INCUBUS

0
INCUBUS
1. Author : Nurmalla
2. Judul : INCUBUS (Vampir)
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
– Cho Kyuhyun
– Jung In Hwa
– All member of Super Junior
– Other Cast
Ha, ada yang penah baca ff ini. Tenang, min gga copas kok. Aku udah izin sama admin page korean nc untuk mem-post ff ini. Tapi, belum di balas sama adminnya. Tapi tenang aja, nama authornya tetap tergantung di atas kan.
-Jung in hwa Pov- 
Mataku mendadak terbuka.
Nafasku terengah-engah kala aku dapat terbangun dari cengkraman mimpi burukku. Tubuhku berkeringat di tempat tidurku yang hangat. Mencoba mengatur deru nafasku agar menormal.Mimpi buruk yang terlalu klise untuk di ingat dan terlalu nyata jika dirasakan.
Kulihat diluar jendelaku langit tampak kelabu menguning oleh cahaya matahari pagi yang mulai terbit di ufuk timur.
Tok Tok Tok!Tok Tok Tok!
Terdengar pintu kamarku di ketuk-ketuk secara paksa. Membuatku cukup terkejut dari keheningan pagi dikamarku.
“In hwa! Bukaaa~” Sahut seorang wanita dengan suara yang meninggi tidak sabar -Lebih tepatnya terdengar marah. Ku ranjakan kakiku untuk menuju ketukan tersebut.
Dapat kulihat seorang wanita paruh baya tampak berkacak pinggang ketika aku membukakan pintu. Matanya membulat tajam -menatapku geram.
“Kau ingin menjadi anak pemalas ya?”Tangannya menjambak rambutku tiba-tiba.
“aaah~ sakittt. ampun bibi!”
Jambakannya semakin menguat, seakan menarik akar-akar rambutku.
“Ya! Apa kau lupa dengan tugasmu yang sudah kukatakan kemarin, hah? Carilah kayu bakar dihutan sebanyak-banyaknya!!!” Bentaknya dihadapan wajahku yang meringis memegang jambakan rambutku.
“Kau ingin kedinginan saat musim dingin tiba, eoh?” Tandasnya semakin membentakku.
“Ne, bibi. Aku ingat. Baik, aku akan melaksanakannya” jawabku menyetujui perintahnya. Ia melepaskan tangannya pada jambakan rambutku.
Ia mendengus meremehkan.“Anak baik! Kalau begitu siapkanlah makanan terlebih dahulu untuk pagi ini”
“Ne, bibi” tandasku menurutinya.aku menunduk. -takut jika ia melakukan hal kasar lagi pagi ini padaku.
“Ya! In hwa, aku ingin arak lagi untuk pagi ini!”  ujar seorang lelaki paruh baya menidurkan kepalanya dengan mata terpejam di atas meja ketika aku menghidangkan makanan, -Pamanku. Jelas-jelas ia sudah cukup mabuk dalam keadaan seperti itu setelah semalaman menegak begitu banyak arak. Benar-benar pemabuk berat.
“Mianhae, paman. Sepertinya arak didalam poci sudah habis kau minum semalam”
Paman menggebrak meja makan dengan marah. Membuatku terlonjak kaget.“Aish! Aku tidak ingin tahu! Kau harus menyediakan arak lagi untukku!”
“Ya! In hwa! Apa kau sudah mencuci semua baju ku, hah?”
Kali ini hentakkan pertanyaan dari seorang gadis yang seumur denganku memasuki ruang makan.
“Aku baru mencuci setengahnya, mianhae soo bin-ah” jawabku meminta maaf karena perintahnya belum sempat ku kerjakan secara sempurna. Ia menjambak rambutku kasar.“Dasar bodoh! Bukankah aku sudah memintamu untuk menyelesaikannya hari kemarin, eoh?”ia memandangku kesal.
“Ya! Soo Bin-ah, ayah sedang membutuhkannya untuk membeli arak, cucilah pakaianmu sendiri!” kali ini paman ikut menyela, membela hak-nya yang juga belum terpenuhi.
“andwae! Dia harus mencuci pakainku dulu”
“Ayah ingin arak! Pergilah! Cuci pakainmu sendiri! Dasar anak malas”
Mereka berdebat, mempertahankan hak mereka masing-masing. Selalu saja seperti ini.
Mereka berbuat semaunya padaku. Membuatku menjadi pesuruh dalam rumah-ku sendiri. Ibu dan ayahku telah meninggal. Hal terburuknya adalah kedua orangtua-ku membiarkan paman dan bibi serta sepupu-ku tinggal bersama denganku sebelum meninggal. Awalnya mungkin mereka baik, tetapi mereka berubah. Memperlakukanku semau mereka.
“Aigo~ kalian ini! Hentikan! Tak ada yang boleh menyuruhnya sebelum ia mencari kayu bakar untuk musim dingin”Bibi masuk menyela perdebatan antara paman dan sepupu-ku. Perdebatan itu terhenti. Mereka terdiam takut. Karena memang bibi-lah yang paling ditakuti dirumah ini. Aku menundukkan wajahku.
“Ya! Sudah cepat pergi! Jangan kembali sebelum kau mengumpulkan banyak kayu bakar” Sergahnya yang kali ini menatapku tajam.
“Ne” ujarku melangkahkan kaki menuruti perintahnya.
“Carilah dihutan rokkugo bagian utara, disana cukup banyak ranting-ranting yang dapat kau temukan!” Aku membalikkan tubuhku kembali kehadapan bibi. Terkejut atas saran tempat yang ia katakan.
“Ta-tapi bi, disana terlalu menakutkan. Terlalu berbahaya”Ujarku yang memang takut untuk memasuki tempat yang bibi katakan.
“Aku tidak mau tahu! Kau pikir aku peduli, hah? Jangan kembali sebelum kau menyelesaikan pekerjaanmu. PERGI !!!”ia berkacak pinggang membentakku. Menatapku dengan kilatan marah. Membuatku terpojok dan terpaksa mengikuti keinginannya.
Tak banyak yang kulihat begitu aku sampai dihutan rokkugo bagian utara yang terlarang. Yang menurut orang-orang menyimpan banyak mitos dan misteri, cukup membuatku bergidik ngeri. Hanya pepohonan lebat dan semak-semak yang menghias hamparan tanah hutan. Sangat sunyi senyap dengan hawa dingin berbau lumut basah yang cukup menusuk kulit. Karena hanya sedikit cahaya matahari yang dapat menerobos masuk melalui celah-celah pepohonan lebat. Bahkan nyaris tak tersinari. Terlalu kelam kelabu. Aku dapat memastikan bahwa aku hanya seorang diri dihutan ini. Dan kuharap tak ada binatang buas yang memakanku. Aku tak ingin berlama-lama disini. Segera saja ku punguti ranting-ranting yang terserak diatas tanah.
Aku merasakan aura aneh disekelilingku. Seperti ada yang mengawasi.
Drakkk~
Terdengar suara derak ranting kering yang terinjak dari balik pohon besar. Hatiku mendadak was-was.
“Siapa disana?” tanyaku memastikan. Berharap sesuatu itu bukan hal yang menakutkan.
“Paman?!” aku terkesiap ketika sesuatu itu adalah pamanku yang muncul dari balik batang pohon. Ia tersenyum lebar dan berjalan mendekat padaku. Tatapannya seperti orang yang sedang bergairah.“u-untuk apa paman berada disini?” tanyaku gelisah ketika ia berada didekatku. Takut jika ia melakukan yang tidak-tidak dalam keadaan setengah mabuk itu terhadapku.“ya! Aku sudah tidak tahan. Ayo bercinta denganku” bisiknya yang langsung membuatku membulatkan mata. Perasaanku menegang takut.“Aku tidak mau!” tolakku. Ia mendengus kesal, memandangku garang.“Dasar anak tidak tahu di untung kau”Secara tiba-tiba ia mencengkram tanganku kuat dan mendorong tubuhku kepermukaan tanah.“Jangan paman!”
“Diam!”
Tegasnya berusaha menenangkan rontaanku yang ingin dilepaskan. Matanya berkilat antara nafsu dan marah. Ku tendang sesuatu yang berada ditengah selangkangannya. Ia mengerang dan melepaskan cengkraman tangannya padaku. Ia memegangi selangkannya yang berdenyut nyeri.
Tak ada cara lain selain melakukan hal itu. Aku beringsut berlari secepat mungkin menjauhi pamanku yang mulai tertatih.“ya! Anak kurang ajar! Jangan lari kau!” Sungutnya marah yang berjalan terseok-seok mengejarku. Secepat mungkin aku berlari.
Aku berhenti berlari. Udara di paru-paruku mulai menipis. Ku harap aku sudah cukup jauh berlari dari kejaran pamanku. Ku sandarkan tubuhku pada batang pohon besar yang berada didekatku. Berusaha menormalkan laju nafasku yang terengah-engah. Udara dingin cukup menyejukkan kulitku yang berkeringat. Aku tak mengenali dimana aku berada saat ini. Tetapi sepertinya aku berlari cukup jauh kedalam hutan yang kini kelabu berkabut tipis.
“Ya! In hwa! Dimana kau?!! Jangan berlari. Akan kuhabisi kau!!!” Jantungku terlonjak was-was ketika suara gerutuan paman yang mulai mendekat disekitar hutan aku berada. Ternyata paman masih mengejarku! Dengan terpaksa aku berlari kembali menjauhinya sebelum ia semakin dekat.
Nafasku tercekat hampir habis karena terus berlari tanpa henti. Ku lihat dihadapan berada terdapat sebuah gua gelap yang cukup mengerikan. Ku torehkan pandanganku kebelakang. Takut jika paman mendekat dan melihatku. Tak ada cari lain. Ku langkahkan kakiku masuk kedalam gua tersebut.
Gelap! Tak ada secercah cahayapun yang menyinari begitu aku memasuki ruang hampa gua ini. Ini benar-benar menyulitkanku. Kuraba-raba dinding berbatu gua untuk memudahkanku berjalan.
Ku dudukan diriku ditempat yang cukup tersembunyi -yang kurasa cukup aman untukku saat ini.
Kelembapan gua ini begitu terasa. Gelapnya gua ini cukup membuatku sulit mengatur nafasku. Entahlah! Mungkin karena sedikit oksigen yang tersedia dalam gua ini. Bahkan tak terdengar apapun, hanya suara tetesan air yang menetes-netes dari bebatuan runcing dinding gua yang bersahutan dengan deru nafasku.
Nafasku menormal setelah beberapa menit lamanya. Dan kurasa aku aman saat ini. Kuharap paman sudah pergi menjauh dan pulang. Aku bangkit untuk berjalan keluar. Terdengar suara kisruh disepanjang lorong gua dalam yang pekat. Menyerupai kicauan burung. Aku terkesiap melihat mata-mata merah kecil terbang mendekat kearahku. Makhluk apa itu? Beberapa detik kemudian aku dapat merasakan tubuhku dikerubungi makhluk itu dalam jumlah banyak. Kelelawar! Terdengar dari suaranya yang memekik telinga. Ku tutupi diriku dengan tangan untuk melindungi tubuhku. Jumlahnya terlalu banyak sehingga sulit untuk kuhindari. Kakiku terpeleset batu licin gua. Tubuhku terbaring di bebatuan tanah gua. Kurasakan kesadaran tubuhku melemah dan memberatkan mataku untukku tertutup. Aku terlalu lelah dan kubiarkan kelelawar-kelelawar itu menghinggapi tubuhku.
Aku dapat merasakan kesadaranku kembali pulih. Sedikit aneh. Tempat tubuhku terbaring kini terasa lebih hangat dan gatal. Ku raba-raba permukaan tempatku terbaring. Ini jerami. Kubuka mataku perlahan. Kali ini mataku dimasuki oleh cahaya sehingga aku harus menyipitkan mataku dan menghalaunya dengan satu tangan. Aku terduduk dan mulai terbiasa kembali dengan cahaya. Tempat apa ini? Bukankah aku berada didalam gua gelap hutan rokkugo? Ku edarkan pandanganku. Terdapat obor disetiap sudut dinding yang membuat ruangan ini hangat. Dan kenapa banyak sekali wanita?Mereka terlihat meringkuk cemas. Tergambar ketakutan yang mencekam diantara wajah-wajah mereka. Ini seperti ruang tempat penawanan penjara bawah tanah. Ku tatap seorang gadis yang duduk bersebelah denganku. Ia tampak bergetar takut.“ya! Apa kau tahu ini tempat apa?” tanyaku yang masih terheran dengan tempat ini. Ia menorehkan tatapannya padaku.“i-i-ini istana incubus” bisiknya pelan. Terdengar nada takut dalam suaranya.
Keningku berkerut. “Istana incubus?” sergahku yang semakin terheran dengan jawabannya.Ia mengangguk.
“Apa kau tahu incubus?”
Ku gelengkan kepalaku karena tidak tahu. Ia melirik sekitar. Memastikan keamanan untuk bercerita kepadaku.
“Incubus, merupakan makhluk halus yang dapat membuahi rahim manusia. Mereka menggunakan tubuh manusia hanya untuk melahirkan keturunan-keturunan bengis mereka. Atau hanya dijadikan pemuas nafsu belaka. Setelah tidak dibutuhkan lagi mereka akan menghisap darah manusia tersebut untuk mengubahnya seperti bangsa mereka. mengubahmu menjadi succubus, vampir wanita”
Ia bergerak menyadarkan tubuhnya kedinding lalu kepalanya menengadah menatap langit-langit. Ku peluk erat lututku yang tertutupi long dress seraya memandangnya. Masih serius dengan apa yang gadis itu katakan. Walau ketakutan sudah mulai menjalar dan membuat tubuhku pucat bergetar seperti hal-nya wanita-wanita yang berada disini. Ia mulai melanjutkan ceritanya kembali.
“Dengan kata lain mereka adalah Vampir. Menurut mitos yang ku tahu ada 15 Vampir incubus yang menjadi penguasa”
Ia memandangku wajahku.
“Mereka memilih setiap manusia yang akan mereka buahi”
Perlahan air mataku membendung dipelupuk mata setelah ia selesai bercerita. Tubuhku bergetar takut akan hal yang baru saja ku dengar. Aku tak ingin bernasib seperti itu.
“Dari mana kau mengetahui semua hal itu?”Gadis itu tersenyum getir kepadaku.“Aku tinggal disebuah hutan pedalaman pyong-goju. dimana suku-ku hidup penuh dengan unsur mistik dan mitos-mitos melegenda” Terangnya padaku.
“Apakah kita dapat lolos dari mereka?” tanyaku kembali ketika benakku berharap ada cara untuk meloloskan diri.“Dunia dimana kita sekarang berada, berbeda dengan dunia yang waktu terdahulu kita hidup. Dunia vampir incubus berbeda dengan dunia manusia. Kita sudah masuk kedalam dunia ini. Mereka memiliki kemampuan diluar nalar manusia. Dan tak ada yang dapat lolos kecuali kau menjadi bangsa mereka”
Tubuhku lemas dengan cerita-cerita yang kudengar. Kupandang prihatin semua wanita yang juga akan bernasib sama seperti hal-nya diriku nanti.
“Siapa namamu?” tanya gadis tersebut kali ini padaku.“Aku in hwa” ku ulurkan tanganku untuk berjabat tangan sebagai perkenalan diri. “Aku Ji eun” balasnya menjabat tanganku.
Pintu kayu tebal ruangan ini berderit terbuka. Semua wanita memberingsut mundur takut. Memojokkan diri mereka masing-masing kedinding ketika seorang lelaki yang mungkin salah seorang petugas bangsa incubus itu masuk. Ji eun memegang tanganku erat menandakan bahwa ia sangat takut sama seperti hal-nya diriku.
Petugas itu tampak mengamati sederetan wanita yang akan dipilihnya. Semua wanita menunduk takut. Tidak berani menatap makhluk mengerikan itu.
Tiba-tiba kurasakan cengkraman kuat pada lenganku. Tubuhku ditarik bangkit oleh makhluk itu. menyeretku keluar. “Lepaskan!” ringisku berusaha melepaskan diri. Ku tendang-tendang kakinya saat ia terus menyeretku.
Brukkk~
Tubuhku dihempaskan jatuh di lantai altar luas. Aku meringis sakit. Aku mendongak menyadari sesuatu yang menakutkan. Ku lihat kursi-kursi megah berjumlah 15 berderet tertata rapih di Singgasana dengan makhluk-makhluk yang menempati kursi mereka masing-masing.
Mereka semua mengenakan jubah hitam, bahkan wajah mereka tidak tampak karena tertutupi penutup kepala jubah.
Aku bangkit berdiri dengan letih. Sekeliling ruangan ini penuh dengan incubus. Para pengawal-pengawal penguasa yang di ceritakan ji eun. Tetapi sosok mereka seperti manusia.
Mereka semua mengangkat wajah dan membuka penutup kepala mereka. Menghujam tatapan-tatapan mereka padaku.
Pengelihatanku tak dapat menyangkal bahwa saat ini aku menatap makhluk-makhluk yang lebih menyerupai malaikat. Wajah mereka terlalu rupawan sehingga membuatku berdiri diam tak bergerak dan menatap mereka seperti orang bodoh.
Mereka sangat indah dan terlalu sempurna untuk dikatakan bahwa mereka adalah makhluk mengerikan. Mata mereka yang berwarna biru sapphire menatapku seksama dari yang berdiri ditengah altar. Masing-masing dari mereka di apit oleh vampir succubus.
Salah seorang dari mereka bangkit berdiri dan mendekatiku. Aku menunduk ketika ia berada tepat berdiri dihadapanku. Sekujur tubuhku dingin karena menegang takut. Bagaimanapun mereka adalah makhluk yang dapat membunuhku dalam sekejap. Ia mengitari tubuhku, kemudian kurasakan sebuah tangan dingin mengangkat ujung daguku. Membuatku menatap makhluk tersebut yang tingginya lebih unggul beberapa centi dariku.
Tatapanku kelu melihat rupa wajahnya. Sosok ini -adalah sosok yang selalu hadir dalam mimpi burukku setiap malam. Terlalu was-was bahwa memang mimpiku menjadi nyata dikehidupanku saat ini. Dejavu !
Ia menatapku dingin dengan iris matanya yang nyaris menyerupai batu sapphire.
“Siapa namamu?” Tanyanya dengan suara kaku, Sinis.
Bibirku bergemetar tegang saat ingin kubuka untuk menjawab pertanyaannya.
“Ju-Jung in-in hwa” Jawabku terbata pelan menyerupai anak kecil yang sedang belajar berbicara.
“Kyuhyun! Jangan berlama-lama! Buahi dia dan lahirkanlah keturunan Vampir Cho secepatnya!” Ujar seorang Vampir incubus yang duduk disinggasana. Mungkin ia adalah penguasa yang tertua karena ia duduk di tengah-tengah yang lainnya.“Kau tak perlu ikut campur, Leeteuk hyung!” Sahut Vampir incubus yang bernama kyuhyun dihadapanku. Kyuhyun menggertakan gigi merasa urusannya tercampuri.“Kau harus secepatnya memperkuat keturunan-keturunan Cho! Lahirkanlah keturunan berdarah murni, jika tidak.. Bunuhlah dia!” Hentak vampir incubus bernama leeteuk.
Permukaan kulitku semakin dibanjiri keringat dingin mendengar perseteruan itu. Jantungku terlonjak-lonjak hebat.
A-aku akan dijadikan sebagai perantara kelahiran keturunannya?Vampir-vampir incubus itu menghirup udara sekitar dengan dalam hingga mata mereka terpejam.
“Sepertinya darahmu cukup lezat jika dinikmati” Sergah Vampir incubus yang duduk berambut pirang menatapku tajam seraya menjilat-jilat bibirnya yang haus darah. Mataku terbelalak seraya mundur mengetahui mereka dapat merasakan aliran darah di nadi yang berdesir, dipompa oleh jantungku dengan cepat.
Aku membalikkan tubuhku untuk kabur. Aku segera berlari kearah sebuah pintu begitu besar untuk pergi keluar dari kastil ini.
Mereka semua bergeming tidak menangkapku yang sudah berhasil mencapai luar pintu kastil yang besar itu.
Mereka tidak mengejarku atau mungkin belum saja karena mereka tahu aku tidak mungkin lolos dari kenyataan bahwa aku harus menjadi salah satu bagian dari bangsa mereka.
Aku segera berlari menjauhi kastil para legiun vampir itu. Berlari secepat mungkin kedalam hutan. Berharap aku dapat menemukan dimana tempat aku dapat kembali ke Dunia manusia-ku. Walau kecil kemungkinan.
Baju dress-ku yang panjang menyulitkanku untuk berlari di tanah hutan yang berserakan guguran daun kering. Hingga terpaksa aku mengangkatnya untuk memudahkan kaki-kaki ku bergerak lebih leluasa menerjang sederetan batang-batang pohon yang ku lewati.
Sesuatu bayangan berlari sangat cepat di samping kiri-ku. Melebihi kecepatan normal berlari seorang manusia.
Secara mendadak aku menghentikan langkah kaki-ku. Nafas-ku tercekat, nyaris seperti orang yang akan tercabut nyawa-nya. Makhluk itu berdiri tegap beberapa langkah dari hadapanku. Menatapku tajam dengan dingin. Kyuhyun. Bibir-nya menganga kecil menyuarakan geraman dari tenggorakannya menandakan ia ber-amarah. Ia melesat seperti angin kearahku dan mendorong tubuhku hingga punggungku terantuk batang pohon besar.
“aawh” ringisku mengeliat dalam kuncian tubuhnya yang menghimpitku di batang pohon.
Manik mata-ku terhujam tajam oleh iris mata-nya yang kini telah berubah merah secemerlang darah. Jantungku bertalu-talu di dadaku. Nafasku tidak teratur secara normal dengan keringat dingin di seluruh permukaan kulitku. Wajah-nya hanya berjarak beberapa centi dari raut wajah-ku yang memucat.
Ia memindahkan wajah-nya pada leher-ku. Menghembuskan nafas dingin menggelitik di permukaan kulit. Tangan-ku terlipat menempel di dada-nya, membuat jarak kecil di antara kami.
kurasakan sesuatu yang lunak basah menjilat-jilat bahu-ku. Terasa dingin.
Tubuh-ku menggeliat tak nyaman ketika jilatan basah itu terasa menghangat. Kemudian memanas.
“oouh.. aarggh”
Erang-ku terlontar ketika jilatan itu semakin panas. Seperti terbakar api. Ia mencengkram kedua pundak-ku kuat dan semakin menekan tubuh-ku pada batang pohon saat aku berusaha memberontak.
“Berhenti! Itu panas, ouh!”
Nafas-ku mulai terasa mengap-mengap. Membuat-ku sulit untuk tetap sadar. Pandangan-ku buram mengabut.
Beberapa detik kemudian semua pandangan-ku menggelap dan tubuh-ku melemas.
-Author Pov- 
In hwa membuka mata-nya. Tersadar dari pingsan-nya. Ia mendapati dirinya terbaring di atas tempat tidur berukuran besar berselimut sutra hangat. Ia terduduk, lalu memandang jendela besar yang terpatri di dinding kastil. Pancaran sinar bulan menerobos masuk melalui kaca jendela tersebut pertanda malam hari. In hwa mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang teramat luas untuk ukuran manusia sepertinya.
Ia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju sebuah kaca berbingkai ukiran kuno. Ia mendapati pantulan dirinya dalam kaca tersebut.
Baju-nya yang kotor dan usang telah tertanggal dari tubuhnya. Tergantikan dengan sebuah dress yang lebih kecil di bandingkan milik-nya tadi. Memperlihatkan penuh bagian bahu dan kaki jenjang putih mulus-nya.
Mata-nya menajam menatap sesuatu pada leher-nya. Ia semakin mendekatkan diri-nya pada kaca.
“ah, apa ini?” Ujarnya heran mengamati bekas jilatan makhluk tadi pada leher-nya yang kini memunculkan sebuah lambang berwarna hitam bulat dan terdapat mantra-mantra kecil terukir di dalamnya.
In hwa terkesiap melihat pantulan orang lain yang tiba-tiba ikut terpatut di dalam kaca sedang berada tepat di belakang-nya. Ia kemudian berbalik, menatap takut sosok tersebut adalah kyuhyun.
Kyuhyun mendekat pada in hwa yang menunduk takut menatap lantai. Terdengar langkah ketukan sepatu-nya yang melangkah santai di keadaan yang sunyi.
Tubuh in hwa semakin bergemetar menatap sepatu kyuhyun yang telah berada di dekat di hadapan-nya. Tangan kyuhyun terulur mengangkat dagu in hwa.
Bola manik mata mereka saling beradu. In hwa terdiam memandang takjub manik mata kyuhyun yang kini sudah berwarna biru sapphire kembali. Begitu tenang dan indah, jauh dari kesan makhluk menyeramkan.
Tatapan kyuhyun beralih pada bibir in hwa yang berwarna merah cherry, mengusapnya pelan dengan ibu jari.
In hwa sadar wajah kyuhyun semakin mendekat pada wajahnya. Ia mendorong tubuh kyuhyun agar menjauh, tetapi tidak ada pengaruh sama sekalipun. Ia se-akan mendorong sebuah batu yang tak bergerak.
Tubuh in hwa terdekap erat oleh lingkar tangan kyuhyun di pinggang-nya. Gadis itu memukul-mukul dada kyuhyun, merasakan bibir-nya di lumat menuntut secara tiba-tiba. Gadis itu terus memberontak merasakan lesakkan lidah kyuhyun dalam rongga bibirnya.
“euuhhh~” Erangnya merasakan tubuh-nya seperti mulai terbakar, terlebih pada lehernya.Tangan-nya mencengkram kuat pundak kyuhyun meminta agar vampir incubus itu berhenti menciuminya.
“hah~ aarrggh!” Erang in hwa seraya memegang lambang yang ada di lehernya ketika kyuhyun melepas ciumannya.
“aargh~ kenapa terasa sangat panas sekali?” Gumamnya yang di lontarkan pada kyuhyun.
In hwa jatuh terduduk di lantai. Wajahnya meringis merasakan sakit dan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya secara bersamaan.
“argh! Ini sakit.. hhh.. dan panh.. nas.. Hent.. tikanh.. Ku mohon!” Ujar in hwa memelas pada kyuhyun yang hanya berdiri terdiam menatapnya.
“Aku akan melakukan hal itu. Tetapi berjanji  lah pada-ku”
“mm-mwo??”
“Berjanjilah padaku bahwa kau tak akan menolak semua kemau-an ku. jangan pernah berusaha lari dari-ku, atau rasa itu akan terus hinggap pada tubuh-mu. Dan… Lahirkan lah keturunan-ku!”
In hwa tampak bimbang, pengajuan kyuhyun begitu memberatkannya. Menyudutkannya se-akan tidak ada cara lain untuk mengganti pengajuan itu.
“Kau sanggup?” Tandas kyuhyun membuat pikiran manusia itu menjadi buntu di tengah penderitaan-nya.
In hwa mengganguk pasrah. Tak ada jalan lain.
Kyuhyun berjongkok dan menyingkirkan tangan in hwa di leher. Kemudian mengecup lembut lambang hitam di leher tersebut.
In hwa menormal, sakit dan panas itu seketika lenyap.
Kyuhyun menatap dalam in hwa.
“Ayo kita mulai!”
“eoh? Apa?”gadis tersebut menautkan alis-nya tidak tahu.
“Menghasilkan keturunan cho!” bisik kyuhyun di telinga in hwa seraya mengendong gadis itu ke dalam dekapan dada-nya.
Tubuh in hwa di hempaskan di atas kasur. Detak jantungnya kembali bertalu-talu keras kala kyuhyun melucuti jubah hitam-nya dan menyisakan celana hitam panjang. Menampakkan dada bidang kyuhyun yang terbalut kulit seputih susu.
-Jung In hwa pov- 
Ia menurunkan tubuhnya untuk menindih permukaan tubuhku. Wajahnya yang rupawan menatapku penuh gairah. Dan itu berhasil membuat suhu kulit-ku mendingin karena tegang.
Bibir-nya yang dingin kembali melumat bibir-ku secara lembut, kemudian berubah menjadi menggebu-gebu. Aku dapat merasakan bibir atasnya yang lembut namun dingin di celah-celah bibir-ku saat ia menyesap kuat bibir bawah-ku. Aku menyesap bibir atasnya pelan karena gemas. Lidah-nya melesak menerobos celah bibir-ku. Mengabsen setiap deretan gigi-ku.
“hmm.. hhh~” Desahku tertahan merasakan gairah saat ia menautkan lidah-nya pada lidah-ku. Kemudian ia menyesap-nya kuat sehingga aku harus menyusupkan jari-jari tangan-ku pada rambutnya.
Punggung-ku melengkung, membusungkan dada merasakan ciuman bibir-nya yang dingin menyapu kulit leher-ku. Mengecup dan menjilat belakang telinga-ku.
“hhh~ ahshh.. hah..” Ia menghisap kuat permukaan leher-ku. Mungkin menimbulkan bercak merah disana.
Tangan-nya mengusap sepanjang sisi tubuh-ku. Berusaha membuka helai-an baju yang ku kenakan.
“aaah! errh.. hhm.. assh” Racau-ku saat ia melumat puting payudara-ku yang kini tak tertutup apapun.
Baju-ku telah tertanggal semua. Aku telanjang sempurna di bawah tindihan tubuhnya.
“aarrggh~ sakit!”tanganku berusaha menyingkirkan tangannya yang meremas kasar payudara-ku yang tak ia hisap. Lidahnya memainkan puting-ku di dalam mulutnya, membuatnya menegang bergairah.
Dada-ku menyesak, merasakan gesekan tangannya yang dingin perlahan menuruni perut, Lalu mengusap lembut permukaan kemaluan-ku.
Mulutnya beralih mengecup-ngecup pada puting payudara-ku yang belum ia singgahi. Kemudian meremas dan memilin puting payudara-ku yang baru saja ia lepas.
“aahmmpph.. hisss” Nafasku tertahan merasakan jari-nya menerobos masuk lubang kemaluan-ku. Dingin dan aneh saat ia menggerakan jari-nya. Gairah makhluk itu semakin liar.
Ia mengangkat kepala-nya lalu mengecup kedua payudara-ku secara bergantian. Kemudian turun kembali menjulurkan lidahnya, menjilati sepanjang permukaan perut-ku yang limbung seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalamnya.
Kedua tangan-nya menekuk kaki-ku, lalu merenggangkannya agar terbuka lebar. Ku remas seprai sekitar merasakan ciuman bertubi-tubi pada permukaan kemaluan-ku yang berkedut-kedut terangsang.
“hsshh.. ah! euhmmph…” ku gigit bibir bawah agar desahan-ku teredam. Lidah-nya menjilat-jilat liar kemaluan-ku.
“ah! ah! ahm.. ssh.. hoh.. hah..” Racau-ku tak tahan dengan gejolak rangsangan yang ia timbulkan. Paha dalam-ku sudah mengkilat karena keringat.
Sekujur tubuhku menegang akan mengeluarkan sesuatu. Makhluk itu se-akan tahu apa yang akan keluar, ia menghisap kuat lubang kemaluan-ku. Memancingnya agar semakin cepat.
Remasan-ku semakin menguat pada seprai sutra yang sudah nampak kusut.
“aaaaarrhhh~” Suara-ku melengking tajam di sertai cairan putih kental yang keluar dari kemaluan-ku. Makhluk itu memposisikan mulut-nya menampung cairanku yang mengalir cukup banyak. Menghabiskannya hingga tak tersisa.
Dada-ku kembang kempis memompa udara sekitar seraya memejamkan mata karena melelah. Bibir dingin nan lembut kyuhyun kembali melumat bibir-ku bersamaan dengan tangan kanan-ku yang terangkat di genggam olehnya.
Aku terkesiap membuka mata mengetahui genggaman tangannya mengarahkan tangan-ku untuk melayani penis-nya yang setengah menegang. Aku tidak tahu sejak kapan ia sudah bertelanjang sempurna. Ia menekan tangan-ku pada selangkangannya.
Wajah-ku merona malu. Ini menjijikan.
“Puaskan aku!” desisnya datar kaku. Aku terdiam cukup lama menimbang-nimbang ragu untuk melakukannya.
Kepala-ku tertarik menunduk tiba-tiba, dan tanpa seizin-ku kyuhyun memasukkan penis-nya ke dalam mulut-ku. Ia terlalu dalam memasukkannya hingga aku hampir tersedak karena ujung penis-nya mencapai tenggorokkan-ku. Ia menjambak rambutku seraya memaju-mundurkan penis-nya.
“aaahhh~” Desahnya merasakan nikmat menguasai kemaluan-nya.
Aku merasa terhina. Tak berdaya apa-apa. Mengapa aku selalu seperti ini? Terendahkan.“hhmmph..”Aku berontak berusaha melepas keadaan ini, tetapi sayang tangannya menekan kepalaku agar tetap memanjakan kemaluan-nya. Ia tak bergeming, acuh. Tenagaku tak ada apa-apanya dengan daya tubuh-nya yang terlampau kuat.
Air mata merebak di pelupuk mata-ku.Perasaan takut kembali melingkupi diri-ku akan kenyataan tentang apa yang akan di lakukan makhluk ini pada-ku kelak.
“aaahhh~ ” Tubuh kyuhyun menegang. Bibirnya terbuka kecil melenguh panjang memuncratkan lendir putih kentalnya di dalam mulut-ku. Rasanya aneh!
Ia melepas penisnya dari mulut-ku. Lalu melumat dan mejilati bibir-ku yang terdapat lelehan cairannya seraya mendorong tubuh-ku untuk terbaring. Decakan-decakan ciuman-nya terdengar jelas di kamar luas yang sunyi ini.
Kedua sisi paha-ku di rentangkan lebar-lebar. Kyuhyun mendekap dada-ku erat.
“aaah.. hhh.. sshh.. ouh! hah” Racauku saat liur-nya yang dingin membasahi putingku. Ku tekan kepalanya lebih dalam. Sesekali meremas rambut hitam-nya yang lembut berkilau. Gairahku semakin memuncak di tengah perasaan takut.
“AAARRGGHHH~”
Lengkingan rintihanku menggema merasakan lesakkan penisnya tanpa aba-aba. Mengoyak selaput dara ku yang kini mengalirkan darah segar dari kemaluan-ku. Kyuhyun mendongak, matanya terpejam seraya menghirup udara dalam-dalam. Mencium bau anyir darah.
“aah~ sak.. kith.. ah” Ringisku tak tahan dengan deraan perih di kemaluan-ku. Ku remas kuat pundaknya.
Nafasku tercekat. Matanya memerah secemerlang darah menatapku tajam dengan mulut yang terbuka memamerkan sederatan taring yang basah dan runcing.
“Andwae.. andwae.. Jebal.. hk.. hk” Menggelengkan kepala. Tangisku memecah hening. Gairahku hilang karena takut. Aku memberingsut berusaha lepas dari tindihan tubuhnya. Tetapi dengan sigap ia menahan kedua pergelangan tanganku di sisi. Ku katupkan mataku erat, bersiap dengan gigi taring kyuhyun yang dapat mengoyak kulitku kapan saja.
“Aku tidak akan membunuhmu sebelum keturunan-ku lahir dari rahim-mu” Ujarnya tiba-tiba yang membuatku membuka mata untuk memandangnya. Ia menggertakan gigi-nya tertahan. Menahan rasa haus darah akibat bau darah-ku. Warna mata-nya kembali pada semula. Perlahan ia menggerakan milik-nya dalam tubuhku, lalu memaju-mundurkannya sampai tempo sedang.
“aashhh.. euhh.. hhh” Dadaku melega di tengah ringisan rasa perihku karena ia tak jadi membunuhku -Untuk saat ini tepatnya.
Kyuhyun semakin mengubah gerakan milik-nya menjadi cepat dalam kemaluan-ku. Perih itu menghilang yang kemudian menjadi kenikmatan yang baru ku alami untuk pertama kali.
“ah! ah! hhmmh” Ku gigit bibirku mencoba menahan erangan nikmat yang kian memuncak.
Ia menggeluti leher-ku. Menciptakan banyak bercak merah akibat cumbu-annya pada kulitku. Kedua tangannya meremas-remas kedua dada-ku dan memilin putingnya agar semakin terangsang.
“ah! ah! aahssh.. hhh.. ah! oh.. hhh”
Racau-an demi racau-an meluncur tak tertahankan karena gairah yang menggebu.
Desahan dan decakan percumbuan ini dapat terdengar jelas memenuhi ruangan. Keringat sudah membanjir di sekujur tubuh-ku. Berbeda dengan kulitnya yang dingin beku tidak mengeluarkan keringat sekalipun. Dada-nya bidang berisi seperti marmer. Sangat mengagumkan.
“aah.. ouhh.. hhh.. ah! ah.. aah.. sshh.. Ouh!”
Kyuhyun sangat bernafsu. Hasrat cumbuannya begitu menguasai.
Sesuatu mulai mendesak untuk di keluarkan dari dalam tubuh-ku. Menegang kaku.Seakan ia tahu apa yang terjadi, gerakan milik-nya dalam tubuhku meliar. Memacu-nya menjadi tempo sangat cepat untuk mengeluarkan klimaks bersama-sama.
“aahshh.. ah! ah! asshh.. ah.. hhh.. oh! ahmm.. hh”
Tubuhku terguncang-guncang menggesekan antara hangat tubuhku dengan kulitnya yang dingin. Sedikit menggigil di buatnya.
Tak tertahan lagi. Semua otot dan saraf-ku meng-kaku.
“AAARGGH~” Erangan menyeruak dari bibir di sertai cairan klimaks putih kental mengalir deras dalam kemaluan-ku. Kyuhyun mendorong dalam milik-nya pada kemaluan-ku. Milik-nya berdenyut-denyut kemudian mengeluarkan jutaan benih-nya yang kental berbaur di dalam rahim-ku.
“eerrhh.. aaah~” Lenguhan kecil terdengar dari kyuhyun yang mendongak terpejam merasakan klimaks-nya.
Dada-ku kembang-kempis menghirup sebanyak mungkin udara.
“Menungging-lah” Seru-nya ditengah aturan nafas-ku yang belum kembali menormal.
“tapi aku lel.. argh!” Belum sempat aku mengucapkan kata-kata ku, panas di leher-ku memanas. Baiklah! Aku menurutinya.
Ku tunggingkan tubuh-ku membelakanginya dengan ragu dan malu.
“aaah! errgh!” Meremas bantal saat milik-nya memasuki-ku kembali. Posisi ini lebih menyakitkan. Pinggulnya memaju-mundur perlahan. Ia menumpu-kan tubuhnya pada punggung-ku. Mendekap dari belakang dengan kedua tangan-nya yang meremas-remas buah dada-ku sedang.
“ah! ssh.. oh!”Lidahnya menjilat telinga-ku, kemudian mengulum cupingnya. Ku jambak rambutnya dari depan merasakan rangsangan gairah yang menumbuh kembali. Kini bibir-nya menyapu punggung-ku. Sesekali menjilat dan menghisap, mengukir beberapa bercak kemerahan pekat.
Aku tak dapat merasakan keberadaan-ku saat ini. Melayang menikmati setiap cumbu-an makhluk ini yang memabuk-kan ku.
Rasa itu melanda kembali. Pinggulku di pegang erat kyuhyun yang memacu milik-nya tak terkendali.
“aah! ssh.. Pel.. lan.. Pel.. an.. euh.. ku moh.. hon.. ah!” Ringis-ku tak nyaman merasakan sakit karena pergerakkan-nya yang membabi buta. Kini menyiksa. Ia acuh tak kunjung melambatkan pergerakannya.
“AAARGGH! HHH~” Jeritku melepas telur-telur kental putih untuk di buahi. Cairan kami kembali menyatu satu sama lain di dalam rongga rahim-ku. Sebagian dari cairan itu meleleh keluar mengalir di paha dalam-ku di sertai darah kegadisan yang membaur dengan kentalnya cairan kami.
Badan-ku ambruk. Ia melepas penis-nya, kemudian membalikan tubuhku yang terbaring lelah dengan nafas tersengal. Menatap rona merah muda di wajah-ku yang mengeluarkan butir-butir keringat di dahi dengan rambut kusut ter-acak.
Tak sedikit pun rasa lelah terpancar dari raut wajah rupawan-nya. Ia menurunkan dada-nya untuk menindih-ku kembali. Sementara kelopak mata-ku memberat untuk menutup. Tak bertenaga. Terlalu lelah untuk melayani vampir incubus itu lagi. Membiarkannya menjelajahi tubuhku yang perlahan mulai kehilangan kesadaran.
( skip time )
Aku berputar melihat sekeliling tempat yang tak ku kenal. Pepohonan meranggas, tak satu pun daun-daun yang menempel. Langit sangat gelap kelabu. Senada dengan rasa dingin yang menusuk kulit. Aku bergidik menatap para makhluk berjubah hitam beterbangan. Menapak tanah lalu berjalan mendekat pada arah aku berada. Mereka sangat banyak, mungkin berjumlah lima belas. Dadaku menyesak takut seraya berjalan mundur. Masih menatap mereka. Satu persatu di antara mereka menghilangkan diri seperti kepulan asap hitam pekat yang tertiup angin. Kemudian membuat jantungku terkejut saat muncul mendekat di hadapanku. Sebagian bermunculan di belakang-ku. Aku terkepung di keliling vampir-vampir incubus yang haus darah. Mata mereka berkilat merah pekat. Bibir-bibir mereka tertarik kebelakang, menampakan gigi runcing basah yang siap menusuk mudah setiap kulit manusia. Kaki-ku melemas pasrah hingga terduduk di tengah himpitan mereka. Mereka mendesis mencium bau darah yang mengalir cepat di setiap urat nadi-ku.
Tak ada celah untuk berlari. Satu di antara mereka menancapkan taringnya di kulit lengan-ku, di susul dengan taring-taring tajam yang lainnya hingga jeritan-ku membahana berkali-kali.
Aku terlonjak hingga terduduk setelah mata-ku mendadak terbuka sempurna dari mimpi burukku. Nafasku tersengal dengan setiap bulir keringat yang memenuhi dahiku. Detak jantungku begitu membentur dada. Pandanganku mengedar sekeliling kamar yang luas yang sunyi. Makhluk itu tak ada disini. Mungkin sedang menghisap darah para korban sebagai asupan makanan-nya. Aku mendapati diriku bertelanjang sempurna. Ku tarik selimut sutra yang untuk menutupi buah dadaku yang terbuka. Mencari bajuku. Ku lihat tergeletak di lantai dalam keadaan tak layak pakai karena sudah tersobek-sobek. Aku ingat bahwa diriku tak lagi membutuhkan helaian baju. Karena hampir setiap malam makhluk itu selalu mencumbuku tanpa henti, bahkan ketika aku tak sadarkan diri pun ia tetap menanam benih dalam tubuh-ku. Nafsu-nya sangat besar.
Sudah berbelas hari aku tak pernah melihat keadaan alam luar. Terkurung menjadi budak hasrat makhluk tersebut.
Aku melirik bulan purnama bersinar indah terbingkai jendela besar istana ini.
Aku bergerak memijakan kakiku pada lantai.
“aaargggh~” Erangku merasakan tubuhku yang terasa remuk. Kulit-ku terdapat memar banyak karena kuatnya makhluk itu. Teramat sakit dapat kurasa pada daerah selangkanganku. Aku berdiri seraya menarik selimut sutra sebagai penutup lalu melilitkannya pada tubuhku.
Lorong panjang dengan setiap obor yang menempel pada dinding dapat ku lihat begitu keluar pintu kamar. Berjalan menyusuri lorong muram ini.
Istana ini begitu hening seperti pemakaman. Kakiku memijak perlahan pada anak tangga yang menurun karena penerangan yang seadanya.
Senyap. Ruangan ini begitu menakutkan. Sepertinya ruangan bawah tanah.
Aku merayap berjalan pelan memegang dinding. Samar-samar aku mendengar erangan serta rintihan dari arah sebuah pintu kayu tebal berjeruji besi kecil pada bagian atas pintu. Penasaran. Aku mengendap-endap ingin mengintip, takut jika ada prajurit vampir incubus yang berjaga.
Tarikan nafasku menyesak begitu melihat seorang wanita memegangi perutnya yang buncit besar tergeletak lemah di atas hamparan jerami. Ia kesakitan akan melahirkan. Hanya ada wanita itu, tak ada yang membantunya. Aku beringsut mendorong pintu sekuat tenaga yang ku punya karena ingin menolongnya. Tetapi tak ada hasil. Pintu ini tak bergeser sedikit pun.
“Apa yang kau lakukan disini?” Sebuah suara menginterupsi gerakanku. Aku berbalik. Kemudian sesosok pria berambut kuning pirang muncul dari balik sudut gelap yang tak tersinari obor.Kepedulianku pada wanita yang di dalam masih ada.
“Keluarkan dia! Gadis itu akan melahirkan. Ia kesakitan!” Ujarku berteriak menghujamnya dengan emosi. Ia terkekeh seraya berjalan pelan menujuku.
“Tidak perlu! Bayi itu akan lahir selamat dengan sendirinya”
“Apa maksudmu?” Tanyaku mengernyitkan dahi terheran.
“Bayi itu akan keluar dengan cara mengoyak daging ibu-nya sendiri!” Jawabnya datar kaku seraya menatapku tajam. Aku terhenyak mencerna kata-katanya.
“Ia bisa mati! Selamatkan dia!” Ujarku memberi pengajuan lain. Lagi-lagi ia terkekeh.
“Bukankah setiap manusia akan menemui takdir seperti itu, eoh?” Balasnya merendahkan. Seketika emosi-ku membuncah.
“Kalian makhluk keji! Biadab!” Teriakanku memekik telinganya. Ia mengeluarkan suara geraman dari tenggorokannya. Taringnya meruncing di sudut bibirnya. Ia menghilang menjadi asap hitam pekat kemudian muncul di hadapanku -persis seperti dalam mimpiku-. Punggungku terhimpit pada dinding. Aku menahan nafas.
Ia mengendus-endus kulitku bahuku yang tak tertutupi.
“Darah yang manis” Desisnya menghirup aroma darah manusia-ku. Badanku gemetar.
“Hentikan, eunhyuk hyung!” Seru kyuhyun yang tiba-tiba datang melerai entah dari mana asalnya. Kemudian menarik bahu vampir incubus bernama eunhyuk itu hingga terpental menseret lantai beberapa meter kebelakang. Eunhyuk menyeringai padaku, lalu tubuhnya menghilang perlahan seperti pasir tertiup angin.
Kyuhyun menatapku yang tersengal-sengal.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya kaku. Aku berbalik memandangnya gusar.
“Selamatkan wanita yang di dalam!” Kataku tegas masih mempertahankan pengajuan penyelamatan wanita di dalam.
“tidak bisa! Kami hanya memerlukan bayi-nya sebagai penghuni baru dunia kami dan jasadnya kami butuhkan untuk di minum darahnya. Ia tak terpilih sebagai budak ataupun prajurit!” Ujarnya santai yang membuatku tercengang takut. Jiwaku terguncang mendiam.
“Kalian kejam! Seharusnya kalian yang di musnahkan!” teriakku di wajahnya yang mengeras. Ia marah. Tangannya mencekik leher hingga kakiku terangkat di udara. Aku mengap-mengap kesakitan.
“Kau tidak pantas berbicara seperti itu! Manusia. Kalian adalah bangsa lemah yang tak memiliki kekuatan apapun. Kemampuan kalian terbatas! pantas kami jadikan budak” Tegasnya merendahkan.
“Jik..ka me.. mang begituh, bun.. nuhlah aku sa.. at ini jugah.. Aku tak ing.. ginh seperti wani.. tah ituh.. bukan.. Kah sama sajah jik.. kah pada akh.. hirnyaa.. kak.. kau bun.. nuh! hhh..” Ujarku sulit mengucap karena cengkramannya yang kuat. Ia menurunkan ku kembali dan melepas cekik-an nya.
“Kau terlambat! Benihku sudah tumbuh dalam rahim-mu!”
Aku terdiam membeku, mencerna baik-baik kalimatnya.
“Apa maksudmu?” Tanyaku mengernyitkan dahi resah. Rasa takut melingkupi hatiku.
Ia mengusap permukaan perutku. Sesuatu bergerak di dalam rahim-ku sebagai jawaban dari nya. Mulutku menganga kecil. Nafasku tertahan mengerti apa yang terjadi saat ini dalam diriku. Kyuhyun berbalik. Aku terdiam membeku menatap kosong punggungnya yang makin menjauh hilang di gelapnya sudut ruangan ini. Ku larikan jari-jari tangan pada perutku. Mencengkramnya pelan yang pergerakannya masih dapat terasa. Air mataku mengalir membasahi pipi. Sedetik kemudian ku dengar jeritan memilukan dari wanita di balik dinding punggungku melengking tinggi, kemudian menghilang tergantikan suara tangis bayi yang memekak telinga. Badanku tersadar dan merosot pada dinding yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Meratapi akan bernasib sama seperti wanita itu.
Aku duduk menyandar pada kepala tempat tidur. Mengerang lemah memegangi perutku yang membulat besar. Aku terjaga, tidak dapat tertidur. Pergerakan bayi di dalam perutku sangat aktif. Membuat sekujur tubuhku terasa meremuk. Ini adalah waktu 2 bulan benih makhluk kejam itu tumbuh aktif di dalam diriku. Tetapi perutku membesar layaknya orang yang hamil 9 bulan. Ini tidak normal. Pertumbuhan janin benihnya sangat cepat.
“eungh~ argh!” Erangku merasakan tendangan makhluk kecil dari dalam rahim. Menyibakan selimut yang menutupi gundukan besar perut-ku. Begitu banyak memar kebiruan akibat tendangannya yang setiap malam membuatku tak dapat memejamkan mata dengan tenang. Ini sangat menyiksa. Lebih dari siksaan bibi-ku.
Ku pejamkan mata sejenak, berharap dapat tertidur nyaman tanpa rasa sakit mendera malam ini.
“oh! sh! argh!” Kali ini berkontraksi, otot perutku menegang. Ku gigit bibir bawah dengan nafas tertahan agar dapat meredam sakit.
“argh! Sakit sekali” Rintihku mencengkram perut. Aku benar-benar ringkih dalam keadaan ini. Mendadak sebuah tangan dingin menyingkiran tangan-ku yang berada di cembungan perut. Aku mendongak, ternyata kyuhyun.
“Biar ku bantu” Ujarnya duduk di tepian ranjang, membelai lembut benihnya di balik lapisan kulit perut. Dingin tangannya meredakan sedikit demi sedikit sakit itu. Otot-ototku menenang.
Kami melirik bersamaan. Manik mata biru sapphire-nya menatap lembut ke dalam mata-ku. Aku terhipnotis untuk tetap memandang kilauan mata indahnya. Kulitnya yang seputih susu membalut wajah tampannya. Aku baru menyadari jarak antara wajah kami sangat dekat saat ujung hidungnya menempel di ujung hidungku. Dengan sangat hati-hati ia memiringkan wajahnya, mempertemukan bibir dinginnya pada bibirku yang hangat. Ia melumatnya pelan, membuatku menikmati rasa bibirnya yang memabukkan. Lidahnya melesak lembut menyapu rongga mulut.
Menautkan lidahku pada lidahnya. Air liur kami meleleh di sudut bibir, menciptakan decapan-decapan gairah. Hatiku menghangat, ini lumatan penuh kelembutan dan kasih sayang. Mata kami saling terpejam tenang menikmati satu sama lain.
Ia melepas panggutannya. Kedua tangannya membingkai wajahku. Kyuhyun menatapku ramah, berbeda denganku yang kecewa. Panca indra-ku tergugah. Tiba-tiba aku ingin menangis tanpa sebab. Entah apa alasannya. Pelupuk mataku sudah melelehkan banyak air mata yang menuruni pipi. Ku tatap kyuhyun nanar, ia nampak terkejut. Ibu jari-nya menghapus aliran air mataku. Makhluk itu bersikap manis malam ini. Dengan getir aku menyunggingkan senyum.
Mataku membulat sempurna, sekujur tubuhku menegang mengeluarkan keringat dingin. Kontraksi itu datang kembali berkali-kali lipat.
“AAAARGH~” Jeritanku lolos melalui tenggorokan, membahana ruangan dan lorong-lorong istana. Sakit itu bertumpu pada perutku.
Kyuhyun menegang, kemudian ia berdiri terdiam. Lalu berlari melesat sangat cepat hingga mataku tak dapat mengikuti. Ia meninggalkan ruangan. Nafasku tersendat-sendat. Tubuhku menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Bayi-ku akan lahir. Jeritan-jeritanku mengisi malam yang hening. Aku tak dapat mengendalikan diriku. Sakit ini terlalu menguasai.
Pasir hitam pekat bertiup memasuki ruangan kamar aku berada, lalu terpisah di tepi ranjang kanan dan kiri, kemudian membentuk susunan tubuh lazimnya manusia. Vampir incubus wanita! Mereka memegangi kedua pergelangan tanganku kuat-kuat. Menahannya agar terpatri di kasur.
“AAAAARGH~” Raungku merasakan tulang-tulang rusukku patah. Bayiku bergerak liar di dalam, berusaha mengoyak lapisan daging agar dapat terlahir.
Perutku memuncratkan darah banyak. Dagingku terkoyak. Vampir incubus wanita di sampingku semakin menekan pergelangan, membuatnya remuk perlahan. Mereka tidak kuat dengan bau darah yang mengiurkan.
Tubuh mungil itu merangkak keluar dari robekan perutku. Daya tenagaku terkuras. Aku masih bertahan ingin melihat rupa bayiku. Kyuhyun melesat memasuki ruangan dari pintu besar, di susul saudara-saudaranya. Pandanganku berkabut. Muram dan kabur. Salah satu dari vampir incubus itu mengangkat bayi-ku lalu menyerahkannya pada timangan tangan kyuhyun. Ia tersenyum gembira menatap keturunannya, saudara-saudaranya mengelilinginya untuk ikut melihat. Aku tersenyum menatap kehangatan itu. Setidaknya aku bahagia dapat merasakan istimewanya menjadi seorang wanita, mengandung dan melahirkan.
Mataku sangat berat. Ingin menutup lebih dari sekedar rasa kantuk. Tubuhku merapuh dan tak sedikitpun tenaga tersisa untuk bergerak. Aku ingin melihat dan menimang bayiku juga. Sekujur badanku kebas. Kegelapan menghimpitku. Menekanku hingga detak jantungku melamban dan menutup saluran nafasku.
Semakin dalam rengkuhan gelap yang kurasa, bahkan udara sudah tak mengisi paru-paruku.“Timang dia!” Suara kyuhyun terdengar sangat samar di tengah riuh perbincangan antar saudaranya.
Aku tak peduli lagi, aku akan segera berakhir. Jadi jagalah anakku baik-baik.
Sesuatu yang runcing tajam menusuk mudah kulit leher di tengah-tengah sekaratku. Ia tidak menghisap darah, melainkan Menyutikkan cairan. Tiba-tiba jantungku yang lemah terhentak, berdenyut kencang menyebarkan cairan-cairan itu dalam setiap pembuluh darah. Hangat, kemudian memanas, sangat panas dan terus berkali-kali panasnya melampaui apa yang pernah di rasakan. Ingin berteriak, tetapi aku terbungkam. Terbaring masih menutup mata layaknya mayat.
Ini berlangsung cukup lama. Api itu masih menjilat-jilat di dalam. Perlahan menghilang. Aku dapat merasakan pikiran menjernih. Merasakan keadaan sekitarku lebih sensitif, dengan segala panca indra menajam.
Panas itu membakar perut. Rekahan kulit-ku seakan merapat, di ikuti tulang-tulang rusuk yang tersusun kembali. Lebih membaik dari sebelumnya.
Panas itu kini berkumpul di jantungku. Membakar dan mendebarkannya hingga beberapa kali. Panas itu mereda, lenyap dan padam sendirinya.
Mataku terbuka sekejap menatap langit-langit. Aku bangun terduduk. Masih mendapati diriku di ruangan yang luas. Desiran angin dapat ku dengar. Sesuatu yang lezat dan nikmat berada jauh, terhirup oleh cuping hidungku yang kembang kempis. Bau itu begitu menggelitik tenggorakan. Aku berdiri, tanpa jeda waktu mengetahui diriku sudah berdiri. Nyaris seperti tidak ada gerakan. Semuanya terasa lebih mudah.
Aku berjalan menuju kaca. Tubuhku dengan ringan melangkah, seperti melayang tak memijak.
Ku lihat sesosok bidadari terpantul dari dalam kaca. Begitu sempurna dan menakjubkan. Tubuhnya yang tinggi dan ramping tertutupi gaun panjang yang menjuntai hingga lantai.
Raut wajahnya tanpa ekspresi, namun kecantikan terpatri kuat pada dirinya. Biru sapphire mewarnai goresan iris matanya. Kulitnya berkilau seputih susu tertempa cahaya matahari yang menerobos jendela.
Sesempurna itukah perubahan pada diriku?
Begitu banyak kerumunan di lantai bawah. Para penguasa itu terduduk manis di singgasana, serta prajurit dan para pelayan mereka. Menatapku kagum yang menuruni anak tangga dengan langkah anggun. Seorang malaikat rupawan menungguku di kaki tangga. Tersenyum hangat. Aku menyadari itu adalah kyuhyun. Terlalu sangat rupawan, bahkan berkali lipat di bandingkan saat aku melihatnya melalui mata manusiaku. Ia mengulurkan tangan, menyambut ku. Aku meraihnya dan merasakan suhu kulit kami sama, tak dingin ataupun hangat. Ia menuntunku menuju tengah altar. Menghadapkan ku pada saudara-saudaranya. Mereka tersenyum hangat penuh keramahan.
“Selamat datang di keluarga kami” Suara kyuhyun mengalun indah di telinga seperti alunan lagu. Ia merengkuh wajahku, menciumku. Mulanya lembut seperti bisikan, namun perlahan berubah menjadi lumatan ganas dan penuh nafsu. Aku terbawa hasrat mengikutinya. Tak peduli kerumunan orang sekitar atau bahkan saudara-saudaranya. Penguasa-penguasa itu saling berdeham, membuat panggutan kyuhyun terlepas. Menyadari bahwa kejadian itu memang tak pantas di lihat.
“Saranghae~” Bisiknya seperti angin menggelitik di leher dan telinga. Ia menatapku dalam, senyumannya berseri-seri. Aku ikut tersenyum, hatiku menghangat di selimuti bahagia.
“Naddo saranghae~” Balasku tak kalah berseri. Wajahnya semakin cemerlang.
“Ibu! Ayah” Ujar seorang anak kecil laki-laki datang menyergah kyuhyun yang hampir menciumku kembali.
Dia memanggilku ibu? Apakah dia bayi yang ku kandung lemah? Aku terpaku melihat keajaiban bahwa anakku sudah tumbuh besar seperti anak berumur 7 tahun hanya dalam beberapa hari transformasiku.
Kyuhyun menggendongnya anak lelaki itu.
“Minumlah, bu!” UjarAnakku menyodorkan segelas minuman merah kental pekat. Seketika kerongkanku mengering, seperti terbakar. Rasa haus melilit dahaga. Aku meraihnya dan meneguk cepat-cepat cairan merah kental itu hingga habis. Membasahi dahaga. Aku menjatuhkan gelas itu hingga memecah di lantai altar. Bibirku tertarik menyeringai, memperlihatkan taring runcing. Semua orang  tersenyum penuh menatapku.Kini aku adalah bagian dari bangsa mereka.
END

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: