One Night Stand

0
Wonkyu

1. Author : Jinho92
2. Judul : One Night Stand
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
– Cho Kyu Hyun
– Shin Min Chan
– Choi Siwon

Jinho92 agaiiinnnn… ^^

Ini FF yg betul-betul hanya butuh one night untukku membuatnya,

Ragara cerita-cerita gaje ma Oppa ku tentang One Night Stand yang biasanya dilakukan oleh para Idol, menginspirasi terciptanya karya ku yang gaje ini… =.=

*Thanks.for.my.Oppa*

Well, happy read all…^^V
————-
Aku menatapnya. Lekat. Mungkin terlalu lekat untuk seseorang yang tidak mengenalku sama sekali. Yah, aku mengenalnya –tentu saja-. Dia salah satu pelanggan yang lumayan sering datang kesini. Ini adalah bulan kedua ku bekerja di Bar ini sebagai seorang pelayan. Dan selama dua bulan itu, aku melihat namja ini –hampir- setiap harinya. Datang, duduk dimeja paling pojok sendiri, meja yang agak jauh dari sumber cahaya dan remang. Sebenarnya ada beberapa meja di Bar ini yang memang disetting agar seremang mungkin. Dan kalian pasti tau apa kegunaan dari meja itu. Yah, ini bar. Dan apa lagi yang kau harapkan terjadi ditempat remang seperti itu dan alkohol serta wanita menemani. Kurasa aku tidak perlu menjabarkannya lebih detail.

Kulihat ia kembali menuang minuman kedalam gelasnya. Entah sudah botol yang keberapa. Aku tidak betul-betul memperhatikannya lantaran sibuk melayani tamu. Tapi sekarang, shift ku hampir selesai dan para tamu telah berkurang. Ada beberapa yang tinggal dan menggunakan jasa kamar yang disediakan dilantai dua. Tentu saja untuk ‘bersenang-senang’. Apalagi??

Cairan beraroma kuat dan memabukkan itu tumpah ruah dari gelasnya. Ia terlalu mabuk untuk menuang bir. Kakiku sungguh ingin melangkah kearahnya. Namun sebisa mungkin kutahan, mengingat aku hanyalah pelayan disini. Aku menggigit bibir bawahku khawatir, ia bahkan menumpahkan semua isi gelas itu ke meja. Dan kali ini, kakiku tidak segan lagi melangkah kearahnya. Ia membutuhkanku.

Dengan sigap kutangkap gelas yang menggelinding dimeja dan hampir saja terjatuh. Kuletakkan berdiri tegak kembali keposisi awalnya kemudian membersihkan meja dari tumpahan bir. Kurasakan sebuah tatapan menghujamku. Tak perlu kutebak siapa, karena hanya namja ini yang ada disampingku. Aku menoleh kearahnya dan mendapatinya tengah mendongak menatap wajahku. Bibirnya bergerak seperti menggumamkan sebuah nama.

“Ne?? Ah, maaf… Aku akan segera pergi..”

“Kajimaaa~” erangnya mencengkram pergelanganku kuat.

Aigoo, kuakui… Aku memang menyukainya, well… Mengaguminya. Tapi, menghadapinya dalam keadaan mabuk, ini pertama kalinya bagiku, terlebih Hyuk Jae yang biasa mengantarnya pulang –salah satu pelayan juga- tengah absen. dan itu artinya ia tidak akan bisa menolongku.

“Minchan-ah..”

“Oh, Sajangnim..” aku menggerakkan pergelanganku, berusaha melepaskan cengkramannya ketika Pemilik Bar ini, Choi Siwon datang.

“Tuan Cho bersamamu? Mana Hyuk Jae?”

“Dia absen, sajangnim. Ibunya sedang sakit..” jawabku masih berusaha melepaskan cengkraman Tuan Cho.

“Ya sudahlah… Kau bawa dia kekamar atas. Kau pasti tau kan, tempat Tuan Cho biasanya?”

Aku mengangguk. Aku memang tau. Tapi, apa aku harus membopongnya sejauh itu? Naik tangga??

“Jangan khawatir, aku akan menyuruh pegawai lain untuk membawanya keatas. Kau naik keatas dan bereskan kamarnya. Tuan Cho tidak suka jika kamarnya berantakan” perlakuan yang spesial. Ya, tentu saja karena Tuan Cho adalah sepupu dari pemilik Bar. Sepupu Choi Siwon.

“Tapi, sajangnim…” aku menarik tanganku, masih berusaha melepaskan cengkraman Tuan Cho yang semakin erat.

“Aish… Ya!!.. Lepaskan dia..” Tuan Choi membantuku menarik lepas cengkraman Tuan Cho. Pergelanganku sedikit berdenyut lantaran kerasnya cengkramannya.

Aku segera menghindar dari tempat tadi. Naik keatas mematuhi perintah Tuan Choi.

*****

Aku meletakkan bantal diranjang yang baru saja kuganti seprainya. Suara pintu yang terbuka membuatku terkesiap dan segera menghampiri Juan, bartender di bar ini yang merupakan blasteran Korea-Spanyol. Aku membantunya membawa Tuan Cho menuju tempat tidur. kami berdua menjatuhkan tubuhnya begitu saja di ranjang. Menghela nafas lega karena baru saja melepaskan beban berat yang kami bawa.

“Gracias, Juan..”

“Ah, ne… Tuan Cho lumayan juga beratnya. Aku kagum pada Hyuk Jae yang terus melakukan hal ini padanya..”

Aku mengangguk. Hyuk Jae pasi punya abs yang bagus dibalik kemeja putihnya itu.

“Tolong kau lepaskan sepatunya dan perbaiki posisinya. Aku harus kebawah. Ada tamu Tuan Choi yang minta diracikkan minuman”

Aku kembali mengangguk. Menatap kepergian Juan yang kini menutup pintu dari luar. Aku menoleh kearah Tuan Cho yang tengah berbaring ditempat tidur. well, kakinya menyentuh lantai sebenarnya. Aku lantas menghampirinya dan membuka sepatu yang melekat dikakinya. Menyusul kemudian mengangkat kakinya yang berat keatas tempat tidur. fiuh, betul-betul pekerjaan berat. Aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.

Mataku menelusuri wajah tertidurnya yang begitu pulas. Sesekali alisnya mengkerut seperti menahan sakit. Tuan Cho, sebenarnya apa yang terjadi padamu. Apa ada seseorang yang melukaimu? Tanganku bergerak menyingkirkan helain poninya. Garis wajah yang tegas dan sedikit dingin. Terlihat tertutup dan menyembunyikan kepedihannya sendiri.

Cho Kyuhyun, mungkin aku telah jatuh cinta padamu.

*****

Aku membulatkan mataku terkejut. Tanganku yang hendak kutarik dari wajahnya tiba-tiba digenggam olehnya. Dan yang lebih membuatku kaget adalah ia membuka matanya. Menatapku dengan tatapan tajam mengintimidasi.

Belum reda rasa terkejutku yang berkali lipat, ia kembali melakukan tindakan ekstrim. Menarik tubuhku hingga membuatku terjatuh dipelukannya. Bahkan kening kami hampir saja beradu, jika tidak kutahan tubuhku dengan sigap. Hangat nafasnya yang berbau alkohol seolah menampar wajahku. Aku terbelalak mendapati wajah kami yang sangat dekat. Tangannya bergerak perlahan dipinggangku, mengelusnya, kemudian merayapi bokongku yang kini diremasnya.

“Ahh..” aku memekik kaget. Seolah kesadaranku hilang entah kemana, aku menikmati belaiannya pada bokongku.

“Kau, tertarik padaku, kan?” bisiknya tepat didepan wajahku.

Seolah tersadar akan ucapannya, aku bangkit dari tubuhnya. Namun tubuhku kembali harus menindih tubuhnya. Ia dengan sigap penahan pinggangku.

“Lepaskan aku..”

“Kenapa aku harus?” tangannya bergerak mengelus punggungku. Menekannya hingga dadaku menempel pada dadanya. Omo, dia pasti bisa merasakan jantungku sekarang.

“Kau berdebar..” bisiknya dengan nada seduktif. Seolah semua kalimatku hilang, aku hanya bisa menatapnya yang balas menatapku dengan tatapan yang begitu menggoda.

Kupejamkan mataku, mencoba menjernihkan fikiranku. Aku tidak pernah menduga jika ia bisa semenggoda ini. Kendalikan dirimu, kendalikan dirimu.

“Maaf, Tuan. Tapi tolong lepaskan saya..” ujarku tegas setelah mendapat kembali akal sehatku. Bahkan terlintas difikiranku tadi untuk menyerahkan diriku seutuhnya. Jangan bodoh, Chan-ah…

“Hmmm, aku menyukai aroma tubuhmu…” seolah ucapanku tadi tidak pernah kukeluarkan, ia malah menyeruakkan kepalanya dileherku. Menghembuskan nafas disana, menggodaku.

“Tuan, lepaskan… saya mohon..” aku berusaha melepaskan rengkuhannya. Tidak ingin tergoda dengannya lebih jauh. Dari tadi ia dengan mudah mengetahui titik rangsangku. Pinggang dan leher.

“Akkhhh..” aku memekik, merasakan jarinya yang entah kapan memasuki rok yang kukenakan. Mengelus selangkanganku. Ya Tuhan, tolong aku…

“Kau basah..” desahnya tepat ditelingaku. Aku memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir bawahku sendiri. Tubuhku melemas dengan cepat ketika tangannya yang kurang ajar itu, menekan-nekan belahanku yang masih tertutup celana dalam.

Aku betul-betul tidak menemukan kekuatanku. Semuanya menguap entah kemana, menikmati permainan jarinya yang dengan perlahan menyeruak kedalam underpantsku.

“Chakkaman..” aku menahan tangannya yang hampir saja menyentuh kulitku langsung. Kembali kusukuri, kesadaranku bisa datang.

“Jangan lakukan hal ini padaku.. Kumohon..” pintaku dengan lirih. Aku bahkan tidak mengenali suaraku sendiri.

Ia menghela nafas kesal. Membalik tubuhku dengan cepat hingga kini ia menindihku. Aku menatapnya yang kini tepat berada diatasku. Memberinya tatapan memohon agar ia membebaskanku dari rengkuhannya.

“Aku tau… Aku tau kau meninginkanku, kan?”

Ia mengambil jeda sebentar kemudian melanjutkan, “Malam ini, bercintalah denganku..”

“Milikilah diriku hanya untuk malam ini…”

Memiliki dirinya? Hanya untuk malam ini? Hanya untuk satu malam. Harga diriku rasanya jatuh begitu dalam. Rasanya seperti ditampar begitu keras. Menyakitkan.

“Ulljima..” jarinya mengusap pipiku. Aku menangis??

“Pejamkan matamu, rasakan bahwa diriku disini.. Rasakan setiap sentuhanku..” bisiknya. Menghembuskan nafasnya dileherku.

“Rasakan bahwa kau bisa memiliku. Hanya malam ini. Untuk malam ini”

Seperti dihipnotis, aku memejamkan mataku. Merasakan belaian bibirnya dileherku. Merasakan tangannya yang merayapi bahuku, mengelus tengkukku.

Gairahku tersulut. Terasa hangat melingkupi tubuhku. Membuatnya terasa seperti aliran listrik yang menyengat perlahan. Hanya untuk malam ini…

“Lupakanlah segalanya. Lihatlah aku. Hanya aku..” aku bisa melihat pantulan diriku dalam jernih bola matanya. Mata yang menatapku apa adanya, tidak terlihat kilatan merendahkan disana. Tidak memaksaku, tapi tidak pula melepaskanku. Menuntutku, menggodaku agar mengikuti alur permainannya.

Aku mencoba menggerakkan tanganku. Terangkat hendak meraih pipinya. Tanganku bergetar menangkup pipinya. Menariknya perlahan kearahku. Memejamkan mataku ketika wajah kami begitu dekat. Kemudian merasakan, bagaimana bibir lembutnya mendarat tepat dibibirku. Aku menghembuskan nafas melalui hidungku. Ciuman pertamaku…

Perlahan, bibirnya bergerak dibibirku. Melumatnya pelan, lembut dan hangat. Merasakan bagaimana bibir itu membelai bibirku. Saling bertaut, mengigitinya sesekali. Lenganku kulingkarkan ditengkuknya. Jika boleh jujur, tubuhku bergetar ketakutakutan. Bibirkupun demikian.

Namun dari dalam diriku, tumbuh letupan-letupan bahagia. Aku bisa memilikinya. Just toninght…

*****

“Hmmm… Ahhhh” desahan itu lolos begitu saja dari bibirku. Ketika tangannya membelai lembut dadaku. Meremasnya.

Bibirku kugigit menahan desahan yang terus ingin keluar. Lidahnya menyapu leherku begitu lihai. Mengucupnya, menghisapnya gemas. Rasa panas merayapi seluruh tubuhku. Terasa sangat panas hingga rasanya ingin melepaskan seluruh bajuku. Tubuh bagian bawahku berkedut cepat. Menyebalkan. He’s really a good teaser.

“Akhhh…” tetap saja. Bagaimanapun usahaku, suara-suara aneh itu tetap lolos dari bibirku. Dengan mudah ia membuka kancing kemejaku kemudian menjamah dadaku. Tanpa membuka kaitannya. Hanya mengeluarkannya dari dalam cup bra.ku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat dadaku sendiri diremas oleh seseorang. Telapak tangannya terlihat penuh oleh dada kananku. Apakah memang seperti itu ukurannya? Kurasa dadaku membesar.

“Hmmmm…” bibirnya yang bermain dileherku ia alihkan kebibirku. Membekap mulutku dari desahan-desahan nikmat.

Jari-jarinya mempermainkan nipple.ku, memelintirnya lembut, kemudian meremas dadaku. Ahh, aku tidak pernah tau jika akan senikmat ini. Tidak akan pernah sama jika kau sendiri yang meremasnya.

“Aku tidak pernah tau siapa namamu..” ujarnya melepaskan ciumannya. Menatapku dengan bibir yang sedikit terbuka. Sexy.

“Apa, aahhh… Kau perlu tau?” aku kesulitan menjawabnya. Tangannya sama sekali tidak berhenti menggeluti dadaku.

“Mungkin tidak..” ujarnya acuh, menenggelamkan wajahnya kedadaku.

DEG,,,

Sakit. Ia bahkan tidak ingin mengetahui namaku. Haha, tentu saja. Minchan, pabbo,,, Kau bahkan tidak lebih dari wanita penghibur baginya saat ini. Wanita yang dengan mudahnya ia miliki tanpa harus bersusah payah. Wanita murahan yang dengan mudah takluk padanya.

Kutau kini aku serendah itu. Tapi kenapa? Bahkan terlintas diotakku pun tidak untuk menghentikannya. Aku menyukai sentuhannya. Aku menyukai bibirnya yang lembut, tangannya yang nakal, helaan nafas beratnya. Suaranya yang menggoda.

Tuhan, aku menyukai lelaki ini begitu banyak.

*****

“Tolong, jangan!!” aku menahan bahunya. Ia baru saja berhasil menelanjangiku. Melepas semua helaian kain yang kupakai. Dan kini, kedua tangannya mencengkram pergelangan kakiku. Bermaksud melebarkannya. Dia ingin apa sebenarnya? Meng-oral ku?

“Wae??”

“Jangan, kumohon…” aku berusaha merapatkan pahaku. Mencegahnya melihat organ intimku lebih dalam.

“Kau tidak menginginkanku?” ujarnya lirih. Tatapannya menerawang. Terlihat menyakitkan.

“Bu, bukan begitu… Aku..” aku menghela nafas.

“Jangan dilihat, eoh..” aku menarik lengannya. Membuatnya menindih tubuhku.

“Seperti ini saja…” aku meraih tangannya menariknya menyentuh pusat tubuhku.

“Kau tidak ingin aku melihatnya?” tanyanya, mulai menggerakkan jarinya dibawah sana. Membelah celah vaginaku. Meraba organku lebih dalam.

“Mhhh..” aku memejamkan mataku. Menikmati jari-jarinya yang mengusap titik nikmatku perlahan. Membuat selangkanganku memanas dan berkedut semakin cepat.

Aku membuka mataku merasakan belain tangannya yang lain pada pipiku, “Pipimu memerah..” bisiknya.

Aku tersenyum. Meraih tengkuknya, melumat bibirnya. Sebenarnya menyumpal bibirku agar tidak mendesah keterlaluan. Nikmat sekali. Jari-jarinya bergerak begitu ahli, menekan-nekan spot nikmat dibagian vaginaku. Aku mengigit bibirnya, tersentak dengan jarinya yang berhasil menemukan titik ternikmat itu.

“Hmmm, yah… Disitu… Ahhh.. Shhh” seolah mengerti, ia menempatkan jarinya disana. Menekan begitu intens dan melakukan gerakan melingkar disana. Rasa nikmat yang sangat besar menyerangku dengan cepat. Melumpuhkan kinerja otakku hingga meloloskan desahan keras dari bibirku.

Kyuhyun kembali menjelajahi leherku. Aku cukup senang ia memenuhi permintaanku. Cukup senang ia tidak egois, cukup senang ia tidak memperlakukanku dengan kasar. Tapi, tetap saja… Hanya untuk satu malam.

“Hmmm,, yahh.. Aaahhhh…” rasa apa ini? Ada apa dengan tubuh bagian bawahku. Ia berkedut semakin cepat. Rasa-rasanya ada yang ingin meledak dari dalam sana.

“Release it, dear,,,” bisikan Kyuhyun ditelingaku betul-betul seperti hipnotis. Sepersekian detik ketika ia mengatakannya, sesuatu yang mendesak itu keluar. Menyembur membasahi jari-jarinya. Inikah orgasme itu? Begitu nikmat.

Nafasku tersengal, kubuka mataku yang tadi terpejam begitu erat menyambut rasa orgasme yang begitu nikmat. Mendapatinya diatasku dengan senyum menggoda yang berkali-kali membuatku hilang akal malam ini. Senyum yang membuatku takluk padanya begitu mudah.

“Lakukanlah…” ujarku kemudian. Well, tidak mempercayai kalimat yang kukeluarkan dengan sendirinya. See, aku yang memintanya. Betul-betul wanita murahan.

Bibirnya kembali melumat bibirku. Seolah mentransfer energi padaku sehabis pelepasan tadi. Menyulut gairahku kembali kepuncaknya. Tangannya terasa meremas-remas dadaku, sementara yang lain, menggenggam organ tubuh miliknya, mengusapkan kepalanya dimulut vaginaku. Menggoda clitorisku lagi. Refleks, kakiku mengangkang. Melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat. Tidak sabar.

Perlahan, kurasakan sesuatu yang keras menyeruak memasukiku. Perih. Terlebih karena benda itu besar dan menuntut. Memaksa ingin masuk sepertinya.

“Ahhh,, Kau, bisa menahannya?”

Aku mengangguk. Memejamkan mataku erat, bersiap-siap melepas semuanya. Aku akan kehilangannya malam ini. Setelah ini, aku tidak akan seperti dulu lagi. Seseorang yang merenggutnya toh ternyata bukan suamiku. Mirisnya, hanyalah seseorang yang menginginkaku untuk satu malam. Sungguh. Aku betul-betul murahan.

“Ulljima, jangan pernah merasa kau murahan. Kau tidak seperti itu..”

Aku terisak kecil. Ucapannya barusan, meski itu bohong, betul-betul membuatku merasa dihargai. Demi apapun, rasa sukaku padanya semakin dalam saja. Sanggupkah aku melepaskannya setelah malam ini? Astaga, hatiku sakit sekali..

“Kau berharga. Kau bukanlah wanita seperti itu. Jika ada yang murahan disini, itu adalah aku..”

“Jebal.. Jangan ucapkan apa-apa lagi. Lakukanlah dengan cepat..” pintaku disela isakan yang semakin menguat saja. Kenapa justru disaat seperti ini, aku begitu down?? Kemana semua rasa memabukkan itu? Kemana semua rasa tidak tau malu dalam diriku?

“Arrgghhh…”

Berakhir. Semuanya berakhir. Kau bukan lagi perawan, Chan-ah. Kau menyerahkannya pada namja yang baru saja memasukimu. Ternyata, rasanya memang sangat perih. Betul-betul sakit, hingga membuatmu mengeluarkan air mata. Tapi, aku lebih merasakan rasa sakit itu dibagian kiri dadaku. Jauh didalam diriku. Bukan dihatiku. Bukan pada organnya, tapi pada perasaannya. Perasaanku tersakiti begitu banyak.

Kurasakan jari-jarinya kembali menari dipipiku. Mengelusnya begitu lembut seolah memuja. Kuberanikan diriku untuk menatap wajahnya. Yah, wajah yang begitu rupawan itupun ternyata tengah bersedih. Bersedih karena apakah? Karena satu malam ini?

“Aku mohon..”

Aku mengambil jeda sejenak. Menghela nafas. Menguatkan diriku sendiriku agar tidak menyesali apapun yang akan kuucapkan nanti.

“Malam ini, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita. Setelah ini, aku akan menghilang dari kehidupanmu. Tidak akan pernah menampakkan sosokku lagi..” isakan yang keluar dari dalam bibirku, memotong kalimatku. Membuatku harus mengendalikan diriku sendiri untuk melanjutkan kalimatku.

“Kau… Bahkan tidak tau namaku, bukan?? Aku yakin 100% saat ini kau masih mabuk… Aku yakin kau tidak akan mengingatku setelah ini..”

Bibirnya terbuka hendak menyela ucapanku, namun segera kusentuh bibirnya dengan jemariku. Mengisyaratkan padanya agar diam dan mendengarkan ucapanku hingga tuntas.

“Jangan mencariku… Jangan pernah merasa bersalah. Dan, kalaupun kita bertemu, anggap saja kita tidak saling mengenal”

“Aku..”

“Jebal…” pintaku. Kupejamkan mataku yang tidak sanggup lagi menatapnya. Tubuhku bergetar hebat karena isakan. Kurasakan tubuhku direngkuh olehnya. Memeluk tubuhku erat. Mengelus puncak kepalaku. Bahkan kurasakan bibirnya yang mendarat dikeningku.

“Baiklah, jika itu yang kau mau..”

Dan isakan pun meluncur begitu saja. Mendengar persetujuannya membuatku sakit berkali lipat. Tapi, bukankah aku yang meminta semuanya? Dia bahkan tidak kubiarkan mengeluarkan kalimat sedikitpun. Bukankah aku egois? Tapi, jauh didalam hatiku akupun tau. Sebenarnya ini yang ia inginkan. Dia memang tidak mengatakannya secara langsung. Tapi, aku betul-betul dituntut untuk rasional dan tau diri.

Aku bukanlah siapa-siapa.

Aku berusaha mengendalikan diriku. Terlarut dalam kesedihan bukanlah sesuatu yang harus kulakukan saat ini. Ada sesuatu yang lebih mendesak yang harus kami selesaikan.

Kutarik tengkuknya. Melumat bibirnya yang tidak akan bisa kunikmati dilain waktu. Membiarkan tanganku menelusuri punggungnya yang tidak terbungkus apapun. Membiarkan indera perabaku merasakan kulitnya yang hangat. Kugerakkan kakiku yang berada dipinggangnya. Menggunakan tumitku menggoda bokongnya.

Ia merespon dengan hentakan pelan pinggangnya. Membuatku terkesiap merasakan miliknya yang lumayan menyakiti organ dalamku. Kembali ia menarik miliknya keluar, kemudian masuk. Seperti itu dalam tempo yang lambat. Menggesek dinding organ dalamku begitu intim. Rasa nikmat menjalariku perlahan. Betul-betul nikmat. Demi apa, kau akan rela menukarkannya demi apapun.

“Ahhh, ahh… Faster, please..” erangku menginginkan lebih. Yah, aku betul-betul membutuhkannya. Naluriku berkata bahwa lebih cepat, akan lebih nikmat.

Ia memenuhi keinginanku. Menggenjot miliknya lebih cepat dengan gerakan teratur. Menyentakkan miliknya, namun tetap meninggalkan kesan lembut dalam caranya bergerak. Teratur dan terkendali. Kuresapi setiap detik waktu yang berlalu. Kufungsikan semua panca inderaku untuknya.

Mataku yang menatapnya, lidahku yang menjelajahi bibirnya, hidungku yang menghirup aroma tubuhnya, telingaku yang mendengar suara persetubuhan kami, dan kulitku yang menempel, bergesekan dengan kulitnya.

Semuanya terasa intim. Seolah aku dan dirinya telah lama bersama. Seolah ini memang sudah sesuai dengan jalannya.

Seolah ini adalah untuk selamanya.

Deru nafas kami semakin tak terkontrol, gerakan pinggangnya pun seperti itu. Tak se teratur tadi. Kini ia lebih bringas menggerakkannya. Menyentak-nyentak miliknya memasuki tubuhku. Sedikit kasar dan liar. Dan hal ini membuat gairahku betul-betul tak lagi bisa kubendung. Menguasai seluruh tubuhku. Menguasai otakku. Semuanya terasa begitu kabur, seperti film yang berputar begitu cepat dihadapanku. Yang menampilkan wajahnya. Semuanya. Dan hanya dia.

“Kyuhyun-ah… Ahhh.. ini sangat nikmat,, Aku, ahh..” racauanku semakin tidak jelas lagi. Aku bahkan tidak tau telah mengeluarkan kalimat apa saja. Rasa nikmat itu betul-betul mengendalikanku begitu hebat. Dan kembali menyembur deras dari dalam tubuhku.

Kyuhyun tersengal diatasku. Urat-urat lengannya terlihat begitu menonjol menandakan ia menegang. Wajahnya memerah, sementara matanya terpejam erat. Bibirnya mengeluarkan desahan-desahan sexy. Dan deru nafasnya, tersengal-sengal. Pemandangan yang sangat indah. Yang betul-betul harus kurekam dengan baik oleh mata dan otakku.

“Aakkkhhh…”

Ia melepaskannya. Didalamku. Aku tidak akan hamil, kan?? Ah, kenapa aku harus berfikir sejauh itu? Tentu saja tidak. Ini bahkan bukan masa suburku. Tidak, itu tidak akan terjadi.

Tubuhnya ambruk menimpa tubuhku. Membuatku kembali bisa memeluknya. Untuk yang terakhir kali. Lenganku merengkuh pundaknya erat. Tanpa air mata. Yah, aku tidak punya alasan lagi untuk menangis. Ini adalah pilihanku. Dan aku tidak boleh menyesalinya sama sekali.

Ia mengangkat tubuhnya dariku. Kembali membuat pandangan kami bertemu. Mata tajamnya menelusuri wajahku. Seperti diriku, ia terlihat merekam wajahku dengan baik. Ah, tapi aku tidak boleh sepercaya diri itu. Itu tidak mungkin terjadi.

“Kalau kau menganggap semua ini adalah sesuatu yang harus dilupakan, maka kau salah besar. Jika kau menganggap ini adalah hal yang konyol, maka kau kembali salah. Inipun, adalah yang pertama kalinya untukku. Dan yang pertama itu, selalu bisa mengambil alih memorimu yang terkuat. Meski ia bukan yang terakhir, tapi ia akan tersimpan begitu baik disana. Membuatmu betul-betul kesulitan mencabut akarnya yang begitu kuat tertanam…”

“Mungkin ini terdengar omong kosong bagimu. Tapi apapun itu, kau adalah yang terindah..”

Aku menggigit bibirku yang bergetar. Kutanamkan baik-baik dikepalaku bahwa itu semua adalah bohong. Aku tidak diperuntukkan untuk menaruh harapan besar padanya. Ini hanyalah ucapan lelaki yang telah mendapatkan semuanya. Yah… Pasti seperti itu.

“Selamat tinggal, Cho Kyuhyun”

*****

Belum terlalu larut sebenarnya. Aku memaksakan diriku turun menemui Tuan Choi yang kutahu masih berada diruangannya jam segini. Hanya perlu mengetuk pintunya beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara beliau dari dalam.

“Oh, Minchan-ah… Bagaimana dengan Tuan Cho? Apa ia baik-baik saja?”

“Ne. Beliau baik-baik saja, Tuan. Beliau sudah tertidur diatas..”

“Baguslah. Kau pasti bekerja keras. Kau, lumayan lama juga menemaninya diatas..” ujar Tuan Choi melirik jam tangannya.

“Tuan Choi… Saya ingin mengundurkan diri..”

“Ne??” raut wajah kaget seketika menghiasi wajah tampan Tuan Choi. Seolah tidak percaya ucapanku yang begitu tiba-tiba.

“Tapi kenapa? Kau bahkan baru dua bulan disini. Kau tidak betah?”

“Ani, bukan begitu… Hanya saja, aku ingin melakukan banyak hal selain menjadi pelayan di Bar Tuan..”

“Tapi, kenapa begitu tiba-tiba. Tidak ada sesuatu yang terjadi diantara Tuan Cho dan kau, kan?” tanya Tuan Choi seraya melayangkan tatapan curiga kearahku.

“Tuan Choi fikir selera Tuan Cho serendah itu?”

Tuan Choi menelusuriku dengan tatapannya. Menilai, “Kau tidak buruk, Shin Minchan-ah. Sungguh..”

Aku terkekeh pelan menanggapi ucapannya.

“Tapi aku betul-betul harus mengundurkan diri, Tuan..”

Tuan Choi terlihat menghela nafas. Raut wajahnya pun terlihat kecewa, “Hhh~ Aku tidak berhak menahanmu lebih lama jika memang kau ingin pergi. Tapi…” ia membuka lacinya, mengeluarkan amplop berwarna cokelat gading dari dalam sana.

“Ini untukmu, ambillah. Bagaimanapun kau telah bekerja keras disini” ia menyodorkan amplop itu kearahku. Uang. Gajiku yang terakhir.

“Terima kasih, Tuan Choi..”

“Hhhh~ Aku kehilangan pegawaiku yang manis..” ucapnya terlihat seperti gumaman.

Aku tertawa kecil menanggapinya. Dan beliau pun melakukan hal yang sama. Aku betul-betul senang bekerja disini jujur saja. Tapi, keadaan memaksaku untuk beranjak dari tempat ini.

“Sekali lagi terima kasih, Tuan Choi.. Dan, kalau boleh, aku punya permintaan..”

“Permintaan? Apa itu?”

“Hmm.. Aku…”

****

Dengan berat hati, aku membalikkan tubuhku. Meninggalkan semuanya yang menjadi kenanganku dengan seseorang bermarga Cho. Kakiku melangkah keluar dari ruangan Tuan Choi. Mataku menangkap meja disudut ruangan yang menjadi tempat favorit.nya. Senyum tipis terukir dibibirku. Menatap semuanya yang baru kusadari begitu indah.

One night stand,

Sejarah kecil dalam hidupku yang terukir hari ini. Yang akan tertanam begitu kuat diotakku. Dan takkan mungkin kulupakan. Kisah cinta yang bahkan tidak bisa kusebut satu malam saking singkatnya.

_THE END_

So sorry for miss typo… ^^

Fc Populer:

%d blogger menyukai ini: