Please Don’t

0
please don't lee dong hae
Author : AA
2. Judul : Please Don’t …
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
– Lee HyukJae
– Lee Donghae
– Han RyeoNa ( OC )

~Story begin~

Lee Hyuk Jae POV
Hari ini, hari pernikahan sahabatku Lee Donghae. Beberapa hari yang lalu, dia baru mengatakannya padaku dengan wajah yang merona merah. Aku dan Donghae sudah berteman sejak kami berada di sekolah menengah atas. Dia sosok yang hangat dan bisa dibilang aku bagai saksi dalam perjalanan hidupnya. Begitu pula dengan cerita cintanya bersama yeoja bernama Han Ryeona yang beberapa jam lagi menyandang status sebagai istrinya.

Aku juga berteman baik dengan Ryeona. Aku, Donghae dan Ryeona bagai keluarga sendiri. Aku juga sangat dekat dengan Ryeona, dia yeoja yang manis dan baik hati. Tapi dia sangat jahil dan dia sering kali menggodaku. Saat ini, aku tengah berada di kamarku. Menyiapkan hati dan mental untuk menghadiri acara pernikahan mereka.

Aku terduduk di pinggiran ranjangku, menatap foto kami bertiga. Aku, Donghae dan Ryeona. Mereka terlihat sangat bahagia dalam foto itu, sedangkan aku ? tidak, aku memakai topeng. Aku tidak mengerti, hatiku sakit ketika menginggat semuanya.
“ Hyukkie … cepatlah kau berangkat atau kau akan terlambat.” Ucap umma yang tiba-tiba sudah masuk dalam kamarku.
Lalu aku mendekat kearah ibu yang telah melahirkanku itu dan memeluknya erat.
“ umma, haruskah aku datang?” tanyaku lirih.
“ wae? Apa kau sakit?” aku hanya mengelengkan kepala sebagai jawaban.
“ kalau begitu, kau harus datang. Tidak ada teman yang tidak datang saat hari pernikahan temannya. Itu tidak baik.”
“ meskipun nantinya ada yang terluka?”
“ tidak, kau harus tetap datang,Hyuk.” Seolah aku mendapat kekuatan, aku melepas pelukanku dan mencium kening umma dan berpamitan keluar.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang, pikiranku bergulat dengan berbagai hal yang tidak-tidak dan membuatku semakin merasakan betapa sakitnya hatiku. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya aku sampai di rumah Donghae. Dengan kata lain aku menjemput lalu membawanya ke gereja.
“ ya! Kenapa kau lama sekali?” ucapnya dengan wajah yang kesal.
“ kalau aku lama, kenapa kau tidak berangkat sendiri,huh?” jawabku dengan kesal juga.
Lalu dia memelukku dengan erat.
“ aku benar-benar nervous,hyuk. Oh, jantungku sedari tadi tidak bisa diam dan aku sangat malu” ucapnya dengan masih memelukku.
“ seperti anak kecil saja. Itu sudah biasa, karena kau sebentar lagi akan menikah.” Jawabku dengan membalas pelukannya.
“ ah, sudah-sudah. Ayo kita berangkat, kalau kau terlambat. Besok aku pasti akan dipukul Ryeona.”
“ kau pikir, dia preman pasar!” setelah itu dia memasuki mobilku terlebih dahulu, meninggalkan aku yang masih mematung di halaman rumahnya.
***
Saat ini aku berada di barisan paling depan untuk menyaksikan pemberkatan pernikahan mereka. Donghae dan Ryeona sangat lancar mengucapkan sumpah janji setia, lalu mereka saling memasangkan cincin di jari mereka masing-masing dan saling berciuman singkat. Aku hanya bisa memukul-mukuli dadaku pelan.
Setelah selesai pemberkatan, ketika semua orang sibuk memandang mereka dengan takjub bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Aku dengan pelan melangkahkan kakiku keluar gereja. Saat ini hanya aku yang merasa sendirian dan terluka, dan hari ini adalah hari dimana aku menjadi manusia yang paling berdosa di dunia ini, setidaknya itu menurutku. Bagaimana aku tidak berdosa, disaat pernikahannya aku memiliki niat untuk membawa kabur dirinya dan mengatakan bahwa aku juga mencintainya. Oh, ini benar-benar gila.
Saat ini aku tengah berada di halaman gereja, dibawah pohon yang rindang dengan sebuah kursi panjang yang membuat aku duduk dengan nyaman. Merasakan semilir angin yang menerpa tubuhku dengan lembut. Lalu tiba-tiba, Donghae sudah duduk disampingku dengan raut wajah bahagianya.
“ wae ? kenapa kau menyendiri disini?” tanyanya.
“ kau tahu kan kalau aku suka suasana yang seperti ini.”
“ yasudahlah, ayo masuk. Aku akan mengajakmu berfoto dengan istriku.” Ucapnya dengan menekankan kata istri.
“ ah, tidak. Kenapa harus berfoto? Aku tidak membutuhkannya, aku bahkan sudah memiliki lebih dari seratus foto kita bertiga.” Tolakku.
Tapi Donghae tidak menghiraukan tolakkanku, dia dengan seenaknya menyeret tanganku dan membawaku masuk lagi kedalam gereja untuk berfoto dengan sepasang pengantin baru itu.
“ oppa ! kemana saja kau? Aku mencarimu.” Ucap Ryeona dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
“ tutup mulutmu.” Ucapku cuek dan dia langsung cemberut namun mengapit lenganku untuk siap berfoto bersama.
Posisi berfotonya adalah aku disebalah kiri, Ryeona berada di tengah dan Donghae di sebelah kanan. Oh, benar-benar posisi yang semakin membuatku ingin membawanya kabur saat ini juga. Aku membuat bibirku tersenyum walaupun terpaksa dan yup… acara berfoto dengan merekapun selesai.
Lee Donghae POV
Aku sangat beruntung karena memiliki sahabat seorang Lee HyukJae, dia sahabat yang setia dan sahabat yang membuatku selalu merasa nyaman. Dia juga baik hati, saking baik hatinya dia rela menjadi ‘supir’ di hari pernikahanku. Saat ini, Hyukjae mengantarku dan Ryeona ke sebuah hotel berbintang lima yang dekat dengan bandara. Karena besok pagi, aku dan Ryeona akan pergi untuk berbulan madu ke Pulau Jeju. Bulan madu kami memang hanya di Korea dan hanya beberapa hari saja, karena disibukkan dengan pekerjaan kami masing-masing.
“ oppa, gomawo. Kau baik sekali mengantarkan kami dengan selamat.” Ucap istriku untuk Hyukjae ketika kami sudah sampai di depan hotel.
“ mwo? hanya terima kasih? Ingat, setelah kalian pulang dari bulan madu. Aku akan meminta bayaran tinggi. Siapkan saja uangnya. Yasudah, masuk sana! Aku pulang.” ucapnya dengan menyebalkan. Setelah itu dia menjalankan mobilnya keluar dari kawasan hotel.
“ kajja.” Ajakku dan mengandeng tangan istriku untuk memasuki hotel. Setelah berjalan menuju kamar, akhirnya kami sampai di dalam kamar yang sudah aku siapkan dengan sebelumnya.
“ woaaaaaa… oppa, ini besar sekali.” Puji Ryeona dan tersenyum manis ke arahku.
“ apa kau menyukainya?” tanyaku memastikan dengan melepaskan jas yang aku kenakan.
“ neomu neomu joahae …gomawo.” jawabnya dengan riang. Kemudian dia tanpa mengatakan apa-apa sudah meninggalkan aku sendiri, dia masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan aku menuju ranjang dan merebahkan tubuhku diatasnya. Betapa nyamannya posisi seperti ini sekarang. Baru beberapa detik aku merasakan betapa nyamannya ranjang hotel, tapi sebuah teriakan mengagetkan aku.
“ oppa ! tolong aku, aku sedang kesulitan.” Teriak Ryeona dari dalam kamar mandi. Buru-buru aku menuju kamar mandi dan berdiri didepan pintu.
“ oppa, bantu aku. kenapa kau lama sekali?” teriaknya lagi.
“ bagaimana aku bisa masuk jika pintu kamar mandinya kau kunci, Lee Ryeona.” Satu detik kemudian, pintu kamar mandi sudah terbuka dan aku segera masuk kedalamnya.
“ apa saja yang kau lakukan dari tadi? Kenapa kau masih tetap sama?” tanyaku ketika tak ada perubahan sedikitpun dari penampilannya.
“ apa maksudmu? Ah, sudahlah. Cepat bantu aku melepaskan ini.”
“ gaun?” tanyaku.
“ dasar ! tidak, aku bisa melepaskannya sendiri. Tapi hiasan rambut ini yang bisa saja membunuhku karena beratnya yang sangat berlebihan.” Ucapnya dengan raut wajah kesal. Sedangkan aku hanya bisa terkekeh pelan dan segera membantunya melepaskan hiasan rambutnya.
Setelah membantunya, dia mengusirku keluar kamar mandi. Padahal aku sudah mengajaknya untuk mandi bersama, tapi gadisku itu menolak dan berteriak dengan keras di telingaku. Setelah hampir setengah jam aku menunggunya selesai mandi, akhirnya Ryeona keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah memakai piyama lengkap. Aku hanya memandangnya.
“ kenapa kau tidak memakai lingerie sexy?” tanyaku padanya.
“ aku tidak memilikinya dan aku tidak tertarik, oppa.” Jawabnya.
Setelah itu dia menuju meja rias yang sudah disediakan, sedangkan aku memasuki kamar mandi. Setelah beberapa menit mandi, aku keluar dan menemukan istriku yang sedang berbaring dengan menikmati program televisi. Tanpa membuang waktu, aku ikut berbaring di sampingnya lalu meraih remote dan mematikan televisi. Ryeona lalu memandangku dengan ekspresi bingungnya.
“ kau mencintaiku?” tanyaku.
Dia hanya menganggukkan kepalanya dan aku langsung mencium bibirnya. Posisiku berada di atasnya dan itu memudahkan aku untuk menguasai bibir merahnya. Kemudian dia menutup matanya dan membalas ciuman yang aku berikan.
Dengan sangat lembut dan halus aku melumatnya, atas dan bawah secara bergantian. Merasakan setiap detik yang terjalani dengan jantung yang berdetak nyaman. Ryeona membalasnya dengan tak kalah lembut, tak buru-buru namun membalas ciumanku dengan segenap hatinya. Tangan kiriku, aku gunakan sebagai bantal untuk kepalanya agar tetap dalam penguasaanku. Kemudian sesekali mengigit bibirnya pelan dan memasukkan lidahku kedalamnya. Bermain didalam sana dengan leluasa dan suara erangan mulai terdengar di kedua telingaku. Aku mulai menyesap bibirnya kuat, dan tangannya semakin menekan tengkukku untuk semakin kuat menyesap bibirnya. Lalu mengulumnya dengan semangat.
“ untuk malam ini, oppa akan bermain cepat karena harus menyimpan tenaga untuk bulan madu kita yang hanya beberapa hari saja.” Aku mengatakannya singkat kemudian menuju lehernya.
Leher jenjang itu sangat menggodaku, dengan cepat aku mulai mengecupinya berkali-kali di semua daerah. Disaat aku bergulat dengan lehernya, dia juga mencium di sekitar daerah telingaku. Hal itu mampu membuatku kegelian. Sekarang, tangan kananku sudah mulai membuka kancing piyamanya dan mencari pengait branya. Setelah aku berhasil membukanya, aku disenangkan dengan kedua gundukan yang berukuran besar itu. hampir saja tanganku menyentuh salah satu dari gundukan itu, tapi tangan Ryeona menghentikan tanganku.
Dia menatapku intens dan perlahan mulai bangkit dan sekarang posisi kami adalah women on top. Keadaannya yang sudah setegah naked tengah berada di atasku dengan kedua gundukannya yang menggantung bebas. Tanpa pikir panjang, kedua tanganku sudah mencengkeram kedua gundukan itu dan menariknya agar tepat berada di depan wajahku.
“ oppa, jangan menariknya seperti itu. sakit.” Ucapnya dengan sedikit ringisan dan tangan kirinya mengusap-ngusap kedua payudaranya. Tanpa mengucapkan apapun, tanganku mulai menyingkirkan tangannya. Payudaranya yang sudah berada di depan wajahku, salah satunya sudah aku masukan kedalam mulutku. Menyedot putingnya pelan dan memainkannya dengan dengan lidahku. Sedangkan yang satunya, aku meletakkan telapak tanganku ke payudaranya dengan pusat telapak tangan tepat di putting dan areolanya. menggerakkan jari-jari tanganku dengan gerakan memutar, kemudian menggerakkan jari-jarkui ke arah puting dan mengakhirinya dengan mencubit nakal ke puttingnya. Terus aku lakukan seperti itu.
Ryeona hanya bisa mendesah keras dan tetap berusaha menumpu tubuhnya agar tidak jatuh diatas tubuhku.
“ oppahhh.. bisakah kau menghhisapnyaa lebihh kerassshh..” pintanya dengan desahan sexy.
Tapi kali ini, aku ingin mempermainkannya. Tiba-tiba aku menghentikan permainan. Aku lihat dia masih menutup matanya diatasku, menahan teriakan kesal mungkin. Kemudian dia perlahan membuka mata dan bertanya padaku.
“ oppa, wae ? jebal, teruskan.” Pintanya masih dengan desahan mengiringi suaranya.
“ ani, aku mengantuk. Besok kita harus berangkat ke pulau jeju, jadi lebih baik kita tidur.” Ucapku menolak.
“ oppa, jangan menyiksaku.” Dia masih berada diatasku dengan kedua gundukannya yang mengayun bebas. Sedangkan aku sudah berpura-pura menutup mata. Tapi Ryeona tiba-tiba sudah mencium bibirku dan mengigitnya sangat keras.
“ menyebalkan ! awas saja, jika kau mengajakku. Aku tidak akan mau!” marahnya dan segera turun dari ranjang dan memunggut piyamanya lalu menuju kamar mandi. Sedangkan aku, aku hanya mampu menahan sakit di bibirku dan sedikit terkekeh karena sikap marahnya. Dengan cepat aku juga turun dari ranjang dan menyusulnya masuk ke dalam kamar mandi. Aku melihatnya tengah memakai branya dan dia sama sekali tak menghiraukanku yang sedang melihatnya di ambang pintu. Lalu aku mendekat dan segera menghentikan tangannya yang telah berhasil mengaitkan kambali branya.
Gadis itu tidak berontak tapi menatapku tajam.
“ kenapa kau memakainya kembali? Apa sudah tidak ingin aku hisap lebih keras lagi?” tanyaku menggoda.
“ tutup mulutmu!” ucapnya keras.
“ cepat buka kembali! Kau tahu, membuka bra itu sesuatu hal yang sangat merepotkan!” ucapku lebih keras. Dia hanya diam, tanpa berlama-lama aku segera membalik badannya dan membuka pengait branya lagi. Aku menempelkan punggungnya di dadaku yang masih memakai pakaian lengkap dan tanganku mulai meremas kedua payudaranya kuat, menghimpitkan keduanya dan menarik putingnya gemas. Kemudian menghadapkannya padaku dan mengedongnya. Lalu menjilat kedua payudaranya dan menghisapkanya kuat, sangat kuat sampai tangan Ryeona menjambak rambutku keras.
***
Aku dibangunkan dengan deringan ponselku, dengan malas aku menganggkatnya.
“ yoboseo…”
“ …”
“mwo ?! ah, ne. Algeseumnida.” Jawabku pasrah.
Aku hanya bisa mendesah kecewa karena rencana bulan madu kami harus dibatalkan, karena esok hari aku sudah harus berangkat ke Jepang karena pekerjaan. Ah, takdirku benar-benar tak memihakku dalam hal ini. Aku baru sadar, bahwa kini disampingku masih ada Ryeona yang sedang tertidur dengan keadaan setengah nakednya yang tertutupi oleh selimut. Ntah, pikiran setan darimana. Tiba-tiba aku memiliki ide yang hebat untuk aku lakukan bersama Ryeona nantinya.
Aku segera turun dari ranjang dan mencari semua barang yang aku perlukan. Setelah aku temukan semua, aku menaruhnya di meja dekat ranjang. Lalu aku menelepon petugas hotel dan memesan makanan karena aku kira Ryeona juga lapar sama sepertiku.
Makanan yang aku pesan telah, dan aku segera membangunkan Ryeona dan mengajaknya sarapan pagi bersama. Namun aku terlebih dahulu memakainya piyama yang semalam telah aku buang. Setelah itu, aku juga mengatakan bahwa bulan madu kami harus gagal dan dia hanya tersenyum memakluminya. Betapa aku sangat mencintainya.
“ apa kita pulang hari ini?” tanyanya setelah menyelesaikan makanannya.
“ ani, nanti malam kita akan pulang. karena sekarang, aku akan melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri di bulan madu mereka.” Ucapku setelah itu mengendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
“ ya! Apa yang kau lakukan? Aku tidak mau mandi bersamamu!ah, tidak!” teriaknya dan aku sama sekali tak menghiraukannya. Setelah aku membuka seluruh pakaianku, sekarang aku mulai membuka pakaian Ryeona meskipun mendapat halangan darinya. Tapi, toh hasilnya aku sukses membuatnya full naked di hadapanku. Aku melihat ada segurat warna merah dipipinya. Apakah dia malu denganku?
Tanpa membuang waktu, aku segera menyalakan shower dan berhasil membasahi kita berdua. Setelah itu aku mendudukkannya di kloset dan mulai menyabuni tubuhnya. Aku memulainya dari telapak kaki kemudian naik keatas dan sampai pada selangkangannya.
“ oppa, pelan-pelan saja. Ini benar-benar geli.” Ucapnya senyum kegelian.
Aku menyentuhnya dengans sangat halus dan pelan. Naik dan turun lalu semakin naik dan sampai pada vaginanya.
“ ya! Jangan kau sabuni vaginaku dengan sabun yang sama. Beda lagi sabunnya, yang ini.” kemudian dia menyerahkan sebotol kecil yang berisi cairan bening. Tanpa pikir panjang, aku menuangkan semuanya di telapak tanganku dan Ryeona berteriak keras padaku. Tapi apa peduliku?
Posisinya duduk dan aku semakin membuka selangkangnya. Sebenarnya aku tidak tahu apa ada cara khusus untuk menyabuni vagina, tapi aku menyabuninnya dengan feelingku sebagai seorang namja. Mengusap-ngusapkan di seluruh vaginanya dengan halus, lalu dengan sedikit mengodanya. Aku memasukka kedua jariku kedalamnya dan dia langsung menutup selangkannya.
“ ani, itu sakit.” Aduhnya padaku.
Melihatnya meringis seperti itu, aku segera menyabuni seluruh tubuh dan membilasnya(?). kemudian aku mengakhiri acara mandi bersama ini dengan mengendongnya keluar kamar mandi dengan sama-sama full naked. Lalu aku menidurkannya dan menempatkan tubuhku diatasnya. Perlahan mulai aku dekatkan bibirku ke bibirnya. Hanya mendekatkan dan menghembuskan nafas disana, kemudian tangannya menekan tengkukku. Mau tidak mau aku menciumnya sangat dalam, melumatnya dan mengecupinya beberapa kali. Kali ini aku tidak akan bermain lama dengan bibirnya, karena bermain dengan bibirnya bisa setiap hari aku lakukan tanpa repot-repot harus membuka pakaiannya. Jika bermain dengan tubuh bagian bawahnya, itu yang aku tekankan saat ini.
Terlebih dahulu aku menciumi lehernya dan membuat tanda merah disana, mengigiti dan membasahinya dengan ludahku. Lalu beralih pada bahunya dan payudaranya. Aku melakukan putaran dengan jilatan yang penuh tekanan dari bagian terluar payudara hingga menuju ke putingnya, aku melakukannya secara bergantian. Tanganku mengambil sesuatu, minyak esensial~lah yang aku temukan. Sedikit menghentikan kegiatanku, aku menuangkan minyak esensial itu keseluruh permukaan dadanya.
“ oppa..” panggilnya lalu aku mencium mata dan bibirnya. Tanganku mulai bergerak, meratakan minyak esensial itu dan mulai remasan yang pelan hingga keras. Ini terasa jauh lebih lembut dan hangat.
“ eungghhhhsssss…. Opphhhh…” erangnya.
Aku terus menerus meremasnya dan menekan keras putingnya yang mengeras. Menarik keatas payudaranya lalu menghimpitkannya dan menyentuhkan jari telunjukku di putingnya dengan halus. Dan tangannya ikut membantuku untuk semakin meremasnya lebih kuat lagi.
“ ternyata kau suka sekali jika aku meremas atau menyedot payudaramu keras.” Godaku dan dia sama sekali tak menghiraukannya.
Setelah puas dengan meremas payudaranya, tanganku mengambil lagi dan kali ini penjepit payudara. Tapi terlebih dahulu aku memakaikan penutup mata untuknya. Dia tidak protes karena bergulat dengan desahan yang semakin tak bisa ia kendalikan. Setelah itu aku langsung menjepit salah satu payudaranya dan dia sedikit memikik tapi tak bertanya apapun.
Istriku itu kembali mendesah tak karuan, sedangkan aku dengan perlahan mulai turun dari ranjang dan mengambil baskom air dingin dan handuk yang telah aku persiapkan sebelumnya. Lalu sedikit membantunya untuk posisi setengah duduk, aku mencelupkan handuk itu kedalam baskom yang berisi air dingin dan mengusapkan ke payudaranya yang tak aku jepit dengan sex toy.
“ aahhhsssss… dingshiinnnnn..essshhhh..” desahnya sambil mencengkeram kuat sprei.
Aku mulai membersihkan payudara yang sebelumnya telah aku berikan minyak esensial, mengelapnya dengan handuk. Menggerakkan handuk itu memutar dan ketika sampai di bagian bahwa payudaranya, aku menganggkat lalu menjatuhkannya. Tanpa berlama-lama lagi aku segera membersihkan kedua payudaranya dengan cara yang sama, menggoda dan membuatnya mendesah keras. Kemudian aku mengoleskan cream love, meratakannya di payudaranya. Lalu masih dengan posisi Ryeona setengah duduk, aku mulai menjilati cream itu dengan lidahku. Menjilatinya hingga bersih dan mengigit putingnya keras.
Kemudian aku memijit kedua payudaranya, naik turun dan ketika sampai di putingnya. Aku akan memelintirnya dan mencubitnya keras. Oh, desahannya semakin tak karuan.
“ aahhasss…. Opphaaa, hentihkaahnnnn. Akhuu takk khuaattt.”
Tanpa aba-aba dan istriku masih menggunakan penutup matanya, aku sudah menyedotnya kuat bagai orang kesetanan. Sedangkan tangan kiriku sudah menuju ke areah bawahnya yang benar-benar sudah basah oleh cairan kental putihnya. Aku tak bisa mengira, sudah berapa kali istriku orgasme. Aku sudah menghentikan kegiatanku di payudaranya dan aku sudah membuka penutup matanya. Aku melihat matanya yang memerah karena terlalu lama memakai penutup mata, lalu aku mencium matanya singkat dan menuju vaginanya.
Aku mulai membuka selangkangannya, kemudian aku menggunakan lidahku untuk mulai menyerang bagian paha. Sedangkan tanganku memainkan bulu yang berada di bagian Mrs Vnya. Tanpa berlama-lama lagi, aku segera menjilat bibir Mrs Vnya, dan tonjolan kecil yang berada di bagian bawah. Menjilatnya ke atas dan bawah dengan pelan sekaligus membersihkan cairan yang berada di sekitarnya. Lalu aku masukkan lidah ke dalam lubang Mrs V. kembali menjilat perlahan, dan menyelinginya dengan isapan keluar dengan bibirku dan menjilat bagian atas dalam Mrs Vnya. Aku mengisapnya kuat sampai aku merasa cairannya masuk kedalam mulutku.
“ aahssssssss . . .”
Aku mulai memasukkan dua jariku ke dalam Mrs Vnya dan dia tidak terlalu kesakitan karena cairan yang ia hasilkan sudah sangat banyak. Hanya sedikit memekik, kemudian aku mulai menggerakkan pelan kedua jariku. Maju dan mundur, dengan ritme yang sama. Setelah beberapa menit, aku menggunakan jariku. Lalu Aku menggantikan dengan juniorku yang sedari tadi sudah siap untuk memasukinya. Aku memasukkannya dengan sangat pelan karena aku melihat ekspresinya yang seperti menahan tangisan. Segera aku melumat bibirnya dan menyalurkan perasaan tenang untuknya. Sedikit demi sedikit akhirnya aku berhasil memasukinnya walaupun setengah. Aku masih belum berani menggerakkannya karena Ryeona masih meringis dalam ciuman yang aku berikan.
Tangannya memelukku erat dan beralih untuk menciumi leherku.
“ gerakkan oppa,” perintahnya dan aku hanya tersenyum mendegar ucapannya.
Aku mulai menggerakkan juniorku sedikit demi sedikit, maju dan mundur. Masih belum terdengar desahannya. Aku sedikit menaikkan tempo permainannku. Sedikit kupercepat gerakkan maju mundurku dan berhasil membuat Ryeona mengeluarkan desahannya. Ketika menyadari bahwa tanganku saat ini sedang menganggur, ku gunakan untuk membelai wajahnya dan menyeka keringat yang mengalir dari dahinya. Dia tersenyum dan aku membalasnya.
Kini gerakan juniorku telah berubah menjadi genjotan-genjotan yang kuat. Sampai tubuhnya mengikuti arah genjotanku dan kedua gundukan itu bergerak bebas. Nafasnya tersenggal dan semakin membuatku menambah tempo genjotanku.
“ oppaaaa.. aku keluaarrr..”
“ nadoo…”
Setelah beberapa lama, akhirnya kami bisa mencapai puncak secara bersama-sama. Aku menghentikan genjotanku untuk sedikit mengambil nafas. Dadaku naik turun mencari oksigen begitupula dengan Ryeona.
“ ini baru satu ronde, dan kita akan bermain sampai 5 ronde. Kau siap, istriku?” dan dia menjawabnya dengan ciuman panas di bibirku.
Author POV
Sedangkan di tempat lain, Lee Hyukjae kini tengah mengenderai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Pikirannya kosong, hatinya hancur dan air mata tiada berhenti dari kedua matanya. Bayang-bayang Lee Donghae dan Ryeona bagai didepan mata dengan senyuman kebahagiaan mereka. Lelaki itu sendirian, meratapi bagaimana rasa sakit karena cinta pertamanya yang harus terkubur tanpa bisa terungkap sedikitpun.
“ oppa, wae?” tanya Ryeona di dalam bayangan Hyukjae yang kini tengah duduk bersamanya di dalam mobil.
“ oppa, wae? Jangan seperti ini, lihatlah. Mukamu itu semakin jelek, jika ada seseorang yang melihatmu seperti ini. mereka pasti mengira kau orang terjelek sedunia.” Bayangan Hyukjae semakin tak terkendali. Dan kecepatan mobilnya semakin bertambah kemudian dia hentikan secara tiba-tiba dan menghasilkan suara decitan yang berasal dari ban mobil dan jalanan aspal.
“ gwenchana?” Ryeona bertanya lagi.
“ maafkan aku,maaf karena sebenarnya aku tidak benar-benar merestui pernikahan kalian. Bagaimana denganku, Ryeona? Pernikahan kalian menghancurkan aku. kalian berbahagia? Dan bagaimana denganku? Dengan cintaku? Tidakkah kau mengerti, Ryeona? Apa yang harus aku lakukan?” Hyukjae mengatakannya dengan menahan air mata yang tiba-tiba mengalir.
“ tidak tahukah, sebenarnya aku ingin mengatakan… kumohon, jangan. Jangan diteruskan pernikahan ini. kumohon, Ryeona…” lalu tangan Hyukjae mencoba menggapai wajah Ryeona namun sayang, bayangan Ryeona telah menghilang dan itu menyadarkan Hyukjae bahwa dia benar-benar terjatuh sekarang.
***
Seminggu telah berlalu sejak pernikahan Donghae dan Ryeona. Kehidupan pernikahan mereka benar-benar bahagia, namun selama seminggu pula mereka tidak bisa bertemu Hyukjae. Donghae selalu mencoba untuk menelepon Hyukjae, tapi hasilnya nihil. Begitupula dengan Ryeona, gadis itu selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah Hyukjae namun selalu gagal dan hanya bisa bertemu dengan ibu Hyukjae.
Saat ini, Hyukjae sedang berbaring di ranjangnya dan ditemani oleh sang ibu.
“ sebenarnya ada apa denganmu, nak?” tanya ibunya dengan khawatir.
“ aku terluka,umma. Aku sakit sekali.” Jawab Hyukjae dengan dengan tatapan lurus keatas.
“ lalu, mengapa kau tidak ingin bertemu dengan Donghae dan Ryeona? Apa mereka penyebabnya?”
“ani, bukan mereka penyebabnya. Hanya aku, akulah penyebabnya. Aku hanya tidak ingin ada pernikahan diantara mereka. Benar-benar tidak ingin…” lalu Hyukjae bangun dari posisi berbaringnya kemudian memeluk ibunya.
“ bagaimana denganku,umma? Berikanlah sesuatu padaku agar aku bisa berpikir jernih. Aku mencintainya dan aku tahu cintaku salah”
“ Hyuk, kau anakku. Ibu tahu, kau bukan seseorang yang akan membuat temanmu sendiri terluka karena hatimu yang terluka juga,bukan? Tapi, kau tahu bahwa terkadang cinta itu mendarat pada seseorang yang salah? Itu tidak apa-apa dan cintamu itu bukan cinta yang salah, asal kau bisa mengendalikan cintamu agar tidak menjadi cinta yang salah. Ibu hanya bisa memberikan dua pilihan padamu, tetap bertahan seperti ini atau ibu akan membawamu ke suatu tempat yang akan membuat hatimu sedikit demi sedikit bisa terobati.”
“ umma, kau sandaran terbaikku setelah Tuhan dan ayah.”
***
Malam ini, Hyukjae sudah berpenampilan seperti sedia kala. Senyuman mengembang di sudut bibirnya namun tetap tak bisa dipungkiri bahwa hatinya tetap saja, tak ada yang berubah. Lelaki itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju ke rumah Lee Donghae yang bagai rumah kedua baginya. Setelah sampai, Hyukjae turun dari mobilnya kemudian berjalan ke teras rumah. Hyukjae menekan sebuah tombol dan beberapa detik kemudian, Ryeona telah membuka pintunya dan langsung memeluk Hyukjae erat.
“ oppa? Kau kemana saja? Kau menghindari kami?” tanya Ryeona setelah melepas pelukannya.
“ kau tahu, diluar sangat dingin. Tidak bisakah kau membiarkanku masuk terlebih dahulu?” kemudian Ryeona mengenggam tangan Hyukjae dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“ oppa, aku ambilkan susu strawberry ya? Seminggu kau tidak kesini, persediaan susu strawberrymu membumbung tinggi dalam kulkas karena Donghae oppa setiap hari selalu membelinya untuk berjaga-jaga jika kau tiba-tiba datang kesini.”
“ setinggi apa? Coba, kau ambilkan semua. Aku pasti akan menghabiskannya malam ini juga.” Canda Hyukjae. Setelah itu, Ryeona kembali dengan membawa 10 kotak susu strawberry dan meletakkannya di meja depan Hyukjae.
“ mwo? Hanya sepuluh saja kau bilang membumbung tinggi?”
“ ani, aku takut jika aku ambil semuanya, bisa-bisa kau mati karena tersedak susu strawberrymu itu.”
“ dimana Donghae?” tanya Hyukjae setelah sadar bahwa dia tidak melihat Donghae sama sekali.
“ belum pulang, akhir-akhir ini dia sering pulang larut karena pekerjaannya. Oh iya, oppa… sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kami tidak bisa menemuimu? Apa kau marah pada kami karena kami belum memberi bayaran setelah menjadi supir kami?” ledek Ryeona.
“ aku baru ingat soal bayaran itu. ah, sudahlah. Aku takut jika aku meminta bayaran tinggi, nantinya kalian malah jatuh miskin.” Tiba-tiba keadaan berubah menjadi hening dan canggung.
“ aku akan menghabiskannya.” Ucap Hyukjae dan kemudian langsung menegak kesepuluh kotak susu strawberry itu tiada henti dan jeda.
“ oppa? Kau menghabiskannya secepat ini?” takjub Ryeona.
“ ya, begitulah.” Lalu Hyukjae berdiri dan berjalan menuju ke sebuah foto besar yang terpasang di dinging. Foto pernikahan Lee Donghae dan Han Ryeona. Beberapa menit, Hyukjae terdiam dan menatap foto itu dengan hati yang sudah tak perlu di jelaskan lagi.
“ bagaimana oppa? Sangat serasikan?” tanya Ryeona dan berdiri disamping Hyukjae. Lalu, tiba-tiba Hyukjae memeluk Ryeona dengan hangat. Sedangkan Ryeona hanya bisa kaget dan terdiam.
“iya, sangat serasi. Berbahagialah dalam pernikahan kalian, aku juga akan selalu berdoa untuk kalian. Jadilah istri yang sesungguhnya, cintailah Donghae dengan sepenuh hatimu. Maafkan aku, karena aku sudah memiliki sebuah harapan buruk dalam pernikahan kalian. Berikan ini pada Donghae.” Ucap tulus Hyukjae dan memberikan sebuah surat kepada Ryeona untuk diberikan pada Donghae. Hyukjae masih memeluk Ryeona dan tidak terasa setetes air mata jatuh dari kelopak matanya.
“ APA YANG KALIAN LAKUKAN, LEPASKAN DIA LEE HYUKJAE !” teriak Lee Donghae dengan raut kemarahan yang tergambar jelas disana.
Bug…bugh…bugh..
Setelah Hyukjae melepaskan pelukannya, Donghae langsung memukuli Hyukjae hingga terjatuh ke lantai. Terus memukuli hingga Ryeona berteriak untuk segera menghentikan ini semua.
“ kau, masuklah. Aku memiliki urusan dengan Hyukjae.” Perintah Donghae pada Ryeona dan dengan berat hati disanggupi oleh Ryeona.
***
Saat ini kedua sahabat itu tengah berada di kawasan Sungai Han, mereka berdiri dengan saling berhadapan dengan tatapan tajam yang diberikan Donghae kepada Hyukjae.
“ apa benar kau Lee Hyukjae yang sudah beberapa tahun ini mengaku menjadi sahabatku? Tapi bahkan kau tidak memberikan ucapan selamat pernikahan yang layak untukku! Lalu seolah kau hilang ditelan bumi, seminggu aku tak bisa bertemu dengamu. Bukannya tak bisa, tapi aku tahu kau menolak untuk bertemu denganku. Brengsek! Apa maksudmu? Kau tak menyukai pernikahanku? Atau kau menyuk . ..”
“ jangan, jangan katakan. Kumohon, Hae…” pinta Hyukjae setulus hati.
“ wae ? sialan kau! Kau tahu rasanya, selama beberapa tahun, kita hampir menjalani hari-hari bersama. Lalu tiba-tiba kau menolak bertemu denganku? Sahabat macam apa itu?” Donghae kehabisan kata-kata kasarnya, dan nafasnya mulai tersenggal karena berteriak dan memukuli Hyukjae tadi.
“ pulanglah Hae, aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Cepat temui Ryeona dan meminta maaflah karena sudah berteriak padanya. Cepat pulanglah sebelum aku berubah pikiran…” suruh Hyukjae dan Donghae menurutinya dengan pikiran bahwa dia bisa membicarakan hal ini bersama Hyukjae esok hari.
“ maafkan aku.” ucap lirih Hyukjae dengan memandang punggung Donghae yang semakin lama semakin tak terlihat. Tak beberapa lama kemudian, Hyukjae terduduk dengan tangisan yang memilukan. Lelaki itu menangis dengan keras di tengah malam yang menemaninya.
Sedangkan Donghae, lelaki itu telah sampai di rumahnya dengan keadaan yang sangat buruk. Donghae terduduk di pinggir ranjangnya dengan berbagai pikiran yang mengantung di otaknya.
“ oppa…” panggil Ryeona.
“ maaf karena aku sempat berteriak padamu tadi.”
“ ini, Hyukjae oppa memberikan ini untukmu. Dia … oppa, Hyukjae oppa sangat terluka.”
Donghae menerima sebuah surat yang diberikan oleh istrinya dan kemudian membukanya.
Lee Donghae ….
Apa kabar? Apa kau merindukan sahabatmu ini? jika iya, aku juga sangat merindukanmu Hae. Bagaimana pernikahanmu? Ah, selamat… semoga pernikahanmu selalu berada dalam berkat Tuhan. Dalam surat ini, aku ingin menuliskan sesuatu yang jujur. Sesuatu yang sudah aku simpan selama beberapa tahun terakhir.
Sungguh maafkan aku, bukannya aku tidak merestui pernikahanmu. Tapi pernikahanmu ini membuat hatiku hancur. Cinta pertamaku harus kandas begitu saja. Jujur, harapanku adalah jangan ada pernikahan ini, jangan diteruskan. Aku ingin mengatakan…” Hae, kumohon jangan kau teruskan pernikahanmu ini karena aku mencintaimu.”
Itulah sebenarnya yang ingin aku lakukan, menghentikan dan menahanmu. Maafkan aku, karena aku sudah memiliki perasaan menjijikkan seperti ini padamu. Tapi, sungguh aku sangat mencintaimu sampai waktu dimana aku tahu bahwa aku sudah kehilanganmu, rasanya aku benar-benar tak bisa menemukan cahaya untuk membawaku pada sebuah pintu keluar yang melegakan.
Rasa sakitnya tak bisa terjelaskan, cintaku sama halnya cintamu pada Ryeona. Atau mungkin, cintaku jauh lebih besar. Tapi tenanglah, aku tidak akan menghancurkan pernikahanmu dengan membawamu kabur bersamaku. Aku sudah menemukan jalan terangku,berkat umma yang mencintaiku dan mengerti tentang diriku.
Jangan kau anggap salah cintaku, karena cinta itu tak ada yang salah namun terkadang keadaannya saja yang membuat salah, dan aku tak akan membuat cintaku berubah menjadi cinta yang salah. Terakhir kali…Hae, jadilah suami yang baik untuk istrimu. Saranghae Lee Donghae…
Hyukjae
Setelah membaca surat itu, Donghae seakan kehilangan nyawanya. Tangannya bergetar dan surat itu jatuh ke lantai. Tatapannya kosong, pikirannya tak bisa mencerna dengan baik isi surat itu. setetes demi setets air matanya berjatuhan, sampai pada akhirnya lelaki itu menangis dengan keras dan mencengkeram erat sprei ranjangnya.
Kemudian, ryeona memeluk Donghae hangat. Sedangkan Donghae sama sekali tak membalas pelukan itu. kini, yang ada di pikirannya hanyalah Lee Hyukjae.
“ oppa, aku tidak tahu mengatakan apa. Tapi? Apa kau juga merasakan apa yang Hyukjae oppa rasakan?”
“ Hyukjae …” ucap Donghae lirih tanpa menghiraukan pertanyaan istrinya
ENDAuthor : Chi-Ri
2. Judul : Because I’m yours and You’re mine
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
-Lee Hyukjae
-Kim Shin Ji (OC)
-Lee Se Ra (OC)
-Others
Annyeong~ ini FF Yadong pertamaku, kekeke~ terimakasih sudah bersedia membaca, mian kalo kurang yadong. Dan mian lagi kalo gaje.. 
Dengan menyertakan bias-ku tercinta Lee Hyuk Jae, aku merasa lebih semangat menyelesaikan FF oneshoot ini. Hahaha~ Jiwamu selalu bersamaku Baby Hyukkie  (ditimpuk jewels) Hahaha! Baiklah tak perlu berpanjang lebar lagi. Selamat membaca! Jangan lupa meninggalkan jejak yaaa…^^ Kamsahamnidaaaa~ *bow*
————
Hyukjae’s POV~
Kurasakan nyaman menghinggapiku, berada dipangkuan yeoja yang teramat kucintai. Wajahnya yang cantik dan manis selalu kurindukan. Sedari tadi kurebahkan kepalaku diatas pahanya, aku selalu merasa nyaman disana dan tentu saja enggan rasanya untuk beranjak. Aku selalu ingin bersamanya, dikediamannya yang begitu nyaman ini. Ia mengelus helai demi helai rambutku, kupejamkan mataku menikmati setiap sentuhannya yang lembut. Ia mengalihkan sentuhannya dari rambutku menuju alis mataku, dimainkan telunjuknya yang mungil diatas alisku, kemudian beranjak pada kelopak mataku. Semakin kunikmati setiap sentuhannya, membuatku semakin melayang. Aku menunggu sentuhan lainnya yang mungkin akan lebih membuatku melayang. Kurasakan ia menyentuh bagian bawah bibirku, masih kupejamkan mataku. Kemudian rabaannya pindah kebibir atasku, kugigit bibir bagian bawahku karena menahan sengatan nikmat yang tak penuh. Kubuka kelopak mataku, Kujulurkan lidahku meraih telunjuknya yang sedari tadi lembut meraba bibirku, ia terkejut kemudian tersipu malu. Kukulum telunjuknya lembut, ia menatapku dalam, aku menatapnya penuh gairah. Semakin kukulum telunjuknya, aku merasa sangat sexy melakukan ini. Kemudian ia menarik telunjuknya dari dalam mulutku. Telunjuknya basah dengan salivaku, lalu ia menjilat salivaku yang menyelimuti telunjuknya dan menatapku sexy. Kulihat ia mengulum telunjuknya sendiri dengan penuh kenikmatan dan pemandangan itu membuatku merasa aliran darahku berdesir kencang. Ia menggodaku. Ia menghentikan aksinya kemudian bersiap menjalankan aksi lainnya. Ia menundukkan wajahnya kearahku yang berada diatas kedua pahanya, bibirnya mulai menuju bibirku. Aku hanya tersenyum evil melihatnya, dan mempersiapkan bibirku untuk menerima bibirnya. Kurasakan hangat menyergap bibirku, ia mengecup lembut bibirku aku pun merespon tak kalah lembut. Bibir kami semakin bertautan dan menciptakan lengguhan yang terdengar menggoda. Ia mendesah disela aksinya, membuatku semakin mempercepat tempo ciuman ku. Aku mengulum bibirnya yang manis, kurasakan ia sangat menikmatinya. Ia menggigit bibir bawahku. Ah~ kenapa ia yang terlebih dahulu melakukannya, aku tak mau kalah menggigit lembut bibirnya…
“Aww… Oppaaa…” Ia sedikit meringis kesakitan dan melepaskan ciumannya.
“Sakit kah? Mianhae~” Jawabku dengan rasa bersalah, kuusap kedua pipinya. “Mianhae~ chagiii… Oppa akan mengobatinya, lalu kita kembali bermain lembut, Eoh? “ ia mengangguk, kemudian aku meraih kembali bibirnya.
Kujilat lembut bibir bawahnya yang kugigit tadi. Kuhisap perlahan lalu kukulum lagi bibirnya dengan lembut. Ia membalas kasar, mungkin sakitnya telah tertutupi dengan rasa nikmat yang luar biasa. Ia membuka mulutnya lalu menjulurkan lidahnya, kuhisap lidahnya sejenak. Ia mengerjapkan matanya menahan nikmat, kemuidan lidahku mulai menyusuri rongga mulutnya. Lidahku bergerilya disana, sementara itu ia menjambak rambutku lembut. Tangan kirinya meraih tanganku dan menuntunnya menuju dadanya. Ah~ chagi… Begitu bergairahnya kah dirimu? Mian, aku tak menyadarinya. Tangan kananku meraba dadanya yang terbalut kaos tipis, kuremas dadanya bergantian. Ia mendesah hebat disela ciuman panas kami. Kuperkuat meremas dadanya, dan mulai memilin nipple-nya.
“Sssshhhh~ Oppaaaa… Itu sangat nikmat…” Desahnya disela ciuman kami.
“Nikmatilah, baby…” Jawabku berbisik.
Kami bergantian mendesah, ia pun memberikan sensasi yang luar biasa pada bibirku, membuatku semakin merasa panas.
Drrrttt~ Drrrrttttt~
Ponselku bergetar diatas meja, pertanda ada panggilan masuk. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku tetap ingin meneruskan aksiku, dan menikmatinya bersama yeojachingu-ku. Tapi ia berkeinginan lain, ia berusaha melepas ciumannya, tapi aku menariknya kembali dalam dekapanku dan mengulum bibirnya lebih cepat. Ia melepaskan dirinya lagi.
“Oppaa… cepat jawablah dulu …” Ujarnya dengan memohon, karena aku berniat mengabaikan panggilan itu.
“Haiiisssshhh~ siapa yang menghubungiku, mengganggu saja!” Omelku yang merasa kesal karena berhenti ditengah kenikmatan yang luar biasa ini.
Aku terkejut melihat nama yang muncul dilayar ponselku… ‘Noona’.
“Yeoboseoo… Noonaa…”
“Yaaa!!! Hyukjae, kau ada dimana sekarang? Aku ada di apartemenmu, cepatlah pulang! Kau tidak mengganti kode apartemenmu kan…? Ah~ benar saja… Terbuka… Aku masuk ya. Cepatlah kemari!” Ujar Se Ra, Noona-ku yang tiba-tiba datang ke apartemenku. Kemudian ia menutup telponnya.
“Yaaa!!! Noonaaa??? Noonaaa??!!! Aigoooooo~!! Apa-apaan dia itu” aku kesal sekali, mengapa noona tiba-tiba datang? Ah~ tapi ada bagusnya, sekalian saja aku mengenalkan yeojachinguku padanya.
“Waeyoo, Oppaa?”
“Chagi, ayo kita pergi ke apartemen. Noona ada disana.” Kutarik lengan Shin Ji yang bergegas menuju mobil.
Kulajukan mobilku kencang menuju apartemen. Aku sedikit kecewa.
“Hhhhh~ aku kesal sekali, kenapa hari ini gagal lagi. Padahal sudah lama kita tidak bercinta…”
“Kekeke~ Sudahlah oppa, kau ini seperti anak kecil saja.” Shin Ji tersipu malu.
“Ahhh~ Aku tak peduli. Kau tega sekali menyebutku anak kecil. Aku sudah sangat tersiksa chagiiii…” aku merasa benar-benar kesal.
“Memang apa yg oppa inginkan? Kekekeke~” Tanyanya sambil meledekku.
“Aku ingin kau men-service ku, chagiiii..” Jawabku tanpa rasa malu, karena sudah terlanjur kesal.
“Hahahaha~ Mwoooo?” Ia menatapku sambil tertawa. Lagi-lagi ia meledekku.
“Berikan aku service yang spesial!” Ujarku semakin kesal karena ia tak henti meledekku yang sedang tersiksa ini.
“Service? Kekeke~ Seperti inikah…?” Ia melirikku dengan pandangan menggoda, tak kusadari telapak tangannya telah berada diatas juniorku. Dan ia meremasnya perlahan sambil terkekeh evil padaku. Aliran darahku berdesir. Kurasakan panas dalam tubuhku. Mataku terbelalak melihat apa yang Shin Ji lakukan.
“Ssssshhhh~ Cha… Chagiii… A… Apa yang kau lakukan?” Nafasku tersengal-sengal.
“Men-service mu. Bukankah tadi kau yang meminta?” Ia kembali terkekeh sambil melepas genggamannya pada juniorku.
“Taa… Tapii… Jangan kau lakukan ketika aku sedang mengemudi..!!!!” Kemudian kutepikan mobilku dijalan yang kebetulan memang sepi itu.
“Yaa! Mengapa oppa menepi..???”
“Kau… Kau harus bertanggung jawab!”
Shin Ji’s POV~
“Mwoooo???”
“Kau harus bertanggungjawab” Hyukjae mengalihkan matanya kearah bawah jeansnya. Sontak akupun kaget melihat sesuatu yang berbeda. Selangkangannya lebih besar dari yang tadi, bagaikan isi yang berada didalamnya itu tak kuasa diam dan berusaha berontak keluar.
“Mi… Mianhae, Oppaaa…” Aku merasa bersalah karena telah menjahilinya. Betapa ia semakin tersiksa.
“Chagi kumohon kita lakukan sebentar saja…” Ia memelas seperti orang sekarat.
“Tapi noona-mu sedang menunggu kita kan?”
“Aku tak peduli. Kumohon….” Ia menggenggam tanganku, aku tak kuasa menolaknya.
Bibirnya mendekati bibirku. Ia mengulum bibirku cepat dan sedikit kasar. Tanganku bergerak menuju juniornya lagi tanpa melepaskan ciumanku. Kuberusaha meraih kancing jeans-nya dan melepaskannya. Dengan sigap Hyukjae membantuku. Kancing jeansnya terlepas dengan mudah, lalu kubuka resleting dibawahnya. Juniornya keluar dengan mudah karena sudah menegang sejak tadi. Kulepaskan bibirku dari bibirnya, dan kualihkan wajahku kearah selangkangannya. Disana junior manisnya menungguku. Kutatap Hyuk sejenak, ia terlihat sudah tak tahan karena kulihat ia menggigit bibir bawahnya.
Author’s POV~
Hyuk sudah tak tahan lagi, Shin Ji malah menggodanya.
“Chagiiyaaaaa…” Hyuk kembali memelas.
Kemudian dengan segera Shin Ji mengarahkan bibirnya kearah junior Hyuk. Ia mengecup ujung juniornya yang masih terbalut celana dalam dengan lembut. Dengan menggunakan gigi, Shin Ji menarik celana dalam Hyuk kebawah sehingga junior Hyuk mencuat keluar. Tak perlu menunggu lama, Shin Ji memasukkan junior Hyuk kedalam bibirnya. Ia tak mampu memasukkan junior Hyuk seutuhnya karena ukurannya memang terlalu besar. Hyuk menekan kepala Shin Ji agar Shin ji bisa melahap juniornya semua. Kedua tangan Shin Ji sibuk menggenggam twins ball Hyuk dan meremasnya lembut. Membuat Hyuk menjadi tak karuan.
“Sssshhhhh… Ahhhhhh~ Chagi itu sangat nikmat. Lakukan lebih cepat lagi…” Perintah Hyuk yang telah mendesah tak henti henti.
“Ahhhhhhh… Sssshhhh… Shin Ji kau hebat…” Hyuk mengerjapkan matanya merasakan nikmat yang diberikan yeojachingu-nya itu. Ia mendesah hebat dan tak henti menekan kepada Shin Ji. Shin Ji masih sibuk dengan kulumannya yang semakin cepat. Ia menghisap junior Hyuk dengan sangat menggoda. Ia menjilat twinsball Hyuk bergantian. Hyuk menggeliat didalam kursi mobil yang sempit itu…
Shin Ji memberikan sensasi yang luar biasa, ia menggigit lembut junior Hyuk. Dan Shin Jin merasakan junior Hyuk telah berkedut.
“Chagi, mianhae… Aku tak bisa menahannya…” Ujar Hyuk seraya mengeluarkan cairan dari juniornya kedalam mulut Shin Ji. Shin Ji menelannya perlahan, sebelum ia menghabiskan semua cairan Hyuk, Hyuk menarik Shin Ji dan mengulum bibir Shin Ji yang penuh dengan cairan miliknya. Hyuk menitahnya membagi cairan miliknya, Shin Ji mengulum bibir Hyuk sambil berbagi cairan cinta tersebut.
Tak lama kemudian ciuman itu terlepas, dan Hyuk menyeka sisa saliva dan cairannya disudut bibir Shin Ji.
“Gomawo, Chagi…” Hyuk menatap Shin Ji dengan penuh cinta. Shin Ji membalasnya dengan senyuman.
Mereka kembali melajukan mobilnya menuju apartemen. Mobilpun sampai, segera mereka menaiki lift yang berada di area parkir menuju apartemen Hyuk dilantai 10. Hari sudah larut malam, hanya ada mereka berdua didalam lift. Kemudian Hyuk dengan nakal meraba pinggul Shin Ji dan membuatnya menggeliat. Tangan satunya mengintip dibalik kerah kaos Shin Ji. Ditariknya sedikit kerah bagian depan kaos Shin Ji dan memperlihatkan belahan dada Shin Ji yang begitu menggoda. Hyuk menatap belahan dada Shin Ji penuh gairah. Shin Ji tersipu malu. Lift berbunyi menandakan mereka sampai dan segera mereka menghentikan kegiatan tersebut.
Tepat berada didepan pintu apartemen, Hyukjae mengetikkan kombinasi kode rahasia apartemennya. Seketika pintu terbuka.
“Noonaaa…” Hyuk berteriak santai kedalam apartemennya.
“Hyukjae, kau sudah datang…” Se Ra menghampiri Hyuk dan memeluknya.
“Kau ini mengapa tiba-tiba datang?” Omel Hyuk
“Dasar adik kurang ajar. Noona mu mengunjungimu harusnya kau senang.” Se Ra menjitak kepala Hyuk dengan keras. “Ah~ siapa ini?” Se Ra menatap Shin Ji.
“Dia yeojachingu-ku yang waktu itu aku ceritakan namanya Kim Shin Ji”
“Ah~ aku baru ingat. Hai, aku Lee Se Ra. Apakah selama ini Hyukjae bersikap baik padamu? Dia ini sedikit yadong kau harus maklum yaa…”
“Ah~ Eonnie, dia begitu baik padaku…” Shin Ji mengembangkan senyumnya.
Mereka terlibat percakapan yang mengasyikkan. Se Ra adalah kakak yang menyenangkan, itu membuat Shin Ji merasa nyaman.
“Hm~ ini sudah larut malam. Aku harus mengantar Shin Ji pulang.” Hyuk Jae beranjak dari duduknya.
“Hyukjae, biarkan ia menginap disini. Bukankah ada beberapa kamar yang kosong. Shin Ji pasti sangat lelah.”
“Kau mau menginap, chagi? Menginaplah….” Hyuk mengerlingkan matanya kearah Shin Ji.
“Tak masalah, eonnie. Lagipula besok kuliahku libur.”
“Baiklah kau tidur kamar itu ya, aku akan tidur dikamar sebelahmu.” Perintah Se Ra sambil menunjukkan pintu kamar antara kamar Hyuk dan kamarnya. “Aku sangat lelah bekerja dikantor, sekarang aku sangat mengantuk. Untung aku bawa pakaian ganti. Hahaha~”
“Noona, mengapa kau begitu niat menginap disini?” Hyuk melirik aneh pada noona-nya.
“Tentu saja. Kekeke~ Shin Ji lekas lah istirahat. Aku akan ke kamar duluan ya..” Se Ra beranjak ke kamarnya, diikuti Shin Ji yang berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan Hyukjae,
“Ah~ harusnya hari ini aku menginap dirumah Shin Ji, dan bisa berduaan dengannya…” Ujar Hyuk yang kesal sambil merebahkan tubuhnya dikasurnya. Ia merasa tak ingin tidur, ia merasa resah dan merindukan Shin Ji. Tiba-tiba ia menyunggingkan senyum dan beranjak dari kasurnya. Ia membuka pintu dan menuju kamar sebelah yang tak lain adalah kamar Shin Ji.
Terlihat Shin Ji belum tidur kemudian terkaget melihat Hyuk diambang pintu menyelinap.
“Oppaaaa…??”
“Ssssssttttt… Pelan-pelan nanti noona bangun.” Hyuk mengunci pintu kemudian berjinjit menuju ranjang Shin Ji dan langsung menyelinap kebawah selimut. Dan terkekeh penuh kemenangan.
“Oppaa, bagaimana kalau kakakmu tau…?”
“Jika kita bercinta dengan pelan-pelan noona tak akan tau. Kekeke~”
“Mwoooo? Siapa yang mau bercinta?” Ledek Shin Ji
“Aigoooo~ kau yakin tak mau aku service, tadi kan kau yang memberikan service padaku. Memang kau tak mau mendapat giliran?” Hyukjae menggoda Shin Ji yg seketika memerah wajahnya.
“Oppaaaaa….” Shin Ji memukul manja dada Hyuk.
“Aku akan membuatmu mendesahkan namaku, chagiii…” Ucap Hyuk berbisik ditelinga Shin Ji.
Hyuk menggigit pelan daun telingan Shin Ji membuat mendesah.
“Baru begitu saja kau sudah mendesah?” Goda Hyuk sambil terkekeh.
“Yaaaa!!!! Berenti mengejekku…” Shin Ji mulai kesal. Seketika bibir Hyuk meraup bibir mungil Shin Ji.
Shin Ji membalasnya, mengulum dan saling berpagutan. Tangan Hyuk langsung bergerilnya kedalam kaos yang dipakai Shin Ji. Ia meraba perut mulus Shin Ji kemudian menuju keatas dan berhasil menemukan dada Shin Ji. Diremasnya lembut, dipilinnya nipple Shin Ji. Merasa ada yang menghalangi, ia membuka kaos yang dipakai Shin Ji. Sekarang bagian atas tubuh Shin Ji hanya terbalut bra hitam. Mereka kembali berciuman, sekarang Hyuk meraba punggung mulus Shi Ji berusaha mencari pengait bra. Dengan sekali sentakkan, pengait bra Shin Ji terlepas dan Hyuk membuangnya sembarang.
Yang tersisa sekarang hanya Shin Ji yang setengah telanjang, dada Shin Ji yang menegang menggoda Hyuk untuk mencicipi nya. Segera Hyuk menindih ShinJi dan melahap dada Shin Ji. Hyuk menjilati dada kirinya, sedangkan yang kanan diremasnya penuh gairah. Shin Ji menggeliat menikmati service yang dilancarkan oleh namjachingu-nya tersebut. Dihisapnya dada ShinJi bergantian sehingga menciptakan kissmark disana. ShinJi hanya mampu menekan kepala Hyuk ke dadanya sambil mendesah hebat.
Tangan Hyuk sekarang menuju selangkangan Shin Ji yang masih terbalut jeans. Dimasukannya tangan kedalam jeans Shin Ji, dirabanya liang yeojachingu-nya yang ternyata ia merasakan cairan keluar dari sana.
Hyuk menghentikan kulumannya didada Shin Ji, lalu menatap Shin Ji, “Chagi… Kau sudah basah…” Ujar Hyuk sambil menyeringai menggoda, tentu saja Shin Ji menjadi malu.
Shin Ji memalingkan wajahnya karena malu, Hyuk meraih pipi Shin Ji dan kembali menciuminya.
Shin Ji tak tahan dengan perlakuan Hyuk, ia telah benar-benar terangsang. Shin Ji menarik2 baju Hyuk, ia pun sigap melucuti pakaiannya satu persatu hingga tak ada lagi yang menutupi tubuhnya. Berbeda dengan Shin Ji yang masih terbalut dengan jeans. Hyuk menghadap selangkang Shin Ji berniat membuka sisa jeans yang masih menutupi yeojachingu nya itu. Celana dalam Shin Ji pun tak luput dari Hyuk, sehingga kini mereka berdua topless. Hyuk tersengal-sengal memandang tubuh sexy yeojachingu-nya. Betapa ia ingin menikmati setiap jengkalnya. Kakinya yang jenjang dan pahanya mulus menggoda Hyuk untuk segera menjilatinya. Hingga jilatan Hyuk bermuara pada bagian intim Shin ji. Hyuk memandangi vagina Shin Ji yang ditutupi bulu-bulu halus. Segera ia mengarahkan kepalanya mendekati vagina kekasihnya tersebut. Dijilatnya vagina Shin Ji dengan perlahan membuat pemiliknya menggelinjang hebat. Lidahnya piawai menggoda Shin Ji. Shin Ji merasa sangat tersengat nikmat dan ia pun meremas payudaranya sendiri sambih mendesah karena Hyuk sibuk dengan bagian bawahnya.
Hyuk yang melihatnya, menyingkirkan tangan Shin Ji kemudian melahap kembali kedua payudara Shin Ji yang menegang. Hyuk menggesekkan juniornya ke vagina Shin Ji.
“Oppaa… Aku sudah tak tahan…” Shin Ji merasa semakin tak tahan dikarenakan gesekan junior Hyuk.
Hyuk segera mengarahkan juniornya yang telah menegang ke arah vagina Shin Ji. Yeoja itu mengerang hebat karena ulah Hyuk, tapi Hyuk menutup bibir Shin Ji dengan bibirnya. Mereka terlibat ciuman panas dan cepat.
Sementara itu, Se Ra menuju kamar Hyuk. Ia mengetuk pintu kamar Hyuk
“Hyukkie-ah, mengapa keran air dikamar mandiku mati?” tak ada jawaban dari adiknya tersebut. Lalu Se Ra membuka pintu kamar Hyuk memastikan apa ia sedang tidur atau apa. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Hyuk tak ada dikamarnya. Ia berkeliling mencari Hyuk tapi tak menemukannya. Matanya mengarah ke pintu kamar Shin Ji. Diraihnya kenop pintu, dan digerakkannya tapi nihil karena pintu tersebut terkunci. Ia menempelkan telinga ke pintu tersebut. Ia terkaget-kaget ketika mendengar suara-suara desahan dari seorang namja dan yeoja. Ia hanya bisa mehela nafas lalu kembali ke kamarnya.
Dikamar Shin Ji.
Shin Ji merasakan kesakitan yang luar biasa, tetapi ia berusaha menahannya. Tak beberapa lama kesakitannya itu berubah menjadi kenikmatan.
“Oppaa… Ahhhh…”
“Chagiiii… Bagaimana rasanya?”
“Nik… mat… Oppa…” Shin Ji ikut menggenjot seirama dengan Hyuk.
Kenikmatan dirasakan mereka berdua, sampai mereka mencapai klimaks bersama. Tapi hal itu tak lantas membuat mereka puas. Mereka melakukannya lagi, kali ini Shin Ji berada menindih Hyuk.
“Oppa… Aku tidak bisa melakukannya…”
“Kau pasti bisa…”
Diraihnya junior Hyuk lalu ia posisi kan vagina nya tepat diatasnya. Hyuk membantu menopang tubuhnya.
“Oppaaa…. Ahhhh… Ssssshhhh~” terasa gesekan divagina Shin Ji tetapi ia tak bisa membuat junior Hyuk masuk.
“Chagi, hentakkan lebih cepat…” perintah Hyuk sambil membantu menggerakkan juniornya yang gagah itu.
“Ahhhhh~ Hyukjaeeeee…..!!!” Shin Ji menhentakkan vaginanya kearah junior Hyuk dan akhirnya berhasil masuk. Terasa vagina Shin Ji memijat junior Hyuk dengan kedutan2nya… Hyuk merasakan juniornya semakin terhisap oleh vagina yeojachingu-nya tersebut.
Mereka merasakan tubuhnya tak memiliki tenaga lagi. Maka direbahkannya tubuh mereka tanpa melepas posisi junior dan vagina yang masih bersatu.
Shin Ji’s POV~
Kurasakan cahaya menerobos masuk melewati gorden kamar ini. Kurasakan sesuatu yang menancap diliang bawahku dan terasa sangat ngilu. Kulihat junior Hyuk masih tertanam disana, Shin Ji meraih junior Hyuk untuk berusaha mengeluarkannya dari vagina. Ia merasa kaget ketika tangannya yang sedang menggengam junior Hyuk ada yang menyentuh. Ternyata Hyuk sudah bangun.
“Chagiiii… Apa yang kau lakukan? Jangan dilepas” Hyuk memanja padahal matanya masih terpejam
“Oppaa… Milikku terasa ngilu.”
“Ah~mian chagi…” segera ia melepaskan juniornya dari sana.
Shin Ji meraih satu persatu pakaiannya, begitu pula Hyuk yang meraih celananya tapi tak segera memakai baju. Dengan pakaian lengkap dan rambut berantakkan Shin ji keluar kamar. Alangkah kagetnya ketika ia melihat Se Ra sudah bangun dan sedang meminum secangkir teh.
“Eon…nieee… Selamat pagi” langkah Shin Ji tertahan diambang pintu, padahal Hyukjae berada tepat dibelakangnya,
Dengan kondisi yang masih setengah sadar Hyukjae terheran mengapa langkah Shin Ji tertahan.
“Chagi… mengapa berhenti? Kau menungguku yaaa? Hmmmm~” Hyuk memeluk Shin Ji dari belakang seraya mengecup lehernya mesra. Hyuk tak sadar bahwa noona-nya sudah berada didepannya.
Sontak Shin Ji langsung melepaskannya.
“Hmmm~ bagaimana semalam? Menyenangkan? Hahaha…” Ledek Se Ra, membuat Hyuk tersadar sepenuhnya.
Mereka berdua teramat malu apalagi Shin Ji. Ia langsung pamit menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan menyikat gigi. Disusul oleh Hyuk. Se Ra hanya terkekeh geli melihat tingkah mereka. Terlebih mereka masuk kamar mandi bersama pula.
“Oppaaaaa…. Aku maluuuuuu…!!!!”
“Ah~ sudahlah chagi. Noona ku orangnya pengertian. Tenang saja yaa..” Hyuk kembali memeluk Shin Ji dari belakang. Shin Ji merasakan Hyuk kembali mengecup punduknya. Ia memejamkan mata menikmati ciuman pagi yang begitu hangat. Hyuk menatap cermin yang berada dihadapan Shin Ji, dilihanya yeojachingu-nya teramat menikmati kecupannya. Hyuk meraih pipi Shin Ji yang sedang memunggungi nya, diarahkan nya pipi Shin Ji menoleh ke kanan sehingga Hyuk bisa meraih bibir Shin Ji. Mereka berpagutan dengan posisi yang masih sama. Hyuk meraba dada Shin Ji. Lagi-lagi ia merangsang yeojachingu-nya itu.
Hyuk tak tahan. Segera dibopong tubuh Shin Ji kea rah kamar mandi dalam. Didudukannya Shin Ji di atas kloset. Mereka berpandangan. Mereka berciuman kembali. Tangan Hyuk beraba jeans Shin Ji lalu membukanya. Tak lupa ia membuka jeans nya. Juniornya mencuat keluar. Shin Ji hanya tercengang ketika namjachingu-nya itu mengarahkan juniornya yang menegak.
“Mianhae, baby… Kurasa aku ingin bermain lagi…” Ujarnya dengan wajah yang kembali ‘tersiksa’
“Aigoooo, oppaa… Bahkanmilikku masih perih bekas semalam.” Jawab Shin Ji dengan tatapan sedih. Hyuk memandang vagina yeojachingu-nya itu yang telah terlanjur
terpisah dari jeans yang tadi melekat
“Jinjja? Mianhae chagiii… Apakah aku begitu menyakitimu semalam? Aku tak akan melakukannya lagi.” Dengan perasaan menyesal Hyuk mengurungkan niatnya. Lalu menaikkan resleting jeansnya tetapi ditahan oleh Shin Ji.
“Oppa… Milikku memang terasa perih tetapi bukan berarti aku melarangmu.”
“Aniyooo… Chagi, aku tak mau menyakitimu…”
“Oppaaa… Kumohon lakukankah, aku tak apa-apa…”
“Chagi apa kau serius?” Shin Ji mengangguk, lalu ia melepaskan jeans yang sejak tadi hanya melorot hingga paha bawah. Kemudian ia melebarkan pahanya seperti memberi izin penuh.
Hyuk berlutut menghadap selangkangan Shin Ji. Ia mengecup vagina Shin Ji dengan lembut.
“Baby, oppa berjanji akan melakukannya dengan lembut dan tak akan menyakitimu.” Ia berbicara menghadap vagina Shin Ji kemudian mengusap nya lembut. Shin Ji hanya tersenyum melihat ulah namjachingunya itu. Hyuk kembali mengecup vagina Shin Ji.
Shin Ji segera menutupnya dengan telapak tangan .
“Chagi, singkirkan tanganmu. Aku harus meminta maaf pada ‘baby-ku’ karena aku telah menyakitinya semalam. Aku akan terus mengecupinya, sampai rasa perih itu hilang.” Hyuk menyingkirkan tangan Shin Ji dan kembali mengecup vagina Shin Ji.
“Sudah hentikan. Kau tidak salah. Ayo aku sudah tak tahan.”
“Chagi mengapa kau rela melakukan ini walau kau merasakan sakit dan perih…?”
“Oppa, dengan senang hati aku melakukan semua ini, because I’m yours and you’re mine.”
—END—

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: