Between You, Me and Her

0
NC 21 | Romance

Harap memperhatikan rating umur Fan Fiction ini, sebab banyak penulisan adegan yang tidak cocok untuk dibawah umur tersebut.


Pukul enam pagi, disaat semua manusia mulai melakukan aktifitas di pagi hari, ada seorang wanita yang berjalan perlahan menelusuri lorong apartement kecil di pinggiran kota sambil mengangkat sepatu hak. Dia selalu menghindari kontak mata dengan para tetangga yang melirik dan melihat ke arahnya. Iapun menarik-narik terus roknya yang sangat pendek itu, mungkin ingin menutupi pahanya, entah karena dingin atau malu dengan orang-orang yang melihat dan membicarakan cara berpakaiannya itu.
“Baru pulang?” ucap seorang tetangga, seorang perempuan separuh baya menyapanya.
“I..iya…” ucap perempuan itu berusaha tersenyum dan membuka knop pintu apartement nya.

Between You, Me and Her

[ 17+ | Romance ]

Cast : Siwon, Yuri, Tiffany

Sequel of I’m not Sweet Anymore

Author Note :
Between You, Me and Her merupakan cerita lepas yang timeline ceritanya ini sendiri terjadi setelah I’m not Sweet Anymore. Dua tokoh utaman dalam cerita ini sudah pernah muncul sebelumnya, Siwon dan Yuri. Sequel kedua ini bisa dibilang memiliki jalan cerita yang lebih berat daripada sebelumnya.

Other :
( === ) artinya terjadi perbedaan timeline yang cukup besar. Melompat ke masa lalu , sekarang atau masa depan.

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Namun suasana kamar itu masih terlihat redup karena tirai masih tertutup. Kamar itu cukup berantakan dengan berbagai macam make-up untuk wanita yang berada diatas meja rias. Beberapa baju kemeja pria digantung diluar lemari dan sepatu-sepatu berserakan di lantai.

Sementara itu diatas sebuah ranjang king size dengan sprei warna coklat muda, ada seorang pria dan wanita yang msih tertidur. Si Pria itu adalah Choi Siwon, pemilik bar kecil bernamakan Clover yang berada di HongDae. Ia membuka matanya terlebih dahulu.

Begitu ia membuka matanya, ia langsung melihat wajah wanita yang tidur dihadapannya.
Wanita itu tertidur dengan pulasnya, Siwon bangkit dan ia membetulkan selimut yang menutupi tubuh wanita itu.

“Mau kemana…?” ucap wanita itu, ia terbangun saat Siwon meninggalkan ranjangnya.

“Ada urusan…” ucap Siwon tanpa menjelaskan dengan detail. Ia sibuk memilah-milah baju yang akan ia kenakan untuk hari ini. Wanita itu terdiam, memperhatikan figur Siwon yang bertelanjang dada dan mengenakan boxer saja. Lantas ia menutup matanya lagi, “Hati-hati…” ucap wanita itu perlahan.

Siwon hanya tersenyum, tidak meresponsnya dengan ucapan.

Beberapa saat kemudian Siwon sudah rapih dengan blazer biru tua, serta celana bahan hitam. Iapun memakai sepatunya duduk diatas sofa. Ia melihat ada sesuatu di atas meja dihadapannya, sebuah amplop surat yang cukup tebal. Karena penasaran ia membukanya, ada lembaran ribuan won di dalamnya dan sepucuk surat.
‘Uang bulan ini – Yuri’.

Siwon lantas menutup surat dan amplop itu sambil mendengus ia menggelengkan kepalanya.

Bandara Udara Incheon,
Seorang wanita berambut ombak dan panjang keluar dari pintu kedatangan sambil mendorong kereta trolley.

“Yes Dad, I just landed in here. Ok… Take Care too…”ucap wanita itu dalam bahasa Inggris dan menutup teleponnya.

Wanita yang memakai setelan denim itu lantas berjalan keluar dari bandara menuju antrian taksi.

Sebelum mencapai antrian taksi, seorang pria menghalangi jalannya.

“Fany ah…” ucap pria itu.
Wanita itu terhenti dan melepaskan kacamata Givenchy miliknya dan menatap pria itu.
“Kau…?” ujarnya , ternyata Siwon yang menghentikan dirinya.

~*~

Keduanya kini berada di dalam kendaraan yang sama, sebuah sedan hitam,
Hyundai Genesis yang dikemudian Siwon.

“Kenapa kau menjemputku? Padahal aku bisa naik taksi…” ucap Fany.
“ini masih tanggung jawabku…”jawab Siwon.

Keduanya kemudian terdiam, tidak ada pembicaraan lagi,
Fany hanya memandang keluar jendela mengamati pemandangan kota Seoul disiang itu.

“Kau seorang diri ke sini?” tanya Siwon
“Kelihatannya…?” jawab Fany singkat
“Kukira kau bakal mengajaknya juga… padahal aku kangen dengan dia…”
Fany hanya menghelakan nafasnya, tanpa merespons Siwon.

“Kau lapar? Apa mau sarapan dulu sebelum ku antar ke hotel?” tanya Siwon
“Mau makan apa? Boleh saja…” ucap Fany.

~*~

Akhirnya setelah beberapa kali merubah-rubah posisi tidurnya, Yuri membuka matanya dan bangkit dari tidurnya. Ia lantas bangkit dan menyentuh dahinya. “Panas… masuk angin nampaknya…” pikirnya. Iapun segera bangkit dan berjalan perlahan keluar dari kamar tidurnya.

Apartement kecil ini adalah milik Siwon, hanya memiliki sebuah kamar tidur dan kamar mandi. Ruangan keluarga pun menyatu dengan dapur. Tembok ruangan keluarganya pun dihiasi oleh banyak botol-botol minuman keras yang terusun rapih.

Yuri kemudian mencari obat penurun demam. Ia meminum obat itu tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu.

Lalu ia duduk disofa , menyalakan televisi dan ,menarik asbak yang berada di meja kecil dihadapannya. Iapun mengambil kotak rokok, hanya ada satu batang terakhir di dalam bungkus rokok itu. Lantas Yuri langsung melempar bungkusan itu dan membakar rokoknya.

Yuri, nama lengkapnya Kwon Yuri. Ia bukanlah istri Siwon, pacarnya pun bukan. Ia hanyalah seorang housemate yang tinggal bersama Siwon selama hampir satu tahunan ini. Bukan hanya menjadi housemate saja, Yuri pun sering kali menjadi partner Siwon dalam hal hubungan seks.

~*~

Hyundai Genesis tiba di sebuah rumah makan disiang itu.
Keduanya, Siwon dan Fany turun dan segera memasuki rumah makan itu. Rumah makan yang menjual masakan tradisional. Mereka berdua mengambil tempat duduk tepat di depan jendela besar yang merngarah keluar restaurant.

“Tahu saja kau kalau aku ingin makan di tempat ini..” ucap Fany sesaat setelah memesan makanannya.
“Tempat ini tempat sering kau kunjungi dulu… dan ketika kau menginjakan kaki di Korea lagi setelah beberapa saat pasti kau ingin datang kesini lagi tentunya…” ucap Siwon sambil memainkan handphonenya.

Sambil menunggu hidangan utama datang, pelayan memberikan side dish untuk mereka.

“Bagaimana dengan bar? Lancar…?” tanya Fany

“Lancar… namun sedikit sepi akhir-akhir ini…”

“Sepi? Yang punya sekaligus bartendernya saja ganteng tidak mungkin sepi… para kaum hawa pasti sering kali berada di tempat itu kan? Apalagi dekat universitas…”

“Tidak memang lagi sepi akhir-akhir ini sebab banyak Bar dan Café lain yang lebih menarik daripada tempatku…”

Fany tertawa mendengarkan ucapan Siwon.

“Kalau begitu jadikan saja Bar untuk para Gay pasti laku… karena tampangmu yang ganteng itu… hahaha…” Fany menggoda Siwon, namun kali ini Siwon hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum kecut.

“Bagaimana dengan kamu? Sudah dapat pekerjaan lagi disana?” sekarang Siwon yang menanyakan keadaan Fany.

“Sure, dan masih dibidang yang sama…”

“Oh, editor majalah?”

“Sudah naik… menjadi kepala editor…”

Hidangan utama datang, kemudian keduanya sibuk dengan peralatan makan masing-masing. Siwon mengambil sumpit sementara Fany mengambil sendok dan garpu.

“Kau sudah booking hotel? Kau akan bermalam dimana?”

“Belum… kau nanti antarkan aku ke hotel yang terdekat saja…” ucap Fany sambil mengunyah makanannya.

“Hanya satu malam kan? Daripada membuang uangmu sebaiknya bermalam saja di apartement…”

Siwon menawarkan agar Fany bermalam ditempatnya.
Fany terdiam, ia nampak mempertimbangkan tawaran itu.

“Boleh saja kalau tidak merepotkanmu… sekalian aku mau ambil baju-bajuku yang belum sempat ku ambil semuanya…”

Sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphone milik Yuri yang terletak diatas ranjang. Beberapa saat kemudian Yuri yang baru saja selesai mandi, memasuki kamar dengan rambut yang masih basah ia melihat isi pesan tersebut.
Begitu membacanya , ia hanya menghela nafas.

Yul, bisakah kau mengemas barangmu sekarang dan bermalam di Clover dulu? Untuk malam ini saja…kuharap kau mengerti. – Siwon

Dengan cepat Yuri mengambil sebuah koper yang berada di bawah ranjang. Mengemas beberapa baju yang berada di dalam lemari. Kemudian ia merapihkan ruang keluarga dan segera meninggalkan apartement.

~*~

Kalau saja pada malam itu Siwon tidak pergi membuang sampah, mungkin dia sudah meregang nyawanya di tempat pembuangan sampah.

11 bulan yang lalu,
Clover Bar. Saat itu hujan tengah turun meyelimuti daerah sekitar HongDae, membuat para ‘mahluk malam’ sedikit enggan keluar dari ‘kandang’ mereka, sehingga Clover Bar sepi dari pengunjung.
Seorang penyanyi perempuan sedang melantunkan sebuah lagu bersama dengan band-nya.

“Key.. sorry memanggilmu untuk membantuku… kupikir malam ini bakalan ramai seperti malam kemarin… tapi nyatanya malah sepi…” ucap Siwon kepada pria nyentrik yang memakai celana bermotif leopard dan berdiri tepat di belakang meja bar.
“Haha It’s Ok. Memang malam ini juga aku free dan lumayan juga kan? Aku jadi bisa mengundang teman-teman kampusku kesini haha…” kemudian Key menarik sebuah polybag hitam yang ia seret ke arah pintu belakang.

“Mau kemana kau?”

“Ini buang sampah, tidak nyaman melihatnya…” ucap Key.

Kemudian Siwon menyuruh Key kembali untuk menemani teman-temannya, Siwon sendiri yang akan membuangnya . Di belakang bangunan ini terdapat tempat pembuangan sampah yang cukup besar. Siwon lantas memakai jas hujan vinyl tebal miliknya dan memakai sepatu boots karet.

Begitu akan tiba di tempat pembuangan sampah ia seperti mendengar suara minta tolong, namun seidkit tersamar akibat hujan yang mengguyur di malam itu.

“H..hhh…hhh…tolong…”
Ia menghiraukan suara yang meminta tolong itu.

Siwon langsung melempar polybag itu ke tempat sampah. Ketika badannya berbalik, ia melihat ada beberapa kondom bekas tercecer di dekat tempat sampah itu, ada sekitar tiga sampai empat kondom.
“Hesh…” Siwon menghela nafasnya kemudian menendang nendang kondom bekas itu hingga mendekati tempat sampah.
Siwon kemudian melihat sesuatu dekat dengan tempat sampah itu, sebuah heels namun hanya sebelah saja.

Ketika ia telusuri, ia menemukan pakaian wanita dan nampak sesuatu yang keluar dari dalam tempat sampah besar itu , sebuah kaki.

Mayat? Pikir Siwon yang langsung mengangkat gundukan sampah yang tadi ia lempar.
Seorang wanita yang tidak berbusana, terbujur disitu, wajahnya begitu pucat dan mulutnya mengeluarkan busa. Siwon terkejut bukan main saat menemukan sosok itu.

Tangan perempuan itu masih bergerak dan matanya menatap ke arah Siwon. Ia masih hidup namun keadaannya sangat kristis. Siwon kemudian menggendong wanita itu dan berlari ke arah Bar miliknya.

“Key!” pekik Siwon meminta bantuan Key untuk menahan pintu.

Key panik, terkejut dan sempat berteriak histeris, “Siapa dia hyung siapa?”

“Entah lah keadaannya amat kritis… dia kutemukan di tempat sampah belakang…” Siwon berusaha merasakan denyut nadi wanita itu, nafasnya sudah mulai terputus-putus.

Key langsung menelfon ambulans saat itu.
Keadaan saat itu menjadi sangat genting seketika, membuat resah beberapa pengunjung hingga akhirnya ambulans datang.

===

Clover Bar.
Bar ini berada di underground sebuah gedung bertingkat yang berada di Hong Dae, pintu masuknya pun merupakan sebuah tangga yang menurun, kalau malam bisanya para wanita seks komersial akan menunggu pria-pria hidung belang berkantong tebal disini.
Namun saat ini masih siang, terlihat Key seorang diri menuruni tangga sambil bersiul-siul mendengarkan lagu dari headphone-nya. Ia membuka pintu bar itu dengan salah satu kunci dari puluhan kunci yang disatukan dalam satu gantungan kunci.

Begitu memasuki lingkungan Bar yang masih gelap, Key langsung menyalakan lampu-lampu yang redup berwarna oranye. “HUAGH!! ” Key langsung berteriak kencang , ia melihat sosok perempuan tengah duduk di hadapan meja bar.

“Ah… Noona!!!” ujar Key sambil membuka headphone-nya.

Yuri langsung tersenyum-senyum menatap Key yang terkejut karena sosoknya yang seorang diri berada di dalam gelapnya ruangan bar dan sedang asyik memakan sesuatu.

“Lapar?” tanya Key yang melewati Yuri sambil melepaskan back pack nya kemudian ia sembunyikan di dalam lemari. Yuri mengangguk, dia sedang memakan ramen tanpa dimasak, dihancurkan dan di makan begitu saja seperti snack.

“Di masak dulu kenapa?” Key langsung merebut bungkusan ramen itu dan dibawanya menuju dapur kecil yang berada di belakang. Yuri hanya terdiam, pandangannya terlihat kosong dan kemudian ia merebahkan kepalanya di meja.

“HEUFH…” Yuri menghela nafas. Itulah kata-kata pertamanya kepada Key di siang itu.

“Tumben kamu kesini siang-siang? Ada apa? Biasanya kau jam segini masih tidur kan?” tanya Key sambil memanaskan air di panci, siap merebus mie.

“Ada tamu di rumah… jadi aku harus bermalam disini deh…” ucap Yuri.

“Oh… tamunya Siwon hyung? Dia bermalam di apartement? Sehingga kau yang diusir keluar? Haha..”

“Ya… begitulah…” Yuri seakan amat lesu dan tak bergairah ia hanya memainkan gelas-gelas berleher panjang yang berada di hadapannya.

Beberapa menit kemudian, Mie Ramen matang.
“Nih!” ucap Key sambil meletakan mangkuk mie.

“Ne… thanks…” ucap Yuri kemudian mengaduk-aduk mie itu dengan sumpit besi.
“Eh Noona kau pucat sekali… sakit yah?” tanya Key yang memperhatikan wajah Yuri.
“Mmh… masuk angin nih nampaknya…” Yuri mulai menyantap makanannya.

“Kalau begitu nanti malam kau tak usah melayani klien… di sini saja bantu aku…”
Yuri terdiam tidak menjawab Key, ia nampak memikirkan sesuatu.

“Key mau bantu aku tidak?”

~*~

Senja hari,
Sinar matahari oranye perlahan-lahan memasuki ruang apartement Siwon.
Seseorang membuka pintu apartement itu.

Sosok Fany pun memasuki ruangan sambil membawa sebuah kantung belanjaan. Diikuti Siwon yang berada di belakangnya yang mengangkat koper milik Fany. Siwon langsung memasukan koper itu ke dalam kamarnya. Sementara Fany duduk di sofa ruangan, matanya memperhatikan keadaan sekitar ruangan itu.

“Tidak banyak yang berubah…” ucap Fany kini ia memperhatikan botol-botol minuman keras yang menjadi panjangan terbaik di apartement itu.

“Makin banyak saja botolnya… berarti makin banyak perempuan yang mabuk-mabukan disini?” ujar Fany tersenyum kecil. Siwon tak menjawabnya, ia berganti baju di dalam kamarnya.

Kemudian Fany beranjak dari sofa, matanya tertuju pada salah satu pojokan ruangan terdapat banyak tumpukan boks. Ia terdiam saat menyentuh boks-boks itu. Siwon kemudian keluar dari kamarnya berjalan menuju kulkas mengambil sebotol air mineral di dalamnya.

“Kupikir kau sudah membuangnya…” ucap Fany
“Buang? Barang-barang itu dibeli dengan uang… bagaimana aku bisa membuangnya begitu saja…” ungkap Siwon yang kemudian kembali ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Fany kemudian memasuki kamar dan lagi-lagi matanya memperhatikan ruangan itu, ia kemudian menuju lemari baju yang berada tak jauh dari pintu kamar, ia mengeluarkan sebuah kaus dan celana dari dalam lemari itu.

Kemudian ia melepaskan baju yang ia kenakan dan ia mengganti baju-nya tepat di depan Siwon yang sedang rebahan. Mata Siwon tak bisa lepas memandangi postur tubuh serta kulit putih mulus Fany yang hanya mengenakan bra dan celana dalamnya saja.

Siwon bangkit dari ranjang dan ia segera memeluk Fany dari belakang. Ia memeluk dengan erat tubuh Fany hingga ia tak dapat bergerak. “Yah!” Fany berusaha menghindar dan meronta dari pelukan itu, namun tenaga Siwon yang sangat besar membuat Fany tak bisa melawannya.

“Satu tahun kau menghilang dari hadapanku… apa kau tak sekalipun merindukanku?” bisik Siwon ditelinga Fany.
“Diam… Diam…!” jawab Fany dengan nada yang membentak.

“Aku bisa berteriak! Biar semua orang-”

Siwon mencium bibir Fany, menahan suara Fany dengan menciumnya, perlahan-lahan Siwon melumat bibir Fany yang tipis dan merah itu. Perlahan rontaan tubuh Fany mereda dan keduanya saling melumat bibir. Hingga lidah keduanya bertemu dan saling beradu, perlahan pelukan Siwon yang semula sangat erat mulai melonggar.

Fany memutar tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan, mengakhiri ciuman mereka dan kening keduanya saling bersentuhan. Fany memeluk pinggang Siwon sehingga tubuh keduanya saling menempel. Mereka dapat saling mendengar deru nafas yang tak beraturan dan juga detak jantung yang bedengup kencang. Perasaan , emosi dan gelora mereka seakan sudah terbakar menjadi satu.

Kedua tangan Siwon menyentuh rambut dan daerah sekitar leher Fany. Ia menarik wajah Fany yang masih menunduk hingga keduanya saling bertatapan, kali ini berbeda, Bibir Fany yang duluan menghampiri bibir Siwon. Dan Fany pun mendorong tubuh Siwon perlahan, mengarahkannya ke atas ranjang.

~*~

Clover Bar,
Daerah sekitar HongDae sudah mulai gemerlap dengan lampu pertokoan dan lampu jalanan. Penjual makanan kecil di daerah itupun sudah mulai bersiap-siap untuk menjajakan barang dagangan mereka.

“Noona… apa Siwon hyung menghubungimu?” tanya Key yang sudah rapih dengan memakai kemeja putih, vest hitam, fedora dan celana skinny berwarna merah.
Yuri saat ini sedang duduk di salah satu kursi bar, kepalanya mendongak ke arah atas dan memejamkan matanya.
“Noona!!!” bentak Key yang merasa diacuhkan oleh Yuri.
“Eh..eh apa?” Yuri mengumpulkan kesadarannya ia melap hidungnya yang berlendir sambil tertawa-tawa tidak jelas.

“Ish… aku tanya apa Siwon hyung menghubungimu? Sudah jam segini tapi dia belum muncul di bar!”

“Kau telepon saja dia… kalau tak diangkat ya kita buka seperti biasa saja…” ucap Yuri berdiri dan berjalan ke arah WC sambil menepuk bahu Key.

Key menggelengkan kepalanya menghadapi perilaku Yuri, iapun segera mengeluarkan handphonenya dan melakukan panggilan ke Siwon.

Handphone Siwon berdering, handphone itu berada di dalam celana yang diletakan diatas kursi.
Kedua insan yang sedang berada diatas peraduan itupun berhenti sesaat melakukan kegiatan mereka. Tidak ada sehelai benang pun yang membalut badan keduanya.

“Sshhh…Won-ah…” ucap Fany ia mendesis sambil menarik tubuh Siwon.

“Telepon… angkat…” ujar Fany yang sedikit merasa terganggu dengan dering handphone Siwon.
“Biarlah… paling – paling orang bar yang menungguku…” jawab Siwon sambil menatap Fany.

Dalam keadaan kamar yang mulai bertambah gelap keduanya kembali dalam gelora nafsu mereka, seakan keduanya tidak memperdulikan waktu yang terus bergulir.

===

Nyawanya hampir saja lewat, ia keracunan Philophon. Di tubuhnya pun banyak luka-luka bekas penganiyayaan. Ketika melihat keadaannya pertama kali ketika dibawa kesini sepertinya ia korban pemerkosaan.

3 hari setelah insiden Siwon menemukan seorang wanita yang sedang sekarat.

“Masuklah…” ucap Siwon menyuruh wanita itu masuk ke dalam apartementnya.
Wanita itu hanya menghembuskan nafasnya dan mengikuti Siwon.

Begitu tiba di dalam, keadaan ruangan terlihat begitu berantakan. Terlihat beberapa pakaian ditumpuk diatas sofa. Beberapa botol minuman keras tergeletak berantakan diatas lantai begitu saja. Beberapa piring kotor menumpuk. Juga meja makan yang penuh berantakan, wanita yang memakai kaos putih dan celana jeans kebesaran itu memandang seisi ruangan dengan raut wajah yang sangat tidak nyaman “Tempat apa ini?” pikirnya. Lebih tepat dikatakan sebagai kandang babi dibandingkan sebuah apartement.

“Duduklah…” ucap Siwon yang sibuk dengan sebuah teko listrik.

Wanita itu langsung duduk di sofa setelah menggeser tumpukan baju-baju. Ia kemudian mengambil kotak rokok yang berada diatas meja.

“Aish… ini teko kenapa sih?” ucap Siwon menggerutu karena teko listriknya kerap tidak membuat air itu menjadi masak. Ia kemudian mencium bau tembakau yang di bakar, bau asap itu menghantui seisi apartement yang ventilasinya sangat tebatas itu.

“Hey! Kalau mau merokok buka jendelanya dulu!” bentak Siwon dan ia langsung terdiam saat itu. Wanita itu hanya menggerakan kaki kirinya saja untuk mendorong jendela kaca yang berada disisinya.

“Minumlah…” ucap Siwon akhirnya memberikan sebotol air mineral, nampaknya ia gagal membuatkan teh untuk wanita itu.

“Dan… bisa kah kau mematikan rokok itu…?” pinta Siwon, wanita itupun melemparkan puntung yang masi menyala itu keluar jendela.

“Yah! Kenapa kau lempar sembarangan?” bentak Siwon, wanita itu nampak seenaknya.

“Wae? Kau juga melempar ke balkon depan kan? Banyak puntung bekas menumpuk disitu…” ucap wanita itu sambil membuka botol air dan meminumnya. Siwon hanya menggelengkan kepalanya.

“Hey ganteng…!” ucap wanita itu menatap ke arah Siwon.
“Aku maksudmu?” tanya Siwon yang sedang berdiri dan memegang remote televisi.
“Iya siapa lagi yang ganteng selain kamu seorang yang berada disini…?”
“Choi Siwon… panggil aku Siwon…”
“Ya..ya tuan ganteng… kenapa kau menyelamatkanku dan membawaku kesini?”

“Siapa yang berteriak-teriak meminta tolong dengan suara parau, ditengah hujan deras? Dalam keadaan tak berbusana , tubuh yang memiliki luka memar dan juga hampir mati karena overdosis philophon?”

Wanita itu terdiam dan menundukan kepalanya.

“Para bajingan kecil itu…” gerutunya nampak sedikit kesal karena Siwon mengungkit-ungkit kejadian beberapa hari yang lalu itu.

“Semua gara-gara mereka…”
“Mereka ? siapa?”
“Anak-anak Honggik…” wanita itu mengepalkan tangannya.
“Kenapa dengan mereka? Kau dipermainkan mereka? Hah?”

“Ya… awalnya hanya seorang dan dia memberikanku obat aneh itu, setelah itu tubuhku benar-benar terasa ringan dan … dan … dia memintaku untuk melayani nafsunya… aku iyakan saja maunya dia… sebab sama seperti biasa… mereka meminta melakukannya dalam mobil… namun kali ini aku seperti dijebak… beberapa teman-temannya ikut masuk ke dalam mobil dan mereka ber-empat memaksa aku untuk melayani mereka bersamaan… aku menolaknya… namun mereka memaksa dan memukuliku hingga mereka memberikan satu butir obat itu lagi… tingkat kesadaranku sangat menipis dan aku benar-benar tidak bisa melawan mereka… satu persatu dari mereka meyetubuhiku… aku yang sudah tidak bisa bergerak dan tak berdaya akhirnya dibuang oleh mereka ke tempat sampah itu layaknya sampah…” wanita itu kemudian menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Buat apa kau me..melayani nafsu dia? Apa dia pacarmu?”

“Pacar? Akupun tak kenal bocah tenggik itu… Ia yang menelfonku dan mengajaku keluar…”
Siwon menggelengkan kepalanya, “Salahmu sendiri bodoh…” pikirnya.

“Kalau tidak begitu bagaimana aku bisa mendapatkan uang?” ujarnya lagi, membuat Siwon melotot dan ia menyadari sesuatu.

“K…kau… siapa namamu?” tanya Siwon sambil memperhatikan wanita itu yang nampaknya sudah mulai berlinang airmatanya.

“Kwon … Kwon Yuri…”

===

Pukul 9 malam,

Siwon membuka matanya, ia langsung merasa silau karena lampu kamar yang menyala. Aroma dari sabun yang sangat wangi pun menusuk ke hidungnya. Terdengar pula bunyi bising dari hair dryer. Ia kemudian mencari sumber dari wangi dan bunyi bising tersebut, berasal dari Fany ia sedang mengeringkan rambutnya yang basah sambil mengaca di depan cermin. Ia nampak sudah tampil anggun dengan dress satin berwarna merah maroon.

“Mau kemana kau?” tanya Siwon sambil berusaha mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.
“Pergi, rekan kerja kantorku dulu ingin berkumpul denganku…” ucap Fany.

Beberapa puluh menit kemudian setelah Siwon selesai mandi, Fany terlihat sedang memakai heelsnya.
“Mobil ku bawa pergi…” ujar Fany.
“Itu juga ada sup miso… kau makan saja…” Fany kemudian beranjak pergi.

“Pulang jam berapa?” tanya Siwon sesaat sebelum Fany pergi meninggalkannya.

“Pssh… kenapa kau pertanyakan hal itu? Biasanya kau tak pernah bertanya kan?” ucap Fany tanpa sedikitpun menoleh ke arah Siwon.

BLAM! Fany menutup pintu rumah dan pertanyaan dibiarkan menggantung tanpa jawaban.

ISH! Emosi Siwon melonjak ia melempar sendok sesaat ketika ia akan mulai menyuap sup yang sudah disediakan Fany disebuah mangkuk.

~*~

Dua sosok pria nampak memasuki Clover Bar. Sambil tertawa-tawa keduanya langsung mengambil tempat duduk tempat di balik meja bartender.

“Wo… Minho… Dong Hae hyung!” sapa Key sambil memberikan high-five ke arah mereka.
“Yo! Key!” ucap Minho dan Dong Hae bersamaan menyambut high-five Key.

“Tumben nih berdua… mau pesan apa?”

“Apa saja deh yang jelas cokctail…” ucap Minho
“Sama!” sambung Dong Hae

“Yah! Disini tidak menjual minuman ‘apa saja’ !” ujar Key sambil tertawa dan ia nampak mempersiapkan beberapa botol untuk campuran minuman yang akan ia buat.

“Key… mana Siwon? Tidak dateng dia?” tanya Dong Hae sambil mengintip-intip ke arah dalam.

“Tadi siang sih katanya sedang ada tamu di rumahnya… mungkin agak malam kesininya…”

Dong Hae dan Minho mengangguk.
Lalu muncul dua sosok pria lagi yang memasuki bar, keduanya tertawa-tawa. Tak lain dan tak bukan adalah Aldy dan Hankyung.

“Liat? Liat yang tadi? Pas aku tepuk pantatnya? Eh ternyata ganjelan!” ucap Aldy.
“Iya…iya! kukira beneran itu pantat bulet… taunya-taunya busa kali ya? Hahaha…”
Aldy dan Hankyung kemudian duduk sejajar dengan Minho dan DongHae yang terlebih dahulu sampai.

“Buset! Jadi berempat nih?” tanya Key sambil memberikan dua gelas kepada Minho dan Dong Hae.
“Iya Key… kenalin nih… paling pojok Aldy sebelahnya Hankyung…” Minho memperkenalkan teman-temannya itu kepada Key.
“Yo… malem mau pesen apa? Disini ga ada menu ‘Apa Aja’ yak!” sahut Key langsung.
“Nah! Baru mau mesen itu!” sahut Aldy sambil tertawa bareng Hankyung.

“Key …” suara lembut itu membuat Key menghentikan juggling botol yang sedang ia lakukan.

“Oh Noona…” ucap Key kepada Yuri yang tiba dari pintu belakang.

Tidak hanya Key saja yang berhenti tapi keempat lelaki itupun terhenti seketika, memperhatikan baju minim yang dikenakan Yuri, yang memperlihatkan bagian paha serta payudaranya itu. Kulitnya yang berwarna matang serta senyuman dari bibir tipisnya langsung merebut para kesadaran lelaki yang melihat dirinya.

“Siwon sudah datang?” tanya Yuri kepada Key.

“Ah belum … sudah selarut ini mungkin tidak akan datang…” ucap Key meneruskan juggling botolnya.

Key sudah kembali beraksi menjuggling botol, namun tidak dengan keempat lelaki itu, mereka masih terpana dengan kecantikan Yuri. Yuri pun menatap ke arah mereka berempat.

“Loh… lugu? Pria lugu? Kenapa dua-duanya bisa disini?” Yuri menunjuk dan mengenali Dong Hae dan Minho.

“Halo…” ucap Dong Hae dan Minho bersamaan. Kemudian keduanya saling memandang ‘Kau kenal dengan dia?’ pikir mereka masing-masing.

Aldy malah bangkit dari kursinya dan langsung memberikan tangannya untuk berkenalan dengan Yuri yang jaraknya cukup jauh dengannya. Dengan senang hati Yuri menyambut tangan Aldy,

“Kenalkan Aldy…” kemudian Aldy hendak mencium tangan kanan Yuri itu, namun digagalkan oleh Hankyung yang menariknya “Gw laporin Soo loh!”.

Aldy ditarik, Hankyung berganti, kini malah si Hankyung yang hendak mencium tangan Yuri, “Kenalkan saya Hankyung…” kali ini Hankyung yang ditarik oleh Minho dan Aldy. “Gw laporin Vic loh!”.

Yuri langsung tertawa melihat tingkah keempat pria itu.

Kemudian ada seorang pria yang berada jauh dibelakang keempat pria ugal-ugalan itu melambaikan tangan ke arah Yuri, pria itu sudah memperhatikan Yuri semenjak tadi. Yuri langsung mendekatinya sambil tersenyum.

“Oh my god…” ucap Aldy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah Yuri meninggalkan mereka.
“Nyesel nih ceritanya ? nyesel sama Soo?” goda Hankyung sambil cengar-cengir.
“Kagak lah… perempuan begitu cuma bisa memberikan kesenangan sesaat, nggak dengan di masa depan…”

~*~

Sebuah mansion megah di tengah Kota Seoul. Hyundai Genesis yang dikendarai Fany berhenti tepat di lobby depan Mansion itu, seorang petugas Vallet parkirpun langsung menyambut mobil Fany untuk diparkir.
Fany berjalan perlahan memasuki lobby gedung, ia terlihat mengagumi bangunan megah yang bernuansa minimalis dengan perpaduan warna-warna klasik nan lembut.

“Cutie!” pekik seorang wanita ke arah Fany.

“Cutie pie… Fany Fany Tiffany Hwang!” pekik wanita itu ke arah Fany.

Fany, Tiffany langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya itu. Seorang wanita yang terlihat anggun di malam itu, memakai dress hitam langsung menghampiri Tiffany , menyapanya dan saling mencium pipi kiri dan kanan.

“You look gorgeus Fan! As always…!” ucap wanita itu memperhatikan Tiffany dari ujung rambutnya yang terurai hingga ujung kakinya yang memakai heels.

“Kau juga Gija -ssi… satu tahun tidak bertemu namun kau nampak sangat anggun sekali… sepertinya umur tidak bisa mengalahkan kecantikanmu ya?” Tiffany tersenyum , kedua saling melemparkan pujian dengan penampilan fisik mereka malam itu.

Wanita bernama Gija itu kemudian langsung mengajak Tiffany untuk menuju penthouse dari mansion itu.

“Ada seseorang yang ingin sekali menemuimu malam ini… jadi kuundang ke pertemuan malam ini…” ucap Gija saat keduanya berada di dalam lift.

“Seseorang? Siapa? Kukenal kah?”

“Tentu saja Fan! Kau pasti akan senang saat bertemu dengannya deh!” ucap Gija sambil tersenyum.

Keduanya akhirnya tiba di dalam ruangan penthouse itu, ruangan yang sangat besar dihiasi berbagai funiture dan interior futuristik di dalamnya.

“All, this is our special guest!” ucap Gija sambil bertepuk tangan dan sekitar sepuluh orang yang berada disitu langsung menghentikan kegiatan mereka dan menoleh ke arah Tiffany dan Gija.

“TIFF!!” sontak semuanya dan menghampiri Tiffany.

Semua tamu di mansion itu terlihat menghampiri Tiffany dan menyapanya. Satu demi persatu menyapa Tiffany dan memberikan salam yang hangat, Tiffany tersenyum karena bisa menemui mereka semua lagi, mantan rekan kerjanya. Hingga ada sesosok pria yang memakai long sleeves dan memperlihatkan dadanya yang cukup bidang menghampiri Tiffany.

“Fan… lama tak berjumpa…” ucapnya dengan nada yang malu-malu.

“Jae? Jaejoong…?”

~*~

Siwon datang cukup terlambat di malam itu,
Sekitar pukul 11 malam dia baru menyentuh daerah HongDae dan berjalan kaki menuju Clover Bar.

Begitu masuk ke dalam Clover, suasana masih sama dengan beberapa jam lalu, keempat pria ugal-ugalan itu masih duduk di depan meja bar dan masih tertawa-tawa bercanda.

“Siwon Hyung!” pekik Minho langsung menyambut Siwon yang baru tiba.

Siwon pun langsung diperkenalkan dengan Aldy dan Hankyung yang baru pertama kali bertemu dengan Siwon. “Take your time guys! Hehe” ucap Siwon kepada mereka berempat kemudian asik kembali kedalam pembicaraan mereka.

“Yuri… dimana dia?” tanya Siwon kepada Key.
“Ah noona? Nampaknya dia melayani tamunya tuh…” ungkap Key.

Siwon mengangguk dan dia berjalan menuju dapur.

“Hyung!” Key memanggil Siwon.

“Ya?”
“Kau menyuruh dia tinggal disini? Untuk malam ini?” tanya Key.

“Iya, ditempatku sedang ada tamu… ” jawab Siwon

“Ah… anu… mungkin sebaiknya dia menginap dimana gitu? Tadi dia nampak kurang sehat dan terkena flu…”

“Flu? Dia sudah makan? Minum obat?”

Key mengangguk, “Dia tadi memintaku membelikan obat yang cukup mahal dan hanya beberapa butir pula… lalu setelah itu nampaknya dia langsung sehat , karena dia langsung berdandan seperti biasanya…”

“Obat? Obat apa?”

Key merogoh saku celananya, “Ini ada catatannya, emh.. emh… P…philopon…” ucap Key santai.

Siwon menghela nafasnya dan menelan ludahnya.
“Philopon? Philopon katamu? Kau beli dimana? Farmasi mana? Hah?” Siwon kali ini menatap Key dengan raut wajah kesal sambil berkacak pinggang.

“Bukan farmasi sih, aku cuma menemui beberapa mahasiswa kedokteran di Honggik, kemudian mereka memberikannya kepadaku.” Jawab Key.

“KEY! Kau tidak ingat!? Tahun lalu dia hampir mati gara-gara apa?”
Key terdiam dia mengingat sesuatu.

“HARGH!” Key menjerit kemudian dia langsung membungkukan badannya. “MAAF HYUNG!!!! AKU LUPA!” teriaknya lagi. Siwon kemudian menarik badan Key, Key pun terlihat ketakutan.

“Sudahlah… tidak apa-apa…” ucap Siwon menenangkan Key namun tidak dengan pikiran Siwon yang menjadi kacau karena itu.

~*~

Acara makan malam yang berada di sebuah Mansion itu kini sudah berubah menjadi acara minum Wine. Semua bercengkrama di ruangan besar itu, hanya ada dua orang yang menghilang dari tempat itu, Tiffany dan Jaejoong.

Keduanya berada di luar ruangan, lebih tepatnya mereka berjalan-jalan di area kolam renang mansion tersebut. Sebuah kolam renang yang berada di sebuah bangunan yang cukup tinggi. Dari situ mereka bisa menikmati kelap-kelip lampu kota Seoul yang seakan tidak pernah tidur dari aktifitasnya.

Jaejoong dan Tiffany duduk bersebelahan sambil melepaskan alas kaki mereka dan keduanya mencelupkan kaki mereka di kolam air hangat jacuzzi, sambil menikmati pemandangan malam.

“Lama sekali ya kita tidak bertemu…” ucap JaeJoong kepada Tiffany.

Tiffany tersenyum, “Yah…. hampir tiga tahun ya lamanya…? Kukira kita tidak akan bertemu lagi…Kau kan sudah jadi bintang sekarang…”

“Hmph… Bintang apanya? Yang ada juga kamu kali…”

“Sekarang… siapa sih yang tidak tahu Kim ‘Hero’ Jaejoong? Waktu aku berada di California saja aku bisa mudah mendapatkan portfolio foto-foto editorial dirimu… Seorang super model…!”
Jaejoong dan Tiffany tertawa.

“Mian…” ucap Jaejoong saat ia berhenti tertawa, tentu saja Tiffany pun ikut terdiam mendengar perkataan Jaejoong.

“Sorry? For what?” perkataan Jaejoong itu membingungkan Tiffany, keduanya baru saja bertemu kembali tetapi Jaejoong melontarkan perkataan minta maaf.

“Maaf kalau aku menghilang setelah acara itu…” ujar Jaejoong menunduk menatapi air di jacuzzi.
Tiffany terdiam sesaat, raut wajahnya yang sebelumnya tersenyum senang kali ini sedikit berubah. Berubah menyuratkan rasa kekecewaan yang kembali muncul.

“Sebab jika dua tahun lalu aku tidak menghindar dari dirimu… aku hanya akan menggangu hubungan kalian…” Jaejoong menatap ke arah Tiffany.

“Sudahlah…” ucap Tiffany menghela nafasnya. Tiffany nampaknya mengetahui apa yang akan diungkit oleh Jaejoong.

“Masa lalu biarlah berlalu… setelah hari esokpun hubunganku dengannya akan berakhir…” sambung Tiffany dengan nada suara yang menurun dan terdengar lirih.

“Ber..Berakhir?” Jaejoong bingung dengan perkataan Tiffany.

Tiffany nampak mengingat suatu hal yang tidak ia ingin dia ingat. Matanya pun terlihat berkaca-kaca. Nafasnya terdengar berat.

“I’m… so sorry Tiff…” perlahan Jaejoong menyentuh bahu Tiffany dan menarik tubuhnya. Tiffany mengalirkan airmatanya di dalam pelukan Jaejoong.

‘Apa yang sebenarnya terjadi?’ hanya ada pertanyaan itu di dalam benak Jaejoong. Ia hanya bisa memeluk Tiffany saat ini, menantikan seluruh luapan rasa sedih itu berakhir dan ia baru bisa bertanya dan mengutarakan perasannya.

“Maaf aku terlihat lemah seperti ini…” ucap Tiffany ketika tangisannya berhenti. Tiffany pun melepaskan pelukan Jaejoong.

“Kamu tidak lemah… wajar saja kalau wanita menangis… sebab perasaan kamu lebih halus dibandingkan pria…” ucap Jaejoong sambil menyentuh pipi kiri Tiffany dan membasuh air mata Tiffany.

Keduanya saling melempar pandangan mereka. Perlahan tangan Jaejoong yang menyentuh pipi Tiffany, menarik wajah Tiffany ke arah wajahnya. Dan Jaejoong pun mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany, sedikit memiringkan kepalanya. Sementara itu Tiffany hanya pasrah dan mengikuti iringan tangan Jaejoong yang terus menarik wajahnya ke arah wajah Jaejoong. Tiffany pun menutup matanya, begitu dengan Jaejoong. Hingga bibir mereka bersentuhan, Ciuman.

Ciuman bukan hanya sekedar menempelkan bibir mereka saja, sebuah ciuman panas, saling melumatkan bibir mereka dan kedua lidah yang saling bersikukuh untuk saling menguasai satu sama lainnya.

“Inilah… jika dua tahun yang lalu aku tak menghindar darimu… aku bisa-bisa merusak kehidupanmu..” ucap Jaejoong sesaat ketika kedua-nya menyudahi ciuman itu. Tangan kiri Tiffany menyentuh dan mengusap-usap bibir Jaejoong karena lipstik Tiffany yang kini sedikit menempel di bibir Jaejoong.

Kemudian Tiffany menarik kepala Jaejoong dan kembali mencium Jaejoong. Dengan deru nafas yang menggebu keduanya berpelukan dan meluapkan nafsu mereka.

~*~

Sudah menyentuh pukul dua belas malam. Bar sudah mulai terlihat sepi, hanya tinggal beberapa pemuda yang sedang bercakap-cakap di meja yang cukup jauh dengan Key yang sedang membersihkan meja bar sambil mendengarkan headphone-nya.

Seorang wanita memasuki arena Bar, ia berjalan perlahan mendekati Key. Lalu wanita itu menarik headphone Key.

“Key… bagi air dong…” ucap wanita itu sambil meniup telinga Key, nampak menggoda Key.

“HUARGH!” Key terkejut bukan main, sampai-sampai ia melemparkan lap kotor ke arah wanita itu.

“Noona!!! Mengagetkan aku saja!!!” ucap Key saat melihat Yuri yang mengagetkannya.
Yuri hanya tersenyum asam karena wajahnya sudah terkena lemparan kain kotor itu. Iapun segera menarik bangku dan duduk. Sementara Key langsung menyiapkan segelas air mineral.
Setelah menyeguhkan segelas air, Yuri kemudian meminumnya dengan cepat dan meminta gelas berikutnya.

“Kau haus sekali sih noona?” tanya Key memberikan gelas air kedua dan mata Key nampak sedang melirik ke arah pintu masuk Bar serta pintu belakang menuju dapur.

“Kenapa sih matamu? Jelalatan? Eh ngomong-ngomong boleh minta chef memasakkan sesuatu buatku ga? Aku sangat lapar sekali nih…” ucap Yuri kini sudah menghabiskan gelas keduanya.

“Noona, sebaiknya kau segera pergi dari Bar ini… Siwon Hyung nampaknya sangat kesal sekali denganmu…” ucap Key ketakutan.

“S…Siwon? kenapa memangnya dia?” tanya Yuri sambil melihat handphonenya.

“Itu… anu… tadi aku… keceplosan… aku bilang disuruh kamu beli philopon…” wajah Key kali ini sedikit ketakutan saat menatap Yuri, ia mundur satu langkah dari hadapan Yuri.
HEGH… Yuri menghela nafasnya lalu berdiri dan memukul kepala Key dengan kencangnya.
“Tolol! Udah gw bilang jangan bilang siapa-siapa kalau tadi lu gw suruh-suruh…” Yuri naik pitam, ia menjadi emosi karena Key tak bisa menjaga mulutnya.
Yuri berjalan menjauhi Key menuju pintu bar ia berkali-kali menghelakan nafasnya, menggelengkan kepalanya dan menggerutu hal yang tidak jelas.

“KWON YURI!!!” bentak Siwon berjalan keluar dari arah dapur. Bentakan itu menghentikan langkah Yuri seketika. Ia menelan ludahnya. Tidak hanya Yuri yang berhenti karena suara lantang Siwon, pengunjung bar pun tersita perhatiannya, melihat ke arah Siwon.
Siwon berjalan ke arah Yuri, “Ikut aku!” ucap Siwon menarik tangan Yuri dengan paksa.

“WON!” pekik Yuri namun Siwon terus menggiring Yuri ke dalam sebuah ruangan.

Siwon melempar Yuri hingga ia terlempar ke atas sofa.
“Apa-apaan sih lo!!!!” bentak Yuri kencang.
Ruangan itu biasa disewa oleh mereka yang ingin menikmati minuman namun dengan privasi , tanpa diganggu oleh pengunjung lainnya. Di dalam ruangan itu ada televisi dan juga mesin karaoke.

“Darimana?” tanya Siwon melototi Yuri.
Yuri tak menjawab ia hanya membuang pandangannya, menghindari kontak mata dengan Siwon.

“Ku tanya, kau darimana!?” bentak Siwon lagi.
“BAWEL! Gw abis melacur…!” kali ini Yuri melempar tas kecil miliknya ke arah Siwon.
Siwon mengangkat tas itu ia membuka tas itu dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Hingga akhirnya ia mengeluarkan seluruh isi tas tersebut, ada handphone, lipstik, bedak, test pack kehamilan dan juga sekantong kecil berisikan dua butir pill. Siwon langsung mengangkat kantong kecil itu. Yuri terkejut ketika Siwon menemukan benda tersebut.

“Apa ini?” tanya Siwon sambil menunjukan benda itu ke arah Yuri. Yuri tak berani menjawabnya ia mengigit bibirnya dan raut wajahnya nampak ketakutan.
Tiba-tiba saja tangan kanan Siwon mencengkram dengan kuat kuat rahang Yuri dengan seketika Yuri bangkit dari kursi sofanya akibat cengkraman Siwon.

“Aku tanya sekali lagi… apa ini… hah?” dengan nada suara yang mengancam Siwon bertanya lagi kepada Yuri.
“Lepas!!!” ucap Yuri yang berusaha meronta dan memukul-mukul tangan Siwon.

“Apa ini? Obat flu kamu? Hah?” sekali lagi Siwon bertanya namun Yuri mengacuhkannya.
Yuri terdiam , tidak meronta-ronta lagi. Dan kemudian  Siwon mendorong Yuri hingga ia kembali duduk di kursi sofa itu.

“Masih tidak cukup setahun yang lalu kau hampir mati gara-gara obat ini? Masih tidak cukup hah?” Siwon membentaknya lagi.

Kali ini emosi Yuri nampak sudah berada di ubun-ubunnya,
“Tak usah mencemaskan diriku! Siapa yang mengetahui diriku ya aku sendiri!” jawab Yuri.
Siwon terdiam.

“Apa aku salah? Salah jika aku memperdulikan temanku sendiri?” tanya Siwon.
“Aku hanya tidak ingin kau terjatuh ke lubang yang sama saja…” perlahan-lahan Siwon menurunkan nada suaranya yang sebelumnya penuh emosi.

“Jangan… jangan kau perdulikan aku… seperti itu… semakin kau memperdulikanku kau akan semakin sakit nantinya…” ucap Yuri air matanya sudah berkumpul dimatanya.

“Sudah kubilang kan dari pertama… jangan sampai kita memiliki perasaan itu… sebab aku… aku ataupun dirimu bisa menghilang kapan saja…” ucap Yuri lirih dan mulai mengalirkan airmatanya.
“Aku… aku tak suka berkomitmen… cukup satu kali aku berbuat bodoh… diusir dari rumah untuk seorang pria yang akhirnya meninggalkan diriku… aku tidak ingin menyayangi orang terlalu dalam sebab mereka hanya akan membuat aku kecewa… dan makin kecewa…” tambah Yuri dia mulai menutupi wajahnya.

Siwon hanya bisa memperhatikan Yuri yang menangis dihadapannya. Baru kali ini seorang Yuri terlihat begitu lemah dimatanya.

“Yul..” Siwon membungkukan tubuhnya dan menarik tangan Yuri perlahan-lahan.
Siwon melihat wajah Yuri, make-up nya sudah mulai luntur karena ia menangis.

“Maaf Won… aku… aku mengingkari prinsip dan perjanjian kita…” ucap Yuri.

“Ingkar? Maksudmu?”

“A… aku… aku cemburu dengan kehadiran wanita itu…dan ternyata… aku menyayangi dirimu… satu tahun ini kita tinggal bersama… aku… aku tidak bisa menghindari hal ini… nyatanya aku menyayangimu…” ujar Yuri.
Siwon terdiam, selama satu detik ia nampak terkejut saat mendengar hal itu terucap dari mulut Yuri.

“K..kau…tidak bisa membatasi hatimu sendiri untuk menyukai atau menyayangi seseorang… biarkanlah perasaan itu tumbuh..” Siwon memberikan nasihat. Yuri pun memeluk tubuh Siwon dan menangis dalam pelukan Siwon.

“Maaf…” keduanya membisikkan kata itu berkali-kali.

~*~

KYAAA!! Tiba-tiba saja Tiffany mendorong tubuh Jaejoong hingga ia tercebur ke dalam Jacuzzi. Dan Tiffany berlari sambil membawa alas kakinya.
“Yah! Fany ah!!!” pekik Jaejoong berusaha bangkit dan mengejar Tiffany. Namun ia berlari begitu cepat, dalam sekejap hilang dari pandangan Jaejoong.

“FANY ah!!!!”

~*~

Tiffany tiba kembali ke dalam Apartement Siwon, namun apartement itu gelap. Iapun segera mengambil air mineral yang berada di meja dan meminumnya.
Sudah ada puluhan missed call masuk ke dalam handphone Tiffany. Namun ia tak menjawab panggilan itu.

“Apa yang kulakukan?…” kata-kata itu terus menghantui kepala Tiffany.
“ARGH!!!” Tiffany menjerit dan mengacak-acak rambutnya sendiri.

Satu panggilan kemudian masuk kembali ke handphone Tiffany. “Gija Park”
“Halo…?” Tiffany mengangkat panggilan itu.

“Yah… Fany ah… Baru kau angkat!! kenapa kau menceburkan Jaejoong? Memangnya dia kenapa sih?” ujar Gija marah-marah.

Tiffany mengusap dahinya sendiri. “Mian… katakan maaf kepadanya… kalau aku sudah berbuat seperti itu…” jawab Tiffany.

“Iya memangnya kenapa? Ada yang salah dengan Jae?”

“Emh… t..tidak ada yang salah dengannya… ada yang salah dengan diriku… Gija…” ujar Tiffany dan mengakhiri panggilan itu tubuhnya sedikit menggigil.

“Won… Siwon…” ucapnya lirih.

Tiffany kemudian beranjak dari bangku , ia mengambil mantel warna cokelat untuk dari dalam kamar dan pergi meninggalkan apartement.

~*~

BRUK!
Siwon keluar dari ruangan. Key berada dihadapannya dengan pandangan cemas.
“Biarkan dia istirahat saja… dia sedikit demam karena flu… buatkan ia teh hangat saja Key…” ujar Siwon sambil menepuk bahu Key. Key mengangguk.

Lampu gemerlap di dalam bar, dimatikan satu persatu. Key dengan beberapa orang karyawan lainnya sibuk membenahi beberapa kantung sampah di subuh hari itu.

Kemudian Key kembali membersihkan meja bar dengan sebuah kain lap. Memberishkan meja kayu yang penuh dengan urat kayu yang sangat bagus itu.

Seseorang memasuki bar,

“Maaf kami sudah tutup…” ujar Key secara otomatis.

Tiffany.
Ia datang ke dalam bar dengan memakai mantelnya menutupi dress yang ia pakai.
Kemudian Tiffany berjalan mendekati ruangan yang masih menyala, tempat Yuri sedang beristirahat di dalamnya.
“Maaf… kami sudah tutup…” karena merasa diacuhkan Key kemudian menghampiri Tiffany yang berdiri di depan pintu itu.

“Iya aku sudah tahu… aku kesini mencari Siwon…” ucap Tiffany.

“oh… Siwon ssi sedang keluar… anda ada perlu dengannya?” tanya Key kepada Tiffany.

“Siapa dia?” tanya Tiffany menunjuk ke arah dalam ruangan , menunjuk ke arah Yuri yang sedang tertidur di bangku sofa sambil mengenakan selimut.

Key terdiam selama beberapa detik, tidak mungkin ia bilang kalau Yuri itu seorang pelacur.
“Umh.. Yuri… dia seorang staff disini …”

GRAK! Tanpa basa-basi lagi Tiffany membuka pintu ruangan itu.

“Ah..ah! anda bisa menunggu Siwon ssi diluar…” Key berusaha melarang Tiffany masuk dan mungkin bisa mengganggu Yuri yang sedang beristirahat.

“Aku tunggu dia disini…” ucap Tiffany kemudian menutup pintu ruangan itu.

Key hanya menggaruk-garuk kepalanya. ‘Ah mungkin kenal dengan Yuri juga kali ya…’ pikirnya.
Begitu memasuki ruangan itu, Tiffany langsung duduk di sofa dekat dengan Yuri sedang merebahkan dirinya itu.

Tiffany terdiam beberapa saat ditempat itu. Hingga akhirnya Yuri membalikan badannya dan Yuri merasakan ada sesosok orang di dekatnya.

“Won…?” ucap Yuri sambil membuka matanya.

Namun ketika ia menyadari kalau sosok itu bukan Siwon, Yuri langsung bangkit dan matanya langsung melotot ke arah Tiffany yang sedang menatap pintu keluar, tidak sedikitpun menatap ke arah Yuri.

Yuri kemudian tidak berani memandang ke arah Tiffany, ia hanya menundukan kepalanya.

“Annyeong…” ucap Tiffany.

Yuri mengangguk, “A..annyeong..” nada suara Yuri begitu kecil dan ketakutan.

Tiffany menghelakan nafasnya. “Dari gelagatmu.. nampaknya kau sudah mengetahui diriku…? hem?”
Yuri kembali mengangguk.

“Baguslah kalau kau tahu.. siapa diriku…” ucap Tiffany.

Keduanya kemudian terdiam sesaat.

“Sudah berapa lama kau tinggal bersama dengannya?” tanya Tiffany

“De…?” Yuri terkejut bukan main, keringat dinginnya mulai bercucuran.

“Aku tanya sudah berapa lama kau tinggal bersama dengan Siwon di apartement itu…?” tanya Tiffany.

“A..Aku tidak mengerti maksudmu…” ucap Yuri ia berusaha menghindari Tiffany.

Berusaha menghindari bahwa kenyataannya Yuri telah tinggal satu atap bersama Siwon selama hampir satu tahunan ini.

Tiffany menghelakan nafasnya, “Tak usah bohong… di dalam lemari ada beberapa baju wanita yang bukan milikku… dan juga apartement terlihat amat bersih ketika aku berkunjung… kalau tidak ada wanita yang sedang tinggal bersama dengannya… tidak mungkin dia bisa seperti itu… ditambah lagi gerak-gerikmu yang seperti sekarang… kau menyembunyikan sesuatu dariku?” ungkap Tiffany sambil menatap ke arah Yuri, ia mengharapkan sebuah pernyataan yang dapat membuktikan hipotesa dia benar.

Yuri mengambil nafas dan memejamkan matanya sesaat, ia terlihat begitu bimbang, sudah tak ada pilihan lagi untuk berkelit.

“Iya… akulah yang tinggal bersamanya selama 11 bulan ini…” Yuri akhirnya mengakuinya.

“Hmph…” Tiffany tertawa kecut sambil membuang pandangannya, aura kebencian mulai terpancar.
“Nampaknya hubungan kalian sudah sedekat itu ya hingga bisa tinggal serumah…?” tanya Tiffany sambil tersenyum kecut.
Yuri hanya terdiam. Ia tidak berani merespons Tiffany lebih jauh.

Kemudian Tiffany menghelakan nafasnya,
“Terima Kasih sudah menjaganya baik-baik… namun… mulai dari sekarang… sebaiknya… kau menjauh saja dari….-”

“Fany ah…!” tiba-tiba saja Siwon membuka pintu dan menghentikan pembicaraan Tiffany.

Siwon tiba dengan sebuah bungkusan makanan ditangan kanannya.
Tiffany hanya tersenyum ketika Siwon muncul dihadapan mereka berdua.

“Yul… ini ada makanan… kau makanlah…” ucap Siwon meletakan bungkusan makanan itu diatas meja.

“Ayo pulang…” ucap Siwon menarik tangan Tiffany, sambil mendorong tangan Siwon Tiffany kemudian meninggalkan ruangan itu diikuti Siwon yang kemudian menutup pintu ruangan itu.

Meninggalkan Yuri seorang diri di ruangan itu.

~*~

Perjalanan pulang menuju apartement seakan menjadi neraka sunyi untuk Tiffany dan Siwon, tidak ada satu katapun terlontar dari mulut mereka, masing-masing memandang ke arah lampu-lampu yang menghiasi perkotaan.
Kesunyiaan itu terus berlanjut hingga mereka tiba di apartement.
Hingga keduanya merebahkan diri di ranjang. Keduanya menghadap ke arah yang berbeda, saling membelakangi.

“Won..” ucap Tiffany.

“Umh..?” jawab Siwon, sudah sepuluh menit mereka terdiam namun keduanya belum tertidur.

Tiffany kemudian membalikan badannya.

“Boleh aku memelukmu?” tanya Tiffany dari balik Siwon.

“Silahkan…” jawab Siwon dengan perlahan. Tiffany yang hanya mengenakan tanktop akhirnya memeluk tubuh Siwon dari belakang.

Tiffany mendengarkan detak jantung Siwon melalui pundaknya. Perlahan-lahan semakin ia mendengarkan detak itu, ia merasa sedih.

“Ini mungkin yang terakhir Won…” ucap Tiffany lirih.

Siwon kemudian bergerak, ia membalikan badannya hingga saling berhadapan dengan Tiffany. Siwon menarik tubuh Tiffany memeluknya dan membiarkan Tiffanya tertidur di dadanya.

“Tidurlah Fan… besok akan sangat melelahkan buat kita…”

Hingga akhirnya malam itu berakhir, untuk Siwon dan Tiffany.
Menyisakan Yuri seorang diri tertidur di dalam dinginnya ruangan di dalam bar. Ia tak menyentuh kotak rokok miliknya meskipun sudah ada asbak di hadapannya. Ia hanya sesekali memandangi semangkuk bubur yang sudah berubah menjadi dingin. Makanan pemberian Siwon.

===

Yul, setelah hari ini. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu untuk tidur di ruangan itu lagi.
Hari berganti, tibalah hari yang dibilang Tiffany bahwa hubungannya dengan Siwon akan berakhir dihari itu. Kedua terlihat meninggalkan Apartement bersama-sama. Siwon membawakan tas koper milik Tiffany. Keduanya berjalan menuju kendaraan mereka.

“Kau banyak berubah…” ujar Tiffany membuka percakapan mereka di pagi itu.

“Semua orang pasti berubah Fan…” jawab Siwon sambil tersenyum tipis, ia baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat.

“Tempramen mu dulu begitu pendek sekali… aku salah sedikit kau sudah memarahiku… bahkan kau tak segan untuk menamparku…”

Pernyataan itu seakan menembak mati Siwon, Tiffany mulai mengungkit masa lalunya dengan Siwon.

Siwon tak merespon Tiffany dengan perkataan tapi hanya dengan anggukan kepala saja, ia nampak tidak menampik hal negatif itu.

“Kau egois… kau bilang aku harus meninggalkan kehidupan malamku dan memfokuskan diri dengan kehidupan kita…. Namun kau sendiri masih tetap sama, bersenang-senang dengan para wanita dan bahkan kau melakukannya di depan mataku…” Tiffany membuang nafasnya dengan berat dan tidak sedikitpun menatap Siwon yang sedang fokus menyetir mobil.

“Apa kau ingin menamparku lagi?” tanya Siwon sambil menelan ludahnya.

*sigh*

“Buat apa aku menamparmu… toh kenyataannya kau memang sudah memiliki penggantiku kan? Apa dia wanita yang lebih baik daripada diriku?… nampaknya… iya… sebab kau sekarang lebih sehat dan terurus…” ucap Tiffany, dia mengungkit Yuri namun tidak ia sebutkan secara langsung namanya.

Siwon tak memberikan komentar mengenai pernyataan Tiffany itu. Ia nampak menerima hal yang baru saja diucapkan oleh Tiffany. Semakin Siwon diam, Tiffany semakin terlarut dalam pemikirannya sendiri.

“Won… kalau kau bisa mengulang waktu… kau akan kembali kemana…?” tanya Tiffany melontarkan hal yang tidak masuk akal, entah ada maksud apa ia bertanya seperti itu.

“Apa maksudnya?”

“Kalau kau bisa kembali ke masa lalu, kejadian apa yang ingin kau hindari…? Itu saja… aku hanya ingin tahu itu…” jelas Tiffany.

Siwon berpikir selama beberapa detik sebelum ia menjawabnya,

“Aku ingin kembali disaat kau memutuskan untuk memilihku…” jawab Siwon perlahan.

“Why? Apa begitu buruknya semua keputusanku hingga kau ingin mengulang waktu itu?” tanya Tiffany kali ini menatap tajam ke arah Siwon.

“Tidak!… Selama ini kau selalu membuat keputusan yang selalu tepat… hanya saja saat kau memilihku , kurasa itu adalah keputusan yang salah kau ambil… karena aku… malah membawamu menjadi seperti ini… kaupun menyesalkan kan telah memilihku?”

“Oh… begitu… begitukah? Jadi… memang sudah jalannya harus seperti ini?”

“Yah Fan… sebelum kau ataupun aku saling menyakiti lebih jauh…” jawab Siwon.

Keduanya kembali terhanyut dalam neraka dingin bernamakan kesunyian. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu.
Perjalanan itu mereka tempuh selama lima belas menit. Menuju sebuah gedung yang berdiri kokoh ditengah kota, Pengadilan.

Nama mereka telah tercantum dalam berita acara di siang itu. Choi Siwon , Hwang Mi Young sidang perceraian.

~*~

Di tempat lain, Clover Bar.

Terlihat Yuri yang baru saja terbangun dari tidurnya, ia masih merasa sedikit mual hingga akhirnya ia muntah-muntah di kamar mandi. Hal ini membuat insting kewanitaannya berkata lain. Perlahan-lahan dengan tubuhnya yang masih sedikit lemas itu mencari-cari sesuatu di dalam tas kecil miliknya. Ia mengeluarkan sebuah test pack kehamilan.

Ia memperhatikan benda itu dan raut wajahnya sedikit khawatir.

~*~

Won, aku hamil…

Proses persidangan di mulai. Di bacakan gugatan-gugatan perceraian yang diajukan oleh Tiffany. Cukup berat posisi Siwon disini. Dia melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Hamil? Anak siapa?

Satu tahun yang lalu. Saat itu Tiffany mendapati Siwon sedang mabuk-mabukan di dalam apartement mereka. Tidak seorang diri, namun Siwon sedang bersama dengan beberapa orang perempuan.

Kau tanya anak siapa? Baiklah kugugurkan saja kalau begitu.

Hal itu yang membuat Tiffany naik pitam ditambah dengan perlakuan kasar Siwon yang sering ia terima kepadanya, meluaplah emosinya hingga Tiffany memutuskan untuk pergi dan menghindar dari Siwon selama beberapa saat.

Ah! Awas kau kalau berani! Nanti sore akan kujemput kau, Choi Yuri…

Namun ,

Pengadilan memutuskan mereka untuk melakukan tahap mediasi dahulu sebab gugatan yang diajukan masih dirasakan kurang, sidang berikutnya akan diadakan bulan depan.

Keduanya duduk di sebuah bangku kayu di lorong, sesaat setelah pengadilan mereka berakhir.

“Tidakkah ada yang ingin kau katakan?” tiba-tiba saja Tiffany membuka mulutnya.

“Tidak…” jawab Siwon sembari tersenyum kecil karena ia senang mendapatkan kabar kecil itu, kehamilan Yuri yang mengandung anaknya.

“Tidakkah kamu ingin mengetahui kabar Hyun Woo?” tanya Tiffany sambil mengeluarkan handphone miliknya dari dalam tasnya.

Siwon tertuduk diam saat Tiffany menyebut nama “Hyun Woo”.

Tiffany memutar sebuah video di handphonenya, memperlihatkan seorang bocah laki-laki yang sedang aktif bermain.

“Eomma… Eomma…” ucap anak itu sambil tersenyum-senyum ke arah handphone Tiffany yang merekamnya.

Tiffany kemudian menghentikan video itu.

“Umurnya sekarang sudah dua tahun… sudah bisa berjalan dan bergerak dengan lincah… kosakatanya pun sudah sangat banyak…”

Siwon terlihat masih begitu acuh, meskipun matanya sedari tadi memperhatikan handphone Tiffany, memperhatikan bocah bernama Hyun Woo itu.

Tiffany mencucurkan airmatanya, ia nampak tidak kuat meneruskan hal yang ingin ia utarakan. Suatu hal yang bergerak di hati kecilnya, memberontak untuk keluar dan mengalahkan hatinya yang beku terhadap Siwon.

“Dia sudah bisa menyebutku mama… dan juga kata-kata yang pertama kali diucapkan olehnya ialah ‘appa’…” mati-matian Tiffany mengungkapkan kata-kata itu, ia berusaha menahan airmatanya yang tidak mau berhenti itu.

“Fan…” mata Siwon berkedip berkali-kali ia seakan ikut terlarut dalam kesedihan Tiffany.

“Mungkin kita sudah saling membenci won… tapi hati kecilku berkata lain… hati kecilku sebagai seorang ibu… aku tidak ingin pernikahan kita berakhir seperti ini… aku ingin Hyun Woo tumbuh besar mengenal ayahnya… aku tahu aku memang egois aku ingin ia memiliki ayah yang berwibawa dan bertanggung jawab akan keluarganya… apa kau bisa… bisa berubah untuk anak kita… tidak… bisa kah kau menjadi yang sekarang untuk keluarga kita?” ucap Tiffany lirih iapun membasuh matanya, sudah tidak memperdulikan make-up yang kacau karena air matanya itu.

Siwon terdiam dan menghelakan nafasnya. Ia berusaha menenangkan kepalanya.

“Tidak kukira kau akan berkata seperti ini… kupikir satu tahun kau menghilang dari hadapanku kau sudah memantapkan hatimu untuk mengakhiri hubungan kita dengan perceraian…”

Tiffany menggelengkan kepalanya perlahan.

“Perempuan itu… muncul satu bulan setelah kepergianmu ke California bersama Hyun Woo… seakan langit sengaja mengirimkan wanita itu kepadaku, seseorang yang sifatnya lebih hancur daripada diriku… aku seperti diperingatkan… saat bersama dengan wanita itu, aku merasa berada di posisimu, seberapa bencinya kau dengan asap rokok dalam rumah, bertapa bencinya kau dengan cucian kotor yang kutumpuk seenaknya… dan juga hal lainnya… seperti sebuah karma yang dibalikkan kepadaku… membuatku tersadar… inilah hukuman langit karena sudah menyia-nyiakan dirimu… mungkin… aku tidak bisa mengharapkanmu untuk kembali lagi… tapi wanita ini tak bisa kusia-siakan lagi seperti dirimu… aku harus bisa menjaga dia…”

“Kumohon… tolong… tolong kau pilih… diriku… istrimu… bersama anakmu atau wanita itu… Won…” ucap Tiffany sambil menyentuh tangan Siwon dan menatap ke wajah Siwon.

Seakan hal ini menjadi sebuah tamparan keras, layaknya petir di siang bolong yang langsung menghujam Siwon. Disaat ia sudah memantapkan hatinya untuk melepaskan Tiffany dan mulai senang  hubungannya dengan Yuri, ia melupakan suatu hal, anak. Yang merupakan tanggung jawab dari orang tuanya.

Apa yang dilakukan olehku? Apa aku ini ayah yang baik? Membiarkan anakku terlantar dengan ibunya sementara aku bersenang-senang dengan wanita lainnya. Ayah macam apa aku ini? Pemikiran ini terbesit di kepala Siwon dan siap menghantuinya jika ia benar-benar membuang keluarganya, istrinya Tiffany dan Hyun Woo anak mereka.

Namun, satu sisi bagaimana dengan Yuri yang tengah hamil anak hasil hubungannya dengan dirinya? Jika Siwon mencampakan Yuri berarti sama saja ia membuang calon anak beserta ibunya juga.

Siapa yang harus ia pilih? Tiffany atau Yuri?

END.

%d blogger menyukai ini: