I Love You 我 爱 你

0
wu yifan ff nc
Author : Baby’s Soo
Main Cast : Wu Yifan
Zahra Tan
Genre : Yadong, friendship, & romance
Length : 5204 Words
Rating : NC 21
Cover by : Genevra Poster Design 

Disclaimer: Cerita ini hanya fiksi belaka. Apalagi ada kesamaan cerita, hanya kebetulan saja. Tapi cerita seorang penulis satu dengan penulis lain tidak mungkin akan sama persis. Tokoh milik TYME dan orang tuanya masing-masing. Di sini saya hanya meminjam nama Wu Yifan sebagai karakter dalam cerita saya, dan Zahra dengan Yahya karena ingat dengan sebuah novel yang pernah diperankan mereka. Saya tidak bermaksud menjatuhkan pihak manapun dalam ff ini. Jika tidak suka, lebih baik tidak usah dibaca.

Inilah diriku. Gadis blasteran Indonesia dan China yang beberapa tahun terakhir ini menetap di Beijing untuk menjalani pendidikanku. Usiaku 21 tahun. Aku terlahir sebagai gadis muslimah yang selalu taat terhadap perintahnya. Di negara kelahiranku, Indonesia, semua orang menjunjung tinggi nilai moral. Tidak seperti di sini. Hampir semua orang melakukan perbuatan itu di depan umum. Dan ketika aku bertanya mengapa, maka mereka dengan mudah menjawab, “Ini biasa saja. Tidak melampaui batas. Jadi wajar saja, bukan?”

Hujan tak segera beranjak dari jalanan. Sudah ratusan kali aku melirik jam tanganku, dan sudah puluhan kali pula aku menelpon Yahya, calon suamiku. Namun dia tak kunjung datang.

Ya, dialah Yahya. Pria yang dijodohkan dengan diriku oleh ayahku dan ayahnya. Jujur saja aku merasa keberatan dengan perjodohan ini. Baru beberapa hari kenal, mereka langsung menjodohkanku dengannya. Bahkan setelah lulus kuliah ini, aku harus berangkat ke pelaminan bersama Yahya. Sebenarnya aku ingin menolak perjodohan ini. Sebab, aku sudah menaruh hatiku pada seorang pria yang aku pun tahu, aku tak akan bisa menjalani hidup dengannya.

Melihat ada bangku yang kosong, aku langsung mendekatinya. Kududukkan pantatku di sana, menanti kedatangan Yahya.

“Huuuft…” Aku menarik napasku, lalu membuangnya perlahan hingga tampaklah uap air yang keluar dari mulutku.

Aku tahu, di sini sangat dingin. Bahkan pakaianku sudah sangat basah karena tangisan langit, dan kurasa tubuhku mulai menggigil.

Aku merogoh saku celanaku, lalu mengambil ponselku. Kukirimkan pesan pada Yahya yang berisi beberapa deret kata agar dia segera datang menjemputku. Setelah itu, aku kembali menunggu balasannya.

“Brrr…”

Oh, tidak. Aku sudah menduganya. Tubuhku menggigil hebat sekarang. Di mana engkau, Yahya? Apa kau tahu aku sangat kedinginan?

Ceeeess…

Beberapa kendaraan melintas di depanku. Aku berharap salah satu di antara mereka mau berhenti lalu memberikan tumpangannya padaku. Meskipun aku tak kenal siapa pemiliknya.

Ciiiiiittt…

Tepat saat itu juga doaku terkabul. Sebuah mobil sport metalik silver berhenti tepat di hadapanku. Alhamdulillah, engkau mau mengabulkan doaku. Tapi, tunggu. Sekarang yang kupikirkan siapa orang yang ada di dalam sana? Yahya?

Kaca mobil itu terbuka, menampakkan sosok seorang pria yang selama ini kukenal. Senyumnya mengembang, dan wajah rupawannya sangat bersinar malam ini. Tapi aku sadar. Dia bukanlah malaikat yang dibuat dari cahaya. Dia hanyalah seorang manusia yang diciptakan olehmu dengan paras yang menawan. Astaghfirullah… Aku terlalu berlebihan memuji ciptaanmu.

“Wu Yifan?”

Dia Wu Yifan, sahabat baikku. Kuliah di fakultas yang sama, dan jurusan yang sama denganku. Yang kutahu alasannya menjadi dokter karena dia ingin membantu sesamanya.

“Ni hao…” sapanya ramah.

“Ni hao… ” sapaku balik.

“Zahra, sedang apa kau di sini?” tanyanya.

“Mmm… Aku sedang menunggu seseorang.” jawabku cepat.

“Kau tahu? Ini sudah malam dan hujan turun deras sekali. Kau ini seorang wanita dan seorang wanita tidak boleh berada di luar jika malam. Bukankah agamamu mengajarkan seperti itu?” katanya panjang lebar.

Ah, sejak kapan kau tahu tentang agamaku, Yifan? Selama aku berteman denganmu, aku tak pernah sekali pun membicarakan hal itu padamu.

“Masuklah ke mobilku!”

“Tapi aku sedang menunggu temanku. Beberapa menit lagi mungkin dia akan datang.” Tunggu, sejak kapan aku berbohong?

“Baiklah. Aku akan menunggumu sampai orang itu datang.”

Drrrt.. Drrrt…

Ponselku bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Secepat kilat tanganku bergerak guna mengambil benda itu lalu membaca pesan tersebut. Yahya? Oh, seharusnya aku tidak terlalu mengharapkan kedatangannya.

“Bagaimana? Kapan dia akan datang menjemputmu?” selidik Yifan tiba-tiba.

“Bú huì. Maksudku, dia tidak jadi ke sini.”

“Kalau begitu, aku yang akan mengantarmu.”

Aku memikirkan perkataan Yifan sebelum akhirnya menjawab, “Kurasa lebih baik tidak. Dui bu qi.” seraya menundukkan kepala.

“Búyòng kèqì. Kita kan sudah lama berteman. Apa aku tidak boleh mengantarmu pulang?” tawarnya lagi.

Aku kembali memikirkan perkataan Yifan. Apakah aku harus menolak ajakannya? Bukankah kita tidak boleh menolaknya jika hal itu memang baik?

“Hǎo de,” kataku akhirnya.

Kurasakan hawa dingin tak lagi menyelimutiku. Oh, rupanya dia sudah berdiri di sampingku sambil membuka payungnya untukku. Aku heran. Kenapa tubuhku merasa hangat? Padahal seluruh tubuhku sudah basah kuyup.

“Kau jalan di depanku.”

Yifan menghentikan lamunanku seraya tersenyum. Setelah itu aku segera menuruti perkataanya, kemudian dia menyusul di belakangku. Ah, aku tahu. Dia ikut basah karena diriku.

Brrrrk

Setelah masuk ke dalam mobil, dia langsung menutup pintunya. Takut jika hujan akan ikut masuk ke dalam. Tak lama, Yifan mulai memacu mobilnya.

“Yifan, dui bu qi. Aku sudah membuat tubuhmu basah kuyup.” ujarku.

“Méiguānxì. Aku hanya berniat menolongmu.” ucapnya masih menatap ke depan.

“Xie xie.” ucapku yang langsung dibalas senyumannya. Entah sudah berapa kali Yifan tersenyum padaku hari ini.

Mobil berjalan cepat namun tidak terlalu cepat. Kulalui bersama Yifan dalam diam. Apakah dia tidak ingin membuka sebuah percakapan? Biasanya dia tidak akan kehabisan bahan candaan bila denganku.

“Zahra, apa kau tidak mengganti pakaianmu?” tanyanya tiba-tiba.

“A apa maksudmu, Yifan?” tanyaku tergagap.

“Oh, dui bu qi. Aku tidak bermaksud…”

“Ah, ya. Aku tahu.”

Aku mencoba menutupi rasa gugupku dengan cara tersenyum padanya. Jujur saja aku malu saat dia tiba-tiba berbicara seperti itu. Tapi biarlah. Semua hal mengalir begitu saja seperti air.

Drrrtt… Drrrtt…

Tiba-tiba ponselku kembali bergetar. Kali ini bukan pesan tetapi panggilan. Ngomong-ngomong, siapa yang memanggilku? Aku segera mengangkatnya tanpa melihat siapa peneleponnya.

“Wèi nín hǎo,” kataku sembari menempelkan ponselku dengan telingaku.

“Halo, Zahra. Kamu ada di mana sekarang?” kata sang pemilik suara di seberang sana.

Aku tahu siapa pemilik suara ini. Berbicara dalam Bahasa Indonesia yang lancar, karena dia memang orang Indonesia. Selain itu aku juga sangat menyayangi wanita ini. Dia ibuku. Dan aku sangat yakin kalau Yifan tidak akan tahu apa yang aku bicarakan dengan ibuku.

“Zahra lagi dalam perjalanan. Bentar lagi pulang kok, Mah.” balasku.

“Zahra, mamah sama papah nggak ada di rumah. Sekarang kamu nginep di rumah temen kamu, yah. Mamah ada urusan penting.”

“Lho, Mah. Urusan penting apa?”

“Mamah lagi ngurus undangan pernikahan kamu sama Yahya. Pokoknya kamu pasti suka.”

Aku menghela napasku panjang. Secepat itukah? Apa mereka tidak tahu aku tidak suka dengan perjodohan ini?

“Yah, Mamah. Zahrakan nggak mau ditinggal sendirian.”

“Ah, pokoknya kamu harus ngikutin perintah mamah. Dan ingat, kamu nggak boleh nginep di rumah temen kamu yang cowok itu. Siapa namanya? Kalo mamah nggak salah namanya Yifan. Benerkan?”

Mendengar namanya disebut oleh ibuku, Yifan langsung ikut mendengarkan pembicaraanku.

“Iya, namanya Yifan.”

“Ya udah. Mamah tutup teleponnya..”

“Wassalamualaikum, Mamah. Zahra sayang Mamah.” kataku langsung memotong ucapannya.

“Wa’alaikumussalam. Mamah juga.”

Bip~

Setelah itu sambungan telepon terputus. Aku hanya menatap keluar melalui kaca mobil. Aku merasakan dilema yang sangat berat. Aku tidak ingin dijodohkan, tapi bagaimana dengan orangtuaku?

“Tadi itu, ibumu?” tanya Yifan

“Iya. Kau tentu sudah menguping pembicaraan kami, bukan?” selidikku mengejeknya.

“Hahaha… Bú huì. Aku hanya mendengar saja. Kau lupa kalau aku tidak bisa berbahasa Indonesia? Nnnggg… Dan tadi aku juga mendengar kalau kalian berdua menyebut namaku. Apa yang kalian bicarakan?” katanya percaya diri.

Aku langsung memutar otakku. Apa aku harus mengatakan padanya kalau aku harus menginap di rumah seorang teman sekarang?

“Oh, benarkah? Iya, dan dia bilang aku harus menginap di rumah seorang teman karena sesuatu hal.” jelasku panjang lebar. Sepertinya keputusanku ini salah.

“Dan teman yang dimaksud ibumu adalah aku?” selanya. Kulihat secerca harapan muncul di balik kilatan matanya.

“Mmm… Maksud ibuku bukan seperti itu. Dia malah tidak mengijinkanku agar menginap di tempat tinggalmu.” kataku meluruskan dugaanya.

Air muka Yifan berubah seketika. Wajahnya mendadak masam setelah mendengar penuturanku. Jujur saja aku juga tidak ingin menginap di tempat tinggalnya, karena selain aku belum pernah ke sana, aku pun tidur serumah dengan seorang pria yang bukan muhrimku.

“Tapi di apartementku ada dua kamar. Kau bisa menginap di kamar yang tidak terpakai. Jangan khawatir, kondisinya masih bagus.” ujarnya lagi.

“Sebaiknya aku menginap di hotel malam ini.”

“Apa ada hotel yang buka malam-malam seperti ini?”

Aku mengerucutkan bibirku. Berdebat memang bukan ahliku. Apalagi berdebat dengan orang ini. Menyebalkan!!!

“Aku akan menginap di rumah Yelin.” kataku kemudian.

“Dia sedang berlibur.” jawab Yifan ketus.

“Hah, benarkah? Kenapa aku tak tahu?”

Aku terus memikirkan akan kemana aku sekarang? Semua hal yang muncul di otakku hanya itu saja. Kenapa aku tidak bisa berpikir cepat bila dalam keadaan seperti ini?

“Nnnggg… Aku akan menghubungi Shanlu. Pasti dia bersedia jika aku menginap di rumahnya.” tuturku yang langsung dibalas cengiran Yifan. Apa maksudnya?

Segera kukirimkan pesan pada Shanlu, sahabatku. Selang beberapa menit kemudian dia membalasku. Tunggu, apa katanya?

“Bagaimana?” selidik Yifan mengejutkanku.

“Neneknya Shanlu sakit. Dan Shanlu harus merawatnya sampai… Entahlah, aku tidak tahu.”

“Jadi?”

Kupalingkan wajahku ke tepi jalan. Melihat kemenangan yang terpancar dari wajah Yifan membuatku sangat muak. Tapi bagaimanapun juga aku harus mengakui kekalahanku dengan berkata, “Hǎo de, aku menginap di apartemenmu. Asal kau tidak berbuat macam-macam padaku.” lalu mengatupkan mulutku.

Tiba-tiba dia mendongakkan wajahku di depan wajahnya. Kurasakan hembusan napasnya yang begitu teratur. Tak lama, dia menunjukkan smirk menawannya hingga membuat darahku berdesir seketika.

“Aku tidak akan macam-macam padamu, Nona.” ucapnya seraya mencolek daguku.

“Kyaaaa… Yifan! Kau ini!” Aku langsung memukulinya dan mencubit lengannya. Biarkan saja dia terus memohon padaku agar aku menghentikannya. Aku tidak peduli. Kaupikir aku wanita apa?

“Aaaww… Berhenti, Zahra. Aku hanya… Aaaww..”

*****

Setelah selesai memberi pelajaran pada Yifan, kami pun akhirnya sampai di depan rumahnya. Yifan segera memarkirkan mobilnya di bagasi, lalu masuk ke dalam apartementnya.

“Ayo masuk! Anggap saja rumahmu sendiri.”

Apa-apaan dia ini? Mana bisa aku menganggap apartement ini sebagai rumahku dengan mudah? Ah, tunggu. Sepertinya aku harus cepat-cepat membuang pertanyaan-pertanyaan anehku, karena aku penasaran dengan apartemen seorang Wu Yifan. Hey, sepertinya Yifan membohongiku. Dia bilang ada dua kamar di apartementnya. Tapi aku tak melihatnya.

“Duduklah!”

Aku mengikuti perintah Yifan. Tak sengaja mataku menangkap sebuah objek yang membuatku kembali penasaran. Kuusap foto itu, lalu kucermati siapa saja yang ada di sana.

“Yifan, mereka siapa?” tanyaku ketika Yifan kembali dengan coklat panasnya.

Yifan menarik kedua sudut bibirnya kemudian berkata, “Mereka orangtuaku. Mereka meninggal karena kecelakaan saat aku kecil.” lalu menyodorkan coklat panasnya kepadaku.

“Maafkan aku, Yifan. Mereka berdua…” kataku setelah menerima coklat panasnya.

“Ya, aku blasteran China dan Kanada, seperti kau blasteran Indonesia dan China.” Yifan menggesturkan tubuhnya agar nyaman saat berbicara denganku.

“Oh…” Aku menganggukan kepaku sebagai tanda mengerti.

Kini aku mulai meminum coklat panas Yifan. Minun coklat panas saat musim hujan seperti ini memang sangat cocok. Rupanya Yifan pandai memilih selera. Tapi untuk selera hati, entahlah, dia tidak pernah membahas hal ini padaku.

“Zahra, apa kau tidak mengganti bajumu?” tanya Yifan.

“Nnnggg… Aku tidak membawa baju lain selain yang kupakai.” ucapku sembari menunduk malu.

Yifan langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan yang menurutku itu adalah kamarnya. Selang beberapa detik kemudian, dia kembali dengan membawa beberapa pakaian.

“Kau bisa memakai bajuku.” Aku mengerutkan keningku saat Yifan berkata seperti itu.

“Jangan khawatir. Ini baju lamaku. Ya, memang besar. Tapi tak sebesar yang kukenakan.” ucapnya seraya menyodorkan pakaian tersebut.

Belum sempat aku menerimanya, dia kembali berkata,” Dan kamarmu berada di lantai atas. Jika ada sesuatu, kau bisa meminta bantuan padaku.” sambil menunjuk tempat itu.

“Hǎo de,”

*****

Ah, bodohnya diriku. Kenapa mukenahku sampai basah seperti ini? Bagaimana aku bisa melaksanakan perintahnya? Seharusnya aku sholat dahulu, baru kukerjakan tugas kuliahku. Hey, mungkin Yifan bisa membantuku. Jadi kuputuskan untuk menemuinya di bawah.

Aku segera beranjak dari tempat tidur ini. Baru beberapa langkah, aku teringat kalau aku tidak memakai kerudung. Aduh… Aku ini memang bodoh. Aku pun kembali ke kamar, memakai penutup kepalaku yang masih basah, lalu berniat menemui Yifan.

Tap… tap… tap…

Satu persatu anak tangga mulai kulewati. Ketika sudah sampai di lantai pertama, kulihat Yifan tengah sibuk di meja belajarnya bersama benda yang ada di tangannya. Aku merasa tidak asing dengan benda itu meskipun aku tidak memilikinya. Tampak seperti buku, tetapi entahlah.

“Yifan,”

Yifan menoleh ketika aku memanggil namanya. Di saat yang bersamaan, Yifan menyembunyikan benda itu di laci mejanya. Aku memicingkan mataku saat itu juga.

“Benda apa itu?” tanyaku membuatnya terkejut.

“Hah? Oh, tadi itu hanya buku biasa.” katanya tersenyum dengan maksud meyakinkanku.

“Aku tidak percaya. Coba kulihat!” Aku langsung membuka laci mejanya dan dalam sekejap mata Yifan sudah mengambil benda itu sebelum aku melihatnya.

Menatap mata Yifan ketika berdiri membuatku sangat lelah. Pasalnya, tubuh Yifan terlalu tinggi, apa karena tubuhku yang terlalu pendek? Ah, kurasa tidak. Inilah kebiasaanku. Mencari kebohongan di balik mata seorang Wu Yifan.

“Kau berbohong, Yifan.” pekikku.

“A aku tidak berbohong. Ini hanya buku biasa.” ujarnya lalu mencoba menghindariku.

“Atau jangan-jangan, itu buku…”

“Hey, dengar yah. Aku bukan pria semacam itu. Sudahlah, aku harus belajar. Kalau tidak punya keperluan, tidak usah kemari.” Yifan langsung masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup pintunya rapat-rapat.

Tok… tok… tok…

Sesegera mungkin aku mengetuk pintunya karena aku baru teringat dengan tujuanku datang ke sini.

Sayup-sayup kumendengar kalau dia berkata, “Sudah, kau kembali saja. Rasa penasaranmu itu sudah melebihi batas kewajaran.” Aku hanya berkacak pinggang mendengar ucapannya kemudian kembali mengetuk pintu itu dengan keras.

Tok… tok… tok…

“Yifan, apa kau mempunyai kain bersih yang bisa digunakan untuk beribadah orang sepertiku?” tuturku, oh, lebih tepatnya pekikku.

Sedetik kemudian aku mendengar suara orang yang tengah mencari sesuatu di dalam sana. Tak lama, Yifan membuka pintu tersebut lalu menyodorkan sehelai kain padaku.

“Apa kain ini kausimpan di tempat yang seharusnya?” tanyaku lagi.

“Kain itu bersih. Jadi gunakanlah dan tidak usah banyak bicara. Jangan ganggu aku, aku sedang sibuk.” jawabnya ketus.

Aku pun menghela napasku panjang, dan berujar, “Xie xie.” kemudian kembali ke kamarku. Ah, aku ralat, kamar Yifan yang ia pinjamkan padaku secara cuma-cuma.

*****

Mataku seketika terbuka saat mendengar suara parau yang memekkakan telinga. Ngomong-ngomong, siapa yang bergumam tidak jelas di tengah malam seperti ini? Harus kuakui itu mengganggu istirahat orang. Tapi lebih baik aku mencarinya dan mencoba menghentikannya.

Aku mengucek mataku sebelum akhirnya beranjak dari ranjang ini, tentunya masih menggunakan kerudungku. Yifan membelikannya padaku sebelum aku tidur. Kulangkahkan kakiku agar mendekat ke sumber suara. Tak sengaja aku melihat seseorang di balkon rumah Yifan. Aku pun berjalan ke arahnya.

“Yifan,”

Aku memekik tajam saat melihat Yifan yang tengah meminum arak di balkon tersebut. Itu terbukti dari beberapa botol arak yang berserakan di mana-mana. Entah sudah berapa banyak arak yang telah ia minum sampai seperti ini. Kututup mulutku secara otomatis agar Yifan tidak mendengar suaraku. Tapi terlambat. Dia sudah mendengarnya dan saat ini dia tengah menengok ke arahku.

“Zahra, sinilah.” ajaknya.

Kugelengkan kepalaku pelan. Namun dia langsung beranjak dari tempat duduknya, dan menarikku agar duduk bersamanya. Aku hanya pasrah ketika Yifan melakukan itu padaku. Namun aku tetap menjaga jarak dengan Yifan. Takut kalau dia tiba-tiba berubah pikiran.

“Yifan, kau kenapa? Jika ada masalah, kau bisa menceritaknnya padaku.” ucapku akhirnya.

Yifan hanya diam menatap langit malam yang saat ini sedang menggambarkan suasana hatinya.

“Ayo, ceritakanlah! Aku bisa menjadi pendengar yang baik, dan mungkin bisa sedikit membantumu.” kataku meyakinkannya. Ya, aku tahu. Kebiasaan orang-orang di sini selalu minum jika ada masalah. Padahal itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Tapi apa mau dikata. Semuanya dianggap tabu.

“Sebenarnya… Aku tidak ingin menceritakannya padamu. Tapi, ya sudahlah. Nnnggg… Zahra, apa kau pernah mencintai seseorang selain Tuhanmu?” tanyanya yang langsung dianggukan kepaku.

“Apa kau pernah mencintai seseorang yang memiliki berbedaan denganmu, dan kalian tidak mungkin bersatu?” tanyanya lagi. Meskipun jarak kami agak jauh, tapi aku dapat mencium bau alkohol dari mulutnya.

Untuk beberapa detik aku hanya diam. Namun tak lama, aku kembali menganggukan kepalaku.

“Lalu, apa yang kaulakukan?” Matanya berbinar saat Yifan melontarkan pertanyaan itu padaku.

“Aku menjalaninya seperti air yang mengalir.” tuturku kemudian menatap bulan seperempat yang kini sedang sendiri.

“Kau salah, Zahra.” ucap Yifan. Aku langsung menolehkan kepalaku, lalu menatap dirinya.

Dia balik menatapku dan berkata, “Kau pernah bilang padaku kalau kita tidak boleh menyerah begitu saja, dan sekarang kau menjalaninya seperti air?”

Aku tersentak mendengar kalimatnya. Aku tak percaya jika selama ini Yifan selalu mendengar semua perkataanku, dan dia juga meresapinya.

“Yi Yifan, kau…” Aku menatapnya lekat-lekat.

“Kau sudah mengajariku arti pantang menyerah, dan sekarang aku harus membuktikan kalau aku bukanlah orang yang mudah menyerah.”

Yifan langsung menggesturkan tubuhnya agar dekat denganku, dan tangannya langsung mengangkat wajahku. Kupejamkan mataku ketika benda basah itu menyentuh bibirku. Napasku tercekat, jantungku seakan berhenti berdetak, dan darahku seperti berhenti mengalir. Tadi, ciuman pertamaku. Begitukah rasanya berciuman? Hangat dan manis.

Adegan slow motion seperti terekam pada waktu itu. Perlahan aku menikmati bibirnya yang lembut dan basah. Aku hanya diam, tak mampu berbuat apa-apa. Tubuhku seperti dikunci oleh sentuhan Wu Yifan. Ya ampun, aku berdosa.

“Yifan,”

Kucoba memanggil namanya. Bukannya melepaskan pautan kami, Yifan malah semakin memperdalam ciumannya. Dia mulai menggigit bibir bawahku, dan sesekali menghisapnya.

“Yifan,”

Tindakanku salah. Seharusnya aku diam saja saat dia menciumku, bukan berteriak seperti tadi. Sekarang apa yang harus kulakukan?

Lidahnya sudah masuk ke dalam mulutku. Sekarang dia sedang mengabsen satu persatu yang ada di dalam sana, dan terkadang menggelitik rahang atasku. Aku tidak tahu sudah berapa tetes ludahnya yang tak sengaja kutelan.

“Yifan, tolong hentikann!”

Mendengar perkataanku, Yifan langsung menghentikannya. Aku hampir mati karena kehabisan napas saat berciuman dengan Yifan. Sekarang aku masih mengatur napasku, dan menatapnya sendu.

“Mmmpph…”

Yifan kembali menciumku. Bahkan ciuman yang kedua ini lebih ganas dari ciuman sebelumnya. Aku tidak bisa melawannya. Tenaga seorang wanita tentu tidak sebanding dengan tenaga seorang pria

Kelakuan Yifan semakin menggila. Dia melepaskan kerudungku dengan paksa, dan setelah itu dia bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mencari posisi yang nyaman. Entah apa yang akan dia lakukan, aku tak tahu. Tapi beberapa detik kemudian, dia menciumi leherku. Oh, tidak. Dia juga menghisapnya, dan menjilati cuping telingaku.

Aku sudah sering melihat adegan seperti ini. Tapi aku tidak pernah berniat melihatnya, bahkan melakukannya. Cukup! Ini sudah melebihi batas kewajaran. Tunggu, aku mulai merasakan sesuatu yang dingin bergerak masuk ke dalam baju yang kukenakan. Dia mengelus perutku, dan terus naik ke atas. Ini gawat!

Dengan sekuat tenaga aku mencoba mendorong tubuhnya. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga. Aku ingin menangis karena telah berbuat dosa, dan aku ingin menangis karena Yifan yang tiba-tiba menjadi seperti ini.

Bggghh…

Entah dari mana keajaiban itu datang. Aku berhasil mendorong Yifan hingga terpental, dan tanpa aba-aba aku langsung berlari ke arah kamarku.

‘Cepat, Zahra! Kau harus lebih cepat dari Wu Yifan!’ ujarku dalam hati berniat menyemangati diriku sendiri. Mungkin dengan cara seperti ini aku bisa menghadapinya.

Kenapa di waktu seperti ini kamar itu terasa amat jauh? Untuk tiba di sana saja membutuhkan waktu yang lama. Setelah sampai di kamar tersebut, aku segera mengambil kuncinya, lalu menutup pintunya rapat-rapat.

“Hosh… hosh… hosh…”

Aku sempat bernapas lega saat Yifan tidak mengejarku. Kini yang aku lakukan hanyalah berdoa, semoga Allah selalu melindungiku dari nafsu bejat mahluknya. Namun sesaat kemudian, aku mendengar seseorang membuka kuncinya.

Oh, tidak! Bagaimana ini? Aku baru teringat kalau Yifan juga memegang kunci itu. Seharusnya aku berlari keluar, bukan masuk ke dalam. Lalu apa yang harus kulakukan? Haruskah diriku loncat dari apartement ini?

Brrkkk…

Sudah terlambat. Yifan berhasil masuk ke dalam kamar ini dengan seringaiannya yang lebar. Aku yakin dia bukanlah Wu Yifan, sahabatku. Wu Yifan di hadapanku ini adalah setan yang sedang meminjam tubuhnya.

“Aku akan membuatmu percaya bahwa selama ini aku belajar darimu.”

Yifan berjalan ke arahku. Tanpa sadar aku ikut mundur ketika jaraknya semakin dekat denganku. Ah, ini payah. Aku berhenti saat tubuhku berhimpit dengan dinding, dan aku tidak bisa pergi kemana pun.

Tiba-tiba Yifan langsung membuka kancing baju yang kukenakan. Aku berusaha menolaknya, tapi percuma saja. Dia berhasil membukanya, dan tubuh bagian atasku sudah terekspos di depan matanya.

“Rupanya kau tidak memakai bra? Kau tahu, itu sangat bagus.” katanya lalu membuang baju miliknya ke sembarang arah.

Aku segera menutupi payudaraku dengan bantal yang berada di sampingku. Dalam sekejap mata Yifan mengangkat tubuhku, lalu dia menidurkanku di atas ranjang.

“Oh, aku benci kalau kau seperti itu. Buang bantal itu!”

Aku malu, bahkan sangat malu. Aku tidak pernah sekali pun memperlihatkan tubuhku pada seorang pria mana pun. Jadi kuputuskan untuk tetap memeluk bantal ini, sampai Yifan benar-benar membuangnya.

“Sekarang aku akan membuktikannya.”

Yifan mulai menciumi payudara kananku. Melihat payudara kiriku menganggur begitu saja, tangan Yifan langsung bermain dengannya.

“Mmmpphh… Yifan, berhentiiihh… Kumohon berhentiiih…”

Mungkin kalimatku terdengar seperti desahan di telinganya. Buktinya, semakin banyak aku bicara, semakin ganas pula ciumannya. Selain itu, aku juga menjambak rambutnya.

“Yifan, sakitthh…”

Yifan seperti orang yang tuli. Dia tidak mendengarkan hiarauanku. Yifan terus saja menciumi kedua payudaraku secara bergantian, lalu menghisapnya, dan terkadang menggigitnya. Seperti tadi, Yifan menggigit puting susuku hingga kurasakan sakit di bagian tersebut.

“Hanya bermain sedikit saja, kau bilang sakit? Bagaimana jika kita melakukan adegan intinya? Ayolah, ini hanya pemanasan.” katanya seraya menatapku.

A apa maksudnya? Adegan inti? Aku tidak tahu. Tolong berhenti Wu Yifan!

“Aku sudah bosan dengan payudaramu. Sekarang bangunlah! Aku ingin merasakan sesuatu yang lebih dari ini.”

Yifan membantuku berdiri. Ah, payudaraku sakit sekali. Kulihat bekas keungu-unguan yang ada di payudaraku, dan puting susuku yang membiru karena perlakuannya.

Daaaammmnn…

Aku terkejut bukan main ketika alat vitalnya menyentuh wajahku. Seketika aku berpikir kapan dia membuka pakaiannya? Lalu aku dengan cepat menjawab, saat aku sibuk meratapi nasib kedua payudaraku. Tak kusangka, benda itu benar-benar besar rupanya.

Dengan cepat aku menutupi wajahku. Aku malu, karena aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh diperlihatkan.

“Sekarang, kau harus meremasnya.”

“Apa katamu? Bú huì, aku tidak akan mau melakukan hal bejat seperti itu.” jawabku lantang.

“Oh, kau tidak mau? Hǎo de, setelah ini aku akan langsung menghubungi keluargamu, dan menceritakannya.”

Aku tersentak mendengar ancamannya. Dia bisa saja melakukannya karena dia cukup dekat dengan keluargaku. Lalu bagaimana jika hal itu terjadi? Pernikahanku dengan Yahya akan batal, dan keluargaku dicap sebagai keluarga yang tidak mempunyai kehormatan gara-gara diriku.

“Baiklah, aku akan melakukannya.”

Aku pun mengikuti perintahnya. Jika meremas saja, mungkin aku dapat melakukannya. Tapi jika yang lain? Aku tidak tahu. Yang terpenting saat ini aku harus meremas penisnya. Tunggu, kurasa benda ini semakin lama semakin tegak dan besar. Ayo, Zahra. Lakukan saja apa maunya. Kau tidak boleh melihatnya.

“Cukup. Sekarang, aku ingin merasakan jepitan dadamu.”

Apa katanya? Jepitan dada? Aku tidak tahu.

“Berjongkoklah, dan hadap ke sini!” ucap Yifan yang langsung diikuti olehku. “Hey, buka matamu.” Buka mataku? Ya, kulakukan tapi… Benar kataku. Benda itu lebih besar dari sebelumnya. “Sekarang, jepitkan kedua payudaramu dengan adikku!” Gila! Yifan gila. Aku pun tak tahu kenapa aku mengkuti perintahnya. “Ya, betul seperti itu.”

Yifan mulai memaju mundurkan penisnya dengan kedua payudaraku. Tubuhku ikut berguncang saat Yifan mempercepat gerakannya.

” Ouugghh… Dadamu benar-benar kencaaanngg.” ujarnya yang justru membuatku malu.

“Ougghh… yeaahh.. ini nikmat sekali.”

Aku hanya diam mendengar suara-suara kenikmatannya. Namun tanpa kusadari, aku penasaran dengan penis Yifan. Miliknya semakin membesar.

“Jepit lagiii! Jepit lagi!!!”

Kukuatkan lagi jepitan payudaraku dengan penisnya. Kulihat keringat membanjiri tubuh Yifan. Sebegitukah nikmatnya surga dunia hingga membuat temanku lupa diri? Ah, aku tak tahu. Yang menjadi masalahku, kenapa tubuhku ikut berkeringat seperti Yifan padahal malam ini sangat dingin?

“Ini sangat nikmaaattt.” racaunya lagi.

Yifan semakin mempercepat gerakannya. Asal kau tahu, Yifan. Saat ini aku sedang menangis dalam diam.

“Sepertinyaah, aku ingin keluarr!”

Aku mengerutkan keningku saat Yifan berkata seperti itu. Keluar? Apa dia akan keluar dari kamar ini, lalu aku boleh pergi?

Crooot…

Dugaanku salah besar. Cairan putih kental menyembur dari penisnya. Dia membasahi seluruh tubuh bagian atasku. Aku pun segera membersihkan spermanya dengan pakaian Yifan yang berada di dekatku.

“Kenapa kau membuangnya, hah? Kau harus merasakannya.”

Yifan yang melihatku langsung memasukkan benda itu ke dalam mulutku. Dia itu bodoh atau bagaimana? Sudah jelas kalau penisnya tidak dapat masuk, tapi dia tetap saja melakukannya. Bahkan saat ini dia mulai menggenjotnya.

“Uhuk… uhuk…”

Aku terbatuk karena tidak siap dengan sperma yang keluar dari penis Yifan. Kubersihkan kembali mulutku. Ingin rasanya aku muntahkan cairan itu. Namun percuma, cairan itu sudah sepenuhnya tertelan olehku.

“Ayo, bangun! Aku akan mengajarimu melakukan dog style.” ajak Yifan seraya mengulurkan tangannya.

“Sudah cukup, Yifan! Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Sadarlah! Kau tidak boleh melampiaskan kekesalanmu pada orang lain!” kataku sembari menampik tangannya. Buliran bening hampir saja keluar dari pelupuk mataku. Beruntung aku masih dapat menahannya.

“Aku tak peduli. Sekarang, buka celanamu!”

Aku menggelengkan kepalaku tanda tidak setuju. Secepat kilat Yifan melucuti celanaku, kemudian tersenyum lebar.

“Kau juga tidak memakai CD? Ouughh… Milikmu sudah basah rupanya.” ujar Yifan seraya mengelus vaginaku.

Aku mencengkram kuat bahunya ketika dia memasukkan jarinya ke dalam lubangku. Dia mulai mengocoknya, membuatku serasa terbang ke langit tujuh. Benar katanya, vaginaku sudah becek, dan tak butuh waktu lama, cairan putih seperti tadi keluar dari vaginaku.

“Mmm… Ini sangat lezat.” katanya seraya menjilati jarinya.

Aku merasa jijik ketika melihatnya. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran pria seperti dia. Aku tahu dia sedang mabuk. Jadi dia tidak sadar melakukannya.

“Ayo, saatnya ronde inti. Menungginglah!” tuturnya yang entah kenapa langsung dituruti olehku. Padahal sebelum ini aku sudah bersikukuh menolak hasratnya. Tapi kenapa aku tidak menolaknya?

Aku pun menuruti perintah Yifan. Menungging seperti apa katanya. Ketika aku menungging, kulihat Yifan dari arah bawah tengah mengocok penisnya dengan cepat.

“Ini akan terasa sakit. Tapi setelah itu, kau akan merasakan nikmat “

Setelah aku berhenti melihatnya, aku merasakan ada sesuatu yang mencoba masuk ke dalam lubang vaginaku. Aku menengok ke belakang. Kulihat Yifan tengah berusaha memasukkannya.

“Ini, sempit sekaliihh… Dan terasa sangat nikmat.”

“Yifan, berhentiihh… Ini menyakitkan!” pekikku saat benda itu mulai masuk ke dalam vaginaku.

“Tunggu sebentar! Sedikit lagi.”

Kumohon berhenti! Aku sudah tidak kuat. Tapi apa pedulimu, Wu Yifan? Kau terus memaksa memasukkannya.

Jlebbb~

“Yifan,” Aku meremas sprei ketika penis Yifan sepenuhnya masuk ke dalam vaginaku. Rasa sakit dan perih menjalari bagian selangkanganku. Tanpa kusadari, buliran bening jatuh dari pelupuk mataku. Bukan, aku menangis bukan karena kehilangan keperawananku. Tapi aku menangis karena aku tak menyangka jika Yifan lancang sekali melakukan ini padaku.

“Aku akan menggerakannya. Akan terasa nikmat.”

Yifan mulai menggerakan miliknya di dalam vaginaku. Perlahan rasa sakit itu menghilang digantikan rasa yang entahlah… mungkin menggairahkan. Ranjang yang kami gunakan pun ikut berdecit saat kami melakukan dog style.

“Ouughh… ini sangat nikmat. Benarkan, Zahra?”

Aku tidak menjawab pertanyaanya. Perasaanku campur aduk antara sedih, kecewa, dan nikmat. Harus kuakui ini sangat nikmat. Aku munafik jika aku berkata, ini biasa saja.

“Yifan, nngghh…”

“Kau juga menikmatinya? Baiklah, karena kau menikmatinya, akan kupercepat gerakankuuh.”

Aku berniat untuk menghentikannya, tapi aku malah mengeluarkan desahanku. Rasanya aku ingin masuk le dalam lubang, kemudian menyembunyikan wajah tomatku. Hey, tunggu, Wu Yifan. Kenapa kau mempercepat genjotanmu? Tidak, kau membuatku semakin…

Crooot…

“Yifaaann, akuh mengeluarkannyaah…” lenguhku tiba-tiba.

Cairan orgasmeku keluar. Yifan semakin bersemangat menggenjot penisnya. Buktinya, melihat kedua payudaraku yang bergerak bebas seirama dengan gerakan kami, dia langsung meremasnya.

“Ya, kau hebat.”

Yifan semakin mempercepat genjotannya. Mungkin jika dia melihat wajahku, dia akan tertawa sampai menangis. Aku malu, aku malu melakukannya di hadapan Tuhanku, dan melakukannya bersama sahabat baikku.

“Demi apa payudaramu sangat kencanngg. Aku menyukainya, Zahra Tan. Ouggh…” Yifan seperti orang tidak waras. Dia menyukai payudaraku?

“Berhenti, Yifaan.”

Keringat membanjiri sekujur tubuhku. Aku ingin berhenti karena aku sudah lelah. Aku tidak dapat menghitung sudah berapa kali Yifan membuatku orgasme. Yifan, ini sudah cukup.

“Sebentar lagi, aku akan mengeluarkannyaah.”

Aku langsung meggelengkan kepalaku dengan cepat kemudian berkata, “Tidak, Yifan. Kau tidak boleh mengeluarkannya di dalam rahimku. Hari ini masa suburku.”

“Masa suburmu? Bukankah itu sangat bagus?” katanya masih menggenjot penisnya.

“Bú huì, Yifan. Kau salah. Berhenti! Kubilang berhenti!”

Perkataanku hanya dianggap angin lalu oleh Yifan. Ada apa dengan pria ini? Apa dia tidak tahu arti masa subur? Kau bodoh, Wu Yifan.

“Oughh… aaahh…”

Bluuurrr…

Terlambat. Cairan itu sudah masuk ke dalam rahimku. Bagaimana ini? Apa yang akan kulakukan? Hari ini masa suburku. Kemungkinan aku akan hamil jika ada sperma yng bertemu dengan ovumku.

Tubuhku ambruk di atas kasur. Aku sangat lelah dengan semuanya. Aku lelah setelah melakukannya dengan Wu Yifan. Aku sangat lelah menyuruhnya berhenti. Aku juga sangat lelah memikirkan masa depanku nanti.

“Cepat ikut aku!”

Yifan langsung menggamit lenganku, kemudian membawaku ke kamar mandi. Tunggu, Yifan. Apa kau tidak pernah merasa lelah? Seperti inikah dirimu tanpa kuketahui?

“Apa yang akan kaulakukan, Yifan?” tanyaku ketika Yifan menghidupkan showernya. Air keluar membasahi tubuh kami berdua. Menurutku ini seperti mandi malam, sangat dingin.

“Kau tidak akan kedinginan. Tunggulah, kau pasti menyukainya.” kata Yifan seakan tahu isi hatiku.

Yifan berjalan ke arahku seraya mengocok penisnya. Mataku tak berhenti berkedip melihat perut six packnya yang entah kenapa aku baru menyadarinya. Aku bahkan tidak peduli dengan dinginnya ruangan ini.

Chu~

Tiba-tiba dia mendaratkan ciumannya pada bibirku. Aku tersentak dengan perlakuannya hingga tubuhku sedikit merosot. Sedetik kemudian dia membenarkan posisi tubuhku, melingkarkan kedua kakiku dengan pinggangnya. Bersamaan dengan itu ditancapkannya lagi penisnya yang sudah lama berdiri.

“Yifan,” ucapku seraya mencakar bahunya.

Tubuhku mematung seketika. Aku pun bingung, sudah berapa kali aku menyebut nama Yifan ketika aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan.

“Aku akan membawa dirimu pergi ke langit tujuh.” kata Yifan sebelum akhirnya tersenyum simpul.

“Hiks… hiks…”

Buliran kristal bening berhasil jatuh membasahi pipiku. Aku menangis di hadapan Wu Yifan. Dia menatapku, mencoba mencari tahu apa penyebabnya.

“Ke kenapa kau menangis, Zahra?”

Wu Yifan, dari mana saja kau? Aku merindukan sosokmu yang lembut, bukan seperti tadi. Aku tahu itu bukan dirimu, Yifan.

“Kau masih bertanya kenapa aku menangis? Kau bodoh Wu Yifan, kau bodoh!”

Aku tak berhenti memukuli dada bidangnya dengan tanganku. Biar dia merasakan betapa sakitnya diriku. Zahra Tan, seorang wanita yang menjadi objek pelampiasan seorang Wu Yifan.

“Memangnya kau kenapa?”

“Cukup! Jangan bertanya hal bodoh lagi. Sekarang jawab aku, kenapa kau melakukan semua ini padaku?”

Yifan menundukan kepalanya. Dia tengah mencari sebuah jawaban dari pertanyaanku. Tak kunjung mendapat jawaban, aku kembali menagih padanya.

“Jawab aku, Wu Yifan.”

“Wo ai ni.”

“Apa?”

“Wo ai ni.”

Tubuhku seperti disambar sejuta volt listrik saat itu juga. Apa aku tak salah mendengar? Tolong jawab aku, Wu Yifan.

“Aku mencintaimu, Zahra Tan.”

Dia, berbicara dalam Bahasa Indonesia. Sungguh, aku tak menyangka jika Yifan akan berkata seperti itu padaku.

“Aku mencintaimu, Zahra Tan. Aku benar-benar mencintaimu. Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Sekarang, aku mohon padamu, terimalah permintaan maafku.”

“A aku… Tapi bagaimana dengan…” ucapanku terpotong karena tiba-tiba Yifan kembali berbicara.

“Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Setelah ini, aku akan meminta pada ayahmu untuk merestui hubungan kita berdua. Kita akan menikah.” katanya dengan mata berbinar.

Aku menatap mata Yifan lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan di sana. Tak ada. Yifan benar-benar serius dengan perkataanya.

“Tapi… Kita berbeda.”

“Bú huì. Aku menjadi mualaf setelah mengenalmu.”

Ah, ya. Aku baru teringat pada buku itu. Pantas saja Yifan selalu menyembunyikannya. Rupanya itu Al Qur’an yang sengaja diproduksi dalam bentuk seperti itu.

“Jadi, yang dimaksud buku itu…”

“Hmmm… Sekali lagi aku minta maaf karena aku telah membohongimu.”

Entah bagaimana gambaran perasaanku sekarang. Aku merasa bahagia? Tentu saja. Sedih? Aku juga sedih. Terkejut? Apalagi. Yang jelas aku terharu karena perlakuan Wu Yifan.

“Sekarang, kau yang harus menjawabku.”

“Menjawab apa?”

“Kau sudah lupa?”

Ah, Wu Yifan. Kau seringkali membuatku bingung.

Kutundukkan kepalaku, kemudian kutarik kedua sudut bibirku seraya berkata, “Wo ye ai ni.” lalu memeluk tubuh polosnya tanpa melepas kontak kami.

Kami pun saling mencurahkan semua isi hati kami di bawah dinginnya air shower. Sebenarnya air dingin itu bisa diubah menjadi air hangat, tapi biarlah. Yifan ingin merasakan kehangatan kami berdua.

Kini aku sadar. Cinta tidak selamanya seperti air, mengalir begitu saja mengikuti kemana pun seseorang membawanya pergi. Terkadang cinta itu nekat, melakukan semua hal yang membuat dirinya sendiri bingung kenapa dia berani melakukannya. Cinta juga membuat perbedaan menjadi sebuah warna tersendiri. Dan ketika warna itu disatukan, maka membentuk sebuah warna yang lebih indah. ~Zahra Tan

THE END

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: