Let’s Get Married 8 – 11

0
Title: Let’a Get Married
Author: Taniyae shawolelf a.k.a Lee chaesa
Main Cast: Cho Kyuhyun,cho shiwon,lee chaesa , lee chaeri
Legth: Sequel
Genre: Romance
ranting : PG-15
Aku tersadar dari pingsanku dan aku mengenali tempatku berbaring sekarang, di klinik sekolah. Sepi, hanya aku sendirian. Tega sekali meninggalkan orang yang sedang sakit seorang diri, bagaimana kalau ada orang iseng yang masuk kemudian memperkosaku? Ah, aku berpikiran yang tidak-tidak. Aku meraba-raba tubuhku. Tak ada kancing baju yang terbuka. Aku pun menarik nafas lega, kemudian aku mencoba bangkit dan merasakan kepalaku berat sekali tapi aku tetap berusaha untuk duduk di sisi ranjang. Aku merasa sangat lapar. Bagaimana nasib rotiku ya? Ahh, kenapa malah memikirkan roti sih? Yang lebih penting itu bagaimana nasib pernikahanku? Di mana Cho Kyuhyun keparat itu? Tega sekali dia! Jangan-jangan dia malah sedang asyik dengan Ki Young sementara aku ditinggalkan disini. Argh… Aku pun menghempaskan tubuhku lagi ke pembaringan, tetapi tiba-tiba pintu klinik terbuka membuatku terkejut dan kembali duduk. Ah… Kurasakan kepalaku sakit sekali dan orang yang membuka pintu itu pun menghampiriku.

“Chaesa, kau sudah sadar? Syukurlah,” katanya sambil memelukku.
“Cho Kyuhyun, lepaskan! Bagaimana kalau ada yang lihat?” seruku sambil mendorong tubuhnya.
“Tidak ada yang lihat, tenanglah. Ayo sekarang kau kuantar pulang. Tenang saja, tadi perawat bilang kau harus banyak beristirahat jadi pihak sekolah mengizinkan tidak mengikuti pelajaran. Kau diizinkan libur sampai 2 hari. Lihat ini surat izinnnya,” katanya sambil menunjukkan surat izin kepadaku.
“Aku bisa pulang sendiri,” kataku sambil berusaha berdiri, tetapi kakiku terasa lemas dan aku pun kembali terduduk.
“Tuh kan, mana bisa pulang sendiri. Sudahlah biar kuantar…,” ujarnya, “…aku akan mengambil tas dulu dan menyuruh petugas gerbang sekolah memanggil taksi. Tunggulah sebentar di sini sambil berbaring.”
Aku pun menurut, ketika Kyuhyun keluar ruangan aku kembali merebahkan diriku. Syukurlah ternyata dia masih perhatian padaku. Aku pun mencoba mengenyahkan ingatanku tentang kejadian kemarin malam dan sesaat sebelum aku pingsan. Kyuhyun itu milikku, tidak mungkin dia bermain api dengan wanita lain di belakangku. Ya itu benar, dia hanya mencintaiku, di hatinya hanya ada aku. Ki Young bukan siapa-siapa. Ya, Chaesa babo! Buat apa semalam kau bermuram durja dan menangis? Sudah jelaskan kalau Kyuhyun itu milikmu tidak mungkin dia mengkhianatimu. Pria polos itu milikmu. Milikmu! Ya, aku menekankan kata milik itu berulang kali dalam hatiku supaya memberikan sugesti positif dan aku pun bisa tersenyum, pusing di kepalaku hilang tetapi tetap saja perutku berbunyi kencang bagaikan koor supporter bola. Aku lapar dan menekankan bahwa Kyuhyun itu milikku tidak bakal membuat diriku kenyang. Tetap saja aku butuh makanan. Kyuhyun cepatlah kembali dan antar aku pulang, aku lapar. Aku bahkan bisa memakanmu kalau aku ini menjadi manusia kanibal. Untunglah dia cepat kembali dan bergegas memapahku keluar gedung sekolah. Kami pulang dengan menumpang taksi. Sepanjang perjalanan menuju rumah aku tidak pernah melepaskan pandanganku dari wajahnya. Sudah berapa lama kami tidak sedekat ini, akupun menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku dapat menghirup aroma tubuhnya. Bau keringat tetapi aku suka. Aku benar-benar merindukannya.
“Tidak ada seorang pun di rumah, eomonim pasti masih di toko,” kata Kyuhyun ketika kami sampai di rumah. Kemudian secara mendadak dia menggendongku.
“Kyaaa, apa yang kaulakukan?” seruku kaget dengan tindakannya ini.
“Kau mana kuat menaiki tangga, jadi kugendong saja,” sahutnya, “Tadi saat kau pingsan, aku juga yang menggendongmu ke klinik, jadi percayalah kau tidak akan jatuh.”
“Jadi tadi kau juga yang mengangkatku? Pasti tadi banyak yang melihatnya,” kataku menahan malu.
“Er… Yeah. Mau bagaimana lagi? Masa aku menyeretmu sih, tak mungkinlah,” balasnya dengan wajah bersemu merah. Sesampainya di kamarku, dia merebahkanku di kasur dengan sangat hati-hati.
“Gomawoyo,” kataku lirih. Hampir tak terdengar.
“Apa?” tanyanya.
“Gomawoyo, Cho Kyuhyun,” kataku kali ini dengan suara lantang dan dia pun tertawa mendengarnya. Kemudian dia mengusap rambutku.
“Tak usah berterima kasih, sudah tugasku menjaga dan melindungimu. Aku kan suamimu,” serunya lembut dan seketika membuatku melayang. Aku pun langsung memeluknya.
“Saranghaeyo, Cho Kyuhyun,” ucapku semakin mempererat pelukanku padanya.
“Naddo saranghae,Lee Chaesa,” balasnya kemudian mencium bibirku. Ya, inilah ciuman terlama yang pernah kami lakukan, juga French kiss pertama kami. Bahkan dengan perutku yang sedang berteriak-teriak minta di isi tidak dapat menghentikan ciuman hot ini. Di mana dia belajar melakukan ini? Bahkan seorang pria sepolos Kyuhyun bisa melakukan ciuman sedahsyat ini. Bagaimana dengan tipe pria seperti ahjusshiku ya? Pasti lebih gila lagi. Tapi aku segera menghentikannya ketika aku merasakan tangannya sudah mulai menyelip kedalam bajuku.
“Yak, cukup. Sekarang aku lapar buatkan aku makanan!” perintahku sambil menyeka bibirku yang basah karena ciumannya. Jantungku masih berdetak kencang, tapi sungguh masih kalah dengan erangan perutku.
“Sebentar, kita lakukan sebentar lagi,” sahutnya sambil berusaha mendekatkan lagi bibirnya kewajahku yang dengan cepat kubalas dengan dorongan keras.
“Kau ingin aku mati kelaparan, Cho Kyuhyun? Aku sudah tidak makan dari pagi,” seruku.
“Ya baiklah,” balasnya kemudian dia mulai memencet hpnya dan menelpon rumah makan. “Ehm… Ahjusshi, aku pesan jajangmyeon 1 porsi sama bubur dengan sup ikan 1 porsi juga. Kirimkan ke jalan x no. xx. Cepat, ya! Istriku sudah hampir mati kelaparan,” serunya kemudian menutup telponnya.
“Hah? Kau memesan makanan? Kukira kau akan membuatkannya sendiri untukku,” protesku.
“Aku tidak mau kau mati karena memakan masakanku,” sahutnya enteng. Kemudian dia menarikku ke dalam pelukannya. “Lagipula aku sedang tidak ingin jauh darimu, aku takut nanti kau berubah pikiran lagi dan menjauhiku. Aku sangat menderita saat kau menjaga jarak dariku. Aku sangat rindu padamu, Yeobo.”
Romantis sekali kata-katanya, perempuan mana yang tidak terbuai dirayu seperti ini. Aku pun membiarkannya menciumku lagi. Ya, kami melakukan French kiss kedua kami. Sepertinya hari ini harus dicatat dalam sejarah hubungan kami. Saat aku merasakan tangan liar Kyu mulai menyelinap lagi ke dalam bajuku, aku pun menghentikan kegiatan kami.
“Ya,Chaesa! Kenapa lagi?” serunya kesal.
“Kau belum menceritakan hubunganmu dengan Ki Young. Kenapa kau keluar dari apartemennya semalam?” tanyaku.
“Ah, masalah itu,” dia berkata sambil menghempaskan tubuhnya ke sampingku, “Aku hanya membantunya belajar.”
“Hah?” tanyaku masih tak mengerti.
“Aku diminta seonsaengnim untuk membantunya belajar. Dia sangat ketinggalan sekali, tetapi seonsaengnim tidak bisa setiap hari memberikan kelas khusus padanya makanya aku disuruh membantu. Statusnya sebagai artis tidak boleh sampai rusak karena mendapat nilai yang buruk di sekolah, lagipula upahnya lumayan besar. Tapi aku mulai berpikir untuk berhenti, banyak beredar gosip tak sedap tentang kami sekarang,” jelasnya panjang lebar.
“Aku dan Myu Ra mengira kalau kau dan Ki Young berpacaran.”
“Mana mungkin! Ki Young memang berulang kali mengatakan kalau dia suka padaku. Tapi aku kan sudah punya kau Chaesa. Aku kan suamimu.”
Ya, dia berkata romantis lagi. Aku heran dia belajar darimana kata-kata manis ini. Kami pun kembali berciuman. Jackpot untuk kali ini, French kiss ketiga. Hari ini hari keberuntunganmu Cho Kyuhyun, kau tidak akan mendapatkannya lagi lain hari. Saat kami lagi asyik bercumbu kudengar hpku berdering. Telpon dari Myu Ra. Aku langsung melepaskan diri dari Kyuhyun dan mengangkat teleponku.
“Yeobseyo?”sahutku.
“Chaesa, kau baik-baik saja? Kudengar kau sakit?” seru Myu ra di sebrang sana.
“Ne, Onnie. Aku sedang tidak enak badan,” balasku.
“Sepulang sekolah aku dan Kang In akan menjengukmu. Heechul juga katanya mau ikut. Jadi, tunggulah kedatangan kami ya,” katanya kemudian menutup telpon.
“Tu-tunggu dulu! Yah, sudah ditutup,” sesalku.
“Kenapa?” tanya Kyuhyun keheranan.
“Jung Myu Ra akan kemari. Sekarang cepat sembunyikan semua bukti kalau kau juga tinggal di sini. Cepat!” perintahku. Dia langsung bergegas mengangkat dan membereskan foto-foto pernikahan kami yang dipajang eomma di dinding kamarku. Kemudian keluar ruangan untuk menyingkirkan foto-foto yang juga dipajang di ruangan lain. Terlihat sangat panik. Tapi sampai kapan aku harus menunggu makananku tiba?
@@@@
Myu Ra, Kang In, dan Heechul memperhatikanku yang sedang memakan bubur dengan lahap. Sedangkan Kyuhyun asyik dengan jajangmyeonnya. Makanan kami tiba sesaat sebelum mereka bertiga tiba dirumahku. Sementara anggota keluargaku yang lain belum ada yang pulang. Mereka cukup heran melihat Kyuhyun ada di rumahku walau mereka tahu bahwa dia yang mengantarkanku pulang.
“Kenapa kau masih di sini, Kyu?” tanya Kang In pada Kyuhyun.
“Ohmm,” Kyuhyun berusaha menelan makanannya kemudian menjawab, “Aku tidak tega meninggalkannya seorang diri.”
“Bukannya justru lebih berbahaya kalau hanya berduaan saja?” sindir Heechul. Mendengar perkataannya, aku langsung tersedak.
“Chaesa, telan makananmu dengan baik. Sini aku suapi,” tawar Myu Ra ramah.
“Gomawoyo, Onnie,” ujarku.
Kemudian suasana menjadi sunyi, hanya terdengar suara dentingan sendok dan suara Kyuhyun saat menyeruput makanannya. Semuanya diam tanpa kata sampai kemudian Chaeri masuk ke kamarku.
“Onnie, tadi eomma menelponku katanya kau sakit dan aku disuruh menjagamu. Eomma tidak bisa pulang cepat karena lagi banyak pelanggan,” ujar Chaeri yang sekarang memang menyebut ibuku dengan sebutan eomma. Kemudian dia duduk di sampingku tanpa menyadari adanya teman-temanku. Tetapi kemudian dia malah menghampiri Kyuhyun, “Oppa, jajangmyeonmu kelihatannya enak sekali. Minta dong!” kemudian dia mengambil sumpit yang dipegang Kyuhyun dan menyuapkan jajangmyeon ke mulutnya. Membuat ketiga orang asing itu tersentak.
“Ya, Agasshi. Sebenarnya kau ini siapa?” tanya Myu Ra jelas sekali dia sedang cemburu melihat pemandangan itu.
“Ehm, annyeong haseyo Lee  Chaeri imnida. Aku adik Cho Kyuhyun-oppa,” dia memperkenalkan diri dengan gampangnya.
“Lalu kenapa kau memanggil Chaesa dengan sebutan onnie dan ibunya eomma? Dan kenapa juga adik Cho Kyuhyun di sini?” tanya Heechul penuh kecurigaan.
“Tentu saja, aku kan tinggal di sini dan Chaesa itu kakak i…”
Dengan cepat aku memotong perkataan Chaeri dengan teriakan lantang , “Karena aku kakak sepupunya…”
“Onnie… Ya, kau ini bicara apa? Kau kan kakak… Aduh,” Chaeri menghentikan perkataannya karena kulihat kakinya dicubit Kyuhyun membuatnya meringis kesakitan.
Aku pun langsung melanjutkan ucapanku, “Aku dan Kyuhyun itu saudara sepupu. Dia anak dari bibinya sepupu kakaknya nenek pamanku,” kemudian aku melanjutkan kebohongan lagi, “Kalian tahu kan kalau dia asalnya dari Jejudo? Orang tuaku cemas kalau mereka berdua tinggal sendiri jadinya mereka di suruh tinggal bersama kami.”
“Oh, pantas saja kalian dekat sekali,” angguk Kang In. Dia dengan mudahnya mempercayai ucapanku.
Kemudian Myu Ra berbisik padaku, “Kalau begitu kau bisa membantu hubunganku dengan Kyuhyun kan?” aku memandangnya kemudian tersenyum ingin menggeleng tapi tidak berani. Jadi hanya melebarkan senyumku dan kulihat dia tertawa girang yang membuat Kyuhyun dan Kang In heran melihatnya. Tapi tampaknya ada satu orang yang masih ragu, kulihat Heechul menggaruk-garuk lehernya dengan tampang berpikir. Kemudian pandangan kami teralihkan saat melihat seseorang memasuki kamarku.
“Ramai sekali di sini,” seru Siwon, “Kau sakit Chaesa? Dasar payah! Baru sekali mabuk dan pulang larut kau jadi sakit. Tubuhmu payah sekali,” kemudian dia memandang sekeliling dan tatapannya berhenti pada Heechul kemudian dia tersenyum simpul. Lalu pandangannya dialihkan ke Kyuhyun kemudian tersenyum simpul lagi, “Hmmm… Dua lelaki payah,” katanya sambil mengerlingkan matanya padaku. Kemudian dia mendatangi Chaeri lalu menarik tangannya dan mengajaknya keluar dari kamar. Kami pun kebingungan dengan perkataannya.
“Yang dia bilang dua lelaki payah itu siapa sih? Di sini kan ada tiga pria,” tanya Kang in keheranan sambil memandang Heechul dan Kyuhyun.
“Yang jelas bukan aku!” sahut Kyuhyun dan Heechul bersamaan, membuat tawaku dan Myu Ra meledak. Kami semua di ruangan itu tertawa. setelah tawa kami mereda, kulihat Heechul membuka tasnya dan mengambil sebundel kertas yang merupakan naskah drama.
“Ya, Chaesa saatnya kita berlatih dialog lagi,” serunya membuat semua mata tertuju padanya, “kenapa kalian memandangku seperti itu?”
Aku berseru padanya, “ Kim Heechul, kau datang kemari untuk menjengukku atau mau berlatih, sih? Aku kan lagi sakit!”
@@@@
“Siwon-sshi, lepaskan tanganku! Apa-apaan sih?” berontak Chaeri saat dia dipaksa mengikuti Siwon menuju halaman belakang rumahku. Siwon tidak peduli, padangannya tetap lurus dengan seringai khasnya. Setibanya mereka di halaman belakang Siwon mendudukkan Chaeri ke sebuah kursi.
“Kau tunggu sebentar di sini!” perintahnya yang membuat Chaeri kebingungan. Tak lama Siwon kembali sambil membawa kamera saku. “Sekarang senyum yang manis aku mau memotretmu.”
“Untuk apa?” tanya Chaeri.
 “Untuk cover dvd porno,” sahut Siwon enteng yang membuat Chaeri langsung berdiri dan bersiap pergi, “Tunggu! Bercanda kok. Aku memotretmu buat Eunhyuk.”
“Hah?” tanya Chaeri sambil duduk lagi di tempat semula.
“Sudahlah jangan malu-malu, kalian pacaran kan? Aku sih setuju saja. Berkatmu, otak yadong sahabatku itu berkurang dan dia meminjamkanku lagi handycamnya. Proyekku yang dulu tertunda karena tak ada alat sekarang bisa berjalan lagi. Hahahaha!” tawa Siwon riang membuat Chaeri bergidik ngeri.
“Siapa bilang kami pacaran? Dia cuma menolongku dari gadis-gadis yang menggilaimu. Jadi sebagai balasannya, aku setuju saja diajaknya kencan. Tapi kami tidak pacaran!” seru Chaeri meluruskan pandangan Siwon terhadap hubunganya dengan Eunhyuk.
“Ya, memang belum. Tapi setelah kalian jalan berdua nanti, pasti kalian langsung jadian. Percaya saja padaku!” sahut Siwon meyakinkan.
Chaeri yang kesal dengan ucapan Siwon langsung pergi menuju kamarnya. Dia langsung mengunci pintu dan menghempaskan diri ke ranjang. Semua hal yang kini sedang menimpanya itu karena buah keisengan yang selalu dilakukan Choi Siwon padanya. Chaeri ingat saat dia baru mengawali hari-harinya di sekolah baru. Bukan kebahagiaan yang didapatnya tetapi kemalangan. Belum seminggu dia bersekolah, dia sudah mendapatkan musuh. Semua siswi SMK Nam San memusuhinya karena mereka mengira Chaeri adalah kekasih Siwon. Dan bukannya meluruskan masalah, Siwon malah semakin ekstrim melakukan segala jurus pendekatan dan membuat pandangan semua orang ke arah yang sama yaitu bahwa mereka sepasang kekasih. Benar-benar bodoh, mana mungkin Chaeri sudi berpacaran dengan orang segila Siwon. Tapi di sekolah tak ada yang menyadari betapa buruknya sifat ahjusshi yang satu ini. Choi Siwon tampil sebagai idola sekolah yang tampan dan serba bisa, berotak super cemerlang, selalu ramah kepada siapa saja dan tentu saja dia itu idola semua wanita. Tidak hanya siswi, guru-guru bahkan perawat sekolah dan ahjumma penjaga kantin semua menyukainya. Kalau ada pepatah ular berkepala dua, pepatah itu patut disematkan pada Choi Siwon.
Chaesa selalu memohon pada Siwon agar menghentikan permainannya. Chaesa sudah tidak tahan karena setiap hari di sekolah dia selalu diancam oleh para siswi yang tidak tahan melihat kedekatan Siwon dengannya. Walau berulang kali susah payah menjelaskan bahwa mereka tak ada hubungan apa-apa tetap saja tak ada yang percaya. Chaesa benar-benar menderita jika berada di sekolah, yang membuatnya tetap bertahan hanyalah tidak ingin mengecewakan keluarganya yang telah mengizinkannya bersekolah di Seoul. Lagipula tidak semua orang membencinya. Ada Lee Hyuk Jae atau sering disapa Eunhyuk yang selalu membantunya. Eunhyuk sangat tahu tentang sifat usil Siwon karena mereka adalah sahabat. Ya, secara sifat mereka juga sama. Itulah yang mungkin membuat mereka dekat tetapi separuh warga sekolah tak habis pikir kenapa mereka berdua bisa bersahabat akrab karena Eunhyuk itu terkenal dengan sifat urakan dan semaunya sendiri. Sebenarnya Siwon pernah tinggal di asrama yang sama dengan Eunhyuk sebelum akhirnya memutuskan tinggal di rumahku kini.
Chaeri kembali teringat kejadian kemarin siang saat dirinya diancam beberapa siswi yang merupakan seniornya di atap sekolah. Gadis-gadis itu mengancam akan menyakiti Chaeri jika ia masih tidak putus dari Siwon. Chaeridengan tegas mengatakan bahwa semua itu kebohongan dan menjelaskan bahwa Siwon hanya mempermainkan mereka. Chaeri bukan kekasih Siwon, berulang kali Chaeri menegaskan hal itu tetapi tidak digubris. Gadis-gadis itu malah akan menjambak rambut Chaeri sebelum akhirnya Eunhyuk datang menghentikan aksi bejat mereka. Karena itulah Chaeri tidak keberatan saat diajak Eunhyuk berkencan minggu ini, itu sebagai wujud balas budi.
Chaeri kemudian bangkit dari ranjangnya, menuju lemari pakaian. Dia memilih-milih pakaian yang akan dikenakannnya untuk berkencan dengan Eunhyuk. Dalam hati, walaupun untuk membalas kebaikan Eunhyuk, dia juga merasakan kebahagiaan karena ini akan menjadi kencan pertamanya dengan seorang pria. Diam-diam Chaeri juga merasakan ketertarikan dengan Eunhyuk. Walau banyak orang mengatakan bahwa Eunhyuk itu pria yang aneh, tapi dimatanya Eunhyuk sangat mempesona. Pesonanya terpancar saat dia dengan tegas mengusir gadis-gadis yang mencoba menjahili Chaeri . Chaeri kemudian teringat kata-kata Siwon yang bilang kemungkinan setelah mereka berkencan, Chaeri dan Eunhyuk akan berpacaran. Chaeri lalu terseyum sendiri membayangkan hal itu. Jika Eunhyuk menyatakan cinta saat mereka kencan nanti, ia tidak akan menolaknya. Ini kesempatan emas untuk merasakan indahnya cinta di masa remaja dan juga merupakan jalan terbaik supaya tidak ada lagi yang beranggapan bahwa Chaeri dan Siwon berpacaran. Gosip itu akan musnah, dan Chaeri akan kembali tersenyum serta menikmati masa-masa yang indah di sekolah. Seperti impiannya dulu sebelum beranjak ke Seoul.
@@@@
“Hoaaaammm…,” aku menguap lebar saat terbangun dari tidur. Ternyata sudah pukul sepuluh malam. Aku tertidur setelah Myu Ra dan kawan-kawan pulang dari jengukan mereka kemari. Kemudian kulihat pintu kamarku terbuka dan Kyuhyun masuk lalu menutup pintu lagi serta menguncinya. Dia lalu menghampiriku sambil menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Dia menaiki ranjang dan duduk di sampingku.
“Kau mau tidur di sini?” tanyaku heran dan dia mengangguk sambil tersenyum.
“Masih tidak boleh, ya?” dia lalu menarik selimut untuk menutup tubuhnya, aku baru sadar kalau dia sudah memakai piyamanya. “Nih, aku sudah siapkan penutup mata jadi tidak masalah, kan?”
“Aku sih tidak masalah, hanya saja yang dulu menjauh karena tidak tahan kan itu kau,” kataku sambil merebahkan kepalaku ke bantal.
“Iya, tapi tubuhku sakit sejak tidur di sofa. Lebih nyaman di sini bersamamu,” sahutnya sambil merebahkan kepalanya ke bantal.
Sekarang kami malah saling diam dan menatap satu sama lain. Sudah lama tak begini jadi agak kikuk juga, apalagi setelah ciuman panjang tadi siang. Aku mencoba menjernihkan kepalaku dengan kembali duduk. Kemudian aku teringat sesuatu.
“Tadi apa yang kau sembunyikan?”
“Tidak ada,” katanya gelagapan.
“Bohong. Tadi aku lihat kau menyembunyikan sesuatu saat masuk kemari. Cepat tunjukan!” pintaku.
Kyuhyun pun menurut, dia memperlihatkan sesuatu yang disembunyikannya. Sebuah kalung perak. Dia tersenyum bangga saat memamerkannya. Sementara aku hanya bisa mengerenyitkan dahi melihat inisial yang ada di kalung tersebut.
“Untukmu Chaesa. Aku membelinya menggunakan uang yang kudapat saat membantu Ki Young belajar.”
“CK itu singkatan dari Calvin Klein, ya? Bukannya itu merk pakaian dalam? Kenapa tidak LV atau Channel? Babo! Aku tidak mau,” tolakku.
“Bukan. CK ini inisial nama.”
“Cho Kyuhyun? Apalagi itu. Aku tetap nggak mau pakai!”
“Ya, Chaesa  babo! CK ini inisial nama kita. Chaesa-Kyuhyun. Aku sudah memesan ini khusus jadi harus dipakai!” perintahnya yang membuatku ketakutan sehingga akhirnya menggangguk walau dalam hati masih tidak menerima. Kemudian dia mengalungkannya di leherku. “Nah, lehermu jadi kelihatan makin cantik dengan kalung itu. Harus dipakai terus ya, jangan dilepas!”
“Iya,” kataku masih dengan tidak ikhlas.
“Oya, Siwon juga memberikan aku ini. Katanya untukmu,” katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil. Aku pun mengambilnya lalu membuka. Bentuknya seperti balon yang transparan. Kyuhyun yang tampaknya penasaran dengan benda yang kupegang langsung menyambarnya lalu memperhatikan. “Buat apa Siwon memberi kita balon? Ya sudah, biar kutiup saja. Setelah itu kita pecahkan biar seisi rumah kaget. Aku tahu pasti itu maksudnya Siwon memberi kita ini,” serunya dengan penuh semangat. Kemudian dia meniup balon itu, setelah balon itu cukup terisi udara dan kelihatan bentuknya, aku baru sadar balon itu balon apa. Dengan cepat aku menarik balon itu dari tiupan Kyuhyun dan langsung berlari ke kamar mandi lalu membuang balon itu di lubang kloset.
Setelah itu aku kembali ke ranjangku dan langsung berbaring. ‘Lihat saja besok kau Siwon, kau tidak akan selamat’. Umpatku dalam hati. Masih tetap menahan rasa jijik karena sudah menyentuh sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Chaesa-ah, balon tadi kau apakan?” tanya Kyuhyun penasaran dengan ulahku.
“Sudah kubuang! Lain kali jangan menerima semua pemberian Siwon lagi. Kau benar-benar tidak tahu ya itu benda apa?” seruku dan Kyuhyun pun menggeleng. Aigo, syukurlah. Bisa gawat kalau dia sampai tahu.
“Tadi saat memberikan benda itu, Siwon bilang kalau Chaeri akan berkencan dengan salah seorang Playboy sekolah minggu ini. Adikku dalam bahaya, kita harus mengikutinya, ya! Kau mau ikut kan? Aku dan Siwon sudah menyiapkan rencana untuk menggagalkan kencan mereka,” seru Kyuhyun dengan penuh semangat.
“Tidak bisa, aku juga sudah janji bakal jalan-jalan dengan Heechul hari minggu ini,” tolakku.
“Mwo? K-kau jalan-jalan dengan Heechul? Berdua saja?” tanya Kyuhyun yang kubalas dengan anggukan. “Hyaaa, tidak boleh! Berani-beraninya kau ini. Itu namanya sedang berselingkuh!”
“Hey, tadi sore saat kau minta izin untuk pergi ke apartemen Ki Young, kau juga sedang berkencan dengannya kan?” tanyaku menyinggungnya.
“Sudah kubilang kan, aku itu membantunya belajar.”
“Iya, tetap saja berduaan.”
“Tapi bukan kencan, hanya belajar bersama,” jelas Kyuhyun. Kelihatan sekali dia mulai marah.
“Aku juga sama, Heechul itu lawan mainku nanti. Kami harus sering bersama dan berlatih dialog supaya chemistry kami terlihat nyata. Hanya jalan bareng kok. Kau saja belum melihat adegan kami saat berciuman,” balasku dengan santainya.
“Ciuman? Kau dengan Heechul pernah ciuman?” tanyanya dengan mata terbelalak.
“Ya, setiap kami berlatih di akhir minggu pasti selalu ada latihan berciuman. Kira-kira sudah sepuluh kali aku menciumnya.”
“Sepuluh kali? Aku saja baru menciummu lima kali, tapi kau sudah…” tampaknya Kyuhyun sudah tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Aku pun tersenyum lalu memberikan kecupan di bibirnya.
“Seperti itu caraku mencium Heechul. Terkadang juga tidak kena. Tapi kata pembimbing dan sutradara saat di pergelaran nanti harus lebih dalam dan lebih lama. Jadi kau harus bersabar ya! Untuk melatih agar kau terbiasa melihatnya, sabtu ini kau harus menonton kami latihan. Jangan hanya berdiam di ruangan klub bermain komputer. Karena kebiasaanmu itu makanya kau tidak tahu kalau di drama kita ada adegan kissingnya,” jelasku.
“Aku tidak mau. Kau harus berhenti dari drama itu segera!” serunya.
Aku langsung memukul kepalanya dengan bantal, “Gampang sekali bicaramu, pergelaran sisa satu bulan lagi, tidak mau!”
“Hyaaa, tapi aku tidak suka melihatmu beradegan mesra dengan pria lain!”
“Biasakan dirimu! Aku tidak akan berhenti walau kau harus membenciku. Itu semua hanya peran, yang penting hatiku hanya untukmu,” aku pun meletakkan tangannya ke dadaku.
“Mianhae, aku telah egois,” ucapnya melunak, “Aku lupa, bahkan sejak sebelum kita menikah kau sudah terlebih dahulu bermain teater. Aku juga lupa dulu saat kita masih menjadi anggota baru klub teater kau pernah bilang kalau impianmu kelak adalah menjadi aktris panggung dan bermain di drama musical besar. Aku tidak mungkin menghancurkan impianmu.”
Aku yang mendengar ucapannya sangat terharu kemudian memeluknya. Aku tidak menyangka dia masih ingat dengan kejadian itu. Itu kata-kata yang kuucapkan saat upacara penerimaan anggota baru klub teater.
“Bagaimana bisa kau masih mengingat kata-kataku? Itu sudah lama sekali. Kita bahkan belum berteman saat itu.”
“Karena kata-kata itulah yang membuatku jatuh cinta padamu,” ujarnya.
“Jadi, kau sudah suka aku sejak lama ya?”
“Yeah, tapi sering hilang karena sifatmu yang menyebalkan dan suka seenaknya. Apalagi setelah kau menjadi ketua klub. Kau sering menindasku tapi aku tetap menurut, karena aku menyukaimu. Itulah alasanku tidak menolak saat Kang In menyuruhku mengantarkanmu pulang saat kau mabuk di akhir musim semi lalu. Aku punya perasaan akan terjadi hal yang tak baik bila Kang In yang mengantarmu. Tapi syukurlah karena hari itu, kau jadi milikku sekarang,” kata Kyuhyun menerangkan perasaannya selama ini yang mebuatku terharu. “Lalu sejak kapan kau jatuh cinta padaku, Chaesa?”
Aku langsung melepaskan pelukanku lalu berbaring memejamkan mata.
“Ya, Chaesa. Jawab aku!”
“Aku lupa!”
“Lupa? Hyaaa, dasar kau ini.” Kyuhyun berniat memukulku dengan bantalnya tetapi diurungkan. Dia langsung berbaring dan mengambil penutup matanya lalu memunggungiku. Membuatku tertawa geli.
“Selamat tidur suamiku,” kataku sambil membetulkan selimutnya.
“Selamat tidur istriku,” balasnya tanpa berbalik.
Baru kemarin rasanya aku menangisinya, sekarang dia malah membuatku tertawa. Mungkin di pernikahan kami yang semula di karenakan kecelakaan ini memang butuh perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan perjuangan yang terberat itu adalah menurunkan ego dari kami sendiri. Dulu aku memang menyesal sudah menikah dengannya tetapi lambat laun aku makin mensyukuri. Mungkin ini memang sudah suratan takdir kami. Mungkin memang dia yang sudah dihendakkan Tuhan untuk menjadi teman hidupku selamanya. Terima kasih, aku tidak akan mengeluh lagi.
..to be continued..
Title: Let’a Get Married 9
Author: Taniyae shawolelf a.k.a Lee chaesa
Main Cast: Cho Kyuhyun,cho shiwon,lee chaesa , lee chaeri
Legth: Sequel
Genre: Romance
ranting : PG-15
“Cho Kyuhyun, selamat pagi,” kataku sambil membuka penutup mata yang digunakannya, kemudian memain-mainkan hidungnya dan memberikan kecupan di keningnya. Pria itu pun perlahan membuka matanya sambil tersenyum. Dia membalas kecupan tadi dengan memberikan ciuman ke pipi ku.
Aigoo, kamilah pasangan ter-romantis dan termesra abad ini sebelum aku memberikan sedikit komentar padanya, “Kapan ya kebiasaan nge-cess mu itu bisa hilang? Aku sedih melihat ada pulau baru lagi di bantalmu.”
PLETAK!                                                                                 
Dan Kyuhyun tidak tinggal diam kukomentari seperti itu, dia langsung menjitak kepalaku. Aku langsung menyusupkan kepalaku ke bantal untuk meredakan rasa sakit. Kami baru saja berbaikan, tetapi kali ini Kyuhyun melakukan kekerasan rumah tangga terhadapku.
“Ahh… Aku kesal,” jeritku.
Dengan cueknya dia melenggang menuju kamar mandi yang letaknya memang berada di dalam kamar kami. Tetapi dia kemudian keluar lagi dan berkata, “Yeobo, tidak mau mandi sama-sama?” Aku langsung menjawabnya dengan ‘bantal terbang’ yang menghantam tepat di wajahnya. Ya~Ha~ rasakan, biar begini dulu aku pernah menjadi anggota klub basket, walau hanya 2 bulan.
Setelah dia asyik dengan kegiatan mengguyur tubuhnya dan aku selesai merapikan tempat tidur. Aku langsung menuju dapur, akan kusiapkan sarapan untuknya. Tetapi sepertinya percuma, eomma sudah selesai menyiapkan sarapan pagi dan aku hanya termangu melihat makanan yang sudah siap itu.
“Eomma, aku kan sudah menikah. Harusnya aku yang menyiapkan sarapan buat suamiku.”
Eomma langsung mengerenyitkan keningnya. Lalu menaruh tangannya di dahiku kemudian ke dahinya. “Chaesa, sepertinya sakitmu kemarin sangat parah sampai bisa mengubah sifatmu.”
“Aigoo~ Aigoo~ apakah ini omongan yang pantas dari seorang ibu yang melihat anaknya menjadi lebih baik? Harusnya eomma bahagia. Aku sudah mau menyiapkan sarapan sendiri. Aku sudah berubah, Eomma!”
“Apa?! Kau mau membuat makanan untuk suamimu?!” seru Siwon di belakang yang membuatku langsung tersentak kaget. Kehadiran makhluk satu ini memang selalu membuat sensasi tersendiri yang sulit untuk di deskripsikan.
“Memangnya kenapa? Bagus, kan? Lagipula itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri,” kataku sambil tersenyum bangga padanya.
“Cihhh… Sehabis Kyuhyun memakan masakan buatanmu, saat itu juga kau langsung menjadi janda! Percaya deh sama aku. Lebih baik tidak usah!”
“Omo~ Kalian meremehkanku?”
“Bukan meremehkan, tetapi hanya mencegah hal buruk terjadi,” timpal appa yang sedari tadi memang ada di dapur sambil membaca koran pagi.
“Kyaaa~ Appa juga ikut-ikutan. Huh, aku mau kembali ke kamar saja melanjutkan tidurku. Mendengarkan komentar kalian, membuat mood-ku rusak saja!”
Saat aku keluar dari dapur, kudengar bel berbunyi. Aku pun melongok melihat interphone. Siapa pria di luar itu? Aku tidak mengenalnya.
“Yo, cari siapa?” tanyaku.
“Aku mau menjemput Chaeri,” sahutnya.
Aha~ Ada pria yang menjemput Chaeri . Tergelitik rasa penasaran, aku pun bertanya lagi padanya. “Siapa kau?”
“Aku Lee Hyuk Jae, Chaeri sudah berangkat?”
“Belum, sebentar kupanggilkan dia.”
Aku pun bergegas ke kamar Chaeri. Dia sedang merapikan dasi nya saat aku masuk.
“Chaeri-ah, ada seorang namja yang menjemputmu. Namanya Lee Hyuk Jae. Dia itu pacarmu ya?”
Wajah Chaeri seketika merah padam mendengar perkataanku.
“Onnie, sungguhan dia kemari? Oh Tuhan… Aku harus cepat-cepat.”
Dia langsung mengambil tasnya dan terburu-buru keluar kamar. Aha~ Yeoja yang sedang jatuh cinta. Karena yang empunya ruangan sudah pergi, aku juga tidak mungkin berlama-lama di sana. Maka aku pun kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur. Di sana kulihat Kyuhyun juga sudah siap dengan seragamnya.
“Kyu, di bawah ada pacar adikmu lho, wajahnya lucu sekali. Tampaknya Chaeri sangat suka padanya.”
“Siapa yang ada di bawah? Pacar Chaeri ada di sini? Jangan-jangan si Playboy yang dibilang sama Siwon. Namanya Lee Hyuk Jae ‘kan?” tanya Kyu tapi dengan nada suara yang tidak mengenakkan.
“Aigoo, Kyu, jangan bilang kau tidak suka kalau adikmu punya pacar, ya?”
“Tentu saja. Chaeri masih kecil. Apalagi Siwon bilang kalau Hyuk Jae itu playboy. Adikku dalam bahaya bila didekatnya.”
“Tampang seperti itu tidak mungkin jadi playboy. Lagipula aku sudah bilang padamu. Jangan terlalu percaya dengan ucapan Siwon. Dia itu suka berlebihan.”
Tanpa mendengarku, Kyu membanting pintu saat keluar kamar. Aku hanya bisa menahan emosi melihat kelakuannya itu. “Chaeri , kau mendapat seorang kakak yang kelewat overprotected. Malang sekali dirimu.”
Aku pun berbaring. Kembali ke tujuan semula, mau melanjutkan tidur. Aku masih punya izin tidak masuk sekolah untuk 2 hari jadi aku punya kesempatan beristirahat. Tapi, susah sekali memejamkan mata. Aku melihat handphone Kyu tergeletak di atas meja belajar. Aku belum pernah melihat isi handphone nya. Iseng-iseng aku pun mengambilnya dan mengecek inbox. Ada pesan dari Ki Young. Ragu-ragu rasanya saat mau membuka isi pesan itu. Tapi rasa penasaran memenangkan segalanya. Aku membaca pesan itu.
Oppa, jangan benci aku. Aku mencintaimu. Kumohon temui aku. Kumohon jangan acuhkan aku. Oppa, kumohon.
“Apa-apaan gadis ini? Semalam kan mereka sudah bertemu. Sebenarnya apa yang terjadi sih?”
Tanpa ragu lagi aku membuka semua pesan yang berasal dari Ki Young. Yang tersisa setelah membacanya adalah rasa kesal dan benci terhadap gadis itu. Aku sangat muak dengan semua pesan-pesannya. Semuanya berisi kalimat bahwa dia menginginkan Kyuhyun. Aku heran kenapa Kyu tidak menghapus pesan dari gadis itu. Ingin menangis lagi rasanya. Tapi tidak jadi karena Kyuhyun kembali. Dia cukup terkejut melihat handphone-nya ada di tanganku. Aku melemparkan handphone itu ke arahnya, dia berhasil mengelak dan membiarkan handphone itu jatuh dengan keras di lantai. Dia menghampiriku dan menarikku kedalam pelukannya.
“Kenapa? Harusnya kau lebih tegas padanya. Aku benci sifatmu ini, Kyu.”
“Mianhae. Aku sudah berusaha sebisa mungkin.”
“Berusaha seperti apa? Jelas-jelas kau terlalu baik padanya. Dia terlalu berharap padamu. Aku melihat jelas itu. Dia juga mengatakannya kemarin saat kau membantunya. Dia akan semakin mencintaimu kalau kau terlalu baik padanya.”
“Chaesa-ya, aku sudah tegas padanya. Aku sudah menolaknya. Aku baik padanya karena dia butuh aku.”
“Justru itu, jangan terlalu baik! Jangan memberi harapan! Kau ini seorang pria, harusnya kau tahu dia akan makin melambung karena sikapmu itu. Kau bahkan tidak menghapus pesan-pesan darinya. Jika dia tahu itu, dia akan semakin senang dan semakin berharap.”
“Maafkan aku!”
“Jangan hanya bisa meminta maaf. Kumohon Kyu, aku tidak ingin dia menjadi duri dalam hubungan kita. Aku hanya ingin kau tegas padanya.”
Dia melepaskan pelukannya. Saat kami berbicara tadi, aku sama sekali tidak melihat matanya. Dan sekarang aku dapat melihatnya. Matanya berkaca-kaca. Aku tahu dia sangat terbebani dengan hal ini.
“Aku pergi dulu. Banyak-banyaklah beristirahat!”
Aku meraih tangannya, lalu menciuminya. “Aku takut. Sekarang aku sangat takut. Aku takut kau bertemu dengannya. Aku takut memikirkan kalau-kalau di dalam hatimu ternyata ada dirinya. Aku tidak ingin kau pergi. Aku tidak mau.”
“Chaeri-ya…”
“Kumohon Kyu. Kali ini aku yang memohon. Aku tidak ingin kau bertemu dengannya. Biarkan kali ini aku yang memohon. Aku juga tidak mau kalah darinya. Aku mencintaimu lebih dari apapun. Tegaskan padanya kalau kau sudah memilikiku. Tegaskan padanya kalau dia sudah tidak ada harapan lagi. Kumohon!”
“Baiklah. Aku akan menegaskan itu. Tapi itu artinya aku harus bertemu dengannya. Saat aku bertemu dia, aku akan bilang bahwa aku sudah mempunyai orang yang sangat kucintai, yaitu Lee  Chaesa. Aku tidak ingin gadis yang kucintai terluka karena ketidaktegasanku. Aku tidak ingin dia mengacuhkan ku lagi, aku juga tidak ingin melihatnya menagisi ku lagi.”
“Benarkah? Kau berjanji akan mengatakan itu padanya? Kau tidak akan ragu?”
“Janji. Akan kukatakan semuanya. Sekarang aku pergi dulu sebelum terlambat.” Aku mengangguk mengizinkannya. Dia lalu berbalik menuju pintu tetapi sebelumnya memungut handphone-nya yang kulempar tadi. “Syukurlah. Ternyata tidak rusak. Lain kali kalau marah jangan melempar barang lagi. Aku belum bisa membeli barang ini dengan uang sendiri. Kalau rusak, habislah sudah.”
“Siapa suruh tidak menghapus pesan itu,” sungutku.
“Aku memang tidak terbiasa menghapus pesan masuk. Akan kuhapus saat di kereta. Aku pergi ya.”
Dia pergi dan sekarang aku sendirian. Saatnya melanjutkan tidur tetapi… Kyaa~ Aku lupa. Aku belum bertanya apa yang dilakukannya tadi pada Hyuk Jae dan Chaeri?
@@@@@
Sabtu siang yang cukup dingin di SMA Paran. Seperti biasa kami berlatih setiap sabtu di sini. Wajah-wajah anggota klub baik yang mendapat peran di panggung maupun hanya di belakang layar semuanya sama. Masam total dengan dahi terlipat pertanda stress.
“Kyaa~ Ki Young belum datang juga. Akan kubunuh dia kalau tidak ikut latihan hari ini,” maki Myu Ra.
“Emosi Myu Ra sedang labil. Jangan mendekat kalau masih mau pulang dalam kondisi utuh!” seru Kang In yang membuat mata Myu Ra langsung mendelik padanya.
“Aku datang. Aku bawa permen buat semuanya. Kalau mau, ayo kemari!” sapa Kyuhyun yang memang baru saja datang.
“Kyu, aku tidak sedang mimpi ‘kan?” tanya Kang In yang langsung menghampiri Kyu dengan teman-teman yang lain. Mereka saling berebut mengambil permen yang dibawa Kyu.
“Hyung, aku kan juga mau melihat kalian kalau latihan.”
“Iya, tapi kan tidak biasanya,” sahut Kang In yang kini sudah mendapatkan permen terbanyak.
Kyuhyun tersenyum tidak membalas perkataan Kang In. Dia malah memandangiku. Ya, aku tahu maksudnya datang ke latihan kali ini. Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tetapi aku juga punya rencana.
“Ki Young tidak datang juga. Apa kita masih harus menunggunya?” tanya Myu Ra yang dibalas dengan anggukan dan teriakan untuk menunggu dari teman-teman yang lain. “Baiklah, kita tunggu dia. Kalau sampai setengah jam lagi dia belum datang, kita tinggalkan saja.”
Karena masih harus menunggu kedatangan Ki Young, aku pun menghampiri Heechul yang sedang asyik dengan naskahnya untuk menjalankan rencanaku. “Keluar dulu, yuk! Ada yang mau kubicarakan,” ajakku.
Dia menurut. Tanpa bertanya apa mauku dia langsung meraih mantelnya dan mengikutiku berjalan ke arah halaman belakang. “Ada apa?” tanyanya setelah kami berdua duduk di bangku panjang.
“Heechul-sshi, adegan ciuman kita lebih baik dihapuskan saja, ya!”
“Waeyo? Kita kan sudah melatihnya lama.”
“Ah, aku tahu itu. Tapi sekarang aku sudah tidak bisa lagi melakukannya.”
“Hah? Jangan-jangan karena sekarang kau sudah punya pacar, ya?”
Aku mengangguk. Dia memang cerdas, tahu dengan cepat maksudku.“Pacarku itu sangat pencemburu. Aku takut nanti dia marah,” ujarku.
“Tapi itu hanya akting. Harusnya dia mengerti.”
“Aku juga sudah mengatakan itu, tapi hubungan kami masih sangat labil. Kumohon, bantu aku menjelaskan pada sutradara nanti. Lagi pula ini drama sekolah. Tidak baik kan kalau orang tua kita menonton adegan ciuman kita nanti,” rayuku.
“Baiklah. Tidak masalah. Tapi, kapan kalian jadian? Aku kira selama ini kau masih sendiri.”
“Sebenarnya sudah lama. Sejak akhir musim semi, tapi kami sering bertengkar dan baru saja berbaikan.”
Dia mengangguk tanda mengerti. Tetapi kemudian dia berkata, “Jadi, kencan kita besok bagaimana?”
“Itu… Terserah kau saja.”
“Nih, ambil!” katanya sambil menyerahkan dua lembar tiket, “Mana mungkin aku pergi kencan dengan gadis yang sudah punya pacar. Ambilah dan bersenang-senang dengan pacarmu!”
“Heechul-sshi, bagaimana aku harus membalas semua kebaikanmu?”
“Sudahlah, tak apa. Asal kau tidak menangis lagi seperti malam itu, aku sudah senang.”
“Heechul-sshi, aku…”
Dia meletakan telunjuknya ke bibirku. Dia tidak ingin aku melanjutkan ucapanku. Dia lalu mengelus rambutku. Entah kenapa untuk kali ini, aku sangat tidak ingin melihat matanya, padahal bagian wajahnya itulah yang paling kusuka.
“Aku sudah terlambat rupanya,” gumamnya lirih tetapi masih dapat kudengar. Kami membisu cukup lama sampai kesunyian itu dipecahkan oleh dering handphone kami. “Kita harus kembali ke ruang latihan sekarang. Ki Young sudah datang,” ajaknya.
“Ya, Myu Ra juga sudah mengabariku.”
Tanpa memandang ku lagi, dia berjalan mendahului. Entah kenapa, aku merasa kikuk setelah mendengar gumamannya tadi. Rupanya selama ini aku juga sudah memberikan harapan padanya.
@@@@@
Aku mengucek mataku. Masih tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat. Aku sudah sering melihat orang berciuman. Tetapi untuk melihat yang melakukan hal itu adalah Chaeri, ini baru pertama kalinya. Aku melihat mereka berciuman sangat mesra tanpa memperdulikan pandangan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Aku mengalihkan pandangan ke arah Kyu. Terlihat sangat syok. Sementara Siwon, aku melihatnya beberapa kali menelan ludah. Aku dapat menangkap kekesalan di raut wajahnya.
“Lebih baik kita pulang saja. Kita sudah mengikuti kencan mereka dari pagi. Sudah saatnya kita akhiri kegiatan menguntit ini,” saranku.
“Baiklah, aku juga sudah bosan. Aku pulang duluan. Kalian berdua bersenang-senanglah di sini. Mumpung lagi di Namsan tower, tidak setiap hari kan kalian kemari? Berkencanlah seperti pasangan-pasangan yang lain. Aku pergi,” pamit Siwon meninggalkan aku berdua dengan Kyuhyun.
Aku menyikut tangan Kyu, berharap dia mengajakku melihat pemandangan kota Seoul dan berhenti memandang tajam ke arah Chaeri dan Hyuk Jae. Tetapi diacuhkan. Aku menatap nanar ke arah teropong yang sedang menganggur. Aku kembali hendak menyikut tangan Kyu tetapi tidak berhasil. Ketika aku menoleh, aku sudah tidak melihat dia di sampingku melainkan sedang berjalan ke arah Chaeri. Dengan cepat aku mencoba menyusulnya. Tetapi tidak berhasil. Kyuhyun sudah di samping Chaeri dan Hyuk Jae.
“Kencan kalian berakhir. Chaeri , ikut aku pulang!” titah Kyu sambil menarik tangan Chaeri.
“Oppa, aku tidak mau,” sahut Chaeri sembari menepis tangannya yang dipegangi Kyuhyun. Dia meraih lengan kanan Hyuk Jae, kemudian berusaha melindungi dirinya di belakang punggung pria itu.
“Chaeri, menurutlah dengan oppa-mu! Pulanglah!” bujuk Hyuk Jae.
Chaeri menggeleng, dia malah semakin mempererat pelukannya pada Hyuk Jae. Pria itu lantas menarik tubuh Chaeri ke hadapannya. Memegangi kedua pipi Chaeri, lalu mengecup keningnya. Kemudian berkata, “Pulanglah, tidak apa-apa, kok. Telpon aku setelah sampai rumah, ya?”
“Ya… ya… ya… Sampai kapan kalian mesra-mesraan begitu? Ayo, kita pulang Chaeri!” amuk Kyuhyun sambil menarik tangan Chaeri. Chaeri hanya bisa menatap dengan sedih ke arah kekasihnya itu.
@@@@@
“Oppa, apa salah Eunhyuk sampai kau tidak mengizinkan aku bersama dia?” jerit Chaesa saat Kyuhyun mendorongnya masuk ke kamarnya. Kyuhyun menutup pintu kamar Chaesa tanpa mengizinkan aku masuk ke sana. Aku hanya bisa mendengarkan pertengkaran mereka dari luar dan tidak bisa melerai. Kulihat Siwon juga duduk ikut mendengarkan.
“Kau belum cukup umur, belajar saja yang giat!” teriak Kyuhyun menceramahi
“Belum cukup umur? Kau saja hanya di atas satu tahun denganku sudah menikah. Jadi kau juga sebenarnya belum pantas ‘kan?” bantah Chaeri.
“Hal yang terjadi dengan diriku itu berbeda.”
“Tak ada yang berbeda, aku hanya ingin bersenang-senang dan menikmati masa mudaku. Oppa, ini pertama kalinya dalam hidupku ada pria yang bilang dia menyukaiku. Aku tidak rela karena ke arogananmu aku harus pisah dengannya. Aku tidak mau. Tidak rela!”
“Chaeri-ah, kau baru saja pacaran dengannya hari ini, tapi kau sudah berani membantahku?! Sejak kecil kita tidak pernah bertengkar seperti ini. Tapi karena pria itu kau jadi berani melawanku? Kau…kau…”
“Ya Tuhan, ini pertama kalinya mereka bertengkar rupanya. Dasar Kyuhyun seperti anak-anak saja,” batinku masih menguping pembicaraan mereka.
“Ini salah oppa! Oppa yang membuatku marah, oppa yang membuatku berani membantah,” sungut Chaeri tak mau kalah.
“Aku hanya tidak ingin kau pacaran dengan playboy itu.”
“Siapa sih yang bilang Eunhyuk playboy? Oh ya, pasti Siwon. Jangan mempercayai ucapannya, dia memang selalu mengusiliku dan tidak mau melihatku senang sedikit saja.”
Siwon yang memang sedang ikut menguping bersamaku jadi tersentak dan senyum-senyum sendiri.
“Bukan hanya karena dia playboy, tapi aku takut sesuatu yang buruk menimpamu. Aku takut kalau kau yang nanti menerima karma karena perbuatanku,” seru Kyuhyun yang tentu saja membuatku tersentak mendengarnya. Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah diperbuatnya sampai berkata seperti itu.
“Karma?” tanya Chaeri tak mengerti.
“Kau tahu kan, aku menikahi Chaesa karena ‘kecelakaan’? Aku tak mau kau juga seperti itu. Biasanya dalam suatu keluarga kalau anak lelakinya menikahi anak gadis orang karena suatu insiden, saudara perempuan dari pihak lelaki juga akan mengalami hal yang sama. Maksudku karma karena itu,” jelas Kyu.
“Mwo? Aku yakin oppa hanya mengarang saja supaya aku putus dengan Eunhyuk. Aku tahu kok kalau oppa dan Chaesa onnie belum pernah…”
Chaeri tidak melanjutkan perkataannya karena Kyuhyun memotongnya, “Sudah pernah kok! Kalau tidak untuk apa kami dinikahkan?”
“Tapi Chaesa onnie bilang…”
“Aha, tentu saja dia lupa. Dia mabuk saat itu.”
“Kyaaa~ Kyuhyun. Keluar kau! Aku mau bicara,” perintahku.
“Omo~ Ternyata dia menguping diluar,” gumam Kyuhyun.
Kyuhyun keluar dari kamar Chaeri saat itu juga. Aku menggeram kesal kepadanya. Tega-teganya dia berbohong seperti itu. Aku pun menarik tangannya, menyuruhnya mengikutiku menuju kamar kami. Sebetulnya selain alasan untuk memarahinya yang sudah berbohong, aku juga punya rencana yang akan dijalankan oleh ahjusshiku.
@@@@@
“Kenapa mengajakku ke tempat seperti ini?” tanya Chaeri pada Siwon.
“Kenapa? Tidak suka?” balas Siwon.
“Aku belum pernah bermain ski es,” kata Chaeri sedih, “Aku tahu kau mengajakku ke tempat ini untuk mengerjaiku lagi, kan? Kau ingin aku ditertawakan orang-orang karena tidak bisa bermain ski?”
“Kenapa sih kau selalu berburuk sangka padaku? Chaesa yang memberikan tiket masuk ke tempat ini padaku. Jadi, bukan karena aku sengaja. Aku bahkan tidak tau kau tidak bisa main ski!”
Chaeri tidak tahu harus membalas dengan apa lagi, sehingga dia pun melanjutkan, “Karena kau…karena kaulah yang membuatku harus putus dengan Eunhyuk. Kau mengatakan hal-hal buruk tentangnya pada Kyu oppa.”
“Dia memang tidak sebaik yang kau kira. Kami sudah lama berteman, aku sudah tahu dia luar dan dalam. Kalian tidak akan cocok.”
“Tapi kau sendiri yang bilang kalau kami pasti akan berpacaran. Sebenarnya apa sih maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Aku juga tidak mengerti,” sahut Siwon sambil menatap wajah Chaeri . “Chaeri, daripada kita bertengkar terus, lebih baik kita turun ke arena saja, yuk! Aku akan mengajarimu bermain ski.”
Chaeri pun menurut, mereka kemudian mengganti sepatu yang mereka gunakan dengan sepatu ski, lalu bersiap menuju arena es. Chaeri cukup ketakutan karena tidak bisa menyeimbangkan diri. Tetapi, Siwon menuntunnya dengan hati-hati. Di arena es, Siwon memengangi Chaeri agar bisa berjalan kemudian mengajak Chaeri berputar-putar. Saat itu juga Chaeri sudah melupakan kesedihannya.
Tidak butuh waktu lama, Chaeri sudah bisa berjalan tanpa harus dipegangi, dia senang sekali. Dia mulai berjalan dengan menaikan kecepatannya. Tetapi tampaknya ia lupa, itu hari pertamanya bermain ski, tidak mungkin dia bisa langsung mahir. Ia pun terjatuh. Siwon yang semulanya ingin menolong Chaeri agar tidak terjatuh, malah ikutan terjatuh juga dengan posisi menindih tubuh Chaeri.
“Kau berat sekali, cepatlah bangkit Siwon-sshi! Badanku sakit sekali,” keluh Chaeri .
Siwon tidak menanggapi, dia malah asyik memandangi wajah Chaeri . Dan secara tiba-tiba Siwon mencium bibir gadis itu. Entah kenapa Chaeri merasa tidak kuasa menolak perlakuan Siwon itu. Dia membiarkan saja pria itu melumat bibirnya. Chaeri sudah tidak bisa berpikir lagi. Yang ada di otaknya sekarang adalah kebingungan. Setelah ciuman itu berakhir pun yang ada dimata Chaeri saat menatap Siwon adalah kebingungan.
“Saranghaeyo, Lee  Chaeri,” ucap Siwon yang membuat Chaeri semakin bingung. Siwon yang merasa dirinya tidak direspons melanjutkan lagi, “Shim Chaeri… Saranghaeyo, wo ai ni, aisiteru, I love you, te a mo.”
“Siwon-sshi, aku tidak mengerti,” sahut Chaeri.
“Chaeri-ya. Aku menyukaimu, masa masih tidak mengerti sih?” seru Siwon gregetan.
“Aku tahu, tapi…,” Chaeri masih kebingungan melanjutkan perkataannya.
“Ya, memangnya kenapa?” tanya Siwon.
“Jadi, karena kau menyukaiku. Karena alasan itu kau selalu mengerjaiku?”
“Bukan, aku suka mengerjaimu karena kau sangat polos. Tapi semakin aku menjahilimu, semakin aku tahu kalau sebenarnya aku menyukaimu. Sangat suka.”
“Tapi, aku sudah punya Eunhyuk,” Mendengar itu, Siwon langsung duduk di samping Chaeri . Wajahnya sangat muram. “Aku sangat tidak mengerti. Aku takut mempercayai perkataanmu. Karena selain kebingungan, aku juga merasa bahwa kau hanya ingin mengisengiku. Aku merasa kau sedang mengerjaiku seperti biasa. Maafkan aku, aku tidak mau kau permainkan lagi.”
Setelah mengatakan itu, Chaeri melepas sepatu skinya. Kemudian dengan kaki telanjang dia berjalan keluar dari arena ski. Dia memutuskan untuk pulang sendiri. Sementara Siwon hanya bisa termangu, dia sedang menuai apa yang selalu ditaburnya. Chaeri gadis yang selalu dikerjainya dan sekarang disukainya tidak mempercayai ucapannya. Siwon merutuk diri. Ini pertama kali dalam hidupnya ditolak oleh seorang gadis.
@@@@@
“Aigoo… Ahjussi, kau sudah habis berapa botol?” pekikku saat menjemput Siwon di sebuah warung tenda yang memang biasanya tempat untuk orang-orang minum.
“Kenapa malah kau? Yang kutelepon untuk minta jemput kan Chaeri ?”tanyanya heran.
“Cih, kau salah. Yang kau telpon itu aku!”
Siwon lalu mengecek handphonenya dan benar saja yang dia telepon itu bukannya Chaeri , melainkan aku. Dia merutuk kesal, kemudian mau meminum lagi shoju yang masih tersisa di gelasnya, tetapi aku merampas gelas itu dan meneguknya.
“Ya, Chaesa -ya. Kau ingin aku marah ya?”
“Seharusnya yang marah itu aku! Apa yang kusuruh saat kau mengajak Chaeri ke arena ski? Aku menyuruhmu supaya mengajak Hyuk Jae kesana supaya kencan mereka berlanjut! Tapi apa yang sudah kau lakukan?” Dia hanya mengerling, lalu memakan sotong di hadapannya tanpa memperdulikan dan menawariku. “Ahjusshi, sebenarnya ada apa sih?” tanyaku penasaran karena diacuhkan.
“Chaeri menolakku. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku ditolak.”
Aku hanya bisa melongo mendengar pengakuannya. Ini berita terbesar abad ini. Sebenarnya aku ingin tertawa sih, tetapi itu hal yang paling tidak baik saat salah seorang kerabatmu patah hati.
“Bagaimana mungkin dia menerimamu, dia kan sudah punya Hyuk Jae,” seruku masih sambil menahan tawa.
“Huh, dia pikir Hyuk Jae itu pria baik. Dia sudah ditipu,” kata Siwon. Terlihat sekali kalau dia sudah setengah sadar. Tapi lagi-lagi aku tergelitik rasa penasaran ingin mengorek lagi lebih banyak informasi. Aku tahu orang yang sedang mabuk tidak akan berbohong, jadi ini kesempatanku untuk mengetahui lebih banyak kenyataan yang ada pada ahjusshi ku ini.
“Kau juga tidak lebih baik kok, kau hanya lebih tampan saja,” ujarku dan dia pun tersenyum mendengarnya.
“Tentu saja. Aku lebih baik beribu-ribu kali darinya. Chaesa-ya, kau ingin tahu alasanku pulang ke rumahmu bukannya tinggal di asrama lagi?”
Aku mengganguk cepat, ini dia yang kunantikan. Alasan dia memilih tinggal bersama kami bukannya di asrama. Padahal dulu ibuku selalu memaksanya untuk tinggal bersama kami dan dia selalu menolak dengan alasan tidak bebas. Tetapi setelah aku menikah, dia malah tiba-tiba datang ke rumah dan berkata ingin tinggal bersama kami. Benar-benar aneh. Aku tidak percaya kalau itu dilakukannya hanya karena bosan.
“Hyuk Jae yang menyuruhku, dia ingin aku merekam malam-malam indahmu dengan suamimu. Dia bilang pasti seru menonton saat kau dan suami mu yang masih anak SMA memadu cinta. Hyuk Jae itu penggemar yadong. Dan dia bilang sudah bosan menonton yang hanya akting. Dia ingin yang real,” kata Siwon panjang lebar dan kemudian langsung tertidur.
Aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasannya. Ya Tuhan, ternyata ada hal buruk yang terpendam selama ini dan yang membuatnya adalah pamanku sendiri. Kami ini masih punya hubungan darah tetapi tampaknya dia bisa tega melakukan sesuatu hanya demi kesenangan diri. Aku sudah tau kalau dia memang aneh, tapi tidak menyangka dia bisa setega itu dan yang lebih buruk sekarang dia sedang mabuk dan tertidur. Sesungguhnya ingin rasanya aku meninggalkannya. Tetapi aku tidak tega, aku pun membopongnya sampai ke taksi yang mengantar kami pulang. Sepanjang jalan aku mengutuk dan memakinya, perbuatan yang percuma karena dia tidak mendengarkan.
“Huh, lihat saja ahjusshi. Kau tidak akan selamat dari amukan eomma saat kita sampai rumah nanti. Lihat saja!” kataku gemas.
..to be continued..

Let’s get married part 10

Author: Taniyae shawolelf a.k.a Lee chaesa
Main Cast: Cho Kyuhyun,cho shiwon,lee chaesa , lee chaeri
Legth: Sequel
Genre: Romance
ranting : PG-15
“Haisshh, bagaimana bisa dia semabuk ini?!” tanya Kyuhyun keheranan saat membantuku membopong Siwon yang memang sedang mabuk berat sesampainya kami di depan rumah.
“Dia sedang patah hati,” kataku sambil menyerahkan sepenuhnya Siwon untuk dibopong Kyuhyun seorang diri, “Aigoo, anak ini tidak kira-kira menyusahkanku. Aku sampai dimuntahi juga saat ditaksi tadi. Aissh~ Kyu, kau antar dia ke kamarnya. Aku mau ganti baju dulu. Bau sekali!”
Kyuhyun menurut, dia mengajak Siwon ke kamarnya. Sementara aku bergegas ke kamarku untuk membersihkan diri dari bekas muntahan si pemabuk tadi. Setelah selesai, aku pun menuju kamar Siwon untuk melihat keadaannya dan kulihat dia tertidur di ranjangnya dengan pakaian yang sudah diganti.
“Kau yang menggantikan pakaiannya?” tanyaku pada Kyu.
“Tentu saja, memangnya kau melihat orang lain yang bisa melakukannya?” tanyanya balik.
Aku tertawa mendengarnya, “Hmmm… Lalu dimana orang tuaku? Sejak aku datang belum terdengar suara mereka?”
“Oh, eomonim dan abeonim tadi tiba-tiba pergi ke bandara. Katanya mau menjemput haraboji yang akan tiba malam ini dari China. Oh ya, Chaesa kau tidak pernah cerita kalau haraboji-mu masih hidup. Dia tidak datang ke pernikahan kita ‘kan?”
Kali ini aku terdiam mendengarkan perkataannya, aku cukup terkejut dengan kabar bahwa haraboji akan kembali hari ini. Aku lalu memandang iba ke arah Siwon. Sebelum aku sampai di rumah dan tahu kalau haraboji akan datang, aku sangat ingin sekali mendengar dia dimarahi oleh eomma. Tapi sekarang aku malah iba padanya. Jika haraboji datang dan melihatnya dalam keadaan mabuk seperti ini, bisa terjadi perang besar. Tanpa banyak berpikir aku bergegas ke kamar mandi, mengambil air untuk menyadarkannya. Kuciprat-cipratkan air ke wajahnya supaya dia terbangun. Sementara Kyuhyun terheran-heran melihat tingkahku. Tidak butuh waktu lama untuk membangunkan Siwon, saat terbangun dia terbatuk-batuk dan menatapku marah.
“Ya, Chaesa-ya! Tidak bisakah membangunkanku dengan lebih lembut? Kasurku jadi basah karenamu!” bentaknya.
Aku menarik nafas panjang, menahan emosiku. Setelah menghembuskannya perlahan, aku menjawabnya dengan suara terlembut yang pernah kukeluarkan, “Haraboji akan datang, aku tidak ingin melihat dia marah besar karena mendapati dirimu sedang mabuk.”
“MWO?! Aboji akan datang? Aigoo~ aku tidak ingin bertemu dengannya. Chaesa-ah, aku pergi dulu, terima kasih sudah membangunkanku,” serunya tetapi aku langsung berlari ke arah pintu kamar untuk menghadangnya agar tak pergi.
“Menyingkirlah!” perintahnya. Aku menggeleng tidak mau, masih tetap merentangkan tanganku menutupi jalannya keluar, “Aku akan bersikap kasar kalau kau masih keras kepala. Aku hitung sampai tiga, aku akan mendorongmu jika kau masih tidak mau menyingkir!”
Kyuhyun yang sedari tadi hanya kebingungan memperhatikan tingkah kami tampaknya mulai paham kalau Siwon sudah tidak bisa dicegah. Dengan lembut Kyuhyun mendorongku agar menjauh dari pintu. “Sudahlah Chaesa, jangan menghalanginya!” seru Kyuhyun. Aku pun melunak. Kubiarkan Siwon keluar dari kamarnya. Aku dan Kyuhyun mengikutinya menuruni tangga sampai ke pintu depan. Tetapi sepertinya sudah terlambat, karena di depan gerbang kulihat sebuah mobil berhenti dan dari sana keluarlah kedua orang tuaku bersama dengan seorang pria tua. Ya, pria tua itu haraboji ku dari pihak ibu yang sudah lama menetap di China, tepatnya setelah kematian halmeoni sepuluh tahun lalu.
“Abeonim, ayo kita segera masuk rumah. Di luar dingin sekali,” ajak Appa tetapi tidak direspons, pria tua itu hanya terpaku memandang Siwon yang sudah sepuluh tahun tidak dilihatnya. Entah kenapa ketika melihat hal ini aku jadi ingin menangis tetapi aku melihat eomma sudah menangis terlebih dulu. Kutarik tangan Kyuhyun, sesak sekali rasanya melihat pemandangan itu.
“Hyun Nah, antar aku ke hotel saja! Aku tidak ingin menginap di sini,” seru haraboji pada eomma.
“Tidak usah! Aku yang akan pergi,” sahut Siwon sambil berjalan melewati eomma dan haraboji.
“Baguslah kalau begitu,” ujar haraboji dingin yang membuat langkah Siwon terhenti. Haraboji lalu mendekatiku dan memelukku. “Chaesa-ya, kau makin cantik saja. Kau tau betapa kakek sangat merindukanmu?”
Kulihat Siwon memandang nanar ke arah kami. “Haraboji, aku…”
“Aku membawakan banyak oleh-oleh untukmu,” potongnya, “Hyun Nah, Chaesa-Appa. Kalian berdua masuklah! Kenapa masih bengong di luar sana?” ajak haraboji mengabaikan keberadaan Siwon yang juga masih berada di luar. Merasa dirinya tidak dibutuhkan, Siwon pun pergi tanpa mengatakan apapun. Sementara eomma masih menangis. Menangisi ketidakberdayaannya dalam mengakurkan ayahnya dan adiknya sendiri.
@@@@@
“Annyeong haseyo. Cho Kyuhyun imnida. Saya berjanji akan selalu melindungi dan mencintai Chaesa. Kuharap haraboji memberikan restu pada kami,” ucap Kyuhyun sambil memberikan penghormatan.
“Hyun Nah, mereka berdua masih di bawah umur. Harusnya masih bersekolah, kenapa malah dinikahkan?!” tanya haraboji pada eomma. Dia mengabaikan Kyuhyun yang masih membungkuk di hadapannya. Eomma dan appa terlihat kebingungan mencari jawaban yang pas. Mereka tampak sangat gugup dan ketakutan.
“Itu…itu karena aku hamil,” sahutku asal-asalan karena tidak tahu harus memberi alasan apa.
“MWOYA?!” pekik Kyuhyun yang langsung duduk dengan tegak. Begitu pula dengan haraboji, eomma dan appa memekik serentak.
“Kenapa kalian bertiga ikut-ikutan terkejut?” tanya haraboji keheranan.
“Ah…ani…ani… Kami hanya kaget melihat haraboji juga kaget,” sahut Kyuhyun yang diiringi anggukan eomma dan appa. Dalam hati aku merutuk, bisa-bisanya dia menjawab dengan jawaban yang sangat bodoh.
“Oh, begitu. Lalu kenapa perutmu belum membesar?” tanya haraboji padaku.
“Ke-keguguran waktu usia dua bulan,” sahutku lemas. Ya Tuhan, semoga kau tidak mengabulkan kebohonganku ini.
“Kalau sudah begitu, kenapa masih hidup bersama? Kalian sudah tidak ada tanggung jawab lagi, kan? Berpisahlah supaya kalian berdua bisa serius dengan sekolah. Masa depan kalian masih panjang,” ucap haraboji yang membuatku dan Kyuhyun terkejut.
“Haraboji, kenapa bisa berkata sekejam itu? Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Aku mencintai suamiku,” ujarku memohon.
“Cinta? Tahu apa kau tentang cinta? Kau lihat orang tuamu, mereka awalnya menikah bukan karena cinta, tapi bisa bertahan sampai sekarang. Itu karena mereka memiliki tanggung jawab dan kedewasaan. Kau masih anak-anak, belum pantas merasakan apa yang disebut hidup berumah tangga. Berpisahlah sekarang, sebelum berjalan lebih jauh lagi!”
“TIDAK MAU,” pekikku membuat semua yang ada di sana terkejut. Aku tidak pernah sekasar ini pada haraboji, tapi menurutku ini sudah keterlaluan. Dia ingin memisahkanku dengan Kyuhyun dan aku tak mau itu terjadi.
“Chaesa-ya, kau sudah berani berkata keras padaku? Apa-apaan ini?!” bentak haraboji galak.
“Haraboji salah. Eomma dan appa bertahan bukan hanya karena tanggung jawab dan kedewasaan mereka, tetapi juga karena mereka saling mencintai. Aku tidak sudi kalau harus berpisah dengan suamiku. Aku…,” air mata sudah mengalir sekarang, membuatku cukup kesulitan melanjutkan ucapan, “… haraboji, kalau kau masih memaksaku berpisah dengan suamiku, aku.. aku lebih memilih mati! Aku akan bunuh diri jika kau berani memisahkan kami.”
Aku bergegas menuju kamarku seraya menarik tangan Kyuhyun agar ia mengikutiku. Sementara itu kudengar haraboji mengamuk. Dia memarahi orang tuaku karena dianggap tak becus mengasuhku. Aku sangat kesal dengan haraboji, walau aku juga merindukannya. Aku kesal karena seenaknya saja dia memarahi orang tuaku padahal dia juga bukan orang tua yang baik. Dia mengacuhkan dan begitu membenci Siwon, padahal Siwon putra kandungnya sendiri. ‘Ah~ kenapa sih dia harus kembali?’ sesalku dalam hati.
@@@@@
“A-aku tidak mau mendengarmu berkata kalau kau lebih memilih mati ketimbang kita berpisah. Itu sangat mengerikan, Chaesa,” ujar Kyuhyun ketika aku keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahku yang lusuh sehabis menangis.
Aku menghampirinya yang sedang duduk di pinggir ranjang. Aku duduk di sampingnya kemudian memeluknya, “Aku memang akan mati jika kau pergi dariku.”
“Kumohon jangan berkata seperti itu lagi!” pinta Kyu sambil melepaskan pelukannya dariku. Dia menatapku kemudian dengan tangannya menghapus air mata yang kembali jatuh dari mataku. “Dan kumohon jangan menangis! Kita pikirkan cara supaya haraboji merestui kita.”
“Hamili aku!” pintaku yang membuat Kyu membulatkan mulutnya, terkejut.
“Aniya! Kau bilang kita akan melakukan itu lima tahun lagi,” tolaknya.
“Kalau begini terus, kita tidak akan bertahan sampai lima tahun lagi. Kau tidak tahu betapa mengerikannya haraboji. Dia sanggup melakukan segala cara agar kita berpisah.”
“Tapi, kau belum siap kan?” tanyanya.
“Tentu saja belum. Tapi aku akan berusaha, ini satu-satunya cara,” sahutku meyakinkannya.
Kulihat dia masih kebingungan, tapi aku sudah tak dapat berpikir lagi. Aku menciumnya untuk lebih meyakinkannya kalau aku serius. Kubuka kancing bajunya saat ciuman kami semakin memanas, dia pun melakukan hal yang sama padaku. Tetapi saat aku ingin membuka kancing bajunya yang terakhir, tanganku terhenti. Aku bahkan tidak bisa membalas ciumannya lagi. Aku tidak bisa melakukannya. Kyuhyun memandangiku berharap aku melanjutkan yang tadi kami lakukan. Tapi aku tak bisa.
Dengan cepat aku mengambil pakaianku, kemudian berlari menuju kamar mandi. Aku mengurung diriku sendiri di kamar mandi sambil menangis.
“Chaesa-ya. Kau pasti menangis lagi di dalam sana,” tebak Kyuhyun dari balik pintu, ada kecemasan dalam suaranya.
“Mianheyo, Kyuhyun-sshi,” kataku penuh penyesalan.
“Gwaenchana, kau baik-baik saja kan di dalam sana?” tanyanya lagi.
“Ne, gwaenchana. Aku akan keluar sebentar lagi. Tadi aku hanya sedikit gugup, kita akan melanjutkannya…”
“Tidak perlu,” potong Kyuhyun, “Aku rasa itu bukan cara yang tepat. Pikiran kita terlalu pendek. Aku tahu kau sedang kalut sekarang. Kalau aku sampai menghamilimu, itu artinya sama saja aku menghancurkanmu. Kau pasti akan dikeluarkan dari sekolah jika itu terjadi. Walau dengan itu kita akan selalu bersama, tapi itu sama saja aku menghancurkan masa depanmu. Lagipula kau masih belum siap, kita pasti bisa menemukan cara lain. Aku yakin itu.”
`Tangisanku semakin menjadi mendengar perkataannya. Aku tidak mampu menjawabnya lagi. Aku merasa bersalah padanya, tetapi aku bersyukur bisa memilikinya. “Kyuhyun-sshi, gomawoyo,” hanya itu yang bisa kuucapkan padanya.
“Ya, aku akan tidur sekarang. Rasanya hari ini lelah dan panjang sekali. Kau jangan sampai tidur di kamar mandi ya!”
“Ne,” sahutku. Setelah itu aku berdiam cukup lama di kamar mandi. Merapikan rambut dan memakai bajuku. Aku keluar dari kamar mandi setelah berada di sana hampir satu jam. Aku tidak berani keluar cepat, karena takut kalau-kalau Kyuhyun belum tidur. Saat keluar, aku melihatnya sudah pulas menggunakan penutup matanya. Aku memandanginya yang sedang tertidur. Sedikit menyesal karena lagi-lagi sudah mengecewakannya.
@@@@@
“Chaesa, antarkan ini pada Siwon. Kasihan dia belum makan apa-apa dari tadi malam. Dia bahkan tidak membawa uang banyak. Uangnya hanya cukup untuk masuk sauna,” kata eomma berbisik sambil memberikan sebuah bungkusan dan kertas kecil bertuliskan alamat yang harus dituju saat aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Kulihat haraboji masih menikmati sarapannya bersama Appa di ruang makan. Aku dan Kyuhyun sendiri sudah sarapan terlebih dahulu untuk menghindari haraboji. Kemudian kulihat Chaeri dengan mata bengkaknya juga sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Dia keluar rumah terlebih dahulu. Sejak semalam aku belum berbicara dengannya, sehingga dengan cepat aku menyambar bungkusan yang diberikan eomma.
“Baiklah, akan kuberikan ini padanya. Aku berangkat dulu. Ayo, Kyu, kita pergi!” seruku kemudian bergegas menyusul Chaeri yang belum terlalu jauh. “Chaeri, tunggu aku!”
Gadis itu menoleh heran, “Eonnie, kita kan tidak satu arah.”
“Aku tahu,” sahutku, “Aku ingin kau ikut aku. Tentu saja kita tidak akan terlambat ke sekolah.”
“Kemana?”
“Pokoknya ikut saja,” kataku sambil menarik tangannya, kemudian aku meneriaki Kyu yang masih cukup jauh di belakang kami, “Cho Kyuhyun, palli!”
Tak lama kemudian kami bertiga sampai di tempat yang dituju, kulihat Siwon tengah berjongkok di samping tiang listrik yang letaknya sekitar tiga blok dari rumahku. Chaeri terdiam ketika melihat sosok Siwon yang menggigil kedinginan.
“Hyung, kau tak apa?” tanya Kyuhyun pada Siwon.
“Yaaa, Kyu! Kenapa masih memanggil dia dengan sebutan ‘hyung’? Dia itu pamanku, paling tidak panggil dia dengan sebutan ‘Shamchon’ kalau kau tak mau mengikutiku dengan menyebutnya ‘ahjusshi’!” seruku.
“Chaesa-ya, kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahas itu,” kata Kyu mengingatkan.
“Oh ya,”sahutku malu-malu, “Yaaa, sekarang makanlah dulu! Setelah itu ganti pakaianmu. Biar kabur dari rumah, kau masih harus sekolah,” kataku sambil memberikan bungkusan yang diberikan eomma tadi.
“Sebaiknya aku pergi. Aku tak tahu ada masalah apa semalam. Tapi yang jelas aku tidak ingin mendapat masalah karena terlambat ke sekolah,” ujar Chaeri dingin. Aku dan Kyu melongo mendengar ucapannya itu, sementara Siwon tertunduk lesu. Tidak berani melihat Chaeri .
“Kenapa Chaeri sedingin itu?”bisik Kyu kebingungan tetapi aku tidak berniat memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Chaeri dan Siwon semalam karena memang belum saatnya. Sudah terlalu banyak masalah yang aku dan Kyu hadapi. Aku tak ingin ikut campur masalah percintaan segitiga antara Chaeri , Siwon dan Hyuk Jae, karena itu pasti sangat merepotkan.
“Bagaimana komentar aboji terhadap pernikahan kalian?” tanya Siwon yang sudah mulai menyantap makanannya.
“Tentu saja tidak merestui, sejujurnya aku terkejut saat tahu haraboji ternyata tidak mengetahui pernikahanku. Pantas saja dia tidak datang saat itu,” sahutku.
Siwon terkekeh mendengarnya, “kalau begitu kalian harus berjuang. Berikan dia cicit, siapa tahu setelah itu dia akan merestui.”
Aku mendengus kesal kepadanya, “Kami akan memikirkan cara selain itu. Ngomong-ngomong, setelah ini kau akan tinggal di mana?”
“Kembali ke asrama,” ujarnya, “Gomawo sudah membawakan ini, kalian bisa pergi sekarang. Aku sudah tak apa.”
“Jaga dirimu!” pesanku sebelum pergi meninggalkannya.
@@@@@
“Eunhyuk-oppa,” panggil Chaeri dan pria yang dipanggil namanya itu menoleh untuk melihat wajah yang memanggilnya. Senyumnya merekah melihat Chaeri.
“Chaeri-ya, bekal makananmu besar juga ya,” ujarnya.
“Tentu saja. Aku juga membuatkan bekal untukmu…,”kata Chaeri sambil membuka bekal makanan yang dibawanya.
Hyuk Jae tanpa ragu memakan bekal yang diberikan Chaeri padanya. Dia memakan dengan lahap makanan yang dibuat penuh cinta oleh kekasihnya itu. Chaeri tersenyum senang melihat Hyuk Jae menghabiskan dengan semangat makanan buatannya.
“Aku akan membuatkanmu bekal setiap hari kalau kau suka,” lanjut Chaeri yang dibalas anggukan dari Hyuk Jae. “Oppa, makannya pelan-pelan saja. Kau lucu sekali dengan mulut penuh seperti itu.”
Dengan penuh perhatian, Chaeri melap bibir Hyuk Jae yang celemotan karena makan dengan terburu-buru. Hyuk Jae sangat bahagia dengan perhatian yang diberikan kekasihnya itu. Dia tidak menyangka gadis itu akan menyayanginya dengan sungguh-sungguh karena selama ini Hyuk jae mengira bahwa Chaeri menyukai pria lain yaitu sahabatnya, Choi Siwon. Kali ini Hyuk Jae berjanji, dia takkan melukai gadis itu. Dengan tulus akan mencintai Lee  Chaeri. Hyuk Jae memandang Chaeri dengan mesra. Setelah menghabiskan makanannya, ia memeluk Chaeri dan mencium bibir gadis itu. Chaeri tidak keberatan Hyuk Jae melakukan itu walau sekarang mereka sedang berada di sekolah. Chaeri berpikir tidak akan ada yang melihat karena sekarang mereka berada di atap sekolah, di mana jika di musim dingin seperti sekarang takkan ada orang yang mau ke sana. Tetapi sebenarnya ada seseorang yang sedang menyaksikan kemesraan mereka dan orang yang terbakar cemburu itu akhirnya tidak tahan hanya menonton. Orang itu pun menghampiri mereka.
“Ehmm…” deham Siwon membuat Hyuk Jae dan Chaeri kelabakan.
“Ya, Siwon. Kau mengganggu saja,” seru Hyuk Jae dengan wajah memerah. Siwon tidak peduli dengan si pria. Dia hanya menatap sang gadis yang tidak mau memandangnya.
“Chaeri , ayo kita bicara!” ajak Siwon tetapi masih tidak ditanggapi. “Chaeri , kumohon!”
“Oppa, aku akan kembali ke kelas,” pamit Chaeri pada Hyuk Jae tanpa memperdulikan Siwon yang sedari tadi mengajaknya bicara. Chaeri tak bisa pergi karena Siwon memegangi tangannya dengan kuat.
“Yaaa Choi Siwon, apa yang kau lakukan pada gadisku?” seru Hyuk Jae sembari berusaha melepaskan cengkraman Siwon pada Chaeri . Tapi tidak berhasil, malah dirinya yang terjungkal karena tenaga Siwon lebih besar.
“Siwon-sshi, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi ‘kan?” tanya Chaeri dengan mata berkaca-kaca.
Siwon melepaskan cengkramannya, dia menatap mata Chaeri yang mulai basah dengan pandangan menyesal. “Mianheyo, aku tidak akan mengganggumu lagi. Sebenarnya banyak yang ingin kuucapkan. Tetapi kau pasti tidak mau mendengarkanku,” ujar Siwon kemudian berlalu.
Sejak saat itu, Chaeri tidak pernah lagi berbicara dengan Siwon. Pria itu selalu menghindarinya jika mereka bertemu di sekolah. Chaeri pun sudah tak dapat bertemu dengan Siwon lagi di rumah, karena Siwon sudah tak tinggal di sana lagi. Entah kenapa ada rasa sakit dan kehilangan dalam hati Chaeri . Dia merasa kesepian karena tidak ada lagi seorang Choi Siwon yang selalu mengerjainya.
@@@@@
Tiga minggu berlalu sejak kedatangan haraboji. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya bertahan selama itu di rumahku. Haraboji memang tidak lagi menyinggung masalah pernikahanku. Tetapi dia selalu saja mencari-cari kesalahan dan keburukan Kyuhyun. Yang merasa resah bukan hanya aku saja, tetapi eomma juga. Sudah berulang kali eomma membujuk haraboji agar kembali ke rumahnya sendiri. Tetapi tentu saja ia tak mau. Rumah itu mempunyai kenangan buruk baginya. Itulah sebabnya jika kembali ke Korea, ia akan menginap di rumahku atau di hotel. Eommaku seperti anak durhaka memang. Tapi tentu saja, siapa sih yang bisa tahan dengan kebawelan haraboji? Orang tuaku benar-benar tidak bisa berkutik ketika haraboji di rumah. Untung saja aku mempunyai kesibukan yang sangat luar biasa di sekolah. Ya, kesibukan berlatih teater.
“Tiga hari lagi pertunjukan kita. Semoga tidak ada badai salju hari itu. Semoga tidak ada masalah apa-apa. Ya Tuhan, lindungi kami!” seru Myu Ra sebelum kami mengadakan rehearsal.
“AMIN,” timpal kami serempak.
Dua jam berlalu setelah itu, latihan selesai. Aku dan Kyuhyun dalam perjalanan pulang. “Chaesa-ya, aku selalu menonton latihan kalian sejak kau suruh. Tapi, aku tidak pernah melihatmu beradegan ciuman dengan Heechul. Kau membohongiku, ya? Ingin mengujiku?” tanya Kyuhyun.
‘Ya, tentu saja tidak ada lagi. Kan sudah kubatalkan. Kau saja yang tidak tahu,’ gumamku dalam hati.
“Ya, Chaesa, jawab aku!” seru Kyuhyun yang merasa dirinya diacuhkan.
“Ada kok. Tapi memang tidak dilatih lagi. Akan langsung kami lakukan saat dramanya berlangsung,” ujarku membohonginya. Dia pun mencelos, sebisa mungkin aku menahan tawaku supaya dia tak marah. Aku melanjutkan, “Tadi Ki Young menatapmu terus. Kau sudah mengatakan yang dulu kusuruh itu?” Kyuhyun menggeleng, aku kecewa dengan sikap pengecutnya itu, “Kau kan sudah janji!”
“Maafkan aku! Tapi memang belum saatnya. Aku akan mengatakannya setelah pertunjukan selesai. Kalau aku mengatakannya sekarang, aku khawatir dia akan langsung membencimu dan meninggalkan klub. Kau tidak mau itu terjadi ‘kan?”
“Tentu saja tidak mau. Pertunjukan lebih penting,” sahutku.
“Lebih penting dariku?” tanyanya tersinggung.
“Itu kan hal yang berbeda,”balasku.
Kyuhyun tersenyum mendengarnya, dia membelai lembut rambutku. Saat itu juga butiran salju jatuh menimpa kepala kami, kami berdua mendongak menatap langit. Memandang takjub butiran-butiran salju putih yang dimuntahkan langit. Kemudian kami saling berpandangan.
“Ini salju pertama kita,” gumamku.
“Ya dan tidak terasa, sudah setengah tahun lebih kita menikah,” sahutnya.
“Kyu, kita akan selalu bersama ‘kan?”
“Tentu, kita akan bersama selamanya.”
@@@@@
Hari H pertunjukan teater…
“Sisa satu jam lagi. Aku tidak pernah segugup ini. Acara ini lebih membuatku gugup ketimbang saat aku mengikuti ujian masuk universitas minggu lalu,” ujar Myu Ra sambil berjalan bolak-balik di belakang stage.
“Penontonnya sudah mulai berdatangan, ya? Ya Tuhan, orang tuaku menonton. Aku kan tidak ikut tampil,” kata Kyuhyun yang mengintip kursi penonton lewat tirai panggung.
“Tentu saja. Aku yang mengundang mereka,” sahutku.
“Chaesa-ya, kau bodoh ya? Orang tuaku akan melihatmu berciuman dengan pria lain selain aku. Kau tidak malu?” bisik Kyuhyun.
Aku menghela nafas, kemudian menjauhinya. Aku berjalan ke arah Heechul yang sudah siap dengan kostumnya. Aigoo~ tampan sekali, sedikit menyesal rasanya aku membatalkan scene kiss kami. Tapi sudahlah, terlanjur. Tapi aku melihat ada yang aneh pada Heechul. Dia sedari tadi memegangi perut kanannya dan wajahnya seperti menahan sakit.
“Heechul-sshi, kau tak apa-apa?” tanyaku.
“Tidak apa-apa, aku hanya sakit perut. Mungkin pengaruh gugup. Aku akan mengambil air sebentar,” sahutnya.
Dia meninggalkanku menuju tempat minum. Tapi dia terjatuh setelah tiga langkah. Dia mengerang sambil memegangi perutnya yang tentu saja membuat semua yang ada di belakang panggung jadi terkejut dan histeris.
“Ya, Heechul-sshi kau tak apa-apa? Apa yang sakit?” seru Kang In panik.
“Dari tadi dia memegangi perut kanan bawahnya mulu,” kataku tak kalah panik.
“Maag-nya mungkin kumat, kau tidak makan sejak kapan?” tanya Myu Ra sambil memegangi tangan Heechul.
“Dia tidak punya maag,” balas Jin Rin.
“Sepertinya usus buntu,” ujar Kyuhyun yang membuat semua wajah mengarah padanya.
“Sepertinya Kyuhyun benar. Aku juga dulu seperti itu saat terkena radang usus buntu,” kali ini Ki Young yang berbicara.
“Kita panggil ambulans. Bisa gawat kalau sungguhan radang usus buntu,” kata Myu Ra mencoba tenang. Tak lama ambulans datang. Heechul dibawa ke rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah kami. Dia ditemani dengan salah seorang guru. Kami melepasnya dengan tangisan.
“Sudah jangan menangis!” seru Ki Young. Hanya dia seorang yang tidak menangis saat ini.
“Bagaimana tidak menangis? Kita kehilangan Romeo,” sahutku.
“Pertunjukan yang sudah kita siapkan hampir 6 bulan. Hancur dalam 15 menit,” balas Kang In.
“Ini sejarah terburuk bagi klub kita…,” kata Myu Ra, “…Siapa yang mau menemaniku untuk meminta maaf pada penonton?”
“Onnie, aku takut,” sahutku.
“Masih tersisa 20 menit sebelum pertunjukan. Kita masih bisa mencari pengganti,” ujar Kang In. Myu Ra menatapnya dengan pandangan memelas. Dia tidak menyangka jika Kang In masih memiliki semangat untuk pertunjukan ini yang sudah jelas gagal total karena kehilangan tokoh utamanya.
“Ya, Kang In benar. Aku mengajukan Kyuhyun sebagai pengganti,” kata Ki Young.
“Ki Young, jangan berbicara yang tidak masuk akal! Kyuhyun tidak akan bisa,” sahutku.
“Bisa, tentu bisa. Dia beberapa kali menjadi lawan latihanku,” balasnya. Aku memandang Kyuhyun kesal. Bisa-bisanya dia tidak menceritakan hal itu padaku.
“Adegan Romeo dengan Rosaline hanya sedikit. Tetap saja tidak bisa,” kataku mencoba meyakinkan karena anggota yang lain tampaknya sudah mulai terpengaruh ucapan Ki Young.
“Chaesa, itu bisa diatur. Lagipula tadi di backstage aku beberapa kali mendengar Kyuhyun membetulkan pengucapan dialog pemain lain. Aku yakin Kyuhyun sudah hapal dengan jalannya adegan. Benar ‘kan?” tanya Kang In.
“Aniyo, itu hanya kebetulan. Aku tidak sengaja hapal karena sering membacanya. Tapi aku tidak bisa,” seru Kyuhyun menolak.
“Kumohon Kyuhyun. Gantikanlah Heechul,” pinta Myu Ra memelas pada Kyuhyun yang membuat Kyuhyun jadi salah tingkah. Aku menatap tajam ke arah Kyuhyun. Ketika dia melihat ku, aku menggelengkan kepalaku. Tanda tidak setuju. Tapi Myu Ra melihat isyaratku itu.
“Yaaa Chaesa, kau ingin pertunjukan kita gagal?!”teriaknya yang membuatku ketakutan.
“Onnie, bukan begitu. Kita bisa cari pemain lain. Kyuhyun sama sekali tidak pernah berakting. Dia tidak akan bisa,” balasku.
“Masalahnya… Chaesa, sudah tidak ada lagi anggota kita yang menganggur,” kata Myu Ra sambil menghela nafas panjang, “Hanya Kyuhyun yang tidak mendapatkan tugas.”
Aku pun melunak, Myu Ra benar. Teman-teman benar. Hanya Kyuhyun yang bisa menggantikan Heechul. “Baiklah, aku setuju. Sekarang saatnya Kyuhyun ganti Kostum. Semoga saja ada yang cocok karena…,” aku menghela nafasku sebelum melanjutkan ucapanku, “… Heechul dibawa kerumah sakit masih menggunakan kostum Romeo. Ya kita bergegas, sisa 10 menit lagi sebelum pertunjukan.”
Kyuhyun terdiam mendengar keputusan kami. Dia pun menurut. Akhirnya setelah bergabung dengan klub teater selama dua tahun, Kyuhyun mendapatkan peran pertamanya.
..to be continued..

Let’s get married part 11

“Kyaaa~”
Terdengar jerit histeris baik dari penonton maupun orang-orang di belakang panggung saat adegan teater Romeo dan Juliet masuk babak ke-2 adegan ke-4. Mereka semua berteriak saat adegan Pastor Laurence menikahkan Romeo dan Juliet.
Ya, setelah Romeo dan Juliet menikah, untuk drama kami memang dimasukkan adegan ciuman. Tapi tentu saja itu sudah dibatalkan jauh-jauh hari. Dan sayangnya pemeran Romeo yang baru tidak mengetahui hal itu. Sehingga ia tanpa ragu mencium pemeran Juliet tepat di bibir. Karena itulah semua orang yang ada di aula menjerit. Mereka terkejut karena tidak menyangka di drama sekolah ada adegan ciumannya.
Setelah pergelaran teater itu berakhir, yang menjadi kesan kuat dari penonton justru adegan ciuman dari pemeran utamanya. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan akting si Romeo yang sangat canggung dan buruk.
“Kyu, kau hebat. Kau menutupi akting burukmu dengan ciuman dahsyat. Ah, aku bangga padamu,” sambut Kang In sambil memeluk Kyuhyun di backstage saat pergelaran berakhir.
“Hyung-ah, kau menyindirku,” sahut Kyuhyun malu sembari melepaskan pelukan Kang In. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Merah padam.
Sementara teman-teman yang lain pun ikutan mengejeknya. Membuat tak hanya wajahnya yang memerah, tetapi kupingnya pun ikut panas. Terlihat sekali kalau dia sangat kesal diejek seperti itu.
“chaesa , bagaimana rasanya ciuman Kyuhyun?” tanya Myu Ra sambil memegang daguku.
“Biasa saja,” sahut ku pendek.
“Kyaa~ Aku gagal mendapatkan ciuman pertama Kyuhyun,” isak Myu Ra. Kemudian dia menyodorkan bibirnya ke arahku.
”Eonnie, apa-apan kau? Mau menciumku?” protesku sambil mendorong tubuhnya.
“Aku hanya ingin merasakan bekas bibirnya,” sahut Myu Ra santai.
Aigoo~ Eonni-ku ini sudah sakit jiwa rupanya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Setelah Myu Ra berlalu, aku masih mendengar teman-teman mengejek Kyuhyun. Aku tak bisa diam saja melihatnya diperlakukan seperti itu, maka aku menegur mereka dengan setengah berteriak, “Kalian bisa tidak berhenti mengejeknya? Dia sudah berusaha keras. Paling tidak berkat dia, acara kita tidak gagal.”
Aku cukup kesal dengan ulah teman-teman yang mengejek Kyuhyun dan tampaknya mereka cukup paham kalau aku tidak suka dengan cara mereka memperlakukan suamiku seperti itu. Sehingga mereka pun diam dan tidak mengejek Kyuhyun lagi.
Setelah selesai membereskan perlengkapan drama dan membersihkan backstage, kami semua pun pergi mengadakan perayaan di sebuah restoran. Walau tidak berjalan seperti yang diharapkan, tapi paling tidak drama kami tidak gagal total. Itu patut untuk kami syukuri. Tetapi Kyuhyun tampaknya masih merasa sedih. Di mana semua orang tertawa, hanya dia saja yang muram.
Lagi-lagi aku tidak bisa tinggal diam melihatnya seperti itu. Lantas kunaikki kursiku kemudian berteriak, “Kyuhyun-sshi, gomawoyo!”
Semula teman-teman hanya tertegun melihat kelakuanku, tapi kemudian Myu Ra dan Ki Young juga melakukan hal yang sama. Melihat itu, mereka semua yang ada di sana mengikuti kami. Muram di wajah Kyuhyun pun langsung sirna berganti senyum manis yang mengembang.
“Kamsahamida. Aku bahagia sekali mempunyai teman seperti kalian. Aku akan lebih berusaha lagi demi klub kita,” ujar Kyuhyun sambil membungkukkan tubuhnya. Semua anak lelaki yang ada di ruangan itu langsung memeluk Kyuhyun dan menepuk-nepuk punggungnya.
Kebahagian dan keceriaan sekarang sudah tampak di wajah kami semua. Aku berharap tidak seorang pun dari kami melupakan saat-saat membahagiakan seperti ini. Di klub teater aku menemukan sahabat-sahabatku, menemukan kebahagiaan, serta menemukan cinta. Entah kenapa aku ingin menangis saat ini, mengingat masa-masa kebersamaan kami hanya tersisa setahun lagi.
@@@@@
“chaesa,” panggil Kyuhyun saat kami sudah berada di kamar kami. Aku yang sedang membersihkan sisa make-up di wajah pun menoleh ke arahnya yang sudah berbaring di tempat tidur.
“Ada apa?”
“Apa aktingku sangat buruk?”
Aku terkekeh mendengar pertanyaannya, “Tentu saja, itu kan pengalaman pertamamu. Tanpa berlatih pula.”
“Ya, semula aku sangat sedih karena sudah merusak pergelaran drama kita. Tetapi ketika melihat senyuman dari penonton kemudian ucapan teman-teman saat di restoran tadi, aku menjadi sangat bahagia. Sekarang aku jadi semakin mengerti dengan kecintaanmu terhadap akting.”
“Gomawoyo…”
“It’s the east… AndLee chaesa is the sun,” gumamnya.
“Hah, kau mengutip perkataan Romeo! Mwooo~ Kyuhyun tak kreatif!” ejekku sambil duduk di sampingnya yang sedang berbaring. “Kalau aku matahari, maka kau adalah burung bul-bul!”
“Haha… Aku burung bul-bul?” sahutnya sambil tertawa. “Tapi, bukannya setelah saling merayu seperti itu Romeo dan Juliet melakukan malam pertama mereka? Aigoo~ Mereka juga seumuran kita saat melakukan itu. Jadi kenapa kau masih takut sih?”
“Omo~ Kau sendiri yang waktu itu bilang menunggu aku sampai siap. Kenapa jadi tidak konsisten seperti ini? Lagipula tak lama setelah mereka melakukan ‘itu’, mereka justru mati. Kau juga mau bernasib seperti itu?”
“Tentu saja tak mau,” sahutnya sambil memanyunkan bibirnya. “Lalu kenapa kau tidak bilang kalau adegan ciuman sudah dihapus? Pasti kau mau buat aku cemburu ‘kan?”
“Ya, begitulah,” jawabku. “Oh ya, besok pagi aku mau menjenguk Heechul. Kau mau ikut?”
“Tidak. Kau pergilah sendiri!”
“Mwo? Kenapa tak mau?” selidikku.
“Sudah bagus kau kuizinkan menjenguknya!” serunya kemudian mengambil penutup matanya dan kemudian tidur.
Haha~ Dia cemburu. Lucu sekali melihat tingkahnya yang seperti ini.
@@@@@
Liburan akhir tahun sudah dimulai hari ini, bertepatan sehari sesudah pergelaran kami. Setelah 2 minggu liburan nanti, kami akan dihadapkan dengan ujian kenaikan tingkat. Jadi sepanjang liburan aku harus belajar keras. Tetapi hari pertama liburan kugunakan untuk menjenguk Heechul yang semalam dioperasi karena radang usus buntu.
“Tidak ada teman-teman yang datang menjenguk. Hanya kau saja yang peduli padaku,” ujar Heechul, wajahnya sangat muram.
“Lalu? Bukankah denganku seorang kau juga bisa senang?” tanyaku yang duduk di samping pembaringannya.
“Ne, kau benar. Cukup kau saja, aku sudah bahagia,” sahutnya sembari meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
Sebenarnya aku bisa saja menarik tanganku dari pegangannya karena tenaga Heechul masih sangat lemah. Tapi kuurungkan saja hal itu. Kubiarkan saja dia menggenggamnya tetapi aku selalu menunduk. Menghindari pandangan matanya. Tampaknya dia sadar dengan ketidaknyamanan yang kurasakan sehingga dia melepaskan genggamannya.
“Mianheyo,” ucapnya pendek.
“Minta maaf? Untuk apa? Kau tidak ada salah padaku.”
“Aku minta maaf karena tidak bisa mengaggapmu hanya sebagai teman. Aku rasa kau tau itu ‘kan? Tapi kau terlalu baik padaku. Harusnya kau tak menjengukku seorang diri seperti ini. Lebih baik tidak usah datang. Aku tidak bisa menahan perasaanku jika kita hanya berdua saja. Aku tidak ingin menyakitimu dengan beban perasaanku ini,” serunya gusar.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Kita bisa berteman. Lagipula aku bukan gadis baik. Rasa cintamu itu pasti akan berubah. Aku yakin. Jadi, kumohon jangan meminta maaf padaku!” isakku.
Dia menyeka air mata yang jatuh ke pipiku. Kemudian berkata, “Aku bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta. Aku juga bukan pria yang mudah melupakan perasaanku. Haruskah aku merebutmu dari Cho Kyuhyun? Bagaimanapun juga kita tidak akan bisa menjadi teman, chaesa.”
Aku terdiam sejenak mendengar ucapannya barusan. Air mataku pun tiba-tiba berhenti mengalir. Aku menatap tajam ke matanya. Dia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya. Aku tahu itu. Tapi, bagaimana dia tahu hubunganku dengan Kyuhyun?
“Kau pasti kaget karena aku mengetahui hubunganmu dengan Cho Kyuhyun. Pria yang merebut peranku dan juga dirimu. Aku mendengar percakapan kalian saat di backstage kemarin. Saat dia terkejut dengan kedatangan orang tuanya. Kalian berdua bercakap tanpa sadar aku ada di dekat kalian,”ujarnya menjelaskan.
“Dia tidak merebutku darimu. Aku sudah mengenalnya terlebih dulu daripada kau. Aku juga sudah menikah dengannya jauh sebelum kita bertemu. Jangan berbicara seakan-akan kau memiliku terlebih dahulu. Aku tidak suka!” seruku. Nada suaraku sudah cukup tinggi saat ini. Aku tidak suka dengan apa yang sudah diucapkannya tadi.
“Cihhh~ Tapi dia sudah merebut peranku. Aku sudah berusaha sekian lama demi peran itu. Tapi dia merusaknya,” sahut Heechul. Kulihat mimik marah di wajahnya. Begitu menyeramkan. Dia tidak seperti orang yang baru saja dioperasi.
“Jangan menyalahkannya! Kau sendiri yang tidak bisa menjaga kesehatanmu,” balasku lagi tidak kalah galaknya. “Aigoo~ Heechul-sshi, kemana semua sifat baikmu selama ini? Yang dioperasi itu perutmu ‘kan? Bukan isi kepalamu?”
Dia terdiam setelah mendengar perkataanku itu. Tampak sedang menahan sakit. Tetapi kemudian aku mencium bau tidak menyenangkan. Kyaaa~ Dia buang angin di hadapanku.
“Ah~ Akhirnya aku bisa buang angin juga,” ujarnya lega.
“Hya, Heechul-sshi. Seharusnya kau bilang kalau mau buang gas,” protesku sambil tetap menahan nafas.
“Tidak masalah. Kau kan pacarku,” sahutnya enteng.
“Pacar? Yang benar saja. Itu hanya dalam mimpimu.”
“Kalau kau tidak mau menjadi pacarku, aku akan umumkan pada semua orang di sekolahmu kalau kau dan Kyuhyun sudah menikah. Aku yakin kalian berdua akan langsung dikeluarkan. Bagaimana? Masih mau menolak?” ancamnya.
“Kenapa kau bisa jadi sekejam ini? Kau bahkan mengancamku sekarang,” pekikku. Ingin rasanya meninju wajahnya. Ah, sayang masih tidak tega.
“Aku tidak akan kejam kalau pria yang bersamamu itu bukan Cho Kyuhyun. Aku membencinya. Dia sudah merebut peranku.”
Aku menggigit bibirku menahan geram, “Kau kekanak-kanakkan. Dia menggantikanmu karena tidak ada pilihan lain…”
“Lebih baik drama itu hancur daripada peranku diambilnya!” sela Heechul.
Aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi. Aku akan segera menampar wajahnya tetapi kuhentikan saat seorang perawat masuk ke ruangan. Perawat itu memandang tajam ke arah kami.
“Agashi, sebaiknya Anda keluar. Suara pertengkaran kalian terdengar jelas sampai luar. Lagipula pasien masih butuh istirahat. Kedatangan mu membuat pemulihannya akan berjalan lambat,” usirnya.
Segera kuambil mantel dan tasku. Aku keluar dari ruangan itu tanpa pamit pada Heechul. Dulu aku begitu menyukainya, tapi hari ini perasaanku sudah berubah 180 derajat. Aku sangat membencinya.
@@@@@
Siwon memandangi foto-foto yang menempel di dinding sebuah kamar. Kamar yang dulu adalah miliknya. Ya, sampai sekarang kamar itu sebenarnya masih miliknya tetapi sudah cukup lama tak ditempati. Kamar itu memuat semua kenangannya saat masih anak-anak. Tidak hanya kamar itu tetapi seluruh bagian dari rumah tempatnya berada memiliki kenangan berarti. Kenangan masa kecil nan indah tetapi hanya sebentar yang kemudian berganti dengan kenangan buruk.
“Eomma, andai saja kau masih hidup. Mungkin kita akan tersenyum bersama seperti di foto ini,” ujar Siwon sambil memeluk bingkai foto yang menggambarkan dirinya saat masih berusia 7 tahun. Fotonya yang tersenyum bahagia bersama kedua orang tuanya. Dia ingin menangis tetapi air matanya tertahan. Kemudian tersadar kalau dia sudah tidak sendirian lagi diruangan itu. Di ambang pintu kamar dilihatnya seorang pria paruh baya. Ayahnya saat ini sedang memandangnya.
“A-abeoji!” seru Siwon terkejut.
Pria itu masih saja diam. Ia diam karena baru kali ini bisa melihat dengan jelas sosok putranya itu setelah sepuluh tahun diacuhkannya. Anak itu begitu mirip dengannya, hanya mata mereka yang berbeda. Mata Siwon adalah mata Istrinya. Mata yang ditransplantasikan oleh istrinya kepada putranya. Saat itu juga dia teringat peristiwa sepuluh tahun lalu. Peristiwa tragis yang merebut nyawa istri yang sangat dicintainya. Ia kemudian memegangi dadanya. Nafasnya terasa sesak. Ia tak sanggup menahan sakit yang menyerangnya. Ia pun tumbang. Terdengar jeritan panik dari Siwon memanggil-manggil namanya. Ia sangat ingin menjawab panggilan dari anaknya. Tetapi bibirnya kelu, matanya pun sulit untuk dibuka. Kesadarannya perlahan menghilang. Berganti dengan rekaman semua kejadian di masa lalu bermunculan di pikirannya. Ia berpikir, mungkinkah hidupnya akan berakhir saat ini juga? Ia sangat menyesal jika itu terjadi. Ia bahkan belum berbicara dan meminta maaf kepada satu-satunya putranya yang diabaikannya selama ini. Dan tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap. Tak ada apapun.
@@@@@
Aku baru saja meninggalkan loby rumah sakit tempat Heechul dirawat saat menerima telpon dari Siwon. Dia mengatakan bahwa haraboji dibawa ke rumah sakit karena terkena serangan jantung. Kebetulan haraboji dibawa dirumah sakit yang sama dengan tempatku berada sekarang. Aku pun bergegas ke UGD rumah sakit itu dan kulihat Siwon sedang duduk di kursi panjang di depan ruangan UGD. Kuhampiri dia yang sedang cemas, kemudian duduk di samping dan merangkulnya.
“Ha-haraboji pasti akan baik-baik saja,” ujarku mencoba menenangkannya.
Siwon memandangku dengan mata berkaca-kaca kemudian memelukku erat. Tangisannya sangat deras dipelukanku. Dia dulu pernah menangis seperti ini. Dia menangis saat pemakaman halmeoni dan saat haraboji pergi meninggalkannya untuk pergi ke China sepuluh tahun lalu. Tapi setelah itu, sekalipun aku tak pernah melihatnya meneteskan air mata. Kejadiannya menangis di pelukan ku saat ini bagaikan déjà vu. Saat dia menangis dulu, dia juga menangis di pelukanku. Saat itu adalah saat kami masih anak-anak. Masa-masa saat hubungan kami sangat baik. Aku pun tersadar. Aku ternyata masih sangat menyayanginya, rasa sayang yang terlupakan selama sepuluh tahun kini muncul lagi. Aku menyayanginya bukan hanya sebagai seorang paman, tetapi juga sebagai kakak lelaki.
Siwon melepaskan pelukannya saat eomma datang. Eomma juga terlihat cemas dan panik. Dia sangat terkejut mengetahui bahwa ayahnya terkena serangan jantung. Selama ini walau kami jarang bertemu dengan haraboji tapi kami tahu kalau haraboji dalam kondisi sehat-sehat saja. Beliau tidak pernah mengeluhkan kondisi tubuhnya. Saat dokter yang melakukan pertolongan kepada haraboji keluar dari ruang UGD, kami pun segera menghampirinya untuk meminta penjelasan. Alangkah terkejutnya kami saat mengetahui ternyata haraboji sudah menggunakan alat pacu jantung selama 3 tahunan ini. Kami tak pernah diberi tahu tentang operasi pemasangan alat pacu jantung itu. Hal itu membuat kami shock dan terpukul. Tak lama setelah haraboji sadar, dia dipindahkan dari UGD ke ruang perawatan. Haraboji menjalani perawatan di rumah sakit selama seminggu. Dan selama ia dirawat, Siwon selalu menemaninya. Hubungan mereka yang semula dingin menjadi mencair. Entah apa yang dilihat oleh haraboji saat dia pingsan yang telah merubah sikap kerasnya itu.
Setelah menjalani perawatan selama seminggu di rumah sakit, haraboji pun pulang kerumahku. Hal itu pun diikuti dengan Siwon. Dialah yang merawat haraboji dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan sekali melihat keharmonisan kembali di keluargaku. Rasanya itu sudah lama sekali. Dan lebih senangnya lagi, haraboji sudah tidak mempermasalahkan kehadiran Kyuhyun di rumahku. Dia sudah menyetujui pernikahan kami. Haraboji sudah kembali menjadi haraboji yang sangat kusayangi. Ah, untunglah dia berubah tanpa perlu usaha keras dari kami untuk mengubahnya.
@@@@@
Hari memang begitu cepat berganti. Terkadang pergantian hari bisa mengubah seseorang. Tetapi tidak sedikit yang masih tidak ingin berubah. Heechul contohnya. Dia masih saja menginginkanku untuk menjadi pacarnya dan kalau aku menolak, dia akan meyebarkan tentang status hubunganku dengan Kyuhyun. Menyebalkan sekali pria itu. Di mataku dirinya sudah berubah drastis, dari seorang teman yang sangat baik berubah menjadi makhluk paling menyebalkan di muka bumi. Menggantikan Kim Ki young tentunya. Hal ini tentu sangat membebani pikiranku. Tapi aku tidak pernah memberitahukan masalah ini pada Kyuhyun. Aku merasa aku bisa menyelesaikan masalah ini seorang diri. Aku yakin itu. Tetapi ada dampak buruk yang terjadi. Aku menjadi tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Saat tidak ada masalah saja aku masih kesulitan mengerjakan soal-soal ujian, apalagi saat pikiran ku ‘puyeng’ seperti ini.
Saat hari ketiga ujian, dari mata pelajaran sejarah dunia, kulihat Kyuhyun dengan mudahnya mengerjakan soal-soal ujiannya. Sementara aku, hanya 10 dari 40 soal yang bisa kujawab. Itupun masih tidak yakin kebenarannya. Dan ada satu lagi masalah, yaitu haraboji. Perubahan sikapnya yang drastis itu hanya menyenangkan di awalnya saja. Tetapi semakin ke sini, hal itu menjadi menyebalkan. Entah kenapa dia menjadi begitu menyayangi Kyuhyun, melebihi rasa sayangnya padaku. Ditambah lagi saat dia tahu kalau Kyuhyun itu sangat pandai.
Saat aku dan Kyuhyun pulang dari sekolah setelah ujian, haraboji selalu menanyai kami. Dia selalu menyambut kepulangan kami dengan pertanyaan, “Bagaimana ujian kalian? Apakah bisa mengerjakan soal-soal dengan mudah?”
Tentu saja Kyuhyun selalu menjawabnya seperti ini, “Ujiannya menyenangkan sekali. Aku bisa menjawab setiap pertanyaan dengan mudah.”
Dasar Kyuhyun, dia terlihat seperti orang yang sedang cari muka pada haraboji, karena jawaban seperti itulah yang selalu diharapkan dari haraboji padaku selama ini. OH~ Entah kenapa sekarang aku merasa haraboji sudah bukan harabojiku, lagi tetapi dia adalah harabojinya Kyuhyun.
Hari-hari ujian sangat cepat berlalu. Besok adalah hari terakhir ujian. Dan mata pelajaran yang diujikan besok adalah fisika. Aisshh~ Aku benci pelajaran itu, tetapi di antara semua mata pelajaran, hanya fisika saja yang aku kuasai. Sungguh aneh memang. Saat ini aku sedang memahami rumus-rumus dan berlatih soal seorang diri di halaman belakang rumahku
Kemudian Siwon datang menghampiri ku dengan tersenyum. “Kau akan ujian fisika?” tanyanya sambil duduk di sampingku. Kujawab pertanyaannya dengan anggukan. Kemudian Siwon melanjutkan lagi, “Tidak ada gunanya berusaha keras. Kyuhyun pasti akan tetap lebih unggul dari pada kau.”
Aku membelalakkan mataku. Ternyata ahjusshiku ini mengerti perasaanku. Aigoo~ Ternyata dia sungguhan keluargaku. “Lalu? Beri aku saran agar aku bisa mengalahkannya!” pintaku.
“Gampang, cukup rayu dan ajak dia bermesraan saat dia sedang belajar. Dia pasti kehilangan konsentrasi.”
“Tapi, aku jadi tidak bisa belajar juga. Berikan saran lain!” pintaku lagi.
Siwon terlihat berpikir keras, tapi tak lama sepertinya dia mendapatkan ide. Dia kemudian pergi meninggalkan ku, walau hanya sebentar. Dia kembali sambil membawa sebotol minuman soft drink. “Berikan ini padanya di pagi hari sebelum kalian ujian besok,” sarannya.
“Apa ini?”
“Minuman yang sudah kucampurkan pencahar di dalamnya,”sahutnya tersenyum.
“Aigoo~ Cara ini tak terpikirkan olehku,” sambutku girang.
“Chaesa-ah, benar kau akan memberikannya? Aku hanya menyarankan lho. Tak kusangka kau bisa tega terhadap suamimu.”
“Tidak peduli. Aku akan melakukannya. Hanya dengan cara ini aku bisa mengalahkannya,” sahutku tegas.
@@@@@
Esok paginya saat kami dalam kereta menuju ke sekolah, aku sama sekali tidak mengurungkan niatku untuk memberinya minuman itu. Aku akan menyerahkan minuman itu padanya di sini. “Kyuhyun, minumlah ini. Minuman ini bisa menambah semangatmu saat ujian nanti,” ujarku sambil menyodorkan minuman yang sudah dicampur pencahar itu.
Ahh~ Aku tidak bisa membayangkan nanti saat di kelas dia akan kesulitan mengerjakan soal-soal karena akan sering bolak-balik ke kamar kecil. Dia tersenyum melihat kebaikan hatiku padanya tanpa disadarinya sebenarnya justru aku akan mencelakakannya. Tetapi, tiba-tiba hati nuraniku berteriak ‘Chaesa, setega itukah kau pada suamimu sendiri? Bukankah kau mencintainya? Tetapi kenapa malah bertindak securang ini?’ Jeritan itu membuat tanganku yang masih memegang minuman itu menjatuh kannya.
“Hya, kenapa malah kau jatuh kan minumannya?” tanya Kyuhyun sambil memanyunkan bibirnya. Aku tidak menjawabnya. Aku langsung memeluknya yang membuat dirinya keheranan. “Chaesa-ah, jangan peluk aku di sini. Banyak yang melihat kita.”
Aku melepaskan pelukanku dan berkata, “Abaikan saja minuman itu. Aku memelukmu karena semangatmu pasti akan lebih banyak muncul jika kupeluk. Minuman itu tidak ada artinya.”
“Mwoya? Haha. Kau terlalu percaya diri. Baiklah, lupakan minuman itu. Gomawoyo,” ujarnya sambil menyeringai.
Setelah itu sepanjang perjalanan kami saling berdiam diri. Fiuuuh~ Untunglah aku tak jadi mencuranginya. Melihatnya tersenyum saja sudah cukup untukku. Walaupun tetap saja menyedihkan saat mengetahui aku harus kalah darinya di pelajaran yang paling aku kuasai. Seusai ujian, saat kutanya berapa soal yang mampu dijawabnya dengan puas dia menjawab bahwa dia bisa menjawab keseluruhan soal. Aissh~ Aku bahkan hanya mampu menyelesaikan 80% dari semua soal. Itu pun masih tidak yakin.
Setelah ujian berakhir, aku dan Kyuhyun tidak langsung pulang ke rumah. Rencananya di hari terakhir ujian akan ada rapat penutupan Klub teater kami dan akan ada pemilihan ketua baru. Aishh~ Aku lupa kalau ini hari terakhirku menjabat sebagai ketua klub. Saat akan menuju ruangan klub yang berada di lantai lima gedung sekolah kami, kulihat Heechul sedang duduk di salah satu anak tangga yang menuju lantai lima. Cih~ Untuk apa anak itu ada disini?
“Kau duluan saja Kyu, ada yang akan kubicarakan dengannya. Katakan pada teman-teman aku akan sedikit terlambat,” ujarku menyuruh Kyuhyun untuk pergi ke ruangan klub terlebih dahulu. Tapi dia tidak bergeming. Dan kulihat Heechul menyeringai ke arahku.
“Biarkan saja dia disini. Dia harus mendengar apa yang akan kukatakan,” ucap Heechul.
“Pergilah, Kyu!” seruku karena dia masih saja tidak menurut.
“Katakanlah yang mau kau katakana!” Ada nada memerintah dari ucapan Kyuhyun.
“Aku ingin Chaesa  menjadi pacarku. Kalau kau tidak setuju, aku akan menyebarkan tentang hubungan kalian yang sebenarnya pada semua orang di sekolah ini. Kau tahu kan dampaknya pada kalian jika itu terjadi?” ancam Heechul dengan lagak menantang.
Kyuhyun terdiam mendengar ucapannya. Ada ekspresi bingung dan keterkejutan di raut wajahnya. Tapi kemudian dia dapat mengatasi semua itu dan dengan tegas berkata pada Heechul, “Itu takkan pernah terjadi!”
Kyuhyun kemudian menarik tanganku, mengajak untuk mengikutinya sementara Heechul mengekor di belakang kami. Aku tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. Hingga akhirnya sampailah kami di depan ruangan klub teater. Kyuhyun membuka ruangan klub dengan kasar, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kata-kata yang diucapkannya, “Sebenarnya… Aku dan Park Chaesa telah menikah.”
Aku menahan nafas saat mendengar ucapannya itu. Ruangan yang semula riuh menjadi sunyi senyap. Sampai seserorang menyeletuk, “Kyuhyun babo~ Kau pikir kami akan tertipu? Hari ini bukan April Fool. Hahaha~”
Kemudian ada lagi yang berkata, “Kyuhyun, leluconmu bikin aku sukses menghilangkan stress akibat ujian tadi.”
Tetapi ucapan dari Kang In yang semakin membuat seluruh ruangan tertawa, “ Hal yang paling bodoh yang pernah kudengar sepanjang hidupku adalah perkataannya tadi. Bagaimana mungkin sih mereka bisa menikah? Hahaha~” Setelah mendengar ucapan itu sontak suara tawa menggelegar keseluruh ruangan. Aku, Kyuhyun, dan Heechul hanya bisa terbengong-bengong melihat pemandangan ruangan yang penuh tawa itu.
“Hah? Mereka tidak percaya? Memangnya seburuk apa sih hubungan kalian di sekolah sampai mereka tidak bisa percaya?” ujar Heechul kebingungan.
“Aku juga tidak mengerti,” sahutku.
“Aishh~ Membosankan sekali. Ya sudahlah aku pergi,” ujar Heechul lagi.
“Tunggu!” cegahku. “Sekarang kau tau kalau ancamanmu itu tidak ada gunanya. Jadi kumohon, jangan paksa aku lagi. Ayolah, kita berteman saja seperti dulu.”
Heechul memandangiku kemudian dia menatap Kyuhyun lalu berkata, “Aku mengalah. Ternyata kau sangat mencintainya. Jangan membuatnya menangis lagi karena aku sudah tidak bisa menghiburnya lagi. Kalian tidak usah khawatir denganku lagi…,” dia menghentikan ucapannya karena dia melihat seseorang di belakangku. “…cih~ Tampaknya rahasia hubungan kalian memang sudah saatnya terbongkar.”
“Jadi, wanita yang kau cintai itu dia?” tanya Ki Young di belakangku kepada Kyuhyun. Kemudian dia berlari ke arah tangga menuju lantai atas.
“Kyuhyun,” seruku. “Sampai sekarang kau masih belum menjelaskan pada Ki Young?”
“A-aku akan menjelaskannya sekarang,”jawabnya gugup kemudian berlari menyusul Ki Young.
“Kenapa kau biarkan dia pergi sendiri? Kau juga harusnya ikut menyusul,” ujar Heechul.
Ia benar. Aku juga harus menyusul mereka. “Gomawo,” ucapku padanya. Dan pada saat sampai di atap sekolah, aku bisa mendengar makian Ki Young kepada Kyuhyun. Pria itu hanya diam saja dimaki. Ah~ Dimana kejantanannya tadi saat mengumumkan hubungan kami?
“Kau jahat, Oppa. Aku benci. Aku tidak terima kau menolakku hanya demi seorang Lee  Chaesa. Oppa babo…babo…ba…”
PLAK! Aku menampar Ki Young sebelum dia melanjutkan makiannya. Dalam hati aku berkata ‘Hanya Lee  Chaesa saja yang boleh menyebut Kyuhyun babo. Yang lain tidak boleh!’ Gadis itu terdiam setelah menerima tamparanku. Dia menatapku dengan penuh amarah dan tangannya sudah siap untuk membalas tamparanku tetapi berhasi dicegah Kyuhyun.
“Ki Young-ah, belum puaskah kau memakiku? Kumohon jangan dilanjutkan lagi! Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menerima keadaan ini?” tanya Kyuhyun.
Ki Young tidak menjawab, dia menangis. Di sela isakannya dia berkata, “Oppa, saranghaeyo…”
“Tapi  Kyuhyun mencintai ku,” sahutku yang membuat Ki Young lagi-lagi menatapku geram.
“Ya, aku hanya mencintainya. Jadi, kumohon jangan berkata kau mencintaiku lagi!” lanjut Kyuhyun menimpali.
“Arrgghh… Bodohnya aku ditolak oleh pria bodoh sepertimu,” sesal Ki Young. Dia sudah tidak menangis lagi.
“Jangan mengatainya bodoh lagi! Kyuhyunlah yang mengajarimu selama ini. Dia jauh lebih pintar dari pada kau,”seruku memarahinya.
Ki Young memandangku sinis, “Tentu saja dia bodoh. Dia sudah menolakku, Kim Ki Young. Mana ada pria bodoh yang menolak gadis secantik aku?”
Ki Young sombong sekali, kemudian aku membalasnya lagi, “Ada kok, ini dia,”ujarku santai sambil menunjuk-nunjuk Kyuhyun.
“Tuh kan, kau juga mengakuinya bodoh,” sahut Ki Young dengan senyum mengejek.
“Hei Ki Youngie. Di dunia ini yang pantas menyebut Kyuhyun bodoh itu hanya aku. Yang lain tidak berhak!”
“Hyaaa, kalian berdua, sudah cukup mengataiku bodoh!” protes Kyuhyun yang membuatku dan Ki Young tertawa, padahal tadi kami bertengkar.
“Ya sudahlah kalau itu keputusan oppa. Nanti juga oppa yang akan menyesal karena tidak memilihku dan malah memilihnya,” kata Ki Young setelah dapat meredakan tawanya.
Dia berlalu hendak meninggalkan kami, tetapi kemudian Kyuhyun mengatakan sesuatu yang membuatku terbuai karena indahnya ucapan dia. “Aku tidak akan pernah menyesal memilih Chaesa. Dia adalah hal terindah yang pernah kumiliki.”
Kulihat Ki Young mengangguk dan tersenyum. Setelah hari itu, kami tidak pernah bertemu dengannya lagi selain melihat penampilannya di televisi. Ki Young memutuskan untuk pindah sekolah dengan alasan jadwal di sekolah kami tidak bisa menyesuaikan dengan jadwal kegiatan keartisannya.
@@@@@
Musim dingin pun berganti, di awal musim semi saat tiba tahun ajaran baru lagi-lagi aku dan Kyuhyun di tempatkan di kelas yang sama. Menyenangkan sekali bsia belajar di kelas yang sama dengannya di tahun terakhir kami. Aku sudah tidak menjabat sebagai ketua klub teater lagi. Aku dan Kyuhyun juga tidak aktif lagi di kegiatan klub, orang tua kami menyuruh untuk fokus belajar. Bahkan eomma menyarankan pada kami untuk tidak sekamar lagi. Menurut eomma, sangat menyeramkan jika membayangkan apabila saat ujian akhir nanti tiba-tiba aku mengandung. Aku dan Kyuhyun pun menurut. Yah, walau kami tidak sekamar tapi kami masih bisa bermesraan. Kalau di larang bermesraan baru kami akan protes. Hehe~
Waktu pun berlalu dengan cepat. Tak terasa musim gugur tiba lagi. Aku ingat tahun lalu sepanjang musim gugur aku mengacuhkan Kyuhyun. Tahun ini tidak akan kuulangi lagi. Lagi pula tidak ada masalah yang berarti dalam hubungan kami.
Ah~ Dengan berjalannya waktu, perasaan orang-orang juga bisa berubah. Aku pikir akan memakan waktu lama bagi Ki Young untuk melupakan Kyuhyun. Tetapi waktu memang menjadi bukti, dia kepergok wartawan sedang berkencan dengan seorang Violist asal Kanada bernama Henry Lau dan tak lama mereka pun akhirnya mengakui hubungan mereka. Begitu juga dengan Jung Myu Ra, kupikir walaupun dia telah lulus dan tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun, dia akan tetap bertahan mencintai Kyuhyun. Tapi nyatanya tidak. Baru-baru ini dia menelponku dan bercerita kalau dia sudah punya pacar. Yang membuatku tertawa, nama kekasih Myu Ra juga Kyuhyun. Katanya pria itu sebentar lagi akan debut sebagai penyanyi. Baguslah kalau dia mendapatkan Kyuhyun yang lain. Aku juga jadi tidak merasa bersalah lagi padanya.
Tetapi hati pria tampaknya berbeda dengan hati wanita. Melalui Jin Rin aku tahu tentang keadaan Heechul. Sampai sekarang dia belum memiliki pacar dan masih memikirkanku. Seharusnya dia tidak sebodoh itu. Heechul juga tidak pernah mau bertemu dengan ku lagi. Menyedihkan sekali, aku kehilangan sehabat sebaik dirinya. Untuk sahabat ku yang lain, Kang In entahlah bagaimana kabarnya. Setelah lulus dia memutuskan untuk mengikuti wajib militer. Cukup sulit untuk menghubunginya. Tetapi, aku tahu kalau dia tidak bisa melupakan Myu Ra. Menyedihkan sekali jadinya kalau ingat mereka.
Oh ya, ada juga yang dengan berjalannya waktu hubungan pun kandas. Itulah kisah cinta Lee Hyuk Jae dan Chaeri. Setelah Hyuk Jae lulus, sekalipun dia tak pernah menghubungi Chaeri lagi. Yang kutahu, di universitas Hyuk Jae mendapatkan pacar baru. Ckckck~ Kasian sekali Chaeri. Saat mereka putus, Chaeri mengurung diri seharian di kamar. Keadaan seperti ini seharusnya menjadi kesempatan untuk Siwon melancarkan serangan. Tapi sayang, ahjusshiku setelah lulus ikut dengan haraboji ke China. Dia melanjutkan kuliahnya di sana sambil menjaga haraboji.
Itulah kisah cinta, ada yang bahagia dan ada yang terluka. Aku berharap kisah cintaku dengan Kyuhyun akan bahagia selalu dan kami tidak akan terpisahkan. Kemudian masih di awal musim gugur, setelah menikmati indahnya liburan musim panas. Sekolah pun dimulai lagi. Mulai saat ini, akan menjadi saat-saat yang berat bagi kami yang sudah di tingkat akhir. Aku heran dulu bagaimana bisa Kang In dan Myu Ra masih bisa aktif di kegiatan klub, padahal banyak tugas dan kelas-kelas tambahan yang harus diikuti.
Di pertengahan musim gugur, sudah banyak siswa yang mulai mengikuti tes ujian masuk universitas. Aku dan Kyuhyun tidak pernah berdiskusi tentang pilihan sekolah kami selanjutnya jadi aku tidak tahu dia akan melanjutkan di mana. Setahuku, Kyuhyun seperti yang dulu pernah di ceritakannya kemungkinan akan melanjutkan ke Univesritas Seoul. Untuk jurusan yang dipilih bisa jadi kedokteran atau hukum. Jika diukur dengan nilai selama di sekolah, aku yakin Kyuhyun pasti diterima. Tidak terbayang girangnya abeonim jika itu sampai terjadi. Aku sendiri tidak mau membayangkan Kyuhyun menjadi dokter atau pengacara. Rasanya menggelikan melihat dari perilakunya.
Kemudian di suatu hari masih di musim gugur. Aku dipanggil wali kelasku untuk berdiskusi tentang kelanjutan sekolahku. Aku mengatakan pada Seosangnim bahwa aku ingin melanjutkan kuliah ke Universitas Kyung Hee dan mengambil jurusan drama di sana. Tampaknya seonsaengnim setuju dengan keputusanku. Nilai-nilai sekolahku memang menjadi sedikit masalah tapi mengingat prestasiku di bidang teater, bisa menjadi rujukan juga. Aku girang sekali saat permohonanku bisa dikabulkan. Tetapi kegembiraan itu sirna saat aku mendengar seseorang Seonsaengnim berteriak girang setelah menerima email. Dengan riangnya Seonsaengnim itu berkata, “Cho Kyuhyun… Uri Cho Kyuhyun… Dia berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Universitas Tokyo. Dia diterima di jurusan desain grafis. Keren sekali.”
Aigoo~ Apa-apaan ini? Selama ini kukira dia akan melanjutkan ke universitas Seoul. Tapi kenapa justru di Tokyo? Jika dia melanjutkan kuliahnya di Jepang, itu artinya kami akan berpisah. Omo~ Aku tidak mau itu terjadi. Tak mau!
..to be continued..

Fc Populer:

  • Anonim

    Yaaaah kok gak ada lanjutannya lagi min???lanjutiiiin dooong…seru kok ceritanya…

%d blogger menyukai ini: