Nappeun Sunbae

2
Nappeun Sunbae

1. Author : Mrs. Evil

2. Judul : nappeun sunbae
3. Kategori: NC 21, Yadong, Oneshoot
4. Cast:
– Cho Kyuhyun
– Park Eunri
– Kim Kibum
Annyeong nc’splode, author balik lagi dengan cerita yang lain. Ini request dari author eunri park . pada kenalkan ? ituloh author yang daebak ituuu. haha author marathon bikinnya, setengah hari . wowowow. Hahaha mian kalo gaje dan disini author menyuguhkan nuansa yang berbeda dari ff sebelumnya. Disini kesannya lebih ceria . udah deh langsung baca aja ya. Mian kurang hot! Selamat membaca !
——————————————————————————————
Author POV
Bunyi bel sekolah siang itu menggema diseluruh antero Seoul High School. Dan sedetik kemudian ribuan siswa-siswi berhamburan menjauhkan diri dari kelas mereka yang membosankan. Tak terkecuali seorang yeoja manis itu. Dia menyeret kakinya keluar dari kelasnya.

Dengan sebuah buku bertengger digenggamannya dia menempati tempat duduk yang biasa ia tempati ketika istirahat tiba. Tempat duduk itu berhadapan dengan lapangan basket . Diliriknya sekilas suasana di lapangan basket yang tengah berpenghuni itu. Lalu dia membuka halaman buku yang sedari tadi ia genggam . Itu bukanlah sebuah buku cerita, novel, atau komik melainkan buku pelajaran biologi.

“eunri-yaa, kau tidak makan ? kajja kita ke kantin” dua orang gadis menghampirinya yang sudah mulai tenggelam pada bacaannya itu.
“ah mianhae hyemi-ya nari-ya, aku sedang tidak lapar. Kalian duluan saja.” Dia menatap kedua sahabatnya itu dengan senyum yang tersungging dibibirnya, menambah kecantikan diwajahnya.
“tentu saja, menurutmu kan materi yang diajarkan Kim seonsangnim itu lebih menarik daripada makanan di kantin. Ya kan ?” yeoja yang bernama hyemi itu menggodanya dan disambut tawa oleh mereka bertiga.
“kau sudah tahu kan ? haha. Kalau begitu pergilah jangan sampai cacing-cacing diperut kalian demo karena tidak diberi makan”
Setelah kedua sahabatnya itu melenggang menuju dia kembali memusatkan pikirannya kedalam bacaannya itu. Yeoja itu masuk kedalam kategori yeoja yang cerdas. Dia meraih peringkat tertinggi diangkatannya, dan menjadi peringkat kedua di satu sekolah. Terkadang dia iri kepada si peringkat pertama karena tanpa perlu setekun dirinya untuk menjadi peringkat. Bahkan sunbaenya yang menjadi peringkat pertama itu masuk kedalam kategori nappeun namja. Bermasalah, sering berganti-ganti yeoja, dan dia sering kabur saat jam pelajaran. Namun tak bisa dipungkiri di balik kenakalannya dia memiliki otak yang cemerlang dan emmm….wajah yang tampan. Dan itu sukses membuatnya tak bisa tidur setiap malam sejak dia pertama kali masuk ke sekolahnya.
Eunri masih fokus pada bukunya sehingga tidak menyadari teriakan orang-orang disekitarnya dan tidak menunggu waktu lama sebuah hantaman keras sebuah bola basket tepat mengenai keningnya yang membuatnya pusing dan terjungkal dari tempat duduknya.
“gwaenchanayo?” suara berat namja menggelitik telinganya. Diapun merasakan lengan kuat melingkar di pinggangnya dan mengguncang tubuhnya. Dan dirasakannya semua gelap seketika.
Eunri POV
Aku membuka mataku yang terasa sangat berat ini dan kurasakan kepalaku sangat sakit. Aku meringis sebentar lalu mengedarkan pandanganku disekelilingku.
‘bukankah ini di ruang kesehehatan? Apa yang terjadi?’ aku mencoba bangkit dari posisiku yang terlentang ditempat tidur . Dan reflek bibirku mengeluarkan suara erangan saat sakit itu kembali mendera kepalaku.
“kau sudah sadar rupanya. Bagaimana kepalamu? Pusingkah ?” seorang namja menghampiriku dan mengelus kepalaku lembut. Aku terlalu shock hingga tak mampu mengeluarkan sepatah katapun dari bibirku. Ah bodoh sekali kau eunri! Rutukku dalam hati.
Dia mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan wajahku dan nampak raut wajahnya yang khawatir. “ah ne sunbaenim. Nan gwaenchana. “ aku terbata-bata menjawab pertanyaannya itu.
“jinjja? Ah syukurlah. Jika terjadi apa-apa denganmu sainganku untuk meraih peringkat pertama disekolah ini bisa berkurang satu” dia menyunggingkan senyum yang mampu membuat seluruh yeoja di sekolah mimisan.
“ah ye, aku lupa. Gomawo sunbaenim karena kau telah menolongku tadi. Aku merasa berhutang budi.” Aku menundukkan kepalaku sebentar sebagai tanda penghormatanku. Dan lagi-lagi aku meringis karena kepalaku berdenyut.
“aissh jangan banyak bicara dulu, lihatlah kau sedang sakit. Lagipula memang aku yang membuatmu seperti ini jadi jangan merasa seperti itu.  Arrachi?” dia membaringkan tubuhku . Wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dari wajahku, dan dapat kurasakan sapuan nafasnya diwajahku. Bisa kupastikan wajahku memerah saat ini dan jantungku melonjak-lonjak tak karuan.
“ne sunbaenim. Mian, apakah kau tidak masuk kelas? Bukankah ini masih jam pelajaran” aku berusaha mengalihkan suasana yang menegangkan tadi.
“ne kau benar, sekarang masih jam pelajaran. Tapi kau tahukan kalau tanpa masuk ke kelaspun aku sudah hafal semua materi pelajaran di otakku? “ dia terkekeh sejenak. “ Lagipula aku lebih senang menemani yeoja cantik yang sedang tertidur tadi. “
Aku melongo mendengar perkataannya tadi. Yang benar saja hey? Aku cantik? Kurasa yeoja-yeojanya diluar sana ratusan kali lebih cantik dariku. “ss…ssunbaenim a…akku…” entahlah aku tak tahu harus berkata apa. Aku bahkan sudah tidak peduli di anggap bodoh olehnya saat ini.
“ssstt…”dia menempelkan telinjuknya tepat dibibirku “ jangan seformal itu padaku, panggil saja aku oppa” dia berbisik tepat ditelingaku dan bisikannya itu sukses membuat bulu romaku berdiri. Ingin sekali aku teriak ‘ Cho Kyuhyuuuuun!!! Kau membuatku gilaaa’ namun aku masih dapat mengontrol diriku.
“nnee…Kyuuu..oppaa” aku tertunduk malu. Sungguh aku ingin sesegera mungkin menghilang dari hadapannya. Jantungku benar-benar berpacu lebih cepat.
Dia kembali mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan kurasakan ibu jarinya menyapu bibirku dengan lembut. Membuat sensasi yang pertama kali kurasakan.
“baru kusadari bibirmu cukup sexy Eunri-ya” dia menunjukkan smirk andalannya lalu menjilat ibu jarinya yang tadi menyapu bibirku. “manis… dan sepertinya akan lebih manis jika kucoba dengan bibirku langsung ” ucapnya kemudian. Mataku terbelalak mendengarnya. Aku menggigit bibirku untuk membuktikan bahwa semua ini nyata. Ya Tuhan Cho Kyuhyun kau membuatku gila.
“o..oppaa…a.appaaa..yyangg..kkaauu..lakkukkaannn??” aku mengerjapkan mataku melihatnya lebih mendekatkan wajahnya padaku. Dan aku tak dapat kemana-mana lagi karena posisi yang sedang terlentang ini tidak memungkinkanku.
Mataku terpejam saat kurasakan bibirnya mendarat mulus di bibirku. Dia melumat lembut bibirku dan menjilatnya sekilas kemudian ditariknya kembali bibirnya dari bibirku. Aku kembali membuka mataku dan tak sengaja melihatnya yang sedang menjilat bibirnya sendiri. Bibirnya yang sebelumnya sudah merah itu kini lebih memerah lagi.
“istirahatlah, aku sudah cukup lama disini. Aku tak ingin orang-orang berpikiran kita melakukan hal yang tidak-tidak.” Dia berlalu dengan santainya keluar dari ruangan ini.
‘mwo? Apa yang dia katakan ? berpikir yang tidak-tidak? Memangnya mencium seorang yeoja di ruang kesehatan sekolah bukan hal yang tidak-tidak? Aiisshh jinjjaaa’ aku mengacak-ngacak rambutku frustasi. Tak tahu harus bagaimana jika harus bertemu lagi dengannya. Dia sudah mencuri ciuman pertamaku dan itu membuatku sangat malu!
Aku melirik jam dinding yang terpasang di pergelangan tanganku. Ommo, sebentar lagi jam pulang sekolah. Dan keadaanku sudah lebih baik jadi aku putuskan untuk keluar dari ruang kesehatan.
Aku berjalan gontai menyusuri koridor yang menuju ke kelasku. Kulihat beberapa pasang mata melirikku dengan tatapan ingin membunuh. Aku bergidik ngeri. Aku bukanlah yeoja yang senang menjadi pusat perhatian seperti itu, apalagi mendapat tatapan seolah-olah ingin menelanku. Akupun mempercepat jalanku dan tepat beberapa meter sebelum kelasku kulihat kedua sahabatku menghampiriku sambil membawa tasku. Beruntunglah aku mempunyai chingu seperti mereka.
“gwaenchanayo? “ tampak mereka sangat khawatir padaku. Mereka sampai memegang pipiku dan menilisik tubuhku dengan tatapan mereka.
“ne gwaenchana. Jangan terlalu berlebihan” mereka nampaknya masih belum yakin dengan kata-kataku hingga membuatku terheran-heran sendiri. Aku hanya terkena bola basket, bukannya tertabrak bus lalu tergilas truk.
“tidak ada yang menyakitimukan?” Hyemi menatapku cemas.
“atau melabrakmu?” nari menyambung ucapan Nari denga cepat.
“mwo? Melabrak? Nuguya? Issh aniyo. Apa yang sebenarnya kalian bicarakan huh ?” mereka membuatku sangat bingung, jelas saja apa hubungannya tersambar bola basket dengan dilabrak ? siapa yang tidak waras sebenarnya?
“aigooo, neomu babboya ! Tadi saat kau pingsan dan yang menggendongmu ke ruang kesehatan itu adalah Kyuhyun oppa” mereka menjelaskan kepadaku dengan gemas, tapi aku masih tetap tidak mengerti.
“lalu? Memangnya ada yang salah ?” aku bertanya dengan wajah polos yang sukses membuat mereka berdua menggeram tak percaya.
“bagaimana bisa kau menjadi murid peringkat kedua di sekolah ini huh ?” Nari mencubit pipiku gemas.
“kau tahukan kalau Kyu oppa itu adalah namja terpopuler di sekolah ini ? “ aku menganggukkan kepalaku. “dan kau tahukan saking populernya dia, dia mempunya fans club di sekolah ?” aku menganggukkan kepalaku lagi. “kau sudah mengerti kan?” dan kali ini aku menggeleng. Hyemi nampak putus asa .
“Park Eunri!!! Acara gendong-menggendongmu itu dengan Kyuhyun oppa di tengah lapangan dan saat jam istirahat. Dan itu artinya seluruh murid disekolah ini melihat kegiatanmu dengan Kyuhyun oppa, termasuk fans-fans fanatiknya itu. Dan bisa saja mereka menyerangmu babbo” Nari menjelaskan dengan cepat secepat lari marathon. Aku berfikir sejenak merenungkan kata-katanya . Dan ada benarnya juga.
“jinjja? Satu sekolah melihatnya ? Pantas saja tadi ketika aku berjalan kesini murid-murid disini melirikku sinis” kulihat mereka memutar bola mata mereka. Astagaa kenapa aku baru sadar? Apakah ini efek benturan kepalaku dengan bola basket tadi ?
“sudahlah kajja kita pulang. Dan kurasa otakmu sedang bermasalah eunri-ya” Hyemi berkicau tak jelas dan diikuti Nari yang mengangguk mantap . Dan sedetik kemudian mereka sudah menyeretku menuju gerbang.
Kami berjalan menuju gerbang diiringi dengan tatapan sinis dari seluruh penjuru, ani bukan kami tapi aku. Ini sangat membuatku tak nyaman, tapi kedua sahabatku terus mengalihkan pikiranku dengan obrolan konyolnya dan ya tak bisa dipungkiri membuatku sedikit mengacuhkan tatapan-tatapan itu.
Kami duduk di halte bus depan sekolah menunggu bus yang biasa kami naiki. Tak lama berhenti sebuah mobil mewah tepat di depan kami. Dan sang pengemudi turun untuk menghampiriku.
“kuantar kau pulang. Kajja” lagi-lagi dia berhasil membuatku melongo.
“ani Kyu oppa, aku bisa pulang bersama teman-temanku. “ aku menolaknya halus. Dan bisa kurasakan semua murid yang masih berdiri di gerbang menusukku dengan tatapan mereka.
“andwae, kau masih sakit. Apalagi aku yang menyebabkan kau sakit seperti ini. Sebaiknya kau kuantar, dan bukankah lebih aman jika naik mobil denganku. Dan tentu saja tidak merepotkan teman-temanmu jika tiba-tiba kau pingsan di bus.” Aku terpojok oleh kata-katanya.
“t..tapi oppaa…” belum sempat kuselesaikan ucapaku dia sudah menarik tanganku dan menyeretku masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan kerumahku kami tidak melakukan obrolan apapun, dan membuat suasananya sedikit canggung untukku. Tapi yang aku herankan aku bahkan belum mengatakan letak rumahku tapi dia sudah melajukan mobilnya dengan pasti.
Dia memberhentikan mobilnya tepat di depan rumahku. Dan entahlah nafsuku untuk bertanya bagaimana dia mengetahui rumahku hilang begitu saja. Aku membuka sit belt yang melekat di pinggangku kemudian menatapnya.
“gomawo Kyu oppa. Sungguh kau tak perlu melakukan ini padaku lagi. Kejadian tadi bukan salahmu, dan ini hanya akan merepotkanmu.” Aku benar-benar merasa tak enak hati jika aku harus menjadi bebannya.
“aniyo Eunri-ya. Aku sama sekali tak merasa direpotkan sekalipun kau memintaku untuk mengantar jemputmu setiap hari.” Aku membulatkan mataku dan disambut gelak tawa olehnya.
“andwae Kyu oppa. Aku tidak ingn menjadi bulan-bulanan fansmu itu” aku panik seketika dan kulihat dia terdiam. Kemudian dia tersenyum penuh arti.
“jadi itu alasanmu tak ingin dekat-dekat denganku ha? Kau takut diserang oleh fans-fansku?” dia kembali tertawa. Aku hanya terdiam, karena aku tidak menemukan kelucuan sama sekali dari kata-katanya.
“begitulah.” Aku menjawabnya singkat.
“ah mianhae, tapi jangan perdulikan mereka. Mereka tak akan menyakitimu. Percayalah padaku. Karena akan kubunuh mereka dengan tanganku sendiri jika mereka menyakitimu.” Dia menyunggingkan evil smirk andalannya.
“mwo?” aku menatapnya tak percaya. Apalagi ini Tuhan ?
“wae ? Kau tak percaya? Kau adalah yeoja yang sangat berarti bagiku, jadi aku akan melindungimu dengan kekuatanku sendiri.” Smirknya itu kini berubah menjadi senyuman lembut yang meneduhkan. Entahlah, apakah dia mempunyai dua kepribadian ? Dia bisa menjadi iblis dan sedetik kemudian dia bisa menjadi malaikat. Ah, molla.
“a..akkuu..percayaa…” aish otakku memang selalu kacau bila didekatnya.
“yasudah pulanglah. Dan istirahat. Jangan kelelahan jika kau ingin cepat sembuh” aku mengangguk pelan lalu membuka pintu dan hendak berdiri namun kurasakan tanganku tertahan.
CHU~
Bibirnya beradu dengan pipi kiriku. Aku menatapnya tak percaya. Namun segera aku keluar dari mobilnya. Aku membungkukkan badanku sebentar kemudian berlalu dari hadapannya. Setengah berlari aku memasuki rumahku yang lumayan besar itu. Kudapati eoma menatapku didepan pintu rumah.
“siapa itu chagi? Temanmu? “ eomma bertanya padaku tepat saat aku didepannya. Jebal eomma jangan menanyaiku disaat seperti ini.
“ne eomma” aku langsung berlari menuju kamarku dilantai atas. Menghindari seluruh penghuni rumah ini. Aku sangat ingin menjernihkan pikiranku saat ini.
Sesampainya dikamarku aku langsung menyimpan tasku dan masuk kekamar mandi. Menanggalkan seluruh kain yang ada di tubuhku. Selesai membersihkan tubuhku aku ingin berendam sejenak dengan aromatherapi. Kupilih ekstrak lily untuk menenangkanku.
Aku meluruskan kakiku, menyenderkan punggungku ke bathup, dan kutengadahkan kepalaku. Kupejamkan mataku untuk menikmati dentuman instrumen piano yang putar tadi. Baru sampai kebait keempat kubuka mataku dan menarik kakiku kedalam pelukanku. Kutumpu daguku dilututku. Pikiranku sangat kacau, aku terus memikirkannya. Sekelebat memory tadi siang kini memenuhi otakku. Saat sapuan nafasnya menerpa wajahku, saat suara bisikannya menggelitik telingaku, saat tangannya menarik tanganku, saat ibu jarinya merayap di bibirku, saat bibirnya melumat dan lidahnya menjilat bibirku. Semua itu merusak kinerja otakku, melumpuhkan sistem sarafku. Membuat tubuhku memanas, wajahku memerah, nafasku menderu, dan yang pasti membuat jantungku berdetak seribu kali lebih cepat.
“hhh…Cho Kyuhyun. Apa salahku? Mengapa kau membuatku sekacau ini? “ mataku kembali terpejam. “kau tau aku hanya takut kau mempermainkanku. Karena aku tak secantik yeoja-yeoja disekelilingmu.”
Author POV
Eunri melenggangkan kakiku cepat menembus puluhan pasang mata yang mengawasinya. Dan dengan waktu kurang lebih 3 menit Eunri berhasil masuk ke ruang kelasnya yang lumayan jauh dari gerbang. Eunri menghela nafas lega saat dia duduk di bangkuku. Namun sepertinya nasib baik belum berpihak kepadanya, kini seluruh mata dikelas ini memperhatikannya. Dia pun hanya mengerang kesal menikmati kesialannya hari ini.
Bel istirahat telah berbunyi, namun tak seperti biasanya dia berdiam diri dikelas. Padahal hari-hari sebelumnya pasti dia sudah duduk di bangku depan lapangan basket. Tetapi tidak hari ini. Dia sedang menghindar dengan Kyuhyun. Begitupun setiap harinya. Saat tak sengaja berpapasan dia akan pura-pura tak melihat dan mendengar Kyuhyun yang jelas-jelas berteriak dibelakangnya. Dia pun akan bersembunyi jika matanya menangkap sosok Kyuhyun. Sungguh dia merasa seakan-akan dia adalah seorang teroris dan Kyuhyun adalah polisinya.
Jujur saja, seminggu yang lalu dia sempat diancam oleh sunbaenya. Dan kejadian itu masih sangat jelas diingatannya.
Siang itu dia tengah mencuci tangannya di toilet wanita, didalam toilet maupun di sekitarnya sedang sepi karena memang saat itu masih jam pelajaran. Dan sebuah tangan mencengkram kerah bajunya sangat kuat dan mendorong tubuhnya sehingga membentur dinding toilet. Dan ternyata itu adalah sunbaenya. Yang dia tahu dia adalah Song Jejin murid kelas 3-A, satu kelas dengan Kyuhyun. Dan setahu Eunri, dia sangat dekat dengan Kyuhyun bahkan mereka sempat digosipkan berpacaran. Tapi seiring berjalannya waktu gosip itu hilang bagai ditelan bumi.
“neo! Kuperingatkan kau yeoja jelek! Jangan dekati Kyuhyun, atau kubuat kau akan menyesal seumur hidup.”
“mian sunbaenim, tapi aku tak pernah mendekatinya.” Eunri mencoba membela diri karena memang dia tak salah.
“mwo? Jadi maksudmu Kyuhyun yang mendekatimu?” Eunri mengangguk pelan. Terdengar suara tawa meremehkan dari kedua temannya yang berdiri tepat dibelakangnya.
“tck, kau jangan mimpi babbo! Mana mungkin Kyuhyun mendekatimu ha? Kau ini bukan siapa-siapa. Cantik saja tidak, apalagi sekaya aku. Kau hanya kutu buku yang tidak berguna” perkataan itu telak menusuk hatinya. Ya yang dikatakan Jejin benar, dia bahkan tidak pantas dengan Kyuhyun. Ingin sekali rasanya ia menangis, tapi tidak saat ini. Tidak disaat dia harus ditindas, karena jika dia menangis itu hanya akan membuat mereka bertambah senang.
“mianhae sunbaenim” suaranya dibuat senormal mungkin. Dan akhirnya mereka pergi keluar dari toilet.
Eunri POV
“Eunri-yaaa!!!! “ kurasakan gendang telingaku nyaris pecah karena teriakan teman-temanku yang kelewat batas itu.
“yak! Tak bisakah kalian menurunkan volume suara kalian ha? Kau ingin membuatku mati karena serangan jantung ha? “ mereka hanya terkekeh tak jelas saat mendengar omelanku. Ingin sekali kutelan bulat-bulat mereka saat ini juga.
“kkkk~ mianhae. Kami hanya terlalu senang” Hyemi masih tersenyum simpul saat melakukan pembelaan diri.
“waeyo?” aku bertanya sekenanya, karena memang aku tidak begitu penasaran.
“kau tahukan sekolah kita dari dulu menjalin hubungan yang kurang baik dengan Gwangju High School. “ kulihat Hyemi sangat semangat saat bercerita. Apa seseru itu?
“nah, dan kau tahu siang ini selepas sekolah tim basket sekolah kita akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim basket Gwangju High School.” Kini Nari yang menggebu-gebu. Aku hanya memutar bola mataku.
“lalu apa hubungannya denganku?” aku bertanya dengan wajah tak berdosa dan sukses mendapatkan jitakkan dikepalaku. “yak!! Appo..shhh” aku merintih.
“tentu saja kita harus menontonnya. Ini pertandingan harga diri. Eotte?” Nari dan Hyemi menunjukkan ‘puppy eyes’nya yang sebenarnya sama sekali tidak berpengaruh padaku.
“baiklah” singkat, padat, dan jelas. Namun jawabanku itu membuat mereka berjingkrak senang. Sekali lagi kutekankan ‘puppy eyes’ mereka tak mempan olehku. Aku menerimanya karena aku sedikit merindukan Kyuhyun oppa. Aku rindu saat dia bermain basket.
Jam menunjukkan pukul 2 siang saat aku sudah berdiri di lapangan dan dibarisan terdepan. Yang benar saja, kenapa kedua temanku yang bodoh ini sangat bernafsu sih? Issh jinjjaaa. Kuperhatikan keselilingku lumayan ramai rupanya, dan sepertinya tidak hanya tim dari Gwangju High School saja yang datang tapi murid-murid dari sana pun ikut bertamu.
Aku tidak begitu perduli dengan yang lain karena aku hanya memperhatikan Kyuhyun yang sedang memberi arahan kepada timnya. Ya dia adalah kapten tim basket Seoul High School. Kuperhatikan dengan seksama raut wajahnya yang serius itu, dan itu menambah ketampanannya seribu kali lipat.
Kurasakan segerombolan orang tengah berlomba untuk mendapat barisan dan itu membuatku terdorong sehingga hilanglah keseimbanganku. Aiish memalukan sekali. Kenapa aku harus terjatu disaat seperti ini ?
Kurasakan seseorang menggapai tubuhku dan membantuku berdiri. Dia adalah salah satu pemain dari Gwangju High School terlihat dari seragam tim yang digunakan.
“gwaenchana?” suara berat namja itu terdengar tak asing di telingaku. Aku masih sibuk dengan merapihkan pakaianku yang menjadi kusut.
“ah ne, gwaenchana. Gomawo “ aku membungkukkan tubuhku dan menatap matanya. Mataku terbelalak melihat namja dihadapanku. Benarkah itu dia ?
“Park Eunri ?” dia memosisikan kedua telapak tangannya di kedua pipiku. “kau Park Eunri kan?” astaga, itu dia.
“n..neee, kibum-ahh” aku sungguh tak percaya, bagaimana bisa aku bertemu dengan cinta pertamaku sekaligus namjachingu pertamaku itu disini. Dulu aku berpisah dengannya karena dia harus pindah ke amerika karena urusan pekerjaan orang tuanya. Sebenarnya kami belum berpisah, belum ada kata putus diantara kami.
“ommo, kau tambah cantik Eunri-yaaa! Bogoshippoyooo. Mian aku tak menghubungimu selama aku di amerika karena ponselku hilang.” Dia memelukku dan kurasakan wajahku bersemu merah. Aku sudah melupakan dimana aku berada sekarang.
Tiba-tiba kurasakan tubuhnya menjauh dengan paksa dariku dan itu perbuatan Kyuhyun. Dia menarik dengan kasar tubuh Kibum agar menjauh dariku. Dan bisa kulihat aura hitam keluar dari tubuhnya.
“jangan pernah menyentuh yeojaku lagi. Arraseo?” suaranya datar namun tersirat ketidak sukaan. Ommo aku bahkan bergidik melihatnya. Sesaat kemudian dia beralih manatapku dan pandangannya melembut.
“gwaenchana?” dia menilisik tubuhku dengan tatapannya.
“ne Kyu oppa, gwaenchana. “ aku mencoba tersenyum padanya, dan dia pun membalas senyumanku.
Dia mendekatkan bibirnya ketelingaku dan berbisik “tunggu aku setelah pertandingan ini, ada yang ingin kubicarakan” aku hanya mengangguk karea lidahku kelu untuk berbicara. Selalu saja dia berhasil merusak sistem kinerja otakku.
“yasudah, berhati-hatilah. Jangan sampai kau terjatuh lagi. Doakan aku menang chagi. Chu~” melumat dan menjilat bibirku sekilas, rupanya dia senang sekali menjilat bibirku. Dan seperti ada alarm peringatan di otakku aku tersadar. Bisa kulihat tatapan tak percaya dari seluruh mata di sekolah ini, dan suara pekikkan mereka. Tak sedikit yang histeris melihat kejadian itu. Dan kualihkan tatapanku ke namja dihadapanku.
Kyuhyun menyapu bibirku sekilas lalu menjauh untuk kembali ke tempat timnya. Dan aku menatap Kibum dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang dan sedih. Guratan kecewa jelas terlihat diwajahnya.
Akhirnya pertandingan selesai, akupun memutuskan untuk menjauh dari lapangan. Aku berjalan menuju kelasku yang sudah kosong itu. Dan kurasakan sebuah tangan menarik tanganku. Dan tepat saat aku berbalik kurasakan bibir sang pemilik tangan itu mendaratkan bibirnya dan bibirku. Dan seketika itu juga aku meronta dan mendorongnya hingga dia mundur beberapa langkah.
“waeyo? Kau menolakku?” dia menatap jauh kemataku. “aku menunggumu, aku selalu menunggumu Eunri-ya. Kau tau betapa tersiksanya aku ha?”
“kibum-ah, mianhae. Aku tak bisa. Kau adalah masa laluku.” Aku menunduk tak berani menatap wajahnya.
“waeyo? Kenapa kau seperti ini Eunri-ya?” dia mengguncang tubuhku dengan frustasi.
“aku menyukai namja lain kibum-ah. Kumohon lupakan aku. “
“baiklah jika itu maumu, berbahagialah Eunri-ya. Saranghae” dia mengecup keningku sesaat sebelum dia melangkah menjauh dariku. Andaika Kyuhyun tidak masuk kehidupku saat ini, mungkin aku akan senang saat melihatnya. Namun semuanya sudah terjai, hatiku telah memilih Kyuhyun.
Aku berbalik menuju kelasku, dan baru saja aku terduduk tiba-tiba kudengar suara debaman pintu yang ditutup secara paksa. Tentu saja hal itu membuatku terkejut setengah mati.
“sunbaenim, wae geurae ?” aku menatapnya ngeri. Dia mendekatiku dan menampar pipiku dengan keras. Aku meringis tertahan, kurasakan pipiku memanas dan perih. Baru kali ini ada orang yang menamparku seumur hidupku.
“kau yeoja murahan! Sudah kuperingatkan kau jangan mendekati Kyuhyun lagi! Tapi apa yang kau lakukan tadi ha ? Kau sengaja menggodanya kan ?” dia berteriak keras sekali didepan wajahku. Aku tersentak saat sebuah tangan menjambak tanganku. Aissh apakah mereka tidak malu mengeroyokku yang seorang diri ini ?
BLAMM..
Suara pintu terbuka itu mengagetkan aku dan sunbaenim, begitupun dengan anak buahnya. Mereka langsung menjauhkan tubuh mereka begitu melihat siapa yang baru saja membuka pintu itu.
“jangan pernah kau mengatainya seperti itu Song Jejin! Atau kubunuh kau ! “ Kyu menghampiri seunbaenim seperti orang yang kesetanan. “dan kau jangan pernah menyentuhnya dengan tangan kotormu itu, atau kau akan kutendang dari sekolah ini. Kau tahukan aku anak pemilik dari sekolah ini?” Kyu beralih kepada yeoja yang tadi menjambak rambutku.
“mi..mianhaaeee Kyu” mereka segera berlari meninggalkanku dengan Kyu.
“aissh kenapa kau tidak bilang mereka pernah mengganggumu ?” Kyu menghampiriku lalu memelukku. Hangat, aku merasa nyaman saat dia memelukku.
“aku tidak apa-apa oppa, lagi pula ini tidak penting untuk dibahas” aku tersenyum kecil saat dia melepas pelukannya dan menatapku tak percaya.
“tidak penting apanya? Mereka menyakitimu Eunri-ya. Aissh jinjaa…kau ini” dia sangat lucu saat khawatir seperti ini. Ini kejadian langka, karena bayangkan saja setiap hari dia hanya memasang tampang dingin disekolah. Jadi siapa sangka pangeran setan ini bisa sepanik ini.
“sudahlah oppa, apa yang ingin kau bicarakan padaku?” aku melihat wajah paniknya kini menjadi serius.
“jadilah milikku.” Dia terlihat kalap “a..akku tidak bisa merangkai kata-kata. Jadi aku langsung to the point saja.”
Aku terbelalak mendegar pernyataan cintanya yang sangat tidak lazim itu. Mungkin masih wajar bila dia mengatakan ‘jadilah yeojaku’ tapi ini dengan percaya diri yang tinggi dia memintaku menjadi miliknya. Aigooo namja macam apa dia.
“oppa, apa yang kau suka dariku? Aku tak cantik, dan aku tak sekaya jejin eonni”
“entahlah, aku tak punya alasan kenapa menyukaimu. Karena yang aku tahu jika aku punya alasan menyukaimu, dan bila suatu saat nanti alasan itu sudah tidak ada kurasa rasa sukaku pun pasti akan hilang. Tapi yang pasti aku menyukaimu apa adanya dan bagaimana dirimu” dia mencium pipiku lembut dan kembali menatap mataku sendu . ” saranghae”
“nado oppa, nado saranghae” aku memelukknya karena aku benar-benar tak menyangka jawaban yang keluar dari mulutnya itu. Aigoo nappeun namja ini benar-benar diluar dugaanku.
Aku melepas pelukkanku dan sedetik kemudian bibirnya sudah melumat ganas bibirku. Dan tak lupa sapuan lidahnya dibibirku. Kini lidahnya menjelajahi setiap rongga dimulutku. Kubalas setiap lumatan yang dia berikan. Tangannya menari tengkukku agar lebih memperdalam ciuman kami. Dan tak mau kalah, tanganku sudah bergerilya menyusuri helaian-helaian rambutnya.
“oppaahhhh….” aku mendesah saat ciumannya berpindah kebagian leherku. Aigooo nikmat sekali.
“ughhh….oppaaahhh….jangannnhh…disituuuhh….” aku mencegah perbuatannya untuk membuat kissmark di leherku, yang benar saja. Bagaimana aku kesekolah jika leherku penuh dengan kissmark yang ia buat?
Dia menggendongku lalu merebahkan diriku diatas meja belajar yang cukup besar. Dengan terburu-buru dibukanya seragamku hingga tak bersisa, lalu dia pun melepaskan seluruh pakaian yang berbalut ditubuhnya. Mataku terbelalak melihat juniornya yang sudah menegang sempurna itu.
Dia kembali mencium bibirku secara membabi buta, entahlah kenapa dia begitu terobsesi dengan bibirku ini. Decakan ciuman kami terdengar memenuhi ruang kelasku. Mungkin aku sudah gila karena bercinta di sekolahku sendiri.
Tangannya tak tinggal diam, jemarinya itu kini telah menyusuri lekuk tubuhku. Mulai dari leher turun kepayudaraku, bergerak liar disekitar nippleku yang membuatku terbuai, lalu turun mengelus perutku yang rata.
“ahhh…oppaahhh…gelhiiii…ougghhh” hanya desahan itu lah yang mampu keluar dari bibirku.
Kini lumatannya turun ke nippleku, dia menyedotnya dengan kencang. Membuatku menjerit karena perlakuannya itu. Sungguh aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ini terlalu nikmat .
“oppaah…jebhaallll…ougghhh….nikmathhh….errrrmmmm” aku terus meracau tak jelas . Disaat mulutnya sibuk menyedot nipple kananku, tangan kanannya meremas kuat payudaraku yang masih ranum itu. Aku tak dapat mendeskripsikan bagaimana kenikmatan ini. Terlalu memabukkan.
Dia bangkit dan mencium pipiku sekilas. Aku sedikit kecewa karena kegiatannya itu terhenti disaat kenikmatannya merusak kesadaranku.
“waeyo? Kenapa berhenti oppa?” kulihat dia mengeluarkan evil smirknya sambil melebarkan jarak antara kedua pahaku. Dan tanpa menjawab pertanyaanku, kurasakan sesuatu yang hangat danbasah menyapu permukaan vaginaku.
Tubuhku tersentak saat lidahnya bergelut dengan vaginaku. Ini bahkan lebih nikmat dari permainannya di payudaraku. Aku hanya terlentang tak berdaya menerima perlakuannya itu.
“sshhh…jebhaaall..opphaaa…jangannhh..permainkhankhuuuuuhhh…neo nappeunnnhh…sunbae….ohhhh” tubuhku menegang saat dia menggoda clitorisku. Dia menjilatnya lalu setelah itu mulai mengulumnya secara cepat. Semua titik kenikmatan seolah berkumpul didalam vaginaku, dan kurasakan sesuatu mendesak keluar dari dalam tubuhku.
Byuurr…
Cairan orgasmeku sudah keluar dengan mulus, menyisakan tubuhku yang penuh dengan peluh dan dengan nafas yang tersengal. Kulirik kearahnya yang sedang meneguk cairan orgasmeku. Dia bangkit lalu kembali mencium bibirku lembut.
“bagaimana rasanya chagi?” dia bertanya sambil mengelus bibirku dengan ibu jarinya.
“neomu mashitaaa oppaaa” senyum seduktif tersungging dibibirnya saat mendengar jawabanku. “sekarang giliranku oppa” segera ku genggam juniornya dan kukocok perlahan. Namun semakin lama semakin kutingkatkan frekuensinya. Kutatap wajahnya yang memerah itu, dia memejamkan matanya sambil menengadahkan kepalanya. Dan dia menggigit bibirnya menahan nikmat yang kuberikan. Hah, yang benar saja.
Kumasukkan juniornya kemulutku dan kukocok dengan mulutku. Rasanya sama seperti mengemut permen. Kugoda lubang juniornya dengan lidahku sambil terus mengocok dan menghisapnya. Kudengar suara desahannya sudah mulai terdengar,bahkan semakin lama semakin menjadi erangan.
“ahhh, chagiii…neomu mashitaahh…ohhh..teruskaannn..chagiii…..” dia menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan tanpa terkontrol. Dia sangat seksi jika sedang bercinta. Membuat tingkat ketampanannya bertambah seribu persen lagi.
Aku terus mengerjai juniornya yang besar itu, dan bisa kurasakan urat-uratnya sudah timbul dan kurasakan semprotan dari juniornya itu diikuti lenguhan panjang olehnya. Aku tersedak karena serangan mendadak itu.
“ohhh…..Park…Eunriiii……” dia tampak menghirup oksigen dengan paksa untuk mengisi paru-parunya. Aku tersenyum saat menelan cairan spermanya. Dia menghampiriku dan lagi-lagi mencium bibirku.
“kaupintar sekali chagi, darimana kau belajar?” dia bertanya sambil mengocok juniornya yang sedikit melemas tadi, namun sekarang tegang kembali karena rangsangannya itu.
“aku memang kutu buku oppa, tapi bukan berarti aku polos” aku memanyunkan bibirku dan dengan segera dia melumat bibirku itu. Dan saat lumatan panas kami, kurasakan benda tumpul mengoyak vaginaku dengan paksa. Sakit sekali rasanya. Ingin sekali aku berteriak namun lumatan bibir Kyu oppa membungkamku. Aku hanya memejamkan mata menikmati rasa sakit yang ditimbulkan oleh tiap inci juniornya yang tenggelam di vaginaku. Saat seluruh juniornya sudah terbenam sempurna dia melepaskan lumatannya dibibirku.
“mianhae aku menyakitimu. Tapi sebentar lagi pasti nikmat chagi” dia mengusap air mata yang meleleh disudut mataku dengan ibu jarinya. Sekitar lima menit dia mendiamkan juniornya, kini dia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Perih memang, namun tak seperih saat pertama kali menorobos liang vaginaku. Perih yang ini bercampur rasa nikmat yang tak bisa kulukiskan.
“ahhh..oppaahh…uhmmm..yeahhhh….” aku menggumam tak jelas, karena perih yang tadi kurasakan sudah benar-benar hilang digantikan oleh kenikmatan yang luar biasa. Bisa kurasakan genjotannya dipercepat dan sukses membuat tubuhku ikut terguncang. Dilumatnya nippleku yang ikut berguncang karena genjotannya itu, merangsang titik kenikmatanku yang satu lagi. Ini benar-benar nikmat.
Sepuluh menit dia menggenjot juniornya dan lidahnya bermain di nippleku, akhirnya dia melepaskan lumatannya dan kembali berkonsentrasi pada genjotannya. Dia memperdalam setiap hentakannya, membuat g-spotku berhasil digapai olehnya. Dan tidak perlu menunggu lama lagi karena lagi-lagi kurasakan desakkan itu datang kembali. Aku semakin lupa daratan, terus kurapatkan kaitan kakikku dipunggulnya yang entah sejak kapan bertengger disana. Tanganku pun sudah memeluk tengkuknya dengan erat dan…
“aahhhh Cho Kyuhyyuunnnnnn!!!!! Ohhhhh” aku melenguh panjang dan kurasakan dia juga sudah menyemprotkan spremanya di rahimku. Senikmat inikah bercinta? Sungguh sulit untuk aku jelaskan kenikmatannya.
“ahhh….chagiii…….ohhhh..saranghaeeee……” desahannya sangat seksi saat orgasme tadi.
Dia memutuskan kontak ditubuh kami, dan kulihat cairan kami yang bercampur darah di juniornya. Dia terduduk dilantai dan masih mengendalikan nafasnya. Tubuhnya penuh dengan peluh, dan itu membuatku semakin cinta padanya.
“oppaa, kajja kita pulang. Sudah jam 6 oppa” aku terkejut saat kulirik jam dikelasku itu.
“tapi aku menginginkannya lagi chagiii” dia kini sudah melumat nippleku lagi. Dia senang sekali menggodaku.
“neo nappeun sunbae! Jangan disini oppa. “ jujur saja aku sedikit takut dengan sekolah ini karena desus-desusnya sekolah ini berhantu.
“baiklah, kita keapartmentku saja. Eotte?” dia memungut bajuku lalu menyerahkannya padaku. Dengan sigap kupakai langsung seragamku yang sudah kusut itu.
“ne, kajja.” Aku menarik tangannya. Lalu seakan sadar sesuatu aku berbalik dan membersihkan cairan kami yang meluber di meja tempat kami bercinta tadi.
“gawat jika sampai ada yang tahu oppa” aku tertawa kecil lalu kami berlalu menuju ke apartmentnya untuk melanjutkan ronde selanjutnya.
-END-
Eotthe ?eotthe ? kurang hot ya? Haha mian ya. Kritik dan saran di terima *bow* gomawo udah baca chingudeull
Sources :  http://koreannc.wordpress.com/2012/03/18/nappeun-sunbae/

Fc Populer:

  • MJHyun

    Kurang hot!!! Щ(ºДºщ)

  • han ha won

    Good. tatanan bahasanya bagus.. ngga terlalu frontal. good job! 🙂

  • Good jobbb

%d blogger menyukai ini: