HoneyMoon II Part 2

0
ff nc blockb

Setelah tiba di kamar kami JiHo tak bicara sepatah katapun, pasti penyakitnya sedang kambuh. Aku tak habis fikir apa yang tadi dia makan saat bersama Minchan, “Hey, kau kenapa hah?! Sakit?” tanyaku.

“Tidak kenapa-kenapa, memangnya kau lihat aku kenapa?! Dari pada kau bertanya hal yang tidak penting untuk mulai mengajakku bicara sebaiknya kau mandi, badanmu bau!” otak polong bodoh! Dia bilang apa tadi? Aku bau?! Setan gila! Memangnya dia mengira dia itu wangi?! Keringat yang paling bau yang pernah aku cium aromanya.
“Apa?! Cepat mandi! Aku mau pesan makanan.” Dia seolah semakin mengusirku, argh! Sudahlah dari pada aku semakin gila lebih baik aku turuti perintahnya. Lain kali akan aku balas kau Woo JiHo!
JiHo ~POV~
Tak apa, Minna pasti menyukai masakan ini couscous, masakan khas Perancis yang terbuat dari beras rasa rempah-rempah yang kuat, mungkin Minna akan sedikit mengkritik makanan ini.
Sebenarnya sejak tadi aku sangat ingin tersenyum didepan Minna, karena dia sangat tercengang melihat Jaehyo hyung melamar Minchan. Ya aku tahu pernikahan kami memang tidak ada acara aku melamar Minna atau yang semacamnya, jika orang menilai pasti pernikahan kami di anggap kecelakaan.
Setelah menaruh makanan ini di meja, aku duduk menunggu Minna yang mungkin masih mengganti pakaiannya. Wanita memang selalu lama mengganti pakaiannya sendiri, aku tidak terkejut jika Minna juga sama dengan kebanyakan wanita.
Samar-samar aku dengar suara langkah kakinya, baiklah aku harus membuat mood yang baik. Jika di pikirkan aku tidak boleh terlalu galak pada istriku sendiri, “Na-ya pasti kau sudah la, ,” APA YANG DIA LAKUKAN?! APA DIA MASIH DALAM KEADAAN SADAR?! APA DIA SUDAH GILA?!
“Kenapa kau melihatku seperti itu hah?! Aku hanya tidak tahu kenapa pakaianku mendadak menjadi seperti ini semuanya,” Minna merapatkan tubuhnya ke tembok, bisa aku liat sedikit wajahnya memerah. Siapa suruh?! Aku bahkan tidak pernah membayangkan dia memakai pakaian tipis begitu!
“Sudahlah, cepat makan. Nanti makanannya dingin.” Ujarku lalu duduk dikursi berusaha tidak memperhatikannya. Argh! Aku bisa gila!
Aku memperhatikan Minna sejak tadi, ah bukan maksudku emb, lebih tepatnya aku memperhatikan tubuhnya sejak tadi. Berkali-kali aku menelan ludahku sendiri, seperti menahan libidoku sendiri yang beranjak naik. Ah! Shin Minna kau membuatku gila!
“Apa yang kau lihat?! Jangan berfikiran mesum.” Kata Minna lalu kembali memakan makanannya, tadinya aku sempat mengira dia akan memperlihatkan wajah aneh saat memakan couscous ternyata kebalikannya.
Tidak, ah, tidak-tidak. Aku tidak boleh terlihat tersiksa didepan Minna, argh! Aku bisa gila! Dia begitu seksi dan aku hanya bisa menatapnya dingin?! Aku ini suami bodoh atau sangat-sangat bodoh?!
Tiba-tiba telefon di kamar ini berbunyi dengan keras, Minna hanya melihatku, “Apa?” tanyaku.
“Angkat telfonnya, aku sedang sibuk.” Ujarnya. Sibuk?! Sialan, dia bahkan hanya makan dan itu dia bilang sibuk?! Sebenarnya dialah yang bodoh di kamar ini.
Dengan malas aku berdiri mengangkat telfon, “Halo?”
“Ah, baiklah aku kesana.”
Aku kembali setelah mendapat telefon dari Yookwon, untung saja mereka ada acara berendam. Setidaknya bisa membuatku menghilangkan pikiran kotor yang sejak tadi berenang-renang di otakku.
“Aku tunggu kau di kolam yang ada di ujung koridor ini, jangan berfikiran yang macam-macam semuanya juga menunggumu.” Ujarku lalu pergi, akhirnya aku terbebas juga dari penyiksaan yang tak kasat mata ini.
-*-
Sialan! Mereka semua benar-benar sialan! Terutama kau Kim Yookwon! Aku akan menghajarmu tanpa ampun jika bertemu nanti. Apa-apaan dia? Seenaknya menelfonku lalu dia tidak ada di sini? Teman yang gila!
Ah, baiklah setidaknya aku bisa membuyarkan nafsuku sebentar, aku berharap Minna tidak lagi memakai pakaian transparan itu lagi. Aku hampir tidak bisa lupa dada dan pahanya itu, Argh! Kenapa malah berfikir seperti itu lagi?! Aku menarik napasku dalam-dalam, aku yakin Minna tidak akan memakai pakaian itu lagi, ya dia tidak sebodoh itu.
Aku segera menanggalkan pakaianku dan merendamkan diri di kolam air hangat, ku pejamkan mataku berusaha dengan sekuat tenaga untuk menenangkan diri dengan bantuan air hangat ini.
“Kemana yang lain?” itu suara Minna, tapi tunggu sejak kapan nada suaranya jadi berubah begitu? “Entahlah, sepertinya mereka suka sekali mengerjai kita.” Jawabku. Sialan! Pasti Minna berfikir aku yang sengaja membawanya kemari, cih! Terlalu dini untuk menjadi laki-laki dewasa.
Aku mendengar suara tubuhnya yang juga ikut berendam didekatku, tidak ada suara dari kami sebelum aku membuka mata dan mendapat ledakan kejutan lagi. “APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!” teriakku namun Minna malah tidak memberikan respon apapun dan sibuk bermain air.
“Lalu yang kau lakukan itu apa?” Minna menunjuk tubuhku yang juga tidak berpakaian, sialan! Dada itu yang terus menjadi pusat perhatianku, Shin Minna jangan mengeluh jika malam ini kau tak akan tidur.
“Terserah kau saja.” Ucapku.
“Hey, mesum.” Panggilnya, tapi tunggu dulu dia memanggilku apa?! Mesum?! Enak saja!
“Siapa yang kau panggil mesum hah?!”
“Tentu saja kau Woo JiHo, siapa lagi?! Tapi apa ini malam terakhir di Colmar?” tanyanya. Aku menoleh padanya dan menangkap raut wajah sedih darinnya, “Ya, memangnya kenapa?”
“Apa nantinya bisa seperti ini lagi?”
Sebenarnya aku juga tidak ingin ini berakhir, tapi sudah waktunya aku mengurus semua pekerjaan yang ibu berikan padaku. Aku sudah bukan siswa SMA yang suka berkelahi lagi, aku sudah harus mengurus istriku dan nantinya juga anakku, “Tentu saja kapanpun kau mau.” Jawabku.
“Benarkah?! Kau tidak bercanda kan?!” entah karena dia sangat senang atau dia tidak menyadarinya, tapi dia sudah sangat dekat padaku. Ah tidak, dia duduk di pangkuanku dan bahkan dia sekarang sudah memelukku.
“Ap. Apa yang kau, ,”
“Ucapan terimakasih dariku.” Dia yang memulainya?! Aku bahkan tidak percaya dia melumat bibirku tanpa malu-malu? Baiklah Shin Minna ini kau yang meminta bukan aku. Jika dia bisa melihat bagaimana aku tersenyum menang dalam hati, dia pasti tak akan melakukan ini lagi.
Sensasi baru yang tak akan aku lupakan seumur hidupku, dadanya bergesekan dengan dadaku didalam air hangat. Sesekali aku mengusap punggung halusnya dengar air, sdikit aku mendengar desahan yang aku rindukan darinya. Shin Minna apa nanti kau akan mendesah lebih untukku? jika kau melakukannya aku akan menuruti apapun kemauanmu.
“Engh, ,” desahan yang tertahan namun sangat ampuh menaikkan libidoku seribu persen. Ciuman kami terkepas entahlah dia memang sengaja melakukannya atau minta di beri sedikit waktu untuk menarik napasnya. “Aku,” aku hanya menatapnya menantikan apa yang akan di katakannya meskipun sebenarnya aku sudah tidak tahan untuk menarup bibir kemerahannya itu.
“Aku mencintaimu.” Ujarnya setelah aku bersusah payah menahan keinginanku untuk segera melahapnya. Kata-kata yang sepele namun membuat jantungku berdetak tak karuan, kalimat itu memang sanggup membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
“Baiklah, aku juga.” Aku menerjang bibir basah yang sangat sexy itu, maaf Na-ya aku sudah tidak sanggup lagi untuk meladeni bagaimana harus bersikap romantis untukmu, saatnya untuk membuatmu tidak tidur semalaman.
Aku tidak memberikannya kesempatan untuk membalas ataupun bernapas. Kuraba seluruh sebagian tubuhnya yang tenggelam dalam air dan sesekali meremas dadanya. Ia mengerang. Kupeluk erat tubuhnya dan perlahan kubalikkan posisi dan kini aku menindihnya.
“Ahhh…enghh..” kulepaskan sejenak untuk menarik napas dan tak lama kembali melumat bibirnya yang manis dan seksi itu. Minna menyandarkan punggungnya pada pinggiran kolam dan tangannya bergerak mengacak-acak rambutku. Diam-diam kulebarkan kakinya dan membiarkannya melingkar di pinggangku. Aku sudah tidak sabar ingin memasukinya. Kali ini ku cumbui kembali kulit lehernya dengan ganas, sesekali menggigitnya.
Aku tidak memberikan kesempatan untuknya tenang sejenak. Aku terus menyerangnya secara bertubi-tubi dengan penuh nafsu dan tanganku pun bergerak ke sana kemari merabai tubuhnya. Yang bisa dilakukan Minna hanya satu, mendesah.
Selagi Minna masih terhipnotis oleh ciumanku, diam-diam aku mengarahkan bagian bawahku untuk kembali merasukinya. “Akh, hhh” Minna sedikit memekik meskipun sebagian banyak dari pekikannya adalah desahan. Dan aku dapat satu kenyataan bahwa melakukannya dalam air memang memberikan akses lebih mudah untuk dapat memasukinya.
Dan sialnya aku emndesah sendiri setelah penetrasiku berhasil dengan sempurna, organ bawahku terjepit di bawah sana. Minna menarik leherku, menghujamiku dengan ciuman-ciuman basah darinya, sepertinya kau sudah tidak sabar sayang? Baiklah kita mulai.
“JiHo-ya, , Oh, Aku mohon, , hhh, ,” desahnya, racauannya terkadang membuatku tak habis pikir dia memohon apa? Ah, sudahlah aku sedang menikmatinya sekarang.
Kukecup kulit lehernya, semakin lama Minna semakin menggila, dia memeluk leherku sesekali menggigiti daun telingaku ketika aku memperdalam hentakanku. Shin Minna kau memang berbeda malam ini.
Air di sekitariku beriak ketika gerakanku semakin cepat, aku mencobanya lagi lebih menusuk ke dalam seperti yang Minna minta. Hasilnya, dia meleguh panjang, menjerit dan tak lupa desahannya sangat indah. “JiHo-ya, di, , situ, , engh, ,” apa maksudnya? Banyak wanita mengira aku adalah orang yang pintar dalam hal wanita, bercinta atau yang semacamnya meskipun kenyataannya, aku sama sekali tak mengerti apa yang dia maksud.
Baiklah aku anggap itu adalah, , emb dia meminta lebih. Ya begitu saja, aku kembali menusuknya lebih dalam dan rasanya aku sampai pada puncaknya. Minna memelukku sangat erat, entahlah mungkin saja dia juga akan sampai pada pelepasannya.
“Ahhh..ahhh..” Minna mendesah lega.
Aku kembali mengajaknya berciuman. Kukulum bibirnya dan ia membalas. Gerakanku tidak berhenti meskipun aku merasa agak lelah hingga akhirnya aku merasa milikku berkedut ingin menembakkan berjuta selku ke dalam tubuhnya. Aku menyedot kencang bibirnya, membuat Minna mengerang tertahan dan di saat bersamaan, aku sampai. Tubuhku menegang sesaat ketika aku berhasil mencapai puncak dan boom! Aku rasa berjuta selku masuk berenang kedalam tubuh Minna.
Aku menatapnya meskipun aku harus mengumpulkan keberanianku terlebih dahulu untuk bisa menatapnya, bagiku tatapan mata Minna itu adalah hadiah istimewa. “Hadiah untukmu.” ujarnya kemudian.
“Untukku?” seketika aku berhenti, tidak melanjutkan gerakanku. Minna tersenyum sambil mengangguk, “Aku tak ingin ibumu kembali membuat rencana bulan madu untuk yang kedua kalinya.” Aku mengerti Na-ya, aku sangat mengerti maksudmu.
“Baiklah, kita akan buat hadiahnya.” Ujarku lalu kembali bergerak.
“Ah, , Ah, , JiHo-ya , ,” desahnya, kedua tangan Minna meraba bebas punggungku. Hangatnya air membuat kami masih nyaman melakukannya didalam air. Suara desahan Minna semakin kencang, berkali-kali aku merasakan tubuhnya tersentak dan sedikit bergetar. Aku tersenyum menang tanpa di ketahuinya, rasakan itu Shin Minna.
“JiHo-ya, , Kau, , engh, , Bodoh, ,” ujarnya.
“Ap, , Apa kau bilang?”
“Aku, engh, , ke, , dinginan hhh, ,” benarkah? Minna kedinginan? Aku bahkan merasa panas disini, sebaiknya aku selesaikan ini dan membawanya masuk kekamar kami.
-*-
Tak kusangka bisa melewati hari terakhir bulan maduku dengan begitu indah. Minna melayaniku dengan baik,dia memang tidak pernah menolak ataupun mengeluh meskipun aku melakukannya sepanjang malam hingga aku puas. Sebenarnya aku memang selalu ingin menyentuh Minna. Tubuhnya terlalu menggairahkan dalam pandanganku.
Sekarang kami melewati ronde ke empat di atas ranjang. Aku terus menatapi wajahnya yang memerah dan mulutnya yang terus mengeluarkan desahan.
“JiHo-ya, , ah, ,” leguhnya.
“Ne..” jawabku sambil mengecup ringan pelipisnya.
“Aku mencintaimu..ahhh..” ucapnya, kalimat itu menjadi lain saat dia mengucapnya bersamaan dengan desahan.
“Aku tahu..” kukecup kembali bibirnya dan membiarkan Minna menguasai permainan. Pertemuan pertamaku yang gila dengan gadis gila sepertinya, dia memang tidak mencolok dari begitu banyaknya gadis yang ada di sekolahku dulu. Tapi aku berani mengatakan bahwa dia yang berani mengubah hidupku sampai seperti ini, mengajariku menghargai sahabat, menyelesaikan masalah tanpa perkelahian. Aku sangat menyayanginya, niatanku yang dulu untuk mempermainkannya malah berubah menjadi bagaimana aku harus membahagiakannya dan akan terus menyayanginya. Minna memang wanita yang keras kepala namun hanya dia yang membuatku takut kehilangannya, aku tak akan membiarkan laki-laki manapun termasuk sahabatku menyukainya.
“Ahhh..enghhh…aahhh..” desahan kami terus sahut menyahut mengiringi malam terindah kami sebagai pasangan pengantin yang sedang berbulan madu.
Aku merundukkan kepalaku untuk mengulum puncak dadanya yang sudah menegang dan agak memerah karena entah sudah berapa kali kuhisap dan kukulum. Setiap senti tubuhnya memang selalu membuatku bergairah.
“JiHo-ya, aku, ,”
“Ahh, , aku tahu, , Tunggu, ,” aku bergerak semakin cepat berusaha mengejarnya yang hampir sampai pada pelepasannya.
“Ahhhh, , ah, ah,” leguh kami bersamaan, aku beringsut di sebelah tubuhnya. Jika tubuhku ada tepat diatasnya dia pasti akan protes.
“Aku ingin hadiah kita jadi dengan sempurna.” Ujarku.
“Apa maksudmu?” Minna membalikkan tubuhnya seolah tak peduli apa yang aku katakan baru saja, “Ya, Ya! kenapa kau mendadak berubah begitu hah?!”
“Siapa yang berubah? Huh, dasar tidak melihat diri sendiri.” Minna menarik selimut hingga menutupi lehernya, “Aku ingin tidur suami bodohku.” Sambungnya.
“Ya! siapa yang bodoh?!” teriakku, hoo, aku tahu dia hanya manis saat bercinta saja?! Wanita sinting!
“Woo JiHo.”
TBC

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: