I Love You, Goodbye [Part 3]END

0
Title : I Love You, Goodbye [Part 3]END
Author : RR5
Genre : Romance
Length : Part 3/3
Cast :
Park Jiyeon TARA
Lee Chang Sun a.k.a Lee Joon MBLAQ
Lee Ji Eun a.k.a IU
-Lee Joon POV-
Aku menghela nafasku untuk kesekian kalinya. Kenapa aku merasa semakin terpuruk seperti ini ? Jiyeon-ah bisakah kau kembali ? aku tidak suka jika harus sendiri, aku ingin kau disini Jiyeon.
“Permisi tuan~ maaf jika kau ingin tidur, kau bisa tidur dirumah. Disini hanya coffee shop bukan hotel” ucap seseorang.
Aku langsung menolehkan kepalaku untuk menatap pemilik suara tersebut. Aish meneybalkan, tidak bisakah dia membiarkanku untuk menenagkan pikiranku sebentar !?
“Bisa aku catat pesanannya ?” tanyanya
“Ya. Aku mau waffle dan kopi”
“Kopi apa ?” tanyanya lagi.
“Apa saja yang penting kopi”
“Panas atau dingin ?”
“Panas”
“Mau pesan berapa ?”
“Yak, apa kau buta ? aku disini hanya sendiri, mana mungkin aku pesan lima! tentu saja satu cangkir, pabo !!” kesalku
“Aku hanya bertanya, kau tidak perlu marah-marah seperti itu tuan” dia menatapku kesal.
“Apa yang kau lihat ? cepat buatkan pesananku” bentakku.Yeoja itu lalu pergi dari hadapanku.
“Dasar pelayan pabo !!”
================================================================
Aku melajukan mobilku dengan kecapatan penuh. Hari ini aku berniat untuk mengunjungi makam Jiyeon, sudah lama aku tidak kesana.
“Jiyeon, apa kabar ? apa kau baik – baik saja disana ? apa kau bahagia disana? Apa kau merindukanku disana ?” berbagai macam pertanyaan keluar dari mulutku ketika aku sudah berada didepan makam Jiyeon.
-tap- seseorang menepuk pundakku.
“Ternyata kau disini juga hyung” Akupun langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
“Jonghyun. Meu apa kau kesini ?”
“Pertanyaan macam apa itu ? Jiyeon juga sahabatku hyung, tentu saja aku
juga ingin mengunjunginya dan mendoakannya.” Jawab Jonghyun.
“Begitu…”
Hening. Kami hanya diam memandang foto Jiyeon yang terpasang diatas makamnya.
“Hyung” ucap Jonghyun memecah keheningan.
“Hmm”
“Bolehkah aku menanyakan sesuatu ?”
“Apa ?”
“Apa yang sudah kau lakukan selama ini bersamanya ? apa kau menjaganya dengan baik ?”
“Tentu saja aku menjaganya dengan baik. Kami hanya melakukan hal yang
biasanya sepasang kekasih lakukan.”
“Apa kau pernah berhubungan dengannya” Tanya Jonghyun hati-hati.
“Apa maksudmu ?”
“Ya, apa kau pernah melakukannya? Berhubungan intim dengannya ?” Jonghyun menatapku tajam, seolah meng-intimidasiku.
“Itu bukan urusanmu. Kau tidak perlu tau” elakku. Bagaimana mungkin dia menanyakan hal seperti itu.
“Aku serius hyung” desaknya.
“Ya” jawabku singkat.
“Kau pernah melakukan itu dengannya ? kau serius ??”
“Ya. Aku pernah melakukan itu dengannya” jawabku meyakinkan.
“Apa kau gila ? apa kau tidak tau bagaimana Jiyeon ?” tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi.
“Yak aku lebih tau Jiyeon dibandingkan dirimu”
“Tidak. Kau tidak tau Jiyeon”
“Apa maksudmu ? aku yang selama ini dengannya”
“Apa Jiyeon tidak pernah memberi tahukan penyakitnya padamu ?”
“Penyakit ? penyakit apa ?” tanyaku bingung mendengarkan perkataan Jonghyun.
“Jiyeon mempunyai penyakit yang sedikit aneh, dia tidak diperbolehkan untuk
berhubungan intim. Jika itu terjadi, maka akan membahayakan nyawanya” jelasnya.
“Kau jangan bercanda ? mana ada penyakit seperti itu ?”
“Awalnya aku juga tidak percaya hyung, tapi aku pernah mengantarkan Jiyeon untuk kedokter. Dan akulah yang menanyakan langsung penyakit yang dideritanya.
Aku menatap foto jiyeon. Bagaimana mungkin ? kenapa dia tidak memberitahuku soal ini ? kenapa dia membiarkanku untuk berbuat seperti itu padanya ? kenapa dia tidak mencegahku waktu itu ??
“Jangan terlalu menyalahkan dirimu hyung. Pada akhirnya semua juga akan
meninggal, hanya saja caranya yang berbeda-beda”
“Aku. Aku yang membunuhnya” sesalku.
“Tidak seperti itu hyung. Sebaiknya kau kembali kekehidupanmu sekarang, jangan biarkan masa lalu terus menghantui mu hyung. Kau tidak akan selamanya hidup dengan bayangan Jiyeon kan ?”
“Kau menasehatiku ?”
“Ya. Aaaah sudahlah, aku sudah selesai dengan Jiyeon. Aku pamit” ucap Jonghyun pergi.
================================================================
“Apa ? kau mau Tanya aku mau pesan berapa kopi lagi ?” semprotku pada pelayan yang bodoh ini.
“Bisakah kau tidak berteriak padaku. Aku ini pelayan coffee shop disini bukan pembantumu”
“Yasudah cepat, pelayan bawakan kopi ku. Dasar pelayan pabo”
“Yak jangan menghinaku, dasar tukang teriak”
“Ada apa ini ? kenapa berisik sekali ?” Tanya seorang namja yang sepertinya adalah manager coffee shop disini.
“Yeoja ini. Oh maksudku pelayanmu yang pabo ini terlalu banyak tanya dan menyabalkan. Kau harus memecatnya” protesku.
“Apa-apaan kau ini ? kau tidak berhak berbicara seperti itu tukang teriak” belanya.
“Maafkan pelayan kami ini tuan, dia baru disini. Maafkan kami” ucap sang manager sopan.
“Sudahlah aku tidak butuh maaf kalian, aku mau kopiku sekarang”
“Baik tuan~ Jieun-ah cepat sana pergi ambil kopinya” suruhnya. Yeoja bernama Jieun itu menadangku kesal lalu pergi.
================================================================
-IU POV-
~brakk~
Aaaahh kenapa akhir-akhir ini hariku sangat sial ? kemarin bertemu pelanggan menyebalkan itu lagi, dan sekarang ? aku menabrak seseorang yang membuat semua barang-barangnya berantakkan.
“Maaf, maafkan aku” ucapku santun.
“Aish kau lagi kau lagi kenapa aku harus terus ketemu dengan yeoja pabo sepertimu”
“Eoh yak namja tukang teriak. Aish hari ini hari sialku lagi”
“Apa katamu? Hari sialmu ? Seharusnya aku yang bilang hari ini hari sialku. Kau tidak lihat semua barang bawaanku jatuh berantakkan karena kau. dasar yeoja pabo”
“Ini juga salahmu. Aish” aku berusaha membantunya untuk merapikan barang bawaannya.
“Ya. Kenapa kau begitu ceroboh hah ? Apa yang selalu kau fikirkan” tanya namja itu pelan.
“Kau tidak perlu tau”
“Hmm baiklah~”
================================================================
Hey kita belum berkenalan kan dari tadi ? Hihi namaku Lee Ji Eun, kalian bisa memanggilku IU. usiaku 21 tahun, aku tinggal sendiri di Seoul, aku dibesarkan di panti asuhan, aku tidak tahu seperti apa ayah dan ibuku. Ibu panti bilang aku dibawa oleh salah satu tentara kesini, jadi ibu panti mengira aku adalah anak dari korban perang. Yaaa entahlah, aku tidak mau ambil pusing soal itu. Saat aku lulus SMA aku memutuskan untuk keluar dari panti karena ingin tinggal mandiri, aku sekarang bekerja disalah satu coffee shop di Seoul, dan aku sangat menyukai pekerjaanku ini. Tapi akhir – akhir ini aku sebal datang ke tempat kerjaku karena belakangan ini ada salah satu pelanggan yang setiap datang pasti marah – marah dan akulah yang selalu kena amarahnya itu. entahlah kenapa harus selalu aku yang melayani namja menyebalkan itu.
Aku mengayuh sepedaku dengan kekuatan penuh, aku kira aku akan terlambat hari ini.
“Annyeong~” sapaku pada semua orang saat aku sampai ditempat kerjaku.
“Annyeong Jieun-ah. Aku hampir terlambat hari ini” sahut salah satu temanku.
“Hehe aku kesiangan hari ini. Bos belum datangkan ?”
“Belum. Oiya, bagaimana dengan namja yang suka marah-marah itu ? Dia terlihat tampan”
“Tampan tapi menyebalkan.”
“Haha sepertinya kau sangat tidak suka padanya”
“Siapa yang akan menyukai namja pemarah seperti itu. Bisa mati berdiri kalau aku jadi istrinya nanti”
“Hey Jieun, kau berfikir terlalu jauh. Sudah cepat sana bekerja”
================================================================
-Lee Joon POV-
@coffee shop
“Ya ya kemari” aku memanggil salah satu pelayan.
“Ada yang bisa saya bantu tuan ?” Tanyanya.
“Dimana pelayan yang biasanya melayaniku ? Anak ceroboh itu. Sudah beberapa mingguini aku tidak melihatnya.apa dia sudah dikeluarkan dari sini karena kecerobohannya? “
“Jieun ? apa yang tuan maksud itu Jieun ?
“Ya Jieun atau siapa lah namanya aku tidak memikirkannya. Dimana dia sekarang ?”
“Dia tidak masuk kerja karena sakit. Sudah beberapa minggu ini memang dia tidak masuk dan kemungkinan dia akan dikeluarkan dari sini.” Jelas pelayan itu.
Mwo dikeluarkan ? Aish yang benar saja…
Tunggu kenapa aku harus memperdulikannya ? Apa urusanya denganku !? Tapi, sepertinya aku sedikit bosan jika kesini tanpa menganggunya. Hmm mungkin aku merindukannya haha aku sudah gila
“Tuan, kau jadi mau pesan apa ?” Tanya pelayan itu membuyarkan lamunanku.
“Aku mau pesan alamat rumah Jieun”
“Ne ? Alamat rumah Jieun ?”
“Ya. Aku mau tau, cepat !!”
“N… ne tuan” pelayan itu langsung pergi dari hadapanku.
================================================================
“Permisi~” aku mengetuk sebuah kamar yang pelayan di Coffee shop itu sebut apartemen Jieun
“Apa ada orang disini ? Permisi~” aku menengetuknya sekali lagi.
“Ne….. tunggu sebentar” sahut seseorang dari dalam.
“Eoh… kau…” Jieun terlihat kaget ketika melihatku yang berada didepannya.
“Jieun” ucapku.
“Mau apa kau disini ? Kau mau mamarahiku lagi ??”
“Ani. Kau tidak apa ??” Aku sedikit khawatir melihat keadaanya. Wajahnya sangat pucat dan berantakkan.
“Aku baik – baik saja, memangnya ada salah apa aku sampai sampai kau datang kesini? Jika kau hanya ingin ku menganti semua belanjaanmu yang berantakan waktu itu lebih baik kau pulang. Aku sedang sibuk” wah wah dia mengatakan semua kalimat panjang itu dengan satu kali tarikan nafas sebat sekali haha
“Apa saat kau mengatakan semua itu tidak kekurangan oksigen?”
“Ani, sudah cepat pergi sana”
“Kau bukan tuan rumah yang baik sepertinya, aku kesini ingin memberikan ini” ucapku menyodorkan sebuah plastik besar yang penuh dengan makanan
“… untuk apa?”
“Ya apa kah otak mu itu tidak dapat berjalan dengan baik? Tentu saja untuk dimakan, sudah aku ingin masuk” aku langsung masuk tanpa ada ijin darinya
“Tidak ada sopan sopannya sekali, apa kau tidak diajarkan sopan santun oleh orang tuamu?”
“Apa kau tinggal sendirian di apartemen yang sangat kecil ini?”
“Yak apa masalahmu selalu mengejek ku”
“Aku hanya bertanya, ini makannya sebelum dingin. Siapkan juga untuk ku aku lapar”
“Ish apa-apaan kau ini ? Aku tidak mengenalmu, masuk tanpa izin, mengejekku dan sekarang seenaknya menyuruhku untuk menyiapkan makanan untukmu ? Kau fikir aku ini siapa !?”
“Sudah jangan banyak bicara pabo. Cukup siapkan saja apa susahnya sih !?”
“Dasar menyebalkan” dia langsung pergi dari hadapanku. Sepertinya dia sedang menyiapkan makanan yang aku bawa.
“Ya Jieun shi, apa kau bisa tidur ditempat seperti ini ? Rumahmu ini bahkan lebih kecil dari gudang apartemenku” teriakku.
“Aku bisa tidur, bernafas bahkan melakukan apa saja yang aku mau disini” dia muncul dari luar sambil membawa makanan lalu meletakkannya di meja kecil.
“Ini, sudah aku siapkan” ucapnya.
“Kau juga makan pabo”
“Bisakah kau tidak menyebutku pabo ? Tuan tanpa nama” kesalnya.
“Haha aku sampai lupa. Aku Lee Joon” ucapku memperkenalkan diri.
“Aku tidak butuh namamu”
“Sudah jangan banyak bicara, diam saja dan makanlah”
Dia menatapku kesal, wajahnya memerah kesal sambil menyendok makanannya.
“Jieun shi bagaimana kalau kau tinggal bersamaku ? Kau tidak akan hidup sehat ditempat kecil seperti ini”
“Apa kau gila ? Kita bahkan baru saling mengenal, bagaimana mungkin kau mengajakku tinggal bersamamu !?”
“Memang apa salahnya ? Aku kan hanya ingin menolongmu”
“Kalau begitu aku tidak butuh pertolongamu”
“Ck sombong sekali kau ini. Lagipula kau kan sedang sakit, kau tidak boleh tinggal sendiri. Bagaimana kalau kau meninggal dan tidak ada seorangpun yang mengetahui ?” Aku sedikit menakut-nakutinya.
“Kau fikir aku anak kecil ? Kau fikir aku baru saja tinggal sendiri !?”
“Aish kau ini !! turuti saja ucapanku. Aku membiayai semuanya”
“Kau kira aku apa? Aku bukan prempuan murahan yang bisa kau ajak dank au bayar seenaknya”
“Bukan itu maksudku, mian jika aku mengatakannya seperti merendahkanmu. Tapi bukankah lebih baik jika kau tinggal denganku dengan fasilitas yang lebih memadai dan layak dibanding disini” aku terus membujuknya berkali kali walaupun sebanyak aku membujuknya sebanyak itu juga dia menolakku. Beberapa hari ku terus mendatanginya menjenguk dan membawakan makanan untuknya tidak lupa tetap berusaha untuk membujuknya
================================================================
-IU POV-
“Jieun maaf kenapa kau datang kemari?” ucap salah satu temanku yang berkerja di Coffee shop tempat ku bekerja juga
“Tentu saja untuk bekerja”
“Apa kau belum dimenerima surat yang diberikan oleh manager?”
“Ani, surat apa?”
“Surat yang menyatakan kau telah dikeluarkan dari sini. Mianhae Jieun aku tidak dapat membantumu banyak. Sebelumnya aku sudah mengatakan pada manager Kim jika kau tidak masuk karena sakit” aku terpaku saat temanku mengakatakan hal itu aku harus bagaimana sekarang? Aku harus mencari pekerjaan dimana? Bagaimana dengan nasib tempat tinggal dan nasib perutku ini.
“Jieun mian”
“hmm… gwenchana, terima kasih telah membantuku. Kalau begitu tidak ada yang dapatku kerjakan disini, sebaiknya aku pergi. Terima kasih sekali lagi”
Aku hanya duduk diam memandang jalanan dari jendela apartemen ku ini, bingung itu yang ku rasakan sekarang. aku tidak tau harus mencari kerja kemana lagi sudah lima hari semejak aku tau aku telah dipecat dari Coffee shop itu tapi aku belum menemukan satu pekerjaan pun. Sebentar lagi akhir bulan pasti pemilik apartemen ini akan menagihku uang sewa yang sudah ku tunggak selama 2 bulan. Ya tentu saja karena sakit ku ini aku tidak dapat bekerja dan tidak mendapatkan gaji. Ya Tuhan bantu aku
~Tok tok tok~
“Jieun cepat buka pintunya” akh pasti dia lagi kenapa dia selalu datang kemari. Apa dialah jawaban dari masalah masalah ku ini.
“Jieun apa kau didalam, cepat bukakan pintu” aku berjalan dengan malas membukakan pintu untuk Lee Joon yang akhir akhir ini selalu datang ke apartemen ku ini
“Untuk apa lagi kau datang hari ini? Apa kau tidak memiliki pekerjaan hingga kau dapat selalu datang kesini?” ucap ku ketus padanya beberapa saat setelah ia meletakan plastik makanan
“Bagaimana dengan jawaban atas pertanyaanku?”
“Mwo? Pertanyaan apa?”
“Bagaimana jika kau tinggal bersamaku?”
“Tidak tidak akan”
“Sampai kapan kau akan menjawab seperti itu?”
“Untuk apa kau menanyakan hal itu?”
“Karena aku akan menanyakan hal yang sama selama itu pula”
“Ah molla”
“Cepat siapkan makananya untukku aku sangat lapar” aku sangat malas untuk membalas setiap omongannya hari ini, ada yang masih lebih penting dari mikirkan jawaban dari setiap omongan Lee Joon hari ini. Maka dari itu aku langsung menurut saat ia meminta ku menyiapkan makanan yang dibawakannya
Aku makan dengan sangat terpaksa, sebenarnya aku tidak lapar dan aku sangat tidak bernafsu untuk makan karena masalah masalah ku itu. Diam berfikir sambil mengaduk aduk makanan yang terletak didapanku. apa yang harus aku lakukan
“Ah” ucapan dalam hatiku keluar begitu saja dari mulut ku. Lee Joon yang sedang sibuk dengan makan siangnyapun menatapku heran
“Wae? Apa kau tidak suka dengan makanannya?”
“Tidak, aku suka dengan makannya. Terima kasih” jawabku singkat menjauhkanku dari pertengakaran yang selalu saja datang bersamaan datangnya Lee Joon
“Tidak seperti biasanya kau begitu pendiam hari ini, apa ada yang salah?”
“Tidak apa apa, semua baik baik saja. Cepat selesaikan makanmu itu dan pergi aku masih banyak urusan yang harus aku selesaikan”
“Kau mengusirku?”
“Ya tentu saja, cepat selesaikan” aku menatapnya dengan tajam, agar dia yakin jika semua baik baik saja dan aku seperti biasanya
Akhir bulan semakin dekat, artinya semakin dekat juga waktu ku untuk diusir dari apartemen ini. Sampai sekarangpun aku belum mendapatkan pekerjaan. Jadi apa yang bisa ku lakukan sekarang? Kembali ke panti asuhan? Mungkin itu ide terbaik yang bisa aku pikirkan saat ini. Kalau begitu aku akan merapihkan seluruh barang barangku hari ini
~Tok Tok Tok~
Seperti hari, hari sebelumnya Lee Joon datang dengan plastik berisikan makanan. Dan hari ini sebelum ia menyuruhku untuk menyiapkan makanan, aku langsung mengambik plastik itu dan mempersiapkan semua. Lee Joon menatapku aneh dan semakin bertambah aneh seiring waktu. Namun dia tidak menanyakan apapun kepadaku sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.
Kami makan dalam hening tanpa ada seorangpun yang membuka pembicaraan. Setelah kami makan, aku langsung meninggalkannya dan menuju kamarku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda karena kedatangannya. Aku memasukan kembali pakaian pakaian ku kedalam satu koper besar miliku, menyelipkan beberapa buku yang aku punya kedalam sela sela koper.
“Aku pulang Jieun, besok aku akan kembali lagi” mendengar itu aku dengan cepat berlari keluar kamar lagi lagi Lee Joon menatapku heran
“Ada apa terburu buru seperti itu? Apa kau akan merindukanku sampai kau cepat cepat ingin menahanku?”
“Yak apa maksud mu meledekku seperti itu? Yang ingin ku katakan adalah jangan datang lagi kemari besok”
“Kenapa? Kau tidak pernah melarangku sebelumnya”
“Kata siapa? Aku selalu melarangmu hanya kau saja yang tidak mau mendengarkannya. Sudah yang penting kau tidak perlu datang lagi kesini”
“Baiklah, aku akan datang lagi kesini besok”
“Yaaaaaa jangan datang lagi besok” aku berteriak cukup kencang karena Lee Joon telah berlari meninggalkanku saat ia mengataka akan datang lagi kesini besok. Aish laki laki yang sangat menyebalkan
================================================================
-Lee Joon POV-
Hari ini aku akan datang lagi ke tempat yang dibilang Jieun sebagai apartemennya itu, seperti biasanya juga aku membawakannya makan siang agar kami dapat makan bersama. Aku memarkirkan mobilku tepat didepan gedung apartemen Jieun.
“Jieun cepat buka pintunya” aku mengetuk beberapa kali pintu apartemennya itu namun tidak ada jawaban sama sekali
“Jieun apa kau didalam?” percuma saja jika aku harus menunggu begini terus. Aku turun ke bawah meminta kunci cadangan apartemen Jieun kepada petugas dengan alasan jika didalam kamarnya Jieun terkunci dan meminta ku datang untuk menolongnya. Hahaha ide bagus bukan, dengan senang aku kembali keatas dan membuka pintu apartemen Jieun
“Ji..” ucapanku terhenti saat aku melihat tidak ada satu barangpun milik Jieun yang tersisa dalam apartemen ini. Aku mencarinya keseluruh ruangan apartemen ini namun nihil aku juga memeriksa apakah masih ada barang Jieun yang tertinggal sama dengan hasil awal yang ku dapat taka da satupun barang yang dapat aku temukan.
Apa dia pindah karena aku selalu menganggunya? Benarkah aku semenganggu itu sampai sampai ia pindah tanpa memberi tauku? Tapi bagaimana juga dia mau menghubungiku, jika dia tidak memiliki nomor telpon ku akh pabo. Aku kembali turun dan mengembalikan kunci cadangan itu kepada petugas. Aku juga sempat menanyakan kepada petugas itu keberadaan Jieun tapi petugas hanya menjawab jika tadi Jieun turun membawa satu koper besar dengan tas ransel yang terlihat sangat penuh diisi
Aku kembali masuk kedalam mobil menyalakan mobilku dan berjalan cukup lambat, memperhatikan pinggiran jalan siapa tau aku bisa menemukan Jieun. Aduh apa lagi ini disiang hari begini tidak biasanya macet kenapa hari ini menjadi seperti ini, sepertinya ini hari sialku. Aku memencet klakson berkali kali tapi tidak membuahkan hasil sama sekali. Aku sangat kesal dengan keadaan seperti ini, aku tidak suka jika aku harus menunggu, aku keluar dari mobilku.
Ku lihat banyak orang berkumpul menjadi satu didepan mobil berwarna hijau itu, semakin ku mendekatinya semakin tercium bau anyir darah ku perhatikan lagi ada banyak simbahan darah yang terdapat dijalan. Aku memasuki kerumunan orang itu, aku ingin lihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ku lihat seseorang tergeletak dengan darah yang cukup banyak keluar dari kepalanya tunggu itu yang tergeletak bukannya koper besar, aku memastikan kembali siapa seseorang yang tergeletak itu. “J..j..j Cepat siapapun bantu aku mengangkatnya dan bawa ke mobilku”
“Dok bagaimana keadaannya?” Tanya ku cepat saat dokter keluar dari UGD
“Dia baik baik saja, hanya butuh beberapa jahitan dikepalanya dan suplay darah. Semua kondisi sudah normal tinggal tunggu siuman saja. Jika sudah siuman kita dapat memastikan keadaan yang lebih pastinya lagi”
“Terima kasih dokter, terima kasih”
================================================================
Sukses. Aku berhasil mengajak Jieun tinggal bersamaku, walau dengan sedikit memaksa mengunakan alasan karena dia masih sakit harus check up dan alasan alasan lainnya
“Bagaimana ? Lebih baik kan tinggal bersamaku ?” Aku menatap Jieun yang sedang serius menonton tv.
“Hmm”
“Kau tidak apa ??”
“Hmm”
“Bisakah kau menjawabku dengan mengucapkan sesuatu ? Bukan dengan gumamanmu itu”
“Aku baik-baik saja tuan Lee Joon” kesalnya.
“Baguslah~ apa kau lapar ? Bagaimana kalau kita cari makan diluar ?”
“Aku malas keluar. Lagipula diluar sedang turun salju”
“Kau kan bisa menggunakan mantelmu. Memangnya kau tidak lapar ?”
“Ani” jawabnya singkat.
“Aish percuma aku tanya kau lapar atau tidak. Kau kan tidak pernah merasa lapar”
“Kau tau itu. Untuk apa kau masih terus menanyakannya”
“Baiklah aku mau keluar cari makan. Kau baik-baik dirumah oke !? jika ada apa apa aku sudah meninggalkan nomor telfon ku diatas meja jangan ragu untuk menelfon ya”
“Hmm”
Aish yeoja ini kenapa sangat menyebalkan !!
================================================================
“Jieun ?”
“Jieun-ah kau dimana ?” Aku mencari sosok Jieun ke seluruh sudut apartemenku.
“Lee Jieun kau dimana ?”
Tidak ada jawaban. Kamar mandi ! Terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Aku pun langsung berlari kearah kamar mandi dan….
“Jieun ah. Kau bisa mendengarku ? Jieun ah bangun !!”
Aku menggerakkan badan Jieun yang basah kuyup. Aku menemukan Jieun sedang terduduk dibawah shower.
“Jieun ah bangun”
“YAK LEE JIEUN !!!” teriakku dengan sedikit frustasi karena Jieun tidak menjawabku bahkan membuka matanya.
Aku memumtuskan untuk membawanya kerumah sakit.
================================================================
“Bagaimana keadaannya ? Dia sakit apa ?” Tanyaku pada dokter yang baru saja menanganinya.
“Dia mempunyai penyakit yang cukup kronis pada paru-parunya. Jika dibiarkan maka akan berakibat fatal pada kehidupannya” jelas dokter tersebut.
“Kalau begitu sembuhkan dia aku akan membayar berapapun itu biayanya”
“Kami akan berusaha sebisa kami.” Ucap dokter itu lalu pergi.
Aku masuk kedalam kamar Jieun dirawat dan menatapnya.
Wajahnya terlihat pucat pasi. Matanya masih tertutup rapat.
“Kenapa aku begitu peduli padanya ? Apa aku menyukainya ?” Tanyaku dalam hati masih menatap jieun.
Sekilas setiap aku melihatnnya aku menemukan sosok Jiyeon dalam dirinya. Dia sama keras kepalanya dan sedikit manja, seperti Jiyeon.
“Aku bukan Jiyeon” ucap Jieun menatapku dan membuyarkan lamunanku.
“Jieun ah kau sudah sadar ?!”
“Ya. Aku sudah sadar sejak kau masih sibuk menyamakan aku dengan Jiyeonmu itu”
“Bagaimana kau tau”
“Aku bukan dia” bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah kesal denganku.
“Aku tidak bermaksud seperti itu Jieun”
“Kau seperti itu Lee Joon”
================================================================
“Jieun ah, aku mencintaimu” ucapku lirih ketika kami sedang makan bersama.
Jieun diam tidak menjawab atau merespon ucapanku. Dia tetap fokus pada makanannya.
“Jieun ah kau mendengarku kan ?”
“YAK LEE JI EUN !!” Teriakku.
Dia menatapku lalu memukul kepalaku menggunakan sendok.
“Bagaimana mungkin kau mentakan cintamu lalu meneriakiku ? Mana mungkin aku menerimamu kalau caramu seperti itu hah !?”
“Aish siapa suruh kau tidak meresponku”
“Aku sedang berfikir”
“Memangnya kau bisa berfikir ? Kau kan pabo”
“Aish aku tidak mau nenerimamu”
“Wae ?”
“Karena kau terus menyebutku pabo dan berteriak teriak”
“Yak kau terlalu kekanak-kanakkan. Masa gara-gara itu kau tidak menerimaku”
“Bukan itu saja” tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi serius.
“Kau masih menganggapku Jiyeon.kau tau aku bukan Jiyeonmu itu”
“A…. itu…”
“Iyakan ? Kau masih menganggapku seperti itu ?”
“Ani. Tidak sepeeti itu Jieun, kau mencintai apa adanya dirimu. Bukan karena kau seperti Jiyeon”
“Benarkah ?”
Aku mengangguk, meng-iyakannya.
-END-

Fc Populer:

Tags: , , ,
%d blogger menyukai ini: