I Dont Like Love 2

0
ff nc park yoochun
><
‘..Dana Noona sering sekali merubah raut wajahnya saat melewati rumah ini dan saat mendengar tentang atau yang berhubungan denganmu..’
Apa karena perlakuannya dulu bisa langsung merubah sifat seorang Dana? Sekali lagi, apa Yoochun sejahat itu?
“..Yoohwan~ie. Tolong antar Heeyeol-ku pulang.”
Yoocun kembali menatap kearah dapur, satu waktu dengan Yoohwan yang bangkit dari duduknya. Saat berbalik, adiknya melihatnya. Beberapa detik mereka hanya saling bertukar pandang dengan tatapan tanpa ekspresi sampai akhirnya Yoohwan duluanlah yang mengalihkan pandangannya sendiri.
“Kajja Noona. Aku akan mengantarmu.”
Yoochun mendengarnya. Dan Dia juga melihat Dana tersenyum untuk adiknya. Sakit. Yoochun merasakan sakit saat melihat orang yang Ia sukai tersenyum untuk orang lain.
Sampai akhirnya mereka berjalan melewati tangga. Gadis itu berhenti tepat didepannya. Diam dan melihatnya. Hanya menatapnya diam tanpa melakukan apapun. Yoochun merasakan kalau tubuh gadis itu menegang dan menggeleng pelan, sangat pelan. Lalu Yoochun merasakan sakit yang teramat sangat saat melihat gadis-nya mundur satu langkah. Seakan takut dan harus menjauhinya.
><
. . .
“Kau cantik sekali.”
Dana, gadis remaja itu menunduk sambil tersenyum mendengar pujian dari pria yang lebih tua setahun darinya- yang duduk disebelahnya. Dua hari yang lalu, tanpa sengaja Dana bercerita pada Park Yoohwan, adik pria disampingnya, kalau Ia sudah menyukai seorang Park Yoochun sejak akhir sekolah dasar- lebih tepatnya saat Yoochun meminjamkan sebuah buku paket pelajaran untuknya waktu itu. Dan saat pertama kali mendengar suaranya bernyanyi. Lucu sekali kan?
“Gomawo.”
Dana merasakan pria itu menghembuskan napas pelan.
“Sudah tiga tahun aku di Virginia. Jadi bagaimana kabarmu?”
Dana mengangguk pelan. Masih menunduk. “Baik saja. Kau?”
“Aku sangat baik.” Pria bernama lengkap Park Yoochun itu menoleh menatap Dana dari samping walau si gadis tidak melihatnya. “Ku dengar, Yoohwan baru saja menyatakan cinta padamu.”
Gadis itu segera mengangkat wajahnya dan tanpa sengaja bertatapan langsung dengan kedua mata milik Yoochun. Bahkan hanya matanya pun mampu membuat seluruh tubuhnya bergetar. Jantungnya..
Cepat-cepat Dana menggeleng lalu kembali menunduk.
“Tidak. Tapi aku tidak menyukai Yoohwan.” Dana semakin menundukan kepalannya, mengecilkan volume suaranya kemudian.. “Aku menyukaimu.”
Beberapa detik Dana hanya mendengar kesunyian. Entahlah. Dia tidak mau menebak apalagi mengkhayal untuk mengetahui seperti apa reaksi Yoochun sekarang. Senang? Marah? Dana tidak peduli.
“Yoohwan benar-benar menyukaimu. Kenapa kau tidak menerimanya? Dia baik. Tampan. Pintar. Iya kan?”
Seperti tertusuk satu jarum didadanya. Sedikit, namun terasa.
Seharusanya Yoochun sudah tahu perasaannya. Ya, Dana yakin Yoochun sudah tahu itu. Tapi kenapa.. apakah, apa mungkin ini salah satu dari cara penolakan halus?
“T-tapi aku hanya menyukaimu. Sejak tiga- hampir empat tahun lalu.”
“Yo Yoochun~ah !!”
Dana langsung mengangkat wajahnya kembali saat mendengar suara panggilan untuk orang disampingnya. Itu teman-teman Yoochun. Yang penampilannya sedikit berantakan.
“Yoochun~ah, ayo, rumahku sepi. Kita akan pesta minum disana.”
Dana melihat Yoochun mengangkat jari telunjuk kirinya didepan bibir dengan raut wajah was-was sambil menengok kearah rumahnya.
“Kecilkan suaramu.” Seru Yoochun. Lalu balas berbisik. “Apa kita akan main kartu? Aku akan memasang banyak malam ini.”
Kedua mata Dana membulat sempurna. Minum? Kartu? Satu jarum lagi terasa menancap ditempat yang sama.
Dulu, dulu Yoochun-nya tidak seperti ini. Dia pria yang baik. Kenapa..
“Dana~ya, mianhae.” Suara Yoochun yang sedikit bass itu membangunkan lamunannya. “Aku harus pergi dengan teman-temanku. Kita bisa lanjut besok. Dan ingat kata-kataku tadi.”
Yoochun melompat pelan dari tempat duduk berbahan semen yang terdapat dipinggiran perempatan kecil gangnya. Berjalan mengikuti teman-temannya dan meninggalkan Dana sendirian.
. . .
><
Yoochun menenteng kantung plastik merah ditangan kanan sambil bersenandung kecil menuju gang rumahnya. Tersenyum. Ia tahu akan melewati jalan apa. Yoochun sengaja mengambil jalan ini karena ingin melewati rumah gadis itu. Tidak pa-pa walau hanya melihat rumahnya.
Dua langkah setelah berbelok menuju gang. Tiba- tiba langkahnya terhenti. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Ya. Tadi Yoochun menginginkan untuk bertemu gadis itu- walau hanya rumahnya. Tapi sekarang. Tepat lima langkah didepannya. Gadis itu tengah berdiri mematung juga. Menatapnya.
Tatapan matanya, sungguh membuat Yoochun merasa sakit.
Gadis itu mundur selangkah. Yoochun melihat kedua tangannya saling menggenggam erat kemudian berbalik untuk berlari.
“Dana~ya !! Chankkaman.”
Berhasil. Yoochun sudah menahan lengan gadis itu. Tidak susah mengejarnya. Karna gadis bernama Dana itu hanya berjalan cepat.
Yoochun berusaha untuk melihat wajah Dana karena gadis itu terus saja memalingkan wajahnya.
“Dana~ya, lihat aku.”
Kepala gadis itu menunduk kemudian. Dan hanya diam. Dengan tubuh yang sedikit bergetar. Yoochun merasakan itu.
“Semalam dan sekarang. Kenapa kau menjauhiku?”
Dana memalingkan wajahnya menjauhi wajah Yoochun yang mendekat.
“Jawab aku Dana.”
Gadis itu menarik dan mengeluarkan napasnya panjang. Yoochun tahu kalau Dana sedang tertekan sekarang.
Sedikit terkejut karna sekarang Dana menatapnya. Tatapan yang penuh kebencian, kesakitan, mungkin..
“Lalu kenapa kau mendekatiku? Setelah semuanya. Kenapa kau mendekatiku !!”
Lagi, Yoochun merasakan sakit didadanya saat melihat Dana yang sedang bertiak marah namun tidak terdengar seperti berteriak. Apa menunjukan kemarahanpun sesulit itu?
Apa karenanya dulu bisa merubah Dana sekarang? Jujur. Yoochun akan lebih senang kalau gadis itu menampar, memukul, atau bahkan menginjaknya sekalipun. Dia rela.
Kedua mata Yoochun memerah tanpa Ia tahu. Dan pandangannya sedikit terasa kabur.
“Jangan jauhi aku. Jebal.”
“Apa sejak dulu aku pernah menjauhimu? Kau tahu? Bahkan hanya untuk menjauhimu beberapa langkah saja aku tidak bisa. Tapi sekarang. Setelah semuanya. Apa kau punya hak memintaku untuk tidak menjauhimu?”
“Aku salah. Aku akui itu. Kumohon Dana, kau boleh memukulku sepuasmu. Pukul aku sekarang!” pinta Yoochun sambil menaikkan tangan yang sedari tadi di genggangamnya keatas pipinya sendiri.
Untuk lima detik Yoochun kembali mematung saat satu tetes krystal bening jatuh dari mata indah milik gadis didepannya. Namun cepat-cepat Dana menunduk dan kembali menatap Yoochun dengan berani.
Dana tertawa kecil sebentar. “Sejujurnya aku benci saat aku sama sekali tidak bisa memanggilmu pria jahat, brengsek atau apapun itu. Pergi kau dari hadapanku !!”
Lengan Dana memberontak minta dilepaskan. Tapi tidak segampang itu untuk Yoochun melepasnya. Sungguh. Selama bertahun-tahun Yoochun sangat menyesal samasekali tidak mempertahankan gadis ini. Dan sekarang. Apapun itu yang menghalanginya, Ia tidak mau sejengkal pun untuk melepasnya.
“Aku menyukai mu Dana.” Ucap Yoochun tegas. “Aku menyukai mu Hong Dana. Bahkan sebelum Yoohwan menyukaimu. Aku sudah menyukaimu sebelum aku pergi ke Virginia. Dan juga sebelum-”
Tubuh Yoochun sedikit terdorong kebelakang saat Dana berhasil melepas cengkramannya dan langsung berbalik berlari menjauhi tempat itu.
Tadi, saat Yoochun untuk pertama kalinya menyatakan perasaannya selama ini pada Dana- tubuhnya terasa lemas. Lemas untuk mengakui betapa brengseknya Ia dulu.
><
. . .
“Hati-hati dijalan..”
Tangan kiri Dana yang tadi melambai kearah teman-temannya kini turun dan masuk kedalam kantung mantelnya. Langkahnya berbalik ingin meninggalkan perempatan gang namun diurungkan niatnya. Didepannya, tidak ada satu langkah. Park Yoochun ada disana.
Dana tersenyum manis. Senyuman yang sebenarnya untuk menutupi kegugupannya sendiri. Yah sendiri. Karena Ia tidak tahu pria itu merasakan yang sama dengannya atau tidak.
Pria itu menatap melewati tubuh Dana kemudian ikut tersenyum.
“Apa mereka teman-temanmu?” pandangannya beralih pada Dana. “Dana~ya, kenalkan aku pada mereka. Kau temanku kan? Temanmu temanku juga.”
Dana terdiam sebentar lalu mengangguk kaku. “Ah, arraseo. Nanti malam mereka akan kerumahku lagi.”
“Siapa saja nama mereka?”
Kini Yoochun sudah berada disebelah Dana. Tanpa ada batas untuk bahu mereka bersentuhan. Berjalan beriringan memasuki gang rumah mereka.
Sedekat ini, demi apapun Dana sangat senang sampai-sampai tidak bisa menutupi senyumannya sendiri.
“Yang tinggi tadi dia Stephanie. Lalu yang bertubuh imut itu Sunday. Dan yang cantik Lina.”
“Sepertinya bukan nama korea.”
Dana hanya mengangguk dalam tunduknya. “Aku bersekolah di sekolah internasional kan? Kau lupa? Jadi teman-temanku blasteran.”
Dana tertawa kecil diakhir kalimatnya. Diikuti Yoochun.
“Oh ya,” Dana menatap Yoochun yang sedikit lebih tinggi darinya. “Jika kau sudah berkenalan dengan teman-temanku. Jangan kenalkan mereka pada teman-temanmu ya. Teman-temanku masih sangat polos. Apalagi Lina. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri.”
“Jinjjayo?” tanya Yoochun yang sepertinya tertarik. “Sepolos apa mereka. Aku kira hanya kau makhluk terpolos didunia.”
Dana mencibir dan tanpa sadar tangannya melayang memberikan sebuah tinju pelan pada lengan Yoochun yang hanya dibalas dengan tawa.
. . .
><
Yoochun menutup tirai putih jendela kamarnya menambah cahaya bulan samar memasuki tempat beristirahatnya sekarang. Sambil berjalan pelan mendekati ranjang, Dia menghela napas.
Tubuhnya terhempas keras diatas kasur. Kedua tangannya mengusap kasar wajahnya.
“Dana~ya. Hong Dana. Demi Tuhan aku mencintaimu. Sungguh maafkan aku.”
Telapak kanannya tanpa sadar meremas kasar seprai hijau yang Ia duduki.
Di otaknya. Hanya ‘bagaimana cara untuk menebus semuanya’ yang ada dipikirannya. Bagaimana? Dia harus bagaimana? Dia benar-benar sudah berdosa.
Yoochun mengangkat sedikit wajahnya saat mendengar suara pelan pintu kamarnya terbuka.
“Benarkan? Pilihanmu itu salah.”
Yoochun menggeram dalam hati. Sudah cukup. Mau apa lagi adiknya disini? Dia mengerti dan Dia tahu kalau adiknya ini masih menyukai gadis itu.
Yoohwan berjalan mengahampiri kakaknya yang sama sekali tidak berniat untuk menatapnya.
“Dulu aku pernah mengatakan padamu, jika kau juga menyukainya, kau bisa pertimbangkan semuanya lalu aku akan mengalah. Tapi sekarang?” Yoohwan tertawa pelan. “Sepertinya aku sudah mencabut kata-kata ku itu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga Dana Noona dari pria sepertimu.”
BUGGHH
Dalam keadaan tersungkur, Yoohwan hanya menyunggingkan senyum diujung bibirnya. Sangat tepat dugaannya. Kakaknya pasti dengan mudahnya akan terpancing. Tangannya meraba pipi kirinya yang terasa nyeri akibat pukulan kilat itu.
“Pergi kau dari hadapanku, sialan !” geram Yoochun. Dia tidak berteriak. Tidak mau mengambil resiko untuk orangtuanya mendengar kegaduhan sepele ini.
Yoohwan berusaha berdiri. Dan tersenyum kembali. “Apa kau masih memiliki wajah dan hati untuk mendekatinya lagi? Dasar pria tidak tahu malu.”
Kedua telapak tangan Yoochun saling mengepal erat. Ingin kembali memukul wajah adiknya lagi namun terurung niatnya saat mendengar beberapa suara perempuan dari depan rumahnya. Pandangannya beralih sedikit.
“Hebat sekali. Hanya suaranya tapi kau sudah bisa menebaknya secepat itu. Ternyata kau benar-benar menyukainya, Hyung.”
Yoochun melihat wajah adiknya sebentar kemudian berbalik lagi dan melangkah mendekati jendela. Membuka tirainya kembali.
Adiknya benar-benar brengsek. Tapi rasa rindunya untuk melihat gadis itu sangat melebihi apapun.
Disana. Gadis itu dan ketiga temannya. Yang mungkin hanya berjalan melewati depan rumahnya sedang mengobrol asyik dengan Eomma-nya. Gadis itu tersenyum dan terus saja tersenyum seakan senyum adalah suatu kewajiban yang harus Ia lakukan.
Tanpa sadar Yoochun juga ikut tersenyum- sedikit mengabaikan Yoohwan yang saat ini tengah berdiri disampingnya ikut memandang dari kamar kakaknya dilantai dua itu.
Senyumannya. Yoochun merindukan senyuman itu. Senyuman yang hanya ditujukan untuknya seorang. Dan itu dulu.
><
. . .
“Bagaimana? Seperti apa teman-temanku menurutmu?”
Yoochun memasang wajah yang seperti sedang berpikir.
“Hmm, menurutku mereka semua mengasyikan.” Yoochun merubah posisinya menghadap Dana. “Tapi ada salah satu dari mereka yang membuatku tertarik.”
Dana terdiam sejenak. Pertama saat melihat senyuman pria itu dan kedua karena kalimat terakhirnya. Namun sedetik kemudian Ia ikut tersenyum. “Tertarik? Maksudmu? Hmm, dengan siapa?”
“Ah, ini memalukan.” Yoochun malah mengalihkan pandangannya menghadap langit malam diatasnya.
“Katakan saja padaku. Kau tahu kan? Aku bisa dipercaya.” Sambil tersenyum Dana mulai merasa ada sesuatu yang sangat tidak nyaman mengelilingi tubuhnya.
Yoochun sudah tahu perasaannya kan?
Yoochun sudah tahu perasaannya kan?!
Iya kan??
“Temanmu yang bernama Lina itu. Dia cantik, seperti katamu.” Dengan sekali hitungan Yoochun kembali menatap Yoochun. Wajahnya terlihat sangat ceria. “Maukah kau mendekatkanku dengannya?”
Kedua mata Dana membulat. Hanya matanya yang menunjukan ekspresi. Wajah dan seluruh tubuhnya terasa kaku setengah mati.
Kalau boleh bertanya, apa rasanya saat orang yang disukai mengatakan langsung padamu untuk ‘Maukah kau mendekatkanku dengannya?’ dengan sahabatmu sendiri? Yang nyatanya orang itu tahu kalau kau menyukainya?
Sakitkah?
Apa yang kau lakukan?
. . .
><
TBC 

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: