Eottoke?

0
Author :  hyehoonssi, @haekissme

Cast     : Eunhyuk, Lee Hae Ra
Genre  : Romance
Rating : NC 21
Kategori : Romance, Yadong
Happy Reading ^^
Lee Haera’s POV
Hari ini adalah hari pertamaku kembali ke Seoul, ibukota dari negri ginseng tempat dimana aku lahir. Ini adalah pertama kalinya semenjak tiga tahun lamanya karena aku menetap di Jepang. Aku dan ayahku terpaksa pindah ke negara lain karena Appa dipindah tugaskan. Karena kontrak kerja Appa telah habis, akhirnya dalam masa ajaran baru untuk Senior High School, kami memutuskan untuk kembali ke Korea. Karena kepindahan kami yang tiba-tiba dan tanpa persiapan apapun, Appa belum sempat menemukan hunian yang tepat untuk kami tinggali. Sebenarnya dulu kami juga mempunyai rumah di jantung kota Seoul, tetapi tiga tahun lalu kami menjualnya karena kami sudah tidak punya sanak saudara lagi disini.
Aku sudah terbiasa hanya tinggal berdua bersama Appa. Eomma sudah lama meninggal sejak aku berumur tiga tahun. Jadi, aku tumbuh menjadi seorang gadis yang biasa hidup mandiri dan menyelesaikan tugas rumah tangga sendiri. Walaupun aku hanya tinggal dengan ayahku, aku sama sekali tidak terpengaruh tumbuh menjadi gadis yang bersikap seperti lelaki. Justru sebaliknya, aku masih sama seperti kebanyakan gadis lainnya yang selalu bersikap manis.
Segera setelah kami mendarat, kami langsung menuju ke sebuah Senior High School ternama di kota Seoul. Appa mengajakku untuk mendaftar di calon sekolahku yang baru. Aku baru saja masuk ke Senior High School, tetapi sepertinya aku harus mengejar ketinggalanku karena sekolah sudah dimulai sejak tiga bulan lalu.
“Lee Hae Ra~yang, Mulai Senin besok kau sudah bisa masuk sekolah”, ujar Mr.Lee yang menjabat sebagai headmaster di sekolah baruku ini. Lalu tak lama kemudian dia menyerahkan seragam yang dipakai sekolah padaku. Motif pada seragam yang sedang kupegang ini terlihat bagus. Juga roknya berwarna kuning muda yang dicampur dengan biru muda juga dan bermotif kotak-kotak. Nan geuge joh-a.
“Gamsahamnida, Gyojangnim..” Aku menyunggingkan senyum manisku kepada pria paruh baya itu. Kami lalu membungkukkan badan untuk mengucapkan salam perpisahan dan penghormatan kami untuknya.
***
“Hae Ra~ya, karena Appa belum menemukan tempat tinggal tetap untuk kita, untuk sementara kau tinggal dulu dirumah teman Appa, gwenchana?”
Kami berjalan beriringan menyusuri lorong sekolah yang terasa sepi. Mungkin karena jam pelajaran masih berlangsung, jadi tidak banyak terlihat murid-murid yang berkeliaran di lorong ini.
Aku menghentikan langkahku sejenak, menyerap kembali apa yang Appa katakan kepadaku. Bibirku bergetar menahan tangis yang mungkin sebentar lagi akan keluar jika aku tak menahannya.
“Aniyo! Shiro Appa! Aku hanya ingin tinggal bersama Appa.”
Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah, dengan sedikit menaikkan suaraku. Aku merasa dicampakkan, karena aku benar-benar tidak memiliki siapapun lagi selain Appa-ku di dunia ini. Jadi, bagaimana bisa Appa seakan membuangku seperti ini?
“Hae Ra~ya, Appa sengaja memasukkan kau ke sekolah ini karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal teman Appa itu.”
“Aku tidak mau, Appa. Keunde, sebenarnya Appa akan bekerja dimana?”.
“Kantor Appa ada di daerah Incheon.”
“Yaaa~~ Yang benar saja Appa! Jadi kau menaruhku di Seoul untuk mengasingkanku?”
Mendengar penolakan tegas dariku, Appa pun melunak. Beliau memijit keningnya untuk meredakan rasa pusing yang melandanya.
“Dengarkan Appa, Hae Ra. Kau akan lebih bagus bersekolah di Seoul. Lagipula ada teman Appa disini, dan dia juga punya anak yang seumuran denganmu..”, jelasnya lagi mencoba menenangkanku.
“Hajiman, appa…..”, aku berusaha menolak mentah-mentah. Tapi apa daya? aku sudah terlanjur terdaftar di sekolah ini.
***
Author’s POV
Dan dimulai dari hari pertamanya masuk ke sekolah, Hae Ra harus bisa hidup mandiri, tanpa ada Ayahnya disampingnya. Jarak dari Incheon menuju Seoul yang lumayan jauh cukup membuat Hae Ra kelelahan. Pasalnya, dia harus pagi-pagi sekali berangkat ke Seoul menggunakan bus pertama dari daerah itu. Dan parahnya lagi, karena hari ini ayahnya sudah mulai bekerja, dia harus pergi sendiri, dengan pengetahuannya tentang Seoul yang sangat minim. Akhirnya, dia harus bertanya beberapa kali untuk sampai ke tujuannya itu.
Tepat jam setengah tujuh lewat sepuluh Haera sampai di Seoul. Dari halte bus dia masih harus berjalan kurang lebih sepuluh menit untuk sampai ke sekolahnya. Di jalan yang dia lewati, Haera bisa melihat siswa-siswi yang berpakaian sama dengannya juga melewati jalan yang sama.
Seragam sekolah itu memang berbeda dari seragam lainnya, entah mengapa dia merasa jika seragam itu sangat cocok dengan tubuhnya. Tubuh Haera yang ramping namun cukup berisi nampak lebih terlihat karena mengenakan seragam itu.
Dari ujung matanya, Haera bisa melihat seorang lelaki dan perempuan yang beberapa kali menoleh ke arahnya. Dan dari gelagat kedua orang itu, dapat terlihat percakapan mereka mengarah pada dirinya.
“Wah.. Lihat dia! Tubuh gadis itu terlihat sangat bagus..”, ucap namja itu sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.
“Yak! Jadi kau berani menyindirku sekarang? “, kata yeoja yang berada di samping namja itu sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
“Kurangi porsi makanmu, Chagi..”, kata si namja lagi sambil mengelus pipi yeojachingu-nya itu lembut.
“Arasso. Aku akan menjalani diet ketat mulai besok. Kau puas?”, ujar gadis berpipi tembam itu, dan diakhiri dengan adegan si yeoja mencium pipi lelakinya kilat.
Nampak Hae Ra sedikit menggembungkan pipinya kesal. Dia iri, tentu saja. Karena selama ini Hae Ra belum pernah mengalami masa-masa pacaran. Ketika dia masih tinggal di Jepang, ada seorang temannya yang juga berasal dari Korea, sama sepertinya, menyatakan cinta kepadanya. Tetapi, dulu Hae Ra belum berani untuk mengikat hubungan dengan seorang pria. Jadilah dia masih canggung soal urusan namja dan pacaran.
“Ah~ Aku jadi iri pada mereka..”, gumam Hae Ra pelan.
Kakinya terus melangkah berjalan kedepan, sedangkan mata coklatnya masih terus tertuju ke arah sepasang kekasih yang masih kelihatan mesra itu. Dia tidak benar-benar melihat jalan ke depan sehingga merasakan tubuhnya menabrak sesuatu dengan cukup keras.
BRUK!
“Ahhh, appo ”, Hae Ra mengaduh sakit karena merasakan tubuhnya bertumbukan dengan seseorang yang menghalangi jalannya. Dia memegangi pundaknya yang masih terasa nyeri sambil memperhatikan orang di depannya yang menatap gadis itu dengan tatapan yang menggoda.
Sial, mengapa lelaki itu sangat tampan? Batinnya.
Hae Ra menghentikan kecanggungan diantara keduanya dengan menatap wajah lelaki itu. Tetapi pilihannya itu salah. Gadis itu malah lebih gugup saat mata mereka bertemu.
“Mianhaeyo, aku tak sengaja. Emm.. kau tidak apa-apa, kan?”, Hae Ra dengan tulus meminta maaf kepada lelaki itu sambil sedikit mencondongkan badannya ke depan.
Lelaki berambut pirang itu masih tidak menanggapi, dan hanya mengamati tubuh Hae Ra, dari atas ke bawah.
“ Besar…”, ucap namja itu dengan suara parau. Sepertinya dia tidak menyadari jika dirinya mengatakan hal itu, dilihat dari wajah polosnya yang masih terbengong mengagumi tubuh Hae Ra.
“ De? Apa maksudmu?”
“ Anieyo. Aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu kembali, gadis cantik”.
Lelaki itu mempercepat langkah kakinya. Tetapi Hae Ra masih saja berdiri di tempatnya, memikirkan apa yang diucapkan oleh namja berkulit putih itu.
“Besar?? Apanya yang….”
Seketika Hae Ra terkejut karena arah pandang dari lelaki asing itu tadi. Wajahnya memerah, dengan amarahnya yang semakin meluap karena perlakuan tak pantas dari lelaki itu.
“ Lelaki kurang ajar, akan kupastikan kau mendapatkan balasannya nanti”.
***
Ting Tong
Bel tanda masuk berbunyi. Hae Ra pun segera mempercepat langkah kakinya menuju kelas baru yang akan ditempatinya kali ini. Setelah menemukan ruangan yang ditujunya, gadis itu sedikit merapikan rambut dan kemejanya yang sedikit berantakan karena perjalanan jauh yang dilewatinya.
Tok Tok
Ketukan pintu itu disambut oleh suara seorang pria yang dia prediksi sebagai wali kelasnya. Hae Ra masuk ke ruangan itu dengan langkah tertahan, karena mungkin dia belum terbiasa dengan suasana disini. Dia bercakap-cakap dengan guru itu sebentar, kemudian pria paruh baya itu memperkenalkannya di depan semua teman sekelasnya.
“Anak-anak! Perkenalkan, ini Hae Ra. Hae Ra akan menjadi teman baru kalian mulai hari ini”
“ Annyeong haseyo, Lee Hae Ra imnida. Bangapseuminda”.
Perkenalan dari Hae Ra itu disambut riuh oleh siswa-siswi yang berada di penjuru ruangan. Dan tentunya, suara itu lebih didominasi oleh suara namja, karena memang kecantikan Hae Ra yang alami yang tak bisa diabaikan begitu saja, tentu saja menarik perhatian bagi pria-pria seusianya.
Setelah dipersilahkan duduk di tempat yang ditunjuk gurunya, Hae Ra segera menuju ke mejanya, diiringi dengan tatapan memuja dari bangku-bangku yang dilewatinya. Bukan hanya pria, gadis-gadis pun mulai membicarakannya dengan banyak pujian yang dilontarkan mereka.
Bangku yang ditempatinya berada di urutan paling belakang, dengan teman sebangkunya, sedang menelungkupkan kepalanya di meja. Sepertinya dia sedang tidur, pikir Hae Ra. Hae Ra menaikkan bahunya tak peduli, dan mempersiapkan alat-alat tulisnya untuk mulai mengikuti pelajaran.
“ Kita bertemu lagi, gadis cantik”, ujar Lee Hyuk Jae – begitulah yang tertera di papan namanya- sambil mengedipkan sebelah matanya. Mata Hae Ra melebar melihat sosok lelaki yang tak sengaja ditemuinya pagi hari ini.
“ Neo…..”
“ Ya. Aku namja yang bertemu denganmu tadi pagi. Wae? Kau terkejut? Anggap saja kita memang ditakdirkan untuk bersama”.
“ Yak! Kau benar-benar….”
Pertengkaran itu tanpa disadari oleh mereka membuat seisi kelas menoleh ke belakang. Tak lupa dengan kehadiran Park Songsaengnim yang semakin mendekat ke meja yang mereka tempati, membuat jantung Hae Ra berdegup lebih keras daripada biasanya.
“ Kalian, segera kerjakan soal itu di papan tulis. Sekarang”.
***
Tepat jam lima sore, waktu sekolah sudah selesai. Saatnya Hae Ra untuk tinggal di rumah barunya. Tetapi Hae Ra masih belum tau di mana rumah teman ayahnya itu. Tuan Lee pernah mengatakan kepadanya bahwa rumahnya itu tidak jauh dari sekolah. Sebenarnya, ayahnya sudah titip pesan kepada temannya itu agar anaknya dan Hae Ra dapat pulang bersama. Di sekolah tadi, Hae Ra pun menampakkan dirinya di penjuru tempat agar anak itu dapat menemukannya, tetapi hasilnya nihil.
Raut wajah Hae Ra yang kelelahan terlihat lebih lesu. Dia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang dia punyai dan mengepalkan kedua tangannya di atas udara. “Aku pasti bisa menemukan dimana rumahnya, Hwaiting Hae Ra!”, ujarnya penuh semangat. Gadis itu lalu Hae Ra segera berjalan melewati gerbang sekolah dan mulai mencari rumah teman Appa-nya.
Dengan bekal peta sederhana dan daya ingatnya yang tak begitu bagus, akhirnya Gadis itu bisa menemukan alamat yang ditujunya. Syukurlah, karena kakinya terasa remuk setelah berjalan selama kurang lebih tiga puluh menit.
Ternyata yang dikatakan ayahnya benar. Rumah itu hanya beberapa blok saja dari sekolahnya. Rumah di hadapannya ini ukurannya lumayan besar dan terdiri atas dua lantai. Halaman di balik gerbang itu terlihat luas, dengan dikelilingi oleh berbagai macam tanaman yang membuat Hae Ra kagum. Hae Ra memang menyukai segala hal yang berbau dengan tanaman, dan tentu dia yakin dirinya akan menjadi semakin betah tinggal disini.
Ting Tong
Hae Ra memencet bel yang berada di tembok samping pagar rumah. Tidak ada jawaban apapun. Hae Ra memencet bel tersebut sekali lagi. Tetapi tak ada yang menyahut, sama seperti tadi. Hae Ra menoleh ke arah kotak surat yang terbuka, dan menemukan sebuah amplop putih yang bertuliskan namanya. Dengan ragu, gadis itu merobek ujung amplop dan mengeluarkan secarik kertas yang berada di dalamnya.
“Annyeonghaseyo, Lee Hae Ra-ssi. Mianhaeyo karena aku tidak bisa menyambutmu datang ke rumah ini. Aku mendadak harus pergi ke luar kota karena urusan kantor, dan istriku masih menjaga ayahnya di rumah sakit. Jangan sungkan, segeralah masuk ke dalam. Jika kau tidak pulang bersama anakku, kau bisa temukan kunci rumah ini dibawah pot sebelah kanan pagar. Salam. Tuan Lee Hyuk Min.”
Begitulah kurang lebih isi pesan yang diterimanya. Dia bisa menyimpulkan, jika beberapa hari ini dia akan tinggal berdua bersama anak dari Tuan Lee itu. Bagaimana jika anak Tuan Lee Hyuk Min adalah seorang lelaki?
Hae Ra menggeleng-gelengkan kepalanya, menyingkirkan prasangka buruk yang bersarang di pikirannya. Kemudian gadis itu mengambil kunci di tempat yang sudah diberitahukan padanya, membuka pagar dan pintu depan rumah itu lalu masuk ke dalamnya.
***
Setelah menemukan kamar yang mungkin adalah kamar untuknya –setelah melihat barang-barang yang ada di kamar itu- Hae Ra segera bergegas membersihkan badannya, dan setelah itu memakai pakaian rumahan favoritnya. Celana pendek yang hanya sampai pahanya. Membuat kaki ramping dan kulitnya yang putih tampak lebih terlihat. Untuk atasannya, Hae Ra memilih baju tanpa lengan bertali tipis berwarna putih polos. Karena potongan baju itu rendah, membuat dadanya menyembul dibalik kain tipis yang menutupinya.
Hae Ra merebahkan tubuhnya di kasur setelah selesai merapikan kamar barunya. Dia menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya rasa kantuk menyerangnya. Kesadarannya lama-kelamaan semakin lemah sehingga dia memejamkan kedua matanya. Hari yang sangat lelah, dan Hae Ra berharap jika esok hari tak ada orang menyebalkan lagi yang mengganggu hidupnya.
***
Hae Ra membuka kulkas besar yang berada di dapur di rumah yang baru ditempatinya itu. Gadis itu bernafas lega ketika melihat macam-macam makanan instan yang berada di dalamnya.
Setelah menyiapkan berbagai makanan untuk sarapannya di atas meja makan, Hae Ra menangkap suara langkah kaki yang menuju ke tempat yang ditempatinya saat ini. Betapa terkejutnya dia setelah mengetahui siapa pemilik langkah kaki itu.
“ Kau….Jadi kau…anak dari Tuan Lee Hyuk Min…Kau…”
“ Kau terkejut, nona manis? Ya. Aku memang anak dari pemilik rumah ini, dan dari awal aku sudah mengetahui siapa dirimu”.
“ Jadi..kau sengaja pura-pura tidak tahu untuk mengerjaiku? Yak! Kau sudah bosan hidup, hah?”
Hyuk Jae memamerkan senyum gusinya untuk semakin menggoda Hae Ra, membuat asap di kepala Hae Ra semakin menebal. Hae Ra segera menyelesaikan sarapannya lalu menyimpan alat makannya di wastafel, tanpa sedikitpun menghiraukan Hyuk Jae yang masih saja memperhatikan dirinya.
Hae Ra melangkahkan kakinya melewati tubuh kurus namja itu, tetapi sebuah cengkeraman di pergelangan tangannya menahannya.
“ Mulai saat ini, kau harus mengikuti semua perintahku. Dan untuk tugas pertama, kau harus berangkat ke sekolah bersamaku”.
***
Hae Ra meronta saat tangan kekar itu tidak juga melepaskan genggamannya. Hae Ra mendesah pasrah saat menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian semua orang sekarang. Banyak gadis-gadis yang berbisik-bisik saat melihat Hae Ra dan Hyuk Jae melewati lorong-lorong sekolah. Diantaranya Hae Ra menangkap beberapa gadis menatapnya tajam.
Setelah sampai ke kelas, Hyuk Jae tak lantas melepaskan Hae Ra. Lelaki itu malah membawa dirinya ke arah kumpulan siswa yang sedang berkumpul di salah satu sudut ruangan.
“ See? Aku bisa mendapatkannya. Sudah kubilang, kan? Semua gadis pasti akan takluk dengan pesona yang dimiliki oleh seorang Lee Hyuk Jae”.
Satu dari ketiga namja itu lalu menggedikkan bahunya, dan mendekati sepasang lelaki dan perempuan yang tangannya masih saling bergandengan erat.
“ Benarkah kau sudah menjadi kekasih Lee Hyuk Jae, Hae Ra~ssi?”
Hae Ra menggangguk pelan menjawab pertanyaan lelaki itu. Hyuk Jae sejak tadi menyuruhnya untuk mengiyakan apa saja yang ditanyakan teman sekelasnya itu, tetapi Hae Ra sama sekali tidak tahu jika hal itu yang akan ditanyakan kepadanya.
“ Buktikan pada kami”.
“ Mwo? Yak, Seung Jo~ya, Hae Ra sudah mengakui jika kita sudah menjalin hubungan. Kau butuh apalagi, huh?”. Hyuk Jae tidak terima dengan permintaan Seung Jo. Tentu saja dia tidak mau repot-repot membuktikan kepada orang lain hubungan pura-puranya itu.
“ Ah, Benar kan? Lee Hyuk Jae hanya membohongi kita. Jadi, mari kita anggap perjanjian kita kemarin batal”.
Dengan gerakan cepat, Hyuk Jae membalikkan tubuh Hae Ra yang berada di sampingnya itu ke arahnya dan tanpa aba-aba, Hyuk Jae mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu sekilas. Hae Ra tidak bisa berbuat apapun dan hanya terbengong melihat aksi Hyuk Jae.
Ciuman pertama Hae Ra….
Hyuk Jae tersenyum puas melihat ekspresi yang ditunjukkan teman-temannya. Seung Jo lalu mengeluarkan isi dompetnya, dan menyerahkan semuanya kepada Hyuk Jae. Hyuk Jae menerimanya dengan senang hati, dan menarik “ kekasihnya” jauh dari tempat itu.
“ Yakkk pria mesum, apa yang kau lakukan padaku??”
***
Hae Ra menatap wajahnya dari pantulan cermin. Tidak ada yang berubah, tetap sama seperti sebelumnya. Tetapi pipinya berubah merah ketika mengingat kejadian pagi tadi di sekolahnya. Hae Ra menyentuh bibirnya dengan jarinya sambil menggigit sebagian bibir bawahnya. Kejadian itu terus berputar di kepalanya, membuat jantungnya berdegup sangat kencang.
Hyuk Jae memang bersikap seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Namun Hae Ra merasakan setiap kegiatan yang dilakukan lelaki itu membuat jantungnya berdetak tak karuan. Gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, mengusir bayangan Hyuk Jae yang selalu memenuhi pikirannya sejak tadi.
Bodoh kau Hae Ra, mana mungkin kau bisa menyukainya secepat itu?
Perutnya terasa sakit, membuat Hae Ra menyadari jika dia melewatkan makan siangnya tadi. Sedangkan ini sudah malam dan dia tidak memakan apapun hari ini kecuali sarapan yang tadi pagi dibuatnya.
Dengan enggan, Hae Ra meninggalkan kamarnya itu. Hae Ra merasa sedikit takut untuk keluar dari ruangan pribadinya karena mengetahui Hyuk Jae juga sudah berada di rumah ini. Sejak tadi pagi, dia memang menghindari anak laki-laki itu dan lebih memilih untuk sebangku dengan orang lain, menempati bangku yang kosong karena penghuninya tidak masuk sekolah.
Hae Ra melangkah ke arah dapur dengan suara pelan, karena mendengar suara televisi yang dinyalakan. Hae Ra sedikit asing dengan suara-suara aneh yang didengarnya, tapi toh dia tidak perduli, yang penting sekarang, dia bisa mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
***
Ahhhh……
Sekali lagi cairan kental keluar dari dalam junior Hyuk Jae yang menegang. Celananya sudah basah dari tadi karena sudah mengalami orgasme beberapa kali. Setelah puas menonton film ‘blue’ favoritnya ini, Hyuk Jae merasa tenggorokannya kering. Dia lalu memakai celana trainingnya kembali dan segera bergerak menuju dapur.
Hyuk Jae mencium bau ramyeon dari arah dapurnya. Tetapi karena rasa dahaga yang tengah menguasainya, dia pun tidak memikirkan hal itu. Setelah sampai ke dapur di rumahnya itu, Hyuk Jae pun mengambil air dari dalam lemari pendingin dan meneguk air putih itu dari botolnya sekaligus.
Saat membalikkan badannya, mata tajam Hyuk Jae menangkap sesosok yeoja sedang mengangkat panci ramyeon yang baru matang. Gadis itu menuangkannya kedalam mangkuk di meja makan, membuat dadanya yang bergelantungan semakin tercetak jelas.
Pikiran kotornya malah berkembang menuju arah lainnya. Hyuk Jae masih menatap Hae Ra yang belum menyadari kedatangannya. Mata Hyuk lagi-lagi mentap ke arah dada Hae Ra yang hanya berbalut tanktop tipis. “Aku sangat penasaran dengan itu..”, gumam Hyuk pelan.
Hyuk Jae menuju kearah Hae Ra perlahan, dan dengan tiba-tiba merangkul pinggul Hae Ra yang ramping dari belakang dengan kedua tangan besarnya. Hae Ra yang notabenenya tidak mengetahui apapun, kaget karena merasa ada orang yang sedang memeluknya. Hae Ra sudah mengetahui siapa yang mendekapnya dari belakang itu, karena dengan hanya mencium wangi maskulinnya. Gadis itu tidak ada kemauan sedikitpun untuk melepaskannya, karena rasa nyaman yang didapatnya begitu memabukkan.
Hyuk Jae mendekatkan wajahnya ke sekitar telinga kanan dari gadis itu, membuat Hae Ra memejamkan kelopak matanya. “ Uhm…bisakah kita bermain sedikit, Sayang?”. Suara seksi Hyuk Jae meningkatkan libido gadis itu dengan cepat.
Hae Ra tidak bisa menolak. Dirinya juga tidak tahu, sejak kapan dia menjadi liar seperti ini.
Hae Ra menggigit bibirnya ketika merasakan sentuhan bibir Hyuk Jae di lehernya. Lelaki itu menekan bibirnya di sekitar tengkuk Hae Ra, membuat gadis itu merasa geli.
“ Hentikan, Hyuk Jae~ssi…euummmmm…..”. Perkataan Hae Ra tidak digubris sedikitpun oleh Hyuk Jae. Hyuk Jae malah semakin semangat menciumi leher putih milik gadis itu. Tangannya yang memeluk pinggang Hae Ra kini mulai meraba-raba perut datar gadis itu dan semakin naik ke atas, membuat Hae Ra memekik pelan karena merasa semakin terangsang.
Sebelah tangan Hyuk Jae mulai menyentuh sesuatu yang menonjol di balik kaos tipis yang Hae Ra gunakan. Tangannya semakin liar meraba dan meremas dada Hae Ra yang polos tanpa bra. Hae Ra terbiasa melepas bra-nya sebelum tidur untuk menjaga kesehatan dari payudaranya, dan malam ini, tentu saja itu adalah salah satu keuntungan untuk Hyuk Jae karena lelaki itu tidak perlu repot-repot melepas pakaian dalamnya.
Perlakuan Hyuk Jae di dada Hae Ra, membuat gadis itu merasakan sesuatu yang nikmat, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Hyuk Jae semakin memperlakukan gadis itu lebih, dengan memainkan nipplenya yang sudah mulai menegang. Hyuk Jae menggunakan ibu jari dan telunjuknya menggoda benda yang mulai mencuat itu, memelintirnya dengan gerakan memutar.
“Aaaaaaahh…. Aaahh.. Hyuk-ssi… Jebaaaal….”, Hae Ra meracau tak jelas. Dia tidak bisa membedakan apakah erangannya itu tanda dia menikmati atau adalah merupakan suatu perlawanan darinya. Hyuk Jae semakin memperkecil jarak diantara mereka.
Hae Ra merasakan benda keras milik Hyuk Jae yang menonjol di bokongnya. Aku rasa itu Junior Hyuk sudah mulai menegang didalam celana boxernya, Hyuk menempelkannya pada bokong Hae Ra yang masih berbalut celana. Bibir Hyuk Jae masih terus menciumi dan menjilati leher gadis itu dan meninggalkan banyak jejak berwarna keunguan disana. Ciuman Hyuk Jae mulai turun ke pundak Hae Ra, tetapi sepertinya tali dari tanktop yang dipakai Hae Ra mengganggu pekerjaannya, sehingga dengan segera Hyuk Jae menurunkan tali tipis itu hingga ke bawah.
Karena sudah bosan dengan bagian belakang Hae Ra, Hyuk Jae lalu membalikkan tubuh Hae Ra, dengan tangannya masih tidak mau melepaskan mainan kenyal barunya. Hae Ra sedikit tersadar, dan memikirkan apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Pikirannya melayang memikirkan jika hal yang saat ini dia perbuat itu tidak benar, tetapi dia tak bisa membohongi dirinya sendiri jika saat ini dia sangat menikmati perlakuan Hyuk Jae. Jangankan melawan, sedari tadi tangan dan bibirnya justru digunakan untuk mendorong Hyuk Jae untuk melakukan lebih.
“Hyuk-ssi.. Jebaaal.. Aaah… Andwaaee….”, ucap Hae Ra memohon supaya Hyuk menghentikan aksi Hyuk Jae yang membuat Hae Ra merasa kenikmatan. Tapi Hyuk Jae tidak sedikitpun menggubrisnya, dan malah semakin gencar meremas-remas dada bulat milik gadis itu.
“Jebaal, Hyuk-ssi… Jangan lakukan ini padaku, aku tidak bisaa..”, ujar Hae Ra dengan penuh permohonan, sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangisan yang akan keluar dari bibirnya.
“Waeyo?? Bukankah kau juga menikmatinya?”. Hyuk Jae berkata sambil memamerkan seringaian khasnya. Kurang ajar kau Lee Hyuk Jae, gumam Hae Ra dalam hati. Jarak mereka berdua yang sangat dekat membuat Hae Ra semakin tak berkutik. Apalagi, aroma tubuh Hyuk Jae yang menusuk tepat di hidungnya membuat gairahnya semakin naik.
Tanpa Hae Ra duga, Hyuk dengan perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Hae Ra, Hyuk Jae langsung mengunci bibir tipis Hae Ra. Lelaki itu melumat bibir Hae Ra kasar, membuat Hae Ra semakin tak berkutik dibuatnya.
“Sssshhh… heeempp.” Hae Ra meracau saat menerima ‘lip service’ yang diberikan lelaki yang sedang mencumbunya itu. Desahan Hae Ra membuat junior Hyuk Jae menjadi bersemangat lagi untuk bangun. Hae Ra belum membalas ciuman Hyuk Jae, dan masih mengunci rapat bibirnya.
Akhirnya tangan nakal milik Hyuk Jae mulai beraksi. Tangan kirinya langsung menuju organ vital milik Hae Ra yang masih tertutup celana, jarinya mengelus area itu dengan gerakan seduktif, sehingga berhasil membuat Hae Ra mendesah tak karuan. “Aaaahh.. Hyuuukieeee…”. Tentu saja perlakuan itu menjadikan jalan masuk lidah Hyuk Jae kedalam rongga mulut untuk menjelajahi bagian itu lebih dalam.
Hyuk Jae Mendorong tubuh Hae Ra kebelakang, hingga tubuh Hae Ra benar-benar tersudut dan menyebabkan punggungnya menempel ke tembok. Lidah Hyuk Jae semakin aktif menerobos masuk ke dalam mulut gadis berambut panjang itu. Mereka tak hentinya berciuman, saling melumat dan bertukar saliva. Hyuk Jae semakin merapatkan tubuh mereka, sehingga bagian bawah mereka bertemu. Kejantanan Hyuk Jae yang sudah berdiri dari balik celana miliknya terus digesekkan dengan selangkangan Hae Ra, membuat Hae Ra meloloskan desahan seksi di sela bibir mereka yang masih terpaut.
Perlahan, tangan Hyuk Jae bergerak masuk meraba sesuatu yang masih terhalang kain, dan perlahan mengelus lipatan sempit itu. Namun itu terasa tidak cukup olehnya. Entah mendapat perintah dari otak sebelah mana, jemari panjang Hyuk Jae bergerak lebih cepat dan lebih kasar di permukaan organ intim tersebut. Hae Ra pun mulai terbawa dengan permainan Hyuk Jae, meremas rambut hitam milik pria itu disela erangan yang tak henti keluar dari bibirnya.
Hyuk Jae menusukkan satu persatu jemarinya diantara lipatan sempit milik Hae Ra, membuat Hae Ra mengaduh kesakitan. Hyuk Jae mengerti dan mendiamkan jemarinya itu sebentar, kemudian beberapa menit kemudian mulai menggerakkan jemari panjangnya, mengaduk-aduk rongga kemaluan gadis itu.
“ Ahhhh…eeungggghhh…fasterrrr”.
Hae Ra benar-benar sudah tidak bisa menghentikan semua kegiatan ini sekarang. Perlakuan jemari Hyuk Jae di organ sensitifnya membuat dirinya menjadi semakin kewalahan. Dan beberapa saat kemudian, dia merasakan jika ada sesuatu yang akan keluar dari tubuhnnya.
“Arrrggghhhh….”
Hyuk Jae merasakan cairan kental melumuri ketiga jarinya. Dia tak membiarkan Hae Ra beristirahat sebentar pun, dan malah membuka seluruh pakaian yang masih melekat pada tubuhnya. Hyuk Jae mengocok benda tumpul itu sejenak, sebelum kemudian memposisikannya tepat di atas selangkangan Hae Ra.
Sakit. Tentu saja itu yang dirasakan Hae Ra saat Hyuk Jae mulai memasukkan bagian dari benda keras kebanggaannya. Penetrasi terasa sangat sakit, apalagi ini baru pertama kali Hae Ra rasakan. Gadis itu bergerak gelisah, dengan tangannya yang meremas bungkus sofa hingga berantakan.
Dan beberapa lama kemudian, Hyuk Jae berhasil melakukannya. Lelaki itu menatap bagian bawah mereka yang basah dan penuh dengan cairan berwarna merah. Hyuk Jae sedikit menurunkan tubuhnya, sebelum kemudian mendaratkan ciuman lembutnya di puncak kepala gadis itu.
“ Kurasa aku mulai menyukaimu…Maukah kau menjadi pacarku?”
Pernyataan itu nyatanya tidak langsung dibalas oleh Hae Ra. Gadis itu malah merasakan nikmat saat lipatan sempitnya mulai berkedut, karena tak sengaja Hyuk Jae menggerakkan benda tumpul miliknya. Hyuk Jae pun meresponnya dengan mengeluar masukkan kejantanannya, membuat desahan keduanya saling bersahutan.
“ Kau…emhhh….sangat indah….Lee Haera..eunggghhh”
“ Pppaalllii….aku..eungghhh sudah tidak tahan…”
Hae Ra pun menggerakkan tubuhnya berlawanan, sehingga benda keras milik Hyuk Jae semakin menyentuh titik rangsangnya. Mereka berdua semakin mempercepat gerakan karena sama-sama ingin segera mencapai puncak.
“ Hyuk Jae aaahhhhhh….”
“ Hae Ra…ahhh…..”
Teriakan bersamaan dari keduanya menandakan bahwa mereka sudah mencapai puncak kenikmatan itu. Tubuh kekar Hyuk Jae ambruk di atas tubuh Hae Ra. Mereka saling bertatapan sejenak, mendalami perasaan aneh yang mereka miliki di hati masing-masing.
“ Kau masih belum menjawab pertanyaanku”.
“ Pertanyaan yang mana? Oh, itu…aku…sepertinya aku sudah menyukaimu sejak awal. Jadi ya, aku mau menjadi kekasihmu”.
Hyuk Jae mendekap tubuh Hae Ra erat, merasa senang karena pernyataan cintanya disambut baik oleh gadis itu. Dari kejauhan, mereka mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah ruang tamu yang sedang mereka tempati.
“ Hyuk Jae~ya, Eomma wasseo”.

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: