonasinya saat menyebut nama dan marga baruku, sengaja ingin menegaskan pada Kyuhyun bahwa ia tidak salah bicara lagi. “Aku sangat bahagia akhirnya kau memiliki pendamping hidup yang selalu menjagamu,” Rae In berusaha memeluk tubuhku dengan sebelah tangan sedangkan tangannya yang lain masih sibuk menggenggam piring makanannya. “Berbahagialah.” Gumam Rae In dalam pelukanku dan aku mengangguk sebagai jawabanya. “Cepatlah menyusul.” tambahku lagi. Rae In merenggangkan pelukannya, kemudian mendelik ke arahku. “Kau tahu sendiri belum ada satupun pria yang mendekatiku.”
“Bagimana jika aku yang mendekatimu.” Terdengar suara yang menanggapi perkataan Rae In. Dan ternyata pria bernama Lee Donghae masih tetap setia berdiri di dekat kami, memperhatikan kami serta menanggapi penyataan Rae In tanpa ada yang menyuruh.
Rae In menoleh ke arah Donghae, pandangan matanya menyipit, tersirat penuh ketidakpercayaan. “Maaf tuan aku tidak mengenalmu.”
“Sepertinya kalian cocok.” Sahut Kyuhyun ikut menimpali, akupun mengiyakan namun sedikit ada rasa ragu. Di lihat sekilas Rae In memang sangat cocok dengan Donghae, tapi sayangnya aku belum mengenal dengan baik pria itu. jangan sampai Rae In yang polos termakan begitu mudah dengan bualannya.
“Ya! kalian pengantin baru, berhentilah menggodaku.” Rae In membalikkan tubuhnya bersiap meninggalkan kami. Sesaat kemudian ia kembali menolehkan kepalanya. “Ahhh! Satu lagi, aku ucapkan terimakasih banyak karena makanan disini sungguh nikmat, membuatku tidak rela jika meninggalkannya.” Rae In mengacungkan piringnya. Aku terkikik geli melihat tingkah absurd sahabatku.
“Kalau begitu kau tidak boleh meninggalkanku juga nona, kita belum selesai berkenalan.” Donghae berlari menjejeri langkah Rae In, sepertinya pria itu bersungguh-sungguh ingin mendekati sahabatku. ‘Tertarik pada pandangan pertama’. Mungkinkah semua pria seperti itu?
Aku menoleh pada Kyuhyun. mencoba mencari jawaban atas pertannyaan yang menggantung dalam otakku.
“Kau tenang saja, meskipun Lee Donghae seorang playboy tapi ia akan bersungguh-sungguh saat menemukan yang tepat, dan aku rasa ia benar-benar tertarik dengan sahabatmu.”
“Tertarik pada pandangan pertama’. Mungkinkah semua pria seperti itu?”
“Tergantung.” Jawab Kyuhyun seraya mengendikkan bahunya. Jujur saja aku tidak puas dengan jawaban yang ia berikan. Belum sempat aku menyuarakan protes, Kyuhyun sudah membuka suaranya kembali.
“Ada sesuatu yang akan kutunjukkan padamu, duduklah diam disini.” Kyuhyun mendudukkanku pada kursi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Apa yang akan ia lakukan?
Kyuhyun naik ke atas teater mini yang berjarak tidak lebih dari lima belas meter di depan kami. Mengintrupsi beberapa pemain biola yang mengalunkan nada-nada indahnya di atas teater mini tersebut.
“Mohon perhatiannya sebentar bagi seluruh para undangan yang hadir di pesta ini, aku Cho Kyuhyun, mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran dan ucapan selamat serta do’a yang kalian berikan. Dan kali ini aku meminta waktunya sebentar, izinkan aku menyanyikan sebuah lagu untuk ratu di pesta malam ini, dialah istriku Cho Hyo Reen ”
Kyuhyun bersiap, duduk dibelakang grand piano berwana putih.
Ya! Tuhann! Benarkah ia akan bernyanyi. Seperti apa suaranya. Siapa yang berani menabuh drum disaat yang tidak tepat ini, Jantungku berdegup kencang menanti bait-bait lirik yang akan ia suarakan. Kudengar suara dentingan piano sebagai nada pembuka saat Kyuhyun manarikan jemarinya di atas tut-tut piano.
If ever you wondered, If you touched my soul
Yes you do
Since I met you I’m not the same, You bring life to everything I do
Just the way you say hello, With one touch I can’t let go
Never thought I’d fall in love with you
Jika kau bertanya-tanya, Apakah kau tlah menyentuh jiwaku
Ya kau melakukannya
Semenjak berjumpa denganmu aku tak sama lagi, Kau memberi nyawa pada segala yang kulakukan
Sekedar caramu menyapaku, Dengan satu sentuhan tak bisa kulupakan
Tak pernah kukira akan jatuh cinta padamu
Aku membekap mulutku tidak percaya dengan semua yang aku dengar, rasa haru melingkupi sekujur tubuhku membuat semuanya terasa kaku, tanpa kusadari buliran-buliran bening jatuh mengalir di kedua pipiku. Hatiku benar-benar tersentuh mendengar lirik-lirik melodi yang ia nyanyikan. Apalagi suara Kyuhyun terasa begitu indah menyapa siapapun yang mendengarnya.
Because of you my life has changed, Thank you for the love and the joy you bring
Because of you I feel no shame, I’ll tell the world just because of you
You captured something inside of me, You make all of my dreams come true
I Love You best explains how I feel for you.
Karenamu hidupku berubah, Terima kasih atas cinta dan kegembiraan yang kau bawa
Karenamu aku tak merasa malu, Kan kukatakan pada dunia semua itu karenamu
Kau mengambil sesuatu dalam diriku, Kau membuat semua mimpiku menjadi nyata
Kalimat ‘aku mencintaimu’ sungguh mewakili perasaanku padamu.
Kehidupan seperti apa yang ia miliki dulu, Ya! Tuhan, benarkah aku memiliki penguruh besar padanya. Sunggu sampai detik inipun aku merasa belum melakukan apapun untuk membuatnya bahagia, mengapa ia begitu berlebihan?. Tanpa kusadari pipiku merona akibat sorakan para tamu undangan yang menggoda kami. Namun Kyuhyun tidak mau berhenti ia tetap melanjutkan lirik-lirik melodi selanjutnya.
The magic in your eyes, True love I can’t deny
When you hold me, I just lose control
I want you to know, That I’m never letting go
You mean so much to me, I want the world to see
It’s Because Of You
Sihir di matamu, Cinta sejati yang tak bisa kupungkiri
Saat kau mendekapku, Aku hilang kendali
Kuingin kau tahu, Bahwa aku takkan pernah melepaskanmu
Kau sangat berarti bagiku, Kuingin seluruh dunia tahu
Semua ini karenamu
~ Because Of You ‘Keith Martin’~
***
 Kyuhyun Side
Pesta baru saja usai beberapa menit yang lalu, malam ini merupakan puncak dari kebahagiaanku dan aku yakin di hari-hari berikutnya akan lebih banyak lagi kebahagiaan yang menanti kami. aku dan Hyo Reen menginap di sebuah resort pribadiku yang tidak jauh dari bibir pantai. Begitu pula para undangan yang lain. Mereka semua menginap di salah satu hotel milikku yang berjarak beberapa meter saja dari resort ini. Baru akan kembali ke Seoul besok pagi, mengingat hari sudah semakin larut.
“Apa kau menyukainya?” melempar sembarang arah jas yang kupakai, menyisakan kemeja yang melekat di tubuhku serta menggulung lengannya hingga siku kemudian melepaskan kedua kancing teratas. Ahh! Aku mendesah lega karena leherku sudah terbebebas, merasa tidak tercekik lagi. Ikut bergabung dengan Hyo Reen, menghempaskan tubuhku pada sandaran sofa, duduk disamping istriku.
Cho Hyo Reen. Kini dia telah resmi menjadi milikku, dan aku bisa melakukan apapun padanya sesuka hatiku. Sudut bibirku terangkat sebelah membayangkan Hyo Reen yang mendesah nikmat dibawah kuasaku. Holy shit! hanya membayangkannya saja sudah membuat selangkanganku mengeras. Singkirkan pikiran mesummu itu Cho Kyuhyun. Aku menggeleng kuat Tch! Tapi sayangnya tidak bisa.
“Bagian mana yang kau maksud?” , Hyo Reen menatapku lekat. Tidak mengerti dengan apa yang kumaksud. Aish! gadis ini benar-benar membuatku gemas. Haruskah aku bertanya panjang lebar padanya.
“Pesta yang kubuat.”
“Lagu yang ku nyanyikan.”
“Haruskah aku menyebutkan semuanya satu-persatu padamu?” aku menunggu cukup lama sebelum ia mulai membuka suaranya. Apa yang sebenarnya ia pikirkan.
“Kau tahu, aku tidak memiliki satu katapun untuk mengungkapkan apa yang ku rasakan saat ini.”
“Baiklah, mungkin kau terlalu bahagia.” Jawabku sekenanya, aku tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Hyo Reen sepertinya sangat sulit mengungkapakan apa yang ia rasakan. Tampak acuh, Hyo Reen hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘o’ menanggapi ucapanku. Aku memutar otakku keras, berusaha mencari obrolan yang cukup menyenangkan agar bisa berbicara lebih lama lagi dengan Hyo Reen.
Memang seperti inilah saat kami hanya berdua saja, hawa canggung selalu melingkupi atmosfir diantara kami meskipun aku sudah berusaha berbicara banyak padanya. Mungkin karena kami memang baru saja saling mengenal, meskipun kenyataannya aku dan Hyo Reen sudah resmi menjadi suami istri. Karena ini merupakan malam pertama kami maka aku putuskan untuk selalu mengodanya. Bersiaplah Cho Hyo Reen.
“Sampai kapan kau akan duduk disini menggunakan gaun itu, apa kau ingin terlihat seperti pengantin baru di drama-drama romantis yang menunggu sang pria membukakan gaun itu untukmu dengan alasan kau tidak bisa melakukannya sendiri?”. pipi Hyo Reen merona seketika mendengar penuturan konyol dari mulutku. Demi apapun aku tidak akan menolak jika disuruh menanggalakan semua kain yang melekat pada tubuhnya. Tapi tunggu dulu, rona seperti ini terlihat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Apa mungkin…. ?
“Ya! Cho Kyuhyun, Jika aku bisa menaggalkannya, sudah kulakukan sejak tadi.” Hyo Reen mendengus seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Mengabaikanku yang saat ini tengah menikmati wajah kesalnya karena satu langkah sudah berhasil menggodanya.
Aku terkikik geli sekaligus merasa gemas menikmati pemandangan bibir mengerucutnya. Bolehkah aku mengecupnya saat ini juga?
“Ikutlah denganku lebih dulu.” Aku menarik lengan Hyo Reen. Tapi tak seinci pun gadis itu menggeser pantatnya dari sofa. Aku sudah tidak sabar tentu saja. tanpa peringatan kuletakkan lenganku di bawah punggung serta lututnya, membopongnya ala bridal style. Aish! gaun lebar ini benar-benar merepotkanku. Aku harus berjalan berhati-hati saat menaiki tangga agar tidak menginjak juntaian gaun Hyo Reen yang terseret di lantai. Gadis ini sedikit memberontak dalam dekapanku, merasa tidak nyaman mungkin. “Turunkan aku Cho, aku bisa berjalan sendiri.”
“Kau akan kesulitan menaiki tangga dengan gaun selebar ini, diam saja dan turuti aku.” Seketika itu juga Hyo Reen diam tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun hingga langkahku berhasil menginjak anak tangga terakhir dan kini kami berdua sudah berada di lantai dua dan berdiri di depan pintu sebuah kamar satu-satunya yang ada di lantai ini.
“Aku akan menunjukkan sesuatu padamu.”
***
 Hyo Reen Side
Apa yang ingin ia tunjukkan, aku penasaran dengan sesuatu yang ada dibalik pintu ini?, pria ini selalu pintar membuatku terpana dengan semuanya, kejutan-kejutan yang ia berikan hampir delapan puluh persen tidak pernah terfikirkan dalam otakku. Tapi untuk kali ini sepeertinya aku bisa menebaknya. Mungkinkah ia akan menunjukkan kamar pengantin kami. Ya! Tuhan, hampir saja aku melupakan fakta bahwa ini adalah malam pertama kami. Aku merasakan tubuhku memanas seketika di ikuti dengan pipiku yang pasti sudah merona saat ini. sejak kapan Park Hyo Reen punya pikiran semesum ini?
“Jika kau ingin melihatnya bukalah lebih dulu.”  tanganku terulur menyentuh gagang pintu. Perlahan aku membukanya. Sedikit mengintip kedalam sebelum pintu sialan di depanku ini terbuka lebar sepenuhnya. Dan persis sepert dugaanku. Ini memang kamar pengantin kami.
Tapi semua yang ada di dalamnya sangat jauh berbeda dengan apa yang di dalam fikiranku. Kamar ini terlihat begitu indah , warna putih kembali mendominasi berpadu dengan warna merah cerah kelopak bunga mawar yang bertebaran di atas ranjang king size. Melihat pemandangan indah ini membuatku tiddak rela untuk menidurinya. Bolehkah pengantin baru tidur di atas sofa saja, karena tidak tega merusak kamar pengantinnya. Tch! Sungguh pertanyaan konyol?
“Apa kau menyukainya?” sekali lagi aku mendengar pertanyaan serupa dari bibir Kyuhyun. aku mendecak kesal. Harus berapa kali ia menanyaakan hal itu?. seorang presdir dari perusahaan ternama apakah tidak bisa menganalisanya sendiri. Sudah pasti wanita manapun akan terkagum-kagum mendapati perlakuan istimewa darinya seperti ini, apalagi aku yang notabene gadis biasa, bagaikan mimpi bisa menikmati semua keindahan ini. Bohong besar jika aku mengatakan tidak menyukai apa yang telah ia lakukan. Jantungku serasa ingin meledak akibat perasaan bahagia yang membncah dalam diriku hingga aku tidak mampu menyuarakan apapun isi hatiku sebenarnya. Benar-benar memusingkan.
“Jika aku berkata iya, apakah kau bersedia melepaskan resleting gaunku?”
“Apa kau sengaja ingin menggodaku?”
“Aku tidak sedang menggodamu tuan cho.”
“Apa kau akan tahu akibatnya jika aku melihat punggung mulusmu itu.”
“Tentu saja, karena aku tidak punya pilihan.” Selalu seperti ini. dan sialnya ia dua kali lipat lebih semangat untuk menggodaku.
“Apa ini sebuah persetujuan?”
“Jika aku mengatakan tidak setuju apa kau akan berhenti.”
“Tentu saja tidak, apa kau menyadari sejak di altar tadi aku sudah ingin memiliku seutuhnya.” Dengan satu dorongan ringan, Kyuhyun berhasil menghempaskan tubuhku ke atas kasur dengan posisi menelungkup. Semerbak aroma bunga mawar menyapa indera penciumanku. Terasa begitu menenangkan.
“Bersiaplah karna aku akan membukanya secara perlahan.” suaranya terdengar begitu serak seperti ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya. Ya! Tuhann haruskah malam ini kami benar-benar melakukannya. Bukankah masih ada hari esok. Saat ini saja tulang-tulangku serasa dilolosi, apalagi nanti saat ia…..
Sial! Andai saja aku bisa membuka sendiri gaun sialan ini pasti Cho Kyuhyun tidak akan bisa memanfaatkan situasi. “Lakukan dengan cepat Cho, aku ingin mandi. ” Kyuhyun benar-benar sialan. Resleting ini terasa begitu panjang hingga puluhan meter karena jemari Kyuhyun yang bermain di atasnya tidak mau berhenti. Telapak tangannya begitu hangat menyentuh punggungku.
“Kita mandi bersama besok pagi saja sayang, heumm.” Tamatlah sudah tidak ada alasan lain untukku menolaknya malam ini. siapapun disana bisakah kalian menolongku agar bisa terlepas dari jeratan pria mesum ini?.
Kurasakan sesuatu yang lembut dan basah, menari-nari di atas punggungku yang entah sejak kapan sudah terekspos sepenuhnya. Bagian atas gaunku sudah mengumpul di pinggang akibat tarikan nakal Kyuhyun. sial ! bibirnya saja sudah membuatku melayang. Apa yang harus kulakukan.
Kyuhyun membalikkan posisi tubuhku menjadi terlentang di bawahnya. “Kau sangat indah,” Suaranya semakin terdengar serak. Holy shit! posisi seperti ini membuatku sangat malu. Setengah naked di depan seorang pria untuk yang pertama kali. Apa yang harus kulakukan untuk menyembunyikan rona merah ini. Meneggelamkannya di lautan ataukah menjatuhkan diri dijurang. Ahh! Tidak mungkin, itu semua terlalu ekstrim
“Bolehkan aku merobek saja gaun sialan ini?”
“Jika kau melakukannya, aku tidak akan mengizinkanmu merobek sesuatu yang ada di balik gaun ini.” yang benar saja, merobek gaun seindah ini tidak akan pernah ku izinkan. Bagaimanapun juga aku sangat menyukainya karena ini adalah pemberian darinya. Tapi kanapa malah Kyuhyun sendiri yang tidak menghargainya. Park Hyo Reen kau melupakan fakta bahwa lelaki di atasmu ini memiliki banyak uanag yang bisa membelikannmu ratusan gaun serupa, seperti yang kau inginkan.
Kedua alisnya saling bertaut. Kyuhyun masih diam dengan posisi sebelumnya, menindih tubuhku dengan satu tangan yang ia tumpukan di samping kepalaku. Aku terkikik geli melihat ekspresi bingungnya. Sedangkan tangannya yang lain terulur seperti ingin menyentuh belahan dadaku. Tapi mengapa ia terlihat ragu?
“Apa kau keberatan jika aku melanjutkannya, cepat katakan sebelum aku lepas kendali.” Kyuhyun terlihat frustasi. Ya! Tuhan apakah ia salah mengartikan perkataanku tadi. Sesuai dengan janjiku untuk menjadi istri yang baik tentu saja aku tidak akan pernah menolak keinginannya.
“Aku tidak akan pernah keberatan jika kau melakukannya dengan pelan Cho.”
“Baiklah kalau itu maumu, malam pertama ini kita akan berlari santai saja.”
“Heeiish kau fikir ini perlombaan lari?”
“Mungkin bisa dibilang seperti itu, aku akan membuatmu merasakan sensasi puas dan begitu melelahkan.” Tch! Pria ini benar-benar.
“Kau sungguh tidak adil.” Aku mendelik ke arahnya.
“Apanya, bukankah aku akan membuatmu puas?”
“Lihat sendiri tubuhmu.” Aku membuang muka ke arah lain, dengan kedua tangan saling menyilang di depan dadaku. Berusaha menyembunyikan milikku yang sama sekali tidak berhasil kututupi. Aku yang setengah naked seperti ini dan dia masih berpakain lengkap. Tidak bisa di biarkan. Dari ekor mataku aku bisa menangkap senyuman penuh arti dari Cho Kyuhyun.
“Apa kau ingin melakukannya untukku atau aku yang melepasnya sendiri.” Pertanyaan konyol, tentu saja aku malu meskipun hanya untuk mengatakan dua huruf seperti kata ‘ya’. aku masih diam, tetap membuang muka ke arah samping, berpura-pura mengacuhkannya.
“Baiklah jika kau tidak mau aku akan melakukannya sendiri.”
Kyuhyun segera turun dari ranjang, menaggalkan segala apapun yang melekat pada tubuhnya. Tidak sampai satu menit ia sudah kembali akan merangkak di atas tubuhku. setelah berhasil meloloskan gaun sialan ini beserta celena dalamku sekaligus. gerakannya begitu cepat membuat kepalaku pening.
“Aku suka ini.” Kyuhyun menyentuhkan telunjuknya pada bibirku, kemudian mengecupnya ringan. Hanya sebuah kecupan, tidak ada lumatan setelahnya. Tapi semua itu justru membuatku semakin bergairah. Dan menginginkan lebih.
Dan apalagi ini…?, Kurasakan oksigen disekitarku semakin menipis akibat ulahnya. bukti gairah Kyuhyun dibawah sana sedang bermain-main di atas permukaan kewanitaanku. Aku tidak bisa membalas perlakuannya karena tubuhku benar-benar terkunci di bawah kuasanya. Tubuh kami saling menempel tanpa penghalang apapun. Sengatan-sengatan listrik statis itu mulai kurasakan saat Kyuhyun kembali menggerakkan miliknya di bawah sana. membuatku tidak tahan. “Ouucchh.” Desahan sialan itupun lolos dengan sempurna dari sela bibirku. Bukti gairah cintaku telah meluber membasahi milik Kyuhyun dan selangkanganku. Seiring dengan rasa nikmat yang kurasakan.
“Aku suka mendengar desahanmu sayang, mendesah lagi dan sebut namaku”
Satu kecupan lagi kudapatkan dileherku, Kyuhyun mendiamkan bibirnya cukup lama di sana, memberikan tanda kepemilikannya.
“Cho…!”
“Ada apa sayang.”
“Apa kau tidak ingin masuk?” persetan dengan urat malu, aku sudah memotongnya saat Kyuhyun berhasil menelanjangiku. Pria ini begitu pintar menggoda, membuat tubuhku bergejolak layaknya air bah yang siap menerjang kapan saja.
Kedua sudut bibir Kyuhyun tertarik ke atas membentuk senyuman menawan. Astaga! paru-paruku semakin sesak jika terus menerus disuguhi pemandangan seindah ini.
“Aku ingin melakukannya pelan-pelan sayang, sesuai dengan keinginanmu.” Satu kecupan lagi mendarat di keningku. Kuraskan hembusan nafas Kyuhyun terasa begitu hangat di permukaan kulitku. Membuatku merasa nyaman dan benar-benar di sayangi. Cho Kyuhyun kau membuatku gila.
“Kalau begitu sekarang cepat masuki aku.”
“Kau yakin, kurasa kita belum cukup banyak melakukan foreplay.”
“Cepat masuk atau aku akan berubah pikiran.” Astaga! ada apa dengan bibir ini, semua kinerja tubuhku seolah menghianati fikiranku. Kenapa aku jadi se-agresif ini?, entahlah! Otakku memnag sedang tidak sejalan denga tubuhku untuk saat ini. yang aku tahu hanyalah tubuhku saat ini merasa penasaran seperti apa sensasi saat milik Kyuhyun masuk kedalam kewanitaanku.
“Ya! Tuhann, kau membuatku tercengang Reen-ah, baikalah dengan senang hati aku akan mengabulkan keinginanmu.”
“Ini akan terasa sedikit sakit, tapi aku akan melakukannya dengan lembut.” Kupejamkan kelopak mataku sebagai tanda persetujuan untuknya.
“Sepertinya kau sudah cukup basah sayang.”
Kurasakan milik Kyuhyun di bawah sana perlahan-lahan mulai memasuki milikku, sedikit demi sedikit membuka lipatan-lipatan tubuhku yang masih tertutup rapat belum terjamah oleh siapapun. Kyuhyun lah orang pertama hingga akhir yang akan menyentuhku. Aku yakin itu.
Otot-otot kewanitaanku saling berkedut seolah ingin menutup kembali saat benda tumpul milik Kyuhyun ingin memasukinya lebih dalam. Terasa perih memang, tapi aku akan tetap bertahan demi Cho Kyuhyun, rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang telah ia berikan padaku.
“Uhhh! Kau sangat sempit Reen-ah.”
Melingkarkan lenganku pada punggunya semakin menempelkan tubuh bagian atas kami. Begitu pula dengan kakiku yang ikut melingkar di pinggangnya, membuat milik Kyuhyun masuk lebih dalam pada tubuhku. Tubuh kami saling menempel begitu pula dengan peluh yang sudah melebur menjadi satu. “Ahhh!! Kau membuatku gila sayang, baiklah tinggal sedikit lagi, ini yang terakhir kali.”   Kyuhyun menyentakkan miliknya kuat, tubuhku ikut berjengit akibat rasa perih yang mendera di selangkanganku.
“Apa sangat sakit?” nada khawatir begitu terdengar jelas dari suara Kyuhyun. Aku tersenyum menanggapinya. Pria ini begitu penyayang. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kami.
“Sakit sekaligus lega.” Jawabku jujur. Lega karena sesuatu yang berharga milikku telah berhasil didapatkan oleh suamiku sendiri.
“Aku akan diam, sampai rasa sakitmu mereda.” Kyuhyun mendaratkan bibirnya pada dahi, kemudian di kedua mataku. Semakin kebawah mencapai hidung dan berakhir pada bibirku. Kali ini ciuman yang ia berikan sangat berbeda dari sebelumnya, Kyuhyun melumat bibirku, menghisapnya kuat atas dan bawah secara bergantian, ciuman kami semakin memanas saat aku membalas lumatanya dan sedikit memberikan celah pada lidahnya agar bisa mengeksplorasi ke dalam mulutku.
Sesaat kemudian ia melepaskan pagutanya. Aku terengah-engah, nafasku putus-putus akibat minimnya pasukan udara yang masuk ke dalam paru-paru ku. Ciuman Kyuhyun benar-benar memabukkan, bohong jika aku mengatakan tidak menyukainya. ”Ma’af aku tidak bisa menahan untuk tidak melumat bibirmu.” Ia malah meminta ma’af disaat aku menikmati semua perkuannya.
Tubuh kami masih saling menempel, tapi tidak ada suara apapun di sekitar kami. Aku merasa bersalah karena telah membuat Kyuhyun menahan keras gairahnya. Apa yang harus ku lakukan?, pertanyaan serupa selalu terngiang di kepalaku.
“Bergeraklah Cho, sesuka hatimu.” Sedikit menggerakkan pinggulku, mencoba menggodanya.
“Benarkah, apa nanti tidak menyakitimu?” menggelengkan kepala. Berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. “Aku sudah tidak merasa sakit.”
“Baiklah, katakan padaku jika nanti kau merasakan sakit, arra!.” Mengecup bibirnya sebagai tanda aku menyetujui perintahnya.
Kyuhyun mulai bergerak, menarik miliknya perlahan kemudian menghujamkannya lagi ke dalam milikku, seperti itu terus dengan tempo yang berbeda-beda. Jemari-jemari nakalnya berlarian pada permukaaan tubuhku yang bisa ia jangkau dimana aja. Namun lebih sering ia menghinggapkan ibu jari dan telunjuknya pada nipple ku, salah satunya membuat gerakan memelintir. Sedangkan mulut sialannya tidak berhenti menggoda nipple ku yang lain. Membuatku semakin dihempaskan di awang-awang.
Jemariku sendiri meremas kain seprai yang berada di sisi tubuhku, tidak kuat merasakan siksaan kenikmatan yang Kyuhyun berikan. Aku mereasakan sesuatu akan meledak dari dalam tubuhku. tapi aku menahannya, tidak ingin puncak kenimatan itu ssegera berakhir. Aku masih ingin merasakan milik kyuhyun di dalam tubuhku lebih lama lagi. Menggigit bibir bawaku berusaha keras meredam gairahku yang akan meledak sebentar lagi
Tanganku terulur berusaha membingkai wajahnya, mendongakkan wajahnya agar menatap padaku.
“Ada yang ingin kutanyakan, Ouuch!” gerakan Kyuhyun tidak berhenti dibawah sana.
“Apa sayang?” Kyuhyun kembali mengecup bibirku sekilas. Namun gerakannya di bawah sana tetap teratur. Sepertinya dalam waktu dekat ini, dia belum akan mencapai klimaknya.
“Mengapa kau memilih hari ini untuk pernikahan kita. Ouuch !” Desahanku kembali lolos  akibat Kyuhyun tidak mau berhenti mengerjai tubuhku.
“Karena tanggal 11 …….. Arghh!”.  Kyuhyun menggantungkan kalimatnya. Sibuk dengan erangannya sendiri.
“Apa?” tanyaku cepat.
“Aku akan sampai sayang, tunggulah sebentar.” Kyuhyun menggerakkan miliknya semakin cepat, akupun pasrah dan ikut mengimbangi gerakannya. Gairah tertahan itupun kembali muncul di permukaan saat Kyuhyun menyentakkan begitu kuat miliknya di dalam tubuhku. Astaga! ini benar-benar nikmat.
.
.
.
“Arggg!, Shhh, Reen-ah.” Kyuhyun mengerang keras seiring pelepasan itu terjadi. Sedetik kemudian aku pun merasakan hal yang sama, ikut menyusul Kyuhyun. Puncak kenikmatan itu berhasil kuraih. Milikku berkedut kuat akibat tubuh Kyuhyun yang tertanam di dalam tubuhku terasa semakin mengeraa saat ia mengosongkan tubuhnya, menanamkan seluruh benihnya untukku. Milikku terasa begitu hangat merasakan bukti gairah cintanya memenuhi milikku, perutku serasa digelitiki saat sel sel sperma Kyuhyun berlarian menuju ke rahimku. Jadi seperti inilah rasanya. Sungguh begitu nikamat tidak ada satupun kata yang mampu nutuk mendiskripsikan ini semua.
Kyuhyun berbaring menyamping seraya mendekap tubuhku. sedangkan kontak kami masih tetap menyatu di bawah sana. “Apa kau lelah?” aku mengangguk seraya memejamkan mata. Ini pertama kali bagiku, tentu saja aku tidak menyangka jika efeknya sehebat ini. Mengantuk setelah bercinta. Apakah semua orang merasakannya?
“Tidurlah, aku akan menjawab pertanyaanmu besok.” Itulah kata terakhir yang aku dengar sebelum kesadaranku benar-benar menghilang. Kemudian terlelap kedalam mimpi yang indah.
***
Tidur dengan posisi yang sama sepanjang malam, tidak membuatku merasa kram sama sekali, akibat milikku yang masih tertanam sempurna di dalam tubuh Hyo Reen, begitu hangat kurasakan. Kulirik jam weker yang berada di atas nakas jarum jam tepat menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Ini sudah hampir tengah hari tapi Hyo Reen masih tetap bergelung dalam dekapanku. Aku terkekeh kecil saat mengingat bagaimana moment percintaan kami semalam, yach! Aku harus menahan mati-matian gairah terpendamku agar tidak menyakiti Hyo Reen, tapi entah mengapa saat dipuncak kenikmatan, semua itu terasa lebih puas.
Sampai kapan wanita ini akn tertidur. Lensa mataku tidak pernah lepas dari wajahnya. Saat tidur seperti ia terlihat begitu manis. Semakin mengeratkan dekapanku pada tubuhnya. Sialnya! apa yang kulakukan justru membuat Hyo Reen menggeliatkan tubuhnya. Dan sesuatu di bawah sana tentu ikut bergerak. Berakibat fatal pada milikku dibawah sana yang terasa kembali menegang. Haruskah lagi?
Kelopak mata Hyo Reen mengerjab-ngerjab perlahan, mecoba menyesuaikan pencahayaan yang semakin terang akibat sinar mentari telah meninggi di atas sana. masuk dari sela-sela ventilasi kamar ini.
“Jam berapa sekarang?” suaranya masih terdengar serak tapi sexy dan aku menyukainya.
“Hampir jam dua belas.” Jawabku jujur. Memang iya kan.
“APA!!!” dengan terpaksa aku harus menutup telinga mendengar teriakannya. Hyo Reen membangkitkan tubuhnya secara tiba-tiba membuat kontak tubuh kami terlepas begitu saja. Aku mendesah saat merasakan kehilangan. Milikku sudah tidak terasa hangat lagi.
“Ya! Tuhan , kenapa kau tidak membangunkanku?” Hyo Reen mendelik ke arahku. Aku hanya mengendikkan bahu tidak peduli. “Wajar saja jika pengantin baru bangun kesiangan.”
“Lalu bagaimana dengan…..?” Hyo Reen mengantungkan kalimatnya. Tapi aku mengerti apa yang ia maksud.
“Kurasa meraka semua sudah kembali ke Seoul sejak tadi pagi.”
“Astaga! aku tidak pernah bangun sesiang ini.”
Hyo Reen melompat turun dari tempat tidur seraya menarik selimut tipis dan membungkus tubuhnya, tapi ia masih diam, hanya berdiri. Tidak beranjak sedikitpun dari posisinya saat ini.
“Ada apa?” tanyaku polos. Tentu saja aku tahu apa yang istriku ini rasakan.
“Kaulah penyebabnya dan masih bertanya tuan Cho.”
Aku terkekeh geli. “Baiklah, aku akan menggedongmu hingga kamar mandi, dan sebagai imbalannya kita akan mandi bersama.”
Hyo Reen membulatkan matanya. Namun tetep melingkarkan lengannya pada leherku. Akupun mengambil kesempatan mencuri morning kiss darinya. Meskipun sebenarnya ciuman ini tidak bisa diartikan demikian mengingat matahari sudah meninggi.
Aku menuruni anak tangga menuju ke kamar mandi yang ada di bawah, langkahku begitu perlahan-lahan agar moment ini tidak segera berakhir. Yach! Aku menyukai memandang wajah Hyo Reen dengan posisi seperti ini, karena aku bisa leluasa menatap kedalam matanya.
Aku menurunkan tubuh Hyo Reen pada jacuzzy yang di penuhi kelopak mawar dengan aromatherapi lilac yang aku tahu dari aroma parfum Hyo reen yang sering dipakainya. Pasti dia menyukai aroma tersebut. Akupun ikut masuk ke dalamnya dan ikut berendam bersama Hyo Reen.
“Bagaimana kau menyiapkan semua ini?”
“Itu tidak penting.” Jawabku asal. padahal kemarin aku sengaja menyuruh pegawai restroom untuk menyiapkan ini semua untuk pagi ini, aku bersyukur air dalam jacuzzy ini masih hangat. Mengingat kami berdua bangu terlalu siang.
“Kalau seperti ini aku tidak akan mandi dan hanya menatap ke arah luar saja memandangi keindahan laut. Apa tidak ada orang yang akan lewat di sana.” Telunjuk Hyo Reen menempel pada dinding kaca di depan kami, tapi apa yang ia maksud adalah sesuatu yang jauh diluar sana.
“Tidak akan, karena aku sudah menyewa tempat ini.”
“Berapa uangmu tuan Cho, aku akan ikut membayarnya.”
“Kau tidak usah berfikir sejauh itu, kau cukup membayarnya dengan ciuman”
“Kau menyebalkan, selalu melakukan apapun sesuka hatimu, dan lagi hilangkan fikiran mesumu itu”
“Tapi kau menyukainya bukan.”
“Bodohnya, memang iya.”
“Kau terlalu jujur.”
Aku menarik tubuh Hyo Reen, sebelum ia melayangkan protesnya padaku. mendudukkannya di pangkuanku, kemudian mendekap tubuhnya dari belakang. “Apa kau masih ingin tahu jawaban semalam.” Aku berbisik di samping telinganya.
Hyo Reen mengerutkan keningnya seolah sedang berfikir keras mengingat sesuatu. Setelah itu ia mengangggukkan kepalanya. Samar-samar Aku dapat meihat bayangan ekspresi penasarannya pada cermin yang berada di depan kami.
“Karena 11 adalah tanggal spesial saat kau pertama kali menghirup udara di dunia ini, dan begitu pula Februari merupakan bulan saat aku dilahirkan, kau ingat saat pertemuan kita dan aku langsung melamarmu hari itu juga?” Hyo Reen hanya mengangguk sekilas.
3 Februari dan 11 Maret , tanggal 3 saat aku melamarmu, tanggal 11 saat kita menikah. Apa kau tidak merasa tanggal lahirku dan bulan lahirmu menunjukan arti yang sma?”
“Aku tidak mengerti.”
“Ya! Tuhan, baiklah aku akan menjelaskannya, dengarkan baik-baik.”
“Februari dan 11, bukankah ada indikasi kesamaan diantaara keduanya, Februari menunjukkan angka 2 sedangkan 11 jika disandingkan akan mengartikan bilangan 2 juga.”
“ Sedangkan 3 dan maret, bukankah itu juga sama?”
“Itu artinya kita memang ditakdirkan untuk bersanding bersama anak-anak kita kelak.”
“Astaga! kau bisa berfikir sejauh itu?”
“Aku ini pintar, tentu saja bisa.”
“Tapi tunggu dulu, 11 = 2 menjadi 3, menurutku ini teori matematika yang sungguh aneh, tapi aku mengerti maksud di dalamnya, eummm bukankah itu berarti kita hanya memiliki satu anak, aish! aku tidak setuju.”
“Aku juga, sepertinya lebih baik kita memilih tanggal lahirmu saja untuk menentukan jumlah anak kita,”
“Yang benar saja, aku tidak mau, bagaimana nanti cara mngeluarkan mereka semua. Lebih baik bulan lahirmu saja. 2 anak sudah cukup bagiku.”
“Apa kau yakin”
“Tentu.”
“Kalau begitu bolehkah aku membuatnya lagi sekarang?”
“Yak! Cho Kyuhyun kau sudah membuatku lemas semalaman.”
“Tapi kau akan merasa segar jika melakukannya disini, ayolaahh!”

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: