VENUS

0
venus ff shinwa
Cast : Eric Moon Shinhwa
Lee Min Woo Shinhwa
Jung Yu Mi (aktris)
Author: Nae Iyagi
Cover: GKY
Venus MV: https://m.youtube.com/watch?v=1qWVQMbmk2U
Laki – laki itu berasal dari Mars dan perempuan berasal dari Venus.
Semua orang tahu kalau pria dan wanita itu berbeda. Yang kita tahu, pria berpikir dan bertindak secara rasional, sedangkan wanita bertindak dan berpikir secara emosional.
*****ni*****

Ini ketiga kalinya Eric Moon, dosen mata kuliah wajib Jurnalistik Online memergoki gadis berwajah polos dengan rambut di ikat asal di
puncak kepalanya terlambat dan menendap-endap masuk melalui pintu belakang duduk di barisan belakang datang di kelasnya.
“Eheem….” Dehemnya sekilas menghentikan suara huskynya yang terpotong saat menerangkan topik
mata kuliah untuk menarik perhatian gadis yang baru datang di barisan belakang tadi.
Gadis itu tetap acuh, dengan santai dan tenang gadis itu duduk di bangku yang telah di pilihnya lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping setelah melepas tas selempang dan meletakan di atas meja.
Eric Moon, dosen berusia di pertengahan tiga puluh dengan berwajah tampan dan finansial
mapan. Tak heran bila kelasnya selalu penuh dengan siswi – siswi yang berharap di liriknya, bahkan banyak pula siswanya yang datang di kelas hanya untuk meniru gaya dan style sang dosen.
Hening sejenak, Eric melayangkan pandangan kembali ke arah gadis itu.
Dan benar saja… Gadis berkemeja putih khaki itu sudah tertidur di jam pelajarannya.
“Ckck..datang terlambat lalu tertidur.” Gumamnya.
Eric berjalan ke arah meja proyektor dan menayangkan beberapa slide sebelum akhirnya menyimpulkan topik hari itu.
Di ketuk-ketukan ujung bolpoint di tangan untuk menutupi kegeraman dirinya. Luar biasa…baru kali ini seorang gadis acuh terhadapnya.
Belum lagi usai kalimat terakhirnya bel sudah berbunyi. Seperti ribuan dengung lebah siswa dan siswinya berkemas untuk keluar kelas melanjutkan kegiatan mereka.
Sontak Eric mengalihkan pandanganya ke arah belakang, dan tepat seperti dugaanya gadis itu telah menghilang.
*****ni*****
Sepuluh menit telah berlalu dari jadwal Eric mengajar. Dia sengaja mengulur waktu untuk menjebak gadis yang akhirnya di ketahui bernama Jung
Yumi.
“Y..U..M..I..Jung Yumi..” Batin Eric. 
“Rasanya nama itu cukup familiar…tapi…tapi di mana aku…”
BRUUUKK.
Sosok yang tengah ada dalam pikirannya tanpa sengaja tertabrak.
“Ya..! Agashi kau terlambat lagi.” Tegur Eric sesaat setelah gadis itu, Jung Yumi berdiri tegak seraya merapihkan bawaannya.
Jung Yumi mengangguk cepat, berlalu meninggalkan Eric yang terpaku.
“Yaa…Yaa…selesai pelajaran temui aku di kantor!” Perintah Eric cepat sebelum Yumi menghilang di balik pintu.
****** ni*****
Yumi berjalan cepat di koridor yang berjajar ruang dosen. Di telusuri dengan matanya nama-nama yang
tertera di pintu sebelum akhinya berhenti tepat di bawah nama ERIC MOON.
Di ketuknya perlahan pintu di hadapannya. Tak ada jawaban.
Sekali lagi di ketuknya. Perlahan di dorong pintu di hadapanya.
Di julurkan kepalanya melihat ke dalam ruangan itu.
Sepi.
Dilirik jam digital di layar ponselnya.
“Ah..perduli setan.” Gumamnya. “Bukankah di menyuruhku datang?
Yumi mendorong daun pintu di hadapanya dan memutusan untuk masuk.
Menunggu.
Ya…menunggu…itu yang di lakukan Yumi saat ini.
“Paboya..” Gerutu Yumi sambil berjalan menuju sofa di depan meja kerja Eric.
Lima menit berlalu.
Duduk di sofa empuk dengan udara sejuk membuat kantuk menyerangnya.
Di selonjorkan kaki dan di senderkan tubuh langsingnya pada sandaran sofa yang membuat gadis itu terlelap tak lama kemudian.
Sementara itu setengah berlari Eric menuju ruanganya. Teringat akan permintaanya pada Yumi untuk datang ke kantornya.
Eric mendorong pintu ruangannya, sampai langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di hadapannya.
Seorang gadis tertidur di sofanya.
Di garuk tengkuk dan kepalanya yang mendadak gatal.
“Tsk…mwoya?”
Di seret langkah kakinya perlahan menuju meja kerjanya.
Hampir sepuluh menit berlalu.
Gadis itu menggeliatkan badannya sejenak. Dipicingkan matanya menyesuaikan dengan cahaya ruangan yang terlihat asing. Sedetik kemudian tubuhnya terlonjak saat memori otaknya sadar dimana dirinya berada.
Di benahi sweater biru muda yang menutupi skinny jeans yang di kenakan.
Samar rona merah muda menjalar di pipinya saat di sadari sepasang mata menatapnya dengan pandangan aneh.
“A~anyeonghaseyo..” Sapa Yumi lirih.
“Heem…tidurmu nyenyak?” Suara serak-parau dari hadapannya menjawab.
“Juseonghamnida.”
Eric bangkit dari mejanya, berjalan memutar menuju salah satu sofa di hadapan Yumi dan menghempaskan tubuhnya dengan nyaman.
“Eothokhae?” Batin Eric “apa yang harus ku lakukan pada mahluk menggemaskan ini?”
Tanpa sadar Eric menarik nafas panjang.
“A~a~anda menyuruhku datang? Terbata suara Yumi terdengar di telinga Eric.
“Hmm…Ne…kau…kau satu-satunya siswi yang datang terlambat lebih dari tiga kali di kelasku.”Jawab Eric sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
“Apa~apakah kau ingin menarik perhatianku?”
“NE???”
“Kau ingin menarik perhatianku..dengan datang terlambat dan tertidur di kelasku.” Jelas Eric lagi.
“Aniya…jika saya tidak mendapat nilai B di kelas anda, kelulusan saya tertunda.. dan..dan saya tertidur karena cara mengajar anda sangat…sangat membosankan.
“MWO??”
***** ni******
Langkah Eric terhenti di ujung lahan parkir kampus saat di lihat mobil sport hitam milik MinWoo salah seorang sahabatnya.
Tak lama kemudian wajah tampan MinWoo keluar dari pintu kemudi.
Hampir saja Eric menghampiri sahabatnya itu, saat terdengar suara wanita berteriak gembira memanggil nama sahabatnya, MinWoo.
“Oppa…MinWoo Oppa…”
MinWoo memutar badannya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
“Kumi-ya…”
Yumi berlari ke pelukan MinWoo dengan wajah berseri. Pelukan hangat yang menyenangkan. Perlahan Yumi melepas pelukannya pada MinWoo dan laki -laki tampan di hadapannya mengacak
ujung poni rambutnya dengan sayang.
“Kau sudah makan siang?” Tanya MinWoo pada yumi.
Yumi menggeleng cepat.
“Aku akan mentraktikmu…Kajja.”
“Oppa…aku belum bisa meninggalkan kampus masih ada yang harus ku kerjakan.” Jelas Yumi.
“Ooh…kau membuatku kecewa.” Rajuk MinWoo.
“Kita minum teh di kampus, nanti malam aku akan menemui…Eothe?” Bujuk Yumi.
MinWoo memamerkan senyum manisnya dan melangkah bersama Yumi ke arah kantin.
Eric memandangi keduanya dengan pandangan bertanya.
“Apa yang di lakukan bajingan itu?” Gerutunya pada MinWoo, “Bagaimana dia bisa bersamanya? Apakah aku kalah langkah lagi?” Eric berjalan dengan geram menuju mobil
MinWoo berada.
Sebagai pelampiasan di tendang bumper dan velg mobil MinWoo hingga bunyi alarm terdengar menjerit di seluruh area parkir.
MinWoo dan Yumi yang belum terlalu jauh berjalan segera bergegas berlari.
“MWOYA..!” Teriak MinWoo saat di dapati Eric berada di sisi mobilnya.
“Kau…kau apa yang kau lakukan di kampusku?” Eric berbalik tanya dengan rasa tidak senang.
“Mwo? kampusmu…kampusmu?” Tanya MinWoo yang telah mencengkeram kerah kemeja Eric.
“Aku juga memiki saham di sini.”
“Oppa…!?” Jeritan Yumi meredakan emosi MinWoo.
Yumi memeluk erat MinWoo dan berusaha menarik tubuh pemuda itu dari Eric.
“Kau…kau berhutang penjelasan padaku!” TunjukNMinWoo pada Eric dan menuruti ajakan Yumi masuk ke dalam mobilnya.
“Gwenchana…nan gwenchana.” MinWoo menenangkan Yumi.
*****ni******
Eric, MinWoo, DongWan, HyeSung, JunJin dan Andi, enam orang namja yang telah bersahabat lebih dari lima belas tahun.
Di sinilah, di cafe and bar Shinhwa milik MinWoo mereka berkumpul.
Tapi berbeda dari malam – malam sebelumnya, saat ini terasa aroma permusuhan antara Eric dan MinWoo.
DongWan yang menyadari ada sesuatu di antara keduanya bertanya.
“Wae…wae geurae hyung?” Eric hanya memutar gelas dan meneguknya
tanpa suara, sementara MinWoo langsung memutar kursinya ke arah berlawanan.
“Oppa…waseo?” Seorang pramusaji menyapa MinWoo.
“Kumi-ya?” MinWoo berdiri menyambut Yumi yang bekerja paruh waktu di cafenya dengan pelukan hangat “Kau telah selesai bekerja?”
“Ajik…sebentar lagi, gidari.”
“Hmm…ani…hari ini aku batalkan janjiku, mian Kumi-ya.” Jelas MinWoo.
“Gwenchana Oppa, aku terusan pekerjaanku.” Pamit Yumi pada MinWoo.
Yumi berlalu dari meja itu.
“Nugunde?? mainan barumu?” Tanya DongWan yang memang bermulut tajam.
“JAGA MULUTMU!” Teriak MinWoo dan Eric bersamaan.
DongWan, JunJin, HyeSung dan Andi saling berpandangan penuh curiga.
“MWOYA?” Keempatnya bertanya penuh harap.
“Ya…kalian tahu, mahluk sialan ini hampir merusak mobilku hari ini.” Kata MinWoo sambil menunjuk ke arah Eric.
Spontan empat pasang mata menoleh ke arah Eric bersamaan.
Eric hanya mengangkat bahu dan mencibir tanpa dosa.
“Kau membuatku kesal.” Sungut Eric sambil mengangkat gelasnya.
“Kesal? kesal??” Tanya MinWoo bingung.
“Hmm…gadis yang bersamamu..” Kalimat Eric tak sempat selesai.
“Kenapa gadis itu?” Potong Minwoo tak sabar.
Empat orang yang lain menjadi penonton dan pendengar drama gratis dari namja yang tidak pernah dewasa saat berkumpul.
“Ada apa dengan Yumi?” Tanya MinWoo lagi.
“Yumi..nugu?” Tanya Junjin penasaran.
“Kalian ingat?” Tanya MinWoo perlahan, “Saat sekolah menengah seorang gadis kecil yang selalu menempel pada uri eomma.”
Kelima orang di sekelilingnya mencoba
mengingat-ingat.
“Gadis kecil putri sahabat orang tuaku.” Lanjut MinWoo, “yang setelah usaha orang tuanya bangkrut, lalu kedua orang tuanya meninggal karena depresi.”
“Karena uri eomma begitu mencintai gadis kecil itu lalu gadis itu tinggal bersama kami.” Lanjut MinWoo.
“Apa hubungannya dengan masalah kalian?” Tanya Andi bingung.
“Gadis kecil yang kalian lihat dulu adalah Yumi, gadis yang baru saja kalian lihat tadi.” Papar MinWoo.
“Gerauseo?”
“Baru beberapa tahun ini aku tau, ternyata orang tuaku telah mengadopsinya.” MinWoo melanjutkan, 
“Dan…dan karena selembar kertas sialan itu, aku~aku kehilangan kesempatan memilikinya.”
“Mwo?” Kelimanya tersentak.
“Kalian lihat…”MinWoo menunjuk ke arah counter cafe di seberang mereka duduk “Laki-laki mana yang tidak jatuh cinta pada wajah cantik sepolos
boneka seperti Yumi.”
“Lalu…bagaimana perasaanmu padanya sekarang?” Parau suara Eric terdengar.
MinWoo memandangi wajah Eric dengan tajam.
“Kau pikir orang tua ku akan senang mendengar aku jatuh cinta pada adik angkatku sendiri?”
Eric membalas tatapan MinWoo.
“A~aku…bertanya perasaanmu?”
“Aissh…tentu saja…tentu saja aku mengubur perasaanku sebagai pria kepada wanita terhadap Yumi.” Erang MinWoo di akhiri dengan meneguk
gelasnya secara kasar.
Andi mengusap punggung sahabatnya sebagai tanda simpati.
Semua terdiam sesaat.
“MinWoo-ya….” Panggil Eric memecah kebisuan.
MinWoo menegakkan kepalanya.
“Aku…aku menyukai adikmu.” Lirih suara Eric “Aku menyukai sejak pertama melihatnya di kampus.”
*****ni*****
“Menurutmu aku membosankan?” tanya Eric pada Yumi sore itu.
“NE??”
“Kau pernah bilang cara mengajarku
membosankan, apakah aku orang yang
membosankan.” Eric mengingatkan perkataan Yumi padanya.
“Aah…itu…itu maksudmu?” Kata Yumi sambil tersenyum “Ne, cara mengajarmu benar-benar
membosankan, hanya terpaku pada proyektor dan buku, anak TK yang baru bisa membaca-pun dapat melakukan itu Pak Dosen.”
“Ya…Ya…kau…kau…” Eric kehabisan kata-kata.
“Kau harus mengajar dengan tulus bukan hanya terpaku pada materi.” Lanjut Yumi “Wajahmu
jangan terlihat tegang, sesekali tersenyum dan bercanda.”
“Yaaa gadis ini.” Eric menggeleng-gelengkan kepala “Tanpa tersenyum pun semua gadis -gadis
sudah tergila-gila padaku.”
“Jinnja?” Yumi memasang wajah heran.
“Ne, kecuali dirimu.” Aku Eric.
“Ne?? maksudnya…?” Tanya Yumi bingung.
“Aku menyukaimu…aku menyukaimu sejak pertama melihatmu di kampus.” Terang Eric.
Mata bulat Yumi membelalak di wajah
bonekanya.
“Wajah cantikmu yang mirip Gwyneth Paltrow sangat susah ku lupakan, kecantikanmu luar biasa. 
Kamu seperti bidadari kiriman langit
yang turun ke bumi. 
Kamu sungguh berbeda.
Membandingkanmu dengan sesuatu
adalah sebuah dosa.”
Eric memandangi wajah Yumi.
Mata Yumi semakin membulat dan mulutnya terbuka.
Tak percaya…
Semuanya begitu tiba-tiba.
Seakan memahami perasaan Yumi, Eric
mencairkan suasana.
“Aku hanya ingin kau tau perasaanku, kau bisa menjawabnya perlahan.”
Di ulurkan tangannya menggenggam tangan Yumi.
Di remas perlahan penuh cinta.
Gadis itu terdiam seribu bahasa dengan senyum manis di wajahnya yang merona.
*****end*****

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: