Over Her Dead Body

0
Over Her Dead Body yuri
OVER HER DEAD BODY
 (TwoShoot) 
By_Author : Artemisgoddess 
Main cast:
Kwon Yuri
Choi Minho
Seo JooHyun
Other cast:
Sulli
Leeteuk
Genre: Horor Romance, NC-21
WARNING!
Harap bagi readers yang sekiranya belum pantas umurnya, tolong sadar diri dan tidak membaca atau membaca dgn men-skip adegan2 yang sekiranya belum layak di baca. Dan, ini ff Minseo, kalau yang gak suka pair ini ya sebaiknya jangan di baca, ff ini gak ada maksud anti Minyul! Karena author sendiripun menyukai Minyul couple ^^ have a nice read!

DON’T BASH!
SHOOT 1
 ‘Absence makes the heart grow fonder…’ 
Sebulan sebelum hari pernikahan…
Hari ini Minho dan Yuri sedang melangsungkan photo prawedding di sebuah pantai. Cuaca yang cerah sepertinya mendukung proses pemotretan dua sejoli yang sebentar lagi akan menautkan janji sehidup semati tersebut.
Minho sangat tampan mengenakan kemeja berwarna putih transparan yang dua kancing teratasnya sengaja di lepas untuk memperlihatkan dadanya yang bidang, serta celana panjang yang berwarna senada. Yuri terlihat polos namun tetap cantik dengan dibalut gaun putih panjang yang sangat tipis berbahan satin, tubuh indahnya jelas terlihat karena gaunnya sangat tipis, untung masih ada two piece yang menutup daerah-daerah danger-nya.
“Ya, sekarang pose Minho menggendong Yuri. Gendong depan saja.” Ucap sang fotografer mengarahkan gaya.
Minho mengangkat Yuri tanpa malu-malu, kedua tangan kekarnya menahan kedua paha Yuri sehingga kaki Yuri melingkar nyaman di pinggang Minho. Tangan Yuri merangkul mesra leher Minho sehingga otomatis leher Yuri terekspos untuk bibir Minho.
“Ya bagus! Lebih sensual sedikit bisa? Dan gaunnya tolong disibakkan sedikit.” Fotografer tetap mengatur gaya sambil terus fokus ke lensa kameranya.
Yuri yang memang seorang model merasa mudah saja bergaya sensual, dengan tanggannya ia mendekatkan wajah Minho ke leher jenjang miliknya. Minho pun menyambut seolah ingin mencium leher tersebut. Tangan Minho menyibakkan gaun panjang Yuri, sehingga pahanya kini setengah terlihat nyaris sampai selangkangan.
“Ahh mengapa harus foto dengan konsep seperti ini? Aku tidak tahan berdekatan denganmu jika seperti ini, Yuri-ah…” Ucap Minho agak sedikit mendesah, mungkin terangsang dengan tubuh indah Yuri dan wajah seksinya.
“Itu yang aku suka. Menggodamu hihi…” Balas Yuri sembari mengedipkan sebelah matanya.
Minho hanya mendengus sebal. Memang ada kalanya sulit memiliki yeoja super seksi seperti ini.
Berlatarbelakang pasir putih dan laut biru, Minho dan Yuri terus berpose dengan berbagai gaya. Fotografer nampaknya tidak terlalu sulit mengarahkan gaya kepada mereka berdua, itu terlihat dari senyum puas wajah fotografer sehabis blitz terakhir.
“Gamsahamida…” seru Yuri dan Minho berbarengan kepada crew pemotretan photo prawedding mereka. Pemotretran pun berakhir.
“Aku tidak sabar menanti bulan depan…” bisik Yuri ketika mereka di perjalanan pulang kembali ke Seoul.
“Aku juga…pada akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya.” Balas Minho yang serius menyetir. Keseriusannya lenyap seketika saat Yuri men-sun pipi kirinya lembut. Tiga detik kemudian Minho makin tidak konsentrasi karena Yuri menjilat telinganya, menggoda dengan desahan tertahan.
“Chagi, kau apa-apaan sih? Aku sedang menyetir nih, kau jangan macam2 ya. Sejak tadi di pantai kau terus-terusan menggodaku. Kau kira aku malaikat yang bisa tahan iman dibeginikan seperti ini?” ucap Minho kesal kepada yeojachingunya yang telah merayu-rayu imannya dengan bahasa tubuh.
“Hehe, mianhe…aku iseng ya?” Jawab Yuri enteng.
“SANGAT!” ketus Minho yang mencoba kembali serius menyetir. Meskipun jalanan malam itu nampak lengang dan sepi sekali, tetap saja ini jalan raya yang bisa berbahaya jika sang pengemudi tidak konsentrasi.
Namun, tak berselang lama. Yuri kembali iseng pada namjachingunya. Dengan tangannya ia mengelus perlahan kejantanan milik Minho dari balik celana jinsnya.
Deg! Minho tersontak kaget. Kejantanannya seketika menegang karena dibangunkan oleh tangan jahil Yuri.
Minho menghela nafas lalu menoleh ke Yuri yang tengah membuka kancing bajunya dengan mimik menggoda.
“Yuri-ah! Kau ini kerasukan apa sih? Kenapa binal seperti ini? Aisshhhh!” ucap Minho meminggirkan mobilnya dari jalanan utama.
“Hehe…kau tidak tahan kan pada akhirnya?” goda Yuri semangat.
Tanpa aba-aba, Minho meraba paha Yuri yang memakai rok dan mencubitnya gemas.
“Auhh…sakit Minhooo!” rengek Yuri. Namun, rengekkannya lebih menyerupai signal untuk Minho berbuat lebih.
Mata Minho terbelalak melihat kancing baju Yuri sudah terlepas dari pengaitnya. Belahan dadanya kini terlihat jelas, payudaranya yang sintal seperti tersesak dalam bra brenda berwarna hitam itu. Minho mencium tepat di tengah-tengah belahan dada Yuri. Melihat namjachingunya akhirnya takluk, Yuri pun berinisiatif membuka bajunya sempurna. Ia tidak takut karena malam memang sudah benar-benar gelap dan lagipula mobil sport milik Minho memiliki kaca hitam yang tidak bisa dilihat tembus pandang dari luar. Alhasil kini Yuri setengah telanjang dengan masih memakai bra dan miniskirt-nya.
Minho masih menciumi payudara Yuri dengan rakus,kedua tangan sibuk melepaskan pengait bra di punggung Yuri. Setelah berhasil melepaskan pengait itu, Minho diam sesaat melihat tubuh atas yeojanya sudah benar-benar polos. Birahinya makin naik melihat itu, celananya tiba-tiba terasa lebih sempit karena kejantanannya membesar karena ereksi. Yuri menarik bibir Minho ke bibirnya, dan dibimbingnya tangan Minho untuk memainkan punting susunya.
“ough…ngghh…ah ah ah…” suara desahan lebih didominasi olehYuri, karena memang Yuri yang lebih merasakan kenikmatan saat Minho memelintir-lintir punting sebelah kiri dan mengemut nafsu punting sebelah kanan payudaranya.
“Kau nakal chagi, menggodaku seperti ini…nghh…ngghh…” seru Minho disela-sela emutannya pada punting yang mengeras itu.
Merasa ingin lebih, Yuri pun melepaskan wajah Minho dari dadanya.
Yuri dengan susah melepas underwear-nya dan langsung menarik tangan Minho ke arah bawah di antara selangkangannya. Minho paham maksud yeojanya dan langsung menyibak miniskirt Yuri dan menemukan vagina Yuri sudah polos. Telunjuk dan jari tengah Minho meraba sekeliling vagina Yuri, bisa dirasakan sudah ada cairan lembab di sana.
“Masukkan telunjukknya, jebaaaaalll…ough ngghh…” ceracau Yuri tidak sabaran.
Slepp. Jari Minho masuk ke dalam vagina Yuri.
Cess. Cairan Yuri keluar lagi karena hentakkan jari Minho. Wajah Yuri benar-benar terlena karena kenikmatan itu. Sementara jari Minho mengobok-obok dengan irama kontinu, Yuri pun mengikuti dengan gerakan pinggulnya.
“aghh…ngghhh…OUGH OUGH ya disitu baby terus…lebih cepat nghh nghhh…” Yuri benar-benar merasakan sensasi luar biasa dari servis Minho.
Minho juga senang bisa membuat yeojanya bergairah seperti itu, obokkan jarinya makin dalam dan cepat.
“yaahh Minho-ah, akuuu…mau keluar. ARGHHHH…” Yuri mengerang setengah berteriak saat puncak orgasme menjemputnya.
Yuri tengah bersiap melancarkan aksi keduanya, namun dengan cepat Minho sadar jika ini bukan saat yang tepat untuk berbuat lebih jauh.
“Pakai bajumu, Yuri!” suruh Minho yang mendelik tajam ke Yuri yang sudah acak-acakan dari segi tatanan rambut, pakaian, dan make up.
“waeyo? Kenapa kita tidak meneruskan?” sela Yuri tidak senang atas sikap Minho.
“Kau tahu, sebulan lagi kita menikah, dan mengapa kita tidak bisa bersabar untuk waktu yang lebih indah itu?” Minho kembali men-starter mobilnya. Sementara dengan cemberut, Yuri mulai memakai kembali pakaiannya.
“ne, arasho. Malaikatkuuuu…chu* ” Yuri mencium pipi Minho dengan gemas. Minho membalasnya dengan tersenyum. Lalu merekapun melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda karena hal-hal kebutuhan biologis tersebut.
1 hari sebelum hari pernikahan…
Selama sebulan pasangan Yuri dan Minho sibuk mempersiapkan segala tetek bengek urusan pernikahan. Mulai dari catering, setting tempat, fitting gaun pengantin, sebar undangan, dll. Sampai pada akhirnya tiba hari minus satu acara.
Yuri pov
Hari ini adalah hari gladi resik sebelum akhirnya besok aku akan benar-benar menikah dan menjadi nyonya Cho selamanya…
Kami berdua memutuskan akan menikah di arena terbuka, dan berkonsep wedding garden. Setelah sebelumnya melakukan photo prewedding di area perpantaian, kini melaksanankan wedding day di kebun. Kedua konsep alam ini adalah perwujudan kecintaan aku dan Minho kepada alam, kepada simbol hijau dan biru.
Suasana di kebun sudah ramai, para pekerja mulai mendekorasi kebun ini agar besok terlihat cantik dan elegant. Aku harus memantau para pekerja dari mulai menghias lampu, pohon, tatanan kursi dan meja. Sungguh repot jika harus mengurus ini seorang diri, aku juga tidak bisa mengeluh karena Minho ada kerjaan yang harus diselesaikan.
“Yuri, patung es yang kau pesan sudah tiba, orangnya bertanya akan ditaruh dimana?” tanya eomma menghampiriku yang sedang asik merangkai mawar putih.
“Iya, tolong gantikan aku merangkai mawar ini, eomma ya.” Aku pun menyerahkan sebuket mawar putih yang sedang kurangkai untuk besok. Lalu aku mendatangi mobil pick up yang terpakir di depan rumah. Kurir itu menyerahkan bon kuitansi atas pembayaran patung es berukuran besar yang berbentuk sepasang malaikat, mengandaikan aku dengan Minho. Aku tercengang ketika mobil pick up khusus itu terbuka dan patung es itu di dalamnya. Patung es-nya benar-benar besar dan sangat sangat cantik. Aku membimbing 4 orang kurir yang mengangkut patung es itu ke dalam kebun. Di salah satu sudut kebun memang sudah dipersiapkan arena untuk patung es tersebut, tempat yang tersedia alat anti cair, sehingga patung es itu tidak dikhawatirkan mencari sampai besok bahkan bisa 4 hari ke depan pun.
Setelah aku dan para pekerja selesai mengerjakan segala persiapan untuk besok, aku merasakan sedikit lelah dan ingin segera berangkat ke ruang tidur. Aku memang seharusnya beristirahat agar besok di hari pernikahan wajahku fresh dan tidak terlihat lelah. Saat ingin masuk, aku memandangi sekali lagi patung es citraan aku dan Minho.
“Benar-benar indah…” takjubku dalam hati.
‘Oh oh ohoppareul saranghae…ah ah ah manhi manihe…’ Tiba-tiba handphone di sakuku berdering. Dilayar handphone tertera nama My Angel Minho. Aku mengangkatnya dengan girang.
“Minhooo…patung es kita telah sampai daritadi. Aku sangat sangat menyukainya ^^” kataku sambil terus memandangi patung es tersebut dan sesekali memutarinya, menyentuhnya.
“Wah, baguslah kalau begitu. Kau sedari tadi sudah bekerja keras chagi. Mian tidak bisa menemanimu.” Ucap Minho dengan nada menyesal.
“Gwenchana…ADUH!” ups, aku menyelekat kabel penghubung patung es dengan alat pendingin.
“Ada apa chagi?” tanya Minho diseberang telepon.
“Gwenchana, tadi aku kesandung kabel. Bagaimana kerjaanmu hari ini sudah selesai kan? Berarti sehabis menikah kita bisa langsunghoneymoon ^^” lonjakku kegirangan. Dan seketika itu juga patung es di depanku tergoncang.
“AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH”
Yuri pov end.
Tidak ada waktu sedetik pun untuk Yuri menghindari patung es yang tergoncang dan ambruk ke arahnya. Patung es berukuran jumbo itu pun jatuh tepat menimpa Yuri, bagian kepala Yuri mengeluarkan darah merah segar. Diseberang telepon Minho berteriak-teriak memanggilnya.
“Yuri? Yuri? Kamu kenapa?” Minho terus memanggilnya, namun Yuri tak menyahutinya.
Seseorang saudara sepupu Yuri mendengar dan melihat kejadian Yuri tertimpa patung es dan langsung berteriak memanggil yang lain. Dengan susah payah tubuh Yuri diangkat dari timbunan patung es yang telah hancur lebur. Yuri tidak bereaksi apa-apa, entah pingsan atau telah tiada.
“KWON YURIIIII!!!” Teriak seorang wanita paruh baya yang merupakan eomma Yuri. Wajahnya pias melihat tubuh dan kepala Yuri yang terus menguncurkan darah merah kental. Wanita itu menangis sejadi-jadinya.
“Pangilkan ambulans cepat!” teriak seseorang dengan panik.
Di rumah sakit.
Dokter mengatakan Yuri telah meninggal sejak masih di ambulans saat perjalanan ke rumah sakit. Luka di kepala bagian dalam maupun luarnya sangat teramat parah dan itu yang mengakibatkan shock berat hingga kematian. Di lorong rumah sakit Eomma Yuri terus-terusan menangis, sepupu-sepupunya pun begitu, Minho terlebih lagi, ia sudah seperti orang gila yang menangis meraung, dan tertawa melihat tubuh Yuri yang kaku. Hanya ada satu orang di lorong situ yang tidak menangis, wajahnya nampak pucat kebingungan melihat orang-orang disekelilingnya menangis tersedu-sedu.
Yuri pov
Kenapa semua pada menangis? Memang apa yang terjadi? Dan kenapa juga pikiranku sangat kacau. Bukankah aku tadi sedang menerima telepon dari Minho? Kok sekarang ada di rumah sakit? Minho? Apakah sesuatu telah terjadi kepada tunanganku?
Aku bergegas masuk ke sebuah ruangan yang dikerumuni oleh saudara-saudara sepupuku. Firasatku mengatakan Minho ada di dalam sana. Dan ternyata dugaanku benar, Minho ada di dalam ruangan itu. Ia nampak sedang menelungkup memeluki tubuh seseorang yang sedang tertidur di tempat tidur bersprei putih. Lalu aku mendekatinya. Walau ruangan itu disesaki oleh orang-orang, aku merasa mudah saja melewatinya, bahkan tak satupun orang disini yang menyadari kehadiranku. ‘Aneh’ pikirku dalam hati.
“Minho? Ada apa?” tanyaku yang telah tiba disisinya. Ia tetap tak bergeming. Aku mencoba menepuk pundaknya, namun tanganku terasa menembus kulitnya. Aku merasakan keganjilan. “Minho? Minho?” panggilku lagi, namun Minho tetap tak menjawab.
“huhuhu…” Minho menangis?
Dan kualihkan wajahku dari wajah Minho ke tubuh yang tengah dipelukinya. Dan, betapa kagetnya diriku melihat siapa yang tengah berbaring kaku disitu. Itu diriku? Kenapa aku disana? Sedangkan aku merasa disini?
“Huhuhu, mengapa kau meninggalkanku, Yuri-ah?” Ucap Minho dengan masih menangis.
“Aku tidak meninggalkanmu, Minho. Aku disini kok!” jawabku sambil menyentuh kepalanya. Dan lagi-lagi tanganku menembus tak bisa menyentuhnya.
Aku mulai panik dan merasakan ada yang tidak beres disini. Aku mencoba memukul-mukuli tembok, dan sama halnya dengan tubuh Minho, tanganku pun menembus tembok tersebut. Aku mulai cemas, apakah aku mati? Dan seketika itu saja aku teringat patung es yang ambruk menimpaku.
“Tidak! Tidak! Aku masih hidup! ANDWEEEE!!!!” Jeritku dengan histeris yang luar biasa, namun tak seorang pun mendengarnya.
“Aku tidak mati…aku masih hidup, dan aku akan menikah dengan Minho besok…huhu.” Isakku dan terjatuh di lantai. Ku rasakan ada yang menepuk pundakku cukup kencang.
“Bangkitlah, kita perlu bicara!” ucap seseorang namja berpakaian serba putih. Seketika aku senang, ada seseorang yang bisa melihatku.
“Kau siapa? Kau benar-benar bisa melihatku?” tanyaku.
“Aku malaikat yang seharusnya menjemputmu dan membawamu ke akhirat. Tentu saja aku bisa melihatmu, pabo.” Jawab namja di depanku ini dengan angkuh.
“Malaikat?” rasa semangatku luruh mendengar jawaban namja itu.
“Berarti aku sudah mati sungguh?”
“Dipastikan begitu.”
“Tidaaaaak!!!! Tidak mungkin aku mati hanya karena tertiban patung es pernikahanku sendiri. Itu hal yang konyol” Jeritku.
“Memang jalan kematianmu sekonyol itu, mau diapakan. Sudahlah terima saja nasibmu.” Malaikat di depanku ini sungguh angkuh. Gambaran malaikat itu tampan dan baik hati selama ini ternyata salah besar!
“Aku besok akan menikah, tolonglah ahjussi, katakan padaku ini mimpi!”
“Aissh, seenaknya kau memanggilku ahjussi! Namaku Angel Leeteuk. Aku adalah malaikat tampan yang bertugas membawamu ke akhirat karena masa kontrak hidupmu sudah TAMAT!” Ucapnya dengan nada meninggi.
“Aku tidak mau mati, hikss hikss…”
“Sudahlah, sekarang aku akan memberitahumu bahwa kau dinyatakan belum bisa berangkat ke akhirat karena kau masih memiliki 1 misi lagi yang harus dituntaskan di dunia.”
“Cih! Mana ada orang mati masih memiliki misi!” balasku dengan antipati.
“Hei arwah pabo, kalkulasi amal kehidupanmu menunjukkan kau bukanlah manusia yang tergolong baik. Kau terlalu ehm, sedikit binal. Jadi, kau harus menjalankan satu misi sebelum layak masuk akhirat.”
“Binal? Malaikat kurang ajar!” geramku dalam hati.
Seketika itu ia mengamit lenganku dan berputar. Dan kini suasana berganti, bukan lagi di ruangan yang ada Minho dan…jasadku…T_T
Taman rumah sakit…
“Baiklah sekarang dengarkan baik-baik…”
Bla bla bla bla…Malaikat itu terus saja membaca semacam kertas perkamen yang berisikan misiku. Namun, tak satu kalimatpun yang aku dengarkan. Aku sedang terperangah dengan manusia-manusia pucat di sekelilingku yang sama sepertiku, sedang berbicara dengan malaikatnya. Beberapa ada yang langsung  naik tangga berkilauan, beberapa ada yang kudengar masih harus menjalankan misi-misinya. Ternyata mereka adalah para arwah yang sedang menjemput kematiannya.
“Oke kurasa sudah jelas, kita akan bertemu lagi jika kau sudah tuntas menjalankan misimu.” Ucapnya sambil berputar dan menghilang.
Whusss!
“Aisssh, dia sudah menghilang saja, padahal aku sama sekali tidak tahu misiku. Huhu.” Gerutuku.
Sekarang aku tidak tahu musti apa…
Yuri Pov end.
(Note: Mulai sekarang, tulisan bercetak  merah menandakan ucapan Yuri).
Beberapa hari kemudian…
Pasca kematian Yuri, Minho jatuh sakit, semangat hidupnya lenyap, ia tidak makan-makan dan seharian terus menangis. Kerjaan di kantornya pun terbengkalai. Yuri yang melihatnya merasa bersalah dan sedih. Ya, Yuri beberapa hari ini pun terus menjadi arwah gentayangan dan mengikuti kemana pun Minho berada, namun Minho sama sekali tidak merasakannya.
“Oppa, kau tidak bisa terus-terusan begini! Urusan di kantor tidak bisa kuatasi seorang diri. Jebal, kembalilah hidup normal. Aku tahu kau sangat sedih atas kepergian Yuri eonni, aku juga sedih oppa, aku juga sama denganmu, menyanyanginya.” Ucap Sulli yang merupakan adik satu-satunya sekaligus keluarga yang masih dimiliki Minho. Orangtua mereka sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat. Keduanya sama-sama meneruskan perusahaan bisnis appa mereka. Namun, pasca kematian Yuri, Minho tidak masuk-masuk kantor sehingga Sulli protes kepadanya karena kewalahan mengurusi persoalan kantor seorang diri.
Meskipun berkali-kali Sulli berbicara pada oppa-nya, tetap saja Minho tidak pernah menggubrisnya. Minho hanya melamun, melamun, dan terus melamun, kadang ia memutar-mutar cincin pertunangannya di meja, lalu kembali menangis lagi.
“Oppa, kumohon…” ucap Sulli putus asa.
“Apa yang Sulli ucapkan itu benar, my angel Minho…kembalilah hidup normal, lihat dirimu sudah sangat kuyu sekali. ” Ucap Yuri yang ada juga di antara Sulli dan Minho.
Minho berjalan masuk kamarnya tanpa sama sekali mengacuhkan Sulli. Yuri dengan cepat mengikutinya.
“Oppa…aku putus asa jika terus-terusan begini.” Sulli mengatakannya dengan lirih dan airmata mengembang di pelupuk mata kecilnya.
Di perusahaan Choi, milik Minho dan Sulli…
Sulli pov
“Kau yakin cara ini ampuh?” tanyaku pada Luna.
“Dicoba saja Sulli-ah. Kau mau aku temani ke rumahnya? Balas Luna.
“Oke, nanti sore kau antarkan aku ke rumah cenayang itu ya.”
Tadi pagi aku mencurahkan permasalahanku dengan sahabat baikku di kantor, Luna. Menurut pendapatnya, Minho oppa mengapa terus-terusan murung dan tidak menerima kepergian Yuri eonnie dikarenakan arwah Yuri eonni masih berkeliaran di sekitarnya. Ketika aku mendengar pendapat Luna, aku sempat merinding dan bergedik ngeri. Masa sih Yuri eonnie masih ada di sekitar Minho oppa? Tetapi, Luna dengan yakin berpendapat seperti itu karena ada saudaranya yang juga mengalami hal seperti Minho oppa. Lalu, Luna pun menyarankan aku pergi ke seorang cenayang kenalannya. Dan sore ini pun aku ke rumah cenayang itu bersama Luna.
Awalnya aku takut, karena belum pernah berurusan dengan dunia mistis seperti ini. Tetapi, ini semua demi Minho oppa agar sembuh.
Setibanya di rumah cenayang…
“Annyeong, saya Luna yang waktu itu pernah mengantarkan saudara saya kesini. Kali ini saya membawa teman saya yang abangnya mengalami hal yang serupa. Ditinggal mati kekasih. Ini, Sulli adiknya.” Luna mengenalkanku pada cenayang yang berpenampilan biasa di hadapanku ini.
“Sulli…”
“Seohyun imnida.” Cenayang itu memberikan jabatan tangan.
Lalu, setelah berkenalan aku mulai menceritakan sedetail-detailnya pada cenayang yang enggan dipanggil madam itu karena ternyata umurnya sama dengan Minho oppa.
“Besok kau kesini lagi membawa oppamu ya.” Ucap Seohyun eonnie.
“Aku usahakan, gamsahamnida…” jawabku.
Aku dan Luna pun mohon pamit. Diperjalanan pulang aku menginterogasi Luna karena cenayang yang ia maksud lebih bisa disebut seoraang psikiater. Karena di rumahnya tadi aku tidak melihat peralatan gaib seperti bola kristal, kartu tarrot atau hal semacamnya.
“Dia memang cenayang yang berkamuflase psikiater. Karena di zaman sekarang, orang-orang pasti sulit menerima hal gaib itu masih ada. Makanya dia mengatasnamakan profesinya sebagai psikiater. Sudahlah, yang penting Minho oppamu bisa segera pulih.” Ucap Luna menenangkanku.
Sebelum pulang, aku mampir ke rumah Yuri eonnie terlebih dahulu. Aku memiliki rencana lain dalam memulihkan oppa. Aku mengambil diary miliki Yuri eonnie. Aku tahu sekali Yuri eonnie memang suka sekali menulis curahan hatinya di dalam diary. Rencanaku adalah memberikan diary ini pada Seohyun eonnie. Aku pkir ini akan bisa membantunya untuk lebih memulihkan Minho oppa.
Sulli pov end.
Keesokkannya…
Dengan susah payah Sulli membujuk Minho untuk ikut dengannya ke rumah psikiater sekaligus cenayang itu. Yuri yang ada disana juga penasaran akan dibawa kemana Minho pergi oleh adiknya itu.
“Kenalkan Seohyun eonnie itu seorang psikiater hebat. Seohyun eonnie, ini oppaku Choi Minho.” Ucap Sulli memperkenalkan Minho dan Seohyun.
Di sisi Yuri, ia terlihat sedikit cemburu bahwa Sulli mengajak kekasihnya itu ke tempat wanita cantik.
“Kau pikir aku sudah tidak waras sehingga harus konsul ke Psikiater, heh?” protes Minho tidak senang dengan tindakan Sulli.
“Bukan begitu oppa…aku hanya…”
“Maaf sebelumnya. Psikiater bukanlah tempat yang harus didatangi orang tidak waras, Minho-ssi. Karena orang tidak waras seharusnya mendatangi rumah sakit jiwa bukan psikiater. Psikiater hanya membantu seseorang terhindari dari ketidakwarasan.” Sela Seohyun sebelum Sulli selesai berbicara.
Seketika Minho tertegun mendengar perkataan tegas dan tajam Seohyun.
“Iya oppa, benar yang dibilang Seohyun eonnie, oppa coba sajalah dulu bercerita dengannya. Mungkin saja hati oppa lega dan bisa segera pulih. Aku sedih bila melihat oppa terus-terusan begini.”
Minho hanya diam memandang adikknya. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ia ingin lepas dari kesedihan tidak berujung ini, namun ia tidak cukup kuasa melawannya. Ia teramat masih belum bisa menerima kehilangan tunangannya sehari sebelum hari pernikahannya.
“Baiklah bisa kita masuk ke ruangan mediasi?” tanya Seohyun sopan.
“Ayo Oppa masuk sana, aku akan menunggunya disini.” Ucap Sulli.
Tanpa menjawab, Minho beranjak melangkah mengikuti Seohyun ke ruangan mediasi. Begitu pun dengan arwah Yuri yang mengikuti mereka berdua. Sebenarnya Seohyun yang memang memiliki bakat supranatural sudah merasakan ada aura arwah di rumahnya sejak kehadiran Sulli dan Minho.
Seohyun pov
‘Benar nyatanya, kau masih diikuti arwah tunanganmu. Kasihan sekali namja setampanmu mengalami hal buruk seperti ini.’ Ah, kenapa aku merasa kasihan sekali padanya? Aura arwah itu terasa sekali disini, apakah ia juga masuk ke ruang mediasi ini? Nampaknya, ikatan hati kalian kuat sekali. Tetapi aku akan mencoba menolongmu, Minho-ssi.
Seohyun pov end.
“Baiklah, Minho-ssi kita mulai. Alangkah baiknya jika kau menceritakan terlebih dahulu awal perkenalanmu dulu dengan Yuri-ssi.” Seohyun membuka perbincangan.
“Eh?” tanya Minho heran. Mengapa juga dirinya harus menceritakan itu kepada yeoja yang baru dikenalnya. Terlebih lagi yeoja itu seorang psikiater.
Meski ragu, Minho akhirnya menceritakan sedikit demi sedikit kisah awal perjumpaannya dengan Yuri. Entah karena Seohyun adalah sosok yang berbeda, Minho bisa berbicara lepas dengannya.
“Oh, jadi kalian teman sepermainan? Dan setelah dewasa saling menyadari ada rasa lebih di hati kalian masing-masing lalu kalian memutuskan berpacaran. Setelah berpacaran selama 3 tahun, lalu kalian menikah?” Tanya seohyun sambil mencatat di sebuat note kecil.
“Iya begitulah…” jawab Minho. Yuri yang ada disamping Minho, meneteskan airmatanya, ia merasa bahagia luar biasa mendengar Minho masih sepenuhnya mengingat kisah cinta mereka.
“Baiklah, sekarang ceritakan apa yang membuatmu sayang pada Yuri-ssi dan sulit melupakannya?”
Lagi-lagi dengan leluasa, Minho menceritakan semuanya dengan Seohyun. Minho pun merasakan ada kelegaan dalam hatinya sesaat setelah bercerita panjang lebar dengan Seohyun.
“Saya sudah mendengar semuanya tentang perasaanmu pada mantan kekasihmu itu.”
Yuri membelalakkan matanya mendengar ucapan Seohyun.
‘ Apa yang wanita ini katakan? Mantan kekasih? Seenaknya saja ia bilang aku mantannya Minho. Huhu! ’ batin Yuri dalam hati.
“Boleh aku lihat foto Yuri-ssi yang ada dalam dompetmu?” tanya Seohyun. Minho terkejut mengapa psikiater ini bisa tahu jika dirinya memang menyimpan foto Yuri dalam dompetnya. Minho pun mengeluarkan selembar foto dari dompet kulitnya.
“Lumayan manis, ia memiliki kekuatan dicintai dari bibirnya.” Ucap Seohyun pelan sesaat setelah ia mengamati gambar Yuri.
‘ Aish, lumayan manis? Sok sekali! ’ geram Yuri tak terima hanya dibilang lumayan.
“Aku memang bukan mencintai dirinya karena fisik, tetapi aku mencintainya karena sikap manja dan ketergantungannya padaku. Itu yang membuatku merasa ingin melindunginya sampai kapanpun. Bahkan kau tahu, sampai ia telah tiada pun aku tidak pernah menyetubuhinya. Itu karena aku tidak ingin menodainya sampai secara sah kita menikah. Hubungan seks kita sebatas oral saja” Terang Minho.
‘Minho?? Mengapa kau harus menceritakan persoalan itu pada wanita ini? Aish kenapa kau semudah ini terbuka?’ Ucap Yuri kesal. Matanya memandang tak suka ke arah Seohyun.
‘Mengapa ada aura kesal disini? Apakah arwah yang ada disini sedang kesal?’ batin Seohyun sambil melirik ke kiri-kanan-atas-samping.
“Heh..mianhe jika aku jadi menceritakan hal yang seharusnya tidak kuceritakan.” Ucap Minho yang tersadar telah menceritakan hal yang terlalu privasi.
“Oh, tidak apa  Minho-ssi. Itu baik untukku agar bisa menelusuri lika-liku sarafmu.”
“Ya.” Balas Minho lembut.
“Selanjutnya saya akan menidurkanmu dan saat kau tertidur, sesungguhnya alam bawah sadarmu akan menjawab pertanyaanku. Kau bisa bekerja sama kan?”
“Baik, bu psikiater…” Jawab Minho kikuk, sepertinya ia bingung harus memanggil Seohyun dengan panggilan apa.
“Panggil namaku saja. Hyun-ah juga boleh.” Ucap Seohyun yang bisa membaca pikiran Minho.
“Eh?” Lagi-lagi Minho terkejut dengan Seohyun.
“Tidak apa, coba panggilku Hyun-ah.” Ucap Seohyun sembari mempersiapkan alat-alat hipnotisnya.
“Ne…Hyun-ah.” Ucap Minho dengan kaku. Seohyun hanya tersenyum mendengarnya.
“ Hyun-ah? Sok akrab! ” Yuri makin kesal melihat Minho yang mudah sekali merasa nyaman berbincang dengan Seohyun.
“Kamu bisa berbaring disini.” Minho nurut aja dengan perintah Seohyun.
“Rileks-kan tubuhmu ya. Lalu, lihat bandul ini bergoyang. Ikuti kemanapun arah geraknya.” Ucap Seohyun mulai menggoyang-goyangkan bandul di depan mata Minho.
Minho lama-lama terpejam.
‘Wanita ini mau apa lagi?’
“Sekarang kau sudah dikuasai alam bawah sadarmu. Pertama-tama aku ingin tahu, apakah mantan kekasihmu itu seringkali hadir dalam  mimpimu?” tanya Seohyun kepada Minho yang telah terpejam.
“Iya…” jawab Minho lirih.
“Baik. Apakah ia pernah menemuimu dalam wujud roh-nya?” tanya Seohyun kembali.
“Tidak…” Minho kembali menjawab lirih.
Tiba-tiba saja, lilin yang ada di sudut-sudut ruangan itu redup. Angin yang entah dari mana datangnya bertiup cukup kencang. Seohyun merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tahu, bahwa arwah dalam ruangaan itu merasa gelisah.
“Hah!” Seohyun terkejut karena sekilas ia melihat sosok bayangan putih di tempat Yuri berdiri. Yuri juga nampak terkejut karena tadi sepersekian detik bola matanya bertemu pandang dengan bola mata Seohyun.
‘ Dia melihatkukah? ’ bisik Yuri.
Seohyun yang tadi sempat merasakan takut mencoba bersikap tenang. Hal gaib seperti ini bukan pertamakalinya terjadi pada dirinya. Sudah banyak kejadian-kejadian aneh terjadi selama ia hidup. Mewarisi bakat supranatural dari ayahnya adalah anugerah yang terkadang menyebalkan. Sebenarnya ia ingin menutup mata batinnya itu, namun tuntutan kebutuhan hidup membuatnya bertahan.
Seohyun pun menyudahi berkomunikasi dengan alam bawah sadar Minho.
Minho pov
Aku bangun seperti terbangun dari tidur. Kenapa aku bisa tertidur hanya karena melihat bandul yang diayunkan begitu?
“Baiklah, Minho-ssi hari ini dicukupkan sampai sini. Aku harap kau akan kesini lagi besok. Atau jika tidak besok, kau bisa kesini kapan saja. Aku bersungguh-sungguh ingin membantumu…” ucap Seohyun sambil menatap lembut ke arahku.
Entah kenapa aku senang sekali dipandang seperti itu. Aku nyaman berbicara dengannya. Dia cantik dan memiliki ketertarikan tersendiri, susah sekali untuk tidak berbicara kepadanya. Pantas ia menjadi seorang psikiater, ia pastilah tahu ilmu-ilmunya.
“Minho-ssi?” sergahnya dengan mengayunkan lambaian tangan di depan wajahku.
“Oh. Aku sudah sadar kok.” Aku berkata kepadanya.
“Oh…aku kira kau masih dibawah alam sadar. Hehe..abis kau melamun begitu.” Senyumnya ke arahku.
Setelah itu aku dan Sulli pulang. Sepanjang perjalanan Sulli terus mengoceh menanyai apa saja yang sudah Seohyun lakukan padaku.
“Aish kau cerewet sekali! Dimana-mana tidak ada penyembuhan yang instan, baru sekali lansung pulih!” ketusku padanya.
“Wahh oppa. Seohyun eonni hebat…ia bisa membuatmu kembali berbicara padaku.” Ucap Sulli dengan tersenyum senang.
‘oh iya ya, setelah kejadian itu, aku memang belum bicara lagi pada adikku ini. Kasihan Sulli. Ia pasti cemas padaku.’
Sementara itu, Yuri tidak terlihat di sekitar Minho. Rupa-rupanya ia masih di rumah Seohyun.
Tbc…

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: