Marry Me Please

0
Kyuhyun Donghae
1. Author : Lee Hye Sun
2. Judul : marry me please~~~
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
Lee Min Rin
Cho Kyu Hyun
Cho Ah Ra
Lee Hyuk Jae
Lee Dong Hae
Sebuah bantal dengan mulusnya mendarat diwajaku yang sedang menatap layar televisi.

“yaa~ oppa!!! Waegeurae?!!!!!!!!?” dengan sebal aku kembalikan bantal yang terlempar tadi kearah Hyuk Jae oppa.

“kau tidak kencan hari ini dengan si marga Cho itu??”

“kenapa sih selalu memanggilnya bermarga CHO?? Geu ileumeun Cho Kyu Hyun (namanya adalah Cho Kyu Hyun),” aku merajuk sebal

“geunyang~ aku lebih suka memanggilnya seperti itu.” Dengan malas Hyuk Jae oppa menghempaskan badannya di sofa.

“kau sendiri tidak berkencan lagi dengan yeoja-yeoja?”

Hyuk Jae oppa memasukan popcorn kedalam mulutnya, “lama-lama jadi membosankan!”

“wae?? Karena kau tidak mendapatkan yeoja-yeoja?? Dan selalu kalah bersaing dengan Dong Hae oppa dan Si Won oppa??” aku tahu kurang lebih tebakanku hampir mengenai sasaran.

“anni~ hanya saja mencari yeoja tidak lagi menjadi minat ku sekarang ini.”

“lalu yang menjadi minat mu saat ini apa??”

“mencari tahu kenapa minggu kemarin kau telat sekali pulang dari rumah Kyu Hyun?” Hyuk Jae oppa melemparkan tatapan penuh spekulasi dan selidik.

Otomatis aku tersedak dan batuk-batuk, membuat Hyuk Jae oppa semakin memandangku dengan penuh rasa curiga. “wae gabjagi oppa?? (kenapa kau tiba-tiba)”

“wajahmu merah seperti tomat rebus membuat aku curiga~~~~~~”

Cengiran iseng dengan jelas terpampang diwajah tampan Hyuk Jae oppa, dan aku tahu ternyata dia hanya memancing ku untukku bercerita lebih lanjut~ “yaa~ oppa!!!!” dengan sekuat tenaga aku melempar bantal kewajahnya yang sedang nyengir dengan lebarnya.

Hyuk Jae oppa tertawa bahagia, membuat aku ingin mencakar wajahnya. “geundae (tapi) mana pria bermarga Cho itu?? Aku jarang melihat kau pacaran dengannya. Apa jangan-jangan kalian sudah putus yah” Dengan sebal aku mencubit pinggang Hyuk Jae oppa, dan dia pun meringis kesakitan. “habisnya aku jarang melihat dia datang kerumah lagi semenjak kau diantar pulang malam-malam itu.”

“Kyu Hyun sedang mengerjakan tahap akhirnya, jadi waktu dia untuk bersama ku praktis berkurang.” Tanpa sadar aku melihat layar handphone, tidak ada satu pun panggilan masuk atau sekedar sms.

“hari ini dia belum menghubungimu yah??” aku melihat Hyuk Jae oppa menjulurkan lehernya untuk ikutan melihat layar handphone ku. Aku menggeleng, “hari ini kan hari sabtu, dia tidak mengajakmu kencan??” tanpa sadar aku menarik nafas, “apa dia jangan-jangan punya yeoja lain??”

“OPPPAAAAA!!!!!!! Senang sekali kau melihat aku patah hati!!!”

“anniyo~ geunyang… (hanya saja) kalau memang dia tidak menghubungi mu, kenapa tidak kau saja yang menghubunginya?? Pacaran itu kan adalah komunikasi dua arah.”

“oppaa~ sepertinya kau ahli mengenai pasangan tapi kenapa sampai sekarang kau belum punya pasangan?”

“issshh~~!!!” dengan sebal Hyuk Jae oppa meninggalkan ku sendiri.

Memang pacaran itu adalah komunikasi dua arah, tapi beberapa hari terakhir ini kau merasakan kurangnya komunikasi antara aku dengan Kyu Hyun. Dikampus dia selalu sibuk mengejar dosen pembimbingnya, sedangkan aku sibuk mencari data untuk bahan tahap akhirku. Saat aku pulang Kyu Hyun pun harus tetap tinggal diperpus mencari data-data lanjutan, dan malamnya kalau aku telpon dia sudah tidur. Begitu terus hampir setiap hari, beda dengan dulu, sesibuk apapun Kyu Hyun pasti dia menyempatkan menanyai kabarku. Dikampus saja hanya bisa say hallo dan itu pun hanya bisa papasan sebentar saja.

Dengan perasaan bimbang bercampur tidak pasti aku kembali menatap layar handphone dan memberanikan diri menekan nomor Kyu Hyun. Tersambung. Hening. Menunggu. Tidak ada jawaban. Selalu seperti itu. Kutekan kali ini nomor handphone Ah Ra eonnia. Tersambung. Kali ni tidak perlu menunggu lama untuk menunggu jawaban karena suara renyah Ah Ra eonnie sudah terdengar dari sebrang.

“waeyo, Min Rin-ya?” tanpa perlu berbasa-basi, tanpa perlu mengucapkan hallo. Itulah Ah Ra eonnie. “kau mencari Kyu Hyun lagi?” dan langsung tepat pada sasarannya.

“ne~~” entah kenapa dengan Ah Ra eonnie membuat ku lebih mudah untuk bercerita, mungkin karena kami sama-sama yeoja beda dengan Hyuk Jae oppa. Tanpa sadar aku menghela napas yang sepertinya terdengar sampai ketelinga Ah Ra eonnie. Tajam sekali pendengarannya.

“gwaenjhana??” nadanya terdengar sedikit khawatir.

“gwaenjhanayo. eonnie sedang latihan yah?” aku mendengar suara music mengalun

“sedang break kok~ apa yang mau kau ceritakan? Marhae (ceritalah)”

Aku diam sejenak, “kegeo (itu). . . . . “ tetap saja susah mau bertanya tentang namdongsaengnya.

“aahh~ uri namdongsaeng (adik laki-lakiku). Dia sedang sibuk. Aku saja sulit menemuinya dirumah. Aku pergi dari rumah dia masih tidur saat aku pulang dia belum pulang. Kau juga kesulitan menghubunginya yah?”

“ne~ telponnya tidak pernah diangkat.”

“dia sering meninggalkan telponnya dirumah. Sering sekali ketinggalan dimeja makan. Kalau hari ini aku tidak tahu ketinggalan atau tidak.”

“ahhh~ georugeuna (ahh, jadi seperti itu)”

“Ah Ra-sshi” terdengar suara dari jauh memanggil Ah Ra eonnie, “Min Rin-ya, sudah dulu yah aku harus latihan lagi.”

“ne eonnie, gomawoyo.”

“ne~~ neo geogjeong hajimaaaaaa~~ (kau jangan terlalu khawatir) byee~”

Telpon terputus.

Pacaran membawa dampak tidak baik sepertinya. Terlalu sering dihantui perasaan tidak menentu dan tidak jelas. Tanpa berpikir panjang aku mengganti baju ku dan siap-siap kekampus. Memang hari ini kampus libur namun perpustakaan tetap dibuka sampai jam 7 malam. Aku yakin saat ini Kyu Hyun pasti sedang berkutat dengan buku di perpustakaan. Tidak ada salahnya kan aku mendatangi dia.

Kampus sepi. Jelas! Kan hari ini libur. Walaupun libur ternyata perpustakaan masih tetap seramai biasanya. Dengan mudah aku mendapatkan Kyu Hyun duduk dipojokan sambil menutup telinganya dengan headset, mungkin orang awam tidak akan mengenalinya dengan mudah karena hampir sebagian besar mejanya tertutup dengan buku yang hampir setingi wajahnya. Aku dengan mudah dapat mengenalinya lewat punggungnya.

Sepertinya dia tidak sadar aku mendatanginya. Dengan lembut kusentuh bahunya, Kyu Hyun pun menoleh seketika. Dia tersenyum lelah, wajahnya kuyu dan matanya ada lingkaran hitam.

“gwaenjahan??” aku menempelkan dagu diatas bahunya, mengintip hasil karya Kyu Hyun dilaptopnya.

Dengan lembut Kyu Hyun mengacak-acak rambutku, “neo waeyo waseo? (Kau kenapa datang)” aku menghirup sebanyak-banyaknya aroma tubuh Kyu Hyun, ternyata aku begitu merindukannya. Dan perhatian lembut yang barusan Kyu Hyun lakukan membuat aku hampir menangis terharu.

“bogosiepo~” tanpa berpikir panjang aku mengecup sekilas pipinya. Padahal aku biasanya malu untuk memamerkan kemesraan kami depan public, tapi entah kenapa aku ingin sekali dia tahu bahwa aku begitu merindukannya.

Sepertinya Kyu Hyun sudah tidak kaget lagi dengan aksiku yang tiba-tiba mengecup pipinya. Walaupun aku tidak melihat wajahnya, aku sangat yakin saat ini Kyu Hyun sedang tersenyum senang.

“mian, aku begitu sibuk persiapan sidang final.” Wajahnya begitu penuh penyesalan, seperti wajah seorang anak kecil yang enggan untuk memakan makan siangnya.

Dengan lembut aku memijat bahunya dan mengambil tempat duduk tepat disampingnya. “masih banyak yang mesti diriset?” aku melihat begitu banyak buku terbuka didepannya. Dia mengangguk lemah. “gweanjhana~ aku temani kau sampai selesai. Lagipula sudah lama kita tidak pacaran diperpus. Ingat pertemuan kita diperpus dulu?” aku tersenyum penuh kenangan.

“yang bukumu tanpa sengaja kena liurku itu??” wajah Kyu Hyun sudah tidak selelah sebelumnya, sepertinya ada bagusnya juga aku datang, aku tersenyum dalam hati.

“bukan tanpa sengaja! Tapi memang kau tiduri dan liur mu menetes disituh!”

Kyu Hyun terkekeh pelan, “gomawo~” ucapnya tiba-tiba dan membuat aku kaget.

“mwoga?”

“mau datang kesini menemaniku. Kepalaku sudah mau pecah rasanya. Geundae (tetapi) kenapa datang tidak menelpon dulu?”

“itu yang mau kutanyakan kepadamu! Kemana kau ku telpon tidak diangkat-angkat?”

“jinja?? Ku tidak mendengar bunyi telpon berbunyi?”

“bagaimana mau mendengar kalau telponnya kau tinggalkan diatas meja makan?”

“aissh~ kenapa aku jadi pelupa begini! Sidang akhir membuat aku stress sendiri.”

“hwaiting!! Neo halsuiseoyo! Nal mideoyeo. (semangat, kau pasti bisa. Percayalah kepadaku)” ingin rasanya saat ini aku memeluk Kyu Hyun untuk meringankan beban yang dia tanggung saat ini.

“ahhh~ jagiyaaaaa~~~ gomawoyoooooooooo~” Kyu Hyun menarikku kedalam pelukannya, membuat aku terkejut dan hampir terjatuh dari kursi yang aku duduki dan hampir semua orang yang ada didekat kami melihat dengan pandangan aneh.

Aisshh,, kenapa si Kyu Hyun mulai lagi dehhh!!

“yaaa~~ Cho Kyu Hyun, neol……. (kauuuu……)” ucapan ku terputus saat Kyu Hyun mengecup bibirku sekilas, hanya sekilas dan sesaat namun sanggup membuat ku terbungkam penuh kejut.

Aku limbung saat Kyu Hyun melepaskan pelukannya dan aku mundur dengan otak kosong, tidak bisa berfikir dan tak dapat marah. Senyuman evil Kyu Hyun yang terpampang dengan jelas diwajahnya membuat aku menatapnya dengan bingung.

“baru aku kasih kecupan begitu saja sudah limbung, bagaimana kalau aku melakukan apa yang kemarin ini kita lakukan.” Senyuman evil Kyu Hyun semakin terpampang jelas.

“aku kesini bukan untuk mendapat olok-olokmu!” aku merajuk sebal

Kyu Hyun tertawa lepas, sehingga beberapa orang menyuruhnya diam. Sekarang gantian aku yang ingin tertawa melihat ekspresi Kyu Hyun, namun kalau aku tertawa nanti bisa-bisa kami diusir dari perpustakaan. Lagipula aku juga menahan tawa karena Kyu Hyun menatapku tajam dengan matanya yang menyuruhku jangan menertawakan dirinya.

Pagi ini ketika bangun dari tidur aku merasakan semangat yang baru. Seperti terbebas dari beban yang selama ini menghimpit. Tanpa kusadari aku mulai bersenandung kecil.

“sepertinya kau sedang bahagia,” aku tidak memperdulikan nada menyindir dalam ucapan Hyuk Jae oppa.

“geuroommm~~~ (tentu saja)” aku masih bersenandung kecil saat mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai keju kesukaanku.

“berati kau tidak jadi putus dengan si bermarga Cho itu yah.”

Aku melemparkan tatapan sebal kearah Hyuk Jae oppa, berharap tatapanku dapat membunuhnya. “carilah yeoja chingu agar kau tidak terus mengganggu ku oppa!!”

“eomma~~” Hyuk Jae oppa merajuk menjijikan seperti anak TK, “lihatlah putri kesayanganmu itu selalu memojokkanku.”

“geuman~ (berhentilah)” eommaku hanya dapat tersenyum melihat tingkah menjijikan putra kesayangannya. “kau juga berhenti menggoda adikmu.”

Aku melemparkan tatapan penuh kemenangan kearah Hyuk Jae oppa, “geurigu neol, Lee Min Rin (dan kau juga, Lee Min Rin) berhentilah menggoda oppa mu.” Kali ini Hyuk Jae oppa yang melemparkan tatapan penuh kemenangan ke arahku. Menyebalkan!

Tetapi aku tidak mau merusak pagi indah ini dengan gangguan tidak penting dari Hyuk Jae oppa. Hari ini Kyu Hyun berjanji akan menjemput aku untuk pergi bersama ke kampus, namun sudah siang seperti ini belum ada kabar kalau dia sudah sampai.

“tumben kau belum pergi,”

“wae? Oppa mau menghantar aku kekampus?”

“naega wae?? (kenapa aku?) shirro!! Kau minta jemputlah sama namja chingumu itu.”

“sudah, tapi dia belum sampai-sampai juga.”

“mungkin dia sedang menghantar dan menjemput yeoja chingunya yang lain.” Hyuk Jae oppa nyengir lebar sambil memperlihatkan gusinya.

“yaa!! Oppa!! Neol geumanhae!! (kau berhentilah)”

Hyuk Jae oppa hanya tertawa senang diatas kesebalanku! Aku mencoba menelpon Kyu Hyun, lagi-lagi tidak diangkat. Mungkin dia sedang menyetir makanya telponku tidak diangkat. Ini harus aku tunggu atau aku pergi sendiri kekampus? Karena aku juga ada janji dengan dosen pembimbing pagi ini, mana dosennya selalu sibuk kalau mau buat janji. Naik bus atau subway tidak mungkin dapat terkejar, pasti juga telat. Mau tidak mau aku harus berbaik hati dengan Hyuk Jae oppa agar aku dapat dihantar kekampus.

“oppa~ kau belum ada kegiatan kan pagi ini? Hantar aku kekampus yah. Jaebal.” Aku mencoba mengeluarkan seluruh aegyo yang aku miliki.

“naega wae?”

Aku menarik nafas, “aku mengejar dosen pembimbing, dia susah sekali ditemui. Jaebal jom.”

“arraseo, arraseo. Aku hantar, tapi kau harus belikan aku pancake strawberry dengan ice cream diatasnya.”

Isshh~ kesempatan sekali dia meminta begitu. Tetapi mau bagaimana lagi, kalau aku tidak aku bisa-bisa harus menunggu 10 hari lagi untuk bertemu dengan dosen pembimbing saja.

“arraseo. Naega modeun geoljuge (aku berikan semuanya).”

“naah~ begitu dong, baru yeoja dongsaeng kesayangan ku.”

Aku mendengus sembari membereskan keperluanku, “kita berangkat sekarang.”

“kau tidak perlu aku jemput kan?” Hyuk Jae oppa bertanya saat kami sudah sampai.

“eoh~ nanti aku pulang naik bus saja.”

“tidak bersama Kyu Hyun?”

“molla! Sudah aku sudah telat ini.”

Aku langsung pergi meninggalkan Hyuk Jae oppa sebelum dia kembali mengolok-olokku lagi. Kyu Hyun aku telpon-telpon masih tetap tidak diangkat. Mau telpon Ah Ra eonnie aku malu mesti menghubungi dia terus. Awas saja kau Cho Kyu Hyun, jugeosseo!!! Dengan sebal aku melemparkan handphone dengan asal masuk kedalam tas.

Aku berhenti berjalan saat mataku menangkap sosok Cho Kyu Hyun sedang asyik tertawa dengan beberapa yeoja. Betul itu pasti Kyu Hyun, aku tidak mungkin salah. Tetapi kenapa dia berada disini dan bukannya menjemputku? Kenapa juga dia tidak mengangkat telpon dariku. Tidak peduli dengan dosen pembimbing yang hanya dapat ditemui 10 hari sekali, aku berjalan bergegas menghampiri Kyu Hyun yang sedang hahahihi.

“Kyu Hyun-ah.”

“Min Rin-ah, onjae waeso?” pelan-pelan yeoja-yeoja ini pergi meninggalkan aku dan Kyu Hyun.

“telpon mu tertinggal lagi?”

“ehh??” Kyu Hyun mengaduk-aduk isi tasnya dan akhirnya menemukan handphonenya entah dimana. “mian, aku tidak tahu.” Wajahnya menunjukan ekpresi menyesal ketika tahu berapa banyak aku menelponnya.

“dan kau janji akan menjemput aku dirumah namun kau tidak datang?”

“kkamppag haetta (aku lupa)”

Mau marah aku sudah tidak punya tenaga untuk marah, mau kesal sudah tidak tahu seberapa kesalnya aku saat ini.

“apa sih yang terjadi dengamu akhir-akhir ini? Selalu saja susah dihubungi, selalu saja tidak pernah memberi kabar, selalu saja lupa dengan janji yang sudah diucapkan.”

“mianhae Min Rin-ya, sepertinya sidang akhir betul-betul membuat aku stress.”

“dan kau melupakan diriku?” baru aku sadar betapa lelahnya aku saat ini, “aku mau bertemu dengan dosen pembimbing dulu.”

Tangan Kyu Hyun menangkap lenganku saat aku hendak meninggalkannya. “aku akan menunggumu disini.”

“maemdaero haeseoyo (sesukamulah)” jawabku pelan.

Dan benar saja Kyu Hyun menungguku sampai aku selesai bertemu dengan dosen pembimbing.

“aku hantar kau pulang.”

“bukannya kau masih banyak urusan ya?”

“naega jalmoshaesseo (aku yang salah), mianhada Min Rin-ah.”

“aku tidak mengenal dirimu untuk beberapa hari belakangan ini, aku seperti pacaran dengan sosok asing. Aku rela menelan olok-olokkan dari Hyuk Jae oppa, hajiman (tetapi) batas pengertianku sepertinya sudah berakhir.”

“Min Rin-ya, kau mau kemana?” Kyu Hyun menahan tanganku

“pulang dengan bus.”

“aku hantar.”

“dwaeso! Aku bisa pulang sendiri, sama seperti tadi datang bisa datang sendiri.”

“heiii~ Lee Min Rin.” Seseorang yang disana sedang melambai-lambaikan tangannya kepadaku.

“nugusaeyo?? Dong Hae oppa!!!” aku menyentakan tangan Kyu Hyun dan berlari menemui Dong Hae oppa. “oppa~ neol wae yeogiisseoneundae (kenapa kau bisa disini?)” aku tersenyum lebar.

Dong Hae oppa pun tersenyum dengan manisnya, ahh~ senyumannya membuat kekesalanku mencair seketika. “geunyang, ice cream meoggo sipeo? (kau ingin makan escraem?)”

“eoh~!! Gaja, oppa.” Tanpa melihat Kyu Hyun yang sedang berdiri memperhatikan kami, aku langsung masuk kedalam mobil Dong Hae oppa.

Kyu Hyun poffs

Aku tahu kalau akhir-akhir ini aku sering menelantarkan Min Rin, aku berharap Min Rin mengerti dengan kondisiku saat ini.

“lihat saja, kalau kau masih seperti ini, suatu hari nanti Min Rin akan meninggalkanmu!” ucap Ah Ra eonni.

“mana mungkin.”

“kau tunggu saja, yeoja mana yang tidak gerah dan kesal diperlakukan seperti sekarang kau memperlakukan Min Rin”

“tapi Min Rin, tidak begitu.” Ucapku tetap keras kepala.

“suatu hari nanti dia pasti meledak juga. Salut dengan Lee Min Rin yang masih kuat dengan tingkahmu itu!”

Seperti Ah Ra noona katakan, akhirnya dia meledak juga. Dan aku tidak siap dengan ledakan Min RIn yang begitu tiba-tiba dan ada sosok Dong Hae Hyung yang sepertinya pernah ditaksir sama Min Rin. Mana pernah Min Rin terang-terangan sok manja seperti itu, tidak denganku tidak juga dengan Hyuk Jae Hyung, selama ini aku tidak mengira Dong Hae Hyung bisa menjadi ancaman untukku.

Kenapa juga Dong Hae Hyung harus datang disaat Min Rin sedang marah denganku, ini betul-betul menyebalkan. Ini sepertinya aku harus menyusun strategi. Tetapi aku tidak bisa berpikir tentang apapun kalau yang aku ingat hanyalah wajah Min Rin yang dengan senangnya pergi bersama Dong Hae Hyung! Alangkah bagusnya kalau aku tahu kemana mereka berdua pergi!

“tumben sekali kau jam segini ada dirumah.”

“noona, juga tumben siang-siang begini ada dirumah.” Aku merebahkan diriku di sofa

“tidak datang bersama Min Rin?”

“anni~ dia pergi bersama dengan Dong Hae Hyung,” tanpa sadar aku berbicara dengan nada kesal.

“sepertinya kau kesal tahu mereka pergi bersama.” Dan kenapa juga aku menangkap nada suara senang dalam ucapan Ah Ra noona.

“Dong Hae Hyung datang saat Min Rin sedang marah denganku tadi!” nada suaraku semakin bertambah kesal.

“kenapa Min Rin marah padamu?”

Aku menarik nafas sebelum akhirnya duduk, “Min Rin marah padaku karena tadi pagi aku lupa kalau aku janji menjemputnya, dan dia menemukanku sedang tertawa-tawa dengan yeoja-yeoja dikampus.”

“nah kan~ akhirnya kau membuat dia kesal juga. Lupa menjemput dan akhirnya menemukanmu bersama yeoja. Dan sehabis itu datanglah Lee Dong Hae tanpa diduga?? Waaahh~~ hebat sekali.”

“noona~ berhentilah mengolok-olokku, bagaimana caranya agar aku mendapatkan maaf darinya?”

“dulu kau bisa mendapatkan hatinya, masa sekarang kau mendapatkan maaf dari dia saja sulit.”

“dulu aku tidak punya pesaing, skr ada DongHae Hyung.”

“berhentilah merajuk! Dengan merajuk kau akan membuat Min Rin masuk kedalam pelukan Lee Dong Hae.”

“maldo andwae!!”

“minta maaflah padanya baik-baik.”

Lee Min Rin masuk kedalam pelukan Lee Dong Hae!!! Jeoldae andwae!! Jeoldaero!! Aku harus membuat Min Rin kembali padaku. Tanpa banyak berpikir aku langsung menuju rumah Min Rin. Tidak ada orang dirumah. Beberapa kali aku mencoba membunyikan bel tidak ada yang menjawab. Min RIn aku telpon juga tidak diangkat, Hyuk Jae Hyung aku telpon juga tidak diangkat, kenapa kakak adik bisa kompak seperti ini. Apa jangan-jangan Min Rin masih bersama Dong Hae Hyung? Aissshh~ sudah berapa lama mereka bersama kalau gituh? Dong Hae hyung juga seharusnya kan sadar kalau Min Rin jangan dihantar pulang malam-malam! Masih dengan sebal, akhirnya aku memilih menunggu Min Rin pulang dalam mobil.

Tiga puluh menit berlalu dan Min Rin belum pulang juga. Tetap tidak mau mengangkat telpon dariku, apa jangan-jangan dia mencoba membalas perbuatanku selama ini? Batas kesabaranku hampir habis. Dari kejauhan ada sebuah mobil yang menuju kearahku, berdoa dalam hati itu Min Rin, dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak memukul wajah Lee Dong Hae. Benar saja itu Min Rin dan Dong Hae Hyung, Min Rin tersenyum senang, seperti yeoja yang diajak kencan oleh namja chingu!! Ehhhh~ apa dia pernah sesenang itu kalau bersamaku?

Aku keluar dari dalam mobil tepat saat Min Rin dibukakan pintu mobil oleh Dong Hae Hyung. Tiba-tiba aku diselimuti perasaan ingin sekali menyingkirkan Lee Dong Hae jauh-jauh dari Min Rin.

“dari mana saja kalian?”

Saat melihatku senyum yang tadinya tergambar jelas diwajah Min Rin langsung hilang lenyap.

Kyu Hyun poffs End

Aku sebal dengan Kyu Hyun! Semudah itu ia bisa melupakan janjinya kepadaku! Sibuk boleh sibuk tapi kan tidak sampai dengan mengabaikan aku seperti itu. Biarkan saja dia rasakan aku marah! Mau tahu sampai mana usaha dia mengambil hatiku.

“bukannya tadi itu Kyu Hyun, neol namja chingu.”

“eoh~”

“kalian bertengkar yah?” Dong Hae oppa tersenyum sambil menyetir, aku mendengus sebal.”ahh~ kalian ini anak muda, sudah berapa lama yah aku tidak pacaran.”

“bukannya oppa sedang pacaran dengan uri oppa?”

“maksudmu Lee Hyuk Jae!!!!???!!!!” aku mengangguk sambil tertawa! Dong Hae oppa pun nyengir lebar, “aku dan dia hanya membuat kenangan manis diantara kami berdua.” Mau tidak mau aku akhirnya tersedak. Lebih baik tidak bertanya macam-macam dan selanjutnya kalau jawabannya seperti itu. “sampai. Kau pesen saja dulu, aku parkir mobil.”

“eoh~ arraseo.”

Aku memesan dua ice cream ukuran sedang untuk kami masing-masing. Dan Kyu Hyun pun tidak berhenti-berhenti menelponku.

“anhbada?? (tidak diangkat telponnya?)” Dong Hae oppa menarik kursi dan duduk dihadapanku.

“geunyang~~”

“masih marah dengan Kyu Hyun??” Dong Hae oppa menyuapkan ice cream kedalam mulutnya.

“molla~ aku hanya kesal oppa.” Entah kenapa aku malah bercerita tentang masalahku dengan Kyu Hyun kepada Dong Hae oppa, rasanya begitu mudah bercerita kepadanya, semuanya mengalir begitu saja. Berbeda rasanya kalau aku bercerita dengan Hyuk Jae oppa, pasti aku diolok-oloknya, tapi tidak begitu dengan Dong Hae oppa, dia mendengarkan dengan sabar tanpa mengolok-olok dan dia juga memberikan solusi. “sebetulnya, aku tidak marah karena melihat dia dengan yeoja, namun aku kesal karena dia begitu mudahnya melupakan janjinya kepadaku. Bukannya aku tidak mengerti keadaannya kali ini, namun….”

“kau tetap membutuhkan perhatian dari Kyu Hyun??” kenapa Dong Hae oppa bisa dengan mudah menebak arah hati dan pikiranku.

“yah~ kurang lebih seperti itu oppa.” Kyu Hyun tidak henti-hentinya menelponku dan aku sedang malas berbicara dengannya. Mungkin besok tapi tidak malam ini. Lagipula kan dia tau aku sedang bersama Dong Hae oppa, jangan-jangan itu yang membuatnya tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu, eehhh~~ kenapa otakku tiba-tiba berfikiran sesuatu yang jail yah. Tanpa sadar senyuman evil ala Kyu Hyun tercetak jelas diwajahku.

“kenapa kau tersenyum menyeramkan seperti itu?”

“oppa~ aku minta bantuanmu.” Aku tersenyum “menyeramkan” seperti yang Dong Hae oppa katakan.

Seperti dugaanku sebelumnya Kyu Hyun pasti menungguku, benar saja dia sudah ada diepan rumahku menunggu kepulanganku. Aku langsung pasang wajah cemberut ketika Kyu Hyun menghampiriku dan Dong Hae oppa, wajah Kyu Hyun tidak kalah cemberutnya dengan wajahku.

“kau pulang malam sekali,” tukas Kyu Hyun tanpa perlu repot-repot menyapa Dong Hae oppa terlebih dahulu.

Dengan malas aku pura-pura melihat jam tanganku, yang sebetulnya aku tahu pukul berapa sekarang ini. “eoh.”

“nan meonjeo ga, naeil boja (aku pulang dulu sampai bertemu besok.) ” Senyuman Dong Hae oppa sukses membuat lututku lemas.

Aku tersenyum semanis mungkin, “eoh~ arraseo, naeil boja (sampai besok).” Dong Hae oppa mengangguk sekilas kearah Kyu Hyun dan Kyu Hyun hanya berdiri sepertinya mencoba sebisa mungkin untuk menahan amarahnya. Dan aku tidak perduli dengan kemarahan Kyu Hyun saat ini.

“aku tidak suka kau tersenyum seperti itu padangnya!!” suara Kyu Hyun sarat kecemburuan.

“tersenyum seperti apa?” tanyaku pura-pura bodoh

“seperti kau adalah yeoja chingunya! Hajiman (tetapi) besok kau janji bertemu lagi dengannya?”

“dia berjanji mengantarku kekampus pagi-pagi.”

“tetapi besok aku juga bisa mengantarmu!” Kyu Hyun mengekor dibelakangku saat memasuki rumah.

“dan kau akan lupa lagi dengan janjimu itu?” aku menyalakan lampu, karena sepertinya hanya aku yang baru sampai dirumah. “lagipula, aku tidak bisa menolak niat baik Dong Hae oppa.”

“kali ini aku janji tidak akan lupa,” suara Kyu Hyun mulai sedikit merajuk, dan aku tetap tidak perduli.

“ohya?” tanyaku sinis sambil melemparkan tasku ke sofa dan duduk disitu sambil melihat Kyu Hyun yang sudah siap meledak. “smsku tidak pernah dibalas, telponku tidak pernah diangkat dan kau sudah mulai tidak menanyakan kabarku, aku juga sulit mencari tahu tentang keberadaanmu dan harus menelpon Ah Ra eonie untuk mendapatkan informasi. Dan sekarang kau datang kesini marah-marah hanya karena aku sedikit bersenang-senang dengan Dong Hae oppa??”

“naega jalmoshaesseo (aku yang salah), aku berjanji tidak akan terulang,”

“dwaesoyo! Aku lelah, sebaiknya kau pulang saja.” Aku berdiri hendak meninggalkan Kyu Hyun, sekali-kali namja sok tampan itu memang harus diberi sedikit pelajaran!

“Min Rin, Lee Min Rin!!”

Author poffs

“kenapa kau teriak-teriak dirumah orang??!!??” Hyuk Jae sepertinya baru saja datang. “dan kenapa juga nae dongsaeng meninggalkanmu sendirian disini? Sudah beberapa hari terakhir ini dia galau karena kau tidak pernah menghubunginya, tumben-tumbenan sekali dia mengacuhkanmu.”

Kyu Hyun menarik nafas dan duduk lagi di sofa, “berikan aku air Hyung, aku kan tamu disini.”

“aigoo!! Sejak kapan kau jadi tamu dirumah ini semenjak kau sudah menganggap ini rumahmu sendiri.” Sambil main-main Hyuk Jae melemparkan bantal sofa ke kepala Kyu Hyun dan langsung ditangkap dengan sigap oleh Kyu Hyun. “ada apa kau dengan nae dongsaeng? Kau diputusin Min Rin??!!??” Hyuk Jae tersenyum jahil sambil memamerkan deretan gusinya.

“HYUUUUUUUUUUUUUUUUNNNNNNNNNNGGGGG!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Sepertinya kau ingin sekali aku putus dengan Min Rin!!!!”

Hyuk Jae tertawa, “persis seperti itu reaksi Min Rin saat aku goda kau sudah meminta putus darinya. Kalian ini kenapa sih? Kemarin Min Rin yang uring-uringan, sekarang kau yang seperti orang mau mati saja.”

“bagaimana aku tidak mau mati Hyung, kalo Min Rin lebih memilih dijemput oleh Dong Hae Hyung dibandingkan aku namja chingunya.”

“ohya?? Kenapa bisa nae dongsaeng bisa dijemput oleh si Dong Hae?”

“aku lupa menjemput dia pagi ini dan dia marah padaku dan tiba-tiba saja Dong Hae Hyung datang kekampus dan mereka pergi berdua dan baru saja pulang malam ini.”

Hyuk Jae terkekeh, “hati-hati kau Kyu Hyun, Min Rin pernah naksir setengah mati dengan Dong Hae.”

“HYUNG!! Jangan menakutiku seperti itu!!”

“naega onjae!!! (kapan aku melakukannya?) aku mengatakan yang sebenarnya!” Hyuk Jae meluruskan kakinya, “apakah kau memperhatikan setiap kali Min Rin melihat Dong Hae wajahnya akan seperti orang bersinar? Dan dia menatap Dong Hae dengan penuh kekaguman? Dan dia selalu tersenyum?”

Jantungku mencelos! Seperti itulah saat Dong Hae datang kekampus, jadi Min Rin benar-benar menyukai Dong Hae Hyung dan tidak berubah sampai sekarang, bahkan saat dia sudah memiliki namja paling tampan seperti aku?

“Hyung, neol jigeum jangnan anniya? (kau tidak sedang bercanda kan?)”

Hyuk Jae terkekeh, “kau takut kalah bersaing dengan Dong Hae?? Namja yang diam-diam sudah hampir delapan tahun dikagumi nae dongsaeng?”

Mwo!!!! Delapan tahun!! Kyu Hyun merutuk pelan dalam hati. “tapi saat ini kan dia sedang berpacaran denganku , Hyung, setidak-tidaknya Min Rin masih aman.”

“kata siapa??” Hyuk Jae tersenyum mengejek

Kyu Hyun semakin merutuk keki dalam hati, mencoba menahan sekuat tenaga untuk tidak mengguncang-guncangkan tubuh berotot Hyuk Jae.

“kau kan selama beberapa hari ini sudah menelantarkan Min Rin dan dia begitu sangat-sangat kesal karenanya. Jadi kau sedikit berhati-hatilah,”

“Hyung, berhenti menakut-nakutiku!”

“sudah kukatakan aku tidak menakut-nakutimu!!” Hyuk Jae pura-pura kesal, padahal sebetulnya ada tawa menari-nari dimatanya, hanya karena sedang kalut maka Kyu Hyun tidak memperhatikan kilatan jahil tersebut. “dulu kau mampu mencairkan keras kepalanya Min Rin, aku yakin saat ini kau juga mampu membuat Min Rin kembali padamu.”

“Min Rin masih milikku, Hyung, aku hanya akan membuatnya tidak marah padaku!”

Hyuk Jae sekuat tenaga menahan tawa saat melihat bocah tampan didepannya sudah sepenuhnya frustasi mengetahui dia memiliki rival yang cukup berat. “kau pulanglah, percuma kau menunggu disini saat Min Rin dengan keras kepalanya tidak mau menemuimu. Berdoalah supaya esok dia sudah bisa diajak bicara.”

Auhor poffs

Kyu Hyun poffs

Benar kata Hyuk Jae Hyung, lebih baik aku pulang daripada membuat Min Rin lebih kesal lagi padaku.

“sampaikan padanya aku pulang yah Hyung,”

“eoh~ hati-hatilah kau menyetir.” Aku mengangguk pelan, “dan sampaikan salam pada kakakmu yang cantik itu.” Kali ini aku nyengir lebar. Masih berharap dia sama uri noona.

“eoh~ arraso Hyung,”

Walaupun aku sudah menitipkan salam pada Hyuk Jae Hyung, aku tetap memberikan kabar melalui pesan singkat kepada Min Rin bahwa aku pulang. Sebetulnya aku tidak mengharapkan dia akan membalas pesanku namun ternyata dia memang masih peduli padaku, butkinya dia mengirim pesan balasan yang walaupun hanya mengatakan hati-hati menyetir. Setidaknya aku bisa pulang dengan perasaan yang sedikit lebih lega dibandingkan saat aku melihat Min Rin dengan begitu riang bersama Dong Hae Hyung.

“habis dari kampus lagi baru pulang larut malam?” aku menemukan Ah Ra noona sedang menempelkan wajahnya dengan mentimun sambil meminum milkshake.

“anni~ aku habis dari rumah Min Rin.”

“ahh~ jadi hubunganmu dengan Min Rin sudah membaik?” aku menghela nafas dengan pelan namun sepertinya terdengar oleh telinga Ah Ra noona, “aku tebak kalau Min Rin masih marah padamu.” Aku mengangguk lemah, percuma berbohong padanya saat uri noona mengenal dengan baik diriku. “beri waktu padanya, dia akan membaik dengan sendirinya.”

“maksudnya aku menjaga jarak dengannya gituh?” aku menatap uri noona dengan pandangan yang seolah-olah mengatakan lebih–baik–aku–bunuh–diri! “dengan Dong Hae yang sekarang menjadi rivalku, noona??? Tidak akan aku menjauhkan diriku dari Min Rin kalau begitu ceritanya”

“yaah, terserah padamulah kalau begitu. Aku hanya menyarankan saja, jangan sampai Min Rin semakin bertambah kesal padamu saja. Dan terlebih-lebih lagi aku tidak mau kau merengek-rengek minta bantuanku!” dia pergi sambil mendengus kesal dibelakangku.

Aku hanya berharap bahwa besok pagi Min Rin sudah membaik dan tidak marah lagi kepadaku, otakku rasanya tumpul tidak dapat berfikir dengan jernih untuk saat yang penting seperti ini. Menyebalkan!

Esoknya aku datang kerumah Min Rin lebih pagi, agar tidak kedahuluan Lee Dong Hae. Namun apadaya ternyata mobil Dong Hae Hyung lebih dulu sampai, dan tepat saat aku keluar dari mobil Min Rin pun keluar dari dalam rumah dan menghampiri Dong Hae Hyung dengan wajah berbinar-binar. Membuat perutku serasa ditohok melihat Min Rin tersenyum kepada namja lain selain aku. Sepertinya sadar akan kehadiranku Min Rin menoleh dan senyumnya pun langsung memudar.

“aku sudah bilang kan kalau pagi ini Dong Hae oppa yang akan mengantarku ke kampus??” tidak ada senyum, tidak ada pertanyaan basa basi. Hatiku seperti dipelintir rasanya.

“kau masih marah padaku?”

“molla~ nan meonjo ga (aku pergi dulu)”

Rasanya seperti diasingkan, dan senyuman Dong Hae Hyung seolah-olah menertawakanku. Sial! Aku tidak suka keadaan seperti ini lebih tepatnya aku tidak siap kalau aku memiliki rival.

Aku mengikuti mobil mereka tepat dibelakangnya, kalau Min Rin mau marah aku akan mengatakan kalau aku masih resmi menjadi namja chingunya. Dan dia tidak akan membantah itu. Dong Hae menurunkan Min Rin didepan banyak sekali mahasiswa yang berlalu-lalang, apa maksudnya Dong Hae Hyung melakukan itu? Sekali lagi aku melihat Min Rin tersenyum dengan sangat manis kearah Dong Hae yang ikut-ikutan turun dari mobil, membuat aku semakin bertanya-tanya sedang bermain perankah mereka berdua? Kalau iya, berati mereka berdua sukses membuat aku kesal dan cemburu setengah hidup!

“Min Rin-ya~ Lee Min Rin, jjangkkamanyo!”

“wae tto?? Aku sedang tergesa-gesa sekarang ini.” Aku dapat melihat tumpukan kertas-kertas yang dibawa Min Rin dengan sebelah tangannya.

“sini aku bantu bawakan.” Tanganku terulur untuk mengambil semua yang Min Rin bawa, namun Min Rin memalingkan sedikit tubuhnya dan berujar, “tidaak usah, aku bisa bawa sendiri.”

“kau masih marah padaku?”

“molla~! Sudahlah aku sudah tidak punya banyak waktu.” Dan Min Rin pun pergi meninggalkanku dengan semua permohonan maafku.

Hari demi hari berlalu dan sikap Min Rin padaku tidak berubah sedikitpun. Melainkan aku semakin sering melihat Dong Hae Hyung bolak balik mengantar dan menjemput Min Rin. Oke! Ini sudah keterlaluan dan sudah diluar batas kesabaranku. Akan tetapi rasa takut kehilangan Lee Min Rin lebih besar dibandingkan rasa marahku kepadanya. Mencoba melupakan sikap dingin Min Rin aku kembali menenggelamkan diriku dalam tugas-tugas tahap akhirku.

Kyuh Hyun poffs end

Sebetulnya aku ingin melihat sampai mana Kyu Hyun mencoba untuk membuat aku tidak marah dan kesal lagi padanya. Kasihan juga melihat Kyu Hyun yang kuyu dan lesu saat melihat harus melihat aku dengan Dong Hae oppa. Tidak sampai hati aku melihat namja yang aku sayangi seperti tidak punya semangat lagi.

“kita sudahkan saja drama ini,” ujar Dong Hae oppa suatu hari di teras rumahku, “kasihan aku melihatnya.” Aku terdiam. “mau sampai kapan kau menghukum Kyu Hyun?”

“oohhh~~ jadi ini hanya sandiwaramu saja yaahh Lee Min Rin!!!”

“Hyuk Jae oppa!!!” hampir saja aku terlonjak dari kursi yang aku duduki.

Hyuk Jae oppa mendengus, “pantas saja Kyu Hyun seperti mayat hidup setiap kali aku melihatnya datang ketempat latihan, ternyata penyebabnya kalian berdua!”

“habisnya aku sebal dengan dia! Aku beri dia sedikit pelajaran.”

“kau memberinya terlalu banyak pelajaran yang harus dia tanggung! Sudahlah seperti anak kecil saja main balas-balasan seperti ini!”

“aku sudah menyuruhnya untuk berhenti juga,”

“ada juga kau seharusnya tidak ikutan untuk membantunya Dong Hae-ya!”

“aku yang meminta Dong Hae oppa membantuku! Jangan salahkan dia!”

“lebih baik kau berbaikan dengannya! Aku capek menghadapi kalian berdua. Kalian yang pacaran aku yang kena tumpahan unek-unek kalian!”

“arrasoyo oppa, besok aku akan mengatakan yang sebenarnya dikampus.”

“kenapa mesti menunggu besok? Kenapa tidak sekarang saja kau kerumahnya?”

“besok! Aku katakan besok!” ucapku keras kepala

“maemdaerohae (terserah kau)”

Hari ini aku berharap Kyu Hyun akan datang menjemputku, tetapi sepertinya harapanku sia-sia karena Kyu Hyun tak kunjung datang dan akhirnya aku memutuskan untuk naik bus kekampus. Sebetulnya hari ini aku tidak ada jadwal dikampus dan masa bimbinganku pun sudah selesai hanya tinggal menunggu sidang kompre, namun karena ingin segera menyelesaikan urusanku dengan Kyu Hyun aku pun memilih datang kekampus.

Akhirnya aku melihat sosok tinggi menjulang menggunakan t-shirt putih dan topi pet melewati lorong kampus. Ada yang salah dengan cara berjalan Kyu Hyun, dia berjalan tidak seperti biasanya. Aku setengah berlari menghampiri sosok Kyu Hyun yang sepertinya menuju parkiran.

“Kyu Hyun-ah!!!!” aku berteriak memanggilnya sebelum dia masuk kedalam mobilnya. Kyu Hyun berhenti dan berusaha menyipitkan matanya saat melihat aku yang berlari menghampirinya, tumben sekali Kyu Hyun mengenakan kacamatanya saat kekampus, biasanya dia hanya mengenakan kacamata saat dirumah.

“kau sudah mau pulang?” aku harus mendongak saat harus melihat wajah Kyu Hyun.

“mana Dong Hae Hyung?” tanya Kyu Hyun tanpa basa basi.

“dia tidak bersamaku. Kyu Hyun-ah~ aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Aku – “

“daeumae (lain kali) aku ingin pulang sekarang.”

“Kyu Hyun-ah~” aku mencoba memegang lengan bajunya, “kau marah padaku? Naega – “ tiba-tiba tubuh Kyu Hyun sedikit lunglai sehingga aku harus mengencangkan peganganku, “Kyu Hyun-ah waegeurae? Eodi appo??”

“gwaenjhanayo.”

“aku hantar kau pulang, kau serahkan saja kunci mobilmu padaku.”

“aku bisa pulang sendiri dan kau pasti sudah ada janji untuk pulang bersama dengan Lee Dong Hae,” Kyu Hyun langsung menarik badannya dariku dan langsung masuk kedalam mobil sebelum aku memberikan penjelasan apapun padanya.

Ini harusnya tidak seperti ini! Ini bukan cerita yang aku mau. Kyu Hyun seharusnya tidak menyerah begitu saja. Aku merasa sudah keterlaluan mempermainkan perasaan Kyu Hyun hingga dia seperti itu! Tanpa banyak berpikir aku langsung menghentikan taxi begitu aku keluar dari kampus. Entah kenapa perasaanku tidak tenang, seperti ada yang menggangu namun aku tidak tahu itu apa.

Aku langsung keluar dari taxi begitu selesai membayar. Dan aku melihat mobil Ah Ra eonni keluar dari dalam dan berhenti sejenak hanya untuk menyapaku.

“cepatlah kau naik!!” ucapannya begitu mendesak

“aku ingin menemui Kyu Hyun eonnie.”

“karena kau ingin menemui Kyu Hyun makanya cepatlah masuk!” aku tetap terdiam memandangi Ah Ra eonnie dengan bingung, “Kyu Hyun kecelakaan!!” kata-kata itu membuat darah sepertinya menghilang dari tubuhku, “cepatlah!!!” hanya suara Ah Ra eonnie yang mampu membuat aku akhirnya masuk kedalam mobil seperti orang linglung.

“eotteohge –“

“aku sudah memaksa dia supaya jangan kekampus hari ini karena kondisinya yang sepertinya sangat lemah, namun dia tetap memaksa karena ada hal yang penting dan aku sudah memaksanya untuk naik taxi bahkan aku menawarkan diri untuk mengantarnya namun dia bersikeras untuk membawa mobil sendiri.”

Aku langsung teringat tubuh Kyu Hyun yang tadi hampir jatuh, cara jalannya yang berbeda dan sifatnya yang sepertinya beda. Semua karena aku! Jutaan rasa bersalah menghujam dadaku saat ini! “nan ttaemunae!!” ucapku lirih, tidak ditujukan kepada siapapun namun ditujukan kepadaku.

“bukan salahmu.” Ah Ra eonnie menggenggam hangat tanganku. “gwaenjhana. Nae dongsaeng sangat keras kepala, dia pasti baik-baik saja.”

Andai saja Ah Ra eonnie tahu perbuatan apa yang sudah aku lakukan yang membuat adiknya jadi seperti ini! Semua karena aku! Semua salahku! Kalau Kyu Hyun sampai kenapa-kenapa semua itu karena keras kepalanya aku! Seharusnya aku menuruti kata Hyuk Jae oppa untuk menemui Kyu Hyun kemarin malam, kalau aku bertemu Kyu Hyun tadi malam aku yakin saat ini Kyu Hyun tidak akan seperti ini. Kyu Hyun jaebal~ bertahanlah!! Aku ingin mengucapkan maaf kepadamu. Jaebal Cho Kyu Hyun bertahanlah.

Begitu Ah Ra eonnie menghentikan mobilnya aku segera berlari ke UGD. Aku tersentak kaget saat melihat tubuh Kyu Hyun penuh dengan alat-alat kedokteran dan saat untuk bernafas pun harus dibantu dengan tabung oksigen. Aku berjalan menghampiri tubuh Kyu Hyun, aku periksa dengan seksama, tidak ada darah, tidak ada perban. Ini pertanda baik atau tidak aku pun tidak tahu.

Aku menggenggam tangan Kyu Hyun yang begitu dingin ditanganku. Airmata sudah mengalir deras diwajahku dan aku tidak coba repot-repot untuk menghapusnya. Pandanganku sedikit kabur saat melihat wajah pucat Kyu Hyun, kemana para dokter dan suster? Kenapa Kyu Hyun dibiarkan terbaring sendiri tanpa pengawasan.

“Kyu Hyun-ah~ jaebal ierona..(tolong sadarlah)” aku terisak-isak pelan, hatiku hancur. “nan ttaemunae, mianhae. Neomu neomu mianhae. Kyu Hyun-ah jaebal ieronaaa.. (ini karena aku, maaf. Aku sangat menyesal. Kyu Hyun tolong sadarlah)” aku menjalin jemariku menjadi satu jalinan dengan jemari Kyu Hyun yang begitu dingin dikulitku. “aku belum sempat minta maaf untuk candaan yang keterlaluan yang membuatmu jadi seperti ini. Jaebal ierona Kyu Hyun-ah~ nan ttaemunae. Aku sengaja meminta Dong Hae oppa selalu mengantar dan menjemputku kekampus, aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Hyuk Jae oppa. Tidak terjadi apapun antara aku dan Dong Hae oppa, aku hanya ingin membalas tingkahmu yang mengacuhkan, dan ternyata aku kelewatan.” Bahuku semakin bergetar saat aku tidak kuasa lagi menahan setiap tetesan air mata yang sudah membanjiri wajahku. Pikiranku hanya satu yaitu takut Kyu Hyun benar-benar pergi tanpa mendengar aku memintaan maaf dan menjelaskan semuanya.

“aku tidak tahu kau sampai sakit karenanya dan sekarang kau begini – “ aku merasakan seseorang memegang lembut bahuku.

“bukan salahmu Min Rin-ah,” suara Ah Ra eonnie begitu menentramkan.

“eonnie~ mianhae –“ aku hanya dapat memandangi wajah sayu Kyu Hyun yang terhubung dengan berbagai macam selang. Andaikan aku tidak keras kepala. Aku terus terisak-isak dan menempelkan punngung tangan Kyu Hyun di wajahku. “Kyu Hyun-ah, ierona jaebal. Kyu Hyun-ah Mianhae geurigo saranghae. Jaebal ierona!!!”

“kau bisa katakan sekali lagi?” suara Kyu Hyun dengan lembut menembus pikiranku membuat aku terdiam memandang wajah Kyu Hyun yang pucat dan masih memejamkan mata. Itu betul suara Kyu Hyun atau suara yang memang sekali ingin aku dengar. Ahh~ aku sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.

“aku akan trus mengatakan aku mencintaimu setiap hari begitu kau sadar, Kyu Hyun-ah.”

“jeongmal?” aku kembali terkesiap pelan. Benarkah itu suara Kyu Hyun atau suara dalam otakku??

“Kyu Hyun-ah~~” aku mengguncangkan tubuhnya pelan dan dia tetap tak bergeming.

“oppa~ eonnie!! Kalian mendengar suara Kyu Hyun tadi?” aku melihat mereka berdua memandangku dengan tatapan seperti kasihan, “kalian betul tidak mendengar apa2?” mereka kembali menggeleng, tatapanku beralih lagi kewajah Kyu Hyun yang pucat dan sayu. Aku menghela nafas pelan, sepertinya memang hanya suara dalam otakku. “Kyu Hyun-ah, jangan menghukum aku seperti ini atas tindakanku yang membuatmu kesal. Aku tidak sanggup harus melihatmu seperti ini. Semua karena aku kau begini, Kyu Hyun-ah – “

“benar kau tidak menyukai Dong Hae Hyung?” kali ini betul-betul suara Kyu Hyun bukan hanya sekedar ilusinasiku semata. Dan Kyu Hyun pun membuka matanya, membuat aku bernafas lega dan langsung memeluk tubuhnya.

“kau sadar?? Jinja neon gwaenjhana??”

“kenapa kau cepat sekali sadarnya! Katanya ingin membuat Min Rin lebih menyesal dan – “

“ehh?? Oppa?? Apa maksud yang kau katakan tadi??” aku melihat mereka satu persatu secara berganti-gantian.”ini hanya sandiwara?” aku tetap memandang mereka dengan penuh selidik! Dan tiba-tiba aku tersadar daritadi tidak ada dokter dan suster dan orang tua Kyu Hyun pun tidak ada dan terlebih lagi Ah Ra eonnie hanya memasang wajah mengerti bukan menangis seperti aku.

Kyu Hyun melepaskan masker oksigen yang menempel diwajahnya, dan senyum evilnya terpampang jelas diwajahnya. Membuat aku tiba-tiba tersadar mereka bertiga bersekongkol untuk membuat sandiwara ini.

“yaaa!!! Cho Kyu Hyun!! Nappenom!!!!” sekuat tenaga aku memukul bahu Kyu Hyun dan Kyu Hyun langsung meringis kesakitan, apa pukulanku terlalu kencang? “kau membuat aku takut setengah mati tahu! Kau ingin melihat aku sedih yah?” aku pun mendelik sebal kearah Ah Ra Eonnie dan Hyuk Jae oppa, “dan kalian juga tega sekali melakukan ini padaku!”

“sebanding dengan perbuatanmu yang melibatkan Dong Hae,”

“kenapa oppa sepertinya tidak suka aku dekat dengan Dong Hae oppa!”

“karena dia cemburu melihat kedekatanmu juga dengan Lee Dong Hae.” Ah Ra eonnie tersenyum evil, membuat Hyuk Jae oppa hanya bisa mendelik sebal kearahnya

“bukan seperti itu! Aku kasihan melihat Kyu Hyun setengah hidup setiap hari! Sedangkan kau!” dengan telunjuknya Hyuk Jae oppa menunjuk wajahku, “asik mempermainkan hatinya seperti itu.”

Sebisa mungkin wajahku menunjukan ekspresi menyesal, “tapi kan Kyu Hyun tidak apa-apa sekarang,” walaupun sebetulnya aku dapat melihat guratan kesedihan dan letih diwajahnya.

“dia betul-betul sakit Min Rin-ah,” suara lembut Ah Ra eonnie semakin membuat aku merasa bersalah, “hari ini dia memang betul hampir pingsan dimobilnya dan dia menelponku untuk menjemputnya dan aku meminta tolong Hyuk Jae untuk mengabarkan padamu kalau Kyu Hyun sakit, tapi ternyata Hyuk Jae membuat ide kalau Kyu Hyun seolah-olah betul-betul kecelakaan.”Ah Ra eonnie tersenyum menyesal,”mianhae~ sudah membuatmu takut tadi.”

“gwaenjhana??” dengan lembut aku mengelus pipinya Kyu Hyun, “manhi appo?”

Kyu Hyun menggeleng pelan, “gwaenjhana, dokter bilang aku sudah boleh pulang, dan istirahat dirumah.”

“mianhae~ sudah membuat kau jadi seperti ini, aku memang keterlaluan.”

“aku yang salah terlalu banyak mengacuhkanmu – “

“sudahlah berhenti mencari siapa yang salah! Kalian berdua memang salah. Lain kali jangan bertengkar lagi!”

“yang penting kan Dong Hae aman dari adikmu sendiri yah, Lee Hyuk Jae-sshii?” senyuman diwajah Ah Ra eonnie betul-betul menakutkan.

“aku hanya tidak mau dipusingkan dengan keluhan mereka berdua yang membuat kupingku sakit mendengarnya!” Hyuk Jae oppa mencoba mengacuhkan omongan Ah Ra Eonnie, “baik-baiklah kalian berdua jangan membuat hal-hal yang aneh2 lagi!”

“ne~ arraseo oppa,”

“ne~ araseo Hyung.”

Hyuk Jae oppa sepertinya tersenyum puas mendengar jawaban kami, “tapi kau betul-betul tidak menyukai Dong Hae Hyung kan Lee Min Rin?” wajah Kyu Hyun begitu serius saat bertanya membuat aku sebisa mungkin menahan tawa.

“nee~ Dong Hae oppa hanya sekedar oppa,geurigu neol, nae namja chingu,” aku mengecup lembut bibir Kyu Hyun didepan Ah Ra eonnie dan Hyuk Jae oppa, membuat wajah Kyu Hyun dengan segera bersinar-sinar.

“yaaa!! Kalian berdua kalau mau mesra-mesran tunggu kami tidak ada! Issshh!!!” dengan wajah yang ditekuk Hyuk Jae oppa keluar dari ruangan dan Ah Ra eonni mengekor dibelakangnya sambil tersenyum kearah kami, “aku serahkan Kyu Hyun padamu yah Lee Min Rin.”

“eoh eonnie.” Tanganku kembali mengelus lembut pipi Kyu Hyun yang masih sedikit pucat, “neol jinja gwaenjhana?”

“eoh~ gwaenjhananyo. Sangat baik sehabis mendengar pernyataan cintamu barusan,” senyum evil tercetak jelas diwajah Kyu Hyun yang letih.

Sekarang Kyu Hyun sudah tidak lagi mengacuhkanku. Dia sudah mulai kembali memperhatikannku seiring dengan selesainya sidang komprehensifnya dan dia berhasil mendapatkan nilai tertinggi dalam satu angkatannya. Dan aku pun sudah tidak lagi sibuk, karena tugas tahap akhirku sudah selesai hanya tinggal menunggu jadwal kapan aku sidang komprehensif juga. Jad disinilah kami, dikamar Kyu Hyun dengan tidak melakukan apapun. Hanya sekedar bersantai.

“kenapa wajahmu begitu?” tanyaku saat aku baru saja menutup telpon dari Dong Hae oppa.

“lama sekali kau telpon-telponan dengan Dong Hae hyung.” Wajah Kyu Hyun yang sedang merajuk begitu lucu.

“kau masih cemburu padanya?? Padahal aku sudah menyatakan cintaku didepan Ah Ra eonnie dengan Hyuk Jae oppa.”

“molla~ bila aku teringat ekspresi wajahmu yang begitu berbinar-binar apabila melihat Dong Hae hyung membuat aku sedikit risih.”

“kalau begitu apa yang membuatmu percaya kalau aku hanya menganggap Dong Hae hanya nae oppa?”

“nawa gyeolhon haejuseyo (menikahlah denganku)” Pernyataan yang begitu mendadak itu membuat aku terdiam, “aku baru tidak cemburu dengan Dong Hae Hyung apabila kau sudah menjadi milikku seutuhnya.”

“tapi kita kan masih kuliah dan – “

“aku sudah lulus, sidang kemarin aku mendapatkan nilai tertinggi diantara yang lainnya dan aku sudah siap untuk bekerja diperusahaan uri appa.”

“apa hanya karena Dong Hae oppa membuatmu cemburu hingga kau meminta aku menikahimu?”

“anni~ sebetulnya aku sudah ingin melamarmu saat aku lulus, namun hadirnya Dong Hae Hyung membuat aku betul-betul tidak tenang. Lee Min Rin Jaebal gyeolhon hae~~”

Wajah Kyu Hyun begitu dekat dengan wajahku, otakku tidak dapat berfikir. Menikah!?! Itu suatu hal yang diluar bayanganku selama ini. Aku memang mencintai Kyu Hyun, namun untuk menikah aku sepertinya belum siap dan harus memikirkan masak-masak.

“bolehkah aku berfikir?? Aku tidak harus menjawab sekarang kan??”

“silahkan untuk berfikir, tapi aku yakin kau pasti akan menikah denganku.” Wajah sombong dan penuh percaya diri itu lagi! “yang pasti cepat atau lambat aku akan menjadikanmu milikku.”

“caramu melamar tidak romantis!! Tidak seperti yang aku bayangkan!!” kali ini aku memilih untuk pura-pura merajuk agar Kyu Hyun berhenti memintaku untuk menikah dengannya. “kau tidak memintanya dengan manis, tetapi kau seperti memaksaku untuk menikahimu!”

Dan tiba-tiba saja bibir Kyu Hyun sudah menempel dibirku, nafasnya membelai lembut wajahku. Kyu Hyun mengecup lembut setiap sudut bibirku dan seolah-olah dia sedang menikmatinya, tanpa sadar aku mengalungkan lenganku di dilehernya dan menariknya lebih mendekat. Akal sehatku sudah hilang sepertinya. Aku tidak dapat berfikir apapun saat Kyu Hyun menciumi mataku yang terpejam satu persatu lalu puncak hidungku dan kemudian kembali ke bibirku. Badanku terasa seperti agar-agar dan meleleh dalam pelukan dan ciuman Kyu Hyun yang begitu manis.

“Kyu Hyun-ah~” aku mendesah nikmat tepat saat Kyu Hyun menelusupkan lidahnya masuk kedalam mulutku. Sesuatu hal yang hangat membuncah dalam diriku. Lidah Kyu Hyun menjelajah dan menyentuh setiap sudut mulutku. Aku dapat merasakan tekanan tubuh Kyu Hyun semakin terasa ditubuhku. Dan aku dapat merasakan bukti gairah Kyu Hyun menekan lembut pahaku, membuat aku semakin bergairah.

Kyu Hyun menarik bibirnya dari bibirku namun wajahnya tetap berada tepat didepan wajahku saat dia mengucapkan, “menikahlah denganku Lee Min Rin,” otakku serasa lumpuh tidak dapat berfikir, jahat sekali dia bertanya disaat tidak tepat seperti ini! “aku pasti akan membahagiakanmu!” sumpah demi apapun otakku tidak dapat berfikir jernih. Yaa~~!! Cho Kyu Hyun jinja nappenom!! Jeritku dalam hati tepat saat Kyu Hyun menempelkan bibirnya di denyut nadi leherku, yang sukses membuatku terbuai kembali.

“menikahlah denganku, jaebal~~” ucap Kyu Hyun sambil terus menjelajah denyut nadi leherku, kalau seperti ini permintaan apapun akan aku jawab iya! Bibir Kyu Hyun menelusuri setiap urat nadi leherku yang berdenyut-denyut liar dibawah sentuhn bibir basah Kyu Hyun.

“Kyu Hyun-ah, ierojima (jangan seperti ini)” bibirku melakukan penolakan namun tubuhku sendiri berkhianat. Dengan ucapanku aku dapat membohongi Kyu Hyun namun Kyu Hyun tahu saat aku melengkungkan tubuhku itu adalah jawabanku yang paling jujur.

Frustasi karena Kyu Hyun dapat membaca diriku dengan baik aku menelusupkan jari-jariku dirambut lebat Kyu Hyun. Aku dapat merasakan senyum penuh kemenangan yang Kyu Hyun sunggingkan dileherku, “nappeunom!!” ucapku dengan ungkapan sayang. Betul saja, wajahnya tersenyum senang saat menatap wajahku, membuat aku memberengut tanpa sadar dan Kyu Hyun kembali mencium bibirku. Digigitnya pelan bibir bawahku, membuat aku mengerang nikmat dan mengelus punggung Kyu Hyun dengan jariku. Bukti gairah Kyu Hyun semakin menekan tubuhku, membuat aku mati gila rasanya.

Tangan Kyu Hyun mengelus-elus lembut kulitku, membuat kulitku terbakar oleh sentuhannya. Kyu Hyun menaikanku diatas pangkuannya, membuat aku terkesiap saat tubuhku tepat diatas kejantanan Kyu Hyun. Aku kehabisan nafas, aku tidak dapat bernafas saat Kyu Hyun terus mengulum dan menjelajah bibir dan mulutku. Jari jemari Kyu Hyun pelan-pelan bergerak dari perutku menuju kedadaku dan dia meremas lembut dadaku membuat diriku semakin terbakar dan sesuatu yang hangat seperti jebol keluar dari pertahananku. Bibir Kyu Hyun meninggalkan bibirku dan menggigit mesra daguku lalu turun keleherku, dan dengan lihainya Kyu Hyun meloloskan kaosku yang kukenakan melewati kepalaku. Sudah terlambat untuk malu! Sudah terlambat untuk mengatakan tidak saat Kyu Hyun menatapku dengan wajah yang menurut aku aneh, dan darahku berdesir-desir saat ditatap dengan intens oleh Kyu Hyun. Padahal ini bukan yang pertama kami lakukan namun rasanya tetap seperti yang pertama untukku.

Kyu Hyun menggigit mesra dadaku yang tidak tertutup bra sementara tangannya yang satu meremas-remas lembut dan tangan Kyu Hyun berpindah ke punggungku dan menemukan kaitan braku lalu membukanya dengan perlahan. Bibir Kyu Hyun kembali menemukan bibirku sementara tangannya kembali menjelajah tubuhku, kedua ibu jarinya mengelus perlahan sisi-sisi payudaraku, membuat aku gila menahan karena ingin lebih dari ini. Aku menggigit bibir bawah Kyu Hyun saat dia dengan mesra dan sangat-sangat lembut menyentuhkan ibu jarinya dipuncak dadaku lalu membuat gerakan memutar disekelilingnya dan terus mengelus lembut sehingga membuat tubuhku menggelenyar nikmat. Bibir Kyu Hyun terus bergerak turun melewati leherku yang putih dan berdenyut-denyut dibawah sentuhan bibir Kyu Hyun. Bibir Kyu Hyun berhenti sejenak ditulang belikatku dan menggigit mesra kulitku yang telanjang dan lidah Kyu Hyun tidak berhenti membuat tubuhku semakin panas karena sentuhannya. Ohhh~~ Tuhan aku terbakar!! Aku tidak dapat menahan api yang berkobar dengan hebat melahap tubuhku seperti ini. Tanganku dengan seketika mengencang dibahu Kyu Hyun, saat dengan tiba-tiba saja aku merasakan mulut Kyu Hyun mengulum lembut puncak dadaku dan menggigitnya mesra, dan aku menggeliat-geliat nikmat disetiap sentuhan Kyu Hyun. Aku meremas yang sebetulnya dapat dikatakan menjambak rambut Kyu Hyun karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan disaat Kyu Hyun memberikan kenikmatan yang aku tidak sanggup katakan ini. Bibir Kyu Hyun beralih ke dadaku yang belum disentuhnya, membuat aku bergerak-gerak gelisan diatas pangkuan Kyu Hyun.

Aku menarik kaos oblong yang Kyu Hyun kenakan dan melepasnya. Setidaknya posisi kami sekarang satu sama. Aku menyentuh otot dada Kyu Hyun, dan aku dapat mendengar Kyu Hyun menggeram didadaku. Kusentuh setiap inci dada telanjang Kyu Hyun hingga ke perutnya yang rata yang ditumbuhi bulu-bulu halus lalu menuju ketepian garis celana rumah yang Kyu Hyun kenakan. Aku dapat merasakan nafas Kyu Hyun terhenti sesaat ketika aku dengan sengaja bermain-main ditepian pembatas tubuh Kyu Hyun yang tertutup celana rumahnya.

Aku tersenyum senang saat Kyu Hyun frustasi ketika aku menaikan tanganku untuk menyentuh punggung Kyu Hyun. Sebagai pelampiasan frustasinya Kyu Hyun membuka risleting jeansku dan menariknya turun sebisa dia menarik turunyan. Kyu Hyun menodorong tubuhku saat bibir Kyu Hyun menjelajah semakin kebawah dan kali ini dia membalasku rupanya. Aku dapat merasakan senyuman Kyu Hyun dikulitku yang telanjang saat dia mengecup mesra perutku dan semakin menuju kebawah. Aahh~~ kali ini aku yang frustasi!

Bibir Kyu Hyun kembali menemukan bibirku, tanpa tahu siapa yang bergerak terlebih dahulu untuk berdiri kami sudah saling melucuti sisa-sisa baju yang masih aku dan Kyu Hyun kenakan. Aku mendorong tubuh Kyu Hyun kembali ke sofa dan memandangi sejenak tubuh sempurna Kyu Hyun. Hal yang serupa pun Kyu Hyun lakukan padaku, dan anehnya aku masih saja malu saat Kyu Hyun menatap seluruh tubuhku dan aku sadar saat ini tubuhku sudah merona merah disemua tempat yang Kyu Hyun lihat.

Tangan Kyu Hyun menarik lembut tubuhku dan aku pun jatuh diatas tubuhnya yang sudah siap menerima diriku. Kyu Hyun menggigit-gigit mesra bahuku dan tangannya menjelajah menemukan tempat rahasia yang aku simpan memang hanya untuknya. Tubuhku menggelinjang dibawah sentuhan Kyu Hyun. Kyu Hyun menekan lembut dan menemukan titik yang paling sensitive membuat tubuhku berpendar-pendar dan sesuatu yang hangat membuncah keluar dari dalam tubuhku. Kyu Hyun menyelipkan jarinya dan aku mencakar punggung Kyu Hyun dengan jari-jariku. Nafasku terkesiap saat Kyu Hyun dengan berani menggerakan jarinya. Aku terkulai lemas dibahu Kyu Hyun saat Kyu Hyun terus mencintaiku seperti ini. Aku tidak dapat membayangkan rasanya akan begitu nikmat sampai aku ingin menangis. Tubuhku seperti diterpa oleh gelombang kenikmatan dan aku seperti merasa seperti pendaki gunung yang terengah-engah mencapai puncaknya namun menikmati setiap hal-hal yang aku lewati. Kyu Hyun memeluk tubuhku yang bergetar dengan hebat dan Kyu Hyun membisikan kata-kata menenangkan. Dan aku menatap wajah Kyu Hyun dengan penuh pertanyaan yang aku tidak tahu harus bertanya apa saat dengan manisnya Kyu Hyun tersenyum hanya padaku. Sekali lagi Kyu Hyun mengecup bibirku dengan lembut, tanpa paksaan, tanpa gairah, hanya untuk menenangkan tubuhku yang masih berndeyut-denyut nikmat.

Aku menyelipkan tanganku diantara tubuh kami dan menemukan bukti gairah Kyu Hyun dan meremasnya pelan. Tanpa sadar Kyu Hyun menggigit bibirku lebih keras dari seharusnya, “Lee Min Rin,” bibirnya mengucapkan permohonan tertahan. Aku menggerakan tanganku ditubuh liat Kyu Hyun sambil memijat perlahan, ciuman Kyu Hyun tidak lagi lembut, tidak lagi tanpa gairah namun Kyu Hyun semakin menempelkan bibirnya dengan intens dibibirku. Kyu Hyun mengerang nikmat sejalan dengan tanganku yang terus memberi kenikmatan untuknya. Kyu Hyun bernafas pendek-pendek, tangannya mencengkram lebih erat lenganku seolah-olah dia saat ini sedang mencari pegangan yang kuat.

Aku melepaskan diriku dari pelukan Kyu Hyun dan bibirku menjelajahi dada bidang Kyu Hyun dan lidahku dengan berani bermain didadanya, dan aku merasakan kejantanan Kyu Hyun semakin berkedut dengan kencang didalam genggamanku. Bibirku bergerak semakin kebawah dan aku merasakan tangan Kyu Hyun menahan bahuku.

“jangan lakukan kalau –“ Kyu Hyun susah payah berbicara disaat gairah sudah menyelubungi dirinya.

“aku ingin!” aku menatap wajahnya dengan keinginan sekeras baja, “biarkan aku mencobanya. Jaebal..”

Kyu Hyun melepaskan pegangannya pada bahuku, dengan takut-takut namun penasaran aku mengecup tubuh Kyu Hyun yang paling pribadi. Dan aku dapat merasakan tubuh Kyu Hyun bergetar hebat dibawah sentuhanku dan dia mengeluarkan desahan nafas panjang saat aku dengan berani mengulum miliknya. Rasanya begitu aneh, dan aku dapat merasakan tangan Kyu Hyun mencengkran bahuku dengan lebih erat dari sebelumnya, namun kali ini bukannya menariknya untuk berhenti melainkan seperti memberi lampu hijau untuk aku melakukan yang lebih.

Dengan sebisa dan semampu yang punya, aku terus mencintai Kyu Hyun hingga Kyu Hyun mata Kyu Hyun terpejam nikmat dan aku bersumpah kali ini aku dapat mendengar Kyu Hyun melenguh nikmat. Kyu Hyun membuka matanya dan kali ini dia menarik bahuku, aku menatapnya dengan pandangan bertanya. Kyu Hyun kembali menarik tubuhku dan dia memposisikan tubuhku diantara tubuhnya, aku hanya dapat melongo melihatnya mencoba menebak-nebak apa yang hendak dia lakukan.

Aku terkesiap, saat Kyu Hyun menyatukan tubuh kami dengan posisi aku berada tepat diatas pangkuannya. Aku terdiam karena rasanya begitu luar biasa. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. “bergeraklah Lee Min Rin,” ucap Kyu Hyun parau ditelingaku, suaranya lebih mirip dengan geraman. Bergerak? Bergerak seperti apa? Otakku betul-betul lumpuh! Kyu Hyun mengangkat tubuhku dan meletakkannya lagi. Ah~ rasanya! Aku tidak dapat lukiskan dengan kata-kata. “bergeraklah Lee Min Rin,” kali ini Kyu Hyun betul-betul menggeram tertahan dibahuku. Tanpa berfikir tanpa komando aku menggerakan tubuhku. Rasanya lebih luar biasa nikmat dari sebelumnya, dengan perlahan namun pasti aku kembali menggerakan tubuhku dan sensasinya semakin indah, tanpa sadar aku melengkungkan punggungku dan tanganku dengan erat memegang bahu Kyu Hyun. Aahh~ ini begitu luar biasa, rasanya begitu menakjubkan. Aku melihat wajah Kyu Hyun pun dipenuhi dengan kenikmatannya sendiri, kami terus berpacu dengan seirama, tidak ada yang memimpin dan tidak ada yang dipimpin, tubuh kami sepertinya pas untuk satu sama lain. Nafas kami sama-sama memburu, tubuh kami sudah dibanjiri oleh peluh dan tubuh Kyu Hyun begitu liat dan licin saat aku memeluk tubuhnya. Tangan Kyu Hyun tertahan didadaku dan bibir Kyu Hyun menjelajah leherku dan memberi gigitan-gigitan kecil disetiap kulit yang dilewati oleh bibirnya.

Tubuhku berkedut-kedut kencang, seperti mencengkram tubuh Kyu Hyun dengan kuat. Kami terus bergerak seirama, aku melengkungkan punggungku untuk memberi akses pada bibir, tangan dan lidah Kyu Hyun. Semua yang aku lihat menjadi seperti warna-warna pelangi, begitu ceria begitu berwarna. Aku mencengkram pundak Kyu Hyun saat aku sampai pada puncaknya terlebih dahulu, tubuhku kembali bergetar dengan hebatnya saat Kyu Hyun menyentakan tubuhnya lebih keras ditubuhku. “aahhhhhhhhh” jeritku penuh nikmat dilekukan lembut leher Kyu Hyun. Nafas Kyu Hyun sudah tidak beraturan saat dia memeluk tubuhku erat, kami seperti menocba meredakan badai hebat dalam diri kami masing-masing.

Tubuhku masih berpendar-pendar nikmat saat Kyu Hyun mengangkat tubuhku dan membopongnya, dengan sigap kakiku melingkar di pinggangnya Kyu Hyun dan tanganku melingkar dilehernya saat Kyu Hyun dengan lembut meletakan tubuhku diatas tempat tidurnya. Tubuh kami tetap menyatu saat Kyu Hyun memindahkan berat badannya seluruhnya diatasku. Kyu Hyun menopang tubuhnya dengan salah satu sikunya ditempat tidur, dan aku terbenam dengan sempurna diatas kasur saat Kyu Hyun kembali menggerakan tubuhnya. Aku pikir masa-masa kejayaanku sudah lewat, namun sepertinya aku salah karena saat ini diriku kembali disiram oleh panasnya kenikmatan yang Kyu Hyun berikan untukku. Kakiku masih melingkar di tubuh Kyu Hyun saat Kyu Hyun menarik lembut tubuhku mendekat kepadanya. Kali ini rasanya lebih banyak pelangi dari sebelumnya, lebih banyak suara burung-burung bernyanyi, melodi begitu indah seperti disurga. Dengan kuat Kyu Hyun menghujamkan tubuhnya dalam-dalam, dan aku menjerit nikmat dileher Kyu Hyun. Dengan rakus Kyu Hyun mencari-cari bibirku dan menciummnya dengan sepenuh gairah saat Kyu Hyun menghujamkan tubuhnya lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Kami berdua sama-sama menjerit nikmat saat mencapai puncaknya, aku dapat merasakan sesuatu yang hangat yang meresap menjadi satu dengan tubuhku. Tubuhku berdenyut-denyut dietiap sudutnya. Aku membenamkan wajahku dihangatnya leher Kyu Hyun, begitu terpukau oleh indahnya moment ini untuk kami berdua.

Nafasku masih memburu ketika akhirnya Kyu Hyun kembali memberikan berat tubuhnya kepadaku dan mendekap diriku dalam hangatnya pelukannya. Detak jantung kami saling bertalu-talu, terasa begitu kencang bunyinya ditelingaku. Aku memeluk tubuh Kyu Hyun dengan erat, takut ini hanya sebuah mimpi yang akan segera lenyap dan menghilang. Namun anehnya ini nyata. Terlalu nyata. Terlalu nikmat untuk sebuah kenyataan. Terlalu nikmat untuk dibiarkan menghilang begitu saja. Kyu Hyun mengecup puncak kepalaku dengan sayang.

“gyeolhon haejulae (menikahlah denganku),” pintanya lembut, “aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya.”

Aku hanya dapat mengangguk dibawah tatapan matanya yang begitu lembut sehingga aku bisa meleleh hanya dengan ditatap seperti itu. “aku sudah menjadi milikmu seutuhnya Cho Kyu Hyun.” Jawabku sambil membawa tubuh Kyu Hyun kembali kedalam pelukanku.

END~~~Sebuah bantal dengan mulusnya mendarat diwajaku yang sedang menatap layar televisi.

“yaa~ oppa!!! Waegeurae?!!!!!!!!?” dengan sebal aku kembalikan bantal yang terlempar tadi kearah Hyuk Jae oppa.

“kau tidak kencan hari ini dengan si marga Cho itu??”

“kenapa sih selalu memanggilnya bermarga CHO?? Geu ileumeun Cho Kyu Hyun (namanya adalah Cho Kyu Hyun),” aku merajuk sebal

“geunyang~ aku lebih suka memanggilnya seperti itu.” Dengan malas Hyuk Jae oppa menghempaskan badannya di sofa.

“kau sendiri tidak berkencan lagi dengan yeoja-yeoja?”

Hyuk Jae oppa memasukan popcorn kedalam mulutnya, “lama-lama jadi membosankan!”

“wae?? Karena kau tidak mendapatkan yeoja-yeoja?? Dan selalu kalah bersaing dengan Dong Hae oppa dan Si Won oppa??” aku tahu kurang lebih tebakanku hampir mengenai sasaran.

“anni~ hanya saja mencari yeoja tidak lagi menjadi minat ku sekarang ini.”

“lalu yang menjadi minat mu saat ini apa??”

“mencari tahu kenapa minggu kemarin kau telat sekali pulang dari rumah Kyu Hyun?” Hyuk Jae oppa melemparkan tatapan penuh spekulasi dan selidik.

Otomatis aku tersedak dan batuk-batuk, membuat Hyuk Jae oppa semakin memandangku dengan penuh rasa curiga. “wae gabjagi oppa?? (kenapa kau tiba-tiba)”

“wajahmu merah seperti tomat rebus membuat aku curiga~~~~~~”

Cengiran iseng dengan jelas terpampang diwajah tampan Hyuk Jae oppa, dan aku tahu ternyata dia hanya memancing ku untukku bercerita lebih lanjut~ “yaa~ oppa!!!!” dengan sekuat tenaga aku melempar bantal kewajahnya yang sedang nyengir dengan lebarnya.

Hyuk Jae oppa tertawa bahagia, membuat aku ingin mencakar wajahnya. “geundae (tapi) mana pria bermarga Cho itu?? Aku jarang melihat kau pacaran dengannya. Apa jangan-jangan kalian sudah putus yah” Dengan sebal aku mencubit pinggang Hyuk Jae oppa, dan dia pun meringis kesakitan. “habisnya aku jarang melihat dia datang kerumah lagi semenjak kau diantar pulang malam-malam itu.”

“Kyu Hyun sedang mengerjakan tahap akhirnya, jadi waktu dia untuk bersama ku praktis berkurang.” Tanpa sadar aku melihat layar handphone, tidak ada satu pun panggilan masuk atau sekedar sms.

“hari ini dia belum menghubungimu yah??” aku melihat Hyuk Jae oppa menjulurkan lehernya untuk ikutan melihat layar handphone ku. Aku menggeleng, “hari ini kan hari sabtu, dia tidak mengajakmu kencan??” tanpa sadar aku menarik nafas, “apa dia jangan-jangan punya yeoja lain??”

“OPPPAAAAA!!!!!!! Senang sekali kau melihat aku patah hati!!!”

“anniyo~ geunyang… (hanya saja) kalau memang dia tidak menghubungi mu, kenapa tidak kau saja yang menghubunginya?? Pacaran itu kan adalah komunikasi dua arah.”

“oppaa~ sepertinya kau ahli mengenai pasangan tapi kenapa sampai sekarang kau belum punya pasangan?”

“issshh~~!!!” dengan sebal Hyuk Jae oppa meninggalkan ku sendiri.

Memang pacaran itu adalah komunikasi dua arah, tapi beberapa hari terakhir ini kau merasakan kurangnya komunikasi antara aku dengan Kyu Hyun. Dikampus dia selalu sibuk mengejar dosen pembimbingnya, sedangkan aku sibuk mencari data untuk bahan tahap akhirku. Saat aku pulang Kyu Hyun pun harus tetap tinggal diperpus mencari data-data lanjutan, dan malamnya kalau aku telpon dia sudah tidur. Begitu terus hampir setiap hari, beda dengan dulu, sesibuk apapun Kyu Hyun pasti dia menyempatkan menanyai kabarku. Dikampus saja hanya bisa say hallo dan itu pun hanya bisa papasan sebentar saja.

Dengan perasaan bimbang bercampur tidak pasti aku kembali menatap layar handphone dan memberanikan diri menekan nomor Kyu Hyun. Tersambung. Hening. Menunggu. Tidak ada jawaban. Selalu seperti itu. Kutekan kali ini nomor handphone Ah Ra eonnia. Tersambung. Kali ni tidak perlu menunggu lama untuk menunggu jawaban karena suara renyah Ah Ra eonnie sudah terdengar dari sebrang.

“waeyo, Min Rin-ya?” tanpa perlu berbasa-basi, tanpa perlu mengucapkan hallo. Itulah Ah Ra eonnie. “kau mencari Kyu Hyun lagi?” dan langsung tepat pada sasarannya.

“ne~~” entah kenapa dengan Ah Ra eonnie membuat ku lebih mudah untuk bercerita, mungkin karena kami sama-sama yeoja beda dengan Hyuk Jae oppa. Tanpa sadar aku menghela napas yang sepertinya terdengar sampai ketelinga Ah Ra eonnie. Tajam sekali pendengarannya.

“gwaenjhana??” nadanya terdengar sedikit khawatir.

“gwaenjhanayo. eonnie sedang latihan yah?” aku mendengar suara music mengalun

“sedang break kok~ apa yang mau kau ceritakan? Marhae (ceritalah)”

Aku diam sejenak, “kegeo (itu). . . . . “ tetap saja susah mau bertanya tentang namdongsaengnya.

“aahh~ uri namdongsaeng (adik laki-lakiku). Dia sedang sibuk. Aku saja sulit menemuinya dirumah. Aku pergi dari rumah dia masih tidur saat aku pulang dia belum pulang. Kau juga kesulitan menghubunginya yah?”

“ne~ telponnya tidak pernah diangkat.”

“dia sering meninggalkan telponnya dirumah. Sering sekali ketinggalan dimeja makan. Kalau hari ini aku tidak tahu ketinggalan atau tidak.”

“ahhh~ georugeuna (ahh, jadi seperti itu)”

“Ah Ra-sshi” terdengar suara dari jauh memanggil Ah Ra eonnie, “Min Rin-ya, sudah dulu yah aku harus latihan lagi.”

“ne eonnie, gomawoyo.”

“ne~~ neo geogjeong hajimaaaaaa~~ (kau jangan terlalu khawatir) byee~”

Telpon terputus.

Pacaran membawa dampak tidak baik sepertinya. Terlalu sering dihantui perasaan tidak menentu dan tidak jelas. Tanpa berpikir panjang aku mengganti baju ku dan siap-siap kekampus. Memang hari ini kampus libur namun perpustakaan tetap dibuka sampai jam 7 malam. Aku yakin saat ini Kyu Hyun pasti sedang berkutat dengan buku di perpustakaan. Tidak ada salahnya kan aku mendatangi dia.

Kampus sepi. Jelas! Kan hari ini libur. Walaupun libur ternyata perpustakaan masih tetap seramai biasanya. Dengan mudah aku mendapatkan Kyu Hyun duduk dipojokan sambil menutup telinganya dengan headset, mungkin orang awam tidak akan mengenalinya dengan mudah karena hampir sebagian besar mejanya tertutup dengan buku yang hampir setingi wajahnya. Aku dengan mudah dapat mengenalinya lewat punggungnya.

Sepertinya dia tidak sadar aku mendatanginya. Dengan lembut kusentuh bahunya, Kyu Hyun pun menoleh seketika. Dia tersenyum lelah, wajahnya kuyu dan matanya ada lingkaran hitam.

“gwaenjahan??” aku menempelkan dagu diatas bahunya, mengintip hasil karya Kyu Hyun dilaptopnya.

Dengan lembut Kyu Hyun mengacak-acak rambutku, “neo waeyo waseo? (Kau kenapa datang)” aku menghirup sebanyak-banyaknya aroma tubuh Kyu Hyun, ternyata aku begitu merindukannya. Dan perhatian lembut yang barusan Kyu Hyun lakukan membuat aku hampir menangis terharu.

“bogosiepo~” tanpa berpikir panjang aku mengecup sekilas pipinya. Padahal aku biasanya malu untuk memamerkan kemesraan kami depan public, tapi entah kenapa aku ingin sekali dia tahu bahwa aku begitu merindukannya.

Sepertinya Kyu Hyun sudah tidak kaget lagi dengan aksiku yang tiba-tiba mengecup pipinya. Walaupun aku tidak melihat wajahnya, aku sangat yakin saat ini Kyu Hyun sedang tersenyum senang.

“mian, aku begitu sibuk persiapan sidang final.” Wajahnya begitu penuh penyesalan, seperti wajah seorang anak kecil yang enggan untuk memakan makan siangnya.

Dengan lembut aku memijat bahunya dan mengambil tempat duduk tepat disampingnya. “masih banyak yang mesti diriset?” aku melihat begitu banyak buku terbuka didepannya. Dia mengangguk lemah. “gweanjhana~ aku temani kau sampai selesai. Lagipula sudah lama kita tidak pacaran diperpus. Ingat pertemuan kita diperpus dulu?” aku tersenyum penuh kenangan.

“yang bukumu tanpa sengaja kena liurku itu??” wajah Kyu Hyun sudah tidak selelah sebelumnya, sepertinya ada bagusnya juga aku datang, aku tersenyum dalam hati.

“bukan tanpa sengaja! Tapi memang kau tiduri dan liur mu menetes disituh!”

Kyu Hyun terkekeh pelan, “gomawo~” ucapnya tiba-tiba dan membuat aku kaget.

“mwoga?”

“mau datang kesini menemaniku. Kepalaku sudah mau pecah rasanya. Geundae (tetapi) kenapa datang tidak menelpon dulu?”

“itu yang mau kutanyakan kepadamu! Kemana kau ku telpon tidak diangkat-angkat?”

“jinja?? Ku tidak mendengar bunyi telpon berbunyi?”

“bagaimana mau mendengar kalau telponnya kau tinggalkan diatas meja makan?”

“aissh~ kenapa aku jadi pelupa begini! Sidang akhir membuat aku stress sendiri.”

“hwaiting!! Neo halsuiseoyo! Nal mideoyeo. (semangat, kau pasti bisa. Percayalah kepadaku)” ingin rasanya saat ini aku memeluk Kyu Hyun untuk meringankan beban yang dia tanggung saat ini.

“ahhh~ jagiyaaaaa~~~ gomawoyoooooooooo~” Kyu Hyun menarikku kedalam pelukannya, membuat aku terkejut dan hampir terjatuh dari kursi yang aku duduki dan hampir semua orang yang ada didekat kami melihat dengan pandangan aneh.

Aisshh,, kenapa si Kyu Hyun mulai lagi dehhh!!

“yaaa~~ Cho Kyu Hyun, neol……. (kauuuu……)” ucapan ku terputus saat Kyu Hyun mengecup bibirku sekilas, hanya sekilas dan sesaat namun sanggup membuat ku terbungkam penuh kejut.

Aku limbung saat Kyu Hyun melepaskan pelukannya dan aku mundur dengan otak kosong, tidak bisa berfikir dan tak dapat marah. Senyuman evil Kyu Hyun yang terpampang dengan jelas diwajahnya membuat aku menatapnya dengan bingung.

“baru aku kasih kecupan begitu saja sudah limbung, bagaimana kalau aku melakukan apa yang kemarin ini kita lakukan.” Senyuman evil Kyu Hyun semakin terpampang jelas.

“aku kesini bukan untuk mendapat olok-olokmu!” aku merajuk sebal

Kyu Hyun tertawa lepas, sehingga beberapa orang menyuruhnya diam. Sekarang gantian aku yang ingin tertawa melihat ekspresi Kyu Hyun, namun kalau aku tertawa nanti bisa-bisa kami diusir dari perpustakaan. Lagipula aku juga menahan tawa karena Kyu Hyun menatapku tajam dengan matanya yang menyuruhku jangan menertawakan dirinya.

Pagi ini ketika bangun dari tidur aku merasakan semangat yang baru. Seperti terbebas dari beban yang selama ini menghimpit. Tanpa kusadari aku mulai bersenandung kecil.

“sepertinya kau sedang bahagia,” aku tidak memperdulikan nada menyindir dalam ucapan Hyuk Jae oppa.

“geuroommm~~~ (tentu saja)” aku masih bersenandung kecil saat mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai keju kesukaanku.

“berati kau tidak jadi putus dengan si bermarga Cho itu yah.”

Aku melemparkan tatapan sebal kearah Hyuk Jae oppa, berharap tatapanku dapat membunuhnya. “carilah yeoja chingu agar kau tidak terus mengganggu ku oppa!!”

“eomma~~” Hyuk Jae oppa merajuk menjijikan seperti anak TK, “lihatlah putri kesayanganmu itu selalu memojokkanku.”

“geuman~ (berhentilah)” eommaku hanya dapat tersenyum melihat tingkah menjijikan putra kesayangannya. “kau juga berhenti menggoda adikmu.”

Aku melemparkan tatapan penuh kemenangan kearah Hyuk Jae oppa, “geurigu neol, Lee Min Rin (dan kau juga, Lee Min Rin) berhentilah menggoda oppa mu.” Kali ini Hyuk Jae oppa yang melemparkan tatapan penuh kemenangan ke arahku. Menyebalkan!

Tetapi aku tidak mau merusak pagi indah ini dengan gangguan tidak penting dari Hyuk Jae oppa. Hari ini Kyu Hyun berjanji akan menjemput aku untuk pergi bersama ke kampus, namun sudah siang seperti ini belum ada kabar kalau dia sudah sampai.

“tumben kau belum pergi,”

“wae? Oppa mau menghantar aku kekampus?”

“naega wae?? (kenapa aku?) shirro!! Kau minta jemputlah sama namja chingumu itu.”

“sudah, tapi dia belum sampai-sampai juga.”

“mungkin dia sedang menghantar dan menjemput yeoja chingunya yang lain.” Hyuk Jae oppa nyengir lebar sambil memperlihatkan gusinya.

“yaa!! Oppa!! Neol geumanhae!! (kau berhentilah)”

Hyuk Jae oppa hanya tertawa senang diatas kesebalanku! Aku mencoba menelpon Kyu Hyun, lagi-lagi tidak diangkat. Mungkin dia sedang menyetir makanya telponku tidak diangkat. Ini harus aku tunggu atau aku pergi sendiri kekampus? Karena aku juga ada janji dengan dosen pembimbing pagi ini, mana dosennya selalu sibuk kalau mau buat janji. Naik bus atau subway tidak mungkin dapat terkejar, pasti juga telat. Mau tidak mau aku harus berbaik hati dengan Hyuk Jae oppa agar aku dapat dihantar kekampus.

“oppa~ kau belum ada kegiatan kan pagi ini? Hantar aku kekampus yah. Jaebal.” Aku mencoba mengeluarkan seluruh aegyo yang aku miliki.

“naega wae?”

Aku menarik nafas, “aku mengejar dosen pembimbing, dia susah sekali ditemui. Jaebal jom.”

“arraseo, arraseo. Aku hantar, tapi kau harus belikan aku pancake strawberry dengan ice cream diatasnya.”

Isshh~ kesempatan sekali dia meminta begitu. Tetapi mau bagaimana lagi, kalau aku tidak aku bisa-bisa harus menunggu 10 hari lagi untuk bertemu dengan dosen pembimbing saja.

“arraseo. Naega modeun geoljuge (aku berikan semuanya).”

“naah~ begitu dong, baru yeoja dongsaeng kesayangan ku.”

Aku mendengus sembari membereskan keperluanku, “kita berangkat sekarang.”

“kau tidak perlu aku jemput kan?” Hyuk Jae oppa bertanya saat kami sudah sampai.

“eoh~ nanti aku pulang naik bus saja.”

“tidak bersama Kyu Hyun?”

“molla! Sudah aku sudah telat ini.”

Aku langsung pergi meninggalkan Hyuk Jae oppa sebelum dia kembali mengolok-olokku lagi. Kyu Hyun aku telpon-telpon masih tetap tidak diangkat. Mau telpon Ah Ra eonnie aku malu mesti menghubungi dia terus. Awas saja kau Cho Kyu Hyun, jugeosseo!!! Dengan sebal aku melemparkan handphone dengan asal masuk kedalam tas.

Aku berhenti berjalan saat mataku menangkap sosok Cho Kyu Hyun sedang asyik tertawa dengan beberapa yeoja. Betul itu pasti Kyu Hyun, aku tidak mungkin salah. Tetapi kenapa dia berada disini dan bukannya menjemputku? Kenapa juga dia tidak mengangkat telpon dariku. Tidak peduli dengan dosen pembimbing yang hanya dapat ditemui 10 hari sekali, aku berjalan bergegas menghampiri Kyu Hyun yang sedang hahahihi.

“Kyu Hyun-ah.”

“Min Rin-ah, onjae waeso?” pelan-pelan yeoja-yeoja ini pergi meninggalkan aku dan Kyu Hyun.

“telpon mu tertinggal lagi?”

“ehh??” Kyu Hyun mengaduk-aduk isi tasnya dan akhirnya menemukan handphonenya entah dimana. “mian, aku tidak tahu.” Wajahnya menunjukan ekpresi menyesal ketika tahu berapa banyak aku menelponnya.

“dan kau janji akan menjemput aku dirumah namun kau tidak datang?”

“kkamppag haetta (aku lupa)”

Mau marah aku sudah tidak punya tenaga untuk marah, mau kesal sudah tidak tahu seberapa kesalnya aku saat ini.

“apa sih yang terjadi dengamu akhir-akhir ini? Selalu saja susah dihubungi, selalu saja tidak pernah memberi kabar, selalu saja lupa dengan janji yang sudah diucapkan.”

“mianhae Min Rin-ya, sepertinya sidang akhir betul-betul membuat aku stress.”

“dan kau melupakan diriku?” baru aku sadar betapa lelahnya aku saat ini, “aku mau bertemu dengan dosen pembimbing dulu.”

Tangan Kyu Hyun menangkap lenganku saat aku hendak meninggalkannya. “aku akan menunggumu disini.”

“maemdaero haeseoyo (sesukamulah)” jawabku pelan.

Dan benar saja Kyu Hyun menungguku sampai aku selesai bertemu dengan dosen pembimbing.

“aku hantar kau pulang.”

“bukannya kau masih banyak urusan ya?”

“naega jalmoshaesseo (aku yang salah), mianhada Min Rin-ah.”

“aku tidak mengenal dirimu untuk beberapa hari belakangan ini, aku seperti pacaran dengan sosok asing. Aku rela menelan olok-olokkan dari Hyuk Jae oppa, hajiman (tetapi) batas pengertianku sepertinya sudah berakhir.”

“Min Rin-ya, kau mau kemana?” Kyu Hyun menahan tanganku

“pulang dengan bus.”

“aku hantar.”

“dwaeso! Aku bisa pulang sendiri, sama seperti tadi datang bisa datang sendiri.”

“heiii~ Lee Min Rin.” Seseorang yang disana sedang melambai-lambaikan tangannya kepadaku.

“nugusaeyo?? Dong Hae oppa!!!” aku menyentakan tangan Kyu Hyun dan berlari menemui Dong Hae oppa. “oppa~ neol wae yeogiisseoneundae (kenapa kau bisa disini?)” aku tersenyum lebar.

Dong Hae oppa pun tersenyum dengan manisnya, ahh~ senyumannya membuat kekesalanku mencair seketika. “geunyang, ice cream meoggo sipeo? (kau ingin makan escraem?)”

“eoh~!! Gaja, oppa.” Tanpa melihat Kyu Hyun yang sedang berdiri memperhatikan kami, aku langsung masuk kedalam mobil Dong Hae oppa.

Kyu Hyun poffs

Aku tahu kalau akhir-akhir ini aku sering menelantarkan Min Rin, aku berharap Min Rin mengerti dengan kondisiku saat ini.

“lihat saja, kalau kau masih seperti ini, suatu hari nanti Min Rin akan meninggalkanmu!” ucap Ah Ra eonni.

“mana mungkin.”

“kau tunggu saja, yeoja mana yang tidak gerah dan kesal diperlakukan seperti sekarang kau memperlakukan Min Rin”

“tapi Min Rin, tidak begitu.” Ucapku tetap keras kepala.

“suatu hari nanti dia pasti meledak juga. Salut dengan Lee Min Rin yang masih kuat dengan tingkahmu itu!”

Seperti Ah Ra noona katakan, akhirnya dia meledak juga. Dan aku tidak siap dengan ledakan Min RIn yang begitu tiba-tiba dan ada sosok Dong Hae Hyung yang sepertinya pernah ditaksir sama Min Rin. Mana pernah Min Rin terang-terangan sok manja seperti itu, tidak denganku tidak juga dengan Hyuk Jae Hyung, selama ini aku tidak mengira Dong Hae Hyung bisa menjadi ancaman untukku.

Kenapa juga Dong Hae Hyung harus datang disaat Min Rin sedang marah denganku, ini betul-betul menyebalkan. Ini sepertinya aku harus menyusun strategi. Tetapi aku tidak bisa berpikir tentang apapun kalau yang aku ingat hanyalah wajah Min Rin yang dengan senangnya pergi bersama Dong Hae Hyung! Alangkah bagusnya kalau aku tahu kemana mereka berdua pergi!

“tumben sekali kau jam segini ada dirumah.”

“noona, juga tumben siang-siang begini ada dirumah.” Aku merebahkan diriku di sofa

“tidak datang bersama Min Rin?”

“anni~ dia pergi bersama dengan Dong Hae Hyung,” tanpa sadar aku berbicara dengan nada kesal.

“sepertinya kau kesal tahu mereka pergi bersama.” Dan kenapa juga aku menangkap nada suara senang dalam ucapan Ah Ra noona.

“Dong Hae Hyung datang saat Min Rin sedang marah denganku tadi!” nada suaraku semakin bertambah kesal.

“kenapa Min Rin marah padamu?”

Aku menarik nafas sebelum akhirnya duduk, “Min Rin marah padaku karena tadi pagi aku lupa kalau aku janji menjemputnya, dan dia menemukanku sedang tertawa-tawa dengan yeoja-yeoja dikampus.”

“nah kan~ akhirnya kau membuat dia kesal juga. Lupa menjemput dan akhirnya menemukanmu bersama yeoja. Dan sehabis itu datanglah Lee Dong Hae tanpa diduga?? Waaahh~~ hebat sekali.”

“noona~ berhentilah mengolok-olokku, bagaimana caranya agar aku mendapatkan maaf darinya?”

“dulu kau bisa mendapatkan hatinya, masa sekarang kau mendapatkan maaf dari dia saja sulit.”

“dulu aku tidak punya pesaing, skr ada DongHae Hyung.”

“berhentilah merajuk! Dengan merajuk kau akan membuat Min Rin masuk kedalam pelukan Lee Dong Hae.”

“maldo andwae!!”

“minta maaflah padanya baik-baik.”

Lee Min Rin masuk kedalam pelukan Lee Dong Hae!!! Jeoldae andwae!! Jeoldaero!! Aku harus membuat Min Rin kembali padaku. Tanpa banyak berpikir aku langsung menuju rumah Min Rin. Tidak ada orang dirumah. Beberapa kali aku mencoba membunyikan bel tidak ada yang menjawab. Min RIn aku telpon juga tidak diangkat, Hyuk Jae Hyung aku telpon juga tidak diangkat, kenapa kakak adik bisa kompak seperti ini. Apa jangan-jangan Min Rin masih bersama Dong Hae Hyung? Aissshh~ sudah berapa lama mereka bersama kalau gituh? Dong Hae hyung juga seharusnya kan sadar kalau Min Rin jangan dihantar pulang malam-malam! Masih dengan sebal, akhirnya aku memilih menunggu Min Rin pulang dalam mobil.

Tiga puluh menit berlalu dan Min Rin belum pulang juga. Tetap tidak mau mengangkat telpon dariku, apa jangan-jangan dia mencoba membalas perbuatanku selama ini? Batas kesabaranku hampir habis. Dari kejauhan ada sebuah mobil yang menuju kearahku, berdoa dalam hati itu Min Rin, dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak memukul wajah Lee Dong Hae. Benar saja itu Min Rin dan Dong Hae Hyung, Min Rin tersenyum senang, seperti yeoja yang diajak kencan oleh namja chingu!! Ehhhh~ apa dia pernah sesenang itu kalau bersamaku?

Aku keluar dari dalam mobil tepat saat Min Rin dibukakan pintu mobil oleh Dong Hae Hyung. Tiba-tiba aku diselimuti perasaan ingin sekali menyingkirkan Lee Dong Hae jauh-jauh dari Min Rin.

“dari mana saja kalian?”

Saat melihatku senyum yang tadinya tergambar jelas diwajah Min Rin langsung hilang lenyap.

Kyu Hyun poffs End

Aku sebal dengan Kyu Hyun! Semudah itu ia bisa melupakan janjinya kepadaku! Sibuk boleh sibuk tapi kan tidak sampai dengan mengabaikan aku seperti itu. Biarkan saja dia rasakan aku marah! Mau tahu sampai mana usaha dia mengambil hatiku.

“bukannya tadi itu Kyu Hyun, neol namja chingu.”

“eoh~”

“kalian bertengkar yah?” Dong Hae oppa tersenyum sambil menyetir, aku mendengus sebal.”ahh~ kalian ini anak muda, sudah berapa lama yah aku tidak pacaran.”

“bukannya oppa sedang pacaran dengan uri oppa?”

“maksudmu Lee Hyuk Jae!!!!???!!!!” aku mengangguk sambil tertawa! Dong Hae oppa pun nyengir lebar, “aku dan dia hanya membuat kenangan manis diantara kami berdua.” Mau tidak mau aku akhirnya tersedak. Lebih baik tidak bertanya macam-macam dan selanjutnya kalau jawabannya seperti itu. “sampai. Kau pesen saja dulu, aku parkir mobil.”

“eoh~ arraseo.”

Aku memesan dua ice cream ukuran sedang untuk kami masing-masing. Dan Kyu Hyun pun tidak berhenti-berhenti menelponku.

“anhbada?? (tidak diangkat telponnya?)” Dong Hae oppa menarik kursi dan duduk dihadapanku.

“geunyang~~”

“masih marah dengan Kyu Hyun??” Dong Hae oppa menyuapkan ice cream kedalam mulutnya.

“molla~ aku hanya kesal oppa.” Entah kenapa aku malah bercerita tentang masalahku dengan Kyu Hyun kepada Dong Hae oppa, rasanya begitu mudah bercerita kepadanya, semuanya mengalir begitu saja. Berbeda rasanya kalau aku bercerita dengan Hyuk Jae oppa, pasti aku diolok-oloknya, tapi tidak begitu dengan Dong Hae oppa, dia mendengarkan dengan sabar tanpa mengolok-olok dan dia juga memberikan solusi. “sebetulnya, aku tidak marah karena melihat dia dengan yeoja, namun aku kesal karena dia begitu mudahnya melupakan janjinya kepadaku. Bukannya aku tidak mengerti keadaannya kali ini, namun….”

“kau tetap membutuhkan perhatian dari Kyu Hyun??” kenapa Dong Hae oppa bisa dengan mudah menebak arah hati dan pikiranku.

“yah~ kurang lebih seperti itu oppa.” Kyu Hyun tidak henti-hentinya menelponku dan aku sedang malas berbicara dengannya. Mungkin besok tapi tidak malam ini. Lagipula kan dia tau aku sedang bersama Dong Hae oppa, jangan-jangan itu yang membuatnya tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu, eehhh~~ kenapa otakku tiba-tiba berfikiran sesuatu yang jail yah. Tanpa sadar senyuman evil ala Kyu Hyun tercetak jelas diwajahku.

“kenapa kau tersenyum menyeramkan seperti itu?”

“oppa~ aku minta bantuanmu.” Aku tersenyum “menyeramkan” seperti yang Dong Hae oppa katakan.

Seperti dugaanku sebelumnya Kyu Hyun pasti menungguku, benar saja dia sudah ada diepan rumahku menunggu kepulanganku. Aku langsung pasang wajah cemberut ketika Kyu Hyun menghampiriku dan Dong Hae oppa, wajah Kyu Hyun tidak kalah cemberutnya dengan wajahku.

“kau pulang malam sekali,” tukas Kyu Hyun tanpa perlu repot-repot menyapa Dong Hae oppa terlebih dahulu.

Dengan malas aku pura-pura melihat jam tanganku, yang sebetulnya aku tahu pukul berapa sekarang ini. “eoh.”

“nan meonjeo ga, naeil boja (aku pulang dulu sampai bertemu besok.) ” Senyuman Dong Hae oppa sukses membuat lututku lemas.

Aku tersenyum semanis mungkin, “eoh~ arraseo, naeil boja (sampai besok).” Dong Hae oppa mengangguk sekilas kearah Kyu Hyun dan Kyu Hyun hanya berdiri sepertinya mencoba sebisa mungkin untuk menahan amarahnya. Dan aku tidak perduli dengan kemarahan Kyu Hyun saat ini.

“aku tidak suka kau tersenyum seperti itu padangnya!!” suara Kyu Hyun sarat kecemburuan.

“tersenyum seperti apa?” tanyaku pura-pura bodoh

“seperti kau adalah yeoja chingunya! Hajiman (tetapi) besok kau janji bertemu lagi dengannya?”

“dia berjanji mengantarku kekampus pagi-pagi.”

“tetapi besok aku juga bisa mengantarmu!” Kyu Hyun mengekor dibelakangku saat memasuki rumah.

“dan kau akan lupa lagi dengan janjimu itu?” aku menyalakan lampu, karena sepertinya hanya aku yang baru sampai dirumah. “lagipula, aku tidak bisa menolak niat baik Dong Hae oppa.”

“kali ini aku janji tidak akan lupa,” suara Kyu Hyun mulai sedikit merajuk, dan aku tetap tidak perduli.

“ohya?” tanyaku sinis sambil melemparkan tasku ke sofa dan duduk disitu sambil melihat Kyu Hyun yang sudah siap meledak. “smsku tidak pernah dibalas, telponku tidak pernah diangkat dan kau sudah mulai tidak menanyakan kabarku, aku juga sulit mencari tahu tentang keberadaanmu dan harus menelpon Ah Ra eonie untuk mendapatkan informasi. Dan sekarang kau datang kesini marah-marah hanya karena aku sedikit bersenang-senang dengan Dong Hae oppa??”

“naega jalmoshaesseo (aku yang salah), aku berjanji tidak akan terulang,”

“dwaesoyo! Aku lelah, sebaiknya kau pulang saja.” Aku berdiri hendak meninggalkan Kyu Hyun, sekali-kali namja sok tampan itu memang harus diberi sedikit pelajaran!

“Min Rin, Lee Min Rin!!”

Author poffs

“kenapa kau teriak-teriak dirumah orang??!!??” Hyuk Jae sepertinya baru saja datang. “dan kenapa juga nae dongsaeng meninggalkanmu sendirian disini? Sudah beberapa hari terakhir ini dia galau karena kau tidak pernah menghubunginya, tumben-tumbenan sekali dia mengacuhkanmu.”

Kyu Hyun menarik nafas dan duduk lagi di sofa, “berikan aku air Hyung, aku kan tamu disini.”

“aigoo!! Sejak kapan kau jadi tamu dirumah ini semenjak kau sudah menganggap ini rumahmu sendiri.” Sambil main-main Hyuk Jae melemparkan bantal sofa ke kepala Kyu Hyun dan langsung ditangkap dengan sigap oleh Kyu Hyun. “ada apa kau dengan nae dongsaeng? Kau diputusin Min Rin??!!??” Hyuk Jae tersenyum jahil sambil memamerkan deretan gusinya.

“HYUUUUUUUUUUUUUUUUNNNNNNNNNNGGGGG!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Sepertinya kau ingin sekali aku putus dengan Min Rin!!!!”

Hyuk Jae tertawa, “persis seperti itu reaksi Min Rin saat aku goda kau sudah meminta putus darinya. Kalian ini kenapa sih? Kemarin Min Rin yang uring-uringan, sekarang kau yang seperti orang mau mati saja.”

“bagaimana aku tidak mau mati Hyung, kalo Min Rin lebih memilih dijemput oleh Dong Hae Hyung dibandingkan aku namja chingunya.”

“ohya?? Kenapa bisa nae dongsaeng bisa dijemput oleh si Dong Hae?”

“aku lupa menjemput dia pagi ini dan dia marah padaku dan tiba-tiba saja Dong Hae Hyung datang kekampus dan mereka pergi berdua dan baru saja pulang malam ini.”

Hyuk Jae terkekeh, “hati-hati kau Kyu Hyun, Min Rin pernah naksir setengah mati dengan Dong Hae.”

“HYUNG!! Jangan menakutiku seperti itu!!”

“naega onjae!!! (kapan aku melakukannya?) aku mengatakan yang sebenarnya!” Hyuk Jae meluruskan kakinya, “apakah kau memperhatikan setiap kali Min Rin melihat Dong Hae wajahnya akan seperti orang bersinar? Dan dia menatap Dong Hae dengan penuh kekaguman? Dan dia selalu tersenyum?”

Jantungku mencelos! Seperti itulah saat Dong Hae datang kekampus, jadi Min Rin benar-benar menyukai Dong Hae Hyung dan tidak berubah sampai sekarang, bahkan saat dia sudah memiliki namja paling tampan seperti aku?

“Hyung, neol jigeum jangnan anniya? (kau tidak sedang bercanda kan?)”

Hyuk Jae terkekeh, “kau takut kalah bersaing dengan Dong Hae?? Namja yang diam-diam sudah hampir delapan tahun dikagumi nae dongsaeng?”

Mwo!!!! Delapan tahun!! Kyu Hyun merutuk pelan dalam hati. “tapi saat ini kan dia sedang berpacaran denganku , Hyung, setidak-tidaknya Min Rin masih aman.”

“kata siapa??” Hyuk Jae tersenyum mengejek

Kyu Hyun semakin merutuk keki dalam hati, mencoba menahan sekuat tenaga untuk tidak mengguncang-guncangkan tubuh berotot Hyuk Jae.

“kau kan selama beberapa hari ini sudah menelantarkan Min Rin dan dia begitu sangat-sangat kesal karenanya. Jadi kau sedikit berhati-hatilah,”

“Hyung, berhenti menakut-nakutiku!”

“sudah kukatakan aku tidak menakut-nakutimu!!” Hyuk Jae pura-pura kesal, padahal sebetulnya ada tawa menari-nari dimatanya, hanya karena sedang kalut maka Kyu Hyun tidak memperhatikan kilatan jahil tersebut. “dulu kau mampu mencairkan keras kepalanya Min Rin, aku yakin saat ini kau juga mampu membuat Min Rin kembali padamu.”

“Min Rin masih milikku, Hyung, aku hanya akan membuatnya tidak marah padaku!”

Hyuk Jae sekuat tenaga menahan tawa saat melihat bocah tampan didepannya sudah sepenuhnya frustasi mengetahui dia memiliki rival yang cukup berat. “kau pulanglah, percuma kau menunggu disini saat Min Rin dengan keras kepalanya tidak mau menemuimu. Berdoalah supaya esok dia sudah bisa diajak bicara.”

Auhor poffs

Kyu Hyun poffs

Benar kata Hyuk Jae Hyung, lebih baik aku pulang daripada membuat Min Rin lebih kesal lagi padaku.

“sampaikan padanya aku pulang yah Hyung,”

“eoh~ hati-hatilah kau menyetir.” Aku mengangguk pelan, “dan sampaikan salam pada kakakmu yang cantik itu.” Kali ini aku nyengir lebar. Masih berharap dia sama uri noona.

“eoh~ arraso Hyung,”

Walaupun aku sudah menitipkan salam pada Hyuk Jae Hyung, aku tetap memberikan kabar melalui pesan singkat kepada Min Rin bahwa aku pulang. Sebetulnya aku tidak mengharapkan dia akan membalas pesanku namun ternyata dia memang masih peduli padaku, butkinya dia mengirim pesan balasan yang walaupun hanya mengatakan hati-hati menyetir. Setidaknya aku bisa pulang dengan perasaan yang sedikit lebih lega dibandingkan saat aku melihat Min Rin dengan begitu riang bersama Dong Hae Hyung.

“habis dari kampus lagi baru pulang larut malam?” aku menemukan Ah Ra noona sedang menempelkan wajahnya dengan mentimun sambil meminum milkshake.

“anni~ aku habis dari rumah Min Rin.”

“ahh~ jadi hubunganmu dengan Min Rin sudah membaik?” aku menghela nafas dengan pelan namun sepertinya terdengar oleh telinga Ah Ra noona, “aku tebak kalau Min Rin masih marah padamu.” Aku mengangguk lemah, percuma berbohong padanya saat uri noona mengenal dengan baik diriku. “beri waktu padanya, dia akan membaik dengan sendirinya.”

“maksudnya aku menjaga jarak dengannya gituh?” aku menatap uri noona dengan pandangan yang seolah-olah mengatakan lebih–baik–aku–bunuh–diri! “dengan Dong Hae yang sekarang menjadi rivalku, noona??? Tidak akan aku menjauhkan diriku dari Min Rin kalau begitu ceritanya”

“yaah, terserah padamulah kalau begitu. Aku hanya menyarankan saja, jangan sampai Min Rin semakin bertambah kesal padamu saja. Dan terlebih-lebih lagi aku tidak mau kau merengek-rengek minta bantuanku!” dia pergi sambil mendengus kesal dibelakangku.

Aku hanya berharap bahwa besok pagi Min Rin sudah membaik dan tidak marah lagi kepadaku, otakku rasanya tumpul tidak dapat berfikir dengan jernih untuk saat yang penting seperti ini. Menyebalkan!

Esoknya aku datang kerumah Min Rin lebih pagi, agar tidak kedahuluan Lee Dong Hae. Namun apadaya ternyata mobil Dong Hae Hyung lebih dulu sampai, dan tepat saat aku keluar dari mobil Min Rin pun keluar dari dalam rumah dan menghampiri Dong Hae Hyung dengan wajah berbinar-binar. Membuat perutku serasa ditohok melihat Min Rin tersenyum kepada namja lain selain aku. Sepertinya sadar akan kehadiranku Min Rin menoleh dan senyumnya pun langsung memudar.

“aku sudah bilang kan kalau pagi ini Dong Hae oppa yang akan mengantarku ke kampus??” tidak ada senyum, tidak ada pertanyaan basa basi. Hatiku seperti dipelintir rasanya.

“kau masih marah padaku?”

“molla~ nan meonjo ga (aku pergi dulu)”

Rasanya seperti diasingkan, dan senyuman Dong Hae Hyung seolah-olah menertawakanku. Sial! Aku tidak suka keadaan seperti ini lebih tepatnya aku tidak siap kalau aku memiliki rival.

Aku mengikuti mobil mereka tepat dibelakangnya, kalau Min Rin mau marah aku akan mengatakan kalau aku masih resmi menjadi namja chingunya. Dan dia tidak akan membantah itu. Dong Hae menurunkan Min Rin didepan banyak sekali mahasiswa yang berlalu-lalang, apa maksudnya Dong Hae Hyung melakukan itu? Sekali lagi aku melihat Min Rin tersenyum dengan sangat manis kearah Dong Hae yang ikut-ikutan turun dari mobil, membuat aku semakin bertanya-tanya sedang bermain perankah mereka berdua? Kalau iya, berati mereka berdua sukses membuat aku kesal dan cemburu setengah hidup!

“Min Rin-ya~ Lee Min Rin, jjangkkamanyo!”

“wae tto?? Aku sedang tergesa-gesa sekarang ini.” Aku dapat melihat tumpukan kertas-kertas yang dibawa Min Rin dengan sebelah tangannya.

“sini aku bantu bawakan.” Tanganku terulur untuk mengambil semua yang Min Rin bawa, namun Min Rin memalingkan sedikit tubuhnya dan berujar, “tidaak usah, aku bisa bawa sendiri.”

“kau masih marah padaku?”

“molla~! Sudahlah aku sudah tidak punya banyak waktu.” Dan Min Rin pun pergi meninggalkanku dengan semua permohonan maafku.

Hari demi hari berlalu dan sikap Min Rin padaku tidak berubah sedikitpun. Melainkan aku semakin sering melihat Dong Hae Hyung bolak balik mengantar dan menjemput Min Rin. Oke! Ini sudah keterlaluan dan sudah diluar batas kesabaranku. Akan tetapi rasa takut kehilangan Lee Min Rin lebih besar dibandingkan rasa marahku kepadanya. Mencoba melupakan sikap dingin Min Rin aku kembali menenggelamkan diriku dalam tugas-tugas tahap akhirku.

Kyuh Hyun poffs end

Sebetulnya aku ingin melihat sampai mana Kyu Hyun mencoba untuk membuat aku tidak marah dan kesal lagi padanya. Kasihan juga melihat Kyu Hyun yang kuyu dan lesu saat melihat harus melihat aku dengan Dong Hae oppa. Tidak sampai hati aku melihat namja yang aku sayangi seperti tidak punya semangat lagi.

“kita sudahkan saja drama ini,” ujar Dong Hae oppa suatu hari di teras rumahku, “kasihan aku melihatnya.” Aku terdiam. “mau sampai kapan kau menghukum Kyu Hyun?”

“oohhh~~ jadi ini hanya sandiwaramu saja yaahh Lee Min Rin!!!”

“Hyuk Jae oppa!!!” hampir saja aku terlonjak dari kursi yang aku duduki.

Hyuk Jae oppa mendengus, “pantas saja Kyu Hyun seperti mayat hidup setiap kali aku melihatnya datang ketempat latihan, ternyata penyebabnya kalian berdua!”

“habisnya aku sebal dengan dia! Aku beri dia sedikit pelajaran.”

“kau memberinya terlalu banyak pelajaran yang harus dia tanggung! Sudahlah seperti anak kecil saja main balas-balasan seperti ini!”

“aku sudah menyuruhnya untuk berhenti juga,”

“ada juga kau seharusnya tidak ikutan untuk membantunya Dong Hae-ya!”

“aku yang meminta Dong Hae oppa membantuku! Jangan salahkan dia!”

“lebih baik kau berbaikan dengannya! Aku capek menghadapi kalian berdua. Kalian yang pacaran aku yang kena tumpahan unek-unek kalian!”

“arrasoyo oppa, besok aku akan mengatakan yang sebenarnya dikampus.”

“kenapa mesti menunggu besok? Kenapa tidak sekarang saja kau kerumahnya?”

“besok! Aku katakan besok!” ucapku keras kepala

“maemdaerohae (terserah kau)”

Hari ini aku berharap Kyu Hyun akan datang menjemputku, tetapi sepertinya harapanku sia-sia karena Kyu Hyun tak kunjung datang dan akhirnya aku memutuskan untuk naik bus kekampus. Sebetulnya hari ini aku tidak ada jadwal dikampus dan masa bimbinganku pun sudah selesai hanya tinggal menunggu sidang kompre, namun karena ingin segera menyelesaikan urusanku dengan Kyu Hyun aku pun memilih datang kekampus.

Akhirnya aku melihat sosok tinggi menjulang menggunakan t-shirt putih dan topi pet melewati lorong kampus. Ada yang salah dengan cara berjalan Kyu Hyun, dia berjalan tidak seperti biasanya. Aku setengah berlari menghampiri sosok Kyu Hyun yang sepertinya menuju parkiran.

“Kyu Hyun-ah!!!!” aku berteriak memanggilnya sebelum dia masuk kedalam mobilnya. Kyu Hyun berhenti dan berusaha menyipitkan matanya saat melihat aku yang berlari menghampirinya, tumben sekali Kyu Hyun mengenakan kacamatanya saat kekampus, biasanya dia hanya mengenakan kacamata saat dirumah.

“kau sudah mau pulang?” aku harus mendongak saat harus melihat wajah Kyu Hyun.

“mana Dong Hae Hyung?” tanya Kyu Hyun tanpa basa basi.

“dia tidak bersamaku. Kyu Hyun-ah~ aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Aku – “

“daeumae (lain kali) aku ingin pulang sekarang.”

“Kyu Hyun-ah~” aku mencoba memegang lengan bajunya, “kau marah padaku? Naega – “ tiba-tiba tubuh Kyu Hyun sedikit lunglai sehingga aku harus mengencangkan peganganku, “Kyu Hyun-ah waegeurae? Eodi appo??”

“gwaenjhanayo.”

“aku hantar kau pulang, kau serahkan saja kunci mobilmu padaku.”

“aku bisa pulang sendiri dan kau pasti sudah ada janji untuk pulang bersama dengan Lee Dong Hae,” Kyu Hyun langsung menarik badannya dariku dan langsung masuk kedalam mobil sebelum aku memberikan penjelasan apapun padanya.

Ini harusnya tidak seperti ini! Ini bukan cerita yang aku mau. Kyu Hyun seharusnya tidak menyerah begitu saja. Aku merasa sudah keterlaluan mempermainkan perasaan Kyu Hyun hingga dia seperti itu! Tanpa banyak berpikir aku langsung menghentikan taxi begitu aku keluar dari kampus. Entah kenapa perasaanku tidak tenang, seperti ada yang menggangu namun aku tidak tahu itu apa.

Aku langsung keluar dari taxi begitu selesai membayar. Dan aku melihat mobil Ah Ra eonni keluar dari dalam dan berhenti sejenak hanya untuk menyapaku.

“cepatlah kau naik!!” ucapannya begitu mendesak

“aku ingin menemui Kyu Hyun eonnie.”

“karena kau ingin menemui Kyu Hyun makanya cepatlah masuk!” aku tetap terdiam memandangi Ah Ra eonnie dengan bingung, “Kyu Hyun kecelakaan!!” kata-kata itu membuat darah sepertinya menghilang dari tubuhku, “cepatlah!!!” hanya suara Ah Ra eonnie yang mampu membuat aku akhirnya masuk kedalam mobil seperti orang linglung.

“eotteohge –“

“aku sudah memaksa dia supaya jangan kekampus hari ini karena kondisinya yang sepertinya sangat lemah, namun dia tetap memaksa karena ada hal yang penting dan aku sudah memaksanya untuk naik taxi bahkan aku menawarkan diri untuk mengantarnya namun dia bersikeras untuk membawa mobil sendiri.”

Aku langsung teringat tubuh Kyu Hyun yang tadi hampir jatuh, cara jalannya yang berbeda dan sifatnya yang sepertinya beda. Semua karena aku! Jutaan rasa bersalah menghujam dadaku saat ini! “nan ttaemunae!!” ucapku lirih, tidak ditujukan kepada siapapun namun ditujukan kepadaku.

“bukan salahmu.” Ah Ra eonnie menggenggam hangat tanganku. “gwaenjhana. Nae dongsaeng sangat keras kepala, dia pasti baik-baik saja.”

Andai saja Ah Ra eonnie tahu perbuatan apa yang sudah aku lakukan yang membuat adiknya jadi seperti ini! Semua karena aku! Semua salahku! Kalau Kyu Hyun sampai kenapa-kenapa semua itu karena keras kepalanya aku! Seharusnya aku menuruti kata Hyuk Jae oppa untuk menemui Kyu Hyun kemarin malam, kalau aku bertemu Kyu Hyun tadi malam aku yakin saat ini Kyu Hyun tidak akan seperti ini. Kyu Hyun jaebal~ bertahanlah!! Aku ingin mengucapkan maaf kepadamu. Jaebal Cho Kyu Hyun bertahanlah.

Begitu Ah Ra eonnie menghentikan mobilnya aku segera berlari ke UGD. Aku tersentak kaget saat melihat tubuh Kyu Hyun penuh dengan alat-alat kedokteran dan saat untuk bernafas pun harus dibantu dengan tabung oksigen. Aku berjalan menghampiri tubuh Kyu Hyun, aku periksa dengan seksama, tidak ada darah, tidak ada perban. Ini pertanda baik atau tidak aku pun tidak tahu.

Aku menggenggam tangan Kyu Hyun yang begitu dingin ditanganku. Airmata sudah mengalir deras diwajahku dan aku tidak coba repot-repot untuk menghapusnya. Pandanganku sedikit kabur saat melihat wajah pucat Kyu Hyun, kemana para dokter dan suster? Kenapa Kyu Hyun dibiarkan terbaring sendiri tanpa pengawasan.

“Kyu Hyun-ah~ jaebal ierona..(tolong sadarlah)” aku terisak-isak pelan, hatiku hancur. “nan ttaemunae, mianhae. Neomu neomu mianhae. Kyu Hyun-ah jaebal ieronaaa.. (ini karena aku, maaf. Aku sangat menyesal. Kyu Hyun tolong sadarlah)” aku menjalin jemariku menjadi satu jalinan dengan jemari Kyu Hyun yang begitu dingin dikulitku. “aku belum sempat minta maaf untuk candaan yang keterlaluan yang membuatmu jadi seperti ini. Jaebal ierona Kyu Hyun-ah~ nan ttaemunae. Aku sengaja meminta Dong Hae oppa selalu mengantar dan menjemputku kekampus, aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Hyuk Jae oppa. Tidak terjadi apapun antara aku dan Dong Hae oppa, aku hanya ingin membalas tingkahmu yang mengacuhkan, dan ternyata aku kelewatan.” Bahuku semakin bergetar saat aku tidak kuasa lagi menahan setiap tetesan air mata yang sudah membanjiri wajahku. Pikiranku hanya satu yaitu takut Kyu Hyun benar-benar pergi tanpa mendengar aku memintaan maaf dan menjelaskan semuanya.

“aku tidak tahu kau sampai sakit karenanya dan sekarang kau begini – “ aku merasakan seseorang memegang lembut bahuku.

“bukan salahmu Min Rin-ah,” suara Ah Ra eonnie begitu menentramkan.

“eonnie~ mianhae –“ aku hanya dapat memandangi wajah sayu Kyu Hyun yang terhubung dengan berbagai macam selang. Andaikan aku tidak keras kepala. Aku terus terisak-isak dan menempelkan punngung tangan Kyu Hyun di wajahku. “Kyu Hyun-ah, ierona jaebal. Kyu Hyun-ah Mianhae geurigo saranghae. Jaebal ierona!!!”

“kau bisa katakan sekali lagi?” suara Kyu Hyun dengan lembut menembus pikiranku membuat aku terdiam memandang wajah Kyu Hyun yang pucat dan masih memejamkan mata. Itu betul suara Kyu Hyun atau suara yang memang sekali ingin aku dengar. Ahh~ aku sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.

“aku akan trus mengatakan aku mencintaimu setiap hari begitu kau sadar, Kyu Hyun-ah.”

“jeongmal?” aku kembali terkesiap pelan. Benarkah itu suara Kyu Hyun atau suara dalam otakku??

“Kyu Hyun-ah~~” aku mengguncangkan tubuhnya pelan dan dia tetap tak bergeming.

“oppa~ eonnie!! Kalian mendengar suara Kyu Hyun tadi?” aku melihat mereka berdua memandangku dengan tatapan seperti kasihan, “kalian betul tidak mendengar apa2?” mereka kembali menggeleng, tatapanku beralih lagi kewajah Kyu Hyun yang pucat dan sayu. Aku menghela nafas pelan, sepertinya memang hanya suara dalam otakku. “Kyu Hyun-ah, jangan menghukum aku seperti ini atas tindakanku yang membuatmu kesal. Aku tidak sanggup harus melihatmu seperti ini. Semua karena aku kau begini, Kyu Hyun-ah – “

“benar kau tidak menyukai Dong Hae Hyung?” kali ini betul-betul suara Kyu Hyun bukan hanya sekedar ilusinasiku semata. Dan Kyu Hyun pun membuka matanya, membuat aku bernafas lega dan langsung memeluk tubuhnya.

“kau sadar?? Jinja neon gwaenjhana??”

“kenapa kau cepat sekali sadarnya! Katanya ingin membuat Min Rin lebih menyesal dan – “

“ehh?? Oppa?? Apa maksud yang kau katakan tadi??” aku melihat mereka satu persatu secara berganti-gantian.”ini hanya sandiwara?” aku tetap memandang mereka dengan penuh selidik! Dan tiba-tiba aku tersadar daritadi tidak ada dokter dan suster dan orang tua Kyu Hyun pun tidak ada dan terlebih lagi Ah Ra eonnie hanya memasang wajah mengerti bukan menangis seperti aku.

Kyu Hyun melepaskan masker oksigen yang menempel diwajahnya, dan senyum evilnya terpampang jelas diwajahnya. Membuat aku tiba-tiba tersadar mereka bertiga bersekongkol untuk membuat sandiwara ini.

“yaaa!!! Cho Kyu Hyun!! Nappenom!!!!” sekuat tenaga aku memukul bahu Kyu Hyun dan Kyu Hyun langsung meringis kesakitan, apa pukulanku terlalu kencang? “kau membuat aku takut setengah mati tahu! Kau ingin melihat aku sedih yah?” aku pun mendelik sebal kearah Ah Ra Eonnie dan Hyuk Jae oppa, “dan kalian juga tega sekali melakukan ini padaku!”

“sebanding dengan perbuatanmu yang melibatkan Dong Hae,”

“kenapa oppa sepertinya tidak suka aku dekat dengan Dong Hae oppa!”

“karena dia cemburu melihat kedekatanmu juga dengan Lee Dong Hae.” Ah Ra eonnie tersenyum evil, membuat Hyuk Jae oppa hanya bisa mendelik sebal kearahnya

“bukan seperti itu! Aku kasihan melihat Kyu Hyun setengah hidup setiap hari! Sedangkan kau!” dengan telunjuknya Hyuk Jae oppa menunjuk wajahku, “asik mempermainkan hatinya seperti itu.”

Sebisa mungkin wajahku menunjukan ekspresi menyesal, “tapi kan Kyu Hyun tidak apa-apa sekarang,” walaupun sebetulnya aku dapat melihat guratan kesedihan dan letih diwajahnya.

“dia betul-betul sakit Min Rin-ah,” suara lembut Ah Ra eonnie semakin membuat aku merasa bersalah, “hari ini dia memang betul hampir pingsan dimobilnya dan dia menelponku untuk menjemputnya dan aku meminta tolong Hyuk Jae untuk mengabarkan padamu kalau Kyu Hyun sakit, tapi ternyata Hyuk Jae membuat ide kalau Kyu Hyun seolah-olah betul-betul kecelakaan.”Ah Ra eonnie tersenyum menyesal,”mianhae~ sudah membuatmu takut tadi.”

“gwaenjhana??” dengan lembut aku mengelus pipinya Kyu Hyun, “manhi appo?”

Kyu Hyun menggeleng pelan, “gwaenjhana, dokter bilang aku sudah boleh pulang, dan istirahat dirumah.”

“mianhae~ sudah membuat kau jadi seperti ini, aku memang keterlaluan.”

“aku yang salah terlalu banyak mengacuhkanmu – “

“sudahlah berhenti mencari siapa yang salah! Kalian berdua memang salah. Lain kali jangan bertengkar lagi!”

“yang penting kan Dong Hae aman dari adikmu sendiri yah, Lee Hyuk Jae-sshii?” senyuman diwajah Ah Ra eonnie betul-betul menakutkan.

“aku hanya tidak mau dipusingkan dengan keluhan mereka berdua yang membuat kupingku sakit mendengarnya!” Hyuk Jae oppa mencoba mengacuhkan omongan Ah Ra Eonnie, “baik-baiklah kalian berdua jangan membuat hal-hal yang aneh2 lagi!”

“ne~ arraseo oppa,”

“ne~ araseo Hyung.”

Hyuk Jae oppa sepertinya tersenyum puas mendengar jawaban kami, “tapi kau betul-betul tidak menyukai Dong Hae Hyung kan Lee Min Rin?” wajah Kyu Hyun begitu serius saat bertanya membuat aku sebisa mungkin menahan tawa.

“nee~ Dong Hae oppa hanya sekedar oppa,geurigu neol, nae namja chingu,” aku mengecup lembut bibir Kyu Hyun didepan Ah Ra eonnie dan Hyuk Jae oppa, membuat wajah Kyu Hyun dengan segera bersinar-sinar.

“yaaa!! Kalian berdua kalau mau mesra-mesran tunggu kami tidak ada! Issshh!!!” dengan wajah yang ditekuk Hyuk Jae oppa keluar dari ruangan dan Ah Ra eonni mengekor dibelakangnya sambil tersenyum kearah kami, “aku serahkan Kyu Hyun padamu yah Lee Min Rin.”

“eoh eonnie.” Tanganku kembali mengelus lembut pipi Kyu Hyun yang masih sedikit pucat, “neol jinja gwaenjhana?”

“eoh~ gwaenjhananyo. Sangat baik sehabis mendengar pernyataan cintamu barusan,” senyum evil tercetak jelas diwajah Kyu Hyun yang letih.

Sekarang Kyu Hyun sudah tidak lagi mengacuhkanku. Dia sudah mulai kembali memperhatikannku seiring dengan selesainya sidang komprehensifnya dan dia berhasil mendapatkan nilai tertinggi dalam satu angkatannya. Dan aku pun sudah tidak lagi sibuk, karena tugas tahap akhirku sudah selesai hanya tinggal menunggu jadwal kapan aku sidang komprehensif juga. Jad disinilah kami, dikamar Kyu Hyun dengan tidak melakukan apapun. Hanya sekedar bersantai.

“kenapa wajahmu begitu?” tanyaku saat aku baru saja menutup telpon dari Dong Hae oppa.

“lama sekali kau telpon-telponan dengan Dong Hae hyung.” Wajah Kyu Hyun yang sedang merajuk begitu lucu.

“kau masih cemburu padanya?? Padahal aku sudah menyatakan cintaku didepan Ah Ra eonnie dengan Hyuk Jae oppa.”

“molla~ bila aku teringat ekspresi wajahmu yang begitu berbinar-binar apabila melihat Dong Hae hyung membuat aku sedikit risih.”

“kalau begitu apa yang membuatmu percaya kalau aku hanya menganggap Dong Hae hanya nae oppa?”

“nawa gyeolhon haejuseyo (menikahlah denganku)” Pernyataan yang begitu mendadak itu membuat aku terdiam, “aku baru tidak cemburu dengan Dong Hae Hyung apabila kau sudah menjadi milikku seutuhnya.”

“tapi kita kan masih kuliah dan – “

“aku sudah lulus, sidang kemarin aku mendapatkan nilai tertinggi diantara yang lainnya dan aku sudah siap untuk bekerja diperusahaan uri appa.”

“apa hanya karena Dong Hae oppa membuatmu cemburu hingga kau meminta aku menikahimu?”

“anni~ sebetulnya aku sudah ingin melamarmu saat aku lulus, namun hadirnya Dong Hae Hyung membuat aku betul-betul tidak tenang. Lee Min Rin Jaebal gyeolhon hae~~”

Wajah Kyu Hyun begitu dekat dengan wajahku, otakku tidak dapat berfikir. Menikah!?! Itu suatu hal yang diluar bayanganku selama ini. Aku memang mencintai Kyu Hyun, namun untuk menikah aku sepertinya belum siap dan harus memikirkan masak-masak.

“bolehkah aku berfikir?? Aku tidak harus menjawab sekarang kan??”

“silahkan untuk berfikir, tapi aku yakin kau pasti akan menikah denganku.” Wajah sombong dan penuh percaya diri itu lagi! “yang pasti cepat atau lambat aku akan menjadikanmu milikku.”

“caramu melamar tidak romantis!! Tidak seperti yang aku bayangkan!!” kali ini aku memilih untuk pura-pura merajuk agar Kyu Hyun berhenti memintaku untuk menikah dengannya. “kau tidak memintanya dengan manis, tetapi kau seperti memaksaku untuk menikahimu!”

Dan tiba-tiba saja bibir Kyu Hyun sudah menempel dibirku, nafasnya membelai lembut wajahku. Kyu Hyun mengecup lembut setiap sudut bibirku dan seolah-olah dia sedang menikmatinya, tanpa sadar aku mengalungkan lenganku di dilehernya dan menariknya lebih mendekat. Akal sehatku sudah hilang sepertinya. Aku tidak dapat berfikir apapun saat Kyu Hyun menciumi mataku yang terpejam satu persatu lalu puncak hidungku dan kemudian kembali ke bibirku. Badanku terasa seperti agar-agar dan meleleh dalam pelukan dan ciuman Kyu Hyun yang begitu manis.

“Kyu Hyun-ah~” aku mendesah nikmat tepat saat Kyu Hyun menelusupkan lidahnya masuk kedalam mulutku. Sesuatu hal yang hangat membuncah dalam diriku. Lidah Kyu Hyun menjelajah dan menyentuh setiap sudut mulutku. Aku dapat merasakan tekanan tubuh Kyu Hyun semakin terasa ditubuhku. Dan aku dapat merasakan bukti gairah Kyu Hyun menekan lembut pahaku, membuat aku semakin bergairah.

Kyu Hyun menarik bibirnya dari bibirku namun wajahnya tetap berada tepat didepan wajahku saat dia mengucapkan, “menikahlah denganku Lee Min Rin,” otakku serasa lumpuh tidak dapat berfikir, jahat sekali dia bertanya disaat tidak tepat seperti ini! “aku pasti akan membahagiakanmu!” sumpah demi apapun otakku tidak dapat berfikir jernih. Yaa~~!! Cho Kyu Hyun jinja nappenom!! Jeritku dalam hati tepat saat Kyu Hyun menempelkan bibirnya di denyut nadi leherku, yang sukses membuatku terbuai kembali.

“menikahlah denganku, jaebal~~” ucap Kyu Hyun sambil terus menjelajah denyut nadi leherku, kalau seperti ini permintaan apapun akan aku jawab iya! Bibir Kyu Hyun menelusuri setiap urat nadi leherku yang berdenyut-denyut liar dibawah sentuhn bibir basah Kyu Hyun.

“Kyu Hyun-ah, ierojima (jangan seperti ini)” bibirku melakukan penolakan namun tubuhku sendiri berkhianat. Dengan ucapanku aku dapat membohongi Kyu Hyun namun Kyu Hyun tahu saat aku melengkungkan tubuhku itu adalah jawabanku yang paling jujur.

Frustasi karena Kyu Hyun dapat membaca diriku dengan baik aku menelusupkan jari-jariku dirambut lebat Kyu Hyun. Aku dapat merasakan senyum penuh kemenangan yang Kyu Hyun sunggingkan dileherku, “nappeunom!!” ucapku dengan ungkapan sayang. Betul saja, wajahnya tersenyum senang saat menatap wajahku, membuat aku memberengut tanpa sadar dan Kyu Hyun kembali mencium bibirku. Digigitnya pelan bibir bawahku, membuat aku mengerang nikmat dan mengelus punggung Kyu Hyun dengan jariku. Bukti gairah Kyu Hyun semakin menekan tubuhku, membuat aku mati gila rasanya.

Tangan Kyu Hyun mengelus-elus lembut kulitku, membuat kulitku terbakar oleh sentuhannya. Kyu Hyun menaikanku diatas pangkuannya, membuat aku terkesiap saat tubuhku tepat diatas kejantanan Kyu Hyun. Aku kehabisan nafas, aku tidak dapat bernafas saat Kyu Hyun terus mengulum dan menjelajah bibir dan mulutku. Jari jemari Kyu Hyun pelan-pelan bergerak dari perutku menuju kedadaku dan dia meremas lembut dadaku membuat diriku semakin terbakar dan sesuatu yang hangat seperti jebol keluar dari pertahananku. Bibir Kyu Hyun meninggalkan bibirku dan menggigit mesra daguku lalu turun keleherku, dan dengan lihainya Kyu Hyun meloloskan kaosku yang kukenakan melewati kepalaku. Sudah terlambat untuk malu! Sudah terlambat untuk mengatakan tidak saat Kyu Hyun menatapku dengan wajah yang menurut aku aneh, dan darahku berdesir-desir saat ditatap dengan intens oleh Kyu Hyun. Padahal ini bukan yang pertama kami lakukan namun rasanya tetap seperti yang pertama untukku.

Kyu Hyun menggigit mesra dadaku yang tidak tertutup bra sementara tangannya yang satu meremas-remas lembut dan tangan Kyu Hyun berpindah ke punggungku dan menemukan kaitan braku lalu membukanya dengan perlahan. Bibir Kyu Hyun kembali menemukan bibirku sementara tangannya kembali menjelajah tubuhku, kedua ibu jarinya mengelus perlahan sisi-sisi payudaraku, membuat aku gila menahan karena ingin lebih dari ini. Aku menggigit bibir bawah Kyu Hyun saat dia dengan mesra dan sangat-sangat lembut menyentuhkan ibu jarinya dipuncak dadaku lalu membuat gerakan memutar disekelilingnya dan terus mengelus lembut sehingga membuat tubuhku menggelenyar nikmat. Bibir Kyu Hyun terus bergerak turun melewati leherku yang putih dan berdenyut-denyut dibawah sentuhan bibir Kyu Hyun. Bibir Kyu Hyun berhenti sejenak ditulang belikatku dan menggigit mesra kulitku yang telanjang dan lidah Kyu Hyun tidak berhenti membuat tubuhku semakin panas karena sentuhannya. Ohhh~~ Tuhan aku terbakar!! Aku tidak dapat menahan api yang berkobar dengan hebat melahap tubuhku seperti ini. Tanganku dengan seketika mengencang dibahu Kyu Hyun, saat dengan tiba-tiba saja aku merasakan mulut Kyu Hyun mengulum lembut puncak dadaku dan menggigitnya mesra, dan aku menggeliat-geliat nikmat disetiap sentuhan Kyu Hyun. Aku meremas yang sebetulnya dapat dikatakan menjambak rambut Kyu Hyun karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan disaat Kyu Hyun memberikan kenikmatan yang aku tidak sanggup katakan ini. Bibir Kyu Hyun beralih ke dadaku yang belum disentuhnya, membuat aku bergerak-gerak gelisan diatas pangkuan Kyu Hyun.

Aku menarik kaos oblong yang Kyu Hyun kenakan dan melepasnya. Setidaknya posisi kami sekarang satu sama. Aku menyentuh otot dada Kyu Hyun, dan aku dapat mendengar Kyu Hyun menggeram didadaku. Kusentuh setiap inci dada telanjang Kyu Hyun hingga ke perutnya yang rata yang ditumbuhi bulu-bulu halus lalu menuju ketepian garis celana rumah yang Kyu Hyun kenakan. Aku dapat merasakan nafas Kyu Hyun terhenti sesaat ketika aku dengan sengaja bermain-main ditepian pembatas tubuh Kyu Hyun yang tertutup celana rumahnya.

Aku tersenyum senang saat Kyu Hyun frustasi ketika aku menaikan tanganku untuk menyentuh punggung Kyu Hyun. Sebagai pelampiasan frustasinya Kyu Hyun membuka risleting jeansku dan menariknya turun sebisa dia menarik turunyan. Kyu Hyun menodorong tubuhku saat bibir Kyu Hyun menjelajah semakin kebawah dan kali ini dia membalasku rupanya. Aku dapat merasakan senyuman Kyu Hyun dikulitku yang telanjang saat dia mengecup mesra perutku dan semakin menuju kebawah. Aahh~~ kali ini aku yang frustasi!

Bibir Kyu Hyun kembali menemukan bibirku, tanpa tahu siapa yang bergerak terlebih dahulu untuk berdiri kami sudah saling melucuti sisa-sisa baju yang masih aku dan Kyu Hyun kenakan. Aku mendorong tubuh Kyu Hyun kembali ke sofa dan memandangi sejenak tubuh sempurna Kyu Hyun. Hal yang serupa pun Kyu Hyun lakukan padaku, dan anehnya aku masih saja malu saat Kyu Hyun menatap seluruh tubuhku dan aku sadar saat ini tubuhku sudah merona merah disemua tempat yang Kyu Hyun lihat.

Tangan Kyu Hyun menarik lembut tubuhku dan aku pun jatuh diatas tubuhnya yang sudah siap menerima diriku. Kyu Hyun menggigit-gigit mesra bahuku dan tangannya menjelajah menemukan tempat rahasia yang aku simpan memang hanya untuknya. Tubuhku menggelinjang dibawah sentuhan Kyu Hyun. Kyu Hyun menekan lembut dan menemukan titik yang paling sensitive membuat tubuhku berpendar-pendar dan sesuatu yang hangat membuncah keluar dari dalam tubuhku. Kyu Hyun menyelipkan jarinya dan aku mencakar punggung Kyu Hyun dengan jari-jariku. Nafasku terkesiap saat Kyu Hyun dengan berani menggerakan jarinya. Aku terkulai lemas dibahu Kyu Hyun saat Kyu Hyun terus mencintaiku seperti ini. Aku tidak dapat membayangkan rasanya akan begitu nikmat sampai aku ingin menangis. Tubuhku seperti diterpa oleh gelombang kenikmatan dan aku seperti merasa seperti pendaki gunung yang terengah-engah mencapai puncaknya namun menikmati setiap hal-hal yang aku lewati. Kyu Hyun memeluk tubuhku yang bergetar dengan hebat dan Kyu Hyun membisikan kata-kata menenangkan. Dan aku menatap wajah Kyu Hyun dengan penuh pertanyaan yang aku tidak tahu harus bertanya apa saat dengan manisnya Kyu Hyun tersenyum hanya padaku. Sekali lagi Kyu Hyun mengecup bibirku dengan lembut, tanpa paksaan, tanpa gairah, hanya untuk menenangkan tubuhku yang masih berndeyut-denyut nikmat.

Aku menyelipkan tanganku diantara tubuh kami dan menemukan bukti gairah Kyu Hyun dan meremasnya pelan. Tanpa sadar Kyu Hyun menggigit bibirku lebih keras dari seharusnya, “Lee Min Rin,” bibirnya mengucapkan permohonan tertahan. Aku menggerakan tanganku ditubuh liat Kyu Hyun sambil memijat perlahan, ciuman Kyu Hyun tidak lagi lembut, tidak lagi tanpa gairah namun Kyu Hyun semakin menempelkan bibirnya dengan intens dibibirku. Kyu Hyun mengerang nikmat sejalan dengan tanganku yang terus memberi kenikmatan untuknya. Kyu Hyun bernafas pendek-pendek, tangannya mencengkram lebih erat lenganku seolah-olah dia saat ini sedang mencari pegangan yang kuat.

Aku melepaskan diriku dari pelukan Kyu Hyun dan bibirku menjelajahi dada bidang Kyu Hyun dan lidahku dengan berani bermain didadanya, dan aku merasakan kejantanan Kyu Hyun semakin berkedut dengan kencang didalam genggamanku. Bibirku bergerak semakin kebawah dan aku merasakan tangan Kyu Hyun menahan bahuku.

“jangan lakukan kalau –“ Kyu Hyun susah payah berbicara disaat gairah sudah menyelubungi dirinya.

“aku ingin!” aku menatap wajahnya dengan keinginan sekeras baja, “biarkan aku mencobanya. Jaebal..”

Kyu Hyun melepaskan pegangannya pada bahuku, dengan takut-takut namun penasaran aku mengecup tubuh Kyu Hyun yang paling pribadi. Dan aku dapat merasakan tubuh Kyu Hyun bergetar hebat dibawah sentuhanku dan dia mengeluarkan desahan nafas panjang saat aku dengan berani mengulum miliknya. Rasanya begitu aneh, dan aku dapat merasakan tangan Kyu Hyun mencengkran bahuku dengan lebih erat dari sebelumnya, namun kali ini bukannya menariknya untuk berhenti melainkan seperti memberi lampu hijau untuk aku melakukan yang lebih.

Dengan sebisa dan semampu yang punya, aku terus mencintai Kyu Hyun hingga Kyu Hyun mata Kyu Hyun terpejam nikmat dan aku bersumpah kali ini aku dapat mendengar Kyu Hyun melenguh nikmat. Kyu Hyun membuka matanya dan kali ini dia menarik bahuku, aku menatapnya dengan pandangan bertanya. Kyu Hyun kembali menarik tubuhku dan dia memposisikan tubuhku diantara tubuhnya, aku hanya dapat melongo melihatnya mencoba menebak-nebak apa yang hendak dia lakukan.

Aku terkesiap, saat Kyu Hyun menyatukan tubuh kami dengan posisi aku berada tepat diatas pangkuannya. Aku terdiam karena rasanya begitu luar biasa. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. “bergeraklah Lee Min Rin,” ucap Kyu Hyun parau ditelingaku, suaranya lebih mirip dengan geraman. Bergerak? Bergerak seperti apa? Otakku betul-betul lumpuh! Kyu Hyun mengangkat tubuhku dan meletakkannya lagi. Ah~ rasanya! Aku tidak dapat lukiskan dengan kata-kata. “bergeraklah Lee Min Rin,” kali ini Kyu Hyun betul-betul menggeram tertahan dibahuku. Tanpa berfikir tanpa komando aku menggerakan tubuhku. Rasanya lebih luar biasa nikmat dari sebelumnya, dengan perlahan namun pasti aku kembali menggerakan tubuhku dan sensasinya semakin indah, tanpa sadar aku melengkungkan punggungku dan tanganku dengan erat memegang bahu Kyu Hyun. Aahh~ ini begitu luar biasa, rasanya begitu menakjubkan. Aku melihat wajah Kyu Hyun pun dipenuhi dengan kenikmatannya sendiri, kami terus berpacu dengan seirama, tidak ada yang memimpin dan tidak ada yang dipimpin, tubuh kami sepertinya pas untuk satu sama lain. Nafas kami sama-sama memburu, tubuh kami sudah dibanjiri oleh peluh dan tubuh Kyu Hyun begitu liat dan licin saat aku memeluk tubuhnya. Tangan Kyu Hyun tertahan didadaku dan bibir Kyu Hyun menjelajah leherku dan memberi gigitan-gigitan kecil disetiap kulit yang dilewati oleh bibirnya.

Tubuhku berkedut-kedut kencang, seperti mencengkram tubuh Kyu Hyun dengan kuat. Kami terus bergerak seirama, aku melengkungkan punggungku untuk memberi akses pada bibir, tangan dan lidah Kyu Hyun. Semua yang aku lihat menjadi seperti warna-warna pelangi, begitu ceria begitu berwarna. Aku mencengkram pundak Kyu Hyun saat aku sampai pada puncaknya terlebih dahulu, tubuhku kembali bergetar dengan hebatnya saat Kyu Hyun menyentakan tubuhnya lebih keras ditubuhku. “aahhhhhhhhh” jeritku penuh nikmat dilekukan lembut leher Kyu Hyun. Nafas Kyu Hyun sudah tidak beraturan saat dia memeluk tubuhku erat, kami seperti menocba meredakan badai hebat dalam diri kami masing-masing.

Tubuhku masih berpendar-pendar nikmat saat Kyu Hyun mengangkat tubuhku dan membopongnya, dengan sigap kakiku melingkar di pinggangnya Kyu Hyun dan tanganku melingkar dilehernya saat Kyu Hyun dengan lembut meletakan tubuhku diatas tempat tidurnya. Tubuh kami tetap menyatu saat Kyu Hyun memindahkan berat badannya seluruhnya diatasku. Kyu Hyun menopang tubuhnya dengan salah satu sikunya ditempat tidur, dan aku terbenam dengan sempurna diatas kasur saat Kyu Hyun kembali menggerakan tubuhnya. Aku pikir masa-masa kejayaanku sudah lewat, namun sepertinya aku salah karena saat ini diriku kembali disiram oleh panasnya kenikmatan yang Kyu Hyun berikan untukku. Kakiku masih melingkar di tubuh Kyu Hyun saat Kyu Hyun menarik lembut tubuhku mendekat kepadanya. Kali ini rasanya lebih banyak pelangi dari sebelumnya, lebih banyak suara burung-burung bernyanyi, melodi begitu indah seperti disurga. Dengan kuat Kyu Hyun menghujamkan tubuhnya dalam-dalam, dan aku menjerit nikmat dileher Kyu Hyun. Dengan rakus Kyu Hyun mencari-cari bibirku dan menciummnya dengan sepenuh gairah saat Kyu Hyun menghujamkan tubuhnya lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Kami berdua sama-sama menjerit nikmat saat mencapai puncaknya, aku dapat merasakan sesuatu yang hangat yang meresap menjadi satu dengan tubuhku. Tubuhku berdenyut-denyut dietiap sudutnya. Aku membenamkan wajahku dihangatnya leher Kyu Hyun, begitu terpukau oleh indahnya moment ini untuk kami berdua.

Nafasku masih memburu ketika akhirnya Kyu Hyun kembali memberikan berat tubuhnya kepadaku dan mendekap diriku dalam hangatnya pelukannya. Detak jantung kami saling bertalu-talu, terasa begitu kencang bunyinya ditelingaku. Aku memeluk tubuh Kyu Hyun dengan erat, takut ini hanya sebuah mimpi yang akan segera lenyap dan menghilang. Namun anehnya ini nyata. Terlalu nyata. Terlalu nikmat untuk sebuah kenyataan. Terlalu nikmat untuk dibiarkan menghilang begitu saja. Kyu Hyun mengecup puncak kepalaku dengan sayang.

“gyeolhon haejulae (menikahlah denganku),” pintanya lembut, “aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya.”

Aku hanya dapat mengangguk dibawah tatapan matanya yang begitu lembut sehingga aku bisa meleleh hanya dengan ditatap seperti itu. “aku sudah menjadi milikmu seutuhnya Cho Kyu Hyun.” Jawabku sambil membawa tubuh Kyu Hyun kembali kedalam pelukanku.

END~~~

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: