I’m Dare To F-ck You

1
1. Author : Arisa Glice (Lee Eun Shin)
2. Judul : I’m Dare To Fuck You
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
· – Lee Donghae
· – Lim Yoo Jin
· – Lee Hyukjae
· – Choi Siwon
· – Cho Kyuhyun
· – Many others, find them by yourself

Annyeong! Ini sebuah karya pertama yang berhasil di-publish di sini heuheu n_n dan ini ff buatan 2 orang yang benar-benar gaje kayaknya-_- 100% milik kami, buatan kami, dan tidak sepantasnya untuk diplagiat! Sebenernya ini udah kependem sebulan yg lalu, Cuma baru liat procedure pengiriman ff-nya jadi bulan ini baru bisa ngirim Enjoy it NCsplodes, happy reading! Sorry for the NC-part can’t fulfil ur demand nn

———————————
Author POV
Sebuah rumah bergaya mediteranian begitu terang akan sorotan lampu dari dalam hingga keluar rumah. Sebuah pesta besar di kediaman keluarga Choi untuk merayakan keberhasilan Mr. Choi membangun sebuah perusahaan baru di kawasan Seoul. Sebuah alunan musik klasik mengiringi pesta yang dimulai sejak pukul 8 malam. Sebuah meja bundar di sudut ruangan menghadap kearah kolam dipenuhi dengan anak muda bercengkrama. Seorang lelaki ber-tuxedo hitam yang bernama Choi Siwon sedang bercerita pada teman-temannya bagaimana mereka bisa diundang dalam pesta besar ayahnya.
“Kurasa lebih baik Mr. Choi tidak mengadakan acara membosankan ini dan menggantinya dengan Beach Party di Miami sana. Lebih menyenangkan,” sahut seorang gadis berambut hitam bernama Lim Yoo Jin seraya menyesap cairan red wine dari gelas kaca yang ia genggam di jemari lentiknya. Siwon mengendus kecil. Bahkan dirinya tidak tahu jika ayahnya mendirikan perusahaan baru. Itu dapat membuat Siwon semakin kewalahan sebagai pewaris tunggal—karena dia anak semata wayang Choi Hyun Jae.
“Atau lebih menakjubkan lagi jika sekarang kita berada di sebuah Sex Party,” celetuk lelaki lain yang berambut pirang menyeringai.
“Hentikan semua pikiran mesummu, Eunhyuk-ah. Apa kau sedang kehabisan koleksi blue film?” sahut Yoo Jin kembali.
“Tidak tahu, lupakan. Sekarang pukul berapa? Aku benar-benar bosan berada disini.” Eunhyuk melirik alroji emas yang melingkar di tangan Donghae—si lelaki berambut hitam pekat dengan kemeja putih bergaris.
“Gila?! Sedari tadi kita berbincang-bincang disini hanya setengah jam? God, apa tidak ada hal yang lebih membosankan?” Eunhyuk mengerang kesal memutar matanya menatap sekeliling—seakan mencari hal yang dapat menjadi pencuci mata. Pesta masih ramai akan rekan kerja Mr. Choi. Jarang ada tamu anak muda yang datang kecuali dirinya. Jika ada pun pasti orang itu adalah pengusaha muda bukan seperti Eunhyuk dan lainnya yang menghabiskan masa muda hanya untuk menghamburkan uang orang tua.
Ia ingin sekali cepat pulang dan menonton beberapa video yang belum dijamahi ketimbang mendatangi acara resmi seperti ini. Namun ia tidak enak jika pulang terlebih dulu dari tamu lainnya. Donghae meneguk habis segelas kecil scotch. Siwon mengambil botol scotch lalu menuangkan isinya ke dalam gelas hingga habis. Kyuhyun—lelaki yang sedari tadi lebih memilih diam sembari mendengarkan keluahan dari Eunhyuk—sekarang mengernyit menatapi botol yang sudah kosong itu kemudian senyuman misterius keluar dari bibirnya.
“Bagaimana jika kita bermain Truth or Dare?” usul Kyuhyun. Semua memandang Kyuhyun dengan tatapan heran.
“Truth or Dare? Permainan apa itu?” Seorang gadis berambut coklat muda yang berada di sebelah Siwon membuka suara. Tae Rin, yang merupakan kekasih Siwon.
“Truth berarti kejujuran. Jika memilih Truth, kalian harus menjawab pertanyaan dengan sejujurnya. Dare berarti keberanian. Jika memilih ini, kalian harus melakukan apapun yang diperintahkan si pemenang.”
“Lantas bagaimana cara bermainnya?” Eunhyuk menatap Kyuhyun datar. Tingkat kebosanannya sudah melebihi Menara Pisa. Kyuhyun mengeluarkan napas kecil lalu mengubah posisinya. Ia mengambil botol beling kosong itu, menengkurapkan lantas memutarnya pelan.
“Salah satu dari kita memutar botol ini. Ujung botol akan berhenti dan mengarah ke salah satu dari kalian. Jika salah satu terpilih, kalian akan menerima pertanyaan atau tantangan dari si pemutar botol, tergantung kalian memilih Truth or Dare.”
“Menarik,” sela Eunhyuk cepat. Kyuhyun mengeluarkan seringaian khasnya memandangi satu persatu dari mereka, meminta sebuah persetujuan untuk memainkan permainan ini. Mereka semua mengangguk setuju.
“Siapa yang akan memutar botol ini?” tanya Kyuhyun mengangkat alisnya.
“Karena pemilik pesta ini adalah Mr. Choi jadi kurasa kau dulu, Siwon-ah.” Eunhyuk memberi usul dibalas dengan anggukan kepala dari Siwon.
Siwon memutar bola dengan tempo cepat searah jarum jam. Semua memperhatikan botol itu dengan saksama. Kecepatan botol melambat berputar melewati Kyuhyun dan Sun Hee, lalu melambat kearah Yoo Jin, dan akhirnya berhenti menunjuk ke arah gadis berpakaian sedikit terbuka, Hye Mi. Mereka mendesah lega kecuali Hye Mi, tentunya.
“Truth,” kata Hye Mi tanpa basa-basi. Siwon menyandarkan punggungnya ke senderan kursi. Tatapan serius terarah untuknya menunggu pertanyaan yang akan terlontar dari mulut Siwon.
“Well, selama ini kau tidak pernah pacaran bukan? Kuakui kau cantik dan mana mungkin tidak ada lelaki yang ingin mendekatimu.” Sun Hee mendelik kesal kearah Siwon mendengar penuturannya. Ia tersenyum mengusap kepala Tae Rin mesra. Donghae terkekeh kecil seraya menggeleng sembari mengambil gelasscotch-nya.
“Siapa sih, lelaki yang kau suka?” Hye Mi memang jarang bersama lelaki meskipun banyak yang mau dengan Hye Mi yang memiliki wajah cantik dan senyum menawan.
“Good job, Siwon. Jujur banyak lelaki yang menginginkanku tapi aku tipikal wanita pemilih. Tidak sembarang orang dapat menjadi pacarku. Dan… aku tengah menunggu seseorang.” Hye Mi mengambil nafas dalam dan melirik kearah Kyuhyun sesaat, “Dia begitu perhatian dan aku merasa nyaman jika dia berada di dekatku. Kyuhyun.” Semua tersentak kaget tidak terkecuali Kyuhyun. Keadaan menjadi canggung seketika. Hye Mi menudukan wajahnya malu.
“Siapa yang selanjutnya memutar?” Siwon memecahkan suasana. Mereka saling menatap hingga semua mata tertuju pada Donghae.
Permainan itu berlanjut begitu mengasyikkan. Tawa dan ketegangan mengiringi permainan itu. Hal yang mengejutkan menimpa Kyuhyun saat diberi tantangan dari Yoo Jin. Mencium Hye Mi. Itu dilakukan karena terpaksa dan Hye Mi mengerti—meski dirinya seperti tidak lagi memijak tanah melayang jauh ketika Kyuhyun menciumnya.
Kini botol itu kembali berputar, mereka memutuskan bahwa ini adalah putaran botol terakhir karena malam mulai larut. Dan orang yang belum memutar botol itu hanya Eunhyuk maka ialah yang memutarnya. Botol itu bergerak semakin lambat hingga berhenti tepat menunjuk Yoo Jin. Entah kebetulan atau keberuntungan karena memang Yoo Jin yang sama sekali belum tertunjuk. Ia menghembuskan nafas berat, mengarahkan tatapan datarnya pada Eunhyuk, “Dare.”
Eunhyuk tersenyum miring. Tangannya terlipat di atas dadanya yang bidang.
“Yoo Jin, tadi kau mengatakan jika aku kehabisan koleksi video porno. Ya, itu betul sekali. Dan aku dengar kau sedang dekat dengan Donghae. Benar begitu, Donghae-ah?” Donghae tersentak kaget, menatap tajam kearah Eunhyuk lalu melirik Yoo Jin.
“Mungkin ini akan menjadi ‘Dare’ menakutkan sepanjang sejarah peradaban manusia.”
“Bisakah lebih cepat sedikit? Katakan tujuanmu.” Donghae paling tidak suka basa basi, apalagi dia begitu penasaran dengan tantangan apa yang diberikan Eunhyuk.
“Aku ingin…. kau menambah koleksiku,” tukas Eunhyuk pada akhirnya.
“Berapa? Itu mudah aku akan membawakan satu lusin blue film untukmu besok,” kata Donghae meremehkan.
“Oh tidak… tidak… Maksudku, aku ingin kau dan Yoo Jin yang menjadi pemainnya.”
“MWOO?!” Geez. Yoo Jin dan Donghae sama-sama terkejut. Donghae memandang Eunhyuk dengan tatapan membunuh.
“Permainan macam apa ini? Konyol sekali!” desis Donghae menggertakan giginya. Yoo Jin menelan ludahnya habis-habisan.
“Kau harus mengikuti peraturan yang berlaku. Tenang saja, kau hanya merekam adegan itu lalu berikan padaku, aku yang melihatnya dan tidak akan aku sebarkan ke orang lain.” Wajah Yoo Jin semakin menegang. Bercinta? Dengan Donghae? Gee. Raut wajah Donghae terlihat datar.
“Maaf, peraturan tetap peraturan. Jadi, aku beri waktu 3 hari.” Yoo Jin menghembuskan nafas berat. Kemudian ia berdiri, pamit untuk meninggalkan kediaman Mr. Choi yang beranjak sepi akan perayaan pesta di sana.
***
Suara dentuman musik beat mengalun membuat siapapun yang mendengarnya akan bergoyang mengikuti alunan itu. Tempat itu tidak pernah tidur di waktu malam dan akan sepi di siang hari. Itulah ciri-ciri sebuah Club Malam. Terlihat seorang gadis mengenakan croptee memperlihatkan perutnya yang rata dengan perpaduanhotpants ikut meliuk-liukkan tubuhnya di bawah sorot lampu warna warni. Dengan seorang lelaki masih pada posisinya—memperhatikan gadis itu sedari tadi. Tubuh Donghae—namja itu—tersentak ketika mata gadis yang sedang diperhatikannya kini terarah padanya. Yoo Jin—gadis ber-croptee itu—tersenyum mendekati Donghae yang terduduk di dekat bartender.
“Hey, Donghae! Kau sudah dari tadi disini?” tanya Yoo Jin duduk di samping Donghae dan dibalas dengan anggukan satu kali oleh si lawan bicara.
“Teruskan saja kegiatanmu. Aku tidak ingin mengganggu,” kata Donghae. Yoo Jin menggeleng kecil berniat menolak.
“Err… Yoo Jin, kau tahu kan—”
“Ya aku tahu, bahkan aku sedang memikirkannya.” Yoo Jin mengangkat gelasnya dan menyuruh bartender menambahkan red wine pada gelasnya. Donghae menghembuskan nafas berat. Gara-gara permainan konyol itu membuat Yoo Jin menjadi korban. Donghae memang sering bermain dengan wanita jalang di sekitar club ini tapi untuk melakukannya dengan Yoo Jin rasanya tidak mungkin mengingat Yoo Jin orang yang tidak suka kehidupan berbau ‘sex’. Yoo Jin hanya suka club malam dan red wine.
”Aku tidak akan memaksamu tapi… yeah itu tantangan,” ujar Donghae kembali menatap Yoo Jin. Tubuh Yoo Jin mendekat. Ia mengerling nakal, lantas menyentuh resleting yang berada di bagian dada mantel Donghae. “Aku siap melakukannya. Aku tunggu—kapanpun kau mau—“ bisik Yoo Jin seduktif kemudian tubuhnya menjauh lalu hilang di antara kerumunan lainnya. Donghae masih terdiam mencerna kata yang barusan diucapkan Yoo Jin.
***
“Bagaimana? Apa kau berhasil? Mana video itu?” tanya Eunhyuk bertubi-tubi membuat Donghae mendesah frustasi.
“Berapa kali kau harus menanyakan hal itu? Bersabarlah, aku menunggu waktu yang tepat!” dengus Donghae kesal. Eunhyuk memutar bola mata-nya.
“Bersabar? Ini sudah 2 hari dan sisa waktumu besok. Kau harus segera melakukannya!” gerutu Eunhyuk penuh penekanan.
“Mengapa kau harus menyuruh aku? Mengapa tidak Siwon dan Tae Rin atau Kyuhyun dan Hye Mi?” emosi Donghae sudah berada di ubun-ubun. Memikirkan cara mengajak Yoo Jin bercinta begitu sulit membuat kepalanya hampir pecah walaupun Yoo Jin sudah menawarkan saat di club kemarin.
“Karena kau yang tertunjuk botol itu. Lagipula aku sudah punya video Siwon dengan Tae Rin kecuali Kyuhyun dan Hye Mi karena dia baru menyatakan perasaannya.” Donghae cukup terkejut bahwa Eunhyuk telah memiliki video Siwon bercinta dengan Tae Rin.
“Sebenarnya kemarin Yoo Jin bilang padaku bahwa dia siap dan bersedia melakukannya kapan pun.” Eunhyuk hampir saja tersedak jika saja ia meminum soda kaleng di tangannya itu.
“Lihat? Yoo Jin saja mau, masa kau tidak berani. Pengecut.”
“Errr, baiklah, nanti malam aku akan ke apartemen Yoo Jin.”
***
Donghae POV
Ting… Tong….
Aku menekan bel penthouse milik Yoo Jin yang berada di lantai 26 gedung pencakar langit ini. Seorang wanita yang kutunggu membuka pintu. Ia tersentak melihatku yang datang. Aku tersenyum canggung.
“Donghae! Ayo masuk!” kata Yoo Jin mempersilahkan. Aku memasuki apartemennya yang sederhana namun elegan ini. Aku sudah berkali-kali kesini dan tahu seluk beluk tempat ini. Napasku nyaris tercekat tatkala menyadari bahwa Yoo Jin hanya mengenakan kemeja besar menutupi sebagian paha putihnya. Tahan dirimu Donghae, berbasa-basilah dulu.
Yoo Jin kembali dengan membawa sebotol kecil vodka. Aku kira jika Yoo Jin mengerti maksud kedatanganku kesini. Namun semua itu musnah ketika Yoo Jin bertanya, “Ada apa kau kesini?” Aku terdiam—menimang-nimang bagaimana cara mengatakan tujuannya.
“Sebelumnya… apa kau ada minuman bersoda? Aku sedang tidak ingin vodka atau semacamnya.” Yoo Jin mengernyit lalu beranjak meninggalkanku. Aku menghela napas kecil lantas mengeluarkan sebutir kapsul. Ini semua rencana Eunhyuk. Ia mengatakan agar aku tidak mendapatkan penolakan keras maka aku harus melarutkan obat itu ke minuman yang disuguhi Yoo Jin. Obat perangsang, katanya. Dengan tergesa-gesa aku membuka kapsul itu, menuangkan isinya ke dalam gelas yang berisi vodka milik Yoo Jin. Tanpa perlu mengaduknya obat itu larut seketika. Beberapa menit kemudian Yoo Jin datang bersama satu kaleng soda ditangannya.
“Maaf menunggu lama.” Aku mengangguk sembari mengambil kaleng itu dari tangan Yoo Jin. Kubuka soda itu seraya memperhatikan gerak-gerik Yoo Jin meminum vodkanya—yang telah kuberi obat. Sesaat lagi obat itu bereaksi. Aku masih terlihat santai saat Yoo Jin mulai mengerang memegangi kepalanya.
“Aku kesini ingin menagih janjimu kemarin saat di club.” Aku bergumam dan aku yakin jika Yoo Jin tidak sepenuhnya mendengar perkataanku.
“Oh, kepalaku pusing—panas sekali—“ Yoo Jin membuka matanya menatap kearahku yang sedang mengawasinya. Sedetik kemudian tubuh Yoo Jin merapat padaku dan bibir kami menyatu. Aku cukup kaget melihat reaksi Yoo Jin yang tiba-tiba menyerang. Namun seringai kecil keluar dari bibirnya. Obat itu mulai bereaksi. Aku mulai membalas ciuman Yoo Jin sedikit kasar. Aku tidak perlu susah payah merekam kejadian antara aku dan Yoo Jin karena di sini terdapat beberapa pasang kamera CCTV yang sengaja dipasang Eunhyuk siang tadi—dan tentu saja Yoo Jin tidak mengetahuinya karena ia sendiri tidak berada di sini saat siang hari.
***
Author POV
Donghae berhasil membuat Yoo Jin jatuh padanya. Tak disangka, ternyata obat perangsang yang diberikan oleh Eunhyuk bereaksi dengan cepat. Yoo Jin menjadi lebih agresif di antara mereka berdua. Ciuman yang mereka lakukan membuat hawa di sekitar mereka semakin panas ketika Yoo Jin mulai membuka kancing kemeja yang dipakai Donghae. Sementara Donghae sendiri tengah menciumi leher Yoo Jin—untuk memberi tanda—sehingga Yoo Jin dengan mudah mendapat akses untuk membuka helaian benang yang menutupi badan Donghae yang bidang. Setelah kemeja Donghae berhasil dibuka, Yoo Jin langsung membuangnya ke sembarang tempat, dan mulai menempelkan jemari lentiknya ke dada Donghae sehingga lelaki itu sedikit kegelian.
Bibir mereka kembali menempel satu sama lain. Mereka membuka mulut masing-masing agar lidah mereka dapat bertemu untuk yang pertama kalinya, dan saling menukar saliva yang terasa manis. Donghae semakin mengeratkan masing-masing tangannya pada leher dan pinggang Yoo Jin yang kecil, mencoba mempersempit jarak yang sudah jelas tak ada ruang lagi di antara mereka. Ia juga harus sedikit membungkuk sambil bertumpu pada tembok agar bisa menyesuaikan tingginya dengan Yoo Jin yang agak pendek. Donghae menciumi telinga, pipi bagian bawah, lalu lehernya lagi dengan nikmat dan sedikit pelan. Begitu pun Yoo Jin.
Tak ayal, mereka sudah memasuki kamar Yoo Jin yang hanya beberapa langkah dari ruang tamu—tempat pertama kali dilaksanakannya cumbuan itu. Dengan pintu yang ditutup—padahal hanya ada mereka di rumah Yoo Jin, mereka semakin menggencarkan ‘permainan’ yang tengah mereka jalani.
Kini giliran Donghae yang membuka pakaian Yoo Jin. Walaupun agak susah karena posisi bibir mereka masih bersentuhan, tapi Donghae tetap meneruskan aksinya. Dengan sekali singkapan kemeja tipis nan besar itu telah dilempar entah ke mana, dan menyisakan sebuah pemandangan mengasyikkan bagi lelaki itu. Yeaah, apalagi kalau bukan buah dada Yoo Jin yang kencang masih terbalut bra. Donghae beralih mencium leher Yoo Jin agar tangannya dapat terjulur dengan mudah pada pengait bra yang berada di punggung Yoo Jin. Ia sedikit kesulitan karena rambut panjang yang tergerai milik gadis itu menutupi pengait bra tersebut. Donghae sampai berkali-kali menyingkap rambut Yoo Jin sampai pengait bra milik gadis itu lepas sepenuhnya. Lelaki itu bahkan bisa melihat wajah Yoo Jin yang berubah panas dan memerah akibat dari buah dadanya yang sudah terekspos semua. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Donghae langsung menyentuh dan sedikit meremas payudara Yoo Jin.
Donghae melepas ciumannya di bibir Yoo Jin, lalu mengerling nakal. Yoo Jin pun mengerutkan kening, “Wae? Kenapa berhenti?” tanyanya sedikit kecewa.
“Aku ingin bermain-main dengan ‘bukit kembar-mu’ itu dulu, sssssh aku tidak tahan, chagi,” rengek Donghae dengan sedikit menggoda.
“Baiklah, jangan lama-lama. Aku tak akan membiarkan ‘milikmu’ bersabar lebih lama.”
Donghae mengangguk, kemudian ia segera mencium payudara sebelah kanan Yoo Jin, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memainkan nipple-nya yang terlihat sexy di mata Donghae. Berkali-kali Donghae lakukan secara bergantian dengan ganas hingga meninggalkan banyak kissmark di sana, sampai Yoo Jin mengeluarkan desahan pertama. “Ssshhh, aku—hhhhh—geli!”
Donghae langsung menyambar bibir Yoo Jin lagi agar gadis itu mendapat kepuasan bibirnya kembali. “Ayo kita buka celana kita bersama-sama!” ajaknya dengan satu kedipan mata.
Yoo Jin yang mendengar itu pun menggerakkan tangannya ke arah resleting jeans Donghae untuk membukanya tanpa melepas ciumannya dengan Donghae, sampai lelaki itu hanya tersisa underwear-nya saja. Begitu juga Donghae, yang telah berhasil membuat Yoo Jin telanjang seutuhnya lebih dulu.
“Err, sepertinya kau sendiri saja yang membuka pakaian dalammu, Donghae-ya. Aku takut ‘junior-mu’ tambah—” kata Yoo Jin ragu-ragu.
“Oke, setelah itu kita lakukan ‘ini’ dengan pelan dan ikuti alurku. Jangan terburu-buru, arrachi?” tukas Donghae sambil mengelus-elus pipi Yoo Jin yang sedikit basah oleh keringat. Gadis itu hanya mengangguk patuh.
Kini mereka sudah tak terbalut sehelai benang pun. Mereka terus saja saling memberi tanda di masing-masing tubuh hingga mereka jatuh terletak di kasur berukuran king size milik Yoo Jin. Sepertinya mereka tak peduli di mana pun mereka berada, yang penting mereka dapat melakukan ‘permainan’ ini. Dan mereka pun melanjutkannya dengan penuh nafsu. Donghae berulang kali menciumi buah dada Yoo Jin di masing-masing sisinya secara bergantian hingga Yoo Jin sendiri mendesah nikmat. Sampai pada akhirnya ia beralih menciumi perut Yoo Jin yang datar dan lembut, membuat malam ini terasa seperti ‘setengah surga dunia’.
“Kau sudah siap, sayang?” tanya Donghae yang baru saja melepas pertautan bibir mereka. Tanpa dijelaskan pun Yoo Jin sudah tahu apa maksud lelaki itu. Yoo Jin mengangguk cepat, karena ia sendiri sudah tak sabar untuk melakukan ‘itu’ yang sesungguhnya.
“Tapi sebelum itu, kupikir lebih baik jika kumasukkan jariku terlebih dahulu.” Donghae memasang wajah penuh yakin agar Yoo Jin tidak merasakan sakit saat dimasuki junior milik Donghae.
“Oke, tidak apa-apa. Tapi jangan kesal jika aku merasa geli. Aku sangat sensitif terhadap kegelian..”
Donghae mengangguk, dan mulai memasukkan 3 jarinya—jari telunjuk, tengah, dan manis—ke dalam lubang Yoo Jin.
Yoo Jin mendesah kesakitan. “Sshhh, ohhhh, Donghae-ahhh. kenapa sakit sekali? errrggghh”
Donghae kemudian melepaskan jarinya yang sedikit basah, lalu menjilatnya dengan pelan. “Ssllrrp, kenapa ini sangat enak? lanjutkan, atau langsung saja?”
“Langsung saja–sshh, Oppa”
Junior Donghae yang sudah berdiri dengan tegak nan gagah itu perlahan memasuki liang rahim Yoo Jin yang sempit—karena belum terjamah. Ia sudah mengatakan hal ini sebelumnya karena mereka melakukan ini untuk yang pertama kalinya. Hal ini pulalah yang menyebabkan Yoo Jin kesakitan jika ia memasuki junior-nya dengan terburu-buru.
“Sssssssh, bisa lebih cepat lagi? Ini terlalu nikmat, Oppa. Hhhhhh,” ucap Yoo Jin yang sejak tadi memegang punggung Donghae sebagai tumpuannya. Peluh yang membasahi tubuhnya kian banyak ketika ada sesuatu yang mengalir di vagina-nya: darah. Ya, Yoo Jin sudah bukan seorang perawan lagi mulai sekarang.
Donghae mengangguk, lalu ia semakin mendorong junior-nya ke dalam vagina Yoo Jin yang berkedut-kedut cepat sambil terus meciumi gadis itu. Berulang kali ia memaju-mundurkan junior-nya agar terasa nikmat. Sampai sekarang belum juga salah satu di antara mereka yang ber-orgasme. Maka dari itu mereka semakin mempercepat tempo ‘permainan’ agar semakin cepat mereka menyelesaikannya.
“Donghae-ah, sepertinya—hhhh—ada sesuatu—hhh—yang basah—hmmmm,” ujar Yoo Jin melepaskan pertautan bibirnya dengan Donghae.
Donghae langsung bangkit melihat junior-nya yang juga basah. Ia tersenyum senang, melihat cairan yang dikeluarkan Yoo Jin begitu banyak. Ia melepas junior-nya yang menancap beberapa menit yang lalu itu, lalu disembulkan kepalanya terhadap vagina milik Yoo Jin. Lidahnya tak sabar untuk menjilati selangkangan gadis itu dengan cepat membuat Yoo Jin menggelinjang kegelian.
“Itu artinya kau sudah ‘keluar’, Yoo Jin-ah,” ucap Donghae tersenyum sumringah. Wajahnya seperti bocah kecil yang baru mendapat lollipop. Yoo Jin pun ikut tersenyum. “Kau tahu, ini pertama kalinya bagiku..”
Setelah Donghae selesai menghabiskan seluruh cairan yang ada di bagian bawah tubuh Yoo Jin, ia kembali memasukkan junior-nya ke dalam vagina gadis itu. Kali ini ia memaju-mundurkan miliknya dengan tempo cepat atas permohonan Yoo Jin. Tentu saja ini sangat nikmat dan memuaskan bagi mereka—meskipun didahului rasa sakit.
“Aahhh, ini sungguh—hhh—nikmat, ya. Ohhhhh.”
“Donghae-ah, aku mau keluarkan lagi… bolehkah?” tanya Yoo Jin yang sekarang seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
“Tentu saja, chagi.”
Cairan Yoo Jin untuk yang kesekian kalinya keluar. Donghae melesat ke kepala Yoo Jin lalu menciumnya tanpa izin pada gadis itu tanpa melepaskan junior-nya yang masih tertancap, membuat gadis itu kaget. Yoo Jin yakin, Donghae berada pada puncak kenafsuannya.
Cukup lama mereka menautkan bibir mereka dengan penuh nafsu hingga Donghae melepasnya dan bilang ia ingin mengeluarkannya. Donghae semakin memperdalam junior-nya, mengeluarkan sperma yang belum ia keluarkan sama sekali dan mendesah lega. Namja itu akhirnya jatuh ambruk ke dada Yoo Jin—tepat pada ‘buahnya’.
Yoo Jin berinisiatif untuk mengusap peluh yang membanjiri teman bermainnya itu. Begitu pun Donghae, merapikan rambut Yoo Jin yang sudah berantakan.
“Kita tidur saja dulu, ya? Besok kita lanjutkan lagi, oke?” ajak Yoo Jin dibarengi dengan evil smirk-nya. Donghae mengangguk, tapi sedetik kemudian ia sadar, Yoo Jin belum tersadar sepenuhnya dari obat yang ia minum tadi.
***
Bunyi dering ponsel membangunkan seorang pria dari alam mimpinya. Rasanya ia baru saja terlelap setelah itu ada yang menggangunya. Namja bernama Donghae itu mengerjapkan mata sementara tangannya meraba meja di sisi kasur. Dalam hati ia mengumpat habis-habisan seseorang yang mengirimnya pesan membuat dirinya terbangun. Padahal ia baru tidur sekitar 3 jam yang lalu setelah kesuksesan Donghae merasakan tubuh Yoo Jin—juga melaksanakan tantangan dari Eunhyuk. Donghae menyentuh layar ponselnya dan sederet kalimat muncul.
“Pagi, Mr. Fishy. Bagaimana tidurmu? Aku sempat kesana 15 menit yang lalu dan melihat kalian berdua tidur begitu nyenyak—aku tidak tega membangunkan kalian. Eits, jangan tanyakan aku bagaimana aku bisa masuk ke appartement Yoo Jin. Karena baik kau, aku, Siwon, Kyuhyun, dan gadis-gadis yang lain tahu password appartement-nya. Oh, aku sudah mengambil rekaman videomu semalam. Sangat dahsyat. Terima kasih, kau telah melaksanakan tantanganku dengan baik. Maaf menganggu. Semoga kau pulang dengan selamat! kkkk~”
Sial! Umpat Donghae pada ponselnya. Bahkan Donghae tidak memikirkan bagaimana ekspresi Yoo Jin dalam keadaan sadar nanti melihat dirinya sudah tidak berbusana atau mungkin merasakan ngilu di beberapa bagian tubuhnya. Donghae menghembuskan napas berat, lantas akan kembali membaringkan tubuhnya ketika suara erangan terdengar. Yoo Jin mulai membuka matanya sedetik kemudian dirinya tersentak melihat Donghae tidur disampingnya.
“Donghae? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoo Jin parau masih setengah sadar. Ia belum menyadari apa yang terjadi sepenuhnya. Raut wajah Yoo Jin berubah tegang merasakan sesuatu sakit dibagian selangkangannya. Tangannya membuka selimut lalu mengintipnya. Yoo Jin menatap kaget Donghae yang masih menunggu ekspresi Yoo Jin selanjutnya dan…
“KYAAAAA, APA YANG KITA LAKUKAN SEMALAM????”
END
Duh dengan amat sangat berat hati sekali(?) kami minta maaf atas ending yang tidak memuaskan.___. Yang penting NC-nya ada kan yaaa?? XD sorry dan maap banget ya kalo gak hot x_x belum berpengalaman :p sorry juga kalo banyak typo(s) ._. dan kami juga gak janji mau bikin sequel. Soalnya udah fokus sama ujian kkkk~ n_n don’t forget to put ur review in comment collumn okay ;;;;;;

Fc Populer:

  • MJ Hyun

    Awal nya udah rame banget! Nc nya keren deh! Tapi akhir nyaaa Щ(ºДºщ) aku ingin lebih._.

%d blogger menyukai ini: