And Your Answer Is?

0
ff exo and your answer is
Author: Nuevelavhasta
Rate: T, PG-15
Casts: Oh Sehun EXO, Nam Yoorin (OC), and another support casts
Genre: Romance, fluff, work-life
Disclaimer: Storyline author adaptasi dari satu cerita manga shoujou dengan perubahan
H-A-P-P-Y-R-E-A-D-I-N-G!!
“Yoorin! Yoorin! Hey, Yoorin! Tunggu!” seorang gadis dengan potongan rambut bob pendek kesulitan berlari karena heels yang dipakainya. Derap kakinya teredam oleh keramaian lobi di sebuah perusahaan elektronik terbesar di Korea.

Sementara orang yang dipanggilnya menghentikan langkahnya dan memutar sedikit tubuhnya ke belakang. Rambutnya yang ikal panjang dan dikucir satu terlihat jauh berbeda dengan rambut bob milik si gadis tadi.
“Oh, Nara-ya! Ya, kau tidak perlu berlari seperti itu, aku tidak akan kabur darimu bahkan meski kau menagih hutangku minggu lalu.” Gadis yang dipanggil Yoorin itu terkikik kecil pada Nara―gadis yang memanggilnya tadi.
Sejenak Nara berusaha menormalkan kembali pasokan oksigen ke dalam paru-parunya. “Kau serius dengan ucapanmu? Aku bisa memegang kata-katamu tadi, kan? Awas kau kalau sampai kabur!” kata Nara dengan nada mengancam.
Yoorin hanya tertawa kecil sebagai balasannya. Keduanya lalu segera menuju ruang kerja mereka.
Aku Nam Yoorin. Aku bekerja sebagai seorang staff akuntan di sebuah perusahaan elektonik yang masuk dalam jajaran perusahaan besar dan terkenal di Korea.
“Manajer Oh Sehun datang!”
Seruan entah dari siapa dan entah dari mana itu mengomando kami semua untuk berbenah diri, yah seperti merapikan baju dan meja kami lalu berdiri dengan tegak untuk menyambut manajer departemen kami. Dia yang namanya tadi disebut tiba di ruang kerja kami.
Namanya Oh Sehun. Rambutnya yang berwarna gelap selalu disisir klimis. Tapi itu tidak menjadikannya terlihat seperti pria nerd yang aneh. Caranya berpakaian juga tidak terlalu rapi. Setelan jas warna dan corak apapun yang dia pakai jarang ia kancingkan. Sehingga ikat pinggangnya mengintip keluar dari kemejanya yang juga tidak pernah rapi masuk ke dalam celananya. Membuatku selalu gatal ingin merapikannya. Ia juga tidak pernah mengancingkan kemejanya hingga atas. Selalu ia sisakan satu kancing paling atas untuk dibiarkan begitu saja.
Caranya memakai dasi juga tidak mencerminkan seorang manajer menurutku. Ia selalu saja melonggarkan dasinya. Dan tak jarang pula tidak memakai atau melepas dasinya. Tapi semua penampilan seenaknya itu akan berubah jika ada jadwal penting. Meeting misalnya.
“Selamat pagi, manajer!” kataku bersama para staff departemen akutansi yang lain kompak. Tidak lupa kami juga membungkukkan sedikit badan kami.
Manajer Oh Sehun tersenyum sekilas dan bergegas menuju kantornya yang memang terpisah dari ruang kerja kami. Oh, apa aku melupakan sesuatu? Oh Sehun adalah orang yang sangat jarang tersenyum dan lebih suka memajang pokerface miliknya. Dia tampan―aku akui itu, tapi tidak saat pokerfacenya muncul. Dia juga tipe manajer yang bertangan dingin juga tegas. Sikap rajin dan disiplinnya sering membuat kami, para karyawan, terkesan.
Di bawah kepemimpinannya, departemen kami selalu mendapat apresiasi lebih dari perusahaan. Tapi Sehun juga manajer yang dibenci oleh banyak staffnya. Sikapnya yang dingin, tidak pernah tertawa, juga kaku plus galak jika sudah menyangkut pekerjaan membuatnya dicap ‘menyebalkan’ oleh mayoritas staff departemen akutansi. Meski kami benci ketika apa yang dilakukan olehnya―hampir―selalu benar dan tepat.
Karena itu, banyak karyawan wanita baik di departemen kami maupun departemen lain yang patah hati. Ya, awalnya mereka tertarik pada Sehun. Tapi setelah mengetahui sifat Sehun yang seperti itu…kebanyakan dari mereka berakhir dengan mengumpati Sehun. Di belakang Sehun tentunya.
Segera setelah Sehun ke kantornya, kami kembali ke meja kerja masing-masing. Ada banyak pekerjaan yang menanti kami.
“Ya, ya, apa kalian sudah mendengar berita ini?” Nara, si tukang gossip yang always up-to-date itu memulai aksinya saat istirahat makan siang dimulai. Aku tidak habis pikir bagaimana ia bisa tahu berita-berita remeh-temeh seperti itu.
“Mwo? Apa ini gossip baru yang panas lagi?” Yeonsu terpancing dengan satu baris kalimat dari Nara. Oh, dia memang selalu terpancing dengan mudahnya
Aku menghela nafasku sepelan mungkin. Aku lebih suka menjadi pendengar dalam situasi seperti ini. Aku tidak menikmati gossip tapi juga tidak membencinya. Jadi aku cukup mendengarkan saja sambil melahap es krimku.
Senyum kemenangan Nara sudah bisa kutebak. Dengan gesturnya, ia berhasil membuat kami semua mendekat kearahnya. Tak terkecuali aku.
“Kalian tahu Park Chanyeol dari departemen IT?” pertanyaannya yang menurutku tidak berguna itu mendapat anggukan dari teman-temanku yang lain. Nara lalu melanjutkan aksinya. “Dari berita yang kudengar, dia dipindahkan ke kantor cabang perusahaan kita yang berada di Daejeon karena dia ketahuan berpacaran dengan Jiseo dari departemen marketing!”
Oke, kali ini aku sangat terkejut hingga menelan es krimku bulat-bulat tanpa menunggunya meleleh di mulutku seperti kebiasaanku untuk memakannya. Beruntung teman-temanku terlalu fokus pada gossip baru itu ketimbang diriku.
“Omo, benarkah itu?” sahut Hyemi.
“Apa kau pernah mendengar gossip yang keluar dari mulutku ini tidak terbukti kebenarannya?” Nara menantang balik Hyemi.
“Tapi itu salah Chanyeol dan Jiseo juga. Sudah jelas-jelas perusahaan kita ini melarang hubungan antar teman sekantor tapi mereka masih nekat juga,” celetuk Yeonsu yang diiyakan oleh yang lain.
“Tapi bukankah aturan itu terdengar sedikit konyol dan mengekang? Menurutku…itu sudah melanggar hak asasi kita sebagai manusia!” Danbi menyahut dengan gaya sok seriusnya yang juga diiyakan oleh yang lain.
Gossip dari Nara ditambah imbuhan dari Yeonsu dan Danbi sudah mampu untuk membawa topik baru untuk dibahas oleh teman-temanku. Mereka sibuk berdebat mengenai gossip baru itu. Debat yang tidak ada gunanya bagiku.
Aku? Aku lebih memilih untuk diam. Yah, karena aku tidak tertarik dengan gossip merupakan salah satu alasannya. Tapi alasan yang lain adalah gossip tadi benar-benar menamparku. Kenapa? Karena aku juga berpacaran dengan teman sekantor.
***
“Nam Yoorin!”
“Ah, iya!” Yoorin tergagap. Suara berat dari Oh Sehun-lah yang menjadi penyebabnya. Yoorin berhenti melangkah padahal meja kerjanya tinggal beberapa langkah lagi. Tapi sebagaimana anak buah, Yoorin harus segera siap ketika atasannya memanggilnya. Yoorin berbalik dan matanya bertemu dengan mata Sehun. “A…ada apa, manajer?”
“Ini, laporan keuangan yang harus kau susun untuk presentasi di pertemuan rutin akhir bulan nanti.” Sehun menyerahkan sebuah map berwarna biru pada Yoorin dengan pokerface miliknya.
“Ba…baik, manajer!” berbeda dari Sehun yang kelihatan tenang, Yoorin justru merasa gugup. Ia menerima map itu dari tangan Sehun tanpa melihat wajah Sehun. Tapi Yoorin bisa tahu jika Sehun mulai berjalan pergi.
“Kenapa kau gugup sekali? Bukankah hubunganmu dengan manajer Oh sudah lebih baik?” tanya Nara yang sedari tadi berada di samping Yoorin. Hubungan yang Nara maksud tentu bukan hubungan antar pria dan wanita, melainkan hubungan sebagai bawahan dan atasan. Nara―dan staff departemen akuntansi laninnya―tentu masih ingat, awal Yoorin bekerja di sini Yoorin sering jadi bulan-bulanan Oh Sehun.
“A…apa maksudmu? Hubunganku dengan manajer? Lebih baik? Kau pikir kami sepasang kekasih? Dan perlu kugaris bawahi jika hubungan kami tidak membaik, aku tidak suka padanya!” kata-kata Yoorin meluncur dengan cepat karena otaknya belum mampu mencerna situasi dengan tepat.
Mata Nara membulat sebulat-bulatnya. “Pelankan suaramu, pabo! Manajer Oh masih bisa mendengar! Kau mau dia menghukummu?!”
Seakan ucapan Nara menyadarkan Yoorin, Yoorin membekap mulutnya sambil mengumpati dirinya dalam hati. Buru-buru Yoorin menuju meja kerjanya dan mulai membuka laporan yang barusan diberikan oleh manajer Oh Sehun padanya. Sejenak Yoorin terpaku menatap sebuah sticky note warna biru dengan tulisan tidak rapi yang tertempel di halaman pertama laporan itu.
‘Nanti malam jam sembilan di tempat biasa’
“A…apa maksudmu? Hubunganku dengan manajer? Lebih baik? Kau pikir kami sepasang kekasih? Dan perlu kugaris bawahi jika hubungan kami tidak membaik, aku tidak suka padanya!” kata-kata Yoorin meluncur dengan cepat. Dan cukup keras hingga Sehun mampu mendengarnya.
“Pelankan suaramu, pabo! Manajer Oh masih bisa mendengar! Kau mau dia menghukummu?!”
Sungguh, rasanya Sehun ingin memberi pelajaran pada Yoorin sekarang ini juga atas apa yang Yoorin ucapkan barusan.
“Gadis bodoh, kau mau mati di tanganku, heh?” desis Sehun pelan.
“Sudah lama menunggu?” tanyaku pada sosok yang duduk di meja bar ditemani segelas sauvignon blanc kesukaannya. Setelan jasnya lebih berantakan daripada saat ia berada di kantor, tapi aku justru menyukainya. Aku lalu mengambil tempat duduk tidak tepat di sampingnya, terpisah dua tempat duduk.
“Tidak juga,” jawabnya setelah menenggak sauvignon blancnya terlebih dahulu. Meski aku tidak melihatnya, aku bisa tahu jika dia tengah mengamatiku. “Kenapa kau menggelung rambutmu dan memasukkannya ke dalam topi beani? Lalu ada apa dengan kacamata itu? Lalu syal itu? Syal di musim semi? Pabo! Pakaianmu juga aneh! Dan lagi, kenapa kau tidak duduk TEPAT di sampingku? Kau pikir aku ini virus berbahaya?” ocehnya.
Aku menggigit bibir bawahku kesal. Aku tahu kekasihku ini orang yang tidak peka. Tapi tidakkah ia bisa sedikit berpikir sekarang ini?! Ya, kekasihku adalah Oh Sehun, manajer departemen akutansi di perusahaan kami bekerja. Aku adalah staff departemen itu. Sebenarnya aku juga tidak menyangka seseorang yang sedisiplin Sehun bisa melanggar peraturan perusahaan. Yaitu berpacaran dengan teman sekantor dalam hal ini aku.
“Oh Sehun-ssi!” kataku dengan penuh penekanan dan emosi. “Apa kau lupa jika bar ini terletak tidak begitu jauh dari kantor? Kau mau ada orang yang memergoki kita lalu mengetahui jika kita ini sepasang kekasih? Satu tambahan lagi, mulutmu yang cerewet itu harusnya kau bawa saat kau bekerja di kantor! Bukannya hanya cerewet padaku saja!”
“Yah, kalau ada yang memergoki kita kau hanya perlu bilang tidak sengaja bertemu denganku, bukan? Apa susahnya itu?” balasnya santai.
“I…iya, sih…” cicitku saat menyadari gagasannya yang tidak salah sama sekali. Akupun segera memesan dolcetto pada bartender yang sedang bekerja.
“Nam Yoorin…” panggil Sehun dengan suaranya yang dalam yang mampu membuatku ketagihan.
“Apa?” balasku singkat.
Lama Sehun tidak menjawab. Akupun menoleh kearahnya dan aku mengumpati diriku sendiri karena keputusan yang sudah aku buat. Sehun tengah menatap tepat ke arahku dengan pokerfacenya yang justru terlihat menawan sekarang. Dan sudah terlambat bagiku untuk memalingkan wajahku karena aku sudah terperangkap ke dalam matanya. “Kau suka aku, kan?” tanyanya singkat tapi sudah sukses membuatku kelabakan.
“Ke…kenapa kau bertanya hal seperti itu, sih?!” oh sial, aku berharap pipiku belum memerah sekarang ini. Akan sangat memalukan jika dia tahu pipiku memerah karenanya.
“Hmph!” Sehun mendengus pelan tapi kemudian tersenyum dan tertawa kecil. Aku melongo melihatnya. Dasar pria aneh!
“Oh Sehun, kau mabuk, ya?!” tanyaku seraya mendekatinya.
Sehun mengibaskan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegangi kepalanya. “Tidak kok. Aku masih minum dalam batas wajar tadi,” kilahnya. Tapi bau tajam alkohol segera merangsek masuk ke indra penciumanku.
Dasar pria satu ini, sudah jelas-jelas ia mabuk tapi tidak mau mengakuinya! “Apanya yang tidak? Jalanmu sudah sempoyongan! Bertahanlah sampai rumahmu.” Mau tidak mau aku memapahnya agar dirinya tidak ambruk di tengah jalan.
Kami diam beberapa saat.
“Hm, maaf ya? Padahal sudah lama kita tidak berkencan,” gumamnya.
Departemen kami memang sering sibuk, bahkan staff-staffnya juga sering kerja lembur. Kesibukan itu ditambah larangan berpacaran dengan teman sekantor di perusahaan membuat kami jarang berkencan. Sejauh ini kami hanya saling berkirim pesan atau e-mail―meski saat kami berkirim pesan atau e-mail jarak kami tidak lebih dari seratus meter.
Aku tersipu sekarang. Di saat seperti ini dirinya jadi orang yang begitu manis. “Gwaenchanayo. Sebentar lagi kau akan tiba di rumahmu.”
Lagi, kami terdiam. Hanya deru nafas Sehun saja yang mampu kudengar. Serta bau alkohol yang kuat darinya. Mengalahkan bau parfumnya yang selalu menguar tiap kali ia lewat di perusahaan.
“Hey, kalau hubungan kita ketahuan bagaimana?” celetukku pada akhirnya. Pikiran yang sangat menggangguku belakangan ini akhirnya tersuarakan.
“Bagaimana bagaimana? Kalau ketahuan, ya sudah.”
Apa katanya barusan?! Bats! Aku segera mendorongnya menjauh dariku. Tidak kupedulikan lagi dirinya yang sempoyongan dan hampir jatuh seraya berseru memprotesku. Bagaimana bisa dia bersikap setenang itu padahal hal itu sudah sangat menggangguku?!
“Kau bisa saja bersikap santai seperti itu karena kau manajer! Kalau hubungan kita ketahuan, kau tidak mungkin dipindahkan dari kantor pusat. Pasti aku yang akan dipindahkan!” protesku keras.
Sehun menatapku dengan mata sayunya. “Mungkin,” sahutnya seraya mengangguk pelan.
Oke, amarahmu sudah hampir mencapai batasnya! Tidak bisakah kau peka sedikit, Oh Sehun-ssi?! “Aku tidak suka hubungan jarak jauh!”
“Eo, nado,” sahutnya terdengar konyol.
“Dasar bodoh! Oh Sehun bodoh!” seruku keras-keras. Aku sudah tidak peduli lagi jika ada orang yang tengah menatap heran kearah kami.
“A…apa?! Aku?! Bodoh?!” pokerfacenya hilang seketika. Digantikan dengan raut wajah kaget dan tidak terima. “Kalau aku bodoh mana mungkin aku menduduki posisi manajer?!” kilahnya.
“Masa bodoh!” tukasku langsung berbalik pergi dan melangkah menjauh.
Kalau aku dipindahkan dan kami harus menjalani hubungan jarak jauh, hubungan kami akan memburuk juga berantakan. Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau kehilangan Sehun.
Perlahan aku menoleh ke belakang setelah berjalan cukup lama. Yang kudapati hanyalah trotoar yang tidak begitu ramai. Tidak ada sosok Sehun yang berlari kearahku. Dasar pria tidak punya hati! Tidak peka! Tidak peka! Kenapa kau tidak mengejarku, bodoh?!
“Masa bodoh!” Yoorin langsung berbalik pergi meninggalkan Sehun.
Sebenarnya Sehun ingin mencegah Yoorin pergi. Wanita sangat suka hal-hal seperti ini, bukan? Mereka pasti berharap saat mereka berbalik pergi dalam marah si pria akan mengejar mereka. Atau jika perlu memeluk mereka dari belakang sambil mengucapkan kata maaf atau ‘jangan pergi’. Hal-hal kecil yang tidak penting dan berlebihan seperti itu.
Sehun ingin sekali mempraktekkan adegan populer dari opera sabun itu. Tapi perutnya tidak mengijinkannya. Perutnya terasa mual dan kepalanya semakin berat. Dengan tergopoh-gopoh Sehun mengeluarkan kantong plastik dari dalam sakunya dan memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan. Kali ini Sehun berjanji akan berhenti minum jika dia merasa tidak sanggup lagi.
***
Aku tidak akan minta maaf duluan! Sehun-lah yang harus minta maaf. Aku memang berhak marah! Aku yakin, tidak ada gadis yang sanggup bersanding dengannya selain aku. Pria tidak peka seperti itu…hanya membuatku semakin gemas dan ingin menghabisinya!
“Yoorin, tolong ambil dokumen di ruang rapat.”
Su…suara itu! Aku berbalik sementara batinku terus memohon agar suara itu bukan milik Sehun. Tuhan belum mengabulkan doaku. Suara itu memang milik Sehun.
“Ba…baik,” kataku patuh. Bagaimanapun, dia adalah manajer di perusahaan dan aku hanyalah karyawan biasa. Meski aku marah, tapi aku harus tetap bersikap professional, kan?
“Dasar Oh Sehun bodoh! Dia masih punya nyali untuk menatapku tanpa mengucapkan kata maaf rupanya!” umpatku dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Bisa gawat jika ada yang menangkap ucapanku.
Segera aku membuka pintu ruang rapat. Sepik arena memang tidak ada rapat yang berlangsung sekarang di ruangan rapat satu ini. Tapi terasa aneh.
“Omo!” aku terkejut setengah mati mendapati Sehun tengah bersembunyi di dekat pintu.
“Ssstt…cepat tutup pintunya!” Sehun memang menyuruhku, tapi aku tidak melaksanakan perintahnya. Aku terlalu kaget dan dia juga sudah langsung menutup pintu ruang rapat dan menguncinya dari dalam.
Aku menatapnya heran tapi masih dengan amarah yang berkobar di hati. Bisa kulihat Sehun menghela nafas lega dan memijit pelipisnya pelan.
“Kemarin aku mabuk, jadi aku hanya ingat samar-samar tentang kejadian kemarin. Yang kutahu kau marah besar setelah itu langsung pergi. Iya, kan?” katanya membuka percakapan kami.
“Mw…mwo?! Jadi marahku kemarin itu sia-sia?!” seruku tidak terima.
“Ssstt!” Sehun menaruh telunjuknya di bibirku. Tuan Oh, kau rupanya tahu bagaimana caranya membuat wanita jantungan, eoh? “Jangan keras-keras,” bisiknya.
Segera aku singkirkan telunjuk sialan itu dari bibirku. “Kalau begitu jangan memanggilku berduaan denganmu. Kalau nanti ketahuan perusahaan―”
“Kalau ketahuan itu urusan nanti saat ketahuan,” potongnya dengan nada datar namun terkesan serius.
Apa? Aku tidak percaya ucapan seperti itu bisa keluar dari mulutnya. Aku cukup terkesan dan terkejut. “Kalau ketahuan, manajer pilih mana? Putus atau pacaran jarak jauh?” serangku langsung to the point.
Sehun melipat tangannya di depan dadanya. Sorot matanya menatapku tajam namun teduh. “Yang manapun…tidak masalah, kan?” dia balik bertanya.
Apa dia bilang?! Jadi dia tidak serius selama ini?! Sebelum aku melancarkan serangan protesku yang lain dan sebelum aku menyadari apapun, Sehun sudah menciumku lembut. Ciuman yang memabukkan. Apa aku salah jika aku menikmatinya? Tapi tunggu! Ucapannya tadi―!
“Shireo! Aku tidak mau putus!” segera kurenggut kembali alam sadarku dan menyuarakan isi hatiku.
Sehun menatapku dengan tatapan polosnya yang menggemaskan. “Memang tidak akan putus.” Tuhan! Apa-apaan dia?! Berbicara dengan gaya polos seperti anak kecil seperti itu!
Tapi aku juga kaget dan bingung karena perkataannya tadi. “La…lalu pilih yang mana?” tuntutku. Aku paling tidak suka jika sesuatu itu tidak jelas.
Lagi, Sehun menatapku dengan tatapan polos tapi berkharisma dan tenang. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. “Pacaran jarak jauh…atau menikah? Yang mana?”
Me…menikah?! Batinku menjerit dan aku yakin sekarang pipiku sudah semerah kepiting rebus. Otakku bahkan tidak sanggup berpikir jernih sekarang!
“Sudah dulu ya, ada yang datang.” Dengan entengnya Sehun membuka pintu ruang rapat dan berjalan keluar. Suasana di luar memang sedikit ramai.
Tapi tunggu sebentar! Aku belum menjawab pertanyaannya tadi! Dengan tergesa aku membuka pintu ruang rapat. Mataku dengan cepat menemukan sosok Sehun yang berjalan membelakangiku sudah jauh beberapa langkah di depan.
Aku tahu hubungan dengan teman sekantor memang beresiko…
“A…aku pilih menikah saja!” seruku dengan lantangnya.
Tapi bukankah kedengarannya manis?
Senyumku mengembang saat Sehun membalas perkataanku dengan isyarat dengan jempol dan telunjuknya yang berarti ‘ok’. YES!!
Sehun menghela nafasnya. Yoorin bukan gadis yang mudah dibujuk atau dirayu. Kadang itu sangat merepotkan Sehun, tapi justru dari situlah Sehun merasa ketertarikan yang terus-menerus pada Yoorin.
“Aku pilih menikah saja!”
Seruan itu terdengar sangat keras hingga membuat jantung Sehun ingin melompat keluar dari tempatnya. Dalam hati Sehun mengumpati Yoorin karena menjawab terlalu lantang. Sehun yakin, semua orang di sini pasti menatap heran pada Yoorin.
‘Gadis bodoh’, batin Sehun.
Meski Sehun mengumpati Yoorin dalam hati, namun pipinya memerah hingga ia harus menundukkan kepalanya sedikit agar rona itu tidak ketahuan oleh yang lain. Lalu tanpa keraguan apapun, Sehun membentuk isyarat ‘ok’ menggunakan jempol dan telunjuknya lalu mengangkatnya cukup tinggi agar Yoorin bisa melihat jawabannya dengan jelas. Senyum tipis yang menawan itu lalu terukir di wajah Sehun.
― And Your Answer Is? ― END ―

Fc Populer:

Tags: ,
%d blogger menyukai ini: