There’s No Chance Being ‘US’, Maybe

0
There’s No Chance Being ‘US’, Maybe
1. Author : Choi Hyukjae
2. Judul : There’s No Chance Being ‘US’, Maybe
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
1. Cho Kyuhyun
2. Park Min Ah
3. Lou Yi Xiao
yay… Annyeong~~~ halo (lagi) NCSplodes!!
Author Choi Hyuk Jae, istri sah Choi Siwon dan kekasih gelap Lee Hyukjae kembali lagi!! *lambai-lambaiin kolor EunHyuk*

Author kembali dengan oneshoot story dengan tokoh si evil magnae Cho Kyuhyun dan sahabat Author, istri sah Cho Kyuhun yang bernama Kyutrie… Park Min Ah is her Korean Name… I make this is for you darlaaa~~ enjoy it!
DISCLAIMER: Cho Kyuhyun and Lou Yi Xiou is belong to themself… Park Min Ah is belong to Author best friend, Kyutrie. cerita ini MURNI dan ASLI MILIK AUTHOR dan TIDAK PERNAH AUTHOR PUBLIKASIKAN selain di KOREAN NC!!
WARNING: Typo di mana-mana, NCnya SANGAT TIDAK HOT, dan ceritanya sangat tidak bagus.. DO NOT COPY PASTE and DON’T BE PLAGIATers!!
Ga banyak bacot lagi, Happy Reading All!! *tebar sempak pink punya SungMin*
————-
Prolog: Kemarin, aku masih mengingat semua hal yang terjadi di antara kita dengan senyum menghias di wajahku. Tapi sekarang, haruskah aku mengingat semuanya dengan masih dengan tersenyum pula? Aku tak tahu, ku rasakan hatiku mulai membeku dan mati rasa. Sepertinya, aku sudah mulai letih menunggumu. – Park Min Ah
———–
Kyu~~
*Kyuhyun POV*
“Kyuhyun~ah.. Hentikan! Bisa-bisa ada yang memergoki kita berdua!” bentaknya dalam bisikan.
“Tak ada yang bakal memergoki kita berdua jika kau tidak berisik. Ini salahmu, siapa yang menyuruhmu berdansa dengan Suho~ssi di depan anak-anak tadi? Bukankah sudah kukatakan bahwa HANYA AKU, CHO KYUHYUN YANG BOLEH MENYENTUHMU?!” ujarku ketus. Menekankan kalimat-kalimat terakhir dengan nada mengancam.
“Tapi…” ia hendak memprotes lagi. Dasar gadis cerewet. “Masuk!” potongku. Mendorongnya masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
“Toilet ini sudah tak dipakai lagi, sudah rusak…” ujarku menenangkannya yang masih saja tampak gelisah.
“Tapi Kyu… hummphhh…” kuhentikan protesnya dengan membungkam bibirnya dengan ciumanku yang panas dan basah. Kukunci badannya dengan menyandarkannya ke dinding. Hingga ia tak bisa bergerak sama sekali. Akan ku buat ia ‘menderita’ dengan cumbuanku.
KRIETT…
“YA IMMA!!! CHAKKAMAN, AKU TAK AKAN LAMA!” teriak seseorang dari luar bilik toilet kami. Membuat aku dan Min Ah mendadak membeku akibat terkejut. Tak menyangka akan ada orang yang berpikiran untuk menggunakan toilet rusak di sini untuk ‘melaksanakan’ panggilan alam mereka. Tak perlu bertanyapun kami berdua tahu itu suara siapa, Sungmin sunbae. Mahasiswa badung se-Kyung Hee.
Sial.
Tunngu dulu, tapi, bukankah seks kali ini akan lebih menantang jika kami melakukannya berdua dengan perasaan ketakutan akan dipergoki oleh orang lain? Ya, tampaknya seks kali ini akan lebih seru. Aku memamerkan evil smirkku pada Min Ah, yang seolah bisa membaca pikiranku, menatapku dengan pandangan memohon agar tidak melanjutkannya sementara ada orang lain di sekitar kami .
Min Ah gemetar, antara ketakutan akan terpergok dan rasa gairah akibat masih intensnya ciuman yang kudaratkan di bibir tipisnya. Matanya membelalak saat tanganku bergerak membuka kancing kemeja biru polos yang digunakannya. 1, 2,… dan ketika akhirnya seluruh kancing kemejanya terlepas semuanya, langsung saja kuremas payudaranya yang sangat ranum itu, membuatnya makin gemetar. Hahaha…
KRIETT…
Pintu bilik sebelah berderit, diikuti bunyi deritan pintu utama toilet. Pemilik suara tadi akhirnya pergi. Dan, toilet rusak ini kembali hening. Hanya ada aku dan Min Ah di sini. Aku bisa berbuat apa saja sekarang. Apapun, termasuk menyodokkan juniorku yang sudah mengeras sejak tadi ke dalam lubangnya yang sempit itu. Tanpa minta izin lagi, langsung saja kulucuti semua pakaiannya hingga akhirnya hanya bra dan celana dalam hitam yang tersisa di tubuhnya yang mulus. Aku duduk di dudukan kloset, memberi kode dengan mataku agar ia duduk di pangkuanku. Dengan wajah merona merah akhirnya duduk di pangkuanku.
“Mmhh…” desahnya lirih saat bibirku kembali melumat bibirnya yang sudah bengkak dan memerah. Kurasakan juniorku yang masih terbungkus underwear makin mengeras saat bergesekan dengan underwearnya yang lembab akibat cairan pelumas yang terus saja mengalir saking terangsangnya dirinya.
BRTTT.. BRTTT..
Smartphone tipe Samsung Galaxy Mininya bergetar. Sial, menghilangkan mood saja. Ia bangkit dari pangkuanku dan mengambil smartphonenya yang ia simpan di saku celananya. Raut wajahnya sedikit memucat saat membaca pesan yang masuk ke smartphonenya.
“Ya, waeyo? Gwaenchana?” tanyaku pelan.
“Ah, ani…” balasnya.
“Kalau begitu, ayo kita lanjutkan…” ujarku tersenyum nakal dan menarik tangannya agar berdiri di depanku.
“Ya!” pekiknya. Langsung ku raih lehernya agar menunduk lalu kubungkam lagi ia dengan ciumanku. Aku tak peduli lagi. Saat bercinta seperti ini membuatku melupakan segalanya. Sambil berciuman, kuremas kedua buah dadanya yang ranum, buah dadanya seolah menggodaku agar menyentuhnya, meremas, dan melakukan segala macam hal lainnya.
“Kenapa Seoraksan (salah satu gunung tertinggi di KorSel) ini makin besar saja, Min Ah?” ujarku menggodanya. Kuremas payudaranya dengan gemas.
Ia memundurkan wajahnya, memandangku sambil menggigit bibirnya saat mulai kulucuti ‘pembungkus’ payudaranya yang memang benar-benar makin besar itu.
“Molla… Ahh…” jawabnya dan kemudian mendadak mendesah saat kudaratkan bibirku di putingnya yang sudah sangat mengeras. Kusedot dan terus kusedot putingnya layaknya bayi yang sedang sangat kehausan. Membuatnya menggelinjang tak karuan sembari menahan dirinya agar tetap bisa berdiri sementara aku meyerangnya.
“Kyuhhhhh,, kauhhh benar-benar sangat nakallhhhh..” racaunya.
Kuukir banyak kissmark di sekitar payudaranya, padahal bekas kissmark 2 hari yang lalu saja belum hilang.
“Kyuuhh.. Yang kemarin belum hilang… Kau membuatnya makin parahh.. Mmhh..” desahnya dalam bisikan. Ia tak berani mengeluarkan suara yang lebih keras. Ia berusaha menahan desahannya kareka takut dipergoki oleh orang lain.
“Biarkan saja. Memangnya siapa yang akan melihat dua gunung indah ini selain aku, hmm?” balasku menggodanya. Aku menatapnya langsung ke matanya, ia membalas tatapanku dan dengan seduktif ku mainkan lidahku di nipplenya. Membuatnya mengejang akibat terangsang.
“Ya! Noemu nappeun namja, Kyuhyunie…. Ahhh…” desahnya sementara lidahku masih menggoda nipplenya. Tanganku meraba-raba underwearnya yang benar-benar sudah sangat lembab.
“Sepertinya di bawah sini benar-benar sudah basah, nona Park Min Ah. Bagaimana kalau kita langsung saja?” ujarku sembari mengelus-elus bagian klitorisnya yang masih terbungkus underwear bermotif polkadot berwarna putih dan hitam itu.
“Kyuu….” Desahnya.
Kutelanjangi ia dengan cepat, benar-benar telanjang bulat tanpa ada sehelai kainpun di tubuhnya, lalu kemudian kulepaskan underwearku yang sedari tadi membuat juniorku merasa sesak. Dan begitu terlepas dari ‘belenggu’ underwear, juniorku langsung berdiri tegak, merah dan siap ‘berperang’.
Kuusap taman surganya yang dipenuhi bulu halus yang entah mengapa membuat libido semakin meninggi. Benar-benar sangat basah, sepertinya ia tak memerlukan foreplay lagi dengan kondisi seperti itu. Sama denganku. Aku tak perlu oral sex kali ini. Aku ingin bermain langsung pada intinya.
“Woman on Top…” ujarku. Dia langsung paham dan langsung memperbaiki posisinya, lalu mengangkangkan kedua pasang kakinya sementara aku kembali duduk di dudukan kloset..
Ia memegang bahuku sebagai tumpuannya. Perlahan-lahan ia menurunkan pinggulnya, juniorku yang semenjak tadi sudah tegang terasa makin tegang saat bibir vaginanya menyentuh helm baja juniorku.
“Ahhh…” desahnya. Kurasakan juniorku dipijat oleh dinding rahimnya dengan lembut. Membuatku menutup mata untuk merasakan sensasi nikmatnya.
“Mulai goyangkan pinggangmu, Nona Park Min Ah…” ujarku seduktif. Mataku masih terpejam.
Tak perlu mengulangi apa yang kukatakan, ia mulai menaik turunkan pinggulnya. Kurasakan juniorku terus menerus menghujam mulut rahimnya. Aku sangat suka posisi ini, aku senang membiarkannya mengambil alih permainan sementara aku cukup menikmati apa yang ia lakukan.
“Kyuhh… Ahhh.. Akkuuu, mmhhh.. Mau keluarrrhh… Ahhh… Ahhhhhhhhhhhh…” belum 5 menit ‘bermain’, ia sudah mencapai kenikmatannya sementara aku sama sekali belum merasakan apa-apa.
Masih gemetaran, kuminta ia bangkit dari pangkuanku, lalu kemudian menungging membelakangiku. Ya, tentu saja kalian bisa menebaknya, aku ingin ‘bermain’ dengan gaya doggy style.
Benar-benar pemandangan yang sangat indah. jika melihatnya dari belakang. Bisa kulihat bokongnya yang semok menggairahkan, bibir vaginanya yang mengkilat basah dan memerah akibat orgasmenya tadi, dan payudaranya yang menggantung bebas. Pemandangan itu benar-benar membuatku gila. Tanpa peringatan, langsung saja kulesakkan juniorku dalam-dalam ke dalam vaginanya.
“Kyaaaa…” jeritnya kaget. Aku tak peduli. Tak akan ada orang yang akan menggangguku di sini, kecuali Sungmin sunbae tadi, tentunya. Aku yakin itu.
“Min Ah, mengapahh, lubangmu masih saja sempit seperti ini. padahal aku hampir tiap hari ‘memasukimu’. Ouhhh… ini benar-benar sangat nikmat..” bisikku lalu mengulum telinganya.
“Ahh,, Kyuu… Molla… Faster… Fasterrr… Ahhh…” desahnya sedikit lebih keras.
“Baiklah…. Hummhh,,, kau benarr-benarr.. Hhhhhhh, sangat sempitt.. Ouhh” kupercepat sodokanku.
Aku tak mengerti ada apa dengan diriku. Libidoku hanya akan naik jika Min Ah ada di sekitarku. Sementara saat berdekatan dengan yeoja lain? Jangankan ereksi, berfantasi yang tidak-tidakpun aku sama sekali tak bisa. Dapat dikatakan bahwa tubuhnya ‘hanya merespon’ pada yeoja bernama Park Min Ah. Yeoja yang padanya kuberikan ciuman pertamaku, bahkan keperjakaanku. Ya, aku melakukan segalanya untuk pertama kali dengannya. Saat bersama Yi Xiou dulu, hal paling jauh yang pernah kulakukan adalah merangkulnya. Apa aku memang sebegitu polosnya? Ah, molla…
10 Menit kemudian..
“Kyuhyun~ah… Sepertinya, aa.. aakuu.. mmauuu kkkluarrhh lagih…” racaunya untuk ketiga kalinya, memutus lamunanku tentang masa lalu. Saat juniorku menusuk lubang kenikmatannya. Menghujam ke dalam hingga ke mulut rahimnya.
“Nnnado.. arghhh.. Iniih benar-benarr sangatt nikmatt.. Ahhh..” balasku masih saja terus ‘mengobrak-abrik’ miliknya. Kuraih payudaranya dan kupelintir-pelintir nipplenya sementara panggulku bergerak maju mundur dengan cepat.
“Mhhh…” desahnya tertahan..
“Ouhh, punyamu menjepit juniorku begitu kuat.. Arghhh…. Min Ah, apa sekarang masa suburmu..?” Bisikku sambil menjilati telinganya. Membuatnya makin gemetar sementara aku masih menyodoknya dari belakang.
“Ahh.. Ani… Mungkin besok aku sudah akan menstruasi…Ahh, Kyuhyunie.. Ppalliiiii..” jawabnya dengan desahan yang membuatku makin bernafsu.
“Di dalam kalau begitu.. Argghh… Ahhh…”
“KYUUUUU….!!!” Ia menggigit punggungku untuk melampiaskan rasa nikmat yang dirasakannya.
CROTT…!!
1, 2, 3, 4 kali juniorku menembakkan lahar hangatnya ke dalam rahim Min Ah. Rasanya benar-benar nikmat bisa mengeluarkannya di dalam. Aku tak perlu terburu-buru mengeluarkan juniorku saat akan mencapai orgasme.
OK, dia ‘kalah’ telak. Aku berhasil membuatnya orgasme untuk ketiga kalinya, sementara aku hanya cukup 1 kali saja. Sepertinya keahlian seks’ku makin meningkat. Gyahahhaha…
Ku balik tubuhnya dan ku kecup keningnya sementara ia bersandar pada kloset. Mengatur nafasnya yang masih aja terengah-engah.
“Gomawo…” bisikku mesra di telinganya. Ia bangkit dan cairanku langsung mengalir menuruni pahanya yang putih mulus. Benar-benar pemandangan yang saat erotis. Ia memandang wajahku dengan serius,
“Kyuhyun~ah… Saranghae… Jeongmal saranghae…” ucapnya untuk puluhan kali, bahkan ratusan kali. Dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun berlalu. kurasakan jantungku berdetak lebih cepat lagi. Apakah aku…
“Aku lelah saat ini, aku sedang tak ingin membahasnya sekarang, bagaimana kalau kau ke apartemenku saja malam ini? Sampai ketemu di apartemenku malam ini.” ujarku sembari merapikan pakaianku. Ia hanya terdiam mendengar jawabanku.
*Park Min Ah POV*
“Kyuhyun~ah… Saranghae… Jeongmal saranghae…” ujarku. Menatapnya yang sedang sibuk memungut pakaiannya yang berserakan di lantai toilet.
“Aku lelah saat ini, aku sedang tak ingin membahasnya sekarang, bagaimana kalau kau ke apartemenku saja malam ini? Sampai ketemu di apartemenku malam ini.” dia berkata dengan dingin sambil merapikan pakaiannya.
Aku terdiam mendengar jawabannya. Untuk kesekian kalinya ia menjawabnya seperti ini. Aku sudah melontarkan pernyataan itu ratusan kali. Dan ia terus saja menghindar dengan berbagai macam alasan.
“Baiklah,” jawabku akhirnya setelah lama terdiam.
“Sampai jumpa malam ini, kalau begitu…” ujarnya lalu melumat bibirku sekilas dan meninggalkanku sendirian di dalam toilet.
***
Kalian tentu bingung dengan status hubunganku dengan namja yang bercinta denganku itu. Sebelumnya, perkenalkan dulu, namaku Park Min Ah, mahasiswa jurusan Seni di Kyung Hee University. Sama dengannya, Cho Kyuhyun yang notabene anak pemilik universitas. Aku bersahabat dengannya sejak 3,5 tahun yang lalu, saat aku dan dia sama-sama mahasiswa baru. Kebetulan kami sama-sama jurusan seni dan hampir di tiap mata kuliah yang kami program, kami selalu menjadi teman sekelas.
-FLASHBACK START-
Persahabatanku dengan Cho Kyuhyun sangat akrab sampai-sampai semua orang menggosipkan aku dengannya berpacaran. Well, aku memang menyukai Kyuhyun, hanya saja, melihatnya tak nyaman menanggapi gossip yang beredar, membuatku menjadi enggan menyatakan perasaanku.
Semua berubah, hubunganku dengannya menjadi mempunyai jarak. saat ia mengumumkan bahwa ia berpacaran dengan salah satu teman yang dekat denganku, Lou Yi Xiou.
Yi Xiou meninggalkan tanah kelahirannya di China sana demi menuntut ilmu seni di Korea Selatan, dan aku menjadi sahabat pertamanya di Seoul, yang menawarkan tinggal bersama di apartementku, yang mengajarinya bahasa sehari-hari Korea Selatan karena ia hanya menguasai bahasa Korea Selatan formal yang akan terdengar sangat kaku jika dia harus berbicara dengan teman-teman yang lain.
Semenjak mereka berpacaran, Kyuhyun sangat sering bertandang ke apartement kami. Itu sedikit membuatku jengah, takut mereka akan berbuat yang tidak-tidak di apartementku. Untung saja sepertinya Kyuhyun adalah anak baik-baik yang memperlakukan yeojachingunya dengan baik dan sopan. Yi Xiou pernah bercerita bahwa Kyuhyun adalah namja yang sangat menghargai wanita. Membuatku semakin iri padanya.
Terkadang saat Kyuhyun datang, aku segera masuk ke dalam kamarku, menangis tanpa suara akibat harus menelan bulat-bulat rasa cemburu dan iriku. Betapa aku iri pada Lou Yi Xiou! Aku sudah hampir setahun aku menyukai Kyuhyun dan tiba-tiba dia yang belum setengah tahun pindah ke Seoul’lah yang menjadi pacar Kyuhyun. Sementara aku, harus memasang ‘topeng’ seorang sahabat yang ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya.
***
Sayangnya, hubungan mereka tak begitu lama berjalan. Hanya setengah tahun. Yi Xiou meninggal karena penyakit radang selaput otak yang dideritanya akibat kecelakaan yang menimpanya sebelum ia pindah ke Korea Selatan. Ia bahkan sempat koma selama seminggu hingga akhirnya sadar beberapa saat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Min Ah.. Min Ah.. Mianhae….” Igaunya suatu malam.
“Yi Xiou? Gwaenchana?” ujarku sembari meraih tangannya.
“Min Ah, mianhae. Aku tahu kau menyukai Kyuhyun tetapi aku malah menerimanya sebagai pacarku…” bisiknya saat tersadar dari komanya. Kulirik Kyuhyun yang sedang tertidur di sofa. Aku tak tega membangunkannya.
“Ya! Apa yang kau bicarakan? Kau mimpi, hah?” sahutku terkejut. Aku mengenggam erat tangannya yang sepertinya sangat rapuh.
“Ah, anieya… Aku, aku hanya tak ingin melukaimu lebih dalam. Mianhae, Min Ah… Mianhae, ” jawabnya dengan lirih.
“Ya! Lou Yi Xiou! Musun soriya? Micheosseo?” ujarku panik saat kurasakan tangannya mulai dingin.
“Min Ah, jeongmal mianhae. Gomawoyo, sudah menjadi sahabatku. Ku serahkan Kyuhyun padamu. Aku yakin kau akan membuatnya tersenyum lagi setelah aku pergi.” Bisiknya makin pelan.
“Ya, Lou Yi Xiou!! Kau pikir Kyuhyun barang yang bisa seenaknya kau serahkan.Ya!!! Jangan main-main denganku.” teriakku
“Gomawoyo, Park Min Ah… Gomawoyo…”matanya mulai menutup.
“YA! YI XIOU!! JEBAL!!! NIGA NAHANTE EOTTEOHKE GEUREOL SU INI??? YA! LOU YI XIOU!!!” jeritku keras sembari mengguncang bahu Yi Xiou yang mulai mendingin dan kaku. Aku menoleh mencari sosok Kyuhyun, dan kudapati ia berdiri tepat di belakangku, raut wajah dan pandangan matanya kosong.
Apa ia medengar semua ucapan Yi Xiou tadi?
Semoga saja tidak.
***
Semenjak kepergian Yi Xiou, Kyuhyun berubah. Sangat berubah. Ia menjadi namja yang berteman dengan alkohol. Hampir tiap malam aku harus menerima telepon dari pihak bar karena namja itu sedang mabuk berat dan aku harus menjemputnya di bar sebelum pihak bar melemparnya ke jalanan karena Kyuhyun tak tinggal bersama orang tuanya. Ia memilih hidup mandiri dengan tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah di wilayah Samseong-dong, dengan pemandangan indah Sungai Han di depannya. Sama seperti malam ini, aku harus menjemputnya untuk kesekian kalinya.
“Kyuhyun~ah.. Ireona!! Kau sangat berat!” seruku saat memapahnya turun dari dalam mobil.
“Apa gunanya aku hidup? Yi Xiou tak ada lagi di sisiku!” racaunya. Air mataku menetes. Ini sudah setahun sejak kepergian Yi Xiou. Belumkah ia melupakannya?. Sampai kapan aku harus menunggu?
Aku ingat malam itu, sudah 2,5 tahun lamanya aku memendam perasaanku pada namja bernama lengkap Cho Kyuhyun itu. Dengan air mata yang masih saja menetes, ku papah ia masuk ke dalam lift menuju lantai 13, lantai apartementnya berada. Ku buka pintu apartementnya dengan kunci duplikatku, lalu kuseret ia masuk ke dalam kamarnya sebelum akhirnya kujatuhkan ia ke atas spring bednya yang empuk. Kuputuskan untuk menginap malam ini. Dan kulangkahkan kakiku menuju sofa di ruangan tengah, untuk memejamkan mataku.
Pagi harinya….
“Arggghhh,” erang Kyuhyun menyentakku dari alam mimpi.
“Hmm, waeyo?” gumamku setengah mengantuk dari sofa..
“Dutong!” keluhnya.
“Ya imma~~, kau mabuk semalam. Berapa botol soju yang kau habiskan semalam, heh?” jawabku dengan kata-kata kasar namun dengan nada bercanda. Itu merupakan hal biasa bagi aku dan Kyuhyun.
“10 botol…” gumamnya, masih memegangi kepalanya.
“MWO? Ya, micheosso?” pekikku. Namja ini benar-benar kelewat batas. “Ya! Kau ingin ginjal dan levermu rusak, hah? Kau mau mati?” seruku sambil merubah posisiku dari baring menjadi duduk, menatapnya tajam.
“Ya! Shikkeureo! Memangnya untuk apalagi aku hidup? Yi Xiou sudah tak ada, memangnya….”
“Geuman! Geumanhae, jebal Kyuhyun~ah…” hamburku lalu memeluknya.
“Kau…” ujarnya.
“Saranghae… Cho Kyuhyun. Jeongmal saranghae… Hentikan, sampai kapan kau akan menyiksa dirimu seperti ini? Menenggelamkan dirimu dalam alkohol. Yi Xiou pun tak akan rela melihatmu seperti ini. Kumohon hentikan…” air mata membanjiri wajahku.
“Kau… Kau.. Sudah berapa lama…” tanyanya terkejut.
Well, itu menjawab pertanyaanku. Dia tak mendengar apa yang Yi Xiou dengarkan malam itu.
“Sudah sejak lama. Sudah 2,5 tahun sekarang.” Jawabku lirih.
“Kau… Bahkan sebelum aku berpacaran dengan Yi Xiou… “ujarnya tergagap. Melepas pelukanku darinya. Dan perlakuannya itu membuat hatiku perih.
Matanya menatapku tajam, dan tatapan itu sanggup membuatku hilang akal. Ia mendekat lagi padaku dan kurasakan bibir lembutnya melumat bibirku dengan penuh gairah. Basah. Itu yang kesan yang kurasakan untuk ciuman pertamaku.
Hilang akal…
Aku benar-benar hilang akal. Kami tak berhenti saling melumat bibir hingga akhirnya kurasakan rasa asin dan bau tajam darah di mulutku. Bibirku berdarah akibat ganasnya lumatannya.
Benar-benar hilang akal, aku bahkan menyerahkan keperawananku, harta terpentingku, mahkota seorang gadis padanya. Dan bodohnya, aku tak menyesalinya. Hingga sekarang.
***
“Maafkan aku. Sudah merebut harta terpentingmu. Maafkan aku. Aku tak akan meninggalkanmu” ujarnya sambil mencium keningku. Kurasakan jantungku berdegup kencang.
“Jangan menyesalinya. Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Aku tulus. Saranghae, Kyuhyun~ah… Saranghae…” jawabku sendu.
“Terima kasih, sudah memberikannya padaku kalau begitu.” Tukasnya sembari mengelus pipiku. “Bantu aku melupakan Yi Xiou, Min Ah… Jebal. Jangan pernah tinggalkan aku sendirian. Bantu aku melupakannya. Ajar aku mencintaimu.” Gumamnya padaku.
-FLASHBACK END-
***
Saeng~ah… Batas waktumu mengambil keputusan adalah sore ini. Tetap tinggal di Seoul atau pindah ke Kanada menyusul aku, appa dan eomma. Pikirkan baik-baik.
Aku kembali menghela nafas saat membaca pesan yang dikirimkan Jung Soo~oppa siang tadi, saat aku dan Kyuhyun sedang ‘bermain’. Park Jung Soo, namja itu adalah satu-satunya saudara kandungku, yang sekarang menjadi pengusaha sukses di Kanada. Ia sudah berulang kali membujukku untuk tinggal bersama di sana, hanya saja aku sama sekali tidak tertarik.
Appa dan eomma memutuskan pindah ke Kanada tepat saat aku memulai tahun pertamaku sebagai mahasiswa. Penyakit eommalah yang menjadi alasan kepindahan mereka. Menurut dokter yang merawat eomma di Seoul, peralatan kedokteran di Kanada jauh lebih baik dibandingkan di Seoul. Jadilah aku tinggal sendirian di apartemenku, lalu Yi Xiou menemaniku tinggal di apartemenku meski hanya sesaat. Ah, air mataku mulai merembes lagi saat mengingat Yi Xiou.
Ah, Yi Xiou, eoteokke? Ini sudah dua tahun. Dia belum tersenyum tulus sama sekali. Aku harus bagaimana?
***
Salju pertama akhirnya turun di Seoul. Tanda bahwa natal akan segera tiba. Kurasakan hawa dingin menusuk tubuhku yang tak berbalut pakaian hangat. Aku berdiri di atas jembatan Dongho yang menjembatani dua daerah yang di belah oleh Sungai Han. Aku larut dalam lamunanku.
Aku sudah mencoba bertahan dalam ketidakpastian bersamamu selama 1 tahun, Cho KyuHyun. Kurasakan aku sudah tiba dibatas kemampuanku untuk bertahan. Genap sudah 3,5 tahun lamanya aku mencintaimu. 1 tahun aku mencintaimu tanpa syarat, benar-benar tulus. Lalu setengah tahun aku harus menelan bulat-bulat rasa cemburu dan sakit hati karena kau memilih gadis lain. Dan 2 Tahun sisanya, 1 tahun pertama aku harus bersabar membantumu keluar dari ketepurukan akibat kehilangan Yi Xiou. Kemudian 1 tahun terakhir aku harus mengorbankan semuanya.
1 tahun, Setengah Tahun, dan 2 tahun… Semua penantianku kini mencapai batasnya, 3,5 tahun. Mungkinkah kau akan menjawab penantianku, Cho Kyuhyun? Tapi, sepertinya semuanya tak akan menjadi kenyataan untukku. Tapi, sanggupkah aku meninggalkanmu? Aku ragu dapat melakukannya, karena aku sudah terbenam terlalu dalam akibat cinta ini. Tak mendengar suaramu, bahkan memandangi sosokmu sehari saja membuat nafas dan dadaku sesak.
Kutarik nafasku dalam-dalam, dan kuhubungi Jung Soo~oppa nun jauh di Kanada sana, mengatakan padanya apa yang menjadi keputusanku. Kuharap tak akan ada yang kecewa dengan keputusan yang aku pilih.
“Yeobseo?” kudengar sahutannya di ujung telepon. Kutarik nafas dalam-dalam sebelum mengucapkannya, “Jung Soo~oppa, mianhae… Aku…..”
*Kyuhyun POV*
Sudah pukul 8 malam. Aku sudah menyiapkan makan malam special untukku dan Min Ah, tapi mengapa ia tak juga datang? Apakah karena badai salju di luar. Salju pertama tahun ini membawa badai. Membuatku khawatir padanya. Di mana gadis itu? Sembari menerka-nerka alasan mengapa ia tak kunjung datang, Iphoneku di dalam kamar berbunyi. Ada pesan yang masuk. Buru-buru aku masuk ke kamar dan meraih Iphone milikku.
Kyuhyun~ah… Sepertinya memang tak ada kemungkinan, kau dan aku menjadi ‘kita’. Aku tak akan datang. Tak usah menungguku. Aku menyerah. Terima Kasih, Cho Kyuhyun… Aku mencintaimu.
Kutatap nanar layar Iphoneku. Tanganku gemetar. Ku coba menghubunginya, namun dijawab oleh operator. Tidak aktif. Kucoba berulang kali, dan masih tetap dijawab oleh operator.
BRAKKK…
Iphone itu hancur berkeping-keping di lantai. Hancur berkeping-keping, sama seperti hatiku.
Badai salju yang menerjang kota Seoul untuk pertama kalinya tahun ini, membuatku paham arti keheningan yang mencekam. Membuatku menyadari bahwa aku akan kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Mendadak kurasakan hatiku seperti berlubang, angin dingin yang jahat kurasakan bertiup melewati lubang-lubang itu, mendendangkan nada yang dingin dan menyakitkan.
Apa aku harus kehilangan lagi?
END

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: