I Love You, Good Bye [Part 1]

0
Title : I Love You, Good Bye [Part 1]
Author : RR5
Genre : Romance, NC21
Length : Part 1/3
Cast :
Park Jiyeon
Lee Chang Sun a.k.a Lee Joon MBLAQ
Summary:
Saat helaan nafas tak dapat ku rasakan lagi, saat itulah kau harus pergi meninggalkanku. Pergilah bersama anganmu.
Author pov
“Oppa saat kita bersama nanti, berjanjilah padaku kalau kau tidak akan melepaskan genggaman tanganmu dariku. Berjanjilah padaku kalau kau akan disisiku untuk selamanya, berjanjilah padaku kalau aku akan menjadi satu-satunya untukmu dan aku harus menjadi satu-satunya yang kau mimpikan” yeoja itu tersenyum memandang lurus kedepan sambil terus menggenggam erat tangan namjanya.
“Tapi saat aku tidak lagi berada disisimu, berjanjilah padaku jika kau tidak akan mengingat tentangku sedikitpun, jangan pernah menyebut namaku. Pergilah sampai aku tidak dapat menjangkaumu bahkan untuk melihat bayanganmu”
“Kalau begitu, teruslah bersamaku. Teruslah berada disisiku jiyeonie” namja itu memeluknya, mengecup puncak kepala yeojanya.
Namja itu masih terdiam, terlarut dalam masa lalunya. Dia memeluk kedua lutut kakinya dengan kedua tangannya, nafasnya terasa begitu berat. Rambutnya tertiup angin malam yang begitu dingin, matanya terpejam menerawang jauh entah kemana.
“Jiyeon-ah mianhae” ucapnya lirih. Perlahan dia meneteskan air matanya
“Kembalilah Jiyeon. Biarkan aku tetap mengenggam tanganmu, biarkan aku tetap disisimu, biarkan aku terus menyebut namamu, biarkan aku tetap memimpikamu Jiyeon”
“Lee Joon oppa saranghae” namja itu seperti mendengar bisikan dari suara yang sangat dia kenal.
Kata-kata itu terus berputar dalam pikirannya. Kata-kata yang setiap hari Jiyeon ucapkan saat Lee Joon akan pergi setelah dia mengantar Jiyeon pulang kerumahnya.
==========================================================================================
~Flashback~
“Park Jiyeon. Mau kah kau menjadi milikku ?” Lee Joon mengulurkan sebuah kertas.
“Lee joon oppa, apa kau sakit ?”
“Tidak. Aku serius Jiyeon~”
“Hmmm kau menyatakan cinta padaku dengan ini ? hanya sebuah foto gunung es ? pelit sekali kau ini” ejek jiyeon.
“Suatu saat nanti aku akan mengajakmu kesana”
“Kau mau membunuhku hah? Aku bisa mati kedinginan disana. Pabo” jiyeon menjitak Lee Joon pelan.
“Yak. Aku akan menghangatkanmu nanti. Sudah jawab saja, kau mau tidak menjadi yeojachiguku, hanya milikku Jiyeon-ah”
“Tidak” Jiyeon memalingkan kepalanya.
“Kenapa ? Apa aku kurang tampan ? Atau kurang tinggi ?”
“Kau memang kurang tinggi tuan Lee Chang Sun”
“Baiklah. Jadi bagaimana mau atau tidak ?”
“Sudah kubilang tidak”
Lee joon menunduk lemas lalu membalikkan tubuhnya.
“Terima kasih” ucap Lee Joon lirih.
“Tidak akan menolakmu maksudku”
Lee joon membalikkan tubuhnya, menatap Jiyeon kesal.
“Yak kau…”
“Bisakah kalian tidak bermesraan didepan umum ?” Tanya seseorag memandang Lee Joon dan Jiyeon yang sedang berpelukan dengan tatapan sinis.
Mereka lupa jika mereka masih berada di sekolah.
==========================================================================================
“Oppa, lihatlah foto kelulusanmu kenapa tampangmu sangat jelek ?” Tanya Jiyeon yang sedang duduk disamping Lee Joon menatap foto kelulusan mereka berdua.
“Setampan itu kau bilang jelek ? lihatlah baik-baik Jiyeonie” Lee Joon mendekatkan foto itu ke wajah Jiyeon.
“Hmm semakin dekat dan semakin lama dilihat semakin jelek. Kenapa namja ku ini sangat jelek hah aku menyesal menerimamu” Jiyeon cemberut.
“Aish kau ini. Aku bahkan di sukai oleh semua yeoja di sekolah, itu berarti aku tampan. Pabo” Lee Joon menjitak Jiyeon.
“Mungkin mereka hanya berhalusianasi.”
“Kalau begitu kau juga”
“Ya kau benar. Aku sedang bermimpi mempunyai namja jelek sepertimu”
“Jak park jiyeon…” Lee Joon menarik tubuh Jiyeon lalu mencubit kencang pipinya.
“Appo… ish” Jiyeon mengusap usap pipinya sambil cemberut
==========================================================================================
“Oppa aku mau itu” Jiyeon menunjuk jepitan kecil.
“Kau mau ? kajja kita beli”
==========================================================================================
“Oppa lihat, pemandangannya sangat indah kan ?”
“Ne, dan semakin indah karena kau disampingku” Lee Joon memeluk Jiyeon dari belakang. Menikmati senja di pantai Jeju.
“Kau menggombal aku tidak percaya orang sepertimu bisa menggombal juga?”
“Aku berbicara kenyataan Jiyeonie. Kau sama seperti senja itu, sangat indah”
“Aku tidak mau seperti senja”
“Wae ?”
“Karena senja itu hanya sesaat dapat kau lihat. Aku tidak mau seperti itu”
“Kalau begitu kau seperti pasir”
“Tidak mau”
“Kenapa ?”
“Karena kau semakin erat kau menggenggam pasir, kau akan semakin kehilangannya”
“Kau adalah bagian dariku jadi aku takan kehilanganmu” Lee Joon mencium pipi jiyeon.
“Tidak mau”
“Aish kenapa lagi ?”
“Karena itu berarti aku tidak bisa pergi darimu”
“Bukankah itu bagus ?”
“Ani. Manusia tidak ditakdirkan untuk hidup abadi. Maka suatu saat nanti aku harus pergi darimu” Jiyeon membalikkan tubuhnya lalu memegangi wajah Lee Joon.
“Saat aku tidak lagi berada disisimu, berjanjilah padaku jika kau tidak akan mengingat tentangku sedikitpun, jangan pernah menyebut namaku. Pergilah sampai aku tidak dapat menjangkaumu bahkan untuk melihat bayanganmu”
“Kalau begitu, teruslah bersamaku. Teruslah berada disisiku Jiyeonie jangan pernah pergi dariku” Lee Joon memeluknya, mengecup puncak kepalanya.
“Sudah kubilang, manusia tidak ditakdirkan untuk hidup selamanya. Aku tidak dapat terus berada disismu pabo” Jiyeon mencium pipi Lee Joon.
“Kalau begitu, tetaplah disisiku sampai salah satu dari kita harus pergi. Tapi aku akan terus berada disisimu walaupun aku nanti harus pergi, aku akan menjagamu sampai kapanpun”
“Jangan mengika atau kau akan tersiksa nantinya”
“Maksudmu ?” Lee Joon menatap Jiyeon bingung.
“Saat kita harus pergi, maka pergilah. Dan kita tidak boleh tetap pada ingatan kita. Kau harus melupakan aku sepenuhnya. Jangan jadikan dirimu terikat pada satu hal”
“Kau membuatnya semakin sulit. Kenapa kau tidak membolehkan aku mengingatmu sedikitpun ?”
“Karena walau hanya dengan sedikit ingatan atau kenangan maka kau akan mengembalikan semua kenangan yang hilang itu. Sekalipun kau hanya menyebut atau mengingat sebuah nama”
“Seperti itu kah?”
“Ya. Seperti itu” Jiyeon mencium bibir Lee Joon sekilas.
“Yaaa kau berani mencium bibirku”
“Hihihi wae ?” Jiyeon menjulurkan lidahnya.
“Aish kau tidak pernah mau melakukan itu, bahkan saat aku memohon kepadamu untuk itu”
==========================================================================================
-Lee Joon POV-
“Kau tau kenapa aku hanya memberikan selembar foto itu saat aku menyatakan cintaku padamu ?”
“Karna kau akan mengajakku pergi kesana bukan ?”
“Ya, memang begitu. Tapi ada alasan lainnya” aku menatap lurus kedepan sambil terus memeluknya. Ya aku sangat suka memeluknya.
Diluar sana sedang hujan deras, AC didalam apartemen Jiyeon terasa menusuk kulit. Tapi semua itu tampak tidak terasa dingin saat aku dapat melihat senyumnya dan memeluknya.
“Apa alasan lainnya ?” Tanya Jiyeon seraya menyandarkan kepalanya.
“Karena gunung es situ seperti dirimu saat aku pertama kali melihatmu”
“Yak kenapa kau sering sekali menyamakan aku dengan lainnya ?”
“Hehehe tapi kau memang sama seperti itu”
“Kenapa ?”
“Karena saat aku pertama kali aku melihatmu, aku membencimu”
“Membenciku ? kenapa ?”
“Sosokmu begitu dingin saat aku pertama kali melihatmu. Tapi saat aku terus melihatmu, aku semakin tau dibalik sosok dinginmu itu ada keindahan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Saat aku melihat itu, aku tidak pernah berhenti untuk menatapmu. Sama seperti saat orang ke gunung ini orang akan merasa dingin, tapi orang tidak akan memalingkan pandangannya dari keindahan gunung ini” jelasku.
“Ohh seperti itu”
“Ya”
“Hehe Lee Chang Sun saranghae”
“Nado” aku kembali memeluknya erat.dan menciumnya lembut. Aku meresakan bibirnya yang manis, tidak pernah ku rasakan rasa semanis ini ku hisap dan ku jilat bibir manis Jiyeon semakin lama semakin intens semakin dalam ku menciumnya
-Author POV-
Lee Joon semakin lama semakin intens dan semakin dalam mencium Jiyeon. Tangannya mulai bergerak menuju payudara Jiyeon
“Hnggh oppa.. apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak melakukan apapun, hanya ini” Lee Joon meremas payudara Jiyeon cukup kuat sampai Jiyeon mengeluarkan desahannya, namun Lee Joon tidak mengubrisnya sama sekali malah semakin menjadi.
Lee Joon mengerakan tangannya turun mekan nekan mrs. V Jiyeon. Jiyeon menutup kakinya rapat tanda tidak setuju dengan perlakuan Lee Joon
“Chagi percayakan lah semua padaku dan kita akan selalu bersama”
“Tapi oppa…” Ucapan Jiyeon terhenti ketika Lee Joon semakin dalam menekan mrs. V Jiyeon, “Aashh…” Lee Joon memojokan Jiyeon ditembok dan mulai membuka seluruh pakaian Jiyeon mengecupi seluruh bagian tubuhnya, saat Lee Joon menemukan yang sedari tadi menjadi tujuan utamanya dia langsung mengecupnya lembut, Jiyeon menutup matanya rapat mengigit bibir bawahnya menahan sensasi yang sedang diberikan kepadanya. Lee Joon terus mengecup menjilat dan menhisap vagina Jiyeon “Uukhh ooppa” Jiyeon menguluarkan cairan bening pertamanya dan tanpa ragu Lee Joon menghisap habis cairan itu.
“Jiyonie aku sudah tidak tahan” Lee Joon membuka seluruh pakaiannya dengan cepat dan memberi sedikit kocokan pada juniornya yang sudah mulai menegang, Lee Joon mengangkat kaki Jiyeon untuk bertumpu pada pinggangnya “Ini akan sedikit sakit chagi tapi bertahanlah sebentar dan aku akan berjanji tidak aka nada rasa sakit lagi setelahnya”
“Lee… Oppaaa~” Jiyeon mengerang cukup keras saat Lee Joon mulai melakukan proses penyatuan tubuh mereka “Akhh~” erangan mereka begitu Lee Joon dapat memasukan juniornya kedalam vagina Jiyeon sepenuhnya. Tanpa menunggu lama Lee Joon langsung mengerakan tubuhnya menghentak hentakan miliknya kuat
“Oppa….shhh”
Lee joon terus menghentakkan miliknya semakin cepat. Jiyeon yang tidak tahan akhirnya ikut menggerakkan pinggulnya, menambah sensasi kenikmatan diantara keduanya.
“Arghhh….Jiyeon-ah….” Lee joon menengadahkan kepalanya, menarik nafasnya berat sambil terus menhentakkan pinggulnya semakin cepat dan cepat
Cairan bening mulai menetes di sela kaki Lee joon membuat gerakan juniornya semakin mudah.
“Ooohhh….oppa aku tidak tahan..” Jiyeon menjambak rambut Lee Joon
“Sedikit lagi…” Lee joon menggerakkan pinggulnya makin tak beraturan.
“Aaaaahh” lenguh keduanya saat berhasil meraih puncak kenikmatan masing-masing.
Setelah beristirahat cukup lama Lee Joon kembali mengerakan miliknya yang masih terbenam dalam milik Jiyeon
“Aaah oppanghh hentikan aku lelah” Lee Joon tetap mengerakan miliknya cepat
“Maaf chagi aku menginginkannya sekali lagi” akhirnya mereka melakukan rende selanjutnya
==========================================================================================
“Oppa, temani aku belanja ya ? sebentar yayaya” rengek Jiyeon.
“Tapi aku sibuk banyak tugas kuliah yang harus ku selesaikan”
“Hanya sebentar ayolah oppa”
“Baiklah, hanya sebentar ingat itu”
“Ne gomawo”
==========================================================================================
“Oppa aku membuatkan ini untukmu, ayo makan” Jiyeon menyendokkan makan yang dia buat lalu mengarahkannya ke Lee Joon.
“Aku sedang mengerjakan tugas. Taruhlah dulu, nanti aku memakannya sendiri” ucap Lee Joon tetap menatap layar komputernya.
“Ne…”
==========================================================================================
“Oppa hari ini tepat hari ke 2000 kita bersama. Bagaimana kalau kita pergi untuk merayakannya, hanya berjalan-jalan ke taman bermain” Jiyeon menggandeng tanganku, menatapku ceria.
“Maaf.aku tidak bisa, Aku harus pergi, aku harus menyelesaikan tugas peneletianku. Lagipula untuk apa hari seperti ini pakai dirayakan segala ? Tidak penting”
“Tapi oppa, ini sangat penting bagiku”
“Hanya bagimu ada tugas yang lebih penting bagiku. Nah kau masuklah, aku harus segera membereskan penelitianku” aku mendorong tubuhnya masuk kedalam.
“Hati-hati…” ucapnya lirih.
“Ya”
==========================================================================================
“Oppa kau mau kemana ?”
“Aku ? Aku ada janji dengan temanku. Wae ?”
“Kau akan pergi ?”
“Ya”
“Tapi kau sudah janji padaku untuk menemaniku menonton hari ini” Jiyeon memegangi lengan bajuku.
“Maaf aku lupa. Bisa lain kali saja aku sudah ditunggu temanku? Lagi pula ini hanya menonton kan ? Lain kali oke ??” Aku mengacak rambutnya pelan.
“Hmm ne. Hati-hati” dia mencium pipiku lembut.
“Ya”
==========================================================================================
“Oppa aku ingin ke taman. Bisakah kita pergi kesana ?” Jiyeon menatapku lekat.
“Aku harus mengerjakan tugas kuliahku Jiyeon. Lain kali saja ya ?”
“Tapi oppa, kita sudah sangat jarang pergi bersama sekali ini saja. Ayolah~” dia menatapku dengan tatapan memohon.“
“Tidak bisa Jiyeon”
“Seberapa banyak sih tugasmu itu ? sampai-sampai hanya menemaniku ketaman saja kau tidak pernah sempat” omelnya.
“Aku bukan seperti kau yang pemalas di kelasmu”
“Begitu ?”
“Ya. Pergilah sendiri kalau kau sangat ingin pergi ke taman itu. Aku akan tetap disini menyelesaikan tugasku.”
“Baiklah. Ini jadi yang terakhir oppa” ucapnya seraya pergi mendahuluiku.
“Yak. Apa maksudmu hah !?”
“Jiyeon-ah. Park Jiyeon !!”
==========================================================================================
~Flashback end~
Hari itu. Ya hari itu seharusnya aku mau mengantarnya dan menemaninya ke taman. Kenapa aku tidak dapat menyadari semuanya sejak lama ? kenapa aku tak pernah tau semua itu ? kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku ? seberapa banyak yang aku tidak tau tentangnya ? Akh
Tapi semua itu percuma. Sekanrang dia telah pergi sekarang, pergi meninggalkanku.
-Jiyeon POV-
“Saat kau membuka matamu nanti, kau akan melihat semuanya. Kau akan tahu semua ini tidak berarti”
Aku masih terdiam, duduk disampingnya di kursi taman. Aku terus menatapnya. Hujan yang mulai deras tidak membuatnya pergi dari taman ini.
“Bisikan lembutnya akan terasa seperti puisi bagimu, puisi yang tidak pernah ingin kau dengar. Senyuman indahnya akan menjadi pisau bagimu. Saat kau meraihnya kau akan tampak seperti meraih sebuah batang duri” bisikku padanya. Walaupun aku tau dia tidak mendegarnya, dia tidak dapat melihatku lagi.
“Jiyeon-ah” panggilnya.
“Jangan sebut namaku oppa. Kau menyakiti ku” aku memegangi dadaku yang tersa begitu sakit saat dia menyebut namaku.
Ya. Hari ini, untuk pertama kalinya aku mengunjunginya setelah satu tahun kematianku. Dia masih tidak dapat berhenti menyebut namaku. Itu membuatku semakin sakit.
Aku menatapnya. Dia menangis sambil terus menyebut namaku.
“Saat kau berada dalam kehidupan yang baru nanti, jagalah orang yang akan bersamamu nanti. Jangan abaikan dia oppa”
-TBC-
%d blogger menyukai ini: