A PRESENT FOR MY TWIN

0
A PRESENT FOR MY TWIN donghae
1. Author : espiwaiSPY
2. Judul : A Present For My Twin
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
Lee Donghae (SJ)
Lee Raemi (OC)
07.05 a.m
Pagi hari yang cerah di musim gugur di Seoul. Beberapa orang sudah mulai melakukan aktivitasnya seperti berangkat ke kantor, ke sekolah, menyapu halaman karena daun yang berguguran, membuka toko, dan lain lain. Tidak seperti biasanya, dorm Super Junior masih sepi. Biasanya, pagi-pagi ini sudah ada teriakan ‘Ireona!!’,‘Kita sudah telat, ppali!!’, ‘Aku lapar!!’, ‘Dimana PSP-ku?!’,dan lain-lain. Kali ini tidak, sunyi senyap. Sudah dipastikan sedang tidur. Semuanya tidur di lantai 12, lantai 11 sepi, dan tentu saja bersih dan rapi.

Lee Raemi, yeoja berumur 27 tahun yang merupakan kembaran dari salah satu member boyband pembawa Hallyu Wave, Super Junior. Nuguya? Lee Donghae. Banyak yang tidak tahu kalau mereka kembaran, karena mereka bukan kembar identik. Tidak semua anak kembar itu identik ‘kan? Fisik mereka tidak mirip, tetapi sifat mereka sedikit mirip. Ceroboh, pemalu, perusuh, sedikit penakut.
Raemi sudah ada di depan dorm Super Junior lantai 12. Tadi ia berada di lantai 11, dan dia sudah memencet bel berkali-kali dan tidak ada yang membukanya, dan dia berniat untuk ke lantai 12. Sudah berkali-kali dia memencet bel itu, tetapi tidak ada yang menyahut ataupun membuka pintunya.
“Aish jinjja!” desis Raemi. Dia menurunkan kedua kantung plastic yang berisi makanan dan mengambil ponselnya, memencet speed dial angka 3, menelpon Donghae.
Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif.
Raemi mencari contact yang bernama Leeteuk, lalu ia memencet tombol hijau.
Tetap sama, tidak aktif.
Semua member SJ yang ada di contactnya dia telpon, tapi semuanya tidak aktif atau tidak diangkat. Menyebalkan sekali.
“Lee Raemi?”
Suara familiar terdengar di telinga Raemi, dia menengok kearah kirinya. Namja tinggi, tegap, berpakaian celana panjang hitam, jaket Adidas berwarna hitam, sepatu kets, dan tas berwarna putih di pundaknya. Choi Siwon. Terlihat sekali kalau dia dari gym, melatih tubuhnya dan membentuk otot-otot baru.
“Akhirnya. Aku sudah menghubungimu, tetapi tidak diangkat,” ujar Raemi.
Siwon mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya dan melihat beberapa missed call, “ah mianhae. Tidak terdengar. Kau sedang apa disini? Tumben sekali. Atau kau rindu Donghae? Susah ya jadi kembaran,”
Raemi menunjukan poutnya, “rindu? Dengan ikan itu? Aniya! Aku kesini karena disuruh eomma untuk memberikan makanan ini untuk namja seperti kalian yang makannya banyak,”
“Woah, eommamu baik sekali!” Siwon mengambil salah satu kantung plastic itu lalu membuka pintu dorm.
Raemi mengambil satu kantung plastic lagi lalu mengikuti Siwon masuk ke dalam dorm, dan menaruh kantung plastic itu di meja makan. Siwon mulai membongkar isi plastic itu. Tangannya mencoba mengambil satu telur gulung, tetapi tangannya sudah ditabok oleh Raemi.
“Waeyo??” tanya Siwon—dengan wajah cemberutnya.
“Kau, maksudku kalian, tidak boleh makan sebelum membereskan semua ini,” jawab Raemi sambil menunjuk semua tempat yang berantakan dan kotor, seperti CD Film yang berserakan di depan DVD Player, baju kotor yang ada di sofa—bahkan ada celana dalam berwarna pink disitu, tumpahan minuman bersoda di meja beserta kalengnya, dan lain-lain.
Siwon menatap arah yang ditunjuk Raemi dengan horror, “tapi bukan aku yang—“
“Pokoknya semuanya harus membereskan ini!”
09.30 a.m
Setelah berlama-lama membersihkan dorm yang luas itu, akhirnya selesai juga. Dengan tubuh yang berkeringat, dan mata yang merah karena ngantuk. Rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk, sudah rapi. Tidak ada baju-baju yang ada di sofa, kaleng-kaleng minuman sudah dibuang, kamar-kamar sudah rapi, lantai dorm yang lengket karena tumpahan makanan atau minuman sudah tidak lengket, dan dorm sudah wangi. Jendela dibuka agar angin sepoi-sepoi yang segar memasuki dorm yang sumpek itu. Sangat nyaman dilihat.
“Raemi-ah~ Bolehkah kami makan?” tanya Eunhyuk yang tidur telentang di sofa dengan kepala diatas paha Donghae.
“Aniya,” jawab Raemi dari arah dapur.
“Ryeowook-ah!!” seru Donghae.
Ryeowok yang sedang sibuk mengurusi makanan di dapur juga sama dengan Raemi, “aniya,”
“Sungmin—“
“ANIYAA!”
Sungmin menjawab dari arah dapur, dengan teriakan. Membuat EunHae couple diam. Member lain memilih mandi sambil menunggu makanan selesai dihangatkan. Hankyung—yang kebetulan sedang ke Korea untuk liburan—yang sudah selesai mandi langsung kearah dapur, melihat makanan yang banyak yang sudah tertata di piring.
“Raemi, kau yang memasak ini semua?” tanya Hankyung sambil sedikit mencicipi ddukbokki.
Raemi menggeleng, “hampir semuanya yang memasak eomma, aku hanya membantu,”
“Mashita! Apa perlu aku siapkan meja panjang?” tanya Hankyung lagi. Raemi mengangguk dan mengacungkan jempolnya, “xie xie, gege!”
Hankyung keluar dari dapur dan menyiapkan meja panjang dan alat makan dibantu Zhoumi dan Henry. Henry dan Zhoumi kebetulan sedang ada di Korea untuk menyiapkan SS5 yang akan digelar bulan November depan. Raemi dan Ryeowook datang sambil membawa piring dan mangkuk berisikan kimchi, ddukbokki, bulgogi dan nasi. Semuanya ditaruh di meja panjang itu. Raemi mengeluarkan semangkuk fruit salad yang ia sediakan dari rumah dan ditaruh juga di meja panjang itu.
“Oppadeul~ Dongsaengdeul~ Makanan siap!!”
03.15 a.m
Sudah malam menjelang pagi, subway masih saja beroperasi. Donghae menemani Raemi pulang kerumah yang jaraknya sedikit jauh.Seharian Raemi berada di dorm SJ karena mempersiapkan dan merayakan ulang tahun Donghae dan dirinya yang ke 27 yang dirayakan pada tiga jam yang lalu. Raemi menolak ajakan namja-namja itu untuk menginap di dorm, karena tidak enak. Mau tidak mau, Donghae mengantar Raemi sampai rumahnya. Tentu saja Donghae juga menginap disitu, karena di rumah kosong, eomma ada di rumah Donghwa—kakak Donghae dan Raemi—yang ada di Gangnam.
“Ya, Raemi-ah. Mana hadiah untukku?” tanya Donghae memecahkan suasana di gerbong kereta yang sepi itu. Raemi menengok kearah Donghae, dan kembali menatap ponselnya lagi.
“Hadiah darimu untukku mana? Kau tidak perlu aku beri hadiah, kau ‘kan sudah dapat hadiah dari ELF,”
“Beda kalau hadiah dari kembaran sendiri,”
“Aku malas membelinya. Aku saja baru ingat tadi pagi kalau kita ulang tahun,”
“Dasar pikun,”
“Aku ‘kan sibuk bekerja!”
Donghae diam, dia menyenderkan kepalanya di jendela kereta dan menatap langit-langit. Sungguh lelah, untuk saja dua hari ini dia libur. Syuting drama Miss Panda and Hedgehog juga sudah selesai. Surga dunia…
Raemi menyenderkan kepalanya di pundak Donghae, “oppa, nan neomu bogoshippo~”
“Nado bogoshippo, saeng,”
Baru lima menit Raemi memejamkan mata, kereta berhenti. Sudah sampai ditujuan mereka berdua. Donghae buru-buru membangunkan Raemi, dan langsung menarik Raemi keluar dari kereta sebelum pintu otomatis tertutup kembali.
“Kau kalau dibangunkan lama sekali sih!” ujar Donghae setelah kereta itu pergi menuju ke pemberhentian selanjutnya.
Raemi mengerjapkan matanya, “oh, sudah sampai ya?”
“Bahkan kau baru sadar! Aish, kebiasan burukmu tidak hilang ya,” volume suara Donghae sedikit dinaikan, dia menatap Raemi kesal. Rasanya seperti orang gila saja panik membangunkan Raemi dan menarik yeoja itu keluar. Untung saja, di gerbong kereta itu sepi dan Donghae memakai topi, masker, dan kacamata hitam.
“Hm, mianhae. Jangan marah sampai seperti itu,” gumam Raemi menatap Donghae datar.
Donghae menggandeng tangan kecil itu, “gwenchanha, lupakan saja. Kajja,” Raemi mengangguk, dan mengikuti langkah Donghae.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam dan menatap jalanan yang lumayan sepi. Beberapa mobil berlalu lalang di jalanan dan beberapa orang yang mengunjungi stand makanan dan minimarket 24 jam membuat jalanan sedikit ramai. Mereka memasuki kompleks apartemen yang mewah, dan menuju ke apartemen keluarga Lee yang berada di lantai 10. Apartemen itu dibeli dengan uang yang ditabung oleh Donghae, Raemi, dan Donghwa. Eomma dan Raemi menempati tempat itu, sedangkan Donghwa yang sudah beristri memilih tinggal sendiri di kompleks perumahan yang ada di Gangnam. Rumahnya dekat dengan rumah sakit tempat dia bekerja, sehingga dia dapat berangkat bekerja dengan cepat dan mudah.
Raemi memencet kode apartemen itu dan memasuki apartemennya yang luas itu, “akhirnyaa~”
Raemi langsung merebahkan dirinya di sofa, sedangkan Donghae baru saja menutup pintu dan melepas sepatunya, “Raemi-ah, kau tidak melepas sepatumu? Lihat, lantai kotor karena sepatumu,” Donghae menunjuk kearah lantai yang kotor karena sepatu Raemi yang sedikit berlumuran tanah yang sedikit basah.
“Bisakah kau saja yang membersihkan?” tanya Raemi sehabis melihat lantai yang ditunjuk Donghae. Saat itu juga, Donghae menjitak kepala Raemi.
“Memangnya aku pembantumu,”
Raemi menunjukkan poutnya, dia beranjak berdiri dan melepas sepatu ketsnya. Ia lempar sepasang sepatu kets itu dan berlarian kecil kearah dapur. Saat kembali, dia sudah membawa pel.
“Raemi, aku akan memberikanmu hadiah,” kata Donghae saat mengikuti Raemi kearah kamarnya.
“Jinjja? Hadiah apa?” tanya Raemi, merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
Donghae duduk di pinggir kasur Raemi yang single bed itu, “kau akan tahu nanti,”
“Mwo? Sekarang saja!” Raemi duduk, penasaran dengan hadiah yang akan Donghae berikan nanti. Apakah itu sepatu Adidas yang diincar Raemi? Seekor anak anjing yang lucu? Tiket pulang pergi ke Eropa? Ah, Donghae tidak mungkin sebaik itu kepada kembarannya ._.
“Ini yang akan kuberikan…”
Chuu~
Donghae mencium bibir pink Raemi sambil memegang tengkuk yeoja itu.
Anehnya, Raemi tidak memberontak. Dia dicium oleh orang lain selain namjachingunya.
Lebih tepatnya, dicium oleh kembarannya sendiri.
Donghae melumat bibir manis itu, diciumnya lembut, dan dihisapnya bibir bawah itu, membuat Raemi melenguh tertahan. Raemi membalas setiap ciuman Donghae, dia juga menghisap bibir atas Donghae. Saling menguntungkan. Raemi mengalungkan kedua tangannya di leher Donghae, membuat jarak kedua orang itu semakin dekat. Suara ciuman(?) mereka memenuhi ruangan itu. Bermain lidah, bertukar saliva, sangat nafsu. Sampai akhirnya mereka melepaskan ciuman itu dan saliva yang tumpah menjadi beberapa untaian benang yang akhirnya putus.
“Inikah hadiah darimu?” tanya Raemi sambil menutup bibirnya yang memerah.
Donghae me-lap bibirnya dengan telapak tangannya, “aniya, masih ada lagi,”
“Mwo—“
Bibir Raemi terkunci oleh bibir Donghae lagi. Kali ini Donghae menindih tubuh Raemi, tangan kirinya menahan tubuhnya agar tidak memberati tubuh ramping Raemi. Tangan kanan Donghae bergerak memasuki sela-sela sweater merah marun Raemi, dan mengelus perut rata yeoja itu.
“Unghh~ Haee~” lenguh Raemi di tengah ciuman mereka.
Ciuman Donghae turun ke leher Raemi, mencium, menjilat, dan menghisap. Meninggalkan bercak merah keunguan di beberapa tempat. Raemi kegelian, dia mendongakkan kepalanya untuk memberikan akses lebih bagi Donghae. Tangan kanan Raemi mencengkram lengan atas Donghae yang besar itu, sedangkan tangan kirinya mulai nakal mengelus-elus abs Donghae dibalik kaos putih yang dipakainya.
“Eumhh~ Oppa~ H-Hentikan~~” gumam Raemi manja, kegelian karena jilatan Donghae di tengkuknya, tempat bagian sensitive Raemi. Donghae tidak menurut, dia tetap melukiskan bercak merah keunguan itu di leher kembarannya. Donghae menarik sweater merah marun itu dan menyisakan tank top putih yang menutup bagian atas tubuh Raemi. Ciuman Donghae turun ke bahu dan tulang selangka Raemi, lagi-lagi membuat kissmark. Tangannya yang jahil meremas dada Raemi yang berukuran sedang dari luar, membuat gadis itu reflex mengeluarkan desahannya.
“Ohhh oppaa~” Raemi menepis tangan Donghae dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Tangannya mendorong tubuh Donghae, membuat Donghae menghentikan aktivitasnya dalam membuat kissmark di tubuh Raemi.
“A-Apa kita.. Apa kita akan melakukannya?” tanya Raemi gagap.
Donghae tersenyum, “wae? Ini bukan pertama kalinya bagimu ‘kan?”
Raemi tersentak, “b-bagaimana kau bisa tahu?”
“Kau lupa kita ini kembaran? Kau lupa kalau kita bisa kontak batin? Kau melakukannya dengan Sungmin-hyung, ‘kan?”
“Tidak ada salahnya ‘kan, melakukan dengan namja chingu sendiri?”
“Tidak. Kalau begitu, bolehkah aku melakukannya? It’s up to you..” ucap Donghae. Raemi menatap mata Donghae yang memelas. Raemi tersenyum tulus, ia mengangguk.
Donghae menunjukkan smirknya, perlahan dia membuka tanktop putih itu dan membuka pengait bra Raemi. Terlihatlah dada Raemi yang tidak begitu besar, tetapi kencang dan menggemaskan. Nipplenya yang berwarna merah dan sudah menegang, membuat Donghae tidak sabar untuk menikmatinya. Perlahan, Donghae memilin nipple itu, membuat sang pemilik melenguh tertahan. Lidah Donghae terjulur untuk menjilat nipple itu, dan segera menghisapnya bagaikan bayi yang kehausan. Tangan kanan Donghae meremas dada kiri Raemi. Kenyal, dan membuat ketagihan.
“Ahhh~ Ohh~ Oppaa~” Raemi mencondongkan dadanya, dan menekan kepala Donghae agar lebih kuat mengulum nipplenya.
Donghae mengulum nipple Raemi yang bagian kiri, mengulumnya kuat hingga nipple Raemi semakin merah. Raemi merasakan dibawah sana, cairannya merembes keluar hingga celananya sedikit basah.
“Oppa~ Kau curang!” Ujar Raemi ditengah-tengah desahannya.
“Hum? Wae?” Tanya Donghae, lalu kembali menjilati nipple Raemi.
“Uhhh~ mmhhh~ l-lepas bajumu~~ oppaa~” sudah tidak tahan lagi, Raemi merobek kaos tipis Donghae hingga menunjukkan absnya yang terbentuk sempurna. Langsung saja Raemi mengelus otot kotak-kotak(?) Itu. Sesekali ia cubit dengan gemasnya, membuat Donghae mengerang.
Donghae menggesekan juniornya yang sudah menegang ke vagina Raemi. Memang masih tertutup kain, tetapi nikmatnya terasa. Ia terus menggesekan tubuhnya ke tubuh Raemi, sampai mengeluarkan cairan pre-cum. Donghae buru-buru membuka jeans dan celana dalam Raemi, begitu juga dengan miliknya.
Raemi melongo meliat junior Donghae, sudah sangat tegang. Bahkan miliknya lebih besar dari Sungmin. Tangannya mengelus batang junior Donghae, mengocoknya perlahan dan dimainkannya twinsballnya. Raemi berlutut dan mendorong Donghae hingga terduduk.
Raemi terus mengocok junior Donghae hingga urat-uratnya terlihat. Lidahnya terjulur untuk menjilat junior yang besar itu. Dia mengulum kepala junior yang mirip kepala jamur itu, menghisapnya dan mengeluar-masukan junior itu di dalam mulutnya.
“Uhh~ aahh~ R-Raee~ Mmhh faster!“
Raemi mengocoknya cepat, juga semakin menghisap kepala juniornya. Junior Donghae berkedut, ini saatnya…
Crott!!
“Aaah~” Donghae mendesah nikmat saat spermanya keluar memenuhi mulut Raemi. Raemi kewalahan, terlalu banyak sperma Donghae di mulutnya, ia hanya menelannya sedikit, ketika ingin dimuntahkan, Donghae menciumnya kembali, membantu Raemi untuk menghabiskan sperma itu. Di sela-sela ciuman itu, jari telunjuk dan tengah Donghae memasuki lubang vagina Raemi.
“Aakh!” seru Raemi, kesakitan. Lubangnya masih terlalu sempit, padahal sudah pernah dimasukan oleh junior Sungmin. Donghae melepaskan ciuman itu dan bibirnya pindah alih mencium vagina Raemi. dicium, dijilat, dihisap, dan digigit pelan. Raemi melenguh keras saat Donghae menghisap kuat klitorisnya. Sangat nikmat. Hingga akhirnya vagina Raemi berkedut, dan mengeluarkan sel telurnya tepat di depan mulut Donghae. Donghae menjilat-jilat sisa-sisa cairan Raemi yang ada di bibir vaginanya. Raemi terus mendesah keenakan, servis Donghae benar-benar membuatnya melayang.
Donghae berlutut, juniornya yang teracung tepat di depan bibir vagina Raemi. mata teduhnya menatap mata Raemi, “may I?”
Raemi mengangguk, pasrah. Kalau sudah sampai sini, untuk apa berontak? Akhirnya juga akan ‘dimasuki’ ‘kan..
Donghae melebarkan kedua paha Raemi, tangannya memegang pinggul Raemi dan untuk pemanasan, dia menggesekan batang juniornya ke bibir vagina Raemi. Vagina Raemi semakin licin dan basah, dan hampir mengeluarkan cairannya lagi. Perlahan, Donghae memasukkan juniornya yang besar ke dalam vagina Raemi.
“Aishh… A-appooo~” erang Raemi lirih. Setelah lama tidak bermain, sakit itu datang lagi. Raemi menitikkan air matanya, tidak mampu menahan sakit yang luar biasa itu. Donghae mencium bibir Raemi lagi, untuk mengurangi rasa sakitnya. Sambil melakukan French kiss, Donghae langsung menghentakkan juniornya dan akhirnya seluruh juniornya memasuki tubuh Raemi. Raemi mengerang tertahan, karena mulutnya masih terkunci oleh Donghae. Pinggul Donghae bergerak maju mundur, mulai melakukan penetrasi. Rasa sakit Raemi mulai tercampur dengan rasa nikmat, Raemi mulai terbawa suasana, dia menggerakan pinggulnya berlawanan arah.
“Ummhh~ Eumhhh~” desah Raemi tertahan. Donghae melepaskan ciuman itu, dan berpindah pada leher Raemi, membuat kissmark lagi.
“Aaahh~ H-Haee! F-Fasterrrr~ Aaahh~~” desahan Raemi tak dapat dikontrol lagi, membuat Donghae semakin beringas dalam melakukan tugasnya. Donghae tak lagi menservis leher Raemi, kini dia menatap wajah Raemi yang penuh peluh. Dia mempercepat gerakannya dan menatap Raemi dengan senyuman.
Raemi memeluk tubuh Donghae erat dan menjambak rambut hitam milik Donghae, terus mendesah, mendesah, dan mendesah. Junior Donghae menekan titik rangsang Raemi, membuat Raemi semakin melayang dan tidak ingin melepaskan Donghae. Donghae ikut mendesah, merasakan juniornya dipijat lembut oleh vagina Raemi yang berkedut-kedut.
“Aaah~ Raemi chagiyaa~” desah Donghae memanggil nama Raemi. lama kelamaan junior dan vagina mereka berkedut, Donghae mempercepat gerakannya, membuat mereka semakin liar dalam mendesah.
“DONGHAE!!” “RAEMI!!”
Mereka saling meneriakkan nama masing-masing saat berorgasme. Cairan mereka menyatu, rasa sperma yang memasuki rahim Raemi rasanya nikmat, dan juga hangat. Donghae membaringkan tubuhnya di samping Raemi, tanpa melepas kontak. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.
Donghae mengecup dahi Raemi, “gomawo,”
Raemi tersenyum simpul, “apa ini pertama untukmu?”
“Hm? Aniya,”
“Dengan siapa?”
“It’s privacy. Harusnya ‘kan kau tahu,”
“Park Hyekyo. Apa aku benar?”
“Ne. Lebih baik kita tidur, ini sudah jam 4 pagi,”
Raemi mengangguk, dia mencium bibir Donghae, menjilatnya perlahan dan membuat ciuman itu semakin panas dan ganas. Raemi buru-buru melepasnya, takut Donghae akan melakukannya.
“Jaljayo,”
-The End-

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: