My Crazy Life Is END

1
1. Author : J.C.J
2. Judul : My Crazy Life Is End
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
– lee eun hyuk as hyuk jae
– kang sang jae as yo
– other cast
-author pov-
Malam mencengkram. Berisiknya angin kencang menambah suasana tegang. Deruan nafas lelah terhembus panas, tat kala keringat terus membasahi badan. Seruan semangat mencoba membantu seorang wanita mempertaruhkan 2 jiwa. Sang Jae.. Mencoba terus mendorong seorang jiwa yang telah ditanamnya lebih hampir 9 bulan. Dengan penuh semangat juga kesetiaan Hyuk Jae menggenggam erat tangan Sang Jae.

Memberinya semangat, membantunya agar tetap tersadar. Layaknya jiwa yang ingin lepas, rasa lelah dan pening membuat nya ingin segera menuntaskan kecengkraman ini. JGEERR!! *anggep aja suara petir gitu* tubuh lelahnya mulai lunglai, mengatur deru nafas agar bisa teratur lagi. Senyum, tangis, mungkin juga haru menyeliputi ruangan itu. Dengan penuh kebahagiaan juga haru Hyuk Jae mengecup erat dahi sang istri. Matanya menatap Sang Jae penuh bangga.. Bangga karena mampu menyelamatkan jiwa kecil untuknya.

~~~
Pagi berangsur tenang. Keluarga kecil nan hangat menjalani aktivitas seperti biasanya.
“Yoo Geun-ah.. kau sudah siapkan alat tulis mu bukan..?” seru Sang Jae lembut. Yoo Geun menghentikan tangannya yang hanya mengaduk-aduk semangkuk serialnya, “….” dia tak menjawab. Matanya kembali menatap isi mangkuknya. Sang Jae dan Hyuk Jae saling bertatapan.
“Lee Yoo Geun?” panggil Hyuk Jae. Yoo Geun tak bergeming, “waeyo? Apa ada yang kau sembunyikan?” serdik hyuk jae. Kedua mata dewasa itu menatap Yoo Geun dalam.
“joha..” seru Hyuk Jae, “kau tidak mau sekolah bukan..?” yakin Hyuk Jae. Yoo Geun tak lagi menatap mangkuknya. Tubuhnya mulai turun dari kursi makan.
“Yoo Geun-ah.. Lee Yoo Geun…” seru Sang Jae. Tak di gubris sedikit pun oleh Yoo Geun. Kaki kecilnya terus berjalan membawanya masuk kedalam istananya.
“waeyo?” ungkit Hyuk Jae yang dibalas gelengan oleh Sang Jae.
-yoo geun’s room-
Yoo Geun menatap lantai kamarnya. Antara sedih juga bingung. Langkahnya kembali jalan mengambil tas sekolah nya. Tak sengaja ia melirik secerik kertas dibawah ranjang. Tak ingin acuh namun juga tak ingin peduli. Walau kecil, hatinya terlalu peka menerima ejek hina dari sebayanya. Ejek? Hina?
~~~
Yoo Geun sibuk menggambari buku gambarnya. Kelasnya begitu berisik, asyik bermain disela tiada guru mengawasinya. Beberapa mata kecil mulai memperhatikannya, menatapnya rendah. kenapa? Kenapa mereka bertatap seperti itu?
“ya.. Aku masih tidak menyangka, Yoo Geun yang selama ini kita sukai ternyata…” serdik salah satu sebayanya.
“geurae… Aku pun sama. Apa yang Gi Eul-seunbae bilang tak mungkin salah..” timbal yang lain
“ya.. Jangan berpikir seperti itu. Kalian tidak punya bukti untuk mengatakan Yoo Geun seperti itu..” sela seorang anak lain. Teman-temannya pun menatap yeoja kecil itu tajam.
“kau membelanya?” serdik temannya. Mulut kecilnya terdiam, tak bisa menjawab.
“kajja.. Kita bermain disana saja. Jangan temani Seol Bi, dia membela anak haram itu..” sakit? Jelas sakit yang dirasa hati kecilnya. Hanya karena beberpa kalimat dari bibir ucapnya membuatnya dijauih teman dekatnya.kepalanya hanya menunduk sedih. Tapi… Haram?
-sang jae pov-
Selagi waktu senggang, ku sempatkan diri untuk merapikan rumah. Sebagai istri juga seorang ibu aku harus bertanggung jawab dengan isi rumah ini. Merapikan, membersihkan, itu tugas ku. Aku masuk kedalam kamar Yoo Geun, ku nyalakan vacum cleaner dan mulai membersihkannya. Setiap sudut hingga dibawah ranjang nya. Tuk! Aku terdiam sesaat, merasa ada sedikitnya yang terganjal. Ku matikanvacum cleaner lalu berjongkok meraba isi bawah ranjang. Banyak kumpulan kertas yang tergumpal, sigap aku bangun dan mengambil tempat sampah kecil disamping meja belajar Yoo Geun. Pikir ku sedikit heran melihat hampir seluruh bawah ranjang ini berserakan gumpalan kertas, yang entah apa isinya. Ku coba buka satu dari sekian banyak kertas ini. Ku urung kan sesaat, karena pikiran ku seketika beralih pada suara tangis Yoon Jae dikamar.
~~
Ku lirik kedatangan Hyuk Jae yang baru saja pulang. Sudah larut, dan sudah hampir 3 hari ia terus pulang larut. Ku tinggalkan sejenak Yoon Jae ditengah ranjang, menghampiri Hyuk Jae membantu melepas jas kerjanya. Terdengar helaan lelahnya, aku tersenyum tipis sambil memijat kedua bahunya.
“apa hari ini baik-baik saja ?” tanyanya sambil melonggarkan eratan dasinya.
“emh.. Geuraeyo..” jawabku ikut jembuka dasi yang melingkar dilehernya
“bagaimana dengan Yoo Geun? Apa dia masih bertigkah aneh?” ulas Hyuk Jae mengingat tingkah Yoo Geun yang belakangan ini berubah.
“molla-yeo. Sepulang sekolah dia langsung mengurung diri dikamar. Keluar hanya waktu makan atau ku panggil..”
“waegurae-yeo? Apa kau tidak tau sesuatu?” aku hanya menggeleng mendengar pertanyaan darinya. Jujur, melihat sikap Yoo Geun yang belakangan aneh ini membuat ku terus bertanya. Aku ingin mencari tau hanya kalau tidak mengingat ada Yoon Jae yang masih membutuhkan timangan dan ASI dari ku. Puk! Tiba-tiba aku merasakan kepala Hyuk Jae terbaring dibahuku, dia memeluk ku sedikit erat, seolah membagi sedikit kelelahan nya. Aku membalas pelukan lembutnya.
“kau tau kan aku sangat mencintai mu. Melebihi hidupku sendiri..” gumamnya tetap memeluk ku. Aku mengangguk kecil .
“arayo..”
Hyuk Jae melepas pelukannya, wajah nya menatap ku lekat penuh cinta yang tersirat. Aku mulai berdegub tak karuan. Wajah ku mungkin sedikit merona. Wajahnya mulai menyamai posisi dengan wajah ku. Aku terpejam, bibirnya yang tersirat, menyentuh bibirku lembut membuatku tak sadar membuka sedikit mulutku. Dan ku kira kalian tau apa yang dilakukan Hyuk Jae selanjutnya. Dengan piawai ia melumat dan ingin menautkan lidahnya didalam rongga mulutku. Ciumannya sedikit membasah, Hyuk Jae mulai bermain dengan sedikit nafsunya. Lingkaran tangannya di pinggangku terasa semakin erat. Aku memeluk bahunya yang tegak itu. Ciumannya yang makin memanas membuatku melupakan sesuatu, ada Yoon Jae disini. Dia baru saja jatuh terlelap setelah menangis malamnya. Aku terbuai suasananya. Hyuk Jae mulai membuka kancing baju ku. Aku sedikit membiarkannya. Hembusan nafasnya yang beradu -antara nafsu dan kehabisan nafas- setelah cukup lama kami berciuman. Tek! Kancing terakhir terlepas, kini sebagian tubuh ku terlihat dihadapannya. Hyuk Jae hendak membuka lagi bra ku. Matanya begitu jeli melihat pengait bra ku ditengah belahan dada ku.
“kau lupa..” tahan ku menggenggam tanganya. Hyuk Jae terdiam, aku tersenyum, “ada Yoon Jae disini..” lanjut ku. Hyuk Jae melirik kearah tengah kasur. Terdengar jelas helaan nafas kecewa dan malunya. Aku terkikih kecil.
“kita bisa melakukan ‘itu’ sepuasnya jika Yoon Jae sudah bisa tidur dikamar nya..” gumam ku mengecup pipi kanan nya. Hyuk Jae hanya mengangguk pasrah sambil kembali memeluk ku.
-author pov-
Pagi datang seperti sedia kala. Cerah dan tidak menandai akan turun hujan. Yoo Geun melangkah melewati lorong sekolahnya menuju kelasnya dilantai 2. Sekolah memang sudah mulai ramai, beberapa murid sebayanya sudah sibuk bermain lari-larian ditengah lorong. Yoo Geun menongak sesaat saat ia merasa ada sosok penghambat hatinya diujung tangga diatasnya. Gi Eul, dengan teman-teman nya menatap Yoo Geun rendah.
“jika aku menjadi dia, aku tidak akan sudi menginjakan kaki disekolah ini. Kkk” serunya, membuat Yoo Geun berdebar. Bukan karena takut.
“Gi Eul-ya, kenapa bisa sekolah ini menerima anak haram ? Haha..” serdik anak yang lain
“molla, ku kira apa yang dibilang eomma ku benar. Sekolah hanya butuh uang nya, tidak peduli dengan statusnya yang bersandang ‘Anak Haram’..” tekan Gi Eul diakhir kalimat. Bisa? Bagaimana bisa, anak berumur kurang dari 13 tahun mengejek menghina sesakit itu?
“Yoo Geun-ah…” panggil seorang yeoja kecil dibelakangnya. Yoo Geun menoleh, Seol Bi sudah memamerkan senyum manisnya, “kau mau ke kelas bukan? Ayo kita jalan bersama..” Yoo Geun hanya terdiam. Pikirnya berkata, sejak kapan Seol Bi ada dibelakang ku?
Seol Bi dan Yoo Geun jalan lebih cepat melewati Gi Eul yang menatap mereka benci. Tatapan yang mungkin dia berikan pada Yoo Geun, bukan Seol Bi.
~~~
Jam istarah datang. Sepertinya kejadian beberapa waktu lalu benar-benar membuat Seol Bi hanya terpaku sendiri di bangkunya. Seol Bi melirik Yoo Geun yang meninggalkan kelas membawa bekal makan siangnya. Segera Seol Bi mengikuti langkah Yoo Geun. Langkah mereka menuju atap sekolah, Yoo Geun masih belum sadar jika Seol Bi mengikuti nya. Hingga mereka tiba diatap sekolah, Yoo Geun segera menuju ujung atap, tempat yang cukup teduh dan dan nyaman baginya.
“jadi setiap waktu istirahat kau selalu disini ?” gumam Seol Bi membuat Yoo Geun menoleh sedikit kaget.
“kau…?” serdik nya. Seol Bi duduk disamping Yoo Geun
“gara-gara membela mu, aku dimusuhi teman-teman ku..” lanjut Seol Bi sedih. Begitu pun Yoo Geun
“aku tidak meminta mu membela ku”
“tapi aku ingin membela mu…” mereka terdiam sejenak, “Gi Eul-seunbae sudah keterlaluan. Padahal dia tidak tau apa-apa tentang mu..” lanjut Seol Bi
“ah… Kenapa kau selalu diam saat dia mengejek mu.. Kau harus melawannya..”
“ani” jawab Yoo Geun cepat, “aku tidak suka berkelahi. Lebih baik diam dan mengalah, mungkin suatu saat dia akan berhenti begitu..” tuturnya sabar.
“keundae…”
“lagi pula tidak sepenuhnya yang dikatakan Gi Eul-seunbae salah..” lanjut Yoo Geun. Seol Bi sedikit mengangap tak percaya. Melihat reaksi Seol Bi begitu, Yoo Geun mencoba tersenyum, “gwaencanha.. Ayo makan” alih Yoo Geun dan memulai memakan bekalnya.
Waktu pulang sekolah tiba. Cuaca tiba-tiba tidak bersahabat, pagi tadi begitu cerah dan hangat, kini cuaca berubah kelabu, uap dari air yang jatuh dari langit sangat tercium wanginya. Bau tanah yang basah. Yoo Geun sempat bingung cara dia akan pulang. Banyak murid yang masih ramai disekolah, menunggu hujan reda.
“ya Lee Yoo Geun…” panggil seorang begitu sengit. Yoo Geun berhenti menuruni tangga, “kau… Ada hubungan apa dengan Seol Bi?” serdiknya tajam. Itu Gi Eul dan teman-temannya.
“mwoya? Kami hanya teman sekelas..” jawab Yoo Geun sekenanya.
“gojitmal *buk*” dengan kesal Gi Eul mendorong Yoo Geun kasar. Buk! Yoo Geun berhasil mendarat sakit ditengah jalan tangga. Tak luka, namun berhasil membuat sedikit denyutan dikepalanya.
Gi Eul masih diam ditempatnya, menatap Yoo Geun jengkel. Seolah semua kebahagiaannya direnggut oleh Yoo Geun, “jangan mendekati Seol Bi lagi. Ara !” tegasnya. Yoo Geun bangkit dari posisi tersungkuranya.
“aku dekat dengan siapa pun bukan urusan mu..” lanjut Yoo Geun mengambaikan. Langkah nya sedikit pincang menuruni sisa anak tangga sebelum akhirnya menginjakan kaki di lantai 1.
“mwo? Ya.. Kemari kau anak haram..!” teriak Gi Eul mengejar Yoo Geun kedepan sekolah.
Yoo Geun menongakan tatapannya kedepan, melihat sosok yang sangat dikenalnya. Terlihat beberapa ibu-ibu yang menjemput putra putrinya berbisik seru. Yoo Geun memaksa senyumnya. Hyuk Jae, melambai penuh senyum pada putranya.
“Appa..” seru Yoo Geun melangkah lebih cepat. Namun langkahnya tertahan oleh ngilu dipergelangan kakinya. Hyuk Jae yang menyadari itu sigap berlari menghampiri Yoo Geun
“Wae? Gwaencanha?” serdik Hyuk Jae khawatir.
“ya.. Lee Yoo Geun…!” seru dibelakang sana. Gi Eul terdiam ketika melihat sosok dewasa disamping Yoo Geun. Hyuk Jae mencoba tersenyum, pikirnya mungkin Gi Eul salah satu teman Yoo Geun.
“Gi Eul-ah” panggil yeoja dibelakang Hyuk Jae dan Yoo Geun. Sekilas suara itu terdengar akrab dari telinga Hyuk Jae.
-hyuk jae pov-
“Gi Eul-ah” aku terdiam sesaat, suara itu seperti pernah ku dengar sebelumnya. Anak yang memanggil Yoo Geun tadi kemudian melangkah girang kearah suara itu dengan tatapan tak menentu. Mungkin itu ibu nya. Ragu namun pasti aku menoleh kearah mereka. Degh!
“Appa…” Yoo Geun mengalih kan pandangan ku.
“o.. Gwaencanha? Yang mana yang sakit ?” tanyaku. Yoo Geun mengangguk dan menunjukan bagian kakinya yang sakit.
“chah~ biar Appa gendong saja..” perkataan ku terdengar ibu-ibu sekitar. Dan aku baru sadar hanya aku seorang pria diantara mereka.
Aku masih menggendong Yoo Geun sampai kamarnya. Dokter bilang hanya terkilir ringan, jadi tidak perlu khawatir. Oke, itu cukup membuatku lebih tenang dan lega. Ku lirik Sang Jae yang menatap kami bingung.
“waegurae?” tanyanya singkat
“kaki Yoo Geun terkilir. Dia perlu istirahat sementara, jadi besok jangan bangunkan dia sekolah..” jelasku sekenanya.
“terkilir?”
“mungkin tadi dia bermain dengan teman-temannya lalu jatuh..” ku lihat Sang Jae mengangguk mengerti.
Kami terdiam diruang tengah, Sang Jae sibuk membolak balik majalah disamping ku. Aku memerhatikannya sesaat, ah, betapa cantiknya istri ku ini. Sesaat pikiran ku terbesit bayangan seseorang. Tadi, aku melihatnya lagi setelah sekian lama. Dia tetap cantik dan berkulit putih yang halus. Ah, apa yang sedang kamu pikirkan Hyuk Jae? Kau tidak lihat ? Disamping mu ada seorang waniya yang jauh lebih cantik dan menawan darinya.
“ya.. Yeobo-ya…” entah sejak kapan Sang Jae melambaikan tangannya didepan wajah ku. Sigap ku tarik tangannya itu dan mengecupnya lembut.
“mwoya ? Kenapa kau melamun?” tanyanya
“oh? Jinjja?” balas ku
“aeeh, lupakan..” Sang Jae kembali mengambil posisi awalnya, “ah, yeobo. Kau tidak balik ke kantor ?”
“ani.. Karena hujan turun deras membuatku malas berkutat dengan setumpuk dokumen..”
“bukan kah kau bilang kau tidak bisa meninggalkan kantor saat-saat begini ?”
Aku melirik Sang Jae, “aku bisa melakukan apa saja dengan kantorku sendiri sayang” kata ku membelai pipinya
Sang Jae hanya menatap ku kosong. Aku tersenyum geli melihat nya. Ku coba mengecup singkat bibirnya. Disini hanya ada kami berdua. Sangat ku pastikan 2 anak ku tengah terlelap.
“jangan memulai..” balas Sang Jae tersenyum manis
“ayolah.. Anak-anak sedang tertidur sekarang..” goda ku merayu sambil mendekat
“mereka bisa mendengar kita sayang.. Kau tidak ingat berapa umur Yoo Geun sekarang?”
“Yoo Geun tidak akan bangun hingga efek obat nya habis…” kataku mantab dan semakin mendekatkan diri padanya. Wajah ku dan wajah nya kurang dari 20cm.
“lalu Yoon Jae?”
“suara gemuruh hujan sangat mendukungnya terlelap dibawah selimut sutranya…” jawabku. Wajah ku semakin dekat lagi, hingga tertinggal beberapa mill. Chu~, aku berhasil menyentuh lagi bibirnya.
Kami berciuman. Sang Jae sudah duduk dipangkuan ku. Tangannya melingkar dileherku. Ciuman kami semakin panas, mana lagi Sang Jae semakin mengerti cara ciuman ku yang kadang menggila. Tangan ku mulai berkelana membelai tubuhnya. Balutan blouse putih dan celana pendeknya membuat tubuhnya yang tak terlalu banyak berubah saat dia masih gadis dulu. “emh.. Ct,, haah” decak nya ditengah ciuman kami. Hujan semakin deras, membuat kami tak mendengar apapun selain suara hujan yang semakin kasar menjatuhkan airnya. Aku mulai membuka blouse yang dikenakan Sang Jae, kulitnya yang lembut membuat ku gemas meraba nya. Wangi tubuhnya yang selalu mampu membuat ku menggila. Ku turuni ciuman ku, ku beri tanda cukup jelas di dagu nya. Helaan nafasnya yang menggebu membuat nafsu ku memuncak. Tangan ku meremas dadanya kasar, membuatnya semakin mendesah. Ku tarik branya yang menghalangi aktivitas ku. Wow, dadanya tetap saja menggoda. Besar dan kenyal. Ku main kan punting susunya yang menegang, erangan nya semakin membuatku ingin menggodanya. Crot! Mata ku terpekik seketika, sedikit semprotan air susu yang hangat sukses menembak wajah ku.
“haaah, yaa..” protesnya. Haha, sejak tadi aku terus menggodanya.
“yeobo.. Kenapa air susu mu semakin banyak ?” goda ku memijat kuat kedua dadanya
“aakhh.. Aahh..” desahnya. Tangan ku sudah becek dengan air susunya yang tumpah. Aku tidak berniat mengulumnya, karena aku tau rasanya -sangat- tidak enak !
Puas aku memainkan kedua dada bidangnya, aku mengubah posisi ku dengannya. Kini aku menindihnya. Sang Jae mencium bibir ku semangat, begitu pun dengan ku. Sambil tetap berciuman, tangan kami sama-sama sibuk membuka pakaian kami. Sang Jae membuka kancing baju ku, dan aku membuka celana pendeknya. Aku melupakan diri dengannya, sigap Sang Jae melingkari kedua tangan nya dileherku. Aku meraba vaginanya dibalik CD yang masih ku tinggalkan.desahan tertahannya tedengar merdu ditelinga ku. Tak sabaran aku segera menunduk dan membuka cepat CDnya. Melempar kain itu kesembarang arah. Vagina nya begitu bersih dan menggoda, warna nya yang sudah tidak begitu merah seperti dulu, namun tetap membuat ku ingin terus meraskan nikmatnya surga dunia ini. Ku enduskan nafas ku sesaat dipintu liang nya. Terlihat jelas Sang Jae mengdesah malu. Ku kecup lembut, dan mulai menjilatinya intens. Nikmat, sangat nikmat.
“aakh.. Eemh… Haaah..” desahnya kenikmatan. Pinggulnya bergoyang menahan denyut yang mulai timbul.
“ookh..aaah.. Yeobo… Aaahh” desahnya semakin keras saat 2 jari ku langsung menerobos masuk.
“eemhh.. Haaah.. Ooh… Aaanghh…” ku gerakan dengan cepat sambil menggoda klitorisnya. Tangan ku mulai terasa terjepit didalam nya.
Aku menghentikan sesaat gerakan tangan ku, saat liangnya mulai berdenyut. Tersirat jelas wajah sang yang sedikit kesal. Aku tersenyum setan padanya, ku kecup singkat bibirnya. “berbalik lah…” bisik ku. Tak menolak Sang Jae pun berbalik -menunggingi- ku. Ku jilati lagi liangnya sambil mengoyak liangnya.
“aaakkh… Eemh.. Aah..” desah nya.
“oouhh.. Aahh… Hooh.. Hyuk.. Jae… Aah..” racau nya menyebut namaku. Tangannya meraih setelah tangan ku yang menganggur. Sang Jae meletakannya didada kirinya, meminta ku berbuat lebih banyak padanya tanpa suara.
“aaanggh… Eemhh… Haah.. Aeeh..” desahnya semakin jadi. Ku rasa kan denyutan liang nya yang semakin menjadi.
“oohh.. Jae-aahh… Eemh.. Aaahh…” racau Sang Jae. Sedikit lagi. Aku semakin cepat mengoyak liangnya yang sudah mulai membasah.
“aaaaaahhhh….” bluurr ! Aku menelan semua cairannya yang keluar. Liangnya terasa hangat oleh cairannya. Sang Jae pun tergeletak lunglai. Keringatnya mulai mengkilapi kulit tubuhnya.
Aku membalikan tubuh Sang Jae siap melumat bibir indahnya, sambil berbagi cairan nya yang masih tersisa dimulutku. Ting! Tong! Bunyi bel itu bergeming untuk beberapa kali membuat ku mengurungkan niat menciumnya dan menelan lagi sisa cairannya.
“ck, nuguya? Mengganggu saja..” gerutu ku kesal, lalu meninggalkan Sang Jae menuju pintu.
Grek! Dengan raut apa adanya aku membuka pintu sedikit kasar. Ku lihat sosok Yeoja asing dihadapan ku. Mengenakan dress pink soft selutut dan bolero putih. Matanya tak berkedip melihat ku, namun sedetik kemudian wajahnya merona dan menutup wajah nya dengan tas tangannya. Aku menekuk wajah ku heran. Memang kenapa dengan ku?
“nugusaeyo?” tanya ku tanpa basa basi
“a… Eh.. Anyeonghasaeyo, naega Yoon Mi Rae ibnida. Aku mencari Sang Jae, apa dia ada?” salamnya seperti ragu-ragu. Mi Rae? Siapa dia?
“yeobo.. Nuguji?” seru Sang Jae dibelakang, aku melirik Sang Jae
“dia bilang dia mencari mu. Yoon Ni Rae namanya..” Sang Jae terdiam. Namun perlahan ia mendekati kami diamabang pintu.
“o… Mi Rae-ssi, bangapta. Lama tidak jumpa, ayo masuk..” sapa Sang Jae dengan sejuta senyum. Mereka pun segera masuk mendahului ku. Oke, aku seperti orang tak tau apa-apa disini -dan memang begitu adanya-. Siapa dia? Yeoja itu, baru kali ini aku melihatnya. Mendengar namanya pun baru. Ku pastikan setelah ini, aku mendapat penjelasan detail dari Sang Jae.
-author pov-
Sang Jae menyugguhkan segelas teh hangat dan makanan kecil. Senyumnya tak pernah lepas dari kedua sudut bibirnya. Dalam beberapa jarak -yang masih bisa dilihat- Hyuk Jae terus melirik kedua yeoja diruang tengah itu. Rautnya tercampur oleh raut kesal dan penasaran. Pasalnya Sang Jae tak pernah menceritakan apapun tentang gadis dihadapan istrinya itu.
“eonni, geu namja nuguji (siapa pria itu)?” tanya yeoja itu hampir berbisik. Mata yeoja itu dan Hyuk Jae saling menatap heran.
“he? Nugu?” seru Sang Jae balik. Tak menjawab, yeoja itu menunjuk kearah Hyuk Jae.
“aah.. Igeo, nae nampyeon-ah. Waeyo? Kau heran melihatnya ?”
Yeoja itu melirik sang jae kaget seketika, batinnya seolah merasakan lain, “oh.. Jinjja-reo?” ujarnya yang dibalas anggukan dari Sang Jae.
Yeoja itu masih terpaku tak percaya melihat Sang Jae yang diketahuinya dulu hanya gadis belia biasa, kini sudah memiliki suami. Yeoja bernama Yoon Mi Rae itu adalah teman didunia maya Sang Jae. Umurnya terpaut 2 tahun lebih muda dari Sang jae Jae. Selama berteman dan mengobrol di dunia maya, Mi Rae hanya mengira Sang Jae yeoja lajang layaknya dia dan teman-teman digroup chat mereka. Mereka terdiam sesaat, kehadiran Mi Rae ditengah hujan dan tiba-tiba membuat Sang Jae bingung harus berbicara apa. Keheningan mereka teralih. Suara tangis Yoon Jae mampu menerobos suara gemuruh deras hujan.
“ah,, Mi Rae-ssi jamkkaman..” ucap Sang Jae sigap. Mi Rae hanya mengangguk mengerti.
“biar aku saja..” seru Hyuk Jae tiba-tiba. Langkahnya terlihat lebih sigap dan cepat dari Sang Jae, membuat Sang Jae menagngguk menurut.
Setiap langkah Hyuk Jae membuat Mi Rae tak perkedip. Entah itu kenapa.
“Rae-ya.. Ya, Yoon Mi Rae” seru Sang Jae membuyarkan lamunan Mi Rae
“ah ne? Mian..”
“haha, gwaecanha..” gantung Sang Jae, “kalau boleh tau, apa yang membuat mu kemari? Baru kali ini kau datang kerumah ku..”
“ah, igeo. Karena diluar hujan sangat lebat,, membuat jalanan tidak terlihat jelas. Aku sedikit takut menyetir. Lalu aku teringat jika di group chat kita sempat bertukar alamat. Aku mencari yang terdekat, makanya aku kemari. Mianhae, jika aku mengganggu kegiatan mu..” jelas Mi Rae
“selebat itukah diluar sana ?” serdik Sang Jae, “gwaecanha ^^ kau tidak mengganggu kok” jawab Sang Jae lembut, walau hatinya sedikit bertolak dengan apa yang dijawab.
Menjelang petang, hujan mulai reda. Mi Rae akhirnya berpamitan dan kembali meminta maaf atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. Sang Jae pun kembali masuk kedalam rumah setelah mengantar Mi Rae ke parkiran mobilnya. Hyuk Jae sudah duduk diruang tengah bersama Yoon Jae. Hyuk Jae menatap istrinya penuh tanya. Mengrti itu, Sang Jae kembali duduk dengan segelas air putih ditangannya.
“dia teman ku digroup..” ulas Sang Jae singkat, Hyuk Jae tetap tak bersuara
“dia 2 tahun lebih muda dari ku. Dia seorang executive muda, ayahnya seorang pengusaha lebel cukup ternama..” Sang Jae menatap suaminya lekat
“apa lagi yang harus ku jelaskan tentang Mi Rae?”
“bagaiman bisa dia tau alamat kita? Kau pernah bertemu dengannya ?” akhirnya Hyuk Jae berbicara walau masih bernada penasaran
“ani. Kami bertukar alamat digroup..” mendengar itu membuat Hyuk Jae mengerutkan dahi.
“Mwo? Untuk apa kau melakukan itu..?”
“itu tidak sengaja sayang. Lagi pula mana aku tau jika dia salah satu digroup chat ku akan kemari..”
“….” Hyuk Jae terdiam sesaat, “ara, kali ini aku mengerti. Jika hal sama terjadi lagi disaat tak tepat -seperti tadi- kau tau akibatnya kan..” seru Hyuk Jae tegas
“ara… Ara…” jawab Sang Jae mencibir, “Yoo Geun eodiya? Apa dia masih tidur..?” lanjut Sang Jae
“mungkin.. Coba kau lihat dikamarnya, mungkin dia sedang bermain..” jawab Hyuk Jae.
Sang Jae pun melangkah menuju kamar diujung balkon lantai 2. Tanpa mengetuk pintu Sang Jae membuka pintu itu. Yoo Geun yang tengah duduk dibawah ranjang, sedikit kaget dan melempar isi tasnya kebawah kasur.
“jagi-ya.. Mwoaneungoya?” sapa Sang Jae tersenyum. Yoo Geun mengatur helaan nafasnya dan mencoba duduk lagi diatas ranjangnya.
“a.. Ani. Eobseo..” jawabnya terbata, “kenapa Eomma tidak mengetuk pintu dulu?” protes Yoo Geun
Sang Jae terdiam sejenak, tak biasanya putra pertamanya memprotesnya begitu, “ah waeyo? Kau kaget?” tanya Sang Jae duduk disamping Yoo Geun
“o geureom..” jawabnya, “mulai besok, Eomma dan Appa dan siapapun harus menegtuk pintu dulu sebelum masuk..” tegas Yoo Geun. Sang Jae terdiam.
“joha, kalau kau memang ingin begitu..” sambut Sang Jae, mencoba mengerti walau sebenarnya dia sedikit heran dengan permintaan anaknya.
~~~
Disisi lain, seorang Ibu dan putranya tengah tenang menyantap makan malamnya. Anak itu, Gi Eul. Gi Eul dan Ibunya. Gi Eul tak begitu banyak menyentuh makanan dihadapannya. Kehidupannya tergolong sangat sederhana. Sang Ibu hanya berkerja sebagai pengurus salon ternama dikota. Namun tak banyak yang bisa ia harap dari gaji sang Ibu. Batinnya terlalu sering iri dengan kemewahan dan kehangatan keluarga yang dimiliki teman-temannya.
“Eomma..” panggil Gi Eul. Sang Ibu mengehentikan suapannya, “hari ini… hari ini aku bertemu Appa..” lanjutnya berucap sambil menunduk. Sang Ibu hanya terdiam. Benaknya sedikit terluka, namun ia sangat sadar hati anaknya lebih terluka.
“jinjja? Dimana kau bertemu? Apa dia tidak menandaimu?” tanyanya berat
Gi Eul menggeleng, “ani.. dia hanya tersenyum padaku, senyum yang hangat..” sang Ibu beralih tempat duduk. Kini ia duduk disamping putra semata wayangnya.
“kkokjeongma.. cepat atau lambat Appa mu akan mencari dan menandaimu sebagai anak kesayangannya…” ujar sang Ibu memeluk Gi Eul erat.
“keundae Eomma, kapan waktu itu tiba? Aku merindukan Appa..” ujar Gi Eul lirih.
“haah.. secepatnya. Eomma janji itu..” jawab sang Ibu berjanji begitu yakin. Dan sangat yakin.
~~~
Seperti hari-hari sebelumnya. Setiap anak disekolah Yoo Geun pasti diantar oleh orang tuannya masing-masing hingga didepan gedung. Begitu pun dengan Yoo Geun dan Gi Eul. Mereka datang –tak sengaja- bersamaan. Sang Jae begitu sibuk mengurus Yoon Jae yang sedang demam, membuat Hyuk Jae mengerahkan waktunya sementara untuk menghantar putranya kedalam sekolah. Dari beberapa jarak, Gi Eul menatap iri kehangatan Yoo Geun dan Ayahnya, Hyuk Jae. Langkahnya semakin pelan, membuat sang Ibu melirik bingung pada Gi Eul.
“Gi Eul-ah, waegurae?” tanyanya. Gi Eul hanya diam, menatap dalam kedua sosok didepannya. Sang Ibu terdiam, mengerti, dan menandai siapa yang tengah dilihat putranya.
“kajja Gi Eul-ah…” tarik sang Ibu tak kalah menatap sosok didepannya tajam.
Hyuk Jae kembali kemobilnya setelah menyerahkan Yoo Geun pada wali kelasnya. Bibirnya bersiul merdu menyimak semangat pagi hari yang cerah. Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, langkahnya terhenti saat ia melihat tepat disebrang mobilnya sosok yang sangat dikenalnya berdiri anggun penuh senyum.
“anyeong.. Oppa..” sapanya memberi senyum hangat.
-hyuk jae pov-
Kini aku dan dia duduk berhadapan. Entah ada apa? Setelah hampir 7 tahun terakhir setelah perpisahanku. Kami bertemu lagi. Dia tetap cantik, manis, dan anggun. Tetap memikat mata para pria. Namun aku mengabaikan. Aku harus ingat jelas dan sangat tegas, jika aku sudah memiliki Sang Jae! Ku tatap ia lekat yang tengah menegak pelan hot coffenya. Dia bahkan mengajakku ketempat ini hanya untuk memperlihatkan dirinya yang tak melunturkan senyum.
“Oppa bagaimana kabar mu? Sudah sangat lama kita tidak bertemu..” tanyanya
“baik. Seperti yang kau lihat. Lalu bagimana denganmu?” tanya ku berbalik
“na? Haah..” gantungnya, “kadang baik, namun kadang juga buruk..” aku hanya terdiam mendengar jawabannya.
“Oppa..” panggilnya, “boleh aku meminta sesuatu..” lanjutnya membuat hatiku tergerak. Sejak dulu dia selalu menyempatkan situasi kondisi.
“mwoya? Kau butuh uang?” serdik ku begitu saja. Ku lihat matanya menatapku sendu
“apa aku terlihat seperti orang yang membutuhkan uang..” katanya lirih. Aku memalingkan pandangan ku.
“mian.. aku tak bermaksud..” ujarku
“haha.. gwancanha.. aku mengerti..”
“lalu apa permintaanmu?”
Suzy terdiam, menundukkan kepalanya, “bisakah kau menjadi Ayah dari anakku?” pintanya menatapku melas. Mwo?
“mwo? Ya Bae Suzy, michindae?” ketusku
“aku tau kau pasti menolak. Aku pun tak punya hak untuk memaksa. Tapi apa kau ingat waktu kita bersama dulu? Kau selalu membuang sprema mu didalam rahim ku, Oppa..” jelasnya lembut namun terdengar tajam ditelingaku.
Aku terkekeh sendiri, aku mulai tak nyaman berada disini, “ya Bae Suzy. Apa setelah ku ceraikan kau tak mencari pria lain? Perlu kau ingat jelas, aku… bukan Ayah dari anak mu..”
“tapi ku kira Yoo Geun juga bukan anak mu…!” lanjutnya acuh, “Yoo Geun-ah, dia hanya anak Sang Jae dan Cheondung. Kau hanya mengganti marganya saja bukan..”
“walaupun begitu, Yoo Geun sudah ku anggap sebagai anakku sendiri. Darah daging ku dan sebagian belahan hidupku..”
“ayolah Oppa, berhenti memaksakan dirimu. Perlahan tapi pasti, perhatian mu akan berkurang padanya. Kau hanya akan melirik anak mu yang dilahirkan Sang Jae..” aku menggumpalkan kedua tanganku.
“aku tidak bermaksud menusuk mu lagi Oppa. Perlu kau tau, aku, masih mencintai mu. Dan satu lagi, Gi Eul, anakku, dia sangat menantikan kehadiran mu. Kehadiran sebagai Appanya…”
“kau pun sama Suzy-ya. Perlu kau ingat dengan jelas, itu… tidak akan pernah terjadi..” kataku beranjak hendak meninggalkannya.
“aku pasti akan mengingatnya..! tapi kau harus perhatikan gerak-gerik anak tiri mu.. jika tidak mau sesuatu terjadi padanya..” lanjutnya melangkah lebih dulu dariku. Haah, mimpi apa aku semalam? Kenapa aku harus bertemu padanya?
-sang jae pov-
Aku masuk kedalam kamar Yoo Geun. Hati ku masih diselimuti rasa bingung dan penasaran atas sikap Yoo Geun belakangan. Aku mulai memeriksa beberapa laci meja belajarnya. Namun tak ku temukan satupun yang bisa ku kuatkan sebagai bukti untuk membuatku percaya. Mataku beralih pada meja kecil disamping ranjangnya. Aku membukanya, tapi terkunci. Aku ingat jelas, laci ini tidak pernah terkunci sebelumnya. Pikiranku pun mulai beralih pada kolong bawah ranjangnya. Benar pikiranku, disini kembali berserakan kumpulan gumpalan kertas. Ku ambil dan ku kumpulkan jadi satu dalam kotak yang ada. Ku bawa semua gumpalan kertas itu keruang tengah. Sesaat hatiku berasa sangat berdebar, ragu-ragu ingin membukanya.
‘anak haram, enyahlah dari dunia ini!!’
Aku membulatkan mataku terkejut. Apa ini? Lagi dan lagi aku buka gumpalan, gumpalan kertas itu. Sangat mengerikan bagiku. Tulisan yang terlihat jelas ini tulisan anak-anak. Bagaimana bisa anak-anak bisa saling mengejek seperti ini. Sepintas mataku terasa panas. Mungkinkah karena ini Yoo Geun merubah sikapnya yang periang? Ku buka gumpalan terakhir, sangat berat dan sakit saat aku membaca setiap ejekan yang ditunjukan untuk anakku.
‘ya Park Yoo Geun..!! kembalikan Ayahku sekarang…!’
Bahkan kertas terakhir membuatku semakin tersayat. Aku, aku Ibunya sangat terluka membaca ini. Bagaimana dengan Yoo Geun? Dia yang setiap hari bertemu dengan teman-temannya, apa mungkin dia tak memiliki teman disekolahnya? Oh, Tuhan, cobaan apa ini?
Aku mengalihkan lamunan ku saat ku dengar suara pintu terbuka. Hari sudah siang, membuatku sadar ini jam sekolah Yoo Geun usai. Ku lirik siapa yang masuk, Yoo Geun, menatapku polos juga bingung.
“Eomma waegurae? Apa yang kau lakukan?” tanyanya lembut. Aku menghela nafas berat. Apa yang harus aku bilang padanya?
“Yoo Geun-ah..”
“Eomma membuka ini?” selanya menghampiri dan melihat apa yang sudah ku buka
“eoh, wae?” balasku
“kenapa Eomma membukanya? Ini milikku, dan Eomma harus izin padaku jika membuka apapun milikku..” aku terdiam. Apa dia marah padaku?
“Yoo Geun-ah, Eomma…”
“…..” Yoo Geun menunduk terdiam. Ku lihat tubuhnya bergetar. Aku memejamkan mata, menahan air mata. Ku tarik ia kedalam pelukan ku. tak lama, tak lama Yoo Geun mendorong pelukan ku.
“Eomma sudah melihat semuanya. Aku benci pada mu…” katanya menunduk
“mwo? Waeyo? Kenapa kau membenci Eomma?” kataku terluka
“aku membenci orang yang membuka barangku tanpa izin. Aku sangat membencinya…”
“ya Lee Yoo Geun, siapa yang mengajar mu bersikap seperti ini. Eomma dan Appa tidak pernah mengajarkan mu sikap itu..” kataku tegas. Yoo Geun hanya diam, menatap kertas yang masih ku pegang.
“Ibu guru pernah mengajari ku suatu hal. Seorang anak pasti memiliki salah satu sifat orang tuanya. Walau Eomma tak pernah mengajari ku seperti ini, apa Eomma lupa aku memiliki sifat siapa?” aku terdiam, dia bahkan bisa berkata begitu matang. Sama seperti…
“Appa mu tidak pernah memiliki sifat seperti mu Yoo Geun..”
“bagaimana dengan Appa kandungku? Seharusnya marga ku Park bukan? Bukanya bermarga Lee..” degh! Aku membulatkan mataku. Sedikit pun aku tak pernah menutupi keaslian Cheondung sebagai Ayahnya, namun aku sekali pun tak pernah memberi tau sifat asli Cheondung yang begitu egois dan keras kepala.
Plak! Entah kenapa aku begitu mudahnya memukulnya yang jelas masih ketakutan. Yoo Geun tersungkur, tubuhnya semakin bergetar. Seketika aku sadar apa yang aku lakukan.
“ah.. omo.. Yoo Geun-ah.. Gwaencanha? Mian,, mianhae, Eomma..” kataku terbata mememeluknya.
“aku benci padamu!!” teriaknya sigap berlari meninggalkan ku, keluar rumah..
“Yoo Geun-ah.. Lee Yoo Geun…!!” teriakku memanggilnya. Aku tersungkur didepan pintu. Kakiku seketika lemas, tubuhku tepatnya. Aku menangis sejadinya. Bagaimana bisa? Aku yang tau begitu jelas jika dia sedang tertekan dan ketakutan, aku malah dengan mudahnya memukulnya. Yoo Geun-ah, maafkan Eomma.
-author pov-
Yoo geun menahan tangisnya. Pipinya sedikit lembam karena pukulan Sang Jae. Segitu kuatnya kah? Yoo geun menghentikan langkahnya ditengah taman tak jauh dari rumahnya. Ia duduk disebuah ayunan, sambil menunduk. Hatinya begitu kelu, rapuh dan sakit. Matanya sudah memerah, hingga air matanya menggenang panas. Batinnya menginginkan sesuatu, ia sangat ingin melihat Ayah aslinya. Begitu ia rindukan, dan sangat diinginkannya. Walau Hyuk Jae pun mampu menjadi penggati sosok Cheondung dimatanya, tapi hatinya berbeda, ia juga sangat ingin menerima kasih sayang Ayah kandungnya. Cuaca mulai sedikit gelap. Langit cerah mulai berubah kelabu. Suara geluduk membuat Yoo Geun turun dari ayunannya dan mengambil tasnya. Tes.. tes.. perlahan tetesan air dari langit berubah menjadi deras. Tubuh kecil mulai basah. Angin bertiup sedikit kecang, membuat tubuhnya bergetar. Bibirnya mulai berubah keputihan. Kepalanya mulai diterpa rasa sakit yang hebat. Yoo geun tetap melangkah, walau pelan dan tak tau kemana ia harus berjalan.
~~~
Hari sudah malam. Sang Jae terus mondar-mandir didepan pintu menanti kehadiran Yoo Geun yang tak kunjung tiba. Hujan sudah tak selebat tadi. Hyuk Jae pun ikut gelisah, hari ini ia serasa begitu sial. Bertemu Suzy lalu menerima telepon Sang Jae yang menangisi Yoo Geun. Telepon rumah mereka berdering, Sang Jae mengabaikan itu, namun tidak dengan Hyuk Jae. Dia mendekat dan meraih gagang telepon.
“yeoboosaeyo?” sapa Hyuk Jae, tak butuh waktu lama untuknya membulatkan mata terkejut, “MWO? Arasseoh, aku akan segera kesana..” lanjutnya. Sang Jae melirik Hyuk Jae heran
“wae..gurae?” tanya Sang Jae
“cepat ambil Yoon Jae dikamar. Yoo Geun kecelakaan..” jelas Hyuk Jae cepat. Walau cepat, itu mampu membuat Sang Jae semakin lemah dan merasa bersalah pada Yoo Geun.
~~~
Hyuk Jae dan Sang Jae berjalan dengan cepat mengintari loby rumah sakit. Sang Jae menangis sesegukan tanpa bersuara. Langkahnya begitu cepat hingga ia sudah tiba didepan ruang ICU. Langkahnya terhenti sesaat, didepan sana ia melihat sosok yang sudah tak lama dilihatnya. Sosok yang sangat tak ingin dilihatnya walau kapan pun waktu dan kondisinya. Tapi mungkin, saat ini ia akan membuang perasaan itu. Hyuk Jae pun demikian, ia menghentikan langkahnya lalu menatap sosok didepannya. Suzy, berdiri menaruh senyum manis pada keduanya.
“anyeong..” sapa Suzy pada Sang Jae. Sang Jae hanya mengangguk membalasnya dengan senyum berat.
“gwaencanha.. dokter sedang bersama Yoo Geun didalam..” Sang Jae terdiam
“kau…”
“saat keluar dari super market dekat rumah ku. aku tak sengaja melihat sosok anak kecil sudah terjatuh pingsan dipinggir jalan. Tubuhnya sangat basah kuyup, karena cemas, aku langsung membawanya kemari..”
“mwo?” desah Sang Jae rapuh. Hyuk Jae hanya menunduk lemah.
Mereka kembali terdiam menunggu dokter dari dalam ICU keluar. Suzy yang merasa sudah cukup menemani berpamit pulang dengan lembut. Hyuk Jae terlihat begitu hati-hati dengan sikap Suzy. Tak lama, dokter pu keluar.
“keluarga Lee Yoo Geun?” seru sang dokter.
“aku…” sahut Sang Jae cepat
“bisa ikut aku sebentar..” tawarnya. Sang Jae dan Hyuk Jae saling menatap bergantian.
-docter room’s-
Sang Jae mencoba tenang ketika dokter penempelka beberapa hasil ronsen tak jelas dipapan berlampu. Sesaat sang dokter menghela nafas. Ingin memulai, namun sedikit ragu.
“apa kalian orang tua Lee Yoo Geun?” tanyanya
“eoh.. ye. Bagaimana keadaan anak kami?” tanya Sang Jae
“cukup perihatin. Tapi kalian harus tetap tenang. Disini akan ku jelaskan kronologis kondisi putra kalian..” sang jae mengendus lemas. Kejadian ini, membuatnya berulang lagi pada kejadia saat ia menemani waktu-waktu Cheondung sakit dulu.
~~~
Sang Jae menggenggam erat jemari kecil Yoo Geun. Tubuhnya seperti membeku, tak bisa bergerak dan hanya ingin duduk menanti kesadaran juga kepulihan pangeran kecilnya. Matanya sudah begitu sembab dan lelah menangisi Yoo Geun. Percaya atau tidak. Kejadian yang diharap tak terulang, harus terulang lagi. Suasana hening sedikit berubah saat Hyuk Jae datang. Ia tak bersama putri kecilnya.
“yeobo-ya..” seru Hyuk Jae. Sang Jae hanya terdiam, “kau ingin makan? Sepertinya sejak siang tadi kau belum isi perutmu. Eomma membuatkan sedikit makanan. Dan untuk beberapa saat Yoon Jae ku titipkan disana..” jelas Hyuk Jae. Sang Jae tetap diam, Hyuk Jae tidak pernah menginginkan situasi ini terjadi.
Pagi sudah datang. Kesadaran Yoo Geun belum kembali. Dengan setia dan tanpa bergeming Sang Jae tetap duduk manis disamping Yoo Geun. Hyuk Jae mengerjapkan matanya, ia hanya tidur 2 jam, lalu terbangun oleh sorotan matahari. Ia mengubah posisinya dan duduk melihat keadaan prihatin Sang Jae yang tak pernah merubah posisinya.
~~~
Hyuk Jae duduk sendiri disebuah kafe disamping rumah sakit tempat Yoo Geun dirawat. Setelah memberi informasi kesekolah Yoo Geun, tak sengaja ia menghubungi Suzy, alih-alih untuk berterima kasih terlah menyelamatkan putranya. Tak seling beberapa lama, Suzy datang mencari sosok yang menunggunya. Ia pun duduk manis didepan Hyuk Jae yang setengah melamun.
“ayeong Oppa..” sapanya
“eoh, anyeong..” balas Hyuk Jae
“waegurae? Ada apa tiba-tiba mencari ku? lalu bagaimana keadaan Yoo Geun? Apa dia sudah membaik?” tanya Suzy
“ani, dia belum sadar. Aku hanya ingin berterimakasih karena kau sudah membawa Yoo Geun kerumah sakit..”
“jeongmal? Ah, aku ikut perihatin..” Hyuk Jae hanya tersenyum simpul
“Oppa, tentang permintaan ku waktu itu. Aku tidak akan memaksamu..” lanjut Suzy. Hyuk Jae menatap Suzy
“ku rasa aku terlalu jahat. Aku mengabaikan pesanmu waktu itu, pesan untuk mengurus anakku dengan baik. Hah, tapi aku malah meracuni pikirannya. Mian, kejadian Yoo Geun disekolah itu semua karena Gi Eul…” sesal Suzy.
“keundae Oppa, minggu depan Gi Eul ulang tahun ke 10. Bolehkah aku meminta satu hal saja padamu, aku sangat ingin membahagiakan Gi Eul..”
“mwondae?” tanya Hyuk Jae
“maukah kau menjadi Ayahnya sehari saja? Dia sangat ingin kau jadi Ayahnya karena ku. mian, aku sebenarnya tidak ingin mementingkan ego ku, hanya…”
“hanya sehari bukan?” sela Hyuk Jae, Suzy menatap Hyuk Jae, “tak masalah jika hanya sehari..” lanjutnya. Suzy tersenyum senang.
Waktu masih berlanjut hingga malam tiba. Sang Jae merapikan selimut yang menutupi setengah tubuh Yoo Geun. Sesekali tangannya membelai, mengusap pusuk kepala pangeran kecilnya. Hatinya berkata, ‘sayang, cepatlah sadar. Maka kita akan merayakan ulang tahun ke 8 mu minggu depan..’ wajahnya dipalingkan saat suara pintu terbuka. Ada Hyuk Jae datang membawa bekal untuk mereka. Sang Jae pun mulai mengambil posisi duduk disamping Hyuk Jae.
“bagaimana keadaannya? Apa ada kemajuan?” tanya Hyuk Jae
“eobseo.. dia masih tetap seperti itu, tak menunjukan akan bergerak..” jawab Sang Jae lemah. Hyuk Jae mengusap punggung sang istri lembut
“dia akan segera sadar, jagi. Bersabarlah..” tenang Hyuk Jae
Akhirnya Sang Jae mau makan walau sedikit. Matanya tak terlepas dari Yoo Geun yang masih saja terbaring lemah. Tubuhnya terlalu kecil untuk menerima penyakit yang sama. Penyakit yang merenggut nyawa belahan jiwanya dulu. Kondisinya pun sama, diketahui saat mulai parah. Kapan kehidupan gila Sang Jae akan berakhir?
“eo.. Eommah..” Sang Jae melirik kearah Yoo Geun yang memanggilnya.
“Yoo Geun-ah..” serdik Sang Jae sigap mendekati lalu diikuti Hyuk Jae dari belakang.
“adeul-ah, gwaencanha? Eo? Eomma yeogi-e..” seru Sang Jae mulai menitikan air mata. Yoo Geun tak menjawab, hanya menderukan nafasnya lemah.
“sebaiknya aku memanggil dokter..” kata Hyuk Jae berlalu mencari dokter.
Lagi-lagi Sang Jae dan Hyuk Jae hanya bisa tertunduk lemah. Yoo Geun belum sepenuhnya sadar. Kanker otak yang diturunkan Cheondung padanya jauh lebih parah dari apa yang dialami Cheondung. Sang Jae tidak pernah tau jika Yoo Geun sering kali terjatuh, mengalami pusing hebat, dan apa yang pernah dialami Cheondung. Dia seperti orang yang terlambat mengetahui sesuatu yang penting dalam hidupnya.
4 hari sudah Yoo Geun tertidur lemah diatas ranjang rumah sakit. Siang itu Sang Jae hanya duduk sambil merajut syal untuk Yoo Geun sebagai hadiah ulang tahunnya yang jatuh tinggal mengihitung hari. Saking fokusnya merajut, Sang Jae tak menyadari jika tangan-tangan kecil Yoo Geun mulai bergerak. Matanya mulai dibuka walau kepanya terasa begitu sakit. Yoo Geun menghela nafas beratnya.
“haah.. Eom.. Eomma..” panggilnya berat. Sang Jae mengehntikan merajutnya. Matanya membulat saat ia melirik Yoo Geun membuka matanya.
Dokter sudah memeriksa Yoo Geun, dokter mengatakan kondisinya cukup baik untuk sadar. Namun, Yoo Geun tetap harus dibawah perawatan dokter dan perawat. Mengingat kanker otak yang menurun padanya sudah berjalan lebih cepat dari yang dikira. Akankah Yoo Geun bernasib sama dengan Cheondung? Berharap saja tidak.
“Yoo Geun-ah.. kau mau makan sesuatu? Eomma akan buatkan untuk mu..” tawar Sang Jae
Yoo Geun menggeleng, “Yoon Jae-ya eodi? Aku ingin bermain dengannya?” tanya Yoo Geun lemah. Sang Jae melunturkan senyumnya sekilas.
“Yoon Jae sedang menginap dirumah Halmoni, lain waktu saja bermain dengan Yoon Jae, ne..” kata Sang Jae, Yoo Geun mengangguk menurut. Matanya kembali terpejam.
“Eomma.. aku… *hooeekk..” belum usai Yoo Geun berbicara, mulutnya memuntahkan air.
“omo Yoo Geun-ah…” teriak Sang Jae. Dan hari-hari rehabilitasi untuk Yoo Geun pun dimulai hari itu.
-sang jae pov-
Rajutan ku untuk Yoo Geun sudah beres. Ku masukan syal berwarna merah itu kedalam kotak cukup besar. Aku juga sempat membelikannya mainan yang diinginkannya. Besok hari ulang tahun Yoo Geun, dan aku ingin hari itu menjadi hari paling berkesan baginya walau itu susah dihadapinya. Terapi yang diberi dokter belum juga melihatkan hasil. Aku sempat khawatir, namun Hyuk Jae selalu menguatkan ku, meyakinkan ku bahwa Yoo Geun akan bertahan hingga ia beranjak dewasa. Dan aku harus percaya itu.
Aku mencoba menghubungi Hyuk Jae, karena kejadian yang menimpa ini membuatnya sedikit mengabaikan urusan kantor. Mungkin dia sedikit sibuk sekarang dikantor. Telponku tak dijawabnya.
Aku mendorong kursi roda Yoo Geun, mengajaknya menghirup udara disekitar rumah sakit. Yoo Geun hanya duduk sambil memeluk mainan robot kesayangannya.
“Yoo Geun-ah. Kau ingat besok hari apa?” tanyaku saat duduk disampingnya
“geureom.. besok hari ulang tahun ku yang ke 8..” jawabnya senang
“jinjja? Eomma kira kau masih berumur 6 tahun sayang..” candaku
Yoo Geun menggeleng, “maldo andwae..” sergahnya
“ara.. ara..” aku membelai kepalanya, “adeul-ah, kau mau apa dihari ulang tahun mu? Eomma sudah menyiapkan hadiah istimewa untukmu..?”
“jinjja? Mwondae? Aku ingin berkumpul dan bermain dengan semuanya. Bersama Harabooji, Halmonim, Eomma, Appa dan Yoon Jae”
“aigoo.. memang kau mau bermain apa dengan kami semua..”
“apa saja. Dan aku ingin sembuh. Aku ingin menjaga Yoon Jae ketika ia sudah masuk sekolah kelak..” ku lunturkan senyum ku saat ia berkata itu. Aku berharap sama dengannya.
“Eomma..” panggilnya,
“emh.. wae?”
“aku ingin.. muntah..” jawabnya sigap menutup mulutnya sudah tak tahan. Membuatku bergegas cepat membawanya masuk kedalam.
-hyuk jae pov-
Hari ini aku harus menepati janji dengan Suzy. Sebagai tanda terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa Yoo Geun. Aku sebenarnya tidak bisa meninggalkan Yoo Geun yang tiba-tiba kembali jatuh lemah. Tapi aku juga tak bisa mengingkari janjiku begitu saja. Dengan pengertian sekenanya, aku pergi dari rumah sakit.
Ku lajukan mobil ku ketaman hiburan tengah kota. Suzy berulang kali menelpon ku, berharap kedatangan ku cepat. Aku pun sampai dalam waktu setengah jam saja. Aku masuk kedalam dan mencari mereka dimana. Tak jauh dari pintu masuk terdapat sebuah kedai makanan dan aku mendapatkan sosok yang ku cari. Selama ini aku tak pernah melihat rupa anak Suzy seperti apa. Aku terdiam sesaat, melihat sosok yang mungkin hampir sebaya dengan Yoo Geun, membuatku teringat, bukan kah itu anak yang memanggil Yoo Geun saat aku menjemputnya?
“Oppa.. yeogi..” panggil Suzy. Aku menghampirnya. Mengatur senyum dan mengatur sikapku hari ini. Ya hari ini saja.
-author pov-
Sang Jae duduk disamping Yoo Geun yang terlihat begitu pucat, sangat pucat. Tubuhnya tak lagi montok, pipinya yang chaby sudah menirus dalam waktu singkat. Matanya terlihat menghitam. Sangat buruk untuk dilihat dibandingkan dulu. Dengan setia dan perhatian Sang Jae hanya duduk manis menunggu keajaiban terbaik akan terjadi. Ditengah lamunannya menunggu Yoo Geun membaik, Eomma dan Appa Hyuk Jae dengan Yoon Jae datang membawa perlengkapan hari ulang tahun Yoo Geun. Ya, hari itu hari jadi bagi Yoo Geun yang ke 8. Tanpa Hyuk Jae sadari dan ingat jelas, bahwa ulang tahun Yoo Geun bersamaan dengan ulang tahun Gi Eul.
“Eomma.. wasseoh..” sapa Sang Jae sembari membantu membawa barang-barang
“eoh.. eottae? Apa anak mu sudah membaik..?” tanya Eomma khawatir
Sang Jae menggeleng, “aku berharap begitu. Tapi belum ada tanda-tanda dia akan pulih cepat. Dia sedang tidur sekarang..” jawab Sang Jae sekenanya.
“aigoo, uri adeul-ah.. kenapa nasib ini bisa menimpa dirinya yang masih sangat kecil.. ah..” sedih Eomma. Sang Jae hanya bisa membalasnya tersenyum simpul
“Hyuk Jae eodika? Kenapa dia tidak ada disini?” sela Appa yang menyadari tak ada keberadaan sang putra
“Hyuk Jae? Ah, dia bilang harus bertemu klien sebentar. Dia bilang ini masalah investasi..” jawab Sang Jae
“aeh, namppeun-nam.. disaat perihatin begini dia masih menyibukan diri dengan urusan lain..” rutuk sang Appa, “sudah biarkan saja anak bodoh itu bekerja. Kajja, kita siapkan ruangan yang hebat untuk Yoo Geun..” lanjutnya antusias.
Disisi lain, Gi Eul begitu bahagia merayakan ulang tahunnya. Dengan Hyuk Jae sebagai Ayah sehari untuknya. Walau dia tak tau itu. Hyuk Jae mencoba untuk ikut terhibur. Tak sekali dua kali Suzy meminta maaf karena ini. Hyuk Jae pun memaklumi.
Setelah hampir satu setengah jam lamanya. Ruangan yang begitu hampa dan hening untuk Yoo Geun sudah disulap begitu meriah. Banyak hiasan balon dan tulisan “Selamat Ulang Tahun’ untuknya. Kini waktu untuk mereka menunggu, menunggu Yoo Geun terbangun dan meniup lilin angka 8 diatas tart yang sudah disiapkan.
Sang Jae mulai cemas. Kalanya Hyuk Jae belum kembali, dan Yoo Geun tak kunjung bangun sejak sore kemarin. Detak jantung Yoo Geun berjalan begitu normal. Sang Jae menatap Yoo Geun lemah. ‘adeul-ah, cepatlah bangun.. semua sudah menunggu mu..’ umpat Sang Jae dihati.
Tit.. tit.. tit.. tak lama Sang Jae berharap. Alat detak jantung Yoo Geun berbunyi, membuat Sang Jae bingung juga cemas. Begitu pun yang lain, Eomma, Appa, mereka tak kalah bingung dan cemas.
“Yoo Geun-ah.. ya.. Lee Yoo Geun, ireona…” guncang Sang Jae gemetar. Nihil, Yoo Geun tak memberi reaksi. Tak lama dokter dan perawat pun datang dengan cemas.
“nyonya, tolong anda menunggu diluar dulu..” perintah sang perawat
“Yoo Geun-ah, dengarkan suara Eomma.. Yoo Geun-ah..” tolak Sang Jae yang mencoba melepas usiran sang perawat.
“Yoo Geun-aah…” teriak Sang Jae takut.
Malam sudah tiba cukup hampir larut. Sang Jae terduduk lemah, lemas, tak berdaya diujung lorong dari kamar Yoo Geun. Matanya sudah lelah menangis. Matanya hanya tertuju lemah kebawah luar kaca sana yang menampaki ramainya kehidupan kota Seoul yang megah. Hyuk Jae tak kunjung datang. Ponselnya mati ketika dihubungi. Sang Jae merasa sangat terpuruk, merasa sangat buruk menjadi seorang Ibu untuk Yoo Geun. Cerita kehidupan ini terlalu perih dan miris baginya. Suara tangis dan haru masih terdengar hingga telinganya.
Hyuk Jae membawa bungkusan berisi makanan. Senyumnya tak luntur hingga ia keluar dari lift yang membawanya ke lantai 9, kamar inap Yoo Geun. Suasana begitu hening, sepi, seperti tak berpenghuni. Sepintas itu mampu membuat bulu kuduk Hyuk Jae bangkit. Langkah diperlambat saat ia melihat sosok yang dikenalnya hanya duduk menatap luar kaca. Hyuk Jae pun mendekat, bukan, ia melangkah masuk kedalam kamar Yoo Geun yang sudah tak jauh. Detak jantungnya berpicu. Beradu sangat cepat. Dia melihat jelas Eommanya menangis disamping Yoo Geun yang masih dibiarkan. Wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi. Tak sedikit pun ada organ tubuhnya yang berkeja. Selamat Tinggal. Mungkin itu kata ucapan untuk menutup acara ulang tahun Yoo Geun ke 8 nya. Hyuk Jae mengendus gemetar, matanya melirik setiap sudut ruang yang masih meriah dengan hiasan-hiasan. Tart coklat yang sudah tertusuk lilin angka 8 itu hanya dipanjang ditengah ruang.
“Eommah..” panggilnya pelan, “Appa waegurae?” lanjutnya. Hatinya sudah tak bisa berkeja dengan baik, tidak bisa mencerna apapun dengan positiv.
“neo…!” rutuk sang Appa terlihat murka, “anak bodoh! Tolol! Dimana tanggung jawabmu sebagai suami, eoh? Kemana saja kau seharian ini? Kau tak tau? Kau tak melihat perjuangan anakmu disini? Perjuangan Sang Jae mempertahankan diri agar tetap tegar, tegar akan keyakinannya Yoo Geun akan pulih. Neo…”
“wae? Waegurae? Yoo Geun-ah waegurae?” tanyanya masih tak mengerti, matanya pun mulai memerah panas
“uri adeul-ah.. Yoo Geun-ah.. aigoo.. Yoo Geun-ah..” tangis sang Eomma menjadi. Hyuk Jae hanya mendesah lemah. Air matanya menitik panas. Dengan begini ia sudah bisa mencerna lagi, menyimpulkan semua yang terjadi. Hal yang paling bodoh tak terkutuk padanya saat ini, ia telah meninggalkan saat-saat terpenting untuk keluarganya. Bahkan ia melupakan hari jadi Yoo Geun untuk yang terakhir kali.
Siang hari dimusim semi begitu hangat. Sang Jae berjalan pelan mengintari bebatuan disekitarnya. Tak jauh dari ia berjalan, matanya sudah melihat 2 batu besar yang dipahat. Senyumnya terumbar lemah. Sang Jae mendekat. Ia datang membawa dua rangkaian buanga yang sama. Ia menaruh kedua rangkaian bunga itu sama satu disetiap pahatan batu itu.
“eottae? Apa bunga yang juga cantik?” katanya pada batu itu, “aku datang menjenguk kalian. Apa kalian baik-baik saja? Kalian mengingat ku?” katanya lagi. Tubuhnya bergetar, menahan tangis
“Yoo Geun-ah, bagaimana kabarmu sayang? Eomma.. Eomma sangat merindukanmu..” sapa Sang Jae tepat didepan kubur Yoo Geun yang bersampingan dengan Cheondung.
“kau bertemu dengan Appa disana? Kau bermain dengan baikkan dengan Appa?” kali ini Sang Jae tak bisa menahan air matanya
“ya.. Park Cheondung..” alihnya, “Yoo Geun-ie, sudah menyusulmu kesana. Kau harus menjaganya dengan baik. Jangan membuatnya bersedih, eoh? Aku… aku disini hanya bisa meratap rindu pada kalian..” lanjutnya sambil mengusap air mata.
“chah~.. aku harus kembali. Yoon Jae menunggu ku dirumah..” katanya berat untuk pergi cepat. Namun ia tak ingin menangis lebih banyak, “anyeong..” pamitnya melangkah pergi.
-sang jae pov-
Aku menyambut Hyuk Jae yang baru pulang kerja. Diikuti larian kecil Yoon Jae yang kini sudah berumur 2 tahun. Aku mengambil tas kerjanya dan menyambutnya dengan sedikit kecupan manis. Melihat Yoon Jae yang mengikuti langkahku, membuat Hyuk Jae gemas dan meraupnya dalam gendongannya.
“aigoo, anak Appa…” decaknya
“Appa..” panggil Yoon Jae
“emh, wae?” tanya Hyuk Jae
“Eomma hari ini membuatkan ku banyak kue, Halmonim juga datang menemani ku bermain dan blablabla…” dengan antusias Yoon Jae menceritakan kegiatannya hari ini. Hyuk pun hanya menanggapiya lucu..
Malam tiba. Yoon Jae sudah terlelap dikamarnya. Hyuk pun masuk setelah menimang putri kesayangannya. Aku meletakan buku yang ku baca dan meliriknya yang datang dengan wajah tak bisa ku artikan.
“waeyo? Apa dikantor sangat sibuk..?” tanyaku saat ia berbaring disampingku.
“emh, geurae.. kepala bagian keuangan hari ini kembali berulah..” aku hanya terkekeh mendengarnya. Walau dia sebagai direktur utama dikantornya, kepala bagian keuangan, Tuan Joo, sangat diperhatikan oleh Hyuk dan menganggapnya saingan terberat.
“yeobo..” panggilnya, “saranghae..” lanjutnya setelah mengecup lembut punggung tanganku. Aku hanya tersenyum lalu membelai rambutnya.
Sesaat kami terdiam namun sesekali bercanda. Tak lama ia menatapku dalam. Hyuk mulai mengubah posisinya duduk disampingku. Tanganku kembali dikecupnya, manis. Aku tersenyum malu. Ini terasa seperti kami adalah pengangtin baru. Hyuk menarik tengkuk leherku, membuatku berkedik geli. Dia mencium ku lembut. Ciuman yang jauh lebih lembut dan halus berbeda dari sebelumnya. Ku tarik tanganya melingkar dipinggulku, dan merapatkan tubuh kami lebih dekat. Ku lingkari tangan ku dilehernya. Nafasku beradu dengan nafasnya. Hyuk mulai menurunkan ciumannya ke leherku. Aku menekuk leherku geli, dia sangat senang memainkan titik lemahku. Tangannya mulai membuka kancing piyama yang ku pakai. Tek! Tanpa menghentikan ciuman dileherku, Hyuk mampu membuka semua kancing baju ku. aku membuka baju ku dan membuangnya. Hyuk memainkan dadaku, meremasnya lembut, membuatku mendesah lembut. Hyuk membukabengait bra ku. tatapanya sangat terpaku pada kedua dadaku. Tatapan yang seolah lapar dan haus akan nafsu. Sentuhan lembutnya mampu membuatku melayang. Lidahnya yang mulai mengecup dada ku dengan pandai memanjakan nipple ku, membuatku menggeliat nikmat. Tubuhku mulai jatuh, terbaring diatas tindihannya. Hyuk masih asik bermain dikedua dadaku. Kedua tangan ku memeluk kepalanya, sambil terus mendesah kecil. Jilatannya turun perlahan hingga perut ku, memberi tanda disekitar pusarku sambil menurunkan celana dan CD ku hingga terpampang sudah tubuh naked ku.
“yeppeoda..” katanya menatapku. Aku hanya tersenyum malu dengan wajah merona.
“berapa lama aku tak bermain dengan tubuh mu? Ah, aku merindukannya..” racaunya mengecup tiap inci badanku.
“lakukan apapun pada tubuhku..” balasku menggoda. Hyuk pun menampaki smirknya yang menggoda. Aku.. siap diperlakukan apapun olehnya.
(skip dialog)
“aahh… euhh.. yeobo-ah..” racauku menghimpit kepalanya dengan belahan pahaku. Hyuk kini menjilat nikmat liangku yang sudah basah keduakalinya. Jemarinya sudah mulai mengoyak isi liangku. Entah berapa banyak, tapi ini sungguh nikmat dan tetap sedikit perih.
“heemh… sshhss..” balasnya. Aku mengendus nikmat dan terus meracau..
Sentuhannya membuat ku naik birahi. Dadaku sudah kembang kempis dibuatnya. Namun aku menikmatinya, sangat menikmati sentuhannya. Dinding liang ku mulai berkedut cepat, segimana Hyuk mempercepat koyakannya didalam liangku.
“aah.. ahks.. aku.. keluar.. aahhh~~” desahku kuat panjang seraya cairanku keluar. Hyuk begitu siap menghisap kuat cairan itu hingga aku keluar lagi.
“aahh~..” desah ku pelan saat tubuhku bergetar puas. Nafasku tersengal pelan, Hyuk bangkit menghadapku dan melumat bibirku membagi cairanku yang tertampung di dalam mulutnya. Lidah kami bertaut, bertukar saliva begitu nikmat, mana kala Hyuk masih memainkan klitorisku lihai.
“buka baju mu..” rengekku manja sadar jika aku yang sedari tadi yang dimainkannya. Hyuk tertawa kecil geli, lalu membuka semua benang yang membalit tubuhnya. Juniornya begitu tegap, membuatku menatapnya geli.
“mau memanjakannya? Dia merindukan mu” ujarnya menggoda. Aku tersenyum simpul lalu bangkit mengarah juniornya. Ku kecup lembut, memijatnya, mengocoknya lembut.
“aahh.. ouh..” desah Hyuk membuatku mengulum juniornya. Aku mengulumnya dalam dan nikmat..
“ssshhss.. faster Jaghi.. ahh” racaunya mengacak lembut rambutku.
Matanya terpejam menahan nikmat. Ku percepat kuluman ku seraya terus mengocoknya, hingga akhirnya juniornya menegang sempurna dan siap mengeluarkan cairan cintanya. CROT! Berulang kali cairannya menyembur ronggaku dan ku telan separuh dan melumerkannya didadaku dengan nikmat. Nafasnya berpacu cepat, ku rebahkan tubuh ku. Hyuk tersenyum seduktif seraya menindih ku, mengecup bibirku berulang dan menujukan juniornya ke pintu miss v ku.
“akh.. ahh..” desahku saat separuh juniornya menerobos masuk
“waeyo? Apa (sakit)?” tanyanya khawatir
“ani.. euh.. palli joosaeyo..” jawabku pelan.
“aku akan melakukannya sekali hentak. De?” ujarnya, aku hanya mengangguk lemah.
“akhh~! Ahhh.. emmph..” teriakku saat Hyuk berhasil menyetakan juniornya
“ssstss, jangan membuat Yoon Jae terbangun. Aku tak mau ini berhenti ditengah jalan..” ujarnya lalu melumat bibirku lembut. aku mengalungkan tanganku dilehernya, membalas ciumannya,
“aahh.. ahh.. ahh.. euh..” desah ku. ciumannya menyebar keseluruh tengkuk wajahku, tanganya memeluk punggulku, sambil mulai menggenjot juniornya.
Genjotannya mulai cepat hingga ranjang tampat kami mengeluarkan suara decitan akibat goyangannya. Desahan dan racauan kami bercampur memenuhi kamar. Pelan namun nimat. Setelah hampir setengah jam Hyuk mengoyak juniornya di liangku, ku rasakan dinding vaginaku mulai menyimpit juniornya, berkedut cepat seakan siap menyemprotkan junior Hyuk dengan cairanku. Crot! Tak lama, aku pun mengeluarkan cairanku, nafasku tersengal, namun tak membuat Hyuk menjeda aktivitasnya, malah semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Menciptakan bunyi decakan karena liangku begitu basah. Juniornya mulai berkedut, genjotannya semakin cepat, desahan kami bercampur jadi satu, dimana hyuk terus mengenai titik rangsang ku, membuat ku kembali orgasme. “aakh… ahh.. akhss~” CROT! desah kami keras saat kami menyatukan cairan kami. Spermanya begitu banyak membasahi rahimku, membuat tubuhnya bergetar. Pelukannya begitu kuat dan begitu hangat.
Kami terdiam dalam hening dan lelah. Aku memeluk Hyuk erat, menyembunyikan wajahku didadanya. Hyuk pun demikian, memelukku erat dan lembut. Aku menyadari suatu hal. Aku mengikhlaskan segalanya yang kembali pada-Nya, termasuk Yoo Geun. Aku memaafkan kelalaian Hyuk Jae sebagai Ayah yang baik disaat-saat terakhir Yoo Geun dulu. Karena aku tau dan ingat satu hal. Aku mencintainya, mencintainya melebih apapun. Ego dan pikiran ku, ku tujukan semua padanya. Cerita ini akan ku tutup. Aku ingin menjalani hidupku yang normal. Bahagoa, tanpa ada beban pikiran dan derota sakit hati. Aku tak ingin sakit hati lagi. Cukup untuk cerita kehidupan gila ku. karena aku, juga manusia, manusia yang mempunyai masa depan yang indah. Indah bersama suami dan anak ku.
-the end-

Fc Populer:

  • Risa Yunita

    HALO GUYS! DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI, WALAU INI POSTINGAN LAMA, TETAPI SAYA SELAKU AUTHOR DARI FF INI SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MERASA DAPAT IZIN UNTUK DI REPOTS. SAYA AKAN UCAPKAN TERIMAKASIH, KALAU ANDA DENGAN BAIK HATI MENGHAPUS POSTINGAN INI. SEKIAN. (P.S : NAMA J.C.J SAYA RUBAH SEJAK SAYA POSTING TULISAN INI DI BLOG PRIBADI SAYA)

%d blogger menyukai ini: