Get You Memory

0
Get You Memory
1. Author : This XX
2. Judul : Get Your Memory
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
– Cho Kyuhyun
– Han Hyunsil
2 November 2012, 11.30 AM
Aku melihatnya lagi. Aku melihat namja itu dengan mata kepalaku lagi. Sama. Tak ada yang berubah sedikitpun darinya. Rambut kecoklatannya yang dibiarkan acak-acakan, kulit putih pucat yang terlihat tak terjamah, bibir penuh, serta rahang tegasnya tetap menjadi sumber ketampanan yang menurutku takkan pernah memudar sedikitpun. Selalu membuatku kehilangan konsentrasi saat berada di dekatnya.

Namja itu mengulum senyumnya. Meneliti berkas-berkas yang tergeletak di meja kerjanya. “Maaf, tapi sepertinya kau tidak bisa masuk ke perusahaan ini. Dari profil yang aku terima terlihat pengalamanmu di bidang pemasaran masih sangat kurang. Jadi.. yah kuharap kau diterima di perusahaan lain.” Ucapnya tegas sembari menatapku dengan sorot matanya yang tajam yang menurutku terlalu mempesona itu.
“Tapi Tuan Cho, tidak bisakah anda mempertimbangkannya lagi. Dengan status kelulusan cumlaud, saya yakin, saya mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk masuk ke perusahaan ini.” Desakku.
Masuk ke dalam Cho Coorporation adalah impianku. Impian banyak sarjana Korea lain juga sebenarnya. Perusahaan terbesar dengan aset yang mencengangkan. Siapa yang tak ingin menduduki posisi karyawan di company itu? Dipimpin seorang CEO muda yang menjadi idaman hampir seluruh wanita Korea. Cho Kyuhyun. Laki-laki dengan paras menawan, kekayaan yang berlebihan, serta kecerdasan yang hampir menyamai para ilmuwan. Siapa yang tak menginginkannya.
“Justru dengan status cumlaud-mu itu kau bisa bekerja di perusahaan lain dengan jabatan lebih tinggi, tapi tidak untuk perusahaan ini. Kami membutuhkan yang berpengalaman.” Ucapnya dengan nada yang menurutku sedikit mengejek itu.
“Maaf tapi saya tak membutuhkan jabatannya. Tapi yang kubutuhkan adalah bekerja di perusahaan ini.” Nada tegas tersirat jelas dalam setiap ucapanku. Aku benar-benar berusaha agar namja bernama Cho Kyuhyun ini mau menerimaku di perusahaanya.
Ia menongakkan kepalanya, menatapku intens dan menyunggingkan senyum separonya yang dengan tololnya membuatku berpikir bahwa hal itu justru menambah kadar ketampanannya ribuan kali lipat. Ada sedikit raut sinis dari tatapannya. Ia meletakkan bolpoin yang sedari tadi ia pegang. Meletakkan kedua tangannya di dagu untuk menopang wajah tampannya.
“Apa kau merindukanku?” ucapnya dengan nada mengejek. Seketika itu juga amarahku langsung mencapai ubun-ubun. Bagai jerami yang disiram minyak dan dibakar dalam sekejap.
Bukankah ia sudah berjanji untuk melupakannya. Bukankah ia mengatakan tak ada yang perlu diingat dari kita satu sama lain. Ok, baiklah aku akui aku memang masih mengingatnya. Dan tak ku pungkiri ada harapan agar ia melakukan hal yang sama. Tapi bukankah kita sudah sepakat untuk bersikap tidak saling mengenal jika bertemu di kemudian hari?
Kutatap balik dirinya tepat di manik matanya. Ada seulas senyum yang tak memudar di raut mukanya. Kupasang ekspresi kebencianku sebaik mungkin, meski dalam hatiku ada kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebahagiaan karena ia masih mengingatku.
“Ok, baiklah Tuan Cho Kyuhyun seperti kata anda sebelumnya. Aku harusnya mencari pekerjaan di perusahaan lain dengan jabatan yang lebih tinggi. Terima kasih karena telah meluangkan waktu anda. Permisi.” Ada nada jengkel dari ucapanku. Kukemasi barang-barangku dari mejanya, memasukkanya ke dalam tas tanpa menatanya sedikitpun. Sesekali kuarahkan mataku padanya. Ia masih mengamatiku dengan seringaian licik di wajahnya.
Kuhentakkan langkahku menuju pintu keluar ruangannya sebelum suaranya menghentikan langkahku. “ Kalau kau benar-benar ingin bekerja padaku, aku akan memberimu pekerjaan cuma-cuma.” Ralat Tuan Cho, aku bukan ingin bekerja padamu tapi pada perusahaanmu, batinku. Aku berbalik menghadapnya. Mengendalikan ekspresiku agar tak terlalu terlihat bahagia karena mendapat tawaran darinya yang begitu menggiurkan.
Kyuhyun bangkit dari kursinya, membenarkan sedikit letak jasnya yang menurutku tak perlu ia rapikan karena dengan jas yang sedikit berantakan saja ia sudah terlihat begitu tampan. Oh, hentikan pikiran bodohmu itu Han Hyunsil. Seringaian tak lepas sedikitpun dari bibirnya. Menghentikan langkahnya tepat di hadapanku, menarik tangan kananku dan meletakkan secarik kertas di atasnya. “Datang ke tempat ini hari sabtu depan, pukul 1 siang. Tak ada kata terlambat. Kau takkan pernah mendapatkan pekerjaan di perusahaan manapun kalau kau menghindar dari pekerjaan ini.” Nadanya terdengar mengintimidasi, yang sayangnya tak membuatku takut sedikitpun. Justru aku merasa tertantang untuk meladeni permainannya.
“Aku tak bisa berjanji tuan, tapi akan kuusahakan.” Ucapku dengan nada meremehkan.
“Aku berani bertaruh kau akan datang, Han Hyunsil!” ucapnya sembari mengacak-acak puncak kepalaku pelan. oh, percaya diri sekali laki-laki ini. Ok, baiklah aku sendiri memang sudah berencana untuk datang. Sial.
***
Memoriku kembali terisi Cho Kyuhyun. Aku kembali menghirup aroma tubuhnya meski tak sekuat dan setajam seperti pertemuan sebelumnya. Cho Kyuhyun. Namja yang kunobatkan sebagai partner seks terhebat yang pernah kurasakan. Oh, Han Hyunsil kau bahkan hanya bercinta dengannya. Jadi darimana kau tahu bahwa dia yang paling hebat? Bodoh!
Yah, aku dan dia sebelumnya memang pernah bertemu. Bertemu dalam keadaan yang menurut orang sama sekali bukan pertemuan yang baik yang justru menurutku itu adalah pertemuan terindah yang pernah kualami. One night stand. Yah, kami memang melakukannya.
Pertemuan di sebuah bar, dalam keadaan mabuk, sama-sama tertimpa masalah yang kini bahkan aku lupa apa masalahku waktu itu, mengobrol sebentar bertatapan intens, terbawa nafsu dan selanjutnya berhubungan di atas ranjang tanpa tahu nama satu sama lain. Namun walaupun begitu aku masih merekam semuanya. Wajahnya, aromanya, sentuhannya, desahannya. Semuanya. Sehingga saat bertemu dengannya tadi tak lebih dari satu detik aku langsung mengenalinya.
Kejadian malam itu masih dapat kuingat jelas. Janji yang kami ucapkan seusai mencapai klimaks masih terukir jelas di memoriku. Ia yang menyesal karena merebut harga diriku sebagai wanita untuk pertama kalinya, ia yang berencana bertanggung jawab terhadap perbuatannya yang justru kutolak mentah-mentah. Dan dengan beraninya aku meminta ia untuk melupakan segalanya, menyuruhnya untuk menganggap bahwa hal itu tak pernah terjadi. Menganggap semuanya hanya kejadian singkat yang tak perlu diingat, yang justru olehku masih teringat jelas sampai sekarang.
Saat itu aku berfikir bahwa sesekali aku tidak harus menjadi wanita baik-baik yang berjalan sesuai aturan. Sesekali aku harus menjadi wanita yang bebas tanpa harus dikekang. Dan beginilah aku sekarang menikmati hidup dengan kebebasanku yang sialnya sepertinya kebebasan itu akan sirna karena aku terkekang dengan pertemuanku kembali dengannya. Entah mengapa aku terbayang-bayang dengan Cho Kyuhyun. Sulit sekali mengenyahkannya dari otakku.
***
Handel & Gretel Cafe
10 November 2012, 01.00 AM
“Apa pekerjannya?” tembakku langsung ketika baru saja kuletakkan bokongku di kursi empuk di sebuah cafe yang terletak di apartment termewah di Seoul.
“Sebegitukah tak sabarannya kau ingin bekerja, Nona Han Hyunsil.”
“Aku hanya menuruti keinginanmu. Tak ada terlambat dan bebelit-belit.” Ucapku sinis.
Ia tersenyum sebentar sebelum mengangkat cangkir espressonya dan menyesapnya pelan. “Nikmatilah kopimu terlebih dahulu. Tak perlu terburu-buru!”
Kuarahkan pandanganku menuju cangkir berisi cairan hitam di hadapanku. Kopi murni tanpa campuran apapun. Bagaimana ia tahu minuman kesukaanku?
“Aku tahu wanita dengan tipe sepertimu selalu menyukai kopi dengan sedikit gula. Menyesap rasa pahit dan manis yang timbul bersamaan serta aroma kopi yang tetap tercium. Nikmat bukan?”
Sial. Bagaimana mungkin ia tahu semuanya? Oh, aku lupa. Tentu saja laki-laki ini tahu segalanya. Pasti sudah banyak wanita yang ia tiduri sehingga ia tahu kesukaan para gadis dengan berbagai karakternya.
“Hanya kau.” Ucapnya singkat
“Ne?”
“Hanya kau partner seks-ku. Tak ada wanita lain sebelumnya dan dimasa yang akan datang.”
“Apa kau itu pembaca pikiran, hah?” tanyaku dengan nada sedikit menyelidik. Bagaimana mungkin ia tahu apa yang terlintas di otakku.
“Sama sekali bukan. Hanya saja aku terlalu memahamimu.”
“Baiklah Tuan Cho Kyuhyun. Kurasa sudah selesai sesi basa-basinya, jadi sekarang katakan padaku apa pekerjaanku sebenarnya?”
“Baiklah.. Baiklah… kalau itu maumu. Kau itu tak sabaran sekali. Ikut aku!”
Cih, seenaknya saja laki-laki ini memerintah. Ia bangkit dari kursinya dan dengan seenaknya meraih tanganku. Menggenggam tanganku dan menautkan jari-jari panjangnya di sela-sela jariku. Ada sedikit persaan nyaman, eh ralat. Sangat nyaman!, saat ia menggenggam tanganku seperti ini. Seolah aku dapat menyerahkan hidupku di genggamannya.
***
Cho’s Apartment
02.15 PM
Ia membawaku kedalam sebuah kamar apartmen. Di dalamnya terdapat seorang pria paruh baya yang langsung membungkukkan badannya 900 begitu melihat Kyuhyun memasuki ruangan ini. Sepertinya pria ini orang kepercayaan Kyuhyun.
“Kim ahjussi, apa semuanya sudah beres?” tanya Kyuhyun sambil menjatuhkan dirinya di sofa berwarna krem dan menarikku untuk duduk disampingnya.
Pria yang dipanggil Kyuhun dengan marga Kim itu membungkuk dan meletakkan beberapa berkas ke meja dihadapanku dan Kyuhyun. “Semua sudah beres tuan, hanya perlu tanda tangan Tuan Cho Kyuhyun dan Nona Han Hyunsil.” Ucapnya sopan.
Kyuhyun membuka berkas-berkas itu, kemudian menggeser beberapa di antaranya ke arahku. “Tanda tangani!” cih, sukanya memerintah! Kalau bukan karena ia bosku, pasti sudah kupecahkan kepala laki-laki di sampingku ini.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Kontrak kerja.”
Kuambil berkas-berkas yang disodorkannya. Tanpa membaca isinya langsung saja kutandatangani berkas itu.
“Kau tak membaca dulu isinya?” tanya Kyuhyun yang diiringi tatapan tak percaya ke arahku.
“Cih.. paling-paling hanya berisi peraturan biasa yang sudah sering kubaca.”
“Begitu? Kalau boleh kusarankan, lebih baik kau baca dahulu surat itu dengan baik agar kau tahu pekerjaan apa yang harus kau lakukan. Gunakan otak cumlaud-mu itu!”
Ah, benar juga. Kalau aku tak membacanya bagaimana aku tahu apa yang harus aku kerjakan. Hyunsil babo! Kuambil kembali berkas yang tadi kutanda tangani dan mulai membacanya perlahan.
“Kenapa kalimatnya aneh?” gumamku. Terdengar Kyuhyun terkikik geli sembari menatapku.
“Tunggu.. tunggu.. apa ini? Ini seperti… Yak! Cho Kyuhyun, apa ini?” bentakku setelah menyadari arti deretan kalimat dalam surat itu.
Kyuhyun memasang tampang liciknya yang menurutku sangat menyebalkan itu. Sedikit mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan berkata pelan. “Surat registrasi pernikahan. Hari ini kau resmi jadi istriku!” ucapnya pelan namun tegas.
Sontak mataku membulat dan aku sukses melongo di depannya. Sementara Kyuhyun hanya terkekeh dan membereskan berka-berkas yang sempat aku jatuhkan dan menyerahkannya kembali kepada Kim ahjussi.
“Daftarkan segera pernikahan kami. Pastikan semuanya harus beres hari ini juga.”
“Ne, sajangnim” Kim ahjussi membungkukkan badannya sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan aku dan Kyuhyun berdua.
Kyuhyun melayangkan pandangannya padaku dan mengubah ekspresinya menjadi sedikit serius. “Tak perlu memasang tampang seperti itu. Aku hanya menepati janjiku.” Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan yang terlihat sepertinya dapur, dan kembali dengan membawa dua kaleng minuman bersoda. Menyerahkan satu diantaranya untukku. Sementara aku masih belum bisa mencerna kata-katanya dengan baik.
“Janji? Janji apa maksudmu?” tentu saja aku bertanya tentang hal itu, karena seingatku aku tak punya janji apapun terhadapnya. Janji yang kubuat dengannya hanya untuk melupakan kejadian malam itu. Benar hanya itu saja. Jadi kurasa tak ada janji yang bersangkutan dengan masalah pernikahan.
Kyuhyun berdiri kembali dan berjalan menuju rak buku di samping TV. Mengambil salah satunya dan sepertinya itu terlihat seperti album foto. Ia meletakkan album tersebut di hadapanku. “Bukalah! Kuharap tak ada satupun yang kau lupakan.”
Kuraih album itu, membukanya satu persatu sampai kutemukan deretan foto yang sangat kukenali. Itu aku. Ulang tahun ke-8. Berdiri dengan sepotong kue tart ditangan dan disampingku berdiri namja tinggi yang menatapku dengan wajah berbinar. Kubalik foto berikutnya, ayunan. Aku duduk di ayunan itu sementara dibelakangnya namja yang ada difoto sebelumnya berdiri sambil memegang bahuku. Kami sama-sama menatap ke arah kamera dengan ceria.
Aku berusaha mencerna kapan foto-foto ini diambil dan kenapa Kyuhyun mempunyai foto-foto ini sampai akhirnya sekelebat ingatan terlintas di benakku. Ketolehkan kepalaku ke arah Kyuhyun sementara ia menatapku dengan tatapan lembut seolah menanti hal apa yang akan aku katakan.
“Noe..Kyu oppa?” tanyaku ragu.
“Ne, itu aku.”
Kupandangi wajahnya sembari mengamati wajahnya. Mencari kebenaran dari ucapannya. Dan yang kudapatkan adalah bahwa kesemuanya itu adalah benar adanya. Kyuhyun mengangkat tangannya menyentuhkannya dengan lembut sambil memandangi wajahku intens.
“Ini aku, Kyu oppamu. Kyu oppa yang mencintaimu sejak kau berumur 8 tahun. Kyu oppa yang selalu mengayunmu saat bermain ayunan bersama. Kyu oppa yang berjanji akan mengubah margamu menjadi margaku saat kau sudah dewasa.. Itu aku!.”
Bagai berita tsunami mendadak mendengar penuturannya. Diakah orang itu. Diakah yang berjanji akan mencintaiku sampai mati itu.
***
Berbaring dalam satu ranjang. Menghirup aroma tubuh satu sama lain. Meresapi tubuh pasangan yang ada di pelukan kita. Kulit tubuh yang bergesekan. Bibir saling melumat. Tangan saling meraba.
Entah bagaimana kami bisa melakukan hal ini. Sudah satu ronde kita lakukan. Namun seolah belum mencapai kepuasan satu sama lain kami memutuskan untuk melanjutkan kembali kegiatan bercinta kami. Mendaki puncak kenikmatan kembali.
Bibirnya tak henti-hentinya bergerak liar melumat bibirku. Bibirnya sendiri lembut, manis dan memabukkan. Lidahnya menyusup masuk ke rongga mulutku menggapai segala hal yang ada di dalamnya. Mengapsen deretan gigiku. Membelit lidahku seolah mengajaknya untuk saling bertarung di rongga mulutku.
Kulit kami bergesekan intim. Tanganku kegerakkan terus menerus di punggungnya. Merabai kulitnya yang halus yang kini licin karena keringat yang tak hentinya keluar seiring kegiatan kami berdua. Sementara itu tangan-tangannya tak bisa diam barang sebentar. Tangan kirinya sibuk merabai dadaku. Memelintir puncak dadaku dengan jempol dan telunjuknya, bahkan terkadang menarinkya ringan yang membuatku mengerang. Tapi dengan erangan dan desahan yang tak hentinya keluar dari mulutku nampaknya justru memompa gairah diantara kami berdua.
Tangannya yang lain sibuk menggodai kemaluanku. Menggeseknya perlahan, menggariskan telunjuknya ke atas dan ke bawah tepah ditengahnya. Bahkan dengan nakalnya kini jarinya bergerak masuk. Sedikit melakukan gerakan memutar yang justru membuatku semakin kehilangan akal sehat. Rasa pusing menderaku tatkala gerakan jarinya semakin intens keluar masuk, terkadang ia melengkung seakan-akan mengait rongga di dalamya. Terus dan terus ia lakukan hal itu.
Nafsu itu semakin berkobar, membakar seluruh gairah di dalam tubuh. Suara desahan, kecapan dan erangan semakin tak terbendung. Tak ada satupun dari kami yang coba menahan suara-suara aneh itu, kami mengeluarkannya dengan lantang. Sadar bahwa hanya ada kami berdua saat ini tak akan ada yang menginterupsi kegiatan kami. Toh hal ini tak ada yang salah. Bukankah saat ini kami sudah resmi menjadi suami istri?
Erangan keras muncul begitu saja dari mulutku tatkala Kyuhyun mengulum dadaku dengan rakus. Menyesapnya, menjilatnya terkadang menarik-narik puncak dadaku dengan deretan giginya. Sementara itu gerakan jari-jarinya di dalamku semain liar, keluar masuk dengan tempo yang tak teratur. Berulang kali kucoba untuk merapatkan pahaku karena tak tahan lagi dengan sentuhannya di bagian intimku tapi berulang kali pula hal itu gagal. Ia menahan kedua pahaku untuk terus terbuka lebar dengan tubunnya. Saat tangan kanannya sibuk menggeluti kemaluanku, tangannya yang lain dengan intens merabai tubuhku. Sedikit mendorong tubuhku dengan tangannya agar semakin melengkungkan tubuhke ke atas seolah memberi isyarat agar aku semakin menyodorkan dadaku ke mulutnya.
Kenikmatan kali ini sungguh berbeda, jauh lebih nikmat dibandingkan saat kami melakukannya berbulan-bulan lalu saat aku tak mengenalinya sebagai orang yang aku tunggu-tunggu kehadirannya sejak 12 tahun lalu. Memikirkan itu membuatku tersenyum geli. Cinta pertamaku, ciuman pertamaku, serta seks pertamaku kesemuanya dengan Kyuhyun. Ah, sepertinya jodohku memang dengannya.
Kini gerakan bibirnya berpindah menuju daerah kewanitaanku. Bibirnya sibuk menyesapi cairan yang baru saja keluar karena ulah jarinya, sementara itu nafasnya yang tak teratur menghembus dengan jelas di kemaluanku. Yang dengan sialnya hal itu justru semakin membuatku melayang. Lidahnya tak henti-hentinya bergerak. Mengeksplor segala hal yang ada disana, terkadang menyusup ke dalam lubang senggamaku lalu menjilati bagian luarnya seperti anjing yang baru diberi tulang oleh majikannya.
Kudongakkan kepalaku, melirik apa yang ia lakukan disana. Namun yang terlihat hanya gerakan kepalanya yang tak henti bergerak. Kubenamkan jari-jariku ke arah armbutnya yang tebal dan lembut itu. Mendorongnya untuk terus menggeluti area sensitifku. Hal ini benar-benar membuatku gila. Kenikmatan dunia yang banyak digemari manusia. Bahkan banyak orang yang rela membayar mahal hanya untuk mendapatkan kenikmatan seperti ini.
Kyuhyun merangkak naik, memandangi wajahku dengan tatapannya yang selalu intens dan mematikan itu. Kutelusuri wajahnya yang bagaikan malaikat kematian itu. Tampan dan penuh tipu daya, yang nyatanya sukses menghipnotisku untuk dibawa olehnya ke ranjang kembali. Ia menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi wajahku, menyeka keringat yang dari tadi tak berhenti mengucur sedikitpun. Ia menundukkan wajahnya, mengecup keningku sekilas yang menurutku penuh dengan ketulusan.
“Kau tahu? Sejak malam itu, aku memikirkan begitu banyak fantasi seks yang aku lakukan dengan berbagai macam cara dan kesemuanya itu kubayangkan denganmu. Bodoh kan aku?”
Aku tersenyum sekilas mendengar pengakuannya. Sebegitukah besar pengaruhku untuknya?. “Apa hal seperti itu yang kau fikirkan tentang adik kelasmu semasa masih SD? Dasar mesum!!” kataku sambil memukul ringan dadanya.
“Aku tak memikirkanmu sebagai Han Hyunsil kecilku. Aku memikirkanmu sebagai partner seks pertamaku. Aku bahkan belum tahu kalau saat itu kau adalah gadis masa kecilku.”
“Lalu sejak kapan kau tahu bahwa aku Han Hyunsil? Apa kau memata-mataiku setelah selesai melakukan seks waktu itu?” tanyaku polos.
Kyuhyun memandangku dengan tatapan tak percaya. “Yak, Hyunsil-ah apa kau pikir aku tak ada kerjaan lain sampai harus mengintai orang yang meninggalkanku tergeletak sendirian di ranjang seusai bercinta. Aku bahkan tak tahu namamu, alamatmu, pekerjaanmu. Lalu harus dimulai dari mana pengintaianku, hah?” bentaknya.
“Ah, benar juga! Lalu darimana kau tahu aku Han Hyunsil-mu?”
“Aissh, kau itu pikun atau apa? Kau melamar pekerjaan di perusahaanku, memberi segala macam profil tentang dirimu, darimana lagi aku tahu tentang dirimu kalau bukan dari hal itu?” geramnya.
“Oh, aku lupa bahwa aku melamar pekerjaan. Kau tahu saat itu aku sangat kaget saat melihat kau yang mewawancaraiku, mengetehui bahwa CEO perusahaan terbesar di Korea merupakan partner one night stand-ku.”
“Jadi kau kaget bertemu dengan namja tampan ini lagi, huh?” godanya.
“Yak, buang sifat narsismu itu! Ah, ngomong-ngomong pekerjaan, apa pekerjaan yang akan kau berikan untukku. Kau sudah berjanji memberi aku pekerjaan.”
Ia tersenyum dan mengecup bibirku sekilas. “Jabatanmu sebagai istriku, dan tugasmu adalah menjadi sandaranku saat sedang ada masalah, selalu menemaniku setiap saat dan melayaniku. Terutama dalam hal ranjang.” Katanya dengan smirk khasnya yang membuat kepalaku pusing.
“Cih, kau itu benar-benar mesum!”
“Sudahlah tak usah berlagak, kau sebenarnya juga menyukainya, kan?”
“aissh, kau menyebalkan! Kau melanjutkan ini atau mau berhenti disini?” tanyaku sambil mengedik ke arah bawah tubuh kami yang sedikit bergesekan. Jika boleh jujur sebenarnya aku benar-benar sangat ingin melanjutkan kegiatan kami, tapi mana mungkin aku mengatakannya terlebih dahulu. Namja ini bisa-bisa tambah besar kepala.
“Apa kau sebegitu tak sabarnnya?” godanya sambil menggesekkan kemaluan kami dan sedikit meremas dadaku, membuatku melenguh ringan.
Kyuhyun kembali melumat bibirku, sama seperti tadi. Rakus dan menuntut. Sementara tangannya mengocok sebentar batang kemaluannya sebelum akhirnya menyurukkan miliknya ke dalam lubang intimku. Sedikit geraman keluar dari mulutnya tatkala ia tengah berkonsentrasi penuh memasukkan miliknya seutuhnya ke dalam tubuhku. Dengan hentakan yang menurutku cukup menyakitkan, akhirnya tubuh kami bersatu kembali.
Ia menggerakkan tubuhnya perlaha, keluar masuk begitu seterusnya dengan tempo lambat. Bibirnya kembali menggeluti dadaku. Menyesapnya kuat disertai bunyi-bunyi erotis yang terus menerus keluar dari bibirku, bunyi kecapannya serta bunyi pertemuan tubuh kami. Menambah suasana seks menjadi lebih bergairah.
Terkadang ia menarik miliknya hingga hanya tersisa ujungnya di dalam, dan kemudian dengan semena-mena menghentakkannya dengan keras membuatku menjerit tak tahan dengan sensasinya. Kedua tangannya memegangi pinggangku, menariknya ke atas, memberi isyarat agar aku ikut bergerak. Kuturuti keinginannya, kurakkan pinggangku berlawanan dengan gerakannya. Membuat hentakannya semakin dalam merangsek ke dalam dinding rahimku.
Kuambil salah satu tangannya, meletakkannya di dadaku yang lolos dari pekerjaan mulutnya. Kyuhyun pun langsung meremasnya, menambah sensasi seks malam ini. Berkali-kali kulengkungkan tubuhku, tak tahan dengan segala macam rangsangan yang dilakukan Kyuhyun pada tubuhku.
Gerakan tubuh Kyuhyun semakin liar, tak teratur, dan cepat. Hentakannya semakin cepat bahkan kurasakan terkadang ada gerakan memutar yang ia lakukan membuatku semakin tergelincir ke dalam kenikmatan. dan sepertinya yang puncak yang kami nantikan sebentar lagi akan sampai. Kyuhyun mulai menggeram tak karuan sementara aku mulai mengeluearka erangan-erangan memekakkan telinga. Beberapa waktu berlalu sampai akhirnya kami sama-sama menggeram lega saat penantian kami berakhir. Kami klimaks.
***
Near Han River
11 November 2012, 05.25 PM
“Kau tahu Kyuhyun-ah? Apa yang selalu aku fikirkan tiap melihat matahari terbenam setelah aku kehilanganmu 12 tahun lalu?” tanyaku sambil mengeratkan rengkuhan tangannya yang melingkar erat di sekeliling pinggangku. Sementara ia sendiri berdiri di belakangku sambil terus menyurukkan kepalanya ke helaian rambutku. Sesekali menghirup nafas disana.
“Apa itu? Ceritakan semuanya padaku jangan sampai ada yang terlewat!” pintanya.
Cihh, dasar namja pemaksa ini!
“Aku selalu memikirkanmu. Aku selalu berdoa pada matahari terbenam agar dapat membawamu kembali saat ia menampakkan cahaya keesokan harinya. Berharap cahayanya esok hari mampu menerangi jalanku untuk menemukanmu. Aku terus berharap kau akan tetap mencitaiku. Berharap kau akan terus menungguku. Sampai akhirnya kita bertemu di malam beberapa bulan lalu. Dari situ aku mulai sedikit melupakan sosok Kyu oppa masa kecilku, yang digantikan oleh namja yang merebut keperawananku. Menggelikan bukan?”
Dia hanya terkekeh geli sambil membenarkan letak blazerku. Angin di tepi Sungai Han benar-benar membuatku harus berulang kali merapikan rambut maupun pakaianku.
“Semudah itukah kau melupakan cinta masa kecilmu hanya karena seks? Kau ini benar-benar! Lalu saat ini kau memandangku sebagai apa? Cinta pertama atau namja yang menidurimu untuk pertama kali?” tanyanya sambil mengecup pipiku sekilas.
“Bukan keduanya. Bukan cinta pertama maupun seks pertama. Saat ini aku memandangmu sebagai suamiku. Cinta masa lalu, sekarang, dan selamanya. Dan juga sebagai seks pertama, kedua dan seterusnya. Akku melihatmu sebagai Cho Kyuhyun-ku. Milikku.”
END

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: