Honey Moon 1

0
block b ff nc
Author : Jae Park
Cast : Shin Minna ( Fiction )
Song Youngra ( Minna friend )
Woo JiHo ( Zico BlockB )
Anh Jaehyo ( Block B )
Kim Yookwon ( U-kwon BlockB )
Jung Minchan ( AdMinchan XD *Jaehyo Girlfriend* )
All Other main cast.
Genre : romance, NC 21.

Ini sudah minggu ke dua, minggu kedua untuk statusku yang sangat tidak jelas. Apa aku sudah menjadi janda sejak dua minggu yang lalu? Dikampus pun aku tak bertemu dengan Jaehyo oppa ataupun JiHo, aku sangat ingin bertanya pada Yookwon kemana mereka. Tapi apa tidak terdengar terlalu berlebihan jika aku menanyakan dua orang pria?
“Na-ya? hey, kenapa kau melamun?” aku tak tahu kapan Youngra datang, tiba-tiba saja dia sudah duduk didepanku, menaruh buku-buku yang dibawanya lalu bertopang dagu.
“Aku tak suka melihatmu seperti orang kebingungan begitu.” ujarnya.
“Siapa yang bingung? Aku baik-baik saja.” Elakku, Youngra hanya menghela napas panjang seolah dia tidak percaya dengan ucapanku baru saja.
“Sekarang aku sudah tidak mendengar wanita-wanita itu membicarakan JiHo.” Saat mendengar nama itu bola mataku seperti ingin lepas, lumayan lama Youngra sudah tidak membahas nama itu dan baru sekarang telingaku menangkap nama yang menyakitkan.
“Apa? Jangan melihatku seperti itu!” ujarku.
“Kau merindukannya?” tanyanya.
“Untuk apa? Merindukan seseorang yang hanya suka berteriak tidak ada gunanya.” Youngra tersenyum kecil, dia menggodaku. Awas kau!
“Permisi, apa nona bernama Shin Minna?” seseorang bertopi putih, berseragam seperti pengantar barang menyapaku sopan.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
“Kiriman untuk anda, silakan tanda tangan disini.” ujar pria ini sambil menyodorkan kertas yang harus aku tanda tangani di kolom bagian kiri bawah. Setelahnya kotak putih berukuran sekitar dua puluh senti untuk setiap sisi kotak ini.
“Dari siapa?” tanya Youngra, tsk! Kenapa aku sampai lupa menanyakan dari siapa ini?!
“Pak! Kiriman ini dari siapa?!!” teriakanku sepertinya sangat tidak didengar, pria tua pengirim barang itu tidak menoleh sedikitpun.
“Ah, jangan-jangan ibu.” Gumamku.
“Aku yakin ibumu tidak sebaik itu.” ejek Youngra, sial! Dia kira ibuku sejahat apa? Aku kan putrinya?
“Sudah buka saja.” Saran Youngra benar, siapa tahu isi kotak putih ini makanan. Hahaha! Ya, mungkin saja!
Aku membukanya, dan ternyata tebakanku benar! Whoah! Betapa bahagianya! Ayam goreng, kentang goreng dan sausnya, tapi tunggu kenapa menu makanan ini seperti, , JiHo?
“Kenapa?”
“Ah, tidak.” jawabku.
“Tidak bagaimana? Kau hanya melihat makanan didepanmu seperti melihat setan.” Kata Youngra.
Aku berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, segera mengeluarkan semua makanan ini dari kotaknya, menata di atas meja ini agar kami bisa cepat memakannya.
Disaat kami makan aku menemukan lipatan kecil kertas yang terselip di tutup kotak, aku segera mengambilnya sebelum Youngra menyadari kertas kecil ini.
“Apa?” tanya Youngra.
“Tidak ada apa-apa, makan saja!” Youngra mengurucutkan bibirnya lalu kembali makan.
Terpaksa aku harus bersembunyi dari Youngra untuk membuka kertas yang terselip tadi, aku harus bilang aku ingin sekali menyelesaikan masalahku dikamar mandi, maafkan aku Youngra.
‘Maaf tapi aku tidak bisa mengembalikan cincin itu lagi, sudah cukup sampai disitu saja.’ Boom!!! Hatiku meledak, menjadi cercahan daging yang tercecer saat tubuh manusia meledak. Benarkan?! JiHo pasti akan menceraikan aku, sudahlah sepertinya JiHo memang benar-benar mencintai Minchan. Yookwon juga pasti berbohong padaku, dia ikut menghilang tanpa jejak, bahkan Youngra tidak mau memberitahukan padaku dimana Yookwon. Hidupku menyedihkan!
Aku mencuci mukaku berkali-kali, menghilangkan bekas menangisku agar tak ada yang tahu, siapa yang mau jadi topik pembicaraan banyak orang? ‘Gadis yang keluar dari kamar mandi dengan mata sembab,’ hah, tidak lucu!
“Hey, aku dengar laki-laki tampan itu akan menikah sayang sekali.” Ujar seorang gadis yang sibuk membenahi bedak tebalnya.
“Laki-laki tampan? Maksudmu JiHo? Ya aku sudah dengar kabarnya, memangnya siapa sih pacarnya? Gadis itu hanya membuatku iri.” Sahut temannya yang beru saja keluar dari kamar mandi, aku membasuh wajahku lagi, menelan semua percakapan dua wanita itu dalam-dalam. Sekaligus meyakinkan dalam hati bahwa jika semuanya benar, apa boleh buat? Toh aku memang bukan salah satu orang yang ada didalam hati JiHo, untuk apa di permasalahkan?
“Tapi aku jua dengar gadis yang akan dinikahi JiHo adalah gadis yang pernah membuat persahabatan JiHo dengan temannya rusak. Wah, pasti gadis itu cantik sekali.” Jangan dnegarkan mereka Shin Minna, anggap saja mereka hanya pembawa gossip yang salah. Ya, gossip yang salah. Tapi dalam hati aku sangat yakin itu Minchan, siapa lagi yang pernah membuat persahabatan JiHo dengan Jaehyo oppa berantakan? Aku hanya bisa menangis dalam hati, sial!
Magnifico
Keesokan harinya aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana, aku sedang tidak punya mood untuk keluar meskipun itu untuk kuliah, aku sedang malas!
Ponselku bergetar berkali-kali, bahkan berpuluh-puluh kali, sialan! Siapa yang suka sekali menggangguku pagi –pagi begini!
“Halo!” teiakku.
“…” benarkan? Hanya orang bodoh yang suka menggangguku pagi-pagi dan merusak acara tidurku! Aku memutus telfonnya dan kembali tidur.
Tapi sialnya ponselku kembali berdering, argh! Orang ini pasti ingin membunuhku!
“HALO?! INI SIAPA?!” saking kesalnya aku sampai berdiri, seakan yang menelfonku sedang ada didepanku.
“Kau sedang apa?” tunggu, aku seperti mengenali suara ini.
“Ini siapa?” tanyaku.
“Jawab saja!” benarkan? Belum-belum sudah berteriak, otaknya memang benar-benar tidak berubah. Dasa kacang polong!
“Kenapa harus dijawab?!”
“Kau mau mati hah?!”
“Bunuh saja! Aku sudah bosan hidup!” teriakku lalu memutus kembali telfonnya segera mencabut baterai ponsel dan melemparnya sembarangan.
Sial! Dia membuatku sangat kacau! Jantungku begitu saja berdetak tidak karuan, kalau begini aku mana bisa tidur?! JiHo! Kau benar-benar menyebalkan!
-*-
Aku sekarang seperti sudah berubah menjadi orang bodoh, duduk di bangku taman, sendirian, dengan satu kantung plastic besar disebelahku sambil melihat anak-anak kecil bermain. Aku bodoh sekali! Mana pernah aku melakukan hal seperti ini?!
Saat aku mengaktifkan ponselku lagi, Minhyuk oppa menelfonku dia mengundangku keacara pikniknya bersama istri dan keponakanku Minho. Baiklah apa salahnya? Toh ini acara keluarga, bukan harus datang membawa pasangan masing-masing.
.
“Dimana mereka?” gumamku, di tempat yang tadi dikatakan Minhyuk oppa tidak ada orang sama sekali. Sepi hanya sesekali orang yang bersepeda lewat lalu anak kecil yang berjalan bersama ibunya, huh! Akhirnya aku hanya duduk sendirian memandang rumput hijau didepanku, angin yang berhembus pelan menerpa wajahku.
“Sedang apa kau?” aku terkesiap tentang suara itu, baiklah Shin Minna kau hanya melamun, suara itu hanya bagian dari lamunanmu, aku masih memandang kedepan aku tak berani menoleh, kau takut suara itu tadi hanya khayalanku saja.
“Hey, kau tuli hah?!” jantungku berdebar masih tidak menoleh tapi air mataku jatuh, apa dia ada dibelakangku sekarang? apa itu benar JiHo? Atau hanya khayalanku?
“Ya.” apa khayalanku terlalu kuat sampai suaranya tidak hilang-hilang?
“Aku tahu kau menangis, cih, wanita sepertimu bisa menangis juga?” khayalanku benar, JiHo memang tak pernah melihatku menangis, dia hanya tahu bagaimana aku ceria dan marah. Sebenarnya aku juga ingin dia tahu bagaimana aku menangis karena dia, laki-laki berambut pirang yang bodoh!
“Katakan saja kalau kau merindukanku, haha, orang sepertiku memang harus dirindukan.” Dan untuk kali ini aku menoleh, mana ada khayalan bisa sampai seperti ini, aku di ejek khayalanku sendiri.
“Kau, ,” desisku, ini bukan khayalan, dia memang benar-benar ada didepanku sekarang. “Apa yang kau lihat hah?!” ujarnya. Kali ini aku menangis, “Mau apa kau kemari hah?!” tanyaku setelah ku tutup wajahku dengan kedua tanganku.
“Untuk bertemu denganmu! Kau kira apa lagi?!” aku berusaha meredakan tangisanku, sekali lagi untuk menatap wajahnya yang sudah ada didepan mataku.
“Pakai ini.” JiHo membuka telapak tanganku dan menaruh sebuah cincin, “Itu dariku.” Ujarnya lagi.
“Apa maksudmu?” tanyaku sambil terisak lagi.
“Kau masih tanya apa?! Kau kira apa?! Kalau kau masih memakai cincin yang kemarin berarti kau menikah dengan Jaehyo hyung, kau suka hah?!” dia memasang dengan cepat cincin bulan sabit berwarna emas di jariku.
“Sekarang kau benar-benar istriku.” Ujarnya lalu memelukku, ini bukan mimpi? Ini benar kenyataan bukan? Tuhan! Terimakasih! Aku berjanji aku tidak suka mengomel pada JiHo, terimakasih!
“Ya, selama ini kau menganggapku istri siapa?” JiHo melepas pelukan kami dan menatapku, “Istriku.” Ujarnya lalu memelukku lagi.
“Maafkan aku.” Ujarnya.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Aku terlalu lama menjemputmu.”
“Kau bodoh.” Desisku.
“Apa kau bilang?!”
“Kau kira aku tidak sakit hati hah?! Di kampus banyak wanita yang mengatakan bahwa kau akan menikah dengan gadis cantik yang pernah merusak persahabatanmu dengan Jaehyo.” Ujarku.
“Ya, kau kira kau tidak pernah merusak persahabatanku dengan Jaehyo hyung hah?! Dasar bodoh.” Ujarnya lalu mengecup keningku, “Aku tak akan melepaskanmu lagi.” Sambungnya. Jantungku berdebar, apa ini pertama kalinya jantung bereaksi seperti ini? aku bahkan lupa bagaimana laki-laki ini membuat perasaanku tidak karuan.
“Hyung! Kenapa masih berpelukan disana hah?! Nanti kita ketinggalan pesawat!” aku menoleh pada asal suara itu, Yookwon? Youngra?
“Pesawat? Apa maksudnya?” aku mendorong JiHo agar ada jarak antara kami, kalian tahulah aku tidak mau kedekatan kami dilihat orang lain, memalukkan!
“Kita harus segera berangkat, aish kenapa aku bisa lupa?” JiHo menarik tanganku, dia bermaksud mengajakku untuk segera pergi dari tempat ini, “Ya, berangkat kemana?!” JiHo tidak mendengarkanku, dia masih menyeretku mengikutinya.
“Ya! kita mau kemana?!” teriakku.
“Ikut saja cerewet! Atau mulutmu aku, ,” 
“Atau apa?!” aku memutar pergelangan tanganku agar bisa lepas dari cengkramannya.
“Masuk mobil.” Dia mendorong paksa agar aku masuk mobil berwarna hitam, aroma didalamnya begitu segar sampai aku tidak sadar bahwa ini benar-benar didalam mobil.
“Ra-ya, katakan padaku kita mau kemana.” Pintaku, Youngra hanya mengangkat bahunya lalu tertawa kembali masuk pada pelukan Yookwon disebelahnya. Sial! JiHo memang sangat suka membuatku bertanya-tanya akan kemana,tapi lihat dia hanya membuang mukanya kearah jendela mobil tanpa mengatakan apapun. Aku sangat ingin menjambak rambutnya!!
-*-
“Woo JiHo, aku hanya ingin kau mengatakan kita akan pergi kemana, apa mengatakan itu sangat sulit hah?!”
“Hyung!” aku meluruskan pandangku saat JiHo mengatakan ‘Hyung’, Jaehyo oppa?! Minchan?! Untuk apa mereka?
“Minna-sshi!” Minchan melambaikan tangannya padaku, ada dua koper didekatnya, juga dua koper didekat Jaehyo oppa. “Ayo cepat.” JiHo mengajakku lagi lebih cepat mendekat pada Jaehyo oppa dan Minchan.
“Mana Yookwon?” tanya Jaehyo oppa pada JiHo.
“Dibelakang, sebentar lagi pasti muncul.” Kata JiHo. Ah, baiklah aku sudah sangat-sangat bingung sekarang, Minchan sangat aneh padaku padahal terakhir kali kami bertemu dia pergi sambil menangis karena penjelasanku yang seakan aku tahu semuanya.
“Minna-sshi, aku sudah urus semua barang bawaanmu, jadi tidak perlu khawatir.” Ujarnya.
“Ba, bawaan? Tunggu sebenarnya kita mau kemana? JiHo-ya, sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku, semuanya mengulum senyum, mereka seperti tidak mau memberitahu apa yang seharusnya aku tahu.
“Kita akan ke Perancis! Bukankah ini hebat nunna?! Sejak kecil aku memimpikan pergi ke kota Colmar dan akhirnya aku bisa pergi ketempat itu dengan Youngra, ah! Mimpi yang indah.” Jelas Yookwon yang tiba-tiba datang sambil membawa kopernya bersama Youngra.
“Perancis?! Yak! Pirang! Kenapa tidak mengatakan pada terlebih dahulu hah?! Asal berangkat saja, ibu pasti tidak tahu aku pergi jauh bodoh!” JiHo melebarkan mata tajamnya, jujur untuk beberapa detik aku harus takut, tatapan mengerikan yang sepertinya dia ambil dari malaikat penjaga neraka tertuju padaku.
“Bodoh! Mana mungkin ibumu khawatir jika kau pergi bersama suaminya?! Jika ada ibu yang marah putrinya pergi bersama suaminya, pasti dia adalah nenek sihir yang gila!” JiHo berteriak tepat didepanku, aku menemukan JiHo lagi, Woo JiHo yang suka berteriak, melirikku dengan tatapan tajam dan seperti tidak peduli padaku padahal sebenarnya dia sangat peduli. Aku merindukannya!
“Penerbangan menuju Perancis segera berangkat dalam empat puluh lima menit lagi.”
“Ayo cepat.” Kata JiHo.
“Tapi kalian harus, ,”
“MInna-sshi, nanti aku akan menjelaskan semuanya padamu sampai sejelas-jelasnya.” Minchan menggeretku ikut dibelakang JiHo dan Jaehyo yang membawakan koperku dan Minchan sedangkan Youngra dan Yookwon, hah mereka akan selalu jadi pasangan yang paling romantic didunia ini.
-*-
Jujur, aku takut! Darahku seperti mengalir deras, seakan memberiku sedikit sentakan disetiap detiknya. Terasa bergerunjal saat aku melihat kabut putih yang melintas di kaca pesawat.
“Kau takut?” tanya JiHo, tersirat tapi JiHo pasti mengerti bahwa aku memang sangat takut, argh! Kenapa Perancis itu sangat jauh? Mungkin ini baru lima menit dari terbangnya kami tapi aku sudah merasa satu jam duduk didalam kendaraan yang berbentuk kapsul ini.
“Kemarilah.” JiHo menyelipkan tangan kirinya untuk meraih tubuhku, sedikit berapat agar aku jelas berada dalam pelukan hangatnya, aku merasa lebih tenang.
“Apa semua pesawat seperti ini?” tanyaku ragu saat getaran bersama lewatnya kebut putih di jendela kembali terlihat. “Tentu saja, ayahku bilang jika pesawat tidak bergetar itu tandanya, ,”
“Tandanya apa?” tanyaku mulai takut.
“Jatuh.” JiHo melepaskan pelukan eratnya tadi dipinggangku hingga aku merasa akan jatuh, aku terkesiap,
JiHo tertawa bodoh setelah mengetahui aku memang benar-benar takut, “Jadi kau benar-benar takut?” tanyanya, mataku sedikit berkaca, aku memang takut dan juga sangat terkejut, pasti yang tadi itu bohong, pirang bodoh!
“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau itu membuatmu benar-benar takut.” Ujarnya sembari mengeratkan pelukannya lagi padaku. Pasti dia merasakan detak jantungku yang sangat keras, aku sampai berkeringat dingin gara-gara JiHo tadi.
“Aku sangat mencintaimu.” Aku tidak salah dengar kan?!
“Ulangi lagi.” Ujarku setelah mendorong JiHo menjauh dariku, aku yakin mataku pasti sangat membulat setelah mendengar kalimat yang sangat jarang JiHo katakan padaku.
“Dengarkan baik-baik karena aku tak akan mengulanginya lagi.” Kami akhirnya saling bertatapan, matanya begitu menerawang dalam ke mataku, JIHo seolah menyampaikan perasaannya dari sana.
“Aku sangat mencintaimu.” Ujarnya lalu perlahan bibir lembutnya menyapu kulit bibirku, menekankan sedikit saat napasnya mulai tak bisa diatur. Tapi yang sangat di sayangkan dia melepas ciumannya, dia curang.
“Cium aku lagi.” Ujarku spontan, bibirku pasti sudah terkontaminasi dengan keinginanku yang sangat-sangat gila. “Baiklah.” Ujarnya lagi dan kembali menekankan bibirnya pada bibirku, hingga mulai lama lidahnya menerobos masuk kedalam mulutku, mengait lidahku lalu menghisapnya pelan.
-*-
Akhirnya!! Setelah ketakutanku tadi bisa JiHo tangani, aku bisa bernapas lega masih bisa menyentuhkan kakiku ketanah, meskipun bukan di Korea. Tadi seorang supir dengan bahasa anehnya menjemput kami berenam dengan mobil Limusin hitam, uwah! Aku merasa aku sedang bermain film Narnia, Harry potter atau semacamnya, tapi begitulah saat didalam pesawat JiHo begitu manis padaku tapi sekarang dia berubah lagi menjadi laki-laki yang paling menyebalkan didunia ini.
“Minna-sshi, karena ini kedua kalinya aku ke Colmar, aku akan mengajakmu berbelanja di pusat kota. Bagaimana?” tanyanya saat setelah kami semua masuk kedalam kamar, villa milik JiHo memang tak besar tapi nuansa dongeng yang melekat di setiap sudut villa ini begitu kental hingga aku merasakan lagi hidup didalam negeri yang selama ini tak pernah ada.
“Ah, baiklah. Tapi jangan bicara formal padaku, bukankah umur kita sama?” kataku.
“Ah, baiklah jadi aku sudah bisa memanggilmu sama seperti yang lainnya memanggilmu?”
“Maksudmu?”
“Aku bisa memanggilmu Na-ya.” ujarnya sambil tersenyum.
“Tentu saja.” Ujarku. In mungkin kedua kalinya aku akan mendapat sahabat baik lagi setelah Youngra yang selalu menemani perjalan hidupku dari sebelum aku mengenal JiHo sampai aku menikah.
“Terimakasih.” Kata Minchan.
“Tapi kau masih berhutang padaku.”
“Hutang?” Tanya Minchan bingung.
“Kau belum menjelaskan padaku tentang semua yang terjadi, jadi saat berbelanja kau bisa menjelaskannya.” Minchan tersenyum lalu dia memelukku, “Bagaimana JiHo tidak snagat-sangat mencintaimu? Bahkan aku yang seorang wanita saja ada kemungkinan menyukaimu.” Seketika aku mendelik, mana mungkin Minchan menyukaiku?! Jangan-jangan dia, ,
Minchan melepaskan pelukannya, “Jangan salah paham, menyukaimu sebagai teman dekat. JiHo memang tidak salah mencintaimu.” Ujarnya.
“Hey! Bodoh! Sedang apa kau hah?!” teriakan itu membuat percakapan kami berakhir, JiHo dan Jaehyo oppa datang menghampiri kami.
“Ya, apa kau tidak bisa mengeluarkan suara yang lebih pelan hah?!” ujarku.
“Apa kau bilang?! Ikut aku! Hyung gurus istrimu!” JiHo menyeretku lagi, sial dia selalu membuatku malu didepan orang. Minchan tersenyum geli lalu pergi dirangkulan Jaehyo oppa.
“Kita mau kemana?!” tanyaku.
“Menyelesaikan hutangmu.” Ujarnya.
Aku tak pernah ingat aku pernah berhutang apa pada JiHo, tapi aku merasa aku harus melayaninya di siang hari begini. “Kau mau sekarang?!” tanyaku.
“Ya bodoh, apa kau tidak tahu artinya bulan madu hah?!” JiHo mendorongku hingga jatuh di atas kasur empuk lalu memelukku erat, “Aku tidak akan memaksamu, tapi aku sangat merindukanmu.” Ujarnya.
Entahlah, aku sering berfikir bahwa aku punya otak yang sangat kotor atau apa tapi aku sangat senang dengan perlakuannya padaku saat ini. Ya, aku memang menyukai JiHo yang suka berlaku intim padaku, aku lebh merasa dekat dengan JiHo.
“Jangan pernah menganggapku pergi darimu.” Ujarnya, hidung kami saling bersinggung, mata teduh yang kedua kalinya aku lihat lagi. Aku mengangguk lalu dia kembali mendekat padaku, menempelkan bibirnya pada bibirku. Lalu aku baru ingat bahwa aku sedang bulan madu dengan JiHo, “Kota Alsace, Colmar Perancis.” Itu kata ibu mertuaku, dan disini tempat aku berpelukan dengan JiHo adalah tempat harusnya kami berbulan madu.
“Tu,tunggu.” JiHo memandangku terengah, napasnya yang sejak tadi seperti ingin menelanku bulat-bulat membentur kulit wajahku. “Apa?” tanyanya, sekilas aku bisa melihat guratan merah muda dipipinya. Mukanya memerah?! Ini pertama kalinya!
“Apa ini bulan madu?” tanyaku ragu.
“Iya, kau benar. Dan kau Shin Minna sudah membuatku sangat tidak tahan.” JiHo membungkam mulutku lagi, sedikit lebih liar mendecap setiap inchi kulit bibir dan lidahku.
Suara decapan, sedikit air liur aku dengar dan rasakan, bagaimana hangatnya JiHo sampai kami berdua saling menatap saat tidak ada serat benang yang menutupi tubuh kami berdua. “Bagaimana jika yang lainnya mengajak berjalan-jalan?” tanyaku.
“Biarkan saja, aku ingin dirimu.” Ujarnya bersama dengan henyakan yang membuatku menegang, beberapa saat aku masih harus butuh waktu membiasakan diri untuk menerima penetrasi darinya, beberapa tetes peluh jatuh di dahiku. Dia berkeringat sangat banyak.
“Apa masih sakit?” tanyanya, untuk sekejap aku bisa menyembunyikan ketidak siapanku lalu dia bisa melihatnya. “Maafkan aku, apa perlu kita hentikan disini?” ujarnya sambil membelai keningku.
“Kau akan tahu akibatnya jika menghentikan ini.” desisku, JiHo tersenyum tipis, “Kau memang istriku.” Gerakan tubuhnya yang perlahan membuatku sedikit terhanyut seperti tidak merasakan dunia untuk beberapa detik, hanya JiHo garis wajahnya yang memenuhi mataku.
Ketika bibir kami kembali bertemu, aku mendengar desahannya yang sangat pelan, aku sangat ingin menutup mulutku karena aku yang paling berisik disini. “Jangan, hh ditutup.” JiHo menangkap tanganku, dia mencegahku menutup suara berisik yang dari tadi keluar dari bibirku.
JiHo ~POV~
Aku berharap bisa selalu seperti ini dengannya, meskipun aku tahu bagaimana keadaan kami setiap hari dan itu juga yang membuatku tidak bisa selalu menyentuhnya. Saat pulang kerumah ibu aku sangat ingin dapat bercinta dengannya di tempat aku tumbuh tapi dia selalu menolaknya dengan alasan ibu atau kami pasti berdebat hal bodoh yang membuatku melupakan niatan awalku.
Dia mulai meresponku, memberikan sedikit sentuhan lembut dipunggungku ketika aku menghentakkan pinggangku sedikit keras. Aku menangkap tubuhnya lagi, memeluknya semakin dalam hingga aku bisa merasakan napas terengahnya yang membentur kulit pundakku.
“JiHo-ya, ,” panggilnya setengah mendesah, aku berhenti menciuminya memandangi wajahnya untuk beberapa saat, ternyata dia memejamkan matanya menikmati sentuhanku sejak tadi. Aku tersenyum menang tanpa diketahuinya.
Aku menghisap, sedikit mengigit kulit pundaknya, entah kenapa aku sangat senang saat tanda itu membekas di kulit tubuhnya. Aku tidak mungkin membuatnya membekas di kulit leher Minna, Yookwon dan yang lainnya pasti akan membuat Minna malu. Ketika aku berhenti bergerak, Minna membuka mata aku tahu dia pasti lelah, peluhnya begitu banyak.
“Aku mencintaimu.” Ujarnya, jari telunjuk Minna menyusuri garis rahangku. Aku tak menjawabnya, jika dia memang percaya padaku dia pasti tahu bagaimana perasaanku. Aku tak tahan lagi, jika hanya melihatnya dengan raut wajah begini aku sungguh tak mampu.
Aku menggerakkan pinggangku lagi, “Ah!” aku sampai tak peduli itu rintihan sakit atau nikmat tapi aku sangat menikmatinya. Seluruh suara yang keluar saat kami bercinta adalah suara favoritku.
Tanganku aktif membelai lengannya lalu berakhir di dadanya, aku meremasnya pelan sedikit berirama agar Minna dapat menikmatinya. Suara desahan kami saling bersahutan, persetan dengan empat orang yang bisa saja lewat dikamar kami, aku kira mereka sudah cukup dewasa untuk menanggapi bagaimana harusnya pasangan suami istri.
“JiHo-ya, ,” penggilnya terdengar sangat frustasi. Napasnya menderu seketika dia menahan napas, aku menyadari masa kenikmatan itu mulai menjamah dirinya dan juga aku. Aku mempercepat gerakanku dan dia mencengkram erat pundakku saat dia merasakan kenikmatan yang menjamahnya.
Napasnya memburu, meskipun sebenarnya aku belum menyelesaikannya, dia terlihat lelah. “Biar aku yang selesaikan.” Ujarnya. Minna mendorong tubuhku hingga dia yang berada di atasku.
“Kau, ,” ucapanku terputus saat Minna mulai menggerakkan pinggulnya dengan lancar di atasku. Dalam hati aku mengerang, kedua dadanya bergelantung bebas didepanku. Kuraup keduanya, raut wajahnya berubah.
Minna mendesah sexy namun erangan yang mendominasi, aku tak tahan ingin melumat bibirnya yang tidak terkatup rapat itu. Aku tidak suka gaya ini!
“Tugasmu berakhir.” Ujarku sambil membalik posisi, siapa yang tahan melihat istrinya mendesah sexy begitu sementara kita hanya diam didepannya? Tidak boleh dibiarkan!
Aku melumat bibirnya, meremas dadanya yang aku rasa suka sedikit berganti ukuran, apa karena aku terlalu sering meremasnya? “JiHo-ya, pelan pelan! Sakit!” maaf sayang aku terlalu bersemangat mengingat raut wajahmu yang tadi, aku rasa kau akan menjadi obat perangsangku setiap hari.
“Ah, ,” aku melenguh panjang saat hasratku melebur jadi satu dalam tubuhnya. Aku beringsut lunglai tidak sampai jatuh menimpanya, memanfaatkan momen ini untuk sekali lagi menatap wajahnya yang aku rindukan.
“Apa?” tanyanya.
“Kenapa tanya begitu? Aku tidak boleh melihat wajah istriku?” dia tersenyum lalu mengecup pelan kedua pipi dan akhirnya bibirku.
“Lihat kapanpun kau suka.” Jawabnya, inikah Minna?! Benarkah ini istriku yang menyebalkan, cerewet, banyak tanya, banyak mengeluh dan suka menyuruhku?
“Kenapa? Apa aku terdengar aneh mengatakan itu padamu?” tanyanya.
“Tidak.” ujarku lalu memeluknya erat.
Magnifico
Back To Minna POV
Sore hari di Colmar.
‘La Petite Venise’ aku hanya bisa melihat tulisan itu tanpa tahu artinya, menunggu ketiga laki-laki yang entah sibuk dengan sesuatu di villa. Sambil melihat kanal-kanal yang berlalu lalang di sungai, beberapa air mancur yang berdesain taman bunga terihat disisi kiri pohon maple yang kelihatannya sudah sangat tua.
Kami bertiga terdiam, aku diam karena sibuk memperhatikan bangunan-bangunan di sekitar sini yang berwarna sangat cerah, kuda-kuda kayu yang diperlihatkan jelas berwarna coklat tua dipadukan dengan warna kuning, tidak buruk.
“Ssst.. Na-ya, apa aku bisa menceritakannya sekarang?” suara Minchan memecah keheningan yang sejak tadi terlihat tidak akan mencair.
“Minchan-sshi, cerita saja lagi pula bukankah aku bagian dari kalian?” aku terkekeh mendengar nada bicara Youngra yang seakan dikucilkan itu.
“Kau bagian dari kami, jika tidak memanggilku Minchan-sshi, panggil aku Channie.” Ujar Minchan.
“Ah, baiklah, Chan, , Channie.” Ujar Youngra terbata.
TBC

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: