The Ballerina Shoes

0
the ballerina shoes fanfiction infinite
Author: Kim YS
Cast : 
• Woohyun INFINITE as Nam Woohyun
• Lee Yoobi as Kang Hyerim
• Other casts
Genre : Sad Romance
Rate : All age
14 Februari 2015
Seoul, 12.00 PM
“Woohyun oppa, ayo percepat laju mobilnya. Aku tidak ingin terlambat, ini adalah hari yang spesial oppa.” 
“Arasseo Hyerim-ah, tenang saja. Aku akan cari jalan lain agar kita tiba disana lebih cepat.”
“Eoh, cepatlah”

“Hyerim-ah, ambil kotak hadiah di kursi belakang.”
“Hm? Kotak hadiah? Untukku? Yang mana oppa? Ada 2 kotak, apakah semua untukku?”
“Kotak yang merah untukmu Hyerim-ah, jangan ambil kotak yang satunya.”
“Whoaa, oppa. Tetap fokus kedepan, jangan lihat kebelakang “
“Ah, aku tahu. Cepat bukalah, kuharap kau suka”
“Okay, ahhhh…oppa. Ini, sepatu yang sangat ingin kumiliki. Kau membelikan ini untukku? Oh, oppa gomawo. Aku suka sekali.”
“Syukurlah kalau begitu Hyerim-ah”
“Oppa, lihat kedepan. Cepat rem ada truk aaaaaaaaaaa…..”
“Aaaaaa…”
Gubrak!!
21 Februari 2015 
Seoul International Hospital
ICU, 13.30 PM
Ergh.. Kenapa gelap sekali, aku dimana? Kepalaku rasanya sakit sekali, badanku juga rasanya sangat sakit. Ah, apa yang terjadi? Hyerim-ah, dimana dia? Hyerim-ah…
“Hyerim-ah.. Hyerim-ah” Kucoba memanggilnya, Hyerimku.
“Ohh, anakku. Woohyun, kau sudah sadar nak? Katakan sayang, dimana yang kau rasa sedang sakit? Oh anakku”
“Eomma? Kaukah itu? Apa yang terjadi? Dimana ini? Kenapa gelap semua? Hyerim, dimana dia? Eomma..”
“Woohyun-ah, kau sedang dirumah sakit sayang. Satu minggu yang lalu kau mengalami kecelakaan, kau tidak sadarkan diri sampai saat kau bangun tadi. Syukurlah kau sudah sadar, ibu sangat khawatir. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi pada ibu kalau kau tidak selamat.”
Apa? Ternyata aku kecelakaan, satu minggu yang lalu. Saat itu, ah aku ingat. Hari itu aku akan mengantar Hyerim ke Incheon. Dia akan ke London untuk sekolah balet, Hyerimku. Lalu sepatu, lalu truk itu. Aarghh.. Kepalaku.
“Anakku, apa yang kau rasakan nak? Kenapa kau diam saja? Ohh, tolong aku dokter. Anakku kesakitan, uhhh”
“Eomma, aku baik-baik saja. Kumohon jangan panggil dokter, katakan saja dimana Hyerim. Aku ingin tau keadaannya, dimana dia eomma?”
“Hyerim? Kang Hyerim yang selalu kau bicarakan itu?”
“Ye, Kang Hyerim itu, yang setiap hari kuceritakan padamu. Dimana dia?”
“Dia.. Hyerim…”
“Eomma? Kenapa? Dimana dia? Jawab aku eomma? Jangan diam!”
Aku tak tahan lagi, aku lepas selang oksigen dari hidungku. Aku segera saja melompat dari ranjang, akan kucari Hyerim meski harus menyeret badanku. Tapi gelap sekali, kurasa aku harus melepas perban yang menutupi mataku. 
“Andwe, jangan melepas perbanmu nak. Uhh, kumohon. Lukamu belum sembuh.”
“Wae eomma? Wae? Mana bisa aku mencari Hyerim dengan mata tertutup?”
“Kumohon sayang, aku akan mengantarmu ke tempat Hyerim dirawat. Aku mohon nak, uhh..”
“Baiklah, tapi tolong jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja eomma.”
Eomma mengantarku keluar dari ruangan Hyerim berada, aku tidak sanggup lama-lama ada disana. Ayah Hyerim bilang Hyerim terluka sangat parah, gegar otak, wajah yang rusak, dan juga kedua kaki yang patah. Hyerim terluka parah karena berada di bagian mobil yang hancur tertindih truk. Beruntung Hyerim masih bisa diselamatkan oleh warga yang menolong. Walaupun aku tidak bisa melihatnya, aku bisa merasakan sakit yang dirasakannya. Impiannya, hancur olehku.
“Eomma, tolong antar aku ke kamarku” ucapku dingin.
“Baiklah nak,”
Sesampainya dikamar, eomma membantuku berbaring. Kubilang aku ingin istirahat sendirian, beliau pun akhirnya memilih menunggu dari luar kamar.
Hyerim, mianhae… Semua ini adalah salahku, kalau saja saat itu aku mendengarmu mungkin semua tidak akan seperti ini.
Woohyun’s memory
2 minggu sebelumnya
Bip bip bip bip..
Bip bip..
“Yeoboseyo?”
“Oppa, aku menelponmu sudah 10 kali. Dan kau baru mengangkatnya?”
“Whoaa, Hyerim-ah. Mian, aku bangun kesiangan. Semalam aku tidak bisa tidur.”
“Wae? Kenapa kau tidak bisa tidur oppa? Apa kau memikirkanku? Hihihi.”
“Mwo? Kurasa kau salah makan Hyerim-ah. Mana mungkin aku memikirkan gadis cerewet sepertimu.”
“Sudahlah akui saja oppa haha, aku tahu kau memikirkanku. Sekarang aku tunggu di studio, latihanku hampir berakhir.”
“Hye..”
Tutt tut tutt…
Telepon dimatikan begitu saja, dasar gadis bodoh. Hah, darimana dia tahu aku memikirkannya. Si bodoh ini, selalu saja membuatku gemas.
“Hyerim-ah, Hyerim…”
Gadis itu melambaikan tangannya kearahku saat mendengar aku memanggilnya, dia tersenyum manis sekali. Semakin membuatnya cantik, apalagi dress putih selutut yang dipakainya. Membuatnya terlihat seperti seorang malaikat.
“Yaak, oppa. Kau ini selalu melamun ya!”
Ah, gadis ini sudah didekatku saja. Cepat sekali jalannya, hihi.
“Oppa, kenapa kau malah senyam-senyum begitu? Aneh sekali. Ayo pergi, ada yang ingin kutunjukkan padamu.”
Aku mengikutinya saja saat dia menggenggam tanganku dan menyeretku entah kemana. Dan seperti biasa, dia sangat cerewet. Mulutnya hampir tidak bisa diam sepanjang jalan yang kami susuri, bibir mungilnya bergerak-gerak terus, hihi lucu sekali.
“Oppa, hari ini kau keren sekali. Rambutmu sepertinya sedikit berubah ya, apa mengecatnya menjadi sedikit kemerahan? Hihi, kau keren sekali. Dan jaketmu ini baru ya? Kau beli dimana? Cocok denganmu, seleramu ternyata lumayan ya.”
Aku tidak tahan lagi, kutarik dia dan kudekatkan wajahku padanya. Bisa kulihat wajahnya memerah karena terkejut hihi.
“Hmm, oppa. Kau..ah, lihat oppa kita ternyata sudah sampai hehe.”
Hyerim berlari kecil sedikit menjauhiku, sepertinya dia sedang malu. Hmm, dia terlihat semakin lucu.
“Oppa, kajja.”
Kugapai uluran tangannya, dan mengiringinya memasuki sebuah toko sepatu. Apa yang dia cari sebenarnya.
Tiba-tiba saja dia berhenti, matanya menatap kearah sepatu balet cantik berwarna pink berhiaskan pita berwarna putih. Matanya tampak berbinar-binar memandang sepasang sepatu itu. Tapi bibirnya mengerucut melihat harga yang tertera pada label didepan sepatu itu. Ternyata harganya sangat mahal untuk sepasang sepatu balet.
“Hyerim-ah, kau kenapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Oppa, kau lihat kan? Sepatu balet itu sangat cantik, bisa kubayangkan bila aku memakainya bila aku tampil di panggung. Bisa kupastikan penampilanku akan lebih sempurna,hanya saja…”
“Hm? Hanya saja kenapa?” lanjutku tetap dengan pura-pura tidak tahu apa yang membuatnya cemberut.
“Yaak, apa kau tidak melihat harganya? Harga yang fantastis untuk sepatu balet. Aku tidak mengerti kenapa mereka memberikan harga yang sangat sulit untuk ku jangkau. Aku memang belum menjadi balerrina profesional, tapi lihat saja nanti. Saat aku menjadi ballerina profesional, akan beli semua sepatu seperti ini.”
Tingkah Hyerim konyol sekali, benar-benar menggemaskan. Kurasa aku harus segera menyatakan perasaanku padanya.
“Oppa, kau menyebalkan sekali. Kenapa lagi-lagi kau tersenyum? Apa kau mengejekku?”
“Aniyo. Hyerim-ah, apa kau ingin memiliki sepatu itu?” tanyaku serius.
“Of course, aku ingin sekali. Tapi mana mungkin bisa, harganya sama dengan biaya pendaftaran sekolah baletku di London. Appa sudah bekerja keras untuk mendaftarkanku disana, mana mungkin aku memintanya membelikanku sepatu balet ini. Hmm, kurasa ada sepatu lain yang lebih murah. Sepatu yang tak kalah cantik. Ayo kita cari oppa.”
“Tunggu, kau bilang apa tadi? Sekolah balet di London? Apa ini? Apa yang kau bicarakan?” tanyaku bertubi-tubi.
“Oppa, kau ini kenapa? Reaksimu berlebihan sekali. Bukankah aku sudah sering bilang padamu, aku ingin menjadi balerrina yang terkenal.”
“Aku tahu, tapi London? Kau tidak pernah membicarakannya denganku, kenapa?”
“Mwo? Oppa, aku kira aku pernah bilang padamu.”
“Kau tidak pernah” bentakku tanpa sengaja.
Hyerim terlihat sangat kesal mendengar nada tinggiku, dia berteriak aku menyebalkan dan kemudian meninggalkanku. Aku sangat kesal pada diriku sendiri, aku tahu ini bukan salah Hyerim tapi aku malah membentaknya. Aku yang tidak ingin kehilangannya, tapi malah aku yang membentaknya. Kuputuskan untuk tidak mengejarnya, lain hari aku akan minta maaf padanya.
Woohyun’s memory end
“Woohyun.. Woohyun-ah…”
Aku merasakan tubuhku sedikit diguncang, dari suaranya sepertinya itu suara Hyerim. Mungkinkah Hyerim sudah sadar? Benarkah?
“Hyerim-ah? Kau kah ini?” tanyaku penasaran.
“Woohyun-ah, ini eomma. Kau semalaman hanya sendirian, aku khawatir sekali. Pagi ini dokter menberitahuku, siang nanti dokter akan membuka perban yang menutupi matamu. Apa kau sudah siap?”
“Benarkah? Aku senang sekali kalau begitu, akhirnya aku akan bisa melihat Hyerim. Katakan pada dokter untuk melakukannya sekarang.”
“Bersabarlah sayang, dokter masih menangani pasien lain. Tunggulah sampai siang nanti,eoh? Sekarang sebaiknya eomma membantumu membersihkan badanmu, kau sangat bau sekarang.”
“Hoho, benarkah? Baiklah eomma, ayo.”
“Baiklah, silahkan buka kedua matamu Woohyun-ssi.”
Dokter memintaku membuka mataku, aku sangat bersemangat. Tapi setelah kubuka, aku kaget sekali. Semua masih terlihat gelap, aku tidak mengerti ini.
“Woohyun-ah, anakku sayang. Apa kau baik-baik saja?”
“Eomma, eomma… Aku, kenapa semua masih terlihat gelap? Aku tidak dapat melihat apapun.”
“Dok, apa yang terjadi? Kenapa anakku tidak bisa melihat apapun? Apa yang terjadi dok?”
“Woohyun-ssi, akan kuperiksa matamu sekali lagi. Katakan sesuatu bila kau merespon.”
Aku mengangguk saja, namun aku tidak dapat merespon cahaya apapun. Dokter mengatakan mungkin kedua mataku tidak dapat melihat lagi akibat pecahan kaca yang masuk kedalam mataku waktu kecelakaan seminggu lalu.
“Anakku, ini sudah sore. Ayo kubantu membersihkan badan, apa kau tidak ingin menemui Hyerim?”
“Eoh, tapi eomma.. Kumohon jangan katakan keadaanku pada siapapun, apalagi Hyerim. Bila dia sudah bangun nanti, aku hanya ingin dia fokus pada proses penyembuhannya.”
Eomma menjawab lirih, dapat kurasakan kesedihannya. Meskipun ia berpura-pura tegar didepanku. Aku meminta eomma kembali memasang perban untuk menutupi kedua mataku, agar tidak ada yang tahu kebutaanku.
Hyerim-ah, kumohon cepatlah sadar. Tanganmu tetap terasa hangat, tapi kurasa akan lebih hangat bila kau sudah sadar. Kumohon padamu Hyerim, aku tidak bisa melihat kau terluka seperti ini.
“Woohyun-ah, kau disini?”
“Ah, paman. Iya, aku disini. Apakah ada kabar dari dokter mengenai Hyerim?”
“Belum ada, tapi dia menunjukkan perkembangan yang positif sejauh ini. Dia memiliki semangat hidup yang tinggi. Kau tau benar itu kan?”
“Ye ahjussi,”
Apa ini, yang kurasakan ini. Tangan Hyerim bergerak, dia menggenggam tanganku. 
“Ahjussi, Hyerim bergerak. Dia menggenggam tanganku, dia sudah sadar.”
“Benarkah, Hyerim-ah. Anakku, kau sudah sadar nak? Dokter, dokter tolong aku. Hyerimku sudab bisa bergerak. Dokteeer…’
Dokter mulai memeriksa Hyerim dengan seksama, kudengar dokter berbicara pada suster yang membantunya tentang keadaan Hyerim.
“Woohyun-ah, bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik-baik saja ahjussi, ada apa?”
“Aku dengar yang terjadi padamu, maksudku aku tidak sengaja mendengarnya.”
“Jadi ahjussi tau aku tidak dapat melihat lagi?”
“Iya, kau baik-baik saja kan? Bersabarlah.”
“Aku…”
“Tuang Kang, putrimu sudah selesai diperiksa. Aku ingin bicara dengan anda.”
“Ah, baiklah dokter. Woohyun-ah tolong kau duduk disamping ranjang Hyerim, jagakan dia.”
“Baiklah ahjussi.”
23 Februari 2015
“Woohyun-ah, kau membutuhkan sesuatu?”
“Tidak eomma, aku ingin sendiri. Bisakah kau meninggalkanku sendiri?”
“Tapi Woohyun-ah..”
“Jebalyo eomma.”
“Baiklah, aku akan diluar. Panggil aku kapanpun kau butuh nak.”
Aku mengangguk kecil, kudengar langkah kaki eomma menjauhi ruanganku. Hah, andai saja semua ini tidak terjadi. Andai saja waktu itu aku tidak memaksa Hyerim untuk membiarkanku mengantarnya. Tolong maafkan aku Hyerim, ini semua salahku.
Woohyun’s memory
13 Februari 2015
Drrrt..drrt..drtt..
Drrt..drrtt..
“Yeoboseyo, oppa? Kenapa kau baru menghubungiku? Kau tau aku sedang sibuk mengurus izin untuk bisa sekolah di London. Tapi kau malah sibuk sendiri, ugh.”
“Hyerim-ah, hei. Kau ini, tidak berubah ya. Tetap cerewet seperti biasa.”
“Oppa, apa kau menelpon hanya untuk mengejekku?”
“Haha aniyo, Hyerim-ah aku sangat merindukanmu. Kau tau?”
“Oppa aku juga merindukanmu, tapi ada apa? Tumben sekali bicara begitu?”
“Ani, kapan kau akan berangkat ke London?”
“Besok pagi oppa, wae?”
“Bisakah aku yang mengantarmu?”
“Tapi, appa yang akan mengantarku ke Incheon.”
“Jebal Hyerim-ah, bicaralah pada ayahmu agar mengizinkanku mengantarmu.”
“Tapi oppa..”
“Kumohon Hyerim-ah, ada yang ingin kukatakan padamu besok.”
“Baiklah, akan kucoba untuk bicara pada appa.”
“Terima kasih Hyerim-ah, sampai jumpa besok.”
“Sampai jumpa.”
Woohyun’s memory end
26 Februari 2015
“Woohyun-ah, Woohyun-ah… Ada kabar dari Hyerim, nak bangunlah. Hyerim sudah sadar, dia ingin bertemu denganmu sayang.”
Apa ini? Apa yang baru saja kudengar? Hyerimku sudah sadar? Benarkaah itu?.
“Woohyun-ah…”
“Eomma, eomma.. Benarkah itu? Hyerim sudah sadar? Tolong bawa aku menemuinya.”
“Iya anakku, ayo bangunlah.”
Bayangan Hyerim berlarian dalam benakku, tawanya, senyumnya, cerianya, semuanya. Hyerim-ah, aku bersyukur kau baik-baik saja. Aku hanya ingin kau selalu bahagia, aku akan membantumu lepas dari rasa sakitmu. Aku akan menebus kesalahanku ini Hyerim, pasti.
“Tunggu eomma, tolong lepaskan perban ini. Aku tidak ingin Hyerim melihatku buta.”
“Tapi Woohyun..”
“Kumohon eomma, tolonglah.”
“Baik, aku mengerti.”
“Oppa, Woohyun oppa…”
“Hyerim-ah, kau baik-baik saja? Apa kau kesakitan? Ohh, Hyerim-ah aku..”
“Oppa, aku baik-baik saja. Jangan khawatir ya, hehe. Aku ini kan kuat, aku pasti sembuh dan menjadi balerrina profesional.”
“Hyerim-ah.”
“Aku pasti sembuh oppa, yakinlah.”
“Hyerim-ah, aku.. Ada yang ingin kukatakan padamu sebelumnya, aku ingin minta maaf. Seandainya waktu itu aku tidak memaksamu bicara pada ayahmu, semua ini pasti tidak akan…”
“Sst, oppa. Jangan bicara begitu, ini semua bukan salahmu. Bukankah hari itu kau memberiku hadiah yang sangat cantik? Sepatu itu sangat cantik oppa, aku senang. Aku ingat saat kau menelponku sehari sebelum hari itu, kau bilang ada yang ingin kau katakan padaku. Apa itu?”
“Itu, aku.. Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku sangat menyukaimu Hyerim-ah, aku menyukaimu dari awal kita bertemu. Sampai detik ini, aku sangat menyukaimu. Hyerim-ah, katakanlah. Apa kau bersedia menjadi kekasihku?”
“Hehe, apakah ini adalah sebuah pernyataan oppa? Hmm, menyebalkan sekali aku ditembak saat kondisiku sejelek ini.”
“Hyerim-ah, kau sangat cantik sekarang. Dan selamanya.”
“Oppa, apa kau tidak melihatku?”
“Hyerim-ah..”
“Ah, oppa aku bersedia. Aku juga sangat menyukaimu. Jadi sekarang kita adalah sepasang kekasih kan? Senangnya, harusnya kau katakan sejak dulu oppa.”
“Ah, mianhae Hyerim-ah. Aku..”
“Ughh…”
“Hyerim-ah, apa kau merintih? Apa kau kesakitan? Kau baik-baik saja kan?”
“Oppa, aku tidak apa-apa. Aku ingin istirahat sebentar, bisakah kau tinggalkan aku? Aku ingin bersama appa.”
“Hyerim-ah..”
“Woohyun-ah, tolong tinggalkan putriku. Aku bersamanya, kau tenanglah.”
“Baiklah ahjussi, tolong beritahu aku apapun yang terjadi. Kumohon.”
“Iya,”
” Hyerim-ah, aku pergi dulu.”
“Ye oppa, sampai jumpa.”
“Woohyun-ah, woohyun… “
“Ahjussi, ada apa? Apa yang terjadi? Hyerim, bagaimana keadaannya?”
“Dia sudah pergi Woohyun-ah, dengan sangat damai.”
“Apa? Ahjussi, jangan bercanda. Ini tidak benar kan?”
“Ini benar, kuatkan dirimu Woohyun. Dan Hyerim juga menitipkan ini padamu, dia ingin kau menjaganya dan memberikan ini pada orang yang tepat.”
Hyerim-ah, uhh… Aku tidak bisa tanpamu, kenapa ini semua terjadi? Hyerim aku tidak bisa. Aku…
Brukk!!
===========
6 bulan kemudian
“Oppaaaaa…. Woohyun oppa, kenapa kau terlambat?”
“Dain-ah mianhe eoh? Aku hampir saja lupa membawa sesuatu. Apa kau sudah siap?”
“Eoh, ayo kita berangkat. Aku tidak ingin terlambat oppa. Ini adalah hari yang spesial.”
“Dain-ah… Kau..”
“Hm? Wae oppa?”
“Ah, tidak. Ayo kita berangkat.”
Hyerim-ah, tunggu aku disana. Mata ini, mata yang kau berikan padaku. Aku akan menjaganya baik-baik, sampai nanti aku akan menemuimu. Seperti sepatu balet milikmu ini, akan kujaga bersama seseorang yang sama sepertimu. Seorang ballerina yang cantik dan istimewa.
****FIN****
%d blogger menyukai ini: