LEACH 2

0
Kris Wu/Wu Yifan
Genre : Romance, NC 
Author : osy 
Twoshoot : Bagian B-END
Cast :
Kris Wu/Wu Yifan
Park Hyunrie

Rosyi Present : 
Kris Wu. Ya, dia pria brengsek!
Aku tak dapat meluapkan amarahku pada barang-barang tak berdosa atau berteriak hingga tenggorokanku sakit. Itu tindakan cukup bodoh yang akan mengantarkanku ke neraka. Sampai saat ini aku lebih memilih bungkam dan berdiam di kamar setelah Kris mengantarku pulang. Belum saatnya Ibu tahu bahwa anak gadisnya telah diperkosa. Tak ada yang dapat menjamin Ibu akan baik-baik saja setelah tahu semuanya. Masalah ini tak perlu melibatkan polisi untuk menemukan tersangkanya, Kris Wu sudah kutetapkan sebagai pelakunya. Bila aku seorang jaksa, akan kupastikan dia membusuk di penjara. Aku tak tahu seberapa kecil otaknya hingga dengan keji dia memperkosaku. Bukan hanya di satu tempat, dia melakukan tindakan tak terpujinya di toilet dan rumahnya. Apa dia pantas menyandang sebutan manusia atas tindakan iblisnya itu?
Aku mengusap air mata yang turun bebas menuruni pipiku dengan tangan. Mengingat wajah Kris membuat dadaku sesak. CEKLEK!
“Nuna,.” Kyungmin datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tanganku segera mengambil kacamata hitam diatas tumpukan buku dan memakainya.
“Ya Tuhan, Nuna jorok sekali” komentarnya setelah melihat keadaan kamarku dengan pakaian berserakan dibawah. Itu bukan pakaianku, melainkan pakaian yang Kris berikan padaku setelah pakaianku dirobeknya.
“Nuna minta padamu bakar pakaian itu!” perintahku. Kyungmin berjalan kearahku.
“Pakaian yang bagus, sangat pas ditubuh Nuna. Tak aku sangka, Nuna berselera fashion tinggi” pujinya sembari duduk diranjangku.
“Apa kau menolak perintah Nuna-mu?!!” tegasku.
“Ya, aku akan membakarnya nanti. Tapi, Ibu memintaku memanggilmu untuk makan malam. Hey, lepaskan kacamatamu! Kau tak dapat melihat wajah tampan adikmu!” protesnya karna aku memakai kacamata.
“Tidak!” tolakku.
“Apa ada yang disembunyikan dariku?” tanya Kyungmin curiga.
“Bukan urusanmu. Tinggalkan aku sekarang!” seruku.
“Beritahu aku! Kau tak seperti Nuna-ku!” Kyungmin berdiri dan bergerak mendekatiku.
“Buka kacamatamu, Nuna” pintanya lembut. Aku menggelng kepala dan mendorong tubuhnya menjauh.
“Buka.,” Kyungmin menyingkirkan kacamata yang bertengger dihidungku secara paksa. Aku menutupi wajahku dengan mata bengkak dan kembali menangis keras. Ini pasti sangat menyedihkan!
“Ada apa Nuna? Cepat beritahu aku!” Kyungmin mencengkaram bahuku dengan kedua tangannya. Aku terus menggelengkan kepala.
KREPP, seketika aku merasakan kehangatan yang melingkupi tubuhku. Kyungmin memelukku dan melingkarkan tangan panjangnya di tubuhku.
“Tolong jangan seperti ini. Berbagilah denganku! Berbagilah kesedihan denganku! Apa gunanya aku sebagai adikmu?!!” katanya tulus dan berhasil memperkeras isakanku.. Kyungmin seolah berubah menjadi seorang kakak untukku, aku merasa malu menjadi kakaknya sekarang. Dia mengecup puncak kepalaku sesekali sambil mengusap punggungku. Setelah suara isakanku meredam, dia membimbingku berdiri dari kursi dan menuntunku berbaring di ranjang. Kyungmin menutupi tubuhku dengan selimut hingga batas leher, dia tidur disampingku sambil terus mengusap rambutku.
“Apa aku gadis jahat? Apa aku kakak kejam untukmu Kyungmin?” tanyaku sambil mendongak menatap Kyungmin.
“Jawab aku Kyungmin!” aku menarik baju Kyungmin yang basah karna air mataku.
“Ah, ya. Pasti aku sangat kejam hingga Tuhan menurunkan balasannya padaku dengan cara seperti ini. Aku gadis yang tak memiliki satu pahalapun! Aku gadis tak berguna!” aku bangkit dan membuang buku-buku diatas meja.
“Aku tak pantas menyandang gelar sarjana! Biarkan semuanya lenyap!”
“Hentikan!” seru Kyungmin menarik kedua tanganku yang gemetar.
“Bagaimana aku menjelaskannya? Apa kau belum juga tahu bagaimana bahagianya aku terlahir menjadi adikmu? Perbuatan apa yang mampu membuat Dewi Bayi tersenyum? Jujur aku belum rela Nuna diambil pria lain, yah karna aku ingin hanya Park Kyungmin satu-satunya pria istimewa dihidupmu. Tapi, aku tak dapat menghentikan takdir dari langit, kau pantas bahagia dengan pria lain”
“Bahagia dengan pria lain katamu?!!” ulangku.
“Lihat sekarang diriku!” aku membuka satu kancing baju atasku.
“Pakai matamu dan lihat dengan baik!” Kyungmin meneliti seluruh inci tubuhku dengan matanya, dia tertegun. Pasti Kyungmin melihat leherku penuh bekas merah, lalu aku bergerak kesampingnya dan berbisik didaun telinganya.
“Nuna-mu, Park Hyunrie adalah korban pemerkosaan” lirihku. Tubuh Kyungmin menegang, sorot matanya berubah dan rahangnya mengeras.
“Apa kau sekarang merasa jijik padaku? Yah, memang begitu seharusnya” ujarku membelakangi tubuh Kyungmin. Air mata kembali menembus pertahananku, aku menggigit bibir dan mengepalkan kedua tangan.
“Tidak!” lantang Kyungmin kemudian memelukku dari belakang.
“Biarkan malam ini aku menjadi pria dimatamu, bukan lagi seorang adik yang mengesalkan. Bisa kan?”
***
“Kalian tampak akur sekali pagi ini” komentar Ibu menghentikan kegiatan makanku.
“Tadi malam aku belajar jurus cinta dan gratis” tutur Kyungmin diiringi cengiran kudanya.
“Benarkah? Ibu harap bukan jurus cinta untuk mendapatkan wanita” timpal Ibu.
“Jika bukan wanita lalu apa? 
Paman-paman tua dengan dompet tebal? Aku bukan gay, Bu! Lihat ini, dia pacarku!” Kyungmin menunjukkan wallpaper ponselnya pada Ibu. Si wanita berdada rata, aku terkikik geli.
“Apa yang kau tertawakan, Nuna?” dia menatapku sengit, aku mengendikkan bahu dan kembali menyantap makananku.
“Ternyata putra kecil Ibu sudah besar. Jadi, kapan tepatnya kalian menikah?” aku hampir tersedak mendengar penuturan Ibu. Wajah Kyungmin sudah berubah seperti babi matang. Lalu Ibu tertawa lebar, aku janji takkan melenyapkan senyuman di wajah Ibu.
“Hyunrie..,” panggil Ibu.
“Ibu belum mendengar penjelasanmu tentang tak pulang kemarin malam, dikamar seharian hingga lupa makan malam dan luka itu!” tunjuk Ibu tepat pada bibirku yang sedikit membengkak. Oh siapapun tolong bawa kabur diriku dari situasi mencekam ini. Salah kata saja, aku tak tahu bagaimana hidupku setelahnya. Aku menendang-nendang kaki Kyungmin dan memberinya isyarat mata agar ikut membantuku berbohong.
“Aku dirumah Jhira” balasku singkat.
“Bukankah kalian berbeda fakultas?” Ibu menatapku curiga. Keringat dingin meluai membasahi dahi dan leherku.
“Ap-apa kita tak boleh bersama? Ayolah, Jhira teman SMAku. Bisa dibilang kita reunian” jelasku membuat skenario yang logis.
“Dan luka ini-”
“Bermain denganku tadi malam. Nuna ceroboh dan membiarkan bibirnya mencium kepala ranjang. Oh, perutku akan sakit bila mengingatnya” Kyungmin berakting seolah tengah menertawakanku. Meskipun dia tahu Kris pelakunya. Aku berminat mendaftarkannya ke fakultas seni sastra dengan bakatnya. Dia akan sukses dan ketenarannya akan mengalahkan Lee Minho dan Kim Woobin.
***
Dari perkataannya tadi malam, aku seperti tak mengenal Kyungmin. Dia berubah drastis, bukan hanya mengantarku ke Universitas, dia juga mengantarkanku kedepan pintu kelas pertama. Dengan mengenakan seragam SMA, Kyungmin menggandeng tanganku. Mahasiswa lain yang tak tahu kami ada hubungan darah pasti berspekulasi bahwa aku wanita bertipikal pria polos seperti Kyungmin.
“Sudah..,” katanya setelah menempelkan plester disudut bibirku yang bengkak.
“Ini hanya luka kecil, besok juga akan tak terlihat. Kau berlebihan!” cibirku.
“Kumpulkan apa yang tak aku ketahui diotakmu, lalu ceritakan semuanya padaku tanpa kebohongan. Aku sudah rela berbohong demimu. Hubungi aku dan aku akan menjemputmu” Kyungmin mencium keningku.
“Aku mencintaimu, Nuna.,” ucapnya lalu pergi menjauh. Seulas senyum menghiasi wajahku melihat tingkah Kyungmin yang benar-benar baru untukku. Aku iri dengan kekasihnya, dia wanita beruntung mendapatkan hati adikku.w
Didalam kelas baru ada 5 anak yang sudah siap dibangku, aku mendaratkan tubuku pada bangku paling depan. Yah, barangkali aku tengah bertrasformasi menjadi pelajar rajin. Untuk apa larut dalam kesedihan? Mengumpat? Memaki? Bahkan membunuh Kris juga takkan mengembalikan keadaan. Kyungmin benar, aku harus menjadi wanita sekuat Ibu. Dia bahkan membesarkan kedua anaknya tanpa campurtangan Ayah. Cekatan aku membuka ransel dan mengeluarkan beberapa buku yang dibutuhka di kelas pertama. Aku akan tetap menggunakan ransel, itu sudah menjadi kepribadianku. Aku takkan pernah menggantinya dengan tas wanita-wanita feminim. Aku mengingat tindakanku tempo dulu, mengapa aku harus berganti menjadi kepribadian lain hanya untuk menarik perhatian Joongki Suunbae? Aku hampir tartawa sendiri memikirkan konyolnya diriku yang berusaha mencuri perhatian Joongki Suunbae.
***
Jhira dan Yoonhi tiba-tiba saja menjemputku seusai Dosen Jang menutup perjumpaannya hari ini. Mereka berdua menunjukkan perhatiannya padaku. Tak biasanya seperti ini, terlebih tak ada satu pertanyaan pun yang meluncur dari bibir Jhira atau Yoonhee mengenai kondisiku. Apa aku harus menyelidikinya?!!
“Bawa bekal, Hyunrie? Umm, rasanya sudah lama sekali tak makan makanan buatan Bibi Park” tutur Jhira terbesit suatu permintaan. Dia menatap bekal yang baru aku keluarkan dambil memainkan bibirnya. Bilang saja mau merampas bekalku!
“Makanlah, aku akan pesan ramen” ujarku disambut senyuman bodoh dan mata berbinar oleh Jhira.
“Itu tak adil!” protes Yoonhee mempoutkan bibirnya.
“Jhira bisa berbagi kalau dia mau” sindirku pada Jhira yang sedang mengroyok sandwich buatan Ibu.
“Okeh, aku pesan ramen!” seruku lalu berdiri. Ketika aku berbalik, sosok Kris muncul dihadapanku dengan nampan ditangannya. Tatapan kami beradu, tanpa ada senyuman aku menatapnya penuh kebencian. Aku benar-benar sudah dikutuk! Selalu dipertemukan dengan pria ini!
“Hey ladies, boleh kami bergabung?” kepalaku menoleh, ternyata tak hanya Kris. Kai, Dongjun dan Jimin pun mendatangi kami.
“Oh, ya tentu. Duduklah” Yoonhee menyetujui permintaan Kai. Oh ayolah, ini bencana bagiku. Bagaimana mungkin aku bisa tahan semeja dengan Kris. Lihat! Jhira tak henti-hentinya tersenyum duduk bersanding dengan Jimin. Aku berdecak keras, lalu kembali terfokus pada pria yang masih berdiri didepanku.
“Jhira, Yoonhee, aku harus pergi. Tak baik untukku semeja dengan.., sudahlah,.” kakiku melangkah namun Kris menghalangi jalanku.
“Jauhkan dirimu!” seruku.
“Tapi, kau belum makan dan bekalmu sudah habis dimakan Jhira” Yoonhee melimpahkan kesalahan pada Jhira.
“Hey, kau juga makan! Aku doakan perutmu akan bermasalah!” sahut Jhira tak terima.
“Sudahlah, aku makan diluar dengan Kyungmin” aku menengahi sebelum terjadi perdebatan sengit disini.
“Jangan lupakan ranselmu!” seru Jhira. Ya ampun, ini semua karena Kris. Aku seperti orang tua yang pikun.
“Ah, terimakasih” aku kembali memakai ransel dan berjalan dengan langkah lebar meninggalkan tempat yang membuat leherku tercekik. Telingaku menangkap suara pria dibelakang seperti ditunjukkan padaku.
“Dia wanita aneh. Kenapa harus pergi? Bahkan ratusan wanita diluar sana memohon pada Tuhan agar bisa semeja dengan kami” tebakanku itu suara Dongjun dan selanjutnya gelak tawa terdengar. Pelupuh mataku kembali membendung air, aku bukan wanita kuat saat kehilangan sesuatu yang tak dapat terganti. Bagaimana kalau nanti suamiku kelak mempertanyakan kesucianku? Kris, kau harus membayar mahal perbuatan kejimu!
Huh, aku harus menunggu Kyungmin. Namun, bisakah Kyungmin menjemputku diwaktu sepagi ini? Aku yakin bel tanda berakhirnya pelajaran pun belum berdering. Apa dia membolos? Mau jadi apa anak ini!
Beruntung sekali ada bangku kosong dibawah pohon depan pelataran Universitas. Aku tak mau pingsan dibawah terik matahari, jadi lebih baik duduk dibangku itu. Selagi menunggu Kyungmin, aku membuka tas ranselku. Mencoba menemukan sesuatu yang mengganjal perut.
“Ibuku wanita terhebat. Aku mencintaimu!” pekikku setelah menemukan dua kotak susu rasa coklat. Siapa lagi yang memasukkannya bila bukan Ibu?
“Jaga kesehatanmu, tak baik membiarkan perutmu kosong” kepalaku mendongak setelah melihat sepatu pria berwarna coklat. Suaranya cukup memberitahukanku siapa pria ini. Aku meletakkan susu kotak yang sudah habis dan memalingkan wajahku. Dia datang dengan satu cup ramen serta satu botol jus buah.
“Makanlah..,” nada suaranya memohon, tak ada keangkuhan. Aku bersikukuh tak mau menatap makanannya atau wajahnya.
“Sangat keras kepala, jangan menyiksa dirimu!” tergasnya semakin menyodorkan cup ramen.
“Apa?!!” geramku.
“Cepat habiskan!”
“Belum puas juga bagimu menjadi arwah yang menggentayangi hidupku? Apa kau diciptakan sebagai kutukan untukku? Setiap melihatmu entah mengapa selalu ada setan merasukiku dan ingin membunuhmu!” lantangku tak peduli seberapa kerasnya suaraku dan orang-orang sekitar akan memperhatikan. Kris duduk disampingku lalu menyilangkan kakinya. Ia meletakkan ramen dan botol minuman ditengah-tengah kami.
“Apa kehadiranku menyakitkan untukmu? Lakukan saja, kau boleh mencekik leherku sekarang bila setan dalam tubuhmu sudah tak bisa dikendalikan” tuturnya. Bila aku ingin, bisa saja sekarang aku membunuhmu! Tapi pemikiranku tak sedangkal itu, bisa-bisa Ibu jantungan mengetahui putrinya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
“Soal kejadian itu, aku benar-benar menyesal. Waktu itu aku sangat marah dan tak bisa berfikir jernih. Maaf” Kris kembali mendamparkanku pada kenangan kelam hari itu, memori yang ingin aku musnahkan. Tanganku gemetar dan dadaku sesak, seakan paru-paruku penuh karbondioksida.
“Cukup!” jeritku.
“Berhenti membuat semuanya semakin rumit! Lupakan kejadian itu, aku tak mau mengingatnya”
“Sungguh kau tak menginginkan lebih?” tanyanya. Aku menatapnya dengan kening berkerut, apa maksudnya?
“Apa kau tak butuh pertanggungjawabanku?” aku menanggapinya dengan tertawa renyah.
“Hidupku tak lebih rendah dari seorang pelacur dimatamu. Apa gunanya pertanggungjawaban? Kau hanya akan mengeluarkan uangmu bukan untuk menutup mulutku? Aku tahu sifat orang sepertimu Tuan Wu. Aku dibuang setelah dinikmati, bukankah seperti itu?” mata Kris menggelap, gerakan dadanya sangat cepat. Apa perkataanku tadi berhasil menohoknya? Aku harap iblis tampan seperti dia tak mati rasa. Ya Tuhan, dalam situasi seperti ini pun aku masih memuja wajah rupawannya? Kris berdiri dengan rahang tercetak jelas, sorot matanya seperti predator. Tanpa diduga dia mencengkram pergelangan tangan kananku.
“Aku marah karna kau memandang Joongki istimewa. Apa aku kurang tampan? Apalagi melihatmu berpenampilan hari itu. Kau sangat cantik, aku tak bisa mengalihkan mataku. Tapi, saat tahu itu semua untuk Joongki Sunnbae. Aku bersumpah akan mendapatkanmu dengan caraku. Aku tahu cara yang aku tempuh salah dan menyakitimu. Dan kali ini, aku takkan memintamu berhenti membenciku. Ingat baik-baik, jangan pernah menganggap dirimu pelacurku? Ini langkahku memilikimu, jangan halangi aku. Persiapkan dirimu mendapat panggilan Nyonya Wu” kata Kris dan langsung menjatuhkan tanganku. Aku tak dapat berkata apa-apa, Kris menjelaskan dengan rinci sebab ia menodaiku. Dari sorot matanya, aku tak menangkap ada dusta. Aku mengaku saat ini kebencianku mengikis. Cemburu? Apa aku harus bahagia dengan apa yang ia tuturkan? Kris berjalan meninggalkanku dengan meninggalkan sebuah misteri. Beritahu aku apa yang harusku perbuat?!! Nyonya Wu? Bahkan membayangkannya saja aku tak pernah.
Ini mimpi buruk atau mimpi baik?
“Nuna!” kepaaku memutar, itu dia bocah tengik yang membuatku menunggu dengan ditemani Kris. Kyungmin turun dari motornya dan melangkah mendekat.
“Apa aku sangat lama? Jangan marah, tadi aku harus memikirkan alasan untuk Guru Kim. Wah Nuna! Kebetulan sekali perutku dari tadi terus berbunyi” utarnya sekaligus meminta izin memakan ramen yang Kris bawa.
“Aku ingin makan cake rosela. Ayo beli!”
***
‘Hyunrie, bisa tidak sekarang kerumahku? Ada yang harus kita bicarkan’
Aku memasukkan ponsel ke dalam saku celana setelah membaca pesan dari Jhira.
“Bungkuskan 3 cake lagi” ucapku pada pegawai toko roti yang aku dan Kyungmin kunjungi.
“Cake rosela? Ya Tuhan, ini sudah 3 kotak dan Nuna ingin menambah lagi?” Kyungmin berdecak tak menyangka.
“Ini uangku” balasku sinis.
“Ah, yaya, Tuan Putri. Cepatlah, aku ingin membaringkan tubuhku di kasur empuk dikamarmu dan menenangkan otakku yang baru saja maraton setelah Guru Kim menjebakku dengan soalnya yang tak bermutu, tak heran dia botak karna rumus-rumusnya”
“Mampir ke rumah Jhira” raut wajah Kyngmin berubah muram.
“Takkan lama” janjiku.
“Siapa yang bisa menjamin? Wanita bisa tahan berjam-jam memperbincangkan sesuatu yang tak berguna” mataku mendelik garang kearah Kyungmin.
“Apa katamu?!!” kalau sedang dirumah aku yakin bokongmu takkan selamat dari tendanganku.
“Aku hanya bercanda, Nuna. Oh, terimakasih” Kyungmin menerima 3 bungkus lagi. Jadi, total ditangan Kyungmin ada 6 bungkus. Semua ini tak sepenuhnya untukku, aku akan membagi 3 bungkus untuk Jhira. Kyungmin menyeretku keluar dari toko setelah selesai bertransaksi menuju tempat motornya terparkir. Dia menyerahkan seluruh bungkusan cake padaku. Kyungmin memakai helmnya, dan aku menghela nafas. Dia tak mempedulikan keselamatanku dan tak merasa bersalah melupakan helm untukku. Apa dia menginginkan harta warisan jatuh ketangannya setelah aku mati?
“Hey, bisa pelankan laju motormu!” pekikku saat Kyungmin menambah kecepatan motornya.
“Ini hebat bukan? Nuna penakut!” ejeknya lalu tertawa. Bila dia tak memakai helm, sudah pasti kepalanya akan menerima pukulanku.
“Ini bukan arena balapan, bodoh! Ini jalan raya! Bagaimana kalau polisi mengejar kita? Apa yang kau tertawakan?!!” geamku. Jari-jariku gatal untuk mencubitnya, rasakan ini!
“Awww,.. Hey!” serunya dan motor yang kami tumpangi oleng.
“Nuna ingin mati?!!” lantangnya.
“Diam dan pegangan yang erat kalau kau ingin tetap hidup” aku membungkam mulutku rapat-rapat dan keheningan melingkupi kami sampai roda motor Kyungmin berdecit baru perbincangan diantara kami dimulai.
“Aku menunggu?” tanya Kyungmin setelah melepaskan helm yang membuat kepalanya matang.
“Apa kau menginginkan aku membawamu? Jadilah adik yang baik”
“Hyunrie!!!” panggil seorang wanita. Apa ini suara Jhira? Tapi seperti suara Yoonhee. Aku membalikkan badan dan pandanganku mengedar.
“Kami disini!” mataku membulat. Apa yang kedua wanita ini lakukan? Bermain volly ball dengan Kris, Dongjun, JongIn, dan Jimin? Pakaian mereka berdua persis seperti berada dipantai. Celana pendek dan kaos yang tak seluruhnya menutupi perut rata mereka. Kris, Dongjun, JongIn, dan Jimin memandang kearahku dan Kyungmin. Aku melambaikan tangan, Jhira dan Yoonhee keluar dari permainan dan mengambil handuk kecil lalu berjalan menghampiriku.
“Tak sendiri rupanya” ucap Yoonhee setelah melihat Kyungmin bersandar dimotornya.
“Kyungmin, kau bisa bergabung dengan mereka” tunjuk Jhira pada gerombolan pria yang bermain volly ball.
“Tidak! Tidak boleh! Tetap ditempatmu dan jadilah anak penurut!” larangku menentang keras. Yoonhee, Jhira dan Kyungmin menatapku bingung karna sikapku yang aneh.
“Aku bawakan rosela cake untuk kalian” aku menyodorkan 3 bungkus pada Yoonhee dan yang 3 bungkus lagi aku masukkan ke ransel.
“Kau terlalu baik! Ngomong-ngomong banyak sekali cake-nya?”
“Nuna seperti orang yang ngidam rosela cake!” celetuk Kyungmin. Yoonhee dan Jhira saling melempar pandangan.
“Ayo Hyunrie!” Jhira menarik tanganku memasuki rumah Jhira dan Yoonhee mengekor dengan membawa 3 bungkusan cake. Rumah Jhira selalu sepi, bahkan selama aku bersahabat dengan Jhira hanya beberapa waktu dapat bertatap muka dengan orangtua Jhira.
“Katakan!” Yoonhe dan Jhira duduk dihadapanku dengan kaki dan tangan disilangkan.
“Besok kita ke Jepang. Jam 8 aku menjemputmu”
“Apa?!! Besok?!!” ulangku tak percaya.
“Aku belum mempersiapkan apa saja yang akan aku bawa” aku memajukan wajahku.
“Apa tak terlalu cepat?” tambahku.
“Tanggal sudah ditetapkan” Jhira mempertegas.
“Cuaca hari ini sangat panas!” seruku sembari mengibaskan tangan.
“Bilang saja kau kehausan!” ledek Yoonhee.
“Bi, bawakan jus kemari” seru Jhira.
“Tahu saja” aku terkikik pelan.
“Hyunrie, Hyunrie! Adikmu! Adikmu memukul Kris!!” Dongjun datang memberitahu kabar yang mencengankan, mustahil. Kyungmin memukul Kris? Apa Kris begitu lemah menghadapi Kyungmin mengingat postur tubuhnya lebih besar? Aku berlari keluar rumah Jhira.
“Kyungmin hentikan!” teriakku. Sulit dipercaya, bagaimana bisa?
“Cepat pergi! Aku bisa pulang 
sendiri!” usirku pada Kyungmin sembari membantu Kris berdiri. Wajah Kyungmin merah padam, aku yakin dia dirundung amarah. Apa sebenarnya yang telah terjadi diantara mereka berdua?
“Aku bantu kau berjalan” aku menuntun Kris ke teras. Jimin, Dongjun dan JongIn hanya melihat tanpa melakukan apapun. Sebenarnya mereka teman atau bukan?
“Ambilkan kotak P3K, Jhira”
“Aku sudah sembuh, ini obatnya” Kris menuntun tanganku untuk menyentuh pipinya. Luka di wajah Kris memang tak begitu serius, hanya ada sedikit darah disudut bibirnya.
“Apa yang membuat Kyungmin begitu marah padamu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Aku mengatakan bahwa aku pelakunya. Aku yang menodaimu”
“Kau gila?!!” pekikku seperti orang histeris.
“Biarkan dia tahu. Dia adikmu, saudara kandungmu. Aku bahkan berniat bersimpuh dibawah kaki Ibumu”
“Jangan lakukan!” lantangku.
“Kenapa?”
“Tidak boleh! Ah, sembuhkan lukamu dulu” aku menerima kotak P3K yang pembantu Jhira bawakan dan mulai membukanya. Aku mengambil kapas untuk membersihkan darah disudut bibir Kris.
“Ini langkahku untuk menjadikanmu Nyonya Wu”
“Tidak perlu! Jangan membuat harapan yang tak pasti” sergahku.
“Berani sekali kau meragukanku?” Kris menaikan volume suaranya. Dia mencengkarm kedua pergelangan tanganku, dan memajukan wajahnya.
CUPPP, dia mempertemukan kembali bibirku dengan bibirnya. Dia menyesap bibirku penuh perasaan dan mengulumnya.
“Sialan, Kris sangat tak sopan!” Kai mencela. Aku mendorong tubuh Kris, ini pasti menjadi tontonan. Dia mengelap bibirku dengan lidahnya.
“Tanamkan disini” tunjuknya pada dadaku.
“Aku sedang memperjuangkanmu”
***
Setelah aku mengutarakan rencanaku yang akan pergi berlibur ke Jepang pada Ibu, dia terkejut dengan rencana perjalananku yang menurutnya terburu-buru untuk berlibur. Ibu juga mencoba menghentikanku.
“Jepang tidak dekat, Hyunrie! Jangan menghamburkan uangmu!” akupun menyahutinya dengan mengatakan ada orang yang berbaik hati rela merogoh koceknya untuk membiayai liburanku, Jhira dan Yoonhee. Sampai sekarang, Jhira dan Yoonhee belum juga memberitahukanku siapa orang yang dermawan itu. Dan perubahan besar!
“Simpan ini, kau butuh bersenang-senang” aku sempat menolak saat Ibu memberiku uang. Namun, ia tetap bersikeras memberikannya. Ibu mengancam akan menutup seluruh pintu rumah saat aku pulang kalau uangnya tak aku bawa. Bolehlah untuk mempertebal isi dompetku.
Wajah Kyungmin terlihat masam tatkala tahu aku akan pergi berlibur tanpanya. Dia sampai merengek minta ikut denganku. Kyungmin kembali menjadi bocah tengik menyebalkan!
Jangan harap adikku tercinta! Aku bersumpah tak ingin melibatkanmu dalam urusan dengan teman-temanku. Belum terkubur dari ingatanku saat Kyungmin berbuat onar dengan memukul Kris. Walaupun aku tahu kesalahannya terletak pada Kris. Apa aku mulai peduli pada pria keparat itu?
Jhira menepati janjinya untuk menjemputku. Aku tak percaya dengan barang bawaan mereka. Mereka berlibur atau mau pindahan? Kami bertiga menggunakan kelas economy. Aku sempat membayangkan akan duduk dikelas bisnis atau kelas utama. Setelah sampai di Jepang, kami telah ditunggu dan diantarkan ke hotel penginapan dengan pemandangan langsung ke laut. Namun, kegelisahan melandaku tatkala koperku hilang. Beruntungnya uangku semua ada di tas yang selalu aku bawa. Aku memarahi petugas hotel, tadi saja kopernya masih ada.
“Diamlah, Hyunrie! Aku bosan melihatmu mondar-mandir terus” utar Yoonhee kesal.
“Aku tak bisa tenang, ini petaka bagiku!”
“Lupakan soal kopernya! Pakai pakaianku saja, sepertinya aku kelebihan bikini” tawar Jhira. Aku mengalihkan pandanganku pada beberapa koper. Jadi isinya bikini? Pakaian yang dikutuk?!!
“Terimakasih, aku lebih senang dengan baju ini ketimbang bikini milik kalian. Sepertinya aku butuh udara segar” tuturku lalu berjalan keluar kamar.
“Hyunrie!” aku membalikkan badan.
“Melupakan sesuatu lagi, Hyunrie” kedua alisku menaut tak mengerti.
“Ini, bawalah! Won tak dibutuhkan disini” Jhira dan Yoonhee tekikik geli.
“Aku tak membutuhkannya!” tolakku.
“Aku dengar bersepeda dipinggir pantai sangat menyenangkan” Yoonhee memberi saran.
“Aku punya kaki dan takkan mengeluarkan uang sepeser pun!” Jhira berlari kearahku lalu memegang tangan kananku dan meletakkan lembaran yen.
“Untuk berjaga-jaga siapa tahu kau tersesat! Kalau itu terjadi, kami akan dibunuh! Dahhh, nikmati harimu” Jhira mendorongku keluar kamar lalu menutup pintunya. Aku kembali dibuang. Tapi, tak salahnya mengikuti saran Yoonhee. Sepeda, aku butuhh sepeda. Biasanya aku akan membonceng Kyungmin, kali ini aku sendiri. Bohong bila aku tak merindukan bocah tengik itu.
Mataku berbinar tatkala melihat deretan sepeda tertata rapi.
“Paman, apa kau menyewakan sepedanya?” tanyaku. Paman penjaga puluhan sepeda ini terlihat bingung mencerna omonganku. Aku menepuk jidatku sendiri. Benar saja Paman ini bingung, dia saja tak mengetahui bahasaku. Ayolah, ini Jepang. Dan naasnya aku tak pandai bahasa Jepang ataupun bahasa inggris.
“Bodoh!” seseorang menepuk pundakku. Aku memutar badan dan mendapati Kris 
berdiri menjulang bagaikan tiang listrik dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya. Kenapa dia di Jepang? Dan kenapa aku harus bertemu dengan pria ini? Yah, aku semakin yakin Tuhan benar-benar mengutukku. Kemudian dia berbicara pada Paman penjaga sepeda dengan bahasa yang aku yakini bahasa Jepang. Aku lihat Paman penjaga sepeda mengangguk-anggukan kepala dan mengeluarkan sebuah sepeda dari barisannya. Aku salah, Paman ini mengeluarkan dua buah sepeda.
“2000 yen. Kasihkan padanya” perintah Kris. Aku menatap nanar padanya, apa tidak salah? Aku yang membayar? Apa dia takut akan jatuh miskin jika membayar sewa sepeda ini? Aku memberikan pada Paman penjaga uang yang Kris katakan dan mulai menunggangi sepeda tanpa mempedulikan Kris. Aku cukup jengkel dengannya. Dasar pelit!!
Sebagai bentuk meluapkan emosi, aku mengayuhkan sepeda cepat hingga tak bisa aku kendalikan. Aku menarik remnya, tapi masalahnya itu juga tak berpengaruh. Dalam jarak cukup dekat, aku melihat ada istana pasir dan,.
“Aaaa!” roda sepedapun menghancurkan istana pasir yang sudah bediri megah. Aku dan sepedaku terguling diatas istana pasir yang hancur. Aku mengaduh dan meringis kesakitan. Tak lama tangisan anak kecil terdengar.
“Nuna menghancurkan istanaku!” bocah laki-laki berusia kira-kira 5 tahun menghampiriku dan berbicara dengan bahasa korea. Akan lebih mudah bagiku berkomunikasi dengannya. Tangisannya sangat keras hingga membuat pengunjung disekitar menatapku seolah ingin merajamku hidup-hidup. Aku mengangkat sepeda dan membersihkan pakaianku dari pasir.
“Hustt.. Husstt.., maafkan Nuna” aku mencoba menenangkan anak ini. Tiba-tiba decitan roda sepeda yang direm mengalihkan perhatianku.
“Hyung akan buatkan yang jauh lebih besar” Kris datang menjadi pahlawan.
“Hyung tak bohong?” anak ini menghentikan tangisannya dan mengelap air mata dengan tangan mungilnya. Kris mengangguk dan mulai membuat benteng dari pasir.
“Bantuanmu sepertinya berguna untuk membangun istana yang kau hancurkan” sindir Kris padaku yang dari tadi mematung menatapnya.
“Ayo kerjakan bersama-sama!” anak kecil ini bersemangat sekali, dia bergabung dengan pekerjaan ini. Mau tak mau akupun harus terlibat. Anak ini cukup jail, ia mengotori rambutku dan Kris dengan pasir. Aku sempat takut Kris akan memarahi tingkah anak kecil ini. Namun, melihat senyuman terlukis ditampangnya aku rasa dia telah kembali menjadi manusia yang memiliki perasaan. Kris balas mengotori baju anak ini dan akupun tak terlewat menjadi sasarannya. Ah, kami seperti keluarga bahagia, bukan?
“Ini luar biasa! Terimakasih Hyung, Nuna!” anak ini memelukku dan Kris secara bergantian, meski sebenarnaya dia hanya memeluk kaki-kaki kami dengan tubuhnya yang masih kecil.
“Siapa namamu anak tampan? Kau orang korea, bukan?” tanyaku berjongkok dihadapan bocah tampan ini.
“Cho Gijoon. Ya, Ayah membawaku kemari” balasnya sambil memandangi istana yang selesai kami buat.
“Dimana Ayahmu? Kau sendirian”
“Tadinya aku bersama pengasuhku. Tapi, dia menghilang” tuturnya sedih.
“Tuan Muda!” seorang wanita paruh baya berlari tergesa mendekati kami. Wajahnya memancarkan kekhawatiran yang tak terhingga.
“Tuan Muda, tadi Bibi mencarimu di restoran. Jangan pergi tanpa izin, Tuan Muda. Bila Tuan hilang, Bibi bisa digantung oleh Tuan Cho”
“Aku bosan!” seru Gijoon dengan tangan disilangkan depan dada.
“Gijoon!!!” kini seorang wanita berparas anggun memanggil nama anak bermarga Cho ini.
“Ibu!!!” Gijoon langsung berlari. Baru ditengah jalan dia berhenti dan berbalik.
“Nuna! Hyung! Sampai Jumpa di Korea!!!” serunya sambil melambaikan tangan. Bibi pengasuh membungkukkan badan, aku dan Kris membalas membungkukkaan badan. Dia pergi kerah Tuan Mudanya berlari.
“Jadi, bagaimana dengan istana ini?” tanyaku memikirkan nasib istana yang kami buat.
“Biarkan saja. Nanti juga akan hancur dengan sendirinya” Kris kembali menunggangi sepedanya. Akupun berniat mengendarai sepedaku. Namun baru satu langkah, aku menyadari bahwa kakiku terkilir.
“Kris, bisa antarkan aku ke hotel? Kakiku terkilir, akan sulit untuk mengayuh sepeda” Kris sontak meninggalkan sepedanya.
“Duduk!” titahnya padaku. Dia berjongkok dan mulai memijat kakiku yang aku tunjukkan.
“Kris..,” panggilku lemah. Dia mendongak menatapku. Apa ada yang lebih indah dibandingkan melihatnya dengan wajah tampan yang berkeringat?
“Terimakasih” utarku tulus.
“Simpan saja terimakasihmu!” aku terperengah mendengarnya.
“Sampai kita menikah” timpalnya.
***
Barbie? Bahkan ini lebih buruk dari boneka percobaan. Jhira dan Yoonhe memaksaku mengenakan bikini berwarna hijau. Mati-matian aku menolak mengenakan pakaian terkutuk ini, tapi mereka merayuku dengan kata ‘setia’. Apa boleh buat? Koperku saja hilang tanpa meninggalkan bekas. Jhira memakai bikini biru muda dan Yoonhee merah menyala. Kami bertiga akan menghadiri pesta di pantai. Aku keluar dari hotel memakai jaket milik Jhira, beruntunglah kedua wanita itu tak sepenuhnya sinting. Mereka berdua sudah meninggalkanku dan langsung meleburkan diri pada sekelompok orang yang tengah mengadakan pesta. Wanita yang ikutpun semuanya menggunakan bikini. Jujur, aku malu! Aku mengeratkan jaket yang Jhira pinjamkan.
Tunggu, tunggu. Apa aku tak salah lihat? Bukankah itu JongIn, Dongjun, dan Jimin? Pantas saja Kris ada disini. Sudah jelas aku dijebak! Kaki melangkah dengan hentakan keras menghampiri Jhira dan Yoonhee.
“Hyunrie, kau semakin cantik saja. Bahkan dibawah rembulan, kecantikanmu bertambah 1000 kali lipat lebih cantik” JongIn menyambutku dengan rayuan menjijihkannya. Aku menarik kedua lengan wanita ini.
“Bukan waktunya bermain-main, Hyunrie. Ayolah, jangan tunjukkan sifat kekanakanmu” celoteh Yoonhee.
“Siapa yang membiayai liburan kita?”
“Tentu saja Tuan Muda Kris” Yoonhee sontak menepuk mulutnya. Jadi dia dalangnya!
“Apa mulutmu tak bisa direm?” Jhira menatap geram Yoonhee
“Panas sekali..,” keluhku melewati kedua wanita ini dan berjalan kebibir pantai yang sepi. Sudah jelas sekarang, dia membuatku dekat dengannya. Apa ini perjuangannya memilikiku?uap panas seakan keluar dari cerobong hidungku.
Aku membuka jaket, rasanya tak lengkap bila tak merasakan dinginnya air laut di malam indah ini. Tanpa seizinku, ada orang yang memelukku dari belakang.
“Tutup kembali. Aku bilang tutup kembali!” perintahnya dan aku langsung mengenalinya. Dia disini juga? Suara Kris terdengar menakutkan, apa dia sedang marah? Tapi, apa yang membuatnya marah?
“Apa lagi?!!” aku membalikkan badan dan menatapnya lelah.
“Mau berenang atau pamer tubuhmu? Lihat orang-orang yang ingin memakanmu” aku menatap sekeliling, ternyata banyak pria yang matanya tertuju padaku.
“Ikut aku!” Kris menyeretku menjauh dari bibir pantai. Dia mencengkram kuat pergelangan tanganku hingga aku meringis kesakitan.
“Lepaskan, Kris! Ini sakit!” aku berontak.
“Ikut aku atau aku akan memperkosamu disini?” ancamnya membuat bulu romaku berdiri.
“Masuk!” aku memasuki mobil hitam miliknya. Kris membawaku pergi entah kemana. Berbahaya bila aku memulai pertengkaran, suasana hati Kris sedang buruk. Kris menghentikan mobilnya didepan villa megah dekat pantai. Kris turun tanpa membukakan pintu untukku. Setidaknya bersikaplah romantis!
“Disini kau boleh berenang. Takkan ada yang melihat, ini kawasanku!”
“Tak ada yang melihat? Kau sendiri?” aku meragukan perkataannya.
“Beda lagi. Kau akan jadi istriku? Jadi, sah-sah saja”
“Ah, sudahlah! Aku ingin berenang!” aku berlari kearah bibir pantai sambil melepas jaket pinjaman Jhira. Ah, segarnya. Gelombang pelan menghantam tubuhku dan angin malam menerpa wajahku. Airnya tak terlalu dingin malah terkesan hangat. Indahnya melihat bulan purnama yang sangat cantik. Pijakan diatas pasir halus, aku bersumpah ini sangat indah. Aku menoleh belakang, tepat di teras villa Kris sedang duduk sampil memandangku.
“Aaaaa!” jeritku. Bukan jerit kesakitan namun sebagai ajang melepaskan segala beban yang melelahkan pikiran. Setelah puas berenang, aku berjalan kembali menghampiri Kris tanpa memakai jaket. Hanya menggunakan bikini, meski malu aku tak dapat pungkiri bahwa Kris sudah melihat seluruh inci tubuhku. Yang membuat langkahku ragu, apa penampilanku tak menggodanya? Dia berdiri untuk menyambutku.
“Apa kau kedinginan?” aku menggeleng. Kris memakaikanku handuk. Tunggu, handuknya tak asing dimataku.
“Seperti handukku” gumamku pelan.
“Memang.,” dia membenarkannya. Aku tercengang, dari mana dia mendapatkannya?
“Ikut aku!” dia menarikku masuk kedalam villa. Oh, tidak. Dia membawaku masuk ke dalam kamar. Tuhan, jangan biarkan dia melakukannya lagi padaku.
“Disana kopermu! Ganti pakaianmu dan tidurlah”
“Disini?” aku memastikan.
“Dimana lagi?”
“Apa kau takkan mengulanginya?” aku memastikan lagi.
“Mengulangi apa?”
“Waktu di toilet universitas”
“Apa barusan kau memintanya?” Kris memajukan wajahnya untuk melihatku lebih jelas.
“Tidak! Tidak! Keluar sana! Aku ingin ganti baju!” Kris bergerak menuju arah pintu. Ya ampun, jantungku berdebar tak menentu. Apa aku akan dicap wanita mesum oleh Kris setelah mempertanyakan hal tadi?
***
Bunyi ketukan pintu memaksa mataku membuka. Tidak di Jepang ataupun Korea. Ada saja yang merusak pagiku! Aku kira Kris, tapi malah pelayannya yang melakukannya. Setelah mandi, aku keluar kamar dan mendapati Bibi Pelayan menunggu dan dia mengantarku ke meja makan untuk sarapan pagi. Aku juga bertanya padanya dimana Kris karna dari tadi aku tak melihat batang hidungnya.
“Tuan Muda hanya berpesan agar Nona sarapan dan menunggunya disini sampa dia kembali dan dia mengatakan harus menemui seseorang” jawab Bibi Pelayan. Apa urusannya sangat penting hingga tak menungguiku terbangun untuk pergi?!! Sial, aku benci mengakui bahwa aku cemburu! Beginikah rasanya dinomor duakan?
Saat aku ingin kembali ke hotel tempat Jhira dan Yoonhee menginap, Bibi Pelayan tadi mencegatku.
“Aku hanya ingin menemui temanku, Okey? Kris takkan memecatmu atau memenggal kepalamu kalau aku pergi” dia pun memanggil sopir untuk mengantarkanku. Aku tak menemukan Jhira dan Yoonhee di hotel, jadi aku memutuskan mencarinya dipesisir pantai. Barangkali kedua wanita iu tengah menikmati kebersaamaan mereka dengan Dongjun, JongIn, Jimin dan mungkin Kris juga aa disana! Apa mereka menjemur badan selayaknya 
ikan asin di cuaca seterik ini dengan pakaian setan?
Sudut bibirku terangkat, akhirnya mataku dapat menangkap keberadaan mereka. Hey, hey, tak ada Kris? Lalu siapa yang dia temui?
“Apa kurang jelas? Kau tuli sekali! Kris kembali ke Korea dengan wanita itu!” tegas Dongjun meyakinkan sahabat-sahabatnya. Suarnya dapat aku dengar dari jarak sekitar 10 m dari mereka. Wanita? Jadi Kris menemui seorang wanita? Apa ini pertanda berakhirnya harapanku padanya? Bahkan hubungan kami saja belum dimulai. Berita ini seperti belati yan menusuk ulu hatiku. Katakan berita ini palsu! Aku berlari kembali ke dalam mobil dan memerintahkan sopir mengantarku pulang ke Villa milik Kris. Aku menangis sejadi-jadinya didalam mobil. Ketika roda mobil berdecit, aku langsung berlari menuju kamar, memasukkan semua barang-barangku dalam koper. Bibi Pelayan menahanku kembali, tapi aku malah membentaknya.
“Antarkan aku ke Bandara!” suruhku pada sopir tadi. Bagaimanapun aku harus kembali ke Korea. Aku yang akan memastikannya sendiri. Uang pemberian Ibu berguna juga, feeling seorang Ibu memang tak pernah salah. Aku menggunakan penerbangan terawal dengan kelas economy yang sesuai dompetku.
Waktu pesawat sudah mendarat di tanah Negara Korea Selatan, tubuhku mulai panas ingin menemui pria yang sudah membuatku seperti orang gila. Aku bergegas menarik koperku dan pergi ke rumah Kris. Mendapatkan penjelasannya atau menamparnya? Itu pertanyaan yang aku ajukan pada diriku sendiri. Aku membiarkan koperku berada di taksi sesudah tiba di depan rumah Kris. Aku menyuruh sopir taksi menunggu 15 menit. Aku berjalan dengan tekat bulat. Aku menata nafasku yang memburu dan debaran jantungku, jangan biarkan mimpi buruk datang! Tanganku memencet bel dekat pintu. Tak lama, pintu membuka perlahan.
“Siapa?” tak seperti yang aku harapkan. Seorang wanita berambut merah menyala muncul dibalik pintu. Wajahnya sangat cantik dan dia menaikan alisnya kala aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Maaf” kataku. Seharusnya wanita itu yang meminta maaf padaku, bukan malah sebaliknya! Aku berbalik dan berjalan kembali ke dalam taksi untuk melanjutkan perjalanan ke rumah. Sudahlah! Apa gunanya menangisi Kris? Menceritakan bagaimana sakitnya aku dibuang? Aku benar-benar pelacur dimatanya!
***
“Nuna, jangan dimainkan makanannya. Cepat makan!” titah Kyungmin melihatku hanya membolakKbalikkan makanan. Selera makanku bahkan sudah hilang semenjak tahu Kris kembali ke Korea dengan seorang wanita.
“Oh, yaya”
“Liburanmu cepat sekali” Ibu angkat bicara.
“Iya” jawabku.
“Nuna tak membawa oleh-oleh?” tanya Kyunmin.
“Iya”
“Nuna kau sakit? Dari tadi hanya menjawab iya iya iya saja” aku mendongak menatapnya.
“Tunggu, apa kau habis menangis? Matamu merah” Ibu dan Kyungmin menatapku lekat.
“Apa pria tinggi itu pelakunya?” Ya Tuhan, adikku benar-benar orang multitalenta. Dia menohok leherku dengan tebakkannya yang tepat sasaran.
“Sudahlah. Aku ingin istirahat. Selamat malam” aku berdiri tanpa menyelesaikan makan malamku dan beranjak meninggalkan meja makan. Aku berjalan limbung menuju kamarku dan membaringkan tubuhku yang lelah diatas ranjang. Apa Jhira dan Yoonhee mencariku? Seharian ini aku tak meniliki keadaan ponselku. Hal ini aku lakukan untuk menghindari ponselku rusak akhibat bantingan tanganku yang kesal kepada Kris. Apa pria itu mencariku? Apa sekarang dia khawatir padaku? Mana mungkin Park Hyurie!
Tok! Tok! Tok!
“Nuna ini aku!” seru Kyungmin dari depan pintu. Akhirnya anak ini tahu etika juga masuk kekamar orang.
“Ada apa?” sahutku dengan suara serak.
“Boleh aku masuk?” CEKLEK! Tak ada gunanya Kyungmin minta izin, bahkan sebelum aku memberi jawaban dia sudah masuk ke kamarku! Derap kaki Kyungmin membuatku takut, dia berhenti disamping ranjang menghadapku.
“Apakah aku harus meletakkan kapak dibawah lidah Kris Hyung baru kau mau bercerita?” aku mengadahkan kepalaku untuk melihatnya lebih jelas.
“Aku kecewa sekarang. Sudah aku katakan, jangan ada yang disembunyikan dariku! Apa keberadaanku benar-benar tak bernilai?” Kyungmin menyibakkan anak rambut yang menutupi wajahku. Aku meringsut turun dari ranjang, berdiri menghadap Kyungmin.
“Peluk aku!” perintahku. Kyungmin tanpa ragu merengkuh tubuhku, memberikan rasa tenang, nyaman, dan aman. Kehangatannya membuatku tak ingin melepaskan pelukannya. Entah sejak kapan aku tak bisa membendungnya, aku kembali membuat baju Kyungmin basah dengan air mata.
“Aku tak bisa sekuat Ibu! Tidak bisa, Kyungmin!” jeritku.
“Apa aku mengharuskanmu menjadi sama dengan Ibu?” Kyungmin mengecup lembut rambutku.
“Sekarang, apa sudah ada yang ingin kau sampaikan?” tanyanya kembali.
“Dia, dia yang menodaiku. Dia-dia pergi dengan wanita lain”
***
Semalaman aku menangis dipelukan Kyungmin. Dia kembali berubah menjadi pria dewasa dan akan terlihat kekanakannya bila ada Ibu. Kyungmin memberiku pencerahan dengan masalah yang aku hadapi sekarang.
“Biarkan hubungan kalian mengalir seperti air. Anggap saja kalian berdua sedang diatas
tebing dan siap terjun. Lihatlah keindahan dibalik semuanya seperti halnya keindahan yang disuguhkan air terjun”
Kyungmin membelikanku rosela cake 2 kotak untuk bekal tambahanku. Dia melakukannya untuk membuatku tak bosan dengan satu menu sarapan. Lebih tepat dia harus menyalahkan Ibu yang selalu membawakanku sandwich. Kyungmin juga mengancamku dengan kata-kata tajamnya akan menemui Kris dan membuatnya babak belur lagi kalau aku masih bersedih dan dia juga kembali mengantarku ke kelas pertama.
Jhira dan Yoonhee memburuku, setiap pertanyaan yang mereka ajukan aku hanya menjawab Ya atau Tidak, kemudian melarikan diri dari mereka. Setelah lama tak berhubungan, aku kembali mengirim pesan pada Joongki Sunnbae untuk menemaniku di Perpustakaan, aku pikir itu tempat yang mustahil Kris kunjungi. Joongki Sunnbae datang tanpa terlambat, memang pria idaman. Namun, jujur sekarang hatiku tak memihak Joongki Sunnbae. Tak ada namanya dalam pikiranku. Aku meminta tolong pada Joongki Sunnbae untuk memilihkanku novel yang menurutnya bagus.
“Aku kira kau memintaku kemari untuk membantumu mengerjakan tugas Dosen Jang” ucap Joongki Sunnbae dengan menggelengkan kepala dan berdecak.
“Tidak salah bukan? Mahasiswa juga manusia! Perlu hiburan Sunnbae” balasku. Joongki Sunnbae memberiku 2 novel yang menurutnya bagus, aku dan dia pun mulai membaca didekat jendela. Dia membaca buku tentang sejarah Dinasti yang ada di Korea. Kami pun terhayut dengan bacaan kami masing-masing.
“Sepertinya aku harus pergi” aku bingung dengan Joongki Sunnbae yang berpamitan secara tiba-tiba.
Sebelum aku menanyakannya, sosok Kris yang muncul menjadi jawaban. Joongki Sunnbae mungkin ingin memberi waktu untukku dan Kris. Joongki Sunnbae kembali mengembalikan buku ke rak dan pergi dengan menggendong ransel hitamnya. Aku juga merapikan buku dan memakai kembali ransel. Menaruh buku ke raknya dan bergegas pergi sebelum datang bencana. Tapi, bukankah melihatnya saja sudah bencana bagiku?
“Lepaskan tangan kotormu!” kataku penuh penekanan pada Kris yang mencengkram pergelangan tanganku. Aku tak tinggal diam dan terus melakukan perlawanan.
“Asal kau tahu Tuan Wu, kebencianku bahkan bertambah 100 kali lipat setiap melihat wajahmu!” kataku. Kris memandangku cemas, lalu dia membelai pipiku pelan.
“Kau tidak terluka” dari nada suaranya ada kelegaan pada diri Kris. Garis lengkung tulus dibibir Kris tunjukkan padaku, aku yakin ini kali pertamannya aku melihat senyuman ini. Senyuman yang menggoyahkan pendirianku, senyuman yang menentramkan hatiku. Oh, ada apa dengan jantungku? Apa ini jantung yang berdebar?
“Aku sangat membencimu!” tegasku. Kris menjatuhkan tanganku dan aku berlari meninggalkannya.
***
Semenjak itu aku menghindari kedua sahabatku, Jhira dan Yoonhee. Mereka berdua sudah jelas-jelas membuat konspirasi dengan Kris. Apa mereka masih dapat dipercaya? Setiap hari perutku mual melihat Kris yang kembali sebagai pria brengsek dengan menggandeng wanitanya yang bergonta-ganti. Sungguh, dia sudah mengiris-ngiris hatiku dengan tingkahnya. Apa ini artinya aku cemburu?
“Apa kau hamil?” tanya Kris setelah berhasil menyeretku keluar dari kelas.
“Tidak!” jawabku tegas. Meskipun aku belum memastikannya.
“Aapa pedulimu sebenarnya? Mau memberikanku uang jika aku tengah mengandung anakmu untuk aborsi?”
“Tolong, jangan menyulutkan emosiku!” seru Kris.
“Bisakah Tuhan menakdirkanmu untuk kecelakaan dan terkena amnesia? Aku benar-benar mengharapkannya”
“Ah, sudah tak ada yang bia kita bicarakan lagi!” aku melangkah melewatinya. Namun, Kris kembali mencegatku dengan genggaman tangannya.
“Apalagi? Lepaskan tangan kotormu yang selalu membelai wanita-wanita!” Kris tercengang mendengar ucapanku, dia menerjunkan tanganku kasar.
“Beruntung aku tak hamil, jadi tak ada kewajiban untukmu mempertanggungjawabkan kesalahnmu. Barangkali ada banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan pertanggungjawabanmu! Dan jikapun aku hamil, aku tak membutuhkannya! Aku tak begitu bodoh mempercayai orang sepertimu” aku membalikkan badan, mendengar derap sepatu menjauh. Tubuhku terasa lemas dan jatuh ke tanah tak mampu menyangga tubuhku. Aku menyedihkan bukan? Mataku terasa perih, air pun menggenang di pelupuk mata dan jatuh tanpa bendungan lagi. Aku memegangi dadaku yang terasa sesak. Tiba-tiba ada sapu tangan yang mendarat diwajahku, mengeringkan air mata. Aku menatap tak percaya dengan apa yang mataku tangkap. Dia kembali dihadapanku?
“Langkahku sudah semakin dekat dengan tujuanku dan kau dengan gampangnya memblokade jalanku?” Kris menarik tangan kananku. Dia menyelipkan cincin perak dengan kristal biru di tengahnya.
“Ini untuk mengikatmu. Jangan kabur dariku atau berpaling dengan pria lain jika kau tak ingin ku bunuh”
*** 
Keluar dari supermarket, aku mereka ulang barang-barang yang sudah terbeli. Barangkali ada barang yang terlupakan untuk dibeli. Tapi, sepertinya sudah lengkap. Aku melangkah ringan dengan menenteng kantong belanjaan. Sesekali bersenandung dan mengedarkan pandanganku ke segala penjuru. Berjalan di trotoar memang sangat mengasyikan. Seketika jalanku berhenti, aku melihat wanita berambut merah yang ada di rumah Kris berciuman. Bukan dengan Kris, melainkan dengan Joongki Sunnbae. Namun, kenapa tak ada rasa sakit seperti dulu saat aku tahu dia wanitanya Kris? Aku langsung memanggil taksi untuk ke rumah Kris. Aku butuh penjelasan jika tak ingin terus-menerus terperangkap dalam ketidaktahuan. Apa wanita itu kekasih Joongki Sunnbae? Karna aku yakin Joongki Sunnbae bukan pria yang suka bermain di belakang kekasihnya. Tapi, apa hubungannya dengan Kris? Mengapa dia ada di rumah Kris?
“Kris! Dimana Kris?” tanyaku pada Bibi pelayan di rumah ini. Aku datang seperti orang dikejar rentenir dan membutuhkan perlindungan.
“Saat ini Tuan muda sedang di kamar” aku menerobos masuk dan meletakkan kantong belanjaanku sembarang. Menaiki tangga menuju kamar Kris, aku sudah tahu dimana letak kamarnya. Aku juga sudah pernah ke rumah ini, Kris juga memperkosaku di kamarnya. Hebat bukan pria gila itu?
Aku menurunkan daun pintu tanpa mengetuknya, kakiku melangkah dengan langkah ragu. Deru nafas Kris teratur, aku tak tega membangunkannya. Demi Tuhan! Wajahnya sangat tampan!
Jari lentikku menelusuri garis wajahnya yang sempurna. Bibirnya yang penuh memacu detak jantungku. Kelopak mata Kris mulai memisah, akupun menjauhkan jariku dari wajahnya.
“Hyunrie?!!” dia terkejut dengan kehadiranku. Aku tak membalasnya, melainkan malah menciumnya. Mataku terpejam, aku tak ingin kehilangan saat-saat seperti ini. Aku menyesap bibirnya dan mengulumnya. Tanganku menempel pada dada bidang Kris.
“Kendalikan dirimu! Kau seperti kesurupan!” Kris melepaskan tautan bibir kami. Dia segera duduk sambil menghadapku.
“Aku salah. Dia bukan wanitamu bukan?” dahi Kris mengerut
“Wanita berambut merah yang dirumahmu” jelasku.
“Lee Hyeri? Dia saudaraku” Kris membuang muka saat mengatakannya.
“Aku pikir dia-”
“Wanitaku?” sela Kris cepat, aku mengangguk.
“Park Hyunrie, aku tak menyalahkanmu kalau kau beranggapan wanita-wanita yang disekitarku adalah wanitaku. Tapi, apa ini alasanmu meninggalkan villa dan kembali ke korea?” aku kembali mengangguk. Kris terlihat menghela nafas.
“Bodoh!” Kris memajukan wajahnya.
“Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat mengetahui kabar tentangmu yang pergi ke bandara? Bahkan kau tak memberitahukan pada Jhira atau Yoonhee terlebih dahulu! Kau membuat kekacauan dengan ulahmu!” Kris menyalahkanku.
“Apa kau percaya aku melakukannya untukmu?” tanyaku menatapanya seduktif tanpa berkedip.
“Aku benar-benar mencintaimu!” aku berhambur memeluknya. Menghirup aroma rambut dan lehernya.
“Apa kita sudah berkomitmen?” tanyaku melepaskan pelukanku dan menatapnya lurus.
“Kau gila? Sudah aku katakan, kau akan jadi Nyonya Wu. Kita akan menikah!” mataku membulat sempurna, apa tidak terlalu cepat? Belum sadar dari keterkejutanku, Kris menyerangku tiba-tiba. Dia menciumku dan membaringkan tubuhku diatas ranjangnya. Aku sudah ada dibawahnya. Sungguh, aku tak mempermasalahkan bila dia mengajakku melakukan sex.
Kris Wu, pria brengsek yang mengikatku dan merebut hatiku dengan cara-caranya yang tak rasional. Dengan tangan Tuhan juga Iblis yang menggentayangi hidupku berubah menjadi pasangan jiwaku. Rencana Tuhan sungguh indah, dan Kris aku sebut sebagai pemberiannya yang berharga.
“Aku rasa, kau sedang hamil” tutur Kris saat mempertemukaan dahi kami. Kepalaku menggeleng, menyangkal penuturannya.
“Aku yakin disini ada anakku” Kris mengelus perutku dari luar baju.
“Tidak, aku tak merasakannya!” 
“Aku ayahnya, jadi lebih tahu!” 
“Bodoh! jika iya, aku merasakannya. Aku Ibunya!” 
“Ayahnya memiliki ikatan batin yang kuat” 
“Ibunya memiliki ikatan lebih kuat!” 
“Terserah!” 
END

Fc Populer:

  • Anonim

    Sumpaaaah ini cerita kereeenn banget….feelnya dapet!! Semangat buat authornya… fighting!!

%d blogger menyukai ini: